Tan Okt Kiau: P s i k o (Sebuah Cerpen)

lucu 2Tri dan Ebri, dua anak kecil-sepasang adik kakak yang selalu bersama, bermain-berlari ke sana kemari dengan riangnya. Naasnya, suatu hari di bulan Desember, Ebri menangis, Tri terdiam. Tak jauh dari tempat mereka berdiri-terlihat ibunya dihardik, dipukuli oleh bapaknya. Syukur cepat-cepat salah seorang penghuni lain di rumahnya. Segera menggeret mereka masuk ke dalam kamarnya. Seorang perempuan muda yang baru saja pulang kuliah.
.
‘Ayo sini masuk kamar mbak Hera, maem permen’ Ajak perempuan itu tiba tiba. Menggeret tangan Tri yang dingin, menggendong Ebri yang masih terisak.
.
‘Ibu kenapa gak ditolong mbak?’ Tanya Tri kecil kebingungan.
.
‘Ndak usah ikut-ikut Tri, itu urusannya bapak sama ibu. Anak kecil ndak boleh ikut-ikut’ Jawab mbak Hera bisik-bisik.

.
Tri berpikir, tubuhnya kecil. Kalau dia keluar dan memukul bapaknya. Pastilah dia langsung babak belur dan mati. Ibunya pasti tambah sedih, lalu adiknya siapa lagi yang akan melindungi? Tri kecil ratapmatanya pun kosong. Di luar kamar itu, sementara ibunya masih menangis berteriak-teriak kesakitan.
.
‘Kenapa tidak ada tetangga yang menolong?’ Batin tri pucat pasi tak begeming. Paling tidak ia berharap ada lelaki berbadan besar yang meremukkan kepala bapaknya saat itu.
.
Tidak ada yang menolong, tidak ada satupun tetangga yang berani datang menghampiri. Tri kecil yang tak sadar, bila ia menyimpan gambaran-gambaran sadis saat itu. Ia sedang membakar hati, diri, dan jiwanya saat itu. Menaruh dendam dan amarah diam-diam. Hawa pembunuh yang kelak bila tubuhnya cukup kuat dan besar, akan membalas kelakuan bapaknya.
.
‘Kamu cumak bisa minta sama Allah. Supaya bapak gak kasar seperti itu lagi sama ibumu.’ Tetiba mbak Hera menyentuh pundak Tri. Memecah lamunan Tri yang mendendam.
.
‘Allah?’ Ulang Tri, ucapnya pelan. Membuat dadanya pun serasa lega seluas samudera.
.
‘Iya Allah. Minta sama Allah’ Ucap mbak Hera sekali lagi dengan raut senyumannya yang tersimpul sedikit hangat, seakan mampu menghangatkan dinding-dinding api kebencian yang hampir saja membeku dalam hati Tri, Tri kecil yang tengil. Ebri yang lebih kecil darinya, baru saja bisa berjalan, lambat laun tangisannya pun mulai surut dan mereda.
.
‘Udah sholat?! Belum khan?’
.
Tri kecil menggeleng.
.
‘Ya udah abis sholat langsung berdoa minta sama Allah ya?’
.
Tri mengangguk tanda sepakat.
.
‘Sana ambil wudlu dulu?’
.
‘Aku ajak Ebri jugak ya mbak?’
.
‘Iya, abis wudlu kita sama-sama jama’ah. Mbak hera tunggu di sini’
.
‘Ayo Ebri?!’ Tri kecil menawarkan tangannya untuk digenggam. Ebri pun patuh, segera menyambut tangan kakaknya dengan ingus yang masih belepotan di wajah. Lewat pintu belakang, dua bocah kecil kakak beradik itu pun berjalan bergandeng tangan. Tri yang sebenarnya juga ingin menangis seperti Ebri, tapi tetap saja tak juga bisa.
.
Tangis Tri yang tertahan, akibat melihat tangis Ebri adiknya. Pikirnya ia tak boleh terlihat lemah di depan adiknya, apalagi ia lelaki dan adiknya perempuan. Adiknya butuh rasa aman. Tak elok anggapnya, bila kakaknya yang seharusnya melindungi adiknya bersikap seperti itu. Tri kecil yang harus bersikap dewasa, sekalipun belum waktunya. Tri kecil, yang mulai jarang bermain, lebih banyak khusyuk berdoa. Tri kecil di kala teman-teman seusianya bermain-main dan bercanda saat di masjid. Tri kecil yang selalu menjauh dan menghindar. Ia lebih suka memilih menyendiri, berdoa sepanjang malam hingga masjid pun sepi. Tinggal tersisa hanya ia sendiri. Kesempatan baginya untuk menangis sepuas-puasnya, menumpahkan segala isi hati.
.
Sejak saat itulah, Tri kecil pun mulai jarang berdoa untuk diri sendiri. Ia yang biasanya berdoa minta mainan kereta api, tamiya, bintang-bintang ninja, topeng ksatria baja hitam, pedangnya power rangers, layangan berbentuk ikan dan seabgreg mainan lainnya-yang belum juga menjadi koleksinya. Tri kecil pun setiap hari jadi berdoa, hanya untuk kedua orang tuanya. Bapaknya yang supaya tidak lagi kasar kepada ibunya. Ibunya yang semestinya dimuliakan oleh bapaknya. Sebagaimana pesan terakhir nabi kepadanya,
.
i b u , i b u , i b u.

.

.

.

.

Tan Okt Kiau, cerpenis menetap di Oejoeng Galoeh

Iklan