Terjemahan “Kidung Rumekso Ing Wengi”



Seorang teman baru saja merilis album baru “the blues of sholawat”. Ini salah satu lagu dalam albumnya itu. Ia menitipkan artikel ini untuk ditaruh dalam blog ini. Karena sebelumnya saya bertanya kepada dia. Kok “kidung rumekso ing wengi” nya Sunan Kalijogo termasuk sholawat sih. Dari mananya? Dan baru saya paham di mana letak sholawatnya tembang ini.

——

Sebelumnya terima kasih banyak atas kesediaan saudara strez, telah mengapresiasi album saya “The Blues of Sholawat”. Karena saudara bertanya mengapa saya masukkan tembang “Kidung Rumekso ing Wengi” menjadi salah satu lagu di Album sholawat saya. Oleh karena itu saya merasa perlu menulis terjemahan dari tembang ini. Tentu saja atas penafsiran saya pribadi atas tembang ini, yang menurut saya paling cocok dengan bathin saya. Teman-teman yang lain boleh saja memberi warna yang berbeda, memberi penafsiran yang berbeda. Syukurlah malah itu lebih baik, karena ikut meramaikan dan memperkaya khasanah pengetahuan saya secara pribadi. Karena terus terang mau mewawancarai beliau kanjeng Sunan toh beliau sudah tiada. Jelas usaha penafsiran ini jauh dari sempurna, bahkan bisa saja keliru, malah bisa-bisa melenceng jauh dari apa yang kanjeng Sunan maksudkan dengan syairnya ini. Janganlah dibenarkan seratus persen terjemahan dan penafsiran atas tembang ini, karena itu tadi saya hanya meraba-raba saja, untuk mencari sepercik cahaya dari (syair) beliau. Saya pun menembus dimensi waktu ke masa lalu untuk merabanya. Saya melihat beliau menyanyi di depan anak-anak, hampir semuanya anak petani. Ada juga orang-orang dewasa berada di belakang anak-anak. Dinyanyikan di waktu selo(longgar). Saat leyeh-leyeh di sebuah bangunan di samping masjid. Ada banyak makanan terhidang di sana. Saat ba’da isya’ setelah sholat tarawih. Ya tentu saja desa itu dikelilingi hamparan sawah yang hijau.

Ana kidung rumekso ing wengi/
(Rumekso lawan kata dari mekso, artinya tidak dipaksa. Namun tulus dilakukan)
Ada nyanyian mengalun tulus di malam hari

Teguh ayu luputa ing lara/
(Teguh ayu adalah panggilan dari kanjeng sunan kepada anak-anak, mereka bocah-bocah baik laki maupun perempuan, jadi teguh itu pujian buat yang lelaki sedang ayu biasanya dipanggil cah ayu, pujian buat yang perempuan)
Teguh ayu terhindarlah dari sakit

Luputa ing billahi kabeh/
(Billahi itu ungkapan berserah-pasrah. Pasrahkan semua kembali kepada Tuhan)
Terhindarlah, pasrahkanlah pada Tuhan semua

Jin setan datan purun/
Jin pengganggu (bahkan) sungkan untuk datang
(*Jin setan, ingat tidak semua jin itu jahat dan mengganggu. Hangat pribadi beliau, saya sih maklum beliau itu welas asihnya tinggi. Padahal bagi saya selain jin, ada mahluk ekstra-terestrial lain yaitu alien. Entah ada berapa bangsa alien di alam semesta ini. Karena memang sangat begitu dalam dan luasnya makna “rahmatan lil alamien”)

Paneluhan tan ana wani/
Ilmu hitam/santet tidak ada yang berani

Miwah panggawe ala/
Begitu juga arwah/roh yang ingin berbuat jahat

Gunaning wong luput/
Kiriman santet/gunaguna dari orang (lain) luput

Koyo geni atemahan tirta/
Seperti api bertemu air

maling adoh tan ana ngarah mringtami/
Pencuri menjauh tak ada yang akan mendekat

Kudu nduduk lan sirna/
Harus tunduk dan sirna/menghilang

Sakehing lara pancen yo bali/
Semua sakit memang pasti (sembuh) kembali

Sakehing ngama pancami miruda/
(Pancami itu ungkapan setelah tanggal lima kalender jawa, saat-saat menjelang perayaan maulud nabi diadakan)
Sebanyak-banyak hama/penyakit setelah tanggal lima, pergi/minggat

Welas asih pendulune/
(*pendulune itu sebutan bagi kanjeng nabi, pendahulu~penghulu yang senantiasa membimbing umatnya)
(Manusia yang penuh cinta) belas kasih, pendulune

Sakehing bradja luput/
Semua senjata luput

Kadi kapuk tibaning wesi/
(*kadi sebutan senjata tajam sejenis golok, parang, keris, dll)
(*kapuk ; merapuh seperti kayu yang dimakan rayap)
Kadi kapuk jatuh ke (lautan) besi (biasanya bunyinya kemerincing, kanjeng sunan ingin anak-anak mengimajinasikannya dengan penuh rasa riang seperti air yang berkecipak ketika mereka biasa mandi di kali)

Sakehing wisa tawa/
Untuk baris ini. Tentu yang mendengar tembang tidak hanya anak-anak. Tapi juga orang dewasa. Artinya bisa berbeda tergantung siapa yang mendengarkan.

Untuk anak-anak biasanya tertawa ketika baris ini dinyanyikan,
Semua bisa tertawa.

Sedang yang dewasa;
Semua bisa/racun (menjadi) tawar.

Sato galak tutut/
(*sato itu sebutan untuk anjing liar/hutan. Biasanya menggonggong guk..guk..guk.. Tapi jadi jinak seperti burung perkutut, bisa kan dibayangkan suara burung perkutut. Kanjeng Sunan di depan anak-anak saat menyanyikan baris ini jarinya menunjuk ke arah bekupon)
Anjing galak jadi jinak, nurut seperti burung perkutut

Kayu aeng lemah sangar/
Pohon tua tanah belum terjamah

Songing landak guwaning wong lemah miring/
Sarang landak guanya orang tanah miring

Myang pakiponing merak/
Sampai sarang merak

Pagupakaning warak sakalir/
(*warak ; mitologi hewan naga, simbol nafsu manusia)
Dihabiskan naga serakah

Nadyan artja mjang sagara asat/
Hingga batu sampai lautpun kering

Satemah rahayu kabeh/
Satu tubuh selamat semua

Dadi sarira ayu/
Menjadi jiwa yang indah

Ing ngideran widhodari/
Dikelilingi bidadari

Rinakseng malaekat/
Disaksikan malaikat

Sakatahing para Rosul/
Sebanyak-banyak para Rasul

Pinayungan Hyang Sukma/
Dipayungi Allah ta’ala

Pan dadi sarira tunggal/
Telah menjadi satu-jiwa

Welas asih, pendulune..
Welas asih, pendulune..
Welas asih, pendulune..

—-

Demikian terjemahan dari saya pribadi
terhadap syair “Kidung Rumekso Ing Wengi”.

Hormat saya,

Jim Rheumason

Iklan