Dwi Oktrisna; Londo Ireng Anyaran (3)

image

“Itu lombok harganya sempat mahal nyet! Dan dari situ kita bisa lihat, banyak sekali kejanggalan yang berkeliaran di Kementrian Perdagangan dan Industri RI” John pun duduk sambil menggebrak meja. Tak lama ia lempar gadgetnya “Baca ini! salah satu paling aneh.” (Bisa dibaca di sini)

“Ini jugak si dirut Pertamina mengundurkan diri, ngikut emaknya si SM. Mau ngajar di Harvard dia. Pada lari semua ke sana ya mafia Barkeley yang sudah hampir kebukak boroknya. Apa-apaan itu puluhan tahun produksi minyak disabotase. Masak 900.000 barrel/hari gak jugak naik.”

“Woi sob jangan nuduh yang enggak-enggaklah. Gak baik suudzon itu. Datang udah telat, marah-marah pula! Ingat sob, kita sudah syukur sekali lho sudah merdeka. Gak ada rudal nyasar.” tukas Jim.

“Nggak bisa! nggak bisa! mereka itu busuk semua. Perlu ada lembaga pengawas independen soal eksplorasi minyak kita. Kau tahu kan nyet! Jaman sekarang apa sih yang gak bisa diakalin. Media aja bisa dimanipulasi, apalagi data-data si mafia barkeley. Harus ada pengawas lapangan yang bener-bener independen nyet! Masaklah kalah sama produksi minyak Malaysia yang surplus, tetangga pula di Asia Tenggara. Bedebah tuh para mafia nyet! Bedebah!! Udah nipu kita selama bertahun-tahun” John ngotot.

“Gara-gara tulisan dia sih, pakai akunku pula di kompasiana,” John geram sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah saya. “Curiga bener aku, kita sudah digoblokin bertahun-tahun. Sialnya udah selang berapa tahun Reformasi kok malah banyak penilep-penilep bermunculan. Di pos-pos strategis macam persediaan energi pulak. Fakk!!”

“Aku yo gumon yo’ opo carane ngukur piro kadar barel sumur minyak e yo? kok isok ngomong kritis. Mek thitik isine sumur. Iku nang njero bumi lho? Lha lek tibakno sumure tembus dadi siji ambek sumur sing ning jazirah Arab yo mosok eruh” Okt kiau ikut berceloteh.

“Trus semisal kalau memang selama ini para mafia Barkeley itu memberi data-data palsu, seakan-akan persediaan minyak kita menipis. Lalu apa manfaatnya buat mereka para mafia barkeley, eh apa untungnya buat Amerika Serikat tentunya?” tanya saya pada John.

“Nyet! Amerika Serikat itu negara adidaya dengan pendapatan per kapita penduduknya termasuk yang tertinggi di dunia. Dan dimanapun negara maju jika sudah over GNP, tak ayal barang-barang produksi negaranya tak akan laku di pasaran dunia Internasional. Karena terlampau mahalnya nilai barang yang mereka jual. Lihat saja Adidas, Nike, dan lain-lain. Reebook aja gulung tikar.” Jawab John serius. “Makanya jangan terlampau kagum dengan negara maju yang pendapatan per kapitanya tinggi. Justru merekalah negara-negara yang rentan terlibas krisis ekonomi. Sudah pendapatan per kapita tinggi, masyarakatnya boros, produk mereka pun tak laku di pasaran dunia karena terlampau mahalnya. Kalah bersaing dengan produk-produk dari negara berkembang yang jauh lebih murah. Seperti produk dari India, Cina dan Korea misalnya” Terang John padaku.

“Cumak dua hal yang bisa mereka lakukan untuk terhindar dari krisis yang membelit perekonomian dalam negeri mereka sendiri. Pertama, jualan duit mereka sendiri dengan inves sana inves sini. Kedua, ajak sebanyak-banyak negara menjadi predator seboros mereka.” Tambahnya

“Ajak sebanyak-banyak negara menjadi negara predator seboros mereka?!” gumam Jim pelan. “Maksudmu apa John?”

“Khan sudah kujelaskan detail. Pendapatan per kapita mereka terlalu tinggi, sebabkan biaya produksi mereka juga ikut tinggi. Bisa kau bayangkan bangkrutnya pabrik-pabrik mereka untuk menggaji penduduknya yang pendapatan per kapitanya tinggi itu. Sementara barang yang diproduksi oleh pabrik mereka, tak laku di pasaran dunia. Karena harganya yang terlalu mahal.” Jelas John lebih detail.

“Itulah sebab utama harga produk-produk barang yang mereka ekspor terlalu tinggi. Bisa kau lihat contohnya seperti mahalnya produk Apple, Blackberry, dan bandingkan dengan android Samsungnya Korea” Jelas John sekali lagi. “Mana yang bangkrut lebih dulu? Dan itupun masih dari sektor industri manufaktur telepon genggamnya, belum di industri manufaktur mereka yang lainnya seperti  otomotif, tekstil, obat-obatan, pertanian, perkebunan, dll. Yang jelas harganya melangit di pasaran dunia Internasional, harga yang mereka sesuaikan dengan pendapatan per kapita penduduknya!”

“Singkat kata mereka sedang menuju kehancuran saat ini. Karena itu tadi terlampau tinggi pendapatan per kapita rakyatnya. Sebuah negara dengan jumlah penduduk tiga ratusan juta yang penuh dengan kumpulan predator paling boros di dunia yang pertumbuhan perekonomiannya 0,00 %. Bwahaha…” John tertawa sinis.

“Oh mangkane pantes ae lek pingin nyeret negoro e kene dadi predator pisan. Ndelalah wis podo gak payu barang dagangane, kelarangen kabeh soale yo. Musuh gedhene lek gak Industri India, Korea yo RRT. Lha awakdhewe sebagai penonton thok ae, tibakno yo wis kadung dibujuki Nipon eh pirang tahun iki.” Okt Kiau ikut mengomel. “Sik tha lah, ngajak dadi predator iku yok opo carane?”

“Ya salah satunya menekan Pemerintah kita menaikkan harga minyak sesuai harga minyak yang mereka beli. Supaya harga komoditi ekspor mereka bisa bersaing dengan komoditi ekspor kita kelak.” Jawab John, “Kelak nyet! Kelak!!” ia tegaskan sekali lagi.

“Ya permintaan yang aneh ya. Padahal ya pendapatan per kapita penduduk kita tidak sebesar, eh seboros rakyat mereka. Kadang ada jebakan batman sob, dibalik istilah meningkatkan taraf hidup, mereka sok bijak mengatakan taraf hidup kita harus dilayakkan. Padahal tidak sama sekali, justru taraf hidup merekalah yang seharusnya diturunkan. Karena taraf hidup merekalah yang tak layak diteruskan, sudah terlampau boros menjadi sesosok predator yang memangsa habis tidak hanya SDA tapi juga nilai-nilai kemanusiaan di negara-negara dunia ketiga di berbagai belahan bumi.” Strez mulai angkat bicara.

“Tidak hanya itu, bila harga bbm kita naik. Otomatis mereka bisa mengucurkan bantuan modal kepada Pemerintahan kita. Alasan heroiknya guna menstimulus daya beli masyarakat kita dimulai dari menaikkan gaji para pejabat dan penyelenggara negara-atas nama peningkatan taraf hidup para pekerja di sektor formal pemerintahan kita.” Tambah John.

“Bwahaha.. drama yang sudah lama didesain sebegitu epik cetar membahana. Padahal ya untuk memutarkan kelebihan US$ yang macet ke negara-negara boneka, guna meredam krisis ekonomi dalam negeri mereka sendiri. Padahal pun tak bisa lagi dibendung gerak kapitalisme dalam negeri mereka sendiri, sudah sifat bawaannya dimanapun kapitalisme terlampau mapan pastilah percepatan krisis akan terjadi lebih cepat, lebih cepat lagi dari tahun ke tahun dan pada akhirnya runtuh.”

“Barulah kelak kita menyadari betapa nujumnya prediksi Marx  akan sosialisme, tidak hanya bagi ASEAN. Namun KAA yang pernah dirintis oleh bung Karno. Aku sih mau menambahkan dua kata, AL dibelakangnya. Konferensi Asia Afrika Amerika Latin. Untuk membendung predatorisasi negara-negara berkembang yang tersebar di berbagai belahan bumi negara-negara dunia ketiga” ucap John.

Benar kata Marx, kapitalisme hanyalah fase awal untuk menuju komunisme, begitupun komunisme fase awal untuk menuju sosialisme. Modal hanyalah alat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi di tiap bumi. Memperbaiki hidup kemanusiaan di negara-negara yang miskin dan masih terbelakang. Bila modal hanya berputar untuk kemakmuran di satu negara saja, pun untuk memenuhi standard hidup penduduknya a.k.a pendapatan per kapita rakyatnya yang terlampau tinggi di negara yang bersangkutan, maka hancurlah negara itu dengan sendirinya.

“Semua keputusan sekarang ada di tangan kita; kita hendak ikut mereka, itu berarti terus-terusan dibodohi menjadi budak seks pemutar US$ penuhi nafsu serakah para predator overdosis GNP untuk melanggengkan kemakmuran ilusifnya yang rapuh berada nun jauh di seberang lautan sana.” ucap John sok puitis.

“Ataukah mereka hendak ikut kita? Menyebarkan kemakmuran ke seluruh bumi bilapun kita tidak memiliki modal sebesar yang mereka punya, lebih menitik beratkan pada asas manfaat yang mengesampingkan perhitungan untung rugi semata. Begitulah syukur-syukur bisa berbagi hasil bumi kita yang murah dan terjangkau, bagi negara-negara miskin yang membutuhkan. Dengan niatan tulus bukan untuk meraup keuntungan belaka. Tapi demi hidup dan kemanusiaan seluruh bumi.”

“Peduli setan kalaupun pendapatan per kapita kita paling rendah sedunia. Silahkan mereka bangun pasar sesukanya sampai separah ini. Baca sob!” John lempar lagi gadgetnya. (Indonesia tempat sampah saham-saham negara maju).

“Paling tidak harga-harga di dalam negeri kita tetap stabil dan menyentuh hingga sampai ke pelosok desa sekalipun. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang juga harus stabil. Perlahan tapi pasti, mau tidak mau saham mereka toh akan dan harus lepas dari kita. Serap ilmu perbendaharaannya dan rebut pasarnya. Kukira mereka tahu pasti akan hal ini. Mengapa kita kok tetap ngotot nggak selera jadi negara sepredator mereka? Kalau buruh-buruh tani di desa sering bilang, sing penting entuk barokahe.. (paling tidak kita dapat berkahnya).”

“Potensi kita yang terpendam toh sebenarnya bukan cuma pasar alias tempat sampah bagi perputaran saham mereka. Potensi yang belum tersentuh, kelak saatnya dibangunkan. Untuk mengalahkan industri manufaktur mereka di seluruh bumi. Karena beruntungnya negeri kita ini masih tergolong “negara berkembang” yang adalah juga gudangnya SDA dan energi yang tak ada habisnya, bukan?”

“Oh jadi kita gak bisa dong bermimpi kejar pendapatan per kapita kita setinggi mereka?!” Saya jadi heran dengan analisis John yang aneh. Baru kali ini saya dengar. Kok ada orang macam si John yang tidak ingin pendapatan per kapita penduduk jadi tinggi.

“Boleh asal pondasi dari transaksi ekonomi kita memang real dan nyata. Kalau kita memang sudah menjadi negara eksportir terbesar di dunia. Bukan akibat dari desakan negara-negara maju, bukan akibat dari suntikan-suntikan modal a.k.a tempat sampah bagi mata uang mereka.”

“Seperti tadi kubilang, mereka ingin kita jadi sesosok hulk a.k.a predator seperti mereka, menjadi negara importir bagi barang-barang yang mereka ekspor. Bwahaha goblok, bukak mata woii! GNP kita tidak sebesar GNP predator, pendapatan per kapita penduduk kita ini tidak sebesar, eh seserakah predator. Cumak semut-semut kecil kok di hadapan mereka.”

“Liciknya mereka para predator, tidak hanya dengan jalan media berulang kali memaksa, bahkan lolos berulang kali menjebak psikologis ekonomik para ekonom elit kita di Pemerintahan. Hihihi para ekonom elit indon inlander yang kecanduan dolar layaknya orang yang kecanduan narkoba. Wajar selama ini, para predator bisa seenaknya suntikkan cairan dolar ke tubuh fiskal perekonomian kita, seakan-akan negara kita ini bisa diubah sedemikian cepatnya, menjadi sesosok mutant ekonomi sebesar dan sebuas mereka. Mulai saat ini, dari sinilah kita harus sadar dan mulai tahu diri, bahwa kita bukan sesosok Hulk ekonomik budak dari dolar mereka, selama-lamanya.”

“Wahh.. Pantesan suntikan modal dari bangsa predator yang ilusif, kok kayak candu yang berefek sangat sesaat bagi stabilitas ekonomi dalam negeri. Namun berlangsung selama-lamanya saking ketagihannya.” Ucap strez “Merdeka!!” Pekiknya.

“Hidup Dollar Amerika!!” Dan kami pun tertawa sekencang-kencangnya.

“Busuknya, mereka memaksa menaikkan harga minyak di negara semut-semut kecil, supaya semut-semut kecil terpaksa dan rela untuk mau disuntik, itulah awal kali semut-semut kecil jadi negara yang kecanduan dolar. Bukankah itu kurang bijak? Sama saja dengan mereka mengharapkan semut-semut kecil yang baru saja bangkit mandiri membangun sarangnya, menguatkan mata uangnya-untuk bunuh diri.” tukas John syahdu.

“Begitu sadisnya ya hasrat mereka diam-diam adakan ‘pencucian dolar sebesar-besarnya’ di negeri kita. Saat krisis ekonomi yang mereka alami tak terbendung lagi.” ucap strez getir.

“Lagian jugak apa hebatnya pendapatan per kapita tinggi, bila mengorbankan kedamaian. Siapa tadi yang bilang perdamaian itu mahal harganya, tak bisa dibeli dengan uang sekalipun?!” tanyanya, “Heh.. gegara situasi ekonomi nasionalnya dikit-dikit labil, harga dalam negeri jadi tak stabil. Bukankah itu semacam kemakmuran absurd yang cuman bisa bertahan dalam kurun waktu yang sangat sebentar sekali, bukan?”

bersambung

Iklan