Tetap Terbanglah Rajawali

AMANAT PRESIDEN SUKARNO

PADA ULANG TAHUN

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA,

17 AGUSTUS 1955 DI JAKARTA

 

 

Saudara-saudara!

 

Pidato ini saya susun dalam tiga bagian. Bagian yang mengenai masa yang lampau. Bagian yang mengenai masa sekarang. Dan bagian yang mengenai masa datang.

 

Dengarkanlah!

Hari ini adalah hari ulang tahun kesepuluh sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

 

Pada hari ini bangsa Indonesia seluruhnya, di manapun ia berada, di dalam dan di luar negeri, merayakan hari yang benar-benar bersejarah. Selayaknyalah pada ulang tahun yang kesepuluh ini, apabila kita mengadakan upacara dan perayaan yang agak istimewa, sebab Proklamasi Kemerdekaan adalah satu peristiwa-bersejarah yang maha-hebat, dan sepuluh tahun adalah satu jumlah pula yang istimewa.

 

Sepuluh tahun! Sepuluh tahun pengorbanan, sepuluh tahun penderitaan, sepuluh tahun pe-merasan tenaga, sepuluh tahun idealisme yang gilang-gemilang, sepuluh tahun kecemerlangan!

 

Marilah kita mengenangkan dengan penuh khidmat dan keinsyafan betapa besar karunia Tuhan yang Maha-Esa kepada kita Bangsa Indonesia!

 

Ya, sepuluh tahun! Sepuluh tahun berlayarnya bahtera Indonesia mengarungi Samudra Dahsyat, dengan mengalami segenap naik turunnya gelombang Samudra Dahsyat itu, kadang-kadang dibanting ke bawah laksana hendak kelebu samasekali, kadang-kadang dibanting ke atas kepuncak-puncaknya gelombang itu, sehingga rasanya hampir-hampir tepeganglah bintang-bintang yang berada di langit!

 

Ya, sepuluh tahun pembantingan-tulang dan cobaan-cobaan, tetapi tidak sepuluh menit keputus-asaan, tidak sepuluh detik kepatahan semangat! Jikalau pada hari ini Malaikat menanya: “Di manakah Garuda Indonesia yang sepuluh tahun yang lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 mulai terbang menempuh angkasa yang penuh mendung dan taufan dan geledek itu?”, – maka bintang-bintang di langit akan menyawab: “Garuda Indonesia tidak mau turun, Garuda Indonesia masih tetap terbang di angkasa”.

 

Garuda Indonesia memang berbuat benar, ia tidak berbuat salah. Apa sebab bangsa Indonesia memaklumkan kemerdekaannya? Oleh karena kemerdekaan adalah hak-azasi bagi tiap-tiap bangsa, dan dari hasrat azasi bagi tiap-tiap bangsa akan kemerdekaan dan kehidupan yang sejahteralah, maka bangsa Indonesia, yang mengalami pahit getirnya penjajahan asing selama 3½ abad dan 3½ tahun, memaklumkan kemerdekaannya pada hari sepuluh tahun yang lalu. Mungkin ada perbuatan-perbuatan bangsa Indonesia yang boleh dinamakan salah, tetapi memaklumkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan sampai tetes-darah yang penghabisan dan sampai akhir-zaman sekalipun, – itu bukan perbuatan yang salah. Itu adalah satu hak, dan satu kewajiban!

 

Pada 17 Agustus 1945 kita rebut kembali hak-azasi kita yang telah sekian lamanya disembunyikan orang. Dan sekali bendungan terpecah, – gegap-gempitalah air-bengawannya Revolusi dan Pembangunan Revolusi berjalan, laksana air-bah yang mengalir-menggelombang, mengalir-menggelombang dengan cara yang maha-dahsyat. Langkah pertama pada 17 Agustus ’45 itu tidak mandek, ia dilanjutkan dan sekali lagi dilanjutkan, untuk melaksanakan cita-cita luhur, yakni masyarakat yang adil dan makmur dan berkebudayaan tinggi, yang pelaksanaannya menghendaki pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berdasarkan Pancasila.

 

Dengan bentuk Negara dan dasar Negara yang demikian itulah, – bentuk Negara Kesatuan, dan dasar Pancasila -, maka bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya dengan penuh keyakinan, bahwa cita-cita yang mulia tadi terjamin akan dapat tercapai.

 

Kemerdekaan Nasional dengan dasar Pancasila adalah jembatan emas, yang membawa Rakyat Indonesia kepada kemakmuran, kemuliaan, kebahagiaan jasmaniah, rokhaniah.

 

Dalam mengejar terlaksananya cita-cita itu, maka tak lama sesudah Proklamasi itu mulailah perjoangan hebat bergolak untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah tercapai itu terhadap imperialisme Belanda yang hendak berkuasa kembali, dan untuk mendapatkan pula pengakuan internasional terhadap hasil Gerakan Nasional Indonesia yang berupa Republik Indonesia itu.

 

Hebat benar perjoangan itu! Bom meledak, rumah terbakar, darah mengalir, diplomasi di luar dan di dalam pun dijalankan, – sungguh, siapa yang belum tahu apa yang dinamakan Revolusi – maka apa yang kita alami itulah Revolusi! Sebagai hari kemarin kita ingat kembali perjoangan yang maha-dahsyat itu melalui api-api-dahananya pertempuran, dan gelombang-gelombangnya perdebatan dalam perundingnn-perundingan diplomatik. Sebagai hari kemarin kita ingat kembali pemindahan Pemerintahan Republik Indonesia dari Jakarta ke Jogyakarta pada malam gelap gulita 3 – 4 Januari 1946. Sebagai hari kemarin kita ingat kembali caranya Pcmerintah memimpin Negara melalui naik-turunnya pertempuran dan melalui perjanjian-perjanjian Linggajati dan Renville, yang kedua-duanya didurhakai oleh Belanda. Sebagai hari kemarin kita ingat kembali tindakan Belanda menggunakan bom dan meriam untuk menentang hak-azasi bangsa Indonesia dengan melakukan aksi-militernya yang ke I dan aksi-militernya yang ke II, diangkutnya pemimpin-pemimpin Republik Indonesia sebagai tawanan ke Prapat dan ke Bangka.

 

Tetapi telah sering kukatakan: “Seribu dewa dari kayangan tidak dapat menghancurkan kemerdekaan sesuatu bangsa, jikalau bangsa itu hatinya telah berkobar-kobar dengan api-kemerdekaan”!

 

Sejarah telah membuktikan, bahwa tenaga Rakyat Indonesia sejak penyerbuan Jogya itu bukannya gentar atau mundur, melainkan makin meluas, makin menghebat, makin menyala-nyala, menegakkan Republik Indonesia dan merebahkan mercu-mercu kekuasaan kolonialisme Belanda, sehingga berakhirlah babak pertempuran-dengan-senjata itu dengan pengembalian Pemerintahan Republik Indonesia yang diakui kedaulatannya dalam Konperensi Meja Bundar pada akhir tahun 1949. Pada akhir itu juga, – dua hari kemudian pada pengakuan kedaulatan – kembalilah Pemerintah Republik Indonesia dengan segala kehormatan ke kota Proklamasi. Bergemalah suara segala patriot di dunia yang berkata: di sana, di antara Sabang dan Merauke, berdiamlah satu bangsa herois yang berani memproklamirkan kemerdekaannya dan mem-pertahankan kemerdekaannya. Bernaunglah kembali hampir seluruh wilayah Republik Indonesia di bawah kibarannya Sang Saka Merah Putih. Bergeraklah sejak saat itu, mula-mula pelahan-lahan tetapi makin lama makin pesat, mesin pembangunan di dalam negeri. Bergeraklah pula usaha ke dunia internasional, untuk mendapatkan pengakuan para bangsa dan untuk ikut-serta membentuk masyarakat dunia. Dan dalam bulan September 1950 Republik Indonesia telah diakuilah sebagai anggauta penuh daripada Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

Tahun 1950 adalah tahun, dalam mana buat pertama kali kata Pembangunan digema-gemakan. “Bangunlah, bangunlah lagi, hai Bangsa Indonesia, bangunlah lagi untuk membangun!”, demikianlah seruan yang digunturkan di mana-mana.

 

“Bangunlah lagi untuk membangun!” Membangun di dalam negeri, untuk memperkuat Negara yang belum sempurna ini, dan untuk menyusun satu Masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur; membangun di luar negeri, untuk ikut-serta menyusun satu Masyarakat-Dunia yang memberi keselamatan kepada seluruh kemanusiaan!

 

Dan sekarang, saudara-saudara, hampir lima tahun kemudian, sekarang pada hari mulia 17 Agustus 1955 ini, saya dapat mengatakan, bahwa pembangunan raksasa itu, meskipun masih jauh daripada memuaskan, menunjukkan garis-naik dengan langkah yang pasti.

 

Pembangunan dalam menghasilkan kemajuan-kemajuan dalam pelbagai lapangan, – ingat misalnya pesatnya pemberantasan buta huruf dan bertambahnya produksi makanan rakyat -, pembangunan di lapangan internasional menghasilkan hubungan baik dengan berpuluh-puluh negara, dan perjanjian-perjanjian dengan Mesir, Syria, Afghanistan, Pakistan, India, Burma, Thailand, Philipina, dan memuncak dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika yang mengumpulkan 29 Negara. Di bawah bayangan Konferensi Asia-Afrika itulah Republik Indonesia telah menyumbang menghilangkan sebagian daripada ketegangan-ketegangan internasional, dan dapatlah kini meneruskan rintisan menuju ke arah saling-pengertian dunia dan perdamaian dunia.

 

Demikianlah, saudara-saudara, gambaran keadaan kita, kalau kita membuka kembali lembaran-lembaran gambar 1945-1955. Demikianlah sejarah kita secara tolehan ke belakang secara cepat. Marilah kita sekarang menoleh keadaan pada waktu sekarang.

 

Kita harus memberanikan diri melihat kenyataan-kenyataan yang berlangsung dalam masyarakat dan Negara kita di bawah pelupuk mata kita sendiri. Adakah kenyataan-kenyataan itu memuaskan? Jikalau aku mendengar pertanyaan ini, dan harus memberi jawaban kepada pertanyaan itu, maka dengan jelaslah tampak nyata kepada mataku, bahwa kita ini masih hidup di atas unggun-keruntuhan zaman penjajahan yang lampau, di atas tumpukan ruine-ruine benteng kolonialisme di segala lapangan. Tetapi ah, dapatkah keadaan bersifat lain daripada demikian? Apa arti lima luhun dalam sejarahnya keruntuhan kolonialisme, lima tahun dalam sejarahnya “Downfall of a world wide political-social system”? Apa arti sepuluh tahun dalam sejarahnya satu perobahan maha-besar yang merobah samasekali roman-muka seluruh muka-bumi, sebagai perobahan alam imperialisme yang bercakrawarti ratusan tahun lamanya, ke satu alam yang bersih samasekali daripada imperialisme itu?

 

Dengan terpatahnya tulang-punggung kolonialisme itu, maka sisa-sisa kolonialisme belumlah hilang-bersih samasekali dari tubuh masyarakat kita, yang dihinggapi oleh kolonialisme itu berpuluh-puluh, beratus-ratus tahun. Irian Barat masih meringkuk dalam penjara kolonialisme, dan tidak saja di lapangan kejasmanian dan keharta-bendaan, serta perekonomian, masih tersimpan sisa-sisa dan luka-luka penjajahan, tetapi juga dunia kesusilaan dan dunia akhlak, perseorangan pun masih dihinggapi oleh benalu-benalu perusak batang-tubuh Bangsa Indonesia. Lihat, sepuluh tahun telah usia Proklamasi, lima tahun telah kita membangun, tetapi masih saja gejala-gejala menandakan, bahwa di dalam susunan Kemakmuran kita, masih jenggelok-jenggelok sisa-sisa ekonomi kolonial. Sepuluh tahun telah kita ber-Republik, tetapi pemberantasan krisis-akhlak menandakan bahwa di dalam zaman-peralihan ini pada beberapa manusia masih melekat penyakit keburukan-keburukan kolonialisme. Sepuluh tahun kita telah mengibarkan Sang Saka Merah Putih, tetapi di sana sini masih timbul akibat-akibat politik divide et impera kolonial yang berupa faham-faham kedaerahan dan faham provincialisme. Sepuluh tahun telah kita berkata Merdeka, tetapi masih ada saja kebutaan-huruf sebagai akibat politik membodoh-bodohkan, masih ada saja orang-orang yang dihinggapi minderwaardigheidscomplex terhadap orang asing, masih ada saja orang-orang yang lebih mengetahui dan mencintai cultuur Eropah daripada cultuur sendiri, masih ada saja Belandaisme, masih ada saja orang-orang yang jiwanya bukan Indonesier tetapi jiwa Inlander.

 

Tetapi cukupkah kita dengan mengetahui masih adanya sisa-sisa dan reruntuh-reruntuhan kolonialisme itu? Tidak, pengetahuan itu haruslah hanya bersifat pengetahuan, bahwa menyapu bersih satu sistim politik-ekonomis yang bersimaharajalela beratus-ratus tahun bukanlah satu pekerjaan satu hari. Bertahun-tahun kita masih harus membanting-tulang, bertahun-tahun kita masih harus menarik urat! Bertahun-tahun kita masih harus memeras keringat habis-habisan, berjoang, membangun, berjoang, membangun! Pengetahuan akan masih adanya reruntuh-reruntuhan kolonialisme yang beraneka warna itu haruslah memberi garis-besar keyakinan kepada kita, bahwa tugas kita adalah satu tugas yang beraneka warna rupa, satu tugas yang berjalin-jalin. Perbaikan akhlak, kemampuan jiwa, kesempatan belajar, penyusunan perekonomian dengan penyempurnaan perimbangan antara tuntutan perseorangan dengan rasa kepatutan kepentingan seluruh bangsa, semuanya itu harus memberi garis-garis-besar yang menunjukkan, bagaimana pembangunan jasmani dan rokhani harus diselenggarakan. Usaha nasional harus kita lancarkan demikian rupa sehingga taraf hidup tidak hanya berpusat kepada kebendaan tetapi juga memberi kesempatan yang luas untuk menyempurnakan hidup rokhani.

 

Kemerdekaan yang telah kita capai haruslah membawa perkembangan hidup sejati-jatinya. Hidup, – Hidup ke taraf yang lebih tinggi.

 

Satu kesulitan besar menghadang di tengah jalan. Keamanan belum terjamin dengan sempurna. Di manakah bangsa di muka bumi ini yang dapat bekerja membangun full-time dan full-force, jika keamanan dalam negerinya masih terganggu? Tiap-tiap patriot-sejati Indonesia mengharap dan mendoa supaya keamanan lekas pulih kembali. Jenazah-jenazah pahlawan-pahlawan kita di lobang kubur laksana berbalik di lobang kuburnya, kalau melihat hasil perjoangannya dikacaukan orang. Menjeritlah jiwa kita semua mengehendaki keamanan itu. Matahari, bulan, segenap bintang-bintang di langit laksana hendak kita oyag-oyag, kita mintai memberi peringatan kepada pengganggu-pengganggu keamanan, supaya lekas berbalik pikir, masuk ke dalam masyarakat-biasa kembali, ikut membangun Republik dan masyarakat dalam suasana Persatuan.

 

Saudara-saudara sekalian, baik yang di dalam masyarakat maupun di dalam hutan: Camkanlah, camkanlah sekali lagi pada hari ulang tahun Proklamasi yang Keramat ini, bahwa pemeliharaan Persatuan Bangsa harus kita utamakan di atas segala pemeliharaan. Camkanlah bahwa dengan Persatuan tempo hari kita memulai Revolusi dan memberi isi kepada Revolusi.

 

Usaha pemulihan keamanan pada hakekatnya adalah Persatuan. Kartosuwiryo, Daud Beureueh, Kahar Muzakkar, Soumokil, satu persatu memecahkan Persatuan. Pengikut-pengikut Kartosuwiryo, Daud Beureueh, Kahar Muzakkar, Soumokil, sedar atau tidak sedar, memecahkan Persatuan.

 

Syukur insiden R.M.S. yang digerakkan oleh beberapa gelintir manusia yang teperdaya oleh kekhilafan-pengertian, sehingga dapat dimasuki tusukan jarum opsir-opsir tentara Belanda, kini telah hampir selesai, dan tinggal sekelompok kecil manusia saja yang mengelilingi Soumokil itu. Saya sendiri dengan jelas dapat menyaksikan dan dengan tegas dapat mengatakan, bahwa reaksi rakyat Maluku sebagai satu keseluruhan tak pernah mengatakan bersimpati kepada R.M.S., tak pernah hendak memisahkan diri dari Republik Indonesia yang didirikan dengan perjoangan Bangsa Indonesia seluruhnya. Gegap-gempita sambutan seluruh rakyat Maluku atas dua kali kunjungan Presiden Republik Indonesia, gegap-gempita gemuruhnya pekik “Merdeka” di sana, gegap-gempita dengungnya semboyan-semboyan yang berpusat kepada “Hidup Republik Indonesia, Hidup Republik yang berdasarkan Pancasila!”

 

Dan Darul Islamnya Kartosuwiryo c.s.? Saya yakin pula bahwa sebagai suatu keseluruhan, rakyat Priangan tidak berdiri di belakang Kartosuwiryo itu. Saya ini termasuk golongannya pemimpin-pemimpin, yang mengenal rakyat Priangan itu dari dekat, dan cinta kepada rakyat Priangan itu, antara lain karena rakyat Priangan cinta kemerdekaan. Malah pernah saya katakan di muka umum bahwa saya kelak ingin mati di Parahiangan, ingin dikubur di pangkuan bumi Parahiangan. Saya tahu dengan jelas dan tegas, bahwa rakyat Parahiangan sebagai satu keseluruhan cinta Proklamasl 17 Agustus 1945, cinta Sang Merah Putih, cinta Republik. Demikian keadaan di Priangan Barat, demikian di Priangan Tengah, demikian di Priangan Timur. Ya, Priangan Timur yang katanya dikenal orang sebagai daerah pengacauan. Dan bulan yang lalu buat kesekian kalinya, saya mengunjungi Priangan Timur. Sepanjang jalan dari Cicalengka ke Garut ke Tasikmalaya ke Ciamis adalah satu lautan bendera Merah Putih, sepanjang jalan yang panjang itu berpagar-berjejal-jejallah ratusan-ribu manusia, satu maha-demonstrasi pro Republik. Bergegar udara dengan pekikan “Merdeka, Hidup Republik, Merdeka, Hidup Republik.

 

En toch, Priangan Timur bernama daerah pengacauan! Ya, tiap-tiap seorang-orang durjana yang memegang senjata api dapat mengadakan teror dan pengacauan. Berilah seorang kepala-angin satu revolver dalam tangannya, maka ia dapat menteror dan mengacaubalaukan satu desa. Berilah ia satu bren-gun, dan ia dapat membuat satu daerah luas menjadi satu neraka-jahanam. Rakyat Priangan sebagai satu keseluruhan adalah cinta kepada Republik, tetapi di sana sini dikacau oleh beberapa kelompokan yang namakan diri T.I.I.

 

Demikian pula keadaan di Aceh dan di Sulawesi Selatan. Di semua daerah-daerah pengacauan itu bukanlah rakyat sebagai satu keseluruhan pemberontak kepada Republik, tetapi berjalanlah terornya bendewezen, Terornya berandalan, – berandalan kriminil dan berandalan politik sebagai yang saya sebutkan dalam satu pidato 17 Agustus yang lalu.

 

Akh, jikalau dipikir-pikir, pengacauan-pengacauan itupun reruntuh-reruntuhan kolonialisme. Apalagi sesudah terbukti jelas bahwa anasir-anasir jahat dari fihak Belanda bercampur-tangan dalam pengacauan-pengacauan itu.

 

Karena itu aku tetap optimistis. Satu waktu nanti Insya Allah akan pasti datang, yang pengacauan-pengacauan itu tidak ada lagi. Satu waktu nanti pasti akan datang, yang berandalan politik itu habis samasekali. Sebab kolonialismepun pasti akan lenyap-bersih dari sini, – lenyap-bersih samasekali, zonder ada sedikitpun sisa reruntuh-reruntuhnya lagi!

 

Tetapi proses-proses historispun tidak berjalan zonder campur-tangan manusia. Kita harus bertindak, kita harus berbuat sebagai elemen aktif dalam histori. Kita harus mematahkan pengacauan-pengacauan itu, sebagaimana juga kita harus mematahkan reruntuh-reruntuh kolonialisme yang lain-lain, – ya, sebagaimana juga kita mematahkan tulang-punggung kolonialisme itu dengan seribu satu jalan.

 

Dus? Ya!, – patahkanlah pengacauan-pengacauan itu dengan segala ikhtiar. Sedapat mungkin patahkanlah ia dengan jalannya penginsyafan, dengan jalannya penerangan, dengan jalannya kekuatan ratio dan moriI. Sedapat mungkin laluilah jalannya otak dan jalannya batin. Tetapi jika tidak mungkin, patahkanlah ia dengan kekerasan senjata juga. Hantam dia dengan palu-godam, jika ratio dan moril saja tidak mempan.

 

Malah barangkali yang berikut inilah satu-satunya jalan pemadaman pengacauan yang tetap bagi Indonesia: kombinasi antara jalan ratio-moril dan jalan kekerasan senjata. Tidakkah kita menghantam kolonialisme bertahun-tahun lamanya juga dengan jalan kombinasi itu? Dengan jalannya kombinasi antara desakan politik dan hantaman Revolusi? Dengan jalannya kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld”?

 

Imperialisme di Indonesia mempunyai corak-sendiri dan kepribadian sendiri, lain daripada imperialisme di negeri-negeri lain, dan reruntuh-reruntuh imperialisme di Indonesia-pun tentu mempunyai corak-sendiri dan kepribadian-sendiri. Cara menentang imperialisme di Indonesia adalah lain daripada cara menentang imperialisme di negeri lain, dan cara menentang reruntuh-annyapun harus lain daripada di negeri lain. Cara menentang imperialisme di Indonesia adalah kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld”, dan cara menentang reruntuhnya, saya kira harus satu kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld” .

 

Ada bangsa-bangsa atau golongan-golongan manusia yang mencapai kemenangannya hanya dengan “moreel geweld”, oleh karena keadaan-keadaan yang obyektifnya menentukan dipergunakannya moreel geweld. Orang-orang Keristen dipermulaan zaman Christendom mematahkan usaha lawannya dengan memper-gunakan “moreel geweld”. Orang-orang bikshu dan begawan dari agama Budha dan Hindu di zaman purba mematahkan tenaga musuhnya dengan tenaga “moreel geweld”. Di abad keXIX, bangsa Hongar di bawah pimpinan Deak Ferencz, dengan senjata “moreel geweld” dapat mendesakkan diadakannya Undang-undang Maret 1846 dan Undang-undang Dasar 1867. Dan di abad ke-XX ini, Mahatma Gandhi memaksakan Inggeris memerdekakan India dengan mempergunakan tenaga kolossaal yang keluar dari “moreel geweld”.

 

Sebaliknya, Frederik de Grote dan Bismarck menggembleng satu bangsa yang berantakan menjadi satu bangsa yang kompak dengan alat-alat lain daripada “moreel geweld”. Mereka mempergunakan tempaannya palu-godam materie. Dari mulutnya Bismarck-lah keluar itu perkataan yang dikagumi orang atau dibenci orang “blut und Eisen”, – “darah dan besi”!

 

Ya, mereka menumpahkan darah dengan mempergunakan besi, oleh karena mungkin keadaan-keadaan-obyektif memestikan pertumpahan darah dan penggunaan besi.

 

Mungkin. Tetapi sudah nyatalah, bahwa tiap-tiap gerakan historis yang besar, mencapai sukses, oleh karena cara-caranya berjoang adalah disesuaikan dengan sifat keadaan-keadaan yang menentukan. Dengan sifat keadaan musuh -, dengan sifat keadaan yang tidak dipersesuai-kan dengan bangsa sendiri atau golongan scndiri. Tiap gerakan besar yang tidak dipersesuaikan dengan keadaan obyektif, akan kandaslah dan tiap pimpinan gerakan besar yang berbuat bertentangan dengan sifat-sifat keadaan-keadaan obyektif, adalah main-mata dengan kegagalan, dan main-mata dengan bencana dan malapetaka bagi golongan atau bangsa yang ia pimpin itu.

 

Kita bangsa Indonesia telah berpuluh-puluh tahun belajar menganalisa segala sifat-hakekat imperialisme Belanda yang hendak kita tumbangkan, menganalisa semua kekuasaan-kekuasaan riilnya dan semua kekuasaan-kekuasaan abstraknya, dan kita telah berpuluh-puluh tahun pula berdiri di padang perjoangan, menentang, menghantam, berusaha meremukredamkan imperial-isme Belanda itu, dan ternyatalah bahwa sampai sekarang kita mencapai sukses dengan mempergunakan kombinasi antara senjata politik dan senjata physik. Oleh karena itupun maka reruntuh imperialisme yang berupa pengacauan itupun menurut pengiraan saya hanyalah dapat kita sapu bersih dengan mempergunakan kombinasi antara senjata politik dan senjata physik. Karena itu seruan kita ialah: Insyafkan, insyafkanlah anggauta-anggauta gerombolan itu dengan penerangan politik, insyafkanlah mereka bahwa Republik Indonesia harus kita cintai bersama, harus kita junjung tinggi bersama, harus kita pupuk-pelihara bersama, insyafkanlah mereka bahwa Persatuan Bangsa, sekali lagi Persatuan Bangsa, harus kita susun bersama dan harus kita buat sekompak-kompaknya bersama, insyafkanlah mereka supaya mencintai dan mempunyai-kasihan kepada rakyat dan jangan merampok-menggedor membakar-membunuh milik dan jiwa rakyat, – insyafkanlah mereka, sekali lagi coba insyafkanlah mereka!, – tetapi siapa tidak mau insyaf juga jangan ayal, hantam mereka dengan palu-godam, hantam mereka dengan sekeras-kerasnya!

 

Agak panjang aku bicarakan soal keamanan ini. Keamanan memang mutlak-perlu harus segera kita pulihkan kembali. Sebab begitu banyak kerja-pembangunan yang masih belum selesai; begitu banjak yang masih menunggu.

 

Ambillah misalnya soal-besar industrialisasi. Lambat-laun soal industrialisasi itu menjadi soal mati-hidup bagi bangsa Indonesia. Dari zaman dulu kala, masyarakat Indonesia memusatkan kehidupannya kepada usaha-usaha pertanian, – usaha-usaha agraris. Tetapi bangsa kita bukan satu bangsa yang mandek. Ia adalah satu bangsa yang berkembang biak. Ia adalah satu bangsa yang biologis-dinamis. Tambahnya penduduk berjalan dengan amat pesat sekali. Dari setengah milyun setahun, tambahnya penduduk itu menjadi hampir satu milyun setahun. Dari 50.000.000 penduduk pada permulaan abad ke-XX, penduduk Indonesia sekarang telah menjadi 80.000.000. Tidak mampu lagi kehidupan agraris memenuhi kebutuhan kehidupan penduduk sehari-hari. Tidak mampu lagi kita mempertahankan hidup hanya dengan pertanian saja, dan hanya dengan cara pertanian kuno. Jalan baru harus kita tempuh. Mau tak mau, – mau hidup ataukah mau mati? Negara kita di waktu yang akan datang harus merobah haluan dan melaksanakan industrialisasi.

 

Industrialisasi di pelbagai lapangan untuk memperbesar penghasilan rakyat. Industrialisasi pula di lapangan pertanian untuk memperlipatgandakan hasil bumi yang menjadi kebutuhan rakyat.

 

Tetapi industrialisasi membutuhkan kecerdasan dan kejuruan, membutuhkan technical skill, membutuhkan keahlian tehnik setinggi-tingginya untuk perencanaan dan pimpinan. Pemuda-pemuda Indonesia harus mengerahkan perhatiannya ke jurusan ini. Kesempatan harus bertebaran seluas-luasnya bagimu, hai pemuda-pemudi Indonesia, untuk melaksanakan industrialisasi itu. Ya, bagimulah pekerjaan-besar yang akan merobah samasekali roman-muka dan corak masyarakat kita ini. Akan hilang lenyap kekolotan, akan hilang lenyap “kedusunan”, akan hilang lenyap keulerkambangan, – ya, bangsa Indonesia akan menjadi satu bangsa yang giat-umyek laksana “gabah den interi” oleh industrialisasi itu, – akan hilang lenyap samasekali barangkali apa yang dinamakan “adem tentreming bawana”, – akan bergegar-gegap-gempitalah udara dengan gemuruhnya tractor dan gentarnya mesin, – orang boleh menyenangi atau tidak menyenangi hal ini, … tetap terang dan nyatalah bahwa industrialisasi adalah satu-satunya jalan untuk menambah kekayaan masyarakat dan Negara, terang dan nyatalah bahwa industrialisasi bagi bangsa Indonesia adalah satu soal hidup atau mati.

 

Karena itu maka kita harus dengan tegas mengarah kepada industrialisasi itu, dan soal kecerdasan rakyat kita entamir dengan tidak berhenti-hentinya. Jikalau nanti tahun 1955 hampir silam, maka Indonesia akan telah mempunyai 33.000 sekolah rendahan, 1.600 sekolah lanjutan, 6 organisasi universitas untuk angkatan pemuda-pemudinya. Dan kita semua mengerti benar: meski angka-angka itu sudah angka-angka yang lumayan, jumlah sedemikian itupun masih jauh belum mencukupi!

 

Padahal, dari segala jurusan, pembangunan memanggil-manggil. Dari jurusan kesehatan. Dari jurusan perhubungan. Dari jurusan ketentaraan. Dari jurusan pengairan. Dari jurusan perlengkapan gedung-gedung. Dari jurusan pembentukan deviezen. Dari jurusan pembentukan pengertian ketatanegaraan. Semuanya memanggil-manggil.

 

Semuanya harus dilayani. Dan semuanya itu pada hakekatnya meminta dipenuhi satu syarat mutlak: Negara, dan sekali lagi Negara.

 

Ya, di sini bekerja pula “hukum timbal-balik” yang tempo hari telah saya sebut dalam beberapa pidato: “Hukum Dharma Eva Hato Hanti”, yang saya pakai untuk menegaskan perlunya Persatuan: “Kuat karena bcrsatu, bersatu karena kuat”.

 

Apu hukum timbal-balik antara pembangunan dan Negara!

Tiap-tiap si Fulan dapat menjawab dengan mudah: membangun untuk Negara, dan Negara untuk membangun! Membangun di segala lapangan agar supaya Negara menjadi kuat; karena mempunyai Negara yang kuat, maka kita bisa membangun di segala lapangan.

 

Karena itu maka saya minta kepada segenap bangsa Indonesia lebih-lebih lagi pada hari ulang tahun Proklamasi yang kesepuluh ini, supaya lebih dalam lagi menginsyafi dan memperaktekkan hidup ketatanegaraan. Semua lapisan, semua partai-partai, semua instansi-instansi, ya sampai kepada semua gerombolan-gerombolan di hutan-hutanpun saya panggil pada hari ini supaya lebih dalam menginsyafi dan memperaktekkan hidup ketatanegaraan, – hidup ketatanegaraan Republik lndonesia!

 

Apa arti hidup ketatanegaraan? Persatuan, ketatanegaraan, kerjasama yang baik antara rakyat dan rakyat, kerjasama yang baik antara rakyat dan alat-alat pemerintahan, kerjasama yang baik antara semua instansi-instansi, pendek kata Pemerintah yang sudah mencapai Konsolidasi, – itulah inti hidup ketatanegaraan, itulah inti hidup Bernegara!

 

Semua kita harus menjunjung-tinggi dan memperkuat Negara. Dan dengan Negara itu kita membangun. Dengan Negara itu kita mengerahkan, mengkoordinir semua tenaga laksana satu mesin maha-Raksasa – yang berjiwa Pancasila, satu Mu’zizat koordinasi, maka seluruh bangsa Indonesia harus kerah-mengerahkan tenaganya. Tiap-tiap roda bergerak dan menggerakkan, tiap-tiap gigi bergerak dan menggerakkan, tiap-tiap sekrup menjalankan kewajibannya dengan tiada mangkir sekejap mata. Demikianlah gegap-gempitanya satu bangsa yang berjiwa ketatanegaraan dan memfiilkan pembangunan. Gegap-gempita jiwanya, gegap-gempita aktiviteitnya. Laksana satu sarang lebah yang maha-besar, seluruh masyarakatnya umyek mengamalkan azas “satu buat semua, semua buat satu”. Kemajuan dan hasil-hasil-baik daripada pembangunannya bukanlah jasa tenaga-seseorang, tetapi adalah hasil team-work daripada semua tenaga yang turut serta dalam usaha itu.

 

Ke arah kehidupan-kebangsaan yang demikian itulah kita menuju.

Sepuluh tahun kita telah merdeka, sepuluh tahun kita telah berjoang dan bekerja, dan Alhamdulillah, meski garis di sana sini ada mendekung ke bawah, garis-besarnya boleh dikatakan tetap menaik. Setapak demi setapak, ondanks segala macam rintangan, kita maju. Sekarang meski kesadaran-kesadaran-berpemerintahan, – regeringsbewustheid -, belum meresap secukup-cukupnya di seluruh golongan bangsa, meski baru saja kita mengalami satu krisis Kabinet – bolehlah dengan bangga kita katakan bahwa revolusi kita sedari mulanya, telah melahirkan stable government. Besok, tidak lama lagi, kita mengadakan pemilihan-umum untuk Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Lusa, tidak lama lagi pula, kita mulai dengan sidang-sidangnya: Dewan Perwakilan Rakyat akhir tahun ini, Konstituante di tahun depan.

 

Ya, tidak lama lagi Insya Allah, seluruh warga-negara Indonesia yang memenuhi syarat-syaratnya akan memberikan suaranya kepada calon-calon yang menurut pertimbangannya layak dan tepat untuk duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante itu.

 

Dengan pemilihan-umum itu akan tercapailah penyempurnaan ketatanegaraan, akan lahirlah ketatanegaraan yang memenuhi syarat-syaratnya demokrasi. Akan lahirlah Konkretisasi dari salah satu silanya Pancasila, realisasi daripada apa yang menjadi idam-idaman Rakyat-jelata Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun.

 

Tctapi, aduh alangkah sakitnya kelahiran itu, alangkah berbahayanya kelahiran itu! Kalau kita tidak berhati-hati, robeklah nanti seluruh tubuhnya Ibu Pertiwi! Gejala-gejala perpecahan dalam dunia kepartaian telah nampak dengan nyata di angkasa, hantu sentimen yang berselimut ideologis-prinsipalisme bukan saja menghintai di cakerawala, tetapi sudah mulai mengaut-ngaut bumi di sana sini. “Partaiku harus menang dalum pemilihan-umum, partaiku harus menang!” – semboyan ini memang normal dalam tiap-tiap pemilihan-umum, tetapi lupakah orang akan tragedi-tragedi di negara-negara lain?

 

Tidak usah saya ulangi di sini bahwa demokrasi adalah sekedar alat, bahwa pemilihan-umum adalah sekedar alat, ya, bahwa Negara sekalipun adalah sekedar alat, – bahwa rakyat-sejahteralah tujuan, bahwa masyarakat-adil-dan-makmurlah tujuan, bahwa Ibu Pertiwi-Jayalah tujuan, bahwa manusia-Bahagialah tujuan. Janganlah alat merusak tujuan! Janganlah Pembuatan alat memberantakkan tujuan! Janganlah lupa daratan memainkan sentimen kepartaian. Janganlah nanti, ya, pemilihan-umum dapat berlangsung tetapi bangsa Indonesia terpecah-belah terobek-robek dadanya, bahkan hangus terbakar dalam api saling-dengki dan saling-benci bertahun-tahun lamanya. Bagaimanapun juga, peliharalah keutuhan bangsa.

 

Aku heran: apakah orang lupa bahwa perjoangan kita ini pada mulanya ialah untuk menjunjung seluruh tanah-air dari lembah-lumpurnya penjajahan? Seluruh tanah-air dengan seluruh rakyatnya? Kemerdekaan harus meliputi seluruh rakyat. Kemakmuran dan kesejahteraan harus meliputi seluruh rakyat. Kebudayaan Nasional harus dinikmati seluruh rakyat. Kemajuan ilmu pengetahuan harus dimiliki seluruh rakyat. Karena itulah maka diformulirkan Pancasila, pemersatu seluruh rakyat! Dan memang; – siapa berani membantah bahwa Proklamasi 17 Agustus adalah jaya, justru karena didukung oleh seluruh rakyat? Siapa berani membantah bahwa negara-negara bagian ambyuk ke dalam Negara Kesatuan, oleh karena tenaganya Persatuan Bangsa? Di zaman Jogya, masih ada pemimpin-pemimpin yang berani berkata: “My loyalty to my party ends, where my loyalty to my country begins” – di manakah pemimpin yang demikian itu pada waktu menghadapi pemilihan-umum sekarang ini?

 

Rupanya orang mengira, bahwa sesuatu perpecahan di muka pemilihan umum atau di dalam pemilihan-umum selalu dapat diatasi nanti sesudah pemilihan-umum itu! Hantam kromo saja memainkan sentimen sebelum pemilihan-umum itu! Orang lupa: ada perpecahan yang tak dapat disembuhkan lagi. Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggrantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa. bahkan kadang-kadang meledak sedahsyat-dahsyatnya menjadi peperangan samasekali. Celaka bangsa yang demikian itu, celaka Negara yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tak mampu berdiri kembali, bertahun-tahun ia laksana hendak “doodbloeden” kehilangan darah yang keluar dari luka tubuhnya sendiri.

 

Karena itu, segenap jiwa-ragaku berseru kepada bangsa Indonesia: “Terlepas dari ideologi apapun, – jagalah Persatuan! Jagalah Keutuhan” Bukan hanya oleh karena aku ini Presiden yang berdiri di atas semua partai dan semua golongan, maka aku berseru demikian! Aku menyerukan Persatuan dan Keutuhan, oleh karena aku seorang Patriot, oleh karena aku pencinta Kemerdekaan Nasional, oleh karena aku pencinta rakyat-jelata yang juga mengingini Persatuan, oleh karena aku ini sedikit-banyak ikut-ikut berjoang berpuluh tahun dan oleh karena aku sedikit-banyak ikut-ikut pula berkorban untuk mempersatukan bangsa Indonesia dan untuk mencapaikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

 

Rela aku meninggalkan Istana Merdeka ini untuk mengabdi kepada Persatuan dan Kemerdekaan bangsa, sebagai patriot saja, dan tidak sebagai Presiden!

 

Kita sekalian adalah makhluk Allah. Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta. Ya, benar kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepada suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhirnya, Tuhan pula yang menentukan. Justru karena itulah, maka bagi kita sekarang adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pemimpin kepada Tuhan. Tidak semua manusia berhak berkata: “Aku, aku sajalah yang benar, orang lain pasti salah”. “Golonganku, partaiku sajalah yang benar, partai lain pasti salah”. Orang yang demikian adalah orang yang mutlak-mutlakan yang sombong, yang Ego Sentris, yang eksklusif, orang yang tenggelam dalam ekstremitet, orang yang tak mungkin dapat menjalankan toleransi, orang yang dus samasekali ongeschikt buat demokrasi. Orang yang demikian itu, pada bathinnya adalah orang fasis. Orang yang demikian itu akhirnya lupa, bahwa hanya Tuhan sajalah yang memegang kebenaran.

 

Bangsaku, kembalilah kepada Persatuan! Terlalu besar risiko yang kita ambil buat kemudian hari, kalau kita sekarang tidak mengamalkan sekedar pengekangan sentimen. Lagi pula, lupakah kita bahwa Revolusi Nasional belum selesai, kok kita lebih sibuk mencari salahnya orang lain daripada memikirkan melanjutkan Revolusi Nasional? Lupakah kita bahwa Irian Barat masih merintih-rintih di bawah telapak-kaki imperialisme kok kita lebih sibuk menghantam partai orang lain, daripada menghantam remuk-redam imperialisme yang masih bercokol di Irian Barat itu?

 

Camkanlah! Sepuluh tahun Proklamasi Kemerdekaan telah berusia, tetapi pengembalian Irian Barat kepada wilayah kekuasaan Republik Indonesia, sampai hari ini, jam ini, detik ini masih saja pada taraf tuntutan.

 

Belanda masih tetap berkuasa di Irian! Ikhtiar untuk mencari suara dua pertiga di P.B.B. tempo hari gagal, – Belanda masih tetap berkuasa di Irian! Perundingan di Den Haag sebagai bagian dalam perundingan pembubaran Uni tidak berhasil, – Belanda masih tetap berkuasa di Irian!

 

Akhirnya, Konperensi Asia-Afrika membicarakan tuntutan Indonesia kepada P.B.B.

Dan memang kita akan lanjutkan tuntutan kita itu di P.B.B. dan memang akan masuk lagi di agenda P.B.B.

 

Tetapi bagaimanapun pentingnya bantuan dari luar, – kita berterimakasih kepada Negara-Negara Konperensi Asia-Afrika, namun jika kita tidak mengambil nasib saudara-saudara kita di Irian menjadi nasib kita yang mengenai seluruh bangsa Indonesia di tangan kita sendiri, maka sampai lebur-kiamatpun tuntutan itu akan tetap tuntutan belaka. Tidak! P.B.B. hanyalah salah satu front, bukan satu-satunya front! Dengan kekuatan sendiri, dengan kekuatannya bangsa Indonesia itu sendiri kita harus memerdekakan Irian, dan dengan kekuatan kita sendiri kita Insya Allah pasti akan memerdekakan Irian. Kerahkanlah seluruh tenaga! Kerahkanlah seluruh potensi perjoangan! Bulatkanlah tekadnya seluruh bangsa Indonesia yang 80.000.000 jiwa, persatukan dan bangkitkan laksana gempa seluruh jiwa-raga yang 80.000.000 itu, perlipat-gandakan hebatnya aksimu membebaskan Irian, maka Irian Barat pastilah segera berkumpul lagi dengan kita dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia!

 

Indonesia tidak bermaksud mengeluarkan suara tantangan. Dalam soal Irian Barat kita senantiasa bersedia berunding dengan siapa saja, apa lagi dengan Belanda. Dunia mengetahui kesediaan kita itu. Tetapi kesediaan berunding itu dijawab oleh fihak Belanda senantiasa dengan ketidaksediaan berunding. Bangsa Indonesia harus insyaf, bahwa terutama oleh kekuatan bangsa Indonesia sendirilah Irian Barat akan kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik. Bangsa Indonesia bersedia menggunakan segala tenaga yang benar dan adil di segala front untuk mengembalikan Irian Barat, bersedia berjoang meski di seluruh abad ke-XX sekalipun, supaya terpenuhilah dari Sabang sampai ke Merauke seluruh panggilan Proklamasi.

 

Ada satu hasil di waktu belakangan ini dalam persoalan kita dengan Belanda, yaitu soal Uni. Tatkala dalam tahun 1950 melebur kembali negara-negara-bagian dalam Negara Kesatuan, yang melebur feodalisme hancur-luluh dalam kancahnya Unitarisme yang dicintai rakyat, maka masih ketinggalanlah satu ikatan dengan Belanda yang berupa Uni, yang dikepalai oleh Ratu Negeri Belanda.

 

Bagi jiwa nasional, ikatan yang demikian itu dirasakan sebagai satu tekanan yang maha-hebat. Berkat perjoangan Pemerintah, Uni itu daput dihapuskan; sejak tahun 1954 Uni itu pecah-musnalah ke dalam histori; Republik sejak saat itu menjadilah lagi Republik Proklamasi.

 

Tinggal saja ratifikasi pembubaran Uni itu oleh Dewan Perwakilan Rakyat di sini. Dus, saudara-saudara, apa yang telah kita capai sampai sekarang? Apa yang telah kita capai sebagai hasil perjoangan kita yang berpuluh-puluh tahun, hasil keringat dan korban-korban kita, sejak zamannya Budi Utomo sampai ke zamannya Serikat Islam, sampai ke zamannya N.I.P. dan P.K.I. dan Sarekat Rakyat, sampai ke zamannya Partai Nasional Indonesia dan Pendidikan Nasional Indonesia dan Partindo dan Parindra dan Gerindo dan partai-partai lain, sampai ke penderitaan-penderitaan dan latihan-latihan kita di zaman Jepang, sampai ke saatnya Proklamasi, sampai kepada hari ulang tahun yang sekarang? Kita telah mencapai banyak, dan pantaslah kita mengucap terimakasih kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas apa yang telah kita capai itu:

 

Pertama: Terbentuknya satu Negara Kesatuan indah-permai yang walaupun Irian Barat belum masuk ke dalam wilayah kekuasaannya, terbentang dengan megahnya antara dua benua dan dua samudra, laksana “sabuk zamrud yang melingkar-lingkar khatulistiwa”, satu Negara Kesatuan yang kaya-raya, yang dalam pangkuannya menyimpan kekayaan alam yang maha-luas dan maha-berharga, yang sungguh tiada taranya di seluruh muka-bumi.

 

Kedua: Timbulnya kembali satu Bangsa, – Bangsa Indonesia yang di zaman modern ini mau dan dapat berjoang untuk mencapai cita-cita nasionalnya, mau dan dapat berjoang mati-matian untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan tanah-airnya. Satu Bangsa Indonesia yang dari zaman purba-mula telah memiliki taraf kebudayaan yang tertentu, dan sejak tercapainya kemerdekaan menunjukkan hasrat dan kemampuan untuk mempertinggi lagi taraf kebudayaan nasionalnya itu. Satu bangsa yang dengan hati terbuka menghadapi kemajuan-kemajuan dan ajaran-ajaran dunia internasional, akan tetapi toh tetap berusaha untuk mengembangkan kebudayaan nasionalnya sendiri.

 

Ketiga: Tersusunnya satu aparatur ke Pemerintahan yang kian tahun kian kuat menuju kepada penyempurnaan, satu aparatur yang didampingi oleh alat-alat kekuasaan bersenjata, yang karena tak berhenti-henti menghadapi kesulitan-kesulitan, dan tugas-tugas dipadang pertempuran, kian hari kian bertambah ketangkasannya dan kemampuannya. Sayang sedikit, bahwa antara Pemerintah dulu dan Angkatan Darat kini ada perselisihan, yang sampai sekarang belum tercapai pemecahan persoalannya.

 

Keempat: Tersusunnya perhubungan-perhubungan dengan dunia di luar pagar, perhubungan yang istimewa pula dengan negara-negara dan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.

 

Politik bebas dan aktif terhadap luar negeri tidaklah hanya mempermudah datangnya bantuan guna perkembangan Republik Indonesia, akan tetapi ternyata membawa kemungkinan pula untuk memberikan sumbangan kepada dunia guna mengurangi ketegangan-ketegangan yang membahayakan perdamaian dunia.

 

Empat hasil perjoangan dan korbanan inilah yang nanti dapat kita letakkan di atas persadanya Konstituante. Empat hasil yang tidak kecil. Siapa bilang kecil? Ingatlah kembali keadaan kita pada permulaan abad ini: Satu bangsa yang terpecah-belah, satu bangsa dalam perbudakan ratusan tahun, satu bangsa yang miskin-papa-sengsara, satu bangsa yang terhina. Bahkan, satu bangsa yang tak boleh menyebutkan namanya sendiri! Alangkah besarnya perbedaan sekarang: Kini kita telah kembali menjadi Bangsa Indonesia yang bulat. Kini kita telah ber-Negara Kesatuan. Kini kita telah ber-Pemerintahan yang teratur. Kini kita telah berhubungan dengan dan dihormati oleh dunia internasional. Sungguh empat hasil yang penuh hormat.

 

Empat hasil yang membuat mata tiap-tiap patriot Indonesia berlinang-linang. Empat hasil pemberian Tuhan. Tidak sia-sia kita memenuhi panggilan Tuhan-Rabbulalamin. Tidak sia-sia kita berusaha, tidak sia-sia kita berjoang.

Tidak sia-sia kita berkorban …

 

Demikianlah saudara-saudara, potretnya perjoangan bangsa Indonesia di masa yang lampau sampai ke masa sekarang. Baik sekali lagi aku katakan: Aku melihat satu Bangsa, yang tadinya hampir tenggelam samasekali dalam lembah-lumpurnya kenistaan, yang namanyapun tidak dikenal orang, yang perihatin “akandang langit akemul mega”, lambat-laun mengangkat dirinya dari lembah-lumpur itu, dan akhirnya melompat keluar dari lumpur itu dan menghantam remuk-redam imperialisme yang menekan dia tiga ratus lima puluh tahun lamanya di dalam lumpur itu. Aku melihat ia sejak 17 Agustus 1945 berdiri tegak, aku melihat dia menangkis segala hantaman-hantaman-pembalasan, aku melihat ia malahan makin hari makin bertambah besar dan perkasa, wah, aku melihat ia memancarkan sinar, aku melihat ia menengadahkan tangannya memohon restu kepada Ilahi. Aku melihat Dunia Timur laksana berfajar, karena tegaknya kembali Sang Putra Pratiwi ini.

 

Siapakah gerangan Sang Pratiwi-atmaja itu? la adalah Bangsa Indonesia, yang kini telah tegak kembali sepuluh tahun, tetapi yang, menilik ketabahannya dan keuletannya yang sudah-sudah Insya Allah mungkin dapat mencapai usia sepuluh kali seribu tahun. Sebab di masa yang lampau ia tahu, bahwa sesuatu bangsa hanya dapat berada kalau benar-benar ia berjiwa bangsa, hanya dapat kuat kalau ia bersatu, hanya dapat merdeka kalau ia membeli kemerdekaan itu, hanya dapat bertambah tenaga kalau ia menggembleng tenaga itu, hanya dapat makmur-sejahtera kalau ia memeras-keringat menyusun kesejahteraan itu.

 

Akan tetapkah ia memperhatikan dan mengamalkan hukum-alam ini? Saudara-saudara, sedetik dibagi seribupun, jangan pernah melupakan hukum-alam ini. Bangsa besar-besar telah lenyap-runtuh, karena melupakan semua atau salah-satu daripada hukum-alam ini. Kerajaan Fir’aun runtuh-lenyap, kerajaan Rumawi runtuh-lenyap, kerajaan Jengis Khan dan Kublai Khan runtuh-lenyap, kerajaan Majapahit runtuh-lenyap, ya Dunia Islam dulu hampir-hampir runtuh-lenyap, karena melupakan semua atau salah-satu daripada hukum-alam ini. Satu Dasa-Warsa kini di belakang kita, satu Dasa-Warsa yang kedua memulai pada hari ini. Marilah kita tetap satu “fighting nation” yang tidak mengenal “journey’s end”. Marilah kita insyafi bahwa Hidup adalah Perjoangan, dan bahwa Perjoangan adalah Hidup. Marilah kita amalkan keinsyafan itu, kalau kita hendak memenuhi sumpah kita “sekali merdeka, tetap merdeka”.

 

Ya, marilah kita berani menghadapi tugas dan berani mengamalkan tugas. Jelas tugas-tugas-pokok yang berada di hadapan kita sekarang ini. Jelas lebuh-lebuh yang harus menjadi arah daripada perjoangan dan pembantingan-tulang bangsa Indonesia dalam Dasa-Warsa yang di hadapan kita ini.

 

Apakah tugas-tugas-pokok yang berada di hadapan kita itu? Aku melihat tugas-pokok lima buah, lebuh-pokok lima buah. Aku melihat Panca Dharma terang memanggil-manggil.

 

P e r t a m a: persatuan bangsa harus kita gembleng kembali sekompak-kompaknya, jangan ada perpecahan seperti sekarang, jangan ada retak meski sekecil-kecilnyapun juga.

 

K e d u a: tiap-tiap tenaga pemecah persatuan, apalagi menimbulkan kekacauan dan gangguan keamanan, harus kita tekan, harus kita berantas, harus kita sapu bersih atau kita hantam hancur-lebur dari muka bumi.

 

K e t i g a: pembangunan di segala lapangan harus kita teruskan, malahan dengan lebih giat daripada yang sudah-sudah – dengan lebih banyak élan daripada dalam Dasa-Warsa yang baru lalu.

 

K e e m pat: perjoangan mengembalikan Irian Barat pada khususnya, perjoangan menyapu bersih tiap-tiap sisa imperialisme-kolonialisme pada umumnya, harus kita lanjutkan, bahkan harus kita pergiat-perhebat-perlipatgandakan dengan segala konsekwensi, harus kita gegap-gempitakan “lir agawe lindu hing bawana”, sampai Irian Barat dipulangkan kembali ke pangkuan kekuasaan Ibu Pertiwi, dan sampai tidak ada satu ekor kutu imperialisme sekalipun masih berada di pangkuan Ibu Pertiwi!

 

Dan K e l i m a: pemilihan-umum, dengan tidak ditunda seharipun, harus kita selenggarakan dengan konsekwensi di seluruh tanah-air Indonesia, juga di daerah-daerah yang dinamakan daerah pengacauan.

 

Nah, itulah Panca Dharma yang kulihat melambai-lambai. Panca Dharma yang pasti menyegarkan jiwa pahlawan, Panca Dharma yang membuat darah mengalir cepat dalam tubuhnya orang ksatria, dan mengerutkan hatinya orang pengecut.

 

Perlukah kuuraikan lagi perlunya Persatuan Bangsa? Sudah barang tentu tidak. Berkali-kali telah kukatakan, bahwa tiada bangsa dapat segar-sentausa, bahkan dapat hidup langsung, zonder persatuan.

 

Perlukah kujelaskan lagi perlunya menekan, membanteras, menyapu bersih pemecah dan pengganggu keamanan dan Persatuan? Tidak perlu! Materiil penggangguan keamanan itu nyata telah mendatangkan kerugian yang besar, idiil ia mendatangkan bahaya yang lebih besar lagi. Sebab idiil di atas beginsel Persatuan Nasional, berdiri di atas beginsel Persatuan. Tidak berdiri di atas beginsel Persatuan Nasional, dan tidak berdiri di atas beginsel Negara Nasional. Kita berdiri di atas beginsel Negara Nasional itu, oleh karena kita menghendaki satu Negara Republik Indonesia yang meliputi sekujur badannya Natie. Kita berdiri di atas beginsel Negara Nasional itu, oleh karena kita menghendaki satu Negara-Besar yang berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke. Oleh karena itulah maka kita memegang teguh kepada dasar Pancasila, oleh karena hanya Pancasilalah dapat mempersatukan seluruh Natie Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, – Natie Indonesia, yang beraneka agama, beraneka adat-istiadat, beraneka ethnologie. Tetapi misalnya Kartosuwiryo c.s.? Negara Nasional, Negara yang meliputi sekujur badannya Natie, Negara yang berwilayah segenap tanah-air Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, bukanlah bagi mereka satu premisse yang pokok, bukan bagi mereka satu premisse yang absolut. Dengan satu bagian tanah-air kita, mereka telah senang, dengan satu daerah mereka telah senang, ya, mungkin dengan “satu bidang tanah selebar payung” pun mereka telah senang, asal di daerah itu berjalan pemerintahan menurut konsepsi mereka itu. Pada intinya ini dus memecah beginsel Persatuan. Memecah beginsel Persatuan Bangsa, menabrak beginsel Negara yang meliputi sekujur-badannya Natie, menabrak beginsel Negara Nasional, mengkhianati Proklamasi 17 Agustus ’45. Pengkhianatan ini belum habis. Apalagi bukan pengkhianatan beginsel saja, yang dijalankan dengan jalan demokratis parlementer. Ia dijalankan dengan jalan menentang Negara, dengan jalan kekerasan senjata, dengan teror, dengan membakar, dengan membunuh. Alat-alat kekuasaan Negara aktif berusaha membanteras mereka itu, tetapi usaha itu belum membawa hasil-kesudahan yang seratus persen.

 

Perlukah kubentangkan lebar-lebar gunanya dan perlu mutlaknya kita mempergiat pembangunan diseluruh lapangan? Saya rasa juga tidak. Tiap-tiap anak kecil mengerti bahwa kita mengingini satu masyarakat yang makmur, yang sejahtera, yang cukup lengkap segala-galanya yang “tata-tenteram-kerta-raharja”. Hanya perlu selalu kugemblengkan dalam hati-sanubari seluruh rakyat, bahwa masyarakat yang demikian itu tidak dapat datang dengan sekedar mengucapkan “pat-pat-gulipat, tenguk-tenguk dapat berkat” melainkan harus dibangun dengan usaha dan amal, – dengan membanting-tulang, dengan memasangkan tiap-tiap urat di tubuh kita, dengan memeras keringat habis-habisan. Malahan sering saya katakan, bahwa kemerdekaan bukanlah garansi buat kemakmuran-kesejahteraan, melainkan sekedar satu jembatan, satu hal yang memberikan kemungkinan kita berusaha leluasa menyusun kemakmuran dan kesejahteraan. Kalau kemungkinan itu tidak dipergunakan, kalau kita tidak berusaha, tidak membangun, tidak membanting-tulang, tidak memeras keringat, maka sampai yaumulkiyamat pun kita tidak akan mengalami kemakmuran dan kesejahteraan.

 

Perlukah saya uraikan harusnya kita melanjutkan perjoangan Irian Barat, melanjutkan pula perjoangan menyapu bersih tiap-tiap sisa imperialisme-kolonialisme dari bumi Indonesia?

 

Ai, kita ini patriot, kita ini anti-imperialisme, kita ini bukan republikein mogol-setengah-matang, kita ini bukan pendurhaka Proklamasi! Kita ini sudah berkali-kali sumpah, bahwa kita akan berjoang terus, ya, tadi saya telah katakan: meski di seluruh abad ke-XX sekalipun, sampai Irian Barat dikembalikan ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dan kita inipun prinsipiil anti-kolonialisme dan anti-imperialisme, di manapun ia dilakukan, bagaimanapun ia dilakukan, oleh siapapun ia dilakukan. Kitalah yang di dalam Konperensi Asia-Afrika bulan April yang lalu berkata, bahwa imperialisme belum mati, bahwa kolonialisme belum mati. “Colonialism is not yet dead. How can we say it is dead, as long as vast areas of Asia and Africa are unfree” Kitalah pula yang tidak mau ketinggalan memberi bantuan moril kepada semua bangsa-bangsa yang memperjoangkan kemerdekaannya, seperti Tunisia, Aljazair, Marocco, Vietnam, Malaya, dan lain-lain. Karena itu, sekali lagi kita berkata, kita akan berjoang terus, berjoang terus dengan segala daya-upaya, berjoang terus mati-matian, sampai Irian Barat dikembalikan kepada kita, sampai tiap-tiap kutu imperialisme-kolonialisme musna dari pangkuan Ibu Pertiwi.

 

Janganlah orang anggap ini omong-kosong, janganlah orang anggap ini omong-sombong. Jikalau Belanda masih menghendaki perhubungan baik antara Indonesia dan Belanda, jikalau bagi Belanda perhubungan baik itu masih akan ada artinya, maka hendaklah Belanda menerima baik anjuran kita dan anjuran Konperensi Asia-Afrika untuk membuka perundingan dengan kita mengenai penyerahan kekuasaan di Irian Barat kepada Republik.

 

Demi perhubungan baik itu, – bahkan demi kepentingan perdamaian di dunia ini, – maka semua sumber-sumber ketegangan antara Indonesia dan Belanda yang eksplosif harus dihilang-kan. Telah lima tahun umurnya ketegangan antara Indonesia dan Belanda oleh karena persoalan Irian Barat itu! Buat apa terus-menerus begini, hai Belanda? Sumber-sumber ketegangan dalam hubungan Indonesia-Belanda banyak, tetapi dengan jalan musyawarat beberapa sebab-ketegang-an itu ternyata telah dapat disingkirkan. Misi Militer Belanda – satu sumber ketegangan – telah dapat kita akhiri dalam tahun 1953 berkat kesediaan kedua belah fihak untuk berunding.

 

Uni Indonesia-Belanda – satu sumber ketegangan lain – telah dapat kita hapuskan pula, juga karena adanya kesediaan berunding pada kedua belah fihak.

 

Kenapa sumber pokok dari semua ketegangan, yaitu masa’alah Irian Barat, masih belum juga dapat dimatikan? Kalau Belanda dalam soal Irian Barat tetap bersitegang urat leher, kalau Belanda tidak mau melihat betapa eksplosifnya pertikaian mengenai Irian Barat ini, maka saya khawatir bahwa hubungan Indonesia-Belanda sukar untuk memperbaikinya kembali!

 

Saya menjadi ragu-ragu, apakah benar-benar masih ada kesungguhan dalam hati fihak Belanda untuk memperbaiki hubungannya dengan Indonesia? Apakah artinya kampanye Belanda untuk menjual propaganda memburuk-burukkan nama Indonesia dengan buku putihnya, yang disodors-sodorkan kian-kemari itu? Apakah yang tersimpan dalam lubuk hati Belanda dengan membiarkan orang-orang di negeri Belanda menyokong gerakan R.M.S., yang terang hendak mengacau keamanan di Indonesia ini? Bagaimana orang seperti Westerling dengan riwayat kejahatannya di Indonesia, masih dapat ditolerir untuk membuat rencana, dan hampir dapat melaksanakan rencananya itu untuk kembali ke Indonesia dan mengulangi kejahatannya lagi? Apakah yang mendorong Belanda untuk melompat ke kanan dan melompat ke kiri mencari pembela bagi beberapa Belanda tahanan yang kena tuduhan menjalankan aksi-aksi jahat di Indonesia ini?

 

Sungguh, semua tindakan-tindakan Belanda itu tidak ada satupun yang menunjukkan adanya kesungguhan hati fihak Belanda untuk memelihara hubungan baik dengan kita. Rupanya mereka telah tidak bisa lagi berfikir secara historis dan secara politik-psichologis. Rupanya mereka tak mampu menarik pelajaran dari masa-masa yang telah lampau. Rupanya mereka telah buta-pandangan. Rupanya mereka telah masuk golongan orang-orang yang “wien de goden verderven willen, slaan ze met blindheid”. Rupanya, seperti yang sudah-sudah, Belanda menunggu datangnya paksaan-paksaan, menunggu jatuhnya palu-godam sejarah, menunggu jatuhnya kenyataan “one can not escape history”, untuk mengubah sikapnya yang bandel itu. Ya, dan jikalau nanti hukum-besi “one can not escape history” itu datang kepada Belanda, maka ia hanya akan menelan pahitnya saja, dan menelan tragiknya.

 

Demikianlah saudara-saudara kewajiban kita untuk melanjutkan perjoangan kita mengembalikan Irian Barat ke pangkuan kekuasaan Ibu Pertiwi, dan perjoangan menentang semua sisa-sisa imperialisme-kolonialisme yang masih ada. Tinggal sekarang saya harus menguraikan tugas pokok mengadakan pemilihan-umum. Perlukah saya uraikan perlunya pemilihan-umum itu lebih lebar? Sebenarnya tidak. Tetapi ada hal-hal yang bersangkutan dengan pemilihan-umum itu, yaitu yang mengenai hidup-kepartaian, perlu saya kupas lebih dalam lagi.

 

Tadi sudah saya bayangkan: Kalau saya bicarakan tentang hidup-kepartaian di tanah-air kita, hatiku merasa sedih. Dan makin dekat kepada pemilihan-umum, hatiku makin cemas.

 

Padahal, buat apa diadakan pemilihan-umum itu? Untuk melaksanakan demokrasi, untuk mencapai stabilisasi politik. Tetapi terjadilah – ini lumrah – satu paradox. Paradox, bahwa untuk mencapai suatu stabilisasi politik, terjadilah suatu disstabilisasi politik. Paradox ini sementara boleh, asal jangan ia dilebih-lebihkan.

 

Bung Hatta sebagai Wakil Presiden pada tanggal 3 November ’45 menandatangani satu Maklumat, yang menganjurkan rakyat mendirikan partai-partai politik, dengan pesanan:

 

“Supaya diberikan kesempatan kepada rakyat seluas-luasnya untuk mendirikan partai-partai politik dengan restriksi, bahwa partai-partai politik itu hendaknya mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat“.

 

Perhatikan saudara-saudara! Dianjurkan mendirikan partai-partai politik, tetapi “partai-partai politik itu hendaknya mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat“.

 

Tetapi apa yang telah terjadi? Sejak keluarnya maklumat itu, berkembang-biaklah kehidupan kepartaian. Malah berkembang-biak dan berkembang-biak! Sekarang jumlah partai-partai politik di Indonesia sudah mendekati 30.

 

Zegge en schrijve: t i g a p u l u h! Jarang ada negeri yang begitu banyak partainya seperti Indonesia ini. Katakanlah bahwa Republik Indonesia bukan Republik Demokrasi!

 

Akan tetapi, perkembangan demokrasi itu kadang-kadang menunjukkan gejala-gejala, bahwa penggolongan dalam macam-macam partai itu bukan lagi bersifat penggolongan yang sehat, tetapi sudah mendekati sifat perpecah-pecahan. Bukan lagi bersifat diferensiasi yang rasionil, tetapi sudah bersifat versplintering: Saya katakan perpecah-pecahan atau versplintering, oleh karena banyak dari partai-partai itu tidak menunjukkan perbedaan-perbedaan besar mengenai dasar yang prinsipiil. Tidak! Banyak dari partai-partai itu sangat boleh jadi hanya disebabkan oleh nafsu menonjolkan diri dari beberapa orang yang merasa kurang mendapat perhatian masyarakat; “distinctie-drang”; oleh nafsu ingin berpengaruh. Oleh karena nafsu “dia mau kursi”, bukan demokrasi.

 

Dan apa bencana yang pasti akan datang kalau proses perpecahan-perpecahan tidak segera disadari dan tidak segera dibendung?

 

Tiap-tiap orang tentu mengetahui jawabnya. Tanyakan kepada si Dadap dan si Waru yang jujur, tanyakan kepada si Marhaen dan si Kromodongso yang hatinya putih. la akan menjawab: bencana yang pasti datang ialah bencana panas-panasan-hati, bencana gogreknya kekuatan bangsa. Tanyakan kepada si intelektuil yang integre, ia akan menjawab: bencana yang pasti akan datang ialah bencana desintegrasi potensi nasional.

 

Sedarilah pada Hari Proklamasi ini, bahwa janji Nopember ’45 ialah bahwa partai-partai politik itu hendaknya “mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat”! Apa yang kita alami di waktu-waktu belakangan ini ialah kadang-kadang bukan “mempertahan-kan kemerdekaan dan mendjamin keamanan masyarakat”, melainkan “mempertahankan kepentingan golongan sendiri dan kepentingan diri sendiri”, dan “menjamin kepentingan golongan sendiri dan kepentingan diri sendiri”!

 

Apakah jalan keluar dari keadaan yang mesum sekarang ini, hai rakyat? Hai rakyat-jelata, hai Marhaen, hai Dadap, hai Waru, hai Sarinem, hai Sarinah? 29 September 1955, empat puluh lima hari lagi, engkaulah menjadi hakim! Di dalam pemilihan-umum, engkaulah menjadi hakim! Ambil kesempatan itu! Tangkap kcsempatan itu! Sederhanakanlah hidup-kepartaian, pilihlah orang-orang yang benar-benar pemimpin! Pilihlah satu Dewan Perwakilan Rakyat yang benar-benar mencerminkan kehendak 80.000.000 rakjat Indonesia. Pilihlah orang-orang yang benar-benar mengabdi kepada Rakyat-Indonesia dan Tanah-air Indonesia, bukan kepada kepentingan asing atau kepada kepentingan diri sendiri atau kepentingan golongan sendiri.

 

Sehatkanlah kehidupan politik kita dengan jalan pemilihan-umum itu! Engkau bisa, hai rakyat, sebab engkaulah yang nanti menjadi hakim, – bukan aku, bukan Bung Hatta, bukan Angkatan Perang, bukan Kabinet. Kita mesti menuju ke arah penyederhanaan bukan saja dalam kehidupan materiil sehari-hari, tetapi juga dan terutama – dalam cara berfikir politik.

 

Buat apa toh perlunya berpuluh-puluh partai itu? Lihat kepada irama-kodrat, ikutilah irama kodrat itu, sebagai yang sudah sering saya kemukakan dalam pidato-pidato yang terdahulu. “Dalam menuju ke laut, sungai setia kepada sumbernya”, – “door naar de zee te stromen is de rivier trouw aan haar bron”, – demikianlah kukatakan dalam pidato-pidato yang terdahulu. Lihat! Puluhan, ratusan, mungkin ribuan sungai-sungai kecil mentaati perintah sumbernya dan menuju ke laut, ribuan sungai-sungai kecil mengalir, mengalir, mengalir, tetapi sebagian besar daripada sungai-sungai kecil itu bermuara di bengawan-bengawan raksasa yang jumlahnya dapat dihitung di jari tangan, dan bengawan-bengawan raksasa inilah yang mencapai ke laut. Dan yang tidak bergabung dalam bengawan raksasa, – mandeklah ia menjadi rawa, sarang nyamuk dan serangga yang jahat, atau mandek menjadi comberan yang berbau busuk, atau mandek mengering, mati tanpa bekas.

 

Ikutilah irama kodrat itu! Janganlah terlalu banyak aliran-aliran politik kecil-kecil yang masing-masing bernafsu menempuh jalannya sendiri-sendiri! Bergabunglah menjadi beberapa bengawan-politik, bergabunglah menjadi beberapa partai politik yang pokok-pokok saja! Sungai-sungai kecil tidak berdaya besar, tetapi bengawan-bengawan raksasalah menimbulkan kekuatan arus yang maha-dahsyat. Beton dan batu tidak mampu membendungnya, besi dan baja tidak mampu mematikannya, bukit-bukit penghalang akan gagal jebol samasekali jikalau tidak hendak menyetop perjalanannya.

 

Ya, sederhanakanlah kehidupan politik kita, Rasionilkanlah kehidupan politik kita itu, kurangilah jumlah partai, pergunakanlah pemilihan-umum nanti untuk merasionilkan kehidupan politik kita itu, sebab terlalu banyaknya partai-partai politik berarti pula pemborosan tenaga nasional.

 

Tidakkah banyaknya krisis Kabinet juga antara lain disebabkan oleh coraknya kehidupan politik kita itu? Kita sekarang sudah mempunyai Kabinet lagi. Tetapi tahukah saudara-saudara bahwa kita ini dalam sepuluh tahun yang lalu telah mengalami tidak kurang dari limabelas krisis Kabinet? Tiap-tiap krisis Kabinet sedikit banyaknya berarti juga pemborosan tenaga, pemborosan waktu yang berharga, pemborosan slagkracht nasional. Tiap-tiap kali, krisis-krisis pemerintahan itu dimulai dengan perselisihan-perselisihan kecil, perselisihan-perselisihan yang hampir-hampir boleh dikatakan remeh, tetapi yang menjadi-jadi, karena tidak segera diselesai-kan, waktu perselisihan itu masih berukuran kecil. Sering kita kurang waspada, kurang dapat memberikan pernilaian yang tepat kepada sesuatu persoalan, sehingga kurang dapat membuat pra-perhitungan yang tepat pula ke arah mana persoalan itu bisa berkembang. Maka sering kita dihadapkan kepada satu fait accompli, satu kejadian yang sudah berukuran besar dan tak mudah dirobah lagi.

 

Inilah salah satu sebab keruwetan-keruwetan yang menimbulkan krisis-krisis Kabinet. Ya, tentu masih ada sebab-sebab lain bermacam-macam, seperti rasa curiga-mencurigai, rasa tak senang-menyenangi, rasa kesal atau rasa benci, dan lain-lain lagi emosi-emosi subyektif dari orang-seorang atau golongan-segolongan. Tetapi maha-sebab, maha-sumber dari semua sebab-sebab itu ialah diferensiasi kepartaian yang mendekati perpecahan-perpecahan zonder prinsipiil ratio samasekali. Sekian banyak partai, sekian pula banyak cara-berfikir. Sekian banyak cara-berfikir, sekian banyak pula cara pendirian. Sekian banyak pendirian, sekian pula banyaknya konsepsi. Segala macam warna bersimpang-siur, putih, hitam, hijau, merah, biru, sawomatang, coklat; kuning, – entah warna apa lagi bercampur aduk. Satu persoalan yang pada hakekatnya sederhana, lantas nampak menjadi ruwet, karena harus dilihat dengan begitu banyak macam kaca-mata konsepsi.

 

Bukan persoalannya yang ruwet, tetapi penglihatan kita bersamalah yang meruwetkan persoalan itu. Akhirnya keruwetan-keruwetan-penglihatan itu menjerat leher kita sendiri. Tele-tele kita megap-megap tak mampu bernafas dan berfikir sehat lagi. Tele-tele kita tak melihat jalan keluar samasekali!

 

Ya, kita laksana makin lama makin dalam, terseret ke dalam air-putarnya salah anggapan tentang demokrasi, makin lama makin hampir kelelap samasekali dalam air-putarnya misbegrip tentang demokrasi. Demokrasi kita telanjangi dari ageman-agemannya yang bernama zelf-discipline dan national disiplin, kita telanjangi bulat-bulat dari busana-busananya pengekangan diri.

 

Maka macam-macam penyakit menghinggapilah perikehidupan kita sebagai masyarakat dan sebagai Negara. Ambillah misalnya soal “Gezag”. Tidakkah “Gezag” di Indonesia ini sering kurang sehat, kurang segar-bugar, karena masyarakat dihinggapi penyakit yang berasal dari misbegrip tentang demokrasi itu? Tiap-tiap hidung merasa dirinya berhak menentang Gezag, karena katanya “demokrasi”. Kita di waktu-waktu yang akhir ini banyak berbicara tentang bagaimana ”mengembalikan Gezag”. Kita banyak menyebut-nyebut adanya Krisis Gezag. Bagi saya, hal itu bukan hal baru. Beberapa tahun yang lalu, dari tangga Istana Merdeka ini, saya sudah mensinyalir adanya krisis Gczag: Beberapa tahun yang lalu saya sudah berbicara tentang “Kawibawan Gezag”. Beberapa tahun yang lalu saya sudah mcngajak mengembalikan Gezag ke atas singgasananya Kawibawan Gezag. Karena itu saya kira tak perlu saya sekarang banyak bicara tentang hal itu. Tetapi ketahuilah: Kawibawan adalah hanya satu faktor saja yang masih memerlukan Komponen yang lain. Ia masih memerlukan satu “pelengkap” yang lain. Agar supaya Gezag ber-Kawibawan, maka perlu adanya Ontzag. Ontzag kepada Gezag. Ontzag dalam arti hormat terhadap Gezag, bukan Ontzag dalam arti takut. Gczag zonder Ontzag, bukanlah Gezag; Gezag zonder Ontzag adalah sama dengan Togog berbaju Raja, atau sama dengan seorang tolol berbaju jenderal.

 

Ontzag terhadap Gezag hanya dapat ditimbulkan di kalangan Rakyat, apabila Gezag itu dipikulkan kepada pemimpin-pemimpin yang benar-benar telah dipilih oleh rakyat sendiri. Di sinilah letaknya kunci pengembalian Kawibawan Gezag yang kita kehendaki itu. Di sinilah letaknya arti pemilihan-umum bagi pengembalian Kawibawan Gczag itu.

 

Dus nyata pemilihan-umum itu banyak sekali gunanya.

Karena itu, janganlah ditunda lagi pemilihan-umum itu.

Janganlah ada orang yang mengkhianati pemilihan-umum itu, atau mencoba-coba memper-lambatnya, mencoba-coba menghalanginya, mencoba-coba mensabotnya, mengacaunya, meng-gagalkannya. Pemilihan-umum ini akan berarti konsolidasi daripada hasil-hasil Revolusi kita selama sepuluh tahun. Siapa yang mencoba-coba menghalangi atau menggagalkan pemilihan-umum ini, dia adalah pengkhianat Revolusi, pengkhianat Hak Keramat Rakyat Indonesia, pengkhianat Demokrasi, pengkhianat Pancasila, pengkhianat Republik, pengkhianat Proklamasi.

 

Saudara-saudara!

Mulai hari ini kita memasuki Dasa-Warsa yang kedua daripada Republik kita ini. Republik kita dilahirkan dalam satu masa sejarah-dunia yang gegap-gempita. Republik kita tidak dilahir-kan dalam adem-tenteramnya sinar bulan-purnama. Tidak! Api peperangan yang hampir membakar habis seluruh permukaan bumi pada waktu itu masih belum padam samasekali, gempa masih menggunjingkan bawana, samudra masih bergolak-golak dan mendidih! Malahan pernah kukatakan, bahwa Republik kita dilahirkan di dalam api.

 

Ya, benar perkataan orang, bahwa peperangan adalah satu ahli kimiah yang aneh. Tidak salah perkataan orang, bahwa ”war is a strange alchemist”. Barang yang tidak disangka-sangka orang sering muncul keluar dari sesuatu peperangan.

 

Tidak disangka-sangka orang, Sovyet Rusia muncul keluar dari Peperangan-Dunia yang ke-I. Tidak disangka-sangka orang, R.R.T., India – Merdeka, Pakistan – Merdeka, Vietnam – Merdeka, Indonesia – Merdeka muncul-keluar dari Peperangan-Dunia yang ke-II.

 

Sekali lagi, ya! Benar Republik kita dilahirkan di dalam api! Sekarang, sepuluh tahun kemudian, Matahari telah bersinar, – terimalah sinar Matahari itu dengan gembira, sebab telah kukatakan tempo hari; apa yang dilahirkan di dalam api, tak akan cair meleleh kena sinarnya matahari. Malahan, makin sehatlah hendaknya kita tersiram oleh sinar Sang Surya itu, makin tumbuh, makin gagah-perkasa, makin hebat, makin kuat, makin menggatutkaca “otot kawat balung wesi”, “ora tedas tapak paluning pande, sisaning gurindra”!

 

Tahukah saudara-saudara, apa yang bisa mencair-lelehkan kita? Kita bisa cair-leleh, bukan karena sinarnya Sang Surya, tetapi karena kelemahan-kelemahan kita sendiri, karena penyakit-penyakit dalam tubuh kita sendiri, karena misbegrip-misbegrip. Kita bisa cair-leleh karena perpecahan-perpecahan kita sendiri, karena misbegrip-misbegrip kita sendiri, karena kekurangan idealisme-nasional kita sendiri, karena ketidak-sepian-hing-pamrih kita sendiri. Kita bisa cair-leleh karena hasad, karena dengki, karena mengkelompok-kelompokkan diri zonder aturan, karena lupa-daratan mencari kebenaran sendiri, karena menyalahi prinsip Nasional dan mengutamakan prinsip golongan. Kita bisa cair-leleh karena Geloof kita kepada Kekuatan Nasional kita biarkan menjadi morat-marit. Kita bisa cair-leleh karena – mencair-lelehkan diri kita sendiri.

 

Panca Dharma telah kusodorkan kepada saudara-saudara: Kembali kepada Persatuan, memberantas pengacauan, memperhebat pembangunan, memperhebat perjoangan Irian Barat dan anti-kolonialisme-imperialisme, menyelenggarakan pemilihan-umum, – tetapi ketahuilah bahwa Panca Dharma adalah sekedar Dharma, kewajiban yang harus dipenuhi, dan belum syarat-syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup sesuatu bangsa. Syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup ialah Kemauan Hidup – Levenswil. Levensdrang, – dan syarat-mutlak untuk kelanjutan Hidup sesuatu bangsa ialah kemauan Hidup Sebagai Bangsa, – Nationaal Levenswil, Nationaal Levensdrang. Bangsa yang tidak mempunyai Api-Hidup-Nasional ini, Api-Keramat yang menghikmati semua warga-bangsanya, dari agama apapun, dari lapisan sosial apapun, dari ethnologi apapun, dari ideologi-politik apapun, – bangsa yang tidak kalbunya berkobar-kobar dengan Api Keramat “Feu Sacré” ini, – bangsa yang demikian itu lambat-laun akan gogrok dan akan buyar menjadi ”bangsa-bangsa” yang kecil, atau akan gogrok dan buyar menjadi kelompokan-kelompokan manusia belaka, atau akan tenggelam-lenyap musna samasekali.

 

Ya! Panca Dharma kusodorkan, tetapi Panca Dharma itu tak kan dapat kita jalankan dengan penuh penyerahan jiwa raga, – dengan penuh élan – kalau tidak hidup menyala-nyala berkobar-kobar dalam kalbu kita Api-Keramat yang kumaksudkan itu!

 

Nyalakanlah lagi Api-Keramat itu manakala ia hampir padam, kobarkanlah nyalanya manakala ia masih menyala! Api-Keramat inilah yang membuat kita berani mengeluarkan Proklamasi 17 Agustus 1945, Api-Keramat inilah yang membuat kita berani mengadakan Revolusi, Api-Keramat inilah yang membuat kita mampu bertahan sepuluh tahun. Api-Keramat inilah yang akan membawa kita ke tempat tujuan, biar berapa jauhpun tempatnya tujuan itu, – biar kita harus mendaki gunung menurun gunung, menempuh lautan mengarungi samudra, menaik angkasa menginjak bledek dan guntur sekalipun!

 

Ya! Tujuan memang belum tercapai! Berjalanlah kita terus! Apa? Adakah yang berputus asa di antara kita? Adakah yang berpatah-semangat, karena melihat jalan masih jauh? Menolehlah ke belakang sebentar! Sepuluh tahun kita berjalan, sepuluh tahun kita berjoang, sepuluh tahun kita membanting-tulang, sepuluh tahun kita sering-sering menderita, sepuluh tahun kita sering-sering berkorban, malah kadang-kadang rasa remuk segala-galanya, – tetapi tidak sepuluh detik kita remuk dalam semangat, tidak sepuluh detik kita menyesal, tidak sepuluh detik kita berpatah hati tekad. Dengan Api-Keramat Nasional itu di dalam kalbu, mari berjalan terus!  Dengan Api-Keramat Nasional itu di dalam kalbu, Insya Allah kita dapat berjalan terus!

 

Sebab Api-Keramat itu asalnya dari Pembuat Alam ini juga, asalnya dari Allah Rabbulalamin juga.

 

Asal kita tetap melalui jalan yang diridlai oleh Allah Rabbulalamin itu, kita nanti pasti mencapai tujuan tempat tujuan juga.

 

Sekali Merdeka, tetap Merdeka!

Merdeka, buat selama-lamanya!

Sekian.

 

Terima kasih!