Tahun Tantangan (A Year Of Challenge)

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO

PADA ULANG TAHUN

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA,

17 AGUSTUS 1958 DI JAKARTA

 

 

Saudara-saudara ini adalah salah satu ulang tahun Republik Indonesia yang paling diperhatikan orang! Diperhatikan orang di dalam dan di luar negeri. Boleh dikatakan seluruh dunia pada hari ini mengarahkan pandangan matanya ke Jakarta, atau memasangkan arah-telinganya ke Jakarta. Bagaimana suasana Jakarta pada hari ini, dan apa yang akan dikatakan oleh Jakarta pada hari ini? Apakah suasananya suasana yang tertekan, suasananya rakyat yang baru saja dapat pukulan-pukulan di badannya, – babak-belur, babak-bundas? Apakah suaranya suara rakyat yang telah remuk-redam dalam jiwanya, suara rakyat yang telah megap-megap?

 

Pantas juga orang di luaran mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu, terutama sekali orang-orang dari kalangan-kalangan yang tak senang kepada kita atau tidak senang kepada politik kita. Pantas! Sebab apa yang tidak kita alami dalam tahun yang lalu! Segala macam cobaan-cobaan pahit dan getir telah kita alami, yang, jikalau umpamanya kita ini bukan bangsa yang ulet dan Insya Allah diridhoi Tuhan, niscaya telah membuat kita ini remuk-redam-semangat dan kocar-kacir berantakan di dalam jiwa!

 

Tetapi kita, berkat Tuhan, tidak remuk-redam semangat, dan tidak kocar-kacir berantakan di dalam jiwa! Kepada seluruh dunia yang ingin mengetahuinya, dan terutama sekali kepada semua orang-orang yang tak senang kepada Republik Indonesia, saya atas nama Rakyat Indonesia pada hari ini berkata: “Ini!, bangsa Indonesia, ini!, Republik Indonesia, masih segar-bugar jiwanya untuk mempertahan-kan Proklamasi dan melanjutkan perjoangan untuk realisasi Proklamasi.

 

Ya, tigabelas tahun kita telah berjoang. Tigabelas tahun kita telah mendaki. Tigabelas tahun! Tetapi meski tujuan terakhir belum tercapai, kita masih siap-sedia untuk berjoang dan mendaki terus. Janganpun tigabelas tahun lagi, – meski duakali tigabelas tahun lagipun, atau tigakali tigabelas tahun lagi, atau empatkali tigabelas tahun lagi, kita Insya Allah masih tetap akan siap-sedia untuk meneruskan perjoangan.

 

Tiap tahun kita perhitungkan. Tiap tahun kita periksa untung dan ruginya. Seperti meng-hitung kelèrèng! Tahun-tahun 1945 sampai 1950 adalah tahun-tahun revolusi bersenjata: tahun-tahun physical revolution. Tahun-tahun 1950 sampai 1955 adalah tahun-tahun menyembuhkan luka-luka: tahun-tahun survival. Tahun 1956 maunya kita hendak memasuki benar-benar periode investment, yaitu periode menyusun perlengkapan-perlengkapan untuk pembangunan, tetapi gejala-gejala penyakit dari dalam mulai menonjol, sehingga perlu kita memberi peringatan-peringatan yang pedas untuk mengembalikan kewibawaan pusat dan kewibawaan Negara. Tahun 1957 penyakit-penyakit itu makin menonjol lagi, sehingga perlu peringatan-peringatan itu dikemukakan dengan cara yang lebih tandas dan lebih tajam, bahkan perlu kita membongkar segala norma-norma yang sampai sekian masih kita pakai: Bongkar!, buang free-fight-liberalism! Bongkar!, ganti dia dengan “demokrasi terpimpin”! Bongkar!, bongkar jiwa-rokhani kita, bongkar mental!, adakan “Gerakan Hidup Baru”, – adakan revolusi Mental! Bongkar!, adakan pandangan baru, bongkar!, jangan mandek, tetapi “majulah terus berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945”, – majulah terus, demikianlah kukatakan dalam pidato 17 Agustus 195.7, jangan mundur, – “mundur hancur, mandek amblek” -, bongkar, maju terus, kita tak bisa dan tak boleh berbalik lagi, – kita telah mencapai “point of no return” !

 

Tahun 1957 waktu itu kunamakan A year of decision, – satu Tahun Ketentuan, satu Tahun Penentuan!

 

Dan kita telah mengambil ketentuan-ketentuan! Tahun yang lalu, artinya: antara hari ulang-tahun keduabelas dan hari ulang-tahun ketigabelas sekarang ini, kita telah berani mengambil ketentuan-ketentuan yang tegas. Tahun yang lalu kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa kita ini bukan satu bangsa “Hamlet yang tak berkeputusan”, – bukan satu bangsa yang tak tahu apa yang harus diperbuat. Ini menghiasi kita punya karakter, dan mengharumkan kita punya nama. Dan – ini akan menyelamatkan kita punya hari depan!

 

Apa yang kita hadapi antara 17 Agustus 1957 dan 17 Agustus sekarang ini? Kita hadapi di tahun yang lalu itu beberapa tantangan yang sudah beberapa kali saya uraikan: tantangan nasional dan tantangan internasional. Meski sudah beberapa kali saya uraikan, namun saya tak segan-segan dan tak bosan-bosan mengulangi lagi dan mengulangi lagi tantangan-tantangan itu, meski “tot in den treure toe” sekalipun, oleh karena kesedaran akan adanya tantangan-tantangan itu, – kesedaran akan sifatnya dan macamnya -, menjamin response (jawaban) dari kita terhadap kepada tantangan-tantangan itu secara tepat dan jitu.

 

Apakah tantangan-tantangan itu?

 

N a s i o n a l : maukah kita ini menjadi satu bangsa yang besar dan kompak dengan mempunyai kepribadian sendiri, memiliki satu Negara-Kesatuan yang kuat, sebagai alat dan jembatan ke arah satu masyarakat adil dan makmur yang memberi kebahagiaan kepada semua rakyatnya, atau: – maukah kita menjadi satu bangsa yang sebenarnya bukan bangsa, melainkan sekedar gundukan daripada berpuluh-puluh suku, tanpa kepribadian nasional yang kuat, dan karenanya tidak memiliki satu Negara yang kuat, dan membiarkan timbulnya satu masyarakat “free-fight”, di mana si kuatlah yang menang, dan si lemah ditindas, dihisap, diperkuda, dieksploitir?

 

Di lapangan internasional, di mana bangsa kita hidup di tengah-tengah dua blok raksasa yang bertentangan satu-sama-lain, power-politics dijadikan moraliteit yang tertinggi, semangat kepruk menjiwai pemerintahan-pemerintahan, senjata-senjata atom dan hidrogen dirèken seperti kacang gorèng, kapitalisme dan imperialisme mengaut-aut ke kanan dan ke kiri, mempraktèkkan “exploitation de l’homme par l’homme” dan “exploitation de pays par pays”, – di lapangan internasional tantangan itu berbunyi: maukah kita ikut mempertahankan susunan dunia semacam ini, yang jika tidak dirobah niscaya menuju kepada kebinasaan total daripada kemanusiaan, ataukah: – bersediakah kita ikut merealisasikan Dunia Baru yang berkeadilan sosial, berdasar-kan persamaan, kemerdekaan, persahabatan, kerja sama, ko-eksistensi, dan toleransi?

 

Dan sebagai kutandaskan kepadamu berulang-ulang kali, maka response kita kepada dua macam tantangan ini haruslah satu response yang tak ragu-ragu dan yang tegas: kita mutlak berdiri di pihak menyelamatkan Negara-Kesatuan, mutlak hendak kembali kepada kepribadian sendiri, mutlak berdiri di pihak merealisasikan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur tanpa penindasan dan penghisapan, mutlak berdiri di pihak memperjoangkan satu Dunia Baru Social Justice dan Political Justice untuk segala bangsa. Nasional kita bersikap sintetis menyelamatkan kesatuan Negara dan menyelamatkan kepribadian nasional serta merealisasikan keadilan sosial, internasional kita bersikap sintetis memperjoangkan persaudaraan bangsa-bangsa dan keadilan sosial, Nasional kita setia kepada Pancasila, internasional kita setia kepada Pancasila, Nasional kita setia kepada Proklamasi, internasional kita setia kepada Proklamasi!

 

Response yang demikian ini adalah satu pernyataan kesetiaan kepada penderitaan-penderitaan dan cita-cita yang keramat daripada pergerakan Rakyat Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun. Sebab memang itulah cita-cita yang mewahyui segenap pergerakan kita dahulu, memang itulah yang dibasahi dengan air-mata penderitaan kita yang dahulu. Itulah tujuan perjoangan, korbanan, penderitaan kita yang dahulu: kemerdekaan nasional yang berbentuk Republik yang satu, kepribadian nasional yang bukan jiplakan dari luar, keadilan sosial di antara rakyat, perdamaian antara segala bangsa, keadilan buat semua umat manusia di muka bumi. Siapa yang tidak ber-response yang demikian itu, ia tidak setia kepada penderitaan-penderitaan dan cita-cita-keramat itu, ia nyeleweng daripada cita-cita itu, dan mengkhianati penderitaan-penderitaan dan cita-cita itu! Response yang demikian itu adalah sejiwa, setekad, sesenyum, setangis dengan segenap korbanan-korbanan yang telah diberikan oleh pejoang-pejoang kita berpuluh-puluh ribu dan beratus-ratus ribu orang yang meringkuk dalam penjara-penjara kolonial, menelangsa dalam tempat-tempat pembuangan, menggantung di tiang-tiang peng-gantungan, mempersembahkan darah di medan-medan pertempuran.

 

Hai bangsaku dari generasi sekarang, sudahkah saudara-saudara insyafi benar-benar pedih-nya penderitaan-penderitaan itu? Di salah-satu tempat pembuangan kolonial di negeri kita ini adalah satu kuburan, kuburan seorang pejoang kita yang mati di tempat pembuangan itu. Tidak ada gedung mausoleum yang menghiasi kuburan itu, tidak ada tugu pualam-berukir menandakan tempatnya, tidak ada taman-bunga yang mengelilinginya. Tetapi di atas nisannya yang amat sederhana, tercantumlah syair yang mengharukan hati, yang ditulis pejoang itu di saat-saat terakhir dari hidupnya di alam pembuangan jauh dari sanak-keluarganya.

 

“De Toorts,

  Onstoken in den nacht,

  Reik ik voorts,

  Aan het Nageslacht”.

 

“Obor, yang kunyalakan di malam-gelap ini, kuserahkan kepada Angkatan yang kemudian”.

 

Engkau, kita sekalian, adalah “Angkatan yang kemudian” itu. Marilah kita terima obor itu, dan menjaga terus jangan sampai obor itu padam, dan berjalan terus membawa obor itu tanpa berhenti, sampai tempat yang dituju nanti tercapai.

 

Berjalan terus membawa obor itu tanpa berhenti, – itulah yang dinamakan “setia kepada Proklamasi”. Response kita kepada tantangan sejarah sebagai yang kugambarkan tadi, haruslah sesuai dengan “Obor” itu, sesuai dengan arti dasar daripada Proklamasi.

 

Apakah arti dasar daripada Proklamasi itu? Dengarkan betapa Dewan Nasional melukiskan arti dasar daripada Proklamasi itu. Di dalam suratnya kepada Dewan Menteri mengenai Kewaspadaan Nasional, Dewan Nasional berkata:

 

  1. 1.       “Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah puncak perjoangan rakyat Indonesia dengan pengorbanan harta-benda, darah dan jiwa, yang berlangsung sudah berabad-abad lamanya untuk membangun persatuan, dan merebut kemerdekaan bangsa dari tangan kaum penjajah”;

 

  1. 2.       “Proklamasi 17 Agustus 1945 itu merupakan mercu-suar yang menerangi dan menunjukkan jalan sejarah, pemberi-inspirasi dan pemberi-daya yang tidak kunjung habis dalam perjoangan rakyat dan bangsa Indonesia di semua lapangan dan di setiap keadaan”;

 

  1. “Proklamasi 17 Agustus 1945 itu adalah pusat perbendaharaan mutu mental dan cita-cita terbaik yang dihimpun oleh para pujangga, pemimpin dan rakyat Indonesia, yang di dalam pelaksanaan menyelesaikan revolusi, terus memperlengkapi dirinya dengan mutu nasional baru, mewujudkan kepribadian Indonesia yang menentukan bangun-tegaknya Negara”.

 

Demikianlah arti-dasar Proklamasi! Karena itu, siapa yang hendak memberi response yang tepat kepada tantangan sejarah itu, dan hendak setia pula kepada Proklamasi, tidak bisa lain daripada menoleh ke belakang melihat kepada penderitaan-penderitaan dan korbanan-korbanan yang telah kita berikan di zaman yang lampau, dan menatap ke muka berjalan terus membawa obor ke tempat yang dicita-citakan.

 

Dan Alhamdulillah, response kita adalah sesuai dengan “Obor” dan “Amanat penderitaan” itu. Dengan rajin sekali kita di tahun yang lalu menggemblèngkan semangat “nation-building”, dengan rajin sekali kita memanggil bangsa kita kembali kepada kepribadian sendiri, dengan rajin sekali kita mencoba melunakkan runcing-runcingnya egocentrisme suku. Dengan rajin pula kita memerangi baji-baji pemecahnya free-fight-liberalism, dengan rajin kita membawa persoal-an Irian Barat ke dalam arenanya diplomasi. Dengan rajin kita mencoba membangunkan pengertian bahwa masyarakat adil dan makmur hanya dapat diselenggarakan dengan planning dan demokrasi terpimpin, dengan rajin kita mencoba memulai meletakkan alas-alas mental daripada masyarakat idam-idaman rakyat jelata.

 

Dengan rajin kita menganjurkan peaceful-coexistence antara bangsa-bangsa, dengan rajin kita meneruskan perjoangan menentang segala macam penjajahan. Dengan rajin kita mencanangkan suara kita yang menentang segala macam pakta-pakta militer, dengan rajin kita – pendek kata – meneruskan perjoangan membina kembali kepribadian bangsa, menyempurnakan Negara Kesatuan, membina masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, menganjurkan masyarakat bangsa-bangsa yang tidak kepruk-keprukan satu-sama-lain, mengikhtiarkan masyarakat umat manusia yang bersifat “social justice for all”.

 

Tetapi jalannya sejarah selalu dialektis. Dan jalannya dialektik sejarah itu kadang-kadang bergegap-gempita laksana guntur di langit: Response kita terhadap tantangan-tantangan yang saya sebutkan tadi itu, ternyata ditantang lagi oleh beberapa kejadian-kejadian, yang memerlu-kan kita mengadakan response-response baru! Response kita kepada challenge, dichallenge lagi oleh kejadian-kejadian, sehingga kita harus menjawab challenge baru itu dengan response-response yang baru pula!

 

Apakah kejadian-kejadian itu? Tak lain, ialah: pemberontakan P.R.R.I. – Permesta, dan intervensi-agressi asing, yang sebenarnya berjalin satu-sama-lain.

 

Demikianlah dialektik gegap-gempita dalam sejarah Republik Indonesia di waktu yang akhir-akhir ini: dialektik gelèdèk, dialektik guntur! Tetapi justru oleh karena ini adalah dialektik, – dialektiknya Revolusi – , maka Insya Allah pasti kita akan dapat mengatasinya pula dengan cara yang setimpal dengan hukumnya Revolusi!

 

Pemberontakan P.R.R.I. – Permesta adalah “stadium puncak” daripada penyelèwèngan-penyelèwèngan dan pengkhianatan-pengkhianatan terhadap kepada Proklamasi 17 Agustus ’45, proklamasi yang kita anggap suci dan keramat itu. Terutama sekali sesudah mereka terang-terangan bekerjasama dengan tenaga-tenaga asing, tenaga-tenaga reaksioner dan kontra-reaksioner, tenaga-tenaga kolonial yang hendak menghancurkan Republik, tenaga-tenaga militeris yang anti politik bebasnya Republik, pendek kata tenaga-tenaga kolonialis dan imperialis, – terutama sekali sesudah mereka terang-terangan bekerjasama dengan tenaga-tenaga asing itu, maka tiada sebutan lainlah yang pantas kita berikan kepada mereka daripada penyelèwèng-penyelèwèng proklamasi dan pengkhianat-pengkhianat proklamasi, pendurhaka-pendurhaka Republik dan pengkhianat-pengkhianat Republik.

 

Pada pokoknya, itulah mereka punya kejahatan: mengkhianati Proklamasi, mengkhianati Republik. Ya, macam-macam mereka punya alasan! Di dalam satu kuliah-umum terhadap kepada mahasiswa-mahasiswa, saya malahan pernah mengatakan, bahwa pengkhianatan mereka itu meliwati beberapa tingkatan, – lima -, yang crescendo makin lama makin naik kejahatannya.

 

Pertama, mereka mengemukakah dalih pembangunan daerah. Padahal kita sudah selalu memikirkan pembangunan daerah itu, mengadakan undang-undang autonomi dan lain sebagai-nya, dan kemudian malahan mengadakan konperensi-konperensi Munas dan Munap. Sebaliknya mereka melakukan petualangan politik dan petualangan ekonomi, melakukan korupsi yang mendirikan bulu-roma dengan mengadakan barter gelap, yang hasilnya buat sebagian besar masuk dalam kantong-kantongnya petualang-petualang yang mulutnya menuntut “pembangunan daerah” itu.

 

Kedua, – dan ini adalah tingkat kemudian -, mereka mengemukakan dalih “anti-komunis”. Jakarta adalah kota komunis! Pemerintah pusat adalah pemerintahan komunis! Sukarno adalah gembongnya komunis, atau setidak-tidaknya antèknya komunis! Padahal kita semua mengetahui bahwa kita selalu membela Pancasila. Padahal semua orangpun mengetahui bahwa politik kita ialah politik mencari persahabatan dengan semua negara, termasuk Amerika. Padahal semua orang mengetahui bahwa saya ini seorang nasionalis, – seorang revolusioner nasionalis. Tetapi yah, lidah tidak bertulang, hayo hantam-kromo keluarkan tuduhan komunis, hantam-kromo keluarkan dalih “anti-komunis”! Rakyat dihasut habis-habisan supaya anti Jakarta sebab Jakarta adalah komunis, ditakut-takuti dengan momok komunis, dicekoki terus-menerus dengan penyakit communisto-phobie, yaitu penyakit takut kepada komunis. Para ulama seluruh Sumatera, para ahli waris Nabi, para warasatul ambya, dimobilisir, mula-mula di Bukit Tinggi, kemudian di Palembang, supaya menjatuhkan vonis kepada komunisme dan kepada komunis. Cerdik benar cara mereka menarik tabir asap untuk menutupi kepetualangan dan korupsi mereka itu!

 

Naik setingkat lagi, saudara-saudara!

Datanglah tingkat ketiga. Tingkat ketiga ini ialah tingkat teror. Teror, persis seperti terornya D.I dan T.I.I. Teror menggertak, menggranat, membunuh! Di Jakarta beberapa kali dijalankan teror itu, antara lain di Cikini, dan jiwa teror itu masih terus hidup di kalbu mereka, sebagai ternyata dengan pembunuhan secara kejam kepada tawanan-tawanan mereka di Situjuh, di mana tawanan-tawanan itu mereka jejalkan dalam satu rumah, kemudian mereka berondong dengan granat dan bakar dengan bensin hidup-hidup. Tingkat teror ini berarti mereka dengan tegas-tegas meninggalkan alam demokrasi, dan Pancasila, masuk ke dalam alamnya fascisme dan bunuh dan gertak-paksaan, padahal, – mereka mengatakan bahwa mereka “anti komunis” dan “anti pusat”, katanya karena mereka menghendaki demokrasi, dan “komunis adalah anti demokrasi” dan “pemerintah Jakarta adalah pemerintah yang melanggar demokrasi”. Bahwa petualang-petualang itu bukan koruptor adalah satu kebohongan yang gedé, tetapi bahwa mereka menjunjung tinggi demokrasi adalah kebohongan yang lebih gedé!

 

Datanglah kini tingkat yang keempat: mereka mencari bantuan dan kerjasama dengan fihak-fihak imperialis dan kontra-revolusioner di luar negeri. Ini saya lihat sendiri bukti-buktinya, tatkala saya berada di luar negeri pada permulaan tahun ini. Keterangan-keterangan yang saya dapat dari fihak pemerintah-pemerintah yang bersahabat dengan kita, bukti-bukti hitam di atas putih yang saya lihat dengan mata-kepala sendiri, keterangan-keterangan dan bukti-bukti bahwa mereka mencari bantuan asing untuk membokongi Republik dan mengumpulkan senjata-senjata untuk menghantam Republik, – keterangan-keterangan dan bukti-bukti itu sebenarnya pada waktu itu telah menimbulkan pertanyaan dalam hati saya: ”dapatkah kita masih bicara lagi dengan orang-orang semacam ini?” Sampai télé-télé, – tot in den treure -, kita tadinya selalu bersedia untuk bicara dengan mereka, bermusyawarah dengan mereka, tot in den treure kita malahan telah selalu bersabar-hati dengan mereka, – tetapi, kalau mereka sekarang ini ternyata hendak membokongi Republik, hendak menghantam Republik dengan senjata, hendak mengadakan common front dengan tenaga-tenaga imperialis asing yang hendak menggempur Republik dan hendak memasukkan Republik secara paksaan ke dalam blok militer Barat, – masih dapatkah kita bicara dengan orang-orang semacam ini, yang terbawa oleh motif-motif yang tidak suci, sampai hati hendak merusak Republik? Dan memang tak lama sesudah itu muncullah kristalisasi daripada “tingkat keempat” kepetualangan mereka itu: Di Tokyo saya diberi tahu tentang “ultimatum Bukit Tinggi”, dan masih di Tokyo pula saya diberi tahu tentang “Proklamasi P.R.R.I.”

 

“De teerling is geworpen”. Tantangan telah dilemparkan. Response harus kita beri. Di Tokyo saya diberi tahu tentang fakta-fakta dan kristalisasi common front antara petualang dan imperialis itu yang menjelma dalam P.R.R.I., – di Jakarta, sekembali saya dari Tokyo, saya bersama Pemerintah sebagai response menarik suatu common front pula terhadap mereka, common front kita, common front-nya Rakyat, yaitu common front antara Presiden dan Pemerintah dan Angkatan Darat dan Angkatan Laut dan Angkatan Udara dan Polisi dan Rakyat, – satu common front Setia Republik -, untuk dengan tegas membasmi kepetualangan-kepetualangan yang khianat dan durhaka itu samasekali! Dan common front Rakyat ini, Insya Allah, pasti menang!

 

Alhamdulillah, semua operasi pembanterasan P.R.R.I. – Permesta berjalan dengan hasil yang dipukul rata boleh dinamakan baik. Operasi 17 Agustus, Operasi Sadar, Operasi Insyaf, Operasi Saptamarga I, Saptamarga II, Saptamarga III, Saptamarga IV, yang kemudian digabungkan dalam Operasi Merdeka, Operasi Mena I, Operasi Mena II, – semua operasi-operasi itu ber-jalan menurut rencana.

 

Di sinilah tempatnya saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh angkatan bersenjata kita dan Rakyat yang telah melakukan operasi-operasi itu, dan menunduk-kan kepalaku terhadap jasa saudara-saudara yang telah gugur.

 

Kemenangan operasi-operasi itu mempunyai arti yang lebih besar daripada sekedar arti lokal: Pendudukan Pakan Baru berarti dicegahnya intervensi terang-terangan yang hendak zoogenaamd menyelamatkan kepentingan minyak di daerah sana. Pembebasan Padang dan Morotai menghilangkan kemungkinan pemboman atas daerah-daerah di pulau Jawa. Pendudukan Bukit Tinggi dan Menado menghapuskan dasar “belligerent position” yang hendak dikemukakan oleh kaum pemberontak.

 

Dan ditinjau dari sudut geografi dan logistik, maka operasi-operasi itu adalah Satu Operasi yang maha-besar. Luas Indonesia adalah sama dengan luas benua Eropah: jarak Sabang-sampai-Merauke sama dengan jarak pantai Barat Irlandia sampai kepegunungan Kaukasus. En toh, operasi-operasi itu sukses! Kalau operasi Amerika di Eropah dalam peperangan-dunia II dinamakan “Crusade through Europe”, maka operasi-operasi kita untuk menundukkan pemberontakan-pemberontakan itu boleh dinamakan “Pancasila” – “crusade through Indonesia”. Saya kira, gugurlah juga kini legende (dongeng omong kosong) bahwa bangsa Indonesia tak mampu menjalankan operasi-operasi ekspedisi yang terkombinir!

 

Dengan diadakannya common front oleh mereka dengan fihak imperialis itu, maka masuklah pengkhianatan mereka itu ke tingkat yang kelima : Bukan saja mereka menghantam Republik dengan bedil dan meriam dari dalam, tetapi fihak imperialis konco mereka itu, atas permintaan mereka, dengan terang-terangan juga menghantam Republik dengan agresi dari luar. Pemburu-pemburu mengadakan straffing di pelbagai tempat, bomber-bomber asing memuntahkan bom-bom, api dan maut di beberapa wilayah, untuk mencoba mematahkan kekuatan Republik. Ini adalah suatu pendurhakaan nasional yang susah dicarikan taranya: Orang-orang Indonesia yang menamakan dirinya patriot, menyuruh orang-orang bangsa lain menikam saudara-saudaranya sendiri dengan pisau dari belakang!

 

Saya kira, seumur hidup generasi yang sekarang ini tak akan dapat melupakan peng-khianatan rendah-budi semacam ini!

 

Tetapi apa justru akibat daripada perkoncoan dengan imperialis asing itu? Pisau-belati yang dimaksud untuk menikam saudara-sendiri dari belakang itu, ternyata menikam kepada “nama” kaum petualang sendiri. Seluruh rakyat jijik kepada mereka, seluruh Rakyat – juga di daerah-daerah mereka – memuak. Seluruh Rakyat yang cinta Republik membenarkan dan menyokong tindakan tegas yang diambil oleh Pemerintah Republik. Dan memang, bagi Pemerintah tidak ada alternatief lain daripada mengambil tindakan tegas itu. Alternatief lain ialah hancurnya Republik: binasanya Republik Proklamasi. Alternatief lain ialah segala hal yang tak sesuai dengan Pancasila: Hancur-leburnya toleransi antara agama dan agama sebagai ternyata dalam segala prakteknya D.I. dan T.I.I.; hancur-leburnya kepribadian nasional berdasarkan kebangsaan Indonesia yang utuh-bulat; hancur-leburnya politik persahabatan dengan semua bangsa dan manusia, karena masuk salah satu blok; hancur-leburnya penyelenggaraan sila demokrasi; hancur-leburnya harapan akan masyarakat adil dan makmur karena menjadi antèk imperialis dan kapitalis.

 

Tindakan tegas yang diambil oleh Pemerintah itu adalah konsekwensi yang logis daripada pengertian “year of decision” atau “moments of decision”. Ya, memang saat-saat permulaan tahun 1958 itu bagi kita adalah saat-saat yang menentukan nasibnya abad-abad; momenten die het lot van eeuwen beheersen. Dapatkah saudara-saudara mengenangkan sejenak bagaimana gerangan rupanya hari-hari dan tahun-tahun depan kita, seandainya kepetualangan-kepetualangan itu kita biarkan, P.R.R.I. tidak kita adu-biru, Permesta tidak kita usik-usik, persekutuan mereka dengan imperialis-kapitalis asing kita tolerir, sehingga “koers” atau “arah” hidup kita berobah 180 derajat samasekali?

 

Kepetualangan-kepetualangan itu pada dasar hakekatnya adalah bangkitnya tenaga-tenaga reaksi dan tenaga-tenaga kontra-revolusi yang hendak mati-matian menentang kelanjutan daripada kita punya Revolusi. Tenaga-tenaga reaksi dan kontra-revolusi dari dalam negeri mencari kontak dengan tenaga-tenaga yang sama dari luar-negeri, sesuai dengan wet polarisasi. Wet: “soort zoekt soort”, – “tikus mencari tikus”, “musang mencari musang”. Tenaga reaksioner mencari tenaga reaksioner. Tenaga kontra-revolusioner mencari tenaga kontra-revolusioner. Petualang mencari petualang, tukang barter mencari tukang barter. Bandot smokkel mencari bandot smokkel. Pengkhianat mencari pengkhianat. Dulu di dalam pagar negeri sendiri, yakni di bidang nasional; kini juga di luar pagar, di bidang internasional. Sebaliknyapun, maka tenaga-tenaga di luar-negeri menyambut-baik kontak: dan kerjasama dengan persekutuan-persekutuan dari dalam, kontak dan kerjasama yang memang sudah lama dicari-cari.

 

Di dalam polarisasi-polarisasi ini niscaya banyak juga orang-orang yang hanya ikut-ikutan saja. Mereka adalah laksana buih-buih yang terbawa berputar oleh air-putaran, atau buih-buih yang terbawa hanyut oleh aliran deras. Terhadap kepada mereka itu, hati kita bolehlah hati yang mengampuni. “Heer, vergeef hen, ze weten niet wat ze doen”, – “ya Tuhan, ampunilah mereka, mereka tak tahu apa yang mereka perbuat”.

 

Ah, tiap-tiap kali saya berpidato pada hari 17 Agustus, hatiku selalu terharu karena mengetahui bahwa begitu banyak orang Indonesia mendengarkan pidato saya. Pada hari sekarang ini mungkin 50-60 juta orang Indonesia memasangkan telinganya kepada apa yang saya katakan. Di Aceh rakyat berkerumun di hadapan radio-radio-rumah dan radio-radio-umum, di Irian Barat orang dengan sembunyi-sembunyi menyetel pesawat pula. Pagi-pagi benar di waktu fajar, wakil-wakil kita di Moskow mencoba mendengarkan suara saya dan sambutan-sambutanmu. Dan di Washington pun, tengah-tengah malam benar, wakil-wakil kita mengerumuni pesawat-pesawat radionya. Ya, total barangkali 50-60 juta orang, – orang-orang Indonesia senaungan di bawah panji satu Negara, orang-orang Indonesia secinta semesra terhadap kepada Republik, yang mungkin air-matanya berlinang-linang, karena terharu hatinya ingat kepada korbanan-korbanan Proklamasi. Tetapi … ada juga orang-orang lain yang men-dengarkan pidato saya ini … Simbolon di suatu tempat, dan Zulkifli Lubis, dan Husein, dan Jambek dan Syafruddin , – dan Sumual, dan Somba, dan lain-lain. Ya, “dan lain-lain”, – itu orang-orang Indonesia yang hanya ikut-ikutan saja, atau dipaksa ikut mengangkat senjata melawan Negaranya sendiri, melawan bangsanya sendiri, melawan saudara-saudaranya sendiri.

 

Kepada petualang-petualang yang dengan sedar mengkhianati Negaranya sendiri dan bangsanya sendiri, saya tak mau berbicara apa-apa. Mereka di sebelah sana dari garis, kami di sebelah sini … Tetapi kepada orang-orang yang hanya ikut-ikutan saja dalam pemberontakan ini, kepada orang-orang yang salah-pimpinan itu, kepada mereka pada Hari 17 Agustus ini saya berkata: Saudara-saudara tertipu. Saudara-saudara melawan Republikmu sendiri, saudara-saudara melawan Negaramu sendiri. Saudara-saudara melawan kepastian sejarah. Dengan demikian maka hari depan bukanlah jadi hari-depanmu. Saudara-saudara menjadi korban ambisinya orang-orang yang jahat, yang secara serakah menghisap harta-kekayaan dan ke-kuasaan dari tubuhnya bangsa. Tetapi bagi saudara-saudara, waktu belum terlambat, bagi saudara-saudara buku nasional belum tertutup. Kembalilah kepada bangsamu sendiri, kembali-lah kepada Negaramu sendiri. Kembalilah kepada jalan yang benar!

 

Mari kita kupas lagi dasar-hakekat kepetualangan-kepetualangan tadi: Dasar-hakekatnya ialah bangkitnya tenaga-tenaga reaksi dan tenaga-tenaga kontra-revolusi yang hendak mati-matian menentang kelanjutan daripada kita punya Revolusi. Itulah pula dasar-hakekat daripada D.I.-T.I.I. sejak dari mulanya bersemboyan “anti komunis”, malahan sejak dari mulanya menamakan Republik kita ini R.I.K. yaitu Republik Indonesia Komunis, Juga D.I.-T.I.I. menjalankan teror, penggedoran, pembakaran, penculikan, pembunuhan. Juga D.I-T.I.I. bekerja-sama dengan anasir-anasir asing, menerima pimpinan militer dari asing, menerima sokongan uang dari asing, menerima droppingan senjata dari asing. Juga D.I.-T.I.I. penjelmaan daripada satu “proklamasi”, proklamasi N.I.I. 7 Agustus 1949. Dan terutama sekali: Juga D.I.-T.I.I. menentang tiap-tiap konsolidasi Republik. Herankah kita kalau Dahlan Jambek belakangan ini mencoba membentuk D.I.-T.I.I. pula di Sumatera Barat?

 

Pada hari keramat 17 Agustus sekarang ini, saya menyerukan lagi: jangan lupa D.I.-T.I.I., – jangan biarkan mereka, hantamlah terus D.I.-T.I.I., sampai mereka hancur-lebur samasekali!

 

Sekarang, apakah yang dinamakan kelanjutan daripada Revolusi ialah terletak dalam segala bidang yang perjoangannya belum selesai. Kelanjutan Revolusi ialah kelanjutan perjoangan-perjoangan yang belum selesai. Kelanjutan perjoangan di bidang politik, kelanjutan perjoangan di bidang ekonomi atau lebih tepat sosial-ekonomi, kelanjutan perjoangan di bidang kepribadian Nasional. Revolusi kita adalah satu “revolusi campuran”, revolusi politik dan sosial-ekonomi dan kebudayaan, – satu Revolusi yang pada hakekatnya adalah “a summing up of many revolutions in one generation”. Satu bagian daripada Revolusi ini adalah lebih maju daripada bagian yang lain, tetapi semua bagian-bagian itu meminta kelanjutan daripada perjoangannya.

 

Welnu, kelanjutan daripada Revolusi inilah yang pada hakekatnya mereka tentang. Terutama sekali oleh karena Revolusi kita sekarang ini mulai meletakkan tekanan kata pula kepada penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur, masyarakat kebahagiaan seluruh rakyat, masyarakat tanpa eksploitasi dan feodalisme, tanpa penindasan dan penghisapan. Revolusi Nasional kita telah mengalami “fase politiknya”, dan kini sedang mengetok pintu untuk me-masuki “fase sosialnya” atau lebih tepat mengetok pintu untuk memasuki “fase sosial-ekonomi-nya” yaitu fase penyelenggaraan masyarakat idam-idaman massa yang adil dan makmur.

 

Fase politik daripada Revolusi kita memang belum seluruhnya selesai. Benar “kekuasaan politik” sudah dipegang oleh bangsa kita, benar “politieke macht” itu tidak di tangan bangsa Belanda lagi, tetapi penggunaan daripada kekuasaan politik itu belum sesuai dengan cita-cita Rakyat dan penderitaan Rakyat. Di samping itu, kekuasaan politik kita masih belum pula melebar ke Irian Barat. Belanda masih tetap menongkrong di sana memegang kekuasaan politik. Tujuh tahun lamanya kita mencoba memindahkan kekuasaan politik di Irian Barat itu ke tangan kita, dengan jalan mengajak Belanda untuk berunding, sekali lagi berunding, dan sekali lagi berunding, tetapi sia-sia belaka. Tujuh tahun lamanya kita mencoba merobah sikap Belanda dengan jalan “sweet reasoning and persuasion”, tetapi hasilnya sama saja dengan mencoba merobah luwak menjadi ayam atau serigala menjadi kambing. Maka terpaksalah kita mengambil “jalan lain” yang tegas, ”’jalan lain” yang terkenal dengan nama Aksi Irian Barat, “jalan lain” yang penuh dengan gegap-gempitanya semangat perjoangan.

 

Perjoangan pembebasan Irian Barat telah sangat menaikkan martabat kita sebagai bangsa yang cinta kemerdekaan. Aksi-aksi kita, yang memuncak pada pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda, dan pemulungan orang-orang Belanda yang tak diperlukan, aksi-aksi kita itu seolah-olah petir dan halilintar telah menyedarkan sebagian dunia yang selama ini belum mau sedar, bahwa Indonesia bukanlah bangsa katak atau bangsa “Hamlet yang tak berkeputusan”. Dalam aksi yang mau tak mau menggugah ketakjuban siapapun juga itu, tentara dan rakyat kita memainkan rol yang amat besar. Dan pemudapun berjasa sesuai dengan harapan yang bangsa cantumkan kepadanya. Salut-kehormatan kuberikan kepada tentara dan rakyat dan pemuda itu!

 

Bagi Belanda tinggal kini dua pilihan: terus berkeras-kepala, atau memahami tuntutan sejarah. Terus berkeras-kepala, akan berarti “jalan lain” akan kita daki terus dan Belanda akan kehilangan Irian Barat dengan tiada terhormat dan menderita kerugian-kerugian seterusnya yang tak ternilai; memahami tuntutan sejarah, akan berarti mengembalikan Irian Barat kepada Indonesia dengan terhormat, dan normalisasi hubungan antara Nederland dan Indonesia sebagai lazim dalam dunia internasional.

 

Bagi kita sendiri, ada juga pesan yang hendak saya katakan di sini: Hendaklah kita mengenai aksi Irian Barat itu jangan bersikap picik. Sebab, ada beberapa pentolan yang mengatakan bahwa “aksi Irian Baratnya Sukarno” itu menjadi “sebab” dari “segala kesulitan”. Dan ada juga orang-orang yang mengatakan, bahwa perusahaan-perusahaan yang telah diambil-alih itu “tidak layak dikuasai oleh Pemerintah”. Orang-orang yang mengatakan bahwa aksi Irian Baratnya Sukarno-lah sebab dari segala kesulitan, orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang tak mengerti hukum-hukumnya perjoangan, orang-orang yang memang belum pernah ikut benar-benar dalam perjoangan, orang-orang yang tak mengerti bahwa semua perjoangan-perjoangan besar membawa kesulitan-kesulitan, orang-orang yang jiwanya cynis atau orang-orang cap mentega yang berjiwa kapuk, yang tak pernah mengerti artinya pepatah kuna “jer basuki mawa beya”, atau firman Tuhan “innamaal usri jusro”, atau uyapan Vivekanada “victory through struggle”. Sebagai yang pada saat mencetuskan aksi Irian Barat sekarang ini saya katakan beberapa kali dengan mensitir Danton “de l’audace, encore de l’audace et toujours de l’audace!”, yang berarti “keberanian, sekali lagi keberanian, selalu keberanian”, maka tiap-tiap perjoangan-besar tidak hanya menuntut pengorbanan, tetapi ia juga menuntut keberanian!

 

Dan orang-orang yang berkata bahwa perusahaan-perusahaan yang terambil-alih tak layak dikuasai Pemerintah. Awas kepada orang-orang yang demikian itu, saudara-saudara! Mereka adalah burung alap-alap kekayaan, yang ingin sekali memulai dengan pembahagian rezeki, agar mendapat bagian buat gemuk kantongnya sendiri!

 

Bagaimana juga, saudara-saudara, “jalan lain” yang kita ambil sekarang ini untuk memperjoangkan pembebasan Irian Barat, adalah jalan yang benar. Jangan ragu-ragu tentang hal itu! Dan kalau benar aksi Irian Barat ini “aksi Irian Baratnya Sukarno” – dan saya kata: tidak benar, sebab saya tempo hari hanya memberi komando saja, dan aksi ini bukan aksi-Sukarno melain-kan aksinya Rakyat -, jika benar aksi ini aksinya Sukarno, maka saya nyatakan di sini bahwa saya siap-sedia untuk memikul segala tanggungjawab atas komando itu dan segala tanggung-jawab atas segala akibat-akibatnya! Teruskanlah hai seluruh Rakyat Indonesia aksi Irian Barat itu, teruskan!, jangan ragu-ragu, jangan mundur setapak, jangan berkisar sejari, teruskan!, – Insya Allah, nanti kita pasti menang!

 

Memang seluruh “fase politiknya” Revolusi kita ini belum selesai dan masih harus diterus-kan. Dan memang perjoangan fase politik itu tidak boleh mandek, kita harus berjalan terus dalam fase politik itu, di segala lapangan! Tetapi dalam pada itu, sekarang sudah datang saatnya kita mulai mengetok pintu yang menuju kepada fase sosial-ekonomis, mengetok pintu yang menuju kepada realisasi masyarakat keadilan sosia1. Kita tidak dapat menunggu sampai keseluruhan daripada politieke macht itu secara sempurna-maha-sempurna sudah berada di tangan kita, sebelum kita dapat memasuki fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu. Tidak! Meski politieke macht itu belum sempurna seluruhnya berada di tangan kita, maka dengan politieke macht yang sudah ada ini sudahlah boleh kita mulai mengetok pintunya keadilan sosial. Ya, kita tidak dapat menunggu, dan kitapun tidak perlu menunggu! Dulupun kita tidak menunggu sampai semua bangsa Indonesia dapat membaca dan menulis, atau semua bangsa Indonesia dapat mengerti a-b-c-nya politik, sebelum kita mengadakan Proklamasi!

 

Fase sosial-ekonomis itu adalah kelanjutan daripada Revolusi Nasional kita. Orang-orang revolusioner-sejati mengerti akan hal ini. Hanya orang-orang yang mewarisi abu daripada Proklamasi, dan tidak mewarisi Apinya, tidak mengerti perkataan saya ini. Tetapi orang-orang yang mewarisi Api Proklamasi, orang-orang revolusioner-sejati kataku tadi, mengerti akan hal ini. Api tidak berhenti, api terus hidup, api revolusi adalah laksana ndaru yang terus bergerak. “A Revolution has no end”, – satu revolusi tak pernah berhenti. Fase sosial-ekonomis adalah kelanjutan logis daripada fase politik. Dan fase sosial-ekonomis itu adalah suatu perjoangan ter-sendiri, suatu “battle” tersendiri, satu pertempuran tersendiri. “A Battle against remnants of colonial-economic exploitation, a battle against poverty itself, a battle for economic welfare for all”: Satu pertempuran menentang sisa-sisa eksploitasi kolonial-ekonomis; satu pertempuran menentang kemiskinanan an sich; satu pertempuran untuk merealisasikan kesejahteraan ekonomis buat semua orang.

 

Terutama sekali berjalannya fase sosial-ekonomis inilah yang hendak ditentang oleh kekuatan-kekuatan reaksioner dan kontra-revolusioner dari dalam dan luar negeri itu! Dan oleh karena fase sosial-ekonomis itu adalah kelanjutan logis daripada fase politik, bahkan kelanjutan logis daripada Revolusi Nasional, maka menentang fase sosial-ekonomis itu adalah sebenarnya sama dengan menentang Revolusi itu sendiri. Dan oleh karena Revolusi kita adalah kodratnya sejarah, maka menentang Revolusi kita adalah: Sama dengan menentang beredarnya bulan, sama dengan menentang terbitnya matahari!

 

Dunia-dalam yang reaksioner atau yang tolol, dan dunia-luaran yang kolot dan reaksioner pula, sering berfikir (bahkan merencanakan!), bahwa pergantian Pimpinan Negara dan Pemerintah Indonesia dengan orang-orang yang lain yang “sama soort-nya” dengan mereka, akan dapat menentang atau menahan fase sosial-ekonomis daripada Revolusi ini. Alangkah tololnya mereka itu! Alangkah gemblungnya! Dalam tahun 1930 aku telah berkata: “Matahari terbit bukan karena ayam-jantan berkokok, tetapi ayam-jantan berkokok karena matahari terbit!”

 

Ya, ayam-ayam berkeluruk, dan burung-burung bersiul, karena di Timur fajar menyingsing; bukan: di Timur fajar menyingsing karena ayam-ayam berkeluruk dan burung-burung bersiul. Fajar menyingsing itu tak dapat dihalang-halangi. Dunia reaksioner dalam-dan-luar negeri mungkin dapat menyingkirkan ayam-ayam dan burung-burung itu, tetapi jangan mereka mengira dapat menghalangi matahari terbit! Dan jikalau mereka hendak bertempur dengan matahari, – bukan matahari yang kalah, tetapi mereka sendiri akan hancur-luluh hancur-lèlèh samasekali!

 

Fajar kini menyingsing, matahari kini akan terbit! Songsonglah fajar itu, songsonglah terbitnya matahari! Songsonglah fajarnya fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu dengan sikap-sikap yang baru, dengan pengertian-pengertian yang baru.

 

Setahun yang lalu sayapun berkata: “Janganlah kita beku! Janganlah kita statis dalam arti: satu kali ambil sistim politik, terus kita pertahankan sistim politik itu! Think-and-rethink,-shape-and-reshape! Demikianlah pesanan saya tempo hari. Nehru tempo hari mempergunakan perkataan ”remaking”, dan di dalam perkataan itu terasalah dinamik, dan bukan kestatisan atau kebekuan. Sebagai sering saya katakan: Revolusi adalah Gerak, Revolusi adalah Beweging. Revolusi adalah Gerak Maju meninggalkan Hari Kemaren,- “Revolution rejects yesterday”. Janganlah menggamblok saja kepada faham-faham yang sudah-sudah, janganlah tidak berani membongkar fikiran-fikiran yang hanya cocok dengan alam ekonomi kolonial dan ekonomi liberal. Ya, sekarang kita sudah diharuskan memikirkan bagaimana pembangunan negeri kita menjadi satu masyarakat yang adil dan makmur bagi seluruh Rakyat, – bagi si Dadap dan si Waru, bagi si Kromo dan si Dongso, bagi si Zaetun dan si Misnah. Memang itulah kepribadian Indonesia di lapangan kemasyarakatan. Itulah isinya begrip “kekeluargaan Indonesia”. Yang dibutuhkan sekarang ini ialah: orientasi baru, atau penemuan kepribadian kita sendiri di lapangan ekonomi. Dalam rangka pemikiran baru ini, Dewan Perancang Nasional sedang dalam proses pembentukannya. Dengan gembira saya umumkan di sini, bahwa Rencana Undang-undang Pembentukan Dewan Perancang Nasional kini sudah selesai. Tinggal nanti pengesyahan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Kepada Dewan Perwakilan Rakyat saya mintakan pengertian tentang pemikiran-baru atau orientasi-baru itu. Juga di lapangan ekonomi, kita masih banyak yang dihinggapi penyakit “Hollandsch denken”, penyakit berfikir secara Belanda. Kikislah diri kita bersih-bersih daripada segala sisa-sisa “Hollandsch denken” itu! Siap-sediakanlah segala alat-alat materiil, mental, legal, untuk memungkinkan lahirnya Jabang bayi Masyarakat Adil dan Makmur itu dengan cara yang sehat dan lancar. Jangan nanti fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita ini datang, dengan barensweeën yang amat pedih.

 

Ya, saya ajak segenap bangsa Indonesia sekarang untuk dengan giat mensiap-sediakan segala alat-alat materiil, mental, legal untuk kelanjutan daripada Revolusi kita itu. Saya ajak segenap bangsa Indonesia untuk dengan giat bekerja kepada “retooling for the future” .

 

“Retooling for the future”, membuat “alat-alat-baru untuk menyelenggarakan hari-depan”, – di segala lapangan. Fase sosial-ekonomis daripada Revolusi kita itu hanyalah dapat berjalan secara lancar dan licin dengan perlengkapan-perlengkapan yang tepat dari sekarang di segala lapangan. Material investment, investment of human skill, mental investment, sudah saya sebutkan berulang-ulang. Penyusunan modal, managerial and technical know-how, suasana politik yang sesuai – itupun sudah saya mintakan dengan tandas dalam pidato 17 Agustus tahun yang lalu. Sekarang, marilah kita selenggarakan segala perlengkapan-perlengkapan itu, marilah kita metterdaad mengadakan retooling for the future di atas dasar orientasi-orientasi baru. Songsonglah Alam Baru dengan jiwa baru dan pengertian baru.

 

Songsonglah Dia, dengan melaksanakan Demokrasi Terpimpin, oleh karena masyarakat baru itu hanya dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin yang melemparkan jauh-jauh segala keburukannya free-fight-liberalism.

 

Songsonglah Dia, dengan melaksanakan pembentukan Dewan Perancang Nasional, sesuai dengan usul Dewan Nasional, itu badan Penasehat Kabinet, yang dalam usianya setahun ini telah menunjukkan ketangkasan dan pengertian yang luar-biasa.

 

Songsonglah Dia, dengan melaksanakan terlahirnya pola keadilan-dan-kemakmuran, yakni melaksanakan terlahirnya “blue-print”, yang akan direncanakan oleh Dewan Perancang Nasional.

 

Songsonglah Dia, dengan memperhebat Gerakan Hidup Baru sebagai yang saya anjurkan setahun yang lalu, – Gerakan Hidup Baru yang berisikan Revolusi Mental, untuk memperkuat jiwa perjoangan politik, dan menghidupkan daya-cipta gotong-royong untuk membangun, dan mempergunakan tenaga-kerja manusia sebagai faktor utama di samping modal.

 

Sungsonglah Dia, dengan melaksanakan pekerjaan Konstituante di Bandung yang sekarang ini seperti tèlè-tèlè, sesuai dengan harapan yang saya ucapkan pada waktu membuka Konstituante itu pada tanggal 10 Nopember 1956, yang berbunyi: “Bekerjalah” dengan cepat, dan bekerjalah dengan tepat. Cepat, sebab di zaman bom atom ini perjalanan segala sesuatu adalah cepat, deras, dan tangkas. Tepat, – sebab perjoangan Rakyat akan berjalan terus, juga di luar tembok Konstituante ini, sedapat mungkin dengan saudara-saudara, bila tidak mungkin: di atas kepala saudara-saudara, – over Uw geëerde hoofden heen! Sesudah Konsitituante Bandung, babakan Revolusi kita ingin sekali lekas meningkat memasuki Revolusi Pembangunan Res Publica yang amat hebat. Konstitusi Bandung menjadi fondamen ketatanegaraan; Program Pembangunan akan disusun oleh Rakyat sendiri di atas dasar fondamen ketatanegaraan itu …  Saya minta kepada saudara-saudara, susunlah Konstitusi di mana dengan sekelebatan mata saja sudah bisa dilihat bahwa Republik kita adalah benar-benar Res Publica, benar-benar kepentingan umum yang berarti kepentingan bersama … Konstitusi Bandung harus menjadi canangnya pembangunan, canangnya pembangunan Res Publica … Saya harap Konstitusi Bandung janganlah mendurhakai hatinya Rakyat! Ya, songsonglah Dia, fase baru dalam Revolusi kita itu, dengan melekaskan pekerjaan Konstituante di Bandung itu. Sebab bangsa kita adalah bangsa dalam perjoangan, dan perjoangan berarti gerak-cepat dan dinamik. Dan sebagai kukatakan pada pembukaan Konstituante, Konstitusi kita harus Konstitusi perjoangan: “Bagi kita bangsa Indonesia, demikianlah kataku, satu bangsa dalam Revolusi, Konstitusi dus harus merupakan satu alat perjoangan! Konstitusi yang saudara-saudara akan susun, tidak boleh merupakan satu statisch begrip, satu tulisan yang dianggap keramat belaka, satu tulisan yang dikemenyani tiap-tiap malam Jum’at, satu tulisan-mati yang ditaruhkan dalam almari-kaca atau ditaruhkan dimejanya profesor yang kepalanya botak. Tidak! Konstitusi kita harus Konstitusi perjoangan, konstitusi yang memberi arah dan dinamik kepada perjoangan, sebagai Wahyu Cakraningrat memberi arah dan dinamik kepada perjoangan. Konstitusi kita harus merupakan satu manifestasi daripada geloranya dan gegap-gempitanya perjoangan kita merobah satu tata kolonial yang mesum, menjadi satu tata nasional yang modern dan berbahagia. Konstitusi kita harus menjawab kepada keperluan-keperluan Indonesia pada waktu sekarang dan pada waktu dekat yang akan datang.

 

“The constitution is made for men, and not men for the constitution”, “Konstitusi dibuat untuk keperluan manusia, dan tidak manusia untuk keperluan konstitusi”, demikianlah seorang pejoang pernah berkata. Kita, bangsa Indonesia sekarang ini, kita harus berkata: “Konstitusi kita ialah konstitusi yang dibuat untuk keperluan manusia Indonesia yang sedang berjoang, dan tidak manusia Indonesia dibuat untuk keperluan konstitusi” .

 

Karena itu pula saya minta kepada saudara-saudara, jangan Konstituante ini menjadi badan tempat berdebat bertèlè-tèlè! Perjoangan minta kesanteran. Perjoangan minta dinamik, perjoang-an tidak mau mandek! Perjoangan akan berjalan terus, juga di luar tembok Konstituante ini, – di atas kepala saudara-saudara, – over Uw hoofden heen – , jikalau saudara-saudara tidak menyesuaikan diri dengan geloranya semangat perjoangan itu dan dengan santernya tempo perjoangan itu.

 

Songsonglah Dia, dengan sikap dan tindakan yang tahu membatasi diri di lapangan kepartaian! Songsonglah Dia, – demikianlah zonder tedeng-aling-aling kuanjurkan sekarang ini -, dengan sedikitnya menyederhanakan kepartaian. Songsonglah Dia, dengan merobah Undang-undang Pemilihan Umum yang sudah ada, dan dengan mengadakan Undang-undang Kepartaian! Di dalam pidato pembukaan Konstituante tempo hari itu, sayapun telah berkata: “Konstitusi Bandung haruslah berupa kelahiran daripada peradaban dari Revolusi kita ini, yang sebagai semua revolusi-revolusi lain, mengenal pengalaman-pengalaman yang besar nilainya. Bagaimana pengalaman-pengalaman kita itu? Menyenangkankah? Menyedihkankah? Jadikanlah pengalaman-pengalaman pedoman untuk mengadakan. koreksi kepada ketatanegaraan Indonesia dan koreksi kepada organisasi kepunyaan Rakyat yang bernama partai. Di medan pertempuran dulu Rakyat berjoang dengan bulat-bersatu-padu berlindung di bawah lambang kesatuan, sebagai pelaksana Jiwa Proklamasi. Tetapi bagaimana keadaan di luar medan pertempuran? Kebebasan berpartai bukanlah satu-satunya alat untuk memutar roda demokrasi … Konstituante Indonesia adalah wenang, wenang penuh, berwewenang penuh, untuk meninjau dan memutuskan, apakah partai-politik dapat dipakai sebagai dasar demokrasi, bagi masyarakat, parlemen, dan Kabinet, dalam suasana Pembangunan Res Publica yang diharapkan Rakyat. Perhatikanlah pengalaman-pengalaman dalam menjalankan wewenang itu, sebab pengalaman adalah guru, adalah pedoman, adalah kemudi yang sangat berharga. Perhatikan pengalaman-pengalaman itu, sebab pengalaman yang tidak diperhatikan akan menjadi boomerang yang menghantam-roboh kita sendiri!

 

Sederhanakanlah kepartaian! Sekarang kepartaian jumlahnya berlebih-lebihan itu sudah menjadi tidak populer di kalangan Rakyat, sudah menjadi cemoohan di kalangan Rakyat. Lagi pula Rakyat melihat bahwa kadang-kadang partai itu dipergunakan tidak sebagai alat pembela kepada kepentingan Rakyat, melainkan sebagai alat pembela kepentingan pribadi beberapa pentolan dalam partai itu, atau sebagai alat pemberi kerja kepada orang-orang yang tak punya kerja, atau alat pemberi lisensi kepada orang-orang yang cari lisensi.

 

Partai bukan pembela ndoro atau pembela juragan, partai bukan arbeidsbureau, partai bukan makelaarskantoor! Partai di dalam Revolusi ini harus melulu organisasi penyusun tenaga Rakyat, melulu mengabdi kepada perjoangan Revolusi dan perjoangan Rakyat!

 

Sekali lagi: sederhanakanlah kepartaian! Sederhanakan isi-jiwanya, sederhanakan jumlahnya. Sederhanakan isi-jiwanya, jangan isi-jiwanya itu selintat-selintut seperti jiwa tukang catut di pasar gelap! Sederhanakan jumlahnya, jangan jumlahnya itu berpuluh-puluh buah seperti lalat-hijau mengerumuni hidangan. Ultra-multi-party-system tak sesuai dan tak dapat diperguna-kan sebagai alat penyelenggaraan masyarakat Res Publica. Masyarakat Res Publica hanya dapat diselenggarakan dengan Demokrasi Terpimpin, yang tak dapat berjalan dan tak dapat sejalan dengan ultra-multi-party-system itu. Dengan zonder tèdèng-aling-aling saya anjurkan kita merobah Undang-undang Pemilihan Umum yang sudah ada, dan mengadakan Undang-undang Kepartaian yang jitu. Dan dengan zonder tèdèng-aling-aling pula saya di sini menganjurkan dirobek-robeknya Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945, yang menganjur-anjurkan diadakan-nya partai-partai, dan lalu menghidupkan dunia liberalisme parlemeter dalam Revolusi kita, yang sebenarnya wajib dipimpin oleh keutuhan kommando, tetapi karenanya menjadi pecah belah samasekali sampai dewasa ini. Kesalahan 3 Nopember 1945 itu memungkinkan segala macam unsur-unsur kontra-revolusi memainkan perannya untuk menjauhkan kita dari tujuan Revolusi.

 

Apakah kita cukup ketangkasan untuk melaksanakan ini? Ah, saudara-saudara, kenapa tidak? Sudahkah kita menjadi Rakyat yang beku? Sudahkah kita demikian turun dinamik kita, sehingga kita sudah ”ngglenggem” puas dengan keadaan yang ada, dengan alat-alat yang ada, dengan Negara yang ada, dan tidak berani atau tidak mau mengadakan perobahan-perobahan yang perlu, dan lupa bahwa Negara sekedarlah ada satu alat untuk mencapai atau mem-pertahankan atau memelihara sesuatu? Dan oleh karena kita sekarang ini masih dalam taraf perjoangan, – dan kapan kita akan bisa berhenti berjoang? -, maka Negara harus kita hantir sebagai alat perjoangan. Dan sebagai alat perjoangan, maka Negara itu, dengan segala sistim-sistimnya, boleh dan harus kita robah dan perbaiki terus, kita asah terus, kita pertajam terus, sebagai kita mengasah terus dan pertajam terus kita punya pedang di masa perjoangan.

 

Pada 17 Agustus 1957 saya berkata: “Revolusi barulah benar-benar Revolusi, kalau ia terus-menerus berjoang. Bukan saja berjoang ke luar menghadapi musuh, tetapi berjoang ke dalam memerangi dan menundukkan segala segi-segi negatif yang menghambat atau merugikan jalan-nya Revolusi itu. Ditinjau dari sudut ini, maka Revolusi adalah satu proses yang dinamis-dialektis dan dialektis-dinamis, satu simfoni hebat dari kemenangan atas musuh” dan kemenangan” atas-diri-sendiri, satu simfoni hebat antara overwinning dan self overwinning. Hanya bangsa atau kelas yang dapat mengadakan simfoni yang demikian itulah dapat mencapai kemajuan dan kekuatan dengan jalan Revolusi”.

 

Asahlah terus kita punya Negara! Hantu kolonialisme dan imperialisme masih mengintai di cakrawala, dan tugas sosial-ekonomispun masih menunggu penyelenggaraan dengan alat Negara itu. Jangan bimbang hati: fajar kemenangan politik dan sosial-ekonomis telah merantak di bang-wetan! Tugas sejarah memanggil-manggil kita, songsonglah tugas sejarah itu dengan jiwa yang penuh pengertian dan dinamiknya perjoangan, – siapa yang sedar dan dinamis, dialah yang akan terpakai, siapa yang tak mengerti, siapa yang beku, dia akan tertinggal, dan siapa yang berkhianat, dia akan digilas hancur-lebur oleh sejarah.

 

Mengenai kepartaian, yang memberi pengalaman buruk kepada kita di masa yang lampau, baiklah saya cantumkan di sini rumusan pendapat dari para Panglima dan para Komandan Operasi yang dengan anak-anak buahnya sedang menyabung jiwanya membasmi pemberontakan-pemberontakan sekarang. Rumusan tersebut adalah sebagai berikut:

 

  1. Dalam melakukan tugasnya membasmi pemberontakan, Angkatan Perang Republik Indonesia melandaskannya kepada keyakinan, bahwa setelah tugasnya berhasil, maka tidak akan terulang lagi ekses-ekses politik di masa-masa yang lalu, seperti misalnya “dagang sapi” , memperpolitikkan soal-soal ekonomi dan kepegawaian, dan lain-lain. Ekses-ekses yang buruk inilah yang menjadi sebab pokok dari kekacauan.

 

  1. T.N.I. bertekad, bahwa sesudah pemberontakan ini, ia akan memusatkan tenaga kepada penertiban hukum dan disiplin, serta pembersihan dalam tubuh alat-alat Negara, baik sipil maupun militer.

 

  1. Pemerintah hendaknja menjamin, bahwa justru sesudah terbasminya pemberontakan, akan diintensifkan usaha autonomi dan pembangunan dengan berpegang antara lain kepada hasil-hasil Munas dan Munap.

 

 

  1. T.N.I. mengharap diberikan pernyataan-penghargaan kepada perajurit-perajurit yang telah menunaikan tugasnya dengan setia, dan keluarganya yang menderita.

 

Demikianlah rumusan Angkatan Perang. Kita harus mengadakan zelfcorrectie yang serious. Jika tidak, songsongan kita kepada panggilan Revolusi akan menjadi hampa, dan “retooling kita for the future” akan menjadilah satu omong-kosong belaka! Di bidang internasional pun kita harus memberi songsongan! Sebab, sebagai kukatakan tadi, tantangan adalah di bidang nasional dan di bidang internasional. Songsonglah panggilan Revolusi di bidang internasional, dalam arti: memperkuat kesetiakawanan kita kepada perjoangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang menentang kolonialisme dan imperialisme.

 

Artinya: bahwa kita sebagai anggauta daripada kesetiakawanan itu harus lebih aktif, lebih dinamis, lebih berani-bertindak-kemuka, lebih tidak beku, lebih solider daripada yang sudah-sudah.

 

Jangan gubris bisikan si kapuk yang ragu-ragu! Sudah barang tentu semangat setiakawan itu ditentang terang-terangan atau sembunyi-sembunyian oleh kaum-kaum kolonialis dan imperialis, tetapi jangan gubris pula, perjoangan selalu membawa tentang-menentang, dan-api semangat Bandung tak mengenal kunjung padam! Buktinja? Sesudah Konperensi Asia-Afrika di Bandung 1955, dunia menyaksikan:

 

  1. Konperensi Mahasiswa Asia-Afrika di Bandung, 1956.

 

  1. Konperensi Wartawan Asia-Afriks di Tokyo, 1956.

 

  1. Konperensi Sarjana Hukum Asia-Afrika di New Delhi, 1957.

 

  1. Konperensi Solidaritas Rakyat Asia-Afrika di Cairo, 1958.

 

  1. Konperensi Wanita Asia-Afrika di Colombo, 1958.

 

     Dan baru-baru ini:

 

  1.  Konperensi Negara-negara Afrika di Accra, 1958.

 

Betul solidaritet Asia-Afrika ini belum merupakan satu gunung-karang yang meski di “atom” pun tidak akan retak, tetapi kekuatan jiwanya tak dapat ditentang, dan malahan makin lama makin bertambah merupakan satu potensi internasional. Dan lebih daripada itu: (maka itulah sebabnya kita harus menyongsongnya dengan jiwa yang lebih solider daripada dahulu): jiwa Asia-Afrika sebenarnya adalah juga cerminan daripada dua fase daripada tiap-tiap revolusi di Asia dan Afrika (yang satu lebih, yang lain kurang), yaitu fase politik dan fase sosial.

 

Ya, dua fase, dan kita bangsa Indonesia merasa bangga bahwa kitalah yang lebih dulu dengan segera dan terang-terangan berkata bahwa Revolusi  kita adalah ”a summing up of many revolutions in one generation”. Bahwa kitalah dengan terang-terangan telah dalam tahun 1945 menformulir Pancasila, yang antara lain menghendaki Keadilan Sosial. Bahwa kitalah dengan terang-terangan dalam mukadimah Undang-undang-Dasar kita sejak tahun 1945 selalu mengemukakan tuntutan masyarakat yang adil dan makmur. Bahwa kitalah yang dengan terang-terangan mempunyai fatsal 38 daripada Undang-undang-Dasar-Sementara, realisasi daripada ide masyarakat adil dan makmur. Bahwa kitalah (antara lain saya sejak tahun 1927 dalam pidato-pidato dan artikel-artikel, 1930 dalam “Indonesia Menggugat“, 1933 dalam “Mentjapai Indonesia Merdeka“) zonder tèdèng-aling-aling berkata menghendaki satu masyarakat sama-rasa-sama-rata tanpa kapitalisme dan imperialisme, dus satu masyarakat politiek-economische democratie atau satu masyarakat politiek-sociale-democratie.

 

Lihat kini di luar-pagar. Sesudah kita di tahun 1945 mengadakan Proklamasi, menyusullah negara-negara lain. Saya tidak menyebutkan R.R.T. Itu sudah nyata satu negara yang dinamakan “komunis”. Tetapi lihat Birma. Birma yang datang kemudian daripada kita, menghendaki masyarakat “social justice”. Lihat Ceylon. Ceylon yang juga datang sesudah kita, menghendaki pula satu masyarakat “social-justice”. Dan lihat Mesir. Revolusi Mesir terjadi dalam tahun 1952, tujuh tahun sesudah kita. Dalam tahun 1955 Gamal Abdel Nasser menulis: “Sekarang saya dapat menerangkan, bahwa kita ini memasuki dua revolusi, bukan satu. Semua rakyat di dunia ini memasuki dua revolusi: satu revolusi politik yang merebut hak memerintah diri sendiri dari tangannya kezaliman, … dan satu revolusi sosial, termasuk di dalamnya pertentangan kelas, yang akan berakhir bilamana keadilan telah terjamin untuk semua anggauta-anggauta daripada bangsa itu. Bagi kita, maka pengalaman dahsyat yang kita “alami sekarang ini ialah, bahwa kita ini sedang menjalankan dua revolusi pada waktu yang sama”. Nasser merasa bahwa Mesir “caught between the millstones of two revolutions”, – terjepit antara batu-batu-penggilingannya dua revolusi! Dan ia berkata: “It was not within our “power to stand on the road of history like a traffic policeman and hold up the passage of one revolution until the other had passed by in order to prevent a collision”, yang berarti: “Tidak di dalam kekuasaan kita untuk berdiri di jalan-rayanya sejarah seperti seorang agen-polisi lalu-lintas, dan, agar menghindarkan satu tabrakan, menahan berjalannya satu revolusi, sampai revolusi yang lain sudah berlalu”.

 

Ya, saudara-saudara, demikianlah memang inti-hakekat daripada Nasionalisme Asia: ber-roman dua, ber-roman politik dan ber roman sosial. Nasionalisme Asia yang bangkit sebagai reaksi atas penjajahan politik dan penghisapan ekonomi, nasionalisme Asia yang berkobar dalam dadanya berjuta-juta rakyat yang perutnya lapar, pakaiannya compang-camping, gubuknya doyong, nasionalisme Asia itu tidak bisa lain daripada pasti mempunjai roman sosial pula. Dan karena itu benar sekali perkataan Nasser: Seorang revolusioner tidak dapat diibaratkan sebagai seorang agen-polisi lalu-lintas, yang menahan berlalunya sesuatu kendaraan Revolusi. Seorang revolusioner harus sedar akan hukum-hukum revolusi, dan menghormati hukum-hukum revolusi itu, dan percaya kepada kekuatan Rakjat, dan ikut terjun ke dalam kancah candra-dimukanya kedua macam revolusi itu, – ikut mengerti, ikut sedar, ikut aktif, ikut berjoang menyongsong dan melaksanakan kehendak sejarah dan tugas sejarah. Sebab sebagai tadi saya katakan, siapa yang tidak ikut mengerti, siapa yang tidak ikut sedar, siapa yang beku, dia akan ditinggalkan basah-basah, dan siapa yang menentang, dia akan digiling-digulung-dilindis-digilas hancur-lebur oleh kereta jagarnathnya Revolusi!

 

“Fate does not jest”, kata Nasser. “Nasib tak mau dipermainkan”. Memang demikianlah! Kereta Jagarnathnya Sejarah tak boleh dibikin main-mainan!

 

En toh, rupanya, dunia Barat, atau lebih tegas: elemen-elemen kolonialis-imperialis dari dunia Barat, mau main-mainan dengan Kereta Jagarnathnja Sejarah itu! Mereka menentang, sedikitnya selalu menjelek-jelekkan, segala apa saja yang timbul mencari realisasi di Asia-Afrika itu. Mereka menentang pertumbuhan di Indonesia. Mereka menentang pertumbuhan di Mesir, mereka menentang pertumbuhan di lain-lain negara Arab. Cannot they realise that history is against them? Apakah mereka tak mau mengerti, bahwa sejarah menentang mereka? Mereka mengingatkan saya kepada itu anak Belanda dari ceritera-dongengan, yang hendak menahan jebolnya gili-gili dengan menutup lobang dalam gili-gili itu dengan jari-tangannya. Lima meter dari tempat anak itu, gili-gili jebol, dan anak itu mati klelep di dalam banjir yang membandang.

 

Alangkah baiknja jikalau dunia Barat mengerti, bahwa nasionalisme Asia adalah satu kepastian sejarah, satu historisch phenomeen, dan bahwa nasionalisme Asia itu pasti sedikitnya bermuka dua. Kami tidak minta dibantu, kami hanya minta dimengerti dan dibiarkan, Biarkanlah kami mencari kepribadian sendiri. Biarkanlah kami bertumbuh secara kodrat kami sendiri. Tetapi apa yang kami alami? Kami selalu diganggu, kami selalu ditentang, kami selalu dihalang-halangi. Dunia Barat rupanya mengira, bahwa adalah kewajiban mereka untuk membuat kami ini seperti mereka. Dengan demikian, maka antara Barat dan Asia selalu ada ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik. Malah pernah terdjadi perang panas antara Barat dan Mesir, dan sekarang hantu peperangan itu mengintai pula di lain tempat. Sebabnja ialah kurang pengertian di dunia Barat tentang hakekatnya nasionalisme di Asia atau Afrika.

 

Sudah diketahui oleh umum bahwa kami selalu menganjurkan koeksistensi antara blok komunis dan blok anti komunis, dan memang kami tidak mau masuk sesuatu blok di antara dua itu. Kami punya politik adalah politik bebas yang tidak mau mengikatkan diri. Kami punya politik ialah politik “menyusun kepribadian sendiri”. Biarkanlah kami menjalankan politik yang demikian itu. Tetapi, sekali lagi, apa yang kami alami? Bukan dibiarkan, bukan dimengerti, tetapi selalu diogrok-ogrok, selalu diejek-ejek, sering “disubversif”, kadang-kadang diserang terang-terangan. Zonder tèdèng-aling-aling saya katakan: akhirnya nanti yang rugi bukan kami, tetapi Tuan! Baik kami maupun Tuan, kedua-dua kita ini tak dapat melepaskan diri dari Sejarah. “One cannot escape history”, demikianlah bunyi suatu ucapan. Kami tak dapat “escape history”, Tuanpun tak dapat “escape history”. Tetapi history kami dan history Tuan adalah berlainan! Kami tak dapat escape history bahwa kami akan bertumbuh terus menjadi bangsa-bangsa yang besar dan sejahtera. Tuan tak dapat escape history bahwa kolonialisme dan imperialisme Tuan akan ditentang enyah samasekali dari Asia dan Afrika!

 

Sebaiknya, janganlah kita mengganggu satu-sama-lain! Kami selalu menganjurkan koeksistensi antara blok komunis dan blok anti komunis, – sekarang kami juga menganjurkan koeksistensi antara kami dan Tuan-tuan: Koeksistensi antara blok-bersenjata dan Negara-negara yang berpolitik bebas. Koeksistensi antara Barat dan Nasionalisme Asia.

 

Konperensi Asia-Afrika tempo hari mewakili 1.600.000.000 orang, lebih separoh dari jumlah manusia di muka bumi. Kalau dipotong jumlah rakyat R.R.T. pun, Konperensi Asia-Afrika itu masih mewakili 1.000.000.000 orang! Konperensi pertama itu belum disusul dengan Konperensi yang kedua, tetapi janganlah mengira bahwa nasionalisme bangsa-bangsa Asia-Afrika telah mandek. Tidak! Nasionalisme bangsa-bangsa Asia-Afrika itu malah bertambah hebat di mana-mana, bertambah menyala dan berkobar-kobar di mana-mana. Lihat di Aldjazair, lihat di Tunisia, lihat di Mesir, lihat di Libanon, lihat di Yaman, lihat di Ceylon, lihat di Indonesia, lihat di tempat lain-lain! Ini adalah satu kenyataan sejarah, satu historisch phenomeen kataku tadi, yang tak dapat diingkari oleh sinpapun juga: 1.000.000.000 manusia, kalau tidak 1.600.000.000 atau 1.700.000.000 manusia, hatinya menyala-nyala karena Apinya satu Ide! Belum pernah sejarah dunia mengalami phenomeen seperti ini! Phenomeen-phenomeen lain di zaman dahulu, hanyalah meliputi puluhan juta manusia saja, atau paling-paling ratusan juta manusia, – tetapi “phenomecn Asia-Afrika” ini meliputi lebih dari satu setengah milyar jiwa manusiua!

 

Bertrand Russell pernah menulis, bahwa di dalam sejarah manusia adalah dua dokumen historis yang sampai sekarang menguasai alam-hati dan alam-fikirannya bagian-bagian besar dari umat-manusia, dan yang bersaingan hebat satu-sama-lain. Dua dokumen historis itu ialah “Declaration of Independence” Amerika tulisan Thomas Jefferson, dan “Manifes Komunis” tulisan Karl Marx.

 

Bertrand Russell mengharap supaya kompetisi antara potensi yang dibangunkan oleh dua dokumen historis itu jangan di-beslecht di medan peperangan, tetapi hendaknya di-beslecht di medan penyelenggaraan kesejahteraan manusia, “Silahkan berkompetisi, di medan penyeleng-garaan kesejahteraan manusia, bukan di medan pertempuran, – siapa yang unggul, dialah yang lebih baik, siapa yang ternyata lebih baik, dialah yang unggul”.

 

Saya setuju dengan harapan Earl Bertrand Russell itu, dan itulah memang sebabnya kami selalu menganjur-anjurkan koeksistensi antara komunis dan anti komunis. Tetapi ada satu hal yang dilupakan Earl Russell, dan yang saya minta diperhatikan oleh seluruh dunia Barat sekarang ini: Bukan dua potensi sekarang mengisi dunia, tetapi tiga!

 

Potensi ketiga itu ialah potensinya Nasionalisme di dunia Timur!

Terutama sekali sesudah Perang Dunia II, maka nasionalisme di dunia Timur itu menjulang setinggi langit. Sesudah perang-dunia II itu, apa yang sering saya sebutkan “Sturm über Asien” benar-benar meliputi seluruh bangsa-bangsa Timur, dan kadang-kadang malah benar-benar mentaufan dan membadai. Kini ia telah menggelorakan jiwa satu setengah milyar orang! Tak dapat sejarah sesuatu bangsa kulit berwarna kini ditulis, zonder menulis tentang nasionalisme itu.

 

Dan sekarang perhatikan: berlainan dengan dua potensi yang lain itu, yang tentang-menentang satu-sama-lain, kadang-kadang hampir menerkam satu-sama-lain, maka potensi ketiga ini sebenarnya tidak bermusuhan dengan siapapun juga. Ia hanya minta diakui, minta dimengerti, minta jangan diganggu-gugat. Jika ia diakui, dimengerti, tidak diganggu-gugat, maka ia akan menjadi sumbangan sebesar-besarnya kepada kesejahteraan-dunia dan perdamaian dunia. Tetapi manakala ia dimusuhi atau ditentang, ia akan mampu membangkitkan daya-pertahanan diri yang ”nggegirisi”. Siapa mengganggu-gugat kepadanya, memusuhi kepadanya, hendak menindas kepadanya, untuk mempertahankan kepentingannya atau mempertahankan susunan dunia sebelum Perang Dunia II, – ia tentu akan terbentur kepada perlawanan suatu maha raksasa yang mungkin satu-dua-kali dipukul rebah, tetapi selalu akan bangkit kembali dan bangkit lagi kembali, dengan selalu bertambah kekuatannya berganda-ganda kali.

 

Di samping itu, maka nasionalisme di dunia Timur yang anti kolonialisme dan imperialisme itu, mempunyailah banyak “simpatisan-simpatisan” dari kalangan bangsa-bangsa progresif. Karena dua sebab itulah, maka tiap-tiap tindakan subversi, tiap-tiap tindakan intervensi, tiap-tiap tindakan agresi di daerah nasionalisme Timur ini sebenarnya adalah sama dengan bermain api!

 

Karena itulah, maka berkenaan dengan kejadian-kejadian di Libanon dan Jordan, kita mendesak supaya tentara Amerika dan Inggeris lekas ditarik dari daerah-daerah itu. Lekaslah tarik tentara-tentara asing itu, karena tiap-tiap pendudukan oleh tentara asing, dari manapun asalnya, dan di manapun dijalankan pendudukan itu, selalu menimbulkan insiden-insiden besar-kecil yang tidak diharapkan. Lekaslah tarik tentara asing itu, karena jika tidak ditarik, itu berarti main dengan api !

 

Bangsa Indonesia, yang herboren (lahir lagi) dalam api-keramatnya nasionalisme itu, dan sedar pula bahwa ia adalah satu bagian daripada “dunia baru yang berjoang untuk lahir”, – “the dawning new world which is struggling to be born” – , bangsa Indonesia berdiri amat simpatik terhadap pertumbuhan nasionalisme yang wajar di mana-mana tempat. Dan justru oleh karena nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme Pancasila, maka bangsa Indonesia aktif bekerja untuk mempertahankan perdamaian dunia dan aktif bekerja untuk terselenggaranya perdamaian dunia. Seluruh hati bangsa Indonesia menggetar memohon kepada Tuhan, supaya janganlah hendaknya di sesuatu tempat di muka bumi ini ada percikan api. Sebab sebahagian daripada dunia ini sebenarnya sudahlah menjadi satu gudang mesiu yang maha-maha-besar. Sesuatu percikan api mungkin mengenai timbunan mesiu itu, dan akan meledaklah mesiu itu menggeledek-mengguntur-menghalilintar lebih hebat daripada seribu geledek dan seribu guntur. Sudahkah manusia di dunia ini begitu mata-gelap untuk meriskir seluruh umat-manusia mengalami kebinasaan total, – mengalami “total destruction”?

 

Di sinilah tempatnya aku mengajak kepada seluruh dunia untuk mengadakan “think” dan “rethink” tentang bermacam nilai dan norma-norma yang terdapat di segala macam sistim-falsafah dan teori politik yang berada hingga kini, agar supaya sistim-sistim-falsafah dan teori-politik itu dapat seiring berkembang dan bertumbuh, selaras dengan kemajuan ilmu-pengetahuan tehnik yang sekarang ini begitu menggemparkan. Sistim-sistim-falsafah dan teori-teori-politik itu lahir dalam masa yang telah usang, yang pada waktu itu misalnya belum ada ilmu atom. Sistim-sistim falsafah dan teori-teori-politik itu lahir dalam zamannya mesin uap dan paling-paling mesin listrik, zamannya trem-kuda dan sepur-kelutuk. Tetapi zaman kita sekarang ini adalah zamannya pesawat yet dan pesawat rocket, zamannya pesawat atom, zamannya ilmu nuclear, zamannya senjata-senjata hydrogen, zamannya guided missiles, zamannya explorer dan sputnik, zamannya kemungkinan hubungan inter-planeter dengan bulan dan bintang-bintang, – zaman, yang uap dan listrik dianggap sebagai barang usang yang pantas ditertawakan, sebagaimana kita mentertawakan bedil sundut di zamannya bren, atau mentertawakan makan-sirih di zamannya lipstick.

 

Tidak sudah datangkah saatnya kita umat manusia “think” dan “rethink” sistim-sistim-falsafah dan teori-teori-politik yang lahirnya di dalam zaman usang itu, tetapi yang masih saja kita pakai dalam zaman atom yang penuh dengan ancaman petir dan halilintarnya peperangan atom dan ancaman malam-gelap-gelitanya total destruction, – dan mencoba menemukan sistim falsafah atau teori politik baru yang dapat membawa kita lebih dekat kepada perdamaian-dunia dan keselamatan-keselamatan-kesejahteraan semua manusia yang kita cita-citakan?

 

Ini adalah kewajiban semua bangsa, sebab sejarah sekarang ini bukanlah lagi sejarahnya bangsa ini atau bangsa itu, melainkan sejarahnya seluruh Kemanusiaan, oleh karena seluruh umat manusia sekarang ini telah terikat satu-sama-lain dalam satu Nasib Bersama, – terikat satu-sama-lain dalam satu “common fate”.

 

Bagi kita bangsa Indonesia, kita merasa berbahagia bahwa kita, dalam perjoangan nasional kita yang telah limapuluh tahun itu, – perjoangan nasional 50 tahun yang tempo hari juga saya gambarkan sebagai “satu perjalanan mencari kembali Kepribadian kita sendiri” -, telah menemukan sistim-falsafah atau teori-politik yang menjamin perdamaian dunia dan keselamatan kesejahteraan semua manusia itu, yaitu Pancasila dengan lima silanya yang telah termasyhur di dalam dan luar negeri.

 

Sekali lagi, kepada seluruh umat-manusia, kepada pemimpin-pemimpin di semua negara, kepada pemikir-pemikir semua bangsa, saya anjurkan think and rethink dan merenungkan: adakah sistim-sistim-falsafah atau teori-teori-politik usang yang Tuan-tuan pakai itu membawa manusia lebih dekat kepada kebahagiaan dan kesejahteraan dan keamanan, – ataukah membawa manusia lebih dekat kepada ketidakbahagiaan, ketidaksejahteraan, ketidakamanan, ketidak-selamatan? Jikalau benar analisa saya bahwa dunia manusia sekarang ini hidup dalam suasana-takut yang terus-menerus, jikalau benar apa yang saya katakan di Amerika tempo hari bahwa “mankind now lives in constant fear”, – maka datanglah saatnya sekarang ini kita mengadakan introspeksi (melihat ke dalam) secara sungguh-sungguh. Waktu belum terlambat, sebab walaupun hantu maut sudah mendekam di tepi langit, belumlah Api membakar dan mengamuk alam semesta!

 

Saudara-saudara! Kita sekarang hendak memasuki tahun yang keempatbelas daripada Revolusi kita. Berkat Tuhan, kita masih berdiri tegak, dan jikalau dibandingkan dengan tahun 1957, kita sekarang lebih maju. Di dalam tahun 1957 banyaklah negara yang menamakan Republik kita ini “the sick man of South-East Asia” – orang sakit di Asia Tenggara. Untuk mengatasi itu, kita harus mengadakan tindakan-tindakan dengan mengambil keputusan-keputusan tanpa ragu-ragu. Berhubung dengan itulah saya menamakan tahun 1957 itu “tahun penentuan”, – a year of decision.

 

Penyakit-penyakit kita hanya dapat kita sembuhkan dengan obat-obat yang radikal dan jitu, yang harus kita ambil dengan keberanian dan ketetapan hati. Pada waktu menamakan 1957 itu satu tahun penentuan, maka saya berkata:

 

“Saudara-saudara, camkan: – ini adalah tahun penentuan. Ini adalah “year of decision”. Tenggelamkah?, atau terus hidupkah? Kalau kita terus-menerus lupa diri secara begini, saya khawatir, hari-gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani. Berani mengambil keputusan. Berani meninggalkan apa yang lama, berani memasuki apa yang baru. Yang lama sudah nyata koyak, sudah nyata robek, sudah nyata menghambat kemajuan dan membangkitkan kerewelan saja. Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garis-teluh yang memisahkan yang lama dari yang baru. Kita sudah sampai kepada satu titik, darimana kita tidak bisa balik kembali. Kita sudah sampai kepada “point of no return”. Kita hanya tinggal satu pilihan lagi: mundur?, mandek?, atau maju? Mundur-hancur! Mandek-amblek! Maka hayo kita maju, hayo kita tinggalkan apa yang lama, memasuki apa yang baru!”

 

Demikian kukatakan setahun yang lalu. Alhamdulillah, di beberapa lapangan kita telah berani mengambil keputusan-keputusan. Sikap “tak tabu apa yang harus diperbuat” sudah mulai kita tinggalkan. Dan ternyata keputusan-keputusan yang tepat, yang disambut baik oleh kalangan Rakyat. Rakyat kita memang ingin maju secara serentak. Kesedarannya ber-Negara, kesedarannya tentang demokrasi terpimpin, kesedarannya mengidamkan demokrasi ekonomi, kesedarannya mengidamkan Dunia Baru, nasional dan internasional, sudah makin mendalam dan sudah begitu mendalam, hingga kemajuan dalam keempat lapangan ini harus ditumbuhkan dan dilayani secara serentak. Para pemimpin harus menyedari hal ini sedalam-dalamnya, kalau mereka tidak mau digiling-digilas oleh mesin-gilasnya massa. Rakjat 1958 sekarang sudah lebih sedar. Sebab, oleh karena kita berani bersikap tepat dan tegas, maka problematik kita sekarang ini lebih “gekristalliseerd”, lebih nyata dan terang garis-garisnya, lebih “gamblang ceto wélo-wélo”, tidak lagi terjalin-jalin, tidak lagi remeng-remeng, tidak lagi tak terang mana yang putih mana yang hitam, tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan, tidak lagi tak terang siapa yang setia dan siapa pengkhianat, tidak lagi mengandung teka-teki bagi Rakyat. Rakyat 1958 kini telah lebih mengerti siapa pemimpin sejati, dan siapa pemimpin anteknya asing. Rakyat telah lebih mengerti siapa pemimpin pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan. Jikalau ada sesuatu hal yang kurang menyenangkan, maka Rakyat kini lebih mudah dapat membeda-bedakan, mana yang disebabkan oleh kepalsuan atau ketololan pemimpin, dan mana yang memang inhaerent dengan jalannya sesuatu revolusi atau inhaerent dengan pertumbuhan sesuatu Negara yang masih muda. Dengan demikian maka Rakyatpun lantas dapat memilih, mana yang harus dicontoh dari luar-negeri, mana yang harus diselesaikan dengan formule Indonesia sendiri.

 

Ya, saya kata tahun 1958 adalah tahun yang lebih maju! Cobaan-cobaan di tahun yang lalu malah boleh dianggap rahmatnya Tuhan! Dalam tahun 1957 Indonesia dinamakan “the sick man of South East Asia”, dicemooh orang di luar-negeri, diejek dan ditertawakan kanan-kiri. Dan memang kita di waktu itu sakit. Sekarang kita telah mengatasi krisisnya penyakit itu, dan kita sekarang mulai dihargai orang di dunia luar. Kalau kita terus berani bersikap begini, maka penyakitnyapun nanti akan dapat diatasi samasekali. Dan bolehlah kita nanti memandang lagi bintang-bintang di langit!

 

1957! Mungkin orang luar menamakan tahun itu “the year of the sick man”, – tahunnya si-orang sakit. Saya namakan tahun 1957 itu “the year or decision”. Nama apakah yang harus saya berikan sekarang kepada tahun 1958 ini?

 

Tahun 1958! Dalam tahun 1957 kita menderita sebuah bisul besar di kita punya tubuh, sebuah bisul kanker yang “mêntêng-mêntêng” , bisul kanker-jahat-maha-jahat yang berisi bermacam-macam virus yang amat jahat, yang hendak meracuni seluruh tubuhnya bangsa dan Negara, yaitu virusnya kepetualangan, virusnya pengkhianatan, virusnya mempermainkan pusat, virusnya sinisme, virusnya liberalisme politik dan liberalisme mental, virusnya kesukuan yang diruncing-runcingkan, virusnya egosentrisme, virusnya warlordism, virusnya ultra-multi-party system, virusnya dagang-sapi, virusnya keliaran-jiwa juga di kalangan pemuda, virusnya subversi kasar-kasaran dan halus-halusan, virusnya diplomasi yang hendak membuat kita satu bangsa bèbèk yang kehilangan samasekali kepribadian. Awas!, kataku pada waktu itu, bertindaklah tepat dan cepat, janganlah ragu-ragu, jangan télé-télé seperti orang hilang-akal, – kita akan binasa nanti samasekali kalau keadaan kita biarkan terus begini macam! Alhamdulillah, kita kemudian sedar! Pada permulaan tahun 1958 bisul kanker itu njebrot, kita adakan operasi dengan tidak ragu-ragu dan tegas, dan sekali lagi Alhamdulillah, krisis sekarang sudah kita atasi. Dan kita harus bertindak terus, dengan tidak berbalik di tengah jalan, bertindak terus pula di lapangan “retooling for the future”, – retooling materiil-mental di segala lapangan -, sungguh kita tidak boleh balik lagi kembali ke sikap beku dan ragu-ragu seperti dulu, dan Insya Allah, hari depan tidak akan gelap.

 

Nama apa yang harus saya berikan kepada tahun 1958? What is in a name! Sejarah adalah satu rantai panjang, yang tidak saban tahun mengenal satu datum untuk memarkir: “di sebelah sini adalah hari kemarin, di sebelah sana adalah hari besok”. Dan tugas kita, tidak pula bisa berkata: “sampai hari ini tugas kita semacam ini, mulai besok pagi tugas kita semacam itu”. Tahun 1958 adalah kelanjutan daripada tugas tahun 1957.

 

Cobalah dengarkan sekali lagi sebagian daripada amanat saya tahun yang lalu: “Kalau kita terus-menerus lupa diri secara begini, saya khawatir, hari gelap akan menimpa kita. Kita sekarang harus berani … Berani meninggalkan apa yang lama, berani memasuki apa yang baru. Kita harus tidak ragu-ragu lagi melangkahi garis-teluh yang memisahkan yang lama dari yang baru … Kita sudah sampai kepada “point of no return” … Hayo kita tinggalkan apa yang lama, memasuki apa yang baru!” Tiap-tiap kalimat, tiap-tiap kata daripada amanat 1957 itu masih berlaku penuh bagi hari sekarang. Sekarangpun saya masih berkata: “Jangan ragu-ragu! Tinggalkanlah apa yang lama, masukilah apa yang baru!”

 

Kalau tahun 1957 saya namakan “tahun penentuan”, “tahun ‘keputusan”, “a year of decision”, maka sebenarnya tahun 1958 pun masih “tahun penentuan”, “tahun keputusan”,  “a year of decision”. 1957 hanyalah salah satu saja daripada beberapa tahun yang menentukan. 1957 hanyalah salah satu saja daripada beberapa “years of decision”. Sebab pertumbuhan dan perpindahan itu memang bukan satu proses yang hanya satu tahun! Tiap-tiap bangsa dalam masa pertumbuhan, putihkah kulitnya atau kuningkah kulitnya, hitamkah warnanya atau sawo-matangkah warnanya, dalam masa pertumbuhannya niscaya mengalami waktu-waktu yang menentukan, – mengalami “decisive periode”, – yang menentukan kemajuan atau kemacetan, kejayaan atau breakdown samasekali.

 

Dalam keadaan demikian, maka fikiran-fikiran beku yang ngamplok saja kepada segala macam kebiasaan-kebiasaan, fikiran-fikiran beku yang bersifat “conventional thought”, hanya akan menimbulkan keragu-raguan belaka; Dan tiap-tiap keraguan tak mungkin dapat mengatasi keadaan-keadaan yang genting. Tiap-tiap keraguan malahan membuat keadaan genting menjadi makin genting.

 

Wise in judgement, original in thought, resolute in action”, – bijaksana dalam menimbang, orisinil dalam fikiran, tegas dan tangkas dalam tindakan -, itulah kombinasi yang dapat mengatasi pergolakan dalam pertumbuhan nasional. Karena itulah maka saya menganjurkan adanya jiwa yang tangkas dan dinamis. Jiwa yang tidak takut kepada perobahan. Jiwa yang berani mengadakan perobahan kalau perlu. Jiwa yang berani think-and-rethink, berani shape-and-reshape, berani make-and-remake. Jiwa yang berani terjun ke dalam lautan bergelora, untuk menyelam mencari mutiara!

 

Janganlah takut kepada “persoalan”. Dalam tiap-tiap bangsa yang sedang dalam pertumbuhan dan perpindahan, maka tiap-tiap kemujuan akan menimbulkan persoalan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya takut kepada kemajuan. Siapa takut persoalan, ia sebenarnya beku, ia sebenarnya konservatif, ia sebenarnya takut inisiatif.

 

Jangan sekali-kali kita berbalik lagi! Jangan sekali-kali kita ragu-ragu! Jangan sekali-kali kita tidak mempunyai keberanian meneruskan usaha kita membuang apa yang lama, membongkar apa yang bobrok, menyudèt-mencuci-bersih sisa-sisa kanker yang bervirus macam-macam yang meracuni tubuh kita itu, menancepkan dalam tubuh kita jarum-jarum-injeksi yang perlu, – menggodok-menempa-menggembleng-kembali tubuh kita itu dengan segala senjata yang diperlukan, laksana penggodokan-penggemblengan tubuhnya Bambang Tutuka dengan segala macam senjata dewata dalam kawah Candradimuka, sehingga akhirnya ia keluar dari kawah itu sebagai Gatutkaca yang Maha-Sakti. Konkritnya, punyailah keberanian – janganlah ragu-ragu – untuk mengadakan pemikiran-baru dan tindakan-tindakan-baru di segala lapangan sebagai usaha “retooling for the future” untuk memenuhi tuntutan penyongsongan kepada tantangan-tantangan politik sosial dan nasional-internasional sebagai yang saya terangkan di muka tadi, – penyongsongan kepada tuntutan “double-faced revolution” yang kini telah menjadi satu challenge maha-dahsyat yang makin nyata.

 

Dus, nama apa buat tahun 1958? Sekali lagi jawab saya: What is in a name, – apa arti sesuatu nama! Tetapi jikalau toh saya harus beri nama pada tahun 1958 itu, baiklah saya beri nama “Year of Challenge” kepadanya: Tahun Tantangan, tahun menjawab tantangan!

 

Sebab, memang 1958 adalah penuh dengan tantangan: tantangannya pemberontakan P.R.R.I.-Permesta, tantangannya D.I.-T.I.I. yang masih saja belum tertumpas, tantangannya “aksi-jalan-lain” Irian Barat, tantangannya kemungkinan Perang-Dunia III karena situasi Timur-Tengah, tantangannya subversi-intervensi-agresi asing, dan terutama sekali intern: tantangannya menghindarkan bangkrutnya Negara yang hanya bisa kita selamatkan dengan memenuhi “double-raced-revolution” atau “many-faced-revolution” yang memang makin hari makin dituntut oleh Rakyat, dan yang hanya dapat diselenggarakan dengan pembangunan menurut planning, talak tiga kepada liberalisme, melaksanakan demokrasi terpimpin, penyederhanaan kepartaian, kelanjutan likwidasi K.M.B. secara konsekwen, dan lain sebagainya. Dalam suasana tantangan-tantangan itu kita tidak boleh setengah-hati. Kita harus resolut. Kita harus berani, juga berani sedikit “main judi”. Dalam istilah Vivekananda: berani terjun ke dalam samodera-bergelora yang kita tidak kenaI dasarnya, dalam istilah seorang pemimpin besar lain: berani “face life in a rather adventurous way”.

 

Dan kita harus menggemblèng kembali Persatuan. Dalam masa tantangan-tantangan seperti sekarang ini, lebih daripada di masa-masa yang lampau, kita harus menggemblèng kembali Persatuan. Saya anjurkan persatuan ini berkali-kali dan berpuluh-puluh-kali meski saya tahu bahwa ada saja orang-orang di kalangan kita yang mengèjek, dan mengatakan bahwa persatuan adalah “hobby-nya Sukarno”. Biar saya dièjèk, – kulit saya ini toh sudah “kapalan” karena dièjèk. Tentang nasionalisme Indonesia dan Asia saya dièjèk, tentang aksi Irian Barat saya dièjèk, tentang Persatuan saya dièjèk. Biar mereka mengèjèk sampai mulutnya meniran; Persatuan bukan “hobby-nya Sukarno”. Saya gandrung Persatuan, oleh karena Persatuan adalah tuntutan sejarah. Pertentangan tetek-bengek antara kita dengan kita, terutama sekali antara sesama pendukung Pemerintah, hendaknya ditundukkan kepada kepentingan yang Besar, yaitu Menyelamatkan Republik.

 

Nah, saudara-saudara! Tinggal beberapa detik lagi, maka nanti mulailah tahun keempat-belas daripada kita punya Revolusi. Mari kita berjalan terus dengan tekad baru dan pandangan –pandangan baru di dalam kita punya dada, berjalan terus, dengan mata kita diarahkan ke muka.

 

Jangan terlalu menoleh ke belakang! Ya, di zaman purbakala memang kita ini sering mengalami puncak-puncak kejadian yang besar, yang pantas menjadi kita punya kebanggaan. En toh, jangan terlalu sering kita menoleh ke belakang, jangan kita terlalu “teren” kepada zaman kebesaran yang telah lampau. Menoleh ke belakang hanyalah boleh sekedar untuk menghirup inspirasi-inspirasi bagi perjoangan yang sedang berjalan.

 

Ada tiga-puncak-kejadian di sejarah kita yang lampau, yang amat gilang-gemilang. Pertama tatkala Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan palapa sebelum seluruh Nusantara disatupadukan dalam satu Negara. Kedua tatkala Diponegoro, di sinar api kebakaran rumahnya yang dibakar oleh musuh, mengajak mendirikan satu rumah baru yang lebih besar, yaitu Rumah Besar bagi seluruh bangsa. Ketiga tatkala kita pada 17 Agustus 1945 mengadakan Proklamasi.

 

Ambillah inspirasi daripada puncak-puncak-kejadian ini untuk berjalan, berjoang, membanting tulang, bertempur di mana perlu, tetapi janganlah duduk enak-enak di kursi sambil “teren” kepada kebesaran atau kejantanan atau keharimauan yang telah lampau itu. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dan lebih mencelakakan bagi sesuatu bangsa, daripada duduk nggelenggem-ayem-ayem, enak-enak di atas bantal, sambil memakan warisan daripada leluhurnya yang telah mangkat. Yang membuat sesuatu bangsa bertumbuh dan menjadi besar ialah: usaha, keringat, dinamika, pembantingan-tulang, perjoangan, aktivitas yang kreatif, inventif, dan vital. Bangsa yang duduk termenung, – meski leluhurnya adalah gembong-gembong-kebesaran, dan sejarah-lampaunya adalah gilang-gemilang laksana Nur di langit, – bangsa yang demikian itu akan layu dengan sendirinya, akan menjadi kecil, akan mengkerut, dan akhirnya akan mati. Kebesaran dan kebahagiaanmu tidak lagi di tangan keluhuranmu yang telah mangkat, kebesaran dan kebahagiaanmu adalah di dalam tanganmu sendiri, dan itu pun: di dalam tanganmu sendiri yang berjoang, di dalam tanganmu yang menyala-nyala dengan Apinya Cipta.

 

Sebab hanya tangan yang demikian itulah tangan yang diberkahi Tuhan!

 

Moga-moga Tuhan memberkahi kita!

 

Merdeka!

 

Terima kasih!

Iklan