Tahun Kemenangan

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO

PADA ULANG TAHUN

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA,

17 AGUSTUS 1962 DI JAKARTA

 

 

Saudara-saudara!

 

Hari ini adalah hari Jum’at. Sebagian dari Saudara-saudara, nanti, sebelum “bedug”, harus meninggalkan lapangan ini, dan kemudian pergi ke masjid untuk salat-Jum’at. Karena itu, pidato saya kali ini tidak saya buat sepanjang pidato saya yang dulu-dulu. Tetapi akan saya katakan kepada Saudara-saudara hal-hal yang menurut pendapat saya harus mendapat perhatian kita yang utama.

 

Dengarkan, Saudara-saudara!

Hari ini adalah hari 17 Agustus 1962. Pada hari ini Republik kita genap berusia 17 tahun! Lebih dari tahun yang sudah-sudah, kita pada hari ini mempergunakan perkataan “keramat”.

 

Hari-keramat, oleh karena pada hari 17 Agustus lah kita memproklamirkan kemerdekaan kita, yang merupakan landasan bagi kehidupan nasional Bangsa Indonesia.

 

Hari-keramat, oleh karena pada 17 Agustus dimulai lahirnya Undang-Undang Dasar ’45, yang sebagai saya katakan dulu, merupakan satu “Declaration of Independence”, yang menghidupkan kepribadian Bangsa Indonesia dalam arti yang seluas-luasnya: kepribadian politik, kepribadian ekonomi, kepribadian sosial, kepribadian budaya, – pendek kata kepribadian Nasional.

 

Hari-keramat pula, oleh karena tiap 17 Agustus mendorong kita untuk masing-masing menempatkan diri kita pada cita-cita asli perjoangan Bangsa Indonesia yang sejak berpuluh-puluh tahun itu, ialah melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat.

 

Juga hari-keramat, oleh karena tiap 17 Agustus memberikan tekad baru kepada kita, ilham baru, inspirasi baru, untuk melanjutkan perjoangan kita yang masih tetap berat dan penuh rintangan ini.

 

Hari keramat lagi, oleh karena tiap 17 Agustus kita mencari titik-pertemuan nasional yang seluas-luasnya, yang dapat kita pakai sebagai alat koreksi terhadap penyeléwéngan-penyeléwéngan dalam Revolusi kita ini, yang kita ketahui masih lama belum selesai.

 

Dan hari-keramat pula, oleh karena tiap 17 Agustus merupakan suatu saat yang terbaik untuk mengadakan stock-opname dari hasil yang telah dicapai dalam tahun yang baru lampau: Kemajuan dan kemunduran, harapan dan kekecewaan, korbanan dan keuntungan, kemalangan dan kemujuran, – itu-semua kita registrir secara integral pada tiap 17 Agustus, sebagai modal, sebagai peringatan, sebagai dorongan, bagi perjoangan dalam tahun-tahun yang akan datang.

 

Ini, saya kira, inilah arti secara integral dari tiap hari ulang tahun 17 Agustus, – sejak 17 Agustus 1946 sampai kepada 17 Agustus 1962 sekarang ini, sampai kepada 17 Agustus 17 Agustus yang akan datang.

 

Karena pentingnya hari 17 Agustus sebagai yang saya katakan itulah, maka saya selalu menamakan hari 17 Agustus hari-keramat, malahan pernah saya namakan hari-maha-keramat. Apalagi 17 Agustus sekarang ini! Apa sebab?

 

Pada hari ini Republik kita genap berusia 17 tahun!

 

Saudara-saudara!

Saya tahu, bahwa pada 17 Agustus sekarang ini, saudara-saudara melihat kepada saya. Dan karena saya tahu itu, saya merasa agak cemas, karena sadar akan besarnya pertanggungan-jawab yang saya pikul. Saya tahu, bahwa saudara-saudara pada hari sekarang ini, hari yang luar-biasa ini, dalam hati saudara laksana menagih kepada saya: “Apa yang hendak Bung Karno katakan? Apa yang Presiden akan amanatkan? Apa yang Pemimpin Besar akan wejangkan?”

 

Saya tahu, bahwa itulah dinanti-nantikan oleh umum, – dinanti-nantikan dengan hati berdebar-debar, penuh dengan harapan. Saya tahu pula, bahwa pidato ini didengar oleh seluruh dunia, bahkan diintip-intip dan dihintai-hintai oleh sebagian daripada dunia.

 

Mengenai rasa hati saudara-saudara, – saya dapat mengikuti dan mengerti perasaan saudara-saudara dan harapan saudara-saudara itu. Bahkan lebih dari itu: saya dapat membenarkan hati berdebar-debar yang sekarang mengisi kalbu saudara-saudara itu. Sebab hati saudara-saudara yang berdebar-debar itu membuktikan bahwa jiwa saudara-saudara adalah jiwa yang berkobar-kobar, jiwanya orang-orang yang berjoang, dan bukan jiwa orang-orang yang mlempem atau mati kutu.

 

Saya sendiripun menghadapi hari 17 Agustus sekarang ini dengan hati yang berdebar-debar! Dan saya menulis pidato yang saya baca sekarang ini dalam kesunyiannya alam Tampaksiring di Bali dengan hati yang berdebar-debar, yang laksana merobek kesunyian Tampaksiring itu menjadi penuh dengan gelora, merobek angkasa yang sejuk itu menjadi angkasa yang penuh dengan tanya dan jawab yang bertubi-tubi. Ya! Saya menulis pidato ini sebagaimana biasa dengan perasaan cinta yang meluap-luap tehadap tanah-air dan bangsa, tetapi ini kali dengan perasaan terharu yang lebih daripada biasa terhadap keuletan Bangsa Indonesia, dan kekaguman yang amat tinggi terhadap kemampuan Bangsa Indonesia. Dengan terus terang saya katakan di sini, bahwa beberapa kali saya harus ganti kertas, oleh karena air-mataku kadang-kadang tak dapat ditahan lagi. Tak dapat ditahan lagi, oleh rasa gembira pada diri sendiri, dan rasa terimakasih kepada seluruh Bangsa Indonesia yang telah menunjukkan keuletan yang sedemikian itu, dan rasa syukur Alhamdulillah kepada Tuhan yang Maha-Adil, yang telah mengkaruniai perjoangan yang ulet itu dengan pahala yang maha-tinggi.

 

Dengan penuh rasa haru, tetapi pula dengan penuh keyakinnn, saya menamakan dalam pidato ini, tahun 1962 sebagai TAHUN KEMENANGAN, – A YEAR OF TRIUMPH!

 

Dan dengan menamakan tahun 1962 ini Tahun Kemenangan, maka sekaligus saudara-saudara dapat mengerti apa sebab saya terharu, dan sekaligus pula dapat menangkap nada dari isi pidato ini.

 

Bandingkanlah nada-nada pidato-pidato saya pada pelbagai hari 17 Agustus:

Pada pidato Resopim tahun yang lalu, saya berkata pada pembukaanya:

“Alangkah bahagianya kita pada hari ini! Pada hari ini, kita merayakan hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan kita yang ke XVI. Pada hari ini, Republik kita genap berusia dua windu. Pada hari ini, kita boleh menyebutkan angka keramat 17 dua kali. Dua kali! Sebab pada hari ini, kita mengalami 17 Agustus ketujuhbelas kalinya. Pada hari ini kita mengalami 17 X 17 Agustus! Dus pada hari ini, kita mengalami 17 Agustus tingkat maha-keramat!”

 

Demikian nada pidato Resopim. Nada bahagia. Bahagia dalam arti simbolik. Bahagia karena mengalami 17 X 17 Agustus.

 

Nada pidato 1959 (pidato “Penemuan Kembali Revolusi kita”) adalah lain. Nadanya nada memperingatkan. Dalam pidato itu saya minta rakyat mengcamkan Proklamasi kita yang keramat itu. Saya pada waktu itu berkata: “Dengan tegas saya katakan “mengcamkan”. Sebab, hari ulang tahun keempatbelas daripada Proklamasi kita itu harus benar-benar membuka halaman baru dalam sejarah Revolusi kita, halaman baru dalam sejarah Perjoangan Nasional kita”.

 

Nada 17 Aguslus 1957 dan 17 Agustus 1958 lain lagi. Nadanya dua pidato itu ialah nada yang sangat mineur, nada tak gembira, nada yang menggambarkan perasaan kecewa.

 

17 Agustus 1957 saya berkata: “Hati kita amat terharu. Terharu bahwa Republik kita tetap berdiri. Terharu, karena mengingati penderitaan-penderitaan dan korbanan-korbanan kita untuk mendirikan dan mempertahankan Republik ini. Terharu pula, bahwa kita diberi oleh Tuhan kemampuan untuk menyadari penyakit-penyakit dan keburukan-keburukan yang menghinggapi tubuh masyarakat kita dalam masa duabelas tahun itu, terutama sekali di masa yang akhir-akhir ini”.

 

Tidakkah ini satu nada yang tak gembira?

Datang 17 Agustus 1958. Lagi nada pidato saya amat mineur. Malah nada yang menggambarkan perasaan letih-sedih. Hampir-hampir dengan suara yang bikin-bikinan saya berkata: “Ini adalah salah satu ulang tahun Republik Indonesia yang paling diperhatikan orang. Diperhatikan orang di dalam dan di luar negeri. Bagaimana suasana di Jakarta pada hari ini? Apakah suasananya suasana yang tertekan, suasananya Rakyat yang baru saja dapat pukulan-pukulan di badannya, – babak-belur, babak-bundas? Apakah suaranya suara Rakyat yang telah remuk-redam dalam jiwanya, suara Rakyat yang telah megap-megap?”

 

Ya, saudara-saudara perkataan-perkataan ini memang menggambarkan isi-hati yang amat sedih pada waktu itu, – waktu di mana pemberontakan P.R.R.I.- Permesta sedang memuncak, waktu, di mana orang-orang Bangsa Indonesia sendiri menikam-nikam tubuhnya Negara bangsanya sendiri, laksana anak menikam tubuh Ibunya sendiri.

 

Buat apa saya mengajukan sekali lagi nada pidato-pidato yang lampau? Agar saudara-saudara dapat mengikuti gelombang naik-turunnya Revolusi kita ini. Agar saudara-saudara dapat menyadari secara sungguh-sungguh pasang-surutnya Revolusi kita itu. Agar saudara-saudara dapat menjangkau masa yang lalu itu dalam iapunya mujur dan iapunya malang. Dan akhirnya, agar saudara-saudara dapat mengerti nanti – jika sudah saya uraikan – apa sebab pidato saya yang sekarang ini, (pidato 17 Agustus 1962), saya beri judul “Tahun Kemenangan”,

“A Year of Triumph”.

 

Ya, dulu kita pernah mengalami “a year of decision”, dan pernah mengalami “a year of challenge”, – sekarang kita berada dalam “a year of triumph”! A year of triumph, satu tahun kemenangan, atau lebih tegas satu tahun permulaan kemenangan dalam Rodanya Revolusi, yang tidak saja dirasakan oleh Rakyat Indonesia, tetapi diakui pula oleh dunia-luar, bahkan mungkin dikaguminya juga.

 

Apakah kemenangan ini kemenangan yang pertama dalam Revolusi kita? Adakah kemenangan-kemenangan lain? Adakah sebelum kemenangan tahun 1962 ini, kemenangan-kemenangan ke satu, ke dua, ke tiga, ke empat? Jawaban atas pertanyaan ini adalah agak sukar. Revolusi selalu mengalami pasang-pasang-mujur dan pasang-pasang-malang. Revolusi adalah Revolusi, oleh karena ia adalah satu banjir yang mengalir, yang tidak diam, yang tidak beku. Selalu di dalamnya ada saat-saat menang, tetapi ada pula saat-saat babak-belur. Kecuali itu, pengertian “kemenangan” adalah sangat relatif.

 

Apa yang kita ketahui dengan pasti ialah, bahwa Revolusi kita pernah mengalami beberapa saat yang menentukan.

 

Pertama, tentu saat 17 Agustus 1945 sendiri, saat kita memulai dengan Revolusi formil.

 

Kedua, saat pengakuan kedaulatan pada akhir tahun 1949.

 

Ketiga, saat kita sadar bahwa penyelèwèngan-penyelèwèngan sedang berjalan, yaitu saat-saatnya tahun 1957, di mana kita sebagai reaksi atas penyelèwèngan-penyelèwèngan itu mengambil putusan membendung dan menghentikan penyelèwèngan-penyelèwèngan itu. Saat-saat tahun 1957 itu saya cakup dalam sebutan “tahun ketentuan”, – “a year of decision”. Jikalau pada waktu itu kita tidak sadar atas penyelèwèngan-penyelèwèngan itu, maka Revolusi Indonesia niscaya akan terjungkel samasekali dalam alam liberal, terjungkel-tersungkur samasekali dalam alamnya ketidak-revolusian.

 

Keempat, saat-saat tahun 1959, – saat-saat di mana kita tidak saja mengatasi penyelèwèngan-penyelèwèngan, tetapi juga menemukan kembali Revolusi kita, rediscover our Revolution -, dan juga memberi landasan yang teguh kepada Revolusi kita, berupa Manipol-USDEK.

 

Sekarang Kelima! Sekarang dalam tahun 1962 ini kita mengalami lagi satu kemenangan, setidak-tidaknya satu tahun yang menentukan, oleh karena hasil perjoangan dalam tahun 1962 ini menentukan jalannya Revolusi kita kejurusan yang benar, – decisive in the right direction -, ya, decisive in the right direction, sehingga tahun 1962 boleh saya namakan satu Tahun dalam mana kita mencapai satu Kemenangan. Mencapai satu Kemenangan, dimungkinkan oleh karena sejak tahun 1959, Revolusi kita bukan lagi satu Revolusi yang “gumantung tanpa cantelan”, tetapi satu Revolusi yang berideologi, satu Revolusi yang berkonsepsi, satu Revolusi yang berlandasan, – satu Revolusi yang berlandasan Manipol-USDEK!

 

Baik saya tandaskan di sini, bahwa 1962 membawa hasil-baik kepada kita, oleh karena kita ber-Manipol-USDEK. Ya! oleh karena kita ber-Manipol-USDEK! Artinya: Kemenangan itu tidak mungkin kita capai, kalau umpamanya kita tidak ber-Manipol-USDEK, melainkan tetap berliberalis, tetap ber-multiparty-system, tetap tanpa kemudi, tetap tanpa bimbingannya ide Sosialisme.

 

Oh tentu, saya yakin, saya sadar tentang semangat perjoangan Bangsa Indonesia, saya sadar tentang keuletan dan kemampuan Bangsa Indonesia, tetapi Bangsa Indonesia yang tidak berkepribadian Nasional, Bangsa Indonesia yang tidak ber-Revolusi, Bangsa Indonesia yang tidak ber-Manipol-USDEK, Bangsa Indonesia yang tidak benar-benar ber-Pancasila, Bangsa Indonesia pendek-kata yang tidak ber-RESOPIM, Bangsa Indonesia yang demikian itu tidak akan mencapai hasil-hasil perjoangan sebagai yang dicapainya dalam tahun 1962 ini. Artinya: Bangsa Indonesia yang hanya berjoang tok, atau hanya ulet tok, atau hanya bersemangat tok, atau hanya ridla berkorban tok, atau hanya membanting-tulang tok, – Bangsa Indonesia yang hanya demikian itu tok, tidak akan mencapai hasil perjoangan yang maksimal. Tetapi Bangsa Indonesia yang berjoang secara ulet, secara habis-habisan, secara mati-matian, berdasarkan RESOPIM, baru dapat mencapai hasil-perjoangan secara maksimal yang mengagumkan seluruh dunia!

 

Saya tidak melebih-lebihi arti kata! Saudara-saudara dapat goyang-kepala dan berkata, bahwa pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949 dapat juga dipakai sebagai alasan untuk menyebutkan tahun 1949-1950 satu Tahun Kemenangan. Benar, saudara-saudara! Kita juga dapat menamakan tahun 1949-1950 satu Tahun Kemenangan. Kita juga tidak dapat menyangkalnya dan tidak seorangpun mau menyangkalnya. Akan tetapi dapat segera saya tambahkan di sini, bahwa kemenangan tahun 1949 itu adalah satu kemenangan dari Revolusi phisik semata-mata, dan satu kemenangan yang kita peroleh dengan babak-belur, dédél-duwél, babak-bundas.

 

Revolusi kita pada waktu itu belum meliputi Revolusi Mental. Belum berpijak kepada Manipol-USDEK! Revolusi kita pada waktu itu belum merupakan benar-benar satu Revolusi Multicomplex, yang meliputi Revolusi phisik, Revolusi mental, Revolusi sosial-ekonomis, Revolusi kebudayaan. Revolusi kita pada waktu itu boleh dikatakan semata-mata ditujukan kepada mengusir kekuasaan Belanda dari Indonesia. Maka sesudah kekuasaan Belanda terusir, sesudah khususnya kekuasaan politik Belanda lenyap dari bumi Indonesia, menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang tidak mempunyai pegangan yang tertentu. Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang oleh seorang fihak Belanda dinamakan “Een Revolutie op drift”. Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang tanpa arah. Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang penuh dengan dualisme. Menjadilah Revolusi kita satu Revolusi yang tubuhnya bolong-bolong dan dimasuki kompromis-kompromis dan penyeléwéngan-penyeléwéngan. Hampir-hampir saja kemenangan 1949 itu merupakan satu Kemenangan Bohong, – satu Pyrrhus-overwinning -, satu kemenangan sementara, satu kemenangan satu hari yang merupakan satu permulaan daripada Keruntuhan Total!

 

Dan jikalau umpamanya kita pada tahun 1957 tidak menggunturkan kita-punya “stop penyeléwéngan!”, “stop pengkhianatan!”, “kembali kepada kesadaran!”, jikalau kita tidak membuat tahun 1957 “a year of decision“, maka kita niscaya tidak akan dapat memperingati tahun 1959 sebagai tahun penemuan kembali Revolusi kita, – the Year of the Rediscovery of our Revolution! Jikalau tidak penyeléwéngan-penyeléwéngan sejak hampir-Pyrrhus-overwinning 27 Desember 1949 itu lekas-lekas dicorrigir, – sebagai yang memang kita corrigirkan -, maka saya kira Revolusi Indonesia akan mempunyai gambaran yang sangat berlainan daripada sekarang, yaitu gambaran: pencideraan, reaksionerisme, dekadensi, disintegrasi, mungkin keruntuhan total.

 

Tetapi Alhamdulillah!

Alhamdulillah kita dalam waktu yang tepat dapat membendung penyelé-wéngan-penyeléwéngan!

Alhamdulillah kita dalam waktu yang singkat dapat memberikan landasan yang kokoh kepada Revolusi kita, berupa Manipol-USDEK.

Alhamdulillah kita sejak tahun yang lalu dapat berjoang atas dasar RESOPIM.

Dan Alhamdulillah kita pada hari 17 Agustus 1962 ini dapat menunjukkan hasil sedemikian rupa, sehingga tahun 1962 pantas kita namakan “Tahun Kemenangan” atau “A Year of Triumph”.

Tuhan adalah Besar, dan kepada-Nya kita memanjatkan kita punya terimakasih!

 

Saudara-saudara!

Apa yang merupakan kemenangan dalam tahun 1962 ini?

Pada tahun 1959, ketika saya membentuk Kabinet Kerja, maka saya menetapkan bagi Kabinet Kerja itu satu landasan-kerja yang terang-gamblang dan tegas-jelas, dan yang benar-benar mencerminkan kebutuhan pokok dari Rakyat Indonesia dalam jangka pendek. Satu landasan-kerja yang dapat menjadi penyemangat dan pengilham Bangsa Indonesia dalam beberapa tahun yang singkat. Satu landasan-kerja yang tidak mengulur kata melantur-lantur. Satu landasan-kerja yang berisikan “appeal” kepada Rakyat. Satu landasan-kerja yang dapat menjadi pekik-perjoangan Rakyat!

 

Landasan-kerja itu ialah Triprogram Pemerintah yang termasyhur: sandang-pangan, keamanan, anti imperialisme termasuk pembebasan Irian Barat. Cekak-aos, kompak-padat, terang-gamblang, tegas-jelas! Anak kecil dapat menghafalkan Triprogram ini! Dan saya tentukan jangka waktu tidak lebih dari tiga tahun untuk mencapai hasil maksimal-layak daripada pelaksanaan Triprogram itu!

 

Wah, banyak orang, baik di dalam maupun di luar negeri, mengejek Triprogram itu. Mengejek isinya bagi sesuatu program Pemerintah (“kok cuma itu”, kata mereka), dan terutama sekali mengejek jangka waktu penyelenggaraannya yang hanya tiga tahun itu. “Tiga tahun, mana bisa!” kata mereka.

 

Memang di tahun-tahun yang lampau Indonesia terkenal sebagai satu negara yang banyak niat, tetapi hasil sedikit. Bangsa yang pandai sekali meletakkan batu pertama, tetapi jarang sekali dalam waktu layak meletakkan batu terakhir. Bangsa yang selalu menunjukkan jurang lebar antara ide dan perbuatan. A nation with a large gap between ideas and acts”…

 

Ejekan-ejekan tadi merupakan satu tantangan bagi saya. “Tantangan bagi saya pribadi sebagai putera Indonesia. Tantangan bagi saya sebagai Presiden Republik Indonesia. Tantangan bagi saya sebagai pembentuk kabinet dan penyusun Triprogram. Tantangan bagi saya malahan, sebagai Pemimpin Besar Revolusi.

 

Saya tahu bahwa potensi kekuatan dan kemampuan Bangsa Indonesia adalah amat besar, dan bahwa Bangsa Indonesia suka berjoang.

 

Saya tahu bahwa kekayaan alam Indonesia boleh dikatakan tak ada batasnya.

Tetapi, namun demikian, saya sadar, bahwa Triprogram Pemerintah tak dapat terlaksana hanya dengan perjoangan hebat semata-mata, atau hanya dengan membanting-tulang memeras-keringat semata-mata. Triprogram Pomerintah hanya dapat terlaksana dengan perjoangan hebat dan pemerasan keringat plus satu hal yang lain.

 

Apa “plus” itu? Plus itu ialah Landasan Nasional. Plus itu ialah Jurusan Jiwa Nasional. Triprogram Pemerintah dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang ditentukan, jika segala kekuatan, segala tenaga materiil dan spirituil, segala funds and forces dikerahkan secara serentak, secara gotong-royong, secara holopis-kuntul-baris! Dan ini hanya dapat diwujudkan, jika Revolusi kita mempunyai Landasan Nasional yang kokoh, mempunyai Landasan Sosial yang bersinggasana dalam hatinya Rakyat, mempunyai Kepribadian politik-sosial-ekonomis-kulturil yang benar-benar berbénténg dalam api-jiwanya Rakyat.

 

Dengan pendek-kata, jika perjoangan Bangsa Indonesia didasarkan atas RESOPIM, maka niscaya Triprogram dapat dilaksanakan, bahkan tidak ada satu tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh Bangsa Indonesia yang kini hampir 100.000.000 itu, dan berkekayaan alam yang tiada taranya di muka bumi itu, – gemah-ripah-loh-jinawi. Dengan dasar RESOPIM itu Bangsa Indonesia akan selalu dapat menyelesaikan tugas-adil yang bagaimanapun, dan akan selalu dapat mengungguli nyanyian penyair asing yang berdendang:

 

“The difficult jobs we finished today.

The impossible we tackle tomorrow”.

(Yang sukar-sukar, kita selesaikan sekarang.

Yang tak mungkin, kita selesaikan besok.)

 

Atas dasar pengertian yang saya uraikan di muka itulah, saya tak pernah kecil-hati atas hasil karya Bangsa Indonesia dalam rangkaian Triprogram, meski ditertawakan dari kanan dan kiri, meski diejek dari muka dan belakang.

 

Karena kita mempunyai RESOPIM!

Dus, Saudara-saudara!: Kepercayaan saya adalah teguh atas daya-penggeraknya RESOPIM itu. Maka dari itu sekarang Saudara dapat mengerti, apa sebab sejak 1959, tiap pidato 17 Agustus saya selalu berpangkal dan berputar sekitar indoktrinasi. Sejak tahun 1959 itu, maka boleh dikatakan tiap pidato 17 Agustus, dari halaman pertama sampai ke halaman terakhir, mengandung wejangan. Wejangan mengenai Revolusi; wejangan mengenai Pancasila dan progresivisme; wejangan tentang kepribadian Indonesia yang berpusat kepada gotong-royong, musyawarah dan mufakat; wejangan tentang persatuan Nasional Revolusioner; wejangan membantras komunisto-phobi; wejangan mutlak-perlunya poros Nasakom; wejangan mengenai jahatnya liberalisme; wejangan mengenai perlunya Satu Pimpinan Nasional; wejangan mengenai sosialisme, sosialisme, sosialisme, dan sekali lagi sosialisme. Hanya jika landasan-landasan ini menjadi milik-bersama daripada Rakyat, milik-bersama daripada para pemimpin, milik-bersama daripada seluruh Angkatan Bersenjata, maka dapatlah dicapai hasil-hasil gemilang dalam Revolusi Indonesia, hasil gemilang pula dalam pelaksanaan Triprogram.

 

Bagaimana Saudara dapat mempersatukan segala funds and forces, kalau Saudara menganut liberale parlementaire democratie? Justru liberale parlementaire democratie sendiri mengandung prinsipe adu-domba antara golongan dengan golongan, antara individu dengan individu, Dan lebih-lebih dalam turunnya kapitalisme sekarang ini, – abad Kapilalismus in Niedergang -, lebih-lebih dalam abad sekarang ini maka prinsipe adu-domba dari liberale parlementaire democratie itu dieksploitir oleh subversi asing guna kepentingannya sendiri.

 

Bagaimana Saudara dapat mengajak Rakyat memperjoangkan sesuatu keadilan, kalau Saudara hendak membawanya ke ekonomi liberal yang mengandung unsur exploitation de l’homme par l’homme?

 

Bagaimana Saudara dapat mengajak Rakyat-jelata mempertahankan Negara, membebaskan Irian Barat, kalau perlu dengan darah dan jiwanya, kalau Negara itu tidak menyanggupkan kepada Rakyat-jelata, si Dadap, si Waru, si Suta, si Naya satu kehidupan yang adil dan makmur, satu kehidupan yang tata-tentrem-karta-raharja?

 

Pengertian-pengertian inilah yang harus meresap di hati-sanubari Rakyat dan seluruh pemimpin-pemimpinnya secara meluas dan mendalam. Pengertian-pengertian inilah merupakan satu-satunya landasan yang dapat membawa Homo Indonesiensis kepada pengorbanan-pengorbanan dan aktivitas-aktivitas ke arah kemakmuran, keadilan, kebesaran. Tanpa landasan ini, maka segala aktivitas warga Indonesia, segala pertumbuhan di Indonesia, hanya merupakan “kemajuan tambal-sulam” belaka, diombang-ambingkan oleh nafsu ketamaan dan percekcokan, tersandung tersungkur tiap-tiap kali oleh nafsu jegal-jegalan, nabrak ke sini nabrak ke situ oleh karena tidak tahu harus berjalan ke arah mana.

 

Inilah yang selalu saya utamakan dalam memberi pimpinan kepada Revolusi Indonesia. Karena itu saya selalu mewejang. Karena itu saya selalu mengajar. Rakyat perlu diwejang, agar ia tahu benar-benar bahwa Revolusi ini adalah Revolusinya. Pemimpin dari segala macam corak perlu diwejang, agar ia tahu benar-benar bahwa Revolusi ini bukan “Revolusi Pemimpin”, tetapi Revolusi Rakyat dengan tenaga Rakyat dan dengan tujuan yang menguntungkan kepada Rakyat. Tidak boleh lagi ada pemimpin-pemimpin gadungan! Tidak boleh lagi ada pemimpin yang mulutnya berkemak-kemik Manipol, tapi sebenarnya tak mengerti apa Manipol! Tidak boleh lagi ada pemimpin yang pura-pura pro-Manipol, tetapi sebenarnya anti-Manipol! Dengan Rakyat yang sudah masak indoktrinasi Manipol, maka pemimpin-pemimpin gadungan itu nanti semuanya akan disapu bersih oleh Rakyat sendiri!

 

Ya! saya mengutamakan apa yang saya namakan “Landasan” itu! Saya tahu, bahwa menamakan Landasan itu adalah sulit, khususnya pada waktu-waktu permulaan. Dari kanan dan dari kiri (kiri bukan dalam makna haluan politik) saya mendapat tentangan-tentangan, terutama sekali dari kalangan-kalangan “vested material interest” dan “vested political interest”, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Dari kanan dan dari kiri saya dicemoohkan dan ditertawakan, dan disebutkan yang bukan-bukan. Sampai sekarangpun cemoohan itu masih ada yang berjalan terus. Juga dalam kalangan hyper-intellektuil Indonesia masih ada saja terselip di sana-sini orang-orang yang begitu berkarat otaknya dengan ajaran-ajaran staatsrecht Barat, liberalisme, dan liberale parlementaire democratie, sehingga mereka tak mampu lagi menganggap artinya “Landasan” itu, dan lantas basak-bisik menggrundel, mencemooh, mengejek.

 

Tetapi, justru “Revolution rejects yesterday”! Revolusi membuang orde tua, diganti orde baru. Justru Revolution bukan Revolution, kalau tidak ada tentangan dari vested interest vested interestnya orde tua itu, beserta tentangan dari hyper-intellectuelendom yang memang “geboren en getogen in de oude orde” – “dilahirkan dan dibesarkan dalam orde yang tua” yang hendak kita bongkar dan kita rombak dan kita ganti samasekali itu. Karena itu, apapun orang katakan dari dalam dan dari luar, – kita berjalan terus! Kita berjalan terus atas Landasan MANIPOL-USDEK-RESOPIM! Dan Landasan itu akan tertanam subur, akan tumbuh subur! Sekali Landasan itu bermahkota dalam kalbunya Rakyat, sekali ia laksana Wahyu Cakraningrat bermahligai dalam apinya jiwa Rakyat, maka Indonesia yang Jaya Raya, Indonesia yang Adil Makmur, akan menjadilah kenyataan sampai ke akhir zaman. Dan tidak akan ada satu kekuatan duniawipun yang akan dapat merongrong atau menghancurkan Indonesia dalam bentuk yang semacam itu!

 

Karena itu sekali lagi saya berkata: Kita berjalan terus! Berjalan terus atas dasar RESOPIM! Berjalan terus atas dasar Landasan: Revolusi – Sosialisme Indonesia – Satu Pimpinan Nasional! Seperti yang saya katakan tahun yang lalu: kita tak perlu menjiplak orang lain. Kita melalui jalan kita sendiri. Kita tahu, – demikian saya katakan tahun yang lalu “baik negara-negara yang sudah tua, maupun negara-negara yang anyar merdeka, ataupun negara-negara yang masih terbelakang dalam lapangan teknik dan ekonomi, di antara mereka itu banyak yang mengira bahwa syarat mutlak untuk kemajuan Negara dan Bangsa ialah kemajuan teknik dan modal uang semata-mata. Mereka tidak tahu, bahwa dalam abad ke XX salah satu dasar bagi kemajuan nasional ialah konsepsi ideologi yang progresif revolusioner, berdasarkan atas kepribadian nasional!”

 

Apa yang saya katakan tahun yang lalu itu, merupakan dasar daripada pimpinan saya dalam melaksanakan perjoangan Nasional. Tiga kali berturut-turut pada tiap-tiap 17 Agustus, – 17 Agustus 1959, 17 Agustus 1960, 17 Agustus 1961 -, saya selalu saja tandas-tandaskan dasar kepribadian Nasional, dasar Revolusi, dasar progresivisme, dasar sosialisme, dasar pertumbuhan baru dari dunia yang sedang bergolak, dan sedikit sekali tentang soal-soal yang teknis materiil. Oleh karena itu, maka ada sementara orang yang berkata: “Bung Karno pandai pidato politik, akan tetapi tak memperdulikan samasekali soal-soal ekonomi”. Saya tahu adanya kritik-kritik yang demikian itu! Akan tetapi saya berkata kepada Saudara-saudara: Strategi pimpinan saya sudah memperhitungkan makna dari kritik-kritik tersebut! Strategi pimpinan saya sudah mengkopyok pro-pronya dan kontra-kontranya kritik-kritik semacam itu. Bagaimanapun tahun yang lalu saya sudah naikkan lagi puncak strategi itu, dan saya sudah mencapai puncak Landasan yang saya maksudkan. Tahun yang lalu saya sudah mencapai Kulminasi daripada Landasan perjoangan Nasional. Tahun yang lalu saya gelarkan Landasan-Betonnya RESOPIM!

 

Maka, dengan Landasan RESOPIM, bagaimana halnya dengan pelaksanaan Triprogram? Dalam pelaksanaan Triprogram itu, saya berikan prioritas yang setinggi-tingginya kepada pemulihan keamanan. Sebab, selama keamanan belum pulih, selama masih ada gerombolan-gerombolan D.I.-T.I.I., sisa-sisa P.R.R.I.-Permesta, aksi-aksi gelap subversi asing, maka acara Sandang-Pangan dan Perjoangan Anti Imperialisme sukar dapat dikejar secara jitu. Bahkan lebih daripada itu! Selama keamanan masih terganggu, selama tenaga-tenaga anti-Republik masih bebas berkeliaran ke sana-sini, maka selalu Kesatuan Indonesia dalam bahaya, selalu Kesatuan Indonesia dalam keadaan terancam. Gangguan-gangguan keamanan dan oknum-oknum pengganggu keamanan itu selalu menjadi alat subversi asing untuk melakukan peranan yang bermaksud menekan kemajuan kita atau keruntuhan kita samasekali. Karena itu maka saya berikan prioritas kepada pemulihan keamanan itu, penggempuran dan penghancuran daripada golongan-golongan gerombolan yang tak mau menyerah. Sebagai yang saya katakan tahun yang lalu, maka lebih dari 50 % dari seluruh kegiatan nasional kita, kita tujukan kepada penghancuran daripada gangguan-gangguan keamanan itu. Dan Angkatan Bersenjata secara keseluruhan ditugaskan untuk melenyapkan segala gangguan keamanan itu selambat-lambatnya akhir 1962.

 

Dan Angkatan Bersenjata, dengan bantuan Rakyat, telah melaksanakan tugas ini dengan baik.

 

Dapat saya beritahukan bahwa berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa, berkat tepat dan ampuhnya politik keamanan yang telah saya gariskan dalam Manifesto Politik, berkat jerih-payah serta darah para prajurit dan Rakyat yang bersatu-padu, maka Program Keamanan itu dapat diselesaikan pada waktunya. Sekarang lebih kurang 95 % telah selesai, dan Angkatan Perang kita kegiatannya sudah dialihkan titik-beratnya kepada fasal ketiga dari Triprogram, yaitu Irian Barat.

 

Atas hasil pelaksanaan tugas di bidang Keamanan ini, maka saya atas nama Pemerintah dan Rakyat menyatakan rasa terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada segenap anggauta Angkatan Bersenjata, yang telah menunaikan tugas Darma Baktinya dengan penuh keinsyafan dan keikhlasan pengorbanan. Terimakasih ini juga saya tujukan kepada alat-alat Negara lainnya, serta Rakyat, yang membantu Angkatan Bersenjata hingga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

 

Namun hasil-hasil yang telah kita capai ini perlu dikonsolidasi dan distabilisasi. Usaha-usaha konsolidasi dan stabilisasi itu meliputi:

A. Rehabilitasi dari Aparatur Negara yang telah rusak dan kacau sebagai akibat dari gangguan keamanan, dan usaha itu dilandaskan pada jiwa USDEK.

B.   Rehabilitasi Materiil, Personil, Mental dan Phisik, Sosial-Ekonomi, di daerah-daerah yang bertahun-tahun telah menderita akibat gangguan keamanan.

C.   Mensukseskan Triprogram dan Manipol pada umumnya.

 

Ini semuanya adalah usaha-usaha yang disebut dengan “operasi follow-up keamanan”.

 

Hasil-hasil selama tiga tahun, di mana pada permulaan pemberontakan dari apa yang disebut Gerombolan D.I.-T.I.I. Kartosuwiryo dan P.R.R.I.-PERMESTA pada tahun mulainya Kabinet Kerja, mereka telah menguasai seperenam dari wilayah Republik Indonesia dengan perkiraan kekuatan lebih kurang 125.000 orang tenaga tempur, dengan senjata 45.000 pucuk, berat dan ringan, kini hampir seluruh (95%) dari wilayah Republik Indonesia telah dibebaskan dari Gerombolan Pemberontak. Hingga kini dapat ditewaskan 23.495 orang, dan 133.365 orang yang kembali ke pangkuan Republik Indonesia, sedangkan senjata yang telah kita rampas adalah 40.317 pucuk, berat dan ringan. Juga kegiatan subversif mereka selama ini sebagian besar telah dapat kita patahkan atau kita gagalkan. Ini semua tidak akan dapat berhasil jikalau tidak ada pengorbanan-pengorbanan dari kita. Selama ini segala usaha-usaha dalam pemulihan keamanan telah meminta korban dari kita, yaitu 3.736 orang gugur dari prajurit-prajurit Angkatan Bersenjata dan O.K.D. dan 6.213 orang dari Rakyat; luka-luka 5.164 orang dari prajurit Angkatan Bersenjata dan O.K.D., dan 4.375 orang dari Rakyat.

 

Puncak dari segala usaha-usaha yang telah kita selenggarakan seperti yang saya sebutkan tadi ialah tertangkapnya Kartosuwiryo pada tanggal 4 Juni tahun 1962 yang lalu, yang kemudian disusul dengan penyerahan diri dari beratus-ratus pengikutnya secara berangsur-angsur.

 

Ini adalah satu kenyataan yang harus diterima oleh seluruh Bangsa Indonesia dengan rasa lega dan gembira. Rasa lega dan gembira karena penderitaan-penderitaan yang selama ini dirasakan oleh Rakyat telah dihentikan.

 

Rasa lega dan gembira, karena dengan pulihnya keamanan, Negara akan dihindarkan dari pemborosan lebih lanjut daripada jiwa, harta benda, dan kekayaan alam, dan dapatlah potensi nasional dikerahkan dan dipusatkan kepada usaha-usaha lain, yaitu Pelaksanaan Pembangunan Semesta Berencana serta usaha-usaha besar di bidang lain-lain, dan Pembebasan Irian Barat.

 

Ya, sekarang pembebasan Irian Barat! Ini bukan saja termasuk dalam rangka Triprogram, yang dus harus kita laksanakan, tetapi pada hakekatnya adalah satu Tuntutan Nasional secara mutlak. Segala tekad nasional kita, segala semangat perjoangan kita, segala rasa harga-diri kita, kita tumplekkan habis-habisan kepada pembebasan Irian Barat itu. Sebagian besar daripada kekayaan nasional kita, kita ambyurkan ke dalam perjoangnn pembebasan Irian Barat itu.

 

Mengapa kita bersikap demikian?

Mengapa kita bertekad demikian?

 

Apakah kita ini didorong oleh fanatisme belaka? Atau didorong oleh rasa prestise belaka? Atau untuk memperluas daerah Republik Indonesia? Tidak, samasekali tidak! Kita tidak dicambuk oleh fanatisme, kita tidak main politik prestise, kita bukan imperialis-ekspansionis yang haus kepada perluasan daerah. Daerah kekuasaan kita sudah cukup luas dan cukup kaya untuk memberi makan dan hidup-senang kepada lebih dari 250.000.000 manusia Indonesia!

 

Pun kita tidak membebaskan Irian Barat untuk menambah jumlah penduduk! Jumlah penduduk dalam daerah kekuasaan Republik sekarang ini sudah hampir 100.000.000 orang, dan apa arti tambahan 750.000 putera Irian Barat kepada jumlah 100.000.000 itu?

Pertimbangan untuk mencari keuntungan ekonomi? Atau tambahan kekayaan alam? Itupun tidak! Daerah yang dalam kekuasaan Republik sudah mempunyai kekayaan alam yang berlimpah-limpah, baik yang sudah dieksplorir dan dieksploitir, maupun yang belum dieksplorir dan dieksploitir, sehingga semua imperialis ngiler kétés-kétés melihat kekayaan alam kita itu. Ada imperialis yang mengatakan bahwa tidak adil 90.000.000 maanusia diberi kekayaan alam sebanyak itu!

 

Nah apakah gerangan sebabnya kita begitu mati-matian membebaskan Irian Barat? Tak lain tak bukan, oleh karena kita adalah satu Bangsa yang mempunyai dasar-jiwa, satu Bangsa yang mempunyai prinsipe, satu Bangsa yang mempunyai karakter. Pembebasan Irian Barat, sebagian daripada tanah-air kita, adalah bagi kita satu soal prinsipe, satu Kewajiban Suci daripada Jiwa Indonesia, – luas atau tidakkah Irian Barat itu, kaya atau tidakkah Irian Barat itu, berpenduduk banyak atau sedikitkah Irian Barat itu. Perjoangan membebaskan Irian Barat merupakan satu unsar fundamentil daripada Nationbuilding kita, bahkan juga satu dasar fundamentil daripada characterbuilding Indonesia. Sejak dulu mula kita menyubur-nyuburkan karakter-tulen kepada Bangsa Indonesia, jauh daripada oportunisme, jauh daripada jiwa penjiplak, jauh daripada Sklavengeist, atau jiwa budak-belian yang tidak mengenal kehormatan. Kalau belakangan ini ada seorang moralis-politikus berkata “A nation with character is worth to live for, is worth to sacrifice for”, – “satu bangsa yang berkarakter pantas kita sajikan hidup dan korbanan kepadanya” -, maka kita telah mencam-camkan keagungan-jiwa yang demikian itu kepada Rakyat Indonesia jauh sebelum “Sturm über Asien” menderu-deru di angkasa Timur! Itulah sebabnya kita juga membantu perjoangan lain-lain bangsa yang menentang kolonialisme, dengan tidak memperdulikan bangsa itu apa warna kulitnya atau apa corak agamanya. Misalnya perjoangan bangsa Aljazair kita bantu keras, dan kita turut gembira sekali bahwa perjoangan mereka itu telah berhasil. Hidup Aljazair! Hidup kemerdekaan di manapun juga! Matilah kolonialisme seterusnya!

 

Saya kira lambat-laun tujuan Indonesia membebaskan Irian Barat itu dimengerti oleh dunia-luaran, – juga oleh mereka yang dulunya menganggap kita tidak akan becus mengurus Irian Barat, dan mengatakan bahwa kita ini hanya ekspansionis belaka, atau irredentis, atau imperialis, atau kolonialis, atau lain-lain sebutan yang segar-segar, hantam-kromo lidah tak bertulang.

 

Saudara-saudara tentu masih ingat kenapa saya yang dulu begitu sabar terhadap Belanda, dalam memperjoangkan pembebasan Irian Barat itu akhirnya seperti tidak sabar dan melansir politik Konfrontasi. Konfrontasi di segala bidang. Di bidang politik, di bidang ekonomi, ya juga kalau perlu gempur-gempuran di bidang militer. Sebab-musababnya politik Konfrontasi itu tak perlu saya ulangi lagi di sini. Masih segar dalam ingatan kita sikap Belanda bertahun-tahun yang menjengkelkan, yang treiterend, yang akhirnya memaksa kita menjalankan politik Konfrontasi itu. Dan Saudara-saudara mengetahui juga, bahwa politik Konfrontasi itu bukan sekadar politik gertak-sambal. Sehari demi sehari, seminggu demi seminggu, sebulan demi sebulan, kita pertinggi persiapan dan pelaksanaan politik konfrontasi itu dengan nyata. Lidah kita menjadi tinju, tinju kita menjadi palu-godam yang maha-hebat!

 

Di samping itu, Saudara-saudara ingat saya mengeluarkan juga uluran-tangan kepada fihak Belanda. Uluran-tangan untuk menyelesaikan sengketa secara damai, dengan jalan menyerahkan pemerintahan atas Irian Barat kepada kita secara ikhlas, agar selanjutnya hubungan antara Indonesia dan Belanda dapat dinormalisir.

 

Kataku dalam pidato tahun yang lalu: “Dengan demikian, maka saya bawalah pemecahan soal Irian Barat ke dalam taraf baru, dengan membuka segala kemungkinan yang baik bagi kedua bangsa dan perdamaian dunia. Terbukalah pintu bagi bangsa Belanda di bawah Oranye Huis, yang bebarapa kali memimpin perjoangan kemerdekaan Nederland terhadap penjajahan asing, untuk meninggalkan nama yang terhormat dalam sejarah internasional di masa yang akan datang”.

 

Inilah yang saya ucapkan satu tahun yang lalu pada 17 Agustus 1961: politik Konfrontasi disertai dengan uluran-tangan. Palu-godam disertai dengan ajakan bersahabat.

 

Akan tetapi apakah jawaban Belanda terhadap politik kita ini? Secara sekonyong-konyong, secara mendadak, Menteri Luar Negeri Belanda Luns mengajukan resolusi dalam sidang General Assembly P.B.B. 1961, yang bertujuan memisahkan Irian Barat secara permanent dari Republik Indonesia, dengan mendirikan apa yang ia namakan ”Negara Papua” atas azas “selfdetermination”. Kekurang-ajaran yang lebih besar daripada kekurang-ajaran Luns ini tidak ada di lapangan percaturan politik dalam abad sekarang ini! Coba fikirkan! Tuntutan Republik Indonesia, perjoangan Bangsa Indonesia untuk membebaskan sebagian tanah-airnya selama duabelas tahun  ini (sebenarnya lebih), itu semua oleh meneer Luns dianggap sepi samasekali. Dalam resolusi yang ia usulkan kepada P.B.B. itu, Republik Indonesia samasekali tidak dibawa dalam pembicaraan, bahkan samasekali tidak disebut-sebut, seolah-olah tak ada sengketa antara Indonesia dan Belanda mengenai Irian Barat samasekali. Maka sayapun tidak segan-segan menamakan perbuatan Luns itu (dihadapan Duta Besar Amerika Tuan Howard Jones) perbuatannya seorang “evil spirit towards Indonesia”, – yaitu perbuatannya seorang yang jahat hati terhadap Indonesia! Secara coûte que coûte, harus!, musti!, ia berhasrat mendirikan “Negara Papua”. Benderanya sudah mulai dikibarkan, “lagu-kebangsaannya” sudah diciptakan dan mulai diperdengarkan, calon presidennya, calon perdana menterinya, calon panglima-besarnya sudah mulai dibisik-bisikkan.

 

Kita tidak mau biarkan kekurang-ajaran ini! Menteri Luar Negeri Subandrio saya kirimkan ke sidang P.B.B. di New York dengan hanya satu instruksi saja: “Gagalkan usaha Belanda untuk mendirikan Negara Papua melalui P.B.B.!” Dan Menlu Subandrio masuk gelanggang pertempuran. Dengan sengit ia berjoang, dan akhirnya usaha Belanda tadi buat sementara dapat digagalkan.

 

Dengan sengaja saya berkata “buat sementara”. Sebab Luns berniat untuk tiap tahun selanjutnya memajukan resolusi “selfdetermination” bagi Rakyat Irian Barat di muka sidang P.B.B. Jika “Negara Papua” tak dapat dibentuk, – paling sedikit tiap tahun Indonesia akan disérét olehnya sebagai terdakwa (beklaagde) di forum P.B.B. Demikianlah jalan-fikiran Luns. Demikianlah jalan-fikiran fihak Belanda.

 

Sekembalinya Menlu Subandrio dari sidang P.B.B., maka saya beritahukan kepadanya, (yang selanjutnya juga menjadi keputusan Kabinet), bahwa untuk menanggulangi segala akal-bulus Luns itu, politik Konfrontasi harus diperhebat lagi sehebat-hebatnya, harus dipuncakkan kepada puncaknya yang terakhir: Irian Barat harus dibebaskan dari kolonialisme Belanda dalam tahun 1962: Irian Barat harus dibebaskan dari kolonialisme Belanda sebelum ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963! Saya tidak sudi untuk tiap tahun memperdebatkan soal Irian Barat di P.B.B.!

 

Maka atas dasar keputusan ini, lahirlah TRIKORA. Lahirlah Tri Komando Rakyat, yang saya atas nama Rakyat Indonesia ucapkan di Jogyakarta pada tanggal 19 Desember 1961, hari peringatan penyerbuan Jogyakarta secara khianat oleh Belanda presis tigabelas tahun yang lalu.

 

Gagalkan pembentukan “Negara Papua”! Kibarkan Sang Merah Putih di mana-mana di Irian Barat!, siap-sedialah untuk komando mobilisasi-umum! Demikianlah isi Trikora itu. Kecuali itu Angkatan Perang diperintahkan untuk siap menerima perintah menggempur kolonialisme Belanda di Irian Barat setiap waktu, membebaskan Irian Barat dengan jalan kekerasan senjata setiap saat.

 

Inilah jawaban Bangsa Indonesia terhadap politik “Negara Papua” dari fihak Belanda itu. Ya, telah berulang-ulang saya katakan bahwa jawaban ini bukanlah jawaban gertak-sambal. Bukan demagogi, bukan bahasanya seorang yang main bentak, bukan ketololannya seorang yang fanatik. Sebab mula-mula oleh fihak Belanda dikirakan demikian, dan juga oleh beberapa orang Indonesia yang merasa dirinya maha-bijaksanapun saya ini dikatakan bodoh, dicemooh, diejek, ditolol-tololkan.

 

Tetapi dari Rakyat Indonesia yang berjuta-juta itu, sambutan atas Trikora itu adalah hebat sekali. Berjuta-juta Sukarelawan, laki, perempuan, tua, muda, dari kota, dari desa, dari gunung-gunung, mengalirlah untuk mendaftarkan diri, – satu bukti bahwa Bangsa Indonesia sebagai satu keseluruhan bertekad untuk membebaskan Irian Barat selekas mungkin, dengan jalan apapun. Angkatan Perang kita, baik kesatuan-kesatuannya maupun pangkalan-pangkalannya telah dapat dibangun dan diperlengkapi dengan cepat, sehingga jika perlu dalam tahun 1962 ini juga dapat langsung membebaskan Irian Barat secara penggempuran operasionil.

 

Dengan dukungan dan lindungan Angkatan Bersendjata Republik Indonesia, telah kita daratkan lebih kurang 2.000 orang Sukarelawan di daratan lrian Barat.

 

Dan 2.000 Sukarelawan itu telah membangun pula berlipat-lipat ganda ribu-ribuan pejoang-pejoang bersenjata dari pemuda-pemuda di Irian Barat sendiri. Mereka telah membuat kantong-kantong gerilya dari Utara sampai Selatan Irian Barat, kantong-kantong gerilya di mana-mana.

 

Kantong-kantong ini merupakan daerah-daerah De Fakto Republik Indonesia yang nyata. Administrasi Belanda menjadi lumpuh, evakuasi warga Belanda secara besar-besaran telah terjadi, juga ekonominya jadi lumpuh atau kocar-kacir di daerah-daerah itu.

 

Dalam beberapa minggu kita dapat mengembangkan Kantong-kantong De Fakto itu di seluruh daratan Irian Barat, jika diperlukan lagi.

 

Ini semua dilaksanakan tanpa menggerakkan induk tenaga dari Angkatan Perang Republik Indonesia. Kita telah sedia pula dengan pasukan-pasukan lengkap guna membasmi Westerling-Westerling dan lain-lain bom-waktu yang akan ditinggalkan oleh Kolonial Belanda di Irian Barat. Dan kita telah sedia dengan berpuluh-puluh Batalyon untuk menjamin keamanan di seluruh Irian Barat, sehingga Dunia Internasional tidak usah takut akan timbul sesuatu suasana seperti di Kongo, kalau kita mengoper administrasi di Irian Barat.

 

Seluruh rakyat harus menunjukkan setia kawannya kepada Gerilyawan-gerilyawan kita yang perwira-perwira itu, yang berjoang mati-matian di Irian Barat, dan saja ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang telah gugur dalam menunaikan Tugas Suci guna melaksanakan Tri Komando Rakyat.

 

Ya! Nyata apa tidak. Trikora bukan gertak-sambal. Trikora bukan pula politiknya Sukarno yang tolol atau majnun. Trikora adalah konsekwensi logis daripada politik Konfrontasi. Trikora adalah manifestasi daripada Volkswil Indonesia (manifestasinya tekad-kemauan Rakyat Indonesia) untuk mengusir imperialisme dari Irian Barat selekas mungkin, manifestasi daripada Offerbereidheid Indonesia (kesediaan berkorban) untuk mati-matian menjalankan perjoangan pengusiran itu. Trikora disambut secara hebat-maha-hebat oleh Rakyat Indonesia, oleh karena Trikora adalah politik yang benar. Yang tolol adalah orang-orang Indonesia beberapa gelintir itu, yang mengejek-ejek Trikora, dan menyebutkan kita orang yang tolol!

 

Datanglah dalam suasana memuncaknya politik Konfrontasi itu dalam bulan Maret apa yang dinamakan “Rencana Bunker”.

 

Makna Rencana Bunker adalah empat:

 

Satu   :    Pemerintahan atas Irian Barat harus diserahkan kepada Republik Indonesia.

Dua   :    Sesudah sekian tahun di bawah Pemerintahan Republik, maka Rakyat Irian Barat diberi kesempatan untuk menentukan sendiri secara bebas nasibnya selanjutnya, tetap terus di dalam Republik Indonesia? atau memisahkan diri dari Republik Indonesia-kah?

Tiga   :    Pelaksanaan penyerahan Pemerintahan di Irian Barat akan selesai dalam waktu dua tahun.

Empat:    Untuk menghindari bahwa kekuatan-kekuatan Indonesia langsung berhadap-hadapan dengan kekuatan-kekuatan Belanda, diadakanlah waktu-peralihan di bawah kekuasaan P.B.B. Waktu peralihan P.B.B. ini akan berlaku satu tahun lamanya, diperlukan untuk memulangkan seluruh Angkatan Perang Belanda dan seluruh pegawai Belanda dari Irian Barat ke Nederland.

 

Demikianlah pokok-pokok-isi Rencana Bunker. Kita segera memberikan reaksi terhadap Rencana itu: Kita terima prinsip-prinsip dari Rencana Bunker itu. Yaitu: penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada Republik, dan hak selfdetermination kepada Rakyat Irian Barat sesudah sekian tahun di dalam Republik, Perhatikan: kita terima prinsip-prinsip. Hanya prinsip-prinsip! Kita tidak terima rencana panjangnya waktu yang diusulkan oleh Bunker. Soal waktu dapat nanti diperjoangkan dalam perundingan.

 

Tampak sekali fihak Belanda dalam hal menerima Rencana Bunker itu amat ogah-ogahan. Beberapa minggu telah berlalu, beberapa bulan telah berlampau, fihak Belanda masih saja tidak memberikan jawaban yang tegas. Baru pada permulaan bulan Juli (bulan yang lalu) fihak Belanda mulai berkutik mengeluarkan suaranya, dan sementara itu sudah barang tentu Trikora telah berjalan terus: Kantong-kantong gerilya di Irian Barat telah menjalar ke mana-mana. Di Sansapor, di Sorong, di Klamono, di Taminabuan, di Fakfak, di Kaimana, di Merauke, di semua tempat-tempat itu Gerilyawan-gerilyawan kita telah menjejakkan kakinya dan menanamkan kakinya teguh-teguh. Dan telah digerakkan pula Tri Komando Rakyat oleh Rakyat di sekitar Manokwari, Serui, Kotabaru, dan lain-lain. Pendek-kata daerah-daerah De Fakto kita telah tersebar di Irian Barat di mana-mana.

 

Saudara-saudara!

Oleh karena Pemerintah Belanda menyatakan menerima prinsip-prinsip Bunker sesudah  Trikora menerjunkan beberapa ribu paratroop di daratan Irian Barat, dan sesudah Trikora membangunkan kantong-kantong gerilya di mana-mana, maka sudah barang tentu suasana pembicaraan Rencana Bunker itu sekarang agak berlainan daripada suasana ketika Rencana Bunker baru dilahirkan, yaitu pada bulan Maret.

 

Sebagai tindakan pertama dari penerimaan Rencana Bunker oleh Belanda, maka saya mengutus Saudara Adam Malik ke Washington dengan tugas minta keterangan dari wakil Belanda, apakah penerimaan Rencana Bunker oleh mereka itu mengandung pengertian yang sama dengan pengertian kita? Pengertian yang sama ini perlu disiarkan di muka umum, agar kelak dapat dihindarkan kesalahfahaman antara Indonesia dan Belanda.

 

Sesudah Indonesia dan Belanda mempunyai pengertian yang sama mengenai prinsip Rencana Bunker, – yaitu lebih dulu penyerahan Pemerintahan di Irian Barat kepada Indonesia, dan baru kemudian daripada itu yang dinamakan selfdetermination kepada Rakyat Irian Barat, – maka saya mengutus Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio, didampingi oleh Jenderal Hidayat, pergi ke Washington, untuk “menjajagi” isi-hati yang sebenarnya dari fihak Belanda, dan Saudara Subandrio saya beri kuasa-penuh untuk mengambil segala kebijaksanaan agar prinsip Rencana Bunker merealisir pengembalian Irian Barat ke dalam kekuasann Republik terlaksana sesuai dengan tuntutan Rakyat Indonesia dalam taraf perjoangan sekarang ini.

(In accordance with the wish of the Indonesian people in the present situation).

 

Lebih dari seminggu Saudara Subandrio dan Saudara Hidayat bekerja mati-matian di Washington. Lebih dari seminggu mereka bertempur. Akhirnya mereka pulang. Dan yang mereka bawa ialah “pengertian bersama sementara” antara Indonesia dan Belanda (“preliminary understanding”), dan satu ”aide memoire” yang tertulis dan ditandatangani oleh Pd. Sekjen P.B.B. U THANT, tertanggal 31 Juli 1962.

 

Pada umumnya, Preliminary Understanding dan Aide Memoire U Thant itu mengandung 7 pokok sebagai berikut:

 

  1. Sesudah ratifikasi oleh Indonesia, Belanda, dan P.B.B., maka selambat-lambatnya 1 Oktober 1962 Penguasa P.B.B. akan tiba di Irian Barat untuk mengoper Pemerintahan dari tangan Belanda.

Pada waktu itu juga, kekuasaan Belanda di Irian Barat berakhir, bendera Belanda turun, bendera P.B.B. menggantinya.

  1. Mulai saat itu, Penguasa P.B.B. akan memakai tenaga-tenaga Republik Indonesia (baik sipil maupun alat-alat keamanan), bersama dengan alat-alat yang sudah ada di Irian Barat yang terdiri dari putera-putera Irian Barat, dan sisa-sisa dari pegawai Belanda.
  2. Paratroop-paratroop kita tetap tinggal di Irian Barat, di bawah kekuasaan administrasi P.B.B. (“at the disposal of the United Nations’ Administration”).
  3. Angkatan Perang Belanda mulai saat itu juga berangsur dipulangkan ke negeri Belanda. Yang belum pulang, akan ditaroh dalam pengawasan P.B.B., dan tidak boleh dipakai untuk operasi-operasi militer.
  4. Antara Irian Barat dan daerah Republik Indonesia lainnya, adalah lalu-lintas bebas.
  5. Tanggal 1 Januari 1963, atau 31 Desember 1962, bendera Sang Merah Putih secara resmi akan dikibarkan di samping bendera P.B.B.
  6. Pemulangan Angkatan Perang Belanda dan pegawai Belanda harus selesai pada tanggal 1 Mei 1963, dan sebentar sesudah itu Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengoper Pemerintahan di Irian Barat, dari tangan P.B.B. ke tangan kita.

 

Demikianlah 7 pokok Preliminary Understanding dan Aide Memoire U Thant.

Pada tanggal 9 yang lalu saya kirim Menteri Luar Negeri Subandrio dan Jenderal Hidayat ke Washington lagi untuk mengadakan perundingan formil dengan Belanda. Lagi beberapa hari mereka berjoang dengan gigih dengan backing mutlak dari kami dan seluruh Rakyat Indonesia, dan sekarang (hari ini) perundingan formil itu telah selesai, dan saya pada saat ini dapat memberitahukan kepada Saudara-saudara, bahwa hasil perundingan formil itu telah ditandatangani.

Dan pokoknya ialah:

 

  1. a.       Kolonialisme Belanda di Irian Barat secara formil gulung tikar pada 1 Oktober 1962. Bendera Belanda pada hari itu secara resmi turun dari angkasa Irian Barat.
  2. b.       Kita mulai masuk secara berangsur-angsur di Irian Barat pada saat itu juga.
  3. c.        Berhubung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memulangkan secara teratur semua tenaga Belanda ke Nederland, maka pemerintahan Republik Indonesia secara keseluruhan masuknya di Irian Barat ialah pada sekitar 1 Mei 1963. Meskipun demikian, bendera Republik Indonesia sudah berkibar di Irian Barat secara resmi pada tanggal 31 Desember 1962, yaitu sebelum ayam jantan berkokok pada tanggal 1 Januari 1963.

 

Terimalah, Saudara-saudara, hasil ini dengan rasa terimakasih kepada Tuhan!.

Nah, sekarang satu soal yang perlu saya terangkan kepada Saudara-saudara.

 

Dan bagaimana tentang hal selfdetermination bagi Rakyat Irian Barat? Kita menyetujui diadakan pemungutan suara selfdetermination itu pada tahun 1969. Dus 6-7 tahun sesudah Irian Barat dalam pemerintahan Republik. Dus selfdetermination ini adalah apa yang kita namakan ”internal selfdetermination”, selfdetermination antara kita dengan kita sendiri, dan bukan “external selfdetermination” yang kita tolak. Dalam tahun 1969 itu Rakyat Irian Barat boleh menentukan secara bebas: tetap di dalam Republik?, keluar dari Republik? atau bagaimana?

 

Tentu bagi sebagian dari Saudara-saudara ada yang bertanya: Kenapa Presiden dan Pemerintah menerima-baik hal selfdetermination bagi Rakyat Irian Barat itu, padahal Rakyat Irian Barat adalah sebagian dari tanah-air Indonesia juga, dan Irian Barat sendiri adalah sebagian dari tanah-air Indonesia, dan Irian Barat sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 de jure adalah sebagian dari Republik Indonesia, yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke?

 

Ya, Saudara-saudara, saya tidak menyangkal kebenaran daripada fikiran yang demikian itu. Malahan saya menyokong kebenaran pendirian tersebut, oleh karena pendirian itu adalah juga pendirian saya dan pendirian Pemerintah.

 

Justru oleh karena itulah kita mutlak menuntut masuknya Irian Barat dalam Pemerintahan Republik, – mutlak!, dan tidak boleh ditawar sekuku hitampun. Tuntutan ini dipenuhi oleh bagian pertama dari Rencana Bunker, dan oleh persetujuan formil yang barusan kita capai.

 

Maka sesudah Irian Barat masuk ke dalam kekuasaan Republik, artinya: sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945 in realitas terlaksana secara lengkap dari Sabang sampai Merauke, maka kita bersedia untuk menunjukkan sikap bijaksana. Sikap bijaksana yang sesuai dengan keadaan dan pertumbuhan di Irian Barat sendiri, yang selama 12 tahun terpisah dari kita, selama 12 tahun terus saja dijajah oleh Belanda, selama 12 tahun disuguhi garam bikinan Belanda.

 

Saya yakin, bahwa meskipun penjajahan Belanda merajalela di Irian Barat itu 12 tahun lamanya, toh masih banyak di sana itu patriot-patriot Indonesia yang tak mau luntur, pencinta-pencinta kemerdekaan yang tetap setia kepada Proklamasi, pencinta-pencinta kemerdekaan yang tetap setia kepada Kemerdekaan Nasional dari Sabang sampai Merauke. Meskipun Rakyat di Irian Barat itu duabelas tahun lamanya tiap hari tiap malam dicekoki dengan propaganda Belanda, tiap hari tiap malam disuruh menguntal fitnahan-fitnahan terhadap kepada Republik Indonesia, maka toh tidak kurang-kurang patriot Irian Barat yang tetap patriot. Sebagian besar dari patriot-patriot itu meringkuk dalam penjara, sebagian besar hidup sebagai buruan yang sengsara, diuber, ditangkap, disiksa, – tetapi bagaimanapun sengitnya penindasan atas mereka itu, selfdetermination ’45 masih tetap hidup menyala-nyala dalam kalbu mereka itu.

 

Oh ya tentu, di samping itu tentu Belanda berhasil memparadirkan boneka-boneka serta para pengikutnya, yang secara sistematis dididik oleh Belanda untuk membenci dan mencemoohkan Republik. Di mana ada perjoangan kemerdekaan tanpa bertemu dengan boneka-boneka? Di Cuba? Tidak! Di Aljazair? Tidak! Di Vietnam? Tidak! Di Guinee? Tidak! Di Indonesia sendiri dulu? Tidak! Malah di Indonesia dulu itu boneka-boneka itu, saking banyaknya, tak dapat kita hitung jumlahnya dengan jari dua tangan kita! Pasar imperialis penuh dengan boneka-boneka itu, dan engkau bisa beli mereka dengan harga setalen sepotong!

“Ze waren bij bosjes op de imperialistische passer te koop, en je kunt ze kopen voor een kwartje per stuk!”

 

Ya, di mana ada perjoangan Kemerdekaan yang tidak menjumpai boneka? Tetapi juga, di mana ada kaum boneka yang dapat bertahan lama? Semua sejarah perjoangan Kemerdekaan bangsa-bangsa menunjukkan, bahwa akhirnya kemerdekaan toch dapat direbut oleh patriot-patriot kemerdekaan. Akhirnya patriot-patriot inilah yang menang! Akhirnya boneka-boneka itulah yang disapu-bersih oleh perjoangan, atau ditendang masuk ke dalam timbunan sampahnya sejarah!

 

Di antara dua golongan di Irian Barat ini, di antara patriot dan boneka, terdapatlah golongan ke tiga yang sebagian besar terdiri dari pemuda dan pemudi. Mereka adalah amat penting, karena mereka, generasi muda itu, adalah bibit-bibit pemimpin daerah atau bibit-bibit pemimpin Nasional. Pada umumya mereka anti kolonialisme. Tetapi mereka tak bisa, atas kesadaran dan keyakinan sendiri menjadi pro Republik. Apa sebab? Mereka tidak mengenal Republik. Mereka memang dipisahkan oleh Belanda dari Republik. Mereka tak dapat mengikuti dari dekat tujuan dan cita-cita Republik. Mereka mengenal Republik hanya “van horen zegen”, en nog wel – van Hollands horen zeggen! Tatkala kita di sini memproklamirkan Republik, tatkala kita di sini menumpahkan kita punya darah untuk mempertahankan Republik, mereka baru lahir, atau baru anak-anak kecil. Tatkala kita di sini mulai membangun dan sekali lagi membangun mereka belum mencapai usia akil-balig.

 

Dan meskipun mereka sekarang tidak mudah diracuni oleh propaganda Belanda yang bersifat 100% anti-Republik, dan dag in dag uit menjelekkan dan menghina Republik, namun sebaliknya mereka ingin menilai dengan mata kepala sendiri apakah Republik itu, baik dalam tujuan maupun dalam isi. Para pemuda dan pemudi Irian Barat itu pada instinctnya ingin merupakan bagian daripada Republik, bahkan ingin merupakan bagian daripada Revolusi, akan tetapi mereka ingin mengambil keputusan ini (atau lain keputusan) atas dasar kesadaran sendiri  dan kayakinan sendiri, dan tidak oleh bisikan atau desakan dari siapapun juga atau golongan manapun juga.

 

Saya kira, kita harus menghargai pendirian mereka itu. Biar mereka melihat sendiri apa Republik itu, apa tujuan Republik, apa isi Republik! Sekali mereka melihat dan mengenal Republik, kita yakin, pasti merekapun akan menjadi patriot Indonesia yang cinta kepada Republik. Dan – patriot karena keyakinan, bukan patriot buat-buatan!

 

Dugaan saya ini dibenarkan oleh kenyataan. Beberapa waktu belakangan ini, beberapa putera Irian Barat telah mengunjungi Republik dari Nederland. Kedatangan mereka itu samasekali tidak dengan semangat pro Republik. Malah ada yang condong kepada kurang-suka kepada Republik. Mereka hanya mau melihat. Mereka hanya mau meninjau. Beberapa hari mereka melihat sana-sini, meninjau sana-sini. Dan apa yang terjadi? Tanpa pengecualian mereka semua menjadi pro Republik! Malah ada yang minta diterjunkan di Irian Barat, untuk ikut menggempur kolonialis Belanda di Irian Barat!

 

Pengalaman tentang beberapa putera Irian Barat ini kita ”seluruhkan” kepada seluruh penduduk di Irian Barat. Secara keseluruhan kita masukkan mereka dalam kekuasaan Republik, sesuai dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, untuk memberi kesempatan kepada mereka mengenal dan mencamkan hasil-hasil perjoangan Republik. Sesudah itu, tahun 1969 kita akan berkata kepada mereka: “silahkan, Saudara-saudara, silahkan! Tuan-tuan boleh memilih!” Dan kita yakin, mereka akan memilih tinggal dalam Republik!

 

Maka atas dasar pertimbangan inilah, kita menerima juga prinsip kedua dari Rencana Bunker, yaitu selfdetermination.

 

Nah, Saudara-saudara sebangsa! Sungguh keramat angka 17 dalam kehidupan  Republik kita ini! Kita sekarang genap berusia 17 tahun, dan pada genap berusianya Republik 17 tahun itu, pada hari ini, dengan menundukkan kepala kepada Tuhan, saya dapat memberitahukan dengan resmi kepada Saudara-saudara: nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, habislah riwayat penjajahan Belanda di Irian Barat.

 

Nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, tidak ada lagilah bendera Belanda yang berkibar sebagai penguasa di seluruh tanah-air kita dari Sabang sampai Merauke.

 

Nanti, pada tanggal 1 Oktober tahun ini, lengkaplah dalam prinsipe wilayah Negara Kesatuan Indonesia, yaitu Republik Proklamasi.

 

Hati kita penuh dengan rasa bercampur-bawur. Segala macam rasa, berputarlah dalam hati kita sekarang ini. Rasa syukur kepada Tuhan. Rasa gembira. Rasa pilu karena mengenangkan deritaan-deritaan yang lampau. Rasa getam karena mengenangkan korbanan-korbanan di persada perjoangan. Rasa kagum karena mengingat keberanian pahlawan-pahlawan kita yang diterjunkan di rimba-rimba dan rawa-rawa. Rasa terimakasih kepada patriot-patriot Indonesia yang mendahului kita berpuluh puluh tahun yang lalu, pendekar-pendekar daripada Gerakan Nasional. Rasa hormat kepada Pak Marhaen dan mBok Marhaeni, yang dulu dalam physical Revolution membumihanguskan rumahnya sendiri. Rasa marah karena ingat kepada pemuda-pemuda kita yang dalam physical Revolution itu ditendangi oleh serdadu Belanda atau didrél atau digantung. Rasa khidmat, karena merenungkan Karsanya Sejarah, bahwa “jer basuki mawa beya” …Dan ada satu rasa lagi. Yaitu rasa harapan. Harapan, bahwa ini kali fihak Belanda sungguh-sungguh secara jujur melaksanakan persetujuan yang baru dicapai itu. Jangan seperti Linggajati, jangan seperti Renville. Kita sudah berabad-abad bersengketa dengan Belanda, sudah berabad-abad hidup “op gespannen voet” dengan fihak Belanda, dan secara Negara dengan Negara sudah pula 17 tahun lamanya bersengketa dengan segala macam pengorbanan jiwa dan pengorbanan harta dari kedua belah fihak. Rasa pertanggunganjawab dari Rakyat kita masing-masing, Rakyat Indonesia dan Rakyat Belanda, meminta kebijaksanaan setinggi-tingginya dari para pemimpin kedua belah fihak. Kami dari fihak Indonesia, kami tidak ada maksud lain kecuali tidak mau dijajah, tidak mau dikungkung, tidak mau dieksploitir. Kami tidak ada maksud lain kecuali mau hidup merdeka dan mau dibiarkan hidup merdeka, merdeka dari penjajahan, merdeka untuk menyusun Negara dan masyarakat kami sendiri menurut kehendak kami sendiri. Kami cinta damai, kami ingin hidup bersahabat dengan segala bangsa, tetapi kalau kemerdekaan kami diganggu atau kalau kami dijajah, maka kami akan melawan, kami akan menghantam, kami akan tidak takut mati, kami akan bertempur sampai tétés darah yang penghabisan!

 

Itulah sebabnya kami pada saat tercapainya persetujuan Indonesia-Belanda sekarang ini masih melahirkan harapan tadi: Harapan bahwa ini kali fihak Belanda sungguh-sungguh melaksanakan persetujuan itu secara jujur, dan tidak secara Linggajati atau secara Renville, agar supaya hubungan lndonesia-Belanda kelak berlangsung secara baik.

 

Maka sementara itu kami dari fihak Indonesia terpaksa tetap waspada, tetap dalam posisi perjoangan, tetap dalam “stelling”, tetap dalam Trikora, tetap sampai ada kenyataan-kenyataan yang nyata, bahwa ini kali persetujuan Indonesia-Belanda itu benar-benar dilaksanakan secara jujur, dan tidak a la Renville dan Linggajati. Jika sengketa ini dapat diselesaikan secara memuaskan bagi kami dan secara terhormat bagi Belanda, maka saya nyatakan di sini, bahwa uluran-tangan saya tahun yang lalu tetap berlaku. Memang adalah menjadi dasar penghidupan Nasional Bangsa Indonesia, bahwa kami secara aktif mencari persahabatan dengan setiap bangsa, jika dari fihak mereka itu ada keinginan jujur ke arah itu. Memang inilah termaktub dalam Kerangka nomor tiga daripada Revolusi Indonesia itu, yaitu Kerangka persahabatan dari semua bangsa.

 

Maka kepada Bangsa Indonesia sendiri saya berseru supaya selanjutnya kita tidak usah merasa sombong terhadap Belanda, tidak usah bersikap congkak karena merasa menang. Pelajaran yang saya sendiri sejak pemuda peroleh dari almarhumah Ibu saya ialah: ”Uletlah dalam kekalahan, tetapi berbudilah dalam kemenangan”. Saya kira pelajaran yang saya terima dari Ibu ini, berlaku pula bagi kita-semua dalam menghadapi penyelesaian sengketa antara Indonesia dan Belanda.

 

Kecuali itu, kemenangan yang kita capai ini, bukan ”Kemenangan pribadi” dari seseorang semata-mata. Jangan dicongkak-congkakkan! Kemenangan ini adalah Kemenangan Sejarah. Tiap perjoangan menentang kolonialisme akhirnya akan dimenangkan oleh fihak pejoang kemerdekaan, oleh karena jalannya Sejarah menghendaki kemenangan fihak kemerdekaan itu. Tiap perjoangan mempertahan-kan kolonialisme akan kalah, oleh karena jalannya Sejarah menghendaki kalahnya kolonialisme itu. Kita telah berbuat sesuai dengan jalannya Sejarah, dan oleh karena itulah kita menang. Belanda berbuat menentang jalannya Sejarah, dan oleh karena itulah mereka kalah. Karena itu, jangan kemenangan kita ini terlalu dicongkak-congkakkan!

 

Kecuali itu, menengadahkanlah muka kita-semua kepada Tuhan. Kemenangan ini adalah Karunia Tuhan. Pemberian Tuhan! Belas-kasihnya Tuhan! Dialah yang membuat. Dialah yang membuat. Dialah yang memberi. Karena itu janganlah mencongkakkan diri.

 

Saudara-saudara, kini dua acara dari Triprogram Pemerintah telah terlaksana: Keamanan dan Irian Barat. Di bawah ridlonya Allah subhanahu wa ta’ala, di bawah rakhmatnya Tuhan yang Maha Adil, maka acara Keamanan dan acara Irian Barat dapat pada waktunya terlaksana berkat keuletan-hati dan tekad kesatuan Bangsa Indonesia. Keuletan-hati yang tali-baja, dan tekad-kesatuan yang laksana gunung-batu itu, sebagai tadi kukatakan, hanyalah mungkin diwujudkan jika kita mempunyai Landasan bersama yang hidup mewahyui kita sebagai suatu kenyataan yang hidup, suatu living reality, – suatu Landasan yang benar-benar menghikmati seluruh fasét kehidupan Bangsa, baik ideologis, maupun Landasan yang benar-benar Nasional dalam arti yang seluas-luasnya. Dan landasan yang begitu itulah Landasan RESOPIM. Dengan Landasan RESOPIM itu kita dalam waktu yang telah ditetapkan dapat menyelesaikan persoalan-berat Keamanan dan persoalan-berat Irian Barat. Dengan Landasan RESOPIM itu kita dapat mencapai tahun 1962 ini sebagai satu Tahun Kemenangan. Lihat! Berapa umur Manipol-USDEK? Berapa umur RESOPIM? Sudah panjangkah umur Manipol-USDEK-RESOPIM itu? Manipol-USDEK baru berumur tiga tahun! RESOPIM baru berumur satu tahun! En toch kita dengan Landasan Manipol-USDEK dan RESOPIM itu telah mencapai hasil yang gilang-gemilang! Satu tanda apa? Tanda bahwa Manipol-USDEK-RESOPIM adalah Landasan yang Sakti! Karena itu, hayo berjalan terus!, – biar anjing menggonggong, hayo berjalan terus! – di atas Landasan Manipol-USDEK dan RESOPIM. Melihat hasil-hasil dari perjoangan kita dalam waktu belakangan ini, – juga di lapangan pembangunan -, sebenarnya, – siapa yang masih ingin terus bersikap pesimistis atau  sinis, kecuali tentu musuh dari Revolusi, golongan gadungan atau golongan Kontra-revolusioner, yang selalu hanya pandai mengeritik saja atas dasar textbook-thinking, atau golongan yang selalu hanya memakai Republik untuk mengejar keuntungan diri sendiri atau golongannya sendiri, atau golongan yang memang anti Republik karena Republik adalah Republik Kemerdekaan dan Republik Kerakyatan? Maaf jikalau saya berkata, bahwa, mereka selalu melarikan diri dari kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh Republik, – kesulitan-kesulitan yang memang selalu inhaerent pada tiap-tiap Revolusi. Mereka belum pernah dapat membanggakan diri menyumbangkan tenaga atau fikiran atau pengorbanan, dalam saat-saat Republik dan Revolusi dalam kesulitan atau diancam oleh bahaya.

 

Tidak, mereka lari, mereka mencari hidup-enak di luar Revolusi atau di luar Republik, dan dari sana itulah mereka lancarkan mereka punya kritik, kadang-kadang ancaman, bahkan juga tindakan-tindakan subversif terhadap diri saya dan dirinya orang-orang yang tetap menjalankan tugasnya dalam Republik dan dalam Revolusi. Mereka di luar negeri itu tak segan-segan untuk menceriterakan segala kekurangan-kekurangan kita kepada fihak asing, segala kekurangan-kekurangan Republik seolah-olah golongan asing itulah yang akan menentukan siapa yang harus memimpin Bangsa Indonesia dan Negara Indonesia. Mereka bersikap seolah-olah merekalah yang lebih tahu segala hal, seolah-olah merekalah yang akan dapat “menyelamatkan Indonesia”. “Segala sesuatu akan lebih baik”, katanya, asal saja merekalah yang memegang tampuk-pimpinan, asal saja merekalah yang memegang kemudi. Padahal, orang-orang yang sedemikian rupa itu, belum pernah, khususnya sesudah 1950, menunjukkan kebesarannya dalam sesuatu hal, kecuali – kebesaran dalam mengeritik. Rakyat-jelata belum pernah menikmati kebesaran mereka, baik dalam aksi maupun dalam konsepsi. Yang selalu mereka dengung-dengungkan ialah hanya zg. ”penyelesaian mas’alah-mas’alah” menurut afgezaagde en conventionele formules, afgezaagde en conventionele formules yang mereka ambil dari textbook-textbooknya dunia Barat, – afgezaagde en conventionele formules yang saya sudah kenal dari zamannya saya masih plonco ijo royo-royo!

 

Padahal, Revolusi adalah pembongkaran barang tua diganti dengan barang baru, kataku tadi. Revolution rejects yesterday!  Revolusi harus melempar jauh-jauh, bahkan menghantam hanyur-lebur, fikiran-fikiran kuno, dan harus menegakkan, menggembléngkan, mengkobar-kobarkan fikiran-fikiran baru, cara-cara baru, konsepsi-konsepsi baru, cipta-cipta baru, landasan-landasan baru, tindakan-tindakan baru, pencatut-taliwandaan baru.

 

Padahal, Revolusi adalah “a do-it-yourself-outfit”, Revolusi adalah suatu hal yang harus dijalankan dengan aksimu dan idemu sendiri, – tak dapat Revolusi itu dijalankan dengan mempergunakan textbook-textbooknya orang lain, apalagi textbooknya orang-orang yang tidak revolusioner, apalagi textbook-textbook yang kontra-revolusioner!

 

Saya dengan sengaja menguraikan persoalan ini agak panjang, – maaf!

Kataku -, oleh karena di waktu-waktu belakangan ini saya lihat menggiatnya sesuatu aksi subversif. Ada yang ditujukan kepada diri saya pribadi, – saya pernah digranat, dimitrailjir, ditembak pistul, pendek kata hendak dibunuh -, ada yang diarahkan kepada kawan-kawan patriot lain, ada yang dibidikkan kepada Republik an sich, Pemerintah dalam hal ini tidak hanya akan lebih waspada, akan tetapi malahan ada kalanya telah mengambil initiatif bertindak, sebelum aksi subversif itu dapat menjalankan rolnya yang lebih besar. Ya, apa boleh buat! ”A Revolution is not a very polite thing”, – “Revolusi bukanlah suatu hal yang amat ramah-tamah”, – Revolusi adalah Revolusi! Saya sudah pernah berkata dua tahun yang lalu: Revolusi terpaksa mengenal garis-pemisah. Garis-pemisah antara kawan dan lawan. Garis-pemisah antara kawan-Revolusi dan lawan-Revolusi. Kawan-Revolusi harus kita pupuk, lawan Revolusi harus kita hantam, kita gempur, kalau perlu kita binasakan samasekali. Kalau tidak, Revolusi sendiri akan binasa!

 

Saudara-saudara! Dengan selesainya soal keamanan, dengan selesainya soal Irian Barat, maka modal kita untuk memecahkan soal ekonomi akan sangat bertambah. Dulu pernah saya katakan, bahwa untuk menyelesaikan tugas keamanan saja, 50% dari seluruh kegiatan Nasional kita curahkan kepada itu, dan kemudian, ditambah dengan tugas TRIKORA, jumlah ini menjadi lebih besar lagi! Hampir-hampir ¾ dari kegiatan Nasional kita, kita pergunakan untuk menyelesaikan keamanan dan menjalankan Trikora itu. Jelasnya lebih dari 70% dari kegiatan Nasional kita, kita tumplekkan ke arah itu! Perhatikan sekali lagi: Lebih dari 70% !! Mengertikah Saudara-saudara, bahwa inilah salah satu sebab yang terbesar yang membawa kesulitan dalam kehidupan ekonomi? Mengertikah Saudara-saudara, bahwa dengan ditumplekkannya lebih daripada 70% Kegiatan Nasional itu, program ”Sandang-Pangan”  belum samasekali terlaksana dengan cara yang memuaskan?

 

Saya dapat mengikuti penderitaan-penderitaan di sana-sini dan saya menundukkan kepala saya di hadapan penderitaan-penderitaan itu, sambil berkata: silahkan, silahkan marahi saya, silahkan menunjukkan jari kepada saya, silahkan hujankan kebérangan Saudara kepada saya, – dan saya akan terima semua itu dengan hati yang tenang. Hanya saya mau menerangkan di sini, bahwa memang benar saya telah memberikan prioritas kepada penyelesaian soal keamanan dan soal Irian Barat, meskipun saya tahu, bahwa untuknya hampir ¾ daripada kegiatan Nasional harus dispendir. Benarkah politik saya yang demikian itu? Atau salahkah tindakan saya yang demikian itu? Sejarah akan menjatuhkan putusannya yang terakhir. Keamanan harus, harus sekali lagi harus dipulihkan dalam tahun ini, dan tidak boleh tunggu sampai tahun datang, – dan Irian Barat harus pula, harus, harus, tigakali harus, dimasukkan kekuasaan Republik tahun ini, sebelum ayam jantan berkokok 1 Januari 1963, kalau kita tidak menghendari Irian Barat itu masih berlarut-larut lagi dipermainkan orang dengan jalan akal-bulus “Negara Papua” atau dengan jalan lain-lain. Menurut strategi-waktu, maka 1962 adalah tahun tepat untuk memberi “genadeslag” kepada gerombolan pemberontak, dan Rakyatpun tak dapat menderita gangguan keamanan lebih lama lagi, dan menurut strategi-waktu pula berhubung dengan situasi internasional maka 1962 adalah waktu yang tepat pula untuk memberikan “genadeslag” kepada imperialisme Belanda di Irian Barat. Artinya: tahun 1962 adalah tahun yang obyektif menentukan bagi kita (beslissend, decisive) dalam hal menghantam hancur-lebur sisa-sisa terakhir dari kaum pemberontak, dan menghantam hancur-lebur imperialisme Belanda di Irian Barat. Tahun lain, kesempatan lain, tidak segera akan datang lagi! Sama dengan misalnya: Agustus 1945, segera sesudah peperangan dunia yang ke-II berakhir, adalah saat yang menurut strategi-waktu, obyektif satu-satunya saat, untuk mengadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1929 saya sudah berkata: “pada akhir peperangan dunia yang akan datang, pada akhir peperangan Pasific, pada waktu itulah Indonesia akan merdeka!” Dan karena ucapan saya ini, saya oleh Belanda dijebloskan bertahun-tahun ke dalam penjara!

 

Nah, demikianlah duduknya perkara: Keamanan dan Irian Barat tidak bisa tunggu satu hari lebih lama lagi, sedangkan soal Sandang-Pangan bisa kita pecahkan sambil berjalan, dan – nanti lebih mudah, karena modal yang tadinya kita perguna-kan untuk memulihkan keamanan dan mengembalikan Irian Barat itu, dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan ekonomi. Kecuali daripada itu, keadaan Sandang-Pangan toh masih boleh dikatakan lumayan, mengingat bahwa kita melemparkan hampir ¾ dari kegiatan Nasional ke arah Keamanan dan Irian Barat itu?, mengingat bahwa kita ini setengah-setengah dalam keadaan perang?, mengingat bahwa pembangunan-pembangunan vital yang menelan ongkos milyar-milyaran berjalan terus?, mengingat bahwa kita tahun yang lalu dihamuk oleh kemarau yang mahahebat, ditambah dengan hama baru yang bernama ganjur? Adakah orang Indonesia yang mati kelaparan? Adakah orang Indonesia yang telanjang tidak berpakaian? Sebaliknya, adakah orang Indonesia sekarang ini, yang, melihat sukses-sukses kita di lapangan politik dan di lapangan pembangunan segala macam, tidak bangga bahwa ia orang Indonesia? Tidak bangga bahwa Republik ini adalah Republiknya? Tidak bangga bahwa, kendati masih ada kekurangan-kekurangan, ia adalah anggauta daripada Satu Bangsa yang bukan lagi bangsa cemoohan dunia, tetapi satu Bangsa yang dihormati dan dikagumi orang? Dan lebih lagi daripada itu: bahwa ia adalah anggauta dari satu Bangsa yang tidak mandek, tetapi satu Bangsa yang berjalan, – ya, berjalan! -, berjalan pesat kearah pem-bentukan satu Negara yang besar dan utuh dan kuat dari Sabang sampai Merauke, berjalan pesat ke arah satu kehidupan yang mulia, yang dihormati orang, yang adil, yang makmur, yang menjadi mercu-suar bagi orang lain, yang tiada exploitation de l’homme par l’homme, yang pesat menjadi salah satu pendekar daripada new emerging forces, – satu bangsa yang berjalan ke arah realisasi daripada sosialisme berdasarkan Kepribadian Nasional!

 

Mengingat semua ini, mengingat bahwa hingga kini kita masih dapat mempertahankan kehidupan nasional di lapangan ekonomi, meskipun 75% dari kegiatan nasional dilemparkan kepada keamanan dan Irian Barat, maka saya, di mana sekarang soal keamanan dan Irian Barat itu boleh dikatakan selesai, Insya Allah merasa sanggup untuk mengatasi bottlenecks dan kesulitan-kesulitan dari persoalan ekonomi dalam waktu pendek yang tidak terlalu panjang. Sementara itu saya di sini menandaskan, bahwa untuk lancarnya pelaksanaan program ekonomi (antara lain sandang-pangan) maka perlulah kita benar-benar menyingkirkan beberapa penyakit. Di antara penyakit-penyakit itu, yang terpokok ialah terlalu parahnya penyakit Komunisto-phobi, kiri-phobi, Rakyat-phobi, buruh-phobi dan tani-phobi, yang masih ngendon di dalam hati dan kepala setengah alat-alat negara yang bersangkutan. Untuk menyebutkan beberapa contoh: Guna menaikkan produksi, maka sudah beberapa lama saya anjurkan untuk membentuk Dewan-dewan Perusahaan, di mana diikutsertakan wakil-wakil kaum buruh dan kaum tani dan wakil-wakil golongan-golongan Rakyat lainnya, tetapi sesudah sekian lama dan berulang-kali saya peringatkan, baru sekarang inilah mulai dibentuk, dan pembentukannyapun jalannya seperti keong, lambatnya bukan kepalang. Sudah berapa lama saya anjurkan, dan malahan sudah berapa lama lahir Undang-undangnya, supaya perjanjian Bagi Hasil yang agak menguntungkan kaum tani dan Landreform dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tetapi sampai sekarang belum dilaksanakan betul-betul sebagaimana mestinya. Semuanya ini jika diteliti sebab-sebabnya, akan terbukti bahwa yang menjadi penghalang ialah Komunisto-phobi, kiri-phobi, Rakyat-phobi, dan sebagainya! Si penderita penyakit ini takut membentuk Dewan-dewan Perusahaan, Dewan-dewan Produksi, demikian pula Dewan-dewan Distribusi dan Panitia Pembelian Padi, dan lain sebagainya, karena mereka tahu, bahwa jika ini dibentuk, maka akan berarti mengangkat dan mengikutsertakan wakil-wakil buruh atau tani, dan di antaranya terdapat orang-orang Komunis yang mereka takuti. Mengenai Landreform, misalnya, masih ada saja orang-orang yang suka menegas-negaskan bahwa Landreform Indonesia, adalah “bukan Landreform Komunis”, malah lebih daripada itu: mereka mencoba-coba mencocok-cocokkan Landreform Indonesia dengan “Landreform” di Taiwan atau di Vietnam Selatan! Dengan demikian, mereka bukannya mengurangi, tetapi malah mempertebal komunisto-phobi, sekurang-kurangnya mereka sendiri masih komunisto-phobi. Dengan demikian, masih tepat apa yang pernah saya katakan dalam Jarek, bahwa “masih ada saja orang-orang yang tidak bisa berfikir secara bebas apa yang baik bagi Rakyat Indonesia, dan apa keinginan Rakyat Indonesia, melainkan a priori telah benci dan menentang segala apa saja yang mereka sangka adalah kiri dan adalah “Komunis”.

 

Dalam Risalah “Mencapai Indonesia Merdeka” yang saya tulis 30 tahun yang lalu, pernah saya tulis: “Kita harus merdeka agar kita bisa leluasa bercancut-taliwanda menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme. Kita harus merdeka, agar supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat baru yang tiada kapitalisme dan imperialisme. Selama kita belum merdeka, selama kita belum bisa leluasa menggerakkan kita punya badan, kita punya tangan, kita punya kaki, selama kita dus masih terhalang di dalam kita punya gerak bangkit – tidak bisa “kiprah” sehebat-hebatnya, – selama itu kita tidak bisa habis-habisan-tenaga menghanjut stelsel kapitalisme dan imperialisme. Selama itu maka kapitalisme dan imperialisme akan tetap berkuasa sebagai yang mahasakti, bertakhta di atas singgasana kerezekian Indonesia, tidak bisa digugurkan daripada singgasana itu hingga mati menggigit debu …”

 

Jika sekarang ini di alam Indonesia Merdeka, bagian terbesar dari Rakyat, yaitu kaum buruh dan kaum tani, belum bisa berleluasa bercancut-taliwanda, masih terhalang dalam segala gerak-bangkitnya, sehingga tidak-bisa “kiprah” sehebat-hebatnya untuk secara habis-habisan menghanjut kaum imperialis dan kakitangan-kakitangannya di dalam negeri, maka semuanya ini adalah karena sebagian kita ini masih hidup seperti di alam kolonial, terutama belum lepas dari komunisto-phobi.

 

Masih terlalu banyak instruksi-instruksi dan tindakan-tindakan Presiden yang ditujukan untuk memobilisasi, mempersatukan dan mengikutsertakan kekuatan-kekuatan Rakyat yang revolusioner, tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, atau malahan diam-diam kadang-kadang “dijegal” atau “diserimpung” oleh alat-alat negara sendiri. Satu contoh saja misalnya mengenai pengerahan dan pemersatuan Rakyat melalui Front Nasional. Pekerjaan Front Nasional sekarang ini kadang-kadang digerowoti dan dipecah-belah oleh orang-orang yang masih menderita sesuatu phobi. Malahan masih ada satu daerah, yang di situ itu belum dapat dibentuk Front Nasional daerah, karena adanya orang-orang yang komunisto-phobi!

 

Tetapi sekali lagi saya katakan, saya tidak segan dan menundukkan kepala kalau Rakyat memarahi saya, dan saya akan terima kemarahan itu dengan tenang. Tetapi sebaliknya sayapun tidak segan untuk menudingkan jari saya kepada golongan-golongan yang selalu mencari keuntungan dari keadaan inflasi, atau dengan sengaja menjalankan subversi ekonomi untuk menyulit-nyulitkan dan menjegal-jegal segala gerak-gerik Republik atau pimpinan Republik. Kepada mereka itu saya berkata: Satu hari akan datang yang engkau melihat segala usahamu gagal. Dan mungkin satu hari akan datang, yang engkau harus menebus kejahatanmu itu di dalam penjara, atau di tiang penggantungan!

 

Saudara-saudara! Waktu tidak mengizinkan saya untuk membicarakan hal-hal lain yang penting-penting pula. Kepada para menteripun saya menyatakan penyesalan saya, bahwa tidak semua laporan mereka itu dapat saya masukkan dalam pidato ini. Tadi sudah saya katakan bahwa hari ini adalah hari Jum’at. Tapi haraplah Saudara-saudara tetap mendengarkan saya sampai habis. Tepat pada waktunya, Saudara-saudara boleh pulang.

 

Saudara-saudara! Saya sekarang tiba pada kata penutup.

Kata pembukaan, sebagai tadi Saudara dengarkan, menguraikan irama dari perjoangan kita di tahun yang lampau.

 

Kata penutup harus memberikan pedoman dalam menghadapi masalah-masalah di tahun yang akan datang.

 

Apakah pedoman ini?

Peganglah teguh-teguh dalam ingatan Saudara-saudara: Perjoangan kita atas dasar Manipol-USDEK dan RESOPIM sudah mulai membawa hasil yang menyenangkan. Lihatlah pada hasil-hasil besar daripada perjoangan kita itu yang sekarang sudah tertulis dengan bintang-bintang di angkasa, lihatlah hasil-hasil lain yang berupa stadion-stadion di dalam kalbunya Rakyat, lihatlah hasil-hasil lain besar-kecil yang Saudara dapat lihat dengan mata dan raba dengan tangan di kanan-kiri Saudara! Kewajiban kita ialah terus bersatu-padu dan terus bergotong-royong sambil memegang teguh Manipol-USDEK dan RESOPIM itu, dan memperluas dan memperdalam pelaksanaan Manipol-USDEK dan RESOPIM itu.

 

Mengenai ini saya memperingatkan kepada satu hal yang kita harus waspada: Yaitu, kepada adanya orang-orang yang dalam perkataan mengikuti Manipol-USDEK dan RESOPIM, akan tetapi dalam prakteknya bertentangan dengan Manipol-USDEK dan RESOPIM. Waspadalah terhadap orang-orang yang demikian itu! Waspadalah! Sebab jikalau tidak, maka nanti mudah tumbuh pengrongrongan Revolusi dari dalam.

 

Jagalah supaya Revolusi kita ini tetap murni dan segar! Lihat, ia sudah mulai mendatangkan hasil-hasil yang baik. Revolusi kita sekarang ini bukan lagi hanya mendatangkan kesulitan-kesulitan dan pengorbanan-pengorbanan belaka, ia juga sudah mulai mendatangkan kelezatan-kelezatan. Sifat “negatif”, sifat “destruksi”, sifat “menjebol” daripada Revolusi kita ini sekarang sudah mulai berkurang, – sifat “positif”, sifat “konstruksi”, sifat “membina” sudah mulai berkembang. Apa yang sudah ditanam dalam Revolusi kita ini, sekarang sudah mulailah berkembang atau berbuah. Boleh dikata, bahwa Revolusi kita sekarang ini sudah meningkat kepada taraf “tumbuh” sendiri, yaitu sudah meningkat kepada tingkat Selfsustaining growth atau selfpropelling growth, – bertumbuh sendiri atas dasar hasil Revolusi sendiri, laksana tanaman yang sudah “jadi”, tak perlu dirabuk-rabuk, tak perlu disiram-didangir setiap hari.

 

Dan hasil-hasil Revolusi kita ini tidak hanya kita saja yang merasakan lezatnya, seperti ternyata dalam “year of triumph” ini, tidak!, akan tetapi seluruh dunianya “new emerging forces”-pun mengakui konsolidasi dan kemajuan kita ini, dan mereka ikut kagum, dan mereka ikut gembira. Memang Revolusi kita adalah sebagian daripada Revolusi-dunia yang besar, sebagai sudah saya uraikan dalam salah satu pidato 17 Agustus beberapa tahun yang lalu. Revolusi Indonesia, kataku tempohari, adalah “congruent dengan social conscience of man”, “Kongruen dengan budi-nurani kemanusiaan”, dan sekarang nyata benar bahwa Revolusi Indonesia itu sungguh-sungguh mempunyai suara yang mengumandang keempat penjuru daripada dunia”, Revolusi Indonesia mempunyai Universal Voice, – Revolusi Indonesia mempunyai Suara Sejagad! Di mana-mana, di Kongo, di Aljazair, di Angola, di Mesir, di Afrika Baratdaya, di Cuba, di Amerika Latin yang lain, di negara-negara sosialis, – di mana-mana orang mendengarkan Suara Dengungnya Revolusi Indonesia, di mana-mana orang mendengarkan the Universal Voice daripada Revolusi Indonesia. Karena itulah maka Indonesia lah dipersilahkan oleh negara-negara Asia-Afrika untuk mengambil inisiatif mengadakan Konperensi Asia-Afrika yang kedua. Insya Allah, akhir tahun ini kita mengadakan Konperensi Asia-Afrika ke II, di Bandung lagi!

 

Dan bukan di kalangan ”new emerging forces” saja orang mengakui konsolidasi Revolusi kita itu. Di kalangan ”old establish forses”-pun orang mengakui konsolidasi dan kemajuan Revolusi kita itu, di kalangan ”old establish forces”-pun Revolusi kita ini sekarang sudah dipandang sebagai satu fenomen-dunia yang besar artinya, satu fenomen yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. ”The Indonesian Revolution has become a phenomenon of threatening issue”, demikianlah seorang penulis mereka pernah menulis beberapa bulan yang lalu.

 

Ya!, atas dasar Manipol-USDEK dan RESOPIM, maka Revolusi Indonesia sekarang sudah menaik kepada tingkat selfpropelling growth: Kita maju atas dasar kemajuan! Kita mekar atas dasar kemekaran! Kemajuan sudahlah mempunyai momentum sendiri, dan kewajiban kita ialah jangan sekali-kali melepaskan momentum itu.

 

Karena itu, hai Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, jangan lepaskan konsolidasi dan kemajuan ini, jangan meninggalkan dasar dan landasan daripada konsolidasi dan kemajuan ini yaitu Manipol-USDEK-Resopim, jangan kendor, jangan ragu-ragu, jangan mandek, berjalanlah terus atas dasar Landasan itu, untuk mendapatkan hasil-hasil yang lebih besar lagi.

 

Tahun 1962 adalah Tahun Kemenangan, setidak-tidaknya Tahun Permulaan Kemenangan. Merasalah bangga bahwa kita ini putera-putera Indonesia! Merasalah bangga, bahwa kita ini anggauta-anggauta Bangsa Indonesia!!

 

Kita tidak boleh sombong, tetapi kita mempunyai alasan-alasan dan dasar-dasar yang nyata untuk menghadapi masa-datang dengan penuh kepercayaan!

 

Gelagat-gelagat yang kita lihat sekarang ini ialah, bahwa Indonesia Pasti Jaya.

Kita selalu suka membayar beya. Kita pasti nanti basuki!

Sekian!

 

Terimakasih!