Tahun Berdikari (Takari)

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO

PADA ULANG TAHUN

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

 17 AGUSTUS 1945 DI JAKARTA

 

 

Saudara-saudara !

 

Camkanlah! Hari ini genap 20 tahan Proklamasi Kemerdekaan! Hari ini tepat 20 tahun kita menjadi bangsa merdeka! Hari ini jangkap 20 tahun sejak saya – Sukarno dan Hatta – atas nama Bangsa Indonesia memaklumkan Proklamasi suci 17 Agustus dengan mengucapkan satu pidato singkat yang kuakhiri dengan kata-kata: “Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah-air kita. Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia, – merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!”

 

Hari ini, detik ini, rasa hatiku luluh menjadi satu dengan hati Rakyatku, dengan hati Tanah-airku, dengan hati Revolusi. Fikiran dan perasaanku berpadu dengan fikiran dan perasaan semua saja yang mencintai dan membela Indonesia tanah tumpah darah kita, di kota-kota dan di desa-desa, di gunung-gunung dan di pantai-pantai, dari Sabang sampai Merauke, dari Banda Aceh sampai Sukarnapura, bahkan juga dengan Saudara-saudara kita sesama patriot yang kini menjalankan tugas di kelima-lima benua di bola-bumi ini! Hari ini, nama kita bukan Sukarno, bukan Subandrio, bukan Ali, bukan Idham, bukan Aidit, bukan Dadap, bukan Waru, bukan Suto, bukan Noyo, bukan Sarinah, bukan Fatimah, – hari ini nama kita Indonesia! Jabatan kita! Hari ini kita bukan Kepala Negara, bukan Menteri, bukan pegawai, bukan buruh, bukan petani, bukan nelayan, bukan mahasiswa, bukan seniman, bukan sarjana, bukan wartawan, – hari ini jabatan kita patriot! Gatutkaca Patriot! Urusan kita? Hari ini urusan kita – dan bukan hanya hari ini tetapi seterusnya … urusan kita bukan semata-mata politik, bukan melulu ekonomi, bukan hanya kebudayaan, bukan mligi ilmu, bukan militer thok, – urusan kita adalah kemerdekaan!

 

Sungguh kita diliputi rasa syukur ke hadirat Allah s.w.t., yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sekalian dan hari inipun kita memuja kebesaran-Nya. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar !

 

Saudara-saudara senasib-sepenanggungan,

Kawan-kawanku seperjoangan,

Kalau hari ini mongkok kita punya dada, dan kalau hari ini menetes kita punya air-mata, – janganlah merasa malu. Aku tidak merasa malu, aku bangga bahwa dada kita kembang – mekar – karena rasa cinta tanah-air yang tidak berbatas. Aku bangga bahwa kita memiliki air-mata patriotisme.

 

Dan kalau di dunia ini ada yang mencerca kita, mengejek kita, mentertawakan kita, biarlah mereka tahu – memang beginilah pejoang-pejoang untuk kemerdekaan nasional, memang beginilah kaum yang tidak hanya berani hidup tetapi juga berani mati untuk cita-cita yang paling suci di dunia ini, yaitu kemerdekaan dan kebebasan umat manusia.

 

Resapkanlah, endapkanlah, renungkanlah bahwa kita ini sudah 20 tahun merdeka! Apa artinya 20 tahun dalam sejarah? Tergantung, Saudara-saudara, tergantung dari peranan dan iuran kita kepada sejarah itu! Manakala kita melempem, manakala jiwa kita lembek, manakala kita menyerah sebagai obyek-sejarah dan tidak berusaha menjadi subyek-sejarah, maka jangankan 20 tahun, bahkan 200 tahun sekalipun tetapi 200 tahun yang melempem, 200 tahun itu akan lenyap dalam debu sejarah sebagai bukan apa-apa, ya, sebagai bukan apa-apa. Tetapi manakala kita berlawan, berjoang, menjebol dan membangun, mendestruksi dan mengkonstruksi, berfantasi dan berkreasi, manakala kita berjiwa elang rajawali dan bersemangat banteng, manakala kita pantas disebut pejoang sebagaimana 20 tahun ini kita membuktikannya, maka jangankan 20 tahun, 2 tahun saja pun tetapi 2 tahun yang dahsyat demikian itu, 2 tahun itu akan tercatat abadi dalam sejarah dan akan berlaku sebagai teladan.

 

Apakah 20 tahun yang di belakang punggung kita itu benar-benar telah kita jalani dengan pantas, dengan memadai ?

 

Dunia mengalami banyak revolusi. Di antaranya yang paling besar adalah revolusi Amerika, revolusi Perancis, revolusi Rusia. Revolusi-revolusi itu jauh lebih dahulu terjadi daripada revolusi kita, revolusi-revolusi itu mempunyai voorsprong daripada revolusi kita. Tetapi jikalau kita tengok hasil-hasil yang telah dibuahkan oleh revolusi Amerika, oleh revolusi Perancis, dan revolusi Rusia itu sampai dewasa ini, maka saya bukan hanya tidak malu dengan Revolusi Agustus 1945 kita, tetapi saya – dengan tidak ayal sedikitpun – berani mengatakan bahwa Revolusi kita memang hebat!

 

Kita yang bukan kapitalis tidak menganggap uang atau harta-kekayaan sebagai modal yang paling berharga. Bagi kita manusialah modal yang paling utama. Dan pada manusia, yang terpenting adalah kesedarannya. Kesedaran itupun bermacam-macam, dan di antara banyak kesedaran-kesedaran itu yang menentukan adalah kesedaran politik. Mengenai kesedaran politik ini, Rakyat Indonesia yang telah ditempa oleh palu-godam revolusi 20 tahun lamanya, sungguh patut dibanggakan. Rakyat Indonesia mujur tidak dididik dalam semangat borjuis “berusahalah menjadi milyuner, setiap orang bisa menjadi milyuner”. Rakyat Indonesia juga berbahagia tidak dididik dalam semangat oportunis “sayang Perang Dunia ke-2 dan perang melawan agresi kolonial 1947 dan 1948 memakan banyak korban, jangan peperangan datang kembali”.

 

Malahan kalau ditanyakan kepada Saudara-saudara bagaimana seandainya kita harus menjalani masa 20 tahun yang boleh kita pilih sendiri, maka saudara-saudara, jawab Saudara-saudara hendaknya: “Kalau kami boleh pilih jalan kami sendiri, kami akan jalani kembali 20 tahun seperti 20 tahun yang lewat ini”.

Demikianlah hendaknya semangat kita, ketetapan hati kita, tekad kita!

 

Adalah penyair yang masyhur, Alexander Blok, yang pernah menyanyikan:

Mereka yang dilahirkan di tahun-tahun kemacetan,

Tiada ingat akan jalannya sendiri.

Kita – putera-putera tahun keberanian …………

Tiada sesuatupun kita lupakan.

 

Ya, kita adalah putera-putera tahun-tahun keberanian. Kita malahan adalah putera-putera gelombang yang menderu-deru, kita adalah putera-putera prahara yang hebat-dahsyat! Kita bangsa gemblengan! Kita menggembleng diri kita sendiri, dan kita menggembleng zaman kita!

 

Dan bersama penyair lain yang tersohor, Wait Whitman, ingin saya memuja:

0, kehidupan …

gairahmu, denyut-nadimu, kebisaanmu

tak bisa ditundukkan.

 

Tiada manusia, tiada dewa, tiada setan, tiada iblis yang bisa menundukkan gairah kita, denyut-nadi kita, kebisaan kita, kemauan kita. Kita mau, maka itu kita bisa.

20 tahun yang lalu kita mau merdeka, maka itu kita bisa merdeka.

Sekarang kita mau mempertahankan kemerdekaan kita, maka itu kita bisa mempertahankan kemerdekaan kita!

 

Dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, kita telah jalani 20 tahun yang silam ini dengan pantas, dengan jitu. Apakah seterusnya kita akan hidup pantas dan jitu sebagai pejoang, inipun sepenuhnya tergantung dari kita sendiri. Perjoangan itu abadi. For a fighting nation there is no journey’s end.

 

Kita tidak akan berhenti di tengah jalan. Bukan saja karena sudah kepalang tanggung, tetapi karena tekad kita dan watak kita memang tidak kenal berhentinya perjoangan. Era jang, camah rek, kalau kita mandek! Mundur hancur, mandek amblek. Semboyan kita hanyalah satu: Maju terus, pantang mundur !

 

Hari ini saya ingin memberikan pertanggunganjawab kepada Rakyatku, kepada dunia, kepada Tuhan Seru sekalian alam, atas segala daya-upaya bangsa Indonesia dan aku sebagai salah seorang di antaranya, dalam masa sejarah 20 tabun ini. Karena aku sendiri tak pernah absen selama 20 tahun ini, karena aku adalah penyambung lidah Rakyat Indonesia yang pada tiap-tiap 17 Agustus menjurubicarai sikap dan pendirian Negara dan Rakyat Indonesia, maka biarlah aku cukup bagian-bagian dari pidato-pidato 17 Agustus-ku – 20 banyaknya, dari 1945 sampai 1964 – yang merupakan benang-merah yang menjelujur secara konsekwen.

 

1945 Dalam pidatoku 17 Agustus 1945 kukatakan :

”Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib-bangsa dan nasib-tanah-air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya”.

 

1946 Dalam pidatoku Sekali merdeka, tetap merdeka! kucetuskan semboyan :

“Kita cinta damai, tetapi kita lebih lagi cinta kemerdekaan”.

 

1947 Dalam pidatoku Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! kutegaskan :

“Kita tidak mau dimakan. Dus kita melawan! … Sesudah Belanda menggempur … mulailah ia dengan politiknya divide et impera, politiknya memecah-belah … maka kita bangsa Indonesia harus bersemboyan ‘bersatu dan berkuasa’.”

 

1948  Dalam pidatoku Seluruh Nusantara berjiwa Republik kunyatakan

“Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangunkan soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu. Hanya ketidakmerdekaanlah yang tidak memberi jalan untuk memecahkan soal-soal … Rumah kita dikepung, rumah kita hendak dihancurkan … Bersatulah!

Bhinneka Tunggal Ika. Kalau mau dipersatukan, tentulah bersatu pula !”

 

1949 Dalam pidatoku Tetaplah bersemangat elang-rajawali! kubilang :

“Kita belum hidup di dalam sinar bulan yang purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang-rajawali !”

 

1950 Dalam pidatoku Dari Sabang sampai Merauke! kugariskan :

”Janganlah mengira kita semua sudahlah cukup berjasa dengan turunnya si tiga-warna. Selama masih ada ratap-tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai! … Berjoanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat”.

 

1951  Dalam pidatoku Capailah tata-tenteram, kertaraharja! Kumaklumkan :

”Adakanlah koordinasi, adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepertingan-sendiri dan kepentingan-umum, dan janganlah kepentingan-sendiri itu dimenangkan di atas kepentingan-umum!”

 

1952 Dalam pidatoku Harapan dan Kenyataan! kuserukan :

“Kembali kepada jiwa proklamasi … kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa merdeka – nasional … kedua jiwa ikhlas … ketiga jiwa persatuan … keempat  jiwa  pembangun”.

 

1953  Dalam pidatoku Jadilah alat Sejarah! kutekankan pentingnya

”Bakat persatuan, bakat ’gotong-royong’ yang memang telah bersulur-berakar dalam jiwa Indonesia, ketambahan lagi daya-penyatu yang datang dari azas Pancasila”.

 

1954  Dalam pidatoku Berirama dengan kodrat! aku stress :

”Dengan ’Bhinneka Tunggal Ika’ dan Pancasila, kita, prinsipiil dan dengan perbuatan, berjoang terus melawan kolonialisme dan imperialisme di mana saja”.

 

1955  Dalam pidatoku Tetap terbanglah rajawali! kukemukakan

”Panca Dharma”: ”persatuan bangsa harus kita gembleng … tiap-tiap tenaga pemecah persatuan harus kita berantas … pembangunan di segala lapangan harus kita teruskan … perjoangan mengembalikan Irian Barat pada khususnya, perjoangan menyapu bersih tiap-tiap sisa imperialisme-kolonilalisme pada umumnya, harus kita lanjutkan … pemilihan umum harus kita selenggarakan” .

 

1956  Dalam pidatoku Berilah isi kepada hidupmu! kutegaskan :

”Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner. Jangan setengah-setengah, jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan … kita adalah satu ’fighting nation’ yang tidak mengenal ’journey’s end’.”

 

1957  Dalam pidatoku Satu tahun ketentuan! kukobar-kobarkan :

”Revolusi Indonesia benar-benar Revolusi Rakyat … Tujuan kita masyarakat adil dan makmur, masyarakat ’Rakyat untuk Rakyat’. Karakteristik segenap tindak-tanduk perjoangan kita harus tetap karakteristik Rakyat … demokrasi met leiderschap’, demokrasi terpimpin’ ”

 

1958  Dalam pidatoku Tahun tantangan! kusampaikan :

”Rakyat 1958 sekarang sudah lebih sedar … tidak lagi tak terang siapa kawan siapa lawan, tidak lagi tak terang siapa yang setia dan siapa pengkhianat … siapa pemimpin sejati, dan siapa pemimpin anteknya asing … siapa pemimpin pengabdi Rakyat dan siapa pemimpin gadungan … Dalam masa tantangan-tantangan seperti sekarang ini, lebih daripada di masa-masa yang lampau, kita harus menggembleng-kembali Persatuan … Persatuan adalah tuntutan sejarah”.

 

1959  Dalam pidatoku Penemuan kembali Revolusi kita! yang kemudian diperkuat oleh seluruh nasion dan disyahkan sebagai Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol) kurumuskanlah: ”tiga segi kerangka” Revolusi kita dan 5 ”persoalan-persoalan pokok Revolusi Indonesia” yaitu dasar/tujuan dan kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia; kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia, sifat Revolusi Indonesia, hari-depan Revolusi Indonesia, dan musuh-musuh Revolusi Indonesia.

 

1960  Dalam pidatoku Laksana malaekat yang menyerbu dari langit!, Jalannya revolusi kita (Jarek) kutandaskan: perlunya, mungkinnya dan dapatnya bersatu Nasionalisme, Agama dan Komunisme; harus satunya kata dan perbuatan bagi kaum yang betul-betul revolusioner; mutlak perlunya dilaksanakan landreform sebagai bagian mutlak Revolusi Indonesia; mutlak perlunya dibasmi segala phobi-phobian terutama Komunisto-phobi; perlunya dikonfrontasikan segenap kekuatan nasional terhadap kekuatan-kekuatan imperialis-kolonialis; dan keharusannya dijalankan revolusi dari atas dan dari bawah.

 

1961  Dalam pidatoku Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional! (Resopim) kuketengahkan: perlunya meresapkan adilnya Amanat Penderitaan Rakyat agar meresap pula tanggungjawab terhadapnya serta mustahilnya perjoangan besar kita berhasil tanpa Tritunggal: Revolusi, Ideologi nasional progresif, dan Pimpinan nasional.

 

1962  Dalam pidatoku Tahun Kemenangan! (Takem) kulancarkan: gagasan untuk memperhebat pekerjaan Front Nasional, untuk menumpas perongrongan revolusi dari dalam, dan bahwa revolusi kita itu mengalami satu “selfpropelling growth” – “maju atas dasar kemajuan dan mekar atas dasar kemekaran”.

 

1963  Dalam pidatoku Genta Suara Revolusi Indonesia! (Gesuri) kulantunkan peringatan bahwa “tiada Revolusi kalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus” dan “kalau ia tidak merupakan satu disiplin yang hidup”, bahwa diperlukan “puluhan ribu kader di segala lapangan”, bahwa Dekon harus dilaksanakan dan tidak boleh diselewengkan karena “Dekon adalah Manipol-nya ekonomi”, bahwa abad kita ini “abad nefo” dan saya mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan Conefo; dan akhirnya:

 

1964  Dalam pidatoku yang terkenal, Tahun Vivere Pericoloso! (Tavip), kuformulasikan: ” 6 hukum Revolusi ”, yaitu bahwa Revolusi harus mengambil sikap tepat terhadap kawan dan lawan, harus dijalankan dari atas dan dari bawah, bahwa destruksi dan konstruksi harus dijalankan sekaligus, bahwa tahap pertama harus dirampungkan dulu kemudian tahap kedua, babwa harus setia kepada Program Revolusi sendiri yaitu Manipol, dan bahwa harus punya sokoguru, punya pimpinan yang tepat dan kader-kader yang tepat; juga kuformulasikan Trisakti :

berdaulat dalam politik,

 berdikari dalam ekonomi dan

 berkepribadian dalam kebudayaan.

 

Saudara-saudara setanah-air dan sebangsa.

Kawan-kawanku secita-cita,

Dari semuanya ini jelas, ya, dari pengalaman langsung kita selama 20 tahun ini jelas, bahwa Revolusi kita terus-menerus maju, terus-menerus meningkat. Majunya sudah barang tentu bukan maju dengan gampang, meningkatnya sudah barang tentu bukan meningkat tanpa korbanan. Scgala kepahitan dan kesakitan yang ada di dunia ini sudah kita alami. Pukulan-pukulan, gempuran-gempuran, kesalahan-kesalahan, kekalahan-kekalahan, korbanan nyawa – semua sudah kita alami. Kita malahan mengucapkan syukur Alhamdulillah bahwa kita telah mengalami segalanya itu. Sebab jika tidak, sudah pasti kita ini akan menjadi bangsa yang biasa kusebut bangsa … kintel atau bangsa-tuyul, bangsa yang barangkali suka hidup tetapi takut kepada kesukaran hidup, bangsa yang cuma mau enak saja, yang nerimo makan enak, sekalipun makanannya itu dicekoki oleh orang lain. Tidak! Syukur Alhamdulillah, kita ini bukan bangsa yang demikian itu! Kita bukan semacam rumput, – kita beringin! Kita bukan kambing – kita garuda, kita banteng! Berkat jerih-payah kita selama 20 tahun ini, berkat penderitaan yang saudara-saudara semua alami selama 20 tahun ini, maka kita sekarang bukan bangsa yang dalam tata-hidup internasional tidak-masuk-buku. Kita sekarang bangsa yang dihormati oleh kawan-kawan kita dan disegani oleh lawan-lawan kita. Kita sekarang bukan hanya bangsa yang diperhitungkan, tetapi sangat diperhitungkan. Lihatlah betapa pers imperialis kehilangan-kepala menghadapi kita dan betapa segala kata-kata kotor masuk ke halaman-halaman suratkabar-suratkabar itu jika membicarakan kita. Tetapi lihatlah pula betapa pers sahabat-sahabat kita meng-apresiasi perjoangan kita dan hasil-hasil kita. Ini bukti, bahwa kita berada di jalan yang benar!

 

Dari mimbar ini biarlah saya berseru kepada pers imperialis supaya kampanyenya yang anti-Indonesia itu jangan dihentikan, sebab kampanye itu menguntungkan kita dan membantu kita! Kepada pers negara-negara sahabat yang benar-benar bersahabat dengan kita, saya mengucapkan terimakasih atas segala kata-kata baik mereka, yang mendorong kita dan memberi inspirasi kepada kita. Saya harap, sahabat-sahabat itu tidak segan-segan mengkritik Republik Indonesia jika mereka melihat kekurangan-kekurangan Indonesia.

 

Pada hari raya dwi-dasawarsa Proklamasi Kemerdekaan ini, Republik kita menerima ribuan kawat dan surat dari luar negeri maupun dalam negeri.

 

Yang dari luar negeri itu datang praktis dari seluruh peloksok dunia. Dari mimbar ini sayapun ingin menyampaikan terimakasih Republik dan Rakyat Indonesia, terimakasih Pemerintah Republik Indonesia dan saya pribadi atas segala pernyataan simpati yang benar-benar mengilhami kita ini. Seperti halnya 20 tahun yang silam ini, juga di waktu-waktu yang akan datang Republik Indonesia tidak akan gagal memenuhi tugas-tugas internasionalnya – menyokong secara prinsipiil dan dengan segala-sesuatu yang mungkin kami berikan tepada setiap perjoangan kemerdekaan, di manapun dan oleh siapapun perjoangan ini dilakukan. Sebab, dengan menyokong perjoangan-perjoangan itu sesungguhnya Republik Indonesia menyokong dirinya sendiri, urusannya sendiri, cita-cita kemerdekaannya sendiri.

 

Hari ini hadir di tengah-tengah kita, kawan-kawan seperjoangan kita dari berbagai negeri. Mereka duduk di kanan-kiri saya. Hadir di sini exponen-exponen dari Afrika revolusioner; dari Amerika Latin revolusioner; dari Asia revolusioner; hadir pula di sini wakil-wakil dari Eropa. Mari kita ucapkan terimakasih dan salut kita kepada mereka!

 

Saudara-saudara sekalian,

Saya mau mengajak saudara-saudara hari ini untuk berfikir dalam ukuran yang lebih luas, berfikir dengan sayap-sayap-fikiran yang lebih lebar.

Ketika dasawarsa pertama Republik kita, saya mengundang Saudara-saudara untuk memikirkan apa-apa yang akan kita hadapi dalam dasawarsa yang mendatang. Kali ini saya mau mengajak saudara-saudara untuk memikirkan – sekurang-kurangnya soal-soal yang kita hadapi dalam 20 tahun yang akan datang.

Ulang-tahun ke-20 Hari Kemerdekaan ini benar-benar satu mylpaal, satu tonggak historis dalam perjalanan kita sebagai bangsa-negara.

 

Bagaimana hal ini mungkin? Sebabnya, Saudara-saudara, karena pada hari-hari Agustus 1945 kita bangsa Indonesia tahu menangkap kans, berani menangkap kans, dan pandai menggunakan momentum itu. Seandainya pada waktu itu kita percaya kepada Sekutu atau kepada janji-janji Jepang, maka rasanya kita tidak akan pernah merdeka! Bukankah aku di dalam Lahirnya Pancasila sudah mengatakan jangan kita njelimet, karena kalau kita njelimet kita tidak akan pernah merdeka? Bukankah di dalam pidatoku itu aku mengibaratkan penentuan kemerdekaan itu layaknya seperti mengambil keputusan perkawinan bahwa jangan menunggu gedung, menunggu permadani, menunggu tempat tidur yang mentul-mentul, menunggu meja-kursi yang selengkap-lengkapnya, menunggu sendok-garpu perak satu kaset, dan menunggu punya kinder-uitzet dulu baru mau kawin, melainkan aku katakan ketika itu, orang sudah bisa kawin dengan satu gubuk, satu tikar dan satu periuk? Bukankah aku juga katakan ketika itu bahwa ketika memutuskan Revolusi Oktober Lenin boleh dibilang tidak punya apa-apa, tidak punya Jnepprprostoff, tidak punya station radio, tidak punya kereta-api, tidak punya creches?

 

Ya, Saudara-saudara, ketika itu bukan saja ramalanku tentang Perang Pasifik sudah menjadi kenyataan, tetapi malahan ramalanku tentang anaknya Perang Pasifik itu, jaitu Indonesia Merdeka sudah mendapatkan syarat-syarat dan kondisi-kondisi. Kita bukan bangsa yang cuma berani berjoang tetapi takut menang, tidak! Kita berani berjoang dan kita juga berani menang! Maka dari itu setelah mengadakan persiapan-persiapan seperlunya dengan mendapatkan bantuan yang sangat berharga dari gerakan-gerakan massa, terutama gerakan-gerakan pemuda revolusioner ketika itu, sayapun pada pertengahan bulan Agustus 1945 itu dengan tidak ragu-ragu memutuskan untuk menyatakan atas-nama bangsa Indonesia – kemerdekaan Indonesia.

 

Di Eropa Timur pada waktu itu, berkat perjoangan kaum partisan negeri-negeri Eropa Timur dan berkat bantuan aktif Tentara Merah Uni Sovyet sejumlah negeri melepaskan diri dari ikatan imperialisme dan mendirikan negara-negara merdeka yang mereka namakan Demokrasi Rakjat. Tetapi di Asia, Indonesia, termasuk negeri yang paling pertama melemparkan belenggu imperialisme ke dalam lautannya sejarah dan yang menegakkan satu Republik yang – seperti tercantum di dalam Mukadimah Undang-undang Dasar 1945 kita – azasnya “merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur” dan yang berdasar kepada Pancasila. Sekitar waktu itu beraksi pula kawan-kawan kita dari Vietnam dan Korea – Vietnamnya Ho Chi Minh dan Koreanya Kim Il Sung. Ke mana saja rentetan revolusi-revolusi di Asia itu menggoncangkan bukan saja Pasifik dan Asia, tetapi bahkan menggoncangkan seluruh dunia. Oleh sebab itu, Saudara-saudara, kalau sekarang kita membina satu poros anti-imperialis yaitu poros Jakarta – Pnompenh – Hanoi – Peking – Pyongyang, janganlah dikira bahwa poros ini poros bikin-bikinan, tidak! – poros ini poros yang paling wajar, yang dibentuk oleh jalannya sejarah itu sendiri!

 

Republik Indonesia sendiri mengalami gelombang-pasang – gelombang surut, gelombang-naik – gelombang turun. Tetapi arus-pokok daripada Republik Indonesia itu adalah arus pasang, arus naik, arus maju, arus ofensif, arus kemenangan!

 

Ada saat-saat, yang karena kita kurang waspada terhadap jarum-perpecahan yang ditusukkan oleh kaum imperialis dan kaum reaksioner di dalam negeri, hampir-hampir saja Republik kita tertimpa bencana kehancuran.

 

Pedih hatiku pada saat-saat yang begitu itu, karena jika Republik dirobek-robek, hatikupun rasanya dirobek-robek! Tetapi dengan pedih-hati atau pilu-hati saja orang tidak mungkin memecahkan soal-soal. Maka dari itu, pada saat-saat yang demikian itu selalu aku prihatin, selalu kupelajari sebab-sebab dan masalah-masalahnya dengan teliti dengan bimbingan arah-orientasi yang tepat, dan manakala syarat-syaratnya sudah tersedia, selalu aku mengambil keputusan, ya, selalu aku bertindak, bertindak, sekali lagi bertindak. Sebab, pada instansi yang terakhir, nasib-sejarah sesuatu bangsa itu ditentukan oleh tindakan-tindakan yang tepat yang diambil pada saat-saat yang tepat. Di sinilah dituntut kepemimpinan kita, kenegarawanan kita! Yang sudah jelas, Saudara-saudara, segala keputusan dan tindakan itu harus selalu kita ambil dengan hati yang teguh laksana gunung karang!

 

Di waktu kita mengagungkan Revolusi Agustus sekarang ini, yang paling penting adalah untuk menarik pelajaran yang perlu-perlu dari segala pengalaman kita 20 tahun yang manis maupun yang pahit. Benar sekali pemimpin-pemimpin yang mengatakan bahwa praktek adalah ibu segala teori, bahwa pengalaman itu guru yang paling bijaksana. Bahkan, aku sendiri selalu mengatakan bahwa kegagalan itu ibunya sukses, dan kekalahan itu ibunya kemenangan. Ambillah misalnya pengalaman berunding dengan kaum penjajah.

 

Kita tahu dari sejarah, bahwa Diponegoro yang tidak bisa ditundukkan di medan pertempuran, akhirnya dijebak ke ruang perundingan. Tetapi pengalaman Diponegoro itu buat kita merupakan pengalaman tidak-langsung, sedang selamanya pengalaman tidak-langsung itu tidak mungkin meresap seperti halnya pengalaman yang langsung. Seandainya kita tidak pernah membikin kesalahan di atas bukit Linggarjati dan di atas kapal Renville, barangkali kita juga masih naif dalam berunding dengan kaum imperialis. Karena kita belajar dari pengalaman itulah maka kita sekarang tidak naif. Sehingga, di waktu utusan Pemerintah Amerika Serikat, tuan Ellsworth Bunker datang kemari, maka dalam persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat, maka “Peace Corps” Amerika diputuskan mundur! Ini merupakan peningkatan kedewasaan kita dalam menghadapi imperialisme!

 

Semuanya ini membuat kita juga mengerti, saudara-saudara, mengapa Republik Demokrasi Vietnam tidak sudi berunding dengan Amerika Serikat yang terus saja main bom dan main roket, pendeknya, terus saja main agresi. Perginya Perancis dari Indocina bukannya ditentukan di Fauntainebleau, tetapi di Dien Bien Phu!

Seperti bebasnya Irian Barat tempo hari – selalu ini aku katakan – tidak ditentukan di London atau di Moskow, di Washington atau di P.B.B., tetapi  di rimba-rimba di Irian Barat sendiri!

Begitulah, setiap pengalaman itu berguna dan berharga, asal dia dipelajari dan disimpulkan!

 

Marilah pada saat-saat yang hahagia ini kita belajar sebanyak-banyaknya dari Agustus yang agung, belajar sendiri-sendiri maupun belajar bersama-sama. Sekarangpun pelajaran yang bisa kita timba dari pengalaman 20 tahun ini luar biasa banyaknya, luar biasa! Dan dengan pasti aku bisa mengatakan bahwa pelajaran itu tidak akan kunjung habis! Kelak, Saudara-saudara, manakala kita sudah lebih jauh terjarak dari masa-sejarah sekarang ini, pelajaran yang bisa dan yang akan ditimba orang akan lebih banyak lagi. Ahli-ahli sejarah, sarjana-sarjana lain, politikus-politikus, sastrawan-sastrawan, seniman-seniman, jurnalis-jumalis, semuanya kelak akan mempelajari sejarah kita, zaman kita, revolusi kita. Dan dengan menggeleng-gelengkan kepala mungkin mereka akan berkata dengan takjub:

“Hebat! Hebat! Bagaimana mungkin, dalam masa sependek itu bisa ditunaikan hal-hal sebesar itu!”

 

 Sedarilah, insyafilah wahai Saudara-saudara sekalian, bahwa engkau, dan engkau, dan engkau, dan engkau – semuanya dan masing-masing, ambil bagian dalam proses sejarah yang besar ini. Seperti berkali-kali aku peringatkan, janganlah ada di antara kalian yang berfikiran “Ah, aku toh cuma satu orang; tanpa aku perjoangan juga berjalan”, lalu orang itu lebih suka thenguk-thenguk dan ongkang-ongkang. Revolusi kita ini begitu maha-dahsyatnya, sehingga tidak ada satu keluarga pun, tidak ada satu makhluk pun yang tidak tersangkut di dalamnya. Atau orang memihak revolusi dan ikut ber-revolusi, atau orang menolak revolusi dan ikut menentang revolusi! Yang netral tidak ada, dan tidak mungkin ada!

 

Duapuluh tahun, duapuluh tahun merdeka! Duapuluh tahun itu bukan masa sembarangan, Saudara-saudara! Duapuluh tahun yang bagaimana! Kalau direnung-renungkan, bahwa dalam periode 20 tahun itu kita berhasil menegakkan satu Republik kesatuan yang sentausa dengan sarana-sarananya – termasuk Angkatan Bersenjata – yang kuat, kita berhasil mengalahkan agresi-agresi imperialis dan berbagai-bagai kontra-revolusi, memulihkan keutuhan wilayah, dan yang amat-sangat pentingnya menggugah kesedaran Rakyat sehingga Rakyat kita menjadi Rakyat gemblengan seperti sekarang ini, yaitu : Rakyat yang bersatu dan mengembangkan persatuan, Rakyat yang berjoang dan mengembangkan perjoangan – maka kadang-kadang aku sendiripun keheran-heranan bagaimana segalanya ini menjadi mungkin dan bagaimana aku sendiri bisa memberikan pimpinan yang dikehendaki! Tetapi, Saudara-saudara: seperti berulang-kali kutunjukkan, sejarah itu mempunyai hukum-hukumnya yang obyektif. Seandainya kita pemimpin-pemimpin Republik Indonesia yang sekarang ini gagal, karena kita buta akan hukum-hukum obyektif sejarah itu, belum tentu sejarah akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang lain bagi bangsa Indonesia. Tetapi karena kita memahami hukum-hukum obyektif sejarah itu, dan karena kita setia berjalan di atasnya hukum-hukum obyektif itu, maka kita bisa menjalankan tugas-tugas raksasa yang dipikulkan oleh sejarah ke atas pundak kita. Kita, malahan asal kita setia kepada hukum sejarah dan asal kita bersama dan memiliki tekad baja, kita bisa memindahkan gunung Semeru atau gunung Kinibalu sekalipun!

 

Hari ini kita berhimpun di depan Istana Merdeka di bawah Tugu Nasional yang megah dan di hadapan Patung Pahlawan Diponegoro yang gagah, disaksikan oleh matahari yang riang-gembira dan bermilyar-milyar mata sahabat-sahabat yang penuh simpati dari segala penjuru angin. Untuk apa?

 

Untuk mengadakan perhitungan, afrekening dengan masa-silam kita. Sebab, selalu satu bangsa itu berdiri di tengah-tengahnya masa-silam dan masa depan. Bilamana bangsa itu tidak tiap-tiap kali mengadakan perhitungan dengan masa-silamnya, bilamana bangsa itu tidak bertekad menumpas segala yang negatif dan mengembangkan segala yang positif dari masa-silamnya, maka bangsa itu tidak akan mungkin membina, membimbing, membangun masa depannya.

 

Kita mengadakan pertanggunganjawab, kita mengadakan perhitungan, kataku, karena sesungguhnya sebagai satu nasion yang berjoang kita ini sudah mengalami kristalisasi. Seperti gadis penampi, sejarah telah memisah-misahkan, telah memilah-milahkan emas dari loyang, sari dari ampas.

 

Pertanggunganjawab ini bahkan tidak hanya kupersembahkan kepada bangsaku yang menjadi junjunganku, tetapi juga kepada semua comrade-in-arms kita di luar negeri, kepada seluruh kekuatan Nefo di dunia, sebagai bahan konsultasi. Karena akhirnya, antara revolusi Indonesia dan revolusi-revolusi mereka juga harus diadakan suatu dialog, agar bersama-sama kita bisa menyempurnakan kita punya serangan-serangan, kita punya serbuan-serbuan ke benteng-benteng nekolim. Siapa saja boleh memberikan evaluasi, boleh memberikan penilaian terhadap hasil-hasil revolusi Indonesia. Juga lawan-lawan kita dan juga kalau penilaian mereka itu seburuk-buruknya, penilaian itu akan welkom bagi kita, karena ini akan merupakan bahan konfrontasi antara fikiran-fikiran lapuk dunia-lama dan fikiran-fikiran segar dunia-baru.

 

Berkali-kali kukatakan bahwa abad ke-XX ini abad berakhirnya imperialisme dunia. Sudah terlalu lama “pax imperialistica” menindas-menghisap-memperbudak kita, dan genta sejarah sudah berdenting bahwa saatnya penyusunan Pax Humanica telah tiba! Pax Humanica! Damai antara semua manusia! Selamat-tinggal “pax imperialistica”. Selamat-tinggal buat selama-lamanya! Selamat-datang Pax Humanica, selamat-datang buat selama-lamanya pula.

 

Di depan Sidang M.P.R.S. sudah menunjukkan hukum dialektika yang akan membalikkan “garis hidup” imperialisme menjadi garis – mati imperialisme itu.

Karl Marx benar sekali ketika meramalkan bahwa proletariat, “anak-kandung” kapitalisme itu, akan menjadi penggali liang-kuburnya.

 

Sekarang kita semua, ya proletariat, ya kaum tani, ya kaum tertindas lainnya, kaumyang kunamakan kaum Marhaen, dan semua nasion-nasion tertindas di dunia ini,bersama-sama dan serempak menjadi penggali liang kuburnya imperialisme.

Tidak ada kehormatan yang lebih besar daripada ini.

 

Saudara-saudara !

Sesudah delik-detik Proklamasi 20 tahun yang lalu, belum pernah aku bangga seperti hari ini, belum pernah aku terharu begitu intens seperti hari ini! Lihatlah mata Rakyat Indonesia itu – sinarnya lebih cermerlang daripada matahari! Lihatlah tekad Rakyat Indonesia itu – teguhnya lebih perkasa daripada baja!

 

Hai imperialis, Rakyat Indonesia tidak mungkin kau kalahkan lagi, tidak mungkin! Kalau hanya Rakyat kita tidak mungkin dikalahkan lagi, aku sudah akan besar-hati sekali. Tetapi ini bukan hanya itu! Rakyat kita akan mengalahkan imperialis! Rakyat kita akan menang !

 

Ya, hai imperialis, kami akan menang !

Kesalahan kaum imperialis dan kaum reaksioner umumnya adalah, bahwa mereka meremehkan Rakyat yang jembel, meremehkan Rakyat jelata. Malahan ada di antara pemimpin-pemimpin Indonesia yang baru merasa krasan kalau berada di tengah-tengahnya ndoro-den-ayu-ndoro-den-ayu dan raden-mas-raden-mas atau berada di antara direktur-direktur yang kapitalis-birokrat, atau di antara tuan-tanah-tuan-tanah atau lintah-darat-lintah-darat. Memang ada pemimpin revolusioner dan ada pemimpin reaksioner, ada pemimpin sejati dan ada pemimpin gadungan !

 

Bukan salahnya Rakyat kalau kaum imperialis babak-belur menghadapi Rakyat, bukan salahnya Rakyat kalau kaum imperialis babak-bundas di Indonesia, di Vietnam, di Konggo, di Dominika, dan di mana-mana. Sebab mereka selalu mengukur Rakyat itu dengan ukuran kolonial, dengan ukuran poundsterling atau dollar. Mereka, seperti rentenir, menghitung-hitung di Asia Tenggara ada berapa juta Rakyat, di Timur Tengah ada berapa juta Rakyat, di Afrika ada berapa juta Rakyat, di Amecrika Latin ada berapa juta Rakyat, di Oseania ada berapa juta Rakyat. “Kasih mereka sekian juta dollar, habis perkara”. Mereka tidak tahu, bahwa kalau ada mata-uang yang paling merosot nilainya sekarang ini mata-uang itu adalah justru pound-sterling dan dollar!

 

Barangkali ada yang tidak percaya akan apa yang aku katakan? Tengoklah  di zaman “Plan Marshall” untuk 100 juta Rakyat Eropa Timur dikeluarkan 100 juta dollar untuk subversi. Tapi sekarang, untuk mensubversi 200 juta Rakyat Asia Tenggara dikeluarkan 1.000 juta dollar. Artinya, paling sedikit dollar itu sudah merosot 5 kali! Toh dollar itu tidak menghasilkan simpati dan persahabatan terhadap Amerika Serikat, sebaliknya, dollar itu seperti memancing antipati dan permusuhan dari Rakyat-rakyat Asia Tenggara.

 

Ataukah barangkali orang Asia lebih mahal daripada orang Eropa?

Selama kita teguh dalam menegakkan kemerdekaan nasional kita, dan selama di dunia ini ada yang bernama imperialisme, maka selama itu kita harus siap menghadapi subversi, intervensi dan agresi kaum imperialis. Sebab, tidak akan pernah kaum imperialis itu memperkenankan kemerdekaan tipe Sukarno, kemerdekaan tipe Sihanouk, kemerdekaan tipe Mao Tse-tung, ataupun kemerdekaan tipe Boumedienne, tipe Hafez, tipe Nasser, tipe Toure, tipe Keita, tipe Nkrumah, tipe Nyerere. Mereka paling-paling memperkenankan, malahan merestui “kemerdekaan tipe Tjiang Kai-Sek, tipe Pak Jung Hi, tipe Ky, tipe Tsombe, tipe Tengku Abdulrakhman. Tetapi ada baiknya bahwa kaum imperialis menjagoi jagoan-jagoan seperti Tjiang Kai-Sek dan lain-lain itu, sebab anasir-anasir itu anasir-anasir yang paling korup di dunia ini, sehingga bantuan dollar berapa saja banyaknya mereka sikat sendiri dan tidak ada atau sedikit sekali yang mereka pakai untuk melawan revolusi. Ya, Saudara-saudara, boneka-boneka imperialis pun menguntungkan kepada kita!

 

Kitapun, Saudara-saudara, kitapun jangan memakai ukuran salah untuk revolusi kita sendiri. Revolusi hanya bisa diukur dengan ukuran revolusi!

Revolusi tidak bisa diukur dengan ukuran text-books, sekalipun yang ditulis oleh profesor-profesor botak di Oxford, di Cornell atau di mana saja. Rupanya aku masih perlu menandas-nandaskan hal ini, karena masih ada saja yang menganggap text-books imperialis itu sebagai standard fikiran yang dikeramatkan, sacrosanct yang tidak boleh diganggu-gugat ………

Apakah “mission sacree” atau “white man’s burden” kaum imperialis itu “Hukum Illahi”? Kira-kira, dong bung! Meleklah, hai, kaum yang tersesat!

 

Bagaimana mengukur sesuatu revolusi dengan ukuran-ukuran revolusi? Segala-sesuatu hendaknya diamati untuk kesejahteraan umum, ya atau tidak?  Pro bono publico – ini adalah semboyan kita. Untuk kesejahteraan umum! Sekalipun ada yang secara pribadi dirugikan, sekalipun ada yang laba perusahaannya berkurang, tapi asal pro bono publico, maka ia harus diterima. Sebaliknya, walaupun ada yang tambah mobil, tambah bungalow, tambah koelkast, tambah air-conditioner, walaupun ada yang bisa menyekolahkan anaknya ke Eropa atau ke “jabalkat” sekalipun, tapi jika tidak pro bono publico, maka ia harus ditolak. Kecuali – kecuali, kataku – jika orang sudah menjadi orang asing di tanah air sendiri, atau sudah menjadi orang pribumi di negeri asing! Ya, kecuali jika orang sudah cidera, sudah durhaka, sudah khianat terhadap urusan revolusi!

 

Lihatlah kepada kaum buruh dan kaum tani, sokoguru-sokoguru revolusi kita itu! Mereka memang pantas, worthwhile, tepat kusebut sokoguru revolusi!

Mereka bekerja, mereka menghasilkan, mereka berproduksi, tanpa mengeluh dan tanpa banyak cingcong. Mereka mempunyai tuntutan-tuntutan mereka, tetapi tuntutan-tuntutan itu biasanya masuk-akal. Kalau kaum buruh ingin supaya upahnya bisa untuk membeli buku-sekolah untuk anaknya, apakah itu tidak masuk-akal? Kalau kaum tani menghasratkan tanah, “senyari bumi”, apakah itu tidak masuk-akal? Aku teringat kepada seniman-seniman ludruk yang mengatakan “Ya kalau punya pacul tapi ndak punya tanah, ke mana pacul itu mesti dipaculkan!” Tetapi ada di antara kita ini yang ndoro-ndoro, yang main tuan-besar, yang mengira dirinya eigenaar revolusi atau presdir Republik, lalu maunya bukan dia berkorban buat Republik, tapi Republik berkorban buat dirinya! … Orang-orang semacam ini, parvenu-parvenu, charlatan-charlatan, profitor-profitor macam ini ada baiknya kita promovir menjadi penghuni Nusakambangan!

 

Saya selalu mengatakan bahwa perjoangan kelas harus ditundukkan kepada perjoangan nasional. Dan aku gembira bahwa jeritanku ini difahami oleh sebagian sangat terbesar dari Rakyatku. Tetapi aku mau peringatkan kalau koruptor-koruptor dan pencoleng-pencoleng kekayaan negara meneruskan “operasi” mereka yang sesungguhnya anti-Republik dan anti-Rakyat itu, maka jangan kaget jika satu waktu perjoangan antar-golongan berkobar dan membakari kemewahan hidup kaum koruptor dan poncoleng itu!

 

Revolusi kita sekarang sudah tidak dalam taraf percobaan, sudah tidak dalam tarat eksperimen. Kita tidak boleh main eksperimen atau main coba-coba lagi. Ibaratnya kesebelasan sepakbola, tidak boleh kita memasang pemain-pemain yang belum “jadi”, yang belum matang. Revolusi kita sudah menemukan vormnya, dan taraf ini meletakkan pada kita syarat-syarat baru, tuntutan-tuntutan baru, ukuran-ukuran baru.

 

Mereka yang kemarin progresif, hari ini mungkin menjadi retrogresif; yang kemarin revolusioner, hari ini mungkin menjadi kontra-revolusioner, yang kemarin radikal, hari ini mungkin menjadi melempem. Maka itu, Saudara-saudara, janganlah di antara kita ada yang mengagul-agulkan jasa-jasa di waktu lampau saja. Ik walg van al die oude koek! Aku muak! Biar engkau dulu jenderal-petak di tahun 1945, tetapi kalau sekarang memecah persatuan nasional revolusioner, kalau sekarang mengacaukan front Nasakom, kalau sekarang memusuhi sokoguru-sokoguru revo1usi, engkau menjadi tenaga reaksi! Sebaliknya, biar engkau dulu bukan apa-apa, ya, biar sekarang engkau bukan apa-apa, tetapi setia kepada revolusi, engkau tenaga revolusioner! Tenaga-tenaga macam inilah, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, tinggi maupun rendah, tenaga-tenaga revolusioner macam inilah yang tanpa kecualinya ku ”samenbundelen”, kugabungkan menjadi satu, agar menjadi satu tenaga raksasa, “kadya prahara angguncang samodra”!

 

Sejak matinya Roosevelt, Stalin dan Churchill, dunia kita sedikit sekali mengenal pemimpin-pemimpin besar. Dulu, di waktu-mudaku, ketika aku mulai membasuhkan diriku ke dalam gerakan kemerdekaan, kukenal nama-nama yang besar-besar. Tetapi banyak di antara mereka itu yang kini tidak terkenal lagi, sebagian karena wafat terlalu cepat, sebagian lagi karena tidak setia kepada jalan revolusioner yang sekali pernah mereka pilih sendiri. Kesetiaan kepada jalan revolusioner adalah syarat pertama bagi seseorang untuk bisa terus di dalam gerakan dan untuk memainkan peranan tertentu di dalam gerakan itu.

 

Revolusi itu selalu mempunyai alat-alat materiil dan alat-alat spirituil sekaligus. Alat-alat materiil itu ada yang sederhana dan ada yang modern, yang up-to-date menurut perkembangan ilmu sekarang. Aku tahu, tiap-tiap kali aku sebagai Panglima Tertinggi ABRI mempermodern persenjataan keempat-empat Angkatan Bersenjata kita, atau jika Republik Indonesia membuka lin penerbangan ke jagad luar atau mempermodern alat-alat RRI dan TVRI kita, pers imperialis selalu mengejek aku dengan menulis bahwa aku membangun – demikian kata mereka – “proyek-proyek prestise”. Ini adalah pembadutan jurnalistik dan pembadutan politik sekaligus yang amat jenaka!

 

Kaum imperialis yang memang masih punya dollar dan punya bom nuklir dan lain-lain, tapi sudah tidak punya prestise lagi itu, ho ho kaum imperialis itu membicarakan prestise kita !! Monumen Nasional juga “proyek prestise”? Jalan Trans-Sumatera juga “proyek prestise”? Terimalah, wahai Rakyat di Sumatera “proyek prestise” ini dengan tangan dan hati terbuka, sebab memang prestise Sumatera akan naik karenanya! Dan catatlah, wahai wakil-wakil pers Barat, bahwa aku Insya Allah akan membikin pula proyek-proyek besar lainnya di Kalimantan, di Sulawesi, di Maluku, di Nusa Tenggara, di Irian Barat!

 

Republik Indonesia sudah memberantas butahuruf – ini juga “proyek prestise”? Republik Indonesia memecahkan masalah kesehatan, masalah pendidikan, masalah pangan, dan lain-lain tanpa P.B.B. – ini juga “proyek prestise”? Republik Indonesia sudah meluncur-kan roket ionosfirnya – ini juga “proyek prestise”? Prestise apa dan siapa? Ya, prestise kemerdekaan dan prestise Rakyat kita yang merdeka! Dan kemerdekaan ini akan kita bela mati-matian, mati-matian, kalau perlu – seperti pernah kukatakan – kita bela kemerdekaan itu dengan bom atom! Tetapi jangan lupa, bahwa kekuatan Rakyat, persatuan Rakyat, perjoangan Rakyat itu juga satu bom atom, malahan lebih hebat daripada bom atom!

 

Ya, jangan dikira bahwa alat-alat atau senjata-senjata spirituil kita itu kalah daripada alat-alat atau senjata-senjata materiil kita. Alat-alat materiil, teknik, dan lain-lain itu malahan tidak pernah lebih daripada sekedar alat.

Alat ini harus diperalat, dan siapa yang memperalat? Yang memperalat ialah politik kita, ideologi kita, revolusi kita! Jangan dibalik!

 

Tanggal 25 Juni yang lalu, selaku Pemimpin Tertinggi Front Nasional aku telah mengeluarkan sebuah Instruksi 5 pokok, yaitu:

Satu        :     Mempertinggi kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional;

Dua         :     Mengutamakan disiplin dan tanggungjawab nasional;

Tiga        :     Memperkokoh persatuan nasional dengan mengamalkan jiwa   Deklarasi Bogor dan tatakrama Nasakom;

Empat     :     Menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan dan   perseorangan; dan

Lima       :     Meresapkan dan mengamalkan Lima Azimat Revolusi

                     Indonesia: Nasakom, Pancasila, Manipol/Usdek, Trisakti

                     Tavip, dan Berdikari.

 

Aku gembira sekali bahwa sejak saat itu hingga sekarang Instruksiku itu memang dijalankan, sehingga kelima-lima pokok itu memang diamalkan dalam amal-perbuatannya masyarakat.

 

Terutama semakin meresapnya “Lima Azimat” Revolusi memang sangat menggembirakan sekali, sangat membesarkan hati. Gagasan-gagasanku itu: Nasakom (1926), Pancasila (1945), Manipol/Usdek (1959),

Trisakti Tavip (1964) dan Berdikari (1965) – sebenarnya hanyalah hasil penggalianku, yang dua pertama dari masyarakat bangsaku, dan yang tiga terakhir dari Revolusi Agustus. Aku mengucapkan terimakasih kepada Saudara-saudara yang telah menganggap kelima-lima ideku itu sebagai azimat-azimat Revolusi. Tidak ada kebahagian lebih besar bagi seseorang revolusioner selain mengetahui bahwa ide-idenya sesuai dengan tuntutan-tuntutan revolusi!

 

Aku meminta kepada Saudara-saudara agar supaya kelima-lima pokok dalam Instruksiku itu terus disebar-sebarkan, diresapkan, diamalkan, sebab dari terlaksana-tidaknya Instruksi itu tergantung pula baik-tidaknya Front Nasional di hari-hari yang akan datang, baik-tidaknya persatuan bangsa di hari-hari yang akan datang. Baik Nasakom, baik Pancasila, baik Manipol/Usdek, baik Trisakti Tavip, maupun Berdikari itu kesemuanya mengabdi kepada persatuan nasional revolusioner, artinya, mengabdi kepada kepentingan revolusi. Semuanya alat pemersatu, semuanya alat revolusioner! Kalau beberapa waktu yang lalu kukatakan agar kita “berjiwa Nasakom”, maksudku adalah agar kita berjiwa persatuan revolusioner, agar, kita semua gandrung kepada persatuan revolusioner. Kita tidak cukup hanya berjiwa Nasakom – kitapun harus berjiwa Pancasila, berjiwa Manipol/ Usdek, berjiwa Trisakti Tavip, berjiwa Berdikari !

 

Juga – dalam hal ini pers imperialis suka mengejek Sukarno. Kata mereka, Sukarno hanya pandai menyusun semboyan-semboyan, dan malahan singkatan-singkatan. Jawab saya juga singkat saja, karena, bukankah kaum imperialis sendiri membikin semboyan-semboyan, membikin singkatan-singkatan? Apa itu “food for peace”? Apa itu “atom for peace”? Apa itu “susu bubuk for peace”? Bedanya …, bedanya ialah: semboyan-semboyan Sukarno diterima dan didukung Rakyat, sedang semboyan-semboyan mereka ditolak dan dikutuk Rakyat. Inilah bedanya!

 

Mereka bukannya membenci NASAKOM karena abreviasi ini terdiri dari 7 huruf; mereka juga tidak membenci NEFO karena singkatan ini terdiri dari N. E, F dan O, Tidak! Mereka membenci singkatan-singkatan kita, karena mereka membenci isinya, ya, karena mereka takut terhadap isinya, terhadap daya-kekuatannya. Ini, dan tidak lain daripada ini, yang mereka benci dan takuti. Wakil-wakil pers Barat juga boleh mencatat, bahwa di Indonesia lebih banyak lagi semboyan-semboyan dan singkatan-singkatan akan lahir – semboyan-semboyan dan singkatan-singkatan yang bukan saja menjurubicarai kepentingan Rakyat, tetapi juga mudah diingat oleh Rakyat, dan dengan demikian memberikan kearahan, gerichtheid kepada jalannya revolusi kita. Ini merupakan garis ”kerakyatan kita, ini adalah garis-massa kita!

 

Semboyan-semboyan itu hanyalah perumusan-perumusan yang paling singkat-padat, yang cekak-aos daripada program dan konsepsi-konsepsi revolusi Indonesia.

Tidak ada di dunia ini revolusi jiplakan. Setiap revolusi mesti orisinil.

Kalau ada revolusi jiplakan, revolusi begitu itu pasti gagal. Inilah sebabnya aku selalu menghargai kaum yang kreatif, yang punya ide-ide yang berani, yang punya fantasi yang menyundul langit, yang tahu melahirkan konsepsi-konsepsi yang baik.

 

Kita tidak bisa menjadi revolusioner yang baik, jika kita tidak teguh dalam prinsip-prinsip revolusioner, dan jika kita tidak menguasai ajaran-ajaran revolusioner. Tetapi kita juga tidak bisa menjadi revolusioner yang baik, jika kita tidak berjiwa-cipta, tidak kreatif, tidak pandai memeras kita punya otak sehabis-habisnya. Revolusi adalah sekaligus ya ilmu ya seni! Bahkan untuk memenangkan revolusi itu sendiri, kita harus kreatif, kita harus pandai menentukan taktik-taktik perjoangan yang soepel, yang fleksible, yang bijaksana. Tetapi! Tidak boleh kita soepel atau bijaksana di dalam strategi! Tidak boleh kita menjadi oportunis!

 

Revolusi terus meningkat. Maka dari itu revolusi itu juga mengajukan tuntutan-tuntutan yang meningkat. Itulah yang saya namakan rising demands of the revolution. Administrasi kolonial tidak memerlukan pegawai-pegawai patriot, cukup asal pegawai-pegawai itu ahli malahan lebih tidak patriot lebih baik !

 

Sebaliknya, pada hari-hari pertama atau pada tingkat pertama Revolusi kita, patriotisme itulah syarat yang mutlak buat pegawai-pegawai, sekalipun mungkin kurang ahli. Tetapi sekarang pegawai-pegawai yang tidak sekaligus patriot dan ahli akan sukar mengikuti derapnya revolusi. Begitu juga pemimpin-pemimpin dan kader-kader revolusi. Tidak cukup lagi kalau mereka itu hanya pandai saja, atau hanya berwatak saja; pemimpin-pemimpin dan kader-kader revolusi harus sekaligus berwatak dan pandai.

 

Bahwa revolusi kita benar-benar meningkat, ini juga kentara dari hasil-hasil kita dari tahun-ketahun. Ambillah periode sejak 17 Agustus 1964 sampai 17 Agustus 1965 ini – periode antara dua 17 Agustus itu untuk seterusnya kunamakan Tahun Kerja Proklamasi -, dalam Tahun Vivere Pericoloso itu kemenangan-kemenangan kita lebih banyak dan lebih besar daripada di masa-masa sebelumnya.

 

Kemenangan-kemenangan dalam Tahun Vivere Pericoloso itu – saya hanya menyebut-kan yang paling pokok-pokok dan paling penting-penting saja – antara lain adalah keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan disedarinya pendirian bahwa mahkota kemerdekaan sesuatu bangsa adalah Berdikari; Ketetapan MPRS tentang Banting Stir; pembubaran “BPS” serta koran-koran antek-antek dan biang-keladinya; penggulungan gerombolan kontra-revolusioner Kahar Muzakkar dan Gerungan; peranan Republik Indonesia dan negara-negara progresif lainnya dalam “KTT non-blok ke-II” sehingga membikin konferensi itu berwatak anti-imperialisme; Dasawarsa Konferensi Bandung yang bersejarah; “KTT kecil” di Kairo sesudah penundaan KAA II, yaitu di antara Republik Persatuan Arab, Pakistan, Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Indonesia; ambil-alih maskapai-maskapai Amerika Serikat, dan paling akhir, hanya beberapa hari yang lalu, kocar-kacirnya “Malaysia” dengan keluarnya Singapura dari federasi neo-kolonial itu.

 

Kemenangan-kemenangan ini bukan kemenangan-kemenangan kecil!

Kemenangan-kemenangan ini hanya mungkin, karena Rakyat Indonesia bersatu-padu dan menyerbu kubu-kubu musuh laksana satu pasukan yang kompak, satu banjir yang dahsyat, dengan disiplin yang kokoh di bawah pimpinan yang satu !

 

Tentang PBB : PBB dalam susunannya yang sekarang tidak mungkin dipertahankan lagi. Dengan menguntungkan Taiwan dan merugikan RRT, menguntungkan Israel dan merugikan negeri-negeri Arab, menguntungkan Afrika Selatan dan merugikan Afrika, meng-untungkan “Malaysia” dan merugikan Republik Indonesia, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa. Dalam tahun 1960 aku menuntut supaya PBB diritul dan pindah tempat. Sekarang tuntutanku ialah bahwa PBB harus mengakui kesalahan-kesalahannya dan harus dirombak samasekali. Kalau tidak, maka PBB bukan hanya akan ditertawai sebagai mimbar omong-kosong, tetapi lebih jelek lagi. PBB akan dikutuk sebagai badan yang lebih buruk daripada Volkenbond dan malahan lebih buruk daripada semua Parlemen kapitalis digabung menjadi satu! Sesuatu Parlemen kapitalis paling-paling “mewakili” dan menindas Rakyatnya sendiri, tetapi PBB “mewakili” dan menindas Rakyat Korea, Rakyat Konggo, Rakyat Kalimantan Utara, Rakyat-rakyat jajahan di mana-mana!

 

Tentang Banting Stir : Ketetapan MPRS tentang Banting Stir tidak hanya punya arti ekonomi. Arti ekonominya memang besar, karena kalau kita tidak banting stir, maka kita bisa makin lama makin jauh menyimpang dari Dekon.

Tetapi arti politiknya tidak kalah besarnya, sebab banting stir itu berarti juga membanting gepeng kaum avonturir dalam politik, yang coba-coba mau menyelundupkan reformisme ataupun teori-phasensprong, dan yang coba-coba mau mengkisruhkan pengertian tentang dua tahap revolusi. Lebih-lebih lagi, banting stir juga punya-arti pendidikan yang besar, yaitu mendidik kita untuk tidak subyektif dalam menyusun plan, tidak subyektif dalam mengurus ekonomi, pendeknya mendidik kita untuk membebaskan diri samasekali dari setiap subyektivisme, berat-sebelahisme, serampanganisme!

 

Tentang BPS : Sudah menjadi rahasia umum bahwa BPS itu dimaksudkan untuk “atas-nama Sukarnoisme membunuh ajaran-ajaran Sukarno dan membunuh Sukarno”. Memang ada orang-orang yang dengan jujur menerima ide-ide politikku dan mengusulkan untuk menyebut ajaran-ajaranku itu “Sukarnoisme”, tetapi dengan BPS soalnya lain sama sekali. Tidak percuma suatu suratkabar besar di Amerika Serikat mengakui bahwa pemerintahnya “terlalu cepat” memberikan dukungan kepada BPS sehingga membangkitkan kecurigaan Rakyat Indonesia. Tanpa dukungan Amerika Serikat pun Rakyat Indonesia tentu bisa membedakan daging dari ikan, bisa membedakan maksud baik dari maksud jahat, dan bisa mengenal sendiri apa hakekatnya BPS itu. Jika diingat bahwa BPS itu menyangkut suatu rencana jahat jelaslah bahwa di samping soal kriminalitas politik seperti memecah-belah persatuan nasional, mengacau-balaukan pengertian Nasakom, dan lain-lain, BPS juga tersangkut perkara kriminalitas biasa. Maka dari itu aku tidak ragu-ragu mengambil tindakan menutup suratkabar-suratkabar BPS. Aku juga mau peringatkan, janganlah BPS – isme itu yang sudah dilarang di koran ini dan koran itu, diselundupkan masuk ke koran-koran lain, yang lama maupun yang baru!

 

Tentang gerombolan : Pembasmian gerombolan kontra-revolusioner Kartosuwiryo, Soumokil, Kahar Muzakkar dan Gerungan merupakan kemenangan-kemenangan penting. Kepada prajurit-prajurit ABRI dan Rakyat yang aktif dalam pembasmian itu saya ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.

Terutama sekali “Siliwangi” besar sekali jasanya. Terbasminya gerombolan-gerombolan ini hendaknya menjadi canang-peringatan bagi siapa saja jangan coba-coba bermain api kontra-revolusi di Indonesia! Sudah dalam tahun 1946, yaitu dalam pidato 17 Agustus-ku 19 tahun yang lalu kuperingatkan: “Dengan pengertian yang sedalam-dalamnya serta keyakinan yang sekuat-kuatnya akan arti persatuan bangsa, maka pemerintah selalu mencari jalan mempersatukan, selalu menghindarkan perselisihan, selalu menunjuk kepada ajaran sejarah ’Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh’. Akan tetapi dalam pada itu, pemerintah mesti memperkuat kedudukannya sebagai pemerintah. Tiap-tiap pengacau, tiap-tiap pengrusak akan berhadapan langsung dengan kekuasaan pemerintah, dan pemerintah tidak akan ragu-ragu mengambil tindakan yang sepantasnya terhadap mereka itu.

 

Tentang “K.T.T. Non-Blok” : Pendirian R.I. tentang non-alignment rasanya sudah cukup jelas. Non-alignment, dalam pendapat R.I., harus bersifat anti-imperialis. Kalau tidak anti-imperialis, maka non-alignment demikian itu jadinya sudah aligned, karena ia menguntungkan imperialisme. Non-blok itu paling-paling bisa dalam hubungan NATO dan Pakta Warsawa, tetapi orang tidak mungkin “non-blok” dalam hubungan imperialisme dan anti-imperialisme, penjajah dan yang melawan penjajah! Dengan konsepsi anti-nekolim yang jelas-tegas, maka delegasi R.I. yang saya pimpin sendiri memberikan sumbangan-sumbangannya yang positif di “K.T.T. non-blok ke-II”, dan konferensi itu benar-benar telah menjadi konferensi anti-nekolim. Non-alignment revolusioner menang, non-alignment banci kalah! Adapun R.I. sendiri, R.I. dikenal dunia tidak menganut “teori tiga kekuatan”, karena R.I. membagi dunia hanya dalam dua kubu, yaitu kubu Nefo revolusioner dan kubu Oldefo reaksloner. lni adalah hasil analisa yang obyektif atas konstelasi dunia dewasa ini, dan maka dari itu Conefo yang Insya Allah akan kita selenggarakan tahun depan, itu pun obyektif adanya!

 

Tentang Dasawarsa K.A.A. I : Perayaan Dasawarsa Konferensi Asia-Afrika ke-I atau Konferensi Bandung telah menjadi manifestasi perkasa dari tekad anti-imperialis bangsa-bangsa Asia-Afrika. Segala fitnahan terhadap konsepsi-Bandung, seakan-akan forum Asia-Afrika itu suatu forum “rasialis”, “sepataris”, “sektaris“ serta tuduhan-tuduhan lainnya, bisa kita gempur-hancur.

Melalui upacara khidmat Dasawarsa K.A.A. I dan acara-acara lainnya, antara lain pertemuan-pertemuan dan tukar-fikiran antara para utusan dari kedua benua kita, maka saling-pengertian di antara sesama negara-negara A-A yang anti-nekolim bertambah mendalam. Bukan saja usaha sabotase terhadap Dasawarsa itu gagal-berantakan samasekali, tetapi perayaan Dasawarsa itu sendiri merupakan sukses yang gilang-gemilang. Bagi Rakyat Indonesia sendiri Dasawarsa merupakan pendidikan politik yang teramat penting, sehingga perhatian Rakyat Indonesia terhadap masalah-masalah internasional bertambah besar, setiakawan mereka terhadap saudara-saudaranya yang berjoang untuk kemerdekaan nasional

bertambah besar pula.

 

Tentang K.T.T. Kecil : Seluruh dunia tahu, bahwa R.I. menghadapi K.A.A. II di Aljazair dengan persiapan yang secukup-cukupnya. Delegasi tingkat menteri yang dipimpin oleh W.P.M. I Dr. Subandrio sudah sampai di Algiers, sedang delegasi K.T.T. yang saya pimpin sendiri hanya sampai di Kairo, karena Standing Committee K.A.A. akhirnya memutuskan penundaan K.T.T. itu sampai awal November yang akan datang. Bahwa kaum imperialis berusaha mati-matian untuk mentorpedo K.A.A. II itu, hal ini sudah dengan sendirinya. Hal ini ternyata antara lain dari rapat “persekemakmuran Inggeris”.

Tetapi lebih penting dari segalanya itu adalah perkembangan di Aljazair sendiri. Ketika Ben Bella digulingkan dan digantikan oleh suatu Dewan Revolusioner, Pemerintah R.I. segera mengakui rezim baru di bawah pimpinan Houari Boumedienne, bukan hanya karena pertimbangan-pertimbangan KA.A., tetapi karena pemerintah R.I. menganggap per-kembangan itu perkembangan progresif. Ada pemimpin-pemimpin yang takut dirinya akan “di-Ben-Bella-kan”, tapi ini hanya membuktikan bahwa mereka itu pemimpin-pemimpin vested interest! Tergulingnya Ben Bella harus menjadi peringatan bagi pemimpin manapun, bahwa begitu seseorang pemimpin menjauhkan dirinya dari kepentingan-kepentingan Rakyatnya, begitu ia akan jatuh. Kemudian, penundaan K.A.A. II kami gunakan di Kairo untuk mengadakan suatu pertemuan puncak – “le’ petit sommet”, kata harian-harian Perancis – di antara saudara-saudaraku Gamal Abdef Nasser, Ayub Khan, Tjou En-Lai dan saya sendiri. Hasil “KTT kecil” ini sudah diketahui umum, dan saya puas atas hasil tersebut.

 

Tentang modal Amerika Serikat : Setelah di tahun 1957 kita mengambilalih modal Belanda dan di tahun 1963 modal Inggeris, maka pada awal tahun ini, Rakyat Indonesia – yang membela hak-haknya dari serangan-serangan Amerika Serikat yang memberikan active aid kepada neo-kolonialisme “Malaysia” – mengambil alih modal Amerika Serikat. Sekarang modal itu berada di bawah pengawasan Pemerintah Republik Indonesia. Ini merupakan langkah penting bagi R.I., yang dengan azas Berdikari sedang menegakkan perekonomian nasionalnya sendiri, yang bebas samasekali dari imperialisme maupun feodalisme. Di dunia dewasa ini “Sosialisme” benar-benar menjadi mode. Tidak ada sesuatu pemerintah, yang tidak mau dimusuhi Rakyatnya, yang tidak menyatakan dirinya “Sosialis”.

Lucunya, di antara. “Sosialisme-sosialisme” itu ada yang mentah-mentahan “Sosialisme” dengan … modal imperialis di negerinya!

Ya, malahan ada negeri yang samasekali belum mulai dengan perubahan-perubahan nasional-demokratis, sudah menyatakan “membangun Sosialisme”.

Indonesia tidak mau munafik dengan Sosialismenya. Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa revolusi masih dalam tahap nasional-demokratis, sekalipun sejumlah hasil penting telah dicapai dalam tahap ini. Nanti akan datang ketikanya, – yang Indonesia akan membangun Sosialisme, yaitu apabila modal imperialis sudah habis dan pemilikan tanah kaum tuan-tanah sudah dibagi kembali kepada rakyat. Yang terang, dengan modal imperialis tidak mungkin kita membangun Sosialisme. Jangankan Sosialisme, ekonomi nasionalpun tidak akan mungkin! Oleh sebab itu, prinsip membangun ekonomi tanpa modal monopoli asing, sudah menjadi prinsip yang tak bisa ditawar-tawar bagi kita. Adapun sikap RI terhadap AS., hal inipun sudah diketahui umum. Pemerintah AS sendiri sangat tahu akan sikap kita itu. Segala sesuatunya tidak semata-mata bergantung pada RI. Malahan, dalam keadaan sekarang, soal-soalnya lebih banyak bergantung pada sikap AS. Apakah mereka akan menghentikan sokongan mereka terhadap “Malaysia” dan bersahabat kembali dengan Indonesia, ataukah sebaliknya tetap menyokong “Malaysia” dan memusuhi RI. – ini adalah persoalan yang terpenting dewasa ini dalam relasi R.I.-A.S. Baiklah pemerintah AS. mempertimbangkan betul-betul hal ini, karena akhirnya pada kita ada hak penuh – sebagai Republik yang berdaulat – untuk menasionalisasi, atau bahkan mengkonfiskasi modal asing manapun yang memusuhi Republik Indonesia.

 

Tentang Singapura: Lemahnya proyek “Malaysia” sudah kentara sejak permulaannya. Ini sudah ratusan kali kukatakan! Seperti seluruh dunia tahu, Brunei yang menjadi tempat pertama pecahnya revolusi Kalimantan Utara di bawah pimpinan Mahmud Azahari itu, menolak “Malaysia” dan tidak pernah tergabung dalam “Malaysia”. Sekalipun diiklankan secara besar-besaran oleh pers imperialis seakan-akan ekonomi “Malaysia” itu “makmur”, tapi aksi-aksi kaum buruh di sana yang melawan kemerosotan hidup tidak bisa disembunyi-kan lagi. Sementara itu, sedang R.I. mendapat pujian dari mana-mana karena politiknya yang dijiwai Bhinneka Tunggal Ika sehingga Rakyat Indonesia merupakan Rakyat yang rukun, di “Malaysia” terus-menerus timbul kerusuhan-kerusuhan rasialis. Semua ini membuktikan bahwa proyek “Malaysia” memang suatu proyek yang dipaksakan. “Malaysia” diadakan antara lain untuk. “overvote” suku Tionghoa. Pernah saya bersenda-gurau bahwa “pertentangan Kualalumpur-Singapura lebih tajam daripada pertentangan Kualalumpur – Jakarta”.

Tentu ini hanya senda-gurau belaka, tetapi apapun alasannya, sudah menjadi kenyataan bahwa Singapura memisahkan diri dari “Malaysia”. Ya, “Malaysia” mulai rontok dari dalam! Rontok berantakan nantinya samasekali! Tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan bisa mempertahankan kelangsungan hidup “Malaysia”! Tidak Tengku, tidak Inggeris, tidak Amerika, tidak seribu dewa dari kayangan! Peristiwa ini sekaligus mendemonstrasikan kegagalan total daripada politik kolonial Inggeris di mana-mana. Sesudah gagal dengan West Indies Federation, gagal dengan Central Federation of Africa, gagal dengan South Arabian Federation, Inggeris kini gagal pula dengan “Federation of Malaysia”!

 

Saudara-saudaraku setanah-tumpah-darah,

Kawan-kawanku serevolusi,

Perjoangan kita selamanya mempunyai aspek nasional dan aspek intemasional. Kedua-dua aspek ini tak terpisah-pisahkan satu samalain. Pada perayaan dwi-dasawarsa Republik ini pun kita perlu menelaah situasi internasional dalam mana kita sekarang berada.

 

20 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, dan 20 tahun setelah didirikannya P.B.B., perdamaian dan keamanan bangsa-bangsa tetaplah tinggal cita-cita, tinggal harapan, sedangkan kenyataannya banyak bangsa-bangsa masih merana dalam penderitaan yang berlarut-larut, akibat “peradaban” imperialisme. Kaum imperialis paling suka menyebut dirinya “beradab”; mereka juga paling suka menganggap kita-kita ini “biadab”, sehingga mereka harus datang dengan pasukan-pasukan, dengan armada-armada, dengan pangkalan-pangkalan perang untuk “mengajarkan peradaban” kepada kita … Dalam “mengajarkan peradaban” itu mereka cukup royal, tidak sayang harta tidak sayang benda, dan jika kita-kita ini dianggap “mbandel”, maka dibomnyalah kita, dibomnya Maluku, dibomnya Kamboja, dibomnya Laos, dibomnya Kuba.

 

Pada saat ini rupanya bangsa yang paling “mbandel” itu bangsa Vietnam, sehingga bangsa ini setiap hari, setiap jam, setiap detik dihujani bom oleh pembawa-pembawa “missi suci” dari Washington … Kalau “missi suci” itu gagal total, sudah tentu yang salah ya kita-kita kaum “biadab” ini!

 

Mereka yang datang dari jarak sejauh separo bola-bumi, mereka itu namanya “pembela perdamaian”, sedang Rakyat Vietnam yang tinggal di negerinya sendiri, mengurusi urusannya sendiri dan mengatur tatahidupnya sendiri, Rakyat Vietnam ini dinamakan “agresor”. Salah-satu harus gila, Saudara-saudara: Vietnam atau Amerika Serikat. Kedua-duanya gila tidak mungkin, kedua-duanya waras pun tidak mungkin! Saudara-saudara bisa menyimpulkan sendiri mana yang waras dan mana yang giIa!

 

Akhirnya “alasan” A.S. mengapa melakukan “escalation” atas peperangannya di Indocina, adalah “untuk mencegah Vietnam menjadi negeri Komunis”.

Saya tidak pernah mendengar Paman Ho berkeberatan A.S. merupakan negeri kapitalis, jika Rakyat A.S. memang menghendaki demikian; kenapa A.S. berkeberatan Vietnam “menjadi negeri Komunis”, jika Rakyat Vietnam meng-hendaki demikian? Hak menentukan nasib sendiri berarti pula hak menentukan macam pemerintah yang dikehendaki oleh sesuatu Rakyat di negerinya sendiri. Ini bahkan tercantum dalam “Declaration of Independence” Amerika sendiri ! Ataukah dokumen besar ini telah dilemparkan sendiri oleh bangsa yang melahirkannya?

 

Kalau agresi A.S. terhadap Vietnam itu kita biarkan, maka dia akan merupakan bahaya besar bagi seluruh tata-hidup internasional kita. Sekarang agresi itu terjadi di Vietnam, besok dia mungkin terjadi di bumi lain! Dia malahan sudah terjadi juga di Dominika. Maka dari itu, demi keselamatan masing-masing dan demi keselamatan kolektif kita, kita bangsa-bangsa yang cinta-merdeka dan cinta-damai harus melawan agresi A.S. itu, dan harus aktif memberikan sokongan kita kepada saudara-saudara di Vietnam itu.

 

Kepada pemerintah A.S. ingin saya nasehatkan – kuharap mereka masih bisa mendengar nasehat! – supaya mengakui kesalahannya dan segera menarik diri samasekali dari Vietnam dan dari seluruh Indocina. Percuma mereka menuduh Republik Demokrasi Vietnam “tak sudi berunding”, karena apabila A.S. tidak menarik diri samasekali dari Vietnam, setiap orang melihat justru A.S.-lah yang tidak sudi penyelesaian secara damai. Baik disedari oleh A.S., bahwa satu-satunya alternatif baginya adalah keluar samasekali dari seluruh Asia Tenggara! Jika mereka emoh menarik diri, mereka bisa kehilangan segala-galanya, segala-galanya! Hai, Amerika dan Inggeris! Zaman ini bukan zamannya imperialisme lagi. Zaman ini adalah zaman anti-imperialisme. Zaman ini adalah zaman hancurnya imperialisme!

 

Sebagai seorang yang telah banyak makan garam perjoangan, aku tahu bahwa tak pernah imperialisme itu menyerah dengan sukarela. Mereka hanya menyerah, jika mereka dipaksa, yaitu dipaksa dengan kekuatan yang maha-dahsyat, dengan machtsvorming dan machtsaanwending, nasional dan internasional. Di sinilah letak pentingnya Conefo, karena melalui Conefo itu kita akan menggalang, “samenbundeling van alle internationale revolutionnaire krachten”, yang kusebut juga “Nasakom internasional”, – gabungannya negara-negara Nasionalis, negara-negara Agama dan negara-negara Komunis dalam skala dunia, untuk melabrak babak-belur nekolim dan untuk membangun dunia kembali, membangun dunia baru – dunia tanpa imperialisme dan tanpa eksploitasi.

 

Situasi internasional dewasa ini adalah baik dan menguntungkan kita. Keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menambah baiknya situasi internasional itu. Sebab, walaupun ada di antara sahabat-sahabat kita di luar-negeri yang tidak menyetujui Republik Indonesia ke luar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau yang mengharap Republik Indonesia kembali masuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, namun keluarnya Republik Indonesia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa itu bisa mereka gunakan untuk memperkuat posisi mereka dalam menghadapi nekolim. Yang terang Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang tidak bisa main seenaknya sendiri, karena Perserikatan Bangsa-Bangsa harus memperhitung-kan pendirian dan sikap negara-negara dan pemerintah-pemerintah yang berani hidup desnoods tanpa Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sikap Republik Indonesia itu adalah kritik yang paling tajam yang bisa diberikan ke alamat Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan biarlah Perserikatan Bangsa-Bangsa terbuka matanya, kalau dia mau!

 

Dalam rangka pembinaan setiakawan Asia-Afrika, baru-baru ini saya telah mengutus Wakil Perdana Menteri I/Menteri Luar Negeri Subandrio disertai Menteri Penerangan dan dua orang Menteri Negara untuk mengunjungi 4 negara Timur Tengah dan 8 negara Arika. Missi itu telah menumbuhkan saling pengertian yang mendalam di antara kita dan negara-negara yang dikunjungi dan saya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah-pemerintah yang bersangkutan atas sambutan mereka terhadap missi yang disebut “Safari Berdikari” itu. Republik Indonesia ingin menegaskan, bahwa Berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan memperluas kerjasama internasional, terutama di antara sesama negara yang baru merdeka. Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada imperialisme, bukan kerjasama yang sama-derajat dan saling-menguntungkan.

 

Karena nekolim itu biasanya mendirikan pangkalan-pangkalan militer di wilayah-wilayah orang lain, sedang pangkalan-pangkalan militer asing itu merupa-kan bahaya utama bagi perdamaian dunia, maka sejumlah organisasi massa di Indonesia telah mengambil prakarsa membentuk suatu komite yang dalam tahun ini juga akan menyelenggarakan di Indonesia suatu Konferensi Internasional Anti Pangkalan-pangkalan Militer Asing. Pemerintah Indonesia menyambut inisiatif itu, karena ide konferensi itu sesuai dengan Semangat Bandung.

 

Makin hari makin tegas perlawanan Rakyat-rakyat sedunia terhadap neo-kolonialisme. Ada dua faktor yang menyebabkan neo-kolonialisme itu lebih berbahaya daripada kolonialisme model lama. Pertama, karena cara-cara maupun praktek-prakteknya belum cukup dikenal oleh Rakyat, artinya, Rakyat belum cukup mempunyai pengalaman dengan sistim baru itu. Kedua, karena penjajah yang sesungguhnya, seringkali tidak jelas kelihatan, sebab neo-kolonialisme itu adalah penjajahan by proxy, penjajahan by remote control, penjajahan “dari jauh”.

 

Selamanya saya bertolak dari pendirian, bahwa imperialismelah yang memerlukan kita, bukan kita memerlukan kaum imperialis! Inilah keterangannya, kenapa sesudah kaum imperialis terlalu banyak cingcong dan pertingkah, aku serukan “Go to hell with your aid !”. Sesudah dipersetan, mereka sekarang mendekat-dekat lagi dan menawar-nawarkan kembali “bantuan” mereka. Tetapi saya tahu bahwa tidak ada “bantuan” nekolim yang cuma-cuma. Oleh sebab itu, soal-soalnya tergantung dari ada-tidaknya ikatan-ikatan langsung maupun tak-langsung pada “bantuan” yang ditawarkan. Di atas segala-galanya kaum sana harus tahu menghormati kedaulatan Republik Indonesia dan menghentikan samasekali setiap kegiatan subversif di Indonesia!

 

Republik Indonesfa akan meneruskan sokongannya yang aktif kepada perjoangan kemerdekaan Rakyat-rakyat Kalimantan Utara, Angola, Mozambyk, Guinea (Bissau), Timor “Portugis”, Somali “Perancis”, Yaman Selatan, Oman,  Azania (Afrika Selatan), Namibia (Afrika Barat Daya), Betswana (Bechuanaland), Lesotho (Basutoland), Swatini (Swaziland), dan lain-lain.

 

Sekalipun seluruh wilayah Republik Indonesia telah pulih di pangkuan kemerdekaan, dan sekalian nanti sisa-sisa imperialisme telah kita kikis samasekali dari Indonesia, namun Republik Indonesia menganggap perjoangannya belum selesai selama di dunia ini masih ada wilayah yang belum bebas, sekalipun hanya sejengkal! Seperti selalu aku katakan, Rakyat Indonesia berjoang mengganyang nekolim as a matter of principle.

 

Saudara-saudara sekalian,

 Di dalam-negeri situasi juga baik dan menguntungkan kita kaum revolusioner.

Hari ini genap 6 tahun usia Manipol. Berkat indoktrinasi, latihan revolutionnaire gymnastiek – dan pengorganisasian yang terus-menerus dan sambung-bersambung, Rakyat Indonesia kini memiliki kesedaran politik yang patut dibanggakan. Rakyat yang demikian ini, jika diorganisir lebih teratur, dilatih lebih militan, diindoktrinir lebih bersasaran, dipimpin dengan metode yang lebih tepat, pastilah akan mempunyai kekuatan yang tidak terbatas untuk melaksanakan Amanat Penderitaannya sendiri, yaitu berofensif dengan senjata “Panca Azimat”.

 

Sejak dimaklumkannya Deklarasi Bogor maka persatuan nasional semakin kokoh, terutama karena penyingkiran anasir-anasir Manipolis-munafik dikerjakan secara lebih gencar. Tetapi jangan kita puas dengan kadar persatuan yang telah kita capai. Kita harus membikin persatuan nasional revolusioner berporos Nasakom itu menjadi kekuatan yang bersifat menentukan dalam kehidupan politik kita sebagai bangsa-negara.

 

Untuk ini Front Nasional bisa memainkan peranan yang penting. Aku bergembira bahwa Front Nasional yang baru-baru ini aku “damprat”, karena pemimpin-pemimpinnya di tingkat pusat maupun di daerah-daerah lebih merupakan amtenar-amtenar daripada menjadi pemimpin-pemimpin Rakyat, sekarang melakukan langkah-langkah baru yang mereka namakan “revolusi dalam cara-bekerja” yaitu turba, mulai menempuh cara memimpin yang tepat yaitu “dari massa kembali ke-massa”, dan membangkitkan swadaya Rakyat. Tepat semboyan Panitia Negara dan Front Nasional untuk dwi-dasawarsa Proklamasi ini, yaitu :

“Bersatu dan berkompetisi melaksanakan Panca Azimat Revolusi Indonesia”!

 

Karena Manipol/Usdek, Pancasila dan Nasakom sudah semakin meresap dan bagi kaum reaksioner semakin sulit untuk melawannya dengan terang-terangan, maka gejala yang menyolok mata akhir-akhir ini ialah bertambah-tambahnya kaum munafik, kaum gadungan, kaum manis-dimulut-jahil-dihati.

 

Semua mengaku setuju Manipol, semua mengaku setuju Pancasila, semua mengaku setuju Nasakom. Dalam keadaan begini, setialah kepada yang kukatakan bahwa ukuran terutama bagi kaum revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan. Ukurlah pemimpin-pemimpinmu, ukurlah orang-orang, ukurlah siapa saja terutama dari perbuatannya! Kalau perbuatannya nyeleweng, tendanglah mereka itu!

 

Juga alat-alat negara, ormas-ormas, partai-partai politik dan badan-badan lain harus kita ukur dari satunya kata dengan perbuatan. Khusus mengenai partai-partai politik aku ingin berseru supaya mereka berlomba-lomba memperhebat peranannya dalam ofensif Manipolis sekarang ini. Partai-partai politik revolusioner adalah alat yang sangat efektif untuk mengikutsertakan dan mengerahkan massa Rakyat untuk ambil-bagian dalam revolusi. Ini tak boleh diragukan, karena meragukan ini berarti meragukan kebenarannya Manipol. Tetapi kutekankan sekali lagi partai-partai politik yang revolusioner! Yang tidak revolusioner, apalagi yang anti-revolusioner tak akan punya hak-hidup lagi di Indonesia. Tindakan pembekuan Partai Murba membuktikan bahwa Pemerintah tidak akan ragu-ragu mengambil tindakan, juga terhadap partai-partai politik, jika menyeleweng, jika memecah-belah persatuan. Kuserukan kepada partai-partai politik yang Manipolis, agar mereka membersihkan diri dan terus membersihkan diri dari elemen-elemen munafik, elemen-elemen B.P.S., elemen-elemen soska, elemen-elemen Nasakom-phobi, elemen-elemen plintat-plintut, elemen-elemen gadungan, dan sebangsanya, dan agar mereka melangsungkan kompetisi Manipolis dalam mengabdi Ampera dan berofensif dengan Panca Azimat.

 

Kepada alat-alat negara kuserukan supaya mereka benar-benar menyatukan diri dengan Rakyat. Pengabdian kepada Rakyat itu tidak pernah cukup, apalagi berkelebihan. Jangan seperti amtenar-amtenar kolonial yang melihat Rakyat itu sebagai momok. Rakyat adalah asalmu, Rakyat adalah kekuatanmu, Rakyat adalah pepundenmu, Rakyat adalah sumbermu!

 

Kepada Rakyat seluruhnya kuserukan agar menempuh segala daya-upaya untuk memperkokoh persatuan nasional revolusioner. Basmillah setiap prinsipalisme yang menolak kerjasama dan persatuan hanya dikarenakan masalah-masalah prinsip, masalah-masalah ideologi, masalah-masalah agama, dan sebagainya. Bulan Maret yang lalu M.P.R.S. telah memutuskan pelarangan propaganda anti-Nasionalisme, propaganda anti-Agama dan propaganda anti-Komunisme. Keputusan ini baik sekali dan membuktikan bahwa badan legislatif tertinggi di negeri kita itu tahu akan tanggungjawabnya. Camkanlah keputusan M.P.R.S. ini dan laksanakanlah ia dengan toleransi yang sebesar-besarnya !

 

Belakangan ini ramai dibicarakan orang tentang gagasan yang kulancarkan tentang Angkatan ke-5. Seperti tadi dikatakan, tiap-tiap kali aku mengetengahkan gagasan baru, selalu saja ada berbagai reaksi, yang sayangnya kadang-kadang dipengaruhi oleh text-books oldefo. Malahan, karena gagasanku itu, aku dituduh “main jiplak”. Tetapi bagaimanapun aku sambut dengan rasa-sukur sokongan-sokongan yang diberikan kepada gagasanku itu. Kita harus selalu bertolak dari kenyataan. Kenyataannya adalah bahwa kaum nekolim mengarahkan mata-pedang dan moncong-meriamnya kepada kita. Kenyataannya adalah, bahwa pembelaan Negara menuntut dari kita tenaga yang sebanyak-banyaknya. Sedang menurut Undang-Undang Dasar 1945 kita, fasal 30, “Tiap-tiap warganegara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara”. Setelah mempertimbangkan soalnya secara lebih matang lagi, maka saya selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata akan mengambil keputusan mengenai hal ini.

 

Aku bangga sekali bahwa Angkatan Bersenjata Repubik Indonesia kita yang modern sekarang dalam keadaan siap-siaga dan mampu memukul musuh dari manapun datangnya. Angatan Bersenjata Republik Indonesia harus ambil-bagian yang penting dalam setiap perjoangan melawan imperialisme dan feodalisme. Tahun 1945 telah kukatakan : Angkatan Bersenjata Republik Indonesia kita itu akan merupakan kekuatan yang tak terkalahkan, apabila mereka bersatu dengan Rakyat laksana ikan dan air. Ingat – air bisa ada tanpa ikan, tetapi ikan tak bisa hidup tanpa air. Berintegrasilah dengan Rakyat, karena Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah Angkatan Bersenjata yang revolusioner. Pertahanan revolusi adalah pertahanan Rakyat. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia harus menjadi inti daripada pertahanan yang mulia itu, tetapi dengan pulau sebanyak pulau kita, dengan pantai sepanjang pantai kita, dengan angkasa selebar angkasa kita, kita tak bisa menegakkan kedaulatan Negara kita tanpa Rakyat, kalau perlu juga dipersenjatai – Rakyat, kaum “buruh dan kaum tani dan kaum-kaum lainnya, yang tetap dalam proses produksi tetapi yang kalau perlu sementara memanggul senapan.

 

Pendek kata, Saudara-saudara sekalian, kita punya kepribadian harus kita pusatkan kepada pelaksanaan daripada Trisakti Tavip, yang kebenarannya bahkan telah diakui dan disetujui oleh Musyawarah Menteri Asia-Afrika ke-II di Jakarta tahun yang lalu. Harus diingat, bahwa Trisakti itu harus dipenuhi ketigatiganya, tidak bisa dipretel-preteli. Tidak ada kedaulatan dalam politik dan kepribadian dalam kebudayaan, bila tidak berdikari dalam ekonomi, dan sebaliknya! Seluruh minat kita, seluruh jerih-payah kita harus kita abdikan kepada pelaksanaan seluruh Trisakti, yang benar-benar sakti itu!

 

Ya, Berdaulat dalam politik! Apa yang lebih luhur daripada ini, Saudara-saudara? Lebih setengah abad lamanya bangsa Indonesia berjoang, membanting-tulang dan mencucurkan peluh, untuk kedaulatan politik itu. Sekarang kedaulatan politik itu sudah di tangan kita. Kita tidak bisa didikte oleh siapapun lagi, kita tidak menggantungkan diri kepada siapa-siapa lagi, kita tidak mengemis-ngemis! Kedaulatan politik ini harus kita tunjang bersama-sama, harus kita tegakkan beramai-ramai. Nation-building dan character-building harus diteruskan sehebat-hebatnya, demi memperkuat kedaulatan poIitik itu. Kerukunan nasional sekarang ini – kerukunan antara berbagai agama dan berbagai sukubangsa, termasuk suku-suku keturunan asing – kerukunan nasional yang bebas samasekali dari diskriminasi atau rasialisme macam apapun, harus kita bina dengan kecintaan seperti kita membina kesehatan tubuh kita sendiri. Demi kedaulatan politik itu pula, maka perkembangan dalam pemerintahan dalam negeri, yaitu – seperti dikehendaki D.P.R.-G.R. – dicabutnya larangan berpartai bagi Kepala-kepala Daerah dan anggota-anggota B.P.H., dipisahkannya jabatan Kepala Daerah dari Ketua D.P.R.D.-G.R. dan Nasakomisasi pimpinan D.P.R.D.-G.R., harus disusul dengan pembentukan Daswati III untuk seluruh Indonesia.

 

Berdikari dalam ekonomi! Apa yang lebih kokoh daripada ini, Saudara-saudara? Seperti kukatakan di depan M.P.R.S. tempohari, kita harus bersandar pada dana dan tenaga yang memang sudah di tangan kita dan menggunakannya semakimal-makimalnya. Pepatah lama “ayam mati dalam lumbung” harus kita akhiri, sekali dan buat selama-lamanya. Kita memiliki segala syarat yang diperlukan untuk memecahkan masalah sandang-pangan kita. Barangsiapa merintangi pemecahan masalah ini, dia harus dihadapkan ke depan mahkamah Rakyat dan sejarah. Alam kita kaya-raya, Rakyat kita rajin, tetapi selama ini hasil keringatnya dimakan oleh tuan-tuan-tanah, tengkulak-tengkulak, lintah-lintah darat, tukang-tukang ijon dan setan-setan desa lainnya. Sudah cukup usahaku memberi kesempatan kepada kaum yang ragu-ragu dalam revolusi, untuk merobah diri; aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran seorang bapak, tapi kesabaran ada batasnya, apalagi kesabaran Rakyat! Sudah cukup usahaku memberi kesempatan bagi pelaksanaan landreform; batas waktunya malahan sudah kutunda, dan kalau perlu aku bersedia memperpanjangnya dengan 1 tahun lagi, aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran bapak, tapi aku ulangi lagi, kesabaranku ada batasnya, apalagi kesabaran Rakyat! Sudah cukup usahaku memberi kesempatan Dewan-dewan Perusahaan supaya berjalan, tapi di banyak tempat Dewan-dewan itu masih macet saja; aku sudah sangat sabar, sudah kutunjukkan kesabaran seorang bapak, tapi kesaharanku ada batasnya, apalagi kesabuan Rakyat! Hanya dengan mengatasi kemacetan-kemacetan inilah, kita bisa mentrapkan azas Berdikari dalam ekonomi.

 

Berkepribadian dalam kebudayaan! Apa yang lebih indah daripada ini Saudara-saudara? Bukan saja bumi dan air dan udara kita kaya-raya, juga kebudayaan kita kaya-raya. Kesusastraan kita, seni-rupa kita, seni-tari kita, musik kita, semuanya kaya-raya. Juga untuk membangun kebudayaan baru Indonesia, kita memiliki segala syarat yang diperlukan. Kebudayaan baru itu harus berkepribadian nasional yang kuat dan harus tegas-tegas mengabdi kepada Rakyat. Dengan menapis yang lama, kita harus menciptakan yang baru.

 

Sikap kita terhadap kebudayaan lama maupun kebudayaan asing adalah sikapnya revolusi nasional-demokratis pula : dari kebudayaan lama itu kita kikis feodalismenya, dari kebudayaan asing kita punahkan imperialismenya. Maka itu tepat sekali film-film imperialis Inggeris dan A.S. diboikot, juga tepat sekali pemberantasan “musik” beatle, literatur picisan, dansa-dansi gila-gilaan, dan sebagainya. Pada panji kebudayaan nasional kita harus kita tuliskan dengan tinta-emas K-nya Usdek kita! Kebudayaan kita haruslah kebudayaan yang revolusioner, yang seperti kukatakan di Sala tempohari harus menjadi “duta masa dan duta massa”. Kita bukan hanya “trahing kusumo, rembesing madu”, tetapi kita juga “trahing buruh-tani-lan-prajurit, rembesing revolusi” !

 

Saudara-saudara sekalian,

Inilah Trisakti Tavip, sebagian dari Panca Azimat, Panca Azimat sebagai pengeja-wantahan seluruh jiwa nasional kita, konsepsi nasional kita, yang terbentuk di sepanjang sejarah 40 tahun lamanya.

 

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa Saudara-saudara harus menghadapi kesulitan-kesulitan, menghadapi kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari.

Saya ikut prihatin dengan Saudara, dan Insya Allah kenaikan harga dapat dibatasi. Sebaliknya semua kesulitan ini ialah dapat dianggap sebagai suatu tebusan dari apa yang sudah dicapai dalam Revolusi Indonesia. Bandingkanlah kesulitan yang kita hadapi jika kita tidak ber-Ambeg Parama Arta dalam pelaksanaan Revolusi. Bagaimana jika kita ber-revolusi tanpa jiwa, hingga revolusi kita dianggap menjadi “Revolutie op drift”, atau revolusi kita menjadi alat Nekolim?

 

Tanpa ber-Ambeg Parama Arta dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan, apakah Indonesia tidak sudah terpecah menjadi puluhan negara, sesuai dengan politik Balkanisasi Nekolim? Tanpa Trikora, apakah Indonesia dapat mengembalikan lrian Barat dalam kekuasaan Ibu Pertiwi? Tanpa membangun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, apalagi kita dapat menghadapi pemberontakan dan subversi P.P.R.I. – Permesta? Tanpa menguasai perusahaan-perusahaan asing, apakah Indonesia tidak akan tetap tinggal menjadi negara jajahan di bidang ekonomi? Tanpa melaksanakan politik Dwikora, pengganyangan “Malaysia”, apakah Indonesia tidak tetap dikemudikan oleh ekonomi Nekolim yang berpusat di Singapura dan Hongkong? Tanpa politik Ambeg Parama Arta, apakah kita dapat mengadakan proklamasi Bebas Buta Huruf segenap Rakyat Indonesia pada tanggal 31 Desember 1964, yang diikuti dengan komando Pelaksanaan kewajiban belajar?

 

Memang kita ber-revolusi, berjoang dengan jiwa yang tertentu, dengan tujuan dan strategi yang tertentu. Landasan kebangsaan dan kenegaraan dari abad ke-XX dari Dunia Baru, kita Ambeg Parama Arta – kan; dan kita bersedia untuk memberikan pengorbanan apapun untuk mencapai landasan mutlak bagi kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia. Segala pengorbanan dapat dipikul Bangsa Indonesia berkat karunia Tuhan. Kita dapat menghadapi kontra Revolusi dan pemberontakan

P.R.R.I. – Permesta tanpa collapse, tanpa runtuh, dan hasilnya gilang-gemilang.

Kita melaksanakan Trikora tanpa collapse, tanpa runtuh, dan hatsilnya pun gilang-gemilang. Kita melaksanakan Dwikora tanpa collapse, tanpa runtuh, dengan hasilnya … sekarang “Malaysia” sudah lebih daripada 50% berantakan samasekali.

 

 Hai tuan-tuan Nekolim, tentu kami harus memberikan segala pengorbanan, mengalami berbagai kesulitan dalam penghidupan sehari-hari, tetapi perhatikan: kami tidak collapse, kami tidak kelaparan, kami tidak runtuh! Ramalanmu tidak benar ! Sebaliknya kamu, Nekolim, kamu makin hari makin menderita keruntuhan, kamu makin hari makin mendekati collapse.

 

Bagi kita perjoangan anti-Nekolim banyak menguntungkan Revolusi Indonesia, menguntungkan Jiwa Indonesia, menguntungkan pembangunan Indonesia, menguntungkan kemerdekaan Indonesia. Perjoangan anti-Nekolim memberikan jiwa baru pada Indonesia, memberikan satu kesatuan yang kokoh, memberikan tekad yang membaja, memberikan kebebasan untuk mengatur Rumah Tangga Nasional, “the freedom to be free”. Untuk ini kita bersedia untuk membayarnya, membayar uang belajar, membayar uang bertumbuh, membayar dengan pengorbanan dan keprihatinan.

 

Sekarang kita sudah pada tingkatan Jiwa Berdikari, berkat perjoangan cara Ambeg Parama Arta. Sekali Revolusi kita meningkat pada Jiwa Berdikari, pertumbuhan selanjutnya tinggal soal pelaksanaan. Maka dari itu Saudara-saudara sekalian, adakan Banting Stir pada seluruh Bangsa Indonesia agar Jiwa Berdikari menjadi milikmu, agar Lima Azimat Revolusi menjadi milikmu. Saudara-saudara yang memperjoangkan landasan-landasan tersebut dengan segala pengorbanan, sekarang Jiwa Berdikari dan Lima Azimat harus menjadi alatmu, menjadi pusakamu dalam mengabdi Pada Revolusi. Ingat: Saudara-saudara sudah memberikan Jiwa pada Revolusi, sehingga Saudara-saudara harus tetap taat pada Jiwa Revolusi, tetap mempertahankan dan mempertumbuhkan Jiwa Revolusi. Jiwa Revolusi Indonesia sudah dewasa, dan akan bertumbuh sebagai suatu “self-propelling growth”. Hai Bangsaku, Bangsa Indonesia, Bangsaku yang gagah berani dalam perjoangan, pantang mundur dalam kesulitan, lemah-lembut dalam pergaulan! Apa yang engkau capai dalam 20 tahun ini merupakan suatu kebanggaan. Ini sebabnya, maka aku memberanikan diri untuk memberikan pertanggungjawaban pada semua kawan dan semua lawan, – pada kawan untuk bahan konsultasi, bagi lawan sebagai alat konfrontasi. Dan pertanggungjawaban pada Engkau Bangsaku, Bangsa Indonesia, sebagai bukti bahwa Bung Karno tidak lain tidak bukan hanyalah Penyambung Lidah Bangsa Indonesia, Penyambung Semangat Bangsa Indonesia, Penyambung Kekuatan Bangsa Indonesia. Insya Allah saya akan meneruskan Pimpinan Revolusi Indonesia dengan karunia Tuhan, dengan Doa Restu Bangsa Indonesia.

 

Sudah banyak yang kita capai dalam 20 tahun ini. Kita sudah melampaui tingkatan terpenting dalam Revolusi kita. Akan tetapi kita masih belum boleh beristirahat. Kita boleh merasa puas dengan apa yang sudah kita capai di masa yang lampau, akan tetapi tetap waspadalah buat masa depan; kita masih harus Maju Terus, Maju Terus, Maju Terus, untuk mencapai hasil dan kemenangan baru, kemenangan baru sebagai tambahan modal untuk memberikan pukulan baru pada rintangan dan musuh-musuh Revolusi.

 

Kita merayakan 20 tahun Agustus agung ini, di waktu kita sudah mempunyai Panca Azimat. Panca Azimat adalah pengejawantahan daripada seluruh jiwa nasional kita, konsepsi nasional kita, yang terbentuk di sepanjang sejarah 40 tahun lamanya.

 

Azimat Nasakomlah yang lahir terlebih dulu, dalam tahun 1926, karena persatuan Nasakom itulah sesungguhnya senjata kita yang paling ampuh, dulu untuk merebut, sekarang untuk mengkonsolidir kemerdekaan nasional.

 

 Azimat kedua adalah azimat Pancasila, yang lahir pada bulan Juni 1945 di waktu Ibu Sejarah sudah mengandung tua, dan di waktu bayi kemerdekaan sudah hampir lahir. Ketika itu opgave terpokok adalah menemukan suatu dasar Negara, dan maka itulah Lahir Pancasila.

 

Azimat ketiga adalah azimat Manipol/Usdek, yang baru lahir setelah kita 14 tahun lamanya mengalami masa Republik merdeka, azimat yang berupa Program Umum Revolusi, yang inti-sarinya tidak boleh dimodulir atau diamendir.

 

Azimat keempat adalah azimat Trisakti Tavip, yang baru lahir tahun yang lalu setelah kita mengalami bermacam-ragam pengalaman dengan kaum imperialis, dengan P.B.B., dan lain-lain.

 

Azimat yang kelima adalah azimat Berdikari, yang terutama tahun ini kucanangkan dan serta-merta mendapat persetujuan dari M.P.R.S., dari seluruh pers Manipolis, dari segenap Rakyat progresif. Berdikari bukan hanya azas untuk tahun ini – yang sebagian Rakyat sudah menamakannya “Tahun Berdikari” – tetapi azas untuk masa yang panjang, selama kita masih mengkonsolidir kemerdekaan nasional kita dan selama kita masih berhadap-hadapan dengan imperialisme.

Mungkin seluruh dasawarsa atau seluruh dwi-dasawarsa yang ada di hadapan kita ini akan merupakan “Dasawarsa Berdikari”!

 

 Kita harus meneruskan, bahkan meningkatkan lebih lanjut ofensif Manipolis, ofensif revolusioner kita. Berat dan banyak masih tugas-tugas yang ada di depan kita. Panjang dan berliku-liku masih jalan yang harus kita lalui. Tetapi ada yang meringankan kita, yaitu kenyataan bahwa kita ini memililki Panca Azimat itu!

 

Akhir-akhir ini dilakukan kampanye yang besar-besaran bahwa “hari-hari “ Sukarno sudah bisa dihitung”. Malahan satu suratkabar Belanda menamakan masa sekarang ini “pre-post-Soekarno-periode”. Untuk kampanye ini kaum imperialis kerahkan pers, radio, TV, sampai kepada dukun-dukun klenik!

 

Saudara-saudara! Sukarno hanya seorang manusia. Seperti juga Saudara-saudara, maka umur saya ada di tangan Tuhan. Tetapi selama hayat dikandung badanku, selama itu pula Insya Allah aku akan mengabdikan segala yang ada padaku kepada urusan Tanah-air, kepada urusan Rakyat, kepada urusan Revolusi. Insya Allah, Sukarno akan selalu di tengah-tengah Rakyat dan bersama-sama Rakyat, di tengah-tengah Rakyat jelata, Rakyat kecil, Rakyat yang menjadi Pembikin daripada Sejarah!

 

Salah-seorang penyair kita menyatakan “ingin hidup seribu tahun lagi”. Akupun ingin hidup seribu tahun lagi. Tetapi hal ini tentunya tidak mungkin.

 

Tidak ada satu manusiapun yang mencapai umur seribu tahun. Tetapi aku mendo’a, moga-moga gagasan-gagasanku, ajaran-ajaranku, yang kini tersimpul dalam Lima Azimat, gagasan-gagasan dan ajaran-ajaranku itu akan hidup seribu tahun lagi!

 

Sebab ia adalah “Rukun Lima” daripada Kemerdekaan kita.

Karena itu, majulah terus dengan Lima Azimat itu laksana api-abadi dalam kalbumu!

Dengan Lima Azimat itu kita pasti menang.

 

Kekalahan kita tidak mungkin lagi, sebagaimana juga kemenangan imperialisme tidak  mungkin lagi! Sebaliknya!

Kekalahan imperialisme tidak bisa dicegah, seperti kemenangan kita juga tidak bisa dicegah!

 

Kemenangan adalah hasil perjoangan. Karena itu kita harus menumplekkan kita punya kekuatan, kita punya bakat, kita punya kepandaian, kita punya sega-gala, untuk merebut kemenangan terakhir yang sudah tampak di pelupuk mata itu!

 

Kita harus bersatu, bersatu, bersatu, seperti satunya lima jari dalam kepalan!

Kita harus teguh, teguh, teguh, seperti teguhnya batu karang di lautan yang bergelora !

 

Kita harus berani, berani, berani, seperti beraninya banteng dan elang rajawali !

Ya! Dengan senjata Panca Azimat, majulah terus menjalankan ofensif Manipolis di segala lapangan!

 

Maju terus! Pantang mundur!

Ever onward, never retreat!

 

Sekali merdeka, tetap merdeka!

 

Sekali Berdikari, tetap Berdikari!

 

Insya Allah, kita pasti menang!

 

Sebab Tuhan beserta kita!

 

————————————————————————————————————————————-

 

 

KEPUTUSAN PEMBENTUKAN KOMANDO OPERASI BERDIKARI.

 

(Keppres No 256 thn. 1965 tgl. 2 September 1965)

 

KAMI, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

 

Menimbang

Bahwa sebagai kelanjutan daripada Amanat Presiden/Pemimpin Besar Revolusi pada tanggal 17 Agustus 1965 yang berjudul Tahan Berdikari (TAKARI) perlu segera membentuk suatu komando tersendiri;

 

Mengingat

  1. Pasal 4 Ayat 1 Undang-Undang Dasar ;
  2. Amanat Politik di depan Pembukaan Sidang Umum MPRS ke – III tanggal 11 April 1965;
  3. Keputusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. VI/ MPRS/ 1965 tanggal 16 April 1965;
  4. Amanat 17 Agustus 1965 tentang Tahun Berdiri (TAKARI).

 

MEMUTUSKAN

 

Menetapkan

PERTAMA    :   Membentuk Komando Operasi Berdikari yang disingkat   KOTARI;

KEDUA         :       KOTARI mempunyai tugas untuk melaksanakan

pembangunan ekonomi atas dasar berdiri di atas kaki  sendiri;

KETIGA        :    1.   KOTARI langsung dipimpin oleh Presiden/ Pemimpin      Besar Revolusi ;

2.   KOTARI dibantu oleh seorang Kepala Staf;

3.   KOTARI beranggotakan: Menteri; Para Wakil Perdana Menteri; Para Menteri Koordinator dan Menteri-Menteri yang bersangkutan ;

4.   Organisasi, susunan dan tanggungjawab KOTARI akan ditentukan kemudian;

5.   Badan-badan Pelaksana KOTARI adalah Departemen-departemen dan Badan-badan Pemerintah/Negara yang ada dan tidak membentuk badan-badan baru;

KEEMPAT    :       Keputusan ini berlaku mulai sejak tanggal dikeluarkannya

Iklan