Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Never Leave History)

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO

PADA ULANG TAHUN

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

17 AGUSTUS 1966 DI JAKARTA

 

 

 

Assalamu’alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh!

Merdeka!

 

Saudara-saudara sekalian,

 

Hari ini adalah tanggal 17 Agustus 1966! Hari ulang tahun ke-21 daripada Republik kita.

 

Pada hari ini Republik kita genap berusia duapuluh satu tahun, atau lebih dari 1.000 minggu! Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa Ia telah melindungi dan menuntun negara dan bangsa kita, hingga kita dengan selamat telah sampai kepada hari yang berbahagia sekarang ini. Dan moga-mogalah lindungan-Nya dan tuntunan-Nya itu tetap dikurniakan kepada negara dan bangsa kita dalam memasuki tahun yang ke-22 dari kehidupannya dan selanjutnya. Lindungan dan tuntunan Tuhan itu sangat kita perlukan, dan sangat kita mohonkan. Sebab, tiada sesuatu berjalan selamat tanpa ridha-Nya Tuhan Yang Maha Kuasa dan masa depan yang akan kita masuki sudahlah menampakkan gejala-gejala yang menunjukkan akan datangnya masa yang lebih berat.

 

Ya, lebih berat! Bukan saja oleh karena gejala-gejala dari luar memang telah menunjukkan akan tambahnya gangguan imperialisme kepada kita sebagai bangsa dan negara, tetapi juga oleh karena dari dalam, dari dalam sebagai terjadi pada tiap-tiap revolusi, berbangkit beberapa hal yang anti. Dan oleh karena tambah beratnya barang sesuatu memang sudah kodratnya sekalian hidup. Makin kita bertambah dewasa, makin besar, dan makin beratlah tugas-tugas dan tanggungan-tanggungan yang kita pikul di pundak kita.

 

Karena itu, maka pagi-pagi kita harus memperbesar dan memperdalam rasa tanggungjawab kita, baik sebagai manusia maupun sebagai bangsa.Tanggungjawab terhadap kepada siapa? Sudah tentu tanggungjawab terhadap kepada bangsa kita sendiri. Tetapi juga tanggungjawab terhadap kepada kemanusiaan. Dan tanggung-jawab terhadap kepada Allah Robbul-alamin.  Maka justru karena tanggungjawab itulah kita harus bekerja terus dan berjuang terus. Berjuang terus, kalau perlu mati-matian, ya berjuang terus – ever onward, never retreat.

 

Pada tiap-tiap 17 Agustus saya kembali berhadapan muka dengan Saudara-saudara yang berada di Jakarta ini. Dan melalui corong radio saya juga berhadapan suara dengan sekalian Saudara di seluruh tanah air dan di luar tanah air. Berhadapan suara dengan rakyat di Jawa Barat, rakyat Jawa Tengah, rakyat Jawa Timur, rakyat Bali, rakyat Kalimantan, rakyat Sulawesi, rakyat Maluku, rakyat Sumatra, rakyat Irian, dan lain-lain. Berhadapan suara dengan semua buruh dan tani, semua prajurit-prajurit daripada angkatan bersenjata, arek-arekku yang memanggul bedil. Berhadapan suara dengan semua Putera Revolusi! Berhadapan suara dengan seluruh rakyat Indonesia antara Sabang dan Merauke, dan rakyat Indonesia di perantauan! Dan saya yakin bahwa saya bukan berhadapan suara saja. Lebih daripada itu. Saya juga berhadapan semangat dengan Saudara-saudara, terlebih-lebih dengan Saudara-saudara yang benar-benar revolusioner, de echte revolutionnairen, yang benar-benar progresif revolusioner dan bukan retrogresif revolusioner. Dan karena berhadapan semangat, maka kita mencapai persatuan semangat, persatuan batin, persatuan rasa, persatuan kesadaran, persatuan tekad.

 

Untuk apa? Untuk mengabdi kepada kemerdekaan, untuk mengabdi kepada tanah air dan bangsa dan negara! Untuk mengabdi dan menjadi pejuangnya revolusi. Persatuan semangat, persatuan batin, persatuan rasa, persatuan kesadaran, untuk menyelesaikan revolusi kita, ya, revolusi kita, sekali lagi revolusi kita yang belum selesai ini.

 

Saya tidak hanya berhadapan dengan rakyat Indonesia saja, saya sekarang ini berhadapan juga dengan seluruh dunia, dengan seluruh umat manusia. Memang tiap-tiap 17 Agustus seluruh dunia dan seluruh umat manusia mengarahkan perhatiannya kepada Jakarta, karena mereka pun ingin mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Jakarta pada Hari Ulang Tahun Republiknya. Pada tiap-tiap 17 Agustus seluruh dunia mengikuti dengan cermat Pidato Ulang Tahun Republik Indonesia dari Presiden untuk dapat mengetahui perasaan bangsa Indonesia, untuk dapat menjajaki perhitungan ke belakang dan garis kebijaksanaan ke depannya daripada Republik Indonesia. Teristimewa pada hari ini, pada saat Republik Indonesia telah meninggal-kan tahun 1965 dan menjalani tahun 1966 – tahun 1965 dan tahun 1966, yang telah menggemparkan kita dan menggemparkan seluruh dunia itu -, dan terutama sekali lagi tahun 1966 ini, yang oleh orang dalam negeri malahan dinamakan “tahun gawat”. Dan pada hari ini, mata dan telinga mereka pun mengincer kepada saya, kepada saya. Pikir mereka itu, bagaimana Republik Indonesia sekarang sesudah dapat hantaman dan gempuran bertubi-tubi itu? Bagaimana Soekarno yang telah mendapatkan sodokan bertubi-tubi itu pula?

 

Ya, bagi kita terus terang saja, duapuluh satu tahun ini adalah duapuluh satu tahun yang penuh penderitaan dan pengorbanan, duapuluh satu tahun pergulatan

dan adu tenaga, duapuluh satu tahun yang penuh pengalaman, – pengalaman yang kadang-kadang hitam dan pahit, tetapi kadang-kadang juga pengalaman yang cemerlang laksana matahari di pagi hari. Duapuluh satu tahun penggemblengan diri, duapuluh satu tahun penempaan rasa harga diri dan percaya kepada diri sendiri, duapuluh satu tahun pembajaan rasa kepada kemampuan dan kepribadian bangsa sendiri. Pendek kata, duapuluh satu tahun pembangunan bangsa dalam badai topannya ketidakdewasaan dalam negeri dan badai topannya reaksi dari luar negeri. Sudah barang tentu, sudah barang tentu, dus reaksi kini makin-makin meneropong kita, makin ’memperhatikan’ kita (memperhatikan dalam arti jahat)!

 

Apalagi kataku tadi, dalam tahun 1966 ini! Tahun 1966 ini, kata mereka, ha, eindelijk, eindelijk, at long last, Presiden Soekarno telah dijambret oleh rakyatnya sendiri, Presiden Soekarno telah di-coup; Presiden Soekarno telah dipreteli segala kekuasaannya, Presiden Soekarno telah ditelikung oleh satu triumvirat yang terdiri dari Jenderal Soeharto, Sultan Hamengku Buwono, dan Adam Malik. Dan itu

Surat Perintah 11 Maret, kata mereka, bukankah itu penyerahan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto? Dan tidakkah pada waktu sidang MPRS yang baru lalu, mereka – reaksi, musuh-musuh kita – mengharap-harapkan, bahkan menghasut-hasut, bahkan menujumkan bahwa sidang MPRS itu sedikitnya akan menjinakkan Soekarno, atau akan mencukur Soekarno sampai gundul samasekali, atau akan mendongkel Presiden Soekarno dari kedudukannya semula? Kata mereka, dalam bahasa mereka, ”The MPRS session will be the final settlement with Soekarno”, artinya sidang MPRS ini akan menjadi perhitungan terakhir – laatste afrekening – dengan Soekarno.

 

Surat Perintah 11 Maret itu mula-mula, dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya Surat Perintah 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya Surat Perintah 11 Maret itu satu transfer of authority. Padahal tidak! Surat Perintah 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan jalannya any pemerintahan, demikian kataku pada waktu melantik Kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal. Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan saya mengucap terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu. Perintah pengamanan, bukan penyerahan pemerintahan! Bukan transfer of authority!

 

Mereka, – musuh -, sekarang kecele samasekali. Dan sekarang pun, pada hari Proklamasi sekarang ini, mereka kecele lagi. Lho, Soekarno masih Presiden! Lho, Soekarno masih Pemimpin Besar Revolusi! Lho, Soekarno masih Mandataris MPRS! Lho, Soekarno masih Perdana Menteri! Lho, Soekarno masih berdiri lagi

di mimbar ini!

 

Ya, Saudara-saudara, Republik Indonesia, – ia betul-betul laksana perahu

yang mengarungi samudera topan yang amat dahsyat.

 

Tetapi saya selalu mengatakan bahwa sejarah adalah selalu seperti samudera yang dahsyat. Apalagi sejarahnya satu bangsa yang besar, sejarahnya satu bangsa yang bukan bangsa tempe, bukan bangsa peuyeum. Kadang-kadang ia dibanting ke bawah laksana hendak tenggelam samasekali, kadang-kadang diangkat ke atas puncak-puncaknya gelombang, sehingga rasanya seperti hampir terpeganglah bintang-bintang di langit.

 

O, bahtera kita yang berani. Duapuluh satu tahun dibanting, diangkat, dibanting, diangkat, dibanting, diangkat, tetapi tidak pernah satu detik pun tenggelam, tidak pernah satu detik pun putus asa.

 

Saudara-saudara kaum revolusioner sejati, kita berjalan terus, ya kita berjalan terus, berjuang terus, kita tidak akan berhenti. Kita berjalan terus, berjalan terus, menuju terus pada sasaran-tujuan seperti diamanatkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945 beserta anak kandungnya yang bernama Deklarasi Kemerdekaan yang tertulis sebagai Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945.

 

Di dalam Resopim telah saya tandaskan dan gamblangkan cetusan tekad nasional kita itu, cetusan segala kekuatan nasional secara total, cetusan isi jiwa nasional sedalam-dalamnya. Pendek kata, dalam Resopim itu saya telah memberikan Darstellung daripada deepest innerself kita. Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi adalah sasaran-tujuan perjuangan kita yang jelas, tandas, terang, gamblang! la adalah pegangan hidup, tujuan hidup, falsafah hidup, rahasia hidup, ya pengayoman hidup daripada revolusi kita.

 

Di bawah sinar suryanya Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itu kita berjalan, di bawah sinar suryanya Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itu kita berjuang membangun National Dignity (harga diri nasional), dan Perumahan Bangsa kita, yaitu Republik Indonesia yang kita cintai ini. Di bawah sinar suryanya itulah kita menuju kepada penyelesaian revolusi besar kita. Berkat Dwitunggal Proklamasi dan Deklarasi itulah kita, seluruh rakyat Indonesia, tidak pernah sedikit pun putus asa, tidak pernah sedikit pun patah semangat. Sebab, bermacam-macam godaan, beraneka ragam tamparan perjuangan dalam menegakkan revolusi itu, adalah memang sudah inhaerent kepada sesuatu revolusi – embel-embel daripada sesuatu revolusi.

 

Cobalah Saudara-saudara, kita sejenak mawas diri dan menengok ke belakang sejak kita merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun yang lalu. Dengan terjadinya Gestok pada tahun yang lalu, betapa hebatnya palu godam

cobaan dan godaan perjuangan yang telah menghantam kesatuan badan, kesatuan jiwa revolusi kita. Gelombang dahsyat telah membanting kepada keutuhan badan dan jiwa rakyat kita, sampai hampir-hampir terpecah-pecah berantakan samasekali. Revolusi kita dihadapkan kepada suatu crucial period yang hampir-hampir mengoyak-koyakkan jiwa dan semangat persatuan-perjuangan kita samasekali. Tetapi syukur alhamdulillah, segala puji kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, rakyat kita kini pelan-pelan telah kembali menemukan terang dalam batin, menemukan kembali kekuatan dalam iman, untuk kembali kepada keutuhan badan dan kemampuan jiwa kesatuan dan persatuan bangsa, hingga dapat mengelakkan akibat-akibat destruktif yang mungkin akan lebih parah lagi daripada lintasan crucial period yang lalu itu.

 

Bukan satu kali itu saja revolusi kita mengalami suatu period yang crucial, yaitu suatu masa yang berbahaya. Selama duapuluh satu tahun yang kita jalani ini sudah berulang-ulang revolusi kita dihadapkan kepada crucial period-crucial period yang menggempur dada kita ibarat gempurannya gelombang topan pada batu karang di tengah lautan.

 

Cobalah lepaskan pandangan kita lebih jauh lagi ke belakang. Marilah kita mawas diri sejak saat kita terlepas dari cengkeraman penjajah Belanda di tahun 1950, yaitu apa yang dinamakan Pengakuan Kedaulatan – recognition of sovereignty. Betapa hebatnya crucial period-crucial period yang harus kita lalui selama masa 1950-1959 itu. Free fight liberalism sedang merajalela; jegal-jegalan ala demokrasi parlementer adalah hidangan sehari-hari, main krisis kabinet terjadi seperti dagangan kue, dagangan kacang goreng. Antara 1950 dan 1959 kita mengalami 17 kali krisis kabinet, yang berarti rata-rata sekali tiap-tiap delapan bulan.

 

Pertentangan yang tidak habis-habis antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dan dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan. Nafsu individualisme dan nafsu egoisme bersimaharajalela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi a nation devided againts itself. Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu z.g. demokrasi yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa. Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru: rupanya orang mengira bahwa sesuatu perpecahan di muka Pemilihan Umum atau di dalam Pemilihan Umum selalu dapat diatasi nanti sesudah Pemilihan Umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen. Tapi orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggerantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa samasekali. Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali. Bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak doodbloeden, kehilangan darah yang ke luar dari luka-luka tubuhnya sendiri. Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: terlepas dari perbedaan apapun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan! Kita sekalian adalah makhluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.

 

Ya benar, kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepada suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhimya Tuhan pula yang menentukan. Justru karena itulah maka bagi kita sekalian adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pimpinan kepada Tuhan. Tidak satu manusia berhak berkata, aku, aku sajalah yang benar, orang lain pasti salah!

 

Orang yang demikian itu akhimya lupa bahwa hanya Tuhan jualah yang memegang kebenaran!

Demikian kataku di waktu itu.

 

Berbareng dengan crucial period-nya krisis-krisis kabinet dan krisis demokrasi itu, kita juga mengalami kerewelan-kerewelan dalam urusan daerah, kerewelan-kerewelan dalam urusan tentara, mengalami bukan industrialisasi yang tepat, tetapi industrialisasi tambal sulam zonder overallplaning yang jitu, mengalami, aduh, Indonesia yang subur loh jinawi, bukan kecukupan bahan makanan tetapi impor beras terus-menerus, mengalami bukan membubung-tingginya kebudayaan nasional yang patut dibangga-banggakan, tetapi gila-gilaannya rock and roll, geger-ributnya swing dan jazz, kemajnunannya twist dan mamborock, banjirnya literatur komik.

 

Contoh-contoh ini adalah cermin daripada menurunnya kesadaran nasional kita dan menurunnya kekuatan jiwa nasional kita. Apakah kelemahan jiwa kita itu? Jawabanku pada waktu itu adalah, “kelemahan jiwa kita ialah bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang percaya-mempercayai satu sama lain, padahal kita ini pada asalnya adalah rakyat gotong royong”.

Demikianlah seruanku pada waktu itu, dan demikianlah pesan seluruh jiwa semangatku menghadapi crucial period waktu itu.

 

Situasi di bidang ekonomi pun pada waktu itu tidak jauh berbeda. Warisan ekonomi yang saya terima pada tahun-tahun itu barulah berupa tindakan pengambil-alihan obyek-obyek ekonomi dari tangan penjajah Belanda sahaja. Situasi ekonomi yang demikian itu sudah jelas belum memungkinkan adanya pembangunan. Malahan cita-cita pembangunan kita itu sahaja pada waktu itu sudah dihadapkan kepada crucial period – nya pertentangan pandangan dan berlawanannya konsepsi. Berkobarlah pertentangan daerah melawan pusat dalam soal pembangunan, berkobarlah rivalitas daerah yang yang satu melawan daerah yang lain. Sebagai usaha untuk mengatasi hantam-hantamam di bidang ekonomi pembangunan itu, diselenggarakan di Jakarta sini tempo hari Munas dan Munap. Tetapi kendatipun demikian, segala usaha ternyata tidak mampu menahan arus-meluncurnya disintegrasi dan dislokasi perekonomian kita yang malahan semakin menjadi-jadi.

 

Pengeluaran uang menjadi terus-menerus meningkat, antara lain dan teristimewa karena diperlukan untuk operasi politik, operasi militer, dan operasi administrasi. Biaya yang meningkat-ningkat ini mengakibatkan inflasi yang sungguh sukar dapat dibendung. Harga-harga dan tarif-tarif terus menaik, pendapatan dari para buruh dan pegawai sebaliknya terus-menerus merosot dalam nilainya karena uang kita semakin kehilangan kekuatan nilai tukarnya. Tibalah sebagai puncak dalam crucial period-nya ekonomi keuangan itu tindakan pengguntingan uang, yang ternyata malah menambah hebatnya inflasi dan menambah beratnya penderitaan dan pengorbanan rakyat.

 

Saudara-saudara,

Demikianlah warisan ekonomi yang saya terima di waktu itu. Ketambahan

lagi dalam suasana politik yang penuh pertentangan dan tabrakan itu, serta situasi ekonomi moneter yang terus-menerus meluncur ke dalam kemerosotan itu, muncullah petualangan-petualangan militer yang menjelma dalam pemberontakan-pemberontakan PRRI di Sumatra, Permesta di Sulawesi, Darul Islam di Jawa dan beberapa daerah di luar Jawa, pemberontakan Ibnu Hadjar di Kalimantan, dan lain-lain petualangan juga di bidang politik serta ekonomi, yang sungguh menempatkan rakyat dan negara kita dalam suatu crucial period yang lebih berbahaya lagi.

 

Toh rupanya belum cukup! Konstituante hasil Pemilihan Umum telah bersidang, tetapi rakyat harus menyaksikan dan menanggung akibat perdebatan yang tele-tele tanpa mem-perlihatkan ujung dan akhir. Malahan lebih parah lagi daripada itu! Muncullah usaha-usaha di waktu itu dari beberapa z.g. tokoh yang mau mengorek jiwa proklamasi dengan hendak mengubah bendera nasional Sang Merah Putih, dan dengan hendak mengubah lagu kebangsaan kita, yaitu Indonesia Raya.

 

Dan sebagai titik terdalam dalam crucial period pada waktu itu, sebagai genjotan yang paling nggenjot, rakyat dan bangsa kita dihadapkan kepada pergulatan sengit melawan usaha-usaha beberapa tokoh yang ingin mengganti

dasar negara kita, yaitu Pancasila.

 

Itulah semua warisan yang saya terima dari zaman 1950-1959. Retak-goyahnya kesatuan bangsa Indonesia pada waktu itu, hampir-hampir berantakanlah seluruh tubuh revolusi kita! Gonjang-ganjinglah kemerdekaan kita terancam oleh bahaya! Apa yang saya perbuat waktu itu untuk menyelamatkan kemerdekaan, untuk menyelamatkan revolusi?

 

Konstituante yang ternyata tidak mampu menyelesaikan soal yang dihadapinya, Konstituante itu saya bubarkan, dan saya pada tanggal 5 Juli 1959 mengeluarkan Dekrit Presiden yang terkenal: Kembali kepada UndangUndang Dasar 1945, kembali kepada Undang-Undang Dasar Revolusi!

 

Demikianlah, Saudara-saudara, tinjauan ke belakang dalam garis-garis besarnya mengenai crucial period-crucial period selama windu pertama sesudah kita terlepas dari cengkeraman penjajahan Belanda, yaitu dari tahun 1950-1959, sebagai bahan mawas diri atau instropeksi, untuk menyadari segi-segi positif dan segi-segi negatif kita masing-masing sebagai pertanggunganjawab kita kepada Ibu Pertiwi dan revolusi. Justru dari masa itulah berkumandang dengan tidak putus-putusnya seruanku kepada bangsa dan rakyat kita untuk menegaskan perlunya persatuan bangsa. Aku selalu berkata pada waktu itu, “Dharma Eva Hato Hanti”, “Dharma Eva Hato Hanti”, kalimat Sanskerta, yang berarti “Kuat karena bersatu, bersatu karena kuat”!

 

Pendek kata, pada tahun 1959 saya menerima warisan yang mendirikan bulu; warisan yang bukan hasil perbuatanku, warisan yang sebaliknya aku harus bereskan, warisan yang ik had op te knappen! Yaitu, sekali lagi saya katakan; krisis-krisis kabinet yang bertubi-tubi karena demokrasi yang gila-gilaan, inflasi karena pengeluaran uang banyak sekali untuk operasi-operasi politik dan militer untuk menindas pemberontakan-pemberontakan, inflasi yang diperhebat lagi dengan pengguntingan uang, disintegrasi dan dislokasi perekonomian yang terus-menerus, Konstituante yang tele-tele dan impoten, usaha-usaha mengganti Sang Merah Putih dan lagu Indonesia Raya, pengorekan kepada Sang Sakti Pancasila, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain.

 

Ha, bagaimana tindakan saya untuk opknappen warisan ini?

Memasuki windu pendadaran yang kedua berikutnya, dari tahun 1959 sampai sekarang, kita dapat men-traceer kembali bahwa berdasarkan Dekrit 5 Juli 1959 itu kita kembali kepada Undang-Undang Dasar Proklamasi kita, dan demokrasi liberal saya bongkar samasekali dan saya ganti dengan Demokrasi Terpimpin, yaitu Demokrasi Gotong Royong, demokrasi Pancasila, Demokrasi Indonesia Asli. Dengan Demokrasi Terpimpin itu perpecahan dan keretakan dalam tubuh alat-alat revolusi dapat saya kembalikan kepada persatuan bangsa dan kekompakan rakyat dengan memberikan dasar dan landasan kesatuan politik kepadanya.

 

Apa kesadaran politik itu?

Dengan landasan kesatuan politik itu, saya misalnya terapkan ketentuan perangkat Undang-Undang Dasar 1945 dalam pembentukan kabinet, yang menyebabkan pemerintahan lantas menjadi stabil, dan Insya Allah terbuanglah untuk selama-lamanya maksiat main krisis-krisisan kabinet dari masa yang sebelumnya.

 

Dan saya berikan kepada bangsa untuk persatuan politik itu pelbagai kelengkapan dan pelengkapan. Saya berikan pelengkapan Manipol-USDEK, saya berikan pelengkapan Jarek, saya beri pelengkapan Membangun Dunia Kembali, saya beri pelengkapan Resopim, saya beri pelengkapan Trisakti, saya beri pelengkapan Berdikari, hingga menjadi kompak-mantap-kokoh landasan idiil daripada perjuangan kita untuk menyelesaikan revolusi.

 

Dengan kekompakan seluruh rakyat secara demikian, yaitu secara batiniah

dan lahiriah itu, pemberontakan-pemberontakan militer dan pengacauan-pengacauan di bidang politik dan ekonomi dapat kita tindas, hingga keamanan dapat dipulihkan kembali.

 

Alat-alat pertahanan dan keamanan kita yang berupa angkatan perang dan polisi, saya perkuat susunannya menjadi satu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang kompak. Dan dengan kekompakan ABRI dan rakyat di bawah pimpinan tunggal, kita dapat memasukkan Irian Barat kembali ke dalam kekuasaan Republik! Ada lagi pampasan Jepang, yang sebelumnya itu telah berlarut-larut dan memakan banyak energi perjuangan kita. Dan masalah PP-10,

dan dwi kewarganegaraan, yang segera kita selesaikan dalam rangka pelaksanaan Tri Program Pemerintah pada waktu itu. Demikian pula kita telah memperoleh kredit-kredit untuk pelbagai proyek besar dan kecil dalam rangka pelaksanaan

Pola Pembangunan Semesta.

 

Semua kegiatan-kegiatan dan aktivitas-aktivitas tersebut memang benar memakan biaya, tetapi faktanya menunjukkan bahwa kita juga dapat merasakan hasilnya dengan nyata. Tidakkah keadaan lantas berlainan dengan yang dulu? Berlainan dengan waktu 1950-1959, di mana kita selalu harus mengalami kenyataan “biaya habis, hasil tidak ada”, kecuali malahan berkobar rebut-rebutan antara kita dengan kita sendiri? Oleh sebab itu, jika kita secara jujur, secara jujur, mawas diri meninjau perkembangan dari tahun 1959 sampai sekarang, ternyata bahwa banyaklah fakta-fakta yang membuktikan bahwa kebijaksanaan yang saya terapkan untuk opknappen warisan 1950-1959 itu adalah kebijaksanaan yang tepat dan benar.

 

Apalagi kalau kita tinjau dengan berpangkalan pada situasi warisan yang kita terima dari tangan Belanda dahulu!

 

Saudara-saudara. Dengan menoleh ke belakang dan menggali kembali ingatan kita tentang kiprahnya baik-buruk, kiprahnya plus-minus, kiprahnya hasil positif-kerugian negatif, yang kadang-kadang berganti-ganti, kadang-kadang campuraduk berbarengan laksana hamuknya elemen-elemen di dalam putaran angin puyuh, maka sebagai historicus dan politicus saya berpendapat bahwa kiprah ini akan berjalan terus, plus-minus, oleh karena perjuangan revolusi memang pada hakekatnya adalah kiprah hebat antara baik dan buruk, antara positif dan negatif, antara aksi dan reaksi. Di dalam bahasa falsafah ini adalah rantai these-antithese-synthese, dan demikian seterusnya – satu rantai yang tiada putusnya sampai ke akhir zaman.

 

Karena itu, hai bangsaku, teguh, teguhlah dalam imanmu, teguhlah dalam batinmu, meski badai topan yang bagaimanapun juga, untuk meneruskan perjuangan kita yang masih jauh ini!

 

Saudara-saudara sekalian,

Dalam melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945, dalam mewujudkan pengejawantahan isi jiwa kita yang sedalam-dalamnya, maka pokok intisari mandat, pokok intisari mandat, yang saya terima dari MPRS ialah:

 

“Membangun Bangsa (Nation Building) dari kemerosotan zaman kolonial untuk dijadikan satu Bangsa yang berjiwa, yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan – satu Bangsa yang merdeka dalam abad ke 20 ini”.

 

Itulah intisari pokok daripada mandat MPRS kepada saya.

Sesungguhnya, toh bahwa membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa! Bukankah demikian? Sekali lagi, bukankah demikian?

 

Tentu saja keahlian adalah perlu! Tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin akan tercapai tujuannya.

Inilah perlunya, sekali lagi mutlak perlunya, Nation & Character Building! Tentu saja usaha ini pun memakan ongkos, memerlukan biaya, tetapi hasilnya sungguh berlipat-lipat ganda lebih besar dibandingkan dengan pengeluarannya.

“Memberikan selfrespect kepada bangsa sendiri, memberikan selfconfidence kepada diri bangsa sendiri, memberikan kesanggupan untuk Berdikari” adalah mutlak perlu bagi tiap-tiap bangsa, di sudut dunia manapun, di bawah kolong langit yang manapun!

 

Lihatlah contoh-contohnya. Lihatlah kepada bangsa Amerika, lihatlah kepada bangsa Jepang, lihatlah kepada bangsa Soviet Uni!

Amerika baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami perang saudara yang hebat dan dua kali peperangan dunia. Jepang baru menjadi bangsa yang besar setelah mengalami perang dengan Rusia, perang dengan Tiongkok, dan dua kali perang dunia. Soviet Uni baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami burgeroorlog yang dahsyat dari lima penjuru yang dikobarkan oleh kaum imperialis, dan dua kali perang dunia! Dan Indonesia tidak perlu dan insya Allah tidak usah mengundang peperangan, tetapi gemblengan jiwa adalah mutlak perlu untuk membangun bangsa dan negara kita.

 

Indonesia yang kita cita-citakan tidak dapat dan tidak mungkin dapat dibangun atas warisan atau sisa-sisa jiwa kolonialisme. Sisa-sisa jiwa kolonialisme ini harus kita bongkar samasekali.

Oleh sebab itu saripati daripada proyek-proyek Mandataris itu dapat dipertanggung-jawabkan, karena maksud dan tujuannya adalah tidak lain tidak bukan untuk memberikan jiwa kepada bangsa dan rakyat Indonesia yang merdeka! Proyek-proyek Mandataris adalah tidak lain dan tidak bukan sekadar alat, alat untuk menanamkan dan menumbuhkan kebesaran jiwa daripada bangsa dan rakyat kita.

 

Satu contoh lagi.

Terus terang saja, yang menghebatkan inflasi bukanlah pelaksanaan proyek Mandataris itu, akan tetapi pengeluaran-pengeluaran kita buat ABRl, untuk pembebasan lrian Barat dan untuk pengembalian keamanan. Untuk mengongkosi perjuangan pembebasan Irian Barat dan usaha penyelesaian keamanan, kita telah menggunakan lebih dari 80 persen daripada budget negara di tahun-tahun itu. Tetapi aku bertanya, apakah pembebasan lrian Barat salah? Apakah pemulihan keamanan salah? Tidak! Tidak salah, melainkan malahan perlu, perlu, perlu, sekali lagi, perlu!

 

Pendek kata, hasil politis, hasil ekonomis, hasil moneter, prestige, respect dunia internasional kepada kita, nation building, character building, selfrespect dan selfconfidence, semangat Berdikari, semua, semua ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai kebijaksanaan yang saya jalankan sejak tahun 1959 itu untuk opknappen warisan jahat yang saya sebut tadi.

 

Bahwa perjuangan kita belum selesai, dan bahwa rakyat terutama sekali para buruh dan pegawai belum dapat hidup secara layak, itu memang benar! ltu saya akui, memang benar! Tetapi dasar-dasar kebangsaan dan dasar-dasar kenegaraan dengan jiwa baru sudah tertanam.

 

Sudah terang, Gestok kita kutuk, dan saya, saya mengutuk pula! Dan seperti yang sudah kukatakan berulang kali dengan jelas dan tandas, yang bersalah harus dihukum! Untuk itu kubangunkan Mahmillub!

 

Tetapi kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus ubah haluan? Kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus melemparkan jauh beberapa hal yang sudah nyata baik? Tidak! Pancasila, Panca Azimat, Trisakti, harus kita pertahankan terus, malahan harus kita pertumbuhkan terus!

 

Pancasila – adalah seperti yang seringkali telah kukatakan – satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence Amerika dan Manifesto Komunis. Bahkan lebih jauh daripada itu saya telah sering berkata, Revolusi Indonesia adalah satu verbeterde editie, dan insya Allah satu laatste editie daripada revolusi-revolusi di dunia sekarang ini.

 

Lihatlah revolusi-revolusi lain! Revolusi Amerika sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Amerikaanse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Amerika terjadi hampir dua abad yang lalu.

 

Revolusi Perancis sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Franse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Prancis terjadi hampir dua abad yang lalu.

 

Revolusi Soviet pun sudah lamat-lamat mungkin nanti menuju kepada menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau De Soviet Revolutie, mogelijk, dreigt later ook slechts een historisch moment en een historisch monument te worden! Kenapa? Revolusi Soviet pecah setengah abad yang lalu. Atau kalau kita hitung dari tahun 1905, yang oleh Lenin dikatakan generale repetitie daripada revolusi, sudah 60 tahun yang lalu.

 

Sudah tentu kita mengambil keuntungan-keuntungan besar dari revolusi-revolusi tersebut. Akan tetapi Revolusi Indonesia tidak bisa dan tidak boleh hanya didasarkan atas pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, atau Revolusi Soviet itu saja.

 

Cita-cita dan isi serta konsepsi daripada revolusi kita harus merupakan penggalian daripada tuntutan-tuntutan seluruh umat-umat manusia umumnya dan rakyat Indonesia sendiri pada khususnya pada waktu itu, yaitu dalam abad ke-20 ini! Bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Amerika, bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Perancis, bukan hampir tigaperempat abad seperti Revolusi Soviet. Tetapi Revolusi Indonesia haruslah mencerminkan revolusi umat manusia dan Revolusi Bangsa Indonesia sendiri pada waktu ini, pada abad ke-20.

 

Saya berkata bahwa Nasakom atau Nasasos atau Nasa apapun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia.

Nasionalisme, Ketuhanan, Sosialisme (dengan nama apapun) adalah merupakan tuntutan daripada tiap jiwa manusia, tiap bangsa, tuntutan seluruh umat manusia.

Oleh sebab itu, ini harus kita pertumbuhkan secara konsekuen, tanpa dipengaruhi oleh pikiran atau doktrin yang sudah lapuk, baik dari ekstrem kanan maupun dari ekstrem kiri.

 

Jiwa Pancasila dan jiwa Nasasos atau Nasa apapun harus menjadi Leit-Star daripada revolusi modern sekarang ini, yaitu revolusinya umat manusia. Oleh sebab itu maka saya selalu peringatkan kepada bangsa dan rakyatku, jangan gontok-gontokan, jangan sembelih-sembelihan! Sebab, hal itu akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecahkan inti hakiki daripada revolusi kita. Dan kecuali daripada itu, maka ratusan ribu pembunuhan, ratusan ribu penahanan, malahan akan menjadi masalah sosial politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan-pertentangan saja.

 

Persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap merupakan syarat mutlak bagi kehidupan nasional kita, masih tetap merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan serta pembangunan dalam bidang materiil atau idiil apapun.

 

Lihatlah ke belakang! Tidakkah pada masa yang lampau, yaitu sebelum kita merdeka maupun sesudah kita merdeka, fakta-fakta menunjukkan dengan jelas bahwa perpecahan hanyalah membawa kita pada keruntuhan semata?

Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggalanya daripada masa yang akan datang.

 

Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa yang lampau, yaitu hasil-hasil macam-macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini. Sekali lagi saya ulangi kalimat ini, membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau, hal itu tidak mungkin, sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan-perjuangan di masa yang lampau.

 

Seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata, one cannot escape history, orang tak dapat melepaskan diri dari sejarah. Saya pun berkata demikian. Tetapi saya tambah, bukan saja one cannot escape history, tetapi saya tambah, never leave history, janganlah sekali-kali meninggalkan sejarah! Jangan sekali-kali meninggal-kan sejarah! Jangan meninggalkan sejarahmu yang sudah, hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan sejarahmu yang sudah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan lantas engkau menjadi bingung, dan perjuanganmu paling-paling hanya akan berupa amuk, amuk belaka! Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap.

 

Dalam pidatoku pada 17 Agustus 1953 telah kunyatakan bahwa kita semua tanpa perkecualian tidak dapat melepaskan diri dari sejarah-sejarah yang dalam abad ke-20 ini makin nyata dan makin tampak menunjukkan coraknya dan arahnya. Kita bangsa Indonesia di waktu yang lampau telah benar-benar ikut berjalan dalam corak dan arahnya sejarah itu, tetapi akhirnya kita datang kepada tempat yang sekarang ini. Tetapi sejarah tidak berhenti, sejarah tidak pernah berhenti, sejarah selalu berjalan terus – dan kita hendak berhenti, kita hendak mengingkari sejarah kita yang lampau, kita hendak putar haluan? Mari kita berjalan terus dengan sejarah itu, dan jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti toh akan diseret oleh sejarah itu sendiri samasekali.

 

Dengan berpegang terus kepada sejarah itu, maka dengan kekuatan baru, dengan selalu bertambah semangat baru, dengan selalu bertambah mantap dan kokoh keyakinan, bertambah cerah harapan-harapan baru, mari kita menggembleng terus persatuan dan kesatuan untuk perjuangan kita selanjutnya. Dan pada waktu sekarang ini juga untuk menyelesaikan Dwi Dharma dan Catur Karya-nya pemerintah, yang baru saja telah saya bentuk bersama-sama Jenderal Soeharto sesuai dengan perintah MPRS dalam Ketetapannya No XIII/1966.

 

Ya, masih bertumpuk-tumpuk tugas-tugas yang terletak di hadapan kita. Menggunung pekerjaan yang harus kita selesaikan. Tidak mungkin tugas-tugas itu diselesaikan oleh pemerintah sendiri tanpa ikutsertanya secara aktif membantu dari seluruh kalangan rakyat, dari semua suku, dari semua golongan, dari semua corak partai, dari semua isme yang ada.

 

Pelaksanaan program stabilisasi politik dan stabilisasi ekonomi yang telah diperinci menjadi 4 program –

a.   Memperbaiki peri-penghidupan rakyat, terutama di bidang sandang-pangan;

b.   Melaksanakan Pemilihan Umum selambat-lambatnya pada tanggal 5 Juli 1968;   

c.   Melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk kepentingan nasional;

d.   Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk  dan manifestasinya, –

adalah merupakan tantangan bagi pembantingantulang daripada seluruh rakyat kita di bawah pimpinan Kabinet Ampera sekarang ini, dan entah kabinet apa yang kemudian. Sekali lagi, berhasil dan tidaknya pelaksanaan empat program itu bukanlah semata-mata merupakan tantangan terhadap kepada pemerintah saja, tetapi pada hakekatnya adalah merupakan tantangan bagi seluruh rakyat kita yang berjuang dari Sabang sampai Merauke.

 

Dengan selalu secara konsekuen menumbuhkan dan mengembangkan jiwa Pancasila dan jiwa revolusi besar kita, rakyat Indonesia harus menjadi rakyat yang kuat, rakyat yang besar, untuk dapat melaksanakan darma baktinya kepada Ibu Pertiwi dan seluruh umat insani. Darstellung daripada kita punya deepest-inner-self dalam Dwi Tunggal Proklamasi dan Deklarasi adalah kongruen dengan kesadaran sosialnya insani di seluruh muka bumi. Kongruen dengan social conscience of man, demikian kataku berulang-ulang. Oleh sebab itu, segala usaha, segala gerak-gerik perjuangan kita untuk melaksanakan tuntutan hati dan jeritan jiwa kita itu, pasti selalu berkumandang di antero muka bumi.

 

Untuk melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 secara konsekuen, kita akan segera menyempurnakan susunan lembaga-lembaga negara kita menjelang terlaksananya Pemilihan Umum. Dan berdasarkan Ketetapan-ketetapan MPRS hasil Sidang Umum ke-4 yang baru lalu, kita akan melangkah maju dalam menyesuaikan dan menyempurnakan hidup kehukuman kita, serta mengatur pembagian wewenang serta tempat kedudukan lembaga-lembaga negara kita secara konstitusional.

 

Dengan Keputusan-keputusan MPRS di bidang ekubang, kita akan meletakkan dasar-dasar pokok untuk menguatkan hidup sosial ekonomi kita. Bahwa tuntutan akan kesejahteraan, kebahagiaan, hidup layak, hidup enak adalah tuntutan insani yang universal, itu adalah jelas! Apalagi buat bangsa kita yang berabad-abad lamanya, terutama sekali di bawah pemerintahan kolonial, selalu menderita itu. Maka juga pemerintah kita dan rakyat Indonesia harus bertekad memeras keringat dan memutar otak untuk menggali dan mengolah kekayaan-kekayaan nasional kita guna memenuhi keperluan dan tuntutan sendiri, di samping akan disumbangkan pula hasilnya kepada seluruh umat manusia di muka bumi.

 

Dengan tetap berpegang teguh dan tidak boleh melepaskan kepada mahkota kemerdekaan kita yang berwujud prinsip Berdikari, kita mengusahakan dan mencari kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan dengan kawan-kawan di seluruh dunia – terutama sekali kawan-kawan bangsa seperjuangan – untuk memper-kembangkan dan memajukan kehidupan sosial ekonomi kita. Hendaknya kita selalu ingat bahwa prinsip Berdikari menolak kebijaksanaan minta-minta, menolak kebijaksanaan mengemis, apalagi mengemis kepada musuh yang hanya akan merendahkan martabat dan harkat kebangsaan kita sebagai rakyat yang merdeka! Ya! Go to hell adalah tetap semboyan kita menghadapi tantangan tindakan-tindakan kaum monopoli dunia dengan taktik-taktiknya yang kotor, misalnya menjatuhkan harga daripada beberapa produk ekspor kita di pasaran dunia.

 

Dalam usaha pemerintah untuk segera dapat memenuhi kebutuhan pokok sandang-pangan kita, kita akan menggerakkan dan memperkembangkan terutama usaha produksi sendiri. Di samping itu kita juga akan mengusahakan tambahan-tambahan dari luar, manakala produksi sendiri itu belum mencukupi. Memperbesar dan memperkembangkan produksi dalam negeri itulah dasar dan sumber kemakmuran yang harus kita wujudkan. Sebab, memang usaha memperbesar produksi sendiri itulah kunci, kunci untuk menyehatkan perekonomian kita memberantas inflasi. Dalam usaha untuk segera dapat meringankan beban hidup kita sehari-hari, kita harus memusatkan segala perhatian dan segala kemampuan pemerintah serta rakyat kepada sektor-sektor usaha pangan dan sandang, dengan antara lain usaha-usaha penertiban dan pengaturan kembali serta rehabilitasi infrastruktur kita, yang di waktu-waktu belakangan ini kadang-kadang malah kita rusak sendiri.

 

Simultan, serentak bersama-sama, simultan dengan usaha-usaha kita untuk memenuhi kebutuhan material itu, pemerintah dan rakyat kita akan bertekad untuk memenuhi tuntutan Pemilihan Umum dalam jangka waktu 2 tahun yang akan datang. Berulang-ulang kali saya sendiri tandaskan bahwa Pemilihan Umum ini harus kita adakan secepat mungkin, karena justru Pemilihan Umum itulah alat demokrasi satu-satunya untuk mengetahui kehendak rakyat, untuk mengetahui hati nurani rakyat, untuk menjernihkan dan memurnikan tuntutan-tuntutan yang dicetuskan “atas nama rakyat”, dan untuk menyempurnakan lembaga-lembaga negara kita yang sekarang.

 

Dalam pada itu pagi-pagi saya telah mengeluarkan peringatan kepada bangsa dan rakyat akan bahaya gontok-gontokan dan jegal-jegalan dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum.

 

Dalam segala hal, dalam segala situasi yang bagaimanapun juga, peliharalah dan pegang teguhlah prinsip perjuangan kita: persatuan dan kesatuan bangsa. Menjelang dan dalam Pemilihan Umum, janganlah kita lupa daratan! Jangan kita sengit-sengitan! Jangan kita fitnah-fitnahan! Jangan kita jegal-jegalan! Jangan kita gontok-gontokan! Musuh revolusi selalu menghendaki ini, musuh dari luar, ya musuh dari dalam juga.

 

Memandang perkembangan dunia internasional dewasa ini dengan jiwa Proklamasi dan Deklarasi Kemerdekaan, mau tidak mau kita harus merasa sedih dan cemas melihat meningkatnya kebiadaban imperialisme terhadap rakyat-rakyat dan negara-negara yang menjadi korban kebuasannya atau hendak dijadikan korban kebuasannya. Misalnya di benua Afrika. Misalnya di benua Arab. Misalnya di Vietnam.

 

Oo, Vietnam! Betapa buasnya imperialisme di Vietnam itu! Dengan hak apa imperialis berbuat demikian di Vietnam itu? Dengan hak apa mereka membunuh, membakar, mengebom, meracun, membinasakan segala apa yang kumelip di beberapa daerah di sana itu? Dan jika dunia tidak waspada, jika bangsa-bangsa yang cinta damai tidak bersatupadu bertindak menentang kejahatan di sana itu, maka pastilah dunia nanti mengalami bencana yang lebih luas dan lebih ngeri lagi. Mungkin dunia akan mengalami perang atom antar-benua. Bulu romaku berdiri jikalau aku membayangkan malapetaka yang demikian itu – malapetaka tabula rasa kiamat untuk seluruh kemanusiaan. Apakah ini artinya kata-kata Injiliah; Beware, beware, after us the fire? Awas, sesudah kami akan datangkan api!

Beware, after us the fire!! Apakah ini arti perkataan Injiliah itu? Apakah ini yang dinamakan perang armageddon?

 

Apa gunanya Proklamasi, apa gunanya Deklarasi Kemerdekaan, apa gunanya kata-kata indah dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar kalau kita tinggal bungkam terhadap kebiadaban di Vietnam itu? Apa gunanya Mukadimah Undang-Undang Dasar atau Deklarasi Kemerdekaan kalau kita tidak tanpa tedeng aling-aling memprotes, ya lebih dari memprotes, mengutuk perang Amerika di Vietnam itu?

 

Apalagi perang Vietnam mempengaruhi dan melemparkan akibatnya secara langsung kepada sendi-sendi tata keamanan di seluruh Asia Tenggara, dan dengan sendirinya dus juga berpengaruh kepada keamanan di Indonesia sendiri.

Saya dengan hati bersih berseru kepada Amerika:

Amerika, keluarlah dari Vietnam!

Please America, please get out of Vietnam!

 

Tuan tidak akan bisa menyelesaikan soal Vietnam dengan cara yang Tuan jalankan itu. Tuan nanti yang akan babak bundas! Tuan nanti yang akan babak belur. Tuan nanti yang akan bertanggungjawab atas malapetaka dunia yang dahsyat. Kembalilah kepada Persetujuan Geneva! Atau, pakailah Soekarno-Macapagal Doctrine; Asian problems to be solved by Asian themselves, the Asia way. Soal-soal Asia dipecahkan oleh bangsa-bangsa Asia sendiri, dengan cara-cara Asia sendiri. Indonesia di sini menawarkan dirinya, menawarkan dirinya dengan jujur dan ikhlas, kalau diminta, untuk ikut menyelesaikan persoalan Vietnam itu atas dasar Soekarno-Macapagal Doctrine.

 

Dalam rangka mempertahankan keamanan di Asia Tenggara itu, maka perjuangan kita melawan kolonialisme dan neokolonialisme, – sesudah Irian Barat masuk kembali ke dalam kekuasaan Republik – telah mencapai puncaknya lagi seperti dikenal di dunia dalam wujud konfrontasi dengan Malaysia.

 

Tiga tahun kita menjalani konfontasi. Tiga tahun perjuangan yang gigih. Tiga tahun aku dimaki-maki oleh musuh dan oleh setengah orang dalam negeri sendiri. Dikatakan aku suka kepada permusuhan. Padahal Deklarasi Kemerdekaan kita sendiri mengatakan bahwa kita harus menghapuskan (dus harus berjuang menentang) kolonialisme. Padahal MPRS sendiri memerintahkan kita melanjutkan perjuangan anti imperialisme “dalam segala bentuk dan manifestasinya”. Padahal Konferensi Asia Afrika sendiri menghendaki kita menentang imperialisme “in all its forms and manifestations”. Dan tidakkah Malaysia satu British Neo-Colonialist project? Dus salah satu “bentuk dan manifestasi” kolonialisme, satu “form and manifestation” daripada si trouble maker, si tukang rewel – si war-monger! Tetapi syukur alhamdulillah, menjelang Hari Ulang Tahun Republik ke-21 ini telah dicapai persetujuan dengan Kuala Lumpur untuk menandatangani Persetujuan Bangkok yang disempurnakan. Saya berkata, alhamdulillah menjelang Hari Ulang Tahun Republik ke-21 ini telah dicapai persetujuan dengan Kuala Lumpur untuk menandatangani persetujuan Bangkok yang disempurnakan, yang akan menjadi sarana untuk mengakhiri konfrontasi secara damai atas dasar Manila Agreement.

 

Saudara-saudara,

Perhatikan kataku tadi;

Persetujuan Bangkok yang disempurnakan!

Sekali lagi, Persetujuan Bangkok yang disempumakan.

Apa itu yang disempurnakan?

Terus terang saja beginilah.

 

Bangkok yang pertama, dengarkan, Bangkok yang pertama – Bangkok hasil pembicaraan Saudara Adam Malik dengan Tun Abdul Razak tempohari – Bangkok yang pertama itu saya tidak mau terima. Dan Kogam pun tidak mau terima. Bangkok yang pertama itu masih berisi hal-hal yang bisa menjebloskan Republik. Waktu itu, dus pada waktu orang dengan gembira berkata, konfrontasi akan berakhir! Hure, perdamaian dengan Malaysia akan datang! Pada waktu itu saya dan Kogam berkata, tidak, konfrontasi berjalan terus! Geger dan gempar pada waktu itu orang-orang yang tidak mengerti! Dalam pada itu, karena kita memang lebih senang kepada penyelesaian secara damai, saya tugaskan kepada Saudara Jenderal Soeharto untuk mengadakan kontak dengan pihak Kuala Lumpur, mencari penyelesaian damai atas dasar Manila Agreement – salah satunya dasar yang bisa kita pakai untuk penyelesaian damai itu.

 

Jenderal Soeharto mulai bekerja. Setapak demi setapak ia mencapai hasil, sehingga ia sebagai duta perundingan, yaitu sebagai peace negotiator, berkata “optimis” dan “bahwa tidak lama lagi penyelesaian secara damai akan tercapai”

 

Datanglah petir halilintar yang menyambar. Kok Soekarno pada waktu itu mencak-mencak!

Dunia gempar, kok dalam merantaknya fajar perdamaian antara Malaysia dan Indonesia itu Presiden Soekarno masih berkata, konfrontasi berjalan terus! Saya malah tambah dicap lagi, dicap lagi sebagai si gila perang. Saya dinamakan oleh surat kabar imperialis “lalat di dalam salep”, the fly in the ointment. Satu surat kabar di Bangkok malah menyebut saya the angry old man – “itu orang tua bangka yang marah-marah”.

 

Ha-ha, bagaimana sih duduknya perkara? Lha ini barangkali Saudara-saudara ingin tahu.

Duduknya perkara adalah begini. Saya memerintahkan Jenderal Soeharto mencari penyelesaian secara damai atas dasar Manila Agreement. Jenderal Soeharto mulai bekerja. Dan tadi saya berkata, setapak demi setapak mencapai hasil. Tapi dari laporan-laporan yang saya terima, dari beliau juga, ternyata bahwa pihak Kuala Lumpur pada perundingan itu alot sekali menerima usul-usul kita untuk memenuhi Manila Agreement itu, alot sekali menerima usul-usul dari pihak kita sesuai dengan Manila Agreement itu. Kumaha ieu, bagaimana ini?

 

Well, saya lantas anggap perlu untuk sedikit tarik muka angker dalam perundingan ini. Saya anggap perlu untuk memberi tulang punggung kepada Soeharto dalam perundingan ini. Saya anggap perlu memberi back bone sedikit kepadanya. Dan saya lantas berkata, kalau mereka tidak mau menerima usul-usul kita buat implementasi Manila Agreement itu, maka kita akan jalankan terus konfrontasi!

 

Dan taktik ini, Saudara-saudara, berhasil. Kuala Lumpur lantas mau menerima usul-usul kita itu. Sehingga sekarang Bangkok yang dulu (yang kita tidak mau terima) menjadi Bangkok yang disempurnakan (yang kita mau terima). Dan apakah Bangkok yang disempurnakan itu? Bangkok yang disempumakan itu adalah Bangkok asli + annex buatan kita. Plus annex buatan kita. Itulah Bangkok yang disempurnakan. Ini yang kita mau terima. Dan ini, Saudara-saudara, yang ditandatangani beberapa hari yang lalu. Dan ini saya sambut dengan perkataan syukur alhamdulillah, sekarang ada dasar perdamaian dengan Kuala Lumpur.

 

Beberapa hari yang lalu kita di Jakarta telah menandatangani Bangkok yang disempurnakan itu. Yang penting dalam Bangkok yang disempurnakan itu, sebagai kukatakan tadi, annex-nya, di mana tertulis bahwa kita mengakui Malaysia, sesudah, dengarkan, sesudah diadakan Pemilihan Umum di Sabah dan Serawak. Sesudah, sekali lagi sesudah Pemilihan Umum di Sabah dan Serawak! Dus, tidak “begitu Persetujuan ditandatangani, begitu Malaysia kita akui”. Nee, tidak! Tidak begitu persetujuan ditandatangani, begitu kita mengakui Malaysia, tidak!

 

Adakan Pemilihan Umum lebih dulu di Sabah dan Serawak. Dan sesudah itu, baru kita mengakui Malaysia sebagai hasil daripada Pemilihan Umum itu.

Dengan keterangan ini maka jelaslah bahwa antara Presiden dan Jenderal Soeharto tidak ada perbedaan atau penjegalan, melainkan malah ada pemberian tenaga dari Presiden/Panglima Tertinggi kepada peace negotiator-nya.

 

Saudara-saudara, maka demikianlah Manila Agreement yang dulu ditanda-tangani dengan khidmat di Manila itu, dengan saya sebagai salah seorang pengambil inisiatifnya yang aktif, ternyatalah membawa manfaat besar kepada perjuangan melawan neo-kolonialisme dan kepada perikehidupan di Asia Tenggara. Kepada rakyat di Kalimantan Utara saya sekarang berseru, kalau Saudara-saudara benar-benar ingin merdeka – dan saya yakin demikian – pergunakanlah sebaik-baiknya ketentuan dalam Manila Agreement dan ketentuan dalam Persetujuan Bangkok yang disempurnakan ini bahwa di daerah Saudara-saudara akan diadakan Pemilihan Umum, dan jagalah, jagalah bahwa Pemilihan Umum ini – Pemilihan Umum di Sabah dan Serawak itu betul-betul dijalankan secara demokratis.

 

Saudara-saudara,

Hubungan kita dengan Singapura pun sedang kita atur. Memang Republik Indonesia ingin bersahabat dengan sebanyak mungkin bangsa di bawah kolong langit ini yang sejiwa dengan kita. Apalagi dengan tetangga kita sendiri. Itulah salah satu sebabnya kita tidak mau ikut-ikut dalam konfliknya bangsa-bangsa yang lain. Itulah intisari daripada politik kita yang bernama bebas dan aktif, yang sejak dari hari Proklamasi 21 tahun yang lalu memang selalu menjadi pegangan kita, dan sekarang memang juga diamanatkan oleh MPRS kepada Kabinet Ampera sebagai salah satu daripada Catur Karya.

 

Dunia sekarang makin lama makin mengerti, apa baiknya politik bebas dan aktif itu. Dulu misalnya Amerika sangat tidak menyukainya. Dulu Amerika malahan sangat menghinanya.

 

John Foster Dulles, Menteri Luar Negeri Amerika dulu itu, terang-terangan berkata kepada saya, neutralism is immoral, yang artinya netralisme adalah immoral. Yang ia maksudkan ialah politik bebas aktif adalah immoral. Politik bebas aktif adalah politiknya orang yang tidak mempunyai budi. Itu dulu.

 

Sekarang, sekarang Menteri Luar Negeri Amerika yang sekarang, Tuan Dean Rusk, menyatakan bahwa Amerika menghargai benar politik bebas dan aktif kita itu. Saya membaca itu dalam surat kabar-surat kabar beberapa hari yang lalu, dan saya amat bersyukur dan bergembira. Saya hargai benar ucapan Mr Dean Rusk itu. Mr Dean Rusk, I appreciate your statement very much! Saya mengharap saja bahwa Mr Dean Rusk dan seluruh rakyat Amerika mengerti juga bahwa politik bebas dan aktif kita itu adalah politik bebas dan aktif.

 

Bebas dan aktif! Aktif, sekali lagi aktif! Bukan bebas sambil tidak berbuat apa-apa. Bukan bebas sambil in-aktif.

 

Kalau kita dinamakan orang bahwa kita ini netral, okay, okay! Kita dinamakan netral, okay! Tetapi janganlah orang mengira bahwa kita dalam kenetralan kita itu, tinggal – kataku tempo hari – diam tenguk-tenguk memeluk bahu membiarkan segala sesuatu di dunia ini berjalan semau-maunya, seperti seseorang yang duduk tenguk-tenguk di atas pagar di pinggir jalan sambil menonton saja apa yang berlalu dan berlintas di hadapannya.

 

Di Amerika tempo hari, tiga kali saya berkata dengan tandas, we are neutral, but we are not sitting on the fence! We are not sitting on the fence, yang artinya kita netral tetapi kita tidak duduk tenguk-tenguk di atas pagar.

 

Netralisme kita bukan netralisme orang yang duduk tenguk-tenguk. Kita aktif, kita berjuang! Aktif untuk apa? Berjuang untuk apa? Kita ikut serta aktif dalam perjuangannya umat manusia untuk mencapai Dunia Baru tanpa exploitation de l’homme par l’homme dan tanpa exploitation de nation par nation. Kita tidak netral dan tidak dapat netral, misalnya, dalam menghadapi imperialisme, kolonialisme, atau neokolonialisme. Kita tidak boleh membiarkan imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme itu hidup. Kita harus aktif menentang imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme itu. Kita tidak membiarkan sesuatu bangsa merampas kemerdekaannya sesuatu bangsa lain, mengkolonisasi atau men-neokolonisasi sesuatu bangsa lain. Kalau kita membiarkannya atau tidak menentangnya, atau lebih jahat lagi peluk-pelukan dengan imperialisme atau neoimperialisme itu, maka apakah kita ini? Apakah kita ini?

 

Kalau kita membiarkan imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme hidup terus, membiarkan ia mengungkung bangsa lain atau mengungkung bangsa kita sendiri atau merongrong bangsa kita sendiri, contain bangsa kita sendiri, maka kita ingkar, Saudara-saudara, kepada jiwa kemerdekaan kita. Bahkan mengkhianati jiwa kemerdekaan itu yang tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan dengan kata-kata yang begitu gilang-gemilang. Apa yang tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan?

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

 

Sebagai contoh saya kemukakan di sini (quand vous voulez pour Monsieur Dean Rusk – kalau Tuan mau, ya syukur, Tuan Dean Rusk) bahwa perjuangan kita menentang Malaysia adalah amanat daripada Deklarasi Kemerdekaan kita itu, oleh karena Malaysia adalah satu British neocolonialist project. Demikianlah hakekat daripada netralisme kita – satu netralisme yang dalam hal-hal demikian tidak boleh netral (dalam arti tenguk-tenguk) samasekali.

 

Itulah sebabnya maka kita, dalam politik kita yang bebas dan aktif itu, tidak netral pula dalam persoalan Vietnam, malah mengutuk perang Vietnam itu! Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel! Tidak mau membenarkan coup-coup di Afrika belakangan ini, yang buat 90% semuanya hasil usaha imperialis! Tidak mau netral terhadap beberapa kejadian di dunia Arab! Tidak mau mengutuk amarahnya bangsa Negro di Amerika – the Negro Revolution, sebagai almarhum Kennedy katakan.

 

Sungguh, kita harus bangga bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekuen terus, bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa anti imperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme, konsekuen terus berjuang menentang exploitation de l’homme par l’homme dan exploitation de nation par nation! Kita harus bangga bahwa kita oleh bangsa-bangsa Asia, Afrika, Amerika Latin, bangsa-bangsa lain yang progresif, dipandang sebagai mercusuar di dalam hal perjuangan ini.

 

Kita, kitalah, Saudara-saudara, pembuat kata New Emerging Forces. Kitalah initiatief nemer daripada penggabungan semua New Emerging Forces. Kitalah initiatief nemer Ganefo. Kitalah initiatief nemer Conefo. Kitalah dulu salah satu initiatief nemer Konferensi Asia Afrika. Imperialisme yang pada hakekatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga anti imperialisme yang internasional juga. Saya gembira bahwa MPRS mengenai Conefo berkata: a. Pada prinsipnya gagasan penggalangan kekuatan progresif revolusioner anti imperialisme dan kolonialisme adalah gagasan yang luhur, yang harus ditingkatkan realisasinya; b. Mengenai Conefo, hendaklah disesuaikan dengan kondisi dalam negeri dan kemampuan-kemampuan dalam penyelenggaraannya, dan juga kondisi internasional.

 

Saya gembira dengan kata-kata MPRS ini, oleh karena MPRS menentukan bahwa penggalangan segala kekuatan progresif revolusioner anti imperialisme dan kolonialisme itu harus ditingkatkan realisasinya.

 

Justru itulah yang saya ikhtiarkan! Justru itulah yang saya kerjakan siang dan malam. Justru itulah yang saya anggap sebagai salah satu tugas hidup saya. Justru itulah yang saya anggap sebagai salah satu life dedication saya. Bahwa mengenai gagasan Conefo itu kita harus menye-suaikannya dengan kondisi dalam negeri dan kemampuan-kemampuan dalam penyelenggara-annya – oo, itu adalah logis. Itu spreekt vanzelf. ltu adalah terang sebagai 2 x 2 = 4.

 

Tetapi satu hal harus saya katakan di sini. Sebagaimana Konferensi Asia Afrika tidak disenangi oleh imperialis dan dibenci oleh imperialis, dan karenanya hendak disabot oleh imperialis – ingatlah antara lain pembinasaan kapal terbang Kashmir Princess yang membawa utusan-utusan ke Konferensi Asia Afrika di Aljazair, sehingga gagal tak dapat langsung sama sekali – maka pihak imperialis juga amat tidak senang dengan penyelenggaraan Conefo, amat benci dan takut kepada Conefo itu. Bayangkan! Conefo adalah satu konferensi penggalangan semua tenaga anti imperialis dari seluruh muka bumi. Conefo adalah lebih besar daripada Asian Relations Conference yang dulu pernah diadakan di New Delhi, lebih besar daripada Konferensi Asia Afrika di Bandung! Conefo adalah bahaya yang lebih besar bagi imperialisme daripada Konferensi New Delhi atau Konferensi Bandung. Belum pernah di dalam sejarah pihak imperialis nanti menghadapi satu united front anti imperialis yang begitu besar seperti Conefo ini. United front anti imperilis yang begitu besar dari seluruh dunia, dari seluruh muka bumi.

 

Karena itu, pihak imperialis menjalankan semua usaha, semua muslihat, dan akan menjalankan semua usaha dan semua muslihat – terang-terangan atau gelap-gelapan – untuk menggagalkan Conefo itu. Dengan apa? Dengan segala macam jalan! Antara lain dengan jalan mengacaukan kondisi dalam negeri kita – politis maupun ekonomis – agar supaya kita tidak mampu nanti menyelenggarakan Conefo itu. Dus, waspadalah! Waspadalah! Jangan terlalu gantungkan penyelenggaraan Conefo itu dari kondisi dalam negeri, dan jangan terlalu gantungkan ia daripada kemampuan-kemampuan dalam penyelenggaraannya. Saya sendiri, insya Allah, bertekad bulat untuk menyelenggarakan terus Conefo itu. Kalau bisa di dalam Gedung Conefo yang megah yang sedang kita bangun sekarang ini dengan banyak rintangan. Kalau bisa di gedung itu, syukur! Kalau tidak bisa di gedung itu, karena ya sesuatu rintangan, marilah hei kaum progresif revolusioner, kita adakan Conefo itu di tempat lain, dalam bangunan-bangunan yang murah di tengah sawah sekalipun, terbuat dari bambu dan gedek, berjubin tanah mentah, beratap kajang dan alang-alang.

 

Yang penting bukan gedungnya. Yang penting bukan gedungnya. Yang penting ialah penggalangan semua tenaga anti imperialis. Di satu gedung megah syukur kalau bisa, untuk mengangkat nama Indonesia, di gubug-gubug beratap alang-alang apa boleh buat, malahan mungkin mendatangkan efek politik yang lebih hebat lagi. Di mana Isa menjatuhkan jiwa imperium Romawi? Di gubug-gubug, di kandang-kandang kambing, kadang-kadang di bawah kolong langit – hakandang langit, hakemul mego, kata orang Jawa. Di mana Muhammad menggembleng umatnya?

Di gubug-gubug, di pinggir-pinggir jalan, di bawah pohon-pohon kurma. Di mana Gandhi menyusun gerakan satya grahanya? Di Sabarmati Ashram yang amat sederhana dan dari dalam penjara. Di mana kita dulu menempa persatuan revolusioner rakyat Indonesia yang nanti menjatuhkan samasekali imperialisme Belanda? Di gedung genteng di Gang Kenari sini, Saudara-saudara, gedung genteng Gang Kenari dan di gudang gedek di Cilentah Bandung.

 

Kecuali itu, sebagai kemarin kukatakan di DPR-GR, kalau gedung Conefo ini bisa selesai, maka sesudah kita pakai untuk Conefo, kita dapat pakainya untuk keperluan-keperluan lain; untuk konferensi-konferensi internasional, untuk parlemen, untuk MPRS, atau untuk lain-lain yang penting. Saya sendiri, kataku kemarin, malu, malu, sampai sekarang kok Republik Besar sebagai Indonesia ini, parlemennya di gedung pinjaman, MPRS-nya di gedung pinjaman. Di negara-negara lain, gedung parlemen atau gedung Supreme Congress-nya adalah salah satu gedung yang terindah di negeri itu.

 

Saya ulangi lagi, perjuangan anti imperialisme harus kita jalankan terus, juga atas skala internasional.

 

Kita menyadari dan tahu benar bahwa perikehidupan bangsa di abad XX sekarang ini tidak mungkin lagi kita jalankan sendiri-sendirian. Dunia sekarang ini memang telah menjadi kecil. Bola dunia sekarang ini telah menjadi laksana satu kelereng kecil di dalam tangannya Si Pembuat Sejarah. Segede mrico binubut ing astane

Sang Murbeng Dumadi. John Foster Dulles dalam perdebatannya dengan saya mengatakan bahwa Amerika menjalankan satu politik dunia – menjalankan satu global policy. Well! Sekarang saya menjawab, Indonesia, terutama sekali dalam perjuangannya anti imperialisme, menjalankan strategi dunia – Indonesia menjalankan satu global strategy.

 

Apalagi kalau kita ingat bahwa Revolusi Indonesia hanyalah satu bagian saja daripada revolusi umat manusia, satu bagian saja daripada the universal revolution of man. Dan apakah inti daripada universal revolution of man itu? Apakah inti daripada tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini? Inti hakiki tiap-tiap revolusi dalam abad XX ini ialah kemerdekaan bagi manusia, kemerdekaan bagi bangsa, anti imperialisme, anti-exploitation de l’homme par l’homme dan anti-exploitation de nation par nation.

 

Karena itulah maka sebagai salah satu mercusuar daripada universal revolution of man ini, Indonesia mempunyai universal voice – mempunyai suara sejagad, Indonesia didengarkan, dilihat, diperhatikan, sering-sering dikagumi oleh orang di lima benua dan tujuh samudera! Inilah kemercusuaran kita, berkat perjuangan kita berdasarkan Proklamasi Kemerdekaan dan Deklarasi Kemerdekaan kita itu.

 

Saudara-saudara, saya pemah dihadiahi dengan coretan tembok yang berbunyi: “Mercusuar politik no, mercusuar ekonomi yes”.

 

Wah, wah, wah, wah, hebat bener nih! Hebat bener! Tapi saya tanya:

Siapa bisa dalam abad XX ini memisahkan ekonomi dari politik, memisahkan politik dari ekonomi, baik nasional maupun intemasional? Dalam abad XX dua hal ini, ekonomi dan politik, adalah kait-mengait, kait-mengait satu sama lain, rante-rinante satu sama lain, interwoven satu sama lain. Apalagi buat kita, ekonomi kita! Sebab, ekonomi yang kita kejar ialah ekonomi atas dasar orde baru, ekonomi atas dasar orde sosialis, bukan ekonomi seperti di Amerika atau ekonomi seperti di Jepang, satu ekonomi sosialis tanpa exploitation de l’homme par l’homme. Tetapi saya tanya lagi, ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme apakah mungkin tanpa perjuangan, tanpa menghilangkan exploitation de nation par nation? Ekonomi tanpa exploitation de l’homme par l’homme tak dapat kita selenggarakan tanpa hilangnya exploitation de nation par nation, yaitu tanpa hilangnya imperialisme! Membangun ekonomi sosialis dengan bersama-sama dengan itu menggempur imperialisme, menggempur imperialisme untuk bersama-sama dengan itu membangun sosialisme, inilah rantai yang saya maksudkan, itu adalah Dwi Tunggal! Dwi Eka! Dwi Simultanisme!

 

Karena itulah maka Ampera bukan hanya urusan isi perut. Ampera adalah urusan isi perut dan negara merdeka bebas dari imperialisme plus Dunia Baru.

 

Ampera adalah Dwi Tunggal politik dan ekonomi, Dwi Tunggal ekonomi dan politik. Tidak bisa dipisah satu sama lain. Dan tidak ada ke-amberg-parama-arta-an dari yang satu di atas yang lain.

Malahan Ampera adalah Tri Tunggal, yaitu:

Negara Merdeka – politik!

Masyarakat adil dan makmur – ekonomi!

Dunia Baru – politik!

Pun di dalam Tri Tunggal Ampera ini tidak ada ke-ambeg-parama-arta-an.

 

Karena itulah maka saya tempo hari berkata bahwa hati saya plong, plong karena MPRS memberi kepada Kabinet Ampera tugas Catur Karya, bukan Eka Karya: satu, ekonomi, dua, gempur imperialisme; tiga, politik bebas aktif; empat, Pemilihan Umum. Ekonomi dan politik bersama-sama, ekonomi dan politik simultan, ekonomi dan politik door elkaar en aan elkaar.

 

Bagaimana dua hal stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik? Bagaimana itu Dwi Dharma yang ditugaskan oleh MPRS? ltu pun tak dapat dipisahkan satu sama lain. ltu pun interwoven satu dengan yang lain.

 

Kita bekerja keras untuk stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik, bersama-sama. Tapi stabilisasi adalah satu pengertian yang relatif. Stabilisasi adalah satu relatief begrip! Jangan takut memasuki z.g. instabilisasi, kalau instabilisasi itu sementara perlu untuk mencapai stabilisasi. Memang revolusi ia punya antithesa dan synthesa, dengan ia punya dialektika, adalah satu rantai panjang instabilisasi dan stabilisasi.

 

Dan terutama sekali camkan dalam hatimu dan pikiranmu, camkan secam-camnya bahwa stabilisasi yang kita perlukan sekarang bukanlah stabilisasinya kaum imperialis, bukan stabilisasinya kaum imperialis, tetapi stabilisasinya perjuangan kita yang revolusioner, sebagai batu loncatan untuk meneruskan revolusi dan memenangkan revolusi itu.

 

Saudara-saudara, saya bergembira pula bahwa MPRS mengenai PBB berkata, “harus meningkatkan perjuangan untuk mengadakan perombakan dalam tubuh PBB, baik struktural maupun komposisional, untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman”. MPRS berkata pula, “dengan ikut aktif kembalinya Indonesia di dalam badan intemasional itu, perjuangan perombakan akan lebih efektif”.

 

Apa yang dikatakan oleh MPRS itu benar, sama saja benarnya dengan perkataan, misalnya bahwa “persoalan Malaysia harus diselesaikan dengan jalan damai, dengan perundingan atas dasar Manila Agreement”. Tapi, marilah saya pakai terus contoh perundingan dengan Malaysia itu untuk menjelaskan politik saya terhadap PBB. Perundingan dengan Malaysia memang benar, tapi nah ini, kapan, kapan kita harus mulai perundingan? Kapan? ltu adalah soal lain. Soal kapan itu adalah soal taktik dan strategi. Soal kapan adalah soal penyelenggaraan, bukan soal prinsip lagi. Taktik kita dengan Malaysia ialah – sebagai dikatakan dengan kata-kata lain oleh Jenderal Soeharto kemarin di DPR -, taktik dengan Malaysia ialah mengajak mengadakan perundingan kalau Malaysia sudah dalam keadaan minta perundingan itu. Jenderal Soeharto berkata, konfrontasi politik untuk membawa atau memaksa Malaysia masuk perundingan. Saya di sini dengan perkataan lain berkata, mengajak mengadakan perundingan kalau Malaysia sudah dalam keadaan minta perundingan itu. Karena itu maka tiga tahun lamanya kita mengadakan konfrontasi dengan Malaysia lebih dahulu, dan sesudah Malaysia meminta perundingan, baru kita memasuki perundingan dengan dia.

(Di sini ingatlah kepada tulang punggung yang saya berikan kepada Jenderal Soeharto, sebagai saya ceritakan kepadamu di muka tadi).

 

Demikian pula dengan PBB! Prinsip masuk kembali dalam PBB untuk melebih-efektifkan perjuangan perombakan PBB, memang benar, tapi kapannya, kapan waktunya, itu adalah soal taktik. Taktik tergantung kepada keadaan musuh, keadaan kita sendiri, alat, tempat, dan waktu.

Lantas, kapan kita masuk kembali ke dalam PBB? Dengar uraian saya berikut. Saya bergembira bahwa MPRS juga memutuskan “harus meningkatkan perjuangan untuk mengadakan perombakan dalam tubuh PBB”.

 

Nah, saya mau meningkatkan perjuangan perombakan PBB itu lebih dahulu di luar PBB. Antara lain, antara lain karena ada peningkatan lain juga, saya mau mengadakan Conefo lebih dahulu. Baru nanti sesudah peningkatan perjuangan perombakan itu di luar dan di dalam Conefo, baru nanti kita tetapkan kapannya atau waktunya kita kembali ke dalam PBB. Bandingkan taktik ini dengan politik saya terhadap Malaysia; konfrontasi lebih dahulu, baru kemudian perundingan. Dan perhatikan pidato saya “Membangun Dunia Kembali” di New York – To Build The World Anew. Di situ saya jelaskan bahwa PBB sekarang ini adalah sarang daripada negara-negara besar, didominasi oleh negara-negara imperialis. Sesungguhnya, perjuangan perombakan PBB adalah satu bagian daripada perjuangan anti imperialis.

 

Nah, Saudara-saudara, demikianlah beberapa ungkapan introspeksi dan mawas diri daripada tahun-tahun yang telah lampau. Panjang, ya 21 tahun ini penuh dengan pengalaman-pengalaman pahit dan manis, penuh dengan pengalaman-pengalaman plus dan minus. Kewajiban kita ialah mengoreksi minus-minusnya, menyempurna-kan plus-plusnya, sebagai bekal untuk perjalanan kita seterusnya, yang masih jauh dan niscaya masih berat itu. Men leert historie om wijs worden van tevoren, – ini dari seorang pujangga – pelajarilah sejarah untuk tidak tergelincir di hari depan, demikianlah Thomas Carlyle, begitu namanya ahli falsafah ini pernah berkata. Kepadamu saya berkata, pelajarilah sejarah perjuanganmu sendiri yang sudah lampau, agar supaya tidak tergelincir dalam perjuanganmu yang akan datang.

 

Itulah intisari daripada peringatanku tadi, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, never leave history! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarahmu sendiri – never, never leave your own history.

 

Telaah kembali, petani kembali.

Kenapa kita di masa lampau jaya?

Kenapa kita di masa lampau menderita tamparan-tamparan, menderita setbacks?

Jaya, karena kita kompak bersatu antara seluruh bangsa dan antara semua golongan revolusioner!

Jaya, karena kita samenbundelen van alle revolutionnaire krachten in de natie.

Jaya, karena semua kompak mengemban Panca Azimat Revolusi.

Jaya, karena semua kompak mengemban Pancasila.

Jaya, karena semua kompak mengemban Nasakom, atau Nasasos, atau Nasa  apapun.

Jaya, karena semua kompak mengemban Manipol-USDEK.

Jaya, karena semua kompak mengemban Trisakti

Jaya, karena semua kompak mengemban Berdikari total!

 

Dan menderita tamparan, menderita setbacks, pada waktu kita terpecah belah dan tidak samenbundelen semua revolutionnaire krachten in onze nation!

Inilah sejarah perjuanganmu, inilah sejarah history-mu. Pegang teguh kepada sejarahmu itu – never leave your own history! Peganglah apa yang telah kita miliki sekarang, yang adalah akumulasi daripada hasil semua perjuangan kita di masa lampau, kataku tadi. Dan kataku tadi, jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri di atas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan, dan perjuanganmu nanti akan paling-paling bersifat amuk saja, seperti kera di gelap gulita.

 

Ada orang-orang yang tidak mau mengambil pengajaran dari sejarah, bahkan mau melepaskan kita dari sejarah itu. Itu tidak bisa. Mereka akan gagal! Sebab, melepaskan sesuatu rakyat atau bangsa dari sejarahnya adalah tidak mungkin. Nationaal biologis tidak mungkin, nationaal phychologis tidak mungkin. Dan tidak mungkin pula karena engkau, hai rakyat, hai prajurit-prajurit dari semua angkatan bersenjata, hai pejuang-pejuang progresif revolusioner, engkau tidak mau dipisahkan dari sejarahmu – sejarahmu sendiri, sejarah perjuanganmu sendiri.

 

Tanpa tedeng aling-aling, inilah ajaran Pemimpin Besar Revolusi (istilah Ketetapan MPRS), ajaran Bung Karno, ajaran Bung Karnomu, hai rakyat jelata, hai prajurit-prajurit arek-arekku yang memanggul bedil, hai semua pejuang progresif revolusioner, hai semua Laskar Revolusi Indonesia yang benar-benar bertekad mati-matian untuk berjuang membawa Revolusi Indonesia kepada Matahari Kemenangan yang abadi menyinari Indonesia dan seluruh jagad kemanusiaan.

 

Aku Pemimpin Besarmu, demikianlah kata MPRS, aku pemimpinmu, ikutilah pimpinanku ini, ikutilah semua petunjuk-petunjukku. Aku tidak punya pengongso-ongso, aku tidak punya keinginan keuntungan pribadi, aku tidak mengejar self interest. Aku hanya ingin memimpin engkau, aku hanya ingin memimpin engkau, antara lain karena juga ditugaskan MPRS, aku hanya menunjukkan jalan kepada engkau, selalu dengan engkau, tidak pernah tanpa engkau. Dengan engkau aku berdiri, tanpa engkau aku bukan apa-apa. Dengan engkau aku jaya, tanpa engkau aku gagal.

 

Jangan ragu-ragu, jangan bimbang! Marilah berjalan terus melanjutkan revolusi, di atas jalan yang aku tunjuk!

 

Ya Allah ya Robi, ridoilah Revolusi Indonesia di bawah pimpinanku ini!

 

Sekian, terima kasih.