Berilah Isi Kepada Hidupmu !

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO

PADA ULANG TAHUN

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA,

17 AGUSTUS 1956 DI JAKARTA

 

 

Saudara-saudara!

 

Di bawah kepulan hitam api-peperangan yang masih kemelun di udara Indonesia sebelas tahun yang lalu menyatakan kemerdekaannya. Bukan sinarnya Purnama-Sasi yang mengiringi Proklamasi itu, bukan nyanyian-nyanyian yang merdu-merayu. Sebaliknya, gempa peperangan masih terasa; api-revolusi-rakyat meledak sekaligus oleh karenanya; gemerincingnya pedang dan pekiknya barisan-barisan bambu-runcing memenuhi angkasa; ledakan bom dan granat menjadi pengalaman sehari-hari.

 

Tidak ada seorangpun di waktu itu yang menghitung-hitung atau menimbang-nimbang: “bagaimana dunia nanti akan menerima Proklamasi ini?” Tidak ada seorangpun yang menghitung-hitung: “berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjoang dan berkorban untuk mempertahankannya?”

 

Pada waktu itu, yang ada hanyalah satu tekad-bulat daripada segenap rakyat Indonesia, tekad-bulat “sekali merdeka tetap merdeka”. Pada waktu itu segenap rakyat Indonesia laksana hidup dalam hikmahnya sesuatu wahyu.

 

Di tembok-tembok rumah, di tembok-tembok jembatan, orang tuliskan isi-hatinya dengan singkat tetapi tegas: “Indonesia never again the lifeblood of any nation”, – “Indonesia tidak lagi akan jadi darah-hidupnya sesuatu bangsa asing”; “we fight for freedom, we have only to win”,”kita berjoang untuk kemerdekaan, kita pasti menang”.

 

Seluruh angkasa gemetar dengan getaran-tekad: “merdeka, atau mati!”

Benar, selama 350 tahun Indonesia memang telah memberikan darahnya bagi hidupnya bangsa lain. Penjajah menjadi gemuk, kita menjadi kurus-kering. Di luar dugaan mereka, rakyat yang kurus-kering ini, – rakyat yang mereka sebutkan “het zachtste volk der aarde ” , “rakyat yang paling lemah-lembut di dunia”, rakyat yang begitu lama mereka tunggangi namun toh menurut saja, rakyat yang begitu sering mereka labrak dengan pecut namun toh tidak melawan -, di luar dugaan mereka, rakyat kurus kering ini bangkit berdiri serentak sambil berkata: ”Stop! Sampai di sini, – kita merdeka, kita tidak mau dijajah lagi!”

 

Dan di luar dugaan mereka juga, rakyat kurus-kering itu dapat mempertahankan Republik-nya terhadap hantaman-hantaman contra-ofensiefnya, dapat membangun dan membina Republiknya kendati segala rintangan, dapat mcmbuktikan sumpahnya “sekali merdeka tetap merdeka” dengan cara yang mengagumkan dunia.

 

Setahun menjadi dua tahun, dua tahun menjadi tiga tahun, tiga tahun menjadi empat tahun, empat tahun menjadi lima tahun, – enam tahun, tujuh tahun, delapan tahun, sembilan tahun, sepuluh tahun, sebelas tahun, . . . dan Insya Allah sebelas tahun ini akan menjadi sebelas puluh tahun, sebelas ratus tahun, mungkin sebelas ribu tahun!

 

Ya, Agustus 1945; Republik Indonesia pada waktu itu dalam pandangan dunia satu pertanyaan, satu question-mark; dalam pandangan Belanda satu umpan-ganyangan yang akan dapat digaglak lagi dalam beberapa hari atau beberapa pekan. Sekarang Agustus 1956: Republik Indonesia dalam pandangan dunia satu potensi berharga dalam susunan inter-nasional, dalam pandangan Belanda satu “taaie kost”, satu “makanan alot”, yang tak dapat digaglak begitu saja! Ya, katakanlah keuangan Indonesia belum beres, katakanlah produksi belum maju, katakanlah administrasi belum sempurna, katakanlah pendidikan belum teratur, katakan, katakan apa saja yang orang mau katakan, tetapi toh, 80.000.000 rakyat Indonesia pada saat ini merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaannya yang kesebelas, Hari Ulang Tahun Republik dalam Dasa-Warsa yang kedua!

 

Buat kesebelas kalinya saya diberi kehormatan memidatoi rapat semacam ini, tetapi ah, apa aku ini dalam alam usaha dan perjoangan bangsa? Engkau, engkau, rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, engkau rakyat Indonesia yang 80.000.000, engkaulah yang berusaha, engkaulah yang berjoang, engkaulah yang dengan berkat Tuhan menegakkan Republik ini, engkaulah yang menjadi hidupnya dan menjadi tenaganya. Engkaulah yang dibuat Tuhan satu rakyat yang merdeka, engkaulah yang menjadi Alat-Kehendak-Nya. Ya, Tuhanlah Pemberi merdeka kepada bangsa-bangsa, Tuhanlah Pemerdeka rakyat-rakyat, – tengadahkanlah mukamu keatas, tengadahkanlah tanganmu kepada zat yang Satu itu, agar supaya engkau bersyukur dan berterimakasih kepada-Nya, dan agar supaya engkau tetap diberkahi oleh-Nya menjadi bangsa yang merdeka, kekal dan abadi!

 

Saudara-saudara! Dalam pidato saya 17 Agustus tahun yang lalu, saya dengungkan Panca Dharma:

 

Kesatu                  :  Kembali kepada Persatuan.

Kedua                   :  Membanteras pengacauan.

Ketiga                   :  Memperhebat Pembangunan.

Keempat               :  Memperhebat perjoangan Irian Barat dan anti-kolonialis-

                        imperialis.

Kelima                  :  Menyelenggarakan pemilihan-umum.

 

Mari kita tinjau, mana dari Panca Dharma itu sudah kita selesaikan, mana yang belum:

 

Membanteras pengacauan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.

 

Kembali kepada Persatuan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.

 

Memperhebat Pembangunan, – itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan; kita baru saja mulai dengan Plan Lima Tahun.

 

Memperhebat perjoangan Irian Barat dan anti-kolonialis-imperialis, itu sedang kita kerjakan, belum berhasil memuaskan.

 

Menyelenggarakan pemilihan-umum, – itu sudah kita kerjakan, berhasil lumayan juga.

 

Dus: dari Panca Dharma itu baru satu Dharma sajalah telah kita kerjakan penuh. Empat Dharma belum kita selesaikan. Catur Dharma, – Catur artinya empat – , dus belum kita tunai-kan. Catur Dharma masih memanggil-manggil!

 

Dan sebenarnya: Catur Dharma ini berpusat kepada satu Dharma saja, yaitu Dharma Pembangunan. Catur Dharma berjiwakan Eka Dharma, – Eka berarti satu -, Tugas yang Empat berpusat kepada Tugas yang Satu: membangun, membangun, sekali lagi membangun. Tidak dapat kita membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma Persatuan. Tidak dapat kita membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma keamanan. Tidak dapat kita mem-bangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma mengenyahkan imperialisme dari Irian Barat.

 

Bahkan kitapun tak dapat membangun 100%, zonder menyelesaikan Dharma pemilihan-umum lebih dahulu. Dus, Panca Dharmapun berpusat kepada Eka Dharma pula. Lima berpusat kepada yang satu. Lima untuk yang satu, empat untuk yang satu, tiga untuk yang satu, dua untuk yang satu, satu-membangun-untuk yang satu! Ialah untuk Rakyat. Untuk si Dadap, untuk si Waru.

 

Untuk Nyi Icih, untuk Sarinah. Untuk Bang Amat, untuk Pak Bopèng. Untuk si Proletar, untuk si Tani, untuk si Prajurit, untuk si Pegawai. Untuk seluruh lapisan Rakyat Indonesia. Bukan untuk si kaya saja, bukan untuk Sang ndoro saja. Bukan untuk Bung Karno, bukan pula untuk Pak Menteri.

 

Itulah yang saya maksudkan dengan “yang satu” itu. Panca Dharma atau Catur Dharma untuk rakyat. Dan inipun masih harus memuncak lagi dalam isi-batinnya: – memuncak kepada “Yang Lebih Satu” lagi, yaitu memuncak kepada Tuhan.

 

Saudara-saudara, pemilihan-umum kita yang pertama, telah kita selesaikan: 29 September 1955 untuk D.P.R., 15 Desember 1955 untuk Dewan Konstituante. Zaman ”demokrasi raba-raba” telah ditutup, zaman “demokrasi yang lebih kongkrit” telah mulai berjalan. Dunia kagum melihat rapihnya pemilihan-umum kita itu berjalan. Tadinya disangka akan terjadi kekacauan, – bahkan ada yang meramalkan akan terjadinya kekacauan – , tetapi rakyat Indonesia bukan anak-kemarin di lapangan demokrasi! Jiwa demokrasi dan arti demokrasi buat bangsa Indonesia bukan barang-baru atau barang-import, tetapi adalah bagian daripada darah-daging bangsa Indonesia sendiri. Tatkala rakyat-rakyat di dunia Barat masih pentung-pentungan satu-sama-lain rebutan kebenaran, maka di Indonesia beberapa inti demokrasi telah berjalan! Karena itu, jika tadi saya memakai istilah “demokrasi raba-raba” untuk zaman sebelum pemilihan-umum D.P.R. dan Konstituante, maka itu samasekali tidak berarti bahwa rakyat Indonesia masih meraba-raba apa arti demokrasi, melainkan hanyalah karena dalarn zaman sebelum pemilihan-umum itu tidak seorangpun dapat menyatakan dengan tepat siapa-siapa, mewakili apa, di dalam badan-badan-perwakilan kita. Pada waktu itu, belum ada tata-pelaksanaan hak-hak-azasi rakyat yang bernama demokrasi, yaitu memilih wakilnya sendiri dengan cara rahasia, bebas, aman.

 

Pada waktu itu, tidak satu partaipun dapat mengatakan dengan pasti berapa besar jumlah rakyat yang diwakilinya. Pada waktu itu, kita serba meraba-raba tentang bagaimana dan seberapa kekuatan-demokratis, yang harus menentukan corak kehidupan-politik Negara.

 

Kini keadaan telah kita robah. Kini kita telah mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat pilihan rakyat sendiri. Tegaslah kini bentuk-bentuk politik, – morphologi politik – , daripada rakyat kita. Tegaslah kini warna-warna dalam pelangi politik bangsa Indonesia, – de kleuren in de politieke regenboog. Tegaslah kini imbangan-imbangan kekuatan politik dalarn masyarakat kita, – de politieke krachten-verhoudingen in ons volk. Tegaslah kini corak-coraknya Kemauan Rakyat, – de schakeringen van de Volkswil.

 

Dan dengan demikian, kita telah meletakkan dasar yang lebih kokoh lagi untuk mengem-bangkan kehidupan demokrasi yang lebih sempurna di masa datang. “Mengembangkan”. Sebab tata-demokrasi kitapun belum sempurna.

 

Tetapi Panta Rei, – alles vloeit -, kataku tempo hari, segala sesuatu mengalir, segala sesuatu berjalan, tidak ada barang sesuatu yang mandek. Janganlah lupa akan hukum sejarah ini! Saya tahu, ada di antara saudara-saudara yang tidak puas dengan cara atau prosedure daripada pemilihan-umum yang lalu itu. Saya tahu, ada yang berkata: “ah, orang itu-lagi dan orang itu-lagi masuk D.P.R.!” Tetapi saya bertanya: tidakkah prosedure itulah yang disetujui oleh D.P.R. yang lampau? Dan tidakkah demokrasi berarti tunduk kepada kehendak yang banyak? Kita ini mau berdiri atas dasar demokrasi atau tidak? Tidak seorangpun dari kita ini yang telah puas dengan apa yang telah kita capai sekarang, dan sayapun tidak. Tetapi saya berpikir riil. Saya tidak mau berpikir di luar buminya kenyataan. Karena itulah saya tadi berkata, bahwa dengan pemilihan-umum yang lalu itu kita meletakkan dasar yang lebih kokoh lagi untuk mengembangkan kehidupan demokrasi yang lebih sempurna di masa datang! Dan bahwa kita pasti menuju kepada kesempurnaan itu di masa datang, – itu bukan raba-rabaan saja bagiku, itu adalah pengetahuanku yang kokoh, itu adalah keyakinanku yang tidak goyang, laksana batu-karang di tengah lautan. Sekali lagi: Panta Rei, segala sesuatu berjalan, segala sesuatu ber-Evolusi. Aku melihat hari-kemudian kita selalu menaik. Aku melihat masa depan kita terang-benderang. Aku tahu benar kekuatan daripada cita-cita bangsaku, aku kenal benar kemampuan-kemampuan bangsaku untuk merealisir cita-citanya. Aku belum kehilangnn kepercayaan kepada bangsaku sendiri!

 

Segi lain yang memberi corak khusus kepada perayaan hari ini ialah, bahwa kita kini mempunyai satu Pemerintah yang program-bekerjanya diterima dengan suara bulat oleh Parlemen pilihan rakyat. Dan Parlemen pilihan rakyat inipun pada tanggal 21 April 1956 membenarkan dengan suara bulat, pembatalan unilateral daripada seluruh perjanjian-perjanjian K.M.B.!

 

Apakah arti pembatalan perjanjian K.M.B. itu? Arti daripada pembatalan itu ialah, bahwa kita telah berhasil mengembalikan status Negara kita kepada status yang dimaksudkan oleh Proklamasi: Satu Negara Merdeka yang berdaulat penuh, dengan tiada ikatan sedikitpun kepada suatu negara lain, yang mengurangi kepada kedaulatannya. Kembalilah kita kepada Realiteit Politik sebagai yang kita nyatakan sebelas tahun yang lalu. Kembalilah kita kepada maksud Proklamasi yang asli. Kembalilah kita kepada maksud ikrar: “Merdeka, 100% merdeka, dari Sabang sampai Merauke!” Sebagai yang kita gelèdèkkan pada permulaan Revolusi.

 

Ya, itulah arti pembatalan perjanjian K.M.B.: Kembali kepada realiteit politik yang semula, yaitu pada saat diadakan Proklamasi 17 Agustus 1945 bukan saja Hari Proklamasi, 17 Agustus 1945 adalah pula Hari Lahirnya Republik. Dus, pembatalan perjanjian K.M.B. berarti kembali kepada Realiteit Politik 17 Agustus 1945. Tetapi, apakah pembatalan itu juga sudah berarti kembali kepada Jiwa sebagai yang kita alami tepat sebelas tahun yang lalu? – Jiwa Gemilang yang dalam bulan Agustus 1945 membuat hati-sanubari patriot-patriot Indonesia bersinar seperti ndaru, bersinar sebagai hatinya malaekat-malaekat? Jiwa Gemilang yang penuh dengan idealisme dan kesediaan berkorban. Jiwa Gemilang yang tidak mengenal takut, tidak mengenal kepentingan diri sendiri, tidak mengenal rasa kecil, tidak mengenal kesetengah-setengahan, – Jiwa Gemilang yang membuat Revolusi Politik kita pada waktu itu bersifat satu Revolusi Batin yang tiada taranya dalam sejarah revolusi-revolusi nasional di seluruh muka-bumi? Jawablah pertanyaan ini sendiri! Sebab, tergantung pula dari kita selanjutnya akan lekas mencapai hasil yang memuaskan, atau tidak!

 

Sebagaimana saya katakan pada pelantikan Dewan Perwakilan Rakyat yang sekarang, kita ini telah melampaui dua taraf perjoangan: taraf revolusi bersenjata, dan taraf mengatasi akibat-akibat perjoangan bersenjata. Taraf “physical revolution”, dan taraf “survival”. Dan sekarang, demikian kataku selanjutnya, kita berada dalam taraf “investment”, yaitu taraf menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya, untuk pembangunan seterusnya. Dan telah saya jelaskan pula investment apa: Investment of human skill. Material investment. Dan Mental investment.

 

Investment of human skill: pemupukan modal yang berupa kejuruan, ketrampilan, keprigelan. Dus terutama sekali pemupukan Kader.

 

Material investment: pemupukan modal materie. Modal barang, modal bahan, modal alat-alat. Modal uang, yang harus berupa Modal Nasional yang harus kita pupuk dari uang bangsa Indonesia sendiri, sebagai yang sudah saya anjurkan dalam pidato 17 Agustus dua tahun yang lalu.

 

Mental investment: pemupukan modal mental. Modal cara-berfikir. Modal pandangan-hidup. Modal tekad. Modal batin.

 

Terangkah atau tidak, bahwa semua investment-investment ini, terutama sekali investment mental, menghendaki Jiwa Nasional yang suci-murni, “sepi hing pamrih ramé hing gawé”, – Jiwa Nasional yang benar-benar Jiwa Proklamasi, jiwa Nasional yang laksana ndaru kataku tadi, Jiwa Nasional yang laksana jiwanya malaekat kataku tadi pula? Ya, buat kesekian kalinya saya katakan: boleh sekarang kita belum mempunyai alat-alat materiil secara lengkap, boleh sekarang kita belum memiliki tractor ketian atau laksaan, boleh sekarang kita belum memiliki baja atau semen, arang-batu seribu gunung, boleh sekarang kita belum mempunyai bahan-bahan kimia seribu gudang, ya, boleh sekarang kita belum memiliki satu gergaji dan satu martilpun, – boleh sekarang kita belum beralat samasekali, laksana telanjang bulat hanya berdjari lima dan “akandang langit akemul mega”, – maka dengan jiwa malaekat Insya Allah kita tidak akan mati. Tetapi jika jiwa kita bukan jiwa yang benar-benar ingin membina satu Indonesia Baru, jika jiwa kita masih jiwa yang dihinggapi oleh penyakit-penyakit minder-waardigheidscomplex, jika jiwa kita masih jiwa yang berkarat dengan karatnya “Hollands denken”, jika jiwa kita belum jiwa yang mengalami Mental Revolution yaitu Revolusi Batin, maka janganlah mempunyai harapan apa-apa mengenai hari-kemudian melainkan kebelakangan dan perbudakan. Di Amerika tempo hari saya katakan: lebih baik kita tiada bertractor dan tiada berbulldozer daripada mengorbankan sebagian kecilpun daripada kedaulatan kita dan cita-cita kita, lebih baik kita membuka hutan kita dan menggaruk tanah kita dengan jari sepuluh dan kuku kita ini, daripada menjual serambutpun daripada kemerdekaan kita ini untuk dollar atau untuk rubel, – dan apa yang saya maksudkan dengan kata-kata itu niscaya tak mungkin berupa satu kenyataan, bila tidak dipikul oleh satu Jiwa Rakyat Indonesia yang benar-benar Jiwa Proklamasi.

 

Banyak hal-hal yang masih mengecewakan, meski harus diakui bahwa ada kemajuan. Ambillah misalnya kerjasama antar partai. Kerjasama antar partai belum seperti yang kita harapkan. Untuk investment secara efisien, diperlukanlah iklim baik yang memungkinkan orang bekerja keras zonder gangguan-gangguan apapun juga. Belum nanti kerja raksasa pembangunannya an sich! Iklim baik itu harus diusahakan, antara lain dengan penyempurnaan hubungan-antar-partai. Ya, sebenarnja hubungan-antar-partai itupun masuk dalam rangka investment mental yang saya maksudkan tadi. Mental kita harus berobah! Mental kita harus ber-revolusi! Mental kita harus mengangkat diri kita di atas kekecilan jiwa, yang membuat kita suka gègèr dan èkèr-èkèran mempertengkarkan urusan tètèk-bèngèk yang tidak penting.

 

Parlemen pilihan rakyat telah tersusun, pemerintah koalisi telah terbentuk, program-bekerja pemerintah telah disetujui oleh seluruh D.P.R., – mudah-mudahan kenyataan ini dapat memperbesar kemungkinan berkembangnya iklim yang baik, buat bekerja secara kontinu guna memulai usaha-usaha investment dan pembangunan secara tingkat-meningkat dan berencana, menuju pelaksanaan cita-cita rakyat!

 

Meskipun pemilihan-umum belum mendatangkan penyederhanaan dalam sistim kepartaian di tanah air kita, – ai, berapa jumlah partai besar-besar dan kecil-kecil dan maha kecil-kecil di tanah-air kita ini? -, namun setidak-tidaknya pemilihan umum itu dengan jelas telah menunjukkan konsentrasi alam fikiran kepada tidak lebih daripada empat-lima-enam buah. Alangkah baiknya, bila pemimpin-pemimpin konsentrasis ini dapat mengusahakan satu kerja-sama yang hidup atas dasar saling-mengerti dan saling-menghargai, dapat menjelmakan iklim-baik untuk simfoni yang hendak kita lakukan, yaitu simfoni pembangunan Negara dan pembangunan masyarakat yang telah puluhan-puluhan tahun kita idam-idamkan. Hendaknya pemimpin-pemimp0in konsentrasis itu mengusahakan agar supaya konsentrasi itu bukan konsentrasinya negativisme yang menyebarkan antagonisme ke kiri dan ke kanan, tetapi konsentrasi-nya positivisme yang menyebarkan sintese ke kiri dan ke kanan, – inti-inti energi di sekitar mana partai-partai lainnya bergerak runtut-tertib laksana elektron-elektron yang merupakan kesatuan dengan intinya.

 

Ya, memang telah ada kemajuan dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu. Antagonisme kepartaian sebagai tahun yang lalu, sekarang sudah berkurang. Kepanasan udara sebagai tahun yang lalu, yang orang hampir saja bunuh-bunuhan, sekarang sudah agak reda. Tetapi masih ada hal-hal lain yang menghambat persatuan dan kesatuan.

 

Antara lain: Pertama, hubungan antara pusat dan daerah, dan antara daerah dan daerah, belum sebagaimana mustinja. Kedua, penggangguan keamanan oleh gerombolan-gerombolan bersenjata masih belum kita sapu bersih samasekali. Ketiga, penjajahan ekonomi oleh Belanda masih belum kita lempar ke dalam laut, penjajahan kolonialis-imperialis di Irian Barat masih belum kita habisi. Kalau kita dalam waktu singkat dapat menyudahi tiga penyakit ini saja, dan kita menjalankan investment dengan serajin-rajinnya, maka dapatlah pembangunan berjalan dengan lantcar selancar-lancarnya.

 

Hubungan antara pusat dan daerah! Sudah menjadi pembawaan tiap-tiap manusia, bahwa ia lebih memperhatikan barang sesuatu yang berdekatan dengan dia, daripada barang sesuatu yang jauh. Sesuatu pemerintahanpun tak luput dari pembawaan ini: Kadang-kadang pandangan matanya ke daerah yang jauh letaknya menjadi kendor. Tetapi, sebagai yang saya katakan di Universitas Heidelberg dua bulan yang lalu: sesuatu Negara, sesuatu bangsa, adalah satu organisme, dan sesuatu organisme tak dapat dibagi-bagi, tak dapat dicerai-pisahkan, zonder membahayakan keselamatannya organisme itu. Ia adalah satu tubuh-hidup, yang meskipun terdiri dari bermacam-macam jenis organ, toh seluruhnya merupakan satu kesatuan yang saling memerlukan, saling pengaruh-mempengaruhi dalam fungsi-fungsinya, saling mengaktivir, saling menghidupi.

 

Republik Indonesia adalah satu organisme, bangsa Indonesia adalah satu organisme. Jagalah kesatuan hidupnya organisme itu. Jagalah jangan sampai satu organ tak dapat berfungsi, karena kurang mengalirnya zat-zat hidup kepadanya. Jagalah, sebaliknya, jangan sampai ada satu organ yang mendapat bagian zat hidup begitu banyak sehingga mengakibat-kan pertumbuhan yang tak seimbang antara organ dengan organ, dan oleh karenanya mengganggu irama hidupnya sang tubuh sebagai satu keseluruhan.

 

Dalam istilahnya Republik kita: jagalah jangan sampai hubungan antara pusat dan daerah, antara daerah dan daerah, kurang irama, baik di lapangan pemerintahan, maupun di lapangan ekonomi dan keuangan. Hanya bilamana ada keseimbangan yang rasionil dalam hubungan pusat dan daerah, dan antara daerah dan daerah, di lapangan-lapangan yang kusebutkan tadi, maka akan lenyaplah salah satu faktor negatif dalam usaha kita menyelenggarakan iklim baik dan keseragaman, bagi investment dan pembangunan, bagi pembinaan Negara dan masyarakat.

 

Saudara-saudara, semua hal yang saya katakan mengenai kehidupan antar-partai dan perhubungan pusat daerah itu, adalah masuk ke dalam Dharma menggembléng Persatuan, Persatuan yang begitu perlu-mutlak untuk iklim-baik. Dan Dharma Persatuan itupun, kecuali adalah satu syarat mutlak untuk kehidupan sesuatu rakyat sebagai Bangsa, sebagai kukatakan tadi adalah satu syarat untuk melaksanakan Dharma Pembangunan. Demikian pula maka Dharma menyelesaikan soal keamanan adalah satu syarat untuk Pembangunan.

 

Selama keamanan masih belum terjamin kembali pembangunan tak akan lancar! Bagaimana rakyat dapat bekerja tenang untuk penghidupannya, dapat bekerja tekun untuk membangun masyarakatnya, jikalau mereka selalu diliputi oleh rasa tidak aman, rasa kekhawatiran, rasa takut, karena masih ada gerombolan-gerombolan pengacau yang berkeliaran? Brandalan atau bendewezen ini selekas-lekasnya harus dibasmi bersih! Dan meskipun ada sesuatu ideologi politik di belakang sebagian daripada gerombolan-gerombolan itu, – bukan cara yang dapat kita benarkan, cara mereka itu mencoba mengembangkan tujuan-tujuan politiknya dengan memberontak kepada Negara, dengan membakar dan membunuh, dengan menggedor dan menggarong, – dengan menterori rakyat, menyengsarakan rakyat, menelanjangi rakyat, mengkocarkacirkan ekonomi rakyat, mengkocarkacirkan hati rakyat, mengkocarkacirkan keselamatan jiwa rakyat.

 

Karena itu, habisilah dengan segera pengacauan ini. Ya, itu telah sering saya katakan. Ya, itu telah sering pula dikatakan oleh orang-orang lain. Dan memang adalah kemajuan. Pemerintah menjalankan politik keamanannya, dibantu oleh alat-alat kekuasaan Negara. Di sana-sini tercapai hasil-hasil yang lumayan. Di sana-sini ada gerombolan-gerombolan yang berbalik fikir, dan datang ke pangkuan Republik dan masyarakat kembali. Saya mengucapkan penghargaan kepada saudara-saudara yang berbalik fikir itu, dan sebagai Presiden saya mengucapkan kepada mereka ”Selamat datang di rumah kembali”.

 

Kepada mereka yang belum berbalik fikir, saya ulangi panggilanku yang telah kuucapkan berulang-ulang. Untuk mereka itu saya ulangi di sini ucapanku tahun yang lalu: “Semua lapisan, semua gerombolan-gerombolan di hutan-hutan saya panggil pada hari ini, supaya lebih dalam menginsyafi dan mempraktekkan hidup ketatanegaraan, – hidup ketatanegaraan Republik Indonesia!”

 

 Jikalau saya tinjau segala sesuatu dengan kacamata histori, maka saya tetap optimistis, “Historis optimistis!”. Saya tidak berkata bahwa misalnya D.I. dan T.I.I. dapat kita likwidir dalam tempo satu dua hari, atau satu dua pekan. Tidak! Tetapi saya berkata bahwa nanti, sesudah sesuatu jangka masa, D.I. dan T.I.I. pasti akan lenyap dari muka-bumi. Setahun yang lalu saya telah berkata:

 

“Di semua daerah-daerah pengacauan itu bukanlah rakyat sebagai satu keseluruhan memberontak kepada Republik, tetapi berjalanlah terornya bendewezen, terornya brandalan, – brandalan kriminil dan brandalan politik”.

 

“Ah, jikalau difikir-fikir, pengacauan-pengacauan itupun reruntuh-reruntuh kolonialisme. Apalagi sesudah terbukti jelas, bahwa anasir-anasir jahat dari fihak Belanda bercampur-tangan dalam pengacauan-pengacauan itu! Karena itu aku tetap optimistis. Satu waktu nanti Insya Allah pasti datang, yang pengacauan-pengacauan itu tidak ada lagi. Satu waktu nanti pasti akan datang, yang brandalan politik itu habis samasekali. Sebab kolonialismepun akan lenyap-bersih dari sini, – lenyap bersih samasekali, zonder ada sedikitpun sisa reruntuh-reruntuhnya lagi. Tetapi proses-proses historis pun tidak berjalan zonder campur-tangan manusia. Kita harus bertindak, kita harus berbuat sebagai elemen aktif dalam histori. Kita harus mematahkan pengacauan-pengacauan itu, sebagaimana juga kita harus mematahkan reruntuh-reruntuh kolonialisme yang lain-lain, – ya, sebagaimana juga kita mematahkan tulang-punggung kolonialisme dengan seribu-satu jalan.

 

Dus? Ya, – patahkanlah pengacauan-pengacauan itu dengan segala ikhtiar! Sedapat mungkin patahkanlah ia dengan jalannya penginsyafan, dengan jalannya penerangan, dengan jalannya kekuatan ratio dan moril. Sedapat mungkin laluilah jalannya otak dan jalannya batin. Tetapi jika tidak mungkin, patahkanlah ia dengan kekerasan senjata juga. Hantam dia dengan palu godam, jika ratio dan jika moril tidak mempan.

 

Malah barangkali inilah satu-satunya jalan pemadaman pengacauan yang tepat bagi Indonesia: Kombinasi antara jalan ratio moril dan jalan kekerasan senjata! Tidakkah kita menghantam kolonialisme bertahun-tahun lamanya juga dengan jalan kombinasi itu? Kombinasi antara desakan politik dan hantaman Revolusi? Kombinasi antara “moreel geweld” dan “materieel geweld?”

 

Akhirnya, saudara-saudara, masih ada satu penghambat persatuan lagi yang maha-negatif. Penghambat persatuan, penghambat iklim-baik, penghambat pembangunan; peluka rasa kebangsaan, peluka rasa Nasional. Penghambat dan peluka itu ialah masih adanya penjajahan di Irian Barat. Sebelum penjajahan di Irian Barat itu lenyap, kita belum merasa aman. Dan rakyat di Irian Barat sendiripun menunggu-nunggu penggabungan kepada Republik. Karena itu, maka semua minat kita harus kita tujukan kepada pembebasan Irian Barat itu. Dengan gembira saya umumkan, bahwa pada hari syakti sekarang ini kita telah membentuk Propinsi Irian Barat. Sebagian daripada wilayah Propinsi Irian Barat itu telah berada dalam kekuasaan de facto kita, sebagian lagi belum. Di bagian yang belum dalam kekuasaan de facto kita itu masih bercokollah kekuasaan Belanda, – masih bercokollah kolonialisme dan imperialisme Belanda. Pembentukan Propinsi Irian Barat ini adalah hanya merupakan salah satu jalan saja dalam rangka perjoangan melaksanakan kekuasaan de facto Republik Indonesia atas bagian yang diduduki oleh Belanda itu. Salah satu jalan saja! Sebab kita tidak menyandarkan perjoangan kita pada pembentukan Propinsi Irian Barat itu saja, kita berjoang di segala lapangan yang kita pandang baik. Kita menyandarkan perjoangan kita pada Kekuatan Rakyat Indonesia, dan di samping itu pada kekuatan-kekuatan anti-kolonialisme di dunia internasional. Terutama sekali Kekuatan Rakyat Indonesia sendirilah yang akan menentukan hasil kesudahannya. Ingatkah saudara kepada ucapan saya di Surabaya tahun yang lalu?: “Perjoangan Irian Barat, the Battle of Irian, tidak ditentukan di Den Haag, tidak di Washington, tidak pula di P.B.B., tetapi di sini, di dalam pagar tanah-air kita sendiri!

 

Maka susunlah Kekuatan Rakyat itu sehebat-hebatnya, bangkitkanlah Kekuatan Rakyat itu sehebat-hebatnya. Irian Barat harus lekas kita kembalikan ke pangkuan Ibu Pertiwi.

 

Saudara-saudara! Sebelum saya meneruskan pidato, marilah saya lebih dulu mengulangi lagi beberapa pokok:

 

P e r t a m a:

Kita mengadakan perayaan Hari Kemerdekaan sekarang ini dalam beberapa suasana:

  1. Perayaan ini adalah sesudah terselenggara pemilihan-umum untuk

        D.P.R. dan Konstituante.

  1. Perayaan ini diadakan dengan adanya satu pemerintah atas dasar

        program yang diterima dengan suara bulat oleh Parlemen pilihan rakyat.

  1. Perayaan ini adalah perayaan sesudah kita membatalkan seluruh

        perjanjian K.M.B.

  1. Perayaan ini adalah perayaan dalam alamnya investment untuk

        pembangunan.

 

K e d u a:

Dharma menggemblèng Persatuan Nasional perlu kita pergiat penyelenggaraannya, sebab Persatuan Nasional mendatangkan iklim baik untuk invesment dan pembangunan. Pemilihan-umum telah meletakkan dasar-dasar untuk iklim baik dan Persatuan itu. Tetapi pemilihan-umumpun hanya satu permulaan saja. Pemilihan-umum hanya batu yang pertama.

 

Persatuan Nasional masih harus disempurnakan lagi, agar iklim baik itu segera tercipta:

  1. Hubungan antar partai masih belum baik; perbaikilah hubungan antar

        partai itu.

  1. Hubungan pusat daerah masih belum baik; perbaikilah hubungan pusat

        daerah itu.

  1. Pengacauan keamanan masih belum berakhir; banteraslah terus

        pengacauan itu.

  1. Irian Barat masih dijajah; banteraslah penjajahan di Irian Barat itu.

 

Nah, saudara-saudara, itulah yang saya uraikan di muka tadi. Satu hal menclèrèt di sepanjang uraian itu, – satu clèrètan api, apinya ikhtiar, apinya perjoangan. Saya menguraikan hal hubungan pusat daerah yang belum lancar itu tadi, hal keamanan yang di sana-sini belum terjamin, hal penjajahan di Irian Barat, bukan untuk meminta saudara-saudara berhenti, bukan untuk menyuruh saudara-saudara termenung bertopang dagu, melainkan justru untuk meng-gugah semangat saudara-saudara, membangkitkan saudara-saudara supaya berusaha, ber-ikhtiar, berjoang, bercancut-taliwanda, memasuki tingkat Revolusi Invesment dan Revolusi Pembangunan dalam nyala api-unggunnya Persatuan Nasional.

 

Alhamdulillah, platform untuk mempersatukan segenap tenaga nasional sekarang sudah ada: Program Kabinet, yang sudah diterima oleh seluruh partai. Gunakanlah platform politik ini sebagai tempat berpijak bagi kita semua untuk memutar roda pembangunan segiat-giatnya. Jangan program kabinet itu sekadar merupakan dokumen perhiasan saja. Jangan ia naskah yang mati! Sebab, program yang bagaimanapun indah susunannya, bagaimanapun progresif-nya, bagaimanapun kebenaran teoretisnya, akan menjadi satu bangkai naskah, jika tidak disertai keberanian bertindak dalam melaksanakannya.

 

Kita telah menunjukkan keberanian untuk secara jantan merobek-robek seluruh perjanjian K.M.B. Kita dengan itu telah menjalankan satu revolutionnaire daad, satu tindakan revolusioner. Tetapi jangan kita sekarang mandek! Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner dalam menampung segala akibat-akibatnya. Jangan setengah-setengah, jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan. Benar, memang jangan kita main sembrono, bertindak zonder perhitungan, tetapi ketidak-sembronoan dan perhitungan janganlah diartikan “alon-alon asal kelakon”! Rakyat sudah tidak sabar lagi! Kita boleh bersabar satu bulan, dua bulan, ya satu-dua tahunpun masih mungkin dapat kita bersabar, tetapi sekali-kali janganlah mencoba meminta kesabaran rakyat 350 tahun lagi!

 

Apa yang segera dikehendaki oleh si Dadap, si Waru, si Polan, si Badu, si Kromo? Apa yang dikehendaki oleh seluruh rakyat, terutama sekali oleh si Tani? Yang dikehendaki oleh mereka segera, ialah makanan, pakaian, perumahan, dan bagi si Tani ini berarti tanah. Tanah untuk mengambil makanan daripadanya, tanah untuk mengambil pakaian daripadanya, tanah untuk menaruh perumahan di atasnya.

 

Ini, inilah tiga masalah pokok yang mengisi fikiran rakyat sehari-hari: bagaimana periuk supaya berisi, bagaimana pakaian dapat berganti, bagaimana mempunyai rumah untuk berteduh diri? “Sandang, pangan, pangan”. Dan bagi si Tani persoalan ialah: bagaimana mempunyai tanah untuk ketiga-tiga hal itu? Si Tani! Ya, siapa itu puluhan juta manusia yang berduyun-duyun tempo hari ke tempat-tempat pemungutan suara dalam pemilihan-umum? Siapa itu laki-laki yang antri di sinar matahari, siapa itu wanita yang menggendong anak? Mereka adalah si Tani, dan di muka mereka berdiri pula si Tani. Dan di belakang mereka juga si Tani. Mereka datang mengeluarkan suaranya tentu dengan harapan di dalam kalbunya, bukan untuk sekadar “memilih” saja. Harapan mereka itu, dalam Negara kita ini, harus segera dipenuhi. Indonesia sekarang bukan lagi Indonesia jajahan. Indonesia sekarang adalah Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat, dan, Indonesia sekarang adalah Indonesia yang demokratis, Indonesia yang berkerakyatan. Alangkah baiknya jika Parlemen kita sekarang, – Parlemen yang dipilih oleh si laki di sinar matahari itu tadi dan oleh si wanita yang meng-gendong anak itu -, alangkah baiknya jika Parlemen kita sekarang ini menanggulangi opgave ini dengan selekas-lekasnya! Dan bukan Parlemen saja! Semua kita harus menanggulangi opgave ini. Semua kita, baik Parlemen, maupun Pemerintah, maupun partai-partai. Dan bukan menanggulanginya dengan “memepersoalkan” melulu opgave ini, melainkan menanggulangi-nya dengan penyelesaian yang kongkrit nyata. Dengan bicara saja kita tak dapat membangun Negara dan Masyarakat. Met praten alleen bouwt men geen land!

 

Ya, di segala lapangan kita tak boleh hanya “mempersoalkan soal” saja, di segala lapangan kita tak boleh hanya “praten” saja. Investment dan Pembangunanlah semboyannya perayaan sekarang ini. Investment besar-besaran, untuk Pembangunan besar-besaran. Ini berarti: mem-banting tulang, mengulur tenaga, memeras keringat, bekerja keras, bekerja mati-matian.

 

Investment of human skill meminta kita mendidik kader-kader kejuruan, kader-kader ekonomi, kader-kader teknis, kader-kader organisasi, – meminta kita memperluas jumlah sekolah-sekolah kita, menambah tempat-tempat penggemblengan tunas-tunas muda kita. Material Investment meminta kita memupuk modal materi, modal bahan, modal barang, dan terutama sekali, sebagai saya katakan tadi, modal uang, Kapital Nasional, yang harus kita pupuk dari uang-bangsa Indonesia sendiri.

 

Dan mental investment meminta kita merobah segenap kita punya alam-berfikir dan alam-kejiwaan, dari alamnya mentaliteit kolonial ke alamnya mentaliteit Nasional, dari alam mentaliteit Inlander ke alam mentaliteit Dinamika Revolusi.

 

Kita telah membatalkan seluruh perjanjian K.M.B. Rakyat sekarang menanti penampungan pembatalan itu. Dan sahabat-sahabat Indonesia di seluruh duniapun menanti-nanti, seolah-olah bertanya kepada kita: “Apa yang engkau perbuat seterusnya, hai Indonesia?” Karenanya, marilah berjalan terus! Sebagai kukatakan tadi: jangan kita mandek di tengah jalan. Terus! Dengan berpedoman kepentingan Negara dan kepentingan Rakyat Jelata! Bahu-membahu, berbareng bersama-sama dalam satu barisan Nasional! Penampungan pembatalan perjanjian K.M.B. yang disetujui oleh segenap rakyat itu adalah pula satu platform bersama yang baik untuk mempersatukan tenaga nasional.

 

Alhamdulillah, kita memang tidak mandek di tengah jalan. Kita tidak mangu-mangu. Setelah seluruh perjanjian K.M.B. kita batalkan, dengan segera kita telah bentuk “Panitia Negara Penasehat Penyelesaian Pembatalan K.M.B.” Panitia ini telah memberikan nasehat-nasehatnya, dan Pemerintah mempelajari nasehat-nasehat itu dengan saksama. Selangkah-demi-selangkah, setapak-demi-setapak. Pemerintah hendaknya bertindak untuk membersihkan Negara kita dari sisa-sisa tali-temali yang mencekek leher rakyat kita, menjirat kaki rakyat kita.

 

Salah satu tali itu adalah hutang-hutang K.M.B.

 

Ya, – “hutang-hutang K.M.B.” Hutangnya siapa? Pada waktu Belanda mengakui kemerdekaan kita pada akhir tahun 1949, pada waktu ia angkat kaki, ia meninggalkan almari besi. Bukan almari besi yang penuh dengan uang atau emas atau berlian, bukan almari besi yang berisikan “mas picis raja-brana”, melainkan almari besi yang penuh dengan – bon.

 

Bon-bon hutang pemerintah Nederlands-Indië yang berjumlah berjuta-juta, bahkan bermilyar-milyar gulden. Bon-bon ini menurut perjanjian K.M.B. kita harus oper. Bon-bon itu kitalah yang harus bayar. Bayar, bayar, ya bayar, bukan saja oleh generasi sekarang, tetapi meski sampai generasi ini menjadi tua-bangka, dan sampai generasi yang akan datang sekalipun. Ya, bayar, betalen, – bont en blauw betalen!

 

Perjanjian K.M.B. telah berjalan lebih dari enam tahun. Dan selama enam tahun itu, kita sebagai satu bangsa yang berbudi telah membayar, membayar dengan bunga-bunganya samasekali. Kita telah membayar “bont en blauw”. Membayar sampai kuning-hijau muka kita. Ya, kita memang pembayar hutang yang paling setia!

 

Akan tetapi, pada waktu bon-bon itu disodorkan kepada kita di K.M.B., kita tidak mempunyai cukup waklu untuk menelitinya dengan saksama. Kita pada waktu itu tidak mempunyai cukup waktu untuk menyelidiki: “layak apa tidak hutang-hutang itu dibebankan kepada kita?” “Layak apa tidak ia kita oper?” Dan pada waktu itu Belanda was zo lief en zo goed untuk menghitungkan semua hutang-hutangnya – untuk kita!

 

Kita telah telaah semua bon-bon itu dengan saksama. Kini malah semua akibat-akibat perjanjian K.M.B. telah kita selidiki dengan teliti. Apa ternyata? Ternyata bahwa tidak semua hutang itu seharusnya kita yang bayar, tidak selayaknya kita yang bayar. Sebab sebagian besar daripada hutang itu ialah hutang untuk membeli pentung untuk mementung kepala kita. Dan atas nasehat Panitia, Pemerintah telah pula mengambil satu-satunya keputusan yang tepat: yaitu, tidak mengakui hutang-hutang Indonesia kepada fihak Belanda, dan tidak akan mem-bayar lagi hutang-hutang Indonesia kepada fihak Belanda.

 

Perhatikan: kepada fihak Belanda! Hutang-hutang Nederlands Indië kepada negara-negara lain, dan yang telah kita oper menjadi hutang kita, tetap kita akui, dan tetap kita jamin pembayarannya. Dus yang tidak kita bayar lagi itu ialah hutang-hutang kita kepada fihak Belanda, bukan hutang-hutang kita kepada fihak yang bukan-Belanda.

 

Kita bukan kaum kemplang. Kita bukan golongannya bangsa yang mau main sikut hutang. Kita bersedia membayar semua hutang, asal hutang itu nyata-hutang. Tetapi perhitungan-perhitungan yang kita kerjakan di waktu-waktu yang akhir ini membuktikan, bahwa kita ini sebenarnya – tidak punya hutang lagi kepada Belanda.

 

Bagaimana? Sebagian besar hutang itu ialah untuk membeayai peperangan menghantam kita, dan sebagian kecil ialah untuk pembangunan. Yang kecil ini sudah barang tentu kita akui sebagai hutang. Tetapi yang besar? Tidakkah sangat tidak layak, tidak adil, sangat aneh bin ajaib, kalau rakyat kita dibebani memikul hutang-hutang Belanda yang dulu dipakai untuk membeayai pentung pemukul kita? Tidakkah aneh bin ajaib bin majnun, kalau rakyat kita harus membayar hutang pembelian bom-bom dan dinamit-dinamit yang dulu dimuntahkan atas kepala-kepala kita, untuk membunuh kita dan menghancur-leburkan kita? Anak-kecil yang masih umbelen pun akan menjawab: wah itu memang aneh bin ajaib bin majnun.

 

Tapi hutang yang kecil, hutang yang untuk pembangunan? Ya, tentu, itu kita akui, itu kita mau bayar. Tapi hutang kecil ini dapat kita perhitungkan kembali kepada jumlah hutang yang jauh lebih besar itu tadi! Dan telah kita perhitungkan! Dengan begitu, hutang kita kepada fihak Belanda itu sebenarnya-sudah tidak ada lagi. Sudah habis. Sudah lunas. Sudah punah. Kita memang bukan tukang kemplang!

 

Saudara-saudara! Kita berjalan terus.

Siapa mandek akan mati! Roda sejarah berputar dengan tak mengenal berhenti. Kita bangsa Indonesia bersama-sama dengan bangsa-bangsa Asia-Afrika lainnya masih di dalam kancahnya perjoangan-umum untuk membersihkan dunia ini dari kutu-kutunya kolonialisme. Kita bersama-sama dengan mereka harus mengerahkan seluruh tenaga kita untuk mcnggugur-kan singgasana penjajahan. Oleh karena itu, dari tempat ini dan pada hari yang keramat bagi kita ini, saya menyatakan salut-kehormatan kepada semua pahlawan-pahlawan penggempur kolonialisme, semua pahlawan-pahlawan dari segala bangsa, yang telah gugur atau sedang menderita karena perjoangan kemerdekaan. Saya serukan kepada mereka, bahwa segenap rakyat Indonesia berdiri di belakangnya, sebab rakyat Indonesia tidak dapat netral, sekali lagi tidak dapat netral, dalam menghadapi pertarungan antara penjajahan dan kemerdekaan. Saya ulangi sekarang juga ucapan saya di Cairo tahun yang lalu, bahwa kita sahabat Mesir dan tak kenal kompromi dalam perjoangan melawan kolonialisme. Kita cinta damai, sungguh kita cinta damai, tetapi hanya damai tanpa kolonialisme. Untuk menghancur-leburkan koloniaIisme itu diperlukan konsentrasi, pemusatan segenap tenaga-tenaga anti-kolonialisme. Jangan kita memboroskan tenaga dan waktu dengan bercekcok-bercecengilan antara kita sama kita, dan antara sesama bangsa-bangsa Asia-Afrika. Berjoanglah kita terus melawan penjajahan, dengan segala cara yang dapat dipakai, lewat segala jalan yang dapat ditempuh, di atas segala forum dunia yang kini ada, dalam segala rasa tanggungjawab internasional yang harus dipikul sebagai Negara yang tahu harga-diri.

 

Dunia sekarang gempar karena nasionalisasi Terusan Suez. Pendirian Indonesia jelas dan tegas: Indonesia mengakui hak Mesir sebagai negara merdeka dan berdaulat untuk menasionalisasi Terusan Suez. Indonesia mengharap, supaya persiapan-persiapan damai, sesuai dengan jiwa Konperensi Asia-Afrika dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Indonesia menaroh kepercayaan penuh kepada jaminan Mesir, bahwa Terusan Suez akan tetap terbuka untuk perlalu-lintasan internasional.

 

Indonesia ikut menghadiri Konperensi London yang dibuka kemarin itu. Indonesia ke sana itu dengan ketegasan, bahwa ia tidak merasa terikat kepada premisse-premisse yang ditentukan oleh penyelenggara-penyelenggara Konperensi itu. Indonesia pergi kesana itu dengan berdiri teguh atas segala pernyataan yang telah ia nyatakan dalam Statement Pemerintah mengenai persoalan Terusan Suez sepuluh hari yang lalu. Indonesia pergi ke sana untuk membela hak-daulat Mesir dan untuk membela perdamaian.

 

Ya, tegas dan jelas pendirian Pemerintah Indonesia itu! Nasionalisasi Terusan Suez adalah hak Mesir yang berdaulat, yang tak boleh diganggu-gugat! Malahan saya tambah di sini: Terusan Suez bukan saja soal Mesir, tetapi soal semua negeri-negeri jajahan, soal semua negara-negara yang baru merdeka. Terutama semua bangsa-bangsa Asia-Afrika sekarang ini harus mengadakan ”call”: Hands off Egypt! – Jangan sentuh Mesir, jangan ganggu-gugat Mesir! Kalau tergantung dari saya, maka dengan segera saya niscaya panggil Konperensi Asia-Afrika yang kedua untuk membicarakan call ini!

 

Di luar-negeri tempo hari saya katakan, bahwa bantuan ataupun simpati yang kita berikan kepada perjoangan-kemerdekaan bangsa-bangsa lain dan self-realisasinya bangsa-bangsa lain, bukanlah karena perhitungan untung-atau-rugi, melainkan karena “it is a matter of principle”, yakni karena soalnya adalah soal pendirian, soal azas, soal prinsip: Prinsip antikoloniolisme, prinsip hak merdeka, prinsip hak self-realisasi. Prinsip satu dunia-baru yang terdiri dari bangsa-bangsa yang merdeka, prinsip perhubungan-baik antara semua bangsa-bangsa dalam suasana kemerdekaan, perdamaian dan persaudaraan, prinsip “world-brotherhood of man”. Sungguh, kita cinta damai, kita mencari damai, kita membanting tulang untuk menyumbang ke arah damai, tetapi damai tanpa penjajahan, sebab damai-sejati tak mungkin dengan penjajahan.

 

Kenapa masih ada saja bangsa-bangsa yang tak mengerti akan hal ini? Kenapa masih ada saja bangsa-bangsa yang menjalankan kolonialisme dan imperialisme, terang-terangan atau tertutup?

 

Lihat kepada hubungan Indonesia-Belanda! Selama hubungan Indonesia-Belanda ini masih dinodai oleh soal kolonialisme, sampai lebur-kiamat jangan mengharapkan hubungan itu meluncur lancar, melaju licin, apalagi menguntungkan. Malahan sebaliknya! Salah-salah hubungan itu dapat menjadi kocar-kacir-kececeran samasekali, yang pada akhirnya, merugikan bukan kita, tetapi rakyat Belanda sendiri. Energi rakyat Belanda, yang dulu dalam abad keenambelas meruntuhkan tyranny Spanjol, – tyranny “die mij mijn hert doorwondt” kata Prins Willem van Oranje -, energi rakyat Belanda yang dalam abad kesembilanbelas mengusir penjajahan Perancis, dalam abad keduapuluh turut menggemblèng palu-godam penghantam penjajahan Nazi, – jikalau energi rakyat Belanda itu sekarang dikerahkan untuk mencuci-bersih tubuh negara Belanda daripada kolonialisme yang dibangunkan olehnya sendiri, maka yang demikian itu terutama sekali akan membawa kebaikan kepada bangsa Belanda sendiri.

 

Bukankah satu ironi dalam sejarah, bahwa satu bangsa, yang telah tiga kali dalam perjalanan hidupnya mati-matian berjoang melawan penjajahan, sekarang, justru dalam abad progresif ini, mati-matian pula mempertahankan kolonialisme yang ia jalankan di Irian Barat?

 

Dan bukan saja satu ironi sejarah, “There must be something wrong in the Dutch mental structure”, – “tentu ada sesuatu hal yang bejat dalam susunan mental bangsa Belanda itu” – , demikianlah pernah saya dengar di luar-negeri. Mereka ingin bersahabat dengan Indonesia tetapi mereka melukai hati Indonesia. Mereka ingin “goede betrekkingen” dengan Indonesia, tetapi mereka menjajah sebagian dari wilayah Indonesia. Mereka ingin bahu-membahu dengan Indonesia, tetapi sebagian dari mereka, dalam bicara dan dalam tulisan, dalam ucapan dan dalam perbuatan, in woord en in geschrift, in woord en in daad, seringkali mengata-ngatai kita, memburuk-burukkan kita, mengobral-obral omongan yang menodai kehormatan kita dan melukai rasa-halus kita. Inilah yang dinamakan “something wrong” yaitu “barang bejat” dalam susunan mental sebagian orang Belanda itu. Tidak difikirkan bahwa kalau ingin hubungan baik, janganlah ngobral-omongan cara begitu. Tidak difikirkan, bahwa kalau ingin goede betrekkingen, janganlah mengkoloni kita lagi. Tidak difikirkan, bahwa masih beribu-ribu warga-negara Belanda dapat menemukan nafkah-hidup yang amat baik di Indonesia, meskipun Indonesia telah merdeka. Tidak difikirkan, bahwa bumi Indonesia masih dapat memberikan dividend yang amat baik bagi modal Belanda, meskipun Indonesia sudah bukan Hindia-Belanda lagi. Tidak difikirkan, bahwa – ya, katakan keuangan Indonesia kocar-kacir, produksi mundur, keamanan belum beres, pendidikan belum sempurna, administrasi belum running well, – katakan segala keburukan itu, tetapi toh rakyat Indonesia yang 80.000.000 itu pada hari ini ternyata mampu merayakan Kemerdekaannya yang sudah sebelas tahun!

 

Katakan apa yang engkau mau kata, – kami berjalan terus! Dan sungguh, posisi kita tidak menjadi lemah oleh karenanya. Siapa yang berjoang dengan sungguh-sungguh di atas jalan yang benar, ia tidak akan dihina orang, melainkan malahan ia akan naik dipandang orang. Siapa yang menjunjung tinggi self-respect, – meski ia miskin-papa-sengsara, jembel telanjang bulat, makan kulit ubi setiap hari, – orang akan mempunyai respect kepadanya.

 

Lihat, saudara-saudara! Tadi saya sebutkan dua macam ironi, yaitu ironi dalam sejarah Belanda, dan ironi dalam tata-fikirnya. Ada satu ironi lagi yang mengenai mereka itu! Saudara-saudara ingat, bahwa tatkala ada suara-suara bahwa kita hendak membatalkan perjanjian K.M.B. secara sefihak, fihak imperialis dan kolonialis geger mengatakan bahwa perbuatan semacam itu akan merusakkan nama Indonesia di dunia internasional. “Indonesia akan kehilangan kepercayaan dunia samasekali dan akan kehilangan respect dunia samasekali!”, demikianlah nujuman mereka itu. Tetapi apa terjadi? Begitu perjanjian K.M.B. itu kita sobek-sobek setcara unilateral, begitu sobekan-sobekan itu kita masukkan ke dalam keranjang-kotoran, – membanjirlah undangan-undangan dari mana-mana kepada Presiden Republik Indonesia untuk mengadakan perkunjungan-perkunjungan kenegaraan! Dengan undangan-undangan itu ternyata, bahwa kedudukun Indonesia dalam susunan dunia dimengerti dan diakui orang. Dengan undangan-undangan itu ternyata bahwa respect dunia yang dikatakan akan amblas itu malahan menaik. Dengan undangan-undangan itu ternyata bahwa common sense sebagian besar dari dunia adalah di fihak Indonesia.

 

Indonesia, sebagai sumber bahan-bahan mentah dan sebagai pasaran, diakui pentingnya bagi kesejahteraan dunia, dan kebudayaannya pun diakui dapat memberi sumbangan kepada kesejahteraan rokhani peri-kemanusiaan.

 

Perkunjungan Kepala Negara Republik Indonesia telah membuat dunia lebih rnengenal lagi akan hal itu. Lebih mengenal ia pula segala cita-cita bangsa Indonesia, lebih mengerti politik-luar-negeri kita yang bebas dan aktif, sehingga cita-cita dan sikap Indonesia terhadap pelbagai masalah dunia makin menjadi faktor yang tidak dapat disingkirkan dari perhitungan politik internasional. Jikalau dahulu politik-luar-negeri kita yang bebas dan aktif itu diragu-ragukan, disangsikan, dicurigai, bahkan dicemoohkan kadang-kadang, maka sekarang orang mengakui bahwa politik bebas itu mempunyai kedudukan tersendiri di samping politik-luar-negerinya negara-negara yang lain. Jikalau dahulu politik bebas itu dipandang sebagai politik yang antagonistis, maka sekarang orang sudah dapat  melihat, bahwa ia sebenarnya berjalan paralel dengan usaha dunia internasional untuk mengurangi ketegangan dan untuk memupuk perdamaian.

 

Asia-Afrika yang berpolitik bebas kini makin masuk dalam perhitungan! Nasib dunia kini tak dapat ditentukan lagi hanya dari dua pool-kekuasaan dan oleh dua pool-kekuasaan, yakni dari Washington dan dari Moscow.

 

Tidak! Nasib dunia sekarang ditentukan pula oleh adanya pool-pool yang lain. Mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, di samping Washington dan Moscow orang sekarang harus memperhitungkan adanya pool-pool baru seperti Cairo, New Delhi, dan … Jakarta! Jelas dan nyatalah bahwa sekarang ini mulai nampak adanya depolarisasi dalam susunan-politik di muka-bumi.

 

Jelas dan nyata adanya depolarisasi itu, – tetapi sebagian rakyat Belanda rupanya tidak melihat depolarisasi itu. Tidak mereka melihat, bahwa di Asia-Afrika sekarang ini sedang tumbuh sesuatu yang baru, sesuatu yang rupanya tak pernah diperhitungkan oleh pemimpin-pemimpin negara Belanda itu. Padahal “one cannot escape history”, – sejarah tak dapat orang hindari. Senang atau tidak senang, mereka nanti akan mengalami, bahwa di Asia-Afrika sekarang ini sedang bangkit dengan cara yang dahsyat satu tenaga-ghaib yang tidak dapat ditahan oleh siapapun juga, tidak dapat dibinasakan oleh siapapun juga, tidak dapat diperdayakan oleh lambaian lemah-lunglai siapapun juga!

 

Kita berpolitik bebas. Tetapi berulang-ulang telah kita katakan bahwa kebebasan tidak berarti kenetralan. Kita tidak netral dalam menghadapi baik dan buruk. Kita tidak netral dalam menghadapi masalah penjajahan. Kita tidak netral dalam menentukan sikap terhadap rakyat-rakyat yang berjoang untuk kemerdekaan. Kita pasti memihak kepada rakyat atau bangsa apapun yang berjoang untuk kemerdekaan. Kita tidak netral dalam menghadapi pilihan ideologi. Kita pasti memihak kepada ajaran Pancasila. Kita bukan tidak-berwarna, kita tidak kleurloos, kita mempunyai warna sendiri, warnanya Pancasila. Kita berpolitik bebas, tetapi politik kita bukan politik yang tidak mempunyai moral. Adakah satu politik yang dipimpin oleh kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menjunjung-tinggi rasa peri-kemanusiaan, yang menghormati rasa kebangsaan, yang mempraktekkan kedaulatan rakyat, yang melaksanakan cita-cita keadilan sosial, – adakah politik yang demikian itu suatu politik yang tak mempunyai moral? Jikalau orang belum dapat menilai moral yang setinggi ini, maka sungguh kita tidak mengerti apa yang dinamakan moral!

 

Dan bukan saja kita bukan tidak bermoral, kitapun bukan tidak berikhtiar. Kita tidak “menonton dunia sambil diam ungkang-ungkang di atas pagar”, kita tidak afzijdig dari segala kejadian dunia: sambil “duduk tenguk-tenguk”. “We are not sitting on the fence”, – demikianlah kataku di luar-negeri tempo hari. Kita berikhtiar, kita berusaha ke kanan dan ke kiri, kita ke luar juga “rame hing gawe”, kita aktif. Politik kita bukan politik yang bebas saja, politik kita adalah politik yang bebas dan aktif.

 

Lihat sikap aktif kita dalam soal Indocina. Lihat sikap aktif kita dalam soal persengketaan Terusan Suez sekarang ini. Daerah persengketaan harus diperkecil, daerah perdamaian harus diperluas. Memang di dunia ini ada daerah-daerah persengketaan, daerah-daerah angin puyuh, daerah-daerah taufan, – storm centres of the world. Korea dulu satu daerah persengketaan, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Indocina dulu satu daerah persengketaan, Alhamdulillah sekarang sudah reda. Suez sekarang satu daerah persengketaan, marilah kita semua berikhtiar supaya kesalahan-kesalahan yang dulu jangan berulang lagi.

 

Dari pengalaman di Korea dan di Indocina, marilah semua bangsa-bangsa di dunia ini belajar. Belajar, untuk tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang telah dibuat. Kesalahan-kesalahan, yang telah menjadi ajangnya peperangan, yang hampir-hampir saja mengkocar-kacirkan perdamaian dunia samasekali.

 

Kapankah manusia ini belajar! Korea masih dalam ingatan kita, Indocina masih belum habis bau mesiunya, – kini hantu-bencana telah menghintai-hintai lagi di Cakrawala Lautan Tengah! Di sana orang sibuk membuat persiapan-persiapan militer, di sana kapal-kapal perang dimondar-mandirkan, di sana tentara-tentara-payung dikerah-siapkan, di sana tentara cadangan dimobilisir. Untuk apa? Ya, saya bertanya lagi: untuk apa? Mengapa orang terburu-buru mengepal tinjunya, mengapa orang terburu-buru mengoroki bedilnya, mengasah pedangnya, mengisi kampil pelurunya, menyabukkan sabuk-pistolnya?

 

Mesir adalah satu negara yang merdeka dan berdaulat. Ia mempunyai hak-hak kedaulatan, tak kurang dan tak lebih daripada negara-negara lain yang merdeka dan berdaulat. Adalah hak-daulat Mesir untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggapnya perlu untuk menyeleng-garakan ekonomi nasionalnya dan mempertinggi taraf hidup rakyatnya. Adalah hak-daulat Mesir untuk menasionalisasi Terusan Suez yang merupakan perusahaan Mesir. Apakah ini satu kejahatan yang harus ditumpes? Tidakkah lain-lain negara pernah pula menjalankan nasionalisasi sesuatu perusahaan yang bekerja di dalam wilayahnya? Memang harus diakui bahwa Terusan Suez merupakan satu urat-nadi yang penting sekali bagi kehidupnn dunia. Penting sekali tidak kurang pentingnya daripada Terusan Panama, Selat Jibraltar, Selat Bosporus. Kebebasan pelayaran di Panama dan Jibraltar dan Bosporus itu dijamin oleh negara-negara yang bersangkutan. Amerika menjamin kebebasan pelayaran di Panama, Inggeris menjamin kebebasan pelayaran di Jibraltar, Turki menjamin idem-dito di Bosporus. Mesir telah menyatakan menjamin kebebasan pelayaran di Terusan Suez, – kenapa orang harus ragu-ragu atau marah atas hak Mesir untuk itu?

 

Atau barangkali orang ragu-ragu atas kemampuan Mesir untuk menjamin kebebasan pelayaran itu? Kalau ini yang menjadi sebabnya kemarahan atau keragu-raguan itu, maka dengan menyesal saya harus berkata bahwa orang yang marah itu masihlah dihinggapi oleh alam fikiran kolonial. Kalau ini yang menjadi sebabnya kemarahan atau keragu-raguan itu, maka dengan menyesal saya berkata, bahwa di samping adanya zogenaamde “underdeveloped countries”, masih ada apa yang harus disebut “underdeveloped minds”.

 

“Fahamilah aspirasi-aspirasi nasional bangsa-bangsa Asia-Afrika sekarang ini!”, demikian-lah tempo hari di luar-negeri saya telah tandaskan berpuluh-puluh kali. Fahamilah nasionalisme Asia-Afrika sekarang ini, jikalau ingin mengerti jalannya sejarah, dan jikalau ingin keselamatannya dunia. Jangan bermain-main dengan pedang, jangan bermain-main dengan “nasib”. Jangan main-main dengan “fate”! Sebab apa yang diperbuat oleh Mesir itu tak lain tak bukan adalah jalannya sejarah, tak lain tak bukan adalah “the course of history”. Sekali lagi, buat kedua kalinya dalam pidato ini, saya akan menirukan perkataan Abraham Lincoln: “One cannot escape history”. Carilah penyelesaian persengketaan ini dengan jalan damai, dan hanya dengan jalan damai! Hentikan semua persiapan militer! Hentikan semua ancaman senjata! Meski diadakan satu Konperensi Internasional sekalipun untuk memecahkan masalah persengketaan ini – tak akan sehat hasil Konperensi itu,

bila ia diadakan di bawah bayangan-nya Dewa Mars, yaitu bayangannya kapal-kapal perang, derunya bomber-bomber, gemerincingnya pedang-pedang, dentamnya tank-tank, sorak-gertaknya serdadu-serdadu yang mengancam!

 

Demikianlah politik kita yang bebas dan aktif. Aktif menuju kepada perdamaian.

Kita menyetujui azas hidup berdampingan secara damai, hidup tidak serang-menyerang, tidak mencampuri urusan-urusan dalam-negeri masing-masing, hormat-menghormati integriteit daerah masing-masing, mengakui persamaan derajat antara negara-negara besar dan kecil, menjalankan kerjasama yang saling menguntungkan. Dan perhatikanlah siapa yang pantas memperhatikan! Azas hidup berdampingan secara damai itu janganlah hendaknya memberi kenikmatan dan keuntungan kepada negara-negara raksasa saja, tetapi harus memberi nikmat dan keuntungan kepada negara-negara kecil juga, – kepada semua negara-negara, kepada semua bangsa-bangsa, kepada seluruh umat manusia di seluruh muka-bumi.

 

Alangkah hebatnya sebenarnya, kemungkinan-kemungkinan dalam abad ke-XX sekarang ini! Kita sekarang telah menginjak abad yang manusia hampir-hampir menyakar langit! Kita sekarang telah menginjak abadnya atom! Seribu kali lebih besar kemungkinan-kemungkinan-nya abad atom itu, daripada abadnya mesin-uap dan abadnya listrik. Seribu kali lebih besar kemungkinan terbukanja jalan-jalan baru untuk mempercepat pembangunan bagi kesejahteraan dunia-kemanusiaan. Akan tetapi satu syarat pokok harus dipenuhi, satu syarat pokok menjadi tuntutan mutlak: Revolusi Atom harus disertai Revolusi Mental. Revolusi Atom harus dikawani Revolusi Moral. Kita harus berani berfikir dalam alam damai, bukan dalam alam perang. Kita harus berani berfikir dalam alam percaya-mempercayai, bukan dalam alam curiga. Kita harus berani berfikir dalam alam kerjasama, bukan dalam alam jegal-menjegal. Jikalau Revolusi Atom ini tidak disertai dengan Revolusi Mental dan Revolusi Moral, maka kemajuan yang dibawanya itu akan membawa manusia masuk terjungkel dalam jurangnya kebencanaan. Jauhkanlah manusia ini, ya Tuhan, dari jurang kebencanaan itu! Abad atom sampai sekarang ini adalah laksana hari terang, yang terangnya diancam oleh gumpalan-gumpalan awan yang mengerikan dan mendirikan bulu. Hantu, hantu kehancuran, hantu kebinasaan, menghintai-hintai dari dalam gumpalan-gumpalan awan itu. Hantu yang mengerikan itu menghintai pula dari dalam alam fikiran manusia dan dari dalam impian-takutnya manusia. Hantu itu telah membuat manusia hidup dalam nachtmerrie. Dunia sekarang adalah dunia ketakutan. Ya, Alhamdulillah sampai saat sekarang ini hantu itu belum menjelma meledak ke bumi menghamuk-hancurkan segala apa yang ada, mematikan segala hal yang hidup. Tetapi entah apa yang tcrjadi di hari besok.

 

Dunia sekarang masih dunia dipinggirnya mala-petaka neraka jahanam. Karena itu, hai semua umat manusia, hai semua makhluk di muka-bumi, marilah kita bersama membangkit-kan “moreel geweld” kita, agar supaya hantu atom itu enyah dari muka bumi! Demikianlah Indonesia ikut turut serta dalam mobilisasi moril menentang hantu atom itu. Demikianlah Indonesia dari sudut moraliteit berjoang aktif untuk terselenggaranya keselamatan manusia dan perdamaian dunia. Maka oleh karena itu pulalah Indonesia dari sudut realiteit kenegaraan tidak mau menggabung-kan diri dalam sesuatu persekutuan militer.

 

Persekutuan militer tidak mendekatkan kita kepada perdamaian, persekutuan militer mendekatkan kita kepada peperangan. Persekutuan militer setidak-tidaknya membangunkan iklim pertentangan, iklim “siap-siapan”, iklim permusuhan.

Padahal pelaksanaan cita-cita untuk mempergunakan tenaga atom untuk tujuan-tujuan pembangunan memerlukan iklim damai. Dikatakan bahwa persekutuan-persekutuan militer tidak dimaksud untuk keperluan agresi, tetapi untuk keperluan mempertahan-kan diri secara kolektif. Tetapi tidak semua usaha yang dianggap baik dalam niatnya, juga baik dalam akibatnya. Yang kita hadapi adalah masalah manusia, masalah hubungan manusia dengan manusia, bukan masalah hubungan mesin dengan mesin, atau masalah hubungan materi-mati dengan materi-mati. “International relations are human relations”, – hubungan internasional adalah hubungan manusia dengan manusia, demikianlah kukatakan tempo hari. Manusia bukan barang mati, manusia mempunyai perasaan-perasaan dan fikiran-fikiran. Dan yang harus lebih diperhitung-kan lagi: manusia mempunyai instinct-instinct, mempunyai garizah-garizah, yang pada sesuatu saat turut menentukan segala tindak-tanduknya.

 

Jikalau sekelompok manusia mengadakan persekutuan bersenjata, maka yang merasa terancam dirinyapun mengadakan persekutuan bersenjata. Maka lambat-laun akan timbullah pengaruh timbal-balik yang menyeret dua persekutuan itu dalam perlombaan persenjataan, yang inipun makin lama makin memuncak, sejalan dengan tumbuhnya ketegangan antara kedua belah fihak itu. Akhirnya berdirilah berhadapan-muka-satu-sama-lain bukan sekadar dua kelompok manusia yang bersenjata sampai kepada ujung-ujung giginya, – tot aan de tanden toe gewapend -, tetapi dua pool yang bermuat-padat dengan tenaga listrik yang bertrilliun-trilliun volt dahsyatnya. Segenap angkasa hampir pecah dengan tenaga listrik tiu, de gehele atmosfer is tot berstens toe electrisch geladen! Satu pletikan api-kecil, satu pletikan instinct manusia, pletikan instinct manusia yang tak dapat dikendalikan, dan angkasa itu akan meledak menggledek-memelir-menghalilintar ke kanan dan ke kiri laksana Krisna Triwikrama. Dunia akan menjadi lautan api, angkasa akan terbakar dari Barat sampai ke Timur, semua peradaban manusia akan hancur-lebur menjadi abu! Maka niat baik apapun yang terkandung dalam persekutuan-persekutuan-militer tadi itu, obyektif toh mendatangkan peperangan karena tidak diperhitungkan faktor-faktor subyektif dalam kalbu manusia, yang dinamakan instinct kebinatangan.

 

Mengapa toh orang harus ragu-ragu dan sayang-sayang untuk menghentikan perlombaan persenjataan yang makin hari makin menyebarkan rasa-takut di mana-mana itu? Rasa-takut, bukan saja dalam hatinya mereka yang tidak bersenjata, tetapi pasti juga dalam lubuk-hati mereka yang bersenjata! Mengapa toh dunia manusia ini, yang telah beribu-ribu tahun naik tangganya peradaban, yang telah berabad-abad bersemboyan kemerdekaan, freedom, liberte, belum juga mampu memerdekakan dirinya dari belenggu nafsu-kekuasaan, yang nota-bene dibuat oleh tangan manusia sendiri, sehingga ia terkungkung dalam kungkungannya ketakutan, – ketakutan yang dus juga buah tangannya sendiri?

 

Alangkah baiknya jika manusia sekarang ini lebih banyak melihat ke dalam hati nurani masing-masing, menjalankan introspeksi masing-masing. Marilah kita semua manusia, dan terlebih-lebih lagi semua pemimpin-pemimpin negara dari segala bangsa, lebih banyak menjalankan introspeksi itu, dan bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa sebenarnja kita ini dilahirkan di dunia ini? Toh tidak untuk mengabdi kepada batu? Tidak pula untuk mengabdi kepada emas? Tidak untuk mengabdi kepada senjata? Tidak pula untuk mengabdi kepada kekuasaan? Ya, tidak pula untuk mengabdi kepada manusia? Tidak! Kita dilahirkan di dunia dan dihidupkan di dunia ini untuk mengabdi kepada Pembuat kita, mengabdi kepada Pembuat sesama Hidup. Kita dilahirkan dan dihidupkan di dunia untuk mengabdi kepada Tuhan Rabbulalamin! Dapatkah kita hidup mengabdi kepada Tuhan Rabbulalamin kalau kita tidak mempunyai moral hidup terhadap sesama hidup, sesama makhluk, sesama yang “kumelip” di alam ini?

 

Pengabdian kepada Tuhan Rabbulalamin mengandung makna hidup rukun-damai antara sesama manusia dan sesama bangsa. Karena itu kita cantumkan dalam Pancasila, sila Peri-Kemanusiaan. Karena itu politik kita ialah politik bebas dan aktif menuju kepada perdamaian. Karena itu kita tak mau masuk sesuatu persekutuan militer. Karena itu kita menentang penggunaan atom untuk tujuan-tujuan kebinasaan. Karena itu, ya, karena itu, – karena pengabdian kepada Tuhan Rabbulalamin – ,

kita mengajak semua manusia hidup rukun-damai, mengajak semua manusia bekerjasama, mengajak semua manusia bantu-membantu satu-sama-lain, mengangkat derajat-hidupnya bersama-sama kepada tingkat hidup yang lebih tinggi, tingkat-hidup yang setinggi-tingginya, baik di lapangan wadag maupun di lapangan batin, baik di lapangan jasmani maupun di lapangan rokhani.

 

Inilah yang dinamakan isi-hidup dan arah-hidup, inilah yang dinamakan “levensinhoud” dan “levensrichting”. Bangsa Indonesia harus mempunyai isi-hidup dan arah-hidup. Kita harus mempunyai Levensinhoud dan Levensrichting. Bangsa yang tidak mempunyai isi-hidup dan arah-hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cètèk, bangsa yang tidak mempunyai Levensdiepte samasekali. Ia adalah bangsa penggemar emas-sepuhan, dan bukan emasnya batin. Ia mengagumkan kekuasaan pentung, bukan kekuasaan moril.

Ia menyembah berhala kemasyhuran, bukan menyembah Tuhan. Ia cinta kepada gebyarnya lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Ia kadang-kadang kuat, – tetapi kuatnya adalah kuatnya kulit, padahal ia kosong-melompong di bagian dalamnya!

 

Bangsa Indonesia tidak hendaknya menjadi bangsa yang demikian itu. Bangsa Indonesia hendaknya setia kepada sifat asalnya. Sebelas tahun kita telah merdeka, dan kemerdekaan kita ini politis-ekonomis harus selalu kita sempurnakan, – kita sempurnakan, dan sekali lagi kita sempurnakan, tetapi kesempurnaan politis-ekonomis tidak akan cukup jika tidak disertai dengan isi-hidup dan arah-hidup, tidak akan membawa kebahagiaan-sejati jika tidak diarahkan kepada arah-hidup dan diisi dengan isi-hidup.

 

Satu tahun yang lalu saya berkata: “Ketahuilah bahwa Panca Dharma adalah sekadar Dharma, kewajiban yang harus dipenuhi, dan belum syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup sesuatu bangsa. Syarat-mutlak untuk kelanjutan hidup ialah Kemauan Hidup, – Levenswil, Levensdrang -, dan sjarat-mutlak untuk kelandjutan hidup sesuatu bangsa ialah Kemauan Hidup Sebagai Bangsa, – Nationaal Levenswil, Nationaal Levensdrang. Bangsa yang tidak mempunyai Api-Hidup-Nasional ini, Api-Keramat yang menghikmati semua warga-bangsa-nya, dari agama apapun, dari lapisan sosial apapun, dari ethnologi apapun, dari ideologi-politik apapun, bangsa yang kalbunya tidak berkobar-kobar dengan Api-Keramat ”Feu Sacré” ini, – bangsa yang demikian itu lambat-laun akan gogrok dan akan buyar menjadi “bangsa-bangsa” yang kecil, atau akan gogrok dan buyar menjadi kelompokan-kelompokan manusia belaka, atau akan tenggelam-lenyap-musna samasekali”.

 

Ya, memang demikianlah! Tetapi kelanjutan hidup sajapun belum cukup, hidup-sekadar-hidup pun belum cukup. Hidup barulah hidup-sejati, -Life worth while living! -, jika hidup itu mempunyai arah dan mempunyai isi. Hidup barulah hidup-sejati jika hidup itu bukan hidup kosong-melompong. Berilah arah dan isi itu, berilah richting dan inhoud itu. Di samping Levenswil harus ada Levensrichting, harus ada Levensdiepte, harus ada Levensinhoud, harus ada Levenszin. Di samping Nationaal Levenswil, karenanya, hidup-hidupkanlah di dalam dadamu laksana Api yang membakar engkau punya jiwa: Nationaal Levensrichting, Nationaal Levensdiepte, Nationaal Levensinhoud, Nationaal Levenszin. Hidup-hidupkanlah di dalam dadamu: Pancasila, oleh karena Pancasila memenuhi semua tuntutan-tuntutan itu, dan oleh karena Pancasila memang inti-sari daripada Jiwa Indonesia!

 

Sebelas tahun kini usianya Proklamasi, dan dengan itu sebelas tahun kini usianya Republik.

 

17 Agustus 1945 memang bukan saja hari-lahirnya Proklamasi, 17 Agustus 1945 adalah pula hari-lahirnya Republik. Kini kita memasuki usia Republik tahun yang keduabelas. Tugas yang masih harus kita penuhi tampak jelas. Empat Dharma dari Panca Dharma masih menunggu penyelesaian. Selesaikanlah empat tugas yang belum selesai itu!

 

Dalam pada itu adalah satu pesan lagi dari saya kepada saudara-saudara semua.

Apakah pesan saya itu?

 

Kita telah memilih Konstituante, Dewan Penyusun Undang-undang Dasar. Insya Allah akhir bulan Oktober saya akan lantik Konstituante itu, sepulang saya dari perlawatan ke Rusia, Austria, Yugoslavia, Cekoslovakia dan R.R.T. Insya Allah saya akan gembira dapat berkata kepada sidang Konstituante: “Bentuklah satu Undang-undang Dasar bagi Republik Indonesia, Republik Kesatuan, berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke, berdaulat penuh, lepas-bebas dari tiap ikatan yang mengurangi kedaulatannya. Bentuklah satu Undang-undang Dasar bagi Republik Indonesia, – bukan Republik K.M.B., tetapi Republik Proklamasi!” Nah, saudara-saudara, Republik kita harus satu Republik yang mempunyai isi-hidup dan arah-hidup, satu Republik yang mempunyai Levensinhoud dan Levensrichting! Maka isi-hidup dan arah-hidup itu haruslah tercerminkan dalam Undang-Undang Dasar yang harus kita susun dalam Konstituante itu, sedapat mungkin telah dalam tahun yang akan datang.

 

Tahun yang akan datang dus adalah tahun yang amat penting. Dalam tahun yang akan datang itu Republik Indonesia harus menentukan Undang-Undang Dasarnya, paling sedikit inti Undang-Undang Dasarnya dan jiwa Undang-Undang Dasarnya. Dalam tahun yang akan datang itu Republik Indonesia harus menentukan secara definitif isi-hidupnya dan arah-hidupnya, secara definitif Levensinhoudnya dan secara definitif Levensrichtingnya.

 

Karena itu, pada saat kita berdiri di muka pintu-gerbang tahun yang akan datang itu, saya memesan kepada saudara-saudara: Renungkanlah hal ini dari sekarang dalam-dalam dan sungguh-sungguh, renungkanlah isi-hidup, arah-hidup, dasar-hidup, bagi Republik kita yang dapat menjamin keutuhan dan Kesatuan Republik, hidup-kekal Republik, hidup-berisi bagi Republik, dan kemudian tuanglah hasil-renungan itu dalam Konstitusi yang dibuat oleh Konstituante.

 

Dengan demikian, maka Dharma yang saya pesankan kepada saudara-saudara untuk di-selenggarakan dalam tahun yang akan datang, menjadilah lima buah lagi: empat Dharma sisa tahun yang lalu, satu Dharma babaran tahun sekarang. Dengan demikian, maka suatu “Panca Dharma Baru” saya minta saudara-saudara persembahkan tahun ini di atas persadanya Ibu Pratiwi:

 

Pertama      :         Gemblènglah terus Persatuan.

Kedua         :         Gemblènglah terus Keamanan.

Ketiga         :         Perhebatlah terus Pembangunan, terutama sekali dalam

                             tarafnya yang pertama yaitu “Rencana Lima Tahun”.

Keempat      :         Perhebatlah Perjoangan Irian Barat diatas segala lapangan

                             Agar Irian Barat lekas masuk kedalam kekuasaan de facto

                             Republik.

Kelima        :         Tentukanlah isi-hidup, arah-hidup, dasar-hidup Republik

                             dalam Konstitusi, yang menjamin Hidup Gemilang bagi

                             Republik.

 

Terimalah lima pesan ini menjadi “Panca Dharma Baru” yang menghikmati seluruh lapisan Rakyat. Kerjakanlah Panca Dharma Baru itu dengan gegap-gempitanya élan, yaitu dengan gegap-gempitanya dinamik jiwa yang berkobar-kobar, dinamiknya jiwa yang tak mau patah. Terutama sekali dari kaum intelektuil dan kaum pemuda saya mengharap jiwa yang demikian itu. Mereka sebenarnya motornya Rakyat, mereka sebenarnya pengarah geraknya Rakyat. Tetapi ada di antara mereka yang berjiwa mlempem, dan ada pula yang karena putus-asa lantas nyelèwèng dari pendirian-pendirian demokratis dan progresif daripada Revolusi, dan lantas mengikuti pendirian-pendirian yang kwasi-revolusioner tetapi sebenernya nyelèwèng dari tujuan-asli Revolusi.

 

Setialah kepada pendirian demokratis dan progresif daripada Revolusi kita itu, dan janganlah tergendam oleh gebyarnya kwasi-revolusionerisme! Janganlah nyelèwèng! Apa, – ada yang putus-asa? Lantas nyelèwèng? Karena “sudah sebelas tahun kok masih begini saja?” Tahun yang lalu saya berkata : “Adakah yang berputus-asa di antara kita? Adakah yang berpatah-semangat, karena melihat jalan masih jauh? Menolehlah ke belakang sebentar! Sepuluh tahun kita berjalan, sepuluh tahun kita berjoang, sepuluh tahun kita sering-sering menderita, sepuluh tahun kita sering-sering berkorban, malahan kadang-kadang rasa remuk segala-galanya, – tetapi tidak sepuluh detik kita remuk dalam semangat, tidak sepuluh detik kita berpatah tekad”.

 

Ya, memang, kini sebelas tahun memang bukan waktu sebentar. Kini sesudah sebelas tahun memang banyak di antara kita yang tidak puas, dan sayapun tidak. Tetapi itu bukan alasan untuk dus lantas putus-asa terhadap rail yang sudah, bukan alasan untuk dus meninggalkan pendirian asli daripada Revolusi yaitu pendirian demokratis dan progresif, bukan alasan untuk dus nyelèwèng, bukan alasan untuk dus membiarkan diri hanyut dalam aliran kwasi-revolusionerisme. Semestinya kita ini setia kepada pendirian-pendirian asli itu, lebih membanting tulang di atas rail asli itu, lebih memeras habis-habisan kita punya keringat di atas rail asli itu, lebih demokratis-dinamis dan lebih progresif-dinamis, lebih mengembang-kan tenaga Rakyat, lebih berkontak dan mengaktivir potensi Rakyat, lebih sehidup-semati-setindak-setanduk dengan Rakyat, lebih menggembleng dan digembleng Rakyat, lebih menjadi kancahnya Rakyat dan dalam kancahnya Rakyat, lebih menggodok dan digodok Rakyat, lebih ber-Kerakyatan, lebih “massisch”, – dan bukan golongan intelektuil atau pemuda yang tak banyak hubungan dengan Rakyat, tetapi kwasi-revolusioner. Benar kita adalah satu bangsa dalam perjoangan, benar kita satu bangsa yang berjoang, satu “fighting nation” yang tak mengenal berhenti, – satu “fighting nation” yang tak mengenal “journey’s end”. Tetapi kita ini adalah juga satu demokrasi yang berjoang, – satu “fighting democracy”, yang harus setia kepada semua isme-ismenya dan cara-caranya kerakyatan. Setialah kita kepada isme-isme dan cara-cara kerakyatan itu, sebab suatu isme dan suatu cara-hidup barulah menjadi satu Kenyataan yang Hidup, jikalau kita beri kesetiaan kepadanya.

 

Di hadapanku sekarang ini berdirilah satu lautan manusia dengan hati yang berkobar-kobar dan jiwa yang berdentam-dentam. Semua mereka itu adalah sebenarnya wakil dari seluruh Rakyat Indonesia, dan semua mereka itu adalah wakil dari satu kenang-kenangan, satu cita-cita, satu tekad, satu Ide: Ide Kemerdekaan untuk Rakyat, Ide Kemerdekaan oleh Rakyat. Semua mereka itu berkehendak memegang-tetap nasib sendiri dalam tangan sendiri, dan tidak mau mereka nasibnya ditentukan oleh orang intelektuil atau pemimpin atau pemuda siapapun juga. Ide Kemerdekaan untuk Rakyat dan oleh Rakyat itulah membuat mereka di masa lampau berjiwa laksana ndaru, ide itulah membuat mereka berjiwa laksana jiwa malaekat, jiwa dinamit, – jiwa petir dan halilintar! Mereka, mereka, Rakyat jelata yang berpuluh-puluh juta, mereka Rakyat jelata di kota-kota dan di desa-desa, mereka Rakyat jelata di gubuk-gubuk dan di pinggir sungai, mereka Rakyat jelata dari Sabang sampai Merauke, merekalah pembuat Revolusi, merekalah motor Revolusi, merekalah Revolusi!

 

Marilah kaum intelektuil dan pemuda berjalan terus dengan mereka itu, yang itu berarti berjalan terus untuk mereka itu!

 

Untuk mereka Revolusi tak akan gagal, dengan mereka Revolusi pasti menang!

 

Sekian!

 

Terima kasih!

 

Merdeka, sekali merdeka tetap merdeka!

Iklan