SEKALI LAGI: BLOEDTRANSFUSIE EXTRA!

SEKALI LAGI: BLOEDTRANSFUSIE EXTRA!

 

SATU SURAT TERANG-TERANGAN, DAN SATU SURAT KALENG
MIAI DIHARAP MENJELASKAN SIKAPNYA

 

Bengkulu, 20 Juli 1941.

 

Ini pagi saya menerima dua pucuk surat yang mengenai tulisan saya tentang bloedtransfusie di “Pemandangan” tempo hari. Satu ialah surat terang-terangan dan yang satunya lagi ialah surat kaleng!

Yang terang-terangan itu ialah suratnya kawan saya Asmara Hadi, salah seorang pemimpin pergerakan, yang mengucap terima kasih kepada saya atas petunjuk yang ia dapatkan dari artikel saya itu. Dan yang kaleng itu ialah dari … entahlah siapa, tetapi ia menyebutkan dirinya dengan nama-haibat “Islam sejati bin Tetap Quran wal Hadist”.

Buat iseng-iseng marilah saya cantumkan dua surat itu di bawah ini.

 

Yang dari saudara Asmara H a d i berbunyi: “Saya ucapkan terima kasih atas karangan tentang pemindahan darah. Dua kali saya menerima surat permintaan supaya saya rela memberikan darah saya, tapi saya tidak menjawab dengan sepatah katapun.

Lupa saya, bahwa segala orang yang mati dan luka di medan perang itu adalah Manusia yang men­jadi korban suatu sistim. Besok atau lusa dengan rela saya kasihkan nama saya sebagai donor.

Mudah-mudahan darah yang sedikit itu dapat menolong jiwa.”

 

Dan yang kaleng? Yang kaleng berbunyi:

“Saya telah membaca tulisan saudara di “Pemandangan” ddo. 18 Juli lembaran kedua. Yang tercantum pula uraian dari Dewan MIAI.

Sangat saya sesalkan, bahwa pemandangan saudara itu besar kecilnya menyerang mengkritik kepada ulama MIAI, yang saya berkeyakinan diten­tang ilmu Islamnya lebih tinggi dari saudara.

 

Maka saya minta dengan hormat tapi sangat kepada saudara, terlebih baik menulis pemandangan yang berfaedah daripada menulis yang demi­kian, dan di samping itu perlu sangat saudara memperdalam ilmu-ilmu ke-Islam-an, supaya pemandangan saudara itu tidak berupa Gado-gado yang rasanya basi. Sekianlah dulu surat saya ini, ialah surat yang pertama sekali menjelang saudara selama kita berpisahan. Wassalam saudaramu Islam sejati.”

Sekianlah bunyi itu surat kaleng. Di bahagian afsendernya tertulislah nama-haibat yang saya katakan tahadi itu: “Islam sejati bin Tetap Quran wal Hadist”.

 

Sebenarnya, sebelumnya saya menerima dua surat ini, – terutama sekali itu surat dari saudara-nama-panjang Islam sejati bin tetap quran wal hadist saya telah ada kehendak menulis sekali lagi tentang bloed­transfusie itu. Yakni waktu saya membaca putusan MIAI-pleno tentang bloedtransfusie itu yang diumumkan di surat-surat khabar. Tetapi adalah satu hal yang membuat saya maju-mundur mengerjakan ke­hendak-kehendak-hati saya itu. Hal itu ialah: presis seperti apa yang dikatakan oleh saudara-nama-panjang tahadi itu: bahwa ulama MIAI ditentang ilmu Islamnya niscaya lebih tinggi dari saya, yang baru sahaja mencium-cium Islam, dan baru sahaja mempelajari Islam itu. Siapa saya? Dan siapa ulama MIAI?

 

Dan bukan sahaja mereka lebih tinggi pengetahuan Islamnya dari saya! Mereka juga telah disyahkan oleh seluruh rakyat Islam  Indonesia,­ dan saya pun turut mengesyahkan -, sebagai dewan tertinggi ditentang urusan Islam, yang di atas mereka tidak ada dewan lagi ditentang agama, nielainkan firman Tuhan dan hadits Nabi sendiri. Mereka kita­punya otoritet, mereka kitapunya tempat memulangkan segala soal-soal sulit, mereka harus kita junjung tinggi dan taati segala putusan­- putusannya. Sekarang mereka telah mengambil putusan tentang bloed­transfusie, sekarang – m a u  a p a  l a g i?

Tetapi, – kemaju-munduran saya punya hati itu menjadi berkurang, manakala saya ingat akan tulisan saudara Husin Bafagieh di dalam ia punya majalah “Aliran Baru “, di mana beliau menyambut medewerkerschap saya kepada surat khabar “Pemandangan” itu dengan kata-kata bahwa “kini telah banyak benar qafilah yang sedia menanti Sukarno, serentak akan jalan bersama mengharungi lautan pasir yang bergunungkan batu-batu kekolotan” (per­kataan kekolotan ini tidak mengenai MIAI). Kemaju-munduran saya pu­nya hati itu menjadi pula amat tipis sekali, manakala saya ingat pula, bahwa bukan saya sahaja yang pro bloedtransfusie, tetapi juga “Pedoman Masyarakat”, “Aliran Baru”, fihak Persatuan Islam, dan lain-lain. Dan akhirnya, kemaju-munduran itu menjadi hilang samasekali, manakala saya ingat, bahwa maksud saya bukanlah tidak taat kepada MIAI, tetapi ialah hanya minta penjelasan minta tambah keterangan belaka!

 

Minta penjelasan, dan bukan membantah! Sebab putusan yang diambil oleh MIAI itu, formuleringnya putusan yang diambil oleh MIAI itu, adalah perlu amat kepada penjelasan.

Formuleringnya putusan MIAI itu masih tetap meninggalkan orang-orang-awam di dalam kegelapan, sikap apakah yang musti diambilnya terhadap kepada bloedtransfusie yang sekarang dikerjakan d i n e g e r i kita ini. MIAI mengatakan, bahwa bloedtransfusie hukumnya seperti hukum hadits: buat maksud yang baik boleh: buat maksud yang tidak baik, teranglah buat perang yang diridhoi Allah halal, buat perang yang tidak diridhoi Allah haram. Hanya sekianlah putusan MIAI, dan tidak lebih.

Maka tetaplah orang-awam di dalam keragu­-raguan. Ia, orang-awam itu, tetaplah belum tahu apa, apakah yang harus ia perbuat mengasihkan darahnya kepada bloedtransfusie y a ng sekarang  ini atau tidak? Kalau ia mengasihkan darah­nya kepada “peperangan” yang sekarang ini, – diridhoi oleh Allah-kah peperangan yang sekarang itu, atau tidak? Kalau dus ia mendermakan darahnya sekarang, – akan dapatkah ia pujian dari Tuhan, atau akan dapatkah ia kemurkaan dari Tuhan?

 

Beginilah saudara-saudara pembaca! Kita harus ingat, bahwa rakyat­ jelata kita masih bodoh. Rakyat-jelata kita masih perlu kepada formulering-formulering, masih perlu tuntunan yang langsung yang jelas dan terang. Saya minta kepada semua saudara-saudaraku yang memimpin rakyat supaya selalu k l a a r e n duidelijk, selalu “cespleng”, selalu terang-seterang-terangnya, selalu menjebloskan segala apa yang perlu dijebloskan. Rakyat-jelata bukan manusia-manusia yang sudah amat cerdas, ia adalah manusia-manusia yang masih bodoh, masih butuh kepada tuntunan-tuntunan yang “tidak perlu dikunyah-kunyah lagi”. Ia hanya dapat berfikir secara “elementair”, berfikir secara sederhana sekali, zonder kemampuan buat door-denken, yakni zonder kemampuan buat mengunyah sendiri terus apa yang disajikan.

 

Cobalah Tuan-tuan pembaca perhatikan: sampai pada saat saya menulis artikel ini, yakni sekian hari s e s u d a h putusan MIAI itu dibaca orang di mana-mana, masih tetaplah s a h a j a saya didatangi saudara-saudara dari kota Bengkulu, yang menanyakan: bagaimana nanti kalau dimintai darah, bolehkah mengasih atau tidak? Maka “met de regeknaat van een klok”, tetap saya kasih jawaban kepada mereka itu: kasih sahaja darahmu itu, saudara, sebab buat menolong jiwa sesama manusia! –

 

Sungguh untuk menghilangkan kegelapan yang masih ada di kalangan orang-awam itu, saya muhun kepada pimpinan MIAI, sudilah kiranya mengasih penjelasan di surat-surat khabar dan majalah-majalah, halalkah atau haramkah kita mendermakan darah kita kepada bloedtransfusie dienst yang sekarang

i n i ?

 

Dan sementara kita menunggu penjelasan itu, maka muhun izin kepada pimpinan MIAI dan khalayak, mengemukakan lagi beberapa hal, yang perlu dipertimbangkan lagi masak-masak. Hal-hal ini tidak menge­nai agama, dan memang tidak perlu lagi ditambah keterangan-keterangan agama. Sidang MIAI niscaya sudah habis-habisan menyelidiki soal ini dari sudut dalil-dalilnya agama, sudah habis-habisan mempertimbangkan pro dan kontranya soal ini dengan

hati-hati!

 

Apakah hal-hal itu? Pertama, bahwa bloedtransfusie itu menurut hemat saya tidak buat “membantu sesuatu peperangan”, tetapi ialah buat menolong korban-korban peperangan.

Ia hanyalah satu cabang dari pekerjaan Rode Kruis, dan niscaya dienstnya memang bernama “bloedtransfusiedienst van het Nederlansche In­dische Rode Kruis”. Ia menyerahkan darah itu kepada Rode Kruis, yang tidak memandang bulu atau bangsanya orang-orang luka yang perlu ditolong. Tidak menanya lebih dulu apakah si luka itu dari fihak sendiri atau dari fihak musuh, dari fihak yang menyerang atau dari fihak yang diserang, dari fihak yang membela keadilan atau dari fihak yang memperkosa keadilan, dari fihak yang “diridhoi oleh Allah” atau dari fihak yang tidak “diridhoi oleh Allah”. Kawan atau bukan kawan, musuh atau bukan musuh, – siapa sahaja yang terdapat menggeletak dengan luka parah sehingga terancam jiwanya, ditolonglah oleh Rode Kruis itu dengan darah

yang kita dermakan itu.

 

Tidakkah prakteknya Rode Kruis di mana-mana memang begitu? Jikalau Nederlandsche Rode Kruis beberapa tahun yang lalu pergi ke Abessynia untuk menolong orang-orang luka di sana, maka dokter-dokter­nya sama-sama memerban lukanya orang-orang Abessynia

d a n orang Italia, orang hitam d a n orang putih. Ia sama-sama menolong orang luka yang menggeletak di padang peperangan, zonder membeda-bedakan bangsa, zonder menanya lagi si luka itu dari fihak yang membela negerikah, ataukah dari fihaknya Mussolini yang merampas negeri dan menyamun negeri. Ia, Nederlandsche Rode Kruis itu dus tidak “membantu” sesuatu peperangan (i.c. peperangan Italia -Habsyi), melainkan hanyalah meno­long Korban-Korbannya peperangan itu. Menolong orang luka, menolong jiwa, menolong menghilangkan penderitaan, dan tidak meno­long “oorlogsdoel-nya” peperangan itu! Ia tidak beda sikapnya dari Zweedse Rode Kruis, atau Amerikaanse Rode Kruis, yang di padang-pa­dangnya Negeri-Naga sama-sama mengobati lukanya serdadu Tionghoa d a n serdadu Jepang, serdadu dari fihak yang diterkam d a n ser­dadu dari fihak yang menerkam.

 

Pendek kata, di dalam prakteknya Rode Kruis, sebenarnya kurang benarlah, kalau kita berkata “mendermakan darah buat sesuatu peperangan yang diridhoi oleh Allah”. Sebenarnya hanyalah benar kalimat yang berbunyi: mendermakan darah bagi orang-orang yang luka, – zonder ditambah lagi kalimat “perang yang diridhoi oleh Allah atau tidak diridhoi oleh Allah”. Maka karena itu, zonder menyelidiki lagi perang itu diridhoi oleh Allah (tegasnya: z o n d e r menyelidiki lagi peperangan itu, r e c h t s v r a a g n y a peperangan itu), t e t a p lah pendermaan darah sebagai yang dimintakan oleh bloedtransfusiedienst itu satu perbuatan yang terpuji, satu amal yang baik, satu amal yang saleh.

 

Memang MIAI-pun tidak mencela atau melarang pendermaan darah itu. MIAI-pun tidak mengatakan, bahwa pendermaan darah “an sich “, – artinya pendermaan darah sebagai pendermaan darah, – adalah haram. Sebagaimana MIAI misalnya tidak mengharam­kan pendermaan orang “an sich”, tidak mengharamkan pendermaan makanan “an sich”, pendermaan tenaga “an sich”, pendermaan fikiran “an sich”, maka MIAI-pun tidak mengharamkan pendermaan darah itu “an sich” MIAI dus nyata tidak menyetujui alasan-alasan setengah kaum ulama Indonesia yang juga saya bantah di dalam artikel saya tentang bloedtransfusie yang terdahulu itu, dan yang telah menggerakkan hatinya saudara-saudara si-nama-panjang menulis surat kaleng yang saya umum­kan di atas tahadi. MIAI hanyalah mengharamkan pendermaan darah, kalau darah itu dipakai buat menyokong maksud yang haram. Maka justru tentang hal maksud inilah jang saya mintakan penjelasan­ kata lekas-lekas dari fihak MIAI, agar supaya orang-awam tidak terlalu lama tinggal di dalam keragu-raguan. Dan justru tentang ” m a k s u d ” inilah saya tahadi, dan berikut, mengemukakan beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan, agar lekas-lekas orang-awam mengetahui salah-benarnya saya punya anjuran buat mendermakan kitapunya darah kepada bloedtransfusiedienst sekarang ini.

 

Sebab, – dan inilah satu hal lagi yang perlu kita pertimbangkan kita hidup di dalam zaman yang semua tindakan kita harus bersifat tin­dakan yang lekas-lekas. Udara di atas bumf Indonesia telah menggetar karena isi bahaya yang kongkrit, atau setidak-tidaknya mungkin menjadi kongkrit. Orang mengatakan bahwa Indonesia mungkin ter­seret ke dalam kancahnya pertabrakan internasional, – tidakkah terbayang pula di mata kita betapa rupanya malapetaka kalau benar-benar terjadi yang semacam itu? Tidakkah terbayang di mata kita misalnya tubuhnya orang-orang perempuan bangsa kita, anak-anak kecil bangsa kita, kakek-­kakek dan nenek-nenek bangsa kita, yang robek berlumuran darah karena bombardement kota-kota oleh meriam dan kapal udara, oleh pelor dan bom dan granat dan entah apa lagi namanya itu? Sungguh, – terlepas dari soal-politiknya peperangan yang mungkin mengganas di atas padang-padang dan kota-kota kita itu, terlepas dari coal “diridhoi Allah” atau “tidak diridhoi Allah”, peperangan yang mungkin membakar angkasa Indonesia itu, maka terbayanglah di muka math saya tubuh-tubuh-robek dari perempuan-perempuan kita anak-anak k i t a nenek-nenek kita bayi-bayi kita, yang sungguhpun tidak tahu-nienahunya apa-apa tentang asal-mulanya peperangan itu, toch nyata menjadi korbannya bombardement kota-kota dan dusun-dusun. Mereka, korban-korban ini, mereka tidak akan menanya kepada Tuan-tuan: diridhoi oleh Allah-kah malapetaka yang menimpa mereka punya badan itu, tetapi mereka hanya­lah memanggil kita punya jiwa minta dibantu dengan darah, ya, di­bantu dengan darah, penyambung mereka punya jiwa yang ham­pir melayang. Sungguh saudara-saudara pembaca, kalau saya kenangkan nasibnya korban-korban bombardement, terutama sekali di kalangan anak­-anak kecil dan perempuan-perempuan itu, maka hanya satulah, per­muhunan jiwaku kepada Tuhan Robbulalamin: ya Allah, ya Robbi, perkenankanlah hambamu ini menolong mereka yang menderita itu. Hilang, hilanglah dari perasaan saya segala pertanyaan: siapapunya salah­kah ini, hilanglah rasa-benci dan rasa-dendam kepada sesama manusia, tinggallah sahaja rasa-hiba kepada sesama manusia itu, rasa belas-sayang kepada makhluk yang celaka, rasa belas-kasihan kepada jiwa yang menderita. Akh, barangkali, di antara saudara-saudara pembaca ada yang tersenyum mengatakan saya terlalu lembek-hati?? Biarlah, – Ter­puji dan Maha-Besar Allah Ta’ala yang telah sudi mengaruniai saya ini dengan kelembekan-hati yang semacam itu! Allahu Akbar, sungguh Maha Terpuji dan Maha Besarlah Engkau, ya Robbi Robbulalamin!

 

Tetapi yah … marilah saya tinggalkan “gevoeligheden” yang barangkali saudara-saudara namakan onzakelijk itu.

Tetapi t e t a p saya peringatkan kepada semua khalayak Indonesia: realisirkan, realisirkanlah malapetaka, yang mungkin menimpa kota-kota k i t a dan orang­-orang kita itu. Realisirkanlah bahwa malapetaka ini m u n g­ k i n datangnya secara menerkam: entah kapan, entah masih lama, entah besok, entah ini hari! Dan jikalau ia menerkam ini hari, – sudahkah banjak kita menyediakan darah buat ditransfusikan kepada korban-korbannya malapetaka itu? Bahkan, jikalau ia tidak me­nerkam ini hari, tetapi masih agak lama lagi, (semua itu “kemungkinan” dan “keandaian”!) maka tetap harus dikemukakan pertanyaan: cukupkah kita merealisirkan, bahwa pekeryaan mentransfusikan darah itu memakan tempo, dus baik disediakan d a r i s e k a r a n g, sehingga dokter dapat segera mengasih pertolongan s e t i a p waktu ia perlu mengasih pertolongan, dan kita tidak menabyak-nabyak mencari donor dulu yang sama “bloed-groepnya” pada waktu anak-anak kita, perempuan­perempuan kita, suami-suami dan orang-orang tua kita menderita luka yang haibat dan telah berpandang-pandangan-mata dengan maut, karena terlalu banyak menumpahkan darah? Dan sungguhpun andainya korban­-korban yang perlu ditolong itu bukan dari bangsa kita -katakanlah bangsa Belanda atau bangsa Jerman, atau bangsa Jepang, atau bangsa apapun sahaja, – bangsa kawan atau bangsa musuh, bangsa fihak yang diridhoi Allah atau bangsa yang tidak diridhoi Allah, – tidakkah tetap benar perkataanku di dalam artikel yang terdahulu, bahwa mereka itu baik menurut Internationaal recht maupun menurut ethiek-nya Islam, wajib kita tolong juga?

Sebab semua mereka itu, bangsa sen­diri atau bukan bangsa sendiri, perempuan-perempuan yang tidak tahu apa-apa atau serdadu-serdadu yang tahadinya memutar senapan mesin, se­mua mereka itu adalah

k o r b a n -korban belaka. Mereka bukanlah “peperangan” mereka hanyalah korban -korban peperangan. Bu­kanlah “maksud”, tetapi k o r b a n-k o r b a n n y a suatu maksud. Bu­kanlah sistim, tetapi korbannya suatu sistim. “Peperangan” atau “maksud” atau “sistim”, kepadanya adalah melekat hukum baik dan hukum jahat, hukum tidak diridhoi oleh Allah. Tetapi buat k o r b a n­-korbannya peperangan atau maksud atau sistim itu, hanyalah satu hukum yang tersedia: hukum m e n o l o n g, hukum m e m b e l a, hukum mengasihi kepadanya! Hukum kemanusiaan!

 

Sediakanlah kerelaan-hati, Than akan menolong dan membela itu,

d a r i s e k a r a n g. Sebab bloedtransfusiedienst harus bekerja sekarang, dan tidak besok. Sekarang, oleh karena pekerjaan ini memakan tempo. Sekarang pula, oleh karena tidak ada satu manusiapun mengetahui saatnya, kapan darah itu perlu dipakai? Entah masih lama, entah lusa, entah besok. Entah akan perlu dipakai, entah tidak akan perlu dipakai. Tetapi sedia, perlu sedia dari

s e k a r a n g, sekali lagi sekarang, dan tidak besok.

 

Karena alangkah baiknya MIAI, sebagai bentengnya ke-Islam-an, en dus sebagai bentengnya kemanusiaan, dengan tidak ayal lagi lekas-lekas mengasih tambahan-kata atas putusan yang telah diumumkan itu, agar supaya si Dadap dan si Waru lekas mengetahui boleh tidaknya mender­makan darah kepada bloedtransfusiedienst yang

s e k a r a n g  i n i.

 

Sebagai bentengnya ke-Islam-an ia akan mengasih penerangan tentang halal-haramnya suatu hal yang k h u s u s dan kongkrit

 

Sebagai bentengnya kemanusiaan ia akan menentukan langkah khalayak ketamannya mensenliefde dan menselijkheid.

 

Moga-moga pimpinan MIAI sudi memenuhi permintaan saya yang demikian itu, yang maksudnya menggambarkan dan mempropagandakan.

      

“Pemandangan”,1941


1.000.000.000 EXTRA!

 

FRITS STERNBERG MINTA INGGERIS

MEROBAH TUJUAN PEPERANGANNYA

 

Di dalam majalah bulanan “Asia” nomor bulan Maret yang lalu, Frits Sternberg menulis artikel yang menarik, dengan titel “One Billion”. Maksudnya artikel itu ialah menunjukkan kepada kaum sekutu (Inggeris c.s.), bahwa mereka, asal mereka mau, bisa mendapat tambahan kawan s a t u bilyun orang di dalam peperangan melawan Hitlerisme itu.

 

Artikel Sternberg itu cukup menarik buat saya bicarakan di dalam tulisan saya sekarang ini. Apakah yang ditulis oleh Sternberg?

 

Inggeris kini berperang melawan Jerman. Di dalam peperangan ini, ia mendapat bantuan dan sokongan dari pelbagai pihak, baik dari kalangan “keluarga” sendiri maupun dari kalangan di luar “keluarga” itu.

Tetapi Hitler kini telah menduduki sebagian besar dari Eropah, dan dengan tangan keras dan tangan besi ia dapat mengungkung rakyat-rakyat di negeri-negeri yang ia taklukkan itu, sehingga mereka tak mampu lagi meneruskan mereka punya perlawanan dengan cara yang effectief dan banyak hasil. Rakyat-rakyat Belanda di negeri Belanda, rakyat-rakyat Belgia, rakyat Perancis, rakyat Denemarken, rakyat Polandia, rakyat Norwegia, rakyat Czech dan rakyat di negeri-negeri taklukan yang lain, – rakyat-rakyat itu sudah tentu amat benci pada Hitler, tetapi mereka punya perlawanan sudahlah menjadi amat sukar sekali, dan amat terbatas. Rakyat-rakyat di negeri taklukan ini hanyalah menjadi pembantu indirect dari per­lawanan Inggeris, yakni indirect karena Hitler terpaksa menaruh bezet­tingsleger (tentara pendudukan) di negeri-negeri itu, yang leger ini, umpama tidak terpaksa terpakai buat bezetting, niscaya dapat dipakai oleh Hitler buat ikut aktif berperang pula.

 

Tenaga Inggeris, serta bantuan yang ia dapat adalah sebagian besar terletak d i 1 u a r negeri-negeri yang telah diduduki oleh Hitler itu. Dari dominions ia mendapat bantuan, dari Amerika ia mendapat bantuan, dari Rusia ia kini mendapat bantuan. Dari tiga pihak inilah bantuan itu paling effectief. Dari tiga pihak inilah datang

“war-effort” yang sekuat-­kuatnya. Tetapi dari 1 u a r tiga pihak ini, bantuan itu amat dingin sekali, bahkan kadang-kadang tidak ada bantuan sama sekali. India tidak membantu, dan rakyat Jerman sendiri, yang tentunya kurang senang ke­pada kezaliman Hitler, pun tidak membantu. Apa sebab, tanya Sternberg? Sebabnya ialah menurut Sternberg, bahwa tujuan-peperangan Inggeris (“war-aim” Inggeris). kurang cukup jitu. Kurang cukup riil dan kongkrit, kurang cukup “menangkap hati”. Kalau “war-aim” Inggeris menangkap hati rakyat India dan rakyat Jerman, niscaya mereka mem­bantu Inggeris sepenuh-penuhnya. Tetapi tujuan-perang Inggeris tidak menangkap hati mereka, tidak memuaskan kepada mereka. Bahkan bagi rakyat Jerman tujuan-perang Inggeris itu adalah pangkal kebimbangan dan pangkal kecurigaan. Rakyat Jerman yang nyata kurang senang di bawah telapak kaki Hitler, dengan sistim kejalimannya dan sistim kekerasannya, dengan Gestaponya dan concentratie – kampennya, dengan anti-demokrasinya dan anti-semitismenya rakyat Jerman itu toch tidak tertarik oleh tujuan-perang yang disemboyankan Inggeris sekarang ini. Rakyat Jerman itu malah curiga, malahan khawatir, malahan banyak sangka, terhadap tujuan-perang Inggeris itu. Daripada membantu pepe­rangan Inggeris, mereka malahan menyerah sahaja menjadi umpan­meriam bagi imperialismenya Hitler.

 

Apa sebab? Rakjyt Jerman masih belum lupa akan Versailles.

Me­reka masih ingat, bahwa Versailles mengikat mereka, membelenggu mereka. Mereka masih ingat akan pahitnya dan getirnya Versailles itu. Mereka justru mudah sekali tertangkap oleh agitasinya Hitler, justru oleh karena pahitnya dan getirnya Versailles itu. Kini mereka berada lagi di dalam peperangan mati-matian, – akan menunggukah Versailles kedua? Akan menunggukah pembelengguan yang erat lagi, :herstelbetalingen (pembayaran kerugian) yang berat lagi, pelukaan kehormatan nasional yang memalukan lagi?

 

Benar, di kalangan musuh (di kalangan Inggeris c.s.) a d a suara yang mengatakan tidak setuju dengan Versailles yang kedua. Ada suara yang meminta, supaya nanti, jikalau peperangan sudah habis, jikalau Jerman sudah kalah, jangan diadakan lagi satu verdrag-perdamaian yang seperti Versailles itu: terlalu mengungkung kepada pihak yang kalah, terlalu melanggar kehormatan nasionalnya. Tetapi, adapula suara, bahkan ini suara yang kuat, supaya nanti kalau Jerman kalah, diadakanlah satu verdrag yang lebih keras lagi daripada Versailles itu. Tidakkah nyata, bahwa Versailles yang pertama belum mampu menghalangi Jerman membakar dunia buat kesekian kalinya? Kalau Versailles yang pertama belum cukup mengikat Jerman, adakanlah satu Versailles kedua, yang lebih keras, lebih mengikat dia, lebih membelenggu dia! Janganlah dikasihkan rakyat Jerman memegang senjata lagi, janganlah dikasihkan dia bangun kembali. Kalau perlu; tiadakanlah sama sekali itu “begrip negara Jerman”, hapuskan sama sekali “negara Jerman” itu dari atas peta, bagi-bagikan “negara Jerman” itu di antara negeri-negeri yang sekelilingnya. Bukan rakyat Jerman itu rakyat yang jahat, bukan mereka itu rakyat durhaka. Tetapi sistim kemilitiran Jerman yang telah berpuluh-puluh tahun itu membuat mereka menjadi suatu rakyat, yang tidak dapat memegang senjata zonder menghantamkan senjata itu kepada orang lain. Karena itu, hapuskanlah sahaja “negara Jerman” itu, atau sedikitnya, rantaikanlah dia dengan satu lautan rantai yang lebih erat daripada rantainya Versailles di tahun 1918.

 

Rakyat Jerman kenal akan adanya faham yang demikian ini.

Apa yang tinggal lagi bagi mereka kini, daripada melawan habis-habisan, jangan sampai kalah nanti? Kalau mereka menang perang, paling celaka mereka harus memikul kezaliman Hitler lebih lama lagi. Tetapi kalau mereka kalah, – ketiadaanlah yang akan menimpa mereka sama sekali! Gobbels dengan pidatonya dan surat-surat-kabarnya, dengan radionya seluruh pro­paganda-aparatnya, memasangkanlah gambar – ketiadaan ini dengan sengeri-ngerinya dan sedahsyat-dahsyatnya. Karena itu rakyat Jerman pada umumnya dapat mengikuti semboyan yang berbunyi: Melawan, mela­wan, sekali lagi melawan habis-habisan dan mati-matian, – jangan nanti kalah! Lebih baik sekarang merenangi lautan api yang sedahsyat-dahsyatnya, menderita kepapaan, menderita kelaparan, menderita azabnya segala ma­cam cobaan, daripada nanti menanggung hantaman pecutnya pembalasan!

 

Maka di sinilah, menurut Sternberg, terletaknya k e s a 1 a h a n

tu­juan perang Inggeris. Di sinilah Inggeris meleset. Meleset menangkap psychologinya keadaan, meleset membuat rakyat Jerman itu menjadi kawan di dalam peperangan. Apakah “war-aim” Inggeris? Pada umumnya ia menamakan ia punya tujuan-perang demokrasi. Pada khususnya ia berkata hendak m e m a t a h k a n kekuasaan  Hitler. Tetapi apa yang hendak ia perbuat dengan  rakyat Jerman? Kalau kekuasaan Hitler telah patah, nasional-sosialisme telah rubuh, pemimpin-pemimpin fasis telah diturunkan dari singgasananya masing­-masing, – apakah yang hendak ia perbuat dengan r a k y a t Jerman itu? Mengungkung mereka lagi secara Versailles, mewajibkan mereka mem­bayar herstelbetalingen yang maha-berat, membagi-bagi negeri-negeri Jerman seperti kuwih? Atau memerdekakan rakyat Jerman itu dari semua ikatan dan belengguan, memerdekakan mereka dari semua “pembalasan”, memerdekakan mereka menyusun kehidupan sosial dan nasional menurut kehendak mereka sendiri? Sternberg an­jurkan tujuan-perang yang tersebut belakangan ini. Hanya dengan tujuan-perang yang memerdekakan rakyat Jerman itu seluas-luasnya, -memerdekakan mereka sosial, nasional dan ekonomis -, hanya dengan tujuan-perang yang demikian itulah rakyat Jerman akan menjadi kawan Inggeris merobohkan Hitlerisme, mematahkan sistim absolutisme dan totaliter yang membawa Eropah ke dalam kancahnya barbarisme dan ke­kacau-balauan.  Hanya dengan “war-aim” yang demikian itulah Inggeris akan dapat membuat rakyat Jerman itu menjadi satu rakyat yang mendangkal kepada pemerintahannya sendiri, suatu rakyat yang memberon­tak kepada kepalanya sendiri dan kepada tuan-tuannya sendiri.

 

Dan bukan rakyat Jerman sahaja! Rakyat Italia-pun kesal memikul bebannya fasisme Mussolini. Janjikanlah kepada ]rakyat Italia itu kemerdekaan zonder “pembalasan”, zonder beban-bebannya peperang­an yang kalah, – kemerdekaan dari belenggunya fasisme Mussolini d a n kemerdekaan dari belenggunya verdrag-perdamaian -, dan rakyat Italia-pun akan emoh mengikuti Mussolini ke padang peperangan, emoh menjadi prajuritnya stelsel yang pada hakekatnya mereka benci dan mereka emohi. Dengan semboyan-peperangan yang berbunyi “Kemerdekaan” itu, Inggeris akan mendapat kawan rakyat Jerman dan rakyat Italia, – satu jumlah kawan tidak kurang dari seratus milyun! Tambahkan kepada jumlah ini jumlahnya rakyat-rakyat dari negeri-negeri yang telah ditaklukkan oleh Hitler, – rakyat Belanda, Belgia, Denmark, Norwegia, Polandia, Perancis, Czechia dan lain-lain maka jumlah 100 milyun ini menjadilah 200 milyun!

 

Tetapi masih ada lagi “gudang-gudang kawan” yang lebih besar lagi dan lebih luas lagi – asal Inggeris mau! Gudang-gudang kawan ini ialah India dan Tiongkok, India dengan penduduknya yang 350.000.000 jiwa, dan Tiongkok dengan 450.000.000 jiwa, akan menjadi kawan Inggeris yang sebenar-benarnya, asal Inggeris suka memenuhi syarat-syarat yang seperlunya. Apa sebab, tanya Sternberg, Inggeris tak mampu menang­kap jiwanya rakyat India yang 350.000.000 itu?

 

All Indian National Congress meminta kepada Inggeris pada waktu pecahnya peperangan, supaya Inggeris suka menerangkan dengan tegas ia punya tujuan-peperangan. Apakah yang dimaksudkan dengan demo­krasi? Sukakah Inggeris mengasih demokrasinya kepada India? Sukakah ia mengasih dominion status kepada India? Inilah pertanyaan-pertanyaan rakyat India kepada Inggeris, akan menjadi dasar bantuan rakyat India kepada peperangan Inggeris, tetapi Inggeris meliwatkan psychologisch moment yang baik itu. Tuntutan dominion status ditolaknya, dan apa buahnya penolakan ini? Bukan dominion statuslah yang kini direbut dituntut oleh rakyat India, tetapi malahan India Merdeka! Jawaharlal Nehru pada waktu itu menulis satu artikel di dalam majalah “Asia” yang berkepala “The parting of the ways”, – perpisahan jalan. Meskipun rakyat India tidak setuju kepada Nazidom dan Fasisme, meskipun rakyat India mengetahui jahatnya Nazidom dan Fasisme, dan oleh karena juga sedia memerangi Nazidom dan Fasisme, maka mereka toch akan berpisahan jalan dengan Inggeris itu. Mereka tidak hendak turut membantu usaha Inggeris di dalam peperangannya yang sekarang ini. Mereka sebaliknya malahan membangunkan lagi mereka punya aksi Satyagraha, mengangkat Gandhi menjadi mereka punya maha-Pemuka mengerahkan semangat rakyat kepada perjoangan nasional. Api perge­rakan India menyala-nyala lagi, dan bukan satu dua, tetapi ratus-ratusan pimpinan India masuk penjara di tahun 1940 dan tahun 1941. Telah bertahun-tahun psychologisch moment di India itu. Kalau ia mendengar terang-terangan, suka mengakui kesalahannya ini, dan menjanjikan k e m e r d e k a a n kepada rakyat India, maka rakyat India ini akan men­jadi ia punya kawan pula. Tigaratus limapuluh  milyun akan menambah jumlah kawan yang 200.000.000 tahadi! Tigaratus limapuluh milyun yang membantu dia dengan ikhlas, dengan gembira, dengan penuh hati, oleh karena rakyat yang memang benci kepada Nazidom dan Fasisme dan satu rakyat pula, yang tahu membalas budi!

 

Dan rakyat Tiongkok? Telah bertahun-tahun rakyat Tiongkok berada

di dalam peperangan melawan Japan, telah bertahun-tahun mereka berjoang dengan salah satu anggauta “Sekutu Tiga”. Telah bertahun-tahun mereka sebenarnya menjadi “stale vennoot”nya Inggeris di daerah Pacific. Tetapi telah bertahun-tahun pula rakyat Tiongkok itu minta bantuan, dan lagi minta bantuan, – bantuan financieel dan bantuan materieel zonder mendapat bantuan itu dengan cara yang seluas-luasnya. Tiongkok sebenar­nya menjadi kawan Inggeris dan prajuritnya Inggeris di daerah Pacific, dan oleh karena Tiongkok lah, maka Inggeris di daerah Pacific bisa agak bernafas lega. Tetapi, tanya Sternberg, apa sebab Inggeris hanya mengasih bantuan setengah-setengah sahaja kepada Tiongkok itu? Ya, tiap orang memang tahu, bahwa Inggeris sendiri kini kekurangan materieel„ tetapi tidakkah ada Amerika pula, yang tidak kekurangan materieel? Kalau Inggeris dan Amerika dua-duanya berakur membantu Tiongkok secara penuh-penuhan, kalau mereka berdua membantu peperangan Tiong­kok itu secara “common cause”, maka boleh dikatakan hilanglah sebagian besar daripada mereka punya “kepusingan kepala” di Asia-Timur. Boleh dikatakan menjadilah sama sekali Tiongkok itu satu bondgenoot, satu sekutu di dalam peperangan anti as sekarang ini. Bertambahlah secara f e i t jumlah kawan Inggeris dengan angka 450.000.000 lagi ,­satu jumlah yang maha-besar di dalam akibat-akibatnya nanti. Dengan jumlah 450.000.000 extra itu, maka lebih kuatlah kedudukan kaum sekutu di mana-mana, baik di Timur maupun di Barat, baik di Asia maupun di Eropah-pun jua. Tetapi apa sebab Inggeris dan Amerika begitu ragu­-ragu di dalam hal bantuan kepada Tiongkok itu?

 

Inggeris kini berjoang mati-matian membela ia punya jiwa dan ia punya nama. Perjoangannya itu adalah satu perjoangan yang maha­berat, tetapi puluhan, ratusan, ribuan, milyunan manusia akan membantu dia, asal ia mau. Ribuan milyunan harapan jiwa akan menyokong dia, asal ia suka. Sedikitnya tersedia satu bilyun

k a w a n menunggu panggilannya, asal ia t a h u memanggilnya: seratus milyun dari negeri-negeri yang telah diduduki Hitler, seratus milyun dari Italia dan Jerman, tigaratus limapuluh milyun dari India, dan empatratus limapuluh milyun dari negeri Tiongkok. Jumlah satu bilyun ini, – 1.000.000.000, -, jumlah satu bilyun ini dengan sekaligus akan menjomplangkan tera­junya kansen kepada kemenangannya kaum sekutu, kekalahannya kaum Nazi dan Totaliter. Tetapi panggilan yang dapat membangkitkan orang satu bilyun ini ialah panggilan “kemerdekaan”, dan bukan panggilan “anti Hitler” semata-mata. Kemerdekaan bagi rakyat Jerman dan rakyat Italia, kemerdekaan bagi rakyat India, kemerdekaan bagi rakyat Tiongkok, – kemerdekaan, dengan semua konsekwensi-konsekwensinya, dan dengan semua isi-isinya. Hanya dengan tujuan-peperangan yang demikian itulah peperangan bisa l e k a s habis, karena mendapat bantuan baru tenaga­nya sebilyun orang!

 

Sesungguhnya: satu bilyun orang, 1000 x 1000 x 1000 kawan, – satu jumlah yang amat besar! Akan tetapi diabaikankah jumlah ini oleh Inggeris?

 

Begitulah anjuran Sternberg di dalam majalah “Asia”, Frits Sternberg yang telah menentang Hitler, lama sebelum dia ini membakar dunia, lama sebelum dia ini menjadi musuh Inggeris terang-terangan.

 

Akan ikutkah Inggeris kepada anjuran Sternberg itu, atau akan tetapkah ia kepada tujuan-perang yang sampai sekarang dipegangnya terus itu?

 

Hanya pemimpin-pemimpin Inggeris sendiri dapat menjawab pertanyaan ini, dan jawaban mereka itu akan terbukti kelak di

dalam sejarah yang dekat-dekat sekarang.

 

Bengkulen, 10 Agustus 1941.

 

Pemandangan”, 1941