MENJADI PEMBANTU “PEMANDANGAN”

MENJADI PEMBANTU “PEMANDANGAN”

 

SUKARNO, OLEH … SUKARNO SENDIRI

 

Mulai nomor yang sekarang ini, saya menjadi pembantu-tetap dari surat-khabar “Pemandangan”. Sedikitnya dua kali sebulan, tetapi sedapat mungkin tiap-tiap pekan, saya akan menulis karangan-karangan di dalam surat-khabar ini. Sudah barang tentu, kedudukan saya sekarang ini sebagai orang interniran, mempengaruhi pula kedudukan saya sebagai pembantu surat-khabar itu: saya tak dapat menulis artikel-artikel yang mengandung politik. Saya hanya akan menulis artikel yang “netral” sahaja, – artikel-artikel yang dengan bahasa Belanda hanya membica­rakan “neutrale onderwerpen”.

 

Tetapi ini tidak berarti bahwa artikel-artikel ini tidak akan membawa coraknya jiwa yang mengisi saya punya diri. Tidak ada satu manusiapun yang akan menyangkal ini. Artikel-artikel yang tidak mem­bawa corak jiwa yang menulisnya, adalah artikel-artikel yang tiada perangai. Janganpun i s i n y a artikel-artikel itu, susunan kalimat­-kalimatnya sahaja sudah membawa corak jiwa si penulisnya itu. Tun­jukkan kepada saya suatu artikel yang tertulis oleh orang-orang yang ternama, zonder menyebut nama penulisnja, dan saya dapat mengatakan kepada Tuan: ini artikel saudara Hatta, itu artikel almarhum Tjokro, itu – lagi artikel Haji Agus Salim. Begitupun tiap-tiap orang dapat saksama mengatakan: ini tulisannya Bung Karno! Stijlnya stijl Bung Karno, kata-kata – jitunya kata-kata Bung Karno! C o r a k irama­nya irama Bung Karno, segala pemakaian-katanya pemakaian-kata Bung Karno!

C o r a k  j i w a Bung Karno melekat kepada semua tulisan­ tulisannya itu, sebagai rasa-masin melekat kepada garam, dan rasa-manis melekat kepada gula.

 

Ini yang mengenai bentuk dan susunan kalimat-kalimat. Betapa pula yang mengenai i s i ! Jiwa si penulis lebih lagi melekat kepadanya! Maka oleh karena itu, meskipun saya sebagai seorang interniran tak akan menulis artikel-artikel yang mengandung politik, meskipun artikel-artikel saya akan mengenai “neutrale onderwerpen” sahaja, maka toch jiwa Sukarno, faham-faham Sukarno, cara-cara-berfikirnya Sukarno, kesenangan dan kebencian Sukarno akan terbayang di dalam artikel-artikel itu. Saya tahadi telah berkata: kalau tidak begitu, artikel-artikelku akan menjadi karakterloos, dan dari semua cacat maka cacat karakterloosheid itulah yang saya paling takuti!

Direksi “Pemandangan” yang menghadiahi bantuan saya itu dengan satu stel Encyclopaedie, Direksi itu akan menun­juk saya dengan

jari-pencelaannya, dan pembaca-pembaca “Peman­dangan” akan melemparkan nomor-nomor artikel saya itu ke dalam keranjang-kotoran.

 

Pendek kata: meskipun tidak mengandung politik, “cap Sukarno” toch tak mungkin dihapuskan dari artikel-artikel saya itu.

Dan kini saya bertanya kepada Tuan:

Kenalkah Tuan “cap Sukarno” itu di dalam garis­-garisnya yang besar?

 

Ada orang mengatakan Sukarno itu nasionalis, ada orang mengatakan Sukarno bukan lagi nasionalis, tetapi Islam, ada lagi yang mengatakan dia bukan nasionalis bukan Islam, tapi Marxis, dan ada lagi yang mengatakan dia bukan nasionalis, bukan Islam, bukan Marxis, tetapi seorang yang ber­faham sendiri. Golongan yang tersebut belakangan ini berkata: mau di­sebut dia nasionalis, dia tidak setuju dengan apa yang biasanya disebut nasionalisme; mau disebut dia Islam, dia mengeluarkan faham-faham yang tidak sesuai dengan fahamnya banyak orang Islam; mau disebut Marxis, dia … sembahyang;

mau disebut bukan Marxis, dia “gila” kepada Marxisme itu!

 

Kini saya menjadi pembantu tetap dari “Pemandangan”, dan oleh karena artikel-artikel saya nanti tentu akan membawa corak jiwa Sukarno, maka baiklah saya tuturkan kepada Tuan, betapakah … Sukarno itu. Apakah Sukarno itu? Nasionaliskah? Islamkah? Marxiskah? Pembaca-pembaca, Sukarno adalah … campuran dari semua isme-isme itu! Perhatikanlah uraian di bawah ini.

 

Saya adalah seorang nasionalis, ya Allah, adakah orang yang berpendapatan bahwa saya tidak cinta kepada tanah-air dan bangsa? Bahkan saya muhun kepada Allah Subhana Wata’ala, tetapkanlah kecintaanku kepada tanah-air dan bangsa itu menyala-nyala di dalam saya punya dada, sampai terbawa masuk ke lubang kubur! Manakala misalnya Jawaharlal Nehru berkata, bahwa kecintaan kepada tanah-air dan bangsa adalah sebagian dari beliau punya nyawa, maka bagiku kecintaan kepada tanah-air dan bangsa adalah satu passie. Dan bukan sahaja nasionalisme itu bagi saya satu “rasa”, ia adalah “haluan”, pula satu “richting”. Sejak dari waktu pergerakan pemuda (waktu itu saya murid kelas dua H.B.S. Sura­baya), sampai masuk ke dalam pergerakan politik, sampai mendirikan partai politik sendiri, sampai masuk penjara, sampai diinternir, sampai sekarang, masih tetaplah nasionalisme, saya punya “rasa” dan saya­ punya “haluan”.

 

Ini perlu saya terangkan di sini, oleh karena banyak orang mengira, bahwa sejak saat saya lebih memperhatikan agama Islam, saya tentu melepaskan haluan nasionalisme itu. Terhadap kepada orang-orang yang menyangka begitu saya berkata: Tuan-tuan salah dugaan. Tuan-tuan salah mentafsirkan Islam. Tuan-tuan menyangka, bahwa Islam adalah bertentangan dengan nasionalisme, padahal Islam tidak bertentangan dengan nasionalisme yang luhur, Islam hanyalah bertentangan dengan nasionalisme, hanyalah manakala nasionalisme bersifat nasionalisme yang sempit, yakni nasionalisme yang membuat satu bangsa membenci kepada bangsa yang lain. Islam hanyalah bertentangan dengan nasionalisme, manakala nasionalisme itu bersifat chauvinisme atau “provinsialisme” yang memecah-mecah. “Assabiyah” yang dikutuk oleh Allah itu b u k a n nasionalisme yang longgar dan luhur, tetapi adalah chauvinisme dan provinsialisme yang sempit budi. Dan alhamdulillah saya katakan di sini, sayapun dari dulu mula sampai sekarang, tetap benci dan menentang orang-orang yang menindakkan assabiyah itu di kalangan saya punya bangsa. Cita-cita “nasionalisme Indonesia” adalah di dalam tiap-tiap bagiannya dan di dalam seluruh tubuhnya satu seteru-bebuyutan daripada assabiyah itu!

 

Tidak! Jauh daripada menjauhkan saya daripada rasa dan haluan nasionalisme, jauh daripada memutarkan saya daripada rasa dan haluan kebangsaan, maka Islam malahan menebalkan rasa dan haluan kebangsaan itu di dalam saya punya jiwa. Adakah Tuan pernah dengar sesuatu alasan agama yang melarang orang cinta pada tanah-air sendiri? Adakah Than pernah dengar sesuatu dalil agama, yang melarang orang cinta kepada tanah-air dan bangsa, di mana ia dilahirkan, di mana ia men­jadi besar, di mana ia makan dan minum, di mana ia beranak-isteri, di mana ia akan mati? Sebaliknya, siapa yang mengerti betul-betul m o r a l n y a agama, e t h i e k n y a agama, ia akan mengerti, bahwa tcinta kepada tanah-air dan sedia-bekerja bagi tanah-air adalah satu budi baik, satu budi yang terpuji, satu karunia Tuhan, satu deugd.

 

Saya tahu, kalimat “hubbul watan minal iman” (cinta tanah-air adalah sebagian daripada iman), tak boleh dimaksudkan di sini sebagai satu dalil agama. Kalimat itu memang bukan firman Tuhan, bukan hadits yang kuat bukanpun hadits yang lemah. Kalimat itu bukan hadits sama­sekali. Kalimat itu hanya satu pepatah bahasa Arab belaka, dan tidak membawa-bawa agama samasekali.

Tetapi sajapunya “hubbul watan” pada pokoknya memang bukan  urusan agama , dan orang lain punya “hubbul watan” pun bukan urusan agama pula. Saya punya hubbul watan dan orang lain punja hubbul  watan adalah satu kedudukan budi yang memang pembawaan alam itu, dia adalah orang yang picik, orang yang sempit fikiran, orang yang bodoh. Siang dan malam saya mendoa kepada Allah, dijauhkanlah kiranya saya dari kebodohan yang semacam itu!

 

Sekali lagi, Islam tidak menentang nasionalisme yang longgar, nasionalisme yang luhur. Cita-tcita Islam adalah mendirikan satu persaudaraan antara semua manusia di muka bumi ini. Manakala nasionalisme menjadi satu antara manusia dengan manusia, antara bangsa dengan bangsa, antara negeri dengan negeri, – di situlah Islam menentangnya, di situlah Islam me­musuhinya. Dari dulu mula sayapun tak jemu-jemu menghantamkan saya punya hantaman kepada nasionalisme yang semacam itu. Saudara Sutan Syahrir pernah mengatakan bahwa saya masuk golongannya faham pemimpin Perancis “Jean Jaures”, oleh karena saya selalu berkata bahwa saya punya nasionalisme adalah “rasa-kemanusiaan”. Walaupun bukan se­orang Gandhis, saya gemar sekali mengikuti kata Mahatma Gandhi yang berbunyi “Nasionalisme adalah peri-kemanusiaan”.

 

Itu, itulah sebabnya, saya sering bertentangan faham dengan sebagian dari kaum nasionalisme “kebangsaan”, saya punya nasionalisme tidak meninggikan kemegahan “bangsa” dan “negeri” di atas bangsa lain dan negeri lain, saya punya nasionalisme mementingkan kesejahteraan manusia Indonesia daripada kemegahan “nama” Indonesia, – adalah nasio­nalisme “kemegahan” semata-mata. Mereka punya nasionalisme ingin Indonesia menjadi satu negeri seperti Japan atau Jermania, zonder mementingkan isi kesejahteraan manusia-manusia di dalamnya, zonder menghiraukan soal pembahagian rezeki di dalamnya. Merekapunya nasionalisme tidak mementingkan soal modal dan tenaga buruh, saya­ punya nasionalisme mementingkan soal modal dan tenaga buruh. Mere­ka punya nasionalisme satu nasionalisme “bangsa”, saya punya nasionalisme satu nasionalisme “masyarakat”. Bukan bernama bahagialah di dalam pendapatku satu bangsa Indonesia, yang soal “masyarakat” itu belum se­lesai sejahtera di dalamnya!

 

Sudahkah pembaca mencium-cium di sini satu faham lagi dari jiwa-Sukarno yang banyak orang sudah mengetahui pula?

Dr. Tjiptoma­ngunkusumo dua bulan yang lalu telah menulis di dalam surat-khabar “Hong Po”, bahwa faham Marxisme adalah “membakar

Sukarno punya jiwa”. Saja mengucap terima kasih atas kehormatan yang Dr. Tjipto­mangunkusumo limpahkan atas diriku itu. Memang! Sejak saya sebagai “anak plonco” buat pertama kali belajar kenal dengan teori Marxisme dari mulutnya seorang guru H.B.S. yang berhaluan sosial-demokrat (C. Hartogh namanya), sampai memahamkan sendiri teori itu dengan mem­baca banyak-banyak buku Marxisme dari semua corak, sampai bekerja di dalam actieve politiek, sampai sekarang, maka teori Marxisme begitu adalah satu-satunya teori yang saya anggap competent buat memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, soal-soal kemasyarakatan. Marxisme itulah yang membuat saya punya nasionalisme berlainan dengan nasionalismenya nasionalis Indonesia yang lain, dan Marxisme itulah yang membuat saya dari dulu mula benci kepada fasisme.

 

Fasisme! Semua orang di Indonesia kini membenci kepada fasisme. Semua orang di Indonesia kini jijik kepadanya. Anti-fasisme, anti-­Nazisme, anti-Hitlerisme, menjadilah kini panji-panjinya ideologi orang. Alhamdulillah! Tetapi tiliklah, pembaca, berapa daripada orang­-orang itu sebelum pecah peperangan sekarang ini tidak mengagung-­agungkan Jerman dan mengagung-agungkan Hitler, – tidak fasistis di dalam segala hal aliran fikirannya dan segala sepak-terjangnya! Kini pecah peperangan, kini Hitler mengodal-adil masyarakat Eropah, kini barulah mereka punya mata terbuka.

 

Alhamdulillah saya katakan!

Lebih baik kasip, daripada tidak terbuka mata samasekali! Tetapi alharadulillah pula saya ucapkan, bahwa Allah Ta’ala siang-siang telah menanamkan faham Marxisme di dada dan di otak saya sehingga dari  d u l u m u l a, – sebelum ada peperangan, sebelum ada kaum Nazi ber­kuasa di Jerman, ya s e b e l u m nama Hitler terkenal! – saya telah onderkennen (mengetahui) jahatnya fasisme itu, dan kemudian gembar­-gembor menghantam dan memuntahkan kebencianku kepada fasisme itu. Alhamdulillah, bahwa kebencian saya kepada fasisme itu bukan satu kebencian yang karena 10 Mei sahaja, tetapi satu kebencian yang memang karena keyakinan dan

k e s a d a r a n. Inilah salah satu jasa Marxisme kepada saya. Walau umpamanya Hitler tidak menerkam negeri-negeri kecil yang tidak tahu-menahu apa-apa, tidak membombardir kota-kota yang terbuka, tidak membunuh orang-orang perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa, toch teori Marxisme itu memberi ke­sadaran kepada saya, bahwa fasisme jahat, karena musti, tidak boleh tidak, musti mengujung kepada peperangan dan kebencanaan! “Facisme is oorlog”, – fasisme adalah peperangan begitulah kaum Marxisme sebagai Sternberg dan Palme Dutt berkata, lama sebelum guntur peperangan gemuruh di atas padang-padang benua Eropah yang celaka itu. Dan jikalau sekarang segala “tujuannya” Marxisme itu nyata terjadi satu persatu, jikalau sekarang seluruh dunia bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri segala apa yang terlebih dulu telah di-“teori”-kan oleh Marxisme itu, maka makin teballah keyakinan saya akan kompetensinya Marxisme itu sebagai satu metode buat memecahkan soal-soal politik, sejarah dan kemasyarakatan.

 

Dulu saya cinta kepada teori Marxisme itu; kini menjadilah ia sebagian dari saya punya kepuasan jiwa. Tetapi, bagaimanakah akurnya Marxisme itu dengan Islam yang juga mengisi saya punya jiwa? Tidakkah orang berkata, bahwa agama dan Marxisme itu seteru-bebuyutan satu sama lain, mengingkari satu sama lain dan membantah satu sama lain? Buat orang lain, barangkali begitu! Tetapi buat saya, maka Marxisme dan Islam dapatlah berjabatan tangan satu sama lain di dalam satu sintese yang lebih tinggi.

Buat saya Islam satu agama yang r a s i o n i l , satu agama yang bersandar kepada k e m e r d e k a a n  a k a l, jang ber­beda setinggi langit dengan agama-agama yang lain. Almarhum Tjo­kroaminoto dulu pernah menulis satu kitab kecil yang bernama “Islam dan Sosialisme”; walaupun beliaupunya stellingen tidak semua saya setujui, maka toch risalah itu boleh saya sebutkan di sini, sebagai suatu “rabaan” ke arah tidak bertentangannya Islam dengan ideal sosialisme itu. Apalagi buat saya. Saya punya faham tentang Islam itu adalah satu faham yang merdeka, – begitu merdeka, sehingga sering tabrakan dengan fahamnya orang-orang Islam yang lain!!

 

Apakah Islam itu, dan apakah Marxisme itu? Tuan barangkali rnasih ingat, bahwa tahun yang lalu saya banyak mendapat serangan dari saudara­-saudara kiri-kanan mengatakan, bahwa Islam bukan satu sistim yang kaku atau satu star sistem, tetapi satu sistim yang “karet “, yang dapat mengikuti segala kehendaknya zaman. Tuan barangkali masih ingat pula, bahwa ada salah seorang saudara yang berkata “kerbo pulang ke­kandangnya”, dasar terpikat oleh Marxisme, maka membicarakan soal-soal Islam (di Turki) pun Marxisme pula!

 

Padahal bukan karena “kerbo pulang ke kandangnya” melainkan oleh karena saya punya visi tentang Islam adalah satu visi yang bersandar kepada “kekaretan” dan fikiran yang “merdeka”. Visi yang demikian inilah visi yang bebas dari ikatan adatnya faham, membukakan pintu bagi saya buat mencari perakuran antara Islam dengan kebenaran-kebe­naran wetenschap atau kebenaran-kebenaran “isme” yang lain-lain.

 

Lagi pula ach, apakah Marxisme itu?

Orang mengatakan Marxisme adalah seolah-olah “satu agama sendiri”, orang mengatakan dia satu star sistem pula, orang malah mengatakan dia semacam satu hocus-pocus yang dikira bisa dipakai buat menyelami semua dalam-dalamnya rokh dan jiwa, – padahal dia hanyalah satu metode sahaja untuk memecahkan soal-soal ekonomi, sejarah, politik, dan kemasyarakatan, satu ilmu-perjoangan didalam hal ekonomi, politik, kemasyarakatan.

Sesuatu metode b e r f i k i r dan sesuatu ilmu-perjoangan tidak musti harus bertentangan dengan sesuatu agama, apalagi kalau agama itu adalah satu agama rasionil seperti yang saya visikan itu. Sayang tulisan saya ini kali sudah terlalu panjang, tetapi insya Allah, di lain nomor dan di lain waktu, saya akan ceriterakan pada pembaca-pembaca garis-garis-besarnya sistim antara Islam saya dengan Marxisme itu.

 

Kini sekian sahajalah dulu. Kini cukuplah kiranya saya menggambarkan kepada pembaca-pembatca garis-garis-besarnya saya punya jiwa. Saya tetap nasionalis, tetap Islam, tetap Marxis. Sintese dari tiga hal inilah memenuhi saya punya dada, –

satu sintese yang menurut anggapan saya sendiri adalah satu

‘sintese yang “geweldig”. Artikel-artikel saya di “Pemandangan”

tidak membicarakan hal-hal politik, tetapi jiwaku tentu duduk di tiap-tiap kalimatnya.

 

Entah gemar Tuan-tuan membaca artikel-artikel saya yang “netral” itu, entah tidak. Kalau gemar, kasihlah tahu kepada saya, – kalau tidak gemar, kasihlah pula tahu kepada saya.

 

Bagaimana yjuga, saya akan tumpahkan saya punya jiwa ke dalam artikel-artikel itu, – sehingga sehidup-hidupnya dan sesemangat-semangatnya, senyala-nyalanya dan sekobar-kobarnya!

 

Bengkulu, 14 Juni 1941.

 

“Pemandangan”,1941