JINGIS KHAN, MAHA IMPERIALIS ASIA

JINGIS KHAN, MAHA IMPERIALIS ASIA

Lewis GANNETT, seorang jurnalis Amerika, pernah menulis di dalam “New York Herald Tribune” di zaman dulu. Ia berkata: “Hitler tertampak kecil kalau dibandingkan dengan Napoleon: dan Napoleon, Caesar dan Iskandar Zulkarnain tampak pula kecil kalau dibandingkan dengan Jingis Khan serta pengganti-penggantinya itu, orang-orang Asia yang berkuda.”

 

Memang benar begitu. Ini nampak betul, kalau kita membuka buku sejarah, menyelami abad-abad yang telah lampau, membaca tarikh-tarikh­nya orang-orang besar di zaman dulu. Dengan membaca buku-buku sejarah itu orang bisa membuat perbandingan dengan cara yang terang dan dapat menakar penting-tidaknya kejadian-kejadian dengan cara yang objektif.

 

Manusia umumnya sangat sekali terpengaruh oleh kejadian-kejadian di zamannya sendiri. Kejadian-kejadian di zamannya sendiri itu “menerkam” kepadanya, “mengagumkan” kepadanya, dan selalu menganggapnya “haibat” dan “bukan main”. Barang yang dekat senantiasa tampak lebih besar daripada barang yang jauh, kejadian-kejadian di zaman sendiri senantiasa tampak lebih “haibat” daripada kejadian di zaman yang telah silam.

 

Ambillah figurnya Hitler. Umumnya orang menjadi melongo dan ternganga kalau melihat kemenangan-kemenangan Hitler itu. Dikiranya dan dirasanya belum pernah ada orang yang sehaibat dia, belum pernah ada panglima perang seulung dia.

 

Apa sebab? Sebabnya ialah, bahwa kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah dan tidak mengetahui bahwa di zaman dulu banyak orang­-orang yang lebih haibat daripada Hitler itu, dan oleh karena orang “terpukau” oleh kejadian-kejadian yang ia sendiri alam-kan. Rasanya seakan-akan ledakan meriam dan born yang mengguntur dan mengkilat di Eropah itu terdengarlah di daun telinganya sendiri dengan segala kedah­syatannya – seakan-akan tautan api yang meraung dan membakar bumi Eropah itu ia alamkan juga dari dekatan, membakar dan menggetarkan iapunya jiwa. Ia melongo, ia seperti terpukau kalau mendengar nama Hitler, iapunya math tidak berkejap lagi seperti mata-belalang, iapunya mulut dengan gemetar meng-kemikkan ucapan: “Bukan main, bukan main” …

 

Padahal, – Napoleon lebih jenial daripada Hitler itu, dan dibanding­kan dengan Jingis Khan, ia tidak ada kejenialannya sama sekali. Mari­lah saya ceriterakan kepada Tuan-tuan sedikit tentang Jingis Khan itu, dan nanti Tuan akan melihat, bahwa Hitler sebenarnya curna “menjiplak” sahaja cara berperangnya ini maha-panglima bangsa Asia.

 

Jingis Khan adalah betul-betul manusia haibat. Ia dilahirkan seba­gai anak yang miskin, tapi ia mati sebagai seorang maha-panglima yang menaklukkan satu maha-benua yang meluas dari Laut Kaspia sampai ke Laut Pasifik. Ia punya famili terbuang oleh sukunya sendiri, tetapi ia menjadi Maharajadiraja yang belum pernah ada bandingannya di se­genap sejarah dunia.

 

Ia adalah orang Monggul. Ia dilahirkan dalam tahun 1162 di tengah-­tengah padang-rumput yang maha-luas di Asia Tengah, sebagai satu anak dari suku yang bernama Kiyat. Tetapi sebagai tahadi saya telah katakan, iapunya famili telah dibuang (dikeluarkan) oleh sukunya itu.

 

“Kita”, – begitulah ibunya pernah berkata – “kita waktu itu tidak mempunyai apa-apa, melainkan kita punya bayangan sendiri. Kita tidak mempunyai sahabat atau teman. Kita tidak mempunyai cambuk, melain­kan ekornya kuda.”

 

“Tetapi”, kata ibunya pula – “kita ini bukan orang sembarangan. Kita turunan bangsa Borjigun, maha-laki-laki dari padang-padang rumput kita di zaman purbakala. Suaranya seperti guntur di gunung-gunung. Tangannya kuat seperti kaki beruang – bisa mematahkan badan manusia yang ditekuk menjadi dua, sama mudahnya seperti mematahkan anak panah. Di musim es, mereka tidur telanjang di dekat api dari puhun-­puhun besar yang dibakar dan percikan-percikan api yang jatuh di ba­dannya itu dianggapnya seperti gigitan semut sahaja.”

 

Dari kecil Temujin (begitulah nama Jingis Khan mula-mulanya) kagum mendengar cerita ibunya tentang bangsa Borjigun itu.

 

Saya yakin, – inilah pokok kehaibatan iapunya jiwa. Gambarnya maha-laki-laki yang maha-kuat dan maha-haibat yang dimasukkan ke dalam jiwanya sewaktu ia masih kanak-kanak itu, tetaplah terpaku di dalam iapunya nyawa, tetap menghaibat di dalam iapunya rokh, seperti api dan lahar di dalam perutnya gunung-api. Dan tahukah Tuan apa arti Temu­jin? Iapunya bapak rupanya orang yang rokh laki-laki pula; temujin artinya besi, atau tukang besi yang sedang menggembleng besi!

 

Alangkah besarnya pengaruh nama ini sahaja kepada rokhnya si anak itu, alangkah menghidupkannya angan-angannya si anak itu, yang sudah pula bergelora dengan cita-cita ingin menjadi maha-laki-laki seperti bangsa Borjigun!

 

Dan ditambah pula dengan gemblengannya penghidupan yang sengsara! Bapaknya meninggal, diracun musuh; sebelum ia besar, Temujin musti mencari makan sendiri, berjoang sendiri melawan maut. Sebagai anak kecil ia memburu marmut dan tikus, dan malahan menangkap ikan di sungai, padahal bagi anggapan Monggul tidak ada barang yang lebih hina dan lebih nista daripada memakan ikan. Ia punya saudara tiri, yang men­curi ikan yang ia dapat tangkap, ia hantam, ia suruh berlutut di tanah, ia bunuh!

 

Sejak dari kecilnya Temujin sudah keras sebagai besi.

Temujin inilah yang kemudian menjadi maha-imperialis yang terbesar di dalam sejarah peri-kemanusiaan. Berpuluh bangsa ia taklukkan, ratusan suku ia tundukkan, ribuan dusun dan kota ia kalahkan, – pada tahun 1206 ia hanya menaklukkan daerah sekeliling kota Karakorum, tetapi pada silamnya tahun 1227 angin taufan taktik peperangannya telah menundukkan satu maha-benua yang meliputi Tiongkok, Asia Tengah, Asia Barat, satu maha-benua antara Laut Pasifik di Timur dan Laut Kaspia di sebelah Barat, yang luasnya beberapa kali benua Eropah. Di dalam tempo yang hanya 21 tahun itu ia perluas iapunya kerajaan dengan serangan-serangan, yang kecepatannya dan kedahsyatannya seperti angin simum di padang pasir. Iapunya tentara malahan pernah rnengamuk di tepi-tepinya sungai Djnepr di tanah Rusia! Jingis Khan, – ia ganti nama Temujin dengan nama Jingis (yang artinya Maha-Kuasa) atas perminta-annya seorang ahli nujum yang menujumkannya ia akan menguasai seluruh dunia -, Jingis Khan adalah juru perang yang mula-mula men­dapatkan dan mengerjakan taktiknya Blitzkrieg. Sebagai angin simum sudah saya katakan, sebagai angin puyuh, sebagai “wervelwind” kata bahasa Belanda, ia menyerang suatu negeri dengan tentara berkuda dengan kecepatan yang mendahsyatkan musuh. Perang-kilat, itu cara-berperang yang kita begitu kenal di zaman sekarang, perang-kilat itu mula-mula ter­jadilah di padang-padang Asia, oleh tentara Asia, di bawah pimpinan orang Asia, lebih dari tujuh abad sebelum perkataan “Blitzkrieg” diucapkan orang. Dan boleh dikatakan, tidak ada satu negeri, tidak ada satu bangsa balatentara yang mampu menahan serangan Jingis Khan itu, karena tak­tiknya memang orijinil maha-cerdik, tidak tersangka-sangka.

 

Apakah taktik Jingis Khan? Ia mengerjakan taktik baru yang belum dikenal orang. Ia masukkan lima elemen di dalam iapunya cara­berperang, lima muslihat yang melemahkan kekuatan musuh sebelum musuh itu diserang juga. Ia korek dan gali tenaga perlawanan musuh itu sebelum musuh itu bisa menyusun defensifnya atau ofensifnya secara kuat.

 

Pertama ia selidiki, mata-matai, sepioni semua sumber-sumber kekuatannya musuh dengan orang-orang sendiri dan orang-orang pengkhianat yang menerima uang-suapan;

 

Kedua ia gertak, ia patahkan hati dan lemahkan saraf musuh dengan ancaman-ancaman serta omongan-omongan yang disiarkan di kalangan musuh bahwa perlawanan tokh tidak akan berhasil, tokh akan dipukul remuk, oleh karena tentara Jingis Khan lebih besar, lebih lengkap sen­jatanya, lebih berpengalaman;

 

Ketiga ia rusak tenaga musuh dengan sabotase yang ia suruh kerjakan oleh mata-mata dan pengkhianat-pengkhianat;

 

Keempat ia abui mata musuh tentang sifatnya serangan yang akan ia jalankan;

 

Dan kelima ia abui mata musuh pula, tentang saatnya serangan itu akan dia jalankan.

 

Tuan-tuan lihat, Hitler satu jeni militer yang mendapatkan cara­berperang yang baru. Hitler hanyalah menjiplak sahaja cara-berperang­nya Jingis Khan, itu orang Asia di tengah-tengah padang rumput Asia Tengah. Hitler punya sistim kolonne kelima, Hitler punya sistim gertak sambal dan peperangan saraf. Hitler punya Blitzkrieg, Hitler punya jiplakan sahaja dari sistimnya; Hitler punya tipu-khianatan dan sabotase, – semuanya itu hanya jiplakan sahaja dari sistimnya Jingis Khan yang telah menggegerkan dunia Asia dan dunia Eropah Timur tujuh ratus tahun yang telah lalu. Hitler punja biograf-biograf pun menceri­takan, bahwa Hitler pernah membuat studi tarikhnya Jingis Khan itu, dengan membaca kitabnya Joachim Barckhausen, salinan kitabnya Harold Lamb, dan kitabnya lain-lain, Hitler hanyalah “lebih tajam mata” dari generale staf-generale staf negeri lain, oleh karena dia lah lebih dulu mengerti, bahwa cara-berperangnya Jingis Khan itu pantas ia tiru, pantas ia jiplak. Ia memang sedari mulanya ingin menjadi penakluk dunia; dan oleh karena hatinya menyala oleh nafsu menjadi penakluk dunia, maka ia selidikilah cara-berperangnja Jingis Khan, si Penakluk Dunia!

 

Kalau orang mau bicara tentang jeni militer, maka Jingis Khan itulah benar-benar seorang jeni militer. Ia seorang “barbaar”, seorang “biadab”, yang sampai umurnya dewasa tidak pernah melihat kota. Ia tidak bisa membaca dan menulis, ia tidak tahu adanya kitab-kitab ilmu peperangan, ia tidakpun pernah “maguru” ilmu peperangan seperti Pendawa kepada Drona. Ia benar-benar anak padang rumput, benar-benar orang yang mula-mulanya hanya mengetahui luasnya padang rumput dan angkasa. Walaupun begitu ia akhirnya menjadi Maharajadiraja, – Khan! – dari ratusan milyun orang, dari Turkestan sampai Tiongkok, me­nundukkan tiap-tiap negeri yang ia serang, menaklukkan tiap-tiap tentara yang ia jumpai, meskipun tentara ini terdiri dari ribuan, laksaan, kethian orang. Ia, Temujin, ialah yang otaknya mengkilat mendapatkan maha­-strategi dan maha-taktiknya Blitzkrieg, yang menaklukkan kota-kota Tiongkok Utara sampai ke Yen King (Peiping), membinasakan Bokhara, Samarkand dan Khowarizim, menghancurkan tentara Rus dengan cara yang mendahsyatkan di tepinya sungai Kaliza, sehingga akhirnya ia mencapai air-airnya sungai Djnepr! Ialah jeni militer yang cara-berperang­nya terus dipakai oleh Kubilai Khan buat menaklukkan seluruh negeri Tiongkok, oleh Mangi (cucunya) buat menghantam Iran, Asia Depan, Moskow, dll. Dan kalau orang menanya “apakah iapunya bekal hidup yang terbesar, sehingga ia bisa menjadi Maha-strategi dan Maha-Raja yang tiada bandingannya itu?”, maka jawaban yang tepat hanyalah satu: iapu­nya kemauan yang seperti waja, iapunya iradah yang tak kunjung putus. Iradah kepada kekuasaan, iradah kepada mematahkan perlawanan orang.

 

Pada suatu hari ia menanya kepada hulubalang-huhubalangnya:

“Apa­kah kenikmatan yang paling tinggi?” Mereka menjawab: “Yang paling nikmat ialah, pergi memburu dengan menaiki kuda yang baik dan cepat, pada waktu rumput sedang menghijau, sambil memegang burung alap-alap pemburu di atas nadi.”

 

“Tidak!” Sahut Khan – Khan itu, “tidak!” Yang paling menggairah­kan di dalam kehidupan seorang laki-laki ialah: “Mematahkan iapunya musuh-musuh, menggiring mereka seperti ternak, mengambil dari mereka semua barang miliknya, mendengarkan tangisnya orang-orang yang men­cintai mereka, menunggangi mereka punya kuda-kuda, dan memeluk mereka punya perempuan-perempuan yang paling cantik!”

 

Demikianlah Jingis Khan! Demikianlah iapunya iradah kepada kekuasaan, iapunya toil naar macht! Iapunya hulubalang-hulubalang ber­fikir seperti orang-orang Monggul biasa yang menganggap pemburuan sebagai kenikmatan yang paling tinggi. Tapi ia, Jingis Khan, ia hanya­lah memikirkan kenikmatan kemenangan, kenikmatan-nya mematahkan musuh.

 

Buat mencapai kemenangan inilah ia ciptakan iapunya strategi dan taktik yang haibatnya sama dengan kilat dan halilintar yang menyambar­-nyambar di padang-padang Asia Tengah. Buat memuaskan iapunya wit naar macht itulah iapunya otak mengkilat menjadi jeni militer yang sejarah-manusia belum dapat menunjukkan bandingannya.

 

Rakyatnya menyebut dia satu “Bogdo”, satu dewa dari Angkasa. Kita sebutkan dia satu jeni oleh karena padanya benar-benarlah terdapat sifat-­sifatnya seorang jeni: dengan bahan-bahan yang tiada, menghaibatkan iapunya jiwa sampai mencapai puncak-puncaknya kilatan akal yang menjelmakan barang sesuatu yang maha-haibat dan maha-orijinil.

 

Hitler tidak ada kans buat mendapat titel jeni di sampingnya Jingis Khan itu. Di samping Napoleon pun ia sudah tampak kalah kejenialan!

 

Sebab syarat yang terpenting buat nama jeni ialah keaslian, originaliteit. Hitler tidak originil, Hitler hanya menjiplak sahaja. Hitler dus bukan seorang jeni, Hitler hanya seorang peniru, seorang imitator. Cara­nya menjalankan massa-aksi dan massa-agitasipun, ia akui sendiri, ia banyak tiru dari pergerakan kaum buruh yang Marxistis!

 

Tetapi sistim diktatur, musti melonceng-loncengkan dia sebagai seorang jeni. Sistim fasisme itu musti menggembar-gemborkan dia sebagai seorang “Maha-Bapak”, menonjol-nonjolkan dia sebagai seorang “Maha-Manusia” yang menyelesaikan segala hal yang pantas dipercayai dan ditaati secara buta.

 

Tetapi biarpun dia menebah-nebah dada sambil berkata: “Aku, akulah pencipta dan penjelma taktik dan strategi baru”, maka siapa yang menge­tahui betapa dia berpuluh-puluh malam tidak tidur buat membaca tarikh­nya Jingis Khan dan menjiplak semua cara-berperangnya, niscayalah akan menjawab:

 

Bangsa Asia yang Tuan hina di dalam Tuan punya buku, “Mein Kampf” itu, telah mendahului Tuan, lebih dari tujuh ratus tahun yang lalu!

 

“Pembangunan”,1941