JERMAN VERSUS RUSIA, RUSIA VERSUS JERMAN !

JERMAN VERSUS RUSIA, RUSIA VERSUS JERMAN !

 

DUA BUKU: ERNST HENRI “HITLER OVER RUSSIA?”,

DAN HEINRICH FRAENKEL “THE GERMAN PEOPLE VERSUS HITLER”‘

 

Saya menulis artikel ini pada malam Selasa 23-24 Juni 1941. Duapuluh empat jam yang lalu, agak terkasip dari orang-orang, saya mendengar khabar bahwa Hitler telah menyerang negerinya Stalin.

 

Terkasip oleh karena pada waktu radio mula-mula menyiarkan khabar ini, saya kebetulan tidak ada di rumah; dipanggil makan oleh seorang sa­habat di kebunnya, yang letaknya beberapa kilometer dari Bengkulen. Baru sorenya hari itu, waktu saya menyetel radio saya, saya mendengar khabar yang menggemparkan itu.

 

Duapuluh empat jam yang lalu saya mendengar bahwa peperangan. Hitler: Stalin sudahlah menjadi satu feit. Duapuluh empat bukan yang lalu, saya membaca bukunya Ernst Henri “Hitler over Russia?” yang mem­bicarakan peperangan Hitler-Stalin ini dengan cara yang menarik sekali. Duapuluh empat tahun yang lalu, tahun 1917, waktu kaum buruh di Rusia membuat revolusi dan mendirikan mereka punya republik yang sekarang ini, saya sebagai “plonco” sudah mengira-ngira, bahwa tidak boleh tidak musti datang saatnya kelak, yang republik ini mendapat serangan haibat dari sebelah Barat.

 

Jadi sebenarnya, peperangan Hitler-Stalin ini bukan satu “barang baru” buat saya. Namun – waktu saya mendengar khabar itu buat per­tama kali kemaren malam, saya punya hati berdebar-debar!

Saya merasa, bahwa kini peperangan-dunia ini masuk ke dalam

satu fase yang maha-­maha penting.

 

Dan siapa tidak merasa begitu? Churchill tahadi pagi saya dengarkan pidatonya, dan beliaupun berpendapat, bahwa peristiwa ini adalah satu “keerpunt”, – satu saat yang mengubah keadaan. Menurut anggapan Churchill sudah empat kali peperangan yang sekarang ini mengalami keerpunt yang maha penting. Pertama, waktu Perancis patah dan ter­paksa tekuk-lutut; kedua, waktu serangan Luftwaffe-nya Goring dialahkan oleh R.A.F. di bulan September 1940; ketiga, ketika diterimanya wet‑penyokong Inggeris Lease-and Lend-Bill oleh rakyat Amerika, dan keem­pat; kejadian sekarang ini: – Hitler kontra Stalin!

 

Satu keerpunt. Ya, memang satu kenyataan segede gajah! Siapa orang yang mengat,akan ini bukan satu keerpunt, di mana Hitler mendapat musuh baru yang besarnya 200.000.000 jiwa?

Tetapi alasan buat menamakan dia satu keerpunt, adalah berlain-lainan. Ada yang mena­makan ini suatu keerpunt, oleh karena

musuh baru itu bukan satu musuh kecil-kecilan, melainkan satu musuh sebesar dua ratus milyun jiwa. Ada yang menamakan ini satu keerpunt, karena di zaman dulupun Napo­leon punya bintang mulai jatuh ke bawah sesudah ia menyerang Rusia. Ada lagi yang menamakan ini satu keerpunt, oleh karena kini Hitler akan menghadapi satu-satunya musuh yang akan membinasakan dia: musuh yang bersenjata dua: yakni senjata militer digabungkan dengan sen­jata perlawanan massa.

 

Sekarang, sekarang buat pertama kali, begitulah kata golongan yang tersebut belakangan tahadi, Hitler akan kewalahan, karena ia “baru men­dapat tandingannya”. Dengan senjata militer ia sukar dihantam remuk; dengan senjata perlawanannya massa ia akan menjungkel menggigit debu! Pendirian yang demikian inilah pendiriannya Ernst Henri yang bukunya saya baca duapuluh empat bulan yang lalu itu. Tahadi pagi saya keluarkan lagi buku itu dari almari, bersama sadurannya dalam bahasa Jerman pula yang bernama “Feldzug gegen Moskow“. Saya telaah lagi bab-babnya dengan cara cepat-cepatan, saya baca lagi bagian-bagiannya yang saya bubuhi tanda “penting”, saya ulangi lagi alasan-alasannya yang membawa kepada konklusinya penutup. Dan tahukah tuan? Konklusi apa yang paling menarik perhatian?

 

Ernst Henri nujumkan akan terjadinya satu ofensif yang aneh! Aneh, oleh karena ini ofensif tidak membedil, tidak menggasracun, tidak membombardir. Pada suatu hari nanti, katanya akan datang ratusan kapal udara Rusia di atas negeri Jerman, menurunkan ribuan propa­gandis-propagandisnya persaudaraan massa.

Stalin dengan jalan begitu menghasut rakyat jelata Jerman supaya memberontak kepada pemerin­tahan Hitler yang zalim itu. Dan rakyat jelata Jerman terutama sekali perempuan-perempuan Jerman, akan segera mengikuti panggilan Stalin itu. Rakyat jelata Jerman dan perempuan-perempuan Jerman akan menuntut kemerdekaan dan perdamaian, sebagaimana merekalah yang menyudahi peperangan – dunia dahulu, di tahun 1917 dan di tahun 1918.

 

“Kaum perempuan bisa menjadi satu tenaga revolusioner yang maha haibat; itu mereka tunjukkan di Rusia tahun 1917 dan di Jerman tahun 1918. Mereka akan menuntut kemerdekaan dan perdamaian,- satu kom­binasi, yang dari semula mesiu-mesiu-politik, dialah yang paling bisa mele­dak; mereka akan menuntut perdamaian, – tidak dengan kertas-pemilihan, tetapi dengan menggenggam senjata, yang oleh kaum fasis diserahkan kepada mereka buat menghantam Rusia.”

 

Ya, kata Ernst Henri, Hitler akan menghantam kembali, Hitler punya amarah akan meledak sampai ke puncak-puncaknya peledakan. Hitler akan menghantam kembali dengan senapan dan bedil-bedil mesin, S.S. akan disuruhnya mengamuk tabula-rasa, – kaum komunis, kaum sosialis, kaum pasifis, ribu-ribuan mereka akan didrel di muka tembok. Kapal­kapal-udara Jerman akan membombardir kota-kota Jerman, meriam­meriam Jerman akan menggempur citadel-citadel bangsa Jerman sendiri. Ya, kata Ernst Henri, – but that is already in the fullest sense, A SECOND WAR!! Ini sudah menjadi peperangan yang kedua, atau lebih tegas; menjadi DUA PEPERANGAN pada satu saat! BURGER­OORLOG, di tengah-tengah hantamannya peperangan yang sudah ada!

 

Ini, inilah kata Ernst Henri datuknya semua strategi, – satu-satunya strategi yang bisa membuat Hitler menekuk lutut. Inilah yang dinamakan sociale strategie, – strategi yang melemahkan tiap-tiap jenderal, dan menentukan resultaat penghabisan dari peperangan yang bagaimana besar juapun adanya. Inilah strateginya Generale Stafnya Stalin, strategi yang Stalin bisa menjalankan buat menghantam Hitler, tetapi Hitler yang tidak bisa menjalankan buat menghantam Stalin. Sebab, apakah yang dinamakan sociale strategie itu? Tak lain dan tak bukan, kata Ernst Henri, kombinasinya dua barang yang amat mudah sekali; sociale strategie adalah strategi militer biasa plus perjoangan kelas. Kecakapan mengombinasi hantaman secara militer biasa dengan hantaman burger­oorlog-nya, mengombinasikan tenaganya hantaman dari luar dengan tena­ganya hantaman dari dalam. “Social strategy is nothing other than ordi­nary military strategy plus mass struggle; the art of external war plus the realities of civil war.”

 

Hitler tidak akan kuat menadah hantamannya social strategy itu.

Ia ternyata selalu unggul menadah tiap-tiap hantaman dari luar, tetapi ia tidak akan unggul menadah hantaman dari luar yang dibarengi dengan hantamannya burgeroorlog dari dalam.

Ia mempunyai tank ribu­ribuan dan kapal udara ribu-ribuan pula yang dapat menggempur men­jadi debu tiap-tiap lasykar di muka bumi ini, tetapi ia tidak mempunyai mantram untuk mematikan hantunja burgeroorlog itu, kalau hantu bur­geroorlog itu sudah sekali bangkit.

 

Malahan ini, inilah yang memang sedari mulanya ia telah takuti! Iapunya tangan kanan yang bernama Heinrich Himmler, kepala Gestapo, pernah mengatakan bahwa perang besar yang akan datang ialah perang “op twee fronten “, – satu peperangan melawan musuh dari 1 u a r, dan satu peperangan melawan musuh dari d a la m . Pekerjaan Gestapo yang terutama ialah buat menghalangi peperangan yang timbul dari dalam itu, dan kita semuanya telah mengetahui; Gestapo tidak lunak-lunakan di dalam pekerjaannya ini.

Penjara, concentratie-kamp, drel-drelan, pembuangan, pembunuhan semuanya dipakainya untuk mencegah bang­kitnya hantu perlawanan massa. Jerman menjadi satu rumah penjara yang maha besar,

tiap-tiap hidung dimata-matai oleh orang-orangnya Hitler,

tiap-tiap “deloyaliteit” dihukum dengan tutupan atau dengan tem­bakan mati, tiap-tiap faham yang ingin lain daripada fasisme meminta tanggungan jiwa.

 

Namun adalah, – sejarah dunia menunjukkan satu bukti,

bahwa rokh manusia bisa dikungkung dan dirantai. Gestapo bisa “mengamankan” kulit masyarakat Jerman, tetapi d i b a w a h kulit itu, bumi Jerman adalah laksana gunung api yang bekerja diam-diam. Satu kali, pada satu saat yang baik nanti Hitler akan mengalamkan, bahwa dia, bahwa Himmler, bahwa Gestapo, bahwa S.S., bahwa segenap ia punya terreurorganisatie tidak mampu menahan letusannya gunung api per­lawanan massa. Di bawah tanah rakyat Jerman sudah menyiapkan d i r i. Di bawah tanah ia hanya menunggu-nunggu saat yang baik sahaja. Dengan jelas ini diceriterakan oleh Heinrich Fraenkel, seorang “pemimpin di bawah tanah”, di dalam ia punya buku “The German People versus Hitler” yang terbit tahun yang lalu. Organisasi Gestapo yang raha­sia itu, disediai satu kontra-organisasi yang rahasia pula. Kaum sosialis, kaum komunis, kaum agama, kaum Yahudi, kaum tani, kaum studen, kaum perempuan, kaum nazipun sebagainya, – semuanya “melawan”, semuanya “masuk underground”, semuanya “masuk ke bawah tanah”. Bumi yang diinjak Hitler dengan jago-jagonya itu, adalah bumi yang di bawahnya ada kawah yang menggolak dan mendidih. Satu saat dia akan meledak, dan ledakannya akan menghancurkan benteng-kekuasaan Hitler menjadi debu!

 

Betul Fraenkel mengatakan, bahwa pekerjaan “underground” ini menjadi sukar amat sekali di waktu peperangan ini dengan aturan­aturannya staat van beleg, tetapi pada waktu ia menulis bukunya itu ia tidak mengetahui, bahwa musuh Hitler yang baru ialah … Jozef Stalin! Ia tidak mengetahui, bahwa situasi baru ini akan mempermudah men­jadinya “acuut !” perlawanan massa itu,

‘yakni oleh karena adanya plan s o c i a l e s t r a t e g i e yang dengan bewust “membuka” semua kawah-kawah yang di bawah tanah tahadi. Ia tidak mengetahui, bahwa musuh Hitler yang baru ini bukan musuh yang mencurigai perlawanan massa, tetapi justru satu musuh yang dengan s e n g a j a mau melekaskan meledaknya perlawanan massa. Tetapi bagaimana juga;

baik Ernst Henri, maupun Fraenkel, dua-duanya berkata,

bahwa akhirnya rakyat Jerman-lah yang akan menggempur

Hitler daripada singgasana kezalimannya.

 

Dua-duanya percaya kepada jiwa kemerdekaan ang hidup dikalangan massa, dua-duanya yakin bahwa juga Adolf Hitler, kendati ia punya Gestapo, kendati ia punya penjara-penjara dan concentratie-kam­pen, kendati ia punya S.S. dan militair aparat,

tak mampu mematikan rokh perlawanannya massa. Dua-duanya percaya kepada api yang dina­makan oer-instinctnya massa,

yang akhirnya, akhirnya selalu memberontak kepada siapa

yang mau mematikan dia.

 

Hitler kontra Stalin, Stalin kontra Hitler! Barangkali sejarah dunia belum pernah mengalamkan satu pergulatan raksasa sebagai yang kita alamkan sekarang ini. Diktaturnya absolutisme berhantam-hantaman dengan diktaturnya proletariat! Ernst Henri menujumkan berlakunya perjoangan raksasa ini melalui lima tingkatan.

 

Pada tingkatan yang pertama Hitler dapat menyerbu ke dalam daerah Rusia. Serdadu-serdadunya bertempik-sorak, mereka mabuk karena girangnya mengira akan menang. Tetapi pada

t i n g k a t yang k e d u a tentara Stalin membuat perlawanan yang maha haibat, dan ofensifnya Hitler dapat tertahan. Dengan itu, maka sebenarnya keputusan sudahlah jatuh; sebab pada waktu pertama kali Hitler ter­tahan, pada waktu itu dia sebenarnya sudah binasa juga. Ia punya energi yang bertimbun-timbun dan maha haibat itu sekonyong-konyong men­jadilah seperti patah, tenaga-tenaga kebalikannya mulailah bekerja. Maka segera datanglah tingkat yang k e t i g a, tingkatnya t e g e n­ o f f e n s i e f, yang menghantam Hitler mundur, – mundur sampai masuk ke dalam daerah negerinya sendiri. S e r d a d u Stalin mulai meng­injak tanah fasisme sendiri! Maka mulailah di sini sociale strategie bekerja, di sana-sini mulailah muncul terang-terangan per­lawanan massa. Tentara Stalin makin bertambah, makin besar, makin berani, makin gembira, tetapi tentara Hitler makin surut dan makin bingung.

 

Di mana-mana ada serdadu fasis yang meninggalkan barisannya sendiri, masuk ke dalam barisan merah. Akhirnya pada tingkat keem­pat menyala-nyalalah apinya Anti-Fascistische Revolutie di se­luruh negeri Jerman, burgeroorlog melawan Hitler mengkilat-kilat dari dusun ke dusun, dari kota ke kota, dari pabrik ke pabrik, dari barisan kebarisan. Sociale s t r a t e g i e, itu kombinasi antara hantaman ten­tara dengan hantamannya burgeroorlog, jatuhlah seperti palu-godam­ raksasa menggempur kekuasaan Hitler, menggempur armada-udara Goring, mengobrak-abrik tiap-tiap batalyon dan tiap-tiap divisi menjadi berantakan sama sekali.

Hitler Waterloo datanglah dengan tak dapat dielakkan lagi!

Dan akhirnya datanglah tingkat kelima, tingkat penghabisan,- tingkat habisnya sejarah Hitler. Ia akan kabur, atau mati, atau entah bagaimana lagi, wallahu a’lam!

 

Ernst Henri mengunci tingkat kelima ini dengan gambaran:

“Tentara Fasis yang besar itu tidak akan jatuh sahaja, tetapi satu kejadian yang lebih haibat dan lebih tidak tersangka-sangka akan terjadi pula:

 

Tengah-tengah bergerak ini, tentara akan terpecah-belah menjadi dua bagian, yang satu menghantam kepada yang lain. Massa, rakyat jelata di dalam tentara itu akan minta perdamaian, dan akan minta membuat perdamaian juga. Marschalk-marschalk tentara itu, jendral-jendralnya dan mayor-mayornya akan lari, – lari, dari musuh yang menghantam me­reka, dan dari serdadu-serdadunya sendiri. Mereka tak akan dapat lari jauh. Belum pernah dunia mengalamkan satu kekalahan tentara, seperti kehancurannya tentara dari fasisme itu.”

 

Begitulah tujuan Ernst Henri. Benarkah akan kejadian begitu,

atau tidak? Wallahu a’lam! Tetapi bagi orang yang mengetahui hukum­-hukumnya masyarakat nyatalah, bahwa fasisme akan hancur. Hancur karena ia punya tenaga-tenaga dari-dalam-sendiri, hancur karena ia punya innerlijke tegenstellingen sendiri. Tenaga penghancur dari luar, entahlah. Entah Inggeris, entah Rusia, entah Amerika, entah kom­binasi dari tiga ini. Tetapi kombinasi tenaga-tenaga dari luar d a n dari dalam, – sociale strategie -, kombinasi itu akan mematahkan Hitler, pasti, tidak

boleh tidak, pasti, sebagai matahari mengikuti malam!

 

“Pemandangan”, 1941

Iklan