INGGERIS AKAN MEMERDEKAKAN INDIA ?

INGGERIS AKAN MEMERDEKAKAN INDIA ?

DOKUMEN WLADIMIR ASKININ YANG MENGGEMPARKAN HASIL PERJOANGAN LEGIUN-LEGIUNNYA TILAK, GANDHI DAN NEHRU

Di dalam majalah “Negara” yang terbit paling akhir, adalah satu tulisan redaksionil yang menceriterakan pembeberan satu rahasia diplo­matik besar, yang membuka rahasia itu ialah C. Cranston, di dalam “World War”: Ia menceritakan, bahwa seorang Trotzkyis yang bernama Wladimir Askinin, sebelum ia membalas dendam kepada Stalin atas pembunuhan Trotzky, telah membuat satu dokumen rahasia, yang ia serahkan kepada beberapa orang temannya. Kalau ia, Askinin, mati ter­bunuh oleh penjaga-penjaga Stalin, maka bolehlah dokumen rahasia itu dibuka.

 

Askinin mati terbunuh oleh orang-orangnya Stalin, sebelum ia bisa berhasil membunuh Stalin. Dengan begitu, maka dokumen rahasia itu bolehlah “berjalan”.

 

Apa isi dokumen itu? Antara lain: bahwa Askinin ikut menghadiri konferensi rahasia antara delegasi Inggeris dan delegasi Rusia di Moskow belum selang berapa lama yang lalu, sehingga ia mengetahui putusan­-putusan konferensi itu.

 

Dan apa yang diputuskan? Rusia akan membantu kepada Inggeris di dalam peperangannya melawan Hitler, dan sebagai “upah” atas bantuan ini maka Rusia boleh mendirikan satu Republik Sovyet di India-Utara, dan bagian India yang lain akan dimerdekakan serta.

Sungguh menggemparkan dokumen ini!

 

“Sehari sesudah perang dihentikan, yaitu betapapun kesudahan perang itu, menang atau kalah, maka India akan dijadikan dominion, yaitu kedu­dukan seperti Canada dan Australia, yakni praktis merdeka. Lasykar Inggeris dan lain-lain pembesar Inggeris ditarik pulang. Bagian sebelah utara daripada India akan dijadikan Republik Sovyet yang merdeka. Dalam pada itu telah diatur pula dengan panjang lebar tentang hubungan perdagangan antara Inggeris dan Sovyet Rusia.” Begitulah saya baca di dalam “Negara”. Selanjutnya adalah tertulis begini:

 

“Memang berita ini sangat menggemparkan. Rakyat dan pemimpin­pemimpin India tak diberitahu tentang hal itu. Sebaliknya Inggeris yakin, yang pada suatu ketika India tokh mesti merdeka juga. Apa gunanya menunggu lebih lama lagi, sedangkan kalau dilekaskan waktu kemerde­kaannya itu, maka Inggeris akan mendapat bantuan yang sebesar-besarnya daripada rakyat India. Sambil menjanjikan itu, maka India dijual pula kepada lain negeri. Pada waktu nanti tokh mesti timbul juga ben­trokan antara Sovyet Rusia dan India. Tapi Askinin menuduh Inggeris tidak berlaku jujur, yaitu tidak memberitahu pada India tentang per­janjian yang dibuat dengan Sovyet Rusia itu.”

 

“Menurut Cranston ada beberapa hal yang kurang jelas dalam dokumen Askinin itu. Antaranya tak dikatakan kapan perjanjian itu telah ditanda-tangani. Sesungguhnya orang ragu-ragu apakah perjanjian memang sudah ditanda-tangani oleh Inggeris dan Sovyet Rusia.”

 

“Tapi orang menaruhkan kepertcayaan atas perjanjian itu, tatkala beberapa hal yang disebut-sebut dalam dokumen itu mendapat kebenaran­nya dikemudian hari Betapapun juga riwayat kelak akan membuktikan kebenaran isi dokumen Askinin itu.”

 

“Memperhatikan sebab-sebabnya Jerman-Hitler melanggar kehormatan Sovyet Rusia, maka terbuktilah kebenaran beberapa hal dalam per­janjian Inggeris-Sovyet Rusia itu!”

Demikianlah kutipan saya dari tulisan di dalam majalah “Negara” itu.

 

Jadi benarkah, bahwa India akan diberi dominion status oleh Inggeris sesudah berakhir perang yang sekarang ini? Wallahua’lam. Hanya kita mengetahui, bahwa Inggeris memang pernah mengeluarkan perjanjian yang demikian itu. Akan tetapi ditepati atau tidak perjanjian itu, – wallahua’lam! Dan apakah benar seperti disebutkan di dalam dokumen Askinin, wallahua’lam pula!

 

Kita hanya ikut yakin dengan rakyat India, bahwa pasti, tidak boleh tidak, pasti datang saatnya yang India itu merdeka kembali. Dan kitapun ikut yakin dengan rakyat India, bahwa kemerdekaannya itu adalah buah­nya usaha dan tenaga sendiri. Alangkah haibatnya rakyat India itu! Haibat, bukan karena efficiency perjoangannya (perjoangan rakyat India banyak salahnya), tetapi karena sejarahnya dan karena keuletannya. Sejarahnya dan keuletannya itu akan tetap tertulis. dengan aksara emas di dalam kitab tambo peri-kemanusiaan!

 

Mampukah rakyat India menjalankan pemerintahan sendiri, dan mampukah ia menjaga kemerdekaannya itu menangkis serangan-serangan dari luar?

 

Inilah dua pertanyaan yang selalu dikemukakan oleh musuh-musuh kemerdekaan India itu, – digosok-gosokkan dan disemir-semirkan, diko­cok-kocokkan dan ditonjol-tonjolkan, sehingga sebagian kecil sekali dari riwayat rakyat India itu sendiri menjadi was-was dan ragu-ragu.

 

Sebagian kecil sekali! Sebab sebagian yang terbesar, bagian yang puluhan milyun dan ratusan milyun itu tetaplah percaya, bahwa rakyat India mampu merdeka, mampu memerintah diri sendiri, mampu memba­ngunkan satu militair apparaat, mampu menangkis serangan-serangan dari luaran. Jitu sekali perkataan seorang paderi Inggeris yang bernama John Page Hopps, bahwa yang mengatakan India tidak matang buat pemerintahan sendiri itu, bukanlah bangsa India sendiri, tetapi selalu Inggeris sahaja, yang tidak mau melepaskan kedudukannya yang sekarang. Kata John Page Hopps: “Siapa berkata rakyat India tidak masak buat pemerintahan sendiri? K i t a bangsa Inggeris, yang mendapat keuntungan dari memerintah mereka itu, kita, yang tidak mau melepaskan kekua­saan, kita, yang karena egoisme, mengira bahwa kita pemerintah yang paling baik dan paling cakap di seluruh muka bumi. Tetapi itu bukan suara baru. Suara itu pernah dikeluarkan buat menentang kaum per­tengahan di negeri kita Inggeris sendiri; suara itu pernah dikeluarkan buat menentang kaum pertukangan di kita punya kota-kota yang besar-besar; suara itu pernah dikeluarkan bust menentang kaum tani, kita punya suara itu sedang dikeluarkan pula buat menentang kita punya kaum perempuan, dan saban-saban suara itu ia dikeluarkan, tidak dengan alasan keadilan, tetapi oleh golongan yang memegang kekuasaan yang tidak mau melepas­kan kekuasaannya itu.”

 

Padahal! Bukti yang boleh diraba, sudah lama a d a bahwa rakyat India cakap berdiri sendiri. Bukan sekarang sahaja, tapi sudah puluhan tahun, ratusan tahun. Apa bukti itu? Bestuurs-administratie dan bestuurs-apparaat India adalah 95% ditangan bang­sa India sendiri! Di seluruh negeri India, yang luasnya hampir satu benua itu, yang rakyatnya 350 milyun, yang bestuurs-administratienya dan bestuurs-apparaatnya tidak lebih sederhana dari negeri-negeri lain, di se­luruh negeri India itu tidak ada lebih dari 40.000 orang Inggeris. Mereka hanya menduduki jabatan-jabatan yang “vital” sahaja, tetapi klerknya, komisnya, asistennya, gubernurnya, belasting amtenarnya, dokternya, guru­nya, hakimnya, – semua itu adalah di dalam tangan orang India. “India­nisasi” boleh dikatakan sudah hampir komplitlah di India itu. Begitu komplit sehingga seorang penulis M r . W. W. Pearson, di dalam kitab­nya

“For India” begitu jengkel mendengarkan nyanyian-nina-bobok “India belum matang”, sehingga ia berkata: “Dengan alasan apakah kits bisa mengatakan bahwa bangsa India tak mempunyai kecakapan memerintah negerinya sendiri, manakala kita melihat, bahwa British Government sekarang ini penuh sesak dengan pegawai India di semua tingkatan, – begitu penuh sehingga, kalau umpamanya besok pagi pemerintah Inggeris itu meninggalkan India, maka mesin administrasi India itu akan berjalan terus dengan hanya satu perobahan kecil sahaja di dalam sifatnya yang lahir.”

 

Dan ucapan John Page Hopps dan W. W. Pearson ini hanyalah dua ucapan sahaja di antara puluhan-puluhan ucapan orang-orang Inggeris lain, yang semuanyapun memuji kecakapan bangsa India itu. Marilah saya sajikan di sini kepada Tuan beberapa ucapan itu,

agar supaya Tuan mengetahui pula.

 

Kenalkah Tuan nama Max Muller? Max Muller adalah salah seorang Orientalis Inggeris yang terbesar. Ia punya nama adalah termasyhur di seluruh dunia. Ia punya pengetahuan tentang kultur India susahlah dicari bandingannya. Ia punya ketulusanpun terhadap “Indian Problem” tak dapat disangsikan orang. Max Muller berkata: “Kalau orang menanya kepada saya, di bawah langit manakah otak manusia menge­luarkan barang-barang yang paling berharga memfikirkan soal-soal kehi­dupan yang dalam, dan mendapatkan pemecahan soal-soal itu dengan cara yang pantas mengagumkan orang-orang yang telah membaca buku-bukunya Plato dan Kant, maka saya akan tunjukkanlah negeri India.”

 

Dan kenalkah Tuan nama Edmund Burke? Edmund Burke adalah seorang politikus Inggeris yang termasyhur pada zaman silamnya abad kedelapanbelas. Ia punya pendirian adalah konservatif, reaksioner, kolot. Tetapi ia punya pendirian terhadap India adalah “lunak”. Dengarkanlah ia punya pidato membela India itu pada waktu perdebatan di dalam parlemen tentang East India Bill: “Ini kumpulan besar dari manusia-manusia (rakyat India) tidaklah terdiri dari penduduk yang hina dan biadab, dan sama sekali tidak dari bangsanya orang-orang hutan. Tetapi ia terdiri dari satu bangsa, yang telah sopan dan berkebudayaan sejak berabad-abad, terdidik di dalam kultur dan kebudayaan yang tinggi, pada waktu kita bangsa Inggeris masih berdiarn di dalam rimba. Di India adalah raja-raja yang sangat mulia, sangat berkuasa, sangat kaja. Di sana orang bisa dapatkan penghulu-penghulu-agama dari zaman purbakala mula, pengenal dan pemelihara hukum, ilmu dan sejarah, pemimpin-pemimpin rakyat di waktu hidup, penghibur-penghiburnya di waktu mati. Di sana adalah kaum bangsawan yang asal turunannya dari zaman kuno sekali dan termasyhur; banyak sekali kota-kota yang jumlah penduduknya dan perniagaannya tak kalah dengan kota-kota kelas satu di benua Eropah: sudagar-sudagar dan bankier-bankier yang kekayaannya berpadanan dengan kekayaan Bank of England; milyunan kaum perusahaan dan kaum pertu­kangan yang amat cerdik dan amat cakap; dan milyunan kaum pertanian yang amat rajin dan amat giat.”

Meskipun demikian, rakyat yang begini ini masih sahaja dikatakan belum matang buat kemerdekaan! Padahal dari zaman sebelum Nabi Isa, sebelum Gautama Budha, sebelum kebudayaan Yunani dan Rumawi, ia sudah cakap mengadakan pemerintahan sendiri yang eficient dan teratur. Lebih dari tiga ribu tahun lamanya, sebelum orang Inggeris datang di India, ia sudah menunjukkan kepada sejarah, bahwa ia mampu menyu­sun dan memeliharakan negara! Lebih dari tiga ribu tahun ia membuk­tikan ia punya “kematangan”, – tokh kini ia dinamakan masih belum masak! Penulis sosialis yang termasyhur, H. M. Hyndman, karena melihat ketidak-adilan ini mengatakan terang-terangan: “Sembilan-per­sepuluh dari semua apa yang dituliskan oleh bangsa Inggeris tentang India adalah dituliskan begitu rupa, sehingga kita mudah sekali percaya kepada itu omong-bohong yang memalukan hati, bahwa pemerintahan yang teguh dan sopan barulah ada di Hindustan sesudah datangnya orang Inggeris

di situ.”

 

Dan Bisschop di Calcutta pada tahun 1921 pernah membuat khotbah yang antara lain-lain berisi perkataan yang berikut ini.

 

“Adalah orang-orang yang berpendapat, bahwa kita mempunyai hak yang tetap, buat memerintah bangsa-bangsa yang kulitnya lebih hitam. Tetapi keadaan yang sebenarnya bertentangan dengan pendapat mereka itu. Bangsa India telah mencapai tingkatan yang paling tinggi di atas lapangan pelbagai kegiatan manusia, dan dengan mereka punya sukses itu, mereka membohongkan tuduhan, bahwa mereka adalah bangsa yang inferieur.”

 

Demikianlah pendapat-pendapat beberapa orang Inggeris yang jujur dan tulus hati. Saya dengan sengaja tidak mengutip perkataan-perkataan orang India, agar supaya tulisan saya inipun bernama jujur, atau dinamakan jujur. Saya hanya mengambil ucapan-ucapannya orang-orang bangsa Inggeris sahaja, putera-putera dari itu bangsa yang memerintah India sendiri, agar supaya makin tampak bukti kematangan India itu. Pembaca-pembaca “Pemandangan” baik mengetahui ucapan­-ucapan itu, agar supaya dapat menimbang dan memikir.

 

Barangkali kurang cukup sitat-sitat saya buat fihak yang gemar kepada sitat-sitat? Dengarkanlah kini pendapat Jenderal Smuts, kini kepala negara Afrika Selatan yang terkenal itu. Beliau di dalam satu pidato di Johannesburg berkata: “Saya tidak memandang rendah kepada bangsa India itu; saya memandang tinggi mereka itu. I do not look down on Indians; I look up to them … Dulu adalah orang-orang bangsa India, yang termasuk golongan orang-orang yang terbesar di dalam sejarah dunia. Dulu adalah orang-orang India, yang menjadi pemimpin-pemimpin yang terbesar daripada peri-kemanusiaan, – begitu besar, sehingga saya merasa diri saya masih terlalu hina buat menggosok mereka punya sepatu.”

 

Demikianlah kata pujian yang masuk yang datang dari mulutnya Jenderal itu. Tetapi aneh. Kalau datang kepada soal masak atau tidak masaknya India buat merdeka, kalau kemerdekaan politik India menjadi pembicaraan, maka Jenderal itupun lantas – membelum matangkan India itu! Memang ada tiga golongan “omongan” tentang India di kalangan bangsa Inggeris: Ada yang dengan mentah-mentahan mengatakan bahwa India belum boleh merdeka, karena di dalam segala-galanya masih hijau, tidak cakap ini tidak cakap itu, tidak mencukupi syarat-syarat yang di­mintakan oleh kenegaraan modern. Ada pula yang mengetahui bahwa India berkecerdasan maha-tinggi dan berkultur maha-agung, tetapi … belum masak buat kemerdekaan nasional! Dus mengakui ketinggian kul­turnya, mengakui kedalaman falsafatnya, mengakui kehaibatan sejarahnya, mengakui kebesaran perniagaannya, mengakui kemegahan hari-purbakala­nya, mengakui kecakapan otaknya di dalam 1001 hal,- tetapi belum mengakui dan tidak mengakui kemasakan nasionalnya.

 

Dan sebagai golongan yang ketiga, datanglah orang-orang “kaum merah”, yang terang-terangan mengatakan India sudah masak ditentang segala-galanya, juga buat politieke onafhankelijkheid, juga buat kemerdekaan nasional. Tetapi perkataan-perkataannya “kaum merah” itu tidak akan saya sitir di sini, oleh karena saya di dalam tulisan ini sengaja tidak mau mensitir ucapan-ucapan orang-orang yang bulat-bulat pro dan menuntut kemerdekaan India itu. Tidakkah juga pemimpin-pemimpin bangsa India sendiri tidak saya sitir di dalam artikel ini?

 

Sebaliknya marilah saya tambah sitat-sitat dari “golongan kedua” itu. Dengarkanlah sekarang ucapan John R. Seeley, professor Inggeris di dalam ilmu sejarah yang sangat termasyhur. Di dalam bukunya yang bernama “The Expansion of England”, salah  satu buku peninjauan sejarah yang paling bagus yang saya kenal – maka

beliau ada berkata: “Kita (bangsa Inggeris) tidak lebih pandai daripada bangsa Hindu; kita punya kecerdasan akal tidaklah

lebih kaya dan lebih luas daripada mereka punya itu.”

 

Cocok dengan pendapat Sir Valentine Chirol, penulis yang sangat termasyhur pula, yang berbunyi “Otak orang India, kalau diberi kesempatan yang leluasa tidak kalah sedikitpun juga dengan otak orang Eropah”. Cocok pula dengan pendapat Sir  Henry Cotton yang berpuluh-puluh tahun pernah menjadi amtenar tinggi di India, yang me­muji orang India itu dengan kata-kata: “Siapa mengatakan, bahwa bangsa India itu bangsa yang bodoh, dia menunjukkanlah bahwa bangsanya tidak kenal bangsa India itu.

Saya bergaul dengan mereka itu lama sekali. Mereka tidak kalah kecakapannya dengan bangsa kulit putih yang manapun juga.” Dan cocok pula dengan ucapan seorang Inggeris termasyhur yang lain, yakni ucapan Allan Octavian Hyme, yang dulu ikut mendirikan Indian National Congress: “Tidak ada per­bedaan antara bangsa India dan bangsa Inggeris”, – “there is no such difference between Indians and Britons.”

 

Dan begitulah kita bisa terus sahaja mensitir ucapan-ucapannya puluh-puluhan orang lagi! Kita bisa membuka buku-bukunya penulis­-penulis Inggeris atau Amerika zaman belakangan, buku-bukunya Brails­f ord, Bernard Schiff, John Gunther, Sunderland, dan lain-lain lagi, yang semuanya mengatakan bangsa India itu cerdas, cakap, cukup kemauan, cukup keuletan buat kemerdekaan. Dengan sengaja saya sitir di muka tahadi hanya penulis-penulis “kaum-tua” sahaja, penulis-penulis dari gene­rasi yang dulu oleh karena generasi itu belum mengalami India-to-day, di mana kaum inteligenzianya telah begitu berlipat-lipat-ganda jumlahnya. India-to-day, yang tentu lebih cakap, lebih cerdas, lebih cukup kemauan, lebih cukup keuletan. Kalau di zamannya generasi kaum tua itu pendapat atas India telah begitu baik, betapapun pula musti­nya pendapat di zaman kita sekarang ini? Sebab India-pun tidak diam, India-pun ber-evolusi, India-pun makin maju, makin berpengetahuan, makin berilmu, makin up-to-date. Siapa di zaman sekarang ini masih mengatakan bahwa India belum matang buat kemerdekaan, dia bolehlah kita tuduh tidak tulus hati.

 

Mrs. Annie Besant, ketua perkumpulan teosofi yang telah wafat itu, berpuluh-puluh tahun yang lalu juga pernah menghadapi per­tanyaan masak-atau-belum-masaknya India itu. Maka sudah pada waktu itu beliau menjawab di dalam satu buku kecil yang gilang-gemilang:

 

“Tuan-tuan menanya, apakah India telah cakap buat kemerdekaan dan pemerintahan sendiri? Saya menjawab, ya, dan itu memang haknya pula. Apakah yang dihajatkan India itu? Ia menghajatkan segala-gala hal ia berhak menuntut, segala-gala hal yang tiap-tiap bangsa lain pantas menuntutnya pula. Ia ingin merdeka di India, sebagai mana orang Ing­geris adalah merdeka di Inggeris. Ia ingin diperintah oleh orang-orangnya sendiri, yang dipilih olehnya sendiri dengan merdeka. Ingin membangun­kan dan menjatuhkan Kementerian-kementerian sepanjang kemauan sendiri. Ingin memanggul senapan sendiri, mempunyai balatentara sen­diri, armada laut sendiri, ingin menyusun anggaran belanja sendiri, ingin mendidik rakyatnya sendiri; ingin mengairi tanah-tanahnya sendiri, ingin menggali logam-logamnya sendiri, ingin membuat mata-uangnya sendiri; ingin menjadi satu bangsa yang menjadi tuan di dalam lingkungan tapal-tapal-batas sendiri. Adakah orang Inggeris buat dirinya sendiri di negeri Inggeris suka kurang daripada ini? Apa sebab orang India musti senang menjadi budak? India mempunyai hak buat merdeka dan meme­rintah diri sendiri. Ia cakap buat itu. Satu kejahatan terhadap kepada peri-kemanusiaan, kalau kita menghalang-halangi dia itu.”

 

Demikianlah pleidooi (pembelaan) Annie Besant yang indah itu. Pleidooi ini ditulis oleh beliau pada permulaannya abad kita yang sekarang ini. Kini hampir empat puluh tahun kemudian, – dan India belum merdeka. Kini hampir empat puluh tahun kemudian: masih tetap sahaja kaum­-kaum yang berkuasa berkata belum! Pergerakan India diwaktu itu makin melebar dan makin mendalam, makin menghaibat dan makin meng­kobar, melalui periode-periodenya Tilak, Gandhi, Jawaharlal Nehru, – tetapi masih sahaja jawaban yang diterimanya b e l u m ! Sampai akhir­nya, pada 1940-1941, Hitler yang kepanjingan syaitan itu mengodal-adil masyarakat Eropah, membakar bumi dan angkasa Barat dengan api keangkara-murkaannya, menghantam-hantam tembok-temboknya keraja­an-kerajaan dengan meriamnya ia punya kesyaitanan! Bumi bergunjing, masyarakat bergunjing, faham-faham dan fikiran-fikiran bergunjing pula. Peluru dan bom serta dinamit yang meledak dan rnengkilat di dalam bumi dan angkasa Eropah itu, meledak dan mengkilat pula di dalam dada-dada orang dan ingatan-ingatan orang. Desakannya keharusan, desakannya kemustian, desakannya doodelijke noodzaak, merobahlah de­ngan sekaligus pendirian-pendirian yang dipegang teguh-teguh puluhan dan ratusan tahun. Albion yang senantiasa berkata “belum” itu, terpak­salah bersikap lain karena desakannya doodelijke noodzaak itu, meskipun belum diakuinya di muka umum. Dokumen Askinin memecahkan rahasia perobahan sikap itu, membuka selimut tutupnya dengan cara yang sangat dramatis, membawanya di muka umum.

 

Benarkah isi dokumen itu? Wallahua’lam. Tetapi kalau benar India sehabis perang ini akan merdeka, maka pada hakekatnya kemerdekaan itu pada tempat yang pertama adalah hasil perjoangan r a k y a t India sendiri juga. Pada tempat yang pertama hasil perjoangan legiun-legiunnya Tilak dan Gandhi dan Nehru, dan Baru pada tempat yang kedua hasil desakannya tuntutan pembelaan diri Albion di dalam peperangan. Dokumen Askinin-pun berisi kalimat, bahwa “Inggeris yakin, yang pada suatu ketika India tok h musti merdeka juga”.

 

Benar! T o c h, musti merdeka juga, – karena perjoangan

s e n d i r i, tenaga sendiri, keuletan sendiri!

 

“Pemandangan”, 1941

Iklan