INDIA – MERDEKA, DAPATKAH IA MENANGKIS SERANGAN ?

INDIA – MERDEKA, DAPATKAH IA MENANGKIS SERANGAN ?

 

DAPATKAH RAKYAT YANG “TAK SAMPAI-HATI MEMBUNUH NYAMUK”, MENJADI SATU RAKYAT MILITER?

Ilham Ilahi telah masuk dan menyala di dalam dadanya rakyat jelata India.

Lebih dulu: selamat hari raya Lebaran! Pembaca-pembaca!

Di dalam artikel saya yang terdahulu, telah saya janjikan akan mengupas pertanyaan yang tertulis di atas ini. India dikatakan belum boleh merdeka, oleh karena ia “tidak cakap memegang pemerintahan sendiri”, dan oleh karena ia “tidak cakap mempertahankan kernerdekaan­nya itu terhadap kepada serangan dari luaran”. Omongan yang pertama sudah saya kupas benar tidaknya di dalam artikel saja yang terdahulu itu, kini akan saya kupas benar tidaknya omongan yang kedua. Dapatkah India, – bicara militer menyusun tenaga pertahanan-diri seperti misalnya Japan? Pertanyaan ini memang satu pertanyaan yang menarik. Bukan sahaja oleh karena India memang satu negeri yang maha-kaya, yang selalu membuat ngilernya negeri-negeri yang dahaga kekayaan, tetapi juga oleh karena rakyat India itu terkenal sebagai satu rakyat yang … tidak sampai hati membunuh seekor nyamuk! Dapatkah satu rakyat, yang lemah-lembut kebatinannya, yang penduduknya sebagian besar mabuk dengan penga­jaran “ahimsa” (tidak menyakiti atau membunuh sesuatu makhluk), yang menganggap cinta kasih sebagai satu kebijaksanaan yang tertinggi, dapatkah rakyat yang demikian itu mempertahankan kemerdekaannya, kalau kemerdekaannya diserang dengan kapal terbang dan kapal udara, dengan tank dan divisi-divisi berlapis baja dengan bom dan granat dan bedil dan meriam, – dengan serangan m a t e r i i l sebagai di dalam tiap-­tiap peperangan modern di zaman sekarang ini?

 

Marilah lebih dulu kita tilik letaknya tanah India. Perhatikanlah letaknya tanah India itu, dan bandingkanlah ia dengan letaknya tanah­-tanah lain di muka bumi ini. Bandingkanlah ia dengan letaknya Jerman, satu negara militer yang maha haibat di Eropah-Tengah, atau bandingkan ia dengan letaknya tanah Japan, satu negara militer yang haibat pula di Asia-Timur. Apa yang Tuan lihat? Tertilik dari perdirian strategis, maka India sepuluh kali lebih kuat daripada Jerman dan Japan itu! Jerman dikurung oleh negeri-negeri lain, dikelilingi oleh batas-batas yang setiap-­tiap waktu dapat didobrak musuh yang lebih kuat, dikepung oleh bahaya yang senantiasa mengancam dari muka, dari belakang, dari kanan, dari kiri. Justru buat menolak bahaya ini Jerman membuat iapunya pagar­waja yang maha-dahsyat,- iapunya Westwall atau Siegfried-Linie, yang ia buat menurut rancangan-rancangannya Dr. Ir. Todt. Justru buat menolak bahaya itu Jerman selalu terpaksa menaroh balatentara milyun­milyunan disepanjang tapal-tapal-batasnya, – tembok waja hidup yang lengkap persenjataannya. Dan lihatlah kepada letaknya Japan. Tiap­-tiap waktu Japan itu dapat diserang oleh musuh yang lebih kuat dari jurusan Barat dan Utara dan Selatan. Boleh dikatakan hanya samodra Pacific yang maha-luas itu sahajalah iapunya perlindungan alamiah.

 

Namun, Jerman kuat, Japan-pun kuat pula. Kekuatan-kombinasi dari kaum serikat, dan kekuatan-kombinasi dari front A.B.C.D.-lah yang nanti mematahkan Jerman dan Japan itu. Tetapi lihatlah India!

Di sebelah Utara, Utara-Barat, dan Utara-Timur, dilingkungilah ia oleh pagar-waja yang ditaruh di situ oleh Alam: gunung-gunung yang ting­ginya mencakar langit, raksasa-raksasa-batu yang tak dapat dialahkan oleh tank-tank dan divisi lapis baja. Hanya satu tempatlah di situ yang diliwati orang, yaitu Khyber-pass, tetapi penjagaan di situ sangatlah mudah sekali. Dan tapal-batas India yang lain ialah lautan, samodra, samodra India, yang beribu-ribu kilometer tidak ada negeri di seberangnya, dan yang oleh karena itu dari situ kecil sekali kemungkinan buat menyerang.

 

Demikian nyata dan terang, bahwa tanah India adalah satu tanah yang strategis kuat. Kini bagaimanakah dengan orangnya? India mempunyai penduduk 350.000.000 orang, dua kali penduduk Rusia, lima kali penduduk Jerman atau Japan, lebih dari enam kali penduduk Ing­geris atau Perancis. Lebih dari 150.000.000 dari penduduk India itu adalah orang laki-laki yang sedang-sedangnya gagah-perkasa, orang laki-laki yang umurnya antara 20 tahun dan 40 tahun, orang laki-laki “militair man-power” yang sanggup memikul bedil dan menanggung percobaannya peperangan. Inilah yang nanti akan menjadi “gudang serdadu” di negeri India yang tidak ada bandingannya kecuali “gudang serdadu” di negeri Tiongkok. Alangkah haibatnya tentara yang serdadu-serdadunya terambil dari gudang ini nanti!

 

Tetapi di sinilah justru saya menjumpai pertanyaan yang di muka tahadi itu: apakah kehaibatannya tentara, meskipun jumlah serdadunya milyun­-milyunan orang, kalau orang-orangnya itu tidak sampai hati membunuh nyamuk? Apakah gunanya jumlah milyunan orang itu kalau milyunan orang itu tiada “fighting quality”, tiada kesediaan berkelahi, tiada kesediaan membelah kepala musuh, tiada semangat harimau yang menerkam kepada musuh kalau musuh itu menyerang, dan kalau perlu menerkam pula kepada musuh, sebelum musuh itu menyerang lebih dulu?

 

Benar, – rakyat India adalah lebih senang damai dari rakyat-rakyat di negeri-negeri benua Barat. Dan katakanlah pula rakyat India rakyat yang segan membunuh nyamuk! Tetapi belumkah Tuan tahu dari sejarah dunia, bahwa rakyat-rakyat yang cinta damai itu sering-sering mampu juga berjoang mati-matian, manakala negerinya diserang, kemerdekaan­nya diserang, agamanya diserang? Rakyat-rakyat yang demikian itu ber­kelahinya karena suruhan batin, karena suruhan suci. Rakyat-­rakyat yang demikian itu mengambil kesediaan berhadap-hadapan muka dengan maut dari sumber-sumber yang moril, bukan dari sumber­-sumber yang p h i s i k.

Dan sumber-sumber r o k h a n i, bukan dari sumber-sumber badani. Dan sumber-sumber jiwa, bukan dari sumber-sumber raga. Maka justru senjata-senjata yang datangnya dari arsenalnya ruh dan jiwa itulah yang membuat tentara-tentara men­jadi tahan-mati, tak dapat dialahkan! Dan India adalah justru gudang­nya moril, gudangnya kekuatan moril. Alangkah haibatnya kekuatannya moril itu, kalau dilanggar orang!

 

Tetapi kecuali daripada itu, – apakah benar semua rakyat India itu “hati-kapuk”? Kita tokh sering membaca atau mendengar, bahwa di antara rakyat India yang 350.000.000 itu, adalah pula beberapa golongan yang tidak “hati-kapuk” dan tidak “mabuk damai”, tetapi justru terkenal sebagai “f i g h t i n g races” (golongan-golongan yang gemar berperang di antara rakyat India. Misalnya payah mencari tan­dingan kesediaan berperangnya bangsa Sikh, bangsa R a d j p u t, bangsa Pathan, bangsa M a h r a t t a di seluruh benua Eropah atau Amerika. Pemerintah Inggeris sendiri selalu mengambil serdadu-serdadunya dari golongan itu! Dan jumlahnya bangsa empat golongan itu sahaja su­dah … 100.000.000 orang, hampir dua kali jumlahnya bangsa Jerman atau bangsa Japan!

 

Tetapi Tuan barangkali masih menanya betapa “fighting qualitynya” serdadu India pada umumnya? Marilah saya sekali lagi “main sitat”. Marilah saya mengajak Tuan mendengarkan pendapat Lord Curzon, yang pernah menjadi Gubernur-Jenderal di India, dan yang pendapatnya terhadap kepada bangsa India tidak selamanya manis. Lord Curzon menga­takan, bahwa serdadu-serdadu India salah satu daripada tenaga-tenaga perjoangan yang paling bagus di seluruh dunia atau di dalam bahasa Ing­geris “one of the fighting forces in the world”. Begitu pula pendapat S i r Valentine Chirol, yang sudah pernah saya sitir juga di dalam tulisan saya yang terdahulu. Beliau berkata, bahwa “balatentara India adalah mempunyai narna yang baik sekali ditentang keberaniannya”, dan bahwa balatentara India. itu “satu mesin peperangan yang amat haibat” pula. Terutama sekali serdadu-serdadu bangsa Sikh adalah begitu cakap dan begitu berani, sehingga, menurut Sir Valentine Chirol itu Kaisar Jerman pernah berkata, bahwa merekalah satu-satunya tentara yang ia takuti mela­wannya dengan iapunya infanteri Jerman.

 

Dan barangkali Tuan ingin mendengarkan pendapat jenderal­jenderal, ahli-ahli militer dan bukan orang-orang sipil sahaja? Ambillah pendapat General Allenby. Beliau mengatakan, bahwa tidak ada serdadu-serdadu yang melebihi serdadu-serdadu India itu ditentang semua apa sahaja yang perlu buat bernama serdadu yang baik! Dan General Ian Hamilton berkata: “Di India Utara adalah material yang cukup baik, buat membikin masyarakat di Eropah bergoncang sampai kebatu-batu-asalnya.” General Hamilton inilah pula yang pernah mengatakan, bahwa di peperangan-peperangan yang serdadu­-serdadu Inggeris dan India bekerja bersama-sama, serdadu-serdadu India itu selalu lebih baik, lebih sungguh-sungguh, lebih berani daripada serdadu-serdadu Inggeris; Opsir-opsir Inggeris menga­kui juga hal ini, tetapi menurut General Hamilton itu, mereka “raha­siakan” hal itu, dan hanyalah membicarakan hal itu dengan “suara berbisik-bisik sahaja, serta nafas yang tertahan”!

 

Alangkah gelinya kita membaca keterangan General Hamilton yang belakangan ini! Melihat dan menyaksikan, bahwa serdadu-serdadu India lebih baik dan lebih berani daripada serdadu-serdadu Inggeris, tetapi merahasiakan apa yang dilihat dan dipersaksikan itu! Melihat dan menyaksikan, bahwa mereka lebih baik sebagai serdadu, tetapi membiarkan adanya alasan-alasan, bahwa rakyat India belum masak buat kemerdekaan, karena – belum layak menjadi serdadu! Padahal sebenarnya, zonder keterangannya General Hamilton itupun, zonder keterangannya General Allenby itupun, seluruh dunia tokh mengetahui juga prestasinya serdadu India di Vlaanderen di dalam perang dunia 1914-1918, mengetahui bahwa terutama merekalah yang berulang-ulang menghantam mundur serdadu­-serdadunya Wilhelm, mengetahui pula betapa di dalam peperangan anti-Hitler dan anti-Mussolini yang sekarang ini serdadu-serdadu India lagi yang besar jasanya pula, di Lybia dan di Abessinia, di Syria dan di Irak, sehingga premier Winston Churchill sendiri mengakui jasa-jasa mereka itu dengan pujian yang amat mulia.

 

Namun, belum habis pula saya ceritakan kepada Tuan alasan-alasan yang dipakai untuk mengganjel omongan India “belum masak” itu. Masih ada juga alasan yang mengatakan, bahwa serdadu-serdadu India yang di dalam peperangan begitu haibat serangan-serangannya dan perta­hanan itu, menjadi demikian itu karena pimpinan opsir Inggeris, karena geniusnya Inggeris. “British-made, British driven, British-controlled “, – itulah katanya sifat-sifat-hake­katnya kehaibatan divisi-divisi India itu!

 

Akh, barangkali memang benar begitu, sebab di dalam tentara-tentara yang dari India itu memang semua jabatan-jabatan opsir-tinggi dan opsir-setengah-tinggi di dalam tangannya bangsa Inggeris. Bangsa India hanyalah menjadi serdadu, kopral, sersan dan opsir-opsir rendahan saha­ja. Tetapi kalau benar dengan India sendiri tidak mampu mengadakan prestasi militer kalau tidak di bawah pimpinan opsir-opsir Inggeris, kalau benar kehaibatan tentara India itu hanya k a r e n a British-made, British-driven, British-controlled, – terangkanlah apa sebab dulu, di dalam peperangan-peperangan merebut India, tentara Inggeris sering dihantam mundur oleh tentara India, di bawah pimpinan panglima-panglima India? Terangkanlah apa sebab di dalam pemberontakan besar di dalam tahun 1867-1858 yang bernama The great Mutiny, tentara Inggeris hampir-hampir terpukul binasa, kalau tidak mendapat pertolongan dari bangsa Sikh yang masih setia kepadanya? Terangkanlah apa sebab tentara India, di bawah pimpinan jenderal-jenderal India, kapten-kapten India, sersan India, mampu menahan berhenti taufan-taufan praharanya tentara Iskandar Zulkarnain, sedang bangsa-bangsa lain tidak mampu menahannya? Terang­kanlah apa sebab S a m u d r a g u p t a,

raja dan panglima perang yang hidup dalam abad keempat Masehi oleh bangsa Inggeris sendiri disebutkan “The Indian Napoleon “? Terangkanlah apa sebab Sultan Akbar, —Akbar de Grote dari kerajaan Moghol itu, –  namanya tertulis di dalam buku sejarah bahasa Inggeris, bukan sahaja sebagai raja besar, ahli perundang-undangan besar, ahli kenegaraan besar, tetapi juga sebagai Jenderal yang besar pula? Terangkanlah apa sebab nama Sivadji, banteng jantannya sejarah Mahratta, sampai sekarang dikeramatkan orang di negeri Mahratta itu, dan sampai sekarang menjadi nyala apinya semangat Mahratta yang sangat militeristis itu? Terangkanlah itu semuanya lebih dulu, – baru kemudian orang boleh menuduh bangsa India hanya cakap berjoang kalau British-made, British-driven, British-controlled belaka!

 

Demikianlah jawaban yang pantas diberikan kepada fihak, yang mengatakan bahwa bangsa India hanya mampu menjadi serdadu, dan tidak mampu menjadi panglima, jenderal, opsir-atasan. Sejarah India di zaman dulu banyak menunjukkan panglima-panglima dan pemuka­-pemuka perang yang cakap dan haibat-haibat. Tidakkah besar kemung­kinan juga, bahwa rakyat India itu, bila sudah merdeka kembali, dapat juga menciptakan opsir-opsir modern dan jenderal-jenderal modern yang cakap-cakap dan haibat-haibat pula? Lebih-lebih dari dulu, maka ilmu kemiliteran sekarang adalah bersandar kepada ketajaman otak, – kepada intellect. Dulu boleh dikatakan cukup dengan keberanian sahaja, dulu siapa yang paling berani niscayalah yang paling menang. Dulu peperangan adalah terutama sekali pertandingan kelaki-lakian. Tetapi sekarang kelaki-lakian sahaja belum cukup. Sekarang peperang­an minta ketajaman ilmu, ketajaman perhitungan. Sekarang peperangan berarti mobilisasi daripada intellect. Tetapi tidakkah justru kesediaan intellect orang India itu telah terbukti dengan seterang-terang­nya di madrasah-madrasah India dan di madrasah-madrasah di negeri asing, dan diakui oleh orang-orang sebagai Sir Valentine Chirol, Sir Henry Cot­ton, Sir John Seeley, yang sudah saya sitir tempo hari itu?

 

Orang menuduh orang India tidak cakap ini, tidak cakap itu, tetapi orang tidak menyelidiki inti-intinya soal yang lebih dalam. Begitu juga adalah dua tuduhan lagi, yang menunjukkan orang tidak menyelidiki inti­-intinya soal yang lebih dalam itu.

 

Pertama orang menuduh India tak mampu mempertahankan negerinya dengan armada laut dan kedua orang mengatakan bahwa negeri India adalah satu negeri yang miskin  b a h a n- b a h a n.

 

Apa sebab orang menuduh India tak mampu mengadakan armada laut? Oleh karena sekarang orang India tidak banyak yang berlayar di laut. Tetapi orang lupa, atau orang tidak mengetahui, bahwa di zaman dulu rakyat India adalah salah satu rakyat pelayaran yang paling besar. Bukalah dulu buku sejarah kuno, dan orang akan menjumpai perahu-­perahu perniagaan dan perahu-perahu-kolonis India di pantai-pantai India-Belakang dan Malaka, di pantai-pantai Sumatera dan tanah Jawa, di pantai-pantai Japan dan tanah Tiongkok. Bukalah dulu buku sejarah kuno itu, dan orang akan melihat, bahwa kemunduran India di lapangan pelayaran barulah tigaratus empatratus tahun ini. Kalau dibandingkan nama India-kuno dan nama Japan-kuno ditentang hal pelayaran, maka jauh lebih tinggilah nama India-kuno itu. Namun, siapakah yang se­karang Akan menuduh Japan tidak mampu mengadakan armada laut? Siapakah sekarang tidak mengetahui bahwa Japan armadanya nomor tiga di seluruh dunia? Dan berapa milyun rakyat Japan, dan berapa milyun rakyat India! Kalau rakyat Japan yang dulu nama pelayarannya tidak begitu tinggi, yang jumlahnya penduduk hanya 60.000.000 orang, yang kekayaan harta-pusakanya hanya sederhana sahaja, di zaman sekarang mempunyai armada yang tidak ada bandingannya, kecuali armada Inggeris dan armada Amerika, –  betapakah pula dengan rakyat India yang jum­lah penduduknya enam kali rakyat Japan itu, yang kekayaannya bukan milyunan-milyunan rupee tetapi milyard-milyardan rupee, dan yang nama pelayarannya di zaman dulu ialah “one of the greatest sea-faring and ship­building nations of the world”!

 

Lagi pula, – perlukah India mempunyai armada laut yang amat haibat? Di dalam permulaan artikel saya ini telah saya terangkan, bahwa Lautan Hindia yang memeluk India di sebelah Selatan itu adalah begitu luas, begitu “kosong”, sehingga ia justru menjadi satu “natuurlijke barriere” yang haibat pula. Kans adanya serangan dari situ adalah kecil, kans itu adalah makin kecil manakala si musuh itu tahu, bahwa di daratan adalah menunggu satu tentara darat yang milyun-milyunan orang, lengkap dengan benteng-bentengnya dan sitadel-sitadelnya, dengan senapan-mesin dan kapal-udara. Kalau ada satu pengajaran yang musti diperhatikan daripada peperangan anti-Hitler sekarang ini, kalau ada satu pengajaran dari situ jail sesuai dengan soal serangan kepada India dari jurusan laut, maka pengajaran itu ialah: betapa sukarnya mengusir serdadu­-serdadu Jerman itu dari benua Eropah dengan satu armada laut sahaja.

Begitu pula maka pengalaman yang menyedihkan dari fihak Inggeris di dalam peperangan-dunia 1914-1918, tatkala armada Inggeris mau men­dobrak benteng Gallipoli, adalah memperkuat pengajaran yang saya sebutkan itu. India, India-Merdeka dengan tentara daratan yang modern dan milyun-milyunan, yang dilengkapi persenjataannya menurut kehen­daknya moderne strategie dan moderne taktiek, India-Merdeka yang demikian itu adalah tak dapat ditundukkan, tak dapat dipatahkan, teru­tama s e k a 1 i kalau hanya diserang dari jurusan laut sahaja!

 

Tinggal sekarang kita menyelidiki salah-benarnya perkataan, bahwa India kekurangan bahan-bahan. Perkataan ini adalah satu tuduhan yang kosong pula. India tidak miskin bahan-bahan. India adalah mempunyai bahan-bahan cukup, kecuali satu-dua sahaja. India pada iumumnya adalah lebih lengkap bahan-bahan daripada satu-persatunya negeri Eropah semua, kecuali negeri Rusia. India di dalam peperangan sekarang inipun menjadi salah satu gudang alat-perang bagi negeri Inggeris. India malahan sejak ada peperangan 1914-1918 itu dipersiapkan dan dileng­kapkan oleh Inggeris menjadi satu pusat “sleutel-industrie” buat keperluan peperangan yang sekarang, sebagai diterangkan oleh Pro­fessor B. K. S a r k a r di dalam iapunya tulisan “Die Entwicklung and weltwirtschaftliche Bedeutung des modernen Indian”.

 

Karena itu nyata tidak benar tuduhan kemiskinan bahan itu.

Dan kalau benar tiap-tiap negeri yang miskin bahan tidak dapat menjadi satu negeri militer, karena benar India tidak bisa mempunyai tenaga-pertahanan hanya karena i t u, (padahal India t i d a k miskin bahan), maka Japan yang nyata miskin bahan niscaya tidak bisa menjadi negeri militer. Maka Italia tidak bisa menjadi negeri militer, Turki tidak bisa menjadi negeri militer, Grik tidak bisa menjadi negeri militer, negeri Belanda tidak bisa menjadi negeri militer, oleh karena semuanya satu-persatu termasuk golongan negeri-negeri yang “miskin bahan”. Dan oleh karena negeri-negeri

yang saya sebutkan ini semuanya membuktikan bisa men­jadi negeri militer juga, – Turki sampai sekarang ditakuti oleh Hitler, Grik memberi laberakan haibat kepada Mussolini -, maka tidak masuk akal sama sekali tuduhan, bahwa India-Merdeka itu niscaya akan lemah, karena katanya sangat miskin bahan.

 

Tidak! Sebaliknya daripada lemah, maka saya yakin bahwa India­Merdeka akan kuat-maha-kuat posisinya! India-Merdeka malahan akan menjadi salah satu tunggak kesentausaannya benua Timur. India ­Merdeka akan tegak teguh-maha-teguh sebagai gunung Himalaya yang mencakar langit itu. Sebab India-Merdeka telah mengambil pelajaran dari sejarahnya sendiri, a p a s e b a b ia dulu kehilangan kemerdekaan­nya itu. Meskipun ia “berhati kapuk”, maka ia sanggup, sedia, mampu menyusun dan membangkitkan satu militair dan maritiem apparaat, yang menurut pendapat J. T. Sunderland akan “as formidable as Japan and far more “, yakni “sama haibatnya dengan Japan, dan malahan jauh lebih dari itu”.

 

Tidak banyak orang Eropah yang begitu mengenal negeri India, rakyat India, hati India, otak India, sebagai Mrs. Annie Besant yang telah wafat itu. Beliau sering disebutkan “Ibu” oleh rakyat India itu.

Tetapi justru beliau membantah pula “teori kapuk” yang tahadi itu. Beliaulah yang di dalam tahun 1927 berkata: “Berikanlah kepada bangsa India itu training militer yang sama dengan bangsa Inggeris, berikanlah kepadanya training yang sama, bukan sahaja di dalam infanteri tetapi juga di dalam artileri dan angkatan udara, dan berikanlah kepadanya opsir bangsa India yang telah masak, dari semua tingkatan, tingkatan yang paling rendah sampai tingkatan yang paling tinggi, dan India akan cakap mempertahankan diri sendiri dengan cara yang sama sempurnanya dengan bangsa manapun juga di muka bumi ini. Jenderal-jenderal Inggeris sendiri mengakui, bahwa tidak adalah serdadu yang lebih gagah berani dan lebih eficient daripada serdadu-serdadu bangsa India.”

 

Demikianlah pendapat Annie Besant, pengenal India itu. Sebenarnya cukuplah pendapat Annie Besant itu buat menjadi penguncinya tulisan saya ini. Di dalam tulisan saya ini saya tidak mensitir ucapannya pemim­pin-pemimpin bangsa India sendiri. Tetapi sebagai penutup baiklah saya membuat perkecualian satu kali. Pada waktu membuka sidangnya Indian National Congress di dalam tahun 1926, maka presidennya, SrinivasaIyengar, adalah antara lain-lain berkata:

 

“Sama sekali tidak ada kebenaran faham, bahwa India, manakala merdeka, tak mampu mempertahankan diri dengan mengadakan satu ten­tara yang cukup kuat, dan kalau perlu, dengan satu armada yang kuat pula. Bangsa India, – baik Hindu maupun Islam -, di dalam zaman dulu telah menyusun dan memimpin tentara-tentara dengan sukses yang sangat haibat. Dan selamanya adalah cukup semangat kemiliteran pada mereka itu. Bukan sahaja mereka itu gemar pengalaman di tanah daratan, tetapi jugalah mereka satu bangsa penggemar pengalaman di atas lautan, dengan mempunyai tanah-tanah-jajahan yang terbesar di mana-mana, armada laut buat mempertahankan tanah-tanahnya jajahan itu. India kalau sudah merdeka, dapat dan pasti membangun dan memelihara satu tentara dan satu armada yang menurut kehendaknya zaman modern. Japan telah berbuat begitu, India-pun akan berbuat begitu pula. Hal ini tidaklah lain dari soal uang dan soal training. Berilah kemerdekaan kepadanya, dan apa yang bangsa-bangsa lain telah perbuat dan sedang perbuat dapat dan pasti akan diperbuat olehnya juga!”

 

Demikianlah suara laki-laki yang keluar dari dadanya rakyat India itu. Suara laki-laki yang mengagumkan, dan kita sambut dengan hati yang kagum pula. Tiap-tiap suara laki-laki, tiap-tiap tindakan laki-laki, adalah sebenarnya datang dari Ilham Ilahi, Ilham-kuasa dari Yang Maha Kuasa.

 

Ilham Ilahi itu telah masuk dan menyala dan berkobar-kobar di dalam dadanya rakyat India itu.

 

Alangkah bahagianya rakyat yang telah kedudukan Ilham yang demikian itu!

 

“Pemandangan”, 1941

 

 

 

 

 

Iklan