FASISME ADALAH POLITIKNYA DAN SEPAK TERJANGNYA KAPITALISME YANG MENURUN

FASISME ADALAH POLITIKNYA DAN SEPAK TERJANGNYA KAPITALISME YANG MENURUN

Orang yang cinta fasisme adalah orang yang jiwanya zalim.

Beberapa permintaan sudah sampai kepada saya, supaya menerangkan lebih jelas lagi kalimat yang tertulis di atas itu.

Rupanya saya punya karangan “Beratnya Perjoangan Melawan Fasisme” menarik perhatian orang. Hanya sahaja, ternyata masih ada beberapa bagian di dalam karangan itu, yang orang belum mengerti betul dan minta dijelaskan lagi: terutama sekali kalimat-kalimat yang; mengan­dung di dalamnya kata-kata “kapitalisme yang menaik” dan “kapitalisme menurun “, (kapitalisme “im Aufstieg”, dan kapitalisme “im Nieder­gang”).

 

Apakah itu, – kapitalisme yang menaik, dan kapitalisme yang menurun? Bagaimanakah keterangan karangan itu kalimat yang berbunyi bahwa fasisme adalah politiknya dan sepak-terjangnya kapitalisme yang menurun?

 

Marilah coba saya terangkan dengan cara yang populer. Tetapi alangkah sukarnya! Sukar menerangkan satu soal yang sulit-rumit, dengan cara populer! Tetapi marilah saya coba. Memang saya punya kesenang­an, saya punya kegemaran, dan barangkali juga saya punya pembawaan diri, ialah selalu mencoba m e m p o p u l e r k a n soal-soal. Buat apa saya menulis karangan-karangan di surat-surat khabar-harian, bergembar-gem­bor di atas podium, “memberi penerangan” kepada umum, kalau saya tidak menulis atau berpidato dengan cara yang dimengerti orang? Saya merasa sangat puas, kalau tulisan-tulisan saya, pidato-pidato saya dimengerti orang. Karena itu saya minta kepada Tuan-tuan: manakala karangan­-karangan saya di “Pemandangan” ini menurut hemat, Tuan-tuan masih kurang populer, kurang mudah dimengertinya, kurang “angler” dibacanya, manakala ada di antara Tuan-tuan itu yang merasa seperti “buntu pikiran” pada waktu membaca tulisan-tulisan saya itu, – tegorlah saya, lajangkan-lah kartupos kepada saya dengan permintaan mempopuler-kan lagi tulisan-tulisan saya itu. Kartupos-kartupos yang demikian itu akan saya anggap sebagai petunjuk yang berharga, yang di atasnya saya mengucap diperbanyak terima kasih.

 

Sekarang, marilah kita mulai meninjau soal fasisme itu.

Tuan-tuan tentu masih ingat kalimat saya yang berbunyi:

“Kapitalisme yang menaik melahirkan liberalisme dan parlementaire democratie, kapitalisme yang menurun melahirkan faham monopoli dan fascistische dictatuur.”

 

Apakah arti kapitalisme yang menaik, dan kapitalisme yang menurun? Kapitalisme memang mengalami zaman menaik dan mengalami zaman menurun. Kapitalisme ada yang subur-tumbuhnya sebagai jejaka yang muda-remaja dan gagah-perkasa dan ada yang sakit-sakitan seperti orang yang sudah umur tua. Kapitalisme yang menaik adalah penuh dengan kesuburan, penuh dengan kesehatan, penuh “vitaliteit”, tetapi kapitalisme yang menurun adalah penuh penyakit-penyakit dan tanda-tanda-keripuhan. Ia tidak lagi sehat, tidak lagi subur, banyak cacat-cacat ketuaan, kurang “vitaliteit”. Ia adalah kapitalisme yang kita alamkan di zaman sekarang ini.

 

Agar saudara pembaca lekas mengerti apa yang saya maksudkan, bandingkanlah kapitalisme zaman sekarang itu dengan kapitalisme sebelum peperangan-dunia 1914-1918. Tidakkah mudah terlihat perbedaan “ke­sehatan” padanya? Pada umumnya bolehlah dikatakan, bahwa kapitalisme sebelum peperangan-dunia itu adalah memperlihatkan garis menaik, garis subur, garis “mekar”, sedang kapitalisme sesudah peperangan-dunia itu adalah kelihatan “ripuh” atau “sakit-sakitan” sahaja.

 

Apakah penyakit kapitalisme itu? Penyakit itu ialah krisis. Kita bisa menamakan krisis itu dengan perkataan malaise. Di dalam masa sebelas tahun sahaja sesudah peperangan-dunia itu, kita mengalami dua krisis yang maha-haibat: pertama di dalam tahun 1921, dan kedua tahun 1929 sampai beberapa tahun lamanya. Penyakit krisis ini selalu menyerang tubuh kapitalisme itu. Maka mampu atau tidaknya kapitalisme itu “me­nyembuhkan diri kembali” dari pukulan-pukulannya krisis itu, – itulah yang terutama sekali menjadi ukuran ia cukup “vitaliteit” atau tidak cukup “vitaliteit”, ia “menaik” atau ia “menurun”. Kapitalisme yang sehat, yang menaik, kalau kena pukulan krisis, dapatlah ia mengalahkan krisis itu buat sementara waktu. Tetapi kapitalisme yang telah menurun, menderita krisis itu seperti orang tua yang terserang penyakit haibat. Ia deritakan krisis itu dengan deritaan yang pedih sekali dan lama sekali, ia susah mendapat kembali kesehatannya yang sediakala. Ia seperti tidak ada daya-daya-penyembuh lagi, yang dapat mematikan kuman-kuman penjakit­nya itu dengan segera dan effectief.

 

Krisis memang satu penyakit yang selalu “mengintai” kapitalisme disepanjang perjalanannya. Sebagai satu bayangan, ia selalu ikuti kapitalisme itu. Ia memang satu penyakit yang tidak dapat dielakkan di dalam stelsel kapitalisme itu, oleh karena akar-akarnya memang ter- kandung di dalam stelsel kapitalisme itu. Tetapi satu kapitalisme yang masih muda dan menaik, senantiasa dapatlah “hidup-kembali” dari pukulan-pukulannya krisis itu. Benar krisis itu satu penyakit, benar ia selalu merusak, tetapi di dalam kapitalisme yang menaik, krisis itu tidak terlalu amat lama menyerangnya, dan jarak-waktu antara satu krisis dengan lain krisispun tidak terlalu amat rapat. Di dalam kapitalisme yang menaik, krisis segeralah dapat disembuhkan, diikuti lagi dengan satu masa “sehat” yang segala-galanya kapitalisme itu subur kembali dan segar kembali: dagang, industri, bankwezen, perhubungan internasional, semua itu subur kembali dengan penuh vitaliteit, membawakan laba yang ribuan dan milyunan. Di dalam kapitalisme yang menaik, segeralah krisis dapat diikuti lagi dengan masa yang paberik-paberik berdentam mesin-mesinnya, pelabuhan-pelabuhan padat dengan kapal-kapal yang keluar-masuk, per­dagangan giat sibuk gegap-gempitanya.

 

Sudahkah pernah pembaca mendengar kata conjunctuur? Masa kesuburan inilah yang dinamakan conjunctuur ! Sesudah krisis, datanglah conjunctuur. Di dalam kapitalisme yang sedang menaik, maka krisis tidak terlalu haibat dan tidak terlalu sering, tetapi lekaslah diikuti lagi oleh masa conjunctuur!

 

Tetapi tidak begitu di dalam kapitalisme yang telah menurun. Segala kelemahannya tubuh yang telah tua menjelma kepada kapitalisme yang telah menurun itu. Padanya pukulan krisis senantiasalah haibat dan pedih. Padanya krisis adalah satu azab yang maha-berat, dan padanya krisis itu lekas sekali diikuti oleh krisis yang baru. Krisis yang satu belum sembuh sama sekali, sudah datanglah menimpa krisis yang baharu. Habis krisis tidak timbul satu masa conjunctuur yang subur dan panjang waktu. Masyarakat seakan-akan tidak mempunyai tenaga lagi buat sembuh sama sekali dari pukulannya krisis itu. “Kesembuhan” yang ia capai sesudah krisis, bukanlah kesembuhan yang sempurna, tetapi kesembuhan yang masih sakit-sakitan sahaja. Meskipun sudah datang lagi “conjunctuur”, maka masih adalah crisisresten (sisa-sisa-krisis) yang menempel kepadanya. Segala daya-upayanya buat membangunkan kembali conjunctuur yang 100% conjunctuur, tetaplah sia-sia. Bahkan belum pula daya-upaya ini berhasil, sudah datanglah lagi menimpa satu krisis yang baru, yang haibat, lebih lama, lebih mendalam, lebih melemahkan lagi sekujur tubuhnya. Misal­nya krisis dari tahun 1921 belum sembuh sama sekali, conjunctuur yang mengikutinya belum conjunctuur sama sekali, sudahlah datang krisis tahun 1929 yang maha-dahsyat dan maha-seru.

 

Satu, dua, tiga, empat, lima tahun krisis ini menggelapkan sama sekali udaranya kapitalisme, – bukan sahaja di Amerika dan Eropah, tetapi sampai ke tiap-tiap lobang di muka bumi. Adakah kini agak terang bagi pembaca perbedaan antara kapitalisme sebelum perang dunia itu, dengan kapitalisme yang kemudian? Kalau kita ambil perang dunia itu sebagai batas, maka tampaklah garis perbedaan itu. Sebelum perang dunia itu, kapitalisme adalah menaik, gagah perkasa, penuh vitaliteit; sesudah perang dunia itu, kapitalisme adalah menurun, sakit-sakitan, ripuh, kurang vitaliteit. Garis kapitalisme-modern sejak pertengahan abad kesembilanbelas sampai perang dunia itu, adalah garisnya kenaikan, garisnya “Aufstieg”; tetapi kemudian daripada itu garis itu adalah garis yang menurun, garisnya “Niedergang”.

Tetapi adalah satu hal yang Tuan-tuan harus ingatkan: Janganlah Tuan-tuan mengira, bahwa s e b e l u m perang dunia itu kapitalisme belum mulai menurun! Apakah pada hakekatnya peperangan 1914-1918 itu? Ia justru adalah satu a k i b a t dari garis yang sudah mulai m e n u r u n itu! Ia bukan terjadi karena misalnya Groothertog Frans Ferdinand ditembak orang di Serajewo, ia adalah “krisis” di dalam satu garis yang telah “mengerisis” lebih dulu. Ia bahkan terjadi di dalam garis ekonomi internasional yang telah mulai menurun dan kocar-kacir. Ia satu “letusan” dari tabrakannya tenaga-tenaga yang bersaing-saingan di dalam ekonomi internasional yang sudah kocar-kacir.

 

Sebab, apakah salah satu obat buat mengobati ekonomi kapitalisme yang kocar-kacir? Obat ini ialah pasar-pasar baru, tempat-tempat penjualan-barang baru, afzetgebieden baru. Maka tabrakan-tabrakannya tenaga-tenaga yang bersaing-saingan merebut dan menguasai pasar-pasar baru inilah yang akhirnya meletus-keluar menjadi tabrakannya tentara dengan tentara, meriam dengan meriam, armada dengan armada. Siapa dapat mencarikan pasar-pasar baru buat mengobati ekonomi kapi­talisme yang kocar-kacir, dan apakah daya-upaya kalau pasar-pasar itu tidak dapat diperoleh dengan jalan-jalan yang biasa? Kalau jalan­-jalan biasa dihalang-halangi oleh orang lain, maka jalan-jalan yang “luar biasa” harus ditempuh. Maka staatspolitiek yang tahadinya berbicara dengan mulut biasa itu, kini menjadilah berbicara dengan mulut senapan dan mulut meriam. Peperangan, menurut Clausewitz, tidaklah lain dari penerusannya staatspolitiek “dengan jalan-jalan lain”, – oorlog is niets anders dan de voortzetting van de staatspolitiek “met anciere middelen”!

 

Dan sesudah peperangan 1914-1918 itu berakhir, – adakah kapitalisme sembuh kembali, adakah “spanningen” yang menyebabkan peperangan itu tidak berakhir pula? Kita mengetahui, spanningen itu tidak berakhir, malahan makin bertambah pula. Dan kapitalisme tidak sembuh kembali benar-benar, tetapi malahan makin sakit, makin menurun. Sebentar ia seperti sembuh, seperti tidak mengandung penyakit-penyakit di bawah kulit, seperti mengalami conjunctuur yang benar-benar conjunctuur, tetapi, belum makmur pula kembali padang-padang-peperangan di Vlaanderen dan Perancis-Utara dan Rusia-Barat yang gundul itu sudah datang lagi, krisis-krisis dari tahun 1921 dan 1929 yang maha-haibat dan maha-seru!

 

Benarkah kata orang, bahwa bertambahnya kesakitan kapitalisme ini ialah oleh karena peperangan 1914-1918 itu? Pada hakekatnya tidak! Sebab umpama benar begitu, kenapa kapitalisme tidak makin sembuh manakala ia makin jauh dari tahun-tahun 1914-1918 itu? Kenapa kapitalisme tetap sakit, bahkan mak in sakit, pada masa-masa yang ia makin jauh dari tahun 1918 itu? Bukan dua tiga tahun, tetapi sebelas, duabelas, tigabelas tahun sesudah 1918 itu ia malahan mengalamkan krisis-maha­krisis yang kehaibatannya seumur-hidup ia belum mengalamkan! Sebelas tahun sesudah peperangan itu, ia buat beberapa tahun lamanya menderita pukulannya krisis, yang kerasnya, lamanya, luasnya, pedihnya, merusaknya belum pernah ada bandingannya di seluruh sejarah peri-kemanusiaan. Belum pernah merosot produksi seperti di dalam krisis 1920-1923 itu. Belum pernah perdagangan internasional hampir mati samasekali, seperti di dalam krisis ini. Belum pernah jumlahnya kaum werkloos begitu naik menyundul langit, seperti di dalam krisis ini. Belum pernah begitu banyak perusahaan-perusahaan gulung-tikar, seperti di dalam krisis ini. Dan itu semuanya apa sebab? Sebabnya ialah, bahwa krisis 1929 itu bukan lagi satu “gangguan”, satu “interruptie”, satu “tijdelijke inzinking” daripada satu kapitalisme yang sedang menaik, (seperti krisis-krisis di dalam abad kesembilanbelas dan di permulaannya abad keduapuluh), -tetapi ialah penutupannya satu “conjunctuur” yang di dalamnya telah mengan­dung zat-zatnya penurunan dan sifat-sifatnya penurunan.

 

Saudara-saudara pembaca barangkali telah pernah mendengar per­kataan rasionalisasi. Ia adalah buah pemutaran otaknya kaum insinyur dan kaum perusahaan buat mengadakan sesuatu hasil dengan sedikit mungkin tenaga-manusia dan kapital. Ia adalah satu barang baik, di dalam satu masyarakat yang baik. Tetapi rasionalisasi yang kita bica­rakan sekarang ini tidaklah timbul di dalam masyarakat yang baik. Ia timbul di dalam masyarakat yang cilaka, dan menimbulkan kecilakaan pula. Sebab, apakah yang kita lihat di zaman menurunnya kapitalisme itu? Otaknya insinyur-insinyur dan bedrijfsleider-bedrijfsleider berputar keras buat memerangi penurunan itu, dan hasilnya pemutaran otak itu ialah rasionalisasi; di mana-mana orang ikhtiarkan rasionalisasi ikhtiar­kan, supaya hasil pekerjaan manusia bertambah. Susunan bedrijf, mesin-mesin, pembahagian kerja, pembahagian waktu, pemasakan bahan-bahan, -semuanya dirasionalisasikan oleh insinyur-insinyur dan bedrijfsleider-bedrijfsleider itu, supaya productiviteit-nya pekerjaan ma­nusia makin bertambah, makin meninggi, makin menaik. Apa sebab? Tak lain tak bukan, oleh karena p e r s a i n g a n di dalam udara-keturunan yang amat sempit itu, makin sengit, makin haibat. Persaingan yang makin sengit dan makin haibat inilah yang memaksa kepada insinyur-insinyur dan bedrijfsleider-bedrijfsleider itu, supaya mencari ikhtiar dan daya-upaya yang pekerjaan yang misalnya dulu dikerjakan oleh lima orang, kini dapat dikerjakan oleh satu-dua orang sahaja.

 

Tetapi tiap-tiap orang tentu mengetahui atau mengerti, bahwa rasionalisasi ini hanyalah dapat menjadi berkah bagi kapitalisme, kalau dibarengi dengan bertambahnya pasar, yang membeli barang-barang hasilnya rasionalisasi itu! Apakah akibat penambahan pro­ductiviteit pekerjaan manusia, kalau tidak dibarengi dengan penambahan productiviteit itu? Yang musti menelan hasilnya penambahan? Akibat yang paling pertama ialah bertambahnya p e n g a n g g u r a n, bertambah­nya werkloosheid. Ribuan, ketian, milyunan kaum buruh menjadi werkloos karena rasionalisasi itu, terlempar ke dalam sarnpahnya kemis­kinan, oleh karena pasar-pasar yang a d a, sudah cukuplah “diladeni” oleh

satu jumlah kaum buruh yang kurang daripada dahulu.

 

Dan meskipun kapitalisme ingin, menambah produksinya, ingin melipat-lipat-gandakan produksinya, – ia tak dapat mengalahkan conjunctuur besar-besaran kembali, tak dapat memaksakan adanya conjunctuur besar-­besaran itu. Justru di negeri-negeri yang paling haibat produksinya itu, di situlah paling haibat pula jumlah kaum buruh yang tidak mendapat pekerjaan! Di Amerika, di Inggeris,

di Jerman jumlah itu adalah bermilyun-milyun! Dan perhatikan: jumlah-jumlah milyun-milyunan ini bukan jumlah kaum penganggur di waktu k r i s i s, tetapi jumlah kaum penganggur

di waktu “Conjunctuur”! Bukan jumlah di waktu “meleset”, tetapi jumlah di waktu “laris”! Dan malahan jumlah kaum penganggur

di waktu conjunctuur sesudah perang dunia itu, adalah berlipat-ganda l e b i h b e s a r daripada jumlah katun penganggur di waktu k r i s i s sebelum peperangan itu.

 

Itulah salah satu tanda niedergang! Tanda kapitalisme telah menurun. Tanda satu kesakitan terus-menerus, yang susah diobati dan disembuhkan. Tanda kapitalisme telah “jompo”, telah “lapuk”, telah “ripuh”. Tanda bahwa alam kapitalisme yang menyuburi kapitalisme itu, kini telah men­dialektik menjadi satu alam yang menutup nafas kapitalisme itu. Dan supaya pembaca-pembaca lebih terang lagi melihat perbedaan-perbedaan­nya kenaikan dan penurunan itu, – marilah kita membuat satu ikhtisar dari tanda-tanda kenaikan dan penurunan itu.

 

Perhatikan dan bandingkanlah!

Sebelum perang dunia, maka jumlah produksi selalu naik dengan pesat sekali. Tetapi sesudah perang dunia, maka jumlah produksi itu, meski di waktu conjunctuur-pun, tidak begitu naik.

 

Sebelum perang dunia, maka productiviteit-nya pekerjaan manusia naik dengan cara sedang-sedang sahaja. Tetapi sesudah perang dunia itu, maka, dengan jalan rasionalisasi, productiviteit-nya pekerjaan ma­nusia itu dipaksakan menjadi naik dengan cara yang amat cepat sekali.

 

Sebelum perang dunia, terutama sekali di bahagian kedua dari abad kesembilanbelas, maka pasar-pasar-dunia sangat luaslah bertambahnya, yakni dengan bertambahnya koloni-koloni di sana-sini. Tetapi sesudah perang dunia itu, maka hampir tidak adalah lagi tambahnya koloni-koloni, bahkan boleh dikatakan dunia telah habis sama sekali terbagi-bagi.

 

Sebelum perang dunia, maka perhubungan-perhubungan ekonomi internasional sangatlah giat dan pesatnya. Tetapi sesudah perang dunia itu perhubungan-perhubungan makin kurang, bahkan tiap-tiap negeri mengurung diri sendiri dengan tembok-tembok bea yang maha-tinggi.

 

Sebelum perang dunia, maka harga barang-barang yang diperdagangkan, ratusan, ribuan, milyunan rupiah. Tetapi sesudah perang dunia meski di waktu conjunctuur-pun, harga ini l e b i h

r e n d a h dari harga di permulaan abad yang sekarang.

 

Sebelum perang dunia, maka jumlah kaum buruh yang dikerjakan adalah senantiasa naik. Tetapi sesudah perang dunia, maka jumlah ini boleh dikatakan tidak naik samasekali, bahkan ada yang t u r u n meski­pun di waktu conjunctuur.

 

Sebelum perang dunia, maka jumlah kaum penganggur di waktu conjunctuur adalah amat kecil sekali, dan di waktu krisis tidak adalah satu negeri yang jumlah kaum penganggurnya meliwati satu milyun. Tetapi sesudah perang dunia, meskipun di waktu conjunctuur, jumlah kaum penganggur itu jauh meliwati satu milyun dan malahan jauh melebihi jumlah kaum penganggur disesuatu krisis sebelum peperangan!

 

Sebelum perang dunia, maka krisis-krisis yang mengganggu kapital­isme itu tidaklah merusak garis kenaikan kapitalisme itu; sebelum perang dunia itu, maka boleh dikatakan conjunctuur adalah keadaan yang normal, sedang krisis hanyalah gangguan-gangguan-sementara sahaja. Tetapi sesudah perang dunia itu, maka boleh dikatakan tidak ada lagi conjunctuur yang sebenar-benarnya conjunctuur. Sesudah perang dunia itu, krisislah yang “normal”. Conjunctuur menjadilah satu hal yang “luar biasa”, krisis menjadilah satu hal yang “biasa”. Con­junctuur menjadi satu perkecualian; krisis menjadi satu barang sehari­-hari, satu barang tetap, satu barang permanen.

 

Pendek kata: sebelum perang dunia, maka garis kapitalisme nyatalah garis kenaikan, garisnya opgang; tetapi sesudah perang dunia, garis itu menjadi garis menurun, garisnya niedergang. Dan itupun dengan diper­ingatkan, bahwa garis menurun itu sudah mulai   s  e b e 1 u m perang dunia itu, dan malahan, bahwa perang dunia itu adalah akibat dari penurunan yang sudah mulai itu.

 

Demikianlah gambarnya garis penurunan itu. Mengertikah Tuan sekarang, apa sebab krisis 1929, yang jatuhnya tepat pada masa penurunan itu, haibatnya meliwat-liwati batas? Laksana hantaman penyakit-penyakit ­baru kepada seorang yang memang sedang di dalam sakit, maka hantaman krisis 1929 itu melemahkan sama sekalilah pada tubuhnya kapitalisme yang sejak permulaannya abad keduapuluh memang sudah di dalam sakit itu. Wereldindustrie, wereldhandel, wereldbankwezen, wereldscheepvaart, semuanya menjadi kocar-kacirlah sama sekali buat bertahun-tahun lamanya. Semuanya itu mendapat kebencanaan yang begitu rupa, sehingga surat khabar “Times” (surat khabarnya kaum modal) di dalam tahun 1937, yakni lama sesudah krisis itu telah berakhir, masih girap-girapen sahaja, dan memberi peringatan yang berbunyi: “Peradaban modern tak akan dapat memikul satu krisis baru, atau satu peperangan baru. Baik yang satu ataupun yang lain, akan mematahkan dia sama sekali.”

 

Apa sebab surat-surat-khabarnya kaum modal ini berkata begitu?

Oleh karena ia mengerti, bahwa kapitalisme zaman sekarang ini sudah sedang menurun! Kalau datang satu krisis lagi, kalau datang satu hantaman lagi, maka hantaman itu tidak lagi kenal ampun! Kalau datang satu hantaman lagi, niscaya meledaklah bangun pula semua tenaga-tenaga yang akan membinasakan kapitalisme itu sama sekali!

 

Sebab, bukan sahaja kapitalisme itu kini sakit, iapun duduk di atas gunung-api! Permanente werkloosheid yang telah ia bangunkan itu, menambahlah haibatnya ketegangan sosial di dalam masyarakat, mengenai udara masyarakat itu dengan listriknya halilintar dan geledek revolusi sosial. Pengangguran permanen itu mengisi udara dengan hawa-panasnya hati yang dendam, dan merendahkan upah-upahnya kaum buruh yang di­kerjakan. Dan apa akibat turunnya upah ini? Kemampuan membeli di pasar-dalam-negeri merosotlah ke bawah: kemampuan membeli itu menjadi minimal, sedang pasar-di luar-negeri sukar sekali dicari bertam­bahnya. Dan apa akibat dari merosotnya kemampuan membeli serta sukarnya mencari pasar-pasar baru itu? Akibatnya ialah, bahwa produksi terpaksa dikurangi, dan pengangguran bertambah-tambah lagi! Yang satu berakibat yang lain, yang lain berakibat yang satu. Kapitalisme berputar di dalam satu putaran cilaka, berputar di dalam satu vicieuze cirkel, yang tidak dapat lagi melepaskan did daripadanya.

 

Sungguh takjub kita, kalau melihat garis perjalanan-hidupnya kapitalisme itu! Di dalam iapunya opgang, di dalam iapunya kenaikan, maka ia membangunkan ekonomi dunia. Ia langkahi garis-garis-batasnya kenege­rian dan kedaerahan, iapunya tangan-tangan melancar kemana-mana me­langkahi negeri dan benua dan samodra. Tetapi di dalam iapunya keturunan, di dalam iapunya niedergang, ia berangsur-binasakan lagi ekonomi dunia itu. Berangsur-angsur ia melemahkan perniagaan dunia, produksi dunia, pener­bangan dunia, pelayaran dunia. Dialektiknya keadaan telah menerkam kepadanya. Dengan cara-cara yang biasa, ia sukar ditegakkan terus. Ketegangan-ketegangan sosial memberontak kepadanya, tenaga-tenaga produksi memberontak kepadanya. Memberontak kepada batas-batas yang menjadi terlalu sempit dan terlalu mengikat kepadanya.

 

Apa daya sekarang? Badannya sendiri telah amoh, tenaga-tenaga produksinya sendiri telah memberontak kepadanya, kaum ‘ buruh seperti satu lautan yang mendidih. Apa daya sekarang? Tidak ada lain daya, melainkan dayanya k e k e r a s a n ! Di dalam iapunya opgang, tatkala ia masih bersenang-senang menaik dengan conjunctuur merdeka, tatkala semua barang sesuatu adalah lapang dan luas, di dalam iapunya opgang itu ia di dalam lapangan ekonomi adalah liberal, dan di dalam lapangan politikpun liberal pula.

Di dalam iapunya opgang itu, iapunya “sistim” ialah economisch en politiek liberalisme: konkurensi m e r d e k a, demokrasi parlementer, dan negara tidak boleh cam­pur-campur tangan, melainkan menjaga keamanan sahaja serta mengerjakan putusan-putusannya sahaja.

 

Tetapi di dalam iapunya neergang, keadaan adalah genting! Konkurensi merdeka memang tak perlu lagi, karena sudah lama kapitalisme bersifat “monopoli”. Konkurensi merdeka tak perlu lagi, karena sudah lama produksi dan perdagangan sudah habis “dikonkurensikan”: hanya badan-­badan-raksasa sahajalah yang tinggal hidup merdeka, – yang lain-lain yang kecil-kecil, sudahlah menjadi “penyambung-tangan”, alat-alat, per­kakas-perkakas, dari badan-badan-raksasa itu semata-mata. Karena itu maka, politik liberalismepun tidak perlu dipakai lagi: Parlementaire democratie menjadi satu barang yang “kolot”, dan negara, – negara yang tahadinya tidak boleh campur tangan dalam economische activiteithya kapi­talisme itu, – negara itu kini harus ikut campur tangan! Negara itu kini harus menjadi satu pusat-kekuasaan yang mendiktekan tindakan-tindakan yang perlu buat menolak kerubuhannya kapitalisme itu, – dijadikan “polisi” penjaga keadaan yang amat genting itu. Negara itu, yang dulu dialaskan kepada permufakatan dan permusyawaratan, kini dialaskanlah kepada geweld, kekerasan, perkosaan, teror. Negara itu kini dijelmakan di dalam dirinya seorang diktator, yang mendiktekan segala tindakan penjagaan, penjagaan penguasaan tenaga-tenaga produksi yang memberontak itu, penjagaan penguasaan kaum buruh yang mau melawan itu, penjagaan menyusun tenaga pemecahkan belenggu kesem­pitannya pasar-dunia, penjagaan penegakan tembok-tembok-bea yang maha-tinggi, – pendek kata penjagaan penyelamatan kapitalisme monopool itu dari kebinasaan yang sama sekali.

 

Inilah inti-intinya fasisme. Inilah inti-intinya perkataan Carl Steuermann yang saya sitir tempo hari, bahwa fasisme adalah satu “laatste reddingspoging”, satu “pembelaan yang penghabisan” daripada kapitalisme di dalam iapunya niedergang. Apakah dus fasisme itu? Jadi fasisme sebenarnya adalah satu kontra-revolusi yang diadakan oleh kaum monopool-kapitalisme dizamannya penurunan. Haibatnya ketegangan­-ketegangan yang saya gambarkan di muka tahadi, – ketegangan-ketegangan yang sejak peperangan 1914-1918 tidak berkurang bahkan ber t a m b a h ! -, haibatnya spanningen itu bukan sahaja membangkitkan atau memungkinkan revolusi dari bawah, tetapi jugalah membangkitkan kontra-revolusi dari atas! Kontra-revolusi itu ialah fasisme. Kontra-revolusi itulah pentung dan cambuk Hitler, Mussolini, Franco. Kontra-revolusi itulah yang kini menang di Jerman, di Italia, di Sepanyol, di beberapa negeri kecil yang lain-lain.

 

Ya, itulah masih perlu saya terangkan pula! Kenapa tidak juga di Inggeris, tidak juga di Amerika? Tokh di sana ada juga nedergang? Tokh disana ada juga kegentingan posisi kapitalisme? Benar begitu! Tetapi di sana keadaan kapitalisme belum begitu g e n t i n g seperti misal­nya di Jerman, di mana kegentingan itu benar-benar menjadi satu hal mati atau hidup, satu hal “op leven en dood”. Kita semua mengenal naiknya kapitalisme Jerman itu di zaman sebelum peperangan 1914-1918. Di Eropah tidak adalah satu negeri, di mana kenaikan kapi­talisme itu begitu pesat seperti di Jerman. Cobalah perhatikan: diper­tengahan abad kesembilanbelas, industri Jerman boleh dikatakan “belum apa-apa”. Pada waktu itu Inggerislah yang duduk di puncak industrialisme. Pada waktu itu Inggeris-lah yang bernama “the workshop of the world”, – bengkel bagi seluruh dunia, yang membuat semua barang-barang perkakas dan mesin-mesin bagi seluruh dunia. Tetapi Jerman belum apa-apa. Kemudian bangunlah industrialisme Jerman itu. Ia meluas, mekar, menghaibat, membubung keudara. Di dalam tempo setengah abad saha­ja, ia mekar tujuh kali lipat ganda! Di dalam tempo setengah abad itu juga Inggeris cuma mekar t i g a kali lipat ganda. Pada per­mulaan abad keduapuluh Jerman sudah memukul Inggeris ditentang produksi industrialisme itu. “Made in England” terpukullah oleh “made in Germany”, atau setidak-tidaknya terancamlah kedudukannya oleh “made in Germany”.

 

Dua raksasa industrialisme mulai bersaingan haibat satu sama lain, mulai berjoang satu sama lain di belakang kelirnya sejarah dan di muka kelirnya sejarah. Jerman punya industri mekar, mekar, mekar, – te­tapi … pasar-dunia sukar mekar baginya, sebagai telah, saya terangkan di muka tahadi. Industri produksinya mekar, tetapi afzetnya industriele productie itu tidak mekar secepat itu. Inggeris cukup banyak iapunya pasar. Inggeris mempunyai tanah-tanah-jajahan. Inggeris punya tanah-­tanah-dominion yang menelan industriele productie itu; produksi industri itu dapat ia ekspor ketanah-tanah-jajahan dan dominions itu. Tetapi Jerman! Iapunya tanah-tanah-jajahan yang paling berarti, yaitu di Afrika Timur, di Kamerun, hanya dapat menelan … 0,5% sahaja dari iapunya uitvoer! Iapunya tanah-tanah-jajahan semuanya, di Selatan dan di Timur, di Afrika dan di Asia, hanyalah dapat ditanami … 1% sahaja dari semua kapital yang ia ekspor. Dan Inggeris? Inggeris dapat menanamkan f. 21.000.000.000 di dalam iapunya tanah-tanah-jajahan, yakni hampir 50% dari semua iapunya kapitaal-export itu. Jadi: walaupun industri produksi Jerman mekar, maka pasar-dunia adalah sukar sekali didapatnya. Ia coba desak barang-barang keluaran Inggeris dengan kele­bihan kwaliteit. “Made in Germany” dengan senjata kwaliteit itu akhirnya dapat masuklah pula di pasar-pasar, yang tahadinya pasarnya “made in England”. Persaingan semakin menghaibat, menyeru, memanas. Per­cikan api keluarlah dari haibatnya persaingan ini. Akhirnya meledaklah ia samasekali menjadi peperangan yang membakar seluruh ang­kasa, mengguruh di padang-padang Eropah Barat dan Eropah Timur, me­naufan-prahara di lima samodra-raya. Monopool-kapitalisme Jerman jang kekurangan udara buat bernafas itu, yang garisnya sudah mulai ia rasakan sebagai garis nedergang, mengamuklah mati-matian mencari udara yang lebih lega!

 

Tetapi, – peperangan malahan makin menjatuhkan dia ke dalam bencana! Peperangan berakhir dengan kekalahannya samasekali. Tanah-tanah jajahannya hilang; daerah-bahan-bahan di negeri sendiri sebagai jajahan jatuh ketangan orang lain, kreditnya kepada negeri luaran rusak samasekali, hutangnya di negeri sendiri membubung ke udara sampai yumlah 150.000.000.000 mark, herstelbetalingen yang dibebankan kepadanya adalah sejumlah yang amat tinggi. Akhirnya, – patahlah samasekali tulang-tulang-punggungnya iapunya keuangan. Patahlah harga valutanya uang mark, merosot, hampir memusna, sampai 1/1.000.000.000.000 dari harga yang tahadinya! Inilah hantu inflasi yang mengamuk di Jerman sesudah peperangan dunia itu. Hasil peperangan yang tahadinya ia kira akan dapat mendobrak pintu kecakrawartian dunia dan pintu kecakrawartian ekonomi ! Mendobrak pintu, yang dapat meloloskan dia dari cengkeramannya hantu niedergang!

 

Tetapi, tidakkah ada manfaat juga inflasi itu bagi monopool kapita­lisme itu? Buat apa ia mengadakan inflasi, buat apa ia turunkan harga mark, kalau tidak ada manfaatnya pula? Ai, memang ada manfaat itu! Pertama, harga upah kaum buruh sangatlah menurun; dan kedua, hutang di dalam negeri yang 150.000.000.000 mark itu segeralah habis terbayar. (Kaum middenstand, yang meng-hutangkan uang itu sebagian besar, niscaya rugi besar). Dengan turunnya harga upah kaum buruh dan kebebasan hutang di dalam negeri itu, segeralah monopoli kapitalisme Jerman dapat “bekerja kembali”.

 

Segeralah ia dapat menghidupkan kembali iapunya produksi, mengerjakan kembali iapunya paberik-paberik, memutarkan kembali seluruh iapunya economisch apparaat. Rasionalisasi yang saya ceriterakan dimuka itu, mulailah dikerjakan di mana-mana! Tahun 1923 sudah ber­jalan lagi semua apparaat itu, inflasi diberhentikan, harga mark ditetap­kan kembali, “conjunctuur” sudah mulai mengetok pintu!

 

Tetapi toch, – conjunctuur yang bagaimana! Conjunctuur yang bagi Jerman penuh kegentingan! Tidak ada conjunctuur di seluruh muka bumi ini, yang begitu penuh kegentingan dan ketegangan selalu seperti di Jerman itu. Monopool-kapitalisme Jerman selalu terpaksa bekerja “op hoogspanning”, selalu terpaksa bekerja dengan maut di belakang tumitnya. Tertilik dari pendirian wereld-economie, maka ekonomi Jer­man adalah yang paling lemah, paling kwetsbaar, paling gampang luka.

 

Perang dunia bukan memberi tanah-jajahan kepadanya, bukan memberi pasar-dunia kepadanya, tetapi malahan merampas tanah-tanah­jajahannya yang ada. Bukan menambah iapunya buitenlandsche credie­ten, tetapi malahan mematikan iapunya buitenlandsche credieten. Kalau ia tokh mau masuk ke dalam pasar-dunia maka jalan yang satu-satunya ialah kwaliteit dan h a r g a murah,- lebih dari dulu-dulu, lebih dari sebelum perang dunia 1914-1918. Kwaliteit dan harga-murah itulah satu-satunya senjata yang ia dapat pakai di dalam perjoangan mencari laba. Karena itu, – selalu bekerja “op hoogspanning”, dan sekali lagi “op hoogspanning”. Rasionalisasi, rasionalisasi dan sekali lagi rasionali­sasi! Tetapi, – apa akibat rasionalisasi? Sebagai saya terangkan di muka tambahnya pengangguran, dan pengangguran ini melemahkan pasar­ di dalam-negeri, dan lemahnya pasar – di dalam-negeri serta sempitnya pasar­dunia memaksakan perkerasan rasionalisasi, dan bertambah kerasnya rasionalisasi menambah lagi pengangguran . . . dan begitu seterusnya … putaran sial itu makin lama makin sial, makin lama makin mencekik, makin lama makin cilaka!

 

Demikianlah “fatum” monopool-kapitalisme Jerman sesudah perang dunia itu. Ketegangan ekonomi dan ketegangan sosial mengelektris ditiap­-tiap sudut-udaranya, getaran tiap-tiap sudut-udaranya itu penuh dengan sinipanan kilat dan halilintar dan petir dan guntur. Kaum buruh, yang sesudah habisnya inflasi tidak naik lagi upah-buruhnya, dan yang milyun-­milyunan terpaksa hidup sengsara karena menganggur, – kaum buruh itu seperti satu gudang mesiu yang menunggu datangnya percikan api sahaja yang membuat ia meledak menyundul langit. K.P.D. (komunis) dan S.P.D. (sosial demokrat) makin besar pengaruhnya, makin bertambah sahaja anggautanya. Ditambah lagi jumlahnya kaum middenstand, yang karena inflasi kehilangan harta bendanya, dan kini menjadi satu golongan yang menggerutu dan dendam pula! Jika kaum-kaum monopool-kapitalisme tidak lekas mengambil satu tindakan, maka kegentingan ini niscayalah menjadi kebinasaannya sama sekali!

 

Nah, – tindakan itu adalah tindakan-kilatnya fasisme! Kontra-revolusinya monopool-kapitalisme. Terornya Hitler. Cambuknya Gestapo dan concentratiekampen. Pembasmiannya kemerdekaan dan parlementaire democratie. Pembasmiannya serikat-serikat sekerja dan partai kaum buruh. Pendewaannya kekuasaan-satu, – kekuasaan monopool. Totali­terismenya nasional-sosialisme. Absolutismenya negara. Absolutismenya dictatuur!

 

Terhadap kepada paksaannya desakan ekonomi dan desakan kemasyarakatan, ditaruhlah p a k s a a n n y a  n e g a r a. Terhadap kepada pen­tungnya proses kemasyarakatan ditaruhlah

p e n t u n g n y a n e g a r a. Apakah negara itu lain daripada satu pentung? Tiap-tiap orang yang pernah mempelajari Marxisme, mengetahuilah bahwa pentung, itulah memang sifat-hakekatnya negara. Di Jerman negara betul-betul menjel­ma terang-terangan menjadi pentung, di Italia begitu juga pula, di Japan-pun boleh dikatakan begitu juga.

 

Perhatikan: Jerman, Italia, Japan, – ketiga-tiga negeri ini semuanya pada waktu habisnya peperangan 1914-1918 kekurangan koloni atau kehilangan koloni. Ketiga-tiganya “lapar”, ketiga-tiganya kekurangan pasar. Ketiga-tiganya kapitalismenya kekurangan “udara”, kekurangan “Lebensraum”. Inggeris banyak koloni, Perancis banyak koloni, Amerika banyak koloni, tiga negeri ini termasuk golongan negeri yang sesudah perang dunia “mendapat”. Mereka termasuk golongan yang “mempunyai”, golongan yang (dengan perkataan Inggeris) “have”. Tetapi Jerman, Italia, Japan, tidak “mendapat”, tidak “mempunyai”, tidak “have”. Jer­man, Italia dan Japan termasuk golongan negeri-negeri yang “have not “.

Mereka punya kapitalisme yang paling dulu menjadi genting, paling dulu kena “hoo.gspanning”. Mereka punya kapitalisme yang paling dulu kelabakan. Mereka punya kapitalisme Yang paling dulu mengamuk mengadakan fascistische dictatuur!

 

Dan tidakkah kini terang pula, apa sebab Amerika, apa sebab Inggeris belum “kena” fasisme? Benar Amerika dan Inggeris juga mempunyai monopool-kapitalisme. Benar kapitalisme di situpun sudah mulai menurun. Tetapi “hoogspanning” itu belum ada benar-benar di dua negeri itu.

 

Pasar dunia dan pasar di dalam-negeri masih ada. Inflasi belum pernah mengamuk di situ benar-benar. Middenstand-nya tidak seperti midden­stand Jerman yang menggerutu, karena menjadi miskin dan “verprole­tariseerd” karena inflasi itu. Rasionalisasi itu tidak begitu sangat seperti di Jerman, karena persaingan memang tidak dirasakan terlalu sengit. Merosotnya upah buruh dan pengangguran tidak begitu haibat, – tidak begitu haibat memain-mainkan apinya revolusi sosial. Pendek kata monopool-kapitalisme tidak begitu musti “di bakar tumitnya” seperti di Jerman, tidak begitu musti berkelahi mati-matian seperti di Jer­man. Kapitalismenya sama menurun, sama-sama “im Niedergang”, tetapi turunnya itu belumlah begitu mendesak, sehingga perlu main tjambuk, main diktatur!

 

Tetapi di Jerman bencana yang mau menerkam monopool-kapitalisme itu benar-benarlah mendesak. Karena itulah maka monopool-kapitalisme itu lantas “beraksi kilat” mengadakan diktatur! Segala susunannya ekonomi, segala susunannya negara, segala susunannya pergaulan-hidup­manusia ia bongkar, ia robah, ia dinamiskan menurut azas kepentingannya monopool-kapitalisme itu. Pengangguran ia hilangkan, tetapi ia hilang­kan dengan menyuruh kaum buruh kerja ‘di . . . bewapenings-industrie, membuat bedil dan meriam, tank dan kapal udara, mesiu dan granat, kapal-silam dan kapal-perang. Dengan persenjataan yang maha-haibat ini ia nanti akan mendobrak-lebur pintu-pintu dan tembok-tembok yang menghalang-halangi perjalanannya kekecakrawartian pasar-dunia. Dengan persenjataannya yang maha-haibat ini, ia juga mengadakan pasar di dalam-negeri yang membeli barang-barang-produksinya monopool­-kapitalisme itu.

 

Bukan? Sebagian besar dari modal monopool-kapitalisme itu kini di dalam industri-persenjataan itu, dan negara sendiri„ negara Jerman ­lah yang membeli produksinya industri-persenjataan itu. Negara Jerman telah mengobati sakit pusing-kepalanya monopool-kapitalisme itu, dan menjadi pentung yang haibat pula. Pentung keluar, pentung ke dalam. Keluar dengan hantamannya peperangan yang merebut “Lebensraum” dan mematahkan musuh, ke dalam dengan hantamannya teror yang membasmi tiap-tiap perlawanan kaum buruh yang tidak mau tunduk.

 

Fasisme adalah benar-benar satu “laatste reddingspoging” secara kilat. Tetapi benarkah ia akhirnya membawa satu

p e n y e l a m a t a n yang sejati? Pertentangan-pertentangan maha-haibat di dalam tubuh kapitalisme menurun yang saya garnbarkan itu, pertentangan-pertentangan productie-krachten yang ekonomis dan maatschappelijk, pertentangan­-pertentangan itu tidak dihilang-kan oleh fasisme itu,” tidak dihapuskan, tidak ditiadakan. Pertentangan-pertentangan itu hanyalah ditindas semata-mata. Pertentangan-pertentangan itu tetap masih ada, tetap masih latent, dan niscaya akan meledak kalau syarat-syarat untuk peledakan itu telah ada. Garisnya monopool­ kapitalisme t e t a p menurun, tetap mengarah kepada titik kebinasaannya monopool-kapitalisme itu, oleh proses-dialektiknya productie-­krachten yang memberontak kepada zatnya monopool-kapitalisme itu sen­diri.

 

Dan manakala Heinrich Himmler, kepala Gestapo, sendiri telah berkata, bahwa di dalam peperangan yang sekarang ini Jerman juga akan mengenal “padang peperangan di dalam pagar”, manakala apa yang dimak­sudkan dengan itu bahwa di dalam peperangan sekarang ini Jerman akan mengalami pemberontakan rakyat di dalam pagar sendiri, – maka itu adalah suatu bukti, bahwa juga kaum Nazi insyaf dan mengetahui bahwa pertentangan-pertentangan itu tidak hapus dan tidak hilang, melain­kan hanya tertindas dan tertutup sahaja.

Maka itu adalah bukti, bahwa kaum Nazi sendiri insyaf dan mengerti, bahwa mereka hidup di atas satu gunung-api, yang di dalamya menyala dan mendidih laksana kawah candradimuka, dan yang akan meledak membakar bumi dan angkasa manakala syarat-syarat-objektif telah ada. Insyaf dan mengerti bahwa mereka hidup di atas satu gunung-api, dan bukan di dalam satu taman-sari, – kendati omongan-muluk tentang “persatuan bangsa” dan “persatuan darah”, tentang “volksgemeen-schap”, dan “volkseenheid”, tentang “ein Volk, ein Reich, ein Fuhrer”, dan lain-lain sebagainya lagi! Ya, fatum monopool-kapitalisme Jerman yang telah menurun itu, yang memutarkan dia di dalam putaran vicieuze cirkel yang cilaka, tidak dapatlah diangkat dengan fasisme dan politisch-economische dictatuur, tetapi tetaplah menyeret dia ke arah lobangnya keruntuhan, kebinasaan, kehancuran sama sekali!

 

Dan kita? Kita hendaknya mengambil pelajaran dari semua ini. Kita hendaknya lekas insyaf dan lekas terbuka mata kita, apakah inti-inti fasisme itu, dan betapa jahatnya fasisme itu. Kita janganlah seperti Togog-bedok yang melongo dan takjub melihat kemenangan-kemenangan­ militer dari fasisme itu, tetapi hendaklah belajar membenci fasisme itu sebagai economisch-politisch-systeem.

Orang yang simpati kepada fasisme adalah orang yang picik atau buta samasekali di lapangan ekonomi dan kenegaraan, orang yang “politiknya” politik jengkol dan pepetek, orang yang dungu, orang yang bodoh atau – ia memang orang durhaka, orang zalim, orang penindas yang senang mematikan kemerdekaan orang lain dan hak-hak orang lain. Ia orang burjuis yang senang duduk di atas pung­gungnya rakyat-jelata, orang “super-burjuis” yang senang kepada monopoli!

 

Kalau karangan saya sekarang ini dapat membuka mata orang dan menanamkan benih benci kepada fasisme di dalam hati orang, maka sudah merasa puaslah saya di dalam hati. Rakyat Indonesia hanyalah dapat benar-­benar cinta kepada demokrasi, kalau jiwanya, perasaannya, keinsyafannya, k e y a k i n a n n y a demokratis. Keyakinan demokrasi itu barulah men­jadi keyakinan yang teguh dan sadar, kalau cukup pendidikan dan cukup penerangan.

 

Penerangan demokratis itulah maksudnya tulisan saya ini.

 

“Pembangunan”,1940


Iklan