BERATNYA PERJOANGAN MELAWAN FASISME

BERATNYA PERJOANGAN MELAWAN FASISME

 

PERLUNYA MENARIK SIMPATI

KAUM KLEINBURGERTUM DAN KAUM TANI DI JERMAN

“Ere zij de helden van de R.A.F. en van de Russische luchtmacht, van de Britse en Russische Navy, de helden van alle nationaliteiten op alle slagvelden tegen Hitler,— en de helden onder de grond, die de anti-fascistische actie organiseren.”

Mudahkah membuat fasisme mati?

Kita menulis Agustus 1941. Hampir sembilanbelas tahun sudah, kaum Nazi berkuasa di Jerman, hampir sembilanbelas tahun kaum kemeja hitam di Italia. Dan di dalam sembilanbelas tahun itu, kita pembenci fasisme, sebentar-sebentar membaca ramalan-ramalan di surat-surat kabar atau buku-buku, bahwa fasisme “segera akan runtuh” dan ia “tidak akan tahan beberapa tahun lagi”. Di dalam hampir 20 tahun itu, kita, saban­-saban ada muncul perkabaran tentang kerewelan atau kesukaran itu-ini yang diderita oleh Mussolini atau Hitler, lantas sahaja merasa lega-dada dan berkata: “nah sekarang ini betul-betul dia musti jatuh.”

 

Namun, kini sudah Agustus 1941, kini sudah sembilanbelas tahun kemudian, fasisme masih tetap belum jatuh, fasisme malahan mernbakar ­dunia dengan peperangan yang tiada seorangpun dapat meramalkan kapan habisnya! Padahal alasan-alasan yang dulu kita kemukakan buat meramal­kan lekas jatuhnya fasisme itu sekali-kali bukanlah “alasan kampung” bukan alasan “omong kosong”, – melainkan alasan-alasan yang penting juga!

 

Angka-angka menunjukkan makin merosotnya standaard hidup di Jerman, bukti-bukti ada bahwa kaum S.A. ada yang memberontak, balans­-balans mengatakan bahwa financien Jerman makin bejat, perbuatan­-perbuatan buitenlandse politiek menyatakan bahwa Jerman makin terpencil, – semua itu tahadinya dianggap alasan-alasan yang sah, buat meramalkan bahwa fasisme tidak akan panjang umur.

 

Namun, bagaimana keadaan waktu itu? Bagaimana feiten?

Tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, bendera fasisme tetap berkibar di Jerman dan Italia, dan kini malahan berkibar hampir di seluruh benua Eropah!

 

Keadaan yang demikian ini menyuruh kita menjadi “sadar” – menyuruh kita menjadi “nuchter”. Anggapan kita yang terlalu optimis itu berobahlah menjadi satu kesadaran, bahwa fasisme bukan ismenya seorang-orang dlalim yang “sambil lalu” sahaja, tetapi ialah satu penyakit masyarakat yang memang pembawaan susunannya masyarakat kapitalisme yang sudah tua. Satu penyakit masyarakat, satu maatschappelijke ziekte, yang justru

k a r e n a ia suatu maatschappelijke ziekte, d u s tidak dapat dihapuskan dengan satu-nafas-dua-nafas sahaja. Adakah sejarah dunia pernah menunjukkan satu tingkatan-sifatnya yang hanya satu tahun dua tahun sahaja?

 

Professor John R. Seely, itu maha guru Inggeris di dalam ilmu sejarah, pernah berkata, bahwa kita musti mempelajari sejarah “om wijs te worden van te voren”. “Kita mempelajari sejarah, supaya menjadi bijaksana terlebih dahulu.” Uletnya fasisme itu memberi pengajaran kepada kita, bahwa kita tidak boleh “menina-bobokkan” sejarah dengan lagu-tidurnya kita punya keinginan dan kita punya harapan. Kita tidak bisa menina-bobokkan sejarah itu menurut lagu semau-maunya keinginan kita. Kita boleh mengelamun, kita boleh mengharap, kita boleh mengingini ma­cam-macam keinginan, tetapi .feitennya sejarah itu tidak bisa dibawa di atas awang-awangnya kita punya angan-angan dan cita-cita, dan akan memukul kepada kita dengan pukulannya kekecewaan yang maha-sakti. “Sejarah tak dapat diidealisirkan”, begitulah August Bebel pernah ber­kata, “yang dapat kita idealisirkan hanyalah idee sendiri sahaja”.

 

Apakah sejarahnya fasisme itu? Sejarah fasisme adalah sejarahnya kapitalisme di dalam ia punya tingkat yang sudah “tua”. Sejarah fasisme adalah sejarah kapitalisme yang telah “turun”, sejarah kapitalisme “im Niedergang”. Sejarah fasisme hanyalah bisa kita ketahui ulet-lembeknya, hanyalah bisa kita takar-takar dan ukur-ukur, jikalau kita mengetahui himmah-himmah dan pekerti-pekertinya kapitalisme yang telah tua dan turun itu. Sebab, – apakah fasisme itu? Fasisme bukan isme bikin­bikinan, bukan anggitannya seorang maha-dlalim “in een slapeloze nacht”, bukan buah-otaknya seorang Mussolini atau seorang Hitler, – fasisme adalah satu “isme” bukan prosesnya masyarakat, satu “isme” yang berisi ideologinya dan sepak-terjangnya kapitalisme di tingkat “monopool”.

 

Marilah di sini saya kutipkan satu uraian yang pernah saya berikan  dalam majalah “Panji Islam” setahun yang lalu:

 

Sesudah saya terangkan, bahwa kapitalisme-muda (kapitalisme yang sedang menaik) berhajat kepada konkurensi-merdeka di atas lapangan ekonomi, dan oleh karenanya juga berhajat kepada kon­kurensi-merdeka di atas lapangan politik, maka di “Panji Islam” itu saya menulis:

 

“Vrij economische concurentie” berhajat kepada “vrij politieke con­curentie”; economisch liberalisme berhajat kepada politik liberalisme. Inilah dengan dua tiga perkataan sahaja “rahasianya” parlementaire demo­cratie itu!  Tetapi kapitalisme (di artikel saya itu saya tulis industrialisme) tidak tetap tinggal kepada zaman “mudanya” sahaja, kapitalisme itu menjadi subur dan membesar, meningkat dan menua. Kapitalisme itu dibawa oleh masa, meninggalkan abad ketimbulannya, masuk ke dalam abad : kedewa­saannya. Kapitalisme itu kini sudah tidak lagi di zaman “Aufstieg” (menaik), kapitalisme itu kini sudah masuk ke dalam zamannya “Nieder­gang” (“turun”). Kini bukanlah lagi perusahaan-perusahaan kecil yang berkonkurensi satu dengan yang lain. Kini bukanlah lagi “Einzelindus­trieen” yang berkonkurensi satu dengan yang lain. Kini yang lemah-lemah telah tersapu dari muka bumi, atau telah tergabung menjadi persekutuan­persekutuan besar itu satu dengan yang lain; yang maha besar. Kini malahan persekutuan-persekutuan besar itu telah selesai perjoangannya satu dengan yang lain; kini tinggal badan-badan monopool sahaja, – mon opoollichamen sahaja – raksasa-raksasaan yang maha-maha besar, yang berhadapan satu dengan lain. Vrij concurentie sudah selesai, vrij concurentie tidak perlu lagi. Yang perlu ialah menjaga tegak­nya raksasa-raksasaan monopool itu sahaja. Maka oleh karena itu liberalisme dan parlementaire democratie lantas “tidak laku lagi”. Yang perlu ialah satu sistim-pemerintahan, yang menjadi “polisi” penjaga badan-badan-monopool itu. Liberalisme dibuang jauh-jauh, diperkutuk­kan sebagai sistim-sistim “kolot” yang sudah tak laku lagi, – dan dilahirkannyalah satu sistim baru yang cocok dengan hajat “menjaga” tegaknya monopool itu. Satu sistim baru yang sudah barang tentu bersifat monopool pula, – monopool ditentang urusan negara. Maka sistim baru inilah sistim “fasisme”!

 

Begitulah uraian saya di “Panji Islam” tempohari. Dari uraian ini ternyatalah nanti uletnya, “mati-matiannya “, fasisme itu. Orang berkata bahwa fasisme akan turun dengan sendiri. Bahwa fasisme itu akan “wegebben” dengan sendirinya. Siapa yang mengira bahwa fasisme akan hilang dengan gampang, bahwa bejatnya Reichsfinancien atau con­flict di antara pemimpin-pemimpinnya atau contra-revolusi di dalam tubuhnya N.S.D.A.P., seperti di bulan Juni-Juli 1941,

sudah cukup buat dianggap tanda-tanda akan segera gugurnya fasisme, – orang yang demikian itu menunjukkan bahwa ia belum mengerti hakekat-hakekatnya fasisme itu. Orang yang demikian itu belum mengerti kebenarannya perkataan Carl Steumann, bahwa fasisme adalah “satu pembelaan yang penghabisan kali daripada kapitalisme yang sudah turun”, satu “laatste reddingspo­ging van het kapitalisme in zijn nedergang”.

 

Satu pembelaan penghabisan, satu laatste reddingspoging, yang

d u s akan mati-matian diteruskan dan diuletkan, mati-matian uitgestreden, sampai salah satu dari tiga kemungkinan yang saya sebutkan di belakang ini akan tercapai atau monopool-kapitalisme terus selamat, atau monopool-kapitalisme hancur-lebur dan rakyat-jelata mendirikan satu susunan masyarakat baru atau monopool-kapitalisme d a n rakyat-jelata d u a – d u a n y a patah tak berdaya apa-apa lagi.

Kita punya perjoangan harus diteruskan habis-habisan, – unser kampft musz a u s g e k a m p f t werden -, begitulah Hitler memalu-godamkan keuletan fasisme di dalam satu pidato, dan di dalam perkataan “ausgekampft” ini termaktublah gambaran tekad mati-matiannya fasisme itu: menang -, atau hancur ! Sebab sekali lagi dikatakan di sini, tidak ada satu sistim, tidak ada satu cara-pemerintahan yang begitu “cocok” buat menjadi “polisi” penjaga keselamatannya monopool­kapitalisme itu, daripada fasisme itu. Fasisme adalah benar-benar satu pembelaan yang penghabisan, – dengan sifat mati-matiannya tiap-tiap pem­belaan yang penghabisan!

 

Kini timbullah pertanyaan: jadi kecil harapan akan binasanya fasisme itu? Sama sekali tidak! Sama sekali tidak boleh dikasih jalan rasa putus­asa: sebaliknya harapan ada, asal tersedia dua tenaga yang perlu buat membinasakan fasisme itu.

 

Apakah dua tenaga ini? Pertama, tenaga dari dalam, tenaganya rakyat di negeri-negeri fasis sendiri. Dan kedua, tenaga dari luar, tenaganya peperangan yang menggempur fasisme itu dari luaran. Kombinasi dari dua tenaga ini, kombinasinya pemberontakan dari dalam dan gem­purannya hantaman dari luar, s o c i a 1 e strategie inilah satu-satunya jalan untuk menggugurkan fasisme itu dari singgasana kekuasaannya.

 

Hanya dengan sociale strategie itulah fasisme bisa hapus sebagai satu maatschappelijk stelsel, sebagai satu stelsel yang memang melengket kepada bentuk-susunannya masyarakat yang digagahi oleh monopool-kapitalisme.

 

Kini gempuran dari luar itu sedang berjalan, di padang Rusia-Barat sejak terjadi peperangan raksasa. Haibat-maha-haibatlah peperangan di situ, sebagai bukti-kebenaran uletnya fasisme itu. Puluhan divisi ber­hantam dengan puluhan divisi, milyunan orang berhantam dengan milyunan orang. Sejarah-dunia belum pernah menyaksikan peperangan yang seperti peperangan di Rusia-Barat sekarang ini. Akankah tentara Rusia menang?

 

Pembaca telah membaca uraian saya tentang isi buku Ernst Henri tempohari. Dengan terang di situ diterangkan, bahwa perlawanan Rusia itu belum boleh dikatakan berhasil benar-benar, sebelum melalui lima t i n g k a t, yang satu-persatunya maha-berat. Lima tingkat, yang satu­-persatunya minta penumpahan tenaga habis-habisan, nekat-nekatan, mati-matian. Dua tingkat yang lebih dulu ialah tingkat militer, tiga tingkat yang kemudian ialah tingkat kombinasinya tingkat militer dan tingkat perlawanan rakyat-jelata dari dalam. Dua tingkat yang lebih dulu ialah tingkat militair-

s t r a t e g i s c h, tiga tingkat yang kemudian ialah tingkat sociaal strategisch.

 

Kini tingkat yang pertama, dan barangkali permulaan tingkat kedua sedang berjalan. Bagaimana keadaan s y a r a t untuk berhasilnya tingkat ketiga, keempat, dan kelima? Bagaimana keadaan rakyat-jelata di da­lam pagar Jerman sendiri?

 

Heinrich Fraenkel mengatakan kepada kita, bahwa rakyat-jelata di Jerman sedang menyiapkan diri di bawah tanah. Tetapi Heinrich Fraen­kel-pun mengatakan, betapa sulit-maha-sulitnya pekerjaan ini. Menurut dia staat van beleg sekarang ini malahan menambah kesulitan itu. Gestapo makin menghantam dan S.S. makin merajalela, semakin hantam-kromo sahaja, semakin main tangkap-tangkapan dan deril-derilan. Masa hendak Gestapo dan S.S. menyayangi jiwa dan menyayangi darah, kalau di padang­-padang-peperangan jiwa-manusia dan darah-manusiapun tidak menjadi hitungan sama sekali?

 

Tentu, nanti kalau sudah menginjak tingkat yang ketiga, nanti kalau tentara Hitler sudah terdesak mundur masuk ke dalam pagar-pagarnya negeri Jerman sendiri, maka niscayalah Jerman oleh Stalin akan dihu­jani propagandis-propagandis persaudaraan massa, yang akan rnenghasut rakyat-jelata Jerman supaya memberontak kepada Hitler dan kawan­-kawannya. Tetapi manakala ofensif yang demikian ini hendak berhasil, maka haruslah rakyat-jelata Jerman itu dari

s e b e l u m n y a sudah “sedia” menerima ofensif-persaudaraan itu, – dari s e b e l u m n y a sudah “masak” untuk menerima ajakan sociale strategie itu.

 

Maka bagaimanakah keadaan rakyat-jelata Jerman sekarang ini? Sekali lagi, Fraenkel berkata: rakyat-jelata Jerman telah bekerja di bawah tanah. Kitapun percaya, — bukan dari keterangan Fraenkel sahaja, tetapi juga dari keterangan-keterangan yang berasal dari sumber lain-lain, – bahwa memang benar rakyat-jelata Jerman bekerja anti-Hitler di bawah tanah. Tetapi bahwa pekerjaan ini satu pekerjaan yang maha sulit, satu pekerjaan yang minta kecakapan pimpinan yang luar biasa dan kekerasan hati yang seperti waja, satu pekerjaan yang minta tanggungan kesediaan mati, – itu bukan satu soal lagi. Itu satu kenyataan, satu kemestian, yang tak perlu diraba-raba lagi dan tak perlu disangsi-­sangsikan lagi.

 

Lagi pula, – sedia dan sedia adalah dua. Yang menjadi pertanyaan kita kini ialah: sudahkah persediaan di bawah tanah itu begitu rupa, sehingga nanti, kalau datang temponya meledak keluar, tidak ada kans akan g a g a l? Lebih tegas lagi: sudahkah persediaan di bawah tanah itu disusun begitu rupa, – maatschappelijk strategisch begitu rupa sehingga semua ajaran-ajarannya sejarah diperha­tikan dan dikerjakan?

 

Marilah saya terangkan maksudnya saya punya pertanyaan.

Rakyat Jerman terbagi menjadi empat bagian: pertama kaum atasan, kaum modal dan kaum monopool; k e d u a kaum buruh proletar yang bekerja di kota-kota; k e t i g a kaum tani yang bekerja didusun-dusun; keempat kaum “pertengahan”, kaum “middenstand”, kaum “Kleinbtir­gerturn”, kaum toko-toko dan perusahaan-perusahaan kecil, kaum amtenar-amtenar dan semacamnya itu. Empat bagian ini haruslah ditin­jau sikap-perhubungannya dengan fasisme, manakala aksi di bawah tanah itu tahadi mau bekerja maatschappelijk strategisch yang menjamin sukses di belakang hari.

 

Sebab bagaimanakah tarich kenaikan Hitler itu? Dari mula-mulanya sekali, sudahlah ia mendapat perlawanan dari fihak kaum buruh proletar di kota-kota. Dari mula-mulanya sekali sudahlah ia dianggap seteru-seteru­ bebuyutan oleh kaum-kaum sosial-demokrat dan kaum-kaum komunis, kaum S.P.D., dan kaum K.P.D. Perlawanan ini begitu haibat, sehingga boleh dikatakan bahwa Hitler mula-mula tidak banyak kans buat mendapat bantuan dari kaum modal dan kaum monopool, ia malahan menang punyai barisan anggauta yang ribuan milyunan dari kalangan massa? dayanya bantuan kaum modal dan kaum monopool itu, kalau tidak diba­rengi persetujuannya sebagian besar dari rakyat-jelata?

 

Dan mana bisa mendapat politieke m a c h t, kalau tidak mempolitieke apparaatnya kaum modal dan kaum monopool. Tetapi, apa Hitler adalah seorang maatschappelijk strateeg yang maha-maha-haibat. Ia mengerti, bahwa musuhnya yang sebenar-benarnya ialah georganiseerde macht-nya kaum proletar. Ia me­ngerti, bahwa dari fihak ini ia tidak boleh memasang harapan, tetapi sebaliknya akan selalu mendapat perlawanan yang mati-matian. Ia me­ngerti, bahwa nanti kalau ia sudah kuasa, georganiseerde macht-nya kaum proletar ini harus ia hancurkan dan leburkan sama sekali. Maka dari manakah ia harus mencari bala-tentara bagi ia punya politieke macht itu? Dengan ketajaman otak yang jitu, ia segera mengetahui dari kalangan kaum tani, dan dari kalangan Kleinbtirgertum itu tahadi! Berhadap-hadapan dengan georganiseerde macht-nya kaum buruh proletar, ia mau menyusun georganiseerde macht-nya kaum modal­-monopool & Co. kaum Kieinbiirgertum dan kaum tani.

 

Maka segeralah ia punya propaganda ditujukan kepada maatschap­pelijk strategisch plan memancing kaum Kleinbilrgertum dan kaum tani itu. Segeralah ia punya semboyan-semboyan, ia punya kesanggupan-kesang­gupan, ia punya taktik, ia punya pemancingan kaum Kleinbur­gertum dan kaum tani itu.

 

Segeralah dua kaum ini terpancing, segeralah mereka memasuki pergerakan nasional-sosialisme dengan jumlah ratusan dan ribuan dan milyunan. N.S.D.A.P., S.S., S.A., – 100% dari anggauta-anggautanya adalah dari kalangan Kleinbiirgertum dan kaum tani. Pergerakan nasional-­sosialisme adalah pergerakannya kapitalisme “im Niedergang”, pergerak­annya kaum modal monopool, dengan memperkuat kaum Kleinbiirgertum dan kaum tani.

 

Nah, – adakah persiapan aksi anti-Hitler di bawah tanah sekarang ini cukup merealisirkan kenyataan ini? Adakah ia cukup merealisirkan, bahwa ia punya opgave (ia punya pekerjaan yang musti dikerjakan) bukanlah sahaja mengorganisir orang-orang yang sudah dari tahadinya anti-Hitler, tetapi ialah juga menarik orang-orang yang cinta kepada Hitler daripada pelukannya Hitler itu? Lebih tegas lagi: adakah ia cukup merealisirkan, bahwa ia punya opgave bukanlah sahaja meng­organisir kaum proletar di bawah tanah, tetapi juga me­narik Kleinbiirgertum dan kaum tani dari mereka pu­nya simpati kepada Hitler itu? Saya berkata: selama aksi anti-Hitler di Jerman belum mampu mengorek-ngorek simpatinya Klein­burgertum dan kaum tani kepada Hitler, selama aksi anti-Hitler itu belum mampu “mendialektikkan” simpati Kleinbiirgertum dan kaum tani kepada Hitler menjadi kebencian kepada Hitler, –  selama itu saya kira aksi anti-Hitler itu susah akan mendapat sukses.

 

Inilah kesulitan opgave itu. Inilah kesulitan opgave itu kalau opgave i t u d i m e n g e r t i. Mengolah simpatinya dua lapisan masyarakat yang sudah mabuk dengan cekokannya satu ideologi, bukan­lah satu pekerjaan yang mudah. Lebih sukar lagi pekerjaan ini, kalau pintu concentratiekamp selalu terbuka, kapak-pemanggal-leher selalu tersedia, tiang-penggantungan selalu menunggu, senapan-pengedrelan selalu mengincar. Benar, organisator-organisatornya anti-Hitler di bawah tanah itu satu-persatunya adalah orang-orang yang gagah-berani, yang tidak takut concentratiekamp, tidak takut kapak-pemanggal-leher, tidak takut didrel, seperti anjing yang sakit gila. Mereka satu-persatunya adalah stille ongenoemde held en,- maha laki-laki yang namanya tak pernah disebut orang! Tetapi, saya punya hati tetap menanya: mengertikah mereka, mereka punya opgave? Syukur kalau mengerti, tetapi kalau tidak?

 

Saya tahu, yang menjadi motornya aksi anti-Hitler di bawah tanah itu ialah sebagian besar pahlawan-pahlawan S.P.D. dan K.P.D. yang telah dihancurkan oleh Hitler itu. Mereka oleh Hitler disapu di atas tanah, mereka masuk terus bekerja di bawah tanah. Mereka meneruskan mereka punya perjoangan, meneruskan mereka punya keberanian, – tetapi, (di sinilah saya punya kewas-wasan), jangan-jangan mereka meneruskan juga mereka punya taktik dan strategi yang sediakala itu? Bagaimanakah taktik dan strategi S.P.D. dan K.P.D. dulu: mereka tidak “inschakelen” Kleinbiirgertum dan kaum tani di dalam mereka punya aksi melawan Hitler. Mereka melulu pusatkan mereka punya perhatian kepada kaum prole­tariat. Hitler main-mata dengan Kleinbiirgerttun dan kaum tani. Hitler telah pelet Kleinbilrgertum dan kaum tani, tetapi S.P.D. dan K.P.D. tidak mau mengerti bahaya itu, dan terus bekerja di kalangan proletariat melulu sahaja. Hitler telah pelet kaum Kleinburgertum dan kaum tani, tetapi S.P.D. dan K.P.D. malahan kadang-kadang memaki-maki kepada Klein­bilrgertum dan kaum tani yang dipelet Hitler itu. Tidak sekali­-kali mereka ada fikiran merobah merekapunya strijd-program mencari simpatinya Kleinburgertum dan kaum tani di d a l am aksi anti-fasisme itu, – siang-siang sebelum Hitler menjadi kuasa. Dan tatkala Hitler menjadi kuasa, tatkala ia dapat menggenggam machtsap­paraatnya negara, maka terkasiplah segala-galanya. Maka dihantamlah olehnya S.P.D. dan K.P.D., diobrak-abrikkan olehnya organisasi kaum pro­letar menjadi hancur berantakan sama sekali.

 

Adakah peristiwa ini menjadi 1 e s menjadi pengajaran, bagi pahlawan-pahlawan S.P.D., dan K.P.D., yang bisa lobos dari tangkapan Hitler, dan yang sekarang mengorganisir perlawanan di bawah tanah itu? Pengajaran, bahwa di dalam aksi anti-Hitler, mereka perlu bantuannya Kleinburgertum dan kaum tani?

 

Kalau saya umpamanya orang komunis, maka saya, kecuali les di Jerman itu, tidak akan melupakan pula les-lesnya sejarah perlawanan proletar di negeri-negeri lain. Kalau saya komunis, saya tidak akan melu­pakan lesnya pemberontakan di Paris 1871, di Rusia 1905 dan 1917, di Hongaria 1919, di Beieren 1919 pula. Apa les itu? Pertama, bahwa pem­berontakan-pemberontakan ini mungkin terjadi, oleh karena kaum modal di waktu itu masing-masing telah rusak technisch militaire organisatienya serta kekuatan-morilnya oleh peperangan yang maha-berat. Paris 1871, Rusia 1905 dan 1917, Hongaria 1919 dan Beieren 1919, adalah masing­-masing didahului oleh kocar-kacirnya kekuasaan kaum modal karena peperangan yang maha-sukar.

Syarat peperangan ini s e d a n g berjalan buat Jerman se­karang, tetapi ada 1 e s lain j u g a dari lima pemberontakan itu: dari lima pemberontakan itu h a n y a Rusia 1917 sahajalah yang dapat berdiri teguh sampai sekarang! Yang lain-lain jatuh, yang lain-lain hanya dapat tahan sebentaran sahaja, remuk dihantam oleh kaum modal yang kuat kembali. Apa sebab? Sebabnya ialah, bahwa pemberontakan-­pemberontakan di Paris, Hongaria, Beieren dan Rusia 1905 itu semuanya ialah pemberontakan-pemberontakan dari fihak k a u m  b u r u h  p r o­ l e t a r  s a h a j a. Pemberontakan-pemberontakan “tersendiri”, zonder bantuannya atau simpatinya kelas-kelas rakyat-jelata yang lain, zonder mampu mengelektrisir sekujur badannya natie. Pemberontakan-pem­berontakan ini kemudian dibinasakan kembali oleh kaum modal, d e n g a n bantuannya kaum Kleinbiirgerturn dan kaum tani. Sebaliknya pem­berontakan di Rusia 1917 siang-siang dapatlah menangkap hatinya kaum tani, sehingga siang-siang dapatlah didirikan satu verbond antara kaum buruh dan kaum tani, antara fabrieks-proletariaat dan rakyat-dusun yang milyunan-milyunan, yang, (umpamanya tidak lekas tertangkap hatinya oleh revolusi), niscaya mudah sekali dipakai menjadi perkakasnya kontra­-revolusi yang mau merobohkan kembali revolusi itu.

 

Ini, inilah les yang niscaya tidak akan saya lupakan di dalam aksi anti-Hitler di Jerman, kalau saya seorang komunis. Sungguh, benar sekali perkataan Marx di dalam iapunya risalah “18 Brumaire”, bahwa kaum pro­letar perlu mengeritik dan mengoreksi diri sendiri terus-menerus zonder putusnya, – memperhatikan tiap-tiap ajaran sejarah walau yang sekecil-­kecilnyapun juga, memfiilkan tiap-tiap ajaran sejarah itu kepada sepak-terjang besar-kecil sehari-hari. Manakala Hitler menangkap hatinya Kleinburgertum dan kaum tani, maka kaum proletarpun harus menangkap hatinya Kleinbiirgertum dan kaum tani. Dan manakala Hitler memakai cara-cara perjoangan yang berdasarkan kepada kekerasan, maka kaum proletarpun harus memakai jalan kekerasan. Tidakkah dulu satu kesalahan taktik kaum S.P.D., bahwa mereka ini masih sahaja meng­gantungkan diri kepada “demokrasi” dan “parlementarisme” l a m a  s e s u d a h Hitler meninggalkan demokrasi dan parlementarisme, dan hanya memakai senjata pentung dan senjata kepruk sahaja?

 

Maka oleh karena itu, nyata sukar-maha-sukarlah opgavenya kaum anti-Hitler di Jerman sekarang ini, seribu kali lebih sukar daripada di masa yang terdahulu. Dahulu masih ada banyak jalan buat menyusun tenaga, sekarang tertutuplah dengan pedang dan senapan kebanyakan jalan. itu. Dahulu menjalankan organisasi yang masih utuh, sekarang membangunkan kembali organisasi yang sudah hancur, serta mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah terlanjur. Jadi putus-asa? Tidak!

 

Tidak “jadi putus-asa”, – tetapi sebaliknya bekerja terus, meskipun maha-sulit dan maha-berbahaya.

Memang b e k e r j a terus itulah satu-satunya syarat kemenang­an, satu-satunya syarat buat datangnya satu pergaulan: hidup yang lebih adil. S.P.D. dan K.P.D. (terutama sekali K.P.D.), telah membayar mahal buat les “bekerja terus” itu. Dulu amatlah laku teori, bahwa bagaimana juga Hitler menaik kekuasaan, bagaimana juga Hitler mengamuk, toch nanti, kemudian, zonder apa-apa “dengan sendirinya” (unvermeidlich) akan datang pergaulan hidup sosialisme. Dulu banyak kaum pemimpin proletar mengira, bahwa fascistische dictatuur, biar dihantam oleh Hitler, biar dilebur-hancurkan oleh organisasi Hitler, biar tinggal “kemelaratan dan kejembelan” sahaja, tidak jadi apa, – toch nanti, “unvermeidlich” datang proletarisch dictatuur!

 

Alangkah piciknya pemimpin-pemimpin yang demikian itu! Kemelaratan sahaja belum pernah membawa sesuatu kelas kepada keme­nangan. Perobahan-perobahan sosial yang besar-besar belum pernah terbikin oleh kelas-kelas yang “mati-kutunya”, tetapi selamanya terbikin oleh kelas yang sedang “menaik”. Perobahan-perobahan-sosial itu sela­manya adalah hasil-perjoangannya sociaal-opgaande klasen, oleh karena sociaal-opgaande klassen itu nanti yang akan memegang ken­dali masyarakat sesudah kemenangan. Bukankah di dalam peperanganpun j u m l a h sahaja b e l u m menjadi jaminan kemenangan? Jaminan kemenangan adalah di dalam tangannya tentara yang berorganisasi, berdisiplin, bersemangat, bersatu-hati, berkeras-kemauan, berpimpinan, cakap, bercukup bekal, berlengkap-senjata. Jaminan kemenangan adalah di dalam tangannya kelas yang sempurna syarat-syaratnya moril, ma­teriil, teknis, dan o r g a n i s a t o r i s. Kalau tidak ada syarat-syarat ini, jangan mimpikan kemenangan!

 

Nah, syarat-syarat inilah musti disediakan dan dilengkapkan oleh fihak anti-Hitler di bawah tanah. Dan itupun baru berarti langkah yang pertama sahaja! Langkah yang kemudian ialah bahwa Kleinbiir­gertum harus diputuskan persatuannya dengan kaum Nazi, dimatikan kecintaannya kepada kaum Nazi, – dan bahwa kaum tani harus diinjeksi masak-masak dengan simbolisme anti-fasis, agar mereka nanti, kalau ada aksi menghantam status quo, tidak membela status quo itu, tetapi sebalik­nya membantu perjoangan menghantam status quo itu. Langkah yang pertama dan langkah yang kemudian itulah historische taak (kerja menurut kehendak sejarah) maha-sulit dan maha-haibat yang kini dipi­kulkan oleh kaurn proletariat di Jerman.

 

Akankah historische taak ini terselenggarakan selesai? Churchill adalah mengajarkan kepada kita, bahwa di musim bahaya baiklah kita jangan terlalu optimistis. Meskipun tidak putus-asa, baiklah jangan dilupakan, bahwa fasisme bukanlah “bikinan orang” bukan satu idealnya orang pengelamun, yang seperti rumah-dari-kartu akan gugur musna kalau ada sedikit angin yang bersilir. Fasisme adalah satu maatschappelijke realiteit, satu georganiseerde, tot de tanden toe gewa­pende maatschappelijke realiteit, yang sedia menghantam binasa segala apa sahaja yang membahayakan kedudukannya,- walaupun dengan membakar seluruh dunia, menyapu rata dusun-dusun dan kota-­kota dengan meriam dan bom dan dinamit. Fasisme dulu, kini dan kemudian, asal dia masih hidup, adalah sebagai raksasa maha-syakti dan maha-kejam yang menggenggam petir dan halilintar didalam tangannya, yang tidak kenal kasihan dan tidak kenal ampun manakala kedudukannya terancam sedikitpun juga.

 

Pekerjaan yang maha-sulit dan maha-sukarlah terpikul oleh pundak­nya kaum proletariat Jerman itu! Tetapi alhamdulillah, bantuan telah datang dari luaran: peperangan telah membantu pekerjaan itu. Peperangan yang sebenarnya diadakan oleh fasisme sendiri, peperangan itu justru menjadi salah satu tenaga yang mungkin m e m bantu kepada kematiannya fasisme itu.

Inilah dialektik­n y a  k e a d a a n, yang tak mungkin dielakkan oleh siapapun juga oleh karena wet dialektik memang wetna sekalian alam. Peperangan yang tahadinya dengan sengaja disedia-sediakan lebih dulu oleh fasisme itu dengan segala akal-syaitannya moderne strategie dan moderne techniek, peperangan itu akibatnya menjadilah satu “anti” bagi “laatste reddings­pogingnya” monopool-kapitalisme itu. Peperangan itu i n t e r r u m p e r e n laatste reddingspoging itu, dan taufan-praharanya nanti meng­kalang-kabutkanlah segala milik-milik dan tenaga-tenaga fasisme itu.

 

Tetapi sekali-kali ini tidak berarti, bahwa oleh karena adanya peperangan ini ” d u s ” dengan sendirinya “unvermeidlich” akan datang sosial­isme di Jerman! Unvermeidlich akan datang satu pergaulan hidup sosialis di Jerman, sedang sekarang nyata kaum proletariat Jerman belum tentu habis selesai menyediakan syarat-syarat yang saya sebutkan tahadi? Apakah benar kata orang, bahwa, kalau satu kelas gugur, kelas*- musuhnya musti naik, – bahwa kalau kapitalisme binasa, sosialisme musti menggantinya? Ah, inilah yang dinamakan “vulgair Marxisme”, inilah “Marxisme kecek kampung”! Seolah-olah dunia satu luilekkerland, satu firdaus, di mana segala barang yang diingini orang bisa didapat dengan sendirinya! Seolah-olah “datuk” Marxisme sendiri tidak mengajarkan lain, yakni menulis di dalam ia punya manifes yang termasyhur (notabene di pagina yang pertama): “Vrij man en slaaf, patricier en plebejer, baron en lijfeigene, gildemeester en gezel, in een woord: verdrukker en verdruk­ten, stonden in een voortdurende tegenstelling tot elkander en voerden een gestadigen, nu eens bedekte dan weer open strijd, – een strijd die altijd met een revolutionaire omvorming van de gehele maatschappij eindigde, of wel met de gezamenlijke ondergang der strijdende klassen”.

 

Artinya: “Orang-merdeka atau budak, kaum ningrat atau kromo, kepala-kerja atau buruh dengan satu perkataan: penindas dan yang ter­tindas, selalu bertentangan satu sama lain, selalu berjoang satu sama lain, dan perjoangan ini selalu berakhir dengan perobahan susunan masyarakat sama sekali, atau dengan hancur-binasanya kedua­-duanya kelas yang berjoang itu.”

Hancur-binasanya kedua-dua kelas yang berjoang,­ini kemungkinan adalah tertulis di dalam risalah Marx itu dengan kata-kata terang dan aksara-aksara terang! Namun di dalam tahun 1934, sesudah kaum Nazi maha-kuasa di Jerman dan mengamuk mengobrak-abrik ­hancur semua organisasi-organisasi yang memusuhi kepadanya, Inter­nationale kaum buruh mengeluarkan manifes yang berbunyi: “Dari peperangan baru, yang nanti mungkin menimpa kita semua, maka nisca­yalah tidak-boleh-tidak (“mit unwiderstehlicher Gewalt”) akan muncul pemberontakan proletar melawan penghasut-penghasut-perang fasistis serta majikan-majikannya yang imperialistis itu.”

 

Lho, kok gampang di dalam manifes itu dituliskan “mit unwidersteh­licher Gewalt”! Kok gampang di situ dituliskan bahwa “niscaya tidak-­boleh-tidak” pasti akan bangkit satu pemberontakan proletar!  Padahal tidak benar, tidak tentu, tidak pasti bahwa dari peperangan ini “mit unwiderstehlicher Gewalt” akan timbul perlawanan proletar. Perlawanan proletar hanyalah mungkin kalau perlawanan itu

d i s u s u n lebih dulu, diorganisir lebih dulu, disedia-sediakan lebih d u l u , dengan mengerjakan syarat-syaratnya semuanya. Perlawanan proletar itu tidak bisa datang dengan sendirinya, tidak bisa datang “van­zelf”.   Yang bisa datang  “vanzelf”  hanyalah kekalutan,   kekacauan,  barbarij!

 

Ya, yang “dengan sendirinya” datang, hanyalah barbarij! Barbarij, kekalutan, ketiadaan di dalam sejarah, akan datang di Jerman sesudah perang ini, kalau kaum buruh Jerman tidak bisa mengorganisir kembali iapunya tenaga sebagai sediakala, dengan menjauhi segala kesalahan­-kesalahan dulu, yang ia sudah alamkan sendiri kebencanaannya. Bar­barij, – “hancur binasa kedua-dua kelas yang berjoang”, – dan bukan sosialisme, yang akan datang di Jerman, kalau kaum buruh Jerman tak mampu menyelenggarakan pekerjaan maha-sulit dan maha-berat sebagai yang saya gambarkan di muka tahadi. H a n y a kalau kaum buruh Jerman itu bisa menyelenggarakan pekerjaan ini, maka peperangan yang sekarang  menaufan dan memprahara di atas bumi dan lautannya itu, bisalah men­jadi satu “liberator” (pemerdeka) baginya, – pembantu-besar di dalam iapunya perjoangan menuju satu Dunia-Baru yang gilang-gemilang. Hanya kalau demikian, sekali lagi, hanya kalau demikian dan tidak lain!

 

Perang kini sedang berkilat terus sabung-bersabung. Bumi menggempa, angkasa menyala-nyala, separo dunia seperti kancah kenerakaan. Kleinbiirgertum dan kaum tani Jerman kini merasakan apakah artinya menjadi anak-emasnya Hitler. Akan sadarkah mereka siang-siang? Kalau Hitler menang perang, barangkali mereka akan terus cinta kepada­nya. Tetapi kalau Hitler kalah, ya, kalau Hitler megap-megap sedikitpun sahaja, mereka niscaya akan menggerutu, akan mendongkol. Maka di sini­lah kesempatan-baik bagi kaum buruh Jerman, buat menarik mereka sama sekali dari hikmahnya pukau yang memabukkan mereka itu sebagai penyudah dari pekerjaan menangkap hati Kleinbiirgertum dan kaum tani, yang memang dari tahadi harus dikerjakan.

 

Sekarang pekerjaan ini susah, tetapi, nanti kalau Hitler sudah mulai megap-megap, pekerjaan ini menjadi makin bertambah susah. Sekarang Hitler tidak hemat dengan concentratie-kamp dan senapan-pengedrelan, tetapi nanti kalau ia merasa posisinya terancam, ia malahan akan menga­muk habis-habisan, – main senapan-mesin dan main bom membombardir rakyat sendiri, main hantam tabula-rasa kepada siapa sahaja bangsa sendiri yang melawan kepadanya. Sekarang pekerjaan ini satu pekerjaan yang “toh pati”, tetapi nanti pekerjaan itu makin “toh pati” lagi. Hitler bukan musuh yang setengah-setengah-hati, Hitler adalah manusia “kepanjingan syaitan” yang tidak kenal ampun. Buat membela kedudukannya, ya kalau perlu tak akan segan membakar hangus seluruh Jerman sendiri. Tetapi, sebagai Ernst Henri katakan tempohari, “that is already a second’ war”- itu sudah lagi satu peperang­a n yang k e d u a, yang, digabungkan dengan hantamannya Stalin dan hantamannya Churchill, akan mematah-remukkan dia sama sekali. Peker­jaan ini sungguh pekerjaan “toh pati”, tetapi ganjarannya ialah satu dunia yang lebih aman.

 

Akhirnya, tidakkah semua orang yang melawan Hitler itu masing­masing “toh pati” juga? Saya mengunci artikel ini dengan menunduk­kan saya punya kepala, sebagai tanda kehormatan kepada semua orang yang menyediakan jiwanya kepada perjoangan melawan Hitler itu. Kepada heldennya R.A.F. dan Red Air Force, kepada heldennya Britse dan Rus­sische Navy, kepada helden di darat dari semua nationaliteit – Inggeris dan Rusia dan Belanda, Czechia dan Polandia dan India dan lain-lain – yang satu-persatunya main catur dengan maut di padang-padang-peperangan dan samodra-samodra-peperangan melawan Hitler. Dan kepada itu onbe­kende dan ongenoemde helden pula, yang dengan diikuti maut di belakang tumitnya, menyusun di bawah tanah satu barisan-rahasia penghantam Hitler.

 

Kepada mereka itu semua, saya tundukkan saya punya kepala, dan saya ucapkan doa kepada Tuhan, moga-moga Dia memberkahi perjoangan mereka dan jiwa mereka itu semuanya.

 

“Pemandangan”, 1941

Iklan