BATU UJIAN SEJARAH

BATU UJIAN SEJARAH

 

SIAPA YANG BENAR, STALIN ATAU TROTZKY?

SATU PEMANDANGAN BERHUBUNG DENGAN

PERANG RUSIA – JERMAN SEKARANG INI.

 

HITLER, ENGKAU SEGERA DAPAT ENGKAU PUNYA BAGIAN!

 

Saya punya sahabat H.R. menulis di dalam majalah “Pembangunan” no. 105 satu artikel yang berkepala “m e r e b u t  

s i n g g a s a n a d i k ­t a t u r “. Artikel yang menarik itu

mengasih biografi singkat dari Stalin dan menceriterakan sedikit tentang perselisihan haibat antara Stalin dan almarhum Trotzky.

Kata sahabatku itu:

 

“Apakah sebabnya Stalin dan Trotzky bermusuh-musuhan seperti itu? Tabrakan mereka pecah keluar sebagai pertikaian faham.

Trotzky berpendirian bahwa revolusi harus diteruskan di antero dunia, sebab kalau tidak, Sovyet Rusia akan runtuh, kapitalisme akan timbul lagi di Rusia.

 

Stalin berpendirian, bahwa komunisme bisa dibangunkan di Rusia, meskipun segala negeri di luar Rusia masih tetap bersifat kapitalistis. Dan kedua-duanya bernabi kepada Lenin.

Siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang menyimpang dari ajaran Lenin dan siapa yang setia, hanyalah zaman nanti

yang akan bisa menentukan.”

Sekianlah kata H.R.

 

Memang benar: zaman akan menjadi hakim. Zaman akan menentukan siapa yang benar dan siapa salah. Tiap-tiap perjoangan-faham yang besar-besar di sejarah manusia yang telah beribu-ribu tahun itu, – zamanlah yang kemudian menghakiminya. Tetapi lama-sebentarnya zaman menjatuhkan hukumannya, – sesudah sepuluh tahunkah? Sesudah se­ratus tahunkah? Sesudah seribu tahunkah? – Itu berlain-lainan. Ada yang di dalam beberapa tahun sahaja sudah mendapat hukuman zaman, ada yang sampai puluhan tahun baru mendapat oordeelnya waktu, dan ada pula yang sampai ratusan tahun belum habis-habisnya juga! Misalnya orang-orang yang hidup di zamannya Mirabeau, atau Marat atau Danton dan Robespiere, (itu bapak-bapaknya revolusi Perancis) belum dapat benar­-benar menghukum mereka, pantas didoakan masuk syorga ataukah pantas didoakan masuk neraka mereka itu, – dan kita yang hidup di zaman sekarang ini belum dapat menerka-nerka pula ujung-ujungnya revolusi Tiongkok yang dimulai oleh Sun Yat Sen hampir setengah abad yang lalu itu. Revolusi Perancis baru dapat “dimengerti orang” di bagian kedua dari abad kesembilanbelas, dan Tuan-tuan yang membaca artikel saya ini belum tentu kelak dapat mengalami “habisnya” revolusi Tiongkok.

 

Atau, – maukah Tuan-tuan satu contoh yang lebih jitu lagi? Delapanratus tahun yang lalu ulama-ulama Islam menentukan bahwa pintu-pintu ijtihad agama telah tertutup. Delapanratus tahun lamanya suara orang-orang ini dianggap sebagai protesnya orang-orang yang murtad. Delapanratus tahun lamanya dunia Islam “angker” di dalam ideologi yang jahat itu, – baru sekarang, baru pada permulaan abad keduapuluh ini, orang mulai sedar akan salahnya pendirian itu! Tidakkah dahsyat Than, kalau memikirkan lamanya delapanratus tahun itu?

 

Memang! Kita manusia, kita biasa menghitung dengan bulan dan dengan tahun, oleh karena umur kita terbilang dengan bulan dan dengan tahun. Tetapi zaman? Ukuran apakah yang harus dipakai buat mengu­kur langkahnya zaman? Kita, manusia, kita anggap telah lama sekali kalau kita mengalamkan satu jarak waktu yang sepuluh tahun atau duapuluh tahun, t e t a p i zaman,

s e  j a r a h, atau apa sahaja namanya itu, – zaman atau

sejarah itu tidak menghitung dengan hari atau bulan atau tahun.

Ia melompati puluhan tahun pada tiap-tiap lang­kahnya, ia anggap

satu abad kadang-kadang sebagai satu tetes air sahaja di dalam samodra yang maha-luas.

 

Maka begitulah pula keadaannya dengan sejarah Revolusi di Rusia itu. Duapuluh empat tahun lamanya kita telah mempersaksikan dia, duapuluh tahun lamanya dia menjadi tontonan di dunia. Duapuluh empat tahun! – dan kita telah berkata: alangkah lamanya! Tetapi bagi orang yang mengerti perjalanan sejarah, bagi orang yang mengerti sejarahnya perobahan-perobahan masyarakat, – dia mengetahui, bahwa kalimat yang penghabisan dari revolusi ini belumlah tertulis. Tingkat yang satu masih harus diikuti oleh tingkat yang lain, etappe yang satu masih harus diganti oleh etappe yang lain. Pertikaian Stalin – Trotzky adalah satu pergeseran di waktu pemindahan satu etappe kepada etappe yang lain, pertikaian itu hanyalah satu “moment” belaka daripada per­jalanannya revolusi ini yang amat lama.

 

Namun, di dalam satu hal rupanya sejarah akan segera menjatuhkan vonis antara kedua mereka itu! Rusia kini sedang diserang oleh Jerman, dan peperangan inilah akan menjadi satu batu ujian sejarah di atas satu fatsal daripada pertikaian mereka itu. Sungguh mendahsyatkan dan mendirikan bulu caranya “sejarah” bekerja menjadi hakim antara kedua mereka itu! Tentara yang milyunan­-milyunan orang berhantam-hantaman dengan tentara yang milyunan‑milyunan orang pula, meriam menggempur meriam, tank menggempur tank, bumi menjadi lautan api, dan angkasa seperti akan terbelah karena gunturnya bom dan dentamnya ribuan kapal-udara. Padang-padang ­peperangan di tanah Rusia-Barat itu, di mana segala kedahsyatannya neraka seakan-akan ditumpahkan dari langit

di atasnya, padang-padang-pepe­rangan itu bukan sahaja menentukan nasib Rusia dan nasib Jerman buat puluhan tahun di kelak kemudian hari, – ia menjadilah pula satu “padang mahkamah ” yang maha-maha-haibat dan mendirikan bulu, di mana o o r d e e l n y a  

s e j a r a h atas satu fatsal dari perti­kaian Stalin – Trotzky digemblengkan dengan palu-godam-api yang maha­raksasa, yang pukulannya menggetarkan bumi, dari laut ke laut, dari pantai­ ke pantai.

 

Apakah fatsal pertikaian ini? Marilah saya terangkan kepada Tuan garis-garis-besarnya seperti pertikaian Stalin – Trotzky seluruhnya lebih dulu.

 

H.R. telah mengatakannya dengan satu-dua patah kata: Stalin beranggapan, bahwa dapat dan mungkin didirikan sosialisme di dalam satu negeri sahaja yakni di Rusia sahaja), tetapi Trotzky menanamkan anggapannya Stalin itu anggapannya orang  yang gila: Sosial­isme tak dapat didirikan tegak, tak mungkin, tak bisa, manakala inter­national kapitalisme tidak diruntuhkan lebih dulu sama sekali. Di Rusia, di Jerman, di Perancis, di Inggeris, di Italia, di Japan, di Tiong­kok, di mana-mana ia multi digugurkan lebih dulu, manakala sosialisme mau berdiri teguh. Sebab internationaal kapitalisme itu adalah ber­hubungan satu dengan yang lain, “organisch verbonden” satu dengan yang lain.

 

Bukankah gila Stalin, kata Trotzky, di mana dia mau mendirikan sosialisme di satu negeri sahaja, sedangkan kapitalisme negeri itu bersambung-sambung dan berurat-urat dengan kapitalisme-kapitalisme ne­geri-negeri lain? Bukankah gila pula mau mendirikan sosialisme di satu negeri pertanian seperti Rusia, di mana kaum buruhnya kalau tidak mendapat bantuan kaum buruh negeri luaran, mungkin bisa dikalahkan oleh kaum-kaum tani yang masih kolot dan besar jumlah itu? Tidak! kata Trotzky revolusi yang telah menyala di negeri Rusia itu tidak boleh berhenti di muka pagar-pagarnya negeri-negeri yang mengelilinginya, re­volusi itu harus menjalar terus ke kota-kota lain dan ke negeri-negeri lain. Revolusi itu harus menjalar terus menjadi satu internationale wereldr evolutie, dan dinegeri Rusia serta masing-masing negeri lain itu, revolusi ini tidak boleh bersifat satu kejadian yang “sekali jadi, s u d a h “, tetapi haruslah bersifat satu revolusi terus-menerus yang mengerjakan semua etappe-etappenya, dari a sampai z. Maka faham internationale wereldrevolutie yang melalui semua etappe-etappenya terus-menerus dari a sampai z ini, oleh Trotzky dinamakanlah faham “permanente revolutie”.

 

Stalin pada hakekatnya tidak anti perjoangan kapitalisme internasional melawan kapitalisme internasional itu.

Ia pada hakekatnya tidak anti wereldrevolutie, ia pro aksi kaum proletar di mana-mana. Dapatkah orang menunjukkan seorang komunis yang anti wereldrevolutie itu? Tetapi Stalin katanya tidak mau melupakan satu kenyataan yang sudah ada, – satu realiteit. Apakah realiteit ini? Realiteit ini ialah, kata Stalin, bahwa pada dewasa ini perlu dijaga keselamatan “benteng Rusia”. Pada dewasa ini kaum proletar seluruh dunia hanyalah mem­punyai satu benteng sahaja, satu citadel, “satu pusat-kekuasaan”, yakni Sovyet Rusia. Perkuatlah pusat-kekuasaan ini, jagalah keselamatannya. Perkuatlah n e g a r a Sovyet Rusia, haibatkanlah ia punya industrialisasi, haibatkanlah ia punya tenaga militer, haibatkan ia punya barisan dalam, haibatkan ia punya barisan luar. Seluruh dunia kapitalisme dari Barat dan Timur, dari dekat dan dari jauh, mau menjatuhkan satu-satunya citadel kaum proletar ini, – jagalah jangan ia jatuh. Haibat­kanlah negara Sovyet Rusia ini menjadi satu negara yang kerasnya seperti baja, supaya tiap-tiap musuh yang menyerangnya akan hancur menjadi debu di muka pintu-pintu-gerbangnya dan di muka meriam-meriamnya.

 

Begitulah kata Stalin. D i d a 1 a m lingkungan tembok-temboknya Sovjet Rusia, kaum buruh harus membadjakan negara ini dengan meng­haibatkan iapunja organisasi industri dan industrieele capaciteit, merak‑sasakan ia punja militair apparaat, mengkobar-kobarkan semangat pertahanan di kalangan buruh dan kalangan tani, di luar lingkungan tembok itu tiap-tiap tindakan kaum buruh seluruh dunia harus diko­ordinirkan kepada kepentingannya negara Sovyet Rusia itu. Dan tentang cita-citanya revolusi? Maatschappelijke idealennya re­volusi? Itupun, kata Stalin, tak perlu mengecewakan! Maatschappelijke idealennya revolusi Rusia, yaitu komunisme, satu peraturan kerezekian yang sama-rasa-sama-rata, maatschappelijke idealen ini dapat didirikan di Rusia sendiri,

z o n d e r “menunggu” negeri-negeri lain. Sebab Rusia adalah satu negeri yang maha-maha-luas, dan persediaan bekal-bekal­hidupnyapun boleh dikatakan tidak ada batas jumlahnya. Apa sahaja yang ia perlukan, dapatlah diambil dari pangkuannya Ibu Rusia sendiri! Besi, timah, kayu, gandum, aluminium, arang-batu, minyak, kulit, daging, bauxiet, nikkel, tembaga, ya apa sahaja yang diperlukan, adalah tersedia dengan secukup-cukupnya dan sebanyak-banyaknya.

 

Rusia adalah satu negeri yang tak perlu beli bahan apa-apa dari negeri lain, – satu negeri yang sebenar-benarnya satu negeri yang “self-supporting” dan “self-containing”.

 

Nah, kata Stalin, satu negeri yang demikian luasnya, satu benua, yang penduduknya ratusan milyun, yang tradisi pergerakan kaum buruh telah langsung berpuluh-puluh tahun, dapatlah mendirikan sosialisme di dalam pagarnya sendiri! Semua syarat-syaratnya dan bahan-bahan pergaulan­hidup sosialistis tinggal mengambil sahaja! , Semua bekal untuk indus­trialisasi sosialistis di pabrik-pabrik dan di padang-padang gandum sudah­lah tersedia, tinggal mengerjakan sahaja!

Asal sahaja negara Rusia itu tidak dirusakkan orang dari luar, asal sahaja ia mampu menangkis tiap-tiap serangan musuh dari luar, maka pekerjaan mendirikan sosialisme itu bisa langsung dan berhasil. Maka menurut plan ini, – pertama, plan membuat negara Rusia menjadi satu benteng baja, dan kedua, plan mensosialiskan pergaulan-hidup -, dimobilisir­kanlah oleh Stalin semua tenaga yang ada pada rakyat. Plan-lima-tahun yang kesatu, kedua, ketiga, keempat, plan mengkolektivistiskan semua produksi kepabrikan dan pertanian, plan merintis jalan-jalan-baru di tepi-tepinya lautan utara, plan memechanisirkan tentara, di dalam tiap­-tiap bagiannya, plan membagi tentara itu menjadi tiga bagian (di Barat, di Selatan,

di Timur) yang sama sekali merdeka yang satu dari yang lain, – semua plan-plan itu hanyalah detail belaka dari plan-raksasa yang dua tahadi: negara Rusia benteng baja, pergaulan-Iiidup di dalamnya sosialistis.

 

Kini, kini datanglah ujiannya sejarah. Pelor-pelornya Hitler dan dinamit-dinamitnya Hitler menghantam kepada tembok-temboknya ben­teng Rusia itu. Bumi bergoncang, udara laksana akan terbelah, karena haibatnya hantaman ini. Kini malaekatnya sejarah mengkilatkan pe­dangnya dan menggunturkan suaranya. Kini Stalin dibawa oleh malaekat­ sejarah itu ke hadapan Mahkamahnya, diuji kebenarannya ia punya “teori benteng”. Akan kuatkah benteng Stalin menahan serangan musuh? Seluruh dunia-manusia dengan dahsyat menonton berlakunya persidangan Mahkamah-Sejarah ini, yang tanya-jawabnya bermulut meriam sambung­-bersambung laksana guntur, ledak-meledak menggemparkan bumi, kilat-­mengkilat menyala-nyala membakar angkasa. Stalin kini berdiri di muka Mahkamah  itu. Dengan tandas ia akan mengulangi apa yang berkali­-kali ia telah katakan: ini, serangan dari luar inilah, yang ia khawatirkan dan jaga-jagakan dari dulu!

Serangan dari luar inilah memang pokok-pangkalnya ia punya pendirian, minta kepada kaum buruh seluruh dunia supaya mereka memusatkan semua perhatian kepada negara Rusia, dan sekali lagi negara Rusia sahaja. Citadel Rusia, – citadel inilah harus menjadi awalnya dan akhirnya semua tindakan; kaum komunis seluruh dunia harus dikoordi­nirkan ke situ, semua gerak-gerik dari cabang-cabang partai komunis di seluruh dunia harus t u n d u k kepada komando dari pusatnya citadel itu, yaitu Moskow. Kini terjadi benar itu citadel diserang musuh, – apakah yang sejarah mau persalahkan lagi kepadanya?

 

Tetapi! Bukan dia sahaja yang berdiri di hadapan Mahkamah itu, Arwah Trotzky-pun berdiri di situ, terpanggil dan dalam kuburnya di­tanah Mexico. Apa jawab Trotzky? Tidakkah nyata sekarang kebenaran dari faham Stalin itu?

 

Sudah hampir satu tahun Trotzky mati terbunuh, tetapi tulisan­tulisannya masih menyala seperti api menjilat gedung-gedung kefahaman Stalin dan gedung-gedung kekuasaan Stalin. Stalin berkata: peperangan ini bukti-kebenaran ia punya faham? Kalau “permanente revolutie” di­jalankan, kata Trotzky, maka serangan Hitler itu tak akan mung­kin sama sekali! Ya, malahan tak akan mungkin Hitler dahulu membuat besar partai N.S.D.A.P.-nya, tak akan mungkin dahulu ia men­jadi diktator negeri Jerman!

 

Adanya Hitler naik kekuasaannya, menjadi kepala negara Jerman, menyusun satu militair machtsapparaat yang memakan harta-rakyat dan keringat-rakyat yang luar tanggungan manusia beratnya, menghantamkan militair machtsapparaat itu buat mengobrak-abrik kemerdekaan negeri­-negeri di kanan kirinya, membombardir kota-kota terbuka dan membina­sakan jiwanya ratusan ribu manusia, dan akhirnya menyerang benteng negara Rusia itu, – itu semua hanyalah mungkin oleh karena “per­manente revolutie” diabaikan. Itu semua hanyalah mungkin, oleh karena segala gerak-geriknya pergerakan kaum buruh Jerman di­tundukkan kepada perintah dan kepentingan Moskow, di-“u k u r­ k a n” kepada soal “baikkah bagi Moskow” atau “tidak baikkah bagi Moskow”. Kemerdekaan-bergerak dari kaum proletar seluruh dunia itu diikat dan dibelenggu, diabaikan dan dihambakan kepada kepentingan Moskow, tidak perduli apakah ikatan ini m e r u g i­ k a n kepada kepentingan kaum proletar di negeri-negeri itu atau tidak.

 

Misalnya, kata Trotzky, – tidakkah nyata, bahwa : K.P.D. (Kommunistische Partei Deutsclilands) tidak berdaya apa-apa lagi, semenjak ia musti mengkoordinirkan tiap-tiap gerak-geriknya kepada buitenlandse­politieknya Stalin? K.P.D. adalah beranggauta banyak, pengikut-pengikut­nya dulu melebihi jumlah pengikut Hitler, pada waktu pemilihan Rijksdag di tahun 1930 ia dengan kaum sosial-demokrat mendapat lebih banyak suara dari partai N.S.D.A.P., – tetapi ia tidak dapat mengeluar­kan “revolutionair elan” sejak ia diikat kepada buitenlandse-politieknya Stalin, yang maksud yang satu-satunya hanyalah jaga Rusia, jaga Rusia dan sekali lagi jaga Rusia sahaja.

 

Di dalam tahun 1922 Rusia menanda-tangani perjanjian R a p a l l o dengan Jerman, buat memudahkan economisch-technisch ruilverkeer antara Rusia dan Jerman, dan sejak Stalin berkuasa, maka semua gerak-geriknya K.P.D. ditundukkanlah olehnya kepada soal baik tidaknya buat economisch-technisch ruilverkeer itu. Boleh dikatakan tiap-tiap aksi kaum buruh Jerman yang bisa membahayakan Rapallo itu dilarang, tiap-tiap serangan kaum buruh itu kepada kapitalisme Jerman diham­bat, oleh karena chawatir kalau-kalau merugikan economisch-technisch ruilverkeer dengan Rusia, yang begitu amat-amat hajat kepada mesin­-mesin Jerman dan insinyur-insinyur Jerman.

 

Padahal! Pada waktu itu, kata Trotzky, sudah nyata K.P.D. dengan bantuan kaum buruh lain bisa merebahkan Hitler, asal sahaja revolutionair elannya tidak dikekang. Sudah nyata jumlah suara yang jatuh kepada kaum buruh lebih banyak daripada yang jatuh kepada Hitler, sehingga Presiden Von Hindenbdtg sendiri menjadi cemas dan takut akan itu “air-bahnya komunisme”.

Maka mengambillah Von Hin­denburg ia punya politieke zet yang maha-haibat yaitu: dengan persetujuannya kaum ondernemers ia mengangkat Adolf Hitler menjadi Minister-president Jerman, kendati Adolf Hitler kalah

dalam jumlah suara dengan kaum buruh, kendati Adolf Hitler

selalu mengeritik dan menghantam kepada rijksre­gering, kendati

Adolf Hitler nyata musuhnya partai-partai pemerintah dan haluan cara-pemerintahan dan haluan cara-pemerintah yang sudah ada: Adolf Hitler naik di atas tingkat tangga-kekuasaan yang pertama ini tidak karena kemenangan perjoangan, tidak karena k e k u a t a n  s e n d i r i, tetapi ialah karena karunianya politieke zet dari Heer Fieldmarschalk Reichspresident Paul von Hindenburg belaka. Lebih baik Adolf Hitler yang gembar-gembor itu menjadi minister-president, daripada air-bahnya haluan komunisme!

 

Maka mulailah tragedi bermain di atas podium-permainannya rakyat Jerman. Adolf Hitler minister-president, sebentar lagi Adolf Hitler Reichs-president mengganti Von Hindenburg yang mangkat, sebentar lagi absolute Dictator di atas punggungnya rakyat Jerman yang puluhan milyun itu. Semuanya partai yang membahayakan kepadanya ia binasakan, semua partai yang ia pakai bisa ia anschluss, semua surat kabar ia kekang, semua oposisi ia hantam hancur-lebur di muka bumi. Duitschland ia jadikan satu penjara yang maha-besar, tubuhnya puluh-puluhan-ribu anaknya Adam ia lemparkan ke dalam concentratiekamp atau ia drel di muka tem­bok. Milyunan-milyunan orang Jerman ia giring menjadi umpan meriam ke dalam ia punya tentara, dan tidak lama lagi mengamuklah angin taufan, peperangan di atas padang-padang Eropah. Kalau direnungkan sebentar, – inilah President Von Hindenburg punya jasa …

 

Tetapi, – kalau direnungkan sebentar pula, –

inilah Stalin pu­nya jasa, kata Trotzky, – Stalin, yang memadamkan revolutionair elan­nya kaum proletar Jerman dengan ia punya politik anti permanenterevolutie dan pengabdian kepada kepentingan buitenlandse politiek Rusia semata-mata. Stalin, ini kau punya perbuatan,-adalah gugatan Trotzky atas kenaikan Hitler dari politikus biasa menjadi politi­cus-geweldenaar yang mengodal-adilkan susunan-dunia: Kalau pada waktu Von Hindenburg mau menempatkan Hitler di atas kursi kekuasaan, kaum buruh Jerman mengadakan aksi-perlawanan pada waktu yang sehaibat-­haibatnya, kalau pada waktu itu K.P.D. dibiarkan mengeluarkan revolu­tionair elannya, dan tidak dibelenggu oleh nationaal-russische politieknya Stalin, maka Hitler tidak akan mendapatkan sedikitpun sama sekali!

 

Tetapi, ya mau kata apa,- nasi sudah menjadi bubur! Hanya saha­ja, kalau sekarang Hitler dengan ia punya penyamun – penyamun mau merampok dan menjarah di negeri Rusia, kalau sekarang “pedangnya Siegfried” (begitulah kata Hitler) menghantam dan mengkilat di padang­-padang Rusia-Barat, – janganlah Stalin menebah-nebah dada seraya ber­kata: ini, inilah yang dari dulu aku jaga!

 

Sebab kata Trotzky, dia pun (Trotzky) tahu, bahwa Rusia selalu diintai musuh, dia pun mau membikin negeri Rusia menjadi benteng-proletar sekuat baja, dia pun dapat mengukur betapa besarnya bahaya kalau benteng ini bisa dijatuhkan musuh.

Dia pun sendiri dulu panglima perang Rusia, yang bertahun-tahun lamanya berperang mati-matian mempertahankan “proletarisch vaderland” itu terhadap serangannya Yudenitch dan Koltchak dan Denikin dan Wrangel, yang semuanya dibantu oleh negeri-negeri luaran. Dia pun berpen­dapat, bahwa benteng Rusia ini, satu-satunya benteng dari kaum proletar seluruh dunia, harus dibela dan dijaga mati-matian, jangan sampai runtuh. Tetapi caranya musti menjaga benteng ini bukanlah cara Stalin, yang politiknya ialah satu nationaal-russische politiek se­mata-mata, tetapi haruslah satu cara, yang menghidupkan tenaga-tenaga­ perjoangan dan tenaga-bekerja di kalangan kaum buruh di Rusia d a n di seluruh dunia yang lain-lainnya juga.

 

Tetapi jauh daripada itu, kata Trotzky, maka Stalin telah berkhianat kepada aksi proletar di mana-mana. Di Jerman aksi K.P.D. ia lemahkan, di Perancis aksi komunis ia tundukkan pula kepada keselamatannya ia punya buitenlandse politiek, di  Inggeris idem,

di Amerika idem, di Tiongkok idem. Malahan di negeri yang belakangan ini politik Stalin itu memakan korban jiwanya ribu-ribuan kaum komunis, tatkala di bulan Desember 1927 di Kanton mereka disapu bersih oleh pemerintah nasional.

 

Pendek-kata kata Trotzky, sejak Stalin memegang pimpinan negara, maka bantuan pergerakan proletar dari negeri luaran kepada Rusia makin lama makin kurang, makin lama makin surut. Makin lama makin berkurang, oleh karena pergerakan kaum proletar itu di mana-mana  memang makin lama makin lemah, – karena politiknya Internasional ke-III, yang tidak boleh menjalankan lain politik daripada nationaal-russische politiek semata-mata. Negara Rusia boleh dikatakan – tidak, tetapi sudah nyata Internationale ke-III menjadi lemah. Internationale ke-III, yang kata Trotzky sebenarnya itulah bentengnya internationale proletariaat! Internationale ke-III jang sebenarnya itulah mustinya salah satu “troef” yang paling dahsyat di tangannya Moskou, untuk menghaibatkan segala ia punya tun­tutan-tuntutan terhadap negeri-negeri kapitalis internasional!

 

Tetapi justru Internationale ke-III, itu ia belenggu, ia lemahkan, ia bunuh semangatnya, ia bikin satu badan mati karena tak ada kemerdekaan ­bertindak sedikitpun jua. Internationale ke-III hilanglah iapunya arti sebagai tameng internasional. Sovyet Rusia terpaksa berdiri sendiri zonder “penyokong”, zonder “penjaga”. Ia benar satu citadel, tetapi satu citadel yang terpencil, zonder kawan-kawan, zonder “secundair” citadellen yang mengelilingi dia akan melindunginya di hadapan musuh. Kanan kiri bahaya mengancam, tetapi iapunya alat-penangkis keluar, semuanya lemah. Akhir-akhirnya terpaksalah ia main mata dengan negeri-negeri kapitalisme sendiri. Ia mencari sokongan pada tubuhnya negeri-negeri kapitalis sen­diri, mengeluarkan tangannya ke kanan dan ke kiri, minta didjabat, secara persaudaraan. Ia tidak bisa menjalankan satu zelfstandige politiek lagi, ia menjadi satu “anggauta” dari politik internasional yang biasa.

 

Ia masuk Volkenbond. Inilah menurut Trotzky salah satu tragedinya Sovyet Rusia di bawah pimpinan Jozef Stalin!

 

Begitulah di dalam pokok-pokoknya, serangan Trotzky atas Stalin. Sudah barang tentu, Stalin-pun tidak tinggal diam. Nama Trotzky

ia suruh coret dari semua literatur Sovyet. G.P.Oe. ia gerakkan, untuk me­madamkan tiap-tiap api Trotzkysme yang masih ada di Sovyet Rusia. Trotzky boleh seribu kali mengatakan bahwa politik Stalin salah, boleh seribu kali menggugat nationaal-russische karakter daripada Komintern, tetapi ia, Stalin, tetap berkata bahwa inilah satu-satunya politik yang benar. Trotzky boleh mengatakan bahwa citadel Rusia kini terpencil, tetapi Stalin berkata, bahwa kalau Rusia tidak diperkuat – di dalam pagar se­cara faham Stalinisme itu, musuh dari l u a r a n sudah lama menerkam kepadanya. Teori tinggal teori, tetapi inilah satu kenyataan yang riil: Perkuatlah Rusia itu, bajakanlah Rusia itu, persen­jatai dan industrialisirlah Rusia itu d e n g an cepat, jangan dikasih kans musuh menyerang kepadanya, mumpung-mumpung dia masih lemah. Sungguh, kata Stalin, – kalau tidak lekas-lekas dulu rakyat Rusia mengerjakan plan menurut plan Stalinisme, maka s u­ d a h lama musuh menghantam kepadanya!

 

Maka sekarang benar-benar musuh itu menghantam, tetapi benteng Rusia sudah siap pula. Non-agressiepact dengan Hitler, kata Stalin, pun bukan satu kesalahan, karena pact itu menambah tempo lagi delapanbelas bulan kepada Rusia buat bersedia-sedia menghantam.

Kini musuh meng­hantam, suruhlah ia menghantam. Kini petir dan halilintar dan taufannya Dewa Mars menyambar-nyambar dan mengamuk di padang-padang Rusia­ Barat, tetapi benteng Rusia sudah sedia dan sudah siap. Hantamlah siapa yang mau menghantam. Rusia akan bayar kembali dengan rente yang berlipat-ganda. Kini dia, Stalin, dibawa ke hadapan Mahkamah-Sejarah, tetapi juga di situ dia masih sanggup bertukar jawab dengan Trotzky yang terpanggil dari alam barzach.

 

Stalin dan Trotzky di hadapkan Mahkamah – Sejarah. Seluruh dunia menyaksikan dengan nafas yang tertahan persidangan yang maha-maha­ dahsyat ini, yang tanya-jawabnya menggempakan bumi dan membakar angkasa, – yang tempat persidangannya jauh dari kita di padang-padang Letland, Latvia, Rusia-Putih dan Oekrajine, tetapi yang ledakan guntur suaranya terdengar dari ujung Timur dan ujung Barat, nyala-apinya me­merahkan angkasa dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain. Siapakah yang benar? Stalin-kah atau Trotzky-kah?

 

Kita, ideologis, adalah duduk di luar perjoangan-faham ini. Kita ideologis hanyalah orang menonton. Tetapi sebagai tiap-tiap manusia di muka bumi ini, kita ikuti persidangan ini dengan minat yang semenge­muncak-mengemuncaknya, dan perhatian yang menggetarkan segenap kitapunya jiwa. Sebab “corpus delicti” di dalam persi­dangan ini ialah meriamnya Adolf Hitler, maha-dewa bagi sebagian orang, maha-hantu bagi semua orang yang cinta hak­ kemanusiaan dan hak-kemerdekaan. Stalin benar atau Stalin salah, Trotzky benar atau Trotzky salah, – pada saat ini soal itu menjadikanlah satu soal akademis, yang terdorong ke belakang oleh soal mati­ hidup yang baru timbul, yakni soal: akan mampukah Stalin menghantam Hitler ini terjungkel patah, sehingga tidak bisa berdiri lagi?

 

Kalau Hitler menang, maka ia akan makin mengamuk, – nasib dunia susahlah dikatakan lagi, hilang-musnalah semua hasilnya perjoangan peri-kemanusiaan yang ratusan tahun itu, baik di Rusia maupun di negeri-­negeri lain. Soal mati-hidup daripada h a r i sekarang ini, ialah melabrak Hi t 1 e r itu keluar dari halamannya sejarah peri-kema­nusiaan!

 

Kesitu, ke situlah kita arahkan segenap harapannya kita punya hati, ke situlah kita pusatkan segenap getarannya kita punya jiwa. “Hantam, hantamlah dia remuk, Stalin, hantamlah dia musna dari sejarah kemanusiaan!” Inilah pekik yang harus keluar dari dasar-dasarnya kita punya passie, – kita, demokrat-demokrat dari semua macam ragam, liberal dan nasionalis, komunis atau bukan kaum komunis, kaum merah atau bukan kaum merah. Churchill bersuara begitu, Roosevelt bersuara begitu. Se­luruh dunia yang sedar akan jahatnya fasisme harus mendoakan, dan di mana mungkin membantu supaya Rusia, Rusia-lah, yang keluar sebagai Al-Chasi dari apinya dan luluhan-bajanya peperangan Jerman – Rusia itu, dan bukan Hitler.

 

Inilah soal mati-hidup dari hari sekarang! Soal inilah yang sekarang menyala di dalam pusat-perhatiannya tiap-tiap orang yang betul-betul cinta kepada kemanusiaan dan keadilan. Hanya orang yang tidak sedarlah bisa menaroh sympathie kepada Hitler, – atau, dia orang fasis, orang yang durhaka, orang yang senang duduk di atas pung­gungnya sesama manusia, orang yang senang menginjak-injak hak-hak peri-kemanusiaan. Tetapi alhamdulillah, tanda-tanda sudah ada, bahwa Hitler telah mendekati akan terima ia punya pembalasan. Tingkat per­tama dari tujuannya Ernst Henri yang saya ceriterakan tempo hari rupanya sudah mulai berakhir, tingkat kedua rupanya kini mulai berjalan. Kalau benar begitu, – Hitler, tidak lama lagi, engkau mendapat engkau punya bagian!

 

Demikianlah soal mati-hidupnya dari hari s e k a r a n g.

Baru kemudian, kemudian kalau api peperangan Jerman – Rusia sudah padam, akan mendapatlah arti lagi itu soal antara Stalin dan Trotzky, – siapa benar, siapa salah. Baru kemudian dapat dibuka kitab-vonisnya sejarah tentang satu fatsal dari perjoangan-faham dua mereka itu. Rusia menang, Stalin mendapat satu plus, – Rusia kalah, Stalin mendapat satu minus.

 

Tetapi vonis yang lengkap, vonis yang berisi semua fatsal perseli­sihan faham itu (misalnya fatsal mungkin-tidaknya sosialisme di satu negeri sahaja), vonis dibaca di kemudian-kemudian yang lengkap itu barulah dapat dibaca di kemudian-kemudian hari lagi. Di kemudian hari, – kalau “Russische Revolutie”, sudah berakhir sama sekali. Kapan? Wallahu a’lam!

 

Barangkali masih berpuluh-puluh tahun.

 

“Pemandangan”, 1941

Iklan