SAYA KURANG DINAMIS

SAYA KURANG DINAMIS

 

Saudara-saudara dari majalah “Adil” mengatakan saya terlalu dinamis. Rupa-rupanya saudara-saudara itu menganggap, bahwa kedina­misan itu adalah salah satu sifatnya saya punya jiwa. Kalau benar begitu, maka itu saya anggap sebagai satu kehormatan yang amat besar. Sebab saya mempunyai resep-besar kepada semua orang yang dinamis, dari bangsa apa sahaja, dan dari haluan apa sahaja. Saya membuka topi kepada musuh yang dinamis, dan menganggap tempe kepada kawan yang tidak dinamis. Saya anggap satu kecelakaan besar, kalau orang menga­takan saya tidak dinamis. Siang dan malam saya mendoa kepada Allah Ta’ala supaya Dia sudi membuat saya menjadi lebih dinamis lagi!

 

Kalau saudara-saudara dari “Adil” berkata, bahwa saya terlalu dinamis, maka saya menjawab: “Sayang saudara-saudara saya masih kurang dinamis lagi!”

 

Pada penutup tulisan saya sekarang ini, saudara-saudara akan mengerti, apa sebab saya berkata begitu.

 

Saya suka sekali “membongkar”. Hanya dengan cara “membongkar”, orang bisa mengeweg-eweg publik supaya ia bangun dan memperhatikan sesuatu soal. Publik selalu mengantuk dan bertabiat membeku. Kalau orang minta ia punya perhatian dengan cara muntar-muntir,  ia  akan tidak beri perhatian itu, atau – ia akan tetap mengantuk sahaja. Kalau orang mau membangunkan perhatian publik, orang musti ambil palu‑godam yang besar, dan pukulkan palu itu di atas meja sehingga bersuara seperti guntur.

 

Tuan barangkali mentertawakan saya punya perkataan ini, tetapi lihatlah cara-bekerjanya orang-orang yang haibat. Setuju atau tidak setujunya dengan mereka punya pikiran-pikiran, itu adalah perkara lain, tetapi lihatlah cara-bekerjanya mereka itu semua. Tidak ada satu yang muntar-muntir. Mereka punya pikiran mereka bantingkan di tengah-­tengah khalayak, sehingga mendengung dan mengilat! Luther tak pernah setengah-setengahan, Marx dan Bakunin dan Lenin dan Trotzky tak pernah memakai perkataan sutera, Vivekananda laksana bom dari kapal­ udara. Mussolini punya falsafah-hidup adalah “leef gevaarlijk”, Hitler punya cita-cita hidup yang tertinggi ialah menjadi Trommler (pemukul canang) yang selalu bertindak dengan “Brutalitat”. Dan maukah Tuan satu teladan yang Tuan lebih kenal? Arnbillah teladan dari Nabi Muhammad. Sejak hari pertama yang Ia buka suara terang-terangan di kota Mekkah, Ia sudah membikin “onar”, Ia tidak berkeliling dan muntar-muntir.

Ia ketengahkan Ia punja pikiran-pikiran dengan cara yang mentah-mentahan.

 

Tuan dari “Adil” misalnya mengatakan saya terlalu dinamis di

dalam soal tabir antara laki-laki dan perempuan. Kalau saya tidak dinamis ditentang tabir itu maka tabir itu sama sekali tidak dibicarakan orang di kedai-kedai! Dan kini alhamdulillah saya mendengar dengan telinga saya sendiri dari mulutnya seorang pemuka Islam yang amat terkenal, bahwa beliau sebenarnya setuju dengan pendirian saya itu. Hanya beliau anggap, beliau harus selidiki “alon-alon”. Di dalam pada itu beliau mengakui faedah yang amat besar, bahwa saya telah membongkar masaalah itu.

 

Ya, saya memang suka sekali “membongkar”. Itu memang saya anggap sebagai satu amal. Saya memang suka sekali “main palu-godam”, agar supaya suara pukulannya itu menterperanjatkan khalayak yang mau “angler-angleran” sahaja sehingga orang lantas mulai ramai berdebat dan,- berfikir. Soal tabir kini sudah menjadi satu masaalah yang “panas” dan begitu pula soal-soal yang lain sudah menjadi hangat. Alhamdulillah, saya punya canang yang mensinyalir kebekuannya kita punya ulama-ulama, kejahatannya agama zonder akal, kepincangannya agama fiqh-zonder-rneer, kepincangannya masaalah agama dengan negara, – canang saya itu ternyata sudah menggoyangkan banyak sekali “denkende geesten” dikalangan bangsa kita.

 

Bahwa orang akan menjadi “onar” karena tulisan-tulisan saya itu, akan “membuat dendeng” kepada saya karena tidak setuju atau memberi tangan kepada saya karena setuju, itu saya sudah ketahui lebih dulu. Itu keonaran tidak mengapa, itu malahan saya anggap berfaedah. Itu memang saya sengaja, memang saya harap. Saya memang sengaja “menjatuhkan palu-godam diatas meja”, dan kini alhamdulillah publik telah ramai membicarakan “palu-godam” itu. Sekumpulan majalah, setimbun surat-surat-prive yang setuju dan tidak setuju, adalah kini terletak di atas saya punya meja tulis, dan percayalah, tidak satu orang yang lebih merasa berbahagia dengan timbunan majalah dan surat-surat­ prive itu daripada saya sendiri. Alhamdulillah pula, saya punya ajakan akan berfikir itu, nyata diperhatikan orang!

 

Biar publik tetap “onar” membicarakan habis-habisan soal-soal yang saya palu-godamkan itu dulu. Insya Allah kelak akan saya sambung kata seperlunya lagi.

 

Tetapi tentang masaalah agama dan negara saya perlu menambah keterangan sekarang ini juga, oleh karena saya khawatir, kalau-kalau soal ini dibicarakan orang “secara ahli agama” sahaja dan tidak secara “ahli negara” pula. Tuan-tuan dari “Adil” ada menulis: “Kemal. Ataturk bukan satu orang ahli agama) tetapi melulu seorang ahli negara … mana bisa, bukan seorang ahli Islam, ulama Islam, dapat menyusun satu peme­rintahan model Islain, sekalipun pemerintahan dipisahkan.

 

“Accoord, Tuan-tuan dari “Adil”, Kemal Ataturk bukan “ulama Islam”. Tetapi apa benar perkataan Tuan, (althans itu saya punya kesan), bahwa dus hanya ulama-ulama-Islam sahaja boleh campur tangan di dalam susunan negara yang Tuan cita-citakan? Kalau benar begitu di dalam Tuan punya cita-cita, semua kaum intelektuil,

(yang umumnya semua bukan ahli agama, bukan ulama Islam), boleh dikasih tabe selamat jalan sahaja di dalam urusan ini.

 

Alangkah segar sekali Tuan punya pendirian itu!

Itulah sebabnya saya anggap perlu menambah sedikit kata tentang masaalah perpisahan agama dan negara itu sekarang juga, agar supaya orang lebih mengerti saya punya fikiran.

 

Lebih dulu, – maaflah seribu maaf saya tanya kepada Tuan-tuan

dari “Adil”: sudahkah Tuan baca seri artikelen saya itu dengan teliti?

Dan juga: apa sebab Tuan tidak tunggu dulu sampai seri itu habis?

 

Saya tanyakan hal ini kepada Tuan, oleh karena Than rupanya belum mengerti betul maksudnya seri artikelen saya tentang soal pemisahan negara dan agama di Turki itu. Dengan terang sekali di situ saya tuliskan, bahwa saya hanya memverslahkan sahaja alasan-alasan Turki memisah­kan agama dari negara. Dengan nyata malahan seri itu saya bubuhi ke­pala: “Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara”. Turki, Tuan-tuan dari “Adil”, Turki, bukan negeri ini atau negeri itu, dan apa sebabnya Turki berbuat begitu.

 

Soal pemisahan negara dan agama sebagai soal-umum, sebagai problim, sebagai satu hal yang kita musti ambit pendirian pro atau kontra, – soal itu tidak menjadi isinya seri itu yang istimewa. Itu adalah terserah kepada fikiran orang sendiri-sendiri. Isinya artikelen saya itu hanyalah istimewa memberi bahan sahaja buat memikirkan soal itu, memberi material buat bahan studi yang amat perlu. Perslah, dan bukan satu pengambilan sikap yang nyata. Perslah, dan bukan satu stellingname, Tuan-tuan dari “Adil”! Tidakkah Than baca juga saya punya kalimat, bahwa saya merasa belum mempunyai hak menjatuhkan putusan akhir atas Turki itu?

 

Tidakkah Than baca juga, bahwa saya mengundang kaum studen supaya suka memberi studie materiaal yang banyak lagi tentang soal ini?

 

Sungguh Tuan-tuan, – Than mengatakan saya terlalu dinamis, padahal saya masih kurang dinamis lagi! Tuan-tuan mengatakan saya terlalu dinamis, padahal merah saya punya telinga karena malu, kalau memikirkan saya sudah lama berdiri di kalangan masyarakat, en toch belum bulat fikiran menjatuhkan konklusi yang pasti atas tindakan Turki itu!

 

Tuan sudah bulat Tuan punya fikiran tentang soal negara dan agama itu? Saya kagum melihat Than, ik bewonder U! Tetapi barangkali Than terlalu terapung-apung di atas awannya idealisme dan cita-cita. Marilah saya bawa Tuan turun dari awan-awan yang tinggi itu, ke atas tanahnya bumi yang nyata, dan kita bercakap-cakap di atas bumi itu dengan cara yang riil. Bukan saya puji, di dalam seri artikelen itu Kemal Ataturk sebagai orang yang selalu mau Hil, marilah kita juga mencoba menjadi riil.

 

Marilah kita, supaya Hil, membicarakan soal ini berhubung dengan kenyataan-kenyataan, yakni berhubung dengan seperti Tuan disuruh benar­benar mengerjakan, mempraktekkan, Tuan punya cita-cita itu.

 

Tuan berkata, negara jangan dipisah dengan agama, negara harus satu dengan agama. Accoord, tetapi bagaimana Than mengerjakan Tuan punya ideal itu di negeri yang Tuan mau adakan demokrasi di situ dan di ­mana penduduk sebagian tidak beragama Islam, sepertinya Turki, India, Indonesia, di mana milyunan orang beragama Keristen atau agama lain, dan dimana kaum intelektuil umumnya tidak berfikir Islamistis. Than tak dapat menyangkal bahwa persatuan agama dan negara itu adalah baru Than punya ideal sahaja, belum satu kenyataan, belum satu kejadian.

 

Andainya, andainya Tuan menjadi pemerintah negeri yang banyak orang bukan Islam, – apakah Tuan mau tetapkan sahaja bahwa negara harus negara Islam, undang-undang dasar harus undang-undang dasar Islam, semua hukum-hukum harus hukum-hukum syari’at Islam? Kalau kaum-kaum yang beragama Keristen atau agama lain tidak mau terima, bagaimanakah? Kalau kaum-kaum intelektuil tidak mau terima, bagai­manakah? Kalau kaum-kaum yang lainnyapun tidak mau terima, bagaimanakah? Tuan apakah mau paksa sahaja kepada mereka, dengan menghantamkan Tuan punya tinju di atas meja, bahwa mereka musti ditundukkan kepada kemauan Tuan itu? Ai, Than mau main diktator, mau paksa mereka dengan senjata bedil dan meriam? Kalau mereka tidak mau tunduk pula, bagaimana? Tuan toch tidak mau basmi mati mereka itu habis-habisan secindil-abangnya, karena zaman sekarang adalah zaman modern, dan bukan zaman basmi-basmian secara dulu!

 

Inilah, saudara-saudara dari “Adil”, inilah realiteit. Inilah keadaan yang nyata, inilah yang membuktikan mata kita, melihat perbedaan antara awan dan bumi yang nyata, antara ideal dan kenyataan. Inilah yang saya minta kepada semua saudara-saudara yang begitu : lekas “jingklak­-jingklak” kalau ada suara baru ditentang agama, supaya selamanya riil, dan sekali lagi Hil. Inilah yang saya maksudkan, kalau tahadi saya berkata, bahwa saya khawatir soal ini hanya dibicarakan secara “ahli agama” saha­ja, dan tidak secara “ahli negara” pula.

 

Sekarang, marilah kita bicarakan sahaja satu pemecahan soal ini, yang tidak main diktator-diktatoran, dan yang tidak mengasih tabe selamat jalan kepada orang-orang yang bukan ulama Islam seperti yang dike­hendaki oleh Tuan-tuan itu. Malahan sumbernya pemecahan soal ini bisa datang dari seorang-orang yang sama sekali tidak tahu alifbatanya agama sedikitpun juga. Sebab pokok pemecahan soal ini ialah modern demo­cratie. Di zaman sultan Turki, tidak ada demokrasi itu dikerjakan di Turki, maka itulah Turki begitu mudah “mempersatukan agama dan negara”. Saya kenal kepada Tuan-tuan, Tuan-tuan adalah memihak ke­pada demokrasi, dus andainya Tuan-tuan menjadi pemerintah di negeri­-negeri yang saya sebut di atas tahadi, niscyalah Tuan-tuan jalankan demokrasi itu. Tuan-tuan, tidak boleh tidak, niscaya accoord dengan azas ini, oleh karena azas inilah azas pemerintahan yang diidam-idamkan oleh modern ideologie.

 

Tuan niscaya accoord dengan azas ini, oleh karena saya tahu, bahwa Tuan benci kepada semua sistim yang diktatoris dan zalim. Atau, – salah tebakkah saya? Tetapi kalau benar-benar Tuan memihak demokrasi, pakailah demokrasi itu, dan percayalah kepada demokrasi itu!

 

Andainya Tuan menjadi pemerintah di salah satu negeri yang saya sebutkan tahadi itu, niscaya Than, menurut kehendak azas demokrasi itu, mengadakan satu badan-perwakilan-rakyat, yang di situ duduk utusan­-utusan dari seluruh rakyat, zonder memperbeda-bedakan keyakinan. Utusan-utusan dari kaum yang 100% rasa-ke-Islam-annya, utusan-utusan dari kaum yang hanya kulit sahaja ke-Islam-annya, utusan-utusan dari kaum Keristen, dari kaum yang tiada agama, dari kaum intelektuil, kaum dagang, kaum tani, kaum buruh, kaum pelayaran, – pendek kata utusan­-utusan dari seluruh tubuhnya bangsa, dari seluruh tubuhnya natie. (Sultan Turki tidak mengadakan badan semacam ini, justru karena itulah bangun pergerakan Turki-Muda). Maka saya mengusulkan kepada Tuan, jangan­lah Than tuliskan di dalam rencana undang-undang dasar, bahwa negara ialah negara agama. Sebab, percayalah kepada saya, rencana undang­-undang dasar yang demikian itu yang menyatukan negara dan agama Islam, tidak akan diterima oleh badan-perwakilan itu! Wakil-wakil fihak yang bukan Islam akan menentangnya mati-matian, dan wakil-wakil yang lainpun meskipun “Islam” (yang sebagian besar niscaya orang-orang “intelektuil”), tidak semua menyetujuinya pula.

 

Tuan punya undang-undang dasar persatuan negara-agama niscaya akan jatuh. Tuan tidak bisa meneruskan Tuan punya kehendak persatuan-persatuan negara-agama itu zonder jalan yang di luar erecodenya demokrasi itu, yakni zonder kekerasan, zonder memecah-belahkan persatuan natie. Than toch tidak akan mengadakan teror? Tidak: sebab Than seorang demokrat, dan bukan seorang-orang yang mau main dik­tator. Tuanpun seorang-orang yang mau riil, dan bukan seorang-orang yang tidak mau kenal kepada keadaan-keadaan yang nyata.

 

Maka realiteit itu menunjukkanlah kepada kita bahwa azas persa­tuan negara dan agama itu bagi negeri yang penduduknya tidak bulat 100% semua Islam, tidak bisa berbarengan dengan demokrasi.

 

Buat negeri yang demikian itu hanyalah dua alternatif, hanya dua hal yang boleh dipilih satu di antaranya: persatuan negara-agama, tetapi zonder demokrasi, atau demokrasi, tetapi negara dipisahkan dari agama!

 

Persatuan negara-agama, tetapi mendurhakai demokrasi dan main diktator, atau: setia kepada demokrasi, tetapi melepaskan azas persatuan negara dan agama!

 

Inilah realiteit! Tetapi Tuan-tuanpun tak usah berkecil hati, dengan tanggungannya demokrasi itu negara yang terpisah dari agama di dalam undang-undang dasarnya tidak menutup pintu kepada badan-perwakilan buat mengambil wet-wet (undang-undang) yang setuju dengan syari’at Islam, asal ada demokrasi itu. Tuan misalnya ingin wet yang melarang orang memelihara babi? Atau wet melarang peminuman alkohol? Ach, apa sukarnya mengadakan wet yang demikian itu, asal sebagian terbesar dari wakil-wakil rakyat di dalam badan-perwakilan itu anti babi dan anti alkohol! Kalau jumlah utusan-utusan yang anti babi dan anti alkohol masih kurang? Itu adalah suatu tanda bahwa Tuan punya rakyat belum “rakyat Islam”! Gerakkanlah Than punya propaganda di kalangan rakyat Tuan itu dengan cara yang sehaibat-haibatnya, supaya rakyat Tuan itu mengirimkan sebanyak mungkin wakil-wakil Islam ke dalam badan-perwakilan itu. Gerakkanlah semangat Islam di kalangan rakyat Tuan, sehingga tiap-tiap hidung menjadi hidung Islam, tiap-tiap otak menjadi otak Islam, dari si Abdul yang menyapu sampai siorang kaya yang putar­ kota di dalam mobilnya, dan badan-perwakilan itu akan dibanjiri dengan utusan-utusan yang politiknya Islam, hatinya Islam, darahnya Islam, segala bulu-bulunya Islam! Maka dengan banjir itu semua kehendak syari’at Islam akan menjelmalah dengan sendirinya di dalam segala putusan-putusan badan-perwakilan itu, segala kehendak Tuan akan ter­laksanalah di dalam badan-perwakilan itu. Maka negara itu dengan sendirinya menjadilah bersifat negara Islam, zonder artikel di dalam undang-undang dasar bahwa ia adalah negara agama, zonder dikatakan bahwa ia adalah negara agama. Maka nyatalah pula, bahwa rakyat yang demikian itu betul-betul rakyat yang berjiwa Islam, dan bukan suatu rakyat yang namanya sahaja negaranya Islam, tetapi bathinnya adalah bathin yang adem terhadap kepada Islam, atau ingkar kepada Islam.

 

Saudara-saudara dari “Adil”, Islam tidak minta satu formele verklaring bahwa negaranya adalah negara Islam, ia adalah minta satu negara yang betul-betul menyala satu api ke-Islam-an di dalam dadanya umat. Ini api Islam yang menyala betul-betul di seluruh tubuhnya umat, inilah yang menjadikan negara menjadi negara Islam, dan bukan satu ke­terangan di atas secarik kertas bahwa “negara adalah berpedoman kepada Agama”. Buat apa kita takut akan satu constitutionele wijsheid (kebi­jaksanaan hukum negara) bahwa negara “dipisah dari agama”? Negara yang “dipisah dari agama, asal ada demokrasi”, dengan sepenuh-penuhnya bisa menjadi negara Islam yang sejati! Buat apa takut akan constitu­tionele wijsheid itu? Tidakkah lebih laki-laki, kalau kita terima dan pakai constitutionele wijsheid itu secara ujian, secara tantangan dari moderne demokrasi kepada ia punya ke-Islam-an sendiri? Tidakkah lebih balk, tidakkah lebih laki-laki, kalau kita berkata: “Baik kita terima negara dipisah dari agama, tetapi kita akan kobarkan seluruh rakyat dengan apinya Islam, sehingga semua utusan di dalam badan-perwakilan itu, ada­lah utusan Islam, dan semua putusan-putusan badan-perwakilan itu bersemangat dan berjiwa Islam!”

 

Kalau betul-betul Tuan punya rakyat bisa begitu, maka barulah Tuan boleh berkata bahwa Islamnya adalah Islam hidup, Islam subur, Islam yang dinamis, dan bukan Islam melempem yang hanya bisa berada, bilamana ada “asuhan” dan “perlindungan” dari negara sahaja. Saya lebih senang kepada sesuatu rakjat yang berani menerima tantangannya moderne demokrasi itu, daripada rakyat yang selalu merintih-rintih “janganlah Islamnya dipisahkan dari negara”. Rakyat yang berani menerima tan­tangan itulah yang nanti bisa merealisasikan cita-cita Islam dengan per­joangan sendiri, keringatnya sendiri, banting-tulangnya sendiri.

 

Rakyat yang demikian itulah yang betul-betul bisa menjelmakan idealnya Islam dengan ia punya levensstrijd, dengan gerak-bantingnya ia punya jiwa dan tenaga. Dengan rakyat yang demikian itu lantas negara dengan sebenarnya menjadi satu negara yang “bersatu dengan Islam”, dengan sebenarnya menjadi negara Islam yang sejati.

 

Renungkanlah perkataan saya ini. Sebab, sungguh, inilah menurut saya punya keyakinan arti yang sebenarnya dari cita-cita Islam, bahwa negara “haruslah bersatu dengan agama”. Negara bisa bersatu dengan agama, meskipun azas konstitusinya memisah ia dari agama. Janganlah kita mengambil contoh Islam di Sepanyol zaman dulu buat dibikin teladan zaman sekarang, oleh karena Sepanyol dulu tidak mengenal moderne demokrasi seperti sekarang. Dulu cukup dengan seorang sultan atau seorang kalifah yang duduk di singgasana, tetapi sekarang hajat kepada satu rakyat yang sendirinya bisa menumpahkan segenap ia punya jiwa­raga ke dalam pergolakannya kancah pemasakan negara. Sungguh, sekali lagi saya katakan, saya lebih senang kepada sesuatu rakyat yang berani menerima tantangannya pemisahan negara dan agama di dalam moderne demokrasi, daripada sesuatu, rakyat yang minta diperintah oleh seseorang sultan atau kalifah sahaja “secara dulu di negeri Sepanyol”!

 

Rakyat yang tidak mampu melaksanakan cita-cita Islam dengan kehaibatannya perjoangan sendiri di dalam moderne demokrasi itu, rakyat yang tidak mampu membanjiri badan-perwakilannya dengan utusan­-utusan Islam, rakyat yang demikian itu menurut getaran saya punya jiwa yang Than katakan dinamis itu belumlah boleh menerima nama “rakyat Islam” yang sejati. Rakyat yang demikian itu memberi sendiri bukti, bahwa Islamnya hanyalah Islam kulit belaka, keagamaannya hanyalah keagamaan sana-sini belaka. Lebih baik saya menjadi satu kambing hitam yang secara “dinamis” selalu gembar-gembor membikin onar mem­bongkar kebekuannya rakyat itu, agar ia menjadi bangun dan dinamis pula, daripada manggut-manggut sahaja menyetujui anggapan kuno yang tidak sesuai dengan dinamisnya rokh Islam yang berkobar! Jiwa saya, yang Tuan katakan dinamis itu, jiwa saya itu lebih senang mengajak rakyat itu secara laki-laki menerima demokrasi modern yang memisah agama dari negara – menumpahkan segenap jiwa-raganya di dalam kan­cah pengolahan dan bengkel penggemblengannya perjoangan, agar supaya segala putusan-putusannya badan-perwakilan itu menjadilah putusan-­putusan yang setuju dengan kehendak Islam! Jiwa saya yang Tuan katakan dinamis itu ikut mengoverlah tantangannya moderne demokrasi itu, dan berserulah: banjirilah secara laki-laki badan-perwakilan itu dengan utusan-utusan Islam, kalau memang benar-benar engkau rakyat Islam!

 

Sekianlah saya punya perumpamaan di dalam masaalah agama dan negara ini. Saya dengan sengaja “morilkan” masaalah ini seperti benar­-benar Tuan disuruh memerintah sesuatu negeri yang rakyatnya tidak semua berhaluan Islam agar supaya Than bisa memindahkan masaalah ini dari­pada awang-awangnya idealisme dan cita-cita, kepada buminya fikiran­-fikiran yang riil. Sungguh, mudah sekali berkata, “negara menurut Islam harus bersatu dengan agama”, tetapi merealisasikan cita-cita yang indah itu adalah satu soal yang maha-sulit. Mudah sekali mengemukakan satu ideal, tetapi melaksanakan itu ideal, tidak cukuplah dengan “keahlian agama” sahaja. Melaksanakan itu ideal malahan lebih memerlukan “keahlian kenegaraan”.

 

Tuan menamakan saya terlalu dinamis. Saya terima dengan terima kasih kehormatan itu. Di antara siang dan malam saya memohon kepada Allah yang maha-kuasa, supaya Ia membikin saya lebih dinamis lagi!

 

Siang dan malampun saya memohon kepada-Nya, supaya Ia mendinamiskan pula akal fikiran dan anggapannya saudara-saudara ulama Islam, membangkitkan mereka punya akal fikiran dan anggapan-anggapan yang kuno dan beku, agar supaya dapat secara kilat menangkap apinya Islam yang sejati, dan bukan hanya menangkap asapnya dan abunya sahaja, yang ditinggalkan oleh Islam itu.

 

Tuan menamakan saya terlalu dinamis. Saya menjawab:

Ya Allah ya Rabbi, tambahkanlah lagi kedinamisan itu!

 

“Panji Islam”, 1940

.

.

.

Iklan