INDONESIA VERSUS FASISME

INDONESIA VERSUS FASISME

 

FAHAM YANG BERTENTANGAN DENGAN JIWA INDONESIA

 

DARI HAL FUHRERPRINZIP

 

Dunia sekarang di dalam pancaroba. Fasisme mengamuk kemana­mana. Hitler dan Mussolini menghantam ke kanan dan ke kiri.

Bagi orang Indonesia yang mengetahui isi fasisme rasanya tak sukar lagilah menen­tukan perasaannya terhadap kepada fasisme itu.

Bagi dia, fasisme bukan satu hal yang asing. Tapi tidak semua orang Indonesia mengetahui isi fasisme itu. Yang diketahui oleh kebanyakan orang-awam :hanyalah tindakan-tindakan fasisme itu sahaja, yang tampaknya haibat dan “bukan main”. Wah, bukan main negeri Jerman dan Italia itu! Negeri-negeri yang kuat disapu dalam beberapa hari sahaja! Itulah ucapan yang sering kita dengar.

 

Buat orang-orang yang belum mengetahui isi fasisme itu saya menuliskan ini seri karangan-karangan baru. Umumnya orang yang belum mengetahui isi fasisme memang orang yang tidak banyak pengetahuan “politik”. Maka oleh karena itu akan saja coba terangkan isi fasisme itu dengan cara yang populer. Dulu sudah pernah ada orang berkata ke­pada saya: “Saudara tentunya selalu mau menulis dengan cara yang mudah dimengerti orang, tetapi saya minta supaya saudara lebih per­mudahkan lagi saudara punya cara menulis itu, sebab kadang-kadang saya masih belum mengerti semua kalimat-kalimat yang saudara tulis.” Sebenarnya, saya punya ideal ialah menulis dengan cara yang cocok di­mengerti orang. Itulah pokok-asalnya “pembawaan-diri” yang tempo hari disebutkan oleh saudara Mohammad Hatta: pembawaan-diri bahwa saya selalu “mempermudahkan soal”.

 

Juga ini kali saya mau mempermudahkan soal. “Indonesia versus Fasisme”! Oleh karena jiwa Indonesia bertentangan dengan jiwa fasisme. Oleh karena jiwa fasisme tidak sesuai dengan jiwa Indonesia! Jiwa Indonesia adalah jiwa demokrasi, jiwa kerakyatan, dan jiwa fasisme adalah jiwa anti demokrasi, jiwa anti kerakyatan. Jiwa Indonesia ialah satu jiwa, yang menurut adat (lihatlah di Minangkabau, atau rapat-rapat desa di Jawa) adalah jiwa yang senang kepada “mufakat” dan “musyawarat”, dan yang oleh agama Islam-pun dididik cinta kepada “mufakat” dan “musyawarat” itu, –

Wa amruhum syura bainahum! Wa syawirhum fit amrti! – sedang jiwa fasisme adalah jiwa yang menyerah­kan segala hal kepada kehendaknya satu orang sahaja, jiwa “perse­orangan”, jiwa kezaliman, jiwa diktatur!

 

Marilah saya terangkan lebih jelas tentang diktatur ini. Pembaca tentu semua sudah mengetahui apa arti diktatur. Diktatur adalah satu cara pemerintahan, yang memulangkan segala kekuasaan pada satu orang sahaja, zonder mufakat, zonder musyawarat, zonder perundingan dengan utusan-utusan rakyat. Diktatur menentukan dan memutuskan segala hal sendiri, ia adalah dengan sesungguh-sungguhnya seorang cakrawarti. Ia duduk di atas pucuknya tubuh pemerintahan, dan semua orang yang di­ bawah pucuk itu, haruslah tanggung-jawab kepadanya. Ia memberi perintah, lain-lain orang hanyalah mengerjakan sahaja ia punya perintah itu.

 

Lain dengan cara pemerintahan kerakyatan, bukan? Di dalam cara pemerintahan kerakyatan itu rakyatlah yang memerintah, rakyatlah yang membuat undang-undang dan mengambil putusan, rakyatlah yang menen­tukan segala tindakan-tindakan yang perlu. Rakyatlah yang cakrawarti, pemerintah hanyalah mengerjakan apa yang diputuskan oleh rakyat itu.

 

Memang sistim pemerintahan fasisme itu adalah cocok dengan falsafat-hidup fasisme itu. Bagaimanakah falsafat-hidup itu?

 

Pandangan hidup fasisme ialah, bahwa manusia itu memang tidak boleh diberi hak sama rata. Manusia selalu bertingkat-tingkatan, yang satu mengatasi yang lain, yang satu menguasai kepada yang lain. Inilah satu “muka” dart falsafat-hidup fasisme itu. Lain “muka” lagi ialah bahwa manusia tidak boleh diberi kemerdekaan diri. Kemerdekaan diri itu harus tunduk kepada kemerdekaan bangsa, tunduk kepada kepentingan dan kemegahan bangsa. Bangsa harus “rnulia”, bangsa harus “harum nama”, bangsa harus “besar” dan “luhur”, meskipun manusia dalam ling­kungan bangsa itu sengsara, banyak berkorban, banyak kekurangan apa­-apa.

 

Nyata bahwa falsafat-hidup fasisme yang sedemikian ini bertentangan dengan dua falsafat-hidup yang lain: bertentangan dengan falsafat-hidup­nya demokrasi yang mengatakan hak manusia harus sama rata, dan bertentangan dengan falsafat-hidupnya Marxisme yang mementingkan kesejahteraan manusia daripada kemegahan bangsa. Nyata pula ia ber­tentangan dengan falsafat-hidup Islam, yang juga memberi hak sama rata kepada manusia dan juga mementingkan manusia daripada “bangsa”. Tetapi fasisme memang tidak boleh kita ukur dengan ukurannya demokrasi atau Marxisme, atau Islamisme. Sebab fasisme memang memakai ukuran yang lain daripada ukuran-ukuran yang dipakai oleh tiga isme itu tahadi. Fasisme tidaklah berukur kepada “Kemanusiaan”, sedangkan taiga faham yang lain itu adalah berukur kepada “Kemanusiaan”.

 

“Bangsa” di atas “manusia”! Kebesaran “bangsa” dan bukan keselamatan “manusia”! Satu paradox, – kebesaran bangsa itu dijelmakan oleh fasisme kepada kebesarannya seorang manusia, kebesarannya seorang diktatur, baik ia bernama Mussolini maupun bernama Hitler, bernama Franco maupun bernama Primo de Rivera. Manusia yang satu i:nilah long diagung-agungkan, dikeramat-keramatkan, didewa-dewakan, manusia yang satu inilah yang segala kehendaknya diturut sebagai kita menurut Allah atau Nabi.

Manusia yang satu inilah, sebagai tahadi saya katakan, me­nuntut pertanggungan-jawab dari semua orang yang ada di bawahnya, – dari menteri-menteri, dari jenderal-jenderal, dari amtenar-amtenar, dari paderi-paderi, dan saudagar-saud.agar dan kuli-kuli. Bukan dia yang tanggung-jawab kepada rakyat, tapi rakyat yang tanggung-jawab kepada dia.

 

Sudahkah pembaca pernah mendengar perkataan “fuhrerprinzip”? Fiihrer, pembaca tentu sudah sering mendengar, dan barangkali sudah mengetahui artinya pula. Fiihrer bermakna “penuntun, pemimpin”. “Mein Fiihrer” bagi orang Jerman adalah berarti aku punya Maha Pemimpin. Tetapi sudahkah pembaca pernah mendengar perkataan Fiihrer-prinzip?

 

Fiihrer-prinzip adalah azas pemerintahan yang memakai aturan tanggung-jawab-ke atas, sebagai saya terangkan di dalam rencana “Bukan Perang Ideologi” tempo hari. Yang di bawah tanggungdjawab kepada yang di atas; dan bukan yang di atas tanggung-jawab kepada yang di bawah. Tempo hari saya kemukakan persesuaiannya dengan susunan militer: ser­dadu tanggung-jawab kepada sersan, sersan tanggung-jawab kepada letnan, letnan kepada kapten, kapten kepada jenderal, jenderal kepada Maha jenderal, Generalissimus, dan tidak sebaliknya daripada itu. Nah begitulah pula sistim pemerintahan tanggung-jawab kepada fasisme: bukan sebagai demokrasi yang pemerintah tanggung-jawab kepada rakyat, tetapi Fiihrerprinzip. Autoritat jedes Fiihrers nach unten, and Verant­wortlichkeit nach oben, begitulah perkataan Hitler di dalam ia punya buku “Mein Kampf”, yang Indonesia-nya ialah “Perintahnya tiap-tiap pemimpin kepada yang ada di bawahnya, dan pertanggungan-jawab dari yang bawah kepada yang di atas”.

 

Itulah Fiihrer-prinzip! Ia mengemukakan Autoriteitnya tiap-tiap pemimpin, yang harus diikuti sahaja oleh bagian yang di bawah, zonder banyak tanya lagi, zonder banyak memikir lagi. “Sami’na wa atha’na”, tetapi di dalam artinya yang melewati batas, bahkan di dalam artinya yang jahat. “Sami’na wa atha’na”, yang akhirnya memuncak kepada apa jang Hitler sebutkan dengan kata “Kadavergehorsam”, artinya: menurut sahaja dengan buta tali! Kadavergehorsam dari tiap-tiap orang, kepada tiap­tiap pemimpin yang di atasnya!

 

Dan di puncak yang teratas daripada susunan Kadavergehorsam itu, laksana duduk di awang-awang, bertakhta Sang Maha-Pemimpin Adolf Hitler, Maha Diktatur dan Maha-Cakrawarti, di dalam dia punya tangan sendirilah akhirnya terletak mati-hidupnya milyun-milyunan bangsa Jer­man, milyun-milyunan bangsa yang telah takluk kepadanya.

 

Tidak dari semula-mulanya partai N.S.D.A.P. (partai “Nazi”) menuntut perlunya diktatur itu. Mereka punya program dari tahun 1920 tidak menyebut-nyebutkan hal diktatur itu. Tetapi, sebagai yang sering saya katakan kepada pembaca, tiap-tiap perjoangan “menajam” dan “meruncing”. Tiap-tiap perjoangan akhirnya menjadi extrim. N.S.D.A.P. menjadi makin extrim, manakala perjoangannya dengan kaum demo­krasi dan kaum Marxis menjadi makin haibat.

 

Tiap-tiap minggu, tiap-tiap hari, N.S.D.A.P. dulu itu hantam-hantaman dengan partai-partai kerakyatan itu. Parlementarisme, demokrasi, faham sama rasa sama rata, – semua itu menjadi tujuan hantaman yang pertama dari mereka punya ofensief. Di dalam tahun 1923 tak kurang ragu-ragu lagi ia dibentuk-bentukkan oleh Gottfried Feder. Dan di dalam tahun 1925 di dalam “Mein Kampf”-nya Hitler, ia telah dikemlikilkan terang-terangan dan bulat-bulat. Marxisme di situ digambarkan sebagai penyakit pes, tetapi demokrasi disebutkan olehnya sebagai pendahuluannya Marxisme itu.

 

Demokrasi? Akh, Hitler tidak mau demokrasi? Tentu, Hitler mau kepada “demokrasi”, tetapi demokrasi itu harus “demokrasi Jerman” yang sejati seperti demokrasinya bangsa Jerman di zaman purbakala di ­dalam rimba-rimba ribuan tahun yang lalu, dan “demokrasi a l a Weimar”: “pemilihan” seorang yang maha-maha-kuasa oleh rakyat Jerman, yang sendiri memutuskan segala soal, sendiri mengambil timbangan, sendiri menjalankan ia punya kemauan, zonder tanya lagi kepada rakyat, zonder tanggung-jawab lagi kepada rakyat. Orang maha-kuasa ini hanyalah wajib tanggung-jawab kepada Dzat yang lebih tinggi dari dia sahaja, dan bukan kepada sesuatu “badan-perwakilan” atau apapun sahaja yang ada di bawahnya. Ia hanya wajib tanggung-jawab kepada “Allahnya orang Jerman” sahaja, kepada “Gott der Deutschen”.

 

Make Fiihrer-prinzip ini bukan sahaja mereka kenang-kenangkan buat susunan negara, Fiihrer-prinzip itu mereka kerjakan juga di dalam susunan partai. Autoriteitnya pemimpin diatas sub-pemimpin, dari sub­pemimpin di atas anggauta-biasa, autoriteit dari atas ke bawah ini men­jadilah pula tulang-punggungnya mereka punya partai. Anggauta-biasa tidak boleh memilih sub-pemimpin atau pemimpin yang di atas mereka, anggauta-biasa haruslah terima sahaja pemimpin-pemimpin yang ditaruh di atas mereka, dan menurut sahaja kepada mereka segala perintah­-perintah pemimpin-pemimpin itu dengan buta-tuli zonder banjak tanya lagi. Pemilihan pemimpin atau pemerintah sebagai yang kita kenal itu, tidak adalah di dalam partai Nazi, sub-pemimpin dibenoem oleh pemimpin. Dan maha-pemimpin?

Maha-pemimpin dibenoem oleh Gott …

 

Dan bukan sahaja di dalam urusan negara atau partai Fiihrer-prinzip harus dipakai! Di dalam urusan ekonominya perdagangan dan perusahaan, di dalam urusan kesenian, – dimana-mana sahaja musti dipakai Farer­prinzip itu. Mereka katakan bahwa Fuhrer-prinzip itu adalah prinzipnya alam! Adakah, mereka tanya, adakah alam memilih pemimpin? Adakah kawanan kera memilih pemimpinnya, atau kawanan gajah memilih ke­palanya? Begitu juga di dalam dunia manusia! “Pemimpin Besar itu tidak karena pilihan”, kata

Dr. Goebbels “pemimpin besar “adat”, kalau ia perlu ada.”

Maka Hitler merasa dirinya seorang pemimpin-besar itu. Ia terang-terangan mengambil teorinya Treitschke tentang “laki-laki­besar” di dalam sejarah. Iapun mengikut falsafat Nietzche tentang Oppermensch alias Orang – Jempolan, yang Opper-mens inilah menentukan nasib manusia yang lain-lain.

 

Ia tertawa terbahak-bahak kalau membaca teori Marxisme, yang mengatakan bahwa sejarah peri-kemanusiaan itu ditentukan oleh keada­an-keadaan ekonomi dan keadaan-keadaan masyarakat. Tidak, bukan keadaan ekonomi atau keadaan masyarakat yang menentukan sejarah, tetapi manusia jempolanlah yang menentukan sejarah itu. Iskandar Zulkarnain, Napoleon, Bismarck, Jingis Khan, Tamerlan, orang-orang yang seperti itulah menentukan sejarah. Dan di zaman sekarang ini: Aku, Adolf Hitler! “Tiap-tiap tindakan adalah sejarah”, – begitulah ia kata.

 

Karena itu, seluruh rakyat Jerman, dan kelak seluruh rakyat di muka bumi, harus ikut sahaja apa yang aku fikirkan dan apa yang aku putuskan. Aku, Hitler, adalah otaknya sejarah, matanya sejarah, tangannya se­jarah, jiwanya sejarah. “Dia adalah tubuhnya sejarah abad kedua­puluh”, begitulah Goebbels berkata di dalam satu pidato pada suatu hari-tahunnya Hitler. Dia, Hitler tak pernah salah. “Hitler hat immer Recht” menjadilah satu semboyan yang diteriakkan dan dituliskan oleh kaum Nazi di mana-mana. Orang fasis di Italia mengobarkan semboyan “Mussolini selamanya benar”, orang fasis di negeri Jerman selalu berteriak “Hitler hat immer Recht”.

 

Betapa tidak? Tidakkah ia memang dianggap utusan Ilahi?

Sehing­ga Hermann Goring-pun, yang biasanya tidak mudah menjadi mistis, menjadilah sama sekali mistis kalau menerangkan terluputnya Hitler dari kesalahan itu. Dengarkanlah ia punya keterangan: “Sebagaimana orang Rooms-Katolik memandang Paus terluput dari kesalahan di dalam segala hal yang berhubungan dengan agama dan moral”, maka begitu juga kita kaum nasional-sosialis percaya dengan kepercayaan yang sama dalamnya, bahwa kita punya pemimpin itu, di dalam segala urusan politik dan segala urusan-urusan lain yang mengenai kepentingan-kepentingan nasional dan sosial daripada kita punya rakyat, adalah semata-mata luput dari kesalahan pula. Di manakah letaknya rahasia ia punya pengaruh yang begitu maha­besar di atas ia punya pengikut-pengikut?  Itu adalah satu hal yang mistik, yang tak dapat diperkatakan, yang hampir tak dapat dimengerti. Siapa tak dapat merasakan ini secara instinctief, ia tak akan dapat menangkap ini sama sekali. Kita cinta kepada Adolf Hitler, karena kita percaya sedalam-dalamnya dan seteguh-teguhnya, bahwa Allah telah mengutus dia datang kepada kita, buat mengangkat Jerman dari mala­petaka.

 

Ya, “Hitler selamanya benar”! Maka oleh karena itulah rakyat di­wajibkan that sahaja, diwajibkan menurut sahaja zonder pikir-pikir lagi. Maka karena itulah tidak boleh ada kritik dari bawah, tidak boleh ada bantahan dari kalangan rakyat dan pemimpin-pemimpin lain, tidak boleh ada rapat-rapat yang merdeka suara, tidak boleh ada pers yang ber­suara merdeka. Maka oleh karena itulah pula tidak boleh ada lain partai melainkan partainya Sang Hitler itu. Kadavergehorsam sebagai yang saya katakan tahadi, zonder tanya-tanya lagi dan zonder pikir-pikir lagi. Kada­vergehorsam yang demikian itu adalah kewajiban pertama dari manusia Jerman yang sudah “dibikin merdeka” di dalam “Kerajaan yang Ketiga”! Kadavergehorsam, kalau than tidak mau meringkuk di dalam penjara, atau mendekam di dalam concentratiekamp yang tak terbilang lagi jum­lahnya itu … Kadavergehorsam, kalau tuan tidak mau dicap “Yahudi” atau dicap “merah” … Kadavergehorsam, kalau than mau mendapat pekerjaan yang membawa upah baik, yang hanya dibagikan kepada orang­-orang yang boleh dipercaya sahaja …

 

Ya, Kadavergehorsam, meskipun payah masuk kita punya akal, yang mengenal rakyat Jerman itu dulu sebagai satu rakyat yang telah melahir­kan kampiun-kampiunnya kemerdekaan manusia, sebagai Hein-hein, sebagai Luther, sebagai Marx atau Lassalle, sebagai Bebel atau Liebknecht. Meskipun rakyat Jerman mendapat didikan “Freiheit” berpuluh-puluh tahun sebelum Hitler. Meskipun kaum middenstand dan kaum tani yang buat sebagian besar mengisi barisan-barisan N.S.D.A.P. itu, dulunya tak pernah mempunyai keyakinan yang tetap dalam. Namun, benar-benar menjadi satu kenyataan yang tak dapat disangkal, bahwa milyunan orang menyerahkan diri sama sekali kepada Kadavergehorsam itu! Dan sungguh bukan dengan ragu-ragu atau setengah-setengah, tetapi dengan sepenuh­-penuhnya penyerahan-ikhlas; bukan dengan berat-hati, tetapi dengan senang dan gembira, dengan sorak “Heil Hitler” dan “Sieg Heil”, – atas nama “Kemerdekaan” dan “Kelaki-lakian”.

 

Maukah tuan satu keterangan yang psychologis, yakni satu keterangan yang mengenai ilmu jiwa? Ada keterangan yang lain-lain, tetapi marilah saya memberi keterangan yang psychologis itu lebih dulu.

 

Sesudah perang dunia 1914-1918 Jerman adalah satu negara yang remuk. Rakyat Jerman tak berhenti-henti mendapat pukulan-pukulan haibat, terutama di atas lapangan ekonomi. Rakyat Jerman di dalam tahun-tahun sesudah peperangan dunia itu adalah berkeluh di bawah be­bannya soal-soal yang maha-sulit dan maha-berat, – satu rakyat yang berulang-ulang menghadapi malapetakanya staatsbankroet. Ia menjadi satu rakyat yang “pecah kepalanya” mencari jalan-selamat keluar dari bencana-bencana politik, sosial dan ekonomi, satu rakyat yang dengan dahsyat dan bingung mencoba ini dan mencoba itu, mengakalkan ini dan mengakalkan itu, buat terlepas dari cengkeramannya kebangkrutan yang sama sekali. Ia menjadi satu rakyat yang “cape memikir”, “cape men­cari”, “cape ikhtiar”.

Ia mulai “tolah-toleh” mencari seorang-orang yang suka mengover segala ikhtiar dan segala pekerjaan-otak yang maha-maha sulit itu.

 

Alangkah leganya, alangkah nikmatnya, alangkah bahagianya kalau ada satu orang yang memikir bagi mereka, mencari bagi mereka, memu­tarkan otak bagi mereka! Sebab mereka sendiri benar-benar sudah habis ikhtiar dan habis pikir, habis mengakal dan habis mencoba.

 

Maka datanglah justru pada saat itu Adolf Hitler menebah-nebah dadanya, dengan ia punya “kerongkongan” yang maha-kuasa, serta ia punya propaganda-aparat yang maha-haibat. “Aku, aku, akulah yang tahu jalan bagi kamu semua, akulah yang akan memimpin kamu keluar dari­pada kebencanaan ini. Aku, kamu punya pemimpin, aku, kamu punya bapak, aku, kamu punya jenderal, aku, kamu punya Al-Masih!” Filhrer­prinzip itu menurut ilmu jiwa sebenarnya hanyalah satu penjelmaan sahaja daripada rasa-kelegaan-hati rakyat Jerman, yang mereka akhir­nya, akhirnya mendapat satu Absolute Autoriteit, satu Bapak-Besar yang memikir dan mencari bagi mereka, satu Al-Masih yang membawa hiburan kepada mereka dan menghilangkan segala rasa kedukaan dari hati mereka. Dia, dialah mengetahui segala, dialah dapat memecahkan segala soal, dia­lah “hat immer Becht”, dialah memikul semua pertanggungan jawab. Dialah yang sanggup membalas dendam kepada musuh-musuh yang sedia kala. Hutang jiwa dibalas jiwa, hutang pati dibalas pati! Bangunlah kembali, hai rakyat Jerman, bangunlah kembali, hai Deutschland, – Deutschland erwache! -, ini aku telah datang buat mengepalai engkau punya kebangunan, melakikan engkau punya langkah, menggemblengkan engkau punya pedang menjadi pedang yang haibatnya sebagai kilat. Ikut sahaja kepadaku, percaya sahaja kepadaku, serahkan sahaja kepadaku, tidak usah engkau ikut memikir, akulah yang akan membereskan segala kesusahan, akulah yang menghabisi segala soal!

 

Dan rakyat Jerman yang “cape pikir” itu tahadi mengikutlah dan percayalah, mengikut dan percaya secara Kadavergehorsam yang taat membuta-tuli. Terutama sekali kaum middenstand menyerahkan sama sekali mereka punya jiwa dan raga kepada Bapak itu. Mereka dihing­gapi jiwanya “infantilisme”, dihinggapi

“jiwa anak-anak”. Mereka kembali seperti anak-anak kecil, yang menaruhkan kepalanya di atas pang­kuannya seorang bapak yang streng dan keras, tetapi mencinta kepadanya. Mereka serahkan segala rasa-hati dan segala urusan kepada bapak itu dengan percaya, percaya, percaya … Bahwa siapa itu kebetulan seorang bujang yang tiada beristeri, itu dianggapnya makin menambah cintanya kepada anak-anaknya. Dan bahwa Maharajadiraja ini tiada bermahkota dan malahan turunan orang-biasa yang pernah merasakan kemiskinan, itu adalah makin menambahkan keramatnya ia punya nama, dan – keramatnya ia punya diktatur. Maka oleh karena itu: rasa manis Heil Hitler, rasa pahit juga Heil Hitler, – persetan Marxisme dan demokrasi, – hiduplah Filhrer-prinzip, hiduplah ketaatan yang seperti bangkai!

 

Begitulah keterangan ilmu jiwa dari lakunya Kadavergehorsam itu.

Di dalam nomor yang akan datang saya terangkan akar-akar yang lain, dan terutama sekali akar ekonomis dari fasisme itu. T’etapi buat bagian yang sekarang ini, sudah nyatalah bahwa stelsel yang demikian itu adalah bertentangan sama sekali dengan jiwa kita. Bertentangan dengan adatnya rakyat kita, bertentangan dengan dasar-dasarnya ideologi politik kita, bertentangan dengan ajaran-ajarannya agama kita. Bertentangan dengan apa yang umum menamakan demokrasi. Maka oleh karena itu, meskipun di dalam pengupasan asal-asalnya peperangan ini saya ada ber­selisihan pendapat dengan sdr. Mohammad Hatta, oh, saya akur sama sekali dengan penutupnya tulisan saudara itu di dalam P.I. no. 18-19:

 

“Bagi kita di sini”, – begitulah sdr. Hatta menulis,- “bagi kita di sini, bagi rakyat yang banyak yang RIIL yaitu pertanyaan: mana yang akan menang, demokrasi Barat atau fasisme. Memang demokrasi Barat tidak akan membawa kemerdekaan bagi Indonesia, tetapi adakah fasisme akan membawakannya? Apa yang akan dibawakannya, kita sama maklum.

 

Kebutuhan-mentah di belakang masing-masing ideologi itu boleh menjadi pokok soal, barang kupasan bagi teori. Bagi rakyat yang banyak, yang nyata hanya ideologinya: demokrasi Barat atau fasisme. Rakyat Indonesia berat kepada demokrasi yang sebenar-benarnya. Tentunya itu dapat dialaskannya kepada teori kaum demokrasi Barat sendiri. Kepada fasisme ia tidak dapat mengemukakan alasan.”

 

 Begitulah perkataan sdr. Hatta. Memang, – kita dengan fasisme, adalah seperti air dengan api. Jiwa kita adalah jiwa demokrasi, jiwa fasisme adalah jiwa kezaliman. Oleh karena itu, kita tidak bisa dan tidak boleh menganggap peperangan sekarang ini sebagai suatu peperangan yang tidak mengenai kita, direct ataupun indirect (langsung atau tak langsung). Oleh karena itulah pula maka seri artikel saya yang sekarang ini saya bubuhi kepala “Indonesia versus Fasisme”!

 

Zaman sekarang zaman genting. Datanglah saatnya kita membuka mata betul-betul.

 

Insyaflah semua orang yang belum insyaf!

 

DARI HAL BE-ARIA-AN ATAU KE-NORDICA-AN

 

1940 — SEBAGIAN dari Eropah sudah diinjak-injak oleh sepatu Jerman; Oostenrijk, Chekoslowakia, Polandia, Nederland, Belgia, dan paling akhir sebagian dari Perancis, di semua daerah-daerah itu Hitler telah menanamkan ia punya tumit. Adakah ini hanya karena keharusan peperangan sekarang ini sahaja? Artinya: Adakah perampasan-peram­pasan daerah itu disebabkan oleh paksaan-paksaan peperangan sekarang ini sahaja? Disebabkan, misalnya oleh taktik mendahului Inggeris, yang menurut keterangan Hitler akan menduduki Norwegia, Nederland, Belgia, buat menghantam kepada Jerman?

 

Pembaca, siapa yang mengetahui isi fasisme, ia akan tertawa akan keterangan Hitler itu. Sebab sudah dari tahadinya ada plan buat meram­pas negeri-negeri itu. Sudah dari tahadinya ada susunan pula, satu teori, satu isme yang dinamakan Pan-Germanisme, yang merencanakan peram­pasan negeri-negeri itu. Bukan sahaja satu taktik atau satu strategi pepe­rangan, – sebab buat menaklukkan Perancis dan Inggeris memang perlu Hitler mendobrak dulu Nederland, dan Belgia tetap nyata ada satu plan peperangan. Meskipun misalnya tidak ada peperangan dengan Inggeris dan Perancis, meskipun dus misalnya tidak ada keharusan menjalankan taktik atau strategi peperangan itu, Nederland dan Belgia toch masuk di dalam plan itu, toch nantinya musti dirampas, toch musti dihilangkan kemerdekaannya. Di manakah ternyata adanya plan ini? Sudah tentu di dalam peti-besinya kaum Nazi, yang dunia-luaran tak dapat rnengetahui isi-isinya. Tetapi dengan terang-terangan pula dipaparkan di dalam bukunya Alfred Rosenberg, “otaknya nasional-sosialisme” yang bernama “Der Mythos des 20 Jahrhunderts”, nyata di dalam kitabnya ini, bahwa sebagian besar dari benua Eropah itu harus ditaklukkan oleh. Jerman. Njata di dalam kitab ini, bahwa tujuan nasional-sosialisme yang tertinggi bukanlah sahaja membalas dendamnya Versailles, tetapi juga mendirikan satu kerajaan baru yang amat besar. Pan-Jerman, yang batas-batasnya jauh meliwati batas-batasnya Jerman tahun 1914. Siapa yang membaca kitab Alfred Rosenberg itu, ia mengetahuilah bahwa entah besok entah lusa, entah berapa tahun lagi, Hitler musti mengulurkan tangannya ke negeri-negeri di sekeliling Jerman itu, – ada peperangan atau tidak ada peperangan (satu perumpamaan yang mustahil) dengan Inggeris atau Perancis atau negeri besar yang manapun juga, ada pak­saan keharusan taktik atau tidak ada paksaan keharusan taktik. Sebab negeri-negeri itu semuanya dianggap masuk ke dalam lingkungan Lebens­raumnya Jerman.

 

Tahukah pembaca apa arti perkataan “Lebensraum” itu? Lebensraum berarti lapangan buat hidup, lapangan buat tidak menjadi coati. Zonder Lebensraum itu, Jerman merasa tidak bisa hidup, tidak ‘bisa ambil nafas, tidak bisa subur, zonder Lebensraum itu Jerman merasa akan menjadi layu, laksana satu tumbuhan yang akar-akarnya tidak ada tempat buat menjalar, atau laksana seekor sapi yang tidak ada lapangan buat mencari rumput. Jerman butuh kepada bahan-bahan buat punya industri, kepada pasar-pasar buat menjual barang-barang bikinan ia punya industri, kepada gandum dan keju dan mentega dan daging dan sayuran dan buat makanan ia punya penduduk. Jerman butuh kepada barang-barang bekal-hidup dan bekal industri yang negerinya sendiri tidak cukup mempunyainya. Jerman butuh kepada grondstoffen-hegemonie (meng­gagahi sendiri semua bahan-bahan bekal industri) supaya tidak tergantung kepada negeri lain, dan supaya tidak disaingi pengambilan bekal-bekal itu oleh negeri lain.

Itulah sebabnya ia butuh kepada “Lebensraum” itu. Sebab di negeri-negeri sekelilingnya itulah tempatnya bekal-bekal yang ia butuhkan itu, di negeri-negeri luar-pagar itulah letaknya bahan-bahan yang ia perlukan.

 

Inilah salah satu “kebutuhan mentah” yang tempo hari saya sebutkan! Itulah salah satu “rauw belang” yang kaum Nazi begitu cakap sekali menyembunyikannya di belakang tabirnya “isme” atau “ideal” yang muluk­-muluk. Inilah salah satu isinya semboyan-semboyan-mulia yang terde­ngarnya begitu mulia dan luhur, terutama tertampaknya begitu indah dan gilang-gemilang. Ya, Hitler c.s. memang cakap sekali menyusun semboyan dan cita-cita yang haibat dan muluk-muluk! Sebagaimana mereka cakap sekali membungkus mereka punya politik penegakkan monopool dengan semboyan dan idealismenya Fiihrer-prinzip (lihatlah artikel tempo hari), maka mereka cakaplah pula membungkuskan politiknya grondstoffen­hegemonie ini dengan satu idealisme pula: idealismenya ke-Aria-an yang muluk dan gilang-gemilang.

 

Bagaimanakah isme ke-Aria-an ini? Pembaca, marilah saya terangkan lebih dulu kepada tuan bahwa Rosenberg-Hitler c.s. berkata, bahwa sesuatu negara hanyalah dapat menjadi kuat, kalau rakyat negara itu terdiri dari orang-orang yang satu “darah”, satu-satu ras.

 

Negara yang rakyatnya satu ras itu sahajalah bisa menjadi negara yang satu kehendak, satu kekuatan, satu cita-cita, satu jiwa, satu nyawa. Negara yang darah rakyatnya bermacam-macam, seperti Perancis yang di situ banyak orang dari Afrika, atau seperti Amerika Serikat yang di situ ada campuran putih dan hitam, negara-negara yang demikian itu menurut Rosenberg-Hitler c.s. tak mungkin menjadi negara yang teguh dan ber­hati waja. Negara-negara yang demikian itu selalu terpecah-belah jiwanya, terpecah-belah rohani dan jasmaninya, dan tidak boleh tidak akhirnya kelak niscayalah hancur dan gugur. Maka oleh karena itu Jerman harus terdiri dari rakyat satu ras sahaja, satu “darah”, tidak boleh dengan campuran “darah” yang lain-lain. Maka oleh karena itu Jerman harus “dicuci” dari “kekotorannya” darah-darah yang masuk ke dalam tubuhnya negara Jerman di zaman yang akhir-akhir. Darah Jerman yang asli sahajalah boleh hidup di Jerman, darah yang lain-lain haruslah dienyahkan, dibasmi, dibinasakan, “ausgerottet” sampai tidak ada sisanya seekorpun juga.

 

Bagaimanakah darah Jerman yang “asli” itu? Dia adalah darah “Germanen”, darahnya bangsa Nordica (utara) yang “rambutnya emas dan matanya biru”, yang “tubuhnya besar-besar dan jalannya sigap”. Dia adalah darah yang kita kenal sebagai bangsa “kulit bule”.

Dia ini sahajalah yang boleh menjadi tubuhnya natie Jerman, dia ini sahajalah yang boleh berkata: aku anaknya Hitler. Dia ini sahajalah yang katanya bercabang dari bangsa Aria, yang katanya dari zaman purbakala ternyata satu-satunya bangsa yang selalu memimpin dunia. Bangsa yang lain-lain, yang bukan “rambut emas dan mata biru”, yang bukan bangsa Nordica, yang bukan berdarah Aria yang ash itu, lain-lain bangsa itu semuanya adalah bangsa tempe yang kurang harga dan kurang kwaliteit, yang hanya baik buat dijajah dan diperintah sahaja oleh bangsa Aria-Nordica itu. Terutama bangsa Semiet umumnya, adalah bangsa rosokan dan bangsa bandit: Bangsa kelas rendah, yang tak pernah menjadi penyiar dunia dan penuntun dunia, tetapi sebaliknya selalu menjadi “kayu senggah” dan “penyakit” dunia.

 

Tahukah tuan sudah, apa yang dinamakan bangsa “Semiet”? Bangsa Semiet adalah bangsa “hidung bengkung” dan “rambut keriting”. Bangsa Yahudi adalah bangsa Semiet, bangsa Arab adalah bangsa Semiet. Mereka dikatakan selalu menjadi sampah dunia, parasiet dunia, penyakit dunia, bajingan-bajingannya dunia. Mereka tak mampu mengadakan orang­-orang yang luhur dan jempol. Alfred Rosenberg dengan muka yang angker sekali telah mengatakan bahwa misalnya Nabi Isa itu bukanlah bangsa Yahudi, bukanlah bangsa Semiet! Nabi Isa adalah bangsa Aria!

 

Bangsa Semiet tidak bisa begitu jempol seperti Nabi Isa itu! Orang mengatakan Nabi Isa orang Israil, adalah orang goblok, yang tak pernah menyelidiki rasanya Nabi Isa itu. Dia adalah yang hanya anut-gerubyuk sahaja, orang yang tak pernah menggali dalam-dalam rahasia-rahasianya sejarah. Dia adalah orang yang matanya diabui agama. Bukan, Nabi Isa adalah bukan bangsa Yahudi, dia orang jempol, dia tentu orang Aria! Saya yakin, kalau Rosenberg menyelidiki rasanya Nabi, kita Muhammad s.a.w., juga niscaya ia akan mendapatkan “bukti-bukti” juga, bahwa Muhammad bukan ras Arab, tetapi ras Aria Pula!

 

Nah,- baru jikalau rakyat Jerman hanya terdiri dari orang-orang Aria sahaja, zonder dicampuri darah Semiet atau darah lain setetespun juga, maka Jerman akan dapat menjadi negara yang maha-kuasa.

Yuda verrecke!,—modarlah bangsa Yahudi! semboyan ini didengungkanlah oleh kaum Nazi di mana-mana, dipraktikkan dengan cara yang sangat kejam sekali zonder mengenal ampun. Orang Yahudi ditangkap, diram­pas harts miliknya, dikeluarkan dari hak-hak-politik, dirusak dan dibongkar toko-tokonya, dimasukkan penjara concentratie kamp, diusir keluar, dibunuh, – semua itu untuk memurnikan “darah” Jerman supaya menjadi darah Aria yang sebersih-bersihnya. Semua itu atas nama “Blut und Boden”, atas nama “Darah dan Tanah-air”. Dan bukan orang Yahudi sahadja! Kebencian Hitler kepada tiap-tiap bangsa yang bukan rambut emas dan mata biru adalah tampak nyata-nyata di dalam ia punya buku “Mein Kampf” yang terkenal itu. Benci kepada “kuli China”, benci kepada Negeri yang bergaul dengan bangsa kulit putih di Amerika, benci kepada bangsa kulit hitam yang berjalan-jalan dikota Paris.

 

Tetapi kalau cuma mau mendirikan rakyat Aria di negeri Jerman sahaja, sudahlah. Rosenberg-Hitler mau mendirikan satu negara­besar yang meliputi semua negeri-negeri yang darahnya. darah Nordica­ Aria! Mereka punya impian ialah satu negara Pan-Jerman yang menjadi rumahnya semua bangsa-bangsa Nordica-Aria itu! Austria, Selesia, Polandia, Denmark, Zwedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, Belgia, Swis, Luxemburg, Elzas Lotaringen d.l.s., – semua itu termasuklah ke dalam mereka punya maha-cita-cita Pan-Jerman yang berdiri atas persatuan darah itu! “Inilah pembungkusan” yang muluk dari nafsu mencari grondstoffen-hegemonie long saya ceritalcan itu tahadi! Pembungkusan dari satu kebutuhan-mentah dengan bungkusnya satu idealisme, satu cita-cita, satu supra-nationalisme, satu keyakinan, yang membangunkan semangat dan menggetarkan jiwa.

 

“Bangunlah Jerman”, — Deutschland erwache! -, clirikanlah negara besar yang mempersatukan semua rakyat-rakyat yang berdarah Aria­Nordica itu, serahkanlah segenap kamu punya jiwa-raga kepada ini ideal maha-maha-tinggi demi keperluannya “Blut und Boden”! Hidupkanlah kembali di dalam kamu punya kalbu itu hati Aria-Nordica yang sejati, yakni hati “Heldentum” alias “Kelaki-lakian” yang selalu men­jadi sifatnya hati Aria-Nordica dari zaman purbakala mula. Hitler adalah propagandis yang terbesar dari “Heldentum” itu, dia menurut keterangan Hermann Rauschning adalah mabuk dengan “Heldentum” itu. Ia, putera bangsa Aria, dan rakyat Jerman, rakyat bangsa Aria, – ia dan rakyat Jerman itu akan menentukan jalannya sejarah, sebagaimana memang selamanya bangsa Aria-lah yang menentukan jalannya sejarah. Ia dan rakyat Jerman itu akan mendirikan kembali Kemegahan Kerajaan Nordica dari zaman purbakala! Sebab, katanya bukankah bangsa. Nordica ini yang dulu menjadi cakrawarti dunia?

 

Cita-cita Pan-Jerman yang terutama sekali Alfred Rosenberg menjadi nabinya dan Adolf Hitler menjadi propagandisnya dan pengikhtiarnya itu, cita-cita Pan-Jerman itu menurut mereka tak lain dan tak bukan hanyalah satu “pengulangan” sahaja dari sejarahnya bangsa Nordica sediakala, satu pembangunan-kembali dari tarichnya itu bangsa “laki-laki” dari Utara yang mata biru dan rambut emas yang katanya di zaman purbakala telah menyebar dan membanjir ke selatan dark ke barat dan ke timur membawa kegagahan, kelaki-lakian, kecerdasan, kesopanan, membawa “Kultur” yang sehingga zaman sekarang masih berdiri berseri­serian di sebagian besar dari benua Eropah. Kata mereka, – bukan bangsa Timur, bukan bangsa Azia, bukan bangsa Yahudi, bukan bangsa Chaldaea, bukan bangsa Hindu, bukan bangsa Mesir, bukan bangsa Arab, bukan bangsa-bangsa yang kitab-kitabnya sejarah biasanya disebutkan bangsa-bangsa pemegang Kultur dan penanam Kultur, tetapi putera­-putera Maha-Dewa Nordica yang datang dari Utara itulah yang memberi Kultur kepada dunia, Putera-putera Maha-Dewa dari Nordica itulah yang dulu membuat manusia menjadi beradab, berkesopanan, berkultur.

 

Tetapi, ah, alangkah hinanya perdamaian Versailles buat bangsa Jerman putera Maha-Dewa Nordica itu! Heldentum (kelaki-lakian) tidak bisa, tidak mau, tidak boleh memikul penghinaan-penghinaan yang datang kepadanya sejak tahun 1918 itu. Heldentum itu harus dibangunkan kembali, dibangkitkan kembali, didinamiskan kembali, – dikobarkan kembali sampai menyala-nyala menjilat langit. Hitler cakap sekali membakar semangat rakyat, guna membangunkan “Heldentum” itu. Ia bukan sahaja satu jago kerongkongan yang ulung, ia juga satu meester dramatik. Ia dramatisirkan, perhaibatkan, segala hal yang perlu untuk menyalakan Heldentum itu. Ia tiup-tiupkan segala bahaya dari luaran menjadi malapetaka dari luaran, ia perhaibatkan segala kekalahan Jerman menjadi satu percobaan dari musuh hendak menumpas­binasakan ras Jerman, bangsa Jerman, darah Jerman.

 

Ras Jerman,- bangsa Jerman, darah Jerman, – dengarkanlah benar-benar; hai rakyat Jerman: bangsa dan darah Jerman! – sekarang di dalam bahaya, hendak dibasmi sama sekali oleh kaum demokrasi, kaum sosialisme dan bolsyewisme, kaum Yahudi dengan mereka punya kekuasaan uang. Angkatlah senjata, putera-putera Aria-Nordica, kum­pulkanlah semua bedil dan meriam, kumpulkanlah semua keberanian, kumpulkanlah semua kelaki-lakian, sebab bangsa dan darah Jerman mau dibasmi orang! Maka menyala-nyalalah karena dramatik ini segala nasionalisme menjadi kemabukan bangsa dan kemabukan darah, menyala-nyalalah kebencian kepada orang luaran, kepada semua bangsa yang bukan turunan “Utara”.

 

Heldentum, kelaki-lakian, semangat jago, manusia gemblengan, darah Nordica, darah, Aria, itu semua menjadi obat-pemabuknya hati yang luka dan malu karena kekalahan-kekalahan sejak 1917. Buku­-bukunya Heinrich von Treitschke yang mengajarkan bahwa hanya “laki-laki sahaja membuat sejarah”, buku-bukunya Nietzsche yang mengagung-agungkan “blond beest” dan “oppermens” (makhluk rambut emas dan manusia atasan), buku-bukunya Muller ban den Bruck yang mengunggul-unggulkan Germanendom (ke-Jerman-an) dari zaman pur­bakala,- buku-buku itu menjadilah kitab-kitab keramatnya kaum Nazi.

 

Cita-cita dan kenang-kenangannya “Pan Germaanse Liga” yang di dalam tahun 1891 didirikan oleh Heinrich Class, yang mau mengganti imperialisme-biasa (mencari kekayaan) dengan “missie van verovering voor macht en glorie” (mencari kemegahan dan kebesaran) dihidup­-hidupkanlah lagi sampai kembali menyala-nyala. Heinrich Class inilah yang di dalam tahun 1891 buat pertama kali mengeluarkan semboyan “Deutschland Erwache!”,

“Bangunlah Jerman!”.

 

Tetapi tidakkah sudah saya katakan bahwa Hitler adalah seorang meester dramatik? Sebelum ia memegang pemerintahan, ya sebelum ia muncul di gelanggang politik, partai-partai chauvinis dan militeris sudahlah mempropagandakan “semangat kejagoan” dan “semangat kelaki-lakian”. Tetapi Adolf Hitler, yang sejak dari mulanya mau men­jadi cakrawarti sendiri di lapangan politik itu, Adolf Hitler Meester Dramatik itu telah dramatisir secara berlebih-lebihan mereka semua. Adolf Hitler telah chauvinisir kaum chauvinis, militairisir secara berlebih-­lebihan kaum militeris, fanatisir secara berlebih-lebihan kaum fanatik. Adolf Hitler-lah yang akhirnya memegang monopoli menjadi penyebar semboyan “Deutschland Erwache!” itu.

 

Deutschland Erwache! Jerman bangunlah! Dan bangunlah “dengan bersenyum”. Sebab Bapak Hitler telah berkata bahwa Jerman boleh bersenyum, karena sebenarnya tidak kalah di dalam perjoangan 1914-1918 itu. Mana bisa darah Aria-Nordica kalah? Kalau tidak “ditikam dari belakang” di dalam tahun 1918 oleh kaum Semiet dan kaum Marxis, kalau tidak didurhakai oleh itu “bajingan-bajingan-November”, kata mereka, maka Jerman tak mungkin patah. Dan bukan sahaja “bajingan­-bajingan” ini mengerjakan satu pengkhianatan pada November 1918 itu, mereka juga terus-menerus mendurhakai darah Aria-Nordica tiap­-tiap waktu, merobek-robek tubuh Jerman tiap-tiap saat, mematahkan kemauan Jerman tiap-tiap detik. Mereka, bajingan-bajingan. Jahudi­ Marxis itu, yang menerima sahaja penghinaan membayar uang-kerugian perang, mereka membiarkan pendudukan daerah Ruhr, mereka selalu menerima perlucutan senjata, mereka selalu menerima mati akan ke­inginan balas-dendam dengan kejinakannya propaganda “perdamaian dunia”, mereka mendurhakai panggilannya darah dan bangsa itu dengan propagandanya internasionalisme. Karena itu basmilah lebih dulu semua pendurhaka-pendurhaka Yahudi-Marxis itu habis-habisan!

 

Ya, Jerman tidak kalah perang! Tidakkah oleh karenanya satu kenistaan, satu kehinaan, satu penghinaan, bahwa Jerman dan putera­-putera Jerman turunan Maha-Dewa Nordica itu dikungkung dan dibelenggu, dihisap dan ditindas? Tidakkah satu penghinaan dan satu ketidak-adilan jang menyakar langit, bahwa bangsa yang berdarah jem­polan itu diperlakukan sebagai bangsa yang hina-dina, diperlakukan sebagai budak-budak?

 

Tidak! Bapak Hitler telah berkata, bahwa Jerman dan putera-putera Jerman tidak kurang derajatnya dari negeri-negeri yang dinamakan menang di dalam peperangan 1914-1918 itu! Jerman dan putera-putera Jerman harus, musti, wajib diberikan kembali “persamaan derajat” dengan negeri-negeri lain itu, wajib diberikan “Gleichberechtigung” dengan bekas-bekas musuhnya dari 1914-1918 itu. Jerman wajib diberi lagi hak menentukan sendiri ia punya nasib, wajib diberi kembali tanah­-tanah miliknya yang dahulu, wajib diberi kembali koloni-koloninya di seberang laut, wajib dibiarkan menentukan sendiri ia punya “Lebens­raum”. Jerman wajib dibiarkan menyelesaikan ia punya cita-cita Pan­-Jerman, yang akan mempersatukan semua negeri-negeri yang rakyatnya darah Aria-Nordica!

 

Pan-Jerman! Kaum Nazi sendiri mengerti, bahwa Kerajaan ini tak mungkin bisa datang, tak mungkin bisa selesai, ya tak mungkin bisa dimulai, zonder persetujuan negeri-luaran, atauzonder perang dengan negeri luaran. Persetujuan dengan negeri luaran, atau perang dengan negeri luaran, perang yang akan menumpahkan darah! , lain pilihan tidak ada, lain “lobang” tidak ada. Tetapi,- buat apa takut perang? Buat apa menjauhi peperangan? Tidakkah putera-putera Jerman justru turunan dari laki-laki Nordica, yang dulu justru menjadi kuat, menjadi cerdas, menjadi tinggi-Kultur karena peperangan? Tidakkah peperangan itu satu-satunya gelanggang, di mana sesuatu bangsa bisa digembleng semangatnya, digembleng tekad dan iradatnya, digembleng waja jiwanya? Tidakkah begitu juga perkataan Mussolini! Tidakkah peperangan, tidakkah perjoangan satu-satunya yang membawa jalan kepada hak dan keadilan? Hak tak dapat diperoleh dengan minta-minta secara mengemis, hak harus direbut dengan perjoangan, begitulah Hitler berkata.

 

Dan kalau perjoangan itu membawa kekalahan? Kalau perjoangan itu membawa kekalutan? Ai, kekalutan! Heldentum tak takut kekalutan! Lebih baik berakhir dengan kekalutan, daripada kekalutan yang tiada akhirnya.

 

Siapa takut akan ujungnya ia punya perbuatan-perbuatan, siapa menghitung-hitung untung-ruginya ia punya tindakan-tindakan, dia tak adalah Heldentum sedikitpun jua mengalir di dalam ia punya darah, dia tidak pantas bernama orang Aria, dia adalah seorang penjual ubi dan ikan asin! Dia tidak ada keinsyafan sebesar kumanpun jua bahwa hanya dengan Heldentum, – Heldentum yang tidak menghitung-hitung, Heiden-turn yang tiada ferduli apa-apa di luar pagar bahwa hanya dengan Heldentum yang demikian itu Jerman dan kehormatan “Blut und Boden” bisa terbela. “Eropah – seluruh dunia – boleh terbakar. Kita tidak ferduli! Jerman musti hidup, musti merdeka”, begitulah tangan­ kanan Hitler yang dulu, Ernst Rohm, berkata di dalam ia punya kitab “Geschichte eines Hoehverraters”.

 

Ya, Heldentum yang dengan tidak ferduli apa-apa, Heldentum yang dengan “Brrrrutalitat” menuntut hak-haknya Blut und Boden. Memang bangsa Nordica tak pernah takut-takutan. Memang bangsa Nordica sebagai yang dikatakan oleh Hitler kepada Otto Strasser pada 21 Mei 1930 “mempunyai hak memerintah seluruh dunia”. Kita harus memakai hakini sebagai bintang penuntunnya kita punya politik luaran. Dan negeri-negeri yang tertindas tidak bisa kembali di atas pangkuannya Kerajaan yang satu (Pan-Jerman!) dengan protes-protes sahaja yang menyala-nyala, melainkan hanyalah dengan pedang yang “maha-kuasa” … Sebab “ukuran bagi kekuatan sesuatu bangsa adalah selamanya dan melulu ia punya kesediaan buat berperang” (Rosenberg) dan “alat satu-satunya yang dipakai buat menjalankan politik-luaran ialah tak lain daripada pedang” (Goebbels). Fasisme adalah “pedang”!

 

Dan pedang itu kini sudah mengkilat! Pedang itu sudah menghantam Polandia, Denmark, Norwegia, Nederland, Belgia, Perancis, menghantam kekanan-kekiri, membelah apa yang tahadinya satu, menghancur-luluhkan apa yang tahadinya tegak. Pedang Siegfried telah mengamuk laksana amuknya Rahwana yang terjangkit syaitan. Fasisme adalah peperangan.

 

Di dalam apinya peperangan-dunia 1914-1918 ia dilahirkan ke dunia. Di­ dalam apinya peperangan yang sekarang ini ia menunjukkan ia punya “kelaki-lakian”. Mungkinkah ia akan mati-terbakar di dalam api pepe­rangan sekarang ini juga?

 

Pembaca, sudah dua “roman muka” fasisme kita lihat. Pertama Fiihrerprinzip, yang bertentangan sama sekali dengan demokrasi Islam, demokrasi ideologi politik kita, demokrasi Indonesia. Kedua, kesombongan ke-Aria-an atau ke-Nordica-an, yang bertentangan karena tidak “mata biru”, tidak “rambut emas” tidak turunan Nordica, tidak darah Aria, tidak memperbeda-bedakan kulit dan darah, dan – tidak mau dianggap bangsa tempe atau bangsa kelas kambing oleh siapapun juga. Kitapun mem­punyai rasa kebangsaan, kitapun mempunyai rasa kemegahan nasional, kita anti tiap-tiap isme apa sahaja yang menganggap bangsa kulit sawo sebagai bangsa rosokan yang harus selalu di bawah sahaja.

 

Indonesia versus Fasisme! Indonesia dan jiwa Indonesia anti faham-faham fasisme yang telah saya uraikan itu. Masih ada lagi faham-fahamnya yang kita anti pula. Di dalam nomor yang akan datang Insya Allah akan saya kupas menurut pengupasan ekonomi yang lebih dalam zonder meninggalkan syarat kepopuleran yang sudah saya janjikan itu.

 

Sebelum itu, camkanlah apa yang sudah saya uraikan itu.

 

“Panji Islam”, 1940

.

.

———

Iklan