DER UNTERGANG DES ABENDLANDES

DER UNTERGANG DES ABENDLANDES

 

JATUHNYA NEGERI EROPAH?

 

“Dan dengan mereka yang ber­kata: Kami ini orang Keristen. Kita sudahlah membuat satu per­janjian, tetapi mereka tidak mengindahkan sebagian dart apa yang diperingatkan kepada mereka itu. Maka oleh karena itu, Kita bangunlah permusuhan dan ke­bencian di kalangan mereka, sam­pai kepada hari kiamat; dan Allah akan memberitahukan pada mere­ka apakah yang mereka telah perbuat.”

 

Al-Qur’an V: 14

 

Perang di Eropah kini sudah jadi betul-betul! Apakah kita menghadapi “jatuhnya negeri Eropah”?

 

Perkataan “Der Untergang des Abendlandes” adalah keluar dari pena seorang ahli filsafat yang, bernama Oswald Spengler, sebentar sesudahnya perang-dunia 1914-1918 berakhir. Kebencanaan kultur yang dideritakan oleh Eropah sesudah perang itu, menjadilah pendorong yang terbesar baginya untuk menulis bukunya yang tebal itu. Saya belum pernah mem­baca buku ini sampai habis. Di almari-buku saya buku itu ada, tetapi pada waktu membacanya saya mogok di tengah jalan.

 

Bukan karena hal cang dibicarakan itu kurang menarik, tetapi karena Spengler menulis “secara Jerman”: Angker, berat, menjemukan. Kalau misalnya orang Inggeris menulis buku itu, niscayalah akan ditulisnya dengan cara yang lebih “ringan”. Misalnya sahaja penulis Inggeris H. G. Wells, yang toch juga sering mengupas soal-soal yang dalam dan sulit, niscaya akan memakai cara yang lebih menggembirakan. Buku-bukunya Wells selalu segar untuk dibaca.

 

Karena saya tidak membaca Spengler itu sampai habis,- cuma kira-kira sepertiga dari ia punya buku-tebal itu sahaja dapat saya ku­nyah maka sudah barang tentu saya tidak mengetahui segala detail-detailnya ia punya pembicaraan. Hanya garis-garis besarnya yang saya baca saya ketahui, dengan jalan “baca sana-sini” buku itu. Maka pokoknya ia punya falsafah itu ialah, bahwa semua sejarah adalah me­nunjukkan garis-menurun sesudah sesuatu puncak telah tertcapai. Se­sudah masak, datanglah kebusukan, kemunduran, kematian. Sesudah kultur datanglah sivilisasi: Sesudah peradaban yang luhur, datanglah kesopanan-pasaran. Dan sivilisasi inilah permulaan segala kejatuhan. Maka akan menjaga kejatuhan peradaban itu Spengler punya resep ialah: Jangan lembek, tutup kamu punya pintu buat segala pengaruh­pengaruh, rebutlah kekuasaan dunia! Lain lagi dari harapan-riang yang H. G. Wells sajikan kepada pembacanya! Wells punya duta ialah selalu: jangan putus-asa, lihatlah dunia ini semakin sedar kepada rasa cinta­-bersama, lihatlah dunia ini semakin mendekati humaniteit yang sejati.

 

Duta Spengler ini sudah dikerjakan oleh Jerman. Jerman sudah “tidak lembek”. Jerman sudah tutup ia punya pintu, dan Jerman sudah mulai rebut kekuasaan dunia. Kini kita tinggal menunggu sahaja hasilnya resep Spengler itu. Benar Jerman sekarang bukan sama sekali a la Spengler, Hitler dulu sebentaran tertarik kepadanya, tetapi kemudian melepaskannya lagi,- benar Jerman sekarang itu bukan ciptaan pula dari seorang manusia, tetapi pada hakekatnya adalah buah tenaga-tenaga­masyarakat di Jerman itu sendiri, tetapi toch ada sedikit persesuaian antaranya dengan Spenglerisme itu. Jerman telah bangun kembali. Tetapi kebangunan Jerman itu membawalah pula akibat-akibat agresi yang kini bertabrakan dengan agresinya negeri sekutu, sebagai tempo hari saya terangkan di dalam saya punya artikel tentang perang ideologi. Kini meriam mendentum-dentum di Siegfried dan Maginotlinie, kini udara Skandinavia bergetarlah karena gunturnya geledek-peperangan.

 

Akan benar-benarkah Eropah menghadapi ia punya untergang?

Akan benar-benarkah perkataan Ritman yang diucapkannya di muka radio Nirom, bahwa Eropah menghadapi anarchi? Akan benar-benarkah perkataan Gandhi, bahwa Eropah akan tenggelam tak dapat tertolong lagi tatkala ia dulu berpidato di Bardoli?

 

Pembaca, saya tidak percaya bahwa Eropah akan tenggelam.

Saya tidak pesimistis di dalam saya punya penglihatan hari-kemudian. Tidak pesimistis terhadap Eropah, tidak pesimistis terhadap seluruh dunia. Saya percaya, saya yakin, bahwa perikemanusiaan akan selalu maju, selalu naik, selalu bertambah sedar. Bahwa perikemanusiaan itu satu­satu kali jatuh, atau beberapa kali jatuh, sampai lututnya dan tangannya dan mulutnya berlumuran darah, itu tidaklah saya anggap sebagai berhentinya sejarah. Itu saya anggap sebagai kesakitannya evolusi sejarah, sebagaimana tiap-tiap seorang ibu menderita sakit yang maha­-berbahaya pada tiap-tiap saat ia melahirkan bayi.

 

Janganlah dikatakan saya terlalu idealistis. Saya justru sangat riil, – berdiri dengan kedua-dua kaki saya di atas bumi yang nyata. Saya mengatakan bahwa Eropah tidak akan tenggelam, justru karena saya mengambil ketetapan-ketetapan dari sejarah itu. Bukan karena angan­angan saya berkata demikian itu, justru karena saya memegang teguh-teguh akan petunjuk-petunjuknya sejarah. Eropah barangkali justru akan naik! Bentuknya kultur masyarakat Eropah barangkali akan mengambil jalan yang membawa ke dalam jurang itu, mengambil jalan yang baru, mengambil jalan yang baru yang membawa naik kepada keselamatan.

 

Tuan akan bertanya, tidakkah Tuhan telah memfirmankan firman yang saya cantumkan di muka tulisan saya yang sekarang ini? Tidakkah Tuhan mengatakan kejatuhan dunia Nasrani itu?

Pembaca, bacalah firman itu sekali lagi. Bacalah dia dengan seksama, dengan teliti, dengan mengupas di dalam tuan punya fikiran tiap-tiap kalimat di dalam­nya, tiap-tiap kata di dalamnya.

 

Lebih dulu: maha-kagumlah saya kalau saya ingat bahwa ayat itu dikeluarkan oleh mulut seorang umi hampir seribu empat ratus tahun yang lalu, seorang umi yang tak pernah belajar ilmu sejarah atau ilmu masyarakat,- seorang umi di tengah-tengah padang-pasir! Ia ramalkan permusuhan-permusuhan dan kebencian-kebencian, yang selalu ada di benua Eropah itu. Kagtunlah saya, kalau saya melihat sejarah benua Eropah itu benar-benar penuh dengan perkelahian dan peperangan, penuh dengan pertikaian dan perjoangan, penuh dengan permusuhan dan kebencian sebagai yang dituliskan di dalam ramalan itu. Perang­-perang penggantian raja, perang-perang “agama”, perang-perang “nasional” pada waktu mulai berdirinya negara-negara nasional, dan terutama sekali perang-perang di zaman sesudahnya masuk ke dalam baha­gian kedua dari abad kesembilanbelas dan permulaan abad keduapuluh, – semua peperangan-peperangan ini adalah benar-benar membuktikan benarnya ramalan yang diramalkan oleh Allah dengan jalan mulutnya seorang umi di tengah-tengah padang-pasir itu … hampir 1.400 tahun yang lalu!

 

Maka fikiran saya yang selalu minta keterangan, fikiran saya yang selalu minta verklaring dan tak mau dogmatis, fikiran saya itu bertanyalah: adakah ini karena “sebab gaib” sahaja, ataukah ada keterangannya yang rasionil? Marilah kita kupas ayat itu. Pertama, tidak ada di situ dituliskan dengan sepatah katapun juga, bahwa dunia Nasrani akan tenggelam, akan binasa. Di situ hanyalah dikatakan, bahwa “dibangun­kanlah permusuhan dan kebencian” di kalangan mereka itu. Janganlah kita tambah-tambahi kalimat ayat ini. Janganlah kita mengatakan dunia Nasrani akan binasa atau akan lebur. “Permusuhan dan kebencian”, peperangan, pergeseran, perbantahan, pergolakan sahaja, – itu sahajalah yang diramalkannya. Dan ramalan itu sudah terjadi, sudah sampai. Tapi bukan kebinasaan sama sekali, bukan keleburan sama sekali, bukan Untergang sama sekali. Kalau peperangan sahaja sudah membawa Unter­gang, maka barangkali dunia Nasrani sudah lama hancur-lebur, sudah lama lebur, binasa sama sekali tersapu dari muka bumi di zamannya Perang Tigapuluh Tahun yang mengamuk di Eropah tigapuluh tahun lamanya, atau di zamannya perang-dunia 1914-1918 yang membasmi milyun-milyunan jiwa dan milyard-milyardan harta-benda!

 

Kemudian diterangkanlah pula di dalam ayat itu apa sebabnya “permusuhan dan kebencian” itu. Diterangkan di situ bahwa permusuhan dan kebencian itu disebabkan oleh karena “mereka tidak mengindahkan sebagian dari apa yang diperingatkan kepada mereka”. Tidak ada suatu hal yang gaib yang terselip di dalam keterangan ini. Terang dan jelas di situ dikatakan bahwa orang Nasrani meninggalkan sebagian dari peringatan Tuhan. Itu, dan itu sahajalah sebabnya permusuhan, itu sahajalah sebabnya kebencian, bukan sebab yang lain-lain, bukan “sebab gaib” yang sedikitpun juga. Kalau itu tidak dilupakan, kalau itu tidak ditinggalkan, maka tidaklah pula mereka bermusuh-musuhan dan benci-­membenci satu sama lain!

 

Apakah yang mereka “tidak indahkan” itu? Peringatan Tuhan kepada sesuatu bangsa selalu mengenai dua hal, mengenai perhubungan manusia dengan Tuhan, dan mengenai perhubungan manusia dengan manusia. Di dalam kedua bagian inilah maka kaum Nasrani itu menyim­pang dari asalnya, menyimpang dari petunjuk Isa yang sebenarnya, sebagaimana difirmankan oleh Tuhan di lain tempat pula. Tuhan tak pernah mengatakan, bahwa Ia beruknum tiga; kaum Nasrani mengadakan kepercayaan kepada tiga uknum itu; Allah bapak, Allah anak, dan Allah rohulkudus. Allah tak pernah mengatakan bahwa Nabi Isa itu anak-Nya, – lam yalid walam yulad! – tetapi kaum Nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa itu ialah anak Tuhan, ya, bahwa Nabi Isa itu Tuhan sendiri. Allah selalu memperingatkan bahwa Ia Satu, Ia Esa, Ia Tunggal, Ia Ahad, – tetapi kaum Nasrani tidak indahkan peringatan ini. Maka oleh karena itu menjadi lemahlah tauhid di kalangan mereka itu. Akibatnya ialah: permusuhan, pertikaian. Permusuhan dan pertikaian, terutama sekali ditentang agama. Rum Katolik, Grik Katolik, Protestan-biasa, Anglikan, Gerakan Pantekosta, Adventis, dan beratus-ratus firqah yang lain-lain, orang pernah hitungkan lebih dari 500 firqah itu semua pecahan‑pecahan ini selalu-bersainganlah satu sama lain, bergeseranlah satu sama lain. Kalau di dalam dunia Nasrani itu misalnya tidak ada lain pertikaian atau permusuhan melainkan pertikaian urusan agama ini sahaja, – kalau di situ tidak ada peperangan-negara atau tidak ada peperangan sistim‑sistim perdagangan dan perusahaan maka sudah cukuplah  pertikaian‑pertikaian agama itu sahaja buat memusuhi ramalan yang tertulis di dalam ayat Qur’an tahadi itu.

 

Tetapi tahadipun saya terangkan, bahwa Tuhan juga memberi peringatan kepada manusia tentang perhubungan antara manusia dengan manusia. Manusia yang satu tidak boleh merugikan atau menyengsarakan manusia yang lain dan semua manusia haruslah hidup secara “kemasya­rakatan”. Maka di sinipun agama Nasrani itu sudah menjadi lain dari asalnya. Terutama sekali di dalam urusan pencaharian-rezeki, di dalam urusan ekonomi, hukum-hukum kemasyarakatan sudahlah dilupakan sama sekali. Siapa pernah membaca buku Karl Kautsky “De oorsprong van het Christendom”, maka akan jelaslah padanya bedanya Christen­dom-asal dengan Christendom sekarang itu. Dulu tidak adalah di dalam Christendom-asal itu pembenaran cara-hidup yang ditujukan kepada perbendaan. Dulu tidak ada pembenaran kepada riba. Dulu menurut penyelidikan Kautsky yang dibenarkan pula oleh penulis-penulis seperti Muller-Lyer atau Werner Sombart atau Max Weber, pergaulan-hidup Christendom-asal itu adalali pergaulan-hidup persaudaraan-kekal yang berdasar kepada tolong-menolong dan bagi-membagi. Tetapi sejak abad yang ketiga berobahlah sendi-sendi pergaulan-hidup Christendom itu. Sendi-sendi pergaulan-hidup yang ash itu dilepaskan satu-persatu, dan digantilah dengan sendi-sendi pergaulan hidup baru, yang sama sekali bertentangan dengan faham-faham kemasyarakatan dulu itu.

 

Tatkala Nabi Muhammad bekerja di negeri Arab, sudah musnalah sama sekali sendi-sendi Christendom yang asli itu, dan sudahlah “laku” sendi-sendi yang baru itu. Oleh karena itulah, maka mulut Muhammad menyabdakan firman Allah yang tahadi itu: “mereka tidak mengindahkan sebagian dari apa yang diperingatkan kepada mereka itu”. Oleh karena itulah maka lambat laun, melalui sejarah yang sampai sekarang sudah lebih dari tigabelas abad, masyarakat Eropah yang tidak mengindahkan sendi-sendi kemasyarakatan itu, menjadilah satu masyarakat sebagai yang kita kenal sekarang: satu masyarakat materialisme yang penuh dengan pertentangan-pertentangan. Oleh karena itulah, maka Eropah tak ber­henti-henti digoda oleh peperangan-peperangan, perjoangan-perjoangan dagang, perjoangan-perjoangan industri, perjoangan-perjoangan ke­uangan dan lain-lain!

 

Oleh karena itulah pula, maka tiap-tiap negeri yang memakai sendi­-sendi itu, selalu tergoda pula oleh hantu perkelahian, hantu permusuhan, hantu kebencian. Japan, Amerika, – dan negeri Islam-pun di mana ia memakai sendi itu, – tak kenal keamanan.

 

Negeri Islam-pun, sebab Allah tidak pernah mengatakan, bahwa negeri Islam tidak akan mendapat nasib yang demikian itu. “Permusuhan dan kebencian” yang difirmankan olehNya di atas orang Nasrani yang melu­pakan sebagian dari perintah-perintah atau larangan-larangan asli itu, permusuhan dan kebencian itu juga menjadi bagiannya orang Islam, manakala orang Islam juga “tak mengindahkan sebagian dari apa yang diperingatkan kepada mereka itu”.

 

Haraplah ini menjadi peringatan kepada semua kaum Muslimin. Janganlah sekali-kali kita kira, bahwa kaum Nasrani sahaja “karena kekuasaan gaib”, bermusuh satu sama lain, dan membenci satu sama lain. “Sebab gaib” itu tidak ada, hanyalah ada sebab-sebab yang sama sekali nyata dan dapat dipegang belaka. Buangkanlah jauh-jauh segala dogmatik yang kosong, tetapi belajarlah berfikir rasionil, belajarlah berfikir dengan kedua-dua kaki kita di atas build yang nyata. Kalau kaum Nasrani tetap tidak mengindahkan sebagian dari apa yang diperingatkan kepada mereka itu, maka “sampai kiamat”, – begitulah firman Tuhan, – mereka tidak akan selamat daripada permusuhan dan kebencian. Tidak selamat dari permusuhan dan kebencian tentang hal-hal agama, tidak selamat pula dari permusuhan dan kebencian tentang hal-hal dunia. Tetapi kalau mereka tinggalkan kesalahan itu, kalau mereka sedar kermbali, kalau mereka perhatikan kembali segala perintah-perintah dan larangan-larangan yang – kalau mereka buang jauh-jauh iktikad­-iktikad yang merusak akan ketauhidan dan membuang jauh-jauh sendi-sendi masyarakat yang dipakainya sekarang ini, maka niscayalah mereka akan damai, akan sejahtera, akan selamat dari permusuhan dan kebencian. Akan hilanglah jumlah ratusan firqah-firqah yang kini memecah-belahkan Christendom dengan rasa permusuhan dan keben­cian; akan hilanglah persaingan-persaingan perdagangan dan perusahaan yang maha-dahsyat-maha-dahsyat itu, serta peperangan-peperangan yang menghancurkan jiwa manusia dan harts kekayaan manusia. Akan hilanglah “kutuk”, -kalau ini kutuk -, yang dijatuhkan di atas pundak mereka itu.

 

Tetapi sebagai tahadi sudah saya katakan; Juga dunia Islam akan kena “kutuk” itu, kalau ia meninggalkan azas-agama yang asal dan azas­ persatuan-manusia yang asal. Juga dunia Islam! Sebab Allah maha-adil, Allah tidak berat sebelah. Hukuman yang dikenakan kepada sesuatu umat kalau umat itu membuat sesuatu kesalahan, hukuman itu jugalah ditimpakan kepada umat Islam, kalau umat Islam mengerjakan ke­salahan yang sama. Orang Nasrani mendapat hukuman “permusuhan dan kebencian”. Orang Islam-pun akan mendapat hukuman “permusuhan dan kebencian” itu, kalau ia juga menginjak jalan-salah yang sama.

 

Maka saya kira, umat Islam sekarangpun sudah berbuat kesalahan itu. Dari dulupun sudah! Orang Islam banyak yang melepaskan tauhid, banyak yang menyekutukan Tuhan, banyak yang musyrik. Orang Islam banyak yang di dalam urusan pencaharian-rezekinya melanggar azas-azas kemasyarakatan. Maka oleh karena itu, kinipun dan dulu kita sudah melihat “permusuhan dan kebencian” di kalangan orang Islam itu. Kinipun dan dulupun Islam terpecah-pecah di dalam pelbagai firqah yang ber­bantah satu sama lain, bersaing satu sama lain, berpanas-panasan satu sama lain, ya, berkelahi satu sama lain. Kinipun dan dulupun orang Islam menyembelih satu sama lain di atas lapangan perdagangan dan perusahaan, bermusuh-musuhan dan berpukul-pukulan di atas lapangan harta-kekaya­an. Kerajaan-kerajaan Islam berhantam-hantaman satu sama lain, – bukalah kitab tarikh, dan tuan akan membenarkan perkataan saya ini, – dan dikemudian hari akan menghantam satu sama lain pula, kalau tidak sendi-sendi masyarakat itu dirobah dan dibawa kepada petunjuk asal: adil, tolong-menolong, bagi-membagi, tidak menelan orang lain, untuk mengenyangkan diri sendiri. Camkanlah ini! Sebab sejarah terus ber­jalan, dan segala kesalahan tak urunglah kita rasakan akibatnya nanti!

 

Kini meriam mengguntur lagi di tepi-tepi pantai Skandinavia, mesin-­mesin pembinasa mendentam-dentam lagi di benua Eropah.

Akan binasakah sama sekali peradaban Eropah itu kini?

Tahadi saya katakan: Saya rasa tidak, Allah pun mengatakan tidak. Sebab kalau umpamanya Eropah ini kali binasa, maka Ia tidak akan berfirman bahwa Eropah akan bermusuh-musuhan dan benci-bencian “sampai kiamat”.

Eropah akan berumur panjang, sebagai seluruh duniapun akan berumur panjang. Kecuali kalau kiamat itu segera menimpa kita!

Wallahu a’lam!

 

Tetapi kalau benar dunia masih berumur panjang, maka juga buat Eropah saya kira fajar akan menyingsing. Juga buat Eropah saya kira akan datang masyarakat baru, di atas sendi-sendi kemasyarakatan yang asal, yang akan mengangkat “kutuk sampai kiamat” itu dari pundaknya, yang kini luka-luka dan berlumuran darah.

 

Dalam pada itu, pada saat ini, kita ada alasan yang syah buat membantah dan menyalahkan resep yang dikasihkan oleh Oswald Spengler tahadi. Sebab resepnja itu ternyata tidak membawa Eropah keluar dari lembahnya Untergang, tetapi sebaliknya malahan menambah “permusuhan dan kebencian” belaka.

 

Sejarah Eropah sekarang adalah mengasih bukti kesalahan resep itu dengan cara yang boleh dilihat dengan kedua-belah mata kita!

 

“Panji Islam”, 1940

.

.

————–