KUASANYA KERONGKONGAN

KUASANYA KERONGKONGAN                   

 

Dengan kepala tulisan yang bunyinya seperti ini, dulu pernah saya menulis sebuah rencana di surat-kabar “Pemandangan”. Di dalam ren­cana itu saya gambarkan, betapa Adolf Hitler dapat merampas seluruh dunia Jerman dengan ia punya kerongkongan. Dan Adolf Hitler-lah datangnya perkataan: “Gobloklah orang yang mengatakan: sedikit bicara banjak bekerja. Goblok! Orang yang demikian itu tak pernah menin­jau ke dalam sejarah dunia. Semboyan kita harus: banyak bicara, banyak bekerja!”

 

Belum selang berapa lama ini terbitlah sebuah buku anti-Hitler yang sangat menarik, yang namanya: “Propaganda als Waffe”, –

“Propaganda sebagai senjata”. Penulisnya ialah musuh Hitlerianisme yang terkenal Will Miinzenberg. Di dalam buku ini dikupasnyalah aktiviteit-Hitlerian­isme dengan kerongkongan itu.

 

Will Miinzenberg sendiri adalah seorang ahli pergerakan. Ia adalah salah seorang pemimpin kaum buruh, yang pergerakannya dibinasakan oleh Adolf Hitler itu. Ia sendiri mengakui pentingnya propaganda, dan mengakui pula bahwa salah satu sebab kekalahan kaum buruh terhadap kepada kaum Nazi ialah karena kalah memakai kerongkongan. Ia sendiri adalah seorang propagandis yang ulung. Tapi ia mengakui, bahwa sistimatiknya kaum Nazi di dalam mereka punja kerja-kerongkongan adalah lebih teratur.

 

Sebagai saya terangkan, ini buku pada satu fihak adalah satu pengakuan akan pentingnya propaganda dan kekalahan kaum buruh Jerman antara lain-lain karena kalah propaganda, tapi di lain fihak buku ini me­ngupas habis-habisan palsunya propaganda kaum Nazi itu. Miinzenberg adalah pro propaganda, tetapi hendaklah propaganda itu disandarkan kepada kebenaran, kepada barang-yang-tidak-bohong. Hanya propaganda yang begitulah dapat membangunkan keyakinan yang kekal. Hanya pro­paganda yang demikian itulah dapat menjadi satu pendidikan. Tapi pro­paganda kaum Nazi adalah propaganda yang mempropagandakan barang yang bohong. Propaganda kaum Nazi tidak mendidik, tidak menanam keyakinan melainkan hanyalah memabokkan, menyilaukan.

 

Memang ditunjukkan oleh Miinzenberg, bahwa propaganda kaum

Nazi itu tidak terutama sekali ditujukan kepada akal, tidak diarahkan kepada pikiran, tetapi ialah satu “Appell ans Gefiihr, memanggil kepada rasa sahaja, memanggil kepada sentimen sahaja. Propaganda yang sejati adalah menuju kepada rasa dan akal, kepada kalbu dan otak, kepada perasaan dan pikiran. Tetapi apakah yang mitsalnya diajarkan oleh Hitler? Hitler berkata: “Kita samasekali tidak boleh obyektif, sebab nanti rakyat-jelata yang selalu goyang-pikiran itu lantas memajukan pertanyaan, apakah benar semua musuh kita itu tidak benar, dan hanya bangsa sendiri sahaja atau pergerakan sendiri sahaja yang benar.” Begitu pula Goebbels. Waktu di dalam bulan September 1932 partai Nazi kena krisis yang haibat, maka Goebbels berkata: “Man muB jetzt wieder an die primitivsten Masseninstinkte appellieren.” Artinya: “Sekarang kita musti

coba bangunkan lagi perasaan-perasaan yang paling rendah

dari rakyat-jelata.”

 

Di dalam bagian ini kritik Miinzenberg tidak ada ampun lagi. Dibuktikannya, bahwa maksud kaum Nazi dengan propaganda itu bukanlah menyebarkan kebenaran atau keyakinan, melainkan

sebagai Hitler sendiri berkata, hanyalah “moglichst groBe Massen zu gewinnen”, – “mencari pengikut rakyat-jelata yang sebanyak mungkin”. Sebab memang inilah pokok falsafat-hidup Hitler.

Yang betul-betul dinamakan laki-laki dunia ialah – menurut

Hitler – orang yang bisa menggerakkan massa. Bukan mitsalnya mengeluarkan idee sahaja, bukan menyusun teori sahaja, bukan kepandaian ini atau kepandaian itulah yang menjadi ukuran orang Besar. Orang Besar adalah orang yang cakap menggerakkan massa. “GroB rein heiBt Massen bewegen konnen.”

 

Falsafat-hidup ini telah dilaksanakan oleh Hitler dengan cara yang memang mengagumkan. Menurut keterangan Konrad Heiden, seorang biograf Hitler yang terkenal, memang belum pernah di sejarah dunia ada orang yang menyamai Hitler ditentang “Massen bewegen konnen” itu. Menurut Heiden, di dunia Barat hanyalah satu orang yang menyamai Hitler tentang kecakapan berpidato: Gapon, salah seorang yang terkenal dari sejarah kaum agama di Rusia pada permulaan abad ini. Saya kira, Konrad Heiden belum pernah mendengarkan Jean Jaures berpidato!

 

Jean Jaures adalah salah seorang pemimpin kaum buruh Perancis, yang biasa disebut orang “Frankrijks grootste volkstribuun” dari abad yang akhir-akhir ini. Menurut anggapan saya, sesudah saya membandingkan pidato-pidato Jean Jaures dengan pidato-pidato Adolf Hitler, – pidato­-pidato Hitler bukan sahaja saya banyak baca, tapi juga sering saya dengarkan di radio maka Jean Jaures-lah yang lebih ulung. Memang pidato-pidato Jean Jaures adalah maha-haibat. Trotzky, yang sendirinya juga juru-pidato yang maha-haibat, di dalam ia punya buku “Mijn Leven” yang terkenal, membandingkan pidato-pidato Jean Jaures itu sebagai “air­ terjun yang membongkar bukit-bukit-karang”,— sebagai “een waterval die rotsen omvergooit”.

 

Tetapi apakah sebabnya Jaures tidak dapat menggerakkan massa sebegitu banyaknya seperti Hitler? Ya, bukan sedikitlah pengaruh Jaures. Kalau Jaures berpidato, maka puluhan-ribu oranglah yang mendengarnya. Kalau habis Jaures berpidato, maka menurut keterangan De Rappoport, pendengar-pendengarnya lantas mendapat perasaan cinta akan semua manusia. “Orang lantas ingin memeluk semua manusia”, begitulah me­nurut De Rappoport haibatnya pidato-pidato Jaures itu. Jaures adalah punya pengaruh yang begitu besar, sehingga salah seorang mengatakan, bahwa, kalau umpamanya ia tidak ditembak coati orang pada bulan Agustus 1914, maka barangkali ia bisa mencegah menjalarnya perang-dunia(?).

 

Tetapi kembali lagi kepada pertanyaan: apakah sebabnya Jaures tidak dapat menggerakkan massa sebegitu banyak seperti Hitler? Apa sebab ia punya pengikut hanya milyunan sahaja, dan tidak puluhan-milyun seperti Hitler? Apa sebab ia tidak dapat bekuk negara, seperti Hitler?

 

Jawabnya pertanyaan ini adalah terdapat di dalam buku Willi Miinzenberg itu. Hitler tidak sahaja mencari anggauta, ia juga, dan malahan terutama, mencari pengikut. Pengikut yang sebanyak mungkin, pengikut ribuan, ketian, laksaan, milyunan, – ya, malahan puluh-milyunan! Asal ikut, asal bergerak, asal mengalir, asal tertarik! Tak usah sedar, tak usah memikir, tak usah “erklart”, tak usah pula semuanya menjadi anggauta partai. Asal ikut!

Propaganda lebih penting dari organisasi! “Aufgabe der Propaganda ist es, Anhtinger zu werben, Aufgabe der Organisation, Mitglieder zu gewinnen”. Artinya: “Propaganda cari pengikut, organisasi cari anggauta”.

 

Hitler cari pengikut lebih dulu, anggauta nanti datang sendiri.

Kata­nya: “Bodohlah orang yang mengira, kita musti mendirikan cabang lebih dulu, kemudian baru propaganda. Tidak! Lebih dulu propaganda, lebih dulu kita pengaruhi massa. Cabang nanti datang dengan sendirinya.” Dan metodenya mendapatkan pengikut yang sebanyak mungkin itulah yang digasak oleh Mtinzenberg. Massa yang hanya digerakkan sahaja, zonder diberi pengetahuan yang berdiri atas “Wahrheit”, zonder diberi keyakinan yang terpaku juga di dalam otak, zonder disedarkan tetapi hanya dima­bokkan, – zonder diberi “Wissen” tetapi hanya diberi “Illusion” -, massa yang demikian itu nanti tentu akan “gugur” kembali! Munzenberg me­ramalkan keguguran-kembali ini. Miinzenberg, sebagai juga Fritz Sternberg di dalam bukunya yang bernama “Hoe fang kan Hitler oorlog voeren?”, meramalkan, bahwa justru Massa ini, yang menjadi dasar, alas, tiang, dan tublihnya Hitlerianisme itu. Karena ia hanya dimabokkan sahaja. Karena ia hanya dicekoki “Illusion” sahaja. Karena ia tidak dididik, tidak diyakinkan, tidak disedarkan.

 

Sangat menarik sekali uraian Fritz Sternberg itu pula: Dikatakannya, Hitler boleh cukup alat-alat-perangnya, boleh cukup meriamnya dan dinamitnya, boleh cukup kapal-udaranya dan kapal-silamnya, – tetapi adalah satu faktor yang nanti boleh jadi menggugurkan ia punya plan. Faktor ini ialah faktor “manusia”, faktor “mens”. Sebab faktor “manusia” inilah, yang berdarah dan berdaging dan berjiwa, yang nanti akan merasa lapar perutnya kalau di Jerman kekurangan makan, yang merasakan sakit kalau kulitnya robek dan darahnya mengalir, yang merasakan dahsyat kalau dipaksa menghadapi maut, – faktor “manusia” inilah, yang mungkin dilu­pakan oleh Hitler. Faktor “manusia” inilah yang barangkali sejurus waktu dapat disemangatkan, digembirakan, disilaukan-mata, dimabokkan, dijadi­kan material, dijadikan obyek, tapi dialah pada hakekatnya motor sejarah. Dialah yang berjoang atau tidak berjoang, dialah yang mengerjakan sejarah atau tidak mengerjakan sejarah. Dialah yang pada setiap saat bisa berkata: “aku mau berjoang” atau “aku tidak mau berjoang”, “aku­ mau lapar” atau “aku tidak mau lapar”, – “aku mau mati” atau “aku tidak mau mati”.

 

Dia, “manusia”, dia boleh sejurus waktu dijadikan obyek oleh Hitler, tetapi akhirnya dia adalah subyek yang tidak boleh diperlakukan semau-p­maunya. Kalau Hitler tidak bisa mengadakan “Blitzkrieg”, kalau Hitler tidak bisa mengadakan “perang kilat”, begitulah Fritz Sternberg berkata, maka dia tidak akan dapat menang peperangan itu. Sebab kalau perang terlalu lama, artinya: kalau rakyat Jerman mendapat kelaparan, maka muncullah nanti “Der Mensch”, menggugurkan semua rancangan. Mun­cullah nanti “Der Mensch” yang gugur semua kemabokannya, gugur semua Illusion-nya, gugur semua keobyekannya. Der Mensch, yang merasa perut­nya lapar, yang mendapat surat dari isterinya di rumah, bahwa anak-anaknya memakan rumput dan kulit-ubi.

 

Der Mensch!

Der Mensch inikah yang hendak dijadikan sahabat Inggeris dengan blokkadenya itu?

 

Insya Allah akan saya bicarakan lain kali.

 

“Panji Islam”, 1940

Iklan