BUKAN PERANG IDEOLOGI

BUKAN PERANG IDEOLOGI

 

Umum orang mengatakan, bahwa perang yang sekarang menyala di­ benua Eropah itu ialah suatu perang ideologi, suatu perang antara isme dengan isme, – suatu perang antara faham dengan faham. Dikatakan, bahwa tabrakan ini ialah tabrakan antara demokrasi dan fasisme. Inggeris dan Perancis memihak kepada demokrasi, Jerman memihak kepada fasisme.

 

Memang dengan sekelebatan-mata sahaja tampaknya seperti begitu. Inggeris dan Perancis adalah dua negeri, yang susunan cara-pemerintahan­nya dibentuk secara sistim parlementaire democratie, dan Jerman suatu negeri, yang tidak mau lagi memakai sistim parlementaire democratie itu, tetapi memakai sistim fascistische dictatuur. Semboyan-semboyan di dalam peperangan sekarang ini ialah: demokrasi kontra aggressienya nasional­-sosialisme, dan: nasional-sosialisme kontra kepalsuannya demokrasi.

 

Dan bukan sahaja kaum belligerenten (kaum yang perang) bersemboyan demokrasi pada satu fihak dan nasional-sosialisme pada lain fihak, bukan sahaja kaum yang perang itulah mengemukakan ismenya masing-masing, – dunia “penonton”-pun pada umumnya dapat dibahagikan menjadi dua golongan : Golongan yang senang kepada parlementaire democratie memi­hak kepada Inggeris-Perancis, dan golongan yang senang kepada fasisme memihak kepada Jerman. Bangsa-bangsa Timur yang umumnya senang kepada demokrasi, – kecuali Japan -, hampir semuanyapun memihak kepada Inggeris dan Perancis. Di Indonesia-pun, kalau diambil pukulrata, maka umumnya orang pada bathinnya memihak kepada kaum geallieerden itu pula.

 

Namun kalau diselidiki agak dalam sedikit sahaja maka tampaklah dengan terang, bahwa peperangan sekarang ini bukanlah peperangan isme, bukanlah peperangan faham, bukanlah peperangan ideologi. Bukan peperangan sistim-pemerintahan dengan sistim-pemerintahan, bukan peperangan demokrasi dengan fasisme, bukan peperangan pikiran dengan pikiran.

 

Memang pada hakekatnya yang pertama, tidak ada peperangan buat pikiran, tidak ada peperangan buat ideologi. Semua peperangan yang besar-besar di dalam sejarah dunia yang akhir-akhir ini, baik peperangan tigapuluh tahun maupun peperangan delapanpuluh tahun, baik peperangan kolonial, maupun peperangan 1914-1918, – semua peperangan itu pada hakekatnya, pada primaire doelstellingnya, bukanlah peperangan untuk memenangkan sesuatu faham, bukanlah peperangan ideologi, tetapi adalah peperangan antara kebutuhan-mentah dengan kebutuhan-mentah. Semua peperangan itu adalah peperangan belangen kontra belangen, interessen kontra interessen, kepentingan kontra kepentingan. Di tahun 1914-1918 bukan “zelfbeschikkingsrecht-nya bangsa-bangsa kecil” harus dilindungi dan dibela terhadap kepada serangan-serangannya “militerisme”, bukan “kemanusiaan” kontra “barbarendom”, dan di dalam peperangan tigapuluh dan delapanpuluh tahunpun bukan agama rooms-katholiek berpukulan dengan agama protestan.

Di dalam peperangan-peperangan ini adalah kepentingan-mentah bertabrakan dengan kepentingan-mentah. Ahli-ahli sejarah sebagai Professor Jan Romein, ahli-ahli-ekonomi sebagai Johan Manyard Keynes, ahli-ahli-politik sebagai kaum Marxis ataupun pasifis

Lord Robert Cecil, sudahlah terangkan hal ini dengan cara yang meyakin­kan.

 

Cobalah tilik keadaan perang sekarang. Orang katakan Jerman perang karena ismenya. Benarkah begitu? Tidak ada satu ideologi yang sewajarnya memberi nyawa begitu haibat kepada pergerakan nasional­sosialisme sebagai rasa benci kepada bolshevisme. Sejak Hitler keluar dart rumah sakit serta bersumpah akan menjadi politikus, belum pernah ia membuat satu pidato, di mana ia tidak mengatakan bahwa “staatsvijand no. 1” ialah bolshevisme. Demokrasi ia serang pula sering-sering, tetapi menghantam bolshevisme adalah ia punya nafsu nomor satu, ia punya nafsu. Tetapi apa kini terjadi? Negeri yang ismenya ia benci, mati­matian itu, justru negeri itulah ia cari persahabatannya.

 

Dan orang berkata Inggeris-Perancis masuk peperangan guna demokrasi? Sebelum peperangan itu pecah, maka berbulan-bulan lamanya kaum diplomat Inggeris-Perancis membanting tulang mencari persaha­batannya musuh-demokrasi-nomor-satu: mencari persahabatannya Sovyet Rusia dengan ismenya communistische dictatuur. Padahal semua orang mengetahui, bahwa ideologi parlementaire democratie dan ideologi ko­munisme adalah seperti minyak dengan air: yang satu berdiri atas Pemilih­an Umum, yang lain berdiri atas diktatur proletariat; yang satu berisme privaatbezit, yang lain berisme anti-privaatbezit.

 

Dari manakah orang mengatakan bahwa Inggeris-Perancis berperang untuk demokrasi, untuk ideologi? Njata di dalam halnya Inggeris-Perancis mencari persahabatan Sovyet Rusia itu, bahwa ideologi tidak dibawa-­bawa. Adakah pula Inggeris menjalankan ideologi demokrasi terhadap kepada India? Tidak! Ideologi tinggal ideologi, faham tinggal faham, isme tinggal isme, – politik internasional tidak ambil banyak perduli dari­padanya! Ideologi tinggal ideologi,- politik internasional adalah lebih “mentah”, lebih riil!

 

Maka oleh karena itu: kalau peperangan ini bukan peperangan demokrasi kontra fasisme, bukan peperangan ideologi kontra ideologi, apakah ia sebenarnya? Apakah sebabnya ia menyemboyankan demokrasi kontra fasisme?

 

Akh, semboyan bukanlah hakekat. Semboyan bukanlah senantiasa menggambarkan in wezen yang sewajarnya. Semboyan hanyalah … sem­boyan! Buku Willi Miizenberg “Propaganda als Waffe” yang

saya bicara­kan di dalam tulisan saya yang lalu, adalah spesial membicarakan hal ini pula. Di dalam satu fatsal spesial,

“Die Weltgefahr der Hitlerpro­paganda”ia terangkan, bahwa

spesial telah “diteorikan” oleh Hitlerisme itu, bahwa “Propaganda and Gewalt sich nicht ausschliessen, sondern er­ganzen”. Artinya bahwa propagandanya isme dan kekerasannya senjata itu tidak bertentangan satu dengan lain, tidak mengecualikan satu dengan lain, tetapi bersambungan satu dengan yang lain, mengisi satu dengan lain, mengkomplitkan satu dengan lain.

 

Tidak ada satu peperangan akan berhatsil, kalau peperangan itu hanya dijalankan dengan bedil dan meriam sahaja. Bedil dan meriamnya propaganda harus bekerja lebih dulu, dan kemudian bekerdja pula serentak. Hitler berkata: “Wenn die Propaganda eM gauzes Volk mit einer Idee erfiillt hat, kann die Organisation mit einer Handvoll Menschen die Kon­sequenzen ziehen.” Artinya: “Kalau propaganda sudah masuk ke dalam jiwa sesuatu rakyat, maka dengan sedikit orang sahaja rakyat itu bisa dilipat.” Sebelum Czechoslowakia diambil dengan kekerasan, maka pers Jerman di mana-mana telah mendapat order “die Tschechoslowakei tot zuschreiben”, – yakni mendapat order “membekuk Czechoslowakia itu de­ngan tangkai pena”.

 

Dan kini, pada waktu peperangan besar ini telah berkobar-kobar menurut opgave Jerman sendiri, sedikitnya adalah 300 surat-kabar Jer­man bekerdja di luar negeri. Radionya “mengideologikan” sedikitnya 200.000.000 manusia; propagandastafnya terdiri dari sedikitnya 25-30.000 agen-agen di seluruh dunia; geheime dienst-nya mengemudikan sedikitnya 40.000 perkumpulan di luar Jerman.

Maka dengan trommelvuur-nya pro­paganda ideologi inilah kini milyunan orang dihikmati dengan perkataan: “Kita berperang bukan buat apa-apa, melainkan buat menegakkan kelu­hurannya faham nasional-sosialisme!”

 

Tetapi, bukan fihak Jerman sahaja “mengideologikan” peperangannya itu. Fihak geallieerden-pun mengideologikan peperangannya.Hitler di dalam bukunya yang bernama “Mein Kampf” mengakui, bahwa di dalam peperangan 1914-1918 kaum Inggeris mendapat kemenangan, karena mere­ka lebih ulung “mempropagandakan” peperangannya itu. Dan siapa membaca bukunya penulis Amerika Blankenhorn, akan kagumlah melihat angka-angka-raksasa yang menggambarkan kebesaran “pengideologian” peperangan oleh fihak geallieerden itu.

 

Jadi: ideologi, isme, faham, hanyalah kulit sahaja dari pokok-pokok hakiki yang menjadi motornya peperangan itu. Demokrasi dan fasisme hanyalah kulit belaka. Demokrasi dan fasisme itu hanyalah ideologisch geschut belaka, “meriam fikiran” belaka, yang menurut tiap-tiap ahli-perang adalah sedikitnya sama harganja dengan meriam besi dan meriam wadja. Peperangan ini adalah tabrakan antara kepentingan dengan kepentingan, belang dengan belang, realiteiten dengan realiteiten. Peperangan ini me­makai semboyan ideologi demokrasi dan fasisme, oleh karena realiteit itu berkata, bahwa pada tingkat-dunia sekarang ini, ideologi demokrasi dan ideologi fasismelah yang paling manfa’at buat dipakai sebagai semboyan peperangan. Ya, malahan, pada hakekatnya, sistim parlementaire demo­cratie dan sistim fascistische dictatuur itu adalah “kepentingan-mentah” pula, “rauwe belangen” pula!

 

Siapa yang telah menyelami ilmu sejarah dan ilmu falsafatnya sejarah, maka mengetahuilah, bahwa tiap-tiap sistim-pemerintahan adalah dilahirkan oleh keharusan-keharusan masyarakat. Parlementaire demo­cratie dan fasisme adalah buah masyarakat. Marilah di sini saya terangkan dengan cara populer.

 

Yang biasa orang namakan demokrasi, – cara pemerintahan secara demokrasi- , ialah satu cara pemerintahan yang memberi hak kepada tiap­-tiap penduduk, asal sudah dewasa, untuk memilih dan dipilih buat parlemen. Parlementaire democratie ini, parlementarisme ini, adalah berkembang benar di negeri-negeri Eropah pada abad yang kesembilanbelas.

Parlementarisme ini adalah rata-rata ideologinya semua sistim-negara di ba­gian kedua dari abad kesembilanbelas.

 

Fasisme atau nasional-sosialisme adalah sistim lain. Fasisme atau nasional-sosialisme tidak berdiri diatas pokok “kerakyatan”, tetapi ialah berdiri diatas pokok ketaatan pada seorang diktator.

Diktator ini tidak bertanggung jawab kepada rakyat, tetapi orang-orang bawahanlah yang bertanggung jawab kepada diktator. “Verantwortlichkeit nach oben”, – pertanggungan jawab keatas itulah pokok ideologi fasisme. Sebagai­mana di dalam sistim militer serdadu bertanggung jawab kepada sersan, sersan bertanggung jawab kepada kapten, kapten bertanggung jawab kepada jenderal, jenderal kepada generalissimus, maka begitu pulalah pertanggungan jawab di dalam sistim fasisme adalah mengatas. Lain sekali dengan sistim parlementaire democratie. Di dalam sistim ini per­tanggungan jawab adalah menuju ke bawah: menteri tanggung jawab kepada parlemen, parlemen tanggung jawab kepada rakyat yang memilih.

 

Jadi: parlementaire democratie berazas kepada “hak semua”, fasisme berazas kepada “hak perseorangan”. Parlementaire democratie berdasarkan kepada kepartaian serta persaingan-merdeka antara partai-partai, partai yang paling kuat, dialah yang paling banyak anggauta parlemen fasisme berdasarkan kepada partai-diktatur, monopolinya satu partai sahaja.

 

Nah di sinilah saya mulai dapat menerangkan bahwa baik parlementaire democrat maupun fasisme, adalah masing-masing “kepentingan”

belaka, “kebutuhan mentah” belaka, “rauwe belangen” belaka.

 

Parlementaire democratie mulai subur pada abad kesembilanbelas. Pada waktu itu industrialisme sedang menimbul. Pada waktu itu, di mana-­mana di negeri Eropah Barat, timbullah perusahaan-perusahaan paberik dan perusahaan-perusahaan dagang. Perusahaan-perusahaan ini menga­dakan persaingan satu dengan lain, mengadakan konkurensi satu dengan lain. Malahan konkurensi-merdeka antara perusahaan-perusahaan ini adalah syarat untuk berkembangnya industrialisme itu. Pemerintah tidak boleh campur tangan didalam konkurensi-merdeka ini. Maka oleh karena itulah ideologi ekonomi dari industrialisme-muda ini adalah ideologi liberalisme. Dan ideologi cara-pemerintahannyapun adalah ideologi liberalisme pula, satu ideologi pemerintahan, yang memberi hak kepada semua orang buat berkonkurensi-merdeka di atas gelanggang politik negara. Inilah stelsel demokrasi, inilah stelsel parlementaire democratie, yang waktu itu menjadi laku sekali. Siapa dan fihak mana di dalam stelsel parlemen­taire democratie itu akan menang, siapa dan fihak mana di dalam stelsel ini akan mendapat laba yang terbanyak, – itu tidaklah menjadi pembi­caraan di sini. Yang menjadi keperluan di sini, ialah, bahwa pembaca mendapat pengertian, bahwa oleh karena industrialisme-muda itu berhajat kepada konkurensi-merdeka di atas lapangan ekonomi, maka ia berhajat pula kepada konkurensi-merdeka di atas lapangan politik. Vrije economi­sche concurrentie berhajat kepada vrije politieke concurrentie; economisch liberalisme berhajat kepada politik liberalisme. Inilah dengan dua-tiga perkataan sahaja “rahasianya” parlementaire democratie itu!

 

Tetapi industrialisme tidak tetap tinggal kepada zaman “mudanya” sahaja, industrialisme itu menjadi subur dan membesar, meningkat dan menua, menumbuh dan mengevolusi. Industrialisme itu dibawa oleh masa, meninggalkan abad ketimbulannya masuk ke dalam abad kedewasaan­nya. Industrialisme itu kini tidak lagi di zamannya “Aufstieg”. Industrial­isme itu kini sudah masuk k edalam zamannya “Niedergang”. Kini bukanlah lagi perusahaan-perusahaan kecil yang berkonkurensi satu dengan lain. Kini bukanlah lagi Einzelindustrieen yang berkonkurensi satu dengan lain. Kini yang lemah-lemah telah lama tersapu dari muka bumi, atau telah tergabung menjadi persekutuan-persekutuan yang maha­besar.

Kini malahan persekutuan-persekutuan besar ini telah selesai perjoangannya satu dengan lain; kini tinggal badan-badan-monopoli sahaja, – monopoollichamen sahaja raksasa-raksasa yang maha-maha­besar, yang berhadapan satu dengan lain. Vrije concurrentie sudah selesai, vrije concurrentie sudah tidak perlu lagi. Yang perlu ialah menjaga tegaknya raksasa-raksasa monopoli itu sahaja. Maka oleh karena itu liberalisme dan parlementaire democratie tidak perlu lagi. Yang perlu ialah satu sistim pemerintahan yang menjadi “polisi” penjaga badan-­badan-monopoli itu. Liberalisme dan parlementaire democratie dibuang jauh-jauh, liberalisme dan parlementaire democratie dikutuknya sebagai sistim-sistim kolot yang sudah tak laku lagi, dan dilahirkannyalah satu sistim baru yang cocok dengan hajat menjaga tegaknya monopoli itu. Satu sistim baru, yang sudah barang tentu bersifat monopoli pula, – mono­poli di dalam urusan negara.

 

Maka sistim inilah sistim fasisme!

Menjadi teranglah kini pada pembaca, bahwa ideologi parlementaire democratie dan ideologi fasisme itu adalah kelanjutan yang satu daripada yang lain. Parlementaire democratie adalah ideologinya industrialisme yang muda, fasisme adalah ideologinya industrialisme yang sudah tua-bang­ka. Parlementaire democratie adalah satu tingkat, fasisme adalah satu tingkat pula. Inggeris-Perancis belum naik 100% keatas tingkat mono­poli, Jerman sudah naik 100% ke atas tingkat monopoli. Inggeris-Peran­cis masih “menggendol” kepada ideologi demokrasi. Jerman sudah memberi talak tiga kepada ideologi demokrasi itu, dan memakai sistim fasisme.

 

Kini mereka berperang. Bukan karena demokrasi dan fasisme itu.

Bukan karena ideologi, bukan karena isme. Isme mereka sebenarnja “bersaudara” satu dengan lain. Bukanpun karena Djerman “menggugat” Versailles sahadja, ingin mendapat kembali hak-haknja dan nya yang dirampas daripadanya dengan verdrag Versailles sahaja, sebagai Tuan Anwar Tjokroaminoto seringkali tuliskan di dalam s.k. “Pemandang­an” —, tetapi karena “rauwe belangen” mereka membuat konflik ini tak dapat dielakkan lagi. Inggeris-Perancis berperang karena “rauwe be­langen”-nya terancam oleh Jerman, Jerman berperang karena “rauwe belangen” monopolinya terancam-maut kalau ia tidak menjalankan “Expansionskrieg” itu. Fritz Sternberg menerangkan hal ini dengan panjang lebar di dalam bukunya. Dan siapa telah membaca tulisan­-tulisannya Alfred Rosenberg, itu sahabat Hitler dan “otaknya” nasional­sosialisme, siapa telah mengetahui isinya “plan-Rosenberg”, maka ia mengetahui, bahwa Jerman berperang bukan karena “Versailles” sahaja dan bukan karena “dizalimi” orang sahaja. Bukan negeri-negeri “milik dulu” sahaja yang ia kehendaki, bukan Jerman 1914 sahaja yang ia ingin dirikan kembali, – tetapi menurut plan-Rosenberg ia juga perlu mem­punyai Nederland, juga Belgia, juga Denmark, juga Zwedia, juga Norwegia, juga Finlandia, juga Polandia, juga Swis, juga negeri-negeri lain. Ismekah yang menjadi sebab nafsu ekspansi ini? Ismekah? sebagai dituliskan muluk-muluk oleh Alfred Rosenberg di dalam bukunya “Der Mythos des 20 Jahrhunderts”? Tidak! Isme di sini hanyalah “kulitnya” sahaja, hanyalah “aankledingnja” sahaja, hanyalah “begeesteringnya” sahaja. Plan-Rosenberg itu pada hakekatnya hanyalah satu plan buat grondstoffen hegemonie, sebagai diterangkan oleh professor Frederck L. Schuman di dalam bukunya “The Nazi Dictatorship”. Plan-Rosenberg ha­nyalah “rauwe belangen” sahaja dari monopool Jerman, yang perlu kepada grondstoffen hegemonie itu!

Dan demokrasinya Inggeris-Perancis?

 

Akh …

Siapa banyak mempelajari ilmu sejarah dan ilmu ekonomi, dia akan mengetahuilah artinya “demokrasi” di dalam peperangan ini. Saya tak perlu uraikan disini panjang lebar. Pergilah sahaja kebibliotik, dan pin­jamlah mitsalnya buku Ramsay Muir “The Expansion of Europe” ..

Perang ideologi? Akh, – marilah kita lebih sedar!

 

“Panji Islam”, 1940

Iklan