ORANG INDONESIA CUKUP NAFKAHNYA SEBENGGOL SEHARI ?

ORANG INDONESIA CUKUP NAFKAHNYA

SEBENGGOL SEHARI ?

 

Pada tanggal 26 Oktober y.l. maka di dalam sidang Raad van Indie, direktur B.B. telah memberi permakluman, bahwa:

“Gebleken is dat het thans voor volwassenen mogelijk is, zich voor 21/2 cent per dag to voeden”, – artinya: bahwa:

“Ternyatalah, bahwa kini satu orang yang dewasa

bisa cukup makan dengan sebenggol sehari”.

 

Cukup nafkah-hidup sebenggol sehari! – benarkah itu? Tentang pendapatan, yakni “inkomen” kita kaum Marhaen, maka saya hampir di dalam tiap-tiap rapat umum telah memberi angka-angka yang mendiri­kan bulu. Sering saya terangkan, bahwa pendapatan itu sebelumnya zaman meleset adalah 8 sen seorang sehari, bahwa kemudian di dalam permulaan zaman meleset ia merosot menjadi 4 a 4 setengah sen seorang sehari, dan bahwa kemudian lagi ia lebih merosot lagi menjadi sebeng­gol seorang sehari.

 

Delapan sen seorang sehari sebelum meleset, yakni menurut perhitungan Dr. Huender, yang dengan angka-angka statistik membuktikan hal itu di dalam bukunya “Overzicht” yang terkenal. Menurut Dr. Huender, maka sebelum meleset jumlah bruto-inkomen (pendapatan kotor) bapak Marhaen rata-rata adalah f 161.00 setahun. Jumlah beban-beban, misal­nya pajak-pajak dan desa-diensten, adalah f 22.50 setahun. Sehingga netto-inkomen (pendapatan bersih) adalah:

f 161.00 – f 22.50 = f 138.50 setahun, – dipakai untuk mengganjel hidupnya seluruh keluarga Mar­haen, yang rata-rata terdiri dari lima orang. Dus satu orang satu hari: f 138.50/5 X 1/365 = f 0.075 a f 0.08, zegge tujuh setengah a delapan sen, – buat makan, buat pakaian, buat beli minyak tanah, buat memelihara rumah, pendek kata buat segala-gala kebutuhan Marhaen! Artinya, bahwa buat makan sahaja, Marhaen TERPAKSA hidup dengan jumlah yang kurang dari delapan sen itu, misalnya rata-rata enam sen sehari!

 

Sebelum meleset!

Tetapi kemudian, di dalam meleset, nafkah makan menurut “Economisch Weekblad”, majalah kaum sana sendiri, adalah merosot lagi menjadi 4 sen seorang sehari.

 

Dan kemudian lagi, di dalam tempo jang akhir-akhir ini, menurut saya punya penyelidikan sendiri di Priangan. Barat dan di Jawa Timur, maka Marhaen adalah terpaksa mengganjel perutnya dengan jumlah yang lebih-lebih merosot lagi, yakni dengan sebenggol seorang sehari!

 

TERPAKSA mengganjel perutnya dengan sebenggol sehari, – terpaksa, terpaksa, terpaksa!

 

Sebab adalah perbedaan besar antara apa yang dikatakan oleh direktur B.B. dengan apa yang saya katakan; adalah perbedaan besar antara per­kataan CUKUP dan perkataan TERPAKSA. Terpaksa hidup dengan sebenggol, dan cukup hidup dengan sebenggol, di antara dua ini adalah perbedaan yang sama lebarnya dengan perbedaan antara sana dan sini, antara kaum penjajah dan kaum terjajah, antara kaum kolonisator dan kaum gekoloniseerde!

 

Dua tahun saya meringkuk di dalam penjara. Limabelas bulan di bui Banceuy Bandung, sembilan bulan di Sukamiskin. Dua tahun saya mem­pelajari rangsum (rantsoen) yang diberikan oleh dienst-pembuian kepada orang-tahanan dan orang-hukuman bangsa Indonesia. Sebelum meleset haibat, rangsum adalah seharga f 0.18 seorang sehari, dan sesudah meleset f 0.14 seorang sehari. Pun Tuan Kusumo Utoyo, yang membantah “enor­miteitnya” direktur B.B. itu, di dalam surat-keterangannya pada P.P.P.K.I. menyajikan angka-angka rangsum itu: sembilanpuluh-sembilan sen seminggu, atau rata-rata empat-belas sen seorang sehari.

 

Empat-belas sen rangsum di dalam penjara, – amboi, siapa pernah dipenjara mengetahui, bagaimana melaratnya rangsum itu! -, empat-belas sen di dalam penjara, penjaranya pemerintah Hindia Belanda sendiri, … dan direktur B.B. dari pemerintah Hindia Belanda itu pula mengeluarkan “enormiteit” bahwa kita cukup dengan makanan sebenggol seorang sehari! Sedangkan di tanah Bulgaria, -tanah yang tersohor melarat orang masih bernafkah f 0.13 sehari. Sedangkan di Hin­dustan, tanah yang bongkok di bawah imperialisme Inggeris yang kejam itu, menurut Gandhi, rakyat bernafkah f 0.10 sehari. Tuan Kusumo Utoyo mengira, bahwa hal “sebenggol sehari” ini nanti akan dipakai alasan oleh pemerintah Hindia Belanda buat menurunkan gaji, menurunkan upah­ kuli, menurunkan uang-saksi, d.1.1. Kita ikut pengiraan Tuan Kusumo Utoyo itu. Dan kita tambahkan lagi: Pemerintah dengan enormiteit-nya direktur B.B. itu bermaksud menunjukkan, bahwa dus kaum Marhaen masih gampang hidup, bahwa dus pemerintah punya krisis-politik adalah tak merugikan Marhaen.

 

Bahwa dus pemerintah punya politik belasting-belastingan yang mendirikan bulu itu tidak berat bagi Marhaen, sebab …

Marhaen cukup hidup dengan sebenggol seorang sehari!

Terhadap pada percobaan mencahari rechtvaardigingnya ia punya krisis-politik dan ia punya politik belasting-belastingan itu, kita berkata:

 

TERGAMBARLAH PEMERINTAHAN YANG DI DALAM ABAD­KESOPANAN INI MENGATAKAN “RAKYATNYA” CUKUP MAKAN SEBENGGOL SEHARI!

TERSEDARKANLAH RAKYAT MARHAEN YANG DIPERINTAH PEMERINTAHAN YANG DEMIKIAN ITU! !