IMPOR DARI JAPAN SUATU RAKHMAT BAGI MARHAEN ?

IMPOR DARI JAPAN SUATU RAKHMAT BAGI MARHAEN ?

 

Salah seorang pemimpin pergerakan Indonesia yang terkenal radikal sudah pernah mengeluarkan suatu ucapan, yang sangat menggoda hati saya, karena ucapannya itu ada sangat dangkal. Ucapan itu ialah suatu pujian yang muluk terhadap pada Japan, yaitu oleh karena di dalam zaman meleset ini, di mana Marhaen hidup hanya dengan sebenggol sehari, Japan telah memasukkan barang-dagangan di Indonesia tang murah-keliwat-­murah: Kemeja limabelas sen, handuk lima sen, saputangan dua sen, piring empat sen, – dan begitu seterusnya! itu belum pernah kejadian di Indonesia sebelum zaman sekarang ini. Japan di mata saudara ini ada­lah suatu deus ex machina, suatu dewa-penulung yang datang dari langit, bagi

Marhaen yang kini begitu kekurangan uang …

 

Memang, terlihat dengan sekelebatan mata sahaja, pemasukan barang dari Japan itu adalah suatu deus ex machina, suatu dewa penulung dari kayangan. Memang terlihat dengan sambil-lalu

sahaja Marhaen pantas membakar kemenyan untuk mengeramatkan impor dari Japan itu, – sebagai tanda

terimakasih. Memang seolah-olah Marhaen pantas ikut bertampik sorak “Dai Nippon Banzai !”, – “Japan yang paling jempol”!

 

Tetapi, – tetapi! … Apakah benar kita wajib memuji impor dari Japan ini sampai muluk-muluk, membilang terimakasih diatasnya sampai habis-habisan, mengeramatkan kepadanya sampai semua radikal­isme yang ada di dalam dada kita habis kabur ke kayangan? Apakah benar impor dari Japan itu kita pandang sebagai rakhmat bagi Marhaen, sehing­ga pantas kita sokong dan pantas kita aju-ajukan?

 

Marilah kita mengambil tamzil. Marilah kita misalnya mengambil riwayatnya kita punya perusahaan pertenunan. Di zaman dulu, itu peru­sahaan adalah cukup jumlah untuk memenuhi kebutuhan seluruh Rakyat Indonesia. G.P. Rouffaer adalah membuktikan hal ini; G.P. Rouffaer itu pernah menulis:

 

“Di dalam zaman dulu tanah Jawa adalah mengambil kain-kain yang lebih halus dari pasisir, tetapi kain-kain untuk keperluan sehari-hari dia bisa membikin sendiri untuk kebutuhan tanah Jawa dan malahan juga untuk sebagian besar daripada kepulauan Hindia. Berkapal-kapal kain‑kain itu meninggalkan tanah Jawa, menyebar kian-kemari kesemua nusa-nusa sekelilingnya.”

 

Itu, keadaan dulu! Daya menghasilkan masih cukup pada bangsa kita, – kepandaian dan kemampuan membikin barang masih ada pada Rakyat Indonesia. Tetapi segeralah datang bagian kedua dari abad kesembilanbelas. Untung-untung yang datang daripada cultuurstelsel di sini, yang tahun-bertahun mengalir dengan deras daripada bahusukunya kang Marhaen, yang setiap tutup tahun dirayakan sebagai batig saldo-nya stelsel­ kerja-paksa itu, – untung-untung itu di negeri Belanda telah dipakai oleh kaum burjuis untuk membangunkan kepaberikan yang maha-besar. Rotterdam menjadi makmur, Amsterdam menjadi besar, dan di Twente berdirilah segera suatu industri-kain yang asap-semprongnya menutup angkasa. Kain-kain yang keluar dari Twente ini dijual di negeri Belanda tetapi sebagian besar juga meninggalkan negeri Belanda itu masuk ke­dalam masyarakat Indonesia.

 

Ini kain-kain dari Twente! Kwaliteitnya bagus, harganya murah, lebih bagus dan lebih murah dari kain-kain Indonesia sendiri, -hasilnya mesin memang begitul Marhaen Indonesia segera gemar kepadanya! Ratusan, ribuan, laksaan blok saban tahun diangkut kapal menuju ke Indonesia, laksaan blok saban tahun habis terjual di pasar-pasarnya Marhaen di kota dan di desa, tersebabkan oleh kwaliteitnya yang bagus, harganya yang rendah. Dan jikalau pada waktu itu saudara pemimpin yang saya maksudkan di atas tahadi sudah menjadi pemimpin sebagai se­karang, ia barangkali juga akan bertampik-sorak bersuka-raya: “Hidup Twente, hidup impor dari Belanda, Marhaen kini dengan sedikit uang bisa bell kain yang kwaliteitnya murah!”

 

Sebab, apakah bedanya hakekat impor dari Twente dan impor dari Japan itu? Betul impor dari Japan itu lebih murah lagi daripada impor dari Twente, betul impor dari Japan itu dirintangi oleh bea-bea sedang impor dari Twente disokong dengan bea-bea, – betul ada beda sareat antara dua macam impor itu tetapi sekali lagi saya bertanya: apakah bedanya hakekat antara dua-duanya, apakah bedanya penghargaan Marhaen terhadap kepadanya, tidakkah dua-duanya memasukkan barang yang lebih baik kwaliteitnya dan lebih murah harganya daripada barang-barang yang pada waktu itu terjual di

pasar Indonesia?

 

Namun tiap-tiap orang yang radikal, tiap-tiap orang yang ada pengetahuan sedikit tentang dinamikanya ekonomi segera menjatuhkan tulah atas impor dari Twente itu, mengutuk impor

dari Twente itu. Tiap-tiap orang yang ada pengetahuan sedikit tentang dinamikanya ekonomi menge­tahui, bahwa impor dari Twente itu salah satu fasetnya imperialisme, salah satu “mukanya” imperialisme, salah satu tangan-pencengkeramannya im­perialisme! Dan oleh karenanya, tiap-tiap orang yang berpengetahuan yang demikian itu, jadi juga kita punya saudara pemimpin tahadi, tidak seujung rambut di atas kepalanya yang bersuka-raya “Dai Twente Banzai”!

 

Sebab, apakah yang akhirnya menjadi buntut pemasukan dari

Twente ini? Dengarkanlah ucapan G.P. Rouffaer lagi:

“Sekarang kita Belanda masukkan kita punya kain-kain

Belanda di tanah Jawa dan di seluruh nusantara Hindia itu …

Di bawah pengaruhnya pertentangan ini, maka perusahaan Bumiputera menjadi mundur karenanya, dan paberik-paberik kita di negeri Belanda ada harapan besar bisa menggantinya sama sekali. Dengan keadaan yang demikian itu, maka tidak boleh tidak, perusahaan-kain di sini pastilah mati tertindas oleh banyaknya

kain-kain asing.”

 

Inilah buntut daripada impor dari Twente itu: kita punya daya menghasilkan menjadi mati sama sekali, kita punya daya cipta alias kepandaian dan kemampuan-membikin padam sama sekali, hancur

sama sekali, binasa sama sekali! Imperialisme industrialisme asing itu telah merebut tiap­-tiap akar daripada daya menghasilkan ekonomis kita, membakar tiap-tiap semi daripada daya menghasilkan ekonomis kita itu menjadi debu, merosotkan Rakyat Indonesia itu menjadi suatu Rakyat yang hidup melulu dengan memakai barang-barang-luaran. Kalau nanti Indonesia sudah merdeka, Rakyat Indonesia masih boleh menggandol pada Twente terus­-terusan

 

Maka oleh karena itu, kita kaum radikal, kaum yang mengetahui tiap­-tiap kejahatannya stelsel kapitalisme dan imperialisme itu, kita benar seribu benar jikalau kita mengutuk imperialisme Twente itu, sekalipun ia memasukkan kain-kain yang lebih bagus dan lebih murah daripada kain­-kain Indonesia sendiri. Dan sekarang kita harus memuji muluk-muluk impor dari Japan, dan berusaha memajukan banyaknya impor dari Japan itu,- karena juga barang-barangnya baik dan murah sekali? Impor dari Japan, yang hakekatnya sama dengan impor dari Twente? Impor dari Japan, yang hakekatnya juga suatu imperialisme-ekonomi yang sangat ­maha-sangat?

 

Okh, marilah kita jangan hanya melihat keadaan-keadaan dengan sekelebatan mata sahaja, marilah kita jangan “oppervlakkig”, marilah kita menyelidiki perkara ini sampai kesejati-jatinya hakekat.

Dan apakah yang kita dapat, jikalau kita menyelidiki soal impor Japan itu dengan sedalam-dalamnya? Jang kita dapat ialah impor

dari Japan ke Indonesia itu adalah buahnya pemboikotan imperialisme Japan oleh Rakyat Tiongkok. Banjir barang-barang bikinannya industrialisme Japan, yang tahadinya masuk ke pasar-pasar ditepi-tepinya sungai Yang Tse Kiang dan Hoang Ho, banjir barang-barang bikinannya industrialisme Japan itu kini oleh karena pemboikotan, tidak bisa masuk lagi ke dalam daerah negeri Tiongkok.

Pintu gerbang pemboikotan ini rupanya tak dapat dihantcurkan

oleh meriam-meriamnya tentara dan armada. Banjir barang-barang

itu lantas dibelokkan oleh industrialisme Japan ke Selatan, dibelokkan ke Indo-China, Hindustan dan Indonesia, membanjiri pasar-pasar yang tahadinya telah penuh dengan barang-barangnya imperialisme putih, – men­coba mendesak barang-barangnya imperialisme putih ini dengan harga yang murah-keliwat-murah. Dumping Nippon! Dai Nippon Banzai!, – Dumping Nippon kini menggetarkan tubuhnya imperialisme Eropah dan Amerika! Dan kita, kita yang negeri kita dipakai gelanggang pergulatan imperialisme ekonomi Japan dan Eropah ini, kita menurut saudara pe­mimpin tahadi itu harus membakar kemenyan mengeramatkan dan me­muji muluk-muluk impornya imperialisme Japan itu, memaju-majukan besarnya impor imperialisme Japan itu? Amboi, dengan segala keta­jamannya analisa Marxistis kita menjawab: tidak!

 

Tetapi lalu bagaimana harus sikapnya Marhaen? Tidakkah benar, bahwa impor dari Japan itu pada waktu ini meringankan peri-kehidupan Marhaen? Tidakkah benar bahwa Marhaen dengan dua-tiga sen yang ia dapatkan dengan berkeluh-kesah mandi keringat itu kini bisa membeli barang-barang jang perlu baginya, lantaran impornya Japan?

 

Sabar, pembaca! Di dalam F.R. yang akan datang akan saya jawab pertanyaan-pertanyaan yang akhir ini. Buat ini kali cukup saya mengun­cikan tulisan dengan ucapan: tersesatlah siapa yang mengeramatkan sesuatu imperialisme!

 

Di dalam F.R. nomor yang lalu sudah saya terangkan, bahwa impor Japan yang kini membanjiri pasar Indonesia itu di dalam hakekatnya adalah suatu imperialisme Japan yang kini lagi mengadakan pergulatan yang haibat dengan imperialisme Barat, yang oleh karenanya tidak boleh kita puji muluk-muluk, walaupun barang-barangnya baik dan murah.

 

Saya kunci bagian di dalam F.R. jang lalu itu dengan kata-kata:

“Tetapi lalu bagaimana harus sikapnya Marhaen? Tidakkah benar, bahwa impor dari Japan itu pada waktu ini meringankan peri­kehidupan Marhaen? Tidakkah benar bahwa Marhaen dengan dua­tiga sen yang ia dapatkan dengan berkeluh-kesah mandi keringat itu kini bisa membeli barang-barang yang perlu baginya, lantaran impornya Japan?

Sabar, pembaca! Di dalam F.R. yang akan datang akan saya

jawab pertanyaan-pertanyaan yang akhir ini.”

 

Dengan terang, dengan maha-terang, di dalam penguncian artikel itu saya mintakan supaya pembaca suka sabar. Tetapi surat-kabar “Adil” dari Solo tidak suka menuruti permintaan saya itu, surat-kabar “Adil” tidak suka sabar, dan lantas sahaja gegabah menulis, bahwa saya me­larang Marhaen membeli barang murah itu, dan menyuruh dia membeli barang yang mahal. Astagafiru’llah, – saya,

salah seorang yang senantiasa memberikan saya punya jiwa kepada kerja meringankan hidupnya Mar­haen itu, saya dikatakan menyuruh Marhaen membeli barang yang mahal. Saya dijatuhi vonnis yang paling berat oleh s.k. “Adil” itu, vonis tuduhan bahwa saya bermaksud-memberatkan hidup Marhaen yang kini sudah berat maha berat itu. Tetapi, ah biar, saya tidak akan menganalisa tulisan “Adil” itu, hanya ada permintaan, supaya “Adil” sebagai surat­kabar jang adil suka mengumumkan tulisan saya yang sekarang ini.

 

Nah, marilah sekarang saya tebus janji saya dari F.R. nomor yang lalu itu, janji menerangkan, bagaimanakah dan harusnya sikap Marhaen di dalam hal impor Japan itu adanya. Untuk hal ini, saya lebih dulu memperingatkan pada tamzil yang tempo hari saya ambil daripada impor dari Twente. Tamzil-Twente itu mengajarkan, bahwa impor dari Twente itu adalah salah satu fasetnya imperialisme Belanda.

Kita tidak boleh me­muji kepadanya, kita tidak boleh mengeramatkan kepadanya, kita di dalam azasnya harus mengutuk imperialisme Twente itu. Kita, sebagai kaum radikal dan sebagai rakyat yang menjadi korban faset imperialisme Belanda ini, kita di dalam hati dan fikiran harus mempersyaitankan faset imperialisme ini, sebagaimana kita harus pula mempersyaitankan tiap-tiap imperialisme dan tiap-tiap kapitalisme. Kita punya azas radikal dan fikiran radikal menyuruh kita bersikap yang demikian itu. Tetapi, ya, mempersyaitan kepadanya! -, tetapi apakah yang kini bisa kita perbuat terhadap pada imperialisme dari Twente itu? Menolak dia? Melawan dia? Memboikot dia? Memang, kalau Marhaen bisa, kalau Marhaen cukup alat, itu memang sebaiknya, tetapi pada waktu ini, ya rupanya sam­pal Indonesia-Merdeka, kita akan terpaksa menerima imperialisme dari Twente itu, terpaksa aanvaarden faset imperialisme Belanda itu. Tetapi menerimanya dan aanvaarden-nya itu janganlah aanvaarden dengan me­muji dan mengeramatkan, melainkan haruslah menerima atau aanvaarden secara revolusioner, secara revolusioner Marxistis: Marhaen membeli barang-barang dari Twente itu, Marhaen menjadi afnemernya barang­barang dari Twente itu. Marhaen seolah-olah memberi nyawa pada imperialisme dari Twente itu, – tetapi di dalam menerimanya imperialisme Twente itu ia harus merasa benci kepadanya, dan harus menyusun dirinya agar supaya kelak bisa menggugurkan imperialisme Twente itu sama se­kali. Inilah memang yang disebutkan oleh Marx “revolutionaire aanvaarding” (penerimaan revolusioner) daripada segala hal yang keluar dari kapitalisme dan imperialisme, inilah pula yang dinamakan “proletaris historisme” oleh Liebknecht: Rakyat-jelata “menerima” segala hal dari kapitalisme, rakyat-jelata membeli barang-barang bikinan kapitalisme, membeli kain dan piring dan sepeda dan potlod dan apa sahaja bikinan kapitalisme, – melihat film-film, naik kereta api, membaca surat-kabar, menjadi buruh, berkuli, berproletar, semuanya daripada dan kepada kapitalisme namun, tetap benci kepada kapitalisrne, tetap mempersyaitankan kapitalisme, tetap mengutuk kapitalisme, dan … tetap menyusun tenaga dan semangat untuk menghantam pada kapitalisme, membinasakan kapitalisme!

 

Nah, terhadap pada imperialisme pun kita bersikap begitu: menerima jikalau terpaksa segala apa sahaja yang dari imperialisme itu, tetapi dalam pada menerimanya itu tetap bersikap revolusioner, tetap bersikap radikal, yakni tak berhenti-henti secara Marhaenistis atau proletaris menghantam pada imperialisme itu, tidak berhenti-henti secara Mar­haenistis atau proletaris mengusahakan matinya imperialisme itu.

 

Memang, Marhaen atau Proletar tidak bisa bersikap lain daripada aanvaarden alias menerima banyak hal yang keluar daripada imperialisme atau kapitalisme itu, tidak bisa bersikap lain daripada untuk sementara hidup di dalam dan daripada imperialisme atau kapitalisme itu. Memang Marhaen atau Proletar itu pada zaman sekarang masih terpaksa memikul nasibnya kelas yang oleh jalannya histori untuk sementara menjadi kelas yang “bawah”, kelas yang “kalah”, kelas yang terpaksa menerima apa sahaja yang keluar daripada dunianya kelas yang di-“atas”. Tetapi pada imperialisme Twente, kita kini tidak bisa lain daripada menerima imperial­isme Twente itu, membeli barang-barangnya, membeli kain-kainnya, membeli apa sahaja yang keluar daripadanya, ya malahan “prefereeren” alias “lebih-menyukai” barang-barangnya dan kain-kainnya itu oleh karena lebih murah dan lebih baik daripada barang-barang dan kain-kain sen­diri, – mau boikot tidak bisa, mau saingi kurang bisa terhadap pada imperialisme Japan-pun kita tidak bisa

lain daripada menerima kepadanya.

 

Ya, malahan juga, saya katakan pada Marhaen waktu ini, ambillah kamu punya untung daripada “terpaksa aanvaarden” ini, ambillah kamu punya untung daripada “terpaksa menerima” ini, – belilah      b a r a n g mana sahaja yang lebih murah dan lebih baik, belilah barang mana sahaja yang bisa meringan­kan nasibmu yang maha-sengsara itu!

 

Tetapi dalam pada itu, awaslah awas, bahwa barang-barang itu adalah barangnya stelsel yang sebenarnya musuh kamu, barangnya stelsel-syaitan yang di dalam hakekatnya tiada maksud lain melainkan mengeksploitasi tiap-tiap sen yang kini masih ada di dalam kantongmu, mengeksploitasi tiap-tiap tenaga yang kini masih ada di dalam bahu dan tubuhmu. Awaslah awas, di dalam bathin kamu, di dalam politik kamu, di dalam aksi kamu, imperialisme Twente dan imperialisme Japan haruslah tetap menjadi musuh kamu, harus

tetap kamu persyaitankan, harus tetap kamu kutuk!

 

Tidak sekejap math kamu lebih mengeramatkan impor-impor itu, sebagai itu saudara-pemimpin tempo hari yang habis-habisan

bakar kemenyan.

 

Awaslah awas, sekarang barang Japan murah, sekarang barang Japan itu seakan-akan meringankan nasibmu, tetapi nanti, kalau imperialisme Japan itu sudah menang persaingannya dengan imperialisme Barat, nanti kalau ia sudah menggagahi sendiri seluruh pasar di benua Timur ini, nanti kalau tidak ada konkurensi lagi dari Barat, nanti ia naikkan harga barang­-barangnya itu, memahalkan barang-barangnya itu, memberatkan nasibmu sampai kepada dasar-dasarnya kamu punya kantong dan dasar-dasarnya kamu punya bakul-nasi.

 

Marhaen Indonesia! Terimalah keadaan sekarang, aanvaard-lah keadaan sekarang secara revolusioner! Belilah barang apa sahaja yang murah dan baik, cobalah ringan-ringankan sedikit nasibmu yang maha-sengsara itu, tetapi teruskanlah kamu punya azas radikal, teruskanlah kamu punya usaha menyusun-nyusunkan kamu punya tenaga, menggembleng-gembleng kamu punya semangat, membaja-bajakan kamu punya Radikalisme Marhaenistis, agar supaya tiap-tiap stelsel kapitalisme dan imperialisme kelak gugur berkalang bumi.

 

Terimalah impor Japan itu, tetapi janganlah puji-puji dan keramatkan dia, janganlah pandang dia sebagai suatu rakhmat yang hanya membawa berkah sahaja. Ingatlah selamanya, bahwa “rakhmat” itu adalah “rakhmatnya” stelsel belorong yang bathinnya berisi racun bagi kelas proletar dan Marhaen seumumnya!

 

Aanvaarden, tetapi revolutionair aanvaarden, – itulah semboyan kita!

 

“Fikiran Rakyat”, 1933

Iklan