BOLEH BER-WANHOOPSTHEORIE ATAU TIDAK BOLEH BER-WANHOOPSTHEORIE ?

BOLEH BER-WANHOOPSTHEORIE ATAU

TIDAK BOLEH BER-WANHOOPSTHEORIE ?

Salah seorang pembaca F.R. adalah meminta keterangan lebih jelas tentang soal yang saya stempel dengan nama “wanhoopstheorie”. Di bawah inilah bunyi suratnya:

Redactie FIKIRAN RAKYAT

Yang terhormat..

Dulu sudah diterangkan apa artinya wanhoopstheorie, dan oleh Redaksi, sudah dapat ketentuan, bahwa theorie tersebut sungguh jelek karena tidak “berkemanusiaan”.

 

Akan tetapi saudara, apakah tidak betul bahwa adanya pergerakan swadesi, adanya bango-bango kooperasi, adanya werkloozen-commitee yang berarti juga masuk kolom “berkemanusiaan” itu tidak boleh dikata menutup luka, dan tidak bikin hilangnya penyakit yang senyatanya? Ba­nyaknya kesengsaraan yang diderita oleh rakyat itu,- oleh karena rakyat itu MANUSIA, dus bukan barang – apakah tidak bisa meng-electriseer tubuhnya rakyat sendiri? Saya yakin, bahwa pertolongan-pertolongan kepada rakyat yang masuk kolom “berkemanusiaan” itu tidak akan menda­tangkan buah yang BESAR. Jika luka-lukanya rakyat itu di-onderhoud, apakah tidak bisa melupakan penjakit yang ADA dalam tubuhnya?

 

Kemudian saya mengharap jawaban Redaksi yang akan memuaskan.

Wassalam, S. D.

Karena soal ini tak cukup saya jawab dengan sepatah-dua-patah ­kata dalam “Primbon Politik”, maka saya mau membicarakannya di sini dengan sedikit lebar.

 

Apakah yang tempohari saya stempel nama dengan wanhoops-theorie itu? Di dalam F.R. nomor percontohan adalah antara lain-lain tertulis sebagai berikut:

 

“Bukan wanhoops-theorie yang hanya bersandar kepada perasaan saha­ja, dus subyektif sahaja, dapat menyelamatkan pergaulan-hidup. Apakah kata kaum wanhoops-theorie itu? Mereka berkata: Rakyat kurang, keras bergeraknya. Moga-moga belasting dinaikkan. Moga-moga gaji-upahnya diturunkan. Moga-moga segala hal menjadi mahal, biar rakyat menjadi makin sengsara. Kalau sudah sengsara sekali, rakyat tentu mau bergerak lebih haibat!”

 

Wanhoops-theorie itu ada teorinya orang yang putus-asa, dan juga kejam, oleh karena tidak punya kasihan pada rakyat. Orang yang demi­kian itu bergerak untuk bergerak, dan tidak untuk meringankan nasibnya rakyat. Dan juga teorinya yang mengajarkan, bahwa rakyat itu dengan begitu sahaja akan sedar jika kemelaratan itu lebih haibat daripada se­karang, ternyatalah tidak betul. Oleh karena jika teori itu betul, tentulah rakyat Indonesia sekarang sudah sedar. Rakyat hanyalah akan sedar tentang nasibnya bukan sahaja oleh karena kemelaratan, tetapi juga oleh karena didikan. Malahan banyak rakyat yang terlalu sekali sehari-hari menderita kesengsaraan, lantas seperti tidak mempunyai cita-cita, yakni lantas menjadi apathis. Rakyat yang apathis itu tidak bisa begitu-sahaja dapat dipakai di dalam perjoangan menuntut perbaikan nasibnya. Maka dari itu justa dan durhakalah mereka yang mengadjurkan teori, bahwa ketidak-sedarannya rakyat Indonesia itu ialah karena tindasan di sini kurang haibat. Kepada “warhoofden” dan “politiek idioten” ini kami bertanya apakah kesengsaraan yang beratus-ratus tahun diderita oleh kita itu, tidak cukup untuk menyedarkan rakyat? Harus bagaimanakah haibatnya kemelaratan itu untuk menyedarkan rakyat? … Sebagai kaum yang ernstig, kita harus menentang wanhoops-theorie itu. Pemimpin yang berwanhoops-theorie adalah pemimpin yang menunjukkan tidak bisanya menggerakkan rakyat. Ia ada pemimpin yang putus-asa.

Ia membuk­tikan, bahwa ia sendiri lemah bathinnya. Ia mau mengobati orang sakit, tetapi mengharap supaya si orang sakit itu harus lebih dulu menjadi lebih sakit! Ia sebenarnya adalah kejam, tiada kasihan pada rakyat …

 

Begitulah sebagian daripada tulisan dalam F.R. tempohari.

Pembaca yang ingin baca lagi artikel “wanhoopstheorie” itu dengan saksama, bisa mendapatkan artikel itu dalam F.R. nomor percontohan kaca 12-14.

 

Wanhoops-theorie memang masih ada sahadja yang menjalankan. Wanhoops-theorie itu sering kita dapatkan dalam kalangan kaum pemim­pin-muda yang menyebutkan dirinya ultra-ultra-ultra-radicaal, yakni yang menyebutkan dirinya merah-mbahnya-merah. Wanhoops-theorie itu boleh­lah misalnya saya sesuaikan dengan apa yang dulu oleh Lenin disebutkan “Kinderkrankheit des Radikalismus”, yakni “penyakit anak-anak dari­pada radicalisme”.

 

Wanhoops-theorie memang masih haruslah kita tentang, oleh karena dalam hakekatnya, ia adalah teori kejam, teori yang tidak “berkemanusiaan”. Sebab tidakkah kita kejam, kalau kita mengharap dan mendoakan rakyat lebih-lebih lagi menjadi sengsara dan tertindas, katanya supaya rakyat lantas suka bergerak?

Tidakkah kita dalam hakekatnya tak ber­kemanusiaan, ya, anti kemanusiaan, kalau kita mengharap supaya belasting ditambah lagi, hak-hak dipersempitkan lagi, penghasilan dikurangi lagi, malaise lebih mengamuk lagi, hantu maut lebih mendekati lagi,katanya supaya rakyat lantas sedar dan suka berjoang? Tidakkah kita dus:

b e r dosa, kalau kita menjalankan wanhoop-stheorie itu?

 

Kita tidak boleh ber-wanhoops-theorie. Kita harus memandang kesengsaraan rakyat sekarang ini sudah di atas puncaknya, sudah cukup lebih dari cukup buat membikin rakyat menjadi sedar dan bergerak, asal saha­ja kita bisa mendidik rakyat kepada kesedaran itu. Kita tidak boleh lupa, bahwa kita bergerak itu tidak buat hanya bergerak sahaja, – de beweging niet om de beweging tetapi bahwa kita bergerak ialah untuk meri­ngankan beban-beban rakyat dan mengenakkan peri-kehidupan rakyat. Kita, oleh karenanya, tidak boleh mengharap supaya rakyat menjadi makin cilaka, walaupun, katanya, “tambahnya kecilakaan itu ialah supaya rakyat suka bergerak mendatangkan Indonesia-Merdeka”.

 

Sebab sebagai di dalam F.R. nomor percontohan itu juga sudah saya terangkan: asal sahaja kita tahu cara-caranya bekerja sebagai pemimpin, maka, tidak boleh tidak, Tentu rakyat sudah bisa disedarkan dengan kesengsaraan sekarang ini. Dan jikalau kaum wanhoops-theorie mem­bantah bahwa “wanhoops-theorienya” itu ialah karena takut bahwa rakyat menjadi mengantuk kalau nasibnya diperbaiki sehingga lupa atau men­jauhkan datangnya Indonesia-Merdeka, maka saya menjawab: Inipun menunjukkan kaum wanhoops-theorie kurang cakap menjadi pemim­pin! Di dalam F.R. nomor percontohan itu saya menulis, bahwa pemimpin yang pandai adalah “menggerakkan rakyat, sehingga belasting turun, misal­nya dari f 20,- jadi f 15,-.

Ia kasih keinsyafan pada rakyat, bahwa turunnya belasting itu ialah karena tenaga rakyat sendiri. Ia lantas ajak rakyat bergerak terus, menuntut supaya belasting turun lagi, dan kalau terjadi turun lagi, maka ia kasih lagi keinsyafan pada rakyat bahwa ini ialah hasil tenaga rakyat sendiri, sambil selamanya mengasih keyakinan, bahwa nasib rakyat barulah bisa 100% sempurna kalau Indonesia sudah merdeka, dan oleh karenanya: bahwa rakyat haruslah selamanya memusatkan perdjoangannya kepada usaha mendatangkan Indonesia Merdeka itu! Ia dus bukan pemimpin yang putus-asa, tetapi “pemimpin yang mengolah, pemimpin yang mendidik, pemimpin yang mendadar, pemimpin yang memimpin “. Ia mengerti “bahwa tenaga rakyat barulah menjadi tenaga, kalau saban hari diolah”, di-train sebagai dalam sport.

Ia mengerti, bahwa rakyat juga harus di-train, – “di-train semangatnya, di-train fikirannya, di-train teorinya, di-train keberaniannya, di-train tenaganya, di-train segala­-galanya” !

 

Sekali lagi, kita harus menolak dan menjauhi semua wanhoops­theorie. Rakyat sudah sengsara. Rakyat sudah cilaka. Rakyat hampir tak kuat memikul bebannya lagi. Kita kaum pemimpin harus ingat akan hal ini.

 

Saya tidak pernah menyangkal, bahwa kesengsaraan yang ngeri mengelektrisir sekujur badannya rakyat. Saya hanyalah menyangkal dan menolak bahwa kesengsaraan itu harus kita harapkan, dan bahwa kesengsaraan itu harus kita doakan bertambahnya. Sebab dengan keseng­saraan yang sekarang ada, sudah cukuplah syarat untuk bergerak, asal sahaja kita kaum pemimpin cakap mendidik.

 

Sayapun tidak pernah berkata, bahwa kita harus “warung-warungan”, “comitee-comiteean”, “swadesi-swadesian”, sahaja. Siapa yang memperhatikan saya punya jawab-jawab dalam “Primbon Politik”, akan mengetahuilah bahwa saya adalah musuh politik “warung-warungan” dan “comitee-comiteean” itu, oleh karena politik yang demikian itu memang “tidak bikin hilangnya penyakit yang senyatanya”. Dan siapa memper­hatikan uraian saya panjang-lebar dalam “Suluh Indonesia Muda”, niscaya mengetahuilah bahwa saya punya keyakinan ialah bahwa swadesi tidak bisa mendatangkan Indonesia-Merdeka, walaupun swadesi itu me­nambah creatief vermogen kita, en dus berfaedah pula.

 

Kemerdekaan Indonesia dan lenyapnya imperialisme-kapitalisme hanyalah bisa tercapai dengan massa-aksi Marhaen yang bewust, prinsipiil, radikal dan tak pernah kenal akan damai, dengan tenaga Marhaen yang maha-kuasa. Indonesia-Merdeka tak dapat dicapai dengan “warung­warungan” atau “comitee-comiteean”. Indonesia-Merdeka dan perbaikan masyarakat Indonesia hanyalah bisa tercapai kalau kita membongkar penyakit Indonesia itu dalam akar-akarnya dan dalam pokok-pokoknya. Oleh karena itu, maka kalau saya mempropagandakan politik yang “ber­kemanusiaan”, maka itu tidaklah berarti bahwa kita harus “warung­-warungan” atau “comitee-comiteean” sahaja.

 

Tetapi kita harus menyedarkan dan menyusun kekuatan radikal daripada rakyat, dengan cakap dan pandai. Dan kaum wanhoops-theorie itu ternyatalah tidak bisa menyedarkan dan menyusun kekuatan rakyat! Sebab mereka masih mengharap tambahnya kesengsaraan. Sebab mereka masih mengharap rakyat menjadi lebih cilaka. Sebab mereka masih meng­harap rakyat lebih mendekati lagi bahaya maut. Wanhoopstheorie adalah memang teorinya “pemimpin” yang putus-asa!!

 

“Fikiran Rakyat”, 1933