MENYAMBUT KONGRES P. P. P. K. I.

MENYAMBUT KONGRES P. P. P. K. I.

En vraagt men U: Hoevelen zijt gij? Antwoordt dan: Wij zijn een!

Delamennals

“Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia” nanti pada hari tanggal 30 Agustus sampai tanggal 2 September akan berkongres di Surabaya. Dengan kongres yang pertama ini, maka kita pertama kali pula akan melihat berkumpulnya utusan-utusan partai-partai politik Indonesia yang berazas kebangsaan atau bersifat kebangsaan. Utusan-utusan dari Partai Nasional Indonesia, dari Partai Sarekat Islam, dari Pasundan, dari. Boedi Oetomo, dari Studieclub, dari Sarekat Sumatera, dari Sarekat Madura, dari Kaum Betawi, – dan utusan-utusan dari berpuluh-puluh lagi perkumpulan Indonesia yang belum masuk permufakatan tetapi sengaja diundang,- utusan-utusan itu akan berjabatan tangan satu sama lain. Surabaya akan menjadi saksi akan hari-hari yang besar. Sebab bukankah Kongres P.P.P.K.I. yang pertama ini boleh kita namakan suatu kejadian nasional yang maha-penting? Bukankah kongres ini boleh juga kita sebutkan permulaannya suatu masa-baru di dalam riwayatnya kita punya pergerakan nasional?

 

Sebab, apakah rupa dan wujudnya P.P.P.K.I. itu? P.P.P.K.I. adalah berarti suatu barisan kaum kulit berwarna; ia adalah berarti suatu “bruin front”; akan tetapi barisan ini tidaklah diarahkan keluar sahaja; ia teru­tama diarahkan ke dalam. Ia lahirnya tidaklah sebagai suatu sikap untuk memprotes; ia tidaklah didirikan oleh    k a r e n a kita diserang; ia bukannya suatu sikap yang negatif, – tetapi ia ialah suatu sikap untuk mengumpulkan kembali kekuatan-bersama, diserang atau t i d a k dise­rang … suatu sikap yang positif, suatu sikap “self-realization”, suatu sikap “terugkeer tot het zelf”.

 

Dengan sikap yang demikian itu, P.P.P.K.I. adalah sesuai dengan majunya zaman, sesuai dengan majunya inzicht (penglihatan yang jernih) dalam kita punya pergerakan pada umumnya. Sebab sudah liwatlah kini temponya, yang pergerakan kita itu bersikap keluar sahaja; sudah liwatlah temponya yang pergerakan kita itu hanya bersikap memprotes; sudah habis pulalah temponya kita meminta-minta. Tetapi sudah datang­lah temponya, untuk bekerja s e n d i r i, dengan kalau perlu tidak memprotes, tetapi menangkis atau mendesak!

 

Maka adalah cocok sekali dengan sikap dan sifat ini, bahwa fatsal­-fatsal yang akan dibicarakan dalam kongres itu ialah fatsal-fatsal

yang “mendalam” sahaja, yakni fatsal-fatsal yang teristimewa sekali minta diperhatikan dengan k e r j a s e n d i r i itu tahadi; fatsal onderwijs nasional dan fatsal bank nasional.

 

Dengan memilih fatsal-fatsal yang tersebut itu, maka pimpinan P.P.P.K.I. adalah betul sekali pilihannya.

 

Tetapi tidakkah P.P.P.K.I. mempunyai sifat atau karakter yang menghadap keluar juga?

 

Di dalam suatu koloniale samenleving, di dalam suatu pergaulan-

hidup jajahan, maka tiap-tiap badan Bumiputera, tiap-tiap susunan

Bumi­putera, tidak boleh tidak, tentu mendapat sifat “keluar” itu juga.

Di dalam sesuatu pergaulan-hidup, di mana sehari-hari pertentangan-keadaan dan pertentangan-pendirian antara fihak pertuanan dan fihak jajahan ada terasa seterang-terangnya; di dalam sesuatu pergaulan-hidup di mana kolo­niale antithese, yakni pertentangan tahadi      menjalankan pengaruhnya saban hari, saban jam, saban menit, –

di dalam suatu pergaulan-hidup  yang demikian itu, maka suatu

b a r i s a n si kulit berwarna yang b e r h a d a p­-h a d a p a n dengan barisan si kulit putih, ya, menjadi suatu “benteng” si kaum sini yang berhadap-hadapan dengan “bentengnja” si kaum sana.

 

Dan inipun suatu keadaan yang baik sekali! Sebab tak baiklah bagi pergerakan kita tiap-tiap daja-upaya yang mau menipiskan atau meniadakan guratan antara sini dengan sana; tak baiklah bagi pergerakan kita tiap-tiap usaha yang mau mengumpulkan sini dengan sana itu. Tetapi baiklah perjoangan kita tiap-tiap usaha yang menyempurnakan p i s a h a n  a n t a r a kita dengan mereka itu … Makin terang tampaknya garis antara kaum kita dan kaum pertuanan, makin tajam terlihatnya guratan antara sini dan sana,- yakni makin nyata tampaknya dan terasa­nya antithese itu, maka makin terang dan tajam pula sifatnya per­joangan kita, makin jernih dan bersih pula wujudnya perjoangan kita itu oleh karenanya, sehingga perjoangan kita itu lantas mendapat karakter.

 

Sebab, bagi kita kaum nasional Indonesia, maka soal perjoangan kita itu adalah soal kekuasaan, soal macht. Soal ini bukanlah soal keadilan, soal ini bukanlah soal hak.

 

Bukankah sudah adil dan hak kita, yang misalnya poenale sanctie dihapuskan, yang misalnya merajalelanya modal gula atau modal tembakau diberhentikan, yang misalnya tanah-tanah kita tidak dibagi-bagikan kepada modal asing sebagai membagikan kuweh? Bukankah sudah adil dan hak kita, yang misalnya pengurangan hak berkumpul dan bersidang bagi kita dihapuskan, yang misalnya pemimpin-pemimpin kita tidak di­buang ke mana-mana? … Ya, bukankah sudah adil dan hak kita, yang negeri kita menjadi merdeka?

 

Namun … poenale sanctie masih ada, modal asing masih meraja­lela, tanah kita masih sahaja dibagi-bagikan seperti kuweh, hak berkum­pul dan bersidang masih sempit sekali, negeri kita – belum merdeka! Sebabnya? Tak lain tak bukan, ialah oleh karena kita belum k u a s a ;

tak lain tak bukan, ialah oleh karena kita belum mempunyai macht !

 

Dan oleh karena itu, maka kita punya kerja haruslah kita arahkan kepada pembikinan-kuasa, kepada machtsvorming ini. Dengan kepandaian sendiri ke arah kekuatan, dengan usaha sendiri ke arah kekuasaan, – itulah semboyan yang kita ambil. Dan tak dapatlah pembikinan-kuasa, tak dapatlah machtsvorming ini terjadi dengan hasil baik, selama garis dan guratan antara sini dan sana belum kita gariskan dengan setajam­-tajamnya !

 

Maka bagi kita, kaum nasional Indonesia, P.P.P.K.I. adalah faedah yang demikian itu. Oleh adanya P.P.P.K.I. maka pisahan antara sini dan sana lalu menjadi terang dan sempurna; dengan adanya P.P.P.K.I., maka kekuatan fihak kita kulit berwarna dapat ditimbun-timbunkan, tenaga kita dapat diganda-gandakan, sehingga barisan si kulit berwarna itu tidak sahaja bernama barisan, tetapi dalam sebenarnya ialah suatu barisan yang berkuasa, suatu barisan yang mempunyai macht, suatu barisan dengan mana kita dapat mendesakkan laksananya tiap-tiap kemauan kita, “memaksa tiap-tiap kekuasaan yang menghalang -halangi kita menjadi t u n d u k kepada kemauan kita”.

 

Dan tiap-tiap perbuatan-bersama, tiap-tiap fi’il yang terjadi dengan pekerjaan-bersama, adalah suatu langkah ke arah kekuasaan itu.

Baik soal perguruan, maupun soal bank, baik soal poenale sanctie, maupun soal exorbitante rechten atau soal apapun juga … perhatiannya semua soal itu dengan perhatian-bersama dan mengerjakannya semua soal itu dengan pekerjaan-bersama, adalah

berarti penambahan kekuasaan kita, – penam­bahan kekuasaan kita keluar, dan penambahan kekuasaan kita ke dalam.

 

Di atas perbuatan-bersama dan perhatian-bersama daripada P.P.P.K.I. yang berarti penambahan kekuasaan itu, maka kita sebagai kaum nasionalis sejati, mengucap syukur. Sebab sekali lagi kita katakan: zonder kekua­saan, zonder macht, kita di dalam pergaulan-hidup jajahan tidak da­pat mencapai suatu apa!

 

Sekarang kongres P.P.P.K.I. yang pertama akan terjadi, moga-moga dalam kongres ini terletak bibit-bibitnya rakyat Indonesia berbuat dan bersikap sebagai suatu umat, berbuat dan bersikap sebagai suatu natie! Sebab jikalau sesuatu rakyat yang terperintah sudah insyaf dan bernyawa sebagai suatu natie, jikalau oleh keinsyafan natie dan nyawa natie itu, rakyat tahadi sebagai satu n a t i e pula lalu insyaf akan nasib-kehambaannya, maka sebagai yang diajarkan oleh Professor Seeley, tidak boleh tidak, natie itu pasti bergerak dan berbangkit men­jadi natie yang merdeka.

 

Dan mengingat akan harapan itu, maka motto yang kita tulis di atasnya tulisan ini adalah suatu peringatan supaya menjauhi semua percerai-beraian, mendekati semua hal yang menyatukan. Tidak beribu­-ribulah harusnya jumlah bangsa kita, tidak berjuta-jutalah harusnya jumlah badan dan nyawa kita, tetapi hendaklah jumlah badan dan jumlah nyawa kita itu hanya satu. Sebab tidakkah akhirnya terbuka mata kita, bahwa bukan kita, tetapi kaum sanalah yang mendapat bahagia daripada setiap pertengkaran kita dengan kita pada zaman dulu dan zaman akhir; – bahwa bukan kitalah yang mendapat bahagia, tetapi kaum sana, tatkala pada zaman Amangkurat kita bertengkar-tengkar, tatkala pada zaman Mangkubumi dan Mas Said kita berselisih, tatkala pada zaman yang terdahulu dan kemudian daripada itu kita menyembelih kita sendiri … tatkala udara politik Indonesia disuramkan oleh perkelahian antara S.I. dan P.K.I. antara P.K.I. dan Boedi Oetomo?

 

Tidak! Bukan kitalah yang mendapat bahagia … tetapi kitalah yang menjadi makin terdesak, kitalah yang menjadi makin masuk ke dalam lumpur, kitalah yang menjadi makin mendekati maut.

 

Oleh karena itu:

Kearah Persatuan!

Kearah Kekuasaan!

Kearah Kemenangan!

 

“Suluh Indonesia Muda