Sjam dan Biro Khusus

Keberadaannya  mustahil,  tak  terjelaskan,  dan  membingungkan sekaligus. Ia masalah yang tak bisa dipecahkan. Tak terbayangkan bagaimana ia menjadi ada, bagaimana ia berhasil mencapai sejauh itu.

Joseph Conrad, Heart of of Darkness (1902)

.

.

Dokumen Supardjo memungkinkan kita membongkar sebuah misteri: hubungan antara para perwira militer (Untung, Latief, dan Soejono) dan kelompok sipil (Sjam dan Pono) dalam kepemimpinan Gerakan 30 September. Di antara lima tokoh pimpinan inti, Sjam tokoh yang terpenting. Sayangnya, dokumen ini tidak membantu kita menjawab pertanyaan-pertanya-an yang secara logis menyusul: Siapa Sjam? Apakah Sjam pembantu setia Aidit dan hanya mengikuti perintah? Kemudian, apakah Aidit pemimpin G-30-S yang sebenar- nya, yang memainkan Sjam dari belakang layar? Atau, apakah Sjam mempunyai kemandirian, sehingga ia sendiri bisa merancang G-30-S dan membiarkan Aidit tidak tahu detil rencana? Apakah Sjam lebih bekerja untuk tentara ketimbang untuk Aidit? Ataukah ia bekerja untuk pihak ketiga? Biro Chusus yang dipimpinnya itu apa, dan bagaimana badan itu berfungsi di dalam partai?

Mengingat langkanya bukti, menjadi mungkin untuk membayangkan beraneka ragam skenario dengan tingkat-tingkat kesalahan yang berbeda-beda bagi para pelaku yang terlibat. Aidit, misalnya, bias dikemukakan sebagai dalang dari seluruh operasi, secara pribadi terlibat dalam setiap aspeknya, atau sebagai sosok naif bernasib sial dalam suatu perangkap terperinci yang direkayasa Sjam. Kinerja dalam tubuh partai sama sekali kabur, setidak-tidaknya bagi mereka yang berperhatian terhadap fakta-fakta dan tidak diwajibkan memercayai dongeng-dongeng yang dipaksakan rezim Suharto terhadap masyarakat Indonesia.

Dalam  bab  ini  saya  menyajikan  informasi  baru  yang  dapat membantu mengurangi jumlah skenario yang masuk akal. Tetap banyak lubang-lubang yang tersisa tapi beberapa unsur kisah dapat dijernihkan. Banyak dari informasi ini saya peroleh dari seorang mantan anggota partai yang mengenal Sjam dan Biro Chusus secara rinci dan mendalam. Saya berbincang dengannya berkali-kali selama beberapa tahun. Sesudah ia yakin saya dapat dipercaya untuk menerima kisah-kisahnya, dan saya pun yakin kisahnya dapat dipercaya, kami merekam wawancara dengannya. Ia juga memberi saya sebuah tulisan otobiografi enam puluh satu halaman terketik. Karena ia minta agar tetap anonim, saya tidak dapat mence- ritakan posisinya di dalam partai dan menjelaskan bagaimana ia dapat memperoleh pengetahuannya. Saya hanya dapat menegaskan bahwa saya yakin ia dalam posisi yang memungkinkan untuk tahu dari dekat kinerja Biro Chusus. Karena ceritanya sampai sekarang merupakan sumber utama satu-satunya yang ada tentang para anggota biro ini, selain kesaksian-kesaksian mereka di sidang-sidang Mahmilub, maka sepatutnyalah cerita ini dikaji dengan seksama. Karena didasarkan atas ingatan, kisah ini kemungkinan mengandung sejumlah ketidaktepatan. Namun, saya percaya bahwa kisahnya sebagian besar dapat diandalkan. Beberapa bagian daripadanya dapat didukung kebenarannya melalui sumber-sumber lain. Nama samaran yang saya gunakan di sini, Hasan, dipilih secara acak.

LATAR BELAKANG SJAM DAN BIRO CHUSUS

Kapan Biro Chusus (BC) mulai ada? Menurut Hasan secara teknis Sjam benar ketika dalam kesaksiannya di sidang mengaku bahwa biro ini mulai pada 1964.1  Hasan menegaskan nama itu muncul sekitar 1964 tapi menurutnya organisasinya sendiri telah berfungsi setidak-tidaknya sejak awal 1950-an, ketika partai direorganisasi di bawah pimpinan Aidit. Satu bagian di dalam partai diserahi tugas untuk menumbuhkan dukungan di kalangan militer. Cabang klandestin partai ini bekerja di dalam Depar- temen Organisasi PKI, yang bersifat terbuka, yang mengurus masalah- masalah seperti pengangkatan, penempatan, dan pendidikan anggota partai. Sampai 1964 cabang ini dikenal sebagai Bagian Militer pada Departemen Organisasi. Kebanyakan staf Departemen Organisasi tidak tahu-menahu tentang keberadaan bagian yang dipimpin oleh seseorang bernama Karto ini. Dalam kesaksiannya Sjam mengatakan ia sudah ada di Departemen Organisasi sejak 1960. Hal yang tidak diceritakannya adalah bahwa ia bekerja di bawah pimpinan Karto sebagai anggota rahasia departemen tersebut. Ia kemudian menjadi pimpinannya, ketika Karto meninggal pada 1963 atau 1964.

Hasan menggambarkan Karto sebagai anggota senior PKI yang bergabung dengan partai pada 1920-an. Ia berasal dari Solo dan ikut aktif dalam perjuangan bersenjata melawan Belanda dari 1945 sampai 1949. Hasan, ketika itu anggota laskar (milisi rakyat) di Jawa Tengah, mengenal Karto dalam tahun-tahun perjuangan bersenjata tersebut, dan sesekali bertemu dengannya dalam tahun-tahun belakangan:

Dia waktu itu [tahun 1940-an] menjadi anggota CC bagian tani. Bagian tani. Jadi dia punya pengaruh di pedesaan, Pak Karto itu, di pedesaan. Dan dia karena orang kawakan, orang yang sudah berpengalaman itu, jadi kader-kader di militer itu banyak oleh Pak Karto sendiri. Jadi Pak Karto dianggap sebagai bapaklah, bapak di Jawa Tengah, Pak Karto itu, iya. Orangnya memang tua, tapi dia ini ya – apa, memang seperti orang ’26,’27 ya – kalo nggak salah pernah dibuang ke Boven Digul.2

Begitu banyak sengsara, hidupnya di kantor BTI, tidak punya istri, tapi kemudian kena kanker. Kanker, terus dibawa ke Soviet. Soviet bilang terus nggak sanggup, ini tinggal tunggu enam bulan, kembali lagi ke sini terus enam bulan betul-betul mati, ’63 atau ’64.3

Dua mantan pimpinan PKI bercerita kepada saya bahwa nama samaran Karto ialah Hadi Bengkring karena badannya yang sangat kurus (bongkring, perkataan dalam bahasa Jawa, berarti kurus atau kerempeng). Menurut ingatan Hasan, Karto meninggal akibat kanker paru-paru karena ia seorang perokok berat sepanjang hidupnya. Kebiasaan ini tidak pernah ditinggalkannya pada saat ia sudah menderita kanker sekalipun.4

Waktu di dalam penjara bersama mantan tokoh-tokoh PKI sesudah

1965, Siauw Giok Tjhan, pimpinan organisasi masyarakat Tionghoa Indonesia yang pro-Sukarno, Badan Permusyawaratan Kebangsaan Indonesia (Baperki), mendengar bahwa Karto ialah kepala Bagian Militer dalam partai. Siauw tidak banyak tahu tentang PKI sebelum 1965 dan tentu saja tidak tahu apa-apa tentang siapa Karto. Di penjara Siauw menjadi semacam ilmuwan sosial yang mengumpulkan informasi tentang G-30-S untuk memahami bagaimana gerakan itu terjadi. Ia menulis dalam analisisnya yang belum pernah diterbitkan bahwa Karto “adalah seorang tua, salah seorang pendiri PKI yang dihormati oleh banyak tokoh PKI.”5

Seorang mantan anggota parlemen dari fraksi PKI, Oey Hay Djoen, mengenang Karto sebagai tokoh terkenal di dalam partai, “Ia seorang kawan yang sepertinya ada di mana-mana dan ke mana-mana, selalu saja dan kapan saja. Tapi ia tidak bertingkah congkak. Ia seorang kawan yang pendiam; kadang-kadang tersenyum. Tapi ia selalu ada di sekitar partai. Dan ia disegani. Orang tahu ia seorang tokoh penting walaupun tidak mempunyai kedudukan apa pun. Kami tidak menyoalkannya.”6

Justru karena kedekatannya dengan banyak tokoh militer dalam

revolusi Indonesia, Karto lalu bertanggung jawab meneruskan hubungan partai dengan mereka sesudah kemerdekaan nasional tercapai. Pada 1950- an dan awal 1960-an, selagi tetap menjadi pimpinan partai secara terbuka di Jakarta, ia menjaga jaringan hubungan rahasia di kalangan militer di seluruh negeri. Di setiap provinsi sementara anggota partai menjalin kontak dengan para perwira. Hasan berkata, “Umumnya di daerah itu Pak Karto mengambil anak daerah dari daerah itu sendiri, dari BC itu. Tapi wakilnya, wakilnya itu dikirim oleh Pak Karto dari orang Jawa, orang Sunda, ada yang dikirim ke sana, wakil-wakilnya. Tapi kalau kepalanya, kepala BC itu mesti orang situ; Padang ya orang Padang. Medan, orang Medan, kepala-kepalanya. Tapi wakilnya itu kader-kadernya Pak Karto yang dikirim ke sana. Untuk mengawasi supaya jangan sampai dia keliru dalam melaksanakan itu. Banyak, dari Solo, Yogya, Jawa Timur itu, yang di luar Jawa itu, di Riau, Padang, di Sulawesi Utara juga, Banjarmasin.”

Dalam pekerjaan legalnya Karto seorang pemimpin yang teliti dan sangat memperhatikan watak kader partai. Hasan meneruskan, “Pak Karto, waduh, pimpinannya njelimet itu, soal kecil-kecil mesti dia tanyakan, ya kecil-kecil itu. Ya semangat ‘26-’27 itu kan keras gitu, terhadap kader itu keras sekali dia. Kalau Pak Karto mendalam, ‘Di desa kamu itu kader mana itu?’ Sekecil-kecilnya, ‘Kader itu sudah berbuat apa, kamu sudah berbuat apa di desa itu, menguntungkan atau tidak bagi kaum tani?’ Waduh, ini harus ‘Belum, belum.’ Nanti seminggu dia ingat lagi soal kecil-kecil.”

Dari penggambaran Hasan, Karto tampaknya banyak mempunyai kesamaan pandangan dengan Tan Ling Djie, pimpinan partai yang di- singkirkan Aidit dan kawan-kawan pada 1951. Model partai yang semula merupakan organisasi kader-kader militan yang terpercaya, benar-benar terpilih, terlatih baik, yang hidup di tengah-tengah kaum tani dan kaum buruh dan membangun kekuatan mereka dari bawah. Kader angkatan tua yakin, partai harus dirancang untuk bertahan terhadap kesakitan penindasan, seperti yang terjadi pada masa kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang, dan berupaya menuju perebutan kekuasaan negara dengan gerakan bersenjata. Sementara kalangan melihat strategi Aidit sebagai pemborjuisan partai: anggota-anggota partai menjadi pejabat pemerintahan, tinggal di rumah-rumah besar di ibu kota, menerima dana dari kaum pengusaha, dan mendukung politik populis Sukarno. Banyak dari tokoh angkatan tua PKI tidak bertahan lagi di dalam pimpinan begitu generasi Aidit mengambil alih kepemimpinan partai. Karto rupanya menemukan cara tertentu untuk tetap menjadi tokoh penting partai, mungkin dengan jalan kompromi sambil tetap berpegang pada pendapat-pendapatnya yang berbeda. Lebih dari itu, jaringan kontaknya yang luas dengan militer tentu membikin sulit pimpinan generasi muda untuk mendepaknya keluar.

Bagian Militer, bentuk awal Biro Chusus, secara alamiah timbul dari pengalaman partai dengan perjuangan bersenjata yang tersebar tanpa persiapan antara 1945-1949. Banyak pemuda yang simpati kepada gerakan kiri bergabung dalam laskar-laskar dan berhasil masuk ke tentara reguler. Ketika perjuangan bersenjata berakhir, partai tidak mau kehilangan para simpatisan ini dan juga sebaliknya. Untuk mengembangkan Bagian Militer pimpinan partai tidak merujuk ke ranah esoterik teori Partai Komunis. Kerja ini sekadar mempertahankan kontak dengan personil militer yang belum terpisahkan dari afiliasi mereka dengan kaum politisi sipil. Mantan anggota Politbiro Iskandar Subekti menulis, dalam penuturan rahasianya pada 1986 tentang G-30-S, bahwa “BC Central merupakan satu badan yang khusus mengurus kawan-kawan di kalangan ABRI.”7

Berlawanan  dengan  propaganda  rezim  Suharto,  Biro  Chusus bukanlah suatu skema licik dan jahat yang hanya ditemui pada PKI. Partai-partai politik lain juga memiliki jaringan serupa di kalangan militer. Partai Sosialis Indonesia (PSI), misalnya, mempunyai jaringannya sendiri di kalangan para perwira.8 Justru hubungan inilah yang memudahkan kerja sama antara PSI dan kolonel-kolonel pembangkang dalam pembe- rontakan PRRI/Permesta, 1957-58, di Sumatra dan Sulawesi (lihat Bab 6 tentang pemberontakan-pemberontakan ini). Untuk membangun aura keramat di sekitar tubuh militer, rezim Suharto menggambarkan Biro Chusus sebagai infiltrasi asing oleh musuh jahat yang gigih dan khas terhadap militer. Padahal militer sesudah kemerdekaan penuh dengan bermacam-macam klik berdasarkan kecenderungan politik masing- masing. Seperti dinyatakan Daniel Lev, para perwira “selalu berhubungan dengan kelompok-kelompok sipil dalam suasana pascarevolusi Indonesia yang sangat dipolitisasi.” Para perwira militer “mempertahankan atau mengembangkan hubungan dengan partai-partai politik, berdasarkan hubungan pribadi mereka sendiri atau melalui hubungan keluarga dan hubungan sosial.”9

Sesudah Karto meninggal, Aidit mengangkat Sjam sebagai peng-

gantinya. Di kalangan tahanan politik PKI tersebar desas-desus bahwa sebelum meninggal Karto meminta agar Aidit tidak menunjuk Sjam.10 Desas-desus itu mungkin saja benar. Hasan mengatakan bahwa watak Sjam – pembual, agresif, dan tidak sabar – bertentangan dengan watak Karto. Menurut Hasan, pengangkatan Sjam di Biro Chusus disebabkan oleh kesukaan Aidit kepadanya. Sjam dikenal sebagai orangnya Aidit. Ia sudah lama bersahabat dengan Aidit, beda dengan Pono dan Bono, yang dipandang sebagai orang-orangnya Karto.

Sjam bersaksi bahwa ia mulai bekerja sebagai kepala Biro Chusus

pada November 1964. Tapi Hasan yakin ia sudah bekerja beberapa waktu sebelum Mei 1964. Untuk alasan-alasan yang tidak diketahui, oleh tangan-tangan tak dikenal, jaringan Karto diganti namanya dengan Biro Chusus pada sekitar saat pergantian pimpinan. Bila Karto seorang anggota partai yang berpengalaman, terkenal, dan disukai orang, yang menggabungkan kerja terbuka dengan jaringan kerja militer tertutup, Sjam seorang tokoh tak dikenal dalam partai yang bergerak di bawah bayang-bayang.

Tidak banyak diketahui dengan pasti tentang masa kanak-kanak dan masa muda Sjam. Dalam kesaksiannya di ruang sidang ia menceritakan garis besar riwayat hidupnya. Ia lahir di Tuban, sebuah kota di pantura Jawa Timur, sekitar 1924. Ia bersekolah di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Pertanian Menengah Atas di Surabaya. Ketika Jepang memasuki Jawa pada 1942 dan sekolah pertanian itu harus ditutup, ia meninggalkan bangku sekolah sebelum tamat belajar. Ia pindah ke Yogyakarta pada sekitar saat itu dan masuk Sekolah Menengah Dagang. Pada waktu saya melakukan penelitian sejarah lisan tentang eks tapol, saya bertemu dengan Sukrisno, yang ternyata teman dekat Sjam di Yogyakarta.11  (Seperti Hasan, Sukrisno tidak mau dikenal dengan nama yang sesungguhnya.) Ia membenarkan Sjam lahir pada 1924 dan bersekolah di sekolah dagang di Yogyakarta. Di sekolah itulah keduanya menjadi berteman. Sukrisno juga membenarkan apa yang sudah diketahui sementara sejarawan bahwa Sjam adalah anggota yang disebut sebagai kelompok Pemuda Pathuk.12

Menurut ingatan Sukrisno, pada sekitar 1943 pemuda-pemuda kota Yogya yang ingin melawan tentara pendudukan Jepang mulai berkumpul di kampung Pathuk. Pimpinan kelompok ini adalah Djohan Sjahroezah dan Dayino; kedua-duanya tergabung dalam Partai Sosialis. Kadang- kadang pimpinan senior Partai Sosialis tingkat nasional seperti Sutan Sjahrir datang berkunjung. Menurut janda Dayino, Ibu Oemiyah, Sjam memang anggota Pemuda Pathuk.13 Baik Ibu Oemiyah maupun Sukrisno ingat bahwa Sjam ikut dalam penyerangan terhadap kantor utama pemerintah Jepang di Yogyakarta pada September 1945. Massa rakyat mengepung kantor itu, sementara para pemuda militan, di antara mereka adalah anggota Pemuda Pathuk, menurunkan bendera Jepang dan menaikkan bendera Indonesia.

Kegiatan Sjam sesudah meninggalkan Yogyakarta merupakan misteri. Dalam kesaksiannya di persidangan, Sjam mengaku masuk PKI pada 1949. Menurut Benedict Anderson ada bukti dokumenter yang memperlihatkan bahwa Sjam pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah negara boneka Belanda di Jawa Barat pada 1949 dan menjadi ketua PSI cabang Banten pada 1950-51.14  Bukti demikian memperlihatkan bahwa ia bukanlah seorang nasionalis yang militan selama tahun-tahun perjuangan tersebut dan bukan pula anggota PKI pada awal 1950-an. Sesudah Peristiwa Madiun 1948 kaum sosialis dan kaum komunis pecah. Walaupun pada waktu di Yogyakarta ia dekat dengan kaum sosialis, Sjam tidak mungkin bersekutu dengan kedua-duanya sekaligus, PSI dan PKI, pada awal 1950-an itu.

Sukrisno menjernihkan kekeruhan di seputar kegiatan Sjam. Ia dan Sjam meninggalkan Yogyakarta bersama-sama pada 1947 dan pindah ke Jakarta. Mereka tinggal di rumah yang sama, bekerja di kantor yang sama, mempelajari Marxisme-Leninisme dari guru yang sama, dan bersama- sama mendirikan serikat untuk buruh pelabuhan. Ia barangkali teman terdekat Sjam dari 1943 sampai 1950. Menurut Sukrisno pimpinan Partai Sosialis dalam kelompok Pathuk mengirim lima pemuda ke Jakarta pada 1947. Ketika itu Belanda sudah menduduki ibu kota tetapi mengijinkan Republik Indonesia, yang berkeduduk-an di Yogyakarta, untuk membuka kantor beberapa kementerian tertentu di Jakarta. Pimpinan Partai Sosialis mengingini agar lima pemuda itu membantu para pejabat Republik di Jakarta menyelundupkan perbekalan dan uang ke Yogyakarta. Lima orang itu dipilih karena mereka dapat diandalkan, berakal panjang, dan cukup berpendidikan; mereka bukan sekadar pemuda-pemuda militan yang hanya baik untuk perang. Kelima-limanya, saat itu berumur awal dua puluhan, ialah Munir, Hartoyo, Widoyo, Sjam, dan Sukrisno sendiri. Setelah tiba di Jakarta, mereka segera menghubungi para pejabat Republik dari berbagai kementerian. Sjam dan Sukrisno mulai bekerja di Kemen- terian Penerangan, yang kantornya untuk daerah Jawa Barat berkedu- dukan di Jakarta. Mereka menerima gaji dan jabatan cukup tinggi sebagai pegawai pemerintah meskipun pekerjaan mereka semacam kombinasi antara pekerjaan pesuruh kantor dan agen terselubung. Sukrisno ingat, suatu ketika Sjam diperintahkan membawa uang tunai sangat banyak dari kantor untuk membeli ban-ban mobil, kemudian mengatur pemuatan ban-ban itu di kereta api yang menuju ke pedalaman Jawa. Buruh kereta api di stasiun Manggarai di Jakarta membantu pengangkutan perbekalan untuk pasukan Republik ini.

Lima pemuda itu tinggal di Jalan Guntur di sebuah rumah yang dikosongkan oleh Residen Bogor, seorang nasionalis, yang pindah ke ibu kota Republik di Yogyakarta. Tidak lama kemudian mereka bertemu beberapa orang pemuda pelajar dan mahasiswa yang baru kembali dari Belanda. Di negeri itu mereka menjadi anggota Partai Komunis Belanda (CPN) dan ikut dalam perjuangan antifasis bawah tanah dalam masa perang dunia. Salah seorang di antara mereka, Hadiono Kusumo Utoyo, bekerja bersama Sjam dan Sukrisno di kantor Kementerian Pe- nerangan di Jakarta. Ia menjadi mentor mereka dalam Marxisme dan Leninisme.15 Sekali sepekan, dengan jadwal teratur, mereka berjalan ke rumah Utoyo di Jalan Kebon Sirih untuk belajar di bawah bimbing- annya. Sukrisno mengenang sebuah buku yang mereka baca ketika itu adalah karya Lenin State and Revolution dalam terjemahan Belanda. Dari tokoh-tokoh komunis di Belanda mereka pernah menerima kopor-kopor penuh buku-buku yang dengan bantuan para pelaut diselundupkan ke kota Jakarta. Pendidikan politik ini merupakan pengalaman yang mencerahkan bagi mereka. Pimpinan Partai Sosialis dalam kelompok Pathuk telah memberi Sukrisno dan kawan-kawan lebih dari sekadar sebuah tempat berkumpul dan semangat kerakyatan pada umumnya. Menurut Sukrisno aspirasi awalnya adalah ingin menjadi orang penting dalam pemerintahan pascakemerdekaan dengan pangkat tinggi dan gaji besar. Saat belajar tentang komunisme dari mantan anggota-anggota CPN yang baru kembali, Sukrisno merasa mendapat pengetahuan yang berbobot dan ilmiah. Ia mengubah rencana kariernya. Ia dan Sjam keluar dari pekerjaan mereka di Kementerian Penerangan, masuk PKI, dan mulai mengorganisasi serikat buruh, mula pertama di bengkel reparasi kendaraan bermotor pemerintah pendudukan Belanda, kemudian di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Mereka mendirikan Serikat Buruh Kapal dan Pelayaran (SBKP) pada akhir 1948 dan menjadi pimpinan- pimpinan terkemukanya sampai Februari 1950, ketika serikat buruh ini berfusi dengan serikat sekerja sejenis yang bergerak di daerah Republik, yaitu Serikat Buruh Pelabuhan dan Pelayaran (SBPP). Sukrisno dan Sjam tidak mencalonkan diri dalam pemilihan pimpinan untuk serikat buruh baru, yang mempertahankan nama SBPP. Mereka malahan ditunjuk untuk menduduki posisi dalam PKI. Dengan pembubaran serikat buruh mereka, Sukrisno dan Sjam berpisah untuk menempuh jalan masing- masing. Bertahun-tahun kemudian Sukrisno kadang kala bertemu Sjam. Sjam pernah meminta bantuannya untuk mengontak beberapa teman lama di kelompok Pathuk yang telah menjadi perwira militer. Sukrisno menduga peranan Sjam dalam partai ialah untuk mengurus para perwira, tapi ia tidak tahu apa persisnya peranan Sjam dan juga tidak tahu-menahu tentang adanya Biro Chusus.

Sukrisno yakin Sjam tidak bekerja untuk negara boneka Belanda, Negara Pasundan, pada 1949. Ia bekerja di Jakarta sebagai pegawai negeri pemerintah Republik dari 1947 sampai 1948 dan sibuk mengorganisasi serikat buruh dari 1948 sampai 1950. Pertanyaan barangkali timbul karena Sjam bekerja di daerah pendudukan Belanda untuk Kementerian Penerangan daerah Jawa Barat. Sukrisno juga yakin ia bukan anggota PSI pada awal 1950-an. Sjam benar ketika memberikan kesaksiannya bahwa ia masuk PKI pada 1949. Sukrisno juga masuk partai dalam tahun yang sama. Walaupun lima anggota kelompok Pathuk yang dikirim ke Jakarta semuanya masuk PKI pada akhir 1940-an, mereka tetap bersa- habat dengan tokoh-tokoh sosialis yang telah membimbing mereka di Yogyakarta.16  Kelima-limanya tetap bergaul dengan tokoh-tokoh PSI bahkan ketika hubungan antara kedua partai politik itu menjadi sangat antagonistik.

Bagaimana Sjam berkenalan dengan Aidit merupakan kisah yang didasarkan pada kesimpulan atas sekian dugaan. Sukrisno membenarkan tulisan sejarawan Jacques Leclerc bahwa Sjam membantu Aidit muncul kembali pada pertengahan 1950 setelah dua tahun hidup di bawah tanah. Segera sesudah Peristiwa Madiun pecah pada 1948, ketika tentara di bawah Sukarno dan Hatta menyerang PKI, Aidit melarikan diri dari Jawa Tengah dan bersembunyi di Jakarta – kota yang sudah sangat dikenalnya sejak ia menjadi aktivis nasionalis pada pertengahan 1940-an. Begitu Belanda pergi pada 1949 dan keadaan aman untuk muncul kembali, Aidit dan seorang pimpinan lain PKI, Lukman, memilih muncul dulu di pelabuhan Tanjung Priok, seakan-akan mereka baru saja turun dari kapal. Mereka mengaku bahwa sebelumnya mereka berada di Vietnam dan Tiongkok, dan menyaksikan langsung revolusi kaum komunis di sana. Menurut cerita Sukrisno, Sjam diberi tugas mengawal Aidit keluar dari pelabuhan, “Saya pergi dengan Sjam ke Tanjung Priok hari itu, tapi tidak ikut bersama dengannya ke dermaga bertemu Aidit. Karena saya belum pernah melihat Aidit, saya tidak tahu seperti apa wajah dan sosoknya. Saya ada di luar.” Rupanya Sjam pernah bertemu Aidit sebelumnya karena ia dapat mengenalinya. Menurut Leclerc, Sjam memudahkan Aidit dan Lukman melalui kantor imigrasi saat mereka mengalami sedikit kesulitan karena mereka tidak memiliki dokumen-dokumen yang diperlukan.17

Paling tidak, dari saat di Tanjung Priok itulah Aidit tentunya merasa berutang budi kepada Sjam untuk pertolongannya dalam memperagakan sekelumit sandiwara tersebut.

Sjam tampaknya masuk di Bagian Militer di bawah pimpinan Karto sekitar 1950-an. Walaupun ia mengaku sudah masuk di Departemen Organisasi PKI (yang membawahi Bagian Militer) pada 1960, sangat mungkin ia sudah masuk jauh sebelumnya. Dalam persidangannya Supardjo mengatakan, ia sudah mengenal Sjam sebagai agen rahasia PKI sejak 1956.18 Sukrisno mengatakan, dari teman-teman dan kenalan-kenalannya di kelompok Pathuk yang bergabung dalam ketentaraan saja tentunya Sjam sudah mempunyai jaringan kontak siap pakai di kalangan militer. Sjam mungkin tidak akan ditunjuk menjadi kepala Biro Chusus pada 1963 atau 1964 jika ia tidak mempunyai jejak panjang dalam pekerjaan rahasia atas nama partai. Sjam tentu harus membuktikan dirinya kepada Aidit selama bertahun-tahun, sampai saat Aidit memiliki kepercaya-an penuh terhadap kesetiaannya kepada partai serta kemam- puannya dalam membangun hubungan dengan para perwira militer.

KINERJA BIRO CHUSUS DI BAWAH SJAM

Pada saat G-30-S meletus Sjam bukanlah seorang perwira militer dengan pangkat tinggi, bukan juga seorang tokoh politik sipil terkemuka. Tak seorang pun berpikir bahwa sosok yang tampak tidak berarti ini adalah pimpinan sebuah operasi militer yang ambisius untuk merebut “seluruh kekuasaan” sampai ketika Sjam sendiri memberi kesaksian demikian pada 1967. Para pengamat pada umumnya mengira ia tak lebih dari seorang fungsionaris partai tak berwajah dan mudah diganti yang kebetulan dipilih Aidit sebagai perantara. Sejak Sjam tampil di sidang Mahmilub peranannya di dalam partai telah menjadi sumber banyak spekulasi. Keterangan dari Hasan menjernihkan beberapa misteri di sekitar Sjam dan Biro Chusus.

Menurut Hasan, Biro Chusus di Jakarta merupakan tim lima orang, yang disebut Biro Chusus Pusat. Pono sebagai asisten Sjam, Bono sek- retaris, Wandi bendahara, dan Hamim pelatih untuk kader BC.19 Dari lima orang itu hanya Sjam, Pono, dan Bono yang menjalin hubungan dengan personil militer untuk tujuan pertemuan intelijen. Wandi dan Hamim bekerja sebagai staf pembantu mereka. Di kebanyakan provinsi ada tim tiga orang yang disebut Biro Chusus Daerah. Walaupun Biro Chusus Pusat mengutamakan para perwira yang ada di Jakarta, biro daerah melengkapi pekerjaan Biro Chusus di pusat.

Kelima orang anggota Biro Chusus Pusat tidak dikenal umum sebagai anggota PKI. Mereka secara sadar berusaha memastikan bahwa masyarakat tidak melihat mereka sebagai anggota partai ataupun simpa- tisannya. Masing-masing muncul sebagai usahawan. Kata Hasan, “Sjam mempunyai perusahaan pabrik genteng. Bono mempunyai perusahaan bengkel, Pono mempunyai perusahaan restoran. Hamim memegang perusahaan bus. Jadi keluar itu mereka sebagai orang-orang yang hidup di tengah masyarakat dengan kamuflase-kamuflase yang berlaku di ma- syarakat, begitu. Tetangga itu nggak tahu, dia kira dia bukan orang PKI karena tiap hari jam enam berangkat ke kantor. Kalau salah seorang punya perusahaan dia dapat mobil, pakai mobil mereka.” Untuk melengkapi penyamarannya Sjam berdasi dan berjas serta mengendarai mobil sport yang mewah. Akan berlebihan untuk mencurigai Sjam adalah anggota suatu partai yang membenci kemewahan hidup dan mengawasi dengan ketat sumber penghasilan anggota-anggotanya. Bahwa anggota-anggota Biro Chusus mempunyai perusahaan dibenarkan oleh mantan tapol, Martin Aleida, yang pernah berbagi sel pada 1976 dengan seseorang bernama Suherman, yang mengelola sebuah toko besar di bilangan Pasar Baru, salah satu pusat perdagangan utama di Jakarta. Kepada Aleida Suherman menjelaskan, ia mengelola toko itu atas nama Biro Chusus.

Ia juga mengatakan, di samping tokonya ada perusahaan lain milik Biro Chusus, sebuah bengkel tempat bekerja banyak pensiunan ahli mesin dari AURI.20

Tentang anggota Biro Chusus yang sebelumnya pernah menjadi

anggota partai secara terbuka disebarkan desas-desus bahwa mereka telah dipecat dari partai. Mereka dituduh telah berkhianat terhadap partai atau melakukan pelanggaran disiplin partai (soal perempuan, misalnya). Jika kebetulan mereka bertemu kawan-kawan lama, mereka akan mengata- kan tidak lagi setuju dengan partai atau bahkan sudah membencinya. Hasan mengingat kembali, “Pono itu berasal dari Pekalongan, jadi datang ke Jakarta, orang Jakarta tidak tahu Pono itu dari mana. Jadi mereka yang ngerti dulu itu si Pono itu misalnya dari PKI dulu, kenapa dia pergi? Ya pergi aja meninggalkan partai. Jadi jelek gitu, dijelek-jelekin itu lho.” Seperti halnya Pono, Hamim dikenal sebagai anggota PKI.

Ia pernah mengajar di sekolah partai tentang Marxisme-Leninisme di Jakarta (Akademi Aliarcham) pada awal 1960-an. Tapi ia meninggalkan sekolah ini dalam suasana misterius pada 1964. Mantan wakil direktur akademi ini, Sucipto, menceritakan kepada saya bahwa ia mendapat kesan Hamim telah memutus semua hubungan dengan partai. Jika Hamim bertemu anggota PKI, ia akan menyatakan kepada mereka bahwa ia tidak lagi sejalan dengan partai. Sucipto kaget ketika nama Hamim disebut, sesudah peristiwa 1965, sebagai anggota Biro Chusus.21

Tim tiga orang di daerah-daerah juga terdiri dari tokoh-tokoh yang tidak dikenal sebagai kader PKI. Misalnya mereka bekerja sebagai manajer hotel, usahawan, dan guru sambil tetap merahasiakan hubungan mereka dengan PKI. Bahkan para pimpinan PKI di daerah mereka pun mungkin tidak me-ngetahui siapa anggota Biro Chusus di provinsinya. Beberapa anggota Comite Daerah Besar (CDB) ada yang tahu identitas mereka, tapi beberapa lainnya tidak tahu.22

Para istri anggota partai ini tidak boleh disangkut-paukandengan

PKI. Sjam memaksa istrinya mengundurkan diri dari kegiatannya sebagai aktivis di Barisan Tani Indonesia (BTI). Rupanya, hal ini menimbul- kan konsekuensi yang mencelakakan baginya. Menurut Hasan, “Sjam kawin dengan seorang guru di Jawa Barat – orang Jawa Barat. Begitu dia menjadi istrinya, lepaskan semua, jadi istri itu ndak boleh diketahui oleh masyarakat bahwa dia itu orang komunis atau orang prokomunis. Dia sendiri nggak puas, ‘Masak saya jadi seorang aktivis revolusioner kok begini, di rumah saja, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Nulis saja nggak boleh.’ Makanya dia berontak itu. Sampai meninggal dia, sakit, sakit kanker atau apa, sebelum 1965.”23

Lima anggota Biro Chusus Pusat bertemu satu kali setiap bulan. Demi alasan keamanan mereka tidak mempunyai kantor sendiri. Mereka bertemu di berbagai tempat di sekitar kota. Rapat-rapat itu bukan merupakan kesempatan untuk berdebat atau diskusi-diskusi bebas. Hanya terjadi pertukaran informasi di antara mereka berlima tentang perkembangan masing-masing dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Sjam akan meneruskan informasi dari Aidit dan menyampaikan garis partai tentang masalah-masalah politik mutakhir. Ia kemudian akan mengutus yang lain untuk melakukan tugas-tugas tertentu sepanjang satu bulan ke depan.

Hasan membenarkan pendapat Sjam bahwa Biro Chusus bekerja

di bawah Aidit sendiri. Beberapa anggota Politbiro dan Central Comite mengetahui keberadaan Biro Chusus, tapi mereka belum tentu tahu siapa-siapa yang ada di dalamnya. Biro Chusus melapor hanya kepada Aidit dan menerima perintah hanya dari Aidit. Seperti dikemukakan Sjam dalam kesaksiannya, “Biro Chusus adalah aparat dari Ketua partai.”24

Iskandar Subekti juga membenarkan bahwa biro ini merupakan “suatu badan pembantu Ketua CC [Aidit] yang dibentuk di luar ketentuan Konstitusi Partai, sebab tidak ada satu fasal pun di dalam Konstitusi Partai yang menyebut adanya badan tersebut. Badan ini bertugas mengurusi, memelihara, merekrut anggota-anggota Partai di dalam tubuh ABRI secara ilegal (sebab secara legal tidak mungkin). Aidit meminta Jimin [Sjam] menangani kekuatan Partai di dalam ABRI ini.”25

Mereka yang di Biro Chusus Pusat di Jakarta melakukan sejumlah tindakan pencegahan untuk menjaga kerahasiaan operasi mereka. Ke- prihatinan utama mereka adalah jika para perwira antikomunis di dalam intelijen ABRI sampai mengetahui bahwa mereka bekerja untuk PKI. Agar kelima orang itu tidak tampak bekerja bersama, mereka jarang bertemu sebagai sebuah kelompok selain pada pertemuan bulanan tersebut. Biasanya, untuk bertemu satu sama lain atau menemui kontak tertentu, masing-masing tidak akan menunggu lebih dari sepuluh menit jika salah seorang belum datang. Mereka mengartikan keterlambatan sebagai kemungkinan orang yang ditunggu tertangkap dan terpaksa mendedahkan kerahasiaannya.

Hasan tidak tahu pasti bagaimana Sjam mengatur pertemuannya dengan Aidit, sehingga kedok Sjam sebagai usahawan swasta tidak menimbulkan kecurigaan. Hasan menduga Sjam datang ke rumah Aidit– mereka tinggal berdekatan di kawasan tingkat atas Jakarta – dan pertemuan mereka menampak sebagai anjangsana antartetangga belaka. Karena orang-orang yang datang ke rumah Aidit berasal dari berbagai- bagai latar belakang, kedatangan Sjam tidak akan menarik perhatian. Sebagai seorang tokoh politik berpengaruh, Aidit dengan sendirinya dicari banyak orang. Agaknya akan sulit bagi agen intelijen untuk melacak jejak setiap orang yang mengunjunginya.

Apa yang bisa dilihat orang dari luar hanyalah bahwa Sjam, Pono, dan Bono adalah pengusaha-pengusaha swasta yang merangkap sebagai agen-agen intelijen ABRI, tapi tidak mempunyai hubungan yang berarti dengan PKI. Jika hubungan mereka dengan PKI itu pun diketahui, kiranya tidak akan jelas apakah mereka itu mata-mata tentara yang bekerja di dalam PKI atau sebaliknya. Kemenduaan arti seperti itu sangat penting karena Sjam, Pono, dan Bono tidak melengkapi diri dengan kedok yang sempurna. Beberapa mantan kader tinggi partai mengenang dalam wawancara mereka dengan saya bahwa mereka samar-samar mengenal dan tahu tiga orang itu sebagai anggota Departemen Organisasi PKI (walaupun informan-informan saya tidak mengetahui keberadaan Biro Chusus). Kendatipun tiga orang itu tidak hadir secara mencolok dan vokal di kantor CC-PKI, kenyataan bahwa terkadang mereka muncul di sana pastilah sudah melemahkan kedok mereka. Bahwa beberapa anggota partai yang bicara kepada saya tahu, termasuk Sukrisno, ketiga orang itu anggota partai mengesankan bahwa anggota-anggota partai yang lain juga tahu.

Agen-agen intelijen ABRI yang memantau kantor CC-PKI dan rumah Aidit kemungkinan sudah mempunyai rekaman tentang Sjam, Pono, dan Bono. Tapi tidak jelas apakah agen-agen tersebut juga tahu bahwa mereka bertiga sering datang ke kantor-kantor militer atau tahu dengan pasti bahwa mereka bekerja untuk PKI. Jelas bahwa jaringan intelijen Angkatan Darat di bawah Mayor Jenderal S. Parman tidak mengetahui identitas mereka bertiga. Pada 1965 komando tertinggi Angkatan Darat khawatir terhadap PKI dan mengetahui partai ada hubungan dengan sejumlah perwira militer. Jika Mayjen Parman, sang kaisar intelijen, tahu bahwa Sjam adalah tokoh kunci partai yang menangani kontak dengan militer, ia tentu akan terus-menerus mengawasinya dengan seksama. Barang siapa mengikuti Sjam dalam Agustus dan September 1965 akan menangkap ada sesuatu yang bakal terjadi. Tewasnya Parman di tangan G-30-S itu sendiri menunjukkan ketidak- tahuannya mengenai identitas Sjam.26

Menjamurnya agen-agen intelijen dan informan-informan di Jakarta menguntungkan upaya mempertahankan kerahasiaan di sekitar Biro Chusus. Begitu banyak mata-mata dan agen ganda sehingga sulit bagi badan mana pun untuk selalu melacak bahkan sebagian kecil dari mereka sekalipun. Parman dari Angkatan Darat mempunyai perkakasnya sendiri. Jenderal Nasution, sebagai menteri pertahanan, mempunyai jaringan intelijennya sendiri. Suharto di Kostrad mempunyai sendiri, demikian pula halnya polisi militer. Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I dan Menteri Luar Negeri Soebandrio mempunyai badan intelijen di bawah pimpinannya, Badan Pusat Intelijen (BPI). Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian, semuanya mempunyai jaringan intelijen sendiri-sendiri. Komando Operasi Tertinggi (Koti) mempunyai badan intelijennya sendiri. Beberapa badan intelijen itu saling bersaing dan saling mengawasi. Desas-desus terus-menerus beredar. Masing-masing badan bekerja setengah dibayangi suasana kekacauan. Bahkan dengan menanam agen-agennya di kantor CC-PKI, Parman agaknya tidak mencium keberadaan personil Biro Chusus.

Sangat mungkin seseorang telah memperingatkan Yani pada 30

September malam tentang adanya aksi yang siap menerkam. Menurut Omar Dani, seorang perwira polisi militer memberitahu Yani bahwa akan ada aksi yang mengancam dan menawarkan sejumlah pengawal tambahan di tempat kediamannya. Konon, Yani menolak karena mungkin ia meng- anggap informasi itu sekadar desas-desus belaka.27 Jenderal-jenderal di SUAD telah menerima laporan serupa selama berminggu-minggu, dan ternyata semuanya tidak benar.28 Tampaknya G-30-S berhasil menculik enam jenderal justru karena rencananya dikaburkan oleh meruaknya “hiruk-pikuk intelijen.”29

Sjam, Pono, dan Bono – inti Biro Chusus – adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk memelihara hubungan dengan perwira- perwira militer. Masing-masing memiliki kartu resmi militer dengan identifikasi sebagai seorang agen intelijen militer. Dengan kartu itu mereka bisa bergerak leluasa keluar masuk fasilitas kemiliteran. Menurut Hasan, “Orang tiga itu kan mempunyai surat keterangan militer, jadi diberi oleh teman yang di intel, yang di Jakarta itu disebut Garnisun itu. Itu diberi surat bahwa dia itu orang intel, intel Angkatan Darat, Angkatan Laut, Udara, dan sebagainya. Dikasih surat, jadi kalau masuk di komplek itu, ‘Ini saya ini intelnya bung anu, bung anu atau kolonel ini, kolonel ini, atau jenderal ini, jenderal ini.’ Masuk dia ke rumahnya atau kantornya.”30

Ketiga orang itu masing-masing mempunyai kelompok kontaknya sendiri-sendiri, “Mereka punya jenderal, punya kolonel, punya kapten, sampai lapisan-lapisan bawahnya. Itu mereka punya. Itu di Jakarta tapi kalau di daerah kan itu diserahkan pada BC daerah. BC punya ini, punya ini. Sama dengan di atas ya, di daerah juga ada jenderalnya, ada ininya, tapi di bawah pengaruh dia dan dia harus tunduk kepada pusat, jadi di dalam pertemuan bulanan itu dibicarakan sampai di mana pengaruh PKI di kalangan militer, sudah sampai di mana gitu berkembang apa tidak, gitu. Terus kemudian ditugaskan untuk lebih meluaskan kembali pengaruh-pengaruh PKI di empat angkatan kan: Udara, Polisi, Angkatan Darat, Angkatan Laut.”

Dalam kesaksiannya di persidangan untuknya pada 1967 Sjam menceritakan, bagaimana Biro Chusus merekrut para perwira. Hasan membenarkan bahwa cerita Sjam tentang proses perekrutan itu, sebagian dikutip di sini, pada umumnya tepat:

Tiap2 anggauta pimpinan dari Biro Chusus mempunjai ke- wadjiban untuk melebarkan organisasi dikalangan Angkatan Bersendjata.  Kalau  sudah  bisa  meneliti  dan  mengetahui pedjabat2 jang ada, berusaha untuk mendekati dan mengenal. Sudah dapat mengenal lalu berbitjara mengenai soal2 politik umum. Sesudah mengetahui bagaimana seseorang pedjabat pada Angkatan Bersendjata ini apakah dia anti Komunis ataukah  dia  seseorang  Demokrat,  maka  terus  diadakan pertukaran pikiran mengenai soal2 politik dalam negeri dan mengenai soal-fikiran2 jang madju. Sesudah diketahui bahwa pedjabat ini adalah orang jang mempunjai fikiran jang menurut pandangan dari sudut PKI orang ini adalah orang jang berpikiran madju, maka terus diadakan pembitjaraan2 soal-soal kepartaian. Kalau kelihatannja orang ini tidak menolak, tidak memberikan reaksi jang negatif, maka dilandjutkan pada soal2 jang lebih mendalam, jaitu mengenai masalah teori Marxisme.31

Hasan menyatakan tujuannya bukan untuk menjadikan para perwira itu menjadi anggota partai, melainkan untuk membuat mereka bersedia  memasok  informasi  kepada  Biro  Chusus  dan  melakukan tugas-tugas untuknya. Perwira-perwira itu tidak diajar tentang “soal- soal teori Marxis,” seperti ditegaskan Sjam. Sampai September 1965 partai belum melaksanakan rencana untuk membuka sekolah-sekolah klandestin tentang Marxisme-Leninisme di kalangan personil militer. Pada umumnya Biro Chusus puas dengan para perwira Sukarnois yang mendukung PKI karena partai ini mendukung Sukarno. Dalam penga- matan Hasan, “Yang terpenting umumnya orang-orang militer itu pro terhadap Sukarno, jadi belum tentu pro kepada PKI, belum. Jadi pro kepada Sukarno karena pada waktu itu PKI sama Sukarno itu kerja sama, jadi apa yang dilakukan oleh Sukarno itu sama dengan program PKI … Nah, di dalam BC itu nggak ada, ‘Ini anggota partai.’ Itu bukan. Nggak ada. Yang penting dia tunduk nggak sama Sjam.”

Para anggota Biro Chusus menggunakan hubungan mereka dengan militer bukan hanya untuk memperoleh informasi tentang kinerja di dalam tubuh militer, tapi juga untuk bertindak atas nama PKI. Hasan mengutip sebuah contoh dari Desember 1964. Aidit memerlukan bantuan ketika Waperdam III, Chairul Saleh, menuduh PKI mempunyai rencana merebut kekuasaan negara tahap demi tahap. Chairul Saleh, yang dekat dengan Partai Murba, yang antikomunis, mengklaim ada sebuah dokumen yang mengungkapkan rencana rahasia tersebut. Karena dugaan itu polisi militer menginterogasi Aidit dan sedang berpikir untuk mengajukan perkaranya ke pengadilan. Aidit menyuruh Sjam supaya me- merintahkan jaringan Biro Chusus di dalam militer untuk menggagalkan perkara itu. Usaha itu berhasil dengan cemerlang: Aidit dibebaskan dari tuduhan dan terlepas dari perkara tanpa cela. Chairul harus meminta maaf karena telah menyebarkan dokumen palsu.32

Menurut Hasan, Aidit juga menggunakan personil dari Biro Chusus sebagai cadangan pengawal. Sebagai menteri dalam kabinet Sukarno, sesuai dengan tata cara protokol, Aidit mendapat pengawalan satu detasemen militer ketika ia bepergian keluar Jakarta. Namun, mengingat sikap antikomunis di kalangan pimpinan Angkatan Darat, ia tidak me- mercayai pengawalan yang diberikan untuk melindungi dirinya. Ia akan memerintahkan Sjam agar jaringan militer Biro Chusus di daerah mem- bayangi para pengawal dan menjamin bahwa ia tidak akan dicelakai.

Betapapun banyaknya Biro Chusus mengambil manfaat dari para simpatisannya di kalangan militer, badan ini juga menawarkan sesuatu sebagai timbal balik. Ada hubungan memberi dan menerima yang ruwet antara Biro Chusus dan kontak-kontak militernya. Biro Chusus memberi informasi yang membantu para perwira memahami situasi politik dan bahkan memajukan karier mereka. Seperti dikatakan Hasan, “Untuk menarik militer mereka berikan informasi supaya bisa jadi lebih mantep dalam pekerjaan militernya.” Misalnya ketika memerangi pemberon- takan Darul Islam, PRRI, dan Permesta, beberapa perwira bekerja sama dengan organisasi massa yang berafiliasi dengan PKI. Gerakan Darul Islam (1948-1962) yang aktif di Jawa Barat, menuntut Negara Islam untuk Indonesia. (Gerakan itu dikenal dengan akronim DI, sedangkan sayap militernya, Tentara Islam Indonesia, disingkat sebagai TII. Sekarang gerakan ini biasa disebut sebagai DI/TII.) Baik para gerilyawan gerakan Darul Islam, maupun perwira-perwira pembangkang di balik pembe- rontakan PRRI dan Permesta sangat antikomunis. PKI mempunyai kepentingan mendesak membantu militer dalam menindas pemberon- takan-pemberontakan ini.

Selama operasi militer berlangsung beberapa perwira mempergu- nakan jaringan-jaringan kader PKI setempat untuk informasi intelijen dan merekrut milisi sipil. Biro Chusus memudahkan hubungan antara personil militer dengan PKI. Tentang hal ini Hasan menguraikan:

Jadi menarik militer itu kayak begini, misalnya dia tugas untuk menghantam DI/TII ya, tugas. Tugasnya militer untuk menghantam DI/TII di Jawa Barat dan kemudian dia dapat informasi, informasi dari Bung Sjam misalnya DI tuh begini, begini, politiknya begini, gini, gini, jadi si militer dengar tuh. Oh begitu itu. Terus misalnya DI itu bagaimanapun tidak punya massa, karena itu untuk menghantam dia harus menggerakkan massa dulu, menurut Bung Sjam. Nah ini si militer dengar harus gerakkan massa, nah itu nanti kalau dia datang ke sini itu bagaimana cari massa, mencari OPR [Organisasi Perlawanan Rakyat]-OPR itu dari rakyat, dijelaskan sama dia begini, begini, begini. Kan di tentara nggak ada, situasi politik nggak pernah diberikan oleh atasan, oleh komandan, itu kan terpencil. Diberi tahu sama Sjam itu DI itu begini, hubungan dengan Amerika begini, dengan Belanda begini, gini, gini, gini. Itu si militer itu yakin bahwa memang DI itu jahat, harus dihancurkan, dan Sukarno sendiri meminta menghancurkan, jadi sesuai dengan perintah Sukarno itu. Karena itu militernya kan mendapat sokongan dan kalau dia menghantam DI, bisa menghancurkan DI dia naik pangkat– naik pangkat oleh karena si Sjam itu, jadi dia terima kasih sama Sjam karena dia naik pangkat atas bantuan dari dia. Jadi dia sendiri merasa diuntungkan tahu situasi, tahu ini, jadinya lebih luas pengetahuannya, lebih mantep dalam pekerjaan militer. Nah BC yang berikan soal-soal politik, jadi dengan begitu militer itu juga dapat pendidikan politik dari PKI.

Mungkin sekali hubungan antara Sjam dan Supardjo berjalan seperti cerita yang digambarkan Hasan di atas. Sebagai komandan di daerah Garut Jawa Barat, yang menjadi basis penting DI/TII, Supardjo memainkan peranan besar dalam mengakhiri pemberontakan DI/TII yang berkepanjangan pada awal 1960-an. Angkatan Darat di Jawa Barat mulai menempatkan sejumlah besar penduduk sipil saat menggelar taktik “pagar betis” pada 1960. Supardjo, dengan bantuan PKI, menggunakan taktik ini di Garut. Penduduk berjajar dalam jarak berdekatan lalu mereka menyisir suatu kawasan sementara regu-regu tentara bersenjata di depan mereka bergerak maju dan mengikuti barisan “pagar betis” dari belakang. Dengan taktik ini pemberontak bersenjata dihalau dari basis mereka dan didesak ke zona-zona yang menjadi semakin sempit.33  Supardjo mengorganisasi beberapa operasi “pagar betis” ini dengan menggunakan kader-kader PKI yang dengan militan melawan DI/TII dan yang sering menjadi sasaran serangan pukul dan lari mereka.34 Berdasarkan keber- hasilannya mengakhiri DI/TII, Supardjo dinaikkan pangkatnya menjadi kolonel dan kemudian diberi kedudukan tinggi sebagai panglima pasukan gabungan di sepanjang perbatasan dengan Malaysia selama masa kon- frontasi. Ia seorang komandan tentara yang menyikapi strategi bertempur dan disiplin organisasi dengan serius. Pengalamannya dalam perang pengikisan pemberontakan (counterinsurgency) memberinya pelajaran langsung tentang arti penting dukungan masyarakat sipil.

Ketika itu bukanlah rahasia bahwa beberapa kesatuan tentara, dalam menumpas pemberontakan-pemberontakan kaum kanan pada 1950-an dan awal 1960-an, meminta bantuan PKI.35 Hal yang umumnya tidak diketahui adalah bahwa PKI mempunyai departemen khusus yang ber- peranan sebagai penghubung rahasia dengan para perwira dan meminta mereka agar berbuat sesuatu untuk PKI sebagai imbalannya. Kolonel Abdul Latief, saat bertugas di Sumatra untuk menumpas pemberon- takan PRRI pada 1958, bekerja sama dengan organisasi massa PKI di sana. Seorang mantan anggota PKI dari Sumatra Utara teringat pernah bertemu dengan Latief pada waktu itu dan mengorganisasi aksi-aksi kelompok pemuda PKI bersama dengannya.36

Bila seorang perwira yang pernah bekerja sama dengan PKI dipindah, hubungan ini tidak dengan sendirinya berakhir. Agen Biro Chusus yang sudah berhubungan baik dengan sang perwira akan mengatur agar Biro Chusus di tempat yang baru bertemu dengannya. Mengingat struktur sel dalam Biro Chusus, tim tiga orang di satu cabang daerah tidak me- ngetahui identitas anggota tim-tim di daerah-daerah lain. Biro Chusus mengembangkan suatu metode untuk tetap berhubungan dengan para perwira yang dipindah-pindah di seluruh tanah air. Hasan menjelaskan,

“Kalau si militer dari Jawa bertempur di Manado, nah nanti ada biro daerah BC di sana, nah itu nanti dia dari sini itu sudah dapat itu – dapat kode, kodenya itu begini; ini suatu lembar ya, sini tulis A, di sini A, di sini A merah, di sini A hitam, ini sobek dan dia bawa satu yang hitam misalnya, yang merah itu nanti oleh BC diserahkan kepada BC daerah sana, di Manado itu. Nanti orang ini juga ditugaskan oleh BC daerah mencari orang-orang dari Jawa. Dia akan cari terus ke mana dia, akhirnya tahu gitu. ‘Ini ada surat – ada surat,’ ditaruh sama dia, ‘Oh ya ini.’”

Tidak aneh jika beberapa personil militer, bahkan perwira-perwira tinggi, menyokong PKI. Partai dengan penuh semangat mendukung setiap  kampanye  militer  utama  yang  dilancarkan  Sukarno.  Selain mendukung kampanye melawan pemberontakan DI/TII, PRRI, dan Permesta, partai menyokong perebutan Irian Barat (sekarang dikenal dengan sebutan Papua Barat) dari Belanda pada 1962 dengan kekuatan militer dan konfrontasi melawan Malaysia yang dimulai pada 1963. PKI memperoleh banyak penghormatan di kalangan sementara perwira sebagai kekuatan patriotik dan pro-Sukarno yang berhasil menggalang dukungan masyarakat untuk peperangan yang dilancarkan angkatan bersenjata. PKI tampak sebagai partai yang disiplin dan bertanggung jawab.37

Bagi para perwira tinggi yang mempunyai pandangan internasional, menariknya PKI bukan hanya terletak dalam hubungannya dengan politik nasional. Beberapa orang perwira sangat terkesan oleh perang gerilya kaum komunis Tiongkok yang berjaya dan perlawanan tak terpatahkan rakyat Vietnam terhadap tentara Amerika Serikat. Pengalaman mereka dari masa revolusi nasional membuat mereka dengan teguh bersikap anti- imperialis. Presiden Sukarno sendiri terus-menerus mengingatkan bangsa Indonesia agar tidak membolehkan tanah airnya dikuasai kaum kapitalis Barat. Sukarno mengorganisasi Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 sebagai penolakan tegas terhadap kekuatan-kekuatan kolonialisme lama. Dengan demikian revolusi antiimperialis di Tiongkok dan Vietnam ibarat gayung bersambut bagi para perwira Indonesia yang dengan sungguh-sungguh mengikuti Sukarno. Keberhasilan kaum komunis di negara-negara lain mengangkat derajat Partai Komunis Indonesia, yang dipandang berbagi semangat dan kearifan yang sama.

Supardjo, yang pernah mengunjungi Vietnam dan Tiongkok, merasa kagum terhadap kemampuan militer partai-partai komunis di kedua negeri itu. Menurut Heru Atmodjo yang bersama-sama Supardjo ditahan di penjara Cimahi, Supardjo sangat menghormati Sjam karena ia menduga Sjam pernah dilatih di Tiongkok sebagai komisaris politik untuk pasukan militer. Barangkali Sjam salah dalam menampilkan dirinya. Menurut Hasan, Sjam tidak pernah ke Tiongkok untuk urusan lain selain berobat.38  Tapi agaknya ia memang pernah ke Vietnam. Iskandar Subekti menulis bahwa “Jimin [Sjam] sendiri telah diutus Partai meninjau Vietnam ketika masih berperang melawan A.S.”39 Betapapun salah mengertinya Supardjo tentang Sjam, pengetahuannya tentang militer Tiongkok dan Vietnam meyakinkannya bahwa partai-partai komunis, dengan kemampuannya yang luar biasa dalam mengintegrasi- kan kekuatan sipil dalam operasi-operasi militer, memperlihatkan sebuah paradigma yang relevan bagi Indonesia.40

Supardjo bisa jadi terkesan oleh Sjam semata-mata karena jenderal ini menduga Sjam sebagai wakil PKI, sebuah lembaga yang mengesankan Supardjo. Beberapa orang yang sebelum 1965 mengenal Sjam tidak terkesan sama sekali. Mereka mengenang Sjam sebagai orang yang bombastis, sombong, dan tidak terlalu cerdas.41 Benedict Anderson menyaksikan sendiri kesaksian Sjam di sidang-sidang Mahmilub pada 1967 dan tidak bisa percaya bahwa Sjam seorang kader tinggi PKI karena retorikanya datang langsung dari aktivisme nasionalis 1940-an akhir, tanpa disela oleh wacana partai masa mutakhir, “Sjam berbicara dengan gaya yang sama sekali berbeda dengan saksi-saksi lain – cakap besar, sedikit megalomaniak, tapi lebih dari itu dengan versi “beku” dari gaya percakapan yang biasa digunakan pada 1945-1949 … Terdengar seperti memasuki semacam toko audio yang antik.”42

Ada penjelasan tentang bahasa Sjam yang kuno itu. Kepada saya Hasan menceritakan bahwa Sjam tidak pernah membaca buku dan hampir-hampir tidak membaca bahan bacaan partai. Ia terlalu sibuk bertemu banyak orang dan mengatur penyamaran sehingga tidak ambil pusing terhadap teori. Kedudukan Sjam di dalam partai sedemikian rupa sehingga ia tidak harus berpikir tentang program partai dan membelanya di depan umum; ia tidak duduk di badan pengambil keputusan, menulis literatur partai, dan menduduki kursi di parlemen, atau mengorganisasi konferensi-konferensi. Tugasnya ialah menerima perintah dari Aidit, menjaga rahasia, dan mendekati para perwira kiri. Sjam memerintahkan jenderal-jenderal dan kolonel-kolonel yang berpengaruh untuk berbuat sesuatu demi kepentingan Aidit. Ia tidak merasa ada sesuatu yang meng- haruskannya belajar dari kepustakaan dan para ahli teori. Hasan melihat Sjam sebagai seseorang yang merasa dirinya sebagai suri teladan aktivis komunis yang sedang melakukan pekerjaan praktis untuk membangun kekuatan partai komunis terbesar ketiga di dunia.

Hasan percaya Sjam sama sekali bukan tokoh misterius; ia bekerja dengan prinsip yang sederhana saja: membebek Aidit. Sjam seorang yang teguh kese-tiaannya kepada Aidit. Ia melihat Aidit sebagai Stalin atau Mao versi Indonesia, seorang pahlawan agung dengan hari depan gilang-gemilang di hadapannya. Sjam merasa bangga berperanan sebagai tangan kanan Aidit. Sjam adalah contoh klasik seorang apparatchik (aparat partai komunis) yang memahami partai sebagai sebuah organisasi yang berjuang demi kekuasaan negara. Ia mungkin akan memahami Machiavelli lebih baik ketimbang Marx.

Memahami Sjam sebagai fungsionaris partai yang didorong oleh kesetiaan pribadi kepada Aidit dan sama sekali tidak mempunyai idealisme kemanusiaan serta semangat kolektif yang menyemangati anggota-anggota lain, memungkinkan kita menangkap logika di balik jawaban-jawaban Sjam dalam tanya jawab dengan Hakim Ketua Mahmilub. Sjam ditanyai pendidikan apa yang diberikan Biro Chusus kepada para simpatisannya di kalangan militer:

Sjam: [Pendidikan] soal teori dan ideologi. Ketua: Teori dan ideologi, teori apa?

Sjam: Marxisme Leninisme. Ketua: Ideologi apa?

Sjam: Tjinta kepada partai.

Cinta kepada partai. Itulah gagasan Sjam tentang ideologi partai. Itulah jalan pikiran seseorang yang begitu setia kepada organisasi sehingga ide-ide demokratis yang menjadi pendirian organisasi dianggap sampah retorika belaka.

Tingkah laku Sjam sesudah ia ditangkap pada 1967 mengesankan dirinya sebagai seorang oportunis. Dengan hancurnya partai yang konon dicintainya, bersama dengan segala kesempatan baginya untuk tampil di tampuk kekuasaan, ia berusaha keras menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan jika itu berarti ia harus mengkhianati mantan kawan-kawannya sendiri. Dalam kesaksiannya di sidang pertama Mahmilub untuknya ia menyebut dua nama perwira militer yang termasuk bagian jaringan Biro Chusus – perwira-perwira itu belum dikenal sebagai pro-PKI. Salah seorang dari mereka tampaknya ditangkap dan dipenjarakan akibat pengakuan Sjam.43  Dalam penampilannya kemudian sebagai saksi di persidangan Mahmilub, Sjam menyebut lebih banyak nama lagi. Iskandar Subekti menulis ia tidak pernah mendekati Sjam, temannya sesama penghuni penjara Cipinang, untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang kejadian di sekitar 1965 karena ia memandang Sjam sebagai orang yang sama sekali tidak bisa dipercaya.44

Hasan menjelaskan bahwa strategi Sjam ialah terus menyediakan informasi berguna bagi para penangkapnya, “Dia itu sudah ngomong sama saya bahwa ‘Saya ini sebetulnya ingin hidup, ingin hidup lama.’ Oleh karena itu dia di dalam pengadilan maupun di dalam penjara, dia membeberkan soal-soal begitu untuk memperpanjang waktu eksekusi mati. Nah dia itu sebetulnya takutlah, untuk ditembak itu takut.” Sjam menduga jika ia mampu menunda eksekusi terhadapnya cukup lama, mungkin ia akan bisa hidup lebih lama ketimbang rezim Suharto, yang dia tidak pernah percaya akan mampu bertahan sangat lama.

Dalam kesaksiannya pada beberapa persidangan (sekitar sepuluh kali sampai 1972) Sjam setiap kali selalu menambahkan detil baru supaya agen-agen intelijen militer mengira Sjam masih mempunyai informasi lebih banyak lagi untuk diungkap.45 Sesama tahanan politik memperhatikan taktik Sjam ini. Siauw Giok Tjhan, dalam analisisnya, mengatakan, ketika tapol lain mengkritik Sjam karena menyebutkan begitu banyak nama-nama para perwira, ia membela perbuatannya dengan mengatakan,

“Tiap manusia berhak untuk mempertahankan hak hidupnya, sebagai orang yang telah divonis hukuman mati, saya ingin menunda, kalau dapat menggugurkan vonis hukuman mati itu. Bila saya rasa vonis itu akan dilaksanakan, executie akan dilakukan, saya menimbulkan persoalan besar baru, sehingga untuk peperiksaannya hukuman mati bagi saya tidak dijalankan.”46  Sjam menggunakan strategi klasik Scheherazade, perempuan dalam legenda Arabian Nights (Seribu Satu Malam) yang dikawinkan dengan seorang raja sakit jiwa yang membunuh istri-istrinya sesudah ditidurinya. Scheherazade berhasil mencegah eksekusi terhadapnya dengan cara menceritakan dongeng-dongeng kepada sang raja setiap malam. Alih-alih dipancung, sang raja membolehkan Scheherazade tetap hidup agar ia bisa terus mendengarkan dongeng-dongengnya. Sesudah seribu satu malam sang raja bersumpah tidak hendak membunuhnya. Strategi ini hampir berlaku sama bagi Sjam. Walaupun ia dieksekusi pada 1986, sesudah hukuman diputuskan pada 1968, ia berhasil membeli penundaan eksekusi baginya jauh lebih lama dari 1001 malam.

Sementara pengamat (misalnya Wertheim) menduga bahwa tabiat

Sjam yang suka mementingkan dirinya merupakan bukti bahwa ia memang bukan anggota PKI. Tapi para pengamat ini tidak memahami bahwa tokoh-tokoh seperti Sjam sama sekali tidak unik di dalam partai. Mantan kader-kader tinggi PKI lainnya mengkhianati partai sesudah mereka tertangkap, antara lain Sujono Pradigdo (kepala Komisi Verifikasi), Peris Pardede (kepala Komisi Kontrol), Sampir Suwarto (kepala keamanan di CC-PKI), Kusnan (sekretaris pribadi Sudisman dan anggota Komisi Verifikasi), dan Burhan Komalasakti (anggota Central Comite).47

Pengkhianatan-pengkhianatan semacam itu bisa dilihat sebagai reaksi yang dapat dimengerti terhadap siksaan atau ancaman fisik terhadap orang-orang yang mereka cintai. Namun begitu, beberapa pimpinan partai lainnya, bahkan anggota-anggota biasa, tidak menyerah terhadap siksaan. Bagi seorang loyalis partai yang keras kepala seperti Hasan, yang juga mengalami siksaan, pengkhianatan para pimpinan memberi petunjuk bahwa partai sudah menjadi terlalu borjuis pada 1965. Para pimpinan semestinya mencapai kedudukan mereka yang tinggi justru karena mereka telah membuktikan keberanian dan pengabdian mereka kepada partai. Bahwa partai dipimpin oleh orang-orang yang tidak mampu menghadapi penindasan militer dengan syaraf baja menunjukkan kepada Hasan, penganut garis perjuangan bersenjata Mao, bahwa partai mengandung kekurangan-kekurangan yang fundamental.

Cerita Hasan tentang kepribadian Sjam dan kinerjanya bagi PKI memungkinkan kita menafsirkan kesaksian pertama Sjam di depan Mahmilub dengan kacamata baru. Hasan menegaskan banyak pernyataan Sjam di dalam kesaksian itu: Biro Chusus memelihara kontak dengan para perwira, semata-mata bekerja di bawah arahan Aidit, tidak bertang- gung jawab kepada lembaga-lembaga lain di dalam partai, dikepalai oleh Sjam, dan Sjam setia kepada Aidit. Berdiri sendiri, kesaksian Sjam, seperti juga semua kesaksian di depan sidang-sidang Mahmilub, tidak bisa di- perlakukan sebagai bukti yang sahih. Bisa dibenarkan jika para ilmuwan tidak bertumpu pada versi Sjam dalam melihat peristiwa-peristiwa itu. Tetapi penegasan Hasan atas versi Sjam menawarkan bahwa Sjam tidak sekadar menceritakan kisah-kisah bualan belaka. Cerita Iskandar Subekti tentang G-30-S juga membenarkan banyak klaim Sjam di dalam kesaksi- annya. Tentu saja, tidak semua klaim Sjam harus dianggap benar – Hasan menyangkal beberapa di antaranya. Saya menyertakan sebagian besar kesaksian Sjam sebagai lampiran 2 agar para pembaca dapat mempelajari sendiri klaim-klaim Sjam setepatnya (dibandingkan dengan yang sudah disaring melalui propaganda rezim Suharto).

CATATAN

1 Kesaksian Sjam, transkrip Mahmilub, persidangan Sudisman, 7 Juli 1967. Pono (kependekan untuk Supono) memberi kesaksian serupa bahwa Biro Chusus dibentuk pada 1963-1964 (transkrip Mahmilub, persidangan Supono (Pono), sidang ketiga, Januari 1972).

2  Partai Komunis melancarkan pemberontakan antikolonial pada 1926-27. Pemerintah kolonial Belanda menindas pemberontakan, kemudian menangkap ribuan orang komunis dan nasionalis, dan mengasingkan mereka ke Boven Digul, kamp pengasingan di pulau yang sekarang bernama Papua Barat.

3  Semua kutipan dan informasi yang diperoleh dari Hasan dalam bab ini diambil dari rekaman wawancara saya dengannya.

4 Wawancara dengan Sucipto dan Sukrisno. Nama tersebut belakangan nama samaran.

5 Siauw Giok Tjhan, “Berbagai Catatan,” 9.

6 Wawancara dengan Oey Hay Djoen.

7 Iskandar Subekti, “Kata Pendahuluan,” 2.

8  Menurut seorang mantan kolonel Angkatan Darat, Muhammad Sidik Kardi, Partai Sosialis Indonesia (PSI) mulai menyusun jaringan formalnya sendiri di kalangan perwira ABRI sesudah kegagalan partai dalam pemilu 1955. Strategi partai ialah meninggalkan keanggotaan massa dan sebagai gantinya membangun partai kader yang berpendidikan baik untuk ditempatkan di tingkat atas pemerintahan dan militer. Seorang perwira yang dikenal luas sebagai partisan PSI ialah Kolonel Suwarto, wakil direktur pusat pendidikan Angkatan Darat di Bandung, Seskoad, (wawancara dengan Kardi). I Ketut Reti, tokoh terkemuka PSI di Denpasar, membenarkan, PSI mempunyai Biro Chusus versinya sendiri

(wawancara dengan I Ketut Reti).

9 Lev, Transition to Guided Democracy, 5.

10 Siauw Giok Tjhan, “Berbagai Catatan,” 9.

11  Semua referensi pada keterangan Sukrisno dalam alinea-alinea berikut berasal dari wawancara saya dengannya di Jakarta pada 14 Juli 2005 yang tak direkam. Sukrisno nama samaran.

12 Tentang Sjam sebagai anggota Pemuda Pathuk, lihat Elson, Suharto, 13, 317n3. Tentang Pemuda Pathuk sendiri dan salah seorang pimpinannya, Djohan Sjahroezah, lihat Legge, Intellectuals and Nationalism, 60-66, 126-29, dan Moehammad, Memoar Seorang Sosialis, 348-57.

13 Wawancara dengan Ibu Oemiyah.

14 Benedict Anderson kepada penulis, 3 Januari 2002.

15 Sukrisno mengingat pernah bertemu dengan atau mendengar tentang tokoh-tokoh CPN lain yang lebih terkenal, yang kembali ke Indonesia: Suripno, Setiadjit, dan Abdulmadjid Djojoadiningrat. Tentang tokoh-tokoh ini lebih lanjut, lihat Soerjono “On Musso’s Return” [Tentang Kembalinya Musso].

16 Sekurang-kurangnya empat dari lima orang itu menjadi tokoh terkemuka partai. Pada 1965 Munir adalah anggota Politbiro PKI, Hartoyo pimpinan BTI, Sukrisno mengajar pada salah satu sekolah partai, dan Sjam tentu saja memimpin Biro Chusus.

17 Almarhum Jacques Leclerc, seorang pakar tentang sejarah kiri Indonesia, berpendapat bahwa pemunculan Aidit dan Lukman dari bawah tanah di Jakarta ditampilkan seakan-akan mereka kembali dari Tiongkok dan Vietnam (Leclerc, “Aidit dan Partai Pada Tahun 1950,” 64). Juga Siauw Giok Tjhan, “Berbagai Catatan,” 8.

18  Kesaksian Supardjo, transkrip Mahmilub, persidangan Supardjo, sidang kedua, 25

Februari 1967, 3-4.

19 Buku putih rezim Suharto pada 1994 benar setidak-tidaknya dalam hal identitas lima orang dalam Biro Chusus Pusat (State Secretariat of the Republic of Indonesia, September 30th Movement, 39-40).

20 Wawancara dengan Aleida.

21 Wawancara dengan Sucipto.

22 Wawancara dengan Rusyana. Rusyana nama samaran mantan anggota pimpinan PKI

provinsi Jawa Barat.

23 Sukrisno membenarkan bahwa Sjam mengawini perempuan Sunda pada 1951 dan bahwa

ia meninggal karena sakit sebelum 1965 (wawancara dengan Sukrisno).

24 Transkrip Mahmilub, peradilan Sudisman, kesaksian Sjam, 8 Juli 1967.

25 Iskandar Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 10.

26  Mungkin saja Parman tahu tentang Sjam, tapi ia tidak menerima informasi intelijen yang memadai tentang kegiatannya. Mungkin agen-agen Parman tidak kompeten, atau mungkin juga mereka terlibat dalam G-30-S. Mungkin juga Suharto berjanji kepadanya, ia dan agen-agen Kostrad akan terus mengawasi Sjam dan akan selalu memberi informasi kepadanya. Ada berbagai kemungkinan.

27 Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 237.

28  Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta juga menerima banyak laporan. Seorang mantan pejabat kedutaan besar ini, Frances Galbraith, mengatakan, “Hampir setiap hari kami mendengar desas-desus dan menerima laporan tentang akan adanya semacam kup, dan ini menjadi semacam banjir sehingga sangat sulit untuk memisahkan kebenaran dari fiksi, dan sebagian besar daripadanya memang fiksi.” (Dikutip dalam Brands, “Limits of Manipulation,” 801).

29 Dalam analisis globalnya tentang kudeta Edward Luttwack menyatakan, bahwa persiapan para komplotan kup (mengontak calon-calon potensial, penyelenggaraan rapat-rapat, dan lain-lain) menghasilkan informasi intelijen bagi lawan-lawan mereka. Tapi pengorganisasian pra-kup juga menghasilkan “sejumlah ‘kegaduhan’ yang sama atau lebih besar.” Lawan menjadi sulit untuk memisahkan data yang akurat dan andal dari yang menyesatkan atau palsu (kegaduhan); mereka tidak selalu bisa “mengenali sifat ancaman, karena kemampuan mereka memroses informasi bukannya tidak ada batasnya” (Luttwak, Coup d’Etat, 157).

30  Penulis-penulis yang melukiskan Sjam sebagai agen intelijen Angkatan Darat yang menyusupi PKI biasanya menunjuk kartu identitas militer ini sebagai bukti. Tapi kartu ini sendiri tidak membuktikan apa pun. Pemilikan kartu semacam ini bisa juga berarti bahwa ia seorang loyalis PKI yang disusupkan ke dalam tubuh militer.

31 Transkrip Mahmilub, sidang pengadilan Sudisman, kesaksian Sjam, 8 Juli 1967.

32 Tentang tuduhan Chairul Saleh terhadap Aidit, lihat Mortimer, Indonesian Communism under Sukarno, 377.

33 Van Dijk, Rebellion under the Banner of Islam, 124-125.

34 Saya bertemu seorang mantan simpatisan PKI di Tasikmalaya yang teringat ketika pada suatu malam  pemberontak-pemberontak DI/TII turun dari persembunyian mereka di gunung-gunung, memasuki peluaran kota, membakar rumah simpatisan itu, dan membunuh ayahnya. Sebagai anak piatu belasan tahun, ia dengan bersemangat ikut dalam operasi “pagar betis” (wawancara dengan Haryatna; Haryatna, nama samaran).

35 Feith, Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, 529-531.

36 Wawancara dengan Bismar. Almarhum Bismar hidup dalam pengasingan sejak 1965, mula-mula di Tiongkok dan kemudian di Jerman. Menurut ingatan Joesoef Isak, teman dekat Bismar, sebelum 1965 Bismar sudah mengenal Latief (wawancara dengan Joesoef Isak).

37 Pendapat mantan direktur badan intelijen BPI (Badan Pusat Intelijen) Brigadir Jenderal (Polisi) Soetarto, barangkali bisa dianggap mewakili pandangan kebanyakan pejabat pro- Sukarno. Di sidang Mahmilub untuknya pada 1973 ia mengakui mempunyai rasa hormat yang tinggi terhadap PKI. Mungkin ia yakin ia akan dijatuhi hukuman mati (dan memang benar) dan oleh karenanya ia tidak merasa perlu terlalu berhati-hati, “Saya melihat di dalam perjuangan Partai Komunis Indonesia, di dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, dan juga menurut pandangan saya di dalam nilai-nilai ketekunan, nilai-nilai tidak mementing- kan diri sendiri, pengorbanan untuk kepentingan umum, untuk kepentingan partai. Lalu antara lain yang saya terangkan misalnya kendaraan-kendaraan untuk anggota DPR atau sebagian dari anggota PKI, itu tidak diberikan kepada orang yang bersangkutan, tapi dipool lalu Partai menentukan siapa yang boleh pakai.” (Transkrip Mahmilub, persidangan R. Soegeng Soetarto, sidang ke-3, 1973, 98-99). Soetarto, yang bekerja di bawah Waperdam I Soebandrio, merupakan bête noire (dari Prancis secara harfiah berarti ‘bangsat hitam,’ dalam konteks ini berarti orang yang sangat dibenci) bagi klik Suharto. Soetarto ditangkap pada 1966.

38 Manai Sophiaan menyatakan bahwa Sjam mendapat latihan militer di Tiongkok pada 1950-an. Sophiaan mendasarkan pendapatnya pada sumber-sumber anonim PKI (Sophiaan, Kehormatan Bagi Yang Berhak, 73). Dalam hal ini saya memercayai Hasan karena ia sendiri pernah di Tiongkok dan mengenal Sjam dengan baik.

39 Iskandar Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 15.

40  Heru Atmodjo teringat bagaimana Supardjo terkesan oleh cerita yang didengarnya tentang kemampuan fisik tentara gerilya Mao semasa perang dalam tahun-tahun pra-1949 di Tiongkok. Para gerilyawan tersebut dilatih untuk berlari sehari penuh tanpa berhenti. Ini memungkinkan mereka mengecoh pasukan musuh yang tidak memperhitungkan bahwa para gerilyawan mampu berpindah posisi dengan begitu cepat. Dengan mencamkan cerita ini di batinnya Supardjo membujuk teman-temannya sesama tahanan di Cimahi – Atmodjo, Untung, dan beberapa lagi yang lain – untuk lari-lari mengelilingi halaman dalam penjara dan berangsur-angsur membangun daya tahan fisik mereka. Ia belajar dari tuan rumahnya. di Tiongkok bahwa jika orang mampu berlari dengan langkah-langkah ajek selama empat puluh menit tanpa henti, ia akan mampu berlari sepanjang hari. Karena itu para tahanan ini lalu berlatih berlari. Supardjo mempunyai tujuan praktis: ia merencanakan bahwa mereka akan melarikan diri dari penjara dan kemudian berlari sepanjang malam tanpa henti. Dengan demikian mereka akan mampu berada di luar kawasan yang akan menjadi sasaran pencarian penguasa terhadap mereka (wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002).

41 Wawancara dengan Sucipto.

42 Anderson kepada penulis.

43 Dalam kesaksiannya pada Juli 1967 Sjam menyebut “Kolonel Sidik” sebagai “perwira progresif,” yang biasa bertemu dengan Biro Chusus. Pada waktu itu Kolonel Muhammad Sidik Kardi adalah penuntut untuk Mahmilub. Ia ditangkap hanya beberapa pekan kemudian, pada Agustus 1967, dan dipenjarakan selama dua belas tahun. Saya kebetulan mewawancarai Kolonel Sidik pada 2000 sebelum saya membaca kesaksian Sjam. Sidik menganggap bahwa ia ditahan karena ia menolak bekerja sama dalam usaha menuntut Presiden Sukarno. Sidik tidak menyebut tuduhan Sjam (wawancara dengan Kardi). Namun, kesaksian Sjam tentu merupakan faktor di balik penahanannya. Sayang Sidik meninggal sebelum saya bisa mewawancarainya lagi.

44 Iskandar  Subekti, “Kata Pendahuluan,” 3.

45 Di sidang Mahmilub untuk Pono, Sjam mengatakan bahwa ia sudah diminta sebagai saksi dalam kira-kira sepuluh persidangan (Kesaksian Sjam, transkrip Mahmilub, persidangan Supono (Pono), Januari 1972).

46 Siauw Giok Tjhan, “Berbagai Catatan,” 9.

47 Saya mengetahui tentang pengkhianatan Pradigdo dan Pardede sudah terlebih dahulu. Informasi yang diungkapkan Pradigdo mengakibatkan banyak pimpinan dan anggota partai ditangkap. Tentang Suwarto, Kusnan, dan Komalasakti lihat Siauw Giok Tjhan, “Berbagai Catatan,” 9, 15-16. Orang-orang ini menjadi interogator dan penyiksa untuk kepentingan tentara. Martin Aleida mengatakan bahwa Komalasakti menjadi pembantu tentara di Jakarta untuk mengejar bekas kawan-kawannya sendiri (wawancara dengan Aleida). Cerita yang tidak menyenangkan tentang Komalasakti juga terdapat dalam karangan otobiografi Munadi, mantan tapol juga, “Yang Tak Terlupakan,” 5-6.

Iklan