Kesemrawutan Fakta-Fakta

Jika ada bagian sejarah yang dicat kelabu di atas kelabu, inilah bagian itu. Orang-orang dan kejadian-kejadian tampak seperti kebalikan si Schlemihl, seperti bayang-bayang yang kehilangan tubuh.1 Karl Marx, The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852)

.

.

PAGI HARI 1 OKTOBER

.

Gerakan 30 September menyatakan keberadaan dirinya untuk pertama kali melalui siaran RRI pusat pada pagi hari 1 Oktober 1965. Pasukan-pasukan yang setia kepada G-30-S menduduki stasiun pusat RRI dan memaksa sang penyiar membacakan sebuah dokumen terketik untuk siaran pagi itu. Mereka yang memasang radio sekitar pukul 7.15 menangkap pengumuman selama sepuluh menit yang terdengar seperti warta berita biasa saja. Para penggerak G-30-S menulis pernyataan mereka tidak dalam gaya bicara orang pertama, tetapi orang ketiga, seakan-akan seorang wartawan yang menyusun pernya- taan tersebut. Siaran itu dua kali menyebutkan “menurut keterangan yang didapat dari Letnan Kolonel Untung, Komandan Gerakan 30 September,” sehingga memberi kesan bahwa berita radio itu mengutip dari dokumen lain. Suara mengelabui dari orang ketiga ini memberi suasana berita yang menentramkan. Seakan-akan para penyiar radio masih bertugas seperti biasa dan tidak ada pasukan bersenjata menyerbu masuk dan menyela siaran yang sedang berlangsung. Dengan demikian pernyataan pertama G-30-S tidak tampak disampaikan oleh gerakan itu sendiri, tapi justru oleh bagian berita stasiun RRI. Ini merupakan awal dari serangkaian panjang ketidaksesuaian antara apa yang tampak dan apa yang nyata.2

Satu-satunya anggota G-30-S yang namanya diumumkan dalam pernyataan pertama itu ialah Letnan Kolonel Untung. Ia menyatakan diri sebagai komandan batalyon pasukan kawal presiden yang bermaksud mencegah “kup kontra-revolusioner” oleh sebuah kelompok yang dikenal sebagai Dewan Jenderal. Jenderal-jenderal tak bernama ini “bermaksud jahat terhadap Republik Indonesia dan Presiden Sukarno” dan berencana “mengadakan pameran kekuatan (machtsvertoon) pada hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober.” Bertindak menentang para perwira atasan mereka, pasukan-pasukan di dalam G-30-S tampaknya didorong oleh kesetiaan mereka yang lebih tinggi, yaitu kepada Presiden Sukarno, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.

.

Berita itu menyatakan bahwa G-30-S telah menahan “sejumlah jenderal” dan akan segera mengambil langkah lebih lanjut. Direncana- kan akan ada “tindakan-tindakan di seluruh Indonesia yang ditujukan kepada kaki tangan dan simpatisan-simpatisan Dewan Jenderal.” Siapa saja yang akan melaksanakan aksi-aksi itu tidak disebutkan. Suatu badan bernama “Dewan Revolusi Indonesia” akan dibentuk di Jakarta dan akan bertindak sebagai semacam kekuasaan eksekutif. Semua “partai-partai, ormas-ormas, surat kabar-surat kabar dan majalah-majalah” harus “me- nyatakan kesetiaannya” kepada Dewan Revolusi Indonesia jika mereka ingin mendapat ijin untuk terus bekerja. Dewan-dewan revolusi di tingkat lebih rendah akan dibentuk di setiap jenjang administrasi pemerintahan, mulai dari provinsi sampai ke desa. Pengumuman ini menjanjikan bahwa rincian tentang Dewan Revolusi akan disiarkan melalui surat keputusan berikutnya.

.

Selain mengambil alih stasiun radio dan memaksa penyiar untuk membacakan  pernyataan  mereka,  pasukan-pasukan  G-30-S  juga menduduki Lapangan Merdeka, yang terletak di depan stasiun RRI.3

.

Di sepanjang empat sisi lapangan rumput yang luas ini berdiri pusat-pusat kekuasaan terpenting negara: istana presiden, markas ABRI, kementerian pertahanan, markas Kostrad, dan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Di

.

Peta 2. Lapangan Merdeka

.

tengah lapangan berdiri monumen perjuangan kemerdekaan, Monumen Nasional, setinggi 137 meter. Apabila bentangan kepulauan Indonesia memiliki locus kekuasaan politik, Lapangan Merdeka inilah tempatnya. Sebagian besar dari sekitar seribu prajurit yang berada di lapangan ini berasal dari dua batalyon Angkatan Darat: Batalyon 454 dari Jawa Tengah dan Batalyon 530 dari Jawa Timur. Pasukan-pasukan ini ditempatkan

di sisi utara lapangan di depan istana, di sisi barat di depan RRI, dan di sisi selatan dekat gedung telekomunikasi yang juga mereka duduki dan mereka tutup. Jaringan telefon di Jakarta mereka putus.

.

Dengan mengambil posisi di lapangan pusat ini, satu bagian dari pasukan G-30-S membuat dirinya tertampak. Yang lebih tersembunyi adalah kesatuan lain yang beroperasi dari Lubang Buaya, kawasan kebun karet tak berpenghuni sekitar tujuh mil di selatan Lapangan Merdeka. Pada  saat  siaran  radio  yang  pertama  mengudara  pasukan-pasukan ini sudah melaksanakan tugas mereka di balik selubung kegelapan. Mereka berkumpul di Lubang Buaya sepanjang 30 September malam dan mendapat perintah untuk menculik tujuh jenderal yang diduga anggota Dewan Jenderal. Pasukan dibagi menjadi tujuh kelompok, dan setiap kelompok diperintahkan untuk menangkap seorang jenderal dari rumahnya dan membawanya ke Lubang Buaya. Berbagai kelompok ini naik truk sekitar pukul 3.15 pagi buta dan menderum menuju pusat kota yang berjarak waktu tiga puluh sampai empat puluh lima menit. Sebagian besar kelompok menuju daerah Menteng, tempat kediaman banyak pejabat tinggi pemerintah. Sasaran mereka ialah Jenderal A.H. Nasution, Menteri Pertahanan, Letnan Jenderal Achmad Yani, Panglima Angkatan Darat, lima Staf Umum Angkatan Darat: Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono, Mayor Jenderal R. Suprapto, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo, dan Brigadir Jenderal Donald Ishak Pandjaitan.

.

Tabel 1. Staf Umum Angkatan Darat sampai 1 Oktober 1965

Panglima Angkatan Darat

Letjen Yani

Deputi

1. Mayjen Mursid

2. Mayjen Suprapto

3. Mayjen Harjono

Oditur Jenderal

1. Brigjen Soetojo

Asisten

1. Mayjen Parman

2. Mayjen Ginting

3. Mayjen Pranoto

4. Brigjen Pandjaitan

5. Mayjen Sokowati

6. Brigjen Sudjono

7. Brigjen Alamsjah

Sumber: Notosusanto and Saleh, The Coup Attempt, appendix B.

Catatan: Nama-nama jenderal dalam kursif ialah mereka yang diculik dan dibunuh oleh G-30-S.

.

Pasukan-pasukan bergerak melalui jalan-jalan sunyi dan singgah di rumah-rumah yang sudah terlelap. Enam kelompok berhasil menangkap sasaran mereka dan segera kembali ke Lubang Buaya. Kelompok ketujuh, yang ditugasi menangkap sasaran paling penting, Jenderal Nasution, kembali dengan ajudannya saja. Di tengah kekalutan penggerebekan, pasukan menembak anak perempuan Nasution yang berumur lima tahun dan seorang prajurit kawal yang berada di depan rumah sebe- lahnya, yaitu rumah Wakil Perdana Menteri II (Waperdam II) Johannes Leimena. Nasution berhasil melompati tembok belakang kediamannya dan bersembunyi di rumah tetangga, yaitu Duta Besar Irak. Walaupun terjadi kegemparan di Menteng akibat bunyi tembak-menembak, tujuh kelompok penculik berhasil dengan cepat kembali ke Lubang Buaya tanpa dikenali atau dikejar. Sampai selambat-lambatnya sekitar pukul 5.30 pagi G-30-S telah menahan enam orang jenderal dan satu orang letnan di suatu sudut terpencil dan kurang dikenal di kota Jakarta.4

.

Sementara itu pimpinan G-30-S berkumpul di pangkalan AURI

di Halim tepat di sebelah utara Lubang Buaya. Seorang kurir datang memberi tahu mereka bahwa perwira-perwira yang diculik telah tiba. Dengan selesainya operasi penculikan pimpinan G-30-S mengutus tiga perwira mereka – Brigjen M.A. Supardjo, Kapten Sukirno dari Batalyon 454, dan Mayor Bambang Supeno dari Batalyon 530 – ke istana untuk menghadap Presiden Sukarno. Supardjo, komandan pasukan tempur di Kalimantan, di sepanjang perbatasan dengan Malaysia, telah tiba di Jakarta tiga hari sebelumnya (28 September 1965). Sukirno dan Supeno memimpin batalyon-batalyon yang ditempatkan di Lapangan Merdeka. Sekitar pukul 6 pagi trio perwira itu, dengan berkendaraan jip melaju ke arah utara, menuju istana presiden. Bersama mereka ada dua personil lain, seorang perwira AURI, Letnan Kolonel Heru Atmodjo, dan seorang prajurit yang bertugas sebagai pengemudi jip.

.

Ketika Supardjo dan rekan-rekannya tiba di istana, para pengawal di pintu masuk memberi tahu bahwa Presiden Sukarno tidak ada di istana. Tidak jelas apa kiranya yang akan dilakukan ketiga perwira itu andaikata presiden ada.5  Pada sidang pengadilannya tahun 1967 Supardjo menyatakan ia bermaksud memberi tahu Sukarno tentang G-30-S dan meminta kepadanya agar mengambil tindakan terhadap Dewan Jenderal.6 Barangkali rencana G-30-S adalah membawa jenderal- jenderal yang diculik ke istana dan meminta presiden agar mengesahkan penahanan terhadap mereka, serta memerintahkan pengadilan terhadap mereka atas tindakan makar. Atau G-30-S mungkin hendak membawa Sukarno ke Halim untuk bertemu dengan jenderal-jenderal itu di sana. Dalam pemberitaan pertama mereka, yang disiarkan pada sekitar pukul 7.15 pagi, G-30-S menyatakan bahwa Presiden Sukarno “selamat dalam lindungan Gerakan 30 September.” Agaknya G-30-S berniat memberikan perlindungan terhadap presiden entah di istana atau di Halim.

.

Sementara Supardjo bersama dua komandan batalyon sedang menunggunya, Sukarno dibawa kembali ke istana dari rumah isteri ketiganya, Dewi, tempat ia bermalam.7  Pejabat komandan pasukan kawal istana, Kolonel H. Maulwi Saelan, melalui radio menghubungi pasukan kawal Sukarno dan meminta agar mereka menjauhi istana karena banyak pasukan tak dikenal yang ditempatkan di depan istana. Saelan mengirim pesan radio dari rumah isteri keempat Sukarno, Harjati, di kawasan Grogol. Sejak pagi ia telah pergi ke rumah Harjati untuk mencari Sukarno. Atas saran Saelan presiden dan para pengawalnya langsung menuju rumah Harjati. Mereka tiba di sana sekitar pukul 7.00 pagi.8

.

Ketidakmampuan  G-30-S  menempatkan  Sukarno  “di  bawah perlindungannya” terasa aneh, mengingat bahwa tugas dari orang yang dianggap sebagai komandan G-30-S, Letkol Untung, ialah mengetahui tempat presiden berada. Untung memimpin satu batalyon pengawal istana. Pada 30 September malam ia menjadi bagian dari kelompok keamanan Sukarno ketika ia berbicara di depan Konfernas Ahli Teknik di stadion Senayan Jakarta sampai sekitar pukul 23.00. Bahkan ketika Untung sudah pindah ke Pangkalan Udara Halim sesudah konfernas usai, seharusnya ia dengan mudah selalu dapat melacak keberadaan Sukarno dengan menghubungi perwira-perwira lain dalam pasukan kawal istana. Tugas menjaga istana di waktu malam bergilir di antara empat satuan kawal; masing-masing dari empat angkatan – Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian

.

– mempunyai satu detasemen yang diperbantukan untuk istana. Pada malam itu giliran jatuh pada satuan dari Angkatan Darat, yaitu Untung dan anak buahnya. Mereka seharusnya sudah mengetahui pada sekitar tengah malam bahwa presiden tidak bermalam di istana. Untung, seperti juga Saelan, dari pengalaman tentu sudah mengetahui bahwa presiden sering tidur di rumah para isterinya. Dengan pengetahuan bersama dari sekitar enam puluh orang prajurit pengawal presiden yang ada di dalam G-30-S, bagaimana mungkin Untung tidak dapat melacak keberadaaan Sukarno? Ini merupakan keganjilan yang jarang mendapat perhatian: seorang perwira tinggi dalam pasukan kawal presiden, memimpin aksi untuk menyelamatkan presiden, tidak mengetahui lokasi sang presiden, padahal pengetahuan tentangnya merupakan unsur yang sangat penting dalam seluruh rencana.9 Dengan demikian G-30-S bekerja dengan tujuan yang saling berselisih: sekitar pukul 4.00 pagi G-30-S menempatkan pasukan di depan istana yang kosong, membuat Sukarno menjauhi istana, sehingga mengakhiri harapan bahwa misi Supardjo akan berhasil.

.

Supardjo dan dua orang komandan batalyon hilir mudik di pintu masuk istana. Mereka tidak memiliki sarana untuk mengontak pimpinan inti G-30-S di Halim dan memberi tahu mereka tentang tidak adanya Sukarno di istana. Mereka hanya menunggu. Sementara itu perwira AURI yang bersama mereka dalam satu jip dari Halim, Letkol Heru Atmodjo,  memutuskan  pergi  mencari  Panglima  Angkatan  Udara, Laksamana Madya Omar Dani. Letak Markas Besar AURI tidak jauh dari istana. Atmodjo menuju ke sana mengendarai jip dan tampaknya sudah tiba di sana sebelum pukul 7.15 karena ia ingat ia mendengar pengumuman pertama G-30-S melalui radio yang ada di Mabes AURI. Sesama rekan-rekan perwira di mabes menyampaikan kepadanya bahwa Omar Dani berada di pangkalan udara Halim. Kemudian Atmodjo kembali dengan jip menuju Halim, dan menemukan Dani di kantor utama. Atmodjo tiba antara pukul 8.00 dan 8.30, dan ia melaporkan apa yang baru saja disaksikannya: Supardjo pergi ke istana tetapi gagal bertemu presiden.10

.

Tidak lama sebelum Atmodjo bertemu dengannya, Dani menerima telefon dari salah seorang anggota staf Sukarno, Letnan Kolonel Suparto, yang mengatakan Sukarno akan segera meninggalkan rumah Harjati menuju pangkalan AURI Halim.11 Pesawat terbang kepresidenan selalu disiapkan di pangkalan udara sewaktu-waktu presiden perlu segera me- ninggalkan ibu kota. Pada saat-saat serba tak menentu itu Sukarno merasa yang terbaik adalah berada dekat dengan pesawat. Seperti ditegaskan Sukarno dalam pernyataan-pernyataan publiknya di belakang hari, ia pergi ke Halim atas prakarsa sendiri, sebagai prosedur operasi baku dalam keadaan krisis, tanpa berhubungan sama sekali dengan G-30-S sebe- lumnya. Ketika ia dan para ajudannya memutuskan Halim merupakan tempat yang paling aman, mereka tidak mengetahui bahwa pimpinan G-30-S berkubu di sana.12

.

Ketika  Omar  Dani  mendengar  Sukarno  akan  tiba  di  Halim, Laksamana Madya itu memerintahkan Atmodjo menggunakan helikop- ter AURI untuk segera menjemput Supardjo dari istana. Dani bermaksud memastikan bahwa wakil pasukan pemberontak ini mempunyai kesem- patan berbicara dengan presiden. Atmodjo kembali ke Halim dengan membawa Supardjo pada sekitar pukul 9.00 pagi dan mengantarkannya ke kantor utama pangkalan udara. Di sana Supardjo bercakap-cakap dengan Dani, sementara Atmodjo menunggu di luar kantor. Sesudah dua tokoh itu keluar dari kantor, Atmodjo membawa Supardjo dengan mobil ke kediaman Sersan Anis Sujatno, masih di daerah pangkalan udara, yang digunakan sebagai tempat persembunyian G-30-S. Supardjo mengetahui jalan ke arah rumah itu. Atmodjo menyatakan belum pernah mengetahui letak rumah itu sebelumnya. Dengan mengendarai jip mereka menyusuri jalan berliku-liku area pangkalan udara sampai akhirnya menemukan rumah tempat para pimpinan inti G-30-S berkumpul. Tidak lama kemudian Atmodjo mengantar Supardjo, dengan kendaraan jip itu pula, kembali ke kantor komandan pangkalan udara. Di sinilah akhirnya Supardjo dapat bertemu Sukarno, yang sementara itu telah tiba. Sukarno tampaknya tiba di Halim antara sekitar pukul 9.00 dan 9.30 pagi.13

.

Pada saat Supardjo bertemu muka dengan Sukarno di kantor komandan Halim, sekitar pukul 10.00 pagi, keenam jenderal Angkatan Darat yang diculik mungkin sudah dibunuh. Supardjo barangkali sudah mengetahui perihal ini dari pembicaraan yang baru saja dilakukannya dengan para pimpinan inti G-30-S. Sukarno semestinya sudah curiga bahwa setidak-tidaknya ada beberapa di antara enam jenderal itu yang dibunuh. Berita yang beredar dari mulut ke mulut mengatakan, dua jenderal, Yani dan Pandjaitan, kemungkinan sudah tewas. Tetangga mereka mendengar bunyi tembak-menembak dan kemudian mendapati darah di lantai rumah mereka. Kemungkinan besar Yani dan Pandjaitan tewas seketika di rumah mereka akibat luka-luka tembak. Jenderal lainnya, Harjono, mungkin juga sudah tewas di rumahnya oleh luka tusukan dalam di perut akibat hunjaman bayonet para penculik. Tiga jenderal lainnya (Parman, Suprapto, dan Soetojo) dan letnan yang salah ambil dari rumah Nasution (Pierre Tendean) masih hidup ketika diculik, tetapi dibunuh. di Lubang Buaya. Sekelompok pasukan G-30-S menembak masing-masing perwira berkali-kali. Untuk menyembunyikan para korban dan menghilangkan jejak mereka, pasukan melemparkan ketujuh jenazah itu ke dalam sumur sedalam tiga puluh enam kaki dan kemudian menguruk sumur itu dengan bebatuan, tanah, dan dedaunan.14 Siapa tepatnya yang membunuh para perwira itu masih belum diketahui. Penuturan rezim Suharto – bahwa ketujuh perwira itu disiksa dan disayat-sayat oleh massa pendukung PKI yang kegirangan, sementara perempuan-perempuan dari Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) menari-nari telanjang – merupakan rekayasa absurd bikinan para ahli perang urat syaraf.

.

Secara keseluruhan, para peserta G-30-S melakukan empat operasi di Jakarta pada pagi hari itu. Mereka merebut stasiun RRI dan menyiarkan pernyataan pertama mereka; menduduki Lapangan Merdeka, termasuk gedung telekomunikasi; secara terselubung menculik dan membunuh enam orang jenderal dan satu orang letnan; dan mengirim tiga perwira mereka ke istana presiden, seorang di antara mereka Brigadir Jenderal Supardjo, berhasil menemui presiden di pangkalan AURI Halim.

.

.

KOMPOSISI PASUKAN

.

Pimpinan G-30-S terdiri dari lima orang. Tiga orang perwira militer: Letkol Untung dari pasukan kawal kepresidenan, Kolonel Abdul Latief dari garnisun Angkatan Darat Jakarta (Kodam Jaya), dan Mayor Soejono dari penjaga pangkalan udara Halim. Dua orang sipil yaitu Sjam dan Pono, dari organisasi klandestin, Biro Chusus, yang dipimpin oleh ketua Partai Komunis Indonesia, D.N. Aidit. Lima orang ini telah berkali-kali bertemu selama beberapa pekan sebelumnya dan mendiskusikan rencana operasi mereka.15

.

Umur mereka berkisar dari akhir tiga puluhan sampai tengah empat puluhan. Untung bertubuh pendek kekar dan berleher gemuk, mem- perlihatkan stereotip seorang prajurit. Ia sempat terkenal sejenak, ketika pada 1962 ia memimpin pasukan gerilya menyerang pasukan Belanda di Papua Barat. Dari operasi itu ia mendapat anugerah bintang, kenaikan pangkat dari mayor menjadi letkol, dan nama baik karena keberaniannya. Rekan komplotannya yang sedikit lebih muda tapi berpangkat lebih tinggi, Latief, mempunyai karir kemiliteran yang terhormat sejak menjadi pemuda pejuang melawan tentara Belanda di Jawa Tengah. Sesudah lulus kursus-kursus latihan keperwiraan dan membuktikan dirinya di pertempuran, Latief memperoleh kedudukan yang strategis: komandan seluruh brigade pasukan infanteri (dengan sekitar dua ribu anak buah) di ibu kota. Ia tampil dengan sikap percaya diri dan wibawa seorang kolonel yang sadar mengenai perlunya penghormatan dari anak buahnya. Di pangkalan udara Halim pada 1 Oktober 1965 Untung dan Latief diterima di rumah Mayor Soejono, komandan pasukan AURI di pangkalan udara Halim. Berperawakan kurus berotot dan peka hati, Soejono mengelu- arkan perintah-perintah tegas kepada anak buahnya selagi ia mengatur tempat persembunyian, makan, dan jip-jip untuk kendaraan pimpinan

.

G-30-S. Sjam dan Pono, sebagai orang sipil, menjadi sosok-sosok aneh di pangkalan udara itu. Sjam, yang ketika muda dikenal bernama Ka- maruzaman, adalah keturunan pedagang Arab yang bermukim di daerah pantura Jawa. Pono juga berasal dari kawasan pantura Jawa, tapi berkakek moyang orang Jawa, seperti ditunjukkan oleh nama lengkapnya, Supono Marsudidjojo. Atmodjo teringat, saat pertama kali bertemu kedua lelaki itu di Halim pada hari naas tersebut, seketika itu juga ia menduga bahwa mereka bukan tentara: sosok mereka melentok tak tegap, mereka meng- angkat kaki di kursi, dan merokok tak berkeputusan. Mereka kurang latihan jasmani dan disiplin militer.16  Namun dua lelaki ini memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam berhubungan dengan personil militer secara rahasia dan menyembunyikan jati diri mereka.

.

Pada pagi 1 Oktober, sejak sekitar pukul 2.00 lewat tengah malam, lima orang pimpinan gerakan ini duduk bersama di sebuah gedung yang tak jauh dari sudut barat laut Halim. Gedung ini adalah kantor divisi pengamat udara AURI, Penas (Pemetaan Nasional). Demi alasan-alasan yang tidak pernah dijelaskan, sekitar pukul 9.00 pagi, kelima tokoh tersebut pindah dari tempat persembunyian di gedung Penas ke rumah kecil Sersan Sujatno, yang terletak di kompleks kediaman di Halim. Inilah rumah yang dituju Supardjo sekembalinya dari misi yang gagal, yaitu menemui Presiden Sukarno di istana. Lima tokoh tersebut tinggal di rumah ini sepanjang siang dan malam 1 Oktober 1965. Walaupun Untung pada siaran RRI pagi itu dikenal sebagai pimpinan G-30-S, ia menghabiskan sepanjang hari itu tanpa menampakkan diri di depan umum, bahkan juga tidak di hadapan pasukannya sendiri. Pada kenyata-

.

Peta 3. Pangkalan Angkatan Udara di Halim dan Lubang Buaya.

Sumber: Berdasarkan peta dalam Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 314-315.

annya memang para pimpinan G-30-S tidak mempunyai sarana untuk berkomunikasi dengan pasukan mereka di Lubang Buaya dan Lapangan Merdeka selain melalui kurir pribadi. Mereka tidak mempunyai peralatan walkie-talkie atau pesawat radio dua arah. Gerakan 30 September sendiri telah memutus jaringan telefon pada saat pasukannya menduduki gedung telekomunikasi. (Namun seandainya jaringan telefon berfungsi pun, rumah sersan yang sederhana di pangkalan udara itu barangkali tidak memiliki saluran telefon). Supardjo yang ulang-alik dengan jip antara tempat persembunyian dan kantor komandan Halim membuktikan ketiadaan peralatan komunikasi di antara para pimpinan G-30-S.

.

Pimpinan G-30-S sepanjang hari itu berhubungan dengan ketua PKI D.N. Aidit, yang juga hadir di pangkalan AURI di Halim. Aidit tinggal di rumah yang berbeda dalam kompleks perumahan lain di pangkalan. Yang mendampinginya adalah pembantu pribadinya bernama Kusno; salah seorang pimpinan PKI, Iskandar Subekti; dan seorang anggota Biro Chusus, Bono (yang juga dikenal dengan nama Walujo).17 Lima pimpinan inti G-30-S ada di satu tempat persembunyian (di rumah Sujatno), sedangkan Aidit dan sekelompok pembantunya di tempat persembunyian yang lain, yang berjarak kira-kira setengah mil (di rumah Sersan Suwandi). Untuk komunikasi antar mereka kedua kelompok memiliki seorang kurir pribadi yang mengendarai jip untuk mondar-mandir di antara kedua tempat persembunyian sambil membawa dokumen. Terkadang satu atau dua orang pimpinan inti menuju ke tempat persembunyian Aidit dan berbicara langsung dengannya. Atmodjo mengenang bahwa Sjam dan Soejono beberapa kali berkonsultasi dengan Aidit.18

.

Lima pimpinan inti G-30-S sepanjang hari 1 Oktober tinggal di rumah Sersan Sujatno yang tidak mencolok. Sebagai kelompok mereka tidak menampakkan diri di depan Presiden Sukarno, tokoh yang konon hendak mereka lindungi. Supardjo yang menemui presiden atas nama mereka semua. Tidak diketahui dengan jelas mengapa Aidit dan para pembantunya tinggal di rumah yang lain, dan bukan bergabung dengan lima orang dalam kelompok Untung. Mungkin untuk memastikan bahwa seandainya mereka diserang, mereka tidak akan disergap bersama- sama. Atau mungkin juga untuk memastikan bahwa sedikit orang saja yang mengetahui Aidit terlibat dalam kelompok inti perencana gerakan. Atau mungkin juga untuk menjaga, agar kelompok yang satu tidak me- medulikan proses pengambilan keputusan kelompok yang lain. Para organisator G-30-S tentu mempunyai alasan tertentu untuk memisah- kan kediaman dua kelompok dengan jarak setengah mil, walaupun sulit untuk memahami alasan itu sekarang. Komunikasi antar dua kelompok itu seharusnya lebih mudah dan lebih cepat jika mereka semua tinggal di tempat persembunyian yang sama. Bahkan keputusan mereka menga- singkan diri di tengah kawasan perumahan di Halim itu pun masih tetap tidak dapat dimengerti. Barangkali akan lebih masuk akal jika mereka menduduki sebuah pusat komando militer, di tempat mereka dapat memanfaatkan hubungan radio untuk mengoordinasikan satuan-satuan pasukan mereka yang berbeda-beda.

.

Walaupun pimpinan G-30-S berpangkalan di Halim, tidak ada bukti bahwa mereka bekerja dengan orang lain dari AURI selain Mayor Soejono. Semua fasilitas yang mereka gunakan di dalam dan sekitar pangkalan Halim – Penas, Lubang Buaya, dua rumah, senjata AURI, dan truk-truk – agaknya disediakan oleh Soejono sendiri. Komandan Halim, Kolonel Wisnoe Djajengminardo, dan Panglima AURI Laksamana Madya Omar Dani, tampaknya tidak diajak berunding sebelumnya.

.

Menurut Omar Dani dan Heru Atmodjo mereka jadi terbawa-bawa dalam G-30-S bukan sebagai peserta, melainkan sebagai pengamat dari luar. Penuturan kedua orang ini tentang jalannya kejadian demi kejadian saling bersesuaian. Pada 30 September sore Soejono menceritakan kepada Atmodjo, seorang perwira intelijen AURI khusus urusan pengintaian udara, tentang aksi melawan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang anti-Sukarno. Ini merupakan berita bagi Atmodjo, yang selanjutnya melaporkan informasi tersebut kepada Dani pada sekitar pukul 16.00 hari itu. Dani memerintahkannya mencari tahu lebih banyak lagi tentang rencana aksi tersebut dan melaporkan kembali hasil pengamatannya malam itu juga. Sekitar pukul 22.00 Atmodjo kembali ke Markas Besar AURI dan bertemu dengan sekelompok perwira senior Angkatan Udara untuk melaporkan hal-hal apa lagi yang telah didengarnya dari Soejono.19

.

Satu detil penting adalah bahwa Supardjo merupakan peserta aksi. Dani memerintahkan Atmodjo agar mencari Supardjo, yang menjadi bawahan- nya langsung dalam Komando Mandala Siaga yang lazim dikenal sebagai Kolaga, dalam rangka konfrontasi melawan Malaysia.20

.

Supardjo sudah menemui Dani pada 29 September untuk membicarakan soal-soal dalam Kolaga. Boleh jadi ia menceritakan kepada Dani bahwa aksi menentang

Dewan Jenderal sedang direncanakan.

.

Sesuai dengan perintah Dani, Atmodjo mencari Soejono untuk memutuskan bagaimana dia dapat menemukan Supardjo. Soejono memberi tahu Atmodjo agar pergi ke Kantor Pengamat Udara sekitar pukul 5.00 pagi berikutnya. Sesudah Atmodjo tiba di kantor yang dimaksud dan menjelaskan bahwa kedatangannya atas perintah Dani, Supardjo mengajaknya pergi bersamanya ke istana. Tanpa rencana atau koordinasi apa pun, Atmodjo kemudian menemani Supardjo sepanjang hari itu.21 Seandainya pun keterlibatan Atmodjo dalam G-30-S lebih jauh ketimbang yang diakuinya sekarang, sepak terjangnya pada 1 Oktober tampaknya terbatas pada membantu gerak-gerik Supardjo di sekitar kota Jakarta dan pangkalan udara Halim.

.

Sementara baik  Atmodjo maupun Dani tidak dapat dipandang sebagai bagian dari pimpinan G-30-S, mereka (dan sebagian besar perwira senior AURI) bersikap simpatik terhadap G-30-S pada 1 Oktober itu. Atmodjo mengenang bahwa ia bersorak gembira ketika mendengar pengumuman radio yang pertama pada pagi hari itu.22 Ia bersama para perwira rekan-rekannya berpikir bahwa G-30-S merupakan gerakan pembersihan terhadap para perwira sayap kanan Angkatan Darat, yang telah dan sedang menyabot kebijakan-kebijakan Presiden Sukarno. Dani merancang pernyataan publik, “Perintah Harian,” pada pukul 9.30 pagi yang menyambut G-30-S sebagai usaha untuk “mengamankan dan menjelamatkan Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi terhadap subversi CIA.” Agaknya Dani berpikir bahwa G-30-S itu tidak lebih dari sebuah aksi internal Angkatan Darat, yang sepenuhnya masih setia kepada Sukarno.23

.

Pasukan-pasukan yang digunakan dalam operasi pagi hari itu sebagian besar diambil dari satuan-satuan yang dipimpin tiga perwira militer dalam pimpinan inti G-30-S: Untung, Latief, dan Soejono. Dalam personil G-30-S termasuk satu kompi pasukan kawal presiden di bawah pimpinan Untung, dua peleton dari garnisun Angkatan Darat Jakarta di bawah pimpinan Latief, dan satu batalyon pasukan Angkatan Udara di bawah pimpinan Soejono. Selain itu ada sepuluh kompi – masing-masing lima kompi – dari Batalyon 454 dan Batalyon 530. Pasukan-pasukan dari dua batalyon ini sudah tiba di Jakarta beberapa hari sebelumnya untuk berpartisipasi dalam parade Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober. Mereka inilah yang merupakan kelompok utama dari pasukan-pasukan yang menduduki Lapangan Merdeka. Di antara pasukan-pasukan G-30-S juga ada kesatuan-kesatuan kecil dari pasukan para komando di selatan

.

Jakarta dan dari Polisi Militer.24

.

Di samping berbagai pasukan militer tersebut, sekitar dua ribu anggota PKI atau ormas-ormas yang berafiliasi dengan PKI juga ikut serta dalam operasi pagi itu.25 Orang-orang sipil ini sebagian besar adalah anggota Pemuda Rakjat yang telah menerima latihan singkat kemiliteran di pangkalan udara Halim selama beberapa pekan dalam bulan-bulan sebelumnya. Adalah Mayor Soejono yang mengatur penyelenggaraan latihan-latihan ini. Para pemuda sipil ini disebar dalam pasukan-pasukan yang menculik para jenderal dan menduduki gedung-gedung vital di sekitar Lapangan Merdeka. Beberapa dipersenjatai, tapi sebagian besar tidak.

.

Tidak ada angka yang andal tentang jumlah keseluruhan personil militer dan sipil yang ikut serta dalam G-30-S. Tabel 2 menggambar- kan sintesis data dari berbagai-bagai sumber. Walaupun angka-angka itu mungkin tidak akurat, setidak-tidaknya dapat memberi gambaran kasar tentang kekuatan G-30-S.

.

Jumlah tentara yang terlibat dalam G-30-S sangat kecil jika dibandingkan dengan seluruh jumlah pasukan yang ada di dalam kota. Dari sudut kekuatan militer, G-30-S jelas tidak cukup menggentarkan untuk dapat mengalangi pasukan lawan menyerangnya. Komando Daerah Militer Kota Jakarta, yang disebut Kodam Jaya, memiliki sekitar enam puluh ribu prajurit, tiga puluh kali jumlah seluruh personil yang ikut serta dalam G-30-S.26  Kolonel Latief memimpin satu brigade Kodam Jaya, yang terdiri dari sekitar dua ribu prajurit, namun hanya dua peleton di antaranya yang ikut serta dalam G-30-S. Besarnya potensi perlawanan terhadap G-30-S menjadi lebih besar lagi jika kita perhitungkan puluhan ribu tentara tambahan yang ditempatkan di dekat Jakarta. Pasukan khusus dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) berada di selatan kota, dan Kodam yang meliputi Jawa Barat ditempatkan di Bandung, sekitar tujuh jam perjalanan mobil jaraknya dari Jakarta. Dibandingkan dengan semua pasukan yang ada di dalam dan sekitar kota, kekuatan pasukan G-30-S sungguh kecil belaka.

.

Tabel 2. Personil Militer dan Sipil yang Mengambil Bagian Dalam G-30-S

Personil yang Mengambil Bagian                                                       Jumlah orang

PERSONIL MILITER

Dua peleton dari Brigade 1, Kodam Jaya, Jakarta                                         60

Satu kompi dari Batalyon 1, Cakrabirawa                                                      60

Lima kompi dari Batalyon 454, Diponegoro                                                  500

Lima kompi dari Batalyon 530, Brawijaya                                                     500

Satu batalyon dari AURI, Pasukan Pembela Pangkalan Halim (PPP)           1.000

Satuan-satuan dan perseorangan dari kesatuan militer lain (Polisi

Militer, para komando)                                                                                   50

Jumlah personil militer                                                                                    2.130

ORANG-ORANG SIPIL

Orang-orang sipil dari PKI dan ormas berafiliasi PKI                                    2.000

Jumlah seluruh personil                                                                                   4.130

Sumber: “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, 9, 40; Notosusanto dan Saleh,

Tragedi Nasional, 231; Saelan, Dari Revolusi ’45, 91.

.

.

Perhatikan bahwa pasukan-pasukan G-30-S tidak menyebar laiknya pasukan yang berniat melakukan kudeta. Mereka tidak memosisikan diri untuk bertahan menghadapi pasukan lawan. Jika tujuan mereka adalah kudeta, mereka seharusnya mengepung atau menduduki markas besar Kodam Jaya dan Kostrad, dan menempatkan detasemen-detasemen dekat pemusatan-pemusatan barak-barak militer utama. Mereka juga seha- rusnya sudah membangun pos-pos pemeriksaan di jalan-jalan menuju Jakarta untuk mengalangi pasukan-pasukan dari luar memasuki kota. Semuanya itu tidak mereka lakukan.

.

Gerakan 30 September tidak mempunyai perlengkapan yang hampir selalu dipakai oleh para perancang kudeta di sepanjang paron kedua abad ke-20: tank. Seluruh kekuatan G-30-S terdiri dari tentara infanteri bersenjata. Dan, gerakan ini tidak berusaha melumpuhkan tank- tank yang dikendalikan pasukan-pasukan yang berpotensi memusuhi G-30-S. Ketika panglima Kodam Jaya mendengar berita penggerebekan di rumah-rumah para jenderal, ia memerintahkan beberapa pasukan tank untuk berpatroli di jalan-jalan di ibu kota.27 Dengan begitu dalam jam- jam awal G-30-S dimulai, ibu kota berhasil dikuasai pasukan-pasukan berlapis baja yang tidak menjadi bagian G-30-S.

.

Mengingat jumlah pasukan yang terlibat kecil, penyebaran pasukan yang tidak berpengaruh, dan tidak ada tank, G-30-S tampaknya tidak dirancang untuk merebut kekuasaan negara. Mengikuti aksi-aksi G-30-S pagi hari itu, gerakan ini tampak dirancang sebagai semacam pemberontakan para perwira muda terhadap sekelompok perwira senior.

.

.

.

PENGUMUMAN SIANG HARI

.

Sesudah mengambil alih stasiun radio dan menyiarkan pengumumannya yang pertama, G-30-S tidak mengeluarkan pernyataan apa pun selama lima jam berikutnya. Gerakan 30 September bungkam sama sekali justru pada saat perlu mengerahkan pendapat umum untuk mendukungnya. Pengumuman kedua, yang disiarkan sekitar tengah hari, memenuhi janji pengumuman pertama dengan merinci perihal Dewan Revolusi Indonesia lebih lanjut. “Segenap kekuasaan negara,” demikian pengumuman itu menyatakan, telah jatuh “ke tangan Dewan Revolusi Indonesia.” Kekuasaan yang diaku dewan nasional ini bersifat mutlak: ia “menjadi sumber daripada segala kekuasaan dalam Negara Republik Indonesia,” sementara menunggu pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil di Dewan Perwakilan Rakyat. (Waktu pemilu tidak dinyatakan pasti.) Dewan-dewan revolusi yang lebih rendah selanjutnya akan dibentuk di tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa. Masing-masing dewan akan berfungsi sebagai “kekuasaan tertinggi untuk daerah yang bersangkutan.” Dekrit No. 1 menyatakan bahwa menteri-menteri kabinet Presiden Sukarno “berstatus demisioner,” dan bahwa Dewan Revolusi Indonesia akan menetapkan semua menteri-menteri yang akan datang. Walaupun dalam pengumuman radio yang pertama G-30-S mem- benarkan penumpasan terhadap Dewan Jenderal sebagai cara untuk melindungi Presiden Sukarno, dalam pengumumannya yang kedua G-30-S justru merebut kekuasaan presiden dan bahkan tidak sekali pun menyebut Sukarno. Dengan mengumumkan pimpinan G-30-S sebagai pimpinan suatu dewan yang memegang seluruh kekuasaan negara, pengumuman kedua memperlihatkan bahwa peristiwa yang pada pagi hari menampak sebagai putsch intern Angkatan Darat menjadi lebih menyerupai sebuah kudeta.

.

Pengumuman kedua itu juga menyebut nama-nama para wakil panglima yang ada di bawah Letnan Kolonel Untung: “Brigjen Supardjo, Letnan Kolonel Udara Heru, Kolonel Laut Sunardi, dan Ajun Komisaris Besar Polisi Anwas.” Daftar ini memperlihatkan usaha untuk memasukkan semua unsur dari keempat angkatan bersenjata (Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Angkatan Kepolisian) sambil menyembunyikan identitas para pimpinan G-30-S sebenarnya yang bekerja bersama Untung, yaitu Kolonel Latief, Mayor Soejono, Sjam, dan Pono.

.

Pemilihan wakil-wakil pimpinan G-30-S ini terasa sukar dijelaskan. Dari empat tokoh itu hanya Supardjo dan Heru Atmodjo yang sedikit banyak terkait dengan G-30-S. Dan aneh bahwa Supardjo, seorang brigadir jenderal, berada di bawah Untung, seorang letnan kolonel. Keanehan lain adalah Atmodjo hanya diidentifikasikan dengan namanya yang pertama, Heru, nama yang sangat lazim bagi orang Jawa. Banyak orang Indonesia hanya menggunakan satu nama saja (misalnya Untung dan Suharto). Tapi Heru biasanya tidak digunakan sebagai nama tunggal. Atmodjo dikenal dengan nama seutuhnya. Penggunaan nama Heru saja dalam pengumuman tersebut memberi kesan bahwa para organisator G-30-S tidak kenal dengannya. Dua deputi komandan G-30-S yang lain, Sunardi dan Anwas, belum pernah satu kali pun menghadiri rapat-rapat perencanaan, tidak berada di pangkalan udara Halim pada 1 Oktober, tidak diberi tahu tentang G-30-S sebelumnya, dan tidak mengambil langkah apa pun atas nama G-30-S.28

.

Tidak jelas siapa, jika pun memang ada, yang menandatangani Dekrit No. 1, mengenai pembentukan Dewan Revolusi Indonesia. Baik dokumen asli maupun fotonya tidak pernah terlihat. Di depan persidangannya Untung menyatakan bahwa ia, Supardjo, dan Atmodjo yang menandatangani dokumen itu.29 Sebagai saksi dalam persidangan itu, Atmodjo mengakui telah menandatanganinya.30

.

Namun sekarang Atmodjo mengatakan tidak pernah menandatanganinya dan bahkan tidak pernah melihat teks itu sebelum disiarkan. Ia menyatakan, pengakuannya

di depan persidangan Untung merupakan kapitulasi terhadap tuntutan penuntut umum. Ia berharap mahkamah menghargai kerja samanya, dan dengan demikian akan memberi keringanan hukuman jika kelak ia sendiri dihadapkan ke pengadilan.31  Di depan Mahmilub Supardjo memungkiri pengumuman radio tentang Dewan Revolusi Indonesia. Ia menyatakan bahwa ia tidak menyetujui gagasan tentang dewan tersebut dan menolak menandatangani dokumen itu.32 Tanpa adanya dokumen dekrit yang asli tidak mungkin diketahui siapa sebenarnya yang telah menandatanganinya. Mengingat bahwa Sunardi dan Anwas jelas bukan tokoh-tokoh penanda tangan, tidak ada alasan kuat untuk memercayai bahwa dua tokoh lain yang disebut sebagai wakil-wakil komandan (Supardjo dan Atmodjo) pernah menandatanganinya.

.

Pengumuman ketiga G-30-S, yang disiarkan antara pukul 13.00 dan 14.00, disebut sebagai “Keputusan No. 1.”33 (Sekarang sukar untuk dipahami apa yang dipikirkan [para] penulis pengumuman-pengumuman ini tentang perbedaan antara dekrit dan keputusan). Pengumuman ketiga ini menyebut empat puluh lima nama anggota Dewan Revolusi Indonesia, termasuk Untung dan empat orang wakilnya. (Angka 45 itu tampaknya dipilih untuk melambangkan 1945, tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia.) Para anggota mewakili aneka macam pandangan politik yang relatif luas: politisi Muslim, kader menengah PKI, wartawan, perempuan, dan pimpinan pemuda. Kelompok yang paling banyak terwakili, dengan delapan belas kursi, ialah kelompok militer. Beberapa perwira militer dalam daftar dikenal sebagai antikomunis, misalnya Brigadir Jenderal Amir Mahmud. Di dalamnya juga termasuk nama-nama dua orang yang sedikit banyak tak dikenal, namun belakangan ternyata termasuk dalam pimpinan G-30-S: Kolonel Latief dan Mayor Soejono. Pimpinan G-30-S di Jawa Tengah, Kolonel Suherman, juga muncul dalam daftar. Gerakan 30 September tidak memberikan penjelasan mengenai dasar-dasar yang melandasi pemilihan untuk keanggotaan Dewan. Kecuali bagi beberapa orang yang terlibat langsung dalam G-30-S, agaknya tak seorang pun di antara mereka yang ditunjuk sebagai anggota dewan pernah dihubungi sebelumnya dan diminta untuk ikut bergabung.

.

Segera sesudah mengumumkan daftar nama-nama anggota Dewan Revolusi Indonesia, stasiun pusat RRI menyiarkan pengumuman G-30-S yang keempat, yaitu “Keputusan No. 2.” Keputusan ini memaklumkan, karena panglima G-30-S adalah seorang letnan kolonel, tidak ada perwira militer yang berpangkat lebih tinggi daripadanya. Semua pangkat di atas pangkat Untung dinyatakan tidak lagi berlaku. Dengan sekali gebrak sistem kepangkatan militer diubah, sehingga pangkat Untung menjadi pangkat yang tertinggi. Para perwira yang berpangkat lebih tinggi memenuhi syarat untuk memperoleh pangkat letnan kolonel jika mereka mengajukan secara tertulis pernyataan kesetiaan kepada Dewan Revolusi Indonesia. Sementara itu semua prajurit bawahan yang mendukung G-30-S pangkatnya akan dinaikkan satu peringkat.

.

Dua “keputusan” ini diumumkan atas nama Letnan  Kolonel Untung dan ditandatangani pula olehnya. Militer menerbitkan foto dokumen-dokumen asli Keputusan 1 dan Keputusan 2 ini.34  Foto- foto itu memperlihatkan bahwa hanya Untung yang menandatangani dokumen-dokumen termaksud. Barangkali pembedaan antara “dekrit” dan “keputusan” terletak pada nama siapa yang mengeluarkannya: dekrit dikeluarkan atas nama komandan dan para wakil komandan, sedangkan keputusan dikeluarkan hanya atas nama komandan saja.

.

Empat pengumuman yang dikeluarkan oleh G-30-S tersebut merupakan seluruh penampilan G-30-S di depan masyarakat Indonesia.35  Jika disimpulkan bersama, keempat pengumuman itu sangat sedikit mengungkapkan sifat G-30-S. Yang paling jelas, pengumuman itu tidak memberikan pembenaran terhadap tindakan mendemisionerkan kabinet dan penetapan bentuk pemerintahan yang sama sekali baru. Pengumuman-pengumuman itu juga tidak mengungkapkan pertentangan ideologis apa pun dengan pemerintahan Sukarno. Semua prinsip yang dengan tegas dijunjung G-30-S ialah prinsip-prinsip yang dianjurkan atau ditemukan oleh Sukarno, yaitu UUD 1945, politik luar negeri yang menentang kolonialisme dan neokolonialisme, Pancasila, Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera), Panca Azimat Revolusi.36  Gerakan 30 September menyerukan pembentukan dewan-dewan revolusi di tingkat provinsi dan kabupaten, dan bahkan menetapkan jumlah anggota yang akan duduk di dewan-dewan itu. Tapi G-30-S tidak menjelaskan bagaimana anggota dewan akan dipilih dan apa wewenang dewan dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga negara yang ada, selain hanya mengatakan bahwa dewan mempunyai “segenap kekuasaan.” Gerakan 30 September menyatakan kesetiaannya kepada konstitusi Indonesia, lalu menciptakan lembaga yang tidak dirumuskan dengan jelas dan sama sekali baru, yang akan melampaui lembaga-lembaga yang telah dibentuk oleh konstitusi.

.

Wajah G-30-S di hadapan masyarakat tidak konsisten (pengumuman-pengumumannya  menyatakan  bahwa  pasukannya  ingin melindungi Sukarno tapi juga ingin mendongkelnya), ganjil (letnan kolonel dinyatakan sebagai pangkat tertinggi), dan kabur (cita-cita istimewa G-30-S tidak dijelaskan). Hal yang lebih membingungkan lagi ialah penampilan publik G-30-S sangat sedikit kecocokannya dengan kenyataan: Sukarno tidak berada di bawah “lindungan” G-30-S; dua dari empat wakil komandannya tidak tahu-menahu tentang G-30-S; empat pimpinan yang sesungguhnya (Sjam, Pono, Latief, Soejono) tidak disebut sebagai pimpinan; dan jenderal-jenderal yang “ditangkap” sebenarnya sudah dibunuh dan mayat-mayat mereka disembunyikan. Keempat pengumuman yang disiarkan melalui radio belum tentu disusun oleh orang-orang yang namanya tercantum di dalamnya. Oleh karena Aidit juga berada di Halim, ia pun boleh jadi ikut serta menyusunnya. Untung dan dua wakil komandan G-30-S yang berada di Halim (Supardjo dan Heru Atmodjo) barangkali bukan yang menulis Dekrit No. 1. Bahkan Untung mungkin tidak menulis Keputusan 1 dan Keputusan 2 walaupun  ia menandatanganinya.

PERBINCANGAN SUKARNO DAN SUPARDJO

Bagi Presiden Sukarno wajah G-30-S pada 1 Oktober ialah wajah Brigadir

Jenderal Supardjo. Presiden tidak berjumpa dengan lima pimpinan inti

G-30-S saat ia berada di Halim. Dari siaran radio pagi hari itu, satu- satunya orang lain yang dengan pasti diketahuinya terlibat ialah Letnan Kolonel Untung. Demikian juga, Sukarno tidak bertemu Aidit dan barangkali tidak pernah diberi tahu bahwa Aidit ada di kawasan pangkalan udara. Mengingat satu-satunya orang dari G-30-S yang dijumpai Presiden Sukarno ialah Supardjo, Presiden kemungkinan pagi itu telah menyimpulkan bahwa G-30-S memang benar seperti yang dinyatakan dalam siaran radio pertama: suatu gerakan murni intern Angkatan Darat yang dirancang untuk membersihkan perwira sayap kanan, serta untuk mempertahankan dirinya selaku presiden. Dan patut diingat bahwa semula G-30-S bermaksud membawa serta dua komandan batalyon, Kapten Sukirno dan Mayor Bambang Supeno, menemui Presiden Sukarno. Tapi hanya Supardjo yang dibawa kembali dengan helikopter ke Halim. Ternyata, Supardjo menjadi duta G-30-S.

Sukarno dan Supardjo bertemu untuk pertama kali sekitar pukul

10.00 pagi di kantor komandan pangkalan udara Halim, Kolonel Wisnoe

Djajengminardo. Pada waktu itu Sukarno sudah mengetahui bahwa

Yani diculik. Karena juga telah dilaporkan kepadanya bahwa tembak- menembak terjadi di rumah Yani dan darah terlihat berceceran di sana, Sukarno barangkali menduga Yani telah terbunuh. Jadi Presiden menge- tahui Supardjo mewakili sebuah gerakan yang, mungkin sekali, baru saja membunuh panglima angkatan bersenjatanya.

Sukarno pasti bingung seorang brigadir jenderal datang bertemu dengannya atas nama seorang letnan kolonel. Pada persidangannya Untung menyebut, bahwa Sukarno bertanya kepada Supardjo, “Mengapa jang memimpin Untung?” Walaupun Untung tidak mengetahui langsung perundingan itu – apa pun yang diketahuinya berdasarkan apa yang diceritakan Supardjo kepadanya – barangkali Sukarno memang menanyakan pertanyaan semacam itu. Jawaban Supardjo, sekali lagi menurut Untung, tidak memberi kejelasan: “Dialah jang kita anggap pantas.”37

Cerita orang pertama satu-satunya tentang pembicaraan mereka pagi itu diberikan Supardjo (dalam persidangannya pada 1967) dan Laksamana Madya Omar Dani, yang hadir selama pembicaraan mereka yang pertama. Cerita Supardjo dan Omar Dani sangat singkat dan jelas tidak memberikan seluk-beluk pembicaraan yang tentunya pelik dan sangat panjang lebar. Sukarno sendiri tidak pernah menyampaikan ceritanya.

Pada sidang Mahmilubnya Supardjo memberi kesaksian bahwa Sukarno tidak terlalu cemas menanggapi berita tentang penculikan para jenderal. Presiden tidak menuduh G-30-S sebagai jahat, khianat, atau kontra revolusioner. Supardjo menceritakan, Sukarno tetap tenang dan mengucapkan dalam bahasa Belanda “Ja zo iets in een revolutie kan gebeuren (hal semacam ini akan terjadi di dalam suatu revolusi).”38

Kendati demikian Sukarno cemas kalau-kalau peristiwa itu menimbulkan perang saudara yang tidak terkendalikan antara kekuatan sayap kanan dan sayap kiri di kalangan militer. Ia meminta Supardjo agar menghentikan G-30-S, sementara ia akan berusaha menemukan pemecahan politis. Supardjo mengatakan, “Kemudian saja diminta duduk lebih dekat, beliau bitjara bahwa kalau begini pertempuran nanti bisa meluas. Lantas jang untung nanti adalah Nekolim, lantas beliau tanja sama saja: mempunjai kesanggupan tidak untuk memberhentikan gerakan dari G-30-S? Waktu itu saja katakan: ‘Ja – sanggup.’ Lantas beliau menepuk-nepuk bahu saja dan mengatakan ‘Awas ja kalau tidak beres engke maneh dipeuntjit,’ ja sambil gujon itu. Kalau tidak bisa menjelesaikan, memberhentikan gerakan G-30-S, kamu nanti saja sembelih.”39

Menurut Omar Dani, Sukarno menolak permintaan Supardjo untuk tampil mendukung G-30-S, lalu beliau meminta agar Supardjo menghentikan G-30-S. Dalam kata-kata penulis biografi Dani, dinyatakan sebagai berikut:

Ia  [Supardjo]  melapor  langsung  kepada  Presiden  bahwa bersama kawan-kawan ia telah mengambil tindakan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat. Para perwira muda di lingkungan Angkatan Darat dan para bawahan mengeluh atas sikap, kelakuan, ketidakpedulian para Jendral terhadap bawahannya. Atas pertanyaan Bung Karno apakah Pardjo punya bukti, Soepardjo mengiyakan dan sanggup mengambilnya di MBAD bila ia diperintahkan. Bung Karno memberi perintah untuk mengambilnya, tetapi sampai menghilangnya pada 2

Oktober 1965, Soepardjo tidak pernah dapat menyerahkan bukti-bukti itu kepada Bung Karno. Presiden memerintahkan Brigjen Soepardjo untuk menghentikan gerakannya, guna menghindari terjadinya pertumpahan darah. Presiden juga menolak permintaan Brigjen Soepardjo untuk mendukung G-30-S. Begitu ditolak permintaannya oleh Presiden Sukarno, Brigjen Soepardjo langsung berpamitan dan pergi keluar dari Markas Koops. Tampak di wajahnya sedikit kusut, capai, kurang tidur dan kecewa.40

Cerita Omar Dani ini menegaskan pernyataan Supardjo bahwa Sukarno meminta agar G-30-S dihentikan. Sukarno tidak mendukung juga tidak menentang G-30-S. Di satu pihak, ia tidak mengeluarkan pernyataan dukungan terhadapnya (seperti yang telah diperbuat Dani) atau diam-diam mendorong agar meneruskannya. Di lain pihak, ia tidak melihat G-30-S sebagai bahaya yang akan mencelakakan dirinya atau kedudukannya sebagai presiden. Bahwa ia tinggal di Halim, justru tempat yang diketahuinya dipakai sebagai pusat pimpinan G-30-S, menunjuk- kan bahwa ia melihat Supardjo dan Untung sebagai perwira-perwira yang setia kepadanya. Sukarno kelihatan tidak menjadi panik oleh kejadian pagi itu. Antara pukul 11.30 dan tengah hari, sesudah berbicara dengan Supardjo di pusat komando pangkalan udara, Sukarno pindah ke sebuah rumah yang sedikit lebih luas milik Komodor Susanto dan beristirahat siang beberapa jenak di sana.

Sukarno tidak sekadar berada di Halim, ia juga memanggil para penasihat utamanya ke sana. Dari tiga wakil perdana menterinya, satu- satunya yang saat itu berada di Jakarta, Leimena, tiba di Halim pada saat menjelang siang hari. Begitu juga Panglima Angkatan Laut, Panglima Angkatan Kepolisian, Komandan Pasukan Kawal Istana, dan Jaksa Agung. Mereka bersama Sukarno sepanjang sore dan petang hari itu.41 Menteri- menteri ini menyaksikan sebagian dari pembicaraan yang berlanjut antara Sukarno dan Supardjo. Belakangan mereka menyampaikan informasi sekadarnya kepada wartawan dan juga kesaksian singkat ketika mereka tampil sebagai saksi di sidang pengadilan. Tapi, sejauh yang saya ketahui, mereka tidak menulis catatan rinci tentang pembicaraan antara kedua tokoh tersebut.

Supardjo menemui Sukarno untuk kedua kali sesudah ia kembali dari perundingan dengan para pimpinan inti G-30-S. Seluruhnya Supardjo berbicara dengan Sukarno dalam empat atau lima kali kesempatan yang terpisah-pisah sepanjang hari itu. Hanya pembicaraan pertama yang berlangsung di kantor komandan Halim. Pembicaraan-pembicaraan yang belakangan berlangsung di rumah Komodor Soesanto. Rumah ini dipilih untuk Presiden karena merupakan rumah tunjukan yang terbaik di pangkalan itu.42 Supardjo mondar-mandir antara rumah Sersan Sujatno, tempat persembunyian Untung, Sjam dan lainnya, dan rumah Soesanto, tempat Sukarno dan menteri-menterinya berada.43

Topik utama perbincangan antara Sukarno dan Supardjo pada lepas tengah hari, sekitar pukul 12.00 sampai 13.30, ialah memilih pengganti sementara untuk Yani sebagai panglima Angkatan Darat. Sukarno jelas tidak memusuhi G-30-S karena untuk pengangkatan yang sepenting itu ia meminta nasihat mereka. Dalam analisisnya Supardjo menyatakan bahwa pimpinan G-30-S merekomendasikan tiga nama jenderal Angkatan Darat.44  Gerakan 30 September memberikan dukungannya untuk Mayor Jenderal U. Rukman, panglima antardaerah untuk Indonesia timur; Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra, asisten pada staf umum Yani yang biasanya hanya disebut dengan nama pertamanya; dan Mayor Jenderal Basuki Rachmat, Panglima Kodam Brawijaya, Jawa Timur.45

Keputusan tentang penggantian Yani sepenuhnya ada pada Sukarno. Gerakan 30 September tidak mendiktekan syarat-syarat kepada Presiden. Perwira yang akhirnya menjadi pilihan Sukarno ialah Pranoto, anggota staf Yani yang tidak diculik. Pada pukul 13.30 Sukarno menandatangani perintah pengangkatan Pranoto sebagai pejabat pimpinan sementara Angkatan Darat dan mengirim utusan-utusan untuk memanggilnya ke Halim. Sementara itu G-30-S, demi alasan yang tak diketahui, tidak menyiarkan perintah Sukarno melalui radio.

Dalam percakapan mereka, Supardjo secara tersirat mengakui kewenangan Sukarno sebagai presiden. Ia tidak mengancam Sukarno baik dengan gangguan secara fisik maupun berusaha menculiknya, memaksanya untuk mendukung G-30-S, atau menekan agar Sukarno mengambil keputusan-keputusan tertentu. Dipandang dari sudut mana pun Supardjo memainkan peranan sebagai perwira bawahan. Maka menjadi ganjil jika kira-kira pada saat yang bersamaan dengan perundingan-perundingan di Halim ini (tengah hari sampai pukul 14.00), pemancar radio menyiarkan pengumuman yang secara tidak langsung memberhentikan Sukarno sebagai presiden. Di Halim orang yang berbicara dengan Sukarno atas nama G-30-S tetap memperlakukannya sebagai seorang presiden. Tetapi melalui gelombang-gelombang radio, G-30-S mencanangkan secara sepihak telah mendemisionerkan kabinet Sukarno.

Sukarno entah mendengar sendiri atau diberi tahu tentang isi pengumuman G-30-S itu. Ia tidak senang. Dalam sidang kabinet awal November 1965 ia mengacu pada tuntutan G-30-S ketika menjawab para mahasiswa demonstran yang diorganisir oleh Angkatan Darat, yang menuntut agar Sukarno mendemisionerkan kabinetnya: “ben je bedonderd, dat ik mijn Kabinet ga laten demissioneren. Ya, itu ucapan saya sesudah diadakannya oleh sesuatu pihak ‘Dewan Revolusi.’ Pada waktu itu di sini saya berkata dengan tegas: ben je bedonderd.”46 Sukarno sudah memutuskan untuk tidak mendukung G-30-S pada saat dewan itu diumumkan melalui radio. Tapi mendengar kabinetnya sudah di- demisionerkan pastilah lebih memperkeras penentangannya terhadap G-30-S.

AKSI-AKSI DI JAWA TENGAH

Satu-satunya aksi-aksi penting militer yang mendukung G-30-S terjadi

di provinsi Jawa Tengah dan daerah Yogyakarta.47 Pemberontakan meluas

di dua wilayah itu.48 Para perwira muda memberontak terhadap perwira tertinggi di provinsi termaksud, Brigadir Jenderal Suryasumpeno, dan tiga komandan distrik militer. Di ibu kota Jawa Tengah, Semarang, seorang kolonel dari staf Suryasumpeno menduduki stasiun radio, RRI Semarang, dengan sekelompok pasukan pemberontak dan menyatakan diri sebagai panglima baru pada sekitar pukul 13.00. Ia adalah Kolonel Suherman, kepala intelijen daerah militer tingkat provinsi.

Di Yogyakarta Mayor Muljono memimpin pasukan pemberontak menggerebek rumah komandan mereka, Kolonel Katamso. Mereka menculiknya dan juga kepala stafnya, Letnan Kolonel Sugijono, yang kebetulan ada di rumah itu ketika para pemberontak datang. Mereka membawa dua perwira itu ke sebuah kota kecil di utara Yogyakarta, Kentungan, dan menahan mereka di tangsi batalyon militer di sana. Kemudian mereka membunuh kedua perwira tersebut.

Para perwira militer yang berada di belakang gerakan di Yogyakarta, berbeda dari kawan-kawan mereka di Semarang, bekerja dalam koordinasi dengan penduduk sipil setempat. Massa keluar di jalan-jalan mendukung G-30-S. Mayor Muljono, sebagai perwira yang bertanggung jawab atas urusan pertahanan sipil, telah menjalin hubungan erat dengan organisasi-organisasi sipil, seperti PKI. Ketika para prajurit menculik Kolonel Katamso, massa pemuda dari berbagai organisasi yang berafiliasi dengan PKI mengepung kantor Sultan Yogyakarta, Kepatihan, tempat kedudukan penguasa sipil. Mereka juga mengambil alih pemancar RRI Yogyakarta dan mulai menyiarkan pernyataan-pernyataan dukungan terhadap G-30-S pada sekitar pukul 20.00.

Peristiwa-peristiwa serupa terjadi di Solo, kota terbesar kedua di Jawa Tengah. Seorang perwira muda memimpin G-30-S. Organisasi- organisasi sipil sayap kiri mengeluarkan pernyataan mendukung G-30-S, walaupun tidak disertai aksi-aksi jalanan seperti halnya di Yogyakarta. Pemimpin pemberontak di Solo, Mayor Iskandar, menyatakan dirinya sebagai ketua Dewan Revolusi Solo dan memerintahkan prajurit-prajurit yang setia kepadanya untuk menahan perwira komandannya, Letnan Kolonel Ezy Suharto, kepala staf Korem (Komando Resort Militer) Solo, Kapten Parman, dan seorang perwira lain, Letnan Kolonel Ashari. Mayor Iskandar menyerukan kepada wakil-wakil partai politik untuk berkumpul dan dengan bantuannya mengadakan rapat pembentukan Dewan Revolusi kota Solo. Wali kota Solo, Utomo Ramelan, seorang anggota PKI, mengeluarkan pernyataan mendukung G-30-S.

Di kota lain di Jawa Tengah, Salatiga, para perwira pemberontak bertindak tanpa dukungan sipil sama sekali. Letnan Kolonel Idris, kepala staf Korem Salatiga, mengerahkan pasukan menentang perwira komandannya, Kolonel Sukardi, dan seorang perwira militer penting lain di kota ini, Letnan Kolonel Sugiman. Tidak ada tokoh dan organisasi sipil yang mengeluarkan pernyataan dukungan atau keikutsertaan dalam demonstrasi-demonstrasi. Wali kota Salatiga, Bakri Wahab, adalah anggota PKI, namun ia tidak menyatakan dukungannya kepada G-30-S secara terbuka.

Dengan  demikian  di  Jawa Tengah,  pada  1  Oktober  malam, para perwira menengah merebut komando provinsi di Semarang dan menculik para komandan distrik di tiga kota utama. Hanya di Yogyakarta penduduk sipil turun ke jalan-jalan memberi dukungan kepada G-30-S, dan hanya di Solo kaum politisi sipil mengeluarkan pernyataan-pernyataan dukungan. Hanya di Yogyakarta perwira-perwira yang diculik dibunuh. Aksi-aksi yang dilakukan atas nama G-30-S di Jawa Tengah mengambil pola yang tidak berbeda.

Rupanya G-30-S telah menjalin hubungan dengan para perwira militer di provinsi-provinsi lain. Dalam analisis postmortemnya Supardjo menyatakan bahwa G-30-S telah mengirim kurir-kurirnya ke berbagai provinsi. Sementara para perwira di provinsi-provinsi lain mungkin telah mengetahui tentang adanya G-30-S, dan berpikir untuk melakukan tindakan tertentu, namun mereka tetap pasif.49 Hanya di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang merupakan wilayah-wilayah di luar Jakarta G-30-S mewujud.

SERANGAN SUHARTO TERHADAP G-30-S

Kembali di Jakarta, seorang jenderal senior Angkatan Darat yang tidak menjadi sasaran penculikan ialah Mayor Jenderal Suharto, Komandan Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat atau lebih dikenal sebagai Kostrad. Pasukan yang menduduki Lapangan Merdeka (Batalyon 454 dan 530) tidak diperintahkan untuk memblokade markas Kostrad atau setidaknya menetralisirnya. Pasukan menduduki sisi utara, barat, dan selatan lapangan tersebut dan membiarkan sisi timur, tempat markas Kostrad berdiri, kosong. Para perwira Suharto keluar masuk gedung dengan leluasa sepanjang hari itu saat mereka menyusun rencana serangan terhadap G-30-S. Salah satu keganjilan besar dari kejadian-kejadian 1 Oktober itu ialah bahwa musuh-musuh G-30-S bekerja di sebuah gedung yang berada langsung di depan sebagian besar pasukan G-30-S.

Barangkali G-30-S memutuskan tidak menetralisir markas Kostrad karena Kostrad bukanlah merupakan instalasi militer utama di Jakarta. Berbeda dengan Kodam Jaya, Kostrad tidak mempunyai pasukan tetap yang diasramakan di dalam atau sekitar kota. Prajurit-prajurit cadangan Kostrad selalu dipinjam dari komando-komando daerah (kodam-kodam). Kostrad mengerahkan batalyon-batalyon untuk penugasan sementara dalam operasi-operasi tempur tertentu.50 Meskipun demikian, Kostrad mempunyai arti strategis yang besar, mengingat bahwa yang memimpin- nya adalah Suharto, tokoh yang terkadang bertugas sebagai panglima Angkatan Darat setiap saat Yani bepergian ke luar negeri. Jika pasukan pemberontak ingin menguasai Jakarta, mereka harus memastikan bahwa Suharto, orang dalam peringkat pertama yang langsung akan menggantikan Yani, tidak dapat mengerahkan pasukan untuk melakukan serangan balasan. Suharto diangkat menjadi panglima Kostrad pada Mei 1963 dan karena itu berpengalaman paling tidak dua tahun dalam berhubungan dengan para perwira puncak militer di Jakarta.

Menurut penuturannya sendiri, Suharto mendengar tentang adanya tembak-menembak dan penculikan dari tetangga ketika ia masih di kediamannya di Menteng. Ia tiba di Kostrad antara pukul 6.30 dan 7.00 pagi. Karena Suharto menduga Yani sudah terbunuh, ia mengangkat dirinya sendiri sebagai panglima Angkatan Darat ad interim. Perwira kunci yang menguasai pasukan paling besar di Jakarta, Umar Wiraha- dikusumah, pada sekitar pukul 8.00 melapor kepada Suharto dan menempatkan dirinya di bawah komando Suharto.51 Jenderal-jenderal dari Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) yang selamat mengadakan rapat darurat sekitar saat yang sama dan memutuskan mengangkat Suharto sebagai panglima sementara. Menurut salah seorang anggota staf, Mayor Jenderal Pranoto, yang belakangan ditunjuk Sukarno sebagai panglima, “rapat memutuskan untuk menunjuk Mayjen Suharto Pangkostrad agar bersedia mengisi pimpinan A.D. yang terdapat vacuum. Melalui kurir khusus, maka keputusan rapat kita sampaikan kepada Mayjen Suharto di MAKOSTRAD.”52 Sepanjang hari itu banyak perwira yang berkumpul di Kostrad sesudah diketahui bahwa di sinilah pusat kekuatan militer yang anti-G-30-S. Nasution tiba di sana pada petang hari.53

Tindakan  pertama  Suharto  dalam  menghadapi  G-30-S  ialah

menuntut dua batalyon di Lapangan Merdeka menyerahkan diri. Para komandan batalyon-batalyon itu, Kapten Sukirno dan Mayor Supeno, ada di dalam halaman istana (menemani Supardjo dari Halim pada pagi hari). Para perwira Kostrad menghubungi wakil-wakil komandan batalyon yang masih ada di lapangan bersama pasukannya. Wakil-wakil komandan itu berbuat sesuai dengan perintah yang mereka terima: mereka melapor kepada Suharto di dalam gedung Kostrad. Begitu bertemu dengan mereka, Suharto memberi tahukan bahwa ia menganggap G-30-S sebagai usaha kup dan mengancam akan menyerang mereka jika pasukan mereka tidak menyerah kepadanya pada pukul 6.00 petang hari itu.

Keganjilan lain lagi dari G-30-S adalah bahwa dua batalyon tersebut – Yon 454 dari Jawa Tengah dan Yon 530 dari Jawa Timur – dipanggil ke Jakarta oleh Suharto sendiri. Dalam penjelasannya yang pertama di depan umum tentang peristiwa hari itu, yaitu pidatonya pada 15 Oktober, Suharto mengakui bahwa dua batalyon itu termasuk anggota Kostrad.54 Mereka dibawa ke Jakarta bersama batalyon yang ketiga, Yon 328 dari Jawa Barat, untuk mengambil bagian dalam parade Hari Angkatan Bersenjata yang dijadwalkan pada 5 Oktober. Pada pagi hari 30 September 1965 Suharto memeriksa tiga batalyon itu, di lapangan tempat mereka berkemah. Pada 1980-an salinan perintah-perintah Kostrad yang asli kepada tiga batalyon tersebut tersingkap – semuanya ditandatangani oleh Suharto.55

Sementara mereka berpangkalan di Lapangan Merdeka, tidak seorang pun dari dua komandan batalyon itu berhubungan dengan pimpinan G-30-S di Halim. Mereka benar-benar memikirkan sendiri bagaimana menjawab ancaman Suharto, tanpa berkonsultasi dengan Untung, Sjam, dan lainnya. Satu batalyon, yaitu Yon 530, meninggalkan posisinya dan menyerah ke Kostrad menjelang tengah hari. Kapten Sukirno dari Yon 454 berhasil mencegah pasukannya untuk membelot tetapi merasa tidak dapat tetap berada di Lapangan Merdeka tanpa adanya batalyon yang lain. Ia memerintahkan semua anggota pasukannya naik truk dan kembali menuju Halim menjelang senja.56

Suharto berhasil mengosongkan Lapangan Merdeka dari tentara tanpa satu letusan senjata pun: satu batalyon menyerah, yang lain melarikan diri. Pasukan Suharto tidak menemui perlawanan ketika merebut stasiun RRI sekitar pukul 18.00.57 Di gedung telekomunikasi pasukan Suharto menjumpai beberapa sukarelawan sipil G-30-S. Karena sukarelawan-sukarelawan itu sangat bingung apa yang harus mereka lakukan, dan juga tidak yakin apakah pasukan itu kawan atau lawan, mereka menunjukkan perlawanan kecil belaka. Mereka dengan cepat dikalahkan dan diangkut.58  Hingga petang hari G-30-S sudah tidak mempunyai pasukan yang tersisa di dalam kota. Sisa-sisa kekuatannya telah kembali ke Lubang Buaya. Suharto menguasai Jakarta. Antara pukul 19.00 dan 20.30 ia memerintahkan RRI untuk menyiarkan pesan yang telah ia rekam sebelumnya sore itu. Gema suara Suharto di udara menjadi pertanda berakhirnya G-30-S secara simbolik.

Untuk merebut stasiun RRI, Lapangan Merdeka, dan gedung telekomunikasi, Suharto menggunakan pasukan RPKAD yang dibawa dari markas mereka di Cijantung, sebuah kota kecil di selatan Jakarta. Ia juga menggunakan satu-satunya batalyon Kostrad yang tidak ikut menggabung dalam G-30-S, Batalyon 328 dari Jawa Barat, dan bagian- bagian dari Batalyon 530 yang telah menyeberang hanya beberapa jam sebelumnya. Aneh bahwa Suharto tidak mengambil kesempatan menggunakan pasukan dari garnisun Jakarta (Kodam Jaya) yang berada di bawah komando Umar Wirahadikusumah. Suharto hanya menggunakan pasukan-pasukan yang berada langsung di bawah komandonya, bahkan lebih menyukai pasukan yang pernah ikut serta dalam G-30-S.

Sesudah Lapangan Merdeka bersih, Suharto memalingkan perhatiannya ke Halim, yang ia ketahui sebagai basis G-30-S. Berbagai kurir dan perwira berdatangan di Kostrad dari Halim sejak hari masih sore dan melaporkan bahwa Supardjo (yang kedudukannya sebagai wakil komandan gerakan telah diumumkan melalui radio) sedang berunding dengan Sukarno di sana. Untuk mengisolasi G-30-S di pangkalan AURI Halim, Suharto tidak mengizinkan seorang pun perwira Angkatan Darat pergi ke sana, bahkan mereka yang dipanggil oleh presiden sekali pun.

Seperti sudah saya kemukakan, Sukarno telah mengangkat Pranoto sebagai Panglima Angkatan Darat pada pukul 13.30 dan memerintahkannya untuk datang ke Halim. Sukarno tidak menyadari bahwa Pranoto dan staf Yani yang masih hidup telah sepakat mengangkat Suharto sebagai panglima. Suharto tidak mengijinkan Pranoto meninggalkan Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) dan bertemu dengan Sukarno. Dalam catatan retrospeksi singkatnya Pranoto teringat, “Saya sudah terlanjur masuk dalam hubungan komando taktis di bawah Mayjen Suharto, maka saya tidak dapat secara langsung menghadap Presiden/Pangti dengan tanpa seizin Mayjen Suharto sebagai pengganti Pimpinan AD saat itu. Atas dasar panggilan dari utusan-utusan Presiden/Pangti tersebut di atas, saya pun berusaha mendapatkan izin dari Mayjen Suharto. Akan tetapi, Mayjen Suharto selalu melarang saya untuk menghadap Presiden/Pangti dengan alasan bahwa dia (Mayjen Suharto) tidak berani mereskir kemungkinan tambahnya korban Jenderal lagi apabila dalam keadaan yang sekalut itu saya pergi menghadap Presiden.”59

Karena Sukarno adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, penolakan Suharto untuk mengikuti perintahnya tentang pengangkatan Pranoto dapat disamakan dengan pembangkangan. Sukarno sudah menegaskan bahwa aman bagi Pranoto untuk datang ke Halim. Dengan demikian Suharto tidak mempunyai alasan, menurut protokol kemiliteran, untuk meragukan penilaian Sukarno. Suharto menentang atasannya dan melaksanakan strateginya sendiri. Sementara Sukarno sedang berunding dengan para pimpinan G-30-S di Halim dan membujuk mereka agar menghentikan aksi-aksinya, Suharto sibuk merancang serangan militer terhadap mereka.

Suharto mulai memberikan perintah-perintahnya kepada presiden. Melalui kurir ia mengatakan kepada Sukarno agar sekitar pukul 20.00 presiden meninggalkan Halim supaya tidak menjadi korban dalam pertempuran yang akan terjadi. Suharto menyatakan pasukannya akan menyerang pangkalan udara dan membersihkan seluruh kekuatan G-30-S. Rupanya melihat bahwa akan sia-sia memerintahkan Suharto agar menghentikan serangannya, Sukarno bertukar pikiran dengan para penasihatnya bagaimana jalan yang terbaik untuk melarikan diri dari Halim. Ia akhirnya memutuskan pergi dengan mobil ke Istana Bogor, di selatan Jakarta, tempat ia biasa melewatkan akhir pekan. Ia tiba di Istana Bogor sekitar pukul 22.00.

Dengan tersingkirnya Sukarno, rintangan yang masih tersisa bagi Suharto tinggal Angkatan Udara. Ia menerima berita bahwa para perwira AURI di Halim akan memberikan perlawanan jika pangkalan udara diserang dan sedang memikirkan untuk membom atau memberondong markas Kostrad. Suharto dan stafnya meninggalkan markas mereka dan menempati markas baru di dekat stadion Senayan.60 Ternyata serangan udara itu tidak pernah terjadi. Bagaimana pun juga, adanya ancaman itu mengakibatkan persiapan-persiapan Suharto tertunda beberapa jam.

Pasukan RPKAD disiapkan di sepanjang batas selatan pangkalan udara Halim sejak dini hari 2 Oktober. Mereka bertempur sebentar dengan pasukan dari batalyon Jawa Tengah yang kebetulan juga berkelompok di sepanjang jalan yang sama. Sesudah meninggalkan Lapangan Merdeka pada sore hari sebelumnya, Batalyon 454 bergerak mundur ke Halim, tapi mendapati pintu-pintu pangkalan udara tertutup. Dilarang memasuki Halim, mereka melewatkan malam dengan berkeliaran di sepanjang jalan antara pangkalan udara dan Lubang Buaya. Inilah jalan yang ditempuh RPKAD ketika masuk sekitar dini hari 2 Oktober. Seorang perwira AURI, Komodor Dewanto, berhasil menyela dan mencegah pertempuran besar- besaran antara RPKAD dan pasukan Batalyon 454. Gencatan senjata segera diadakan yang mendesak agar Batalyon 454 ditarik dari kawasan dan RPKAD memasuki pangkalan udara. Komandan RPKAD, Kolonel Sarwo Edhie, menemui para perwira senior Angkatan Udara di Markas Besar AURI. Ia meyakinkan dirinya bahwa Sukarno benar-benar sudah pergi dan Halim tidak lagi menjadi ancaman bagi Angkatan Darat. Angkatan Udara tidak akan melancarkan serangan udara, seperti yang telah dikhawatirkan Kostrad sepanjang malam sebelumnya.61

Suatu saat pada pagi 2 Oktober pimpinan inti G-30-S meninggalkan persembunyian mereka di Halim dan pindah ke selatan di Lubang Buaya. Di sini mereka membahas situasi yang ada dengan para perwira Batalyon 454 dan anggota-anggota PKI yang ikut serta dalam G-30-S. Akhirnya semua kekuatan G-30-S membubarkan diri dan pergi ke arah yang berbeda-beda. Kedatangan RPKAD agaknya mendorong pelarian mereka. Sjam, Latief, dan Supardjo mencari jalan masuk pusat kota. Untung dan prajurit-prajurit kawal istana menyelinap dengan kereta api menuju Jawa Tengah. Aidit dan Omar Dani sudah diterbangkan keluar Jakarta pada malam hari (Aidit ke Yogyakarta, Omar Dani ke Jawa Timur). Tamatlah kisah G-30-S di Jakarta. Pada hari berikutnya G-30-S di Jawa Tengah pun tamat kisahnya.

CATATAN

1 Schlemihl adalah makhluk khayali yang tubuhnya tak memantulkan bayangan karena ia sudah menjual bayangannya kepada setan. Makhluk ini merupakan karakter utama dalam dongeng The Wonderful History of Peter Schlemihl (1813), buah karya pengarang Jerman Adelbert von Chamisso (1781-1838).

2 Untuk pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan G-30-S, lihat Sekretariat Negara Republik Indonesia, Gerakan 30 September (Jakarta: 1994), lampiran 1-5, hal. 5-13.

3 Sekarang nama yang lazim dipakai adalah Lapangan Monas. Waktu itu lapangan tersebut bernama Lapangan Merdeka. Mengikuti kebiasaan lama, saya akan menggunakan Lapangan Merdeka.

4 Catatan rinci tentang razia penculikan terdapat dalam Anderson dan McVey, Preliminary Analysis, 12-18.

5 Anderson dan McVey menduga peranan Supardjo adalah untuk “mengawasi istana dan stasiun RRI” (Preliminary Analysis, 11). Ini tidak tepat. Pada saat Supardjo tiba, Yon 454 dan Yon 530 sudah menguasai kawasan di luar istana dan stasiun radio. Tidak terlihat bahwa Supardjo diharapkan berperanan lebih dari sekadar berbicara dengan Sukarno di dalam istana. Ia tidak memimpin pasukan yang menduduki stasiun RRI.

6 Transkrip Mahmilub, sidang pengadilan Supardjo, pleidooi dari tertuduh, 13, 28. Dalam hal ini, juga pada hampir semua hal-hal lain, saya menggunakan transkrip dari Mahmilub hanya untuk mengajukan kemungkinan, bukan untuk menegakkan fakta-fakta. Seperti sudah saya kemukakan dalam Pendahuluan, kesaksian para terdakwa dan saksi di depan sidang Mahmilub tidak dapat diandalkan, dan di dalam buku ini saya akan menunjukkan banyak kesalahan di dalam kesaksian-kesaksian mereka. Namun demikian beberapa bagian dari kesaksian-kesaksian itu dapat dianggap akurat bila didukung oleh bukti-bukti dalam bentuk lain. Dalam setiap transkrip persidangan, bagian terpenting ialah pledoi tertuduh yang ditulis sendiri untuk mengajukan interpretasinya secara umum tentang G-30-S dan mengungkapkan sesuatu tentang kepribadiannya.

7 Pada 1965 Sukarno mempunyai empat istri: Fatmawati, Hartini, Dewi, dan Harjati. Tidak satu pun dari mereka tinggal di istana kepresidenan di Jakarta.

8 Saelan, Dari Revolusi ’45 Sampai Kudeta ’66, 309-310. Saat itu Kolonel Saelan adalah wakil komandan pasukan kawal istana. Tapi malam itu ia juga pejabat komandan karena komandan pasukan, Brigjen Sabur, berada di luar kota. Dalam pasukan kawal istana, yang disebut Cakrabirawa, ada satu satuan kecil pengawal pribadi presiden yang dikenal sebagai Detasemen Kawal Pribadi Presiden (DKP). Satuan kecil DKP ini merupakan lingkar pertama yang berada paling dekat dengan sekeliling tubuh presiden. Komandan DKP, Letnan Kolonel Mangil Martowidjojo, telah menulis dengan rinci dalam memoarnya tentang gerak-gerik Sukarno pada pagi hari 1 Oktober 1965 (lihat Martowidjojo, Kesaksian Tentang Bung Karno, 378-398).

9  Kolonel Saelan menyatakan bahwa salah seorang bawahan Untung, Kapten Suwarno, menghampirinya pada sekitar pukul 5.45 pagi dan bertanya di mana presiden berada (Saelan, Dari Revolusi ‘45 Sampai Kudeta ‘66, 309). Ini mungkin memberi petunjuk bahwa sampai detik terakhir kelompok Untung masih mencari-cari presiden. Suwarno inilah yang menjumpai Supardjo di istana dan menyampaikan bahwa presiden tidak ada di tempat.

10 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002.

11 Lihat wawancara dengan Omar Dani dalam Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 240.

12 Lihat pernyataan Sukarno pada 3 Oktober 1965, dalam Setiyono dan Triyana, Revolusi Belum Selesai, 1:18.

13 Waktu yang ditunjukkan di sini waktu perkiraan. Menurut ingatan Letkol Mangil Mar- towidjojo, Sukarno tiba di pangkalan udara Halim sekitar pukul 9.00 pagi (Martowidjojo, Kesaksian Tentang Bung Karno, 389). Agaknya Supardjo tiba lebih awal dari Sukarno. Ketika Supardjo tiba, ia berbicara sebentar dengan Omar Dani di kantor utama, kemudian pergi menemui para pimpinan inti G-30-S. Supardjo sudah meninggalkan kantor komandan Halim saat Sukarno dan rombongannya tiba.

14  Kapan waktu pembunuhan setepatnya tidak diketahui. Badan intelijen AS, Central Intelligence Agency (CIA), dalam laporannya tentang G-30-S yang diterbitkan, menyebut jenderal-jenderal itu dibunuh sekitar pukul 7.00 pagi (CIA, Indonesia – 1965, 21). Menurut ingatan seorang prajurit kawal istana, yang berada di Lubang Buaya saat itu, Sersan Mayor Bungkus, pembunuhan terjadi sekitar pukul 9.30 (wawancara dengan Bungkus). Untuk komentar Bungkus tentang pembunuhan yang telah terbit, lihat Anderson, “World of Sergeant-Mayor Bungkus,” 27-28).

15 Tanggal-tanggal pertemuan, topik-topik diskusi, nama-nama semua yang hadir, dan berbagai pendapat yang dikemukakan dalam pertemuan tidak dapat diketahui dengan kepastian sedikit pun. Kisah-kisah dari rezim Suharto disusun atas dasar kesaksian Sjam. Tapi kita tidak mempunyai alasan mempercayai kata-kata Sjam tentang masalah ini. Notosusanto dan Saleh menyatakan bahwa komplotan ini bertemu sepuluh kali dari 17 Agustus sampai 29 September (lihat Tragedi Nasional, 11-13). Laporan CIA menyatakan, mereka bertemu delapan kali dari 6 September sampai 29 September (Indonesia – 1965, 110-157).

16 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002.

17 Tentang kehadiran Kusno, lihat Siauw Giok Tjhan, “Berbagai Catatan,“ 5-7. Iskandar

Subekti di depan pengadilan mengakui ia berada di Halim bersama Aidit (Subekti, “Jalan

Pembebasan Rakyat Indonesia”, 45-46). Ini merupakan pernyataan Mahmilub yang andal. Tidak ada alasan kuat bagi Subekti untuk mengakui bahwa ia berada di Halim bersama Aidit. Sebagian besar pembelaan Subekti berisi kutukan terhadap rezim Suharto. Sementara Subekti tidak berterus terang mengenai apa yang terjadi di pangkalan Halim pagi itu, pernyataannya bahwa ia berada di Halim agaknya memang benar. Heru Atmodjo juga mengemukakan, ia mendengar dari tapol-tapol lain bahwa Iskandar Subekti memang ada di Halim (Sembiring dan Sutedjo, Gerakan 30 September, 128-129).

18 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002, Jakarta.

19 Menurut Omar Dani para perwira yang hadir dalam rapat itu, selain Dani sendiri, ialah Komodor Dewanto, Komodor Andoko, Komodor Wattimena, dan Laksamana Madya Makki Perdanakusuma. Rapat diadakan di kantor Dani di Wisma Angkasa (Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 225).

20 Sukarno memprakarsai kampanye melawan Malaysia pada September 1963 yang dise- butnya sebagai Konfrontasi. Tentara Indonesia menempatkan pasukannya di Sumatra dan Kalimantan untuk kemungkinan melakukan penyerbuan dan terkadang mengirim kelompok pasukan-pasukan kecil ke kawasan Malaysia. Nama semula dari komando militer yang dibentuk untuk melancarkan Konfrontasi itu Koga. Sukarno mereorganisasi komando ini pada Oktober 1964 dengan nama baru Kolaga: Komando Mandala Siaga. Omar Dani adalah Panglima Kolaga. Wakil Panglima, sejak 1 Januari 1965, ialah Suharto. Panglima pasukan-pasukan Kolaga di Kalimantan ialah Supardjo.

21 Omar Dani mengatakan bahwa ia menginap di Halim malam itu karena ia berharap pada hari berikut akan mendengar lebih banyak tentang apa yang akan terjadi. Ia tidur di gedung pusat pangkalan udara, bukan pulang ke rumah atau pergi ke kantornya sendiri di tengah kota Jakarta. Agaknya tidak benar bahwa, seperti yang disangkakan oleh Anderson dan McVey, Dani “diambil oleh personel AURI dan dibawa ke Halim [pada jam 3.00 pagi] untuk, dengan kehadirannya yang ‘otoritatif,’ mengukuhkan penguasaan para konspirator atas pangkalan udara.“ (Preliminary Analysis, 19).

22 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 11 Juni 2000.

23 Omar Dani menjelaskan, ia menulis “Perintah Harian” antara pukul 7.15 dan 8.00 pagi sesudah mendengar pengumuman pertama G-30-S melalui radio di pangkalan udara Halim. Ia menyisihkan pernyataan itu begitu ia mendengar pada pukul 8.00 bahwa Sukarno sedang menuju Halim. Dani menganggap apa yang sudah ditulisnya sebagai draf yang mungkin harus ia ubah sesudah ia mengetahui pendirian Presiden mengenai G-30-S. Dani sudah mengirim draf itu kepada Komodor Dewanto di Markas Besar AURI untuk meminta pendapatnya. Rupanya, karena keliru komunikasi, draf itu lalu diumumkan sebagai sebuah dokumen final dari MBAU pada pukul 9.30 pagi sebelum Dani dapat merevisinya (Katoppo, Menyingkap Kabut Halim, 238-239)

24 Keterlibatan secara individual dari satuan pasukan para dan polisi militer berdasar pada wawancara lisan dengan beberapa mantan personil militer yang ikut serta dalam G-30-S, Subowo dan Mudjijono (kedua-duanya nama samaran).

25 Jumlah sukarelawan yang berafiliasi dengan PKI tidak diketahui dengan pasti. Selama

persidangan Mahmilub Untung menyatakan ada kira-kira dua ribu orang sipil ikut serta dalam aksi G-30-S pada 1 Oktober 1965 (“Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub di Djakarta, Perkara Untung, 40).

26 Anderson dan McVey menyitat berita surat kabar yang mengutip Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah, Panglima Kodam Jaya, yang menyatakan jumlah seluruh pasukannya enam puluh ribu personil (Preliminary Analysis, 66 n13). Saya kira angka ini terlalu tinggi, tapi saya tidak menemukan angka lain tentang kekuatan pasukan Kodam tersebut.

27 Wirahadikusumah, Dari Peristiwa ke Peristiwa, 182-186.

28 Catatan rezim Suharto sendiri tidak berisi informasi tentang peran serta Sunardi dan Anwas dalam G-30-S. Lihat Notosusanto dan Saleh, Coup Attempt, Sekretariat Negara, September 30th Movement. Kedua tokoh itu kemudian diadili oleh pengadilan militer, dijatuhi hukuman walaupun kekurangan bukti yang melemahkan terdakwa, dan dipenjarakan sampai akhir 1970-an.

29 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, 77.

30 Ibid., 75.

31 Sembiring dan Sutedjo, Gerakan 30 September 1965, 125-129.

32 Transkrip Mahmilub, pengadilan Supardjo, pleidooi dari tertuduh, 6, 11.

33 Laporan CIA menyatakan bahwa Dekrit No. 1 pertama-tama disiarkan pada tengah hari, dan Keputusan 1 dan Keputusan 2 pada pukul 13.00 (lihat Indonesia – 1965, 25-26). Jurnal Indonesia dalam penerbitan terjemahan dokumen-dokumen itu menyatakan bahwa ketiga pengumuman tersebut disiarkan melalui radio pada pukul 14.00 (“Selected Documents,“ 137-139)

34 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, foto-foto antara halaman 8 dan 9.

35 RRI menyiarkan “Perintah Harian” Omar Dani suatu saat lepas tengah hari, walaupun telah disiarkan (menurut Dani secara tidak sengaja) pada pukul 9.30 pagi. Dani mendasarkan pernyataannya lebih pada informasi dari pengumuman gerakan yang pertama (G-30-S sebagai pelindung Sukarno), ketimbang pada pengumuman yang disiarkan pada sore hari (G-30-S sebagai perampas kekuasaan Sukarno). Para editor jurnal Indonesia menyatakan bahwa pernyataan Dani disiarkan pukul 15.30. (“Selected Documents,” 143). Dani sendiri menyatakan bahwa pernyataan itu disiarkan pukul 13.00 siang (Katoppo, Menyingkap Kabut Halim, 239).

36 Sukarno menggunakan istilah Panca Azimat Revolusi, dengan maksud menunjuk pada Nasakom, Pancasila, Manipol-Usdek, Trisakti, dan Berdikari. Nasakom ialah prinsip untuk menggabungkan kecenderungan politik nasionalis, agama, dan komunis ke dalam suatu negara bangsa yang berfungsi tunggal. Pancasila terdiri dari lima prinsip umum yang merupakan dasar untuk persatuan di antara bangsa Indonesia. Secara garis besar lima prinsip itu ialah: kepercayaan kepada Tuhan yang tunggal, kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, dan keadilan sosial. Manipol ialah Manifesto Politik Sukarno tahun 1959, yang ditetapkan pemerintah sebagai azas pembimbing. Usdek ialah akronim untuk lima istilah: UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia. Trisakti merujuk kepada tiga prinsip: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri, ialah prinsip Sukarno untuk ekonomi nasional yang berswasembada.

37 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, 60.

38 Transkrip Mahmilub, pengadilan Supardjo, sidang ketiga, 24 Februari 1967, 21.

39 Transkrip Mahmilub, pengadilan Supardjo, sidang ketiga, 24 Februari 1967, 16-17. Versi resmi militer menyatakan, Sukarno menepuk punggung Supardjo dan mengatakan, “Kerja yang baik” (CIA, Indonesia – 1965, 31). Ini tampaknya merupakan pencatutan kesaksian Supardjo. Sukarno tidak memberi ucapan selamat untuk penculikan terhadap para jenderal; ia menepuk Supardjo di punggung sambil mengancam akan menghukumnya jika ia tidak menghentikan G-30-S. Sukarno belum mengenal Supardjo dengan baik, tapi ia telah bertemu dengannya pada sejumlah kesempatan, dan mengembangkan rasa hormat mendalam terhadap Supardjo. Di Halim Sukarno rupanya nyaman bergaul dengannya. Keakraban dibangun dengan senda gurau, tepukan di punggung, dan bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Baik Sukarno maupun Supardjo bukan orang Sunda, tapi keduanya pernah tinggal cukup lama di Jawa Barat, sehingga mereka fasih berbahasa Sunda.

40 Surodjo and Soeparno, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran and Tanganku, 70.

41 Para pembantu Sukarno di pangkalan udara Halim ialah Laksamana Madya R. Eddy Martadinata, Inspektur Jenderal Sutjipto Judodihardjo, Brigadir Jenderal Sabur, dan Brigadir Jenderal Soetardio.

42 Surodjo and Soeparno, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, and Tanganku, 71.

43 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002. Laporan CIA menyatakan bahwa Supardjo pagi hari itu mondar-mandir antara Pusat Komando Operasi dan rumah Sersan Soejatno sebanyak empat kali (9.30, 10.15, 11.15, dan 11.45). Laporan itu tidak menye- butkan sumber informasi tersebut. Lihat CIA, Indonesia – 1965, diagram antara halaman 22 dan 23. Diagram tidak tampak akurat karena laporan-laporan lain menunjukkan bahwa Supardjo tidak bertemu Sukarno di Pusat Komando Pangkalan Udara sampai kira-kira pukul 10.00 pagi, dan bahwa Sukarno telah pindah ke rumah Komodor Soesanto pada pukul 11.00 siang. Diagram CIA tidak memperlihatkan bahwa Supardjo juga mondar-mandir antara rumah Soesanto dan rumah Sujatno.

44  Menurut laporan CIA yang diterbitkan, “Supardjo minta agar ia diberi kesempatan berkonsultasi tentang masalah itu dengan ‘kawan-kawan’-nya. Presiden menjawab, ‘Ya, baiklah, tapi segera kembali’ …Sesudah bertukar pikiran mereka [pimpinan G-30-S] memutuskan untuk merekomendasikan kepada Sukarno agar menunjuk Mayor Jenderal Pranoto” (CIA, Indonesia – 1965, 32). Menurut cerita Supardjo (lihat Bab 3 dan Apendiks 1 buku ini), G-30-S merekomendasikan tiga nama: Rukman, Pranoto, dan Basuki Rachmat.

45  Mengenai reputasi Rukman dan Basuki Rachmat, lihat Sundhaussen, Road to Power,

171-172.

46 Setiyono and Triyana, Revolusi Belum Selesai, 1:73. Kalimat dalam bahasa Belanda berarti:  “Apa kalian sudah gila, berpikir bahwa saya akan membubarkan kabinet saya sendiri?”

47 Yogyakarta tidak berada di bawah pemerintahan sipil Jawa Tengah. Daerah ini merupakan Daerah Istimewa. Namun, Daerah Istimewa Yogyakarta diintegrasikan ke dalam struktur komando Angkatan Darat yang meliputi wilayah Jawa Tengah (Kodam Diponegoro).

48  Untuk kejadian-kejadian di Jawa Tengah, saya pada pokoknya menggunakan peng- gambaran dalam Anderson dan McVey, Preliminary Analysis, 46-53. Mereka mendasarkan penuturannya pada cerita-cerita yang terdapat dalam koran-koran lokal sejak Oktober sampai Desember 1965.

\49 Satu contoh ialah kepasifan para perwira militer pro-PKI di Sumatra Barat (A. Kahin,

Rebellion to Integration, 240-241).

50 Kostrad yang dibentuk pada 1960 merupakan usaha pertama Angkatan Darat untuk membentuk pasukan cadangan pusat. Walaupun pasukannya masih dipinjam dari komando- komando daerah, Kostrad dirancang untuk memberi panglima Angkatan Darat (yang dipegang Yani sejak Juni 1962) batalyon-batalyon yang berada di bawah komandonya sendiri (Lowry, Armed Forces of Indonesia, 89.)

51 Wirahadikusumah, Dari Peristiwa ke Peristiwa, 186.

52 Reksosamodra, Memoar, 246.

53 Nasution mengingat ia datang pukul 19.30 (Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas, 6:241). Tapi menurut ingatan Suharto, Nasution tiba sekitar pukul 17.30 sore (Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 126).

54 “Selected Documents,“ 167.

55  Tapol Bulletin, no. 90 (Desember 1988), 20-21, mengutip Indonesia Reports, Politics Supplement, no. 25, Agustus 1988. Informasi ini aslinya muncul dalam sebuah dokumen anonim berbahasa Indonesia, berjudul “Peranan Presiden Suharto dalam Gerakan 30

September.” Dokumen ini dilampiri sebuah reproduksi radiogram yang dikirim Suharto kepada tiga batalyon itu pada 21 September 1965, memerintahkan mereka ke Jakarta untuk parade Hari Angkatan Bersenjata.

56 Ketika mereka tiba di Halim pasukan ini ditolak masuk pangkalan oleh perwira-perwira AURI. Dalam keadaan bingung, mereka berkeliaran di sepanjang jalan, di selatan pangkalan udara (Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 129).

57 Waktu pukul 18.00 dilaporkan oleh Dinas Sejarah Militer TNI-Angkatan Darat, Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI-Angkatan Darat, 496.

58 Wawancara dengan Juwono (nama samaran), anggota organisasi pemuda PKI, Pemuda Rakyat. Ia mendapat perintah dari atasannya untuk menduduki gedung telekomunikasi.

59 Reksosamodra, Memoar, 247-248.

60 Hughes, End of Sukarno, 82.

61 Laporan paling rinci tentang peristiwa-peristiwa 2 Oktober pagi di dan sekitar Halim, terdapat dalam Katoppo, Menyingkap Kabut Halim, 149-180.

.

.

.

.

.

Iklan