Dwi Oktrisna; Londo Ireng Anyaran (2)

image

“Kan sudah pernah kutulis esei mengenai hal itu. Ku-publish di Kompasiana melalui akun John Croft. Bila BBM bersubsidi seperti premium dipenggal. Niscaya praktik perbudakan di negeri ini makin buas pula. Akibat harga-harga seluruhnya ikut melambung.” Bisa dibaca disini (harga bbm yang ilusif)

“Iya analisismu mengenai harga BBM itu masih kurang tepat sedikit. Karena ada kelemahan yang luar biasa dalam analisis ekonomi yang kau deskripsikan itu. Kau silap memperhitungkan ‘konsumsi BBM bersubsidi di RI’; seperti premium. Bukankah selama beberapa dasawarsa ini juga ikut naik-luar biasa drastis.”

“Karena kurang tepat itulah maka gegara nila setitik, rusaklah susu sebelanga. Perbandingkan produksi BBM nasional sedari jaman jadul Ibnu Soetowo ketika ia jadi pimpinan. Eh kau bandingkan dengan produksi BBM nasional kita di hari ini. Hwakakakak…” dan Jim pun tertawa mengolok-olok saya.

“Woi bangun sob! bukan cuman produksi BBMnya saja yang tambah tiarap. Kalau tiarap pun wajar. Namanya juga ‘Sumber Daya Alam Yang Tidak Bisa Diperbaharui’, diambil pula dari perut bumi. Lihat sob buka mata lebar-lebar. Negara kita ini sekarang juga makin banyak mobil dan motor di jalanan!” tambah Jim. “Kalau jaman Ibnu Soetowo sih, masih belum segini banyak kalee mobil sama motor di pelosok negeri, itu kekuranganmu yang kedua. Tidak hitung jumlah pertambahan penduduk yang juga meningkat tajam.”

Mendadak kepala saya pun pening. Ah benar juga apa yang ia katakan. Negara ini termasuk negara konsumen BBM terbesar di dunia. Hampir setara dengan konsumsi BBM di Amerika Serikat. Pantas Jepang makin makmur dewasa ini. Karena produk-produk teknologi mereka-seperti kendaraan bermotor, mulai dari mobil sampai motor toh saat ini membanjiri jalan-jalan di seluruh negeri.

“Ya oke, oke. Aku akui aku khilaf. Kurang detail mengikutsertakan fakta; bila juga semakin meningkat tajam-sangat begitu drastisnya daya ‘konsumtif BBM” di tengah masyarakat kita. Pun masyarakat kita toh makin lama pertambahan penduduknya juga makin padat. Puas kau Jim, Puas!?” Saya pun jadi meringis mendengar kritikan telak yang Jim lontarkan. “Ah sialan, untung besar juga ya mereka!”

“Mereka sopo tho?” celetuk Okt Kiau.

“Negara-negara produsen Knalpot a.k.a Kendaraan bermotor” jawab saya sambil menghisap lamat-lamat rokok  yang tinggal separuh.

“Ya iyalah. Apalagi kita cumak dijadiin distributornya doang selama ini. Syukur-syukur ada yang mau bangun pabrik di negeri ini. Mungkin mereka sungkan, gak manusiawi banget, nipu publik sebegini gedhe. Ratusan juta lho sob! Masak kagak ditransferin ilmunya jugak, gak ditransferin teknologinya jugak. Negara kita masak dibiarin ‘ngaplo’, cumak dijadiin pasar bagi produk mereka. Bahasa yang lebih kasar, sampah bagi produk-produk mereka.”

“Lek aku sih nganggep yo kuwi sing dijenengi cerdas. Negara sing cerdas, amergo dheweke dodolan racun sing diecer nang njobo negorone. Sementara iku rakyate dhewe uripe dicerdasno ora dibudayakno nganggo racun eceran. Rakyate uripe dicerdasno dibanguno fasilitas transportasi publik sing uapik, modern, mlakune was-wes, ramah lingkungan, tur murah tenan tarife.” Okt Kiau pun mulai angkat bicara. Saya pun manggut-manggut mendengarnya.

“Jadi kalau mau harga stabil. Tidak hanya BBM saja! Kau perlu juga kontrol semua ‘persediaan energi’ yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, seperti listrik dan air. Kemana analisis ekonomimu mengenai kedua hal yang juga termasuk kategori ‘sangat vital’ itu”. Saya pun kaget mendengar celoteh suara yang khas-cukup familier di telinga saya itu.

Suara yang sok bijak dan menggurui. Siapa lagi kalau bukan si strez, Trez Zhe Liang. Ia langsung saja menyalami kami satu persatu.

“Sepurane sing akeh lur” tuturnya

“Piye kabarmu trez? rah tau kethok kuwi nang ndi wae?” tanya Okt Kiau menginterogasi.

“Seperti biasa cyin. Epik-epik wae! Cinta satu malam, na..na..na..na” Kami pun tertawa terbahak-bahak mendengar ia bersenandung lagu dangdut favoritnya. Se-epik legenda pat kai, begitulah kisah cinta si strez, deritanya tiada akhir. Se-epik Indiana Jones, karena ia tergolong salah seorang JOmblo paling-ngeNES di kumpulan kami.

“Sudah-sudah cukup, selesai bercandanya. Tolong kembali ke topik bung-bung sekalian. Persediaan energi!” Mimik muka strez berubah serius. Sambil diserobotnya rokok Jim di atas meja. Sekejap memantiknya, keluarlah asap-asap dari hidung dan mulutnya.

“Untuk mengawali topik ini. Silahkan baca ini terlebih dahulu bung-bung sekalian; RAPBN 2015 mengalokasikan dana BBM bersubsidi yang luar biasa tinggi.” Strez lempar koran yang ia bawa pada kami. Dan kami pun bergantian membacanya.

“Bwahaha.. Kasihan jugak ya si Joko. Langsung digepuk pundaknya sama si Beye. Pasti batuk-batuk keselek dia sekarang. Kie Lho Emploken Le!” Jim tertawa terbahak-bahak.

“Makane tho.. mbok yo direncanakno sik sakabehe. Ngundang pasar koyok ngundang pithik ae. Yo lek pithik utowo menthok iku panganane dedhek. Lha panganane bensin eh?! Padhane nang kene iki sumure bensin ae.” Okt Kiau ketus menanggapi.

“Waduh gaswat. Rasanya Pemerintah perlu merenegosiasi ulang dengan semua perusahaan-perusahaan pithik dan menthok itu. Kalau bisa membatasi dulu seberapa banyak mereka diperbolehkan menjual pithik dan menthoknya di sini”. Tambah saya seakan mengiyakan Okt Kiau.

“Iyo lek ndak ngono isok ciloko tenan. Gak mbayangno wong sakmono akehe muntab. Kadung wis tuku kredit, ndelalah bensine tibakno malah luwih larang. Jan nggarakno rego-rego sakabehe mundak pisan. Opo gak jerat jerit. Wis dibujuki dealer, dibujuki joko, dibujuki kreditan pisan.” Ucap Okt Kiau tegang.

“Duh Embargo dong itu namanya. Apalagi tahun 2015 nanti kita akan menghadapi AFTA. Apa nggak terlalu riskan untuk citra kita di mata dunia Internasional?” tukas saya.

“Kalau menurutku sih tidak ada masalah. Selama kita bisa membuat mereka memahami kondisi kita yang sebenarnya. Meyakinkan mereka jika persediaan energi kita masihlah sangat terbatas untuk mengimbangi daya konsumsi, sebab akibat dari membanjirnya produk-produk pithik dan menthok yang mereka pasarkan di negeri kita.” ucap strez sok bijak.

Ia seduh kopi saya tanpa permisi. Dan kemudian melanjutkan lagi celotehnya. “Lihat saja hari ini Pemerintahan kita kewalahan tho? Getol subsidi BBM dipangkas. Padahal ya karena memang keteledoran Pemerintah sendiri membuka keran semoncrot-moncrotnya bagi beredarmya produk  kendaraan mereka di negara kita. Sementara itu mereka bos-bos perusahaan yang pithik dan menthoknya laris terjual? Ya jelas gak bingung kayak presiden kita, mereka tinggal duduk ongkang-ongkang kipasan duit ketawa ketiwi sama miyabi lihat presiden kita kelimpungan. Jauh, jauh di negeri seberang sana. Sudah rakyat mereka jumlah penduduknya sedikit, hidupnya tambah makmur, karakter rakyatnya dicerdaskan-dibudayakan pula menggunakan transportasi publik. Eh sangat bertolak belakang tho dengan apa yang menimpa rakyat kita. Sial tujuh turunan, ketipu deh kita semua.”

“Wah bahaya juga sob. Kalau tidak segera di-rem. Habislah kita semua!” saya pun resah.

“Ya betapa alangkah mandulnya peran pemerintah melindungi situasi ekonomi nasional kita selama ini. Melindungi rakyatnya untuk tidak dibodohi. Yang paling konyol sob. Malah mereka mau jualan mobil nasional pula. Bwahaha… pada kemana itu mikirnya.. konyol bin longor.. bwahahaha.. “. Strez tertawa seperti orang gila.

“Makanya perlu embargo. Kebanyakan pithik sama menthok bisa bikin hancur situasi ekonomi nasional kita. Padahal Pemerintahan kita masih belum mampu menyediakan persediaan energi yang optimal. Eh kalau bisa sih maksimal untuk bisa kita ekspor sekalian.” Lanjut strez.

“Atau boleh mereka berjualan di sini. Tapi dengan syarat, tidak setengah-setengah menjual produknya. Mereka juga wajib menyediakan bahan bakar bagi pithik dan menthok yang mereka jual.” Strez ambil napas dalam-dalam. Ia tunjukkan rokok dan koreknya. “Apa mereka mampu? Siapa sih sob yang mau beli rokok tapi gak ada koreknya? Lalu buat apa beli segitu banyak rokok kalau koreknya habis. Mlongo!”

Kami semua pun terdiam membisu.

Masihlah panjang jalan untuk memanusiakan manusia di Indonesia. Sialnya salah arah pula tujuan kemerdekaan kita yang tidak lagi “mencerdaskan kehidupan” bangsa. Bangsa kita termasuk bangsa yang paling mudah dibodohi akhir-akhir ini, paling konsumtif dan boros soal energi dibandingkan negara-negara lain di dunia. Hampir setara dengan borosnya Amerika Serikat. Tapi bagaimanapun syukurlah, kita masih tergolong manusiawi, tidak sebuas Amerika Serikat yang menggenjot persediaan energi minyaknya bahkan rela dengan melalui jalan peperangan. Ah rasanya memang tak ada pilihan lain. Mereka mungkin memang sengaja ciptakan perang diluar negaranya, ketimbang terjadi perang di dalam negerinya sendiri, di antara rakyatnya sendiri.

“Tapi tris, satu hal yang tepat dalam analisismu. Harga-harga harus stabil untuk mewujudkan keadilan. Dimanapun peran Negara di dunia ini adalah stabilitas harga. Syarat utama untuk menyejahterakan rakyatnya.  Menegakkan sila kedua. Kemanusiaan-yang adil-dan beradab. Kasihan juga yang sudah nabung bertahun-tahun gak juga bisa beli rumah, eh harga properti makin lama makin melangit” Strez menepuk pundak saya.

“Ancen rah ono dalan liyone. Gelem gak gelem lek Pemerintahan sing saiki gak goblok lho yo. Yok opo yok opo kudu sing dilakoni pertama kali yo nyetop keran pithik ambek menthok. Ndang sediakno sik energi sing melimpah. Digenjot produksi minyake, utowo lek impor yo ndolek sing murah meriah. Iku wis syarat mutlak. Gak isok diganggu gugat. Regone ket bensin, banyu, sampek listrik gak oleh diuthak-uthek. Ben rego-rego isok stabil. Opo maneh baringene atene MEA 2015.” Okt Kiau ikut berkomentar.

“Itu sudah rumus pasti kalee sob. Prioritas pertama memang harus siap persediaan energi yang melimpah dengan proyeksi tahun dua puluh tahunan kek. Kedua baru bangun infrastruktur. Ketiga silahkan buka pasar selebar-lebarnya. Ini pada dibolak balik eh selama ini. Pasar dulu yang dibuka, ya njeglek ! tolol banget khan?!” Tambah Jim.

“Ada empat jalan sebenarnya untuk menghadapi bahaya krisis energi yang tak terbarukan seperti BBM itu kelak.” Lanjut strez sambil ia tunjukkan ke empat jarinya layaknya iklan KB. “Pertama Eksplorasi, kedua Konversi, ketiga inovasi sains dan keempat Negosiasi. Ingat negosiasi bukan invansi seperti apa yang dilakukan Amerika Serikat. Sebagai calon lid dari MEA kita harus bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi dunia. Gunakan cara-cara yang elegan lah. Invasi itu kekanak-kanakan.”

“Iya sob. Apalagi sampai kerahkan intelijen, ikut masok senjata pula mengadu domba negara-negara kecil penghasil minyak di Asia barat sana. Busuk bener itu. Selalu aja begitu caranya. Pas negaranya sudah pada hancur lebur. Baru mereka beri bantuan modal bangun infrastruktur. Pura-pura baik, padahal ya tujuannya supaya negosiasi mereka bisa lebih lunak, bisa lebih mulus untuk menguasai minyaknya” Sungut Jim kerutkan alis, “Drama lama kok diputar terus diulang-diulang. Apa gak malu ya sebagai negara dengan demokrasi paling tua di dunia?”

“Yo emploken iki!” tiba-tiba mulut Jim disumpal lombok oleh tangan seseorang dari belakang. “kakean cangkem koyok PKS”

Jelas itu kebiasaan siapa lagi. Kalau bukan..

“Sempak John!” Umpat Jim kesetanan. “Cuk panas cuk!”

John croft, rekan kami yang lain. Ia terlambat sudah empat puluh lima menit. Tentu saja, menurut perjanjian. Ada hukuman yang menantinya. Hukuman yang sudah kami sepakati bila ada dari kami yang terlambat.

bersambung..

Iklan