Dwi Oktrisna; Londo Ireng Anyaran (1)

(Sebuah catatan kritis; refleksi untuk menyambut dirgahayu RI yang ke 69)
image

Usai lebaran 2014, bersama Jim Rheumason sang gitaris yahudi dan Okt Kiau Tiong hoa muslim peranakan; sang penyiar, bukan penyair. Layaknya tiga pendekar yang sedang turun gunung. Kami bertiga pun penuhi janji-yang pernah kami sepakati bersama. Untuk bertemu di salah satu bukit padat penduduk di kota Semarang. Kebetulan jualah sebentar lagi hari Kemerdekaan akan pula dirayakan. Ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69.

.
Jim tampak sumringah karena ia baru saja merilis album sholawatnya yang ia pamerkan kepada si muslim Okt Kiau. Padahal Okt Kiau sedang murung dangan hasil penjualan buku puisinya yang mengecewakan. Saya sendiri boyok saya sakit bukan main, remuk redam seperti kenak godam. Bisa bangun dan berjalan untuk menenuhi janji bertemu dengan mereka berdua, sungguh bersyukur sekali rasanya.

.
Ya, ya mengenai rasa. Rasanya baru kemarin saya tulis pleidoi untuk para pelacur gang dolly, mereka yang tidak mengambil sepersenpun uang negara untuk bertahan hidup. Tak lama kami pun ayunkan kaki susuri pulau Jawa sampai ke tengah. Di situlah kami pun menyadari, tidak seluruhnya mereka yang tidak ambil sepersen pun uang dari negara demi bertahan hidup, tidak semuanya ternyata lebih patut untuk dimuliakan.

.
Mereka memang tidak mengambil sepersenpun uang dari negara. Namun sebaliknya, lebih tidak manusiawi lagi. Sadis menyedot habis hidup dan kemanusiaan orang-orang lemah yang berada di bawahnya, manusia sisa-sisa yang tak ada pilihan lain mendulang rupiah selain rela menjadi budaknya.

.
Budak bagi para tuan dan nyonya, juragan-juragan baik itu mereka para pemodal-pemodal kecil di desa-desa sampai juga yang besar-besar di kota-kota.

.
Ya kami pun saling bertukar cerita, setelah nguli seharian hendak mendalami kehidupan akar para pekerja di sektor informal. Dan jim pun kaget (maklum ia cuman jaga kelontong yang lumayan manusiawi dengan jam kerja delapan jam), sangat bertolak belakang dengan apa yang saya dan Okt Kiau alami.

.
Jim masih tampak segar bugar, dengan prestasi delapan jam kerja yang telah dikantonginya. Upahnya delapan ratus ribu per bulan. Iapun diberi uang jajan sepuluh ribu per hari oleh juragannya. Ada liburnya pula di hari minggu. Hal yang buat kami berdua iri bukan main. Sungguh manusiawi juragan yang ia punya.

.
Sedang saya kebagian job sebagai juru jaga dan kirim depo air isi ulang. Mata saya agak melotot. Saat juragan saya bilang jam kerjanya 13 jam. Mulai dari jam tujuh pagi sampai jam delapan malam. Tiada hari libur kata juragan saya. Disediakan fasilitas kamar tidur dalam dan makan tiga kali sehari tambahnya. Ya saya pun mengantar puluhan galon dan juga gas elpiji. Saya sebenarnya sangat menikmatinya. Ini pekerjaan paling saya gemari. Bersyukur sekali rasanya bisa melayani masyarakat sebegitu banyaknya. Antarkan galon air dan gas elpiji ke tiap-tiap rumah warga. Apalagi bila si pemesan adalah orang tua yang sudah sepuh lanjut usia. Saya bahagia luar biasa, pun cuma sekedar memasangkan galon ke dispenser untuknya.

.
Sialnya pada hari ketiga, dengan fisik saya yang belum juga mampu sepenuhnya beradaptasi dengan pekerjaan semacam itu. Pun tubuh saya roboh, tak lagi bisa bangun dan dipecatlah saya pada hari itu juga.

.
Okt Kiau paling naas nasibnya, ia mendapat job jaga depot, 18 jam kerja sehari tanpa adanya satu hari liburpun untuknya. Dia pun hengkang di minggu kedua. Tubuh fisiknya drop. Syukur tidak sampai terserang gejala typhus.

.
Padahal rata-rata upah yang ditawarkan pada kami pun ternyata sama, diupah delapan ratus ribu per bulan.

.
Luar biasa, jadi inikah hasilnya selama enam puluh sembilan tahun merdeka. Okt Kiau pun menulis haiku berantai setelah meresapi fenomena ganjil yang ia alami.

“Ladang Kewan”
oleh Tan Okt Kiau


Sudahlah lewat
Enam puluh sembilan
tahun merdeka


Hei penguasa
dari atas ke bawah
Manusiawilah!


para juragan
baik kecil pun besar
desa pun kota


langgar etika
buat aturan hewan
tuk manusia


Ya manusia
tidak lagi binatang
Wahai juragan!


Romusha musnah
Minggat pergi menghilang
Pulang ke Jepang


Ah cultuurstelsel
Niku warisan Londo
Ojo diguru!


Nopo digugu
Kok jan nganti ditiru
Naudzubillah


Enam sembilan
Tahun tahun merdeka
Sia(l) sialah


Duh ampun Gusti
ada ladang binatang
di mana-mana


Pelosok kota
Sampai ke desa-desa
di pulau-pulau


Tuan di atas
pecuti manusia
seperti sapi


Nyonya juragan
Ketus lidahnya tajam
lukai hati


Oh kanjeng nabi
Niki umat njenengan
Kathah tumplek blek


Lali njenengan
Mboten eling tauladan
Dados menungso


Ya nabiyulloh
Kulo nangis mirsani
Woten menungso


Dipun kewani
Kaliyan sedhuluran
Bangsa sedherek


Ya Rasululloh
Sampun puluhan taun
Jur kamardikan


Kathah manungsan
Mboten nggugu njenengan
Nadyan kirangan


Nganjeli luwih
Ngiket watu teng weteng
Nggih masyaAlloh


Sabar kinasih
Mboten kepirang pirang
Ya nabiyulloh


Oh guru agung
Leresipun rahmatan
Nggo sakabehe


Nggih Sakmeniki
Rega-rega pun mundhak
Larang sedoyo


Wonten alasan
Maklumi kalepetan
Ninggal njenengan


Tuladha agung
Ndak digugu, ditiru
Warak sakalir


Duh ampun Gusti
Pun pirang-pirang taun
Bolan baleni


Lali pendulu
Ikhlas nanggap peluru
pathing keleler


Duh ampun Gusti
Londo ireng sumebar
teng pundi pundi


Duh, tiyang jowo
podho lali jowone
ilang ramahe


Kathah cah enom
Rah nduwe unggah ungguh
Kasar pitutur


Duh ampun gusti
Pun pirang-pirang taun
Diwulang-wulang


Kathah kang kufur
Mboten saged syukuri
Ngewanke tiyang


Duh ampun gusti
Kathah wong podho pinter
Nanging minteri


Duh ampun gusti
Kulo nguli niteni
Mugi mung sithik


Mboten kekathah
Pun kirang alon-alon
Asal kelakon


Dumateng anteng
mboten ndangak pethenteng
Teng kanjeng nabi


Welas asihe
Tumindak lan pitutur
Alus kabehe


-Semarang, 11 agustus 2014-

.
Kami bertiga pun resah tidak kepalang. Memang negeri ini sudah lama merdeka. Tapi tidak seluruh rakyatnya menghargai betul-betul arti dari kemerdekaan. Malah nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak olehnya, menjadi londo ireng anyaran.

.
Saat krisis ekonomi berkecamuk dan harga-harga mulai melambung tinggi. Mau tak mau, tetap manusia sisa-sisa, mereka yang tak punya modal, yang tidak berpendidikan, yang paling jelata jualah yang paling menderita, yang selalu saja jadi korbannya. Mereka rela diperlakukan tidak manusiawi oleh juragan-juragannya (baik pengusaha kecil maupun besar). Sekali lagi demi untuk bertahan hidup.

.
Bahkan tidak hanya bertahan hidup, ada pula yang demi kais rupiah berlebih. Rela tinggalkan tanggung jawab liyan yang lebih esensial bagi masa depan kemanusiaan. Tega pula menciderai nilai-nilai kemanusiaan.

.
Seperti memperhatikan kebahagiaan yang lebih bersifat batiniah. Perlu perbaikan serius atas kualitas kemanusiaan dalam hati, diri dan jiwa masyarakat Indonesia di hari ini.

.
“Benar-benar krisis kemanusiaan melanda. Kemanusiaan kok maleh akeh sing dibelehi telecek-an.” Okt Kiau mulai angkat bicara.

.
“Terus bagaimana lagi. Wajar tho makin keras dipecuti. Makin lama jam kerja. Makin baiklah pelayanan. Makin meningkatlah hasil penjualan. Makin makmurlah, karena untung pun berlebih?” Saya coba menanggapi.

.

“Edan kowe! Luwih diapiki kualitas ibadahe. Ben ora ndadak serakah. Koyok mbalik nang jaman londo wae, dipecuti” sergah Okt Kiau pada saya. “Lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan. Jangan-jangan rejeki seret soalnya ya karena memang bangsa kita ini banyak yang kufur.”

.
“Ah non sense, kualitas pribadinya juga!” bantah Jim pada Okt Kiau, layaknya turis Yahudi yang kesasar. “Kufur  jelas! lha keramahan-tamahannya kepada sesama sebagai orang Indonesia saja sudah terbilang jarang! pada hilang kemana coba? Padahal itu tradisi yang paling utama khan?”

.
Dan saya pun ikut tertarik menambahkan. “Adalah mendidik diri sendiri, dengan membaca literatur apa saja, mencerdaskan diri sendiri. Bukankah itu sekaligus turut pula menjunjung tinggi tujuan dari kemerdekaan kita yang paling hakiki; yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa?”

.
“Ngomong opo kowe. Rah nyambung.” Okt Kiau memotong.

.
“Lho nyambung tho. Itu karena bangsa kita sekarang sedang malas membaca sastra. Bangsa kita terlalu mengejar kecerdasan otak belaka. Padahal hiduplah yang perlu dicerdaskan! bukan otaknya saja”

.
“Hidup dicerdaskan?! maksud loe?” Jim melongo.

.
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dodol! bukan mencerdaskan otak bangsa. Paham?!” sayapun meradang.

.
“Akeh wong pinter nanging minteri Jim. Akeh wong landhep akale nanging malah ngakali. Mudheng rah?” untunglah Okt Kiau nyambung dengan apa yang saya maksudkan.

.
“Jan busuk tenan kuwi. Ngalah-ngalahi londo!” umpat Jim keras.

.
Ya dalam perdebatan dan keresahan yang bercabang-cabang teramat dalam itu, terang saja membuat pikiran kami tambah runyam. Haduh, untunglah tak lama kemudian datanglah seorang anak perempuan yang datang hampiri kami.

.
“Permisi Kak, met hari lebaran!”. Ia menyalami tangan kami satu per satu. Jim pun segera mengambil uang sepuluh ribu yang masih mengkilap baru dari dompetnya.

.
“Ini buat njajan ya”

.
“Terima kasih kak!” Senyum gadis kecil itu manis mengembang. Sangat manis. Seakan menjadi penawar bagi pahitnya kopi. Pahit yang sedari tadi resah kami reguki.

.
Ah tetaplah paling esensial dari segalanya. Apalagi kami bertiga sebagai Gusdurian sejati pun sepakat; bilapun Tuhan beri cukup rejeki tak juga sampai berlebih. Bukankah memberi kasih sayang adalah hal yang paling esensial, jika bisa berlebih-lebih kali lipat kepada anak dan istri, kepada tetangga kanan kiri. Menjadi sosok suri tauladan meneladani akhlak kanjeng nabi, menjadi sosok manusia yang penuh welas asih, halus sikapnya, lembut tuturnya. Di rumahnya sendiri, di lingkungan masyarakatnya sendiri. Harulah mata kami berkaca-kaca sambil mendengar lantunan syiir Gus Dur yang mengalun dari gadget milik Okt Kiau; sabar nerimo najan pas-pas an.

.
Maklum, di Semarang jarang ada masjid atau musholla yang memutar syiir Gus Dur. Tidak seperti di Jawa Timur, tiap menjelang adzan sembahyang, pastilah sudah terdengar lebih dulu suara Gus Dur berkumandang. Hal yang membuat kami mbrebes mili sangat rindunya dengan sosok beliau.

.
“Ya sob, padahal sudah jaman kemerdekaan. Sudah sujud syukur sekali kita seharusnya, gak ada lagi rudal yang nyasar kayak di Palestina. Bisa dagang santai, buka lapak dimana saja, mahal juga ya kedamaian itu ternyata. Bener-bener gak bisa dibeli pakek uang” Tukas Jim pada kami.

.
“Yo iyo sih. Tapi trenyuh tenan aku, kok jik onok ae sing pethenthengan ngejari untung koyok dikejar setan wae. Nylekit tuture, kasar kelakuane marang sing liyan. Po yo pantes meskipun kuwi teng anak buahe dhewe. Menungso kok yo dilarani padhane kewan ae. Duh gusti kok maleh kathah sing niru kelakuane londo. Kemerdekaan cap gatel tha?! ” celetuk Okt Kiau dalam logat jawanya yang setengah kental.

.
“Keresahan kita sudah pernah diprediksi oleh Tan Malaka. Jauh hari sebelum negeri kita merdeka. Makanya kenapa saya ajak kalian bertemu di Semarang. Ini baca brosur yang ditulis beliau pada tahun 1921, mengenai sekolah-sekolah SI yang dirintis oleh SI Semarang.” sambil kuberi dua lembar kertas HVS kepada mereka. Dan mereka pun mulai membacanya. Tulisan lengkapnya bisa dibaca online di sini. (SI Semarang dan Onderwijs)

.
Kualitas hidup kemanusiaan yang terabaikan

.
Regulasi sistem ketenagaan kerja adalah salah satu bentuk proteksi. Proteksi yang digalakkan oleh negara melalui kebijakan Undang-Undang. Hal yang patut disyukuri karena ada upaya legalitas hukum untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan rakyat di seluruh negeri. Melindunginya dari praktik-praktik eksploitatif berlebihan yang kerap berefek sistemik menciderai nilai-nilai kemanusiaan.

.
“Mengapa delapan jam? tidak juga 16 jam? atau 24 jam?”

.
Pertanyaan fundamen yang harus dipahami secara mendalam oleh berbagai pihak di tanah air. Terutama bagi pihak-pihak yang ingin membuka lapangan kerja baru di negeri ini. Mereka yang berjiwa bisnis, kadang terlampau sadis mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

.
Karena begitulah idealnya, bangsa yang menghargai nilai-nilai kemerdekaan adalah bangsa yang menghargai harkat dan martabat kemanusiaan rakyatnya, terutama kemanusiaan orang-orang jelata yang berada di bawahnya, yang tidak memiliki nasib seberuntung dirinya, mereka yang terjebak dalam rantai ketidakadilan selama ini.

.
Selama puluhan tahun kemerdekaan, bertahan dalam ketidakberdayaan kemiskinan, najan nrimo pas-pasan hidup serba berkecukupan. Mereka yang cuman bisa meringis, saat tuan dan nyonyanya yang memperbudaknya dimaklumi kapanpun bisa seenaknya lempar amarah bersikap sinis.

.
Sudah setengah abad kita kejar materi lebih a.k.a kuantitas hidup, sepelekan kerja esensial yang lebih dalam untuk memperbaiki kualitas hidup (dan kemanusiaan) di negeri ini. Wajar bila nilai moral jatuh bebas, anak-anak mudanya tak berbudaya. Karena memang sudah sifat turunan dari orang tuanya. Vakum dalam memberi suri tauladan yang baik. Bagaimana memanusiakan manusia itu seharusnya.

.
Negara kita, banyak yang bilang. Sudah terbilang negara sedang berkembang. Sektor industri pun dibangun di seantero negeri. Dan sekolah-sekolah didirikan, banyak yang jadi pintar, meminjam istilah Tan Malaka; namun sayangnya diajar di “sekolah partikelir”. Itulah saya lebih sreg anggap negara kita “masih terbelakang”, nyatanya akeh wong pinter nanging malah minteri. Ah gosip belaka bila negara ini sedang menjadi “maju”, jelas yang terlihat di lapangan adalah “kemajuan absurd” menggejala. Manusia yang adil dan beradab? berbudaya saja tidak, kok mau beradab.

.
Karena memang sedikit sekali yang paham sejarah gelap kemanusiaan di Eropa. Negara ini pun sedang keranjingan meniru segala apapun kemajuan dari sistem perbendaharaannya belaka. Namun jejak-jejak tragedi kemanusiaan yang meliputinya malas pula untuk diselidiki dan dipelajari. Mengadakan jam kerja lebih dari delapan jam. Hehh..

.
Kalau si Tuan dan Nyonya juragan hidup di Inggris saat ini. Sudah pasti tempat bisnisnya dimolotov oleh masyarakat. Hukuman yang paling lembut yang diberikan oleh masyarakatnya-ya diboikot. Tapi untunglah Tuan dan Nyonya hidup di Indonesia. Negara yang masih awam tentang soal-soal kemanusiaan. Duh gusti, padahal sudah merdeka selama enam puluh sembilan tahun. Bagaimana bisa mencerdaskan kehidupan, baca buku (sejarah) saja malasnya luar biasa.

.
“Saat masa-masa Revolusi industri sedang bersemi di Inggris. Saat itulah awal dimana krisis kemanusiaan pun mulai menghantui dan membayangi Eropa. Seorang kaya raya filantropis yang juga menjadi anggota dari serikat perkumpulan para penyair dan filsuf Manchester. Robert Owen, dialah yang pertama kali mengkampanyekan slogan; “delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, delapan jam istirahat” bagi buruh-buruh pabrik tekstilnya kala itu. Tepatnya setelah ia hijrah dari Manchester ke Glasgow. Menikahi seorang putri dari pemilik perusahaan tekstil keluarga besar Dale. Tahun 1817, melihat ketidakberesan kerja sebab akibat ketertekanan mental dari para pekerjanya. Ia pun berinisiatif untuk mengurangi jam kerja”

.
“Halah moco wikipedia wae sok-sok an, kemlinthi kowe.. Lha piye maneh lek rah digenjot lha tambah larang sembarange” sergah Okt Kiau sambil tertawa.

.

bersambung…

Iklan