Logika Kebun Cabe ala Kwik Kan Gie, Bedah Mitos Kenaikan Harga BBM.

Harga BBM Harga Mati Menaikkannya=Membunuh Hajat Hidup Orang Banyak

Harga BBM itu Harga Mati!!
Menaikkannya=Membunuh Hajat Hidup Orang Banyak

.

Sesiapapun itu yang kelak akan menjadi Presiden, memperebutkan kue kekuasaan di negara kita, jelaslah akan selalu berhadapan dengan keputusan kebijakan untuk menaikkan harga BBM. Persolan yang selalu dipolitisir oleh para penguasa. Selalu dikeluhkan oleh mereka dari tahun ke tahun. Adalah karena persoalan subsidi rakyat . Mitos selama ini bila negara telah mensubsidi rakyat. Dan bisa-bisa negara bangkrut dan tekor kalau terus-terusan mensubsidi rakyatnya seperti itu.
.

Namun apakah memang benar begitu ?

.

Penulis pun sangat tertarik dengan anekdot yang pernah ditulis oleh salah seorang punggawa ekonom kita di abad ini. Beliaulah Kwik Kian Gie, yang telah memutuskan untuk keluar dari sistem kekuasaan negara selama ini. Beliau pun membuat sebuah narasi yang cukup sederhana mengenai “apa yang sebenarnya” ada di dalam otak para pemegang kebijakan Negara selama ini.
.

Dari cerita tentang keseharian seorang produsen cabe ini, seorang awam seperti penulis pun jadi mahfum. Oh itu toh !! sebenarnya gejala penyakit mental yang menimpa kaum intelektual Indon Inlander selama ini?

.

Desakan dari dunia Internasional, memaksa Pemerintah kita. Untuk segera memilih diantara dua opsi pilihan: 1. mensubsidi rakyatnya 2. atau memecut rakyatnya lebih keras lagi layaknya kerbau. Mengingat Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 berbunyi :

(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat.

.

Sebuah pasal yang jelas ditulis sebagai peringatan bagi pemimpin-pemimpin RI kelak yang akan menggantikan mereka di masa-masa mendatang, hendaknya melindungi kemakmuran rakyat, agar jangan sampai pula rakyat menjadi sengsara. Dipecut berkali-kali tak henti-henti mengais rejeki.

.

Namun sayangnya, pemerintah SBY atas desakan Amerika Serikat pun menghendaki terjadinya inflasi di dalam negeri kita sendiri, untuk memotong nilai Rupiah, menguatkan Dollar Amerika Serikat, agar atmosfer ekonomi dunia tetap stabil. Agar US dollar tetap kuat bertengger selama-lamanya. Begitulah kurang lebih sederhananya, menurut apa yang penulis cermati selama ini.

.

Untuk lebih jauh membahas persoalan ini. Nanti akan penulis tulis lebih lengkap lagi di kemudian hari. Mengapakah pemerintahan kita yang berisi kaum intelektual berotak inlander itu begitu gemar melahirkan mitos BBM harus naik selama ini.

.

Jadi sekarang ada baiknya. Mari kita simak anekdot sederhana dari pak Kwik, mengenai gejala mentalnya terlebih dahulu… 🙂

———————————————————
LOGIKA KEBUN CABE

Rakyat yang tidak berpendidikan tinggi dengan segera dapat menangkap konyolnya pikiran para elit kita dengan penjelasan sebagai berikut.

Rumah tempat tinggal keluarga pak Amad punya kebun kecil yang setiap harinya menghasilkan 1 kgcabe. Keluarganya yang ditambah dengan staf pegawai/pembantu rumah tangga cukup besar. Keluarga ini mengkonsumsi 1 kg. cabe setiap harinya.

Seperti kita ketahui, kalau produksi cabe yang setiap harinya 1 kgitu dijual, pak Amad akan mendapat uang sebesar Rp. 15.000 setiap harinya. Tetapi 1 kgcabe itu dibutuhkan untuk konsumsi keluarganya sendiri.

Biaya dalam bentuk uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pak Amad untuk menyiram dan memberi pupuk sekedarnya setiap harinya Rp. 1.000.

Pak Amad setiap harinya ngomel, menggerutu mengatakan bahwa dia sangat sedih, karena harus mensubsidi keluarganya sebesar Rp. 15.000 per hari, karena harus memberi cabe hasil kebunnya kepada keluarganya, yang harganya di pasar Rp. 15.000 per kg

Akhirnya seluruh keluarga sepakat megumpulkan uang (urunan) sebanyak Rp. 5.000 yang diberikan kepada pak Amad sebagai penggantian untuk cabenya yang tidak dijual di pasar. Pak Amad masih menggerutu mengatakan bahwa dia memberi subsidi untuk cabe sebesar Rp. 10.000 setiap hari.

Lantas tidak hanya menggerutu, dia menjadi sinting betreriak-teriak bahwa dompetnya akan jebol, karena uang tunai keluar terus sebanyak Rp. 10.000 setiap harinya. Dalam kenyataannya, dia keluar uang Rp. 1.000 dan memperoleh Rp. 5.000 setiap harinya.

Ketika saya menceriterakan ini, rakyat jelata yang minta penjelasan kepada saya mengatakan : “Iya pak, kok aneh ya, punya cabe di kebunnya sendiri, harganya meningkat tinggi kok sedih, ngamuk, mengatakan kantongnya jebol, uang mengalir keluar, padahal yang keluar hanya Rp. 1.000 per hari, dia memperoleh Rp. 5.000 per harinya.”

Saya katakan kepada rakyat jelata : “Ya itulah otak banyak sekali dari pemimpinmu yag sudah berhasil dicuci sampai menjadi gendeng seperti itu.”

sumber : http://www.kwikkiangie.com

Bagi yang ingin bergerak meluaskan “people power” untuk menolak kenaikan harga BBM silahkan tanda tangani petisi pada link berikut HARGA BBM ADALAH HARGA MATI !!. Dan Sebarkan ke twitter atau facebook teman-teman. Trims sebelumnya 🙂

 

Iklan