Syi’ir Tanpa Waton Gus Dur disesatkan ?!

Gus dur sang filsuf

Gus Dur S(eor)ang Filsuf(i)

Penulis cukup resah dengan merebaknya fenomena pengunggahan syi’ir tanpa waton di media-media online di tanah air kita saat ini. Salah satunya di Youtube, ada yang mengartikannya dari jawa ke Indonesia, kok bagi penulis penafsiran itu ngawur sekali, walaupun hanya satu dua kata saja. Namun hal itu bisa mereduksi pesan-pesan Gus Dur yang sebenarnya. Mereduksi tauladan-tauladan seperti apa yang pernah dicontohkannya semasa hidupnya.

Salah satunya adalah ini

————————————————————
Dari baris:

Ojo mung ngaji syareat bloko

jangan hanya mengaji hukum agama belaka

–dilanjutkan baris ke 2–

gur pinter ndongeng, nulis lan moco

pengunggah diatas mengartikan gur dengan kata “hanya”

/hanya pandai mendongeng, menulis, dan membaca/

Penafsiran gur dengan “hanya” jelas keliru, di baris sebelumnya sudah ada “hanya” (*mung). Ganti baris ke dua kok ada “hanya” lagi -____-” jelas janggal sekali. Apalagi beliau itu sangat gemar membaca- ibarat perpustakaan hidup, juga sering menulis di media-media dan lemparkan “joke”-mendongeng dalam bentuk humor semasa hidupnya.. dan mendongeng layaknya wayang adalah media yang seringkali dipakai oleh sunan kalijogo.

gur seperti njur, anjuran -lebih tepat diartikan “jugalah” atau “hendaklah”

/jugalah pandai bercerita, menulis, dan membaca/

tembe mburine bakal sengsoro

*si pengunggah mengartikan tembe dengan “tapi”

/tapi akhirnya bakal sengsara/

penafsiran tembe dengan “tapi” rasanya kok keliru juga

tembe-lebih tepat ditafsirkan dengan kata ganti utowo, “atau pada”

/atau pada akhirnya akan sengsara/


kalau mau ditafsiri ke bahasa Indonesia lengkapnya ya jadinya seperti ini

/jangan hanya mengaji hukum islam belaka
jugalah pandai bercerita, menulis, dan membaca
atau pada akhirnya akan sengsara/

.

Demikian
.

Saya mau bagi saya punya resah, sudah cukup, terlalu banyak sekali penghapal dan sedikit sekali pemikir yang lahir di negeri ini. Dari Sistem pendidikan Nasional kita yang lebih menjejali murid dengan aspek kognitif, minim afektif dan psikomotorik. Sayang jika ternyata pecinta GD di hari ini, masih juga malas menulis, mendongeng, dan membaca, entah dari buku apa saja itu-untuk meluaskan cakrawala-seperti apa yang pernah diteladankannya semasa hidupnya.

.

Sebagaimana himbauannya agar hendaknya umat(tak peduli dari agama apapun itu) tidak hanya ngaji syariat belaka(hukum-hukum agama mereka masing-masing). Walaupun konon katanya syi’ir ini ternyata bukan ciptaan Gus Dur. Tapi ciptaan KH Mohammad Nizam  As-shofa, pemangku pondok pesantren Ahlus-Shofa Wal-Wafa  yang beralamat di Desa Simoketawang Kecamatan Wonoayu Sidoarjo. Tapi saya tak peduli, saya resah dan ingin bersuara..

wasSalam

.

Iklan