Sukhoi, Titanic Indonesia

Kemarin malam (14/05) saya menonton metro tv. Dari situ saya tahu jika sistem radar diberlakukan sejak tahun 1995. Kekurangan daya SDM yang berkualitas dalam mengoperasionalkan sistem radar ATC (air traffic control) bandara soeta, konon katanya adalah salah satu penyebab terjadinya kecelakaan sukhoi. Kebanyakan operator ATC bandara soeta sudah berumur tua dan harusnya kini sudah saatnya dipensiunkan.

Namun besok siangnya(15/05) saya membaca salah satu artikel Jawa Pos, yang ditulis oleh seorang pejabat bandara soeta, supervisor radar control bandara yang bernama Ruby Nugraha. Dia bilang kemungkinan petugas atc yg tua-tua itu melakukan kesalahan dalam memberikan ijin instruksi ; kalau pesawat boleh turun sekitar 6000 kaki sangatlah kecil. Menurutnya kecelakaan itu terjadi, Semua sepenuhnya menjadi tanggung jawab pilot.

Hal itu dikarenakan rute antara Halim dan Pelabuhan Ratu adalah rute yang pendek, dengan ketinggian daratan yang rendah dan cuaca yang menurutnya sangat cerah.Dan VFR(Visual Flight Rule), salah satu protokol instrumen dalam dunia penerbangan; secara sepihak katanya diberlakukan. Apalagi sifat penerbangan pesawat sukhoi adalah Joy Flight untuk pengembangan wisata. Biasanya pesawat terbang rendah bermaksud untuk memamerkan pemandangan alam dari rute yang dilalui oleh pesawat itu.

Namun apakah memang sepenuhnya memang benar begitu, seperti apa yang diutarakannya?

Tidak, menurut Hari Purwanto salah seorang staf ahli menristek bidang pertahanan dan keamanan. Ia menuturkan “Biasanya penerbangan dari Halim menuju Pekabuhan Ratu di ketinggian 12.000 kaki dan standard mininum 8.000 kaki, tapi sukhoi ini terbang di ketinggian 10.000 kaki, mengapa turun ke 6.000 kaki?” (riza fahriza-kompas.com) dan nampaknya penjelasan salah seorang staf ahli dari kementrian pertahanan dan keamanan itu, ternyata berujung juga dalam tanya penuh heran.

Apalagi pilot sukhoi bukan seorang pilot baru dengan jam terbangnya yang tinggi, yaitu 14.000 jam terbang. Alexander Yablontsev, ditemukan sudah tak bernyawa di curug nangka, lokasi yang jauh dari tebing jatuhnya pesawat. Anehnya juga ditemukan sebuah parasut yang tersangkut di pepohonan tidak jauh dari tempat jenazah pilot itu ditemukan. Menurut tim SAR gabungan dari Kopassus, sertu Abdul Haris (bataion 23 grup 2 bogor). Ia sebagai salah seorang evakuator yang mengangkut jenazah pilot menduga, bila pilot sempat menyelamatkan diri dengan parasut tersebut.

Tidak hanya kejanggalan itu. Ada begitu banyak kejanggalan lainnya permasalahan teknis di pesawat (tempo.co), diantaranya; Mengapa Ground Proximity Warning System), MORA (Minimum Off Route Altitude), dan TAWS (Theater Airbone Warning System) tidak bekerja maksimal untuk memperingatkan pilot bila ia sudah terlalu dekat dengan daratan, ada tebing di jalurnya, dan mungkin telah melenceng dari rute jalur penerbangannya? Apakah karena memang kemungkinan besar pilot menonaktifkan alat itu. Karena ia memang sengaja terbang di tengah-tengah tebing. Untuk memamerkan keindahan alam gunung Salak.

Bahkan ketika pesawat jatuh menabrak tebing dan hanya tersisa ekornya, mengapa ELBA (Emergency Location Beacon Aircraft) atau ELT (Emergency Location Transmitter) tidak juga memancarkan sinyal darurat?

Permasalahan teknis alat pesawat diatas dan kejanggalan ditemukannya jenazah pilot dengan parasut, membuat salah seorang tim ahli BNPT (Badan Penanggulangan teroris Nasional) menulis sebuah artikel yang cukup panjang: Pilot Sukhoi pakai parasut? ada hijacking?

Dan rasanya tak usah terlalu ribet dengan analisis intelijen. Sebagai orang awam, penulis hanya ingin memberikan gambaran yang simpel akan tragedi ini. Kejanggalan terakhir yang adalah kejanggalan paripurna, dan menurut penulis pribadi, dimana orang awam bisa memperhitungkan sendiri : bahwa Pemberian ijin turun adalah sebuah kesalahan, walaupun itu dalam mode penerbangan AVR.

Kaki dan meter

1 kaki = 0.305 m

10.000 kaki = 3048 m

6000 kaki = 1828,8 m

Ketinggian gunung salak = 2211 meter

Dan bukankah penurunan ketinggian ke 6000 kaki sudah melebihi ketinggian puncak gunung salak. Dan agaknya perkiraan kondisi langit yang cerah seperti apa yang diungkap oleh Ruby Nugraha adalah mitos. Dia tidak sadar medan dan fakta bila disana sudah sering terjadi kecelakaan pesawat akibat cuaca.

Diantaranya

15 april 2004 pesawat paralayang Red Baron GT 5090 (3 orang tewas)

20 Juni 2004 pesawat cessna 185 skywagon (5 orang tewas)

Juni 2008 pesawat CASA TNI AU (18 orang tewas)

30 April 2009 pesawat Donner Pusat Pelatihan Penerbangan  Curug (3 orang tewas)

Dari data kecelakaan diatas. Bukan lagi rahasia bila jalur penerbangan Halim-Pelabuhan Ratu adalah jalur bangkai pesawat.

Dan nampaknya AVR, yang selalu dijadikan oleh Ruby Nugraha sebagai kambing hitam. Menjadi basi sudah, tak tepat lagi rasanya untuk dijadikan lagi sebagai alasan pembenaran yang masuk akal, bila ia dan segenap kru ATC bandara soeta yang sudah tua-tua itu, bisa berleha-leha melepaskan tanggung jawab. Dan sialnya, dalam artikel itu ia merengek-rengek menanti kehadiran Dahlan Iskan untuk berdiskusi mengenai masalah ini. Sudah jelas itu kelalaian, apalagi yang mesti didiskusikan?

Iklan