Pulau Sendu itu bernama Sempu

Akhir bulan Maret, penulis yang sedang sendu, akibat salah satunya BBM akan naik. Entah kenapa ada saja rekan-rekan yang mengajak bertualang mencoba meredam kesenduan penulis itu. Bisa dikatakan apatis, penulis sudah akut dalam keresahan yang kental, sebenarnya tidak hanya perkara BBM saja, namun ada juga persoalan hati, mulai dari asmara hingga keluarga, dan semua serba kompleks. Bukan maksud untuk melakukan pelarian. Hanya sebentuk rasa syukur, dan dalam catatan perjalanan ini penulis berusaha sekuat tenaga untuk berbagi kembali dengan para pembaca sekalian. Kemanakah kami akan pergi? maka lihatlah peta dibawah ini.

Kami dengan berkendara motor, lagi-lagi melewati porong seperti biasanya. Jalanan porong sudah mulai diperbaiki, tidak lagi serusak dahulu. Sudah dibangun jalan tol alternatif yang bisa mengurangi kepadatan volume kendaraannya. Tapi saran saya sebaiknya pelan-pelan saja, karena masih ada empat atau lima jebakan maut yang tersisa. Penulis tidak ingin kepala anda melayang-layang karena hal sesepele ini.

Dan melewati jalanan porong, lanjut ke pandaan, perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai di kota malang. Dan dari kota Malang, menuju sumbermanjing melewati suatu daerah bernama turen, hingga akhirnya sampai di akhir jalan yaitu di pantai sendang biru, memakan kurang lebih waktu satu jam. Jalan setelah turen ini jalannya berkelak kelok berbukitan, kira-kira kalau tidak salah kita akan melewati tiga bukit, namun sudah diaspal dan mulus kok jalanannya.

Sesampainya di pantai sendang biru anda akan melihat pemandangan seperti ini.

Lumayan bersih pantainya, terjaga keasriannya. Apakah hal ini karena memang ketulusan penduduk sekitar pantai, ataukah mereka para pendatang memiliki kesadaran berdisiplin yang tinggi akan kebersihan, ataukah memang karena adanya papan peringatan tersebut (baca: “iman” atas nama TNI AL) 😆

Baik, baiklah kita sudah sampai dipantai sendang biru. Dan sekarang waktunya istirahat sejenak setelah 3 jam melalui debu jalanan yang berterbangan. Maka pertama yang harus dilakukan saat ini adalah memarkir kendaraan pribadi kita. Ada Jasa parkir sepeda motor dan mobil, bisa ditinggal sampai beberapa hari kok bila kita berencana untuk berkemah sampai seminggu atau sebulan sekalipun.

Setelah itu mari duduk dulu. Nikmati dulu udara bersih ini sejenak. Hela napas dalam-dalam perlahan, kemudian lepaskan, buat satu dua puisi, maka terciptalah haiku sapa sendang biru.


haru perahu
Di Pantai Sendang Biru
Merah putihku

Jangan sampai tertidur. Haha.. Karena perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai !!

Ya akhirnya, penulis yang sedang sendu, berkat rahmat semesta alam, akhirnya memiliki sebuah kesempatan untuk mencicipi salah satu pulau di Jawa Timur “yang katanya” dari bisik bisik tetangga, sudah terkenal akan keindahannya yang tak kalah menarik dan eksotis dengan pantai-pantai lain di bali maupun Jogja. Dan Pulau sendu itu bernama sempu, saya heran dari mana kata sempu itu berasal? jangan-jangan dari komik dragon ball, dimana tempat son go ku sedang berlatih kepada kakek jin kura-kura. Entahlah, ini masih menjadi misteri hingga saat ini.

Untuk menjawab misteri itu, penulis datangi salah seorang nelayan yang sedang berada di atas perahu.
“Konon ada pohon yang bernama sempu di pulau itu mas. Tapi begitu banyak pohon di sana, dan manakah yang namanya pohon sempu itu? Hal itu juga masih misteri mas”, saya tertawa dalam hati. Misteri berujung misteri. Lengkap sudah ternyata persoalan nama “Sempu” adalah kasus tak terpecahkan, mitos memproduksi mitos, berujung ke kebuntuan.

“ya sudah pak, kalau saya mau nyeberang biaya sewanya berapa pak ya?”

“Biaya sewa perahunya 100ribu mas untuk satu perahu, maksimal 16 orang bisa masuk perahu saya. Tapi ada syaratnya sebelum menyeberang ke pulau sempu itu, mas harus ijin dulu mas, itu mas di belakang parkir motor ada pos perijinan. Kami ndak berani kalau mas belum dapat ijin dari pos”, tampaknya urusan birokrasi yang ruwet akan menjadi kendala yang tak berarti, apalagi di tengah hasrat bertualang kami yang sedang menggebu-gebu ini. Huhh.. huff.. capek deh.

Baiklah jadi penulis dan salah seorang rekan menuju pos perijinan. Dan luar biasanya kami tidak hanya disambut ramah, namun juga di ceramahi.

“Masnya ndak boleh ini, itu, bla..bla..bla..”

Ujung-ujungnya, “Mas dan rombongan silahkan menyewa jasa guide, karena jalanan di sempu itu masih sangat jelek, dan sudah banyak yang nyasar mas. Kecuali kalau masnya pernah kesana satu atau dua hari yang lalu. Lah rekannya mas inikan sudah 4 tahun yang lalu tidak pernah kesini. Itukan sudah lama mas. Kami terus terang khawatir, pasti masnya sudah lupa jalan dan medan-medannya.”

Ya ternyata UUD “Ujung-Ujungnya Duit”, tak masalah sebenarnya bila itu karena alasan demi menghidupi perekonomian rakyat sekitar sempu, UUD pasal 33. Tapi agak risih juga seandainya penulis hanya berbekal uang yang pas-pasan. Dan dari kejadian ini, penulis hanya ingin memberikan tips dan trik agar bagi pembaca, seorang Bonek petualang(baca : Bondo Nekat) yang berduit pas-pasan bisa masuk lokasi sempu tanpa harus bayar lebih mahal.

1. SIMAKSI
Harap pembaca mengurus surat ijin dulu, namanya SIMAKSI(Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) di tempat-tempat yang tertera dalam foto diatas(salah satunya dapat terbaca : Balai besar KSDA JATIM di jalan bandara Juanda Surabaya). Atau kalau memang mepet tak sempat mengurus SIMAKSI, ya sudah beri saja alasan anda pernah ke Pulau itu, titik. Jangan bilang setahun yang lalu, tapi bilang baru seminggu yang lalu. Dan anda yakinkan si penjaga pos, bahwa anda sangat hapal rute jalan masuk ke sempu. Bila anda tak berani berbohong ke penjaga, ya pilih satu dua orang rekan anda yang “TATAG”, untuk bilang ke paknya kalau dia pernah ke Sempu dan baru minggu lalu. Dan tak usah khawatir, bila pak penjaga itu kok tidak mengenali rekan anda, karena yang ijin hanya perwakilan rombongan. Dan teman anda dikenali atau tidak itu bukan masalah, bilang saja “kemarin yang ijin ke sini kan teman saya pak, dia ketua rombongan”. Dan terakhir tak usah khawatir mengenai rute, dalam blog ini saya turut tuliskan rutenya juga kok.

2.Sepatu Boot
Siapkan sepatu boot dari rumah, bukan sepatu futsal loh yah!! sepatu boot, yang biasa dipakai petani padi-penjaga peternakan kuda dan sapi, kenapa? karena jalannya berlumpur dan licin. Penulis ingatkan bila persoalan sepatu adalah hal yang paling krusial, karena penulis kapok kesana dengan pakai sandal jepit. Karena sandal jepit penulis terjebak lumpur, penulispun berjalan dengan telanjang kaki, tertusuk duri-duri dari tanaman liar belukar. Tak sadar begitu banyak lintah yang hinggap di pergelangan kaki. Hahahaha.. Rutenya CADAS DAN KEJAM!! rasanya tak cocok untuk cewek yang manja. 😆

3. Air minum
Siapkan minimal per orang 2 botol besar AQUA, bukan galon. Anda bisa mati di tengah jalan, kalau bawa galon. Yang dibutuhkan adalah persediaan air yang tiap orang mampu bawa dengan optimal, bukan maksimal. Penulis dan rombongan pernah kehabisan air. Kami semua ada 5 orang, sialnya hanya berbekal 5 botol Aqua besar. Pulangnya minum apa, haha.. Dan kesalahan bila bawa galon, lah mau ngisi airnya dimana? melihat sumber air masih belum kami temukan, hanya ada desas desus dari petualang lain dan letaknya katanya sangat jauh dari perkemahan. Bawa galon terisi air melewati rute seCADAS itu sama saja dengan bunuh diri 😆

4. Jas Hujan
Jas Hujan menjadi penting, sangat penting sekali, apalagi bila musim penghujan telah datang. Saya tak ingin anda sakit gara-gara kehujanan.

5. Senter, atau lilin dan pakaian renang
Kalau malam tiba, senter sangat penting. Selain untuk mencari makanan dari tas-tas kita, namun juga dalam pencarian lokasi BAB atau BAK.

Sudah itu saja menurut penulis, tips dan trik yang paling penting yang harus anda siapkan sudah coba penulis kemukakan. Mari kita mulai menjelajah sekarang.

Setelah semua persiapan telah lengkap, anda akan naik perahu seperti apa yang penulis lakukan, sejenak terdiam haru. Meresapi begitu sedapnya udara segar dan birunya laut.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tak lama kemudian anda akan terpukau dan takjub

lebay mode on

Dan sampailah perahu di pulau sempu.

Rute menuju Segara Anakan

Menurut peta diatas, ada dua rute jalan, masalahnya kita mau kemana?

Dan penulis pernah kesasar gara-gara hal ini, karena dua rute itu tidak diberi papan menuju “segara anakan” atau menuju “teluk semut”. Dan kali ini penulis menuju lokasi yang paling terkenal, “Segara anakan”. Karena keeksotisan panorama dan tanah berpasir putihnnya yang mulus dan cukup datar(jadi bisa dibuat untuk menginap mendirikan tenda). Dinamakan segara anakan atau anaknya samudera, karena segara anakan adalah danau air asin yang terpisah dari ibunya samudera hindia. Danau ini dikelilingi tebing dan karang. Kita bisa memanjat tebing dan melihat view samudera hindia dari tebing-tebing ini.

Untuk menuju segara anakan, dari tempat kita mulai mendarat dari perahu (rute penyeberangan berwarna hijau). Perlu diingat! jangan salah jalan, jangan pilih jalan yang nampaknya mulus, dan kecil, yang hanya cukup di lalui satu orang (jalan berwarna ungu). Tapi pilih jalan yang sangat besar sekitar 5 meter(jalan berwarna biru)yang berlumpur. Tampak tidak sedikit lubang disana sini, dapat terlihat begitu banyak bekas=bekas sepatu yang pernah berlalu lalang melaluinya. Intinya, dari tempat anda mendarat lurus saja ikuti jalan besar itu, jangan belok kekanan naik bukit atau ke kiri untuk mengindari jalan lurus yang dalam pandangan kita kok seperti rawa-rawa. Ya padahal itu jalannya. Setelah melewati rawa ya lurus saja, nanti kita akan tahu dan sadar bahwa itu sebenarnya memang jalan. Haha.. apalagi kalau kita melihat satu dua sepatu atau sandal yang bersarang di lumpur-lumpurnya.

Dua foto ini adalah salah satu bukti, betapa kecelenya rekan penulis. 😆

Sesudah sampai di Pulau Sempu

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Aduh benar-benar melelahkan. Dan kami pun putuskan untuk rehat sebentar. Minum-minum, foto-foto, dan main gitar. Huhh hufftt… 😳

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Nah Kalau kamu menemukan pohon besar, seperti yang ada di galeri foto di atas. Pohon dengan rantingnya yang unik, melingkar ke bawah nyentrik. Memancing hasrat untuk diduduki dan ditiduri, berarti kamu tidak kesasar. Kamu sudah berada di 3/4 awal perjalanan (kira-kira sekitar 1 jam dari durasi total 3 jam berjalan menuju segara anakan).

Jadi kurang 2 jam an dong ! huhh capek deh :mrgreen:

😈 PERINGATAN !!

Fakkk benar-benar Fakk !! Kok semakin menuju pantai, SAMPAH MAKIN BANYAK BERCECERAN !! Botol AQUA, MIZONE, KALENG, KANTONG PLASTIK MAKANAN !!Asu !!#EMOSI😈

Buat kalian yang hendak ke Pulau SEMPU Tolong jaga kebersihan !!JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN !!

Melihat salah seorang rekan mulai mengambili sampah-sampah. Kamipun mau tidak mau ikut tergerak untuk mengais sampah-sampah dari Para Tracker yang TOLOL !! mereka yang datang sebelum kami. Semakin mendekati pantai sampah makin banyak berceceran.  Benar-benar malu dan coreng-morengnya kami punya harga diri sebagai orang Indonesia. Untunglah saat itu kami hanya berpas-pasan dengan seorang turis Jepang yang mau pulang balik ke Sendang Biru. Iapun juga sama seperti kami, menenteng tas kresek penuh dengan sampah botol dan plastik makanan.  sama-sama jadi pemulung mengais sampah di sepanjang jalan lumpur yang becek !!

Pokoknya tolong buat kalian, kemanapun kalian jejakkan tanah di bumi nusantara!! Jangan kalian tolol #NYAMPAH SEENAKNYA . Ughh huhh huffft 😈

Ambil napas… Lepaskan…sabar trez, sabar !! huh hufftt..

Lanjut melewati 3 bukit, 2 sungai, 1 karang yang sangat besar,  penuh dengan sampah yang berceceran. Asu !! Jadi bikin emosi nulis ini. Tips dari penulis, untuk kalian yang tidak pakai sepatu boot, kalian pilih jalan samping-atas saja. Naik-turun naik turun.. selama 3 jam. Jelas keringat menetes deras dan butuh air minum yang tidak sedikit. Jadi teringat tiba-tiba, saat itu 1 jam sebelum sampai pantai, penulispun kebagian tugas bawa tenda. Jatuh kepeleset sudah tujuh kali. FAKK! ketambah kami semua ngais sampah!! Sedih campur kesel, emosi. Untunglah itu semua bisa ditahan. Karena aroma bau laut semakin tajam tercium hidung, suara ombak mulai terdengar sayup-sayup. 😥

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tarraaaa… akhirnya sampai di segara anakan. Ketika rekan-rekan yang lain bersenang-senang, bermain air dan pasir. Penulis malah tertidur pulas. Padahal yang lain membawa tas dengan bekal makanan dan minuman yang lumayan tidak berat. Sedang penulis hanya bawa gitar, rumah(baca : tenda), kamera dan sebatang tongkat layaknya nabi Musa. Oh, betapa lemahnya penulis, itu kan cuma 23 kiloan.

.

.

.

.

-0O0-

Iklan