Kamkwamba = mitos (krisis energi+subsidi BBM) X realitas (inflasi)

Bocah Penjinak Angin 1

Saya sengaja menulis ketiga judul untuk artikel ini tampak seperti sebuah rumus. Ini adalah teori gila yang saya telurkan.  Ketika selama ini saya mengerami keresahaan yang amat sangat kental belakangan ini. Jadi beberapa hari ini, saya sering mendengar begitu marak dipublikasikannya mitos-mitos aneh di telinga saya. Mungkin tidak hanya saya yang mendengarnya, namun juga anda.

“Kita semua tahu bila mitos adalah khayalan, sarat dengan imajinasi pengarangnya. Namun perlu di sadari lebih dalam, bahwa mitos yang sarat dengan nilai-nilai teror pastilah bila diceritakan pada anak-anak berusia dini, akan juga melahirkan efek ketakutan dalam diri mereka. Bila malam tiba, dan mereka hendak tidur. Anak-anakpun pasti akan meminta kepada orang tuanya, agar orang tua mereka tidak mematikan lampu kamar mereka.”

Begitu juga dalam ranah ekonomi pasar bebas: para pedagang kecil/eceran dalam hal ini mereka yang masih berusia dini dalam kesempatan berekonomi,  bila mitos ;seperti isu santer krisis energi dan subsidi BBM dicabut. Bila kedua mitos ini disebarkan dan dipublikasikan oleh media-media kita di tanah air. Pastilah mereka, para pedagang-pedagang kecil ini mau tak mau akan resah, mendapat gejala psikis dan mental ekonomis, yang sebelum april ini kita semua tahu, isu “Kenaikan BBM” sempat menghebohkan media-media di tanah air kita ini. Tayangan berita-pun disulap bagaikan sebuah gosip murahan. Dan sialnya, mitos ini berhasil menyebar bak teror tak berperi keekonomikan yang akan membuahkan realitas “inflasi” ketika saya menulis tulisan ini. Salah satunya harga cabai (baca beritanya disini)

Jadi tulisan ini adalah analisis serampangan, mengenai mitos yang berkaitan dengan kata “Subsidi” dan “Krisis energi”, dampak dari akibat diproduksinya kedua mitos oleh media-media publik di tanah air kita ini. Ternyata adalah telah juga membuahkan reaksi berlebihan berupa “inflasi” yang selalu ditakut-takuti.

Adakah para demonstran yang akan meneriaki para pedagang “HOI BBM GAK JADI NAIK, NGAPAIN KALIAN RAKYAT (BACA : PEDAGANG-PEDAGANG KECIL) NAIKKAN HARGA-HARGA”. Jelas tidak ada, mereka para demostran hanya bersyukur ternyata harga-harga BBM yang adalah tarif yang ditentukan oleh pemerintah pusat tidak jadi naik. Namun sayangnya para pedagang sudah terkena imbas dari gejala efek psikologis mitos itu. Bahan-bahan kebutuhan Pokok sudah terlanjur naik akibat gosip murahan yang diucapkan oleh para pemimpin kita di negeri ini.

Dan tegakah para pedagang ini tetap  menaikkan harga-harga bahan kebutuhan pokok. Melihat bahwa BBM tidak jadi naik?

Tentu itu keputusan para pedagang sendiri, khususnya para tengkulak. Karena memang harga bahan kebutuhan pokok tidak terpusat seperti harga BBM, dimana kebijakannya diambil oleh pemerintah. Namun harga itu lepas ke pasaran. Dan olehnya saya katakan, tiap daerah itu ternyata ada premannya sendiri. Jangan samakan biaya hidup di daerah, seperti misalkan di ambon kenapa biaya hidupnya lebih mahal ketimbang di Jawa.

Disinilah bisa kita petik pelajaran, ternyata gosip murahan yang diucapkan oleh seorang pemimpin bisa berefek negatif terhadap hajat hidup orang banyak. Dan ini terus terang, bagi penulis pribadi sangat mengesalkan. Hanya gara-gara pemimpin yang bodoh dan boros mulut, stabilitas ekonomi jadi terganggu.

Membedah Mitos Krisis Energi dan Subsidi BBM

Tentu tidak hanya kenaikan BBM saja yang diresahi oleh para demonstran, namun juga sebentar lagi ada juga rencana kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik) yang akan dilakukan oleh pemerintah, yang katanya akan dilakukan secara bertahap setiap 3 bulan sekali.(baca beritanya disini)

Alasan mayor dari pemerintah selalu menggunakan mitos juga, dalam hal ini mitos itu adalah “kenaikan harga minyak mentah dunia”.

“Kenapa BBM naik pak?”, tanya rakyat kepada pak presiden

“Ya karena minyak mentah dunia naik yat”, jawab presiden kepada rakyat.

“Kenapa harga minyak mentah dunia naik pak?”, tanya rakyat lagi

“hemmm… apa ya? bentar saya tanyakan pakar ekonom dari jajaran kementrian saya”

Dari sepenggalan diskusi yang terjadi antara rakyat dan presiden itulah, kita bisa melihat. Bagaimana sebenarnya pak Presiden suka sekali mengarang mitos. Dia tidak tahu detail alasan, kenapa BBM harus naik. Bila toh ia tanyakan hal itu kepada seluruh jajaran kementriannya, pasti para ekonom lulusan barkeley itu akan menjawab.

“Minyak mentah dunia naik, karena minyak bumi makin lama makin terbatas pak. Dan persediaan minyak mentah kita lebih baik dijual saja setara dengan harga minyak mentah dunia, Negara pasti untung banyak pak,ketimbang dijual dan dipakai oleh rakyat kita sendiri, sangat rugi dan sia-sia bukan? Dari hasil keuntungan impor kita itulah, kita bisa mensubsidi APBN kita lebih banyak ke pendidikan dan kesehatan “

Para pembaca pasti ingat, dengan kebijakan Jusuf kalla semasa menjabat sebagai wakil presiden RI di KIB I. Dia menelurkan kebijakan, rakyat harus dibudidayakan menggunakan kompor gas, ketimbang menggunakan minyak tanah. Kok kesannya aneh sekali kebijakan pak JK ini. Bukannya minyak tanah lebih murah ketimbang gas. Alasannya karena minyak mentah kita bisa dijual lebih mahal lagi keluar indonesia. Walau bahaya menggunakan gas lebih besar, karena bisa meledak.

Dan itulah yang dijadikan alasan oleh para intelektual negeri ini seperti ulil abshar abdalla. Lebih baik subsidi BBM buat pendidikan dan kesehatan, ketimbang boros dikonsumsi oleh kaum menengah di negeri ini. Tapi sayangnya dia bukan seorang ekonom, dan tak layak bicara ekonomi. Dia tidak menyadari efek inflasi akibat kenaikan BBM, walaupun itu toh hanya cuma sekedar “gosip murahan” saja yang diludahkan oleh pemerintah.

Karikatur Lucu

Dari berbaris-baris penjelasan yang sudah penulis tuliskan. Dapat kita simak dalam-dalam, bagaimana pemerintah, bahkan intelektual liberal semacam ulil. Oh, ternyata selama ini menggunakan “logika pasar”, bukan lagi “logika negara”. Moral dan mental pemerintahan kita ini seperti “pedagang sapi keliling”, bukan lagi pemerintah yang bermoral dan bermental “pemimpin” yang selalu didamba-dambakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyatnya.

Dan penulis sebagai generasi muda di hari ini, merasa perlu mengingatkan mereka bahwa jaman sudah berubah. Hendaknya para pemimpin di pemerintahan kita ini menyadari hal ini. “Logika Pasar” dalam hal ini krisis ekonomi dunia, bagaimanapun juga sedang menuju ke ambang kehancuran. Inflasi tidak akan mungkin bisa dibendung di negara manapun itu di dunia. Semenjak teknologi semakin direvolusi, energi nian menjadi tak terbatas dan tentu makin lama makin murah.

Bahkan bahan bakar fosil beberapa puluh abad mendatang, mungkin tak akan lagi kita gunakan sebagai sumber energi. Dan sialnya proyek teknologi untuk memaksimalkan energi yang terbarukan dan tak terbatas ini, tak pernah tersentuh oleh para pemimpin di pemerintahan kita. Melihat Indonesia secara geografis, tepat berada di khatulistiwa bumi, dengan sinar matahari, angin muson yang bertiup kencang, begitu juga panas bumi dari gunung-gunung berapinya, dan gelombang lautnya yang lumayan stabil. Itu semua mungkin hanya dilirik sebentar oleh pemerintah, kemudian dikesampingkan sambil lalu, karena tidak ada profit yang berlebih yang dihasilkan bila mengembangkan teknologi tersebut untuk rakyat.

Penulis tak menyangka SMK solo berhasil merangkai mobil nasional, dan saya tak bisa bayangkan jika mereka bekerja sama dengan ilmuwan seperti pak Joko Sutrisno. Mungkin rancangan ke 10 mobil keren ini tidak akan ada apa-apanya lagi. (ada juga mobil surya karya mahasiswa ITS, saya masih berencana mengambil gambarnya). Oleh karena itu, bila anda mendengar selentingan seorang pakar ekonom di negeri ini bilang “BBM itu seharusnya tidak disubsidi”. Anda jangan emosi, itu otak ekonom, beda dengan otak ilmuwan, yang lambat laun akan membuat orang-orang awam akan berujar “BBM itu memang harusnya gak ada harganya”.

Setelah saya menulis panjang lebar diatas.

Dapatkah anda menyadari mana yang mitos dan realita?

Sebenarnya tidak juga bila “BBM gak ada harganya” hanya karena ulah para ilmuwan. Inovasi dari teknologi yang mereka kembangkan bisa membuat perekonomian dunia yang selama ini berada di bawah bayang-bayang kapitalisme pasar bebas bisa-bisa chaos. Sebab apa? karena tidak menutup kemungkinan ilmuwan ini tidak lagi ilmuwan, ketika karya mereka dipublish mereka akan diculik oleh “laba-laba”, dan mereka bisa saja bermutasi menjadi bagian dari “laba-laba” itu sendiri. Seperti perebutan hak paten lampu di antara para ilmuwan ini, yang akhirnya dimenangkan juga oleh “Thomas alva edison”.  Padahal penemunya banyak sekali, bisa anda baca disini.

Memang tidak perlu menjadi seorang ilmuwan untuk keluar dari krisis energi, atau ngotot-ngototan dengan pemerintah agar BBM harus disubsidi.

Seorang pemuda berusia 15 tahun asal Afrika ini telah membuat bulu kuduk saya merinding. Ketika tarif PLN di negerinya sangat mahal, harga-harga pupuk dan benih yang juga semakin merangkak naik, biaya sekolahnya ikut juga naik, membuat ia putus sekolah.  Pemuda bernama william kamkwamba ini tak pernah giat untuk berhenti belajar. Tepatnya ketika itu musim hujan tidak kunjung datang, masa panen terancam gagal. Ya akibat pemanasan global, kita semua tahu. Musim-musim diberbagai belahan dunia tidak lagi stabil.  Akibatnya wabah kelaparan menimpa desanya, terbatasnya pasokan makanan, membuat harga-harga makanan di Malawi melangit.

Bocah Penjinak Angin 2

Kwamkamba dengan perutnya yang keroncongan, hanya bermodalkan semangat dan terbatasnya dia menguasai bahasa Inggris, hanya dari gambar-gambar dari sebuah buku elektronik tentang “kincir angin”. Berhasil membuat rakyat Malawi yang diambang kematian, kembali hidup lagi. Gersangnya tanah malawi-pun menghijau, kincir angin buatannya yang sangat sederhana, terbuat dari barang-barang rongsokan, berhasil membantu irigrasi warga sekitar malawi. Anda bisa mengunjungi webnya, dan melihat videonya di http://williamkamkwamba.typepad.com/williamkamkwamba/photos.html. Ada terjemahan ke dalam 52 bahasa, termasuk indonesia.

Dan terakhir, jangan-jangan minyak dunia naik, karena memang sebentar lagi sudah tidak ada harganya, hahaha 😆

Saya mencoba kontak dengan dia, dan bertanya kepadanya.

Apa yang terjadi pada Perusahaan Listrik di negara anda akibat ulah anda mendirikan kincir angin sebagai Pembangkit Listrik mandiri di rumah anda? apakah tetangga anda tidak ikut membangun apa yang anda bangun? Apakah Perusahaan Listrik Negara anda tidak bangkrut akibat ulah anda?

Iklan