Saya bermimpi Soekarno berpidato di depan Steve Jobs

Begitu marak dan hebohnya pemberitaan mengenai perang paten. Awalnya aku tidak peduli dengan semua itu, karena memang tidak ada urusannya denganku. Toh aku ini bukan pemilik Apple, bukan juga pendiri samsung, apalagi microsoft. Setidaknya aku tidak tertarik untuk melarang orang.

.

Rasanya perlu kuulangkan, Aku tidak tertarik untuk melarang orang-orang untuk mengambil secara cuma-cuma semua hasil jerih payahku. Bahkan aku sarankan, ambillah semua, habiskan! Ambillah, ambillah seperti Tuhan akan mengambil nyawaku, demi kemanusiaan, Aku rela!

Baiklah aku tidak bermaksud melarang-larang siapapun diantara tuan, hanya mengajak tuan-tuan dengan penuh persahabatan.

Tuan gates, tuan Steve yang sudah tiada, dan juga tuan Boo-Keun Yoon presiden samsung yang terhormat.

.

Aku ingin menyatakan kepada tuan. Betapa hebatnya tuan-tuan punya perusahaan. Betapa berartinya perusahaan-perusahaan yang tuan bikin bagi kemajuan peradaban manusia. Per”ADAB”an manusia tuan-tuan. Manusia yang adil dan berADAB itu seperti apa yang berbunyi di salah satu sila-sila dasar negara kami. Ber”ADAB” tuan-tuan. Apa itu ADAB?

.

Perang dunia pertama dan kedua tuan-tuan. Apakah tuan-tuan masih ingat akan peristiwa yang memalukan itu? Apakah itu bisa dikatakan ber”ADAB”?

.

Kita semua tentu sudah bisa menyadari sesadar-sadarnya tuan. Perang senjata yang terjadi di antara negara-negara kolonial, bukankah telah membunuh ratusan juta manusia di bumi ini?

.

Begitulah tuan-tuan, betapa mengerikannya efek dahsyat dari praktik perekonomian kapital yang terjadi di awal abad 19 itu. Surplus kapital berlebih, di sertai over produktivitas di negeri leluhur tuan-tuan punya negara kolonial. Bukannya memakmurkan, kenapa malah melahirkan inflasi hampir di setiap negara yang leluhur tuan telah resmikan.

.

Oh menjadi betapa sia-sianya beribu-ribu ton sayur mayur dan buah-buahan yang rakyat tuan hasilkan. Mengapa leluhur tuan punya pemimpin akhirnya memutuskan untuk membakar habis semuanya?

Ya tuan, di negara seperti tuan menjadi negara yang telah mapan. Semapan-mapannya seperti apa juga. Toh pada akhirnya telah membuat krisis ekonomi kapital bagi dunia jua.

Ah maaf tuan, saya hampir lupa. bukan dunia! tapi negeri-negeri tuan sajalah yang mengalami krisis. Negeri tuan-tuan yang telah lebih dahulu dipatenkan mendirikan Negara. Ya sebenarnya hanya negeri-negeri tuanlah yang telah mendaftar sebagai negara resmi saja yang sedang mengalami krisis.

Negeri kami belum mengenal bank, belum mengenal sistem ekonomi kapital, belum mengenal sistem edukasi layaknya eropa, belum mengenal teknologi tuan-tuan, belum ada satupun pabrik-pabrik automobil yang dibangun. Ya, negeri kami masih hijau “gemah ripah loh jinawi” saat itu.

Bagaimana bisa dikatakan merasakan krisis? mendaftarkan diri sebagai negara merdeka dan diakui oleh dunia internasional saja, leluhur kami tak tertarik.

Kembali ke tuan punya negara di awal abad modern. Revolusi industri membuat tenaga kerja kian murah, hingga mencapai ambang batas tidak berharga.

Akibat dari sistem ekonomi Kolonial yang akhirnya berebut kekayaan alam gratis bagi pabrik-pabrik yang leluhur tuan-tuan-tuan punya bukan?

Tentu aku percaya, tuan-tuan bukan orang yang buta sejarah dunia.

Tahukah tuan saat itu negeri kami belum juga merdeka. Belum juga punya negara. Leluhur kami tuan, telah diperas kemanusiaannya layaknya sapi. Dan tahukah tuan siapa yang memerasnya? Negara, sekali lagi ku-ulangkan, NEGARA.

Entah sejak kapan konsep negara seperti saat ini dilahirkan. Dahulu, yang leluhur kami tahu hanyalah batas bumi. Bumi tuan-tuan, tanpa ada batas negara. Beginilah tradisi dunia timur tuan-tuan, aku rasa sama dengan apa yang terjadi di eropa. Jauh sebelum konsep negara kolonial ada di sana.

Ya begitulah tuan. Dulu leluhur kami jika hendak ke tanah suci, baik mereka yang hindu brahma maupun islam, akan selalu naik kuda, melewati jalur sutra, melintasi tibet, himalaya, tembus ke india. Perjuangan leluhur kami menuju kakbah tempat Abraham (Avraham/Ibrahim) membangun kuil suci itu, betapa sangat beratnya bukan?

Tapi aku rasa juga sangat menyenangkan. Kenapa menurutku bisa begitu menyenangkan tuan? karena leluhur kami bertemu dan bertatap muka dengan anak-anak dari semua bangsa yang leluhur kami temui saat itu.

Ya mohon maaf jika aku kutip kata-kata “anak semua bangsa” barusan. Kata-kata yang begitu indah dari salah seorang penulis di negeri kami. Sungguh semoga ia tak menuntutku dengan gugatan “hak paten” via akhirat di alam kami. Khusus untuk Tuan Steve sebaiknya anda beradaptasi karena datang lebih dulu di alam kami, saya ucapkan selamat datang.

Dan sekali lagi tuan-tuan yang belum hadir di alam kami. Bukankah ini sama dengan leluhur tuan punya kebiasaan, perjalanan menuju tanah suci Yerussalem. Saya menjadi terharu bila teringat dengan Tolstoy punya cerita, begitu indahnya cerita yang ia tuliskan, bukan?

Dalam cerita itu tuan tidak ada passport, tidak ada visa perjalanan, tidak ada batas negara. Yerussalem, adalah tanah Tuhan. Terbuka untuk manusia dan seluruh manusia. Dan para peziarah, tuan-tuan punya leluhur. Melakukan perjalanan ke sana hanyalah dengan berjalan kaki. Ada juga yang naik keledai, tentu saja mobil belum ada saat itu. Dan tentunya lagi-lagi tak perlu membubuhi keledai dengan hak paten. Seperti orang bodoh saja jika ada manusia-manusia yang melakukannya saat itu.

Kadang aku jadi bertanya-tanya kepada tuan. Sampai kapan kita mempertahankan ekonomi kolonial tuan-tuan? sampai kapan kita mempertahankan sistem ekonomi kapital tuan-tuan? sampai kapan? melihat betapa gagalnya sistem itu selama ini?

Akibat sistem ekonomi kolonial tuan-tuan. Banyak bangsa di dunia mendirikan negara-negara baru. Negara baru yang kemudian setelahnya berlomba-lomba dalam hal kejahatan global demi keselamatan ekonomi nasional mereka.

Negara-negara baru itu tuan, telah menjajah segala kekayaan alam daerah-daerah di seluruh bumi. Bumi seperti negeri kami yang belum memiliki pengakuan sebagai negara resmi dan belum pula terdaftar sebagai negara merdeka untuk diakui oleh dunia Internasional.

Begitulah akibatnya tuan, jika belum terdeteksi oleh media popular seperti leluhur tuan-tuan punya koran, yang merupakan revolusi sosial manfaat dari lahirnya teknologi percetakan. Negeri kami masih menjadi mangsa yang empuk untuk diterkam bukan?

Ya, Negara itu menyamakan leluhur kami dengan hewan. Setiap hari leluhur kami bekerja paksa, tanpa dibayar. Mereka seharian di ladang, di jalan-jalan membangun gedung dan rel-rel yang telah leluhur tuan-tuan rancang.

Leluhur kami saat itu memang bodoh, sedungu-dungu kerbau. Belum mengenal teknologi lampu sebagai penerangan, apalagi sejak leluhur tuan membawa sepatu dan automobile. Tuan pasti tertawa membayangkan bagaimana wajah mereka bisa takjub keheranan. Tapi asal tuan tahu. Walaupun mereka tidak sepintar leluhur tuan-tuan punya pengetahuan. Leluhur tuan-tuan yang telah mengenal teknologi itu. Peradaban tuan-tuan yang telah mengenal konsep pendidikan akademis ala plato itu.

Walaupun leluhur kami belum mengenal itu semua tuan. Perlu tuan ingat dan ketahui dengan penuh kesadaran, pribadi tuan sebagai manusia. Bahwa mereka adalah juga manusia. Manusia-manusia terhormat, dari negeri yang terhormat seperti tuan.

Asal tuan tahu, sebelum negara-negara kolonial itu menjajah negeri kami. Leluhur kami adalah manusia-manusia yang sangat jujur, ramah, bahkan suka memberi, terhadap semua bangsa pendatang yang ada.

Tahukah tuan, sebelum leluhur tuan-tuan masuk, negeri kami adalah negeri yang makmur. Swarnadipa dan jambudwipa, nama-nama yang sempat mengharumkan dunia. Ya tuan, negeri kami kaya akan emas dan suka membagi-bagikannya dengan leluhur-leluhur tuan sebagai pendatang.

Untuk teknologi, sebenarnya tuan-tuan yang terhormat. Negeri kami sudah pula memiliki teknologi yang lebih canggih daripada leluhur tuan punya teknologi. Pada saat leluhur tuan bereksperimen untuk menciptakan bola lampu dan kemudian saling berebut mematenkannya -sikut sana sikut sini. Negeri kami tuan-tuan, sudah memiliki jutaan kunang-kunang hampir di seluruh pedesaan.

Iklan