Ziarah Makam: Sebuah Catatan Perjalanan

makam boto putih
oleh Ato Urroichan pada 31 Agustus 2010 jam 4:58

.

Malam itu, sebuah motor sport merah melaju dengan elegan membelah jalanan Surabaya. Dua orang yang mengendarainya terlihat begitu semangat khas orang yang sedang dibakar optimisme. Dibelakangnya, sebuah skutermatik dengan dua orang pula mengendarainya. Berempat, terus berjalan beriringan menuju sebuah situs tua ratusan tahun, Komplek Makam Sunan Ampel.

.

 

Sebuah situs pemakaman di Surabaya bagian utara. Setiap hari rombongan peziarah berbondong-bondong mengunjungi situs ini. Sebagian besar dari berbagai daerah di Jawa, dan sebagian kecil dari luar Jawa. Mereka jauh-jauh meninggalkan rumah untuk satu tujuan yang mereka anggap suci. Ziarah.

.

Akar kata ‘ziarah’ berasal dari kata arab zaara – yazuuru – ziyaaratan yang artinya ‘mengunjungi’. Di kalangan sunni, ziarah menjadi salah satu tradisi yang mengakar kuat. Bagaimanapun juga, pertalian dengan guru dan ulama masa lalu tidak sepatutnya putus. Mengunjungi makam lalu memanjatkan doa bagi guru dan ulama yang sudah meninggal adalah adab yang harus tetap lestari agar ikatan batin dan cinta dari murid lestari pula. Sama sekali tidak bermaksud untuk menyembah kuburan seperti yang selama ini banyak dituduhkan oleh golongan yang berseberangan dengan sunni.

.

Setelah sekitar setengah jam berkendara, akhirnya sampai juga mereka di bagian luar area pemakaman. Terlebih dahulu singgah di sebuah warung nasi kabuli untuk mengisi perut sejenak, kemudian mengambil langkah langsung ke area pemakaman. Sudah ada ratusan, mungkin ribuan, peziarah di dalam komplek pemakaman. Kebanyakan dari mereka berkelompok, ada juga yang sendiri-sendiri membaca tahlil atau Surat Yasiin. Sebuah tradisi yang dijalankan sebagian besar Nahdliyin (simpatisan ormas NU).

.

Di serambi masjid, dipenuhi peziarah yang sedang melepas lelah. Di serambi kiri oleh peziarah perempuan, sedangkan di serambi depan dan kanan peziarah laki-laki. Sebagian besar mereka berumur setengah baya hingga tua, ada juga sebagian kecil anak muda dan anak-anak. Selain peziarah yang sedang melepas lelah, ada juga di antara mereka adalah orang yang sedang melakukan i’tikaf dalam rangka mengisi waktu di bulan Ramadhan.

.

 

Setelah mengamati keadaan sekitar komplek makam dan masjid, mereka langkahkan kaki menuju salah satu gang yang menghubungkan area pemakaman dengan jalan utama. Gang ini begitu ramai di kanan dan kirinya. Para pedagang, yang sebagian besar WNI keturunan arab, menjajakan dagangannya mulai kurma hingga sarung dan kopiah. Minyak wangi, rosario, buku-buku bernuansa islam, siwak, baju koko, surban dan banyak yang lainnya. Kebanyakan usaha yang mereka geluti adalah usaha keluarga turun-temurun.

 

.

Di tengah-tengah para pedagang itu, mereka menyadari ada yang ganjil di mata mereka. Adalah seorang peramal garis tangan sedang menjajakan jasanya pula di depan sebuah toko yang sudah tutup. Segera salah satu dari mereka merajuk ingin diramal. Jadilah akhirnya mereka berempat di depan sang peramal. Di depannya adalah tiga gambar telapak tangan, kalender sepanjang masa dengan harga khusus, serta sebuah daftar pendek kategori jasa ramalannya.

.

.

“Ramal jodoh”, kata salah satu kawan yang minta diramal.

 

.

Sambil manggut-manggut peramal itu mencermati telapak tangan kawan itu, kemudian sejenak diam, terus raut mukanya berubah seperti sedang menemukan sesuatu hal yang kurang baik pada nasib kawan itu.

 

.

“Sudahlah, mas. Konsentrasi ke kuliah saja. Soal jodoh akan datang sendirinya nanti”, kata peramal itu.

 

.

Begitulah, akhirnya berakhir juga acara ramal-meramal malam itu. Diakhiri dengan kekecewaan mendalam dari yang diramal.

 

.

“Apes bener diri awak ini! Harus menunggu empat tahun lagi untuk mendapatkan pasangan?! Bah!!”, kata kawan itu.

 

.

Sementara peziarah lalu-lalang, mereka terus menyusuri gang sempit itu dan Al-Quran terus menerus dibacakan dari corong masjid.

.

 

Tak seberapa lama kemudian, mereka telah sampai di ujung gang, menyeberangi jalan utama mereka telah sampai di komplek pemakaman Boto Putih, yang juga menjadi salah satu tujuan peziarah. Di pintu masuknya terdapat sebuah masjid kecil, beberapa orang duduk-duduk diserambinya. Tidak jauh dari masjid itu adalah gerbang masuk yang biasa disebut sebagai gapura berbentuk stupa.

 

.

Gapura, berasal dari kata ghafurun yang artinya adalah ampunan dari Tuhan. Orang yang melewatinya diharapkan adalah orang-orang yang telah disucikan melalui sebuah pertaubatan dan mendapat ampunan. Atau setidaknya orang-orang yang sedang mencari ampunan dari Tuhannya. Sering dijumpai di pintu gerbang kampung untuk mengingatkan orang-orang agar senantiasa meminta ampunan kepada Yang Maha Kuasa. Kira-kira seperti itu terjemahan bebas bangunan kecil selamat datang itu.

.

 

.

Mereka melangkahkan kaki terus menuju makam Hb. Syekh bin Muhammad bin Abdullah Bafaqih dan Hb. Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Bafaqih. Dua ulama yang sampai hari ini makamnya terus dikunjungi oleh peziarah. Memang keduanya tidak termasuk ke dalam daftar wali sembilan yang sudah masyhur, tapi termasuk ulama besar dizamannya. Bahkan, ada cerita dari mulut ke mulut bahwa Hb. Syekh menjabat sebagai bendahara para wali semasa hidup beliau. Entah benar atau tidak cerita itu, yang jelas men-ziarahi keduanya sudah menjadi rutinan kalangan sunni di Jawa, khususnya Jawa Timur.

 

.

Sehabis dari berziarah ke komplek makam boto putih, mereka bergerak ke arah sebuah warung kopi. Lokasinya berada tepat di ujung gang yang menghubungkan jalan utama dengan komplek makam Sn. Ampel. Joko, begitu mereka memanggil penjualnya. Seorang yang cekatan dalam melayani pelanggannya. Secepat kilat pesanan kopi empat telah tersaji di depan mereka berempat.

 

.

“Kopi papat, gorengan telu! Piro cak?”

 

.

Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka melanjutkan perjalanan menemui dua orang sahabat yang sedang menunggu di Jl. Mas Mansyur, di depan deretan toko yang sudah tutup. Disana sudah ada seorang pemuda bernama Achmad dan seorang tua yang biasa dipanggil Ammi Ali. Dengan dua orang sahabat itulah mereka berempat menghabiskan malam hingga datang pagi. Setelah memesan teh hangat, obrolanpun dimulai. Berbagai soal dikemukakan seolah-olah mereka sedang melihat dunia dari atas. Mulai dari politik hingga mistik. Semua yang menyangkut perikehidupan manusia mereka telanjangi satu persatu.

 

.

Waktu terus berlalu, penarik becak sudah undur pulang. Jalanan sudah sangat lengang. Hampir tidak ada kendaraan yang lewat, kecuali kendaraan yang keluar masuk komplek pemakaman. Akhirnya, satu jam setengah menjelang waktu subuh obrolan mereka berakhir.

 

.

Jalanan sepi dan beku, Al-Quran masih dibacakan melalui corong masjid.

.

–0O0—

Iklan