Apa jadinya ; jika MENDIKNAS itu berprinsip PENDIDIKAN BAIK(=)MAHAL ITU WAJAR

Bookmark and Share.

Skandal bank Century tidak asal terjadi begitu saja, ada banyak fakta yang tidak juga berani dengan jujur diungkapkan oleh para pelakunya. Semua bertanya-tanya, Siapakah?  antara Mendiknas yang adem ayem saja (ngaco banget deh saya), begitu juga Dirut Utama PLN yang selalu tersenyum ria (gak mungkin ah), atau Mantan Gubernur BI bersama Menkeu yang pernah kelabakan memegang tasbih di jejali pertanyaan oleh Pansus DPR (iya banget pejabat utama yang terkait lah), atau malahan kebanyakan anggota PANSUS juga yang begitu sok menjadi hakim ternyata ikut juga terlibat (bisa banget deh, dari komposisi anggota Fraksinya saja sudah bisa terlihat),

.

ATAU SIAPA ?. Padahal semuanya adalah “Team”. Team dengan  sebuah kerja sama yang kuat, atau team dengan sandiwara yang memikat, antara dunia akademis, media nasional, ekonom, politisi  dan pengusaha, sekaligus tentara. Segalanya adalah profesi yang rentan korupsi. Dan sekali lagi budaya Kolusi-Nepotisme, tetap saja menjadi momok bagi demokrasi.

.

Latar belakang Mendiknas “Pendidikan BAIK=MAHAL itu wajar”

(sumber berita : suarasurabaya.net)

.

Pada suatu hari kira-kira beberapa tahun yang lalu, tepatnya di sebuah gedung Graha Kampus yang megah. Diadakanlah pertemuan yang diselenggarakan oleh seorang Rektor untuk menyambut ribuan orang tua calon mahasiswa baru. Ribuan orang tua itu bahagia, karena anak-anak mereka telah yang telah lulus seleksi SPMB dan dipersilahkan menempuh studi di Perguruan Tinggi Negeri tersebut. Siapa sangka bila dibalik kebahagiaan itu, masih saja terselip duri ketidak-legaan yang membuat mereka tidak juga MERDEKA 100%.

.

Sang rektor berpesan kepada para orang tua, agar hendaknya dengan segera melunasi biaya-biaya pendidikan anak-anak mereka di kampus tersebut. Sontak tidak sedikit para Orang Tua mahasiswa yang kaget. Bagaimana mungkin untuk bisa melunasi tagihan yang jutaan itu dengan segera. Disamping adanya kenyataan; pada saat itu jumlah biaya yang tidak sedikit itu dapat dibilang sangatlah mahal. Apalagi orang tua mahasiswa baru dari jalur reguler adalah ; keluarga dengan kemampuan ekonomi yang cukup-biasa-biasa saja, yang mayoritas masih tergolong kalangan ekonomi menengah ke bawah.

.

Biaya itu sangat berbanding terbalik dengan sebuah kenyataan Sejarah. Yaitu latar belakang sejarah awal sebelum Kampus Negeri itu berdiri. Fakta itu dapat dibaca seperti yang tertulis dalam buku panduan mahasiswa baru di tahun 2002, tersebutlah ; 57 tahun yang lalu. Seorang Dokter umum yang bernama Angka Nitisastro, sangat trenyuh dan prihatin melihat nasib begitu banyaknya rakyat miskin tidak berpendidikan di beberapa kampung nelayan kenjeran, “kenapa juga masih banyak yang menggunakan perahu kuno yang ringsek itu untuk melaut?” batin sang dokter. Karena panggilan hatinya itulah, beliau bersama-sama dengan rekan-rekan Insinyurnya kala itu,  turut pula berjuang untuk mendirikan kampus tersebut. Berharap kelak anak-anak nelayan mampu berkreasi dengan perahu motornya sendiri, meringankan beban ekonomi dan kelelahan orang tuanya.

.

Bahkan sang Founding Father Negara-Bangsa kita ini.  Presiden pertama RI Ir.Soekarno turut pula ikut meresmikan kampus ini. Bung Karno sempat juga berpidato panjang lebar, mengingatkan tiap-tiap pendengarnya jika kampus itu adalah kampus rakyat, dibangun untuk rakyat.  Pidato itu  masih disebut dan di cetak ikut  juga tertera dalam buku panduan masuk Mahasiswa Baru 2002 lalu. Entah kenapa buku panduan masuk Mahasiswa Baru di tahun-tahun setelahnya. Tidak lagi menuliskan sejarah tentang 2 tokoh pejuang besar tersebut di masa lalu.

.

Sangka tak dinyala, Sejarahpun berlalu, dan tinggal kenangan lalu menjadi abu. Kampus Negeri itupun sekarang telah berdiri megah, namun cita-cita sang Doktor dan Bung Karno masihlah jauh api daripada panggang, malah semakin lama semakin menjauh sayang. Walau kampus itu sampai saat ini belum juga berlabel PT BHMN, tapi berkat keberanian seorang Rektor Revolusioner kala itu. Beliau dengan rela berkorban menjadi pionerr, mewakili lingkungan dunia akademis, untuk pertama kalinya; melanggar UU Sisdiknas, melangkahi pemerintah. Dengan diam-diam membuat kebijakan baru, membuka jalur-jalur alternatif ilegal untuk mengumpulkan dana yang wah. (red : saat ini sang rektor sedang menjabat sebagai MENDIKNAS di KIB II)

.

Ini sudah menjadi rahasia umum di seluruh daerah. Praktik penerimaan jalur terselubung itu adalah ilegal, walaupun akhirnya diumumkannya kepada publik secara terbuka. Hal  itu dilakukan oleh sang rektor akibat terdesak oleh berita-berita di media lokal. Dengan munculnya demonstrasi-demonstrasi terkait yang dilakukan oleh tidak sedikit mahasiswanya.

.

Tetapi, tetap saja penulis katakan hal itu adalah ilegal, Karena kampus sang rektor ini sampai detik ini belumlah juga berstatus PT.BHMN. Alih-alih pemerintah sedang menggodok UU lain yang bernama BHP sebagai metamorforsanya. Praktik sang rektor yang satu itu kian bersemi dan di jadikan suri tauladan oleh berbagai PTN yang sampai saat ini belum juga memperoleh status PT. BHMN dari pemerintah. Sang rektor pun mencoba meredakan kegalauan publik, kata-katanya sempat menghiasi berbagai media lokal. Namun entah kenapa ketika penulis cari di Internet pada hari ini, semua kata-kata itu hilang tak berbekas. Khususnya penulis cari di Jawa Pos News Network, karena Jawa Pos-lah yang paling banyak mengulas tentang kata-kata Sang rektor tersebut, diantaranya :

.

1.“mau pendidikan berkulitas(=)mahal itu wajar dan itu khan tanggung jawab orang tua”

(ada sebuah blog bisa di jadikan referensi pengganti, silahkan klik di sini)

.

2.”Pengumuman mengenai jalur ilegal yang diam-diam tanpa disadari publik awam telah disahkan olehnya. Padahal kebijakan itu adalah tindakan pelanggaran hukum, yang telah mengangkangi UU”

(walau segala berkas tentang demonstrasi itu menghilang, anda bisa mengunjungi  penjelasannya di 2 situs kampusnya berikut )

.

.

Dari paparan diatas, penulis tak juga heran, dengan slogan ” Mendiknas : Tidak Ada Sekolah Baik Tapi Murah”, seperti yang tertera di situs koran lokal di jawa timur diatas(suarasurabaya.net). Dan lagi-lagi situs lokal itu bukanlah Jawa Pos. Kenapa sih Jawa Pos  tidak ikut pula turut meramaikan meliputnya? Oh iya ya, bukankah sejak dahulu Jawa Pos adalah salah satu sahabat rekan bisnis sang rektor. Jelas sajalah Dahlan Iskan sang chairman/CEO Jawa Pos adalah rekanan dekat dengan sang rektor pula. Dan mereka berdua ternyata adalah juga rekanan dekat sang Presiden. Wah Ini luar biasa, pebisnis-pebisnis dari daerah jawa timur, semua telah berkumpul dan benar-benar telah membangun kerajaan bisnisnya dengan megah. Hingga kinipun akhirnya, akarnya berhasil menembus langit mendung di pusat kekuasaan ibu kota negara Jakarta.

.

Penulis sarankan, para pembaca lebih waspada. Berhati-hatilah terhadap beberapa publik figur berikut, diantaranya : Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA, track record sang MENDIKNAS, ketika menjadi rektor suka bertelur menelurkan kebijakan-kebijakan “mengangkang”. Kemudian Dahlan Iskan, sang wartawan, yang telah menjadi CEO Jawa Pos ini, kok yah tiba-tiba bisa-bisanya menjadi Dirut Utama suatu perusahaan BUMN terbesar yang bernama PLN.

.

Untuk Dahlan Iskan ini saya hanya mengingatkan para pembaca agar waspada. Siapa tahu PLN tarifnya akan dinaikkan secara berkala, atau mungkin ikut-ikutan kebiasan konyol Megawati yang dengan mudahnya dibodohi malah  men-SWASTANISASI/PRIVATISASI, dijual sahamnya ke perusahaan asing trans/multinasional. Haduh ada saja Alih-alih kebijakan Privatisasi dengan cara IPO(Initial Public Offering); cara lain yang mungkin dianggap lebih aman dari serangan “ketidakpercayaan” rakyat.

.

George Soros

Seperti apa yang dilansir bakal dialami oleh beberapa BUMN berikut , atau dengan apa yang sudah terjadi pada BTN yang patut kita cermati lebih dalam perkembangannya. Benarkah memang selamanya akan berefek positif seperti apa yang diberitakan ? tak salah kiranya, kitapun akhirnya harus turut pula belajar saham ke Soros, memanggilnya dengan sebutan “Pak guru tersayang”. tanya kenapa ?. Hemm…

.

Kalo tentang Pak Presiden kita, ada baiknya kita habiskan buku Gurita Cikeas terlebih dahulu, buku itu layak dijadikan acuan pencerahan, karena data-data sekunder adalah data faktual yang di “publish” oleh media Nasional bermutu dan terpercaya di Tanah air kita ini. Dan kerap dijadikan sumber penyelidikan oleh berbagai ragam kalangan.
(tidak tahu lagi bila media yang bersangkutan sudah menghapus data-datanya)

.

Bila ada seorang wartawan Jawa Pos atau media apapun itu yang berafiliasi dengannya, yang menganggap buku pak George Aditjondro ini konyol. Justru patut dipertanyakan Track Record kewartawanannya. Karena secara tidak langsung si Wartawan meragukan isi berita yang di tulis oleh dirinya sendiri. Apalagi kalau wartawan itu juga selalu mengagung-agungkan Partai tertentu dalam tulisannya. Semakin tidak mengherankan ; tidak ada satupun nama Jawa Pos disebutkan, sebagai sumber referensi dari buku Gurita yang luar biasa ilmiah itu. TANYA KENAPA???

.

Dimana kita sadari, ketika akhirnya kasus Bail Out century ini bersemi, mungkin salah satunya akibat karena banyaknya pelanggaran-pelanggaran hukum yang mengangkangi UU diam-diam di kembang biakkan secara besar-besaran. Dan perkara pengangkangan ini adalah suatu hal biasa bagi para pebisnis. Karena selain menantang, kebiasaan ini begitu mengasyikkan.

.

Pelanggaran itu sebenarnya identik dengan praktik terselubung penerimaan CPNS di berbagai daerah di Nusantara. Atau kasus-kasus aliran dana Century yang tak jelas kemana batang hidungnya. Bisa saja dimakan cecunguk-cecunguk dari jaringan para pebisnis tersebut.

.

.

Meminjam kata Pak Wapres Boediono, “krisis bisa berefek sistemik” . kebiasaaan KKN Warisan mental Orde Baru ala Pak Harto sekali lagi, adalah krisis moral dan mental penguasa yang  masih terus bercokol. Ia makin gemuk hidup, berkembang biak, subur dan lestari di dalam simbol-simbol kekuasaan partai berkedok demokrasi di negeri ini. Kekuasaan partai ini menyusup kuat di lembaga-lembaga pemerintahan formal di negara kita, berhasrat menggantikan posisi GOLKAR/GOLONGAN KA(R)YA ; bisa dibaca karya atau kaya, terserah!!
(sekali lagi, please jangan begitu saja dipercaya, ini hanya praduga lebay dari saya).

.

Kampus negeri yang semula berkesan netral dengan titel gelar akademik keprofesiannya-ternyata mantan rektornya pernah juga melakukan “praktik bisnis haram nan liar itu”. Sang rektor ikut juga berpartisipasi aktif- tanpa sadar ikut menumbuh-suburkan kebiasaan lama Soeharto yang adalah guru bangsanya.

.

Lain lagi bila itu memang dilakukannya dengan penuh kesadaran, “eling lan waspodo”. Karena mungkin saja memang jabatan Menteri sudah dielu-elukan oleh sang rektor dari dulu. Berikut salah satu berita yang tertulis dalam koran kompor.

.

ini mendesak!! pemerintah tidak juga mencairkan dana pendidikan nasional untuk pembiayaan kampus kita. Tidak ada alternatif lain yang lebih instan lagi selain itu”, tukasnya kepada mahasiswa yang berdemonstrasi di depan gedung singgasananya.

.

Mahasiswa sadar, sang rektor mungkin saja dilematis diantara dua pilihan ;

.

Pertama, mau membantu meringankan beban pemerintahan korup, yang tidak juga menurunkan biaya pendidikan kampus. Otomatis sang rektor harus menaikkan biaya pendidikan kampus seperti SPP dan SPI menjadi setinggi langit, tentu saja memberatkan orang tua mahasiswa. Kemudian sang rektor tidak kehabisan akal juga ; membuka jalur-jalur alternatif illegal seperti yang dilakukan kampus berlabel PT. BHMN, Otomatis kuota penerimaan Mahasiswa reguler berkurang tiap tahun menjadi kian tipis hanya 20 % dari total keseluruhan, dan memang benarlah akhirnya pendidikan bermutu=mahal itu wajar, Khusus bagi mereka yang mampu, seperti rukun islam kelima naik haji bila mampu.

.

Atau

.

Kedua, menghiraukan masalah biaya pendanaan, kampusnya dibiarkan biasa-biasa saja, tidak terlalu getol ingin bersaing gengsi secara binal, SPP dan SPI tetap murah meriah, meringankan biaya orang tua mahasiswa yang masih banyak tergolong biasa-biasa saja, yang penting pendidikan murah, tidak memilih-milih, jujur, adil, ndak perlu gedung yang megah-megah tetap berdasarkan prinsip pancasila dan UUD’45.

.

Kenyataannya

.

Ternyata kampus Negeri yang seharusnya kampungan dan biasa-biasa saja sedari dulu itu, kini malah berdiri semakin megah. Pembangunan sarana dan prasarana kampuspun makin lengkap luar biasa. Kampus Negeri yang semula dianggap sebagai kampus pinggiran itu, kinipun makin lama makin menyamai kampus-kampus Negeri bertaraf internasional. Cita-cita kampus adalah bersaing binal, kampus harus bisa memproduksi mahasiswa-mahasiswa unggul mampu bersaing secara global, begitu juga sarana infrastrukturnya, jangan sampai lengah dan kalah gengsi dengan PTN-PTN berlabel PT.BHMN semacam UI, UGM, UNAIR, dan lain-lain sebagainya.

(sumber : Koran kompor, 30 september 2007)

.

Gengsi, pamor dan instan. Berulang kali menjadi cita-cita.

.

Pernah suatu hari, penulis melihat patung sang dr. Angka Nitisastro, Sang dokter pendiri kampus itu sedang menangis tersedu-sedu. Katanya beliau habis membaca koran-koran lokal Surabaya, yang di situ tertulis berita, “Kampung Kumuh Nelayan Kenjeran diserang nyamuk demam berdarah”, sedang di sampingnya “Rektor ITS membangun gedung-gedung baru bertaraf go Internasional”, disampingnya lagi “demonstrasi mahasiswa+warga korban lumpur lapindo tuntut ITS”, disampingnya lagi “mahasiswa ITS terancam DO akibat aksi unjuk rasa ITS anjing Lapindo” disampingnya lagi “kampung gebang daerah kampus ITS terendam banjir”, disampingnya lagi “mahasiswa ITS makin kreatif bikin film porno”. Penulis begitu tersentuh dengan kesedihan dan kepedihan beliau, mencoba meneliti kata demi kata dalam Koran-koran lokal tersebut. Pasti masih ada berita lainnya, yang masih bisa membuatnya tersenyum bangga.

.

“Oh iya yah, aku kan bawa Koran Jawa pos, beritanya pasti bisa membuat Mbah Dokter tersenyum bangga. batin penulis penuh optimis, meraihnya dari dalam tas ransel, sekejap secepat kilat menyodorkannya ke Mbah Dokter.

.

“Lha ini, ini mbah, ini lho mbah, kan masih ada berita baiknya toh?

Mahasiswa PENS ITS juara lomba robot, sambil saya tunjuk kearahnya.

.

👿 kamu ini mau bodohi saya. Saya ini dokter, saya juga tahu kalau itu mahasiswanya yang jadi robot.geram beliau sambil merebut koran itu, dan melemparkannya ke arah muka saya. Layaknya si goerge melempar bukunya kearah muka Ramadhan Pohan.

.

“JANTJOK Apese Tjok.. Raiku,batin penulis, hanya bisa terdiam menundukkan kepala

.

.

Untunglah penulis masih bisa sabar. Dari pertemuan tidak sengaja antara penulis dengan mbah  dr.Angka Nitisastro itu. Sungguh sujud-syukur luar biasa. Jangan sampai sang Rektor bertemu dengannya. Sebelum kebijakan-kebijakan “mengangkang” itu dicabut dengan segera. Pendidikan baik(=)mahal sebagaimana prinsip pak Menteripun harus segara dibuang ke tempat sampah. Karena memang biaya pendidikan seharusnya ditanggung dan disubsidi sepenuhnya oleh negara. Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) ; Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Jelas bukan, Tak seharusnya-lah biaya itu dibebankan kepada rakyat, tak lagi membuat sang rektor membuka jalur-jalur ilegal seperti dahulu kala. Tak lagi dimana-mana lagi rakyat miskin semakin miskin. Tak ada lagi alasan tidak mungkin untuk kuliah ataupun bersekolah. Karena bangkunya sudah habis terjual di makan si Kaya. Bahasa bisnisnya IPO gitoeh, bla..bla..bla..

.

Halah, Kenapa selalu saja saya mengalami dilema, dan mau tidak mau harus senantiasa percaya. Dengan penantian yang begitu penuh kerinduan ini, karena kata-kata mereka para pecinta : cinta itu pasti tumbuh pada waktunya”, tapi kok masih juga resah, hati inipun sering saja bertanya-tanya “dicabut nggak yah?,Haduh kembali lagi ada yang rasanya berusaha mengingatkan “sudahlah percayalah!!”,hemm… penulis manggut-manggut saja, “semoga aja deh secepatnya, pak menteri khan juga salah satu pecinta. 😆

.

Pejuang Demokrasi

Akhir kata, penulis sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya. Penulis bukanlah sedang menyampaikan berita. Tidak juga bertujuan memfitnah siapapun juga. Ini hanyalah ungkapan rasa, kabar burung, dongeng, cerita anak, atau gosip semata, terserah pembaca !!. Yang Jelas segala tokoh yang tersebut didalamnya adalah nyata. Karakter dan segala hal mengenai mereka adalah fenomena yang terjadi berulang-ulang. Tidak terpaut masa ataupun media massa. Makanya tulisan ini tidak bisa disebut berita. Karena manusia-manusia pebisnis seperti yang tersebut diatas itu akan selalu ada. Ohh pantesan, Gus Dur berniat Dekrit Presiden BUBARKAN DPR, Lha wong semuanya berpotensi mengubah haluan negara Demokratis ini menjadi negara BISNIS berbasis Saham ehh… Dan makin patutlah fenomena ini senantiasa untuk selalu di kritisi, agar bisa dijadikan hikmah pelajaran bagi generasi sesudahnya, untuk kemudian ditindak lanjuti.

.

Tidak ada Pilihan lain lagi. Ketika pers sudah menjadi anjing penguasa, ketika beberapa realita kebenaran tidak tertangkap dan terungkap oleh media, saat itulah teriakan sastra menggema dimana-mana, tak mungkin lagi bisa dibendung oleh hati siapapun juga…

.

Apa jadinya ?

Pilih kampus megah atau murah ?

yang jelas masa depan pendidikan ada di tangan PEMODAL!! 😆

Khususnya Pak Menteri, saya tunggu jawabannya pak dengan penuh cinta, salam sayang, ayo pak main saham?!?!

Pak PRES  dan WAPRES  yang terhormat, ajak-ajak dong kalau ada les privat Saham ke Pak Soros. Saya khan juga pengen tahu ilmunya. Hahaha.. 😆

.

.

peringatan :

Hati-hati berkomentar mengingat akan disahkannya RPM no 2 Tahun 2010  oleh Menkominfo (melanggar pasal 5,6,7,8,9)

Padahal RPM itu sendiri sangat bertentangan dengan  UUD 1945. Dan jelas saja mengangkangi PANCASILA dan UUD 1945 .  Menteri bodoh seperti itu.. aduh kok bisa-bisanya di pilih. 😆


Skandal Bank Century, tidak asal terjadi begitu saja. Ada banyak fakta yang tidak juga berani dengan jujur diungkapkan oleh para pelakunya. Semua bertanya-tanya, Siapakah?  antara Mendiknas yang adem ayem saja (ngaco banget deh saya), begitu juga Dirut Utama PLN yang selalu tersenyum ria (gak mungkin ah), atau Mantan Gubernur BI bersama Menkeu yang kini sedang kelabakan di jejali pertanyaan oleh Pansus DPR (mungkin-mungkin saja?), atau kebanyakan anggota PANSUS juga yang begitu sok menjadi hakim ternyata ikut juga terlibat (bisa banget deh, dari komposisi anggotanya saja sudah bisa dilihat),

.

ATAU SIAPA ?. Padahal semuanya adalah “Team”. Team dengan  sebuah kerja sama yang kuat, atau team dengan sandiwara yang memikat, antara dunia akademis, media nasional, ekonom, politisi  dan pengusaha, sekaligus tentara. Segalanya adalah profesi yang rentan korupsi. Dan sekali lagi budaya Kolusi-Nepotisme, tetap saja menjadi momok bagi demokrasi.

.

Latar belakang Mendiknas

.

Pada suatu hari kira-kira beberapa tahun yang lalu, tepatnya di sebuah gedung Graha Kampus yang megah. Diadakanlah pertemuan yang diselenggarakan oleh seorang Rektor untuk menyambut ribuan orang tua calon mahasiswa baru yang telah lulus dari seleksi SPMB. Ribuan orang tua itu bahagia, karena anak-anak mereka telah dipersilahkan menempuh studi di Perguruan Tinggi Negeri tersebut. Siapa sangka bila dibalik kebahagiaan itu, masih saja terselip duri ketidak-legaan yang membuat mereka tidak juga MERDEKA 100%.

.

Sang rektor berpesan kepada para orang tua, agar hendaknya dengan segera melunasi biaya-biaya pendidikan anak-anak mereka di kampus tersebut. Sontak tidak sedikit para Orang Tua mahasiswa yang kaget. Bagaimana mungkin untuk bisa melunasi tagihan yang jutaan itu dengan segera. Disamping adanya kenyataan; pada saat itu jumlah biaya yang tidak sedikit itu dapat dibilang sangatlah mahal. Apalagi orang tua mahasiswa baru dari jalur reguler adalah ; keluarga dengan kemampuan ekonomi yang cukup-biasa-biasa saja, yang mayoritas masih tergolong kalangan ekonomi menengah ke bawah..

.

Biaya itu sangat berbanding terbalik dengan sebuah kenyataan Sejarah. Yaitu latar belakang sejarah awal sebelum Kampus Negeri itu berdiri. Fakta itu dapat dibaca seperti yang tertulis dalam buku panduan mahasiswa baru di tahun 2002, tersebutlah ; 57 tahun yang lalu. Seorang Dokter umum yang bernama Angka Nitisastro, sangat trenyuh dan prihatin melihat nasib begitu banyak rakyak miskin tidak berpendidikan di beberapa kampung nelayan kenjeran, “kenapa juga masih banyak yang menggunakan perahu kuno yang ringsek itu untuk melaut?” batin sang dokter. Karena panggilan hatinya itulah, ia bersama-sama dengan rekan-rekan Insinyurnya kala itu, berjuang untuk mendirikan kampus tersebut. Berharap kelak anak-anak nelayan mampu berkreasi dengan perahu motornya sendiri, meringankan beban ekonomi dan kelelahan orang tuanya.

.

Bahkan sang Founding Father Negara-Bangsa kita ini.  Presiden pertama RI Soekarno turut pula ikut meresmikan kampus ini. Bung Karno sempat juga berpidato panjang lebar, mengingatkan tiap-tiap pendengarnya jika kampus itu adalah kampus rakyat, dibangun untuk rakyat.  Pidato itu  masih tersebut dan di cetak ikut  juga tertera dalam buku panduan masuk Mahasiswa Baru 2002 lalu. Entah kenapa buku panduan Mahasiswa Baru di tahun-tahun setelahnya. Tidak lagi menuliskan sejarah tentang 2 tokoh pejuang besar itu di masa lalu.

.

Sangka tak dinyala, Sejarahpun berlalu, dan tinggal kenangan lalu menjadi abu. Kampus Negeri itupun sekarang telah berdiri megah, namun cita-cita sang Dokter dan Bung Karno masihlah jauh api daripada panggang, malah semakin lama semakin menjauh.. sayang… 😥 Walau kampus itu sampai saat ini belum juga berlabel PT BHMN, tapi berkat keberanian seorang Rektor Revolusioner kala itu. Beliau dengan rela berkorban menjadi pionerr, mewakili lingkungan dunia akademis, untuk pertama kalinya; melanggar UU Sisdiknas, melangkahi pemerintah. Dengan diam-diam membuat kebijakan baru, membuka jalur-jalur alternatif ilegal untuk mengumpulkan dana yang wah. (red : saat ini sang rektor sedang menjabat sebagai MENDIKNAS di KIB II)

.

Ini sudah menjadi rahasia umum di seluruh daerah. Praktik penerimaan jalur terselubung itu adalah ilegal, walaupun akhirnya diumumkannya kepada publik secara terbuka. Hal pengumuman itu mungkin dilakukan oleh sang rektor akibat terdesak oleh berita-berita di media. Dengan munculnya demonstrasi-demonstrasi terkait yang dilakukan oleh tidak sedikit mahasiswanya kala itu.

.

Tetapi, tetap saja penulis katakan hal itu adalah ilegal, Karena kampus sang rektor ini sampai detik ini belumlah juga berstatus PT.BHMN. Alih-alih pemerintah sedang menggodok UU lain yang bernama BHP sebagai metamorfosanya. Praktik sang rektor yang satu itu kian bersemi dan di jadikan suri tauladan oleh berbagai PTN, yang sampai saat ini belum juga memperoleh status PT. BHMN dari pemertntah. Sang rektor pun mencoba meredakan kegalauan publik, kata-katanya sempat menghiasi berbagai media. Namun entah kenapa ketika penulis cari di Internet pada hari ini, semua kata-kata itu hilang tak berbekas. Khususnya penulis cari di Jawa Pos News Network, karena Jawa Pos-lah yang paling banyak mengulas tentang kata-kata Sang rektor tersebut, diantaranya :

.

1.“mau pendidikan berkulitas(=)mahal itu wajar dan itu khan tanggung jawab orang tua”

(ada sebuah blog bisa di jadikan referensi pengganti, silahkan klik di sini)

.

2.”Pengumuman mengenai jalur ilegal yang diam-diam tanpa disadari publik awam telah disahkan olehnya. Padahal kebijakan itu adalah tindakan pelanggaran hukum, yang telah mengangkangi UU”

(walau segala berkas tentang demonstrasi itu menghilang, anda bisa mengunjungi  penjelasannya di 2 situs web kampusnya berikut )

.

.

3.” Mendiknas : Tidak Ada Sekolah Baik Tapi Murah”

(anda bisa melihat beritanya di situs ini)

.

Penulis tak juga heran, Oh iya ya, bukankah sejak dahulu Jawa Pos adalah salah satu sahabat rekan bisnis sang rektor. Bahkan Dahlan Iskan sang chairman/CEO Jawa Pos adalah rekanan dekat dengan sang rektor juga. Dan mereka berdua ternyata adalah juga rekanan dekat sang Presiden. Wah Ini luar biasa, pebisnis-pebisnis dari daerah jawa timur, semua telah berkumpul dan benar-benar telah membangun kerajaan bisnisnya dengan megah. Hingga kini akhirnya, akarnya berhasil menembus langit mendung di pusat kekuasaan ibu kota negara Jakarta.

.

Penulis sarankan, para pembaca lebih waspada. Berhati-hatilah terhadap beberapa publik figur berikut, diantaranya : Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA, track record sang MENDIKNAS, ketika menjadi rektor suka bertelur menelurkan kebijakan-kebijakan “mengangkang”. Kemudian Dahlan Iskan Dirut, yang awalnya seorang wartawan, yang telah menjadi CEO Jawa Pos, kok yah tiba-tiba bisa-bisanya menjadi Dirut Utama suatu perusahaan BUMN terbesar PLN, tanya kenapa ?. Hemm… Kalo tentang Pak Presiden kita, ada baiknya kita habiskan buku Gurita Cikeas terlebih dahulu, buku itu layak dijadikan acuan penelitian, karena data-data sekunder adalah data faktual yang di “publish” oleh media Nasional bermutu dan terpercaya di Tanah air kita ini. Dan kerap dijadikan sumber penyelidikan oleh berbagai ragam kalangan.(tidak tahu lagi bila media yang bersangkutan sudah menghapus data-datanya)

.

Bila ada seorang wartawan Jawa Pos atau media apapun itu yang berafiliasi dengannya, yang menganggap buku pak George Aditjondro ini konyol. Justru patut dipertanyakan Track Record kewartawanannya. Karena secara tidak langsung si Wartawan meragukan isi berita yang di tulis oleh dirinya sendiri. Apalagi kalau wartawan itu juga selalu mengagung-agungkan Partai tertentu dalam tulisannya. Semakin tidak mengherankan ; tidak ada satupun nama Jawa Pos disebutkan, sebagai sumber referensi dari buku Gurita yang luar biasa ilmiah itu. sekali lagi TANYA KENAPA???

.

Dimana kita sadari, ketika akhirnya kasus Bail Out Century ini bersemi, mungkin salah satunya akibat karena banyaknya pelanggaran-pelanggaran hukum yang mengangkangi UU diam-diam di kembang biakkan secara besar-besaran. Dan perkara pengangkangan ini adalah suatu hal biasa bagi para pebisnis. Karena mungkin selain menantang, kebiasaan ini begitu mengasyikkan.

.

Pelanggaran itu sebenarnya identik dengan praktik terselubung penerimaan CPNS di berbagai daerah di Nusantara. Atau bisa saja kasus-kasus aliran dana Century yang tak jelas kemana batang hidungnya. Bisa saja dimakan cecunguk-cecunguk dari jaringan para pebisnis tersebut.(kalau ini cuman hipotesis sementara dari saya, mohon jangan begitu saja dipercaya)

.

.

Meminjam kata Pak Wapres Boediono, “krisis bisa berefek sistemik” . kebiasaaan KKN Warisan mental Orde Baru ala Pak Harto sekali lagi, adalah krisis moral dan mental penguasa yang  masih terus bercokol. Ia makin gemuk hidup, berkembang biak, subur dan lestari di dalam simbol-simbol kekuasaan partai berkedok demokrasi, kekuasaan partai ini menyusup kuat di lembaga-lembaga pemerintahan formal di negara kita, berhasrat menggantikan GOLKAR. (sekali lagi, please jangan begitu saja dipercaya, ini hanya praduga lebay dari saya).

.

Kampus negeri yang semula berkesan netral dengan titel gelar akademik keprofesiannya-ternyata mantan rektornya pernah juga melakukan “praktik bisnis haram nan liar itu”. Sang rektor ikut juga berpartisipasi aktif- tanpa sadar ikut menumbuh-suburkan kebiasaan lama Soeharto yang adalah guru bangsanya.

.

Lain lagi bila itu memang dilakukannya dengan penuh kesadaran, “eling lan waspodo”. Karena mungkin saja memang jabatan Menteri sudah dielu-elukan oleh sang rektor dari dulu. Berikut salah satu berita yang tertulis dalam koran kompor.

.

ini mendesak!! pemerintah tidak juga mencairkan dana pendidikan nasional untuk pembiayaan kampus kita. Tidak ada alternatif lain yang lebih instan lagi selain itu”, tukasnya kepada mahasiswa yang berdemonstrasi di depan gedung singgasananya.

.

Mahasiswa sadar, sang rektor mungkin saja dilematis diantara dua pilihan ;

.

Pertama, mau membantu meringankan beban pemerintahan korup, yang tidak juga menurunkan biaya pendidikan kampus. Otomatis sang rektor harus menaikkan biaya pendidikan kampus seperti SPP dan SPI menjadi setinggi langit, tentu saja memberatkan orang tua mahasiswa. Kemudian sang rektor tidak kehabisan akal juga ; membuka jalur-jalur alternatif illegal seperti yang dilakukan kampus berlabel PT. BHMN, Otomatis kuota penerimaan Mahasiswa reguler berkurang tiap tahun menjadi tipis hanya 20 % dari total keseluruhan, dan memang benarlah akhirnya pendidikan bermutu=mahal itu wajar, Khusus bagi mereka yang mampu, seperti rukun islam naik haji bila mampu.

.

Atau

.

Kedua, menghiraukan masalah biaya pendanaan, kampusnya dibiarkan biasa-biasa saja, tidak terlalu getol ingin bersaing gengsi secara binal, SPP dan SPI tetap murah meriah, meringankan biaya orang tua mahasiswa yang masih banyak tergolong biasa-biasa saja, yang penting pendidikan murah, tidak memilih-milih, jujur, adil, tetap berdasarkan prinsip pancasila dan UUD’45.

.

Kenyataannya

.

Ternyata kampus Negeri yang seharusnya kampungan dan biasa-biasa saja sedari dulu itu, kini malah berdiri semakin megah. Pembangunan sarana dan prasarana kampuspun makin lengkap luar biasa. Kampus Negeri yang semula dianggap sebagai kampus pinggiran itu, kinipun makin lama makin menyamai kampus-kampus Negeri bertaraf internasional. Cita-cita kampus adalah bersaing binal, kampus harus bisa memproduksi mahasiswa-mahasiswa unggul mampu bersaing secara global, begitu juga sarana infrastrukturnya, jangan sampai lengah dan kalah gengsi dengan PTN-PTN berlabel PT.BHMN semacam UI, UGM, UNAIR, dan lain-lain.

(sumber : Koran kompor, 30 september 2007)

.

Gengsi, pamor dan instan. Berulang kali menjadi cita-cita.

.

Pernah suatu hari, penulis melihat patung sang dr. Angka Nitisastro, Sang dokter pendiri kampus itu sedang menangis tersedu-sedu. Katanya beliau habis membaca koran Jawa Pos, yang di situ tertulis berita, “Kampung Kumuh Nelayan Kenjeran diserang penyakit demam berdarah”, sedang di sampingnya “Rektor ITS membangun gedung-gedung baru bertaraf go Internasional”, disampingnya lagi “demonstrasi mahasiswa+warga korban lumpur lapindo tuntut ITS”, disampingnya lagi mahasiswa ITS terancam DO akibat aksi unjuk rasa ITS anjing Lapindo” disampingnya lagi “kampung gebang daerah kampus ITS terendam banjir, begitu juga kampusnya”, disampingnya lagi “mahasiswa ITS makin kreatif bikin film porno”. saya begitu tersentuh dengan kesedihan dan kepedihan beliau, mencoba meneliti kata demi kata dalam koran tersebut. Pasti masih ada berita lainnya, yang masih bisa membuatnya tersenyum bangga.

.

Lha ini, ini pak, ini lho pak, kan masih ada berita baiknya toh?, saya sodorkan kembali koran itu pada beliau.

.

ini mahasiswa PENS ITS juara lomba robot, sambil saya tunjuk kearahnya.

.

kamu ini mau bodohi saya. Saya ini dokter, saya juga tahu kalau itu mahasiswanya yang jadi robot.geram beliau sambil melempar koran ke arah muka saya. Apes deh.. 👿

.

Dair pertemuan saya dengan Pak dr.Angka Nitisastro itu. Syukur-syukur kebijakan-kebijakan “mengangkang” itu dicabut dengan segera. Pendidikan baik(=)mahal sebagaimana prinsip pak Menteri menjadi hal biasa, karena memang ditanggung dan disubsidi sepenuhnya oleh negara.  Tak lagi dibebankan kepada orang tua, tak lagi membuat sang rektor membuka jalur-jalur ilegal seperti dahulu kala. Yang membuat rakyat miskin semakin tidak mungkin untuk kuliah ataupun bersekolah. Halah, Kenapa selalu saja saya mengalami dilema,dan mau tidak mau harus percaya. Dengan penantian yang begitu penuh kerinduan, karena kata-kata mereka para pecinta : cinta itu pasti tumbuh pada waktunya, tapi dicabut nggak yah? semoga aja deh secepatnya, pak menteri khan juga salah satu pecinta”. 😆

.

Akhir kata, penulis sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya, penulis bukanlah sedang menyampaikan berita. Tidak juga bertujuan memfitnah siapapun juga, Ini hanyalah ungkapan rasa, yang penulis kemas dalam sastra. Segala tokoh yang tersebut didalamnya adalah nyata. Karakter dan segala hal mengenai mereka adalah fenomena yang terjadi berulang-ulang. Tidak terpaut masa ataupun media massa. Karena manusia-manusia pebisnis seperti yang tersebut diatas itu akan selalu ada. Dan patut di kritisi untuk dijadikan hikmah pelajaran bagi kita semua.

.

Tidak ada Pilihan lagi. Ketika pers sudah menjadi anjing penguasa, ketika beberapa realita kebenaran tidak tertangkap dan terungkap oleh media, saat itulah teriakan sastra menggema dimana-mana, tak mungkin lagi bisa dibendung oleh hati siapapun juga…

.

Apa jadinya ?

Pilih kampus megah atau murah meriah ?

yang jelas masa depan pendidikan ada di tangan kita semua 😆

Khususnya Pak Menteri, saya tunggu jawaban anda dengan penuh cinta, salam sayang.

Iklan