Prita menggoreng tempe, Obama memasak nasi, hugo chaves mengulek sambel. Yummii…

.

Sudah bukan rahasia umum lagi di negara ini, bila seorang wakil rakyat haruslah memiliki beberapa kriteria eksklusif ketimbang inklusif. Diantara kriteria eksklusifnya adalah kemutlakan bila calon wakil rakyat haruslah ber”uang”. Ber”uang” adalah suatu keharusan, bila ingin meraih banyak pemilih, dengan keber”uang”an-nya ia bisa melakukan berbagai terobosan politik guna meraih banyak pemilih. Membikin poster, membagi-bagikan uang tersebut, membeli pernak pernik aksesoris, kaos, dan lain-lain sebagai “praktik pembodohan politik terhadap rakyat” lainnya.

.

Begitulah dilema tentang demokrasi ini menjadi isu perdebatan yang kian polemik dan panjang tak berkesudahan. Bahkan kebanyakan dari masyarakat kita dengan terpaksa lantas menutup telinga, mulut, dan mata. Memilih jalan diam dalam menanggapinya (The silent mayority) atau lebih parah lagi mengambil sikap tidak peduli lagi dengan segala sesuatu hal yang berbau politik praktis tersebut (GOLPUT). Dan terus terang bagi penulis ini sangat mengerikan, hal ini bisa menjadi penanda kebuntuan demokrasi, atau bahkan efek sebaliknya bisa menjadi sangat berbahaya, ledakan kebuntuan yang  dahsyat bak bencana gelombang Tsunami yang amat mengerikan akan meluluhlantakan segala sendi-sendi demokrasi yang telah lama dibangun.

.

Ohh tidak, asal pembaca tahu, penulis menjadi gila bukan kepalang. Penulis menjadi Lebay, Paranoid android,  ketakutan setengah mati .

Mau makan, tidak nafsu makan lagi. Mau minum, sudah minum berkali-kali namun tidak juga melegakan dahaga. Aduh, penulis mau tidur, tidak juga bisa tidur, kata dokter penulis terkena sindrom insomnia tingkat akut. Mau berak, ndak juga keluar-keluar. Mau kencing malah ndak berhenti-henti, kebanyakan minum soalnya. Waduh kata doktermya lagi, penulis terkena wasir, ditambah anemia, ditambah lever, waduh dalam seminggu penulis mengantongi beberapa penyakit sekaligus.

.

Oh tidak.. Tuhan maafkanlah penulis, yang terlalu lebay, mungkin kalau penulis deskripsikan kepada pembaca. Keadaan psikologis penulis saat itu, agak mirip juga ketika jaman SMU penulis, mohon maklum saat itu penulis sedang menunggu diumumkannya hasil NEM. Jadi selama seminggu lebih, di kepala ini cuma ada kekhawatiran yang selalu bertanya-tanya ; ”lulus gak ya? Lulus gak ya?” (lebay mode : on).

.

Oh, untunglah di tengah sunyi senyapnya suara rakyat (baca : 150 juta rakyat yang diam) dalam pentas perpolitikan di tanah air kita ini. Penulis cukup bersyukur, ternyata masih ada fenomena demokrasi yang luar biasa. Hati penulis yang semula resah mendesah, kian menenang dan damai. Puji syukur atas fenomena luar biasa tersebut.

.

Baiklah mari kita sambut dengan gegap gempita atas lompatan demokrasi yang telah terjadi ini para pemirsa blogger sekalian. Perkenankanlah saya menyambut perempuan pejuang demokrasi abad ini di bumi Indenesia kita tercinta ini, inilah dia saudara-saudara sekalian. Saudari Prita Mulyasari, ”suuitt…suuiiittt” yah terima kasih atas tepuk tangannya yang meriah dan luar biasa dari para pemirsa blogger sekalian.

.

Lalu apakah hubungan antara prita, obama dan Chavez??

.

Obama Memasak Nasi

.

Obama dalam kampanye presidennya  pernah berujar ”bahwa politik harus bersifat bottom-up, bukan top-down. Rakyatlah yang harus diberdayakan untuk mendukung pencalonannya, bukan pengusaha besar atau kalangan elit yang memiliki kepentingan (interest group)”.

.

Bayangkan saja, berkat kecanggihannya memanfaatkan jaringan internet, tim kampanye Obama memiliki 750.000 relawan aktif dan 8.000 kelompok pendukung yang mengorganisir 30.000 events dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Bahkan selain pengumpulan dana kampanye secara person to person, melalui pengiriman surat atau buletin langsung dari Obama, pengumpulan dana juga dilakukan melalui internet, dimana tercatat 1,3 juta orang telah memberikan donasinya kepada Obama.

.

Dilaporkan bahwa 94 persen donasi yang Obama terima berasal dari massa pemilih yang menyumbang kurang dari 200 dollar AS. Dengan model pengumpulan dana tersebut, Obama berhasil mengumpulkan dana hingga 265 juta dollar AS, tiga kali lipat dari dana yang dikumpulkan John McCain, rivalnya dari Partai Republik (Kompas, 14/06/08). Hal ini jelas telah menghancurkan paradigma lama yang menganggap bahwa sumber dana kampanye terbesar adalah dari para pengusaha besar dan kalangan elit.  Dan dapat kita lihat rakyat Amerika serikat kian makin matang pemahaman demokrasinya. Oleh karena itu saya ibaratkan Obama sang penanak nasi. Pekerjaannya lebih mudah dibanding dengan yang disebutkan di bawah.

.

Chavez mengulek sambel

.

Penulis mengibaratkan chavez sang pengulek sambel, Sambel itu terbuat dari cabai merah, sangat berasa pedas. Kalau tidak percaya, silahkan pembaca coba makan sendiri. Dan sambel yang bahan utamanya cabai ini, adalah inti rasa dari nasi tempe penyet demokrasi. Penulis sampai ter”ngilar-ngiler” nulis ini. Asal para pembaca tahu untuk mengulek sambel perlu tenaga yang besar, semangat perjuangan yang besar.

.

Dan penulis rasa, beliau cocok menjadi pengulek sambel. karena medan dan kondisi masyarakat Venezuela sana, yang sebagian besar masih bersenjatakan api. Sekali chavez berulah, dengan mudah matilah dia disana, di berondong peluru oleh rakyatnya. Agak bar-bar dan tempramental mirip cabai memang. Namun kini chavez berhasil mengolah cabai tadi menjadi sambal demokrasi yang nikmat bagi dunia. Pokoknya mantap dan pas banget.

.

Dengan Demokrasi Sosialisnya, Presiden Hugo Chavez telah berhasil mengurangi kesenjangan antara kaya dan miskin, memberikan tanah-tanah bagi kaum miskin melalui kebijakan land reform, membangun ribuan klinik bagi rakyat miskin, memberikan pendidikan gratis kepada rakyat sampai ke tingkat perguruan tinggi. Serta menasionalisasi perusahaan asing menjadi BUMN. Lho kok malah kebalik ya dengan apa yang terjadi di negara kita???

.

Prita menggoreng tempe

.

“Let’s go guys, Vote Prita for the world First President.”

.

Inilah dia fenomena demokrasi terunik dan terbesar sepanjang sejarah di dunia abad ini. Prita Mulyasari dengan kampanye akar rumputnya, berhasil mengumpulkan berton-ton koin receh. Prita dari partai ”tanpa nama” yang tidak berkeinginan untuk mencalonkan diri sebagai presiden di negara ”manapun”. Dengan politik ”koin cinta”nya, berhasil memperoleh suara politik terbanyak dari basis akar rumput di gurun pasir negara tempe.

.

Sungguh memang naas nasibnya, hanya karena tersesat ke meja hijau, di sesatkan oleh segelintir pengacara tempe dari sebuah rumah sakit Internasional yang dibelakangnya didukung oleh salah satu badan hukum negara tempe. Prita dengan terpaksa, harus melakukan serangkaian terobosan politik layaknya Obama dan Chavez untuk menjadi seorang presiden pemerintahan hukum darurat negara tempe.

.

Oh maaf pemirsa, bukan presiden. Saya ulangi sekali lagi, ”untuk menjadi seorang manusia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat tempe”. (Harap maklum, di negara Tempe, mayoritas aparatus negaranya masih terdiri dari bahan-bahan otak dan mental tempe).

.

Sesuai yang telah dilansir dalam koran tempe, prita pernah mengungkapkan :

.

”Lembaga hukum negara tempe harus di goreng, agar keadilan sosial bagi seluruh rakyat tempe tercapai. Hal itu terjadi karena sebab utama, tempenya masih mentah, jadi agak sulit diolah di perut lembaga negara tempe, sehingga membuat otak ’lembaga negara tempe’ tidak bekerja layaknya manusia. Otaknya bekerja agak lebih mirip keledai. (baca : keledai = hewan pemakan tempe mentah). Hemm.. wajarlah bila kebanyakan dari mereka tidak memahami keadilan dalam parameter kemanusiaan. Kalau tidak segera digoreng, akan berbahaya bagi kesehatan demokrasi seluruh rakyat di negara tempe yang masih ingin menjadi manusia seutuhnya”

.

Akhir kata, Obama, chavez, dan prita adalah tiga pahlawan demokrasi terbesar yang dimiliki oleh dunia di abad ini. Mereka berjuang mati-matian agar demokrasi tetap terpelihara di bumi manusia ini. Oleh karena itu, penulis mohon applausenya sekali lagi dong buat mereka… yak… suitttt…suuittt… terima kasih para pembaca tempe sekalian. Wakakakakkak…

.

Jadi menurut anda, Apakah prita perlu menjadi seorang presiden untuk menjawab tantangan tugas yang lebih berat dari sekedar menggoreng tempe ? atau sebaliknya malahan kita semua bisa menjadi penggoreng tempe di tingkatan lokal kita masing-masing tanpa harus merasa perlu untuk menjadi seorang presiden?

.

Note : 
Tulisan ini sebagai bentuk refleksi harapan dari hati penulis yang paling dalam. 
Semoga kelak pesta demokrasi dalam pemilu di masa mendatang lebih matang, inklusif, 
dan menanggalkan keber"uang"an-nya.  

Bagi penulis, semakin sederhana dan apa adanya  calon, semakin merakyatlah dia, 
otomatis semakin banyak sumbangan dana kampanye walaupun uang receh, semakin banyak 
pendukung akar rumputnya,  semakin jelas pemenang. 

Bukan seperti sekarang,  semakin kaya calon, semakin banyak menyuap, semakin banyak 
penjilat,  semakin banyak penggelapan uang. Kasus bank Century salah satu contohnya.
Iklan