Saya ingin lihat semua berakhir

Jenis buku : biografi
Judul asli : Pramoedya Ananta Toer , essay en interview 1990, Nederland : De Geus Novib
Penerjemah : Koesalah Subagyo Toer dan Kees Snoek
Cetakan pertama : februari 2008
Penerbit : komunitas bambu

.

Marilah kita Mengenang Pram sejak 2 tahun wafatnya, 30 april 2006.

.

Buku ini baru saja saya baca. Buku kecil yang tipis, dan begitu sederhana ini. Memaparkan banyak pemikiran dan pandangan Pramoedya Ananta Toer didalamnya. Sekiranya ada rasa bangga yang mengharu biru, ketika saya membacanya. Sayang beribu sayang, yang menulisnya adalah dua orang dari negeri seberang, belanda.

.

August Hans den Boef menulis esai tentang sejarah pram menulis, dan persepsinya terhadap novel pram dilihat dari sudut kesusastraan. Sedangkan Kees Snoek menulis hasil wawancara langsung yang dilakukannya, ketika pram masih hidup.

.

Mereka berdua bertutur kepada dunia, tentang getar-getir perjuangan pram, ketika pram anak-anak hingga ia dewasa dan pergi ke jakarta sebagai juru ketik di kantor domei jepang. Dan setelah itu kabur ikut militer di surabaya ketika perang kemerdekaan berlangsung. Pram memulai kepengarangannya dari nol hingga menjadi pengarang tingkat dunia, walau kita tahu dia dibuang oleh negerinya sendiri, bahkan setelah Indonesia merdeka ia masih saja harus keluar-masuk penjara. Begitulah kekuasaan menyepaknya seperti kaleng sampah hingga ke tong sampah berkali-kali. Untunglah masih ada masyarakat dunia yang masih memungut kemuliaannya. Membuatnya terhormat di dunia Internasional.

.

Apakah akan selalu seperti ini nasib pengarang indonesia, yang kritis dan romantis dengan indahnya membongkar kebrobrokan moral penguasa negerinya. Lewat karya-karya novelnya yang menggemparkan hati rakyatnya.Pram jugalah yang memberikan saya sebuah light pencerahan. Seperti apakah Indonesia seharusnya. Ditilik dari penggalan sejarah-sejarah pra kemerdekaan, hingga perjuangan rakyat menuju kemerdekaan.

.

Dari novel-novelnya, saya begitu terpukau, seakan larut didalamnya. Saya rasa pram adalah pujangga selevel mpu walmiki. Bahkan lebih. Karena yang ia paparkan adalah sastra realis, yang nyata dan berkembang berdasarkan kehidupan sesungguhnya. Segala rasa, ia tampilkan dalam torehan pena di tengah-tengah padang, dan gunung-gunung peperangan, hingga penjara-penjara tidak jarang dicicipinya. Menambah kental perasaannya, untuk kemudian menorehkannya dalam kata.

.

genap dua tahun menjelang pram tiada. Saya tak bisa tidak, ingin juga menulis tentang pram dan segala kesederhanaan berpikirnya. Yaitu bekerja, bekerja dan bekerja, jangan pernah berhenti bekerja. Dan menulis adalah kerja yang nyata membangun negeri. Seakan ia berteriak lembut kepada saya, agar juga menulis untuk membangun seperti dia. Ahh.. Terasa berat memang apa, yang di cita-citakan oleh pram. Bagaimana lagi, saya bukan seorang presiden. Saya adalah orang biasa. Yang kebetulan bisa menulis dan membaca. itulah dua hal yang bisa saya lakukan untuk meneruskan apa yang Pram cita-citakan. Walaupun saya tahu pram hanyalah seorang lulusan Sekolah Rakjat/SD. Bukan sarjana setingkat mahasiswa. Semoga Pram berbahagia di Surga.

.

Seakan-akan mengiyakan kata-kata pram, untuk menjadi lebih berani dan kuat. Seperti harapannya yang tertulis —-di cover belakang buku yang berwarna merah menyala ini ..

.

“saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, merasa berani, merasa dikuatkan. Dan kalau ini terajadi, saya menganggap tulisan saya berhasil. Itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. Berani. Lebih berani”


.

Siapa lagikah yang akan memahami getar-getir perjuangan pram, dan menggantikan perjuangan tokoh-tokoh dalam novelnya dinegeri ini. Jika bukan kita sebagai generasi mudanya, siapa lagi? Apakah lantas dibuang saja sejarah itu ketempat sampah?

.

Iklan