HAI-KU sapa PASURUAN

Tepat menjelang liburan. Kurang lebih sekitar jam 5 shubuh setelah sembahyang. Saya bersama dengan salah seorang kawan, karena bosan dengan hiruk pikuk di kota Surabaya, akhirnya memutuskan untuk menempuh perjalanan ke sebuah kota kecil di utara pulau jawa bagian timur, Pasuruan. Disamping keinginan me-refresh-kan diri, kami juga hendak meng-iya-kan undangan seorang kawan yang sangat ingin memperkenalkan kehidupan tradisi di kotanya itu.

Perjalanan menuju kota pasuruan, dari surabaya dengan mengendarai motor memakan waktu kurang lebih sekitar 2 jam, kami melewati jalan rute sidoarjo, dan jelas saja kami akan melewati jalan raya porong. Disana lumpur masih juga menyembur dan bau gasnya sangat menyengat. Sebaiknya anda menggunakan masker/penutup hidung lainnya dan kaca mata, agar debu-debu dari jalanan di sekitar lokasi tidak masuk ke dalam tenggorokan dan menimbulkan asma/sesak napas dan kelilipan di sekitar mata anda ketika berkendara motor.

.

Setelah melewati jalur porong, akan ada sebuah jembatan layang yang di bawahnya mengalir anak sungai brantas, yaitu sungai porong. Warnanya coklat pekat, agak tidak indah memang bila dibandingkan dengan sungai-sungai di Eropa. Itu mungkin dikarenakan ada sebagian lumpur dari porong yang dibuang kesana. Tapi tidak usah berkecil hati sungai disini memang coklat, karena banyak vitaminnya. Bahkan tersimpan kekayaan alam di dalamnya. Minyak dan gas bumi yang berlimpah.

.

Setelah melewati jembatan, langsung belok ke arah kiri, dan lurus saja. Itulah jalan menuju pasuruan. Kita akan disuguhi oleh pemandangan sawah hijau yang terhampar luas, di kanan kiri. Banyak juga pabrik-pabrik yang berdiri di sekitar sawah-sawah itu. Jalannya berkelok-kelok dan banyak truk besar dari pabrik yang berlalu lalang. Saya sarankan anda sebaiknya tidak usah ugal-ugalan di jalan itu, daripada kepala melayang-layang.

.

Setelah melewati kompleks pabrik, saya dan teman saya hampir saja kesasar. Ketika kami berjalan lurus sekitar 10 km kita akan sampai di kota bangil. Kota kecil dengan mayoritas penduduknya suku madura itulah, yang kami sangka adalah kota Pasuruan. Karena saya terpancing dengan alun-alun kota Bangil yang begitu bersih dan tepat disebelah kiri jalan raya antar kota dalam provinsi.

.

Apalagi kawan saya yang mengundang itu, mengirim sms bila kami berdua disuruh olehnya untuk menunggu di alun-alun. Setelah dicek ke sekeliling toko, ternyata yang tertulis adalah kata Bangil dipapannya. Saya keheranan apa Bangil itu Pasuruan ya? sialnya Kami dalam keadaan kehabisan pulsa saat itu. Akhirnya kami sepakat untuk terus jalan saja sampai bertemu dengan petunjuk jalan yang menunjukkan kota PASURUAN.

.

Kami melewati jalan yang lebih lebar dari jalan di Bangil, udara di sekitar terasa lebih segar dibandingkan di jalan-jalan sebelumnya. Ada banyak bukit di kiri dan kanan jalan. Konon katanya di bukit tersebut, dahulu CAK SAKERA hidup dan berkuasa. CAK SAKERA seorang suku madura, yang suka jahil mencuri dari belanda, kisah kepahlawannya sempat menjadi ikon di propinsi Jawa Timur. Dan me-legenda menjadi cerita rakyat sekitar, sampai sekarang. Jadi tak perlu gelar kepahlawanan lagi dari negara kita.

.

Lanjut akhirnya kami mendapati umbul-umbul selamat datang di Kota PASURUAN. Jaraknya sekitar 15 Km dari bangil. Dan kami masih kebingungan di mana ya alun-alunnya? Setelah terlihat banyak sekali pertokoan di kanan dan kiri jalan. Kami putuskan untuk berhenti di sebuah pos polisi. Dan bertanya

.

“pak dimana ya pak alun-alunnya?” tanya teman saya yang turun dari motor.

.

“itu mas tinggal belok kanan seberang jalan, terus kekiri aja. Lurus nanti belok kiri perempatan pertama sudah ketemu kok, di depan masjid pas”, jawab pak polisi dengan sangat ramahnya.

.

Saya pun melanjutkan perjalanan dengan petunjuk dari pak polisi. Tidak lupa terima kasih terucap. :lol

.

Tepat belokan terakhir kami terus jalan dan akhirnya melihat alun-alun yang di depannya memang ada masjidnya. Motor segera saya hentikan dan berhenti di sebelah kanan marka jalan. Kota yang sepi, batin saya. Hanya tampak sedikit kendaraan yang berlalu lalang. Tidak seramai di Surabaya. Sembari menunggu teman saya yang belum datang menjemput kami. Saya nyalakan rokok saya, sedari 2 jam mengarungi jalanan antar kota, lelah juga. Capek-pun sedikit-demi sedikit menghilang dengan menghirup udara memang terasa lebih bersih. Beban polusi di kota ini tidak sebesar Surabaya. Rasanya tidak salah menjadi pilihan kami sebagai tempat perhentian hidup untuk me-refreshkan diri.

.

Ada sebuah kesan pertama yang tak terlupa. Setiba di kota ini. Ini kebetulan ataukah memang disengaja oleh Tuhan. Kami berdua tercengang, dalam masa-masa penantian itu. Baru saja menginjakkan kaki kami langsung disuguhi dengan pemandangan yang rasanya benar-benar khas, dari kota ini. Keindahan tiba-tiba merasuk ke relung-relung batin. Sekiranya capai lambat laun hilang sempurna, mata yang sayu menjadi segar seperti sedia kala, seperti ketika kita bangun tidur. Dan saat-saat itulah, saya bikin sebuah haiku untuk menghargai keindahan yang ditampakkan olehNya.(*haiku =  salah satu genre puisi tertua di jepang)

.

di depan masjid
berlalu gadis-gadis
indah (c)ada(r)nya.
[1]

.

Tepat ketika keindahan itu berlalu, teman kami pun datang, kami langsung saja diboyong ke rumahnya. Baru saja sampai tidak enak bila kami langsung tidur. Kami hanya menaruh beberapa tas, dan membersihkan muka yang tertutup debu jalanan. Air segar menjadi awal proses perefreshan diri.

.

Kebiasaan kami untuk nongkrong di warung kopi tak juga menyurutkan rasa untuk mencoba salah satu warung kopi di kotanya. Kami pun dibawa-nya lagi bersama ke sebuah warung di seberang rumahnya. Dan kopi jahe ala pasuruan-pun terhidangkan. Hemm… rasanya memang khas, mulai dari sinilah kami merokok dan saling bercerita satu sama lain. Habiskan waktu sambil menanti adzan dzuhur berkumandang.

.

Dalam perbincangan itu, saya akhirnya angkat bicara, dan bertanya tentang siapakah gadis-gadis dalam sajak haiku saya itu? Kira-kira jawaban teman saya, bila saya terjemahkan kedalam bahasa Indonesia seperti ini

“Oh itu, mereka anak-anak perempuan keturunan Rasulullah SAW. Penduduk sini menyebutnya “Syarifah”. Murni keturunan arab. Kulitnya, matanya. Kita ndak bisa melihat hidungnya. Soalnya kan tertutup cadar. Tapi biasanya, ketika pagi tadi itu kamu lihat. Itu mungkin pondoknya mempersilahkan waktu olah raga pagi di luar, jadi diperbolehkan jalan-jalan di sekitar alun-alun saja. Biasanya diawasi sama kakak mereka yang lebih tua, yang sudah menikah. Jadi yang bisa dilihat kakaknya yang sudah lepas cadar. Kamu bisa lihat hidungnya. Mereka naik becak kadang-kadang. Itupun kamu kebetulan bisa lihat, pas tadi ketika datang. Hahaha”

.

Saya mendengarkan penjelasan dari teman saya dengan seksama. Memang semua gadis-gadis bercadar yang saya lihat tadi keturunan arab, kecantikannya luar biasa. Saya baru tahu bila tempat saya menginjakkan kaki sekarang ini. Ternyata adalah daerah pusat dari berdirinya salah satu pondok pesantren tertua di pulau jawa, Pondok pesantren Salafiyah. Tak enak bila tak menyebutkan KH Abdul Hamid bin Abdulloh Umar, sebagai salah satu syekhnya yang terkemuka. Dan yang saya tahu beliau sudah wafat beberapa tahun yang lalu-setahun sebelum saya dilahirkan, tepatnya pada tanggal 25 desember 1985. Tak heranlah saya, bila beliau adalah seorang waliyullah. Karena Pemakamannya-pun dihadiri oleh ratusan ribu pecintanya, dan masih saja diziarahi jutaan muslim lokal, yang itupun datang dari berbagai daerah, hingga sampai hari ini.

Romo Kyai Hamid

****

Sorenya, setelah sembahyang maghrib. Kami diajaknya menuju masjid jami’ Al-anwar, dengan berpakaian biasa, celana jeans biru dan kaos hitam. Pada saat itu kaos depan saya bergambarkan bulan sabit dan bintang yang berwarna putih, sedang di bagian belakang bertuliskan no marxisme, no leninisme, no kapitalisme, humanisme is my religion. sebelumnya saya cuek-cuek saja, saya pikir ya sama saja seperti sembahyang berjamaah di surabaya, ehh melihat penampilan teman saya asal pasuruan yang berpakaian baju takwa lengkap dengan sarung dan peci di kepalanya. Saya jadi bingung dan bimbang. Dan menanyakan perihal pakaian saya.

.

“mbah saya pakai kaos sama jeans gak apa-apa khan?” saya biasa memanggilnya mbah, sedang teman saya yang berangkat dari surabaya saya panggil jil.

.

“ya gak papa, kalo PeDe”, jawabnya singkat.

.

Saya melihat ke arah jil, dia pakai sarung, sedang pakaiannya sama seperti saya berkaos, tapi warnanya pink. Saya tanyakan ke dia ada sarung lagi gak. Dia cuman berbekal satu sarung dari Surabaya. Akhirnya saya minta ke mbah.

.

“mbah pinjem sarungnya aja?” dia pun mengambilkan sarung. Dan akhirnya saya pakai.

.

Karena jarak antara rumah teman saya dan masjid al-anwar begitu dekat, Kami pun memutuskan dengan berjalan kaki menuju masjid al-anwar. Kami melewati gang-gang tikus seukuran 3 meter lebarnya. Di kanan kiri berdiri rumah-rumah penduduk yang lumayan kecil dan sederhana bila dibandingkan dengan rumah teman saya yang berada dipinggir jalan raya.

.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Pada saat itulah saya mengenal salah satu tradisi Pasuruan yang begitu unik. Ketika dalam perjalanan menelusuri gang-gang tersebut. Kami bertiga, setiap bertemu dengan seseorang. Selalu tak pernah henti-hentinya orang-orang tersebut menyapa dengan menjulurkan tangan untuk bersalaman sambil mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, lantas kami pun serentak selalu menjawab “wa’alaikum salam”.

.

MasyaAllah, batin saya. Begitu indahnya tradisi lokal disini.

.

Kami masih terus berjalan dan akhirnya sampai di samping masjid, ada banyak orang dengan pakaian muslim lokal(sarung, baju takwa, dan peci) berlalu lalang. Terus terang saja saya merasa canggung ketika bersalam-salaman dengan mereka. Mungkin bisa dibayangkan wajah saya pucat pasi karena malu saat itu. Apalagi saya lupa tidak memakai peci. Sialan, batin saya.

.

Orang-orang rasanya melihat saya begitu aneh, dan saya jadi seperti alien seketika. Untunglah teman saya menepuk pundak saya dan berkata

.

“kamu itu dikira mu’allaf, jadi gak usah malu”, mu’allaf itu artinya orang yang baru saja masuk islam. Hehe.. Sialan.

.

“itu banyak bis dari mana mbah?” saya bertanya, setelah spontan melihat banyak bis pariwisata yang parkir di depan masjid.

.

“ohh, itu bis jama’ah dari luar kota”

.

“banyak ya, sampai seramai itu. Berarti kepopuleran kyai hamid begitu besar ya mbah?”

.

“ya namanya aja kyai tres, Alhamdulillah masih ada yang mengingatnya. Kita bersyukur saja budaya ziarah ini tidak pernah terputus selama ini”

.

Sejak mendengar perkataan itu saya melihat mbah, seakan-akan dia menyimpan sebuah kekhawatiran yang begitu mendalam, yang masih belum bisa saya mengerti. Kami pun segera melangsungkan ziarah ke makam Kyai hamid yang tepat berada di belakang masjid, akhirnya mengambil air wudlu setelah azan isya’ berkumandang.

.

Seketika perasaan saya menjadi teduh dan dalam dengan nuansa mistis di sekitar masjid. Saya merasa seperti di sebuah daerah dimana banyak kekasih Tuhan berlalu lalang. Saya dapat merasakan berkah dari Tuhan yang tak pernah berhenti mengalir menuju masjid. Dan berkah itu memercik dari seorang imam, tersalurkan melalui lantunan ayat-ayatNya yang nyaring dibacakan menuju ke setiap telinga makmumnya, dan tertanam halus di batin mereka. Termasuk saya.

.

Ketika seraya manusia berucap AMIEN, sontak hati saya meledak, bulu kuduk saya merinding, menjalar menuju seluruh tubuh. Kehangatan yang damai berganti memancar dalam tubuh saya. Saya menghadap Tuhan, begitu indahnya bersama manusia-manusia lokal yang masih memperjuangkan tradisi. Saya tidak menyangka saya akan menangis dalam sembahyang saya.

.

****

Menjelang hari ke-dua, rasanya saya telah jatuh cinta dengan budaya di sini. Saya amati kebanyakan penduduk sini selalu memakai sarung dalam kesehariannya. Budaya islam kuno itu begitu melekat dalam era yang se-modern ini. Saya merasa seperti masuk dalam perkampungan arab di asia barat sana. Cuman bedanya di sini kebanyakan orang Jawa dan campuran Arab, ada juga yang Tionghoa, mungkin jika di Surabaya agak mirip Ampel-lah.

.

Saya lumayan sungkan sebenarnya lama-lama disana. Namun bagaimana lagi ketika kami hendak pulang mbah selalu memaksa kami tetap tinggal, ucapnya memohon sehari lagi. Ya kami mengalah saja, dengan suka riang meng-iya-kannya. Kenapa tidak, lha wong makannya saja teratur 3 kali sehari, kami bisa tambah gendut di sini. Hahaha… maklum anak kos. Apalagi mbah selalu menjamu kami layaknya seorang raja. Kopi selalu tersedia, begitu juga rokoknya ketika kami bangun tidur di pagi hari.

.

Mungkin itu adalah salah satu tradisi di Pasuruan, menjamu tamunya dengan sangat baik melebihi pelayanan terhadap dirinya sendiri. Masya Allah, saya rasa itu bukan hanya tradisi di pasuruan saja, melainkan kewajiban seorang muslim yang dianjurkan Kanjeng Nabi Rasulullah agar menjamu tamu dengan penuh kemuliaan. Hehehe…

.

Ketika itu hari sudah gelap, setelah sembahyang Isya’. Akhirnya mbah memulai bercerita tentang keunikan tradisi disini. Saya dan jil mendengarkan dengan penuh seksama. Cerita mengalir, layaknya aliran sungai menuju lautan ilmu. Tapi entah kenapa kami harus bertemu dengan cabang-cabang keresahan, rasanya aliran cerita ini harus mampir sementara mencicipi keharuan di pinggirnya.

.

Ada sebuah realita kekhawatiran yang semakin memuncak ketika cerita di pinggiran itu mengalun. Pembangunan sebuah mal di dekat pusat alun-alun agaknya lambat laun semakin menggeser tradisi. Kekhasan tradisi kota yang semula berpola religius menjadi melemah. Etika kesantri-an yang dulunya sangat menabukan kelakuan bermesraan di depan umum (tidak seperti di kota-kota besar, seperti Surabaya). Kini anak muda seumuran saya sudah berani berduaan, bahkan berpegangan tangan tanpa ada rasa sungkan dengan kehadiran megahnya masjid jami’ al-anwar di depannya. Masjid tertua yang dibangun, tepat ketika kota itu juga berdiri. Dimana kisah awal yang cerah, saat tradisi religiusitas islam bersemi berakulturasi dengan tradisi lokal penduduk setempat di daerah. Setidaknya masjid adalah simbol dimana islam bersemi.

.

Mbah menuturkan pada kami, sebenarnya tidak sedikit Pemimpin kultural(kyai-kyai dan ustad) setempat yang mencoba mengingatkan walikota baru itu(entah siapa namanya saya tak tahu, karena memang tak mau tahu), agar tidak membangun mal di dekat masjid jami’ al-anwar, yang dikelilingi oleh banyak pondok pesantren yang berdiri. Apalagi masjid itu juga menjadi rute ziarah bagi umat muslim dari berbagai pelosok daerah di pulau Jawa dan Madura. karena tepat dibelakangnya terdapat makam beberapa ulama kyai besar bersemayam dan dimuliakan oleh umatnya.

.

Keharuan-pun lembut menyusup dalam hati kami bertiga, mata yang semula jernih menjadi memerah, dan basah. Ketika mbah mencoba menirukan suara salah satu ustadz-nya yang sebenarnya berteriak serak kepada walikota, kalau saya bahasa indonesiakan kira-kira seperti ini “anda itu ingatlah, anda orang mana. Hargailah leluhur kita yang lebih dulu merintis tradisi di kota ini”. Toh pada akhirnya, ke-arogan-an seorang pemimpin yang lupa, tidak memperhatikan peringatan-peringatan itu.

.

Akhirnya setelah mal itu dibangun, alun-alun dijadikan sebagai tempat nongkrong-nya anak muda seumuran saya yang kebanyakan adalah pendatang dari pinggiran kota. Banyak motor-motor jagoan kongkow di depan mal dengan pakaian ala anak gaul. Lambat laun semakin sedikit anak muda setempat yang tertarik untuk mempertahankan tradisi. Mungkin yang tersisa adalah anak-anak yang masih dididik oleh orang tuanya untuk tetap menghargai tradisi.

.

Tidak ada solusi yang terucap, dan tak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menjaga keluarga kita masing-masing, menjaga anak dan cucu kita agar tidak terjebak dalam maraknya perkembangan pola hidup negatif dari kemajuan zaman di sebuah kota. Para pemimpin kultural setempat hanya bisa bertahan dengan itu, dan menganjurkan penduduk setempat untuk mempertahankan dan menjaga tradisi itu kuat-kuat dalam lingkungan keluarga mereka sendiri. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha dari sini, yang terkecil, yaitu keluarga.

.

Cerita haru itu mengingatkan perjuangan saya dan teman-teman saya di kampus. Karena rasa pedih itu rasanya identik dengan kepedihan yang juga kami rasakan. Bedanya mungkin terletak dari ranah perjuangannya. Bila di daerah ada kekhawatiran dengan menghilangnya tradisi lokal setempat, maka di kampus ada kekhawatiran akan hilangnya tradisi kekritisan dalam watak mahasiswa untuk melawan segala hal penindasan terhadap rakyat.

.

Tuh… kan ! Saya jadi ingin juga mendeskripsikannya kepada pembaca sekalian, pada saat itu tanggal 5 oktober 2005, kami sempat mogok makan menentang kenaikan harga BBM. saya dan empat orang kawan membuka posko di kampus, agar pak rektor ikut menentang kenaikan tersebut. Pada saat dimana dua teman saya yang tidak ikut mogok makan, yaitu mario material ’01 dan dewi kahima FMIPA kimia ’02 membantu kami mengumpulkan dukungan tanda tangan mahasiswa. Mereka -pun berkeliling ke se-antero kampus dan sorenya kembali dengan wajah lesu ke posko. Hanya sedikit tanda tangan yang terkumpul, dikarenakan kebanyakan mahasiswa takut bila tanda tangan akan diancam D.O oleh birokrasi kampus. Watak kepengecutan itu entah sejak kapan mulai menggerogoti kampus kami, padahal kampus kami terkenal dengan julukan “Kampus Perjuangan Sepuluh Nopember-nya”.

.

Dan pada saat itulah, setelah adzan isya’ berkumandang. Diam-diam dibalik tenda saya pura-pura tertidur saat itu,  jelas saya terharu mendengar rintihan tangis seorang dewi, seorang kahima(ketua himpunan mahasiswa) luar biasa yang masih tetap menyimpan harapan besar agar rakyat miskin bisa makan esok hari, bahkan dia adalah wanita. Walaupun terlihat keras, bagaimanapun hatinya masih-lah lembut. Sejak itu kami tidak boleh pernah merasa gagal, walau sakit di hati berkali-kali mendera.

.

Kebanyakan dari kami-pun telah lulus(kecuali saya). Saya begitu merindukan saat-saat itu, saat dimana kepedihan terasa indah. Sama Seperti kepedihan ketika cerita itu mengalun, disaat saya jatuh cinta terhadap tradisi lokal di Pasuruan, seakan-akan Tuhan mengingatkan saya, tentang perjuangan membebaskan mereka yang tertindas agar janganlah pernah berhenti hingga ajal menjelang.

(Entah kenapa ?! saya buat catatan perjalanan ini di tahun 2008. Setahun setelahnya, sungguh penulis kaget tidak kepalang. Sahabat kami Dewi-pun pergi meninggalkan dunia ini terlebih dahulu. Sekali lagi keharuan, sekali lagi kesedihan, sekali lagi ia mengingatkan kami untuk selalu teguh)

.

*****

Hari ke-tiga adalah hari yang berwarna hijau. Saya dan jil diperkenalkan tradisi di daerah Pasuruan kuno, yang masih berbentuk desa. Saya berkendara motor ke arah Malang, bukannya kami hendak ke Malang, tapi memang itulah jalan rute menuju tempat yang akan kami singgahi. Entah apa nama desanya. Yang saya tahu penduduk disana menyandarkan hidupnya dari bercocok tanam, dan beternak ayam.

.

Di beberapa rumah, tidak jarang di sampingnya berdiri musholla. Saya terbayang dengan bali, hampir identik ya. mungkin kalau di bali tidak jarang juga di samping rumahnya, berdiri pura kecil keluarga. Perasaan bangga akan tradisi agama-agama di negeri ini semakin mengentalkan wawasan saya untuk menumbuhkan keinginan mendalami ranah spiritual dalam keseharian saya.

.

Cerita dari buku-buku spiritual yang sarat dengan filsafat ketimuran(tasawuf, buddha zen, hindu) yang saya baca seakan-akan hadir tepat di depan mata saya. Menjadikan saya bergumam “rasanya keinginan untuk ke tempat-tempat situs lokal seperti yang tertera dalam buku-buku itu, saya tak perlu jauh-jauh ke asia timur, jazirah arab maupun Asia barat dan selatan. Saya rasa di Asia tenggara, khususnya di Indonesia, semuanya ada”.

.

Apalagi di pulau Jawa. Semua budaya agama dari belahan dunia filsafat ketimuran manapun,rasanya melebur dalam suatu tradisi, dan membentuk ke-khasan tradisi tersendiri sesuai dengan akulturasi yang terjadi sebelumnya. ada harmoni antara mayoritas interpretasi masyarakat lokal setempat dengan watak bangsa kita yang sudah sejak lama di daulat ramah, oleh bangsa-bangsa di dunia. Itulah mengapa kita tak perlu jauh-jauh ke negeri orang, kekayaan negeri ini dalam ranah budaya rasanya sudah berlebih. Bahkan lebih bersifat kontemporer/pembaharuan di bandingkan dengan budaya aslinya.

.

Saya baru mengerti apa itu islam tradisi sesuai apa yang dalam pemikiran Gus Dur, mengembangkan islam tanpa menghilangkan identitas budaya asli lokal setempat. Tetapi berupaya mengembalikan jati diri bangsa, meng-harmonikan di antara keduanya, secara lembut dan penuh kehalusan. Agar setiap muslim masih mengenal identitas jati diri akan sejarah sukunya, bangsanya, dan negaranya. Kemudian bersyukur atasnya. bahwa sesungguhnya Allah menciptakan manusia dari berbagai macam bangsa dan suku, dan kita dituntut menghargai antara yang satu dengan yang lain. Sesuai dengan keindahan dunia yang terdapat banyak warna yang menghiasi. Kita patut menjaga agar setiap keindahan anugerah dari Tuhan itu seperti tradisi janganlah diseragamkan, apalagi dirusak bukan? Apalagi melupakannya karena dalam hati kecil saya berbisik, Tuhan itu menyukai keindahan.

.

Alhamdulillah… akhirnya di jaman globalisasi dimana era revolusi teknologi informasi bersemi, semoga cerita saya yang sedikit dan bertele-tele ini bisa di jadikan awalan untuk tidak pernah berhenti berharap dan bermimpi bersama, diiringi dengan usaha dan doa; semoga di beri keajaiban generasi muda di masa yang akan datang, mengembalikan jati diri bangsa agar tumbuh tinggi semangat kebanggaannya akan kekayaan tradisi di negeri ini… amien. n_n. bersamaan dengan itu, Saya sih gak masalah Negara kita hancur lebur, yang penting Negerinya ini masihlah tetap kokoh… dari pada Negara-nya ada tapi negerinya yang musnah, tinggal menunggu saja kapan negaranya ikut musnah..

.
.Na’udzubillah himindallik….

.

***

———————————————————————-

[1]Ada seorang adik bertanya kepada saya: “mengapa kakak terpukau dengan cadar gadis-gadis itu? Bukankah kakak tidak suka melihat gadis bercadar”. Tentu saya perlu menambahkan keterangan di dalam catatan kaki ini. Saya terharu karena mereka gadis-gadis keturunan arab, bahkan ada diantaranya syarifah. Yang amat jauh terpisah dari tanah leluhurnya di Yaman. Namun masih juga tetap berusaha menjaga tradisi nenek moyangnya, dan saya merasa betapa besar, amat bijak dan matangnya karakter pemimpin bangsa kita dahulu, bisa memilah dengan baik, menerima dan memeluk mereka menjadi bagian dari keluarga kita sendiri, melebur dalam kebhinekaan negeri ini. Tidak juga mengusirnya sebagai anak tiri.
Tentu perspektif saya menjadi berbeda sekali, bila gadis bercadar itu ternyata orang Jawa. Jujur terus terang, justru membuat saya malah enneg melihatnya. Wong Jowo lali Jowone, seperti tidak punya kepribadian saja, kehilangan identitas kulturnya sendiri, saya malah merasa miris sekali bila mengingat ini. Karena semakin bertambah banyaknya jilbabers berjamuran di sekitar saya akhir-akhir ini. Saya berharap semoga fenomena lost-culture ini hanya terjadi di Jawa saja. Tidak merembet ke 17.000 pulau. Saya jadi khawatir bila semua menjadi seragam kelak. Indonesia pasti akan menjadi negeri yang sangat membosankan, tak ada lagi keanekaragaman tradisi. Ini sungguh sangat mengerikan dalam imaji saya sendiri.

Wallahu ‘alam

***

Iklan