STUDENT HIJO

Student Hijo

Karya : marco kartodikromo
Terbit sejak tahun 1918
Oleh sinar hindia

Marco yang biasa dipanggil “mas marco” seorang bumiputera asal Hindia(nama Indonesia yang dahulu) bikin ini novel ketika ia jalani itu hukuman penjara yang dijatuhkan oleh pemerintahan Belanda. Penjara identik dengan ruang kosong yang sepi, tempat yang nyaman untuk telurkan itu ide-ide kreatif buat provokasi para intelektual jawa ningrat. Masa pra kemerdekaan bisa dibilang masa-masa revolusi bagi Hindia. Watak marco yang keras kepala dapat kita nilai dari keberaniannya berkali-kali melawan itu kolonial dengan buat tulisan provokatif dan disebarkannya keseluruh rakyat di Hindia. Telinga para ambteenaar pun risih juga dan buat merah mata para regent, borjuasi jawa nigrat. Tak ada pilihan lain baginya, untuk cicipi segala macam ruang berdinding beton.

Tetapi ada yang berbeda dengan novel yang ia buat kali ini, watak ke-keraskepala-annya tidaklah nampak sama sekali. Ia bikin novel ini begitu romantik, dan penuh nuansa cinta. Entah kenapa? mungkin memang ia ingin masuki dan selami itu nurani para anak ningrat, yang bisa di bilang anak yang terlahir dari keluarga ningrat, anak yang bisa enyam itu pendidikan Belanda hingga ke negeri Eropa sana. Anak yang jauh itu dari namanya “penderitaan”.

Anak ningrat yang kehidupannya paling nikmat diantara mayoritas bumiputera : para babu jongos kelas terbawah masyarakat koloni. Anak ningrat ini ia hipnotis, dengan segala keromantisan, dan ia arahkan pula kepada suatu realiteiit ke-GAWATAN bahwa Hindia haruslah merdeka. Kalau kata Tan Malaka merdeka 100% ini masih dalam tahap 30% . Tidak lupa marco selipkan nada-nada provokatif sebagai senjata penyadaran, yang salah satunya berbunyi

“serdadu-serdadu belanda di negeri Belanda pada awalnya adalah seorang termiskin dari kampung termiskin di negeri itu, ketika ia rajinnya mampu kuasai ini negeri para bumiputera, jadi semakin bertambah kayalah ia. dan kemudian lupalah ia, bahwa dirinya adalah tukang babi asal Belanda. Kenapa juga orang dari Nederland yang asalnya baik bisa juga jadi orang jahat, dan orang jahat jadi semakin jahat bila ia injak tanah Hindia?”

Marco besarkan hati para ningrat yang pada saat itu mau-maunya juga diperbudak Belanda, tapi padanan kata yang ia pilih sangatlah halus dan jauh dari itu kata sinis.

Ada pula marco mulai ingin runtuhkan itu budaya jawa kental yang kolot, salah satunya adalah masalah kasta dalam masyarakat jawa, ia kritik itu belanda suka bicara bahasa kasar jawa

“bodoh juga kumpeni itu sini ingin hormati dia dengan bahasa kromo jawa halus, tapi merekanya suka pakai itu bahasa ngoko”

Hal itu dikarenakan mereka para Belanda di Hindia tidaklah suka pelajari macam bahasa-bahasa Jawa, karena di negerinya Belanda sana tidak ada itu yang namanya perbedaan tingkatan dalam bahasa, bagi mereka cara berbahasa untuk semua orang adalah sama. Ini sekaligus juga mendobrak kekolotan para bumiputera, karena dalam watak budaya kita sudah tercetak itu yang namanya kasta. Dan kasta yang lebih rendah harus pulalah hormati itu kasta yang lebih tinggi dengan bicara gunakan bahasa jawa halus yang lebih pantas.

Permasalahan penghambat gerakan untuk menyadarkan rakyat adalah budaya feodal ini dan lebih detail adalah permasalahan berbahasa. Yang bisa kita lihat seakan-akan sepele, namun bukankah untuk membebaskannya adalah tahapan awal untuk menuju kemerdekaan? Maka budaya feodal itu haruslah segera diberangus dari frame berpikir kebanyakan rakyat hindia. Agar mereka bisa kenali dan rasakan apa itu “penindasan”. Barulah mereka bisa perjuangkan apa itu kemerdekaan.

Tidak menutup mata, bangsa ini butuh marco, salah satu kaum bumiputera yang mampu baca dan tulis, dan dia sadari itu apa penindasan. Karena ia “berpengetahuan”. Dan jadilah ia nabi di jaman pra kemerdekaan yang lalu itu. Ia sadar butuh lebih banyak kaum terdidik untuk memerdekakan ini negeri. Dan begitu juga ia sadar senjata mana yang pantas ia gunakan untuk lumpuhkan itu jiwa feodal para ningrat… Sebagaimana di jaman ini, subcommandante Marcos suka berjargon: “kata adalah senjata”

capek dehhhhh!!!!! gak tahu kenapa setelah penulis baca buku ejaan lama di novel ini, gaya bahasa penulisan penulis ikut-ikutan terbawa 😆 sakti ini novel saudara-saudara !!

Iklan