Tiba-tiba kota kami diserbu begitu banyak anjing. Mereka berkerumun seperti semut merubung gula, berkeliaran di setiap tempat. Di jalan, sekolah, pasar, mal, taman, gedung pusat pemerintahan, hingga tempat pengadilan. Dimana-mana anjing.
.
Aku tidak tahu darimana asal anjing-anjing itu. Orang-orang yang kutemui selalu kutanyai, namun mereka sama tidak tahunya seperti aku. Membaca suratkabar tidak memberikan jawaban apa-apa, hanya menambah kecemasan di dalam kepala. Di halaman depan suratkabar, walikota kami menyerukan agar warga menghindari binatang liar yang menulari rabies itu, sebab gigitannya bisa mematikan. Petugas-petugas dengan mobil pengangkut khusus disiagakan untuk menangkap dan mengurung anjing-anjing itu lalu mengirimkannya ke tempat karantina di pinggiran kota.
.
Kami, warga kota cenderung menghindari dan membiarkan anjing-anjing itu berkeliaran. Sudah jadi pemandangan umum bila melihat bagaimana mereka merapat ke pohon atau tiang lampu, lalu mengangkat salah satu kaki belakangnya dan buang air kencing disana. Bau kotoran anjing merebak ke setiap sudut kota. Mereka juga seenaknya bersenggama di tempat-tempat umum. Kota ini seperti neraka saja.
.
MAHKAMAH ANJING Oktober 26, 2008
GELISAH HUJAN Maret 2, 2008
joe terduduk diam, matanya menajam kearah lapang, sesekali melirik ke atas berharap hujan tak datang. Ia baru saja pulang dari kampusnya, dua puluh menit yang lalu diselesaikannya soal-soal UAS(Ujian Akhir Semester) yang berakhir dengan senyum mengembang, hatinya berbungah-bungah. Karena pada saat detik dimana kertas jawaban ia serahkan, pada saat itu juga libur telah datang. Lagu tasya “libur telah tiba”-pun ia senandungkan selama perjalanan pulang dengan riangnya.Saat pulang kuliah, saat itu pulalah kebiasaan joe yang unik pun rutin terjadi, dalam perjalanan pulang dari kampus, ia tak pernah pulang langsung menuju rumahnya. Joe selalu sempatkan waktu untuk mampir di sebuah warung kecil di sebelah tanah lapang yang luas. Tanah lapang yang tak jauh dari rumahnya, dimana ia terkenang masa-masa kecilnya, masa-masa ketika ia masihlah duduk di SD. Kisah kasih di sekolah ,pikirnya.
Seketika haru menyelimuti hati joe, bak rasa syukur oleh kenangan masa kecil yang tiba-tiba dirindukannya. Di pandanginya tanah lapang dengan mata berkaca, “selama sepuluh tahun tak ada yang berubah di sini”, gumamnya, bahkan sang penjual warung di tempatnya duduk sekarangpun, masih juga tetaplah sama. lanjutkan membaca
bye-bye Februari 18, 2008
Tinta biru dan toreh keindahan dalam kata, tiba-tiba saja membeludak dalam pikiran jay. ia baru saja bangun dari tidurnya yang panjang. Setelah berhari-hari berlarian di jalanan kehidupan.
Entah hari ini apakah dia hidup ataukah mati. Jay rasanya ingin menulis. Keramaian di sekeliling jay, hanyalah semu. Yang nyata, hanya di pikiran jay. Dua teman datang, dan akhirnya berlalu juga, berganti datang dua teman yang lain. Tiap teman punya rasa, yang jay tahu rasa cinta.
Kadang jay malas, jay sedang ingin sendiri, tapi itu tak mungkin, karena dia harus bekerja dalam keramaian, namun hatinya tetaplah sunyi. Wajah dengan muka yang masih tetap sama, selalu tampakkan kemuraman. Jay melihat rekan se-teamnya sendirian bekerja. Akhirnya jay turun tangan juga…
chapter one Februari 13, 2008
Kulihat awan di langit tampak mendung, motorku masih melaju diantara jalanan kota. Rumah masih jauh pikirku. Kumohon awan janganlah hujan sekarang, sayang. aku masih membonceng seorang perempuan. Namanya n_n dia adalah adik kelasku. Aku baru beberapa hari berkenalan. Rasanya dia memberiku lampu hijau. Ketika kuajak pulang bareng, dia dengan senangnya selalu mengiyakan.
“mas stress, gerimis”, tukasnya di tengah perjalanan.
“doa aja teh, biar nggak tambah deras”, jawabku dengan tersenyum lebar.



















