Sekolah Anjing !! (prolog)
PUBER CUP
.
Hari ini adalah hari senin, harus pakai seragam lengkap plus topi sama sabuknya. Benar-benar memuakkan bagiku, apalagi sabuk sama topinya harus ada lambang sekolahku, kenapa hal sepele gitu saja dijadikan keharusan. Ngomong aja biar koperasi laku dan duitnya masuk lancar ke kantong para penyamun, dasar para birokrat busuk.
.
Sudah sejak dulu aku gak suka upacara, udah panas, buat keringetan lagi, apalagi aku tergolong anak yang pendek, wah bisa bikin gak pede khan. Mesti berdiri di depan sendiri. Kayak anak kecil aja. Brengsek !!. Akhirnya, setiap mau upacara aku selalu pergi ke UKS, ada banyak cewek UKS, lumayan cantik-cantiklah buat nyegerin otak. Biasanya aku alasan sakit perut. Mau mencret gitu. Perlu tidur sebentar untuk menghilangkan efek kekurangan cairan setelah minum oralit. Tentu saja makan sebentar. Hehehe… ketika anak-anak lagi baris aku lagi enak-enak makan.
.
salah mereka sendiri mau dibodohi, lagian upacara kayak gitu lebih baik entar aja buat anak-anak yang mau jadi polisi atau tentara. bagiku juga gak ada efeknya buat cinta sama tanah air. Enakan tidur di UKS, sambil ngeliatin cewek-cewek cakep. Wajah perempuan Indonesia asli yang begitu cantik, lebih realistis untuk meningkatkan cintaku pada tanah air.
.
“stres, bangun stres!”, tegur bu Toha, perawat tua yang begitu lucu. Dia juga menjualkan beberapa makanan kecil. Itulah kerjaan kaum terpinggirkan, selalu mencari kesempatan dalam memperoleh uang untuk melanjutkan hidupnya yang bentar lagi mau di pensiun.
.
“stres, udah selesai itu upacaranya” sambungnya meyakinkanku untuk bangun, supaya aku tidak ketinggalan pelajaran.
.
“oh iya bu, makasih udah dibangunin” jawabku dengan masih setengah sadar dalam alam mimpi.
.
“tapi saya masih sakit pusing-pusing kepala ini bu!” bujukku agar lebih lama bertahan dalam UKS, lagian aku sudah rencanain hari ini gak bakal masuk kelas sampai pelajaran pertama selesai. Abisnya gurunya suka motong rambut seenaknya, apalagi rambutku sekarang lagi rawan kena sabetan gunting mautnya. Namanya pak Jay, salah satu guru terkiller di sekolahku. Pengawas kedisiplinan siswa disandangnya. Sampai kawan-kawanku nyebut dia “biang fasis tengik”, di kala kami suka gosipin dia.
.
Bel istirahat sudah berbunyi, waktunya ke kelas buat nglanjutin tidur. Hampir setiap istirahat aku tidak pernah keluar kelas, kerjaanku kalau gak di kelas tidur, ya ke perpus baca buku. Aku, dulu kelas satu padahal gak kayak gini. Apapun yang kulakukan tidak menyalahi aturan, alim banget, aku begitu patuh dan penurut. Soalnya pikiranku hanyalah menginginkan sebuah nilai yang terbaik, ranking pertama. Sholat hampir tidak pernah bolong-bolong. Keinginan seks tidak begitu besar. Gak kayak sekarang tiap malam selalu onani. Sampai kamarku bau telur, apalagi pemandangannya kayak kapal pecah. Ya mungkin inilah yang dinamakan gejala pubertas. Mungkin bagi orang-orang yang sudah mengalaminya. Hal seperti itu adalah wajar. Tapi bagiku, ini sangat menyiksa.
.
Dan lebih baik aku tidur, untuk melupakan sejenak pikiran ku yang kacau….
____________________________________________________________
.
Ah, tiba-tiba seseorang menggoyang-goyang bahuku. Sial, batinku. setengah sadar, setengah mimpi, dibuatnya mataku setengah terbuka, tepat setelah itu tangannya langsung menepuk pipiku, mataku yang masih mengantuk, hanya kabur melihat sesosok tubuhnya yang tinggi kurus, dengan rambut ikal berkeriting. Dan semakin lama semakin jelas terlihat. Wajah coklat jawa, dengan bibir lebar mirip joker, atau lebih tepatnya badut, tersenyum ke arahku. Sontak aku menjawab.
“ada apa lak?”
.
“tres ayo ke gang atas?”.
.
Namanya balak, salah satu kawanku, entah kenapa dia dipanggil balak, aku tak pernah menanyakannnya. Aku dan balak sudah saling kenal sejak awal aku masuk kekelas 3 IPS ini, aku merasa menemukan kawan baru yang begitu cocok denganku setelah aku tahu bahwa kami sama-sama pecandu rokok dan begitu suka bolos bareng. Kami seperti jarum dalam tumpukan jerami, diantara anak-anak se smu ku, mau gimana lagi anak IPS selalu dibilang nakal, apapun yang kami perbuat untuk memperbaiki kelakuan kami, imaje itu tidak akan pernah hilang di sekolahan kami.
.
“kau ada rokok ya ?”, tanyaku. dia mengangguk mengiyakan, seraya berkata “ayo!”.
.
“kebetulan aku lagi suntuk nih!”, tambahku dengan wajah ribet.
.
“ada, tapi cuman satu, join aja ya?”, balas balak padaku
.
“yup!”
.
Kelasku tak jauh dari gang sinting tempat kami biasa ngoker. Tepatnya diatas, di sebelah Sekretariat Eks-skul. Entah Kenapa dinamain gang sinting ? mungkin karena setiap istirahat dan pulang sekolah. Gang itu menjadi markas buat anak-anak sinting. Yang lagi terkena dampak efek gejala Pubertas stadium 1 dan 2. Dan rasanya itu sudah menjadi tradisi turun temurun dari senior kami yang terdahulu. Sudah bukan rahasia para siswa, itu tempat anak-anak sinting berkumpul. Dan semuanya adalah perokok, ada juga yang peminum, dan penyabu. Aku tak pernah suka dengan dua yang terakhir itu. karena aku pernah mencobanya. Dan merasa tak cocok dengannya.
.
Itu terjadi kira-kira sepekan yang lalu. Anak-anak melakukan ritual sinting seperti biasanya. Dan aku baru tahu bila itu dilakukan setiap sore menjelang maghrib, ketika sekolah sudah sepi. Di gang sinting itulah kami biasa minum, bercerita, satu sama lain tentang hidup. Layaknya orang-orang dewasa di salah satu cafe termahal di Paris, Prancis sana.
.
Dan entah kenapa aku heran tubuhku, langsung pingsan tak sadarkan diri pada putaran ke sepuluh. Dan sejak pengalaman pertama yang juga sekaligus menjadi pengalaman terakhirku itu. aku langsung saja di boyong ke rumah sakit oleh balak. Dan ketika aku sadar, dokter langsung memvonisku terkena lever.
.
Tentang temanku; Balak adalah salah satu aktifis eks-skul Pecinta alam, dia menjabat sebagai ketua PA tahun lalu, kini sudah turun jabatannya. Dia tidak seperti kawanku lainnya, agak dewasa, dan amat matang pikirannya. Baik dalam bersikap maupun bertutur kata. Walaupun kadang agak kenak-kanakan. Kami pernah bertengkar dan musuh-musuhan layaknya anak kecil. Untung sudah baikan berkat usaha pacarnya, namanya devi. Sahabat dan pacarnya yang tak akan pernah kulupakan.
.
“tres kau kenapa suntuk?”, tanyanya dengan nada ingin tahu
.
“rahasia”, jawabku dengan nada yang mungkin bisa membuatnya jengkel
.
“halah gitu saja pekek rahasia-rahasiaan, kemaren aku juga lagi suntuk tapi sekarang udah enggak!”
.
“emang urusanku!”
.
“jancok, mana sini rokoknya, gak usah join-joinan?”
.
“becanda sayang, gitu saja marah”
.
“benernya aku lagi suntuk, buat apa kita sekolah?, toh juga gak ada gunanya, cuman menghabiskan uang saja!, paling-paling entar juga kerja jadi babu”, entah kenapa tiba-tiba terbesit saja pikiran yang telah lama kulupakan itu. Itulah sumber dari segala sumber kesuntukanku. Rasa kesok-dewasaan menguasaiku. Pubertas stadium satu lagi-lagi kambuh. Dan aku mencoba mengendalikannya. Bagaimanapun kucoba mengendalikannya, tetap saja tidak bisa. Proses itu berlangsung secara alamiah. Semakin aku mengendalikannya, semakin menjadi-jadi saja efeknya terhadap diriku.
.
“ah, jalani sajalah, buat menyenangkan kedua ortumu, mumpung masih hidup!”, aku melihat ke arah balak, aku tahu balak lebih tua dua tahun dariku dan bisa lebih bijak saat ini, karena dia sudah mengalami masa-masa pubertas Stadium satu, yang baru kualami saat ini. Bagaimanapun juga kekeraskepala-anku, yang alamiah ini, tetap saja ingin ngotot menolak apa kata-katanya yang bijak itu.
.
“ah, bosan aku dengar jawaban klasik itu, aku ingin cari jawaban yang lain. Agra bilang, ijazahnya saja dipikirin, tapi aku merasa gak pas aja feelingku sama jawaban klasik kayak kamu dan agra itu”, tambahku dengan nada jengkel.
.
Agra salah satu kawanku yang lain- saat ini sedang berada di kelas mengerjakan tugas PRnya yang seabrek,maklum anak IPA gitu lho! walaupun dia anak IPA, aku yakin disitu bukan bidangnya, bidangnya adalah seni, dan dia lumayan bisa diajak bicara sama masalah kayak gini, karena kami bertiga sering juga merokok bareng disini. Dan aku semakin yakin dan tahu sekolah ini, tidak menampung bakat untuk anak-anak yang berbeda seperti kami.
.
Aku tidak setuju dengan jawaban agra yang mencoba berdamai dengan sipir penjara yang kasat mata itu, dengan alasan ijazah., mungkin karena kami berdua berada dalam fase pubertas stadium yang berbeda. Dia pada fase pubertas stadium kedua, masih saja mencari ketenangan, dan menyederhanakan masalah, sedangkan aku yang sedang mengalami masa fase pubertas stadium pertama. Merasa jawaban-jawaban itu semua adalah penderitaan, dan tidak sesuai dengan kekeras kepalaanku, ditambah dengan kesok-dewasaanku, bila aku tidak ingin sekolah selama ini, karena aku memang merasa terpenjara, dan aku merasa tidak bebas. Dan aku selalu merasa ingin melawan, tapi ketika perasaan melawan ini menguasaiku semakin membuat suasana hatiku mudah sekali melonjak-lonjak tersulut emosi, seperti kuda liar, kacau, dan tak terkendali. Ya aku merasakan segala yang ada dalam diriku menjadi tidak terkendali, dan jelas saja aku tersiksa sepanjang malam dengan perasaaan ini. Dan anehnya aku lambat laun menikmatinya.
.
“ehm, begitu….!!, carilah jawaban itu sampai kau puas habisin rokokku!!”, sindirnya. Aku memang lupa kalo rokok itu join.
.
“sory, sory… keasyikan buthekin otak”, sambil ku balikin rokok yang sudah sedari tadi kuhabisin hampir tujuh isepan.
.
“kemaren aku liat cewek inceranmu lagi main basket lho?”, balak mencoba untuk mengalihkan isu, dan terus terang saja aku terjebak. Karena cinta ini bukanlah perkara sederhana, melainkan menyangkut masa depanku. Begitulah ke sok- dewasaanku menuntunku melahap saja ikan asin yang ditawarkan oleh balak. Layaknya aku seeokor kucing yang kelaparan.
.
“wow.. jam berapa lak?”
.
“sore sehabis latihan manjat”
.
“Ohh, dia ikut ekskul basket lak ya!”
.
“menjengkelkan kenapa cewek cantik kok selalu ikut basket, apa memang sudah takdirnya ya?. Yang jelek-jelek masuk PA.”, kami berdua tertawa terbahak-bahak. Karena memang begitu adanya, mayoritas cewek cantik pada suka ikut ekskul basket.
.
“mau ngliatin kontol gerang paling”, tambahku
.
“jancok kontole kene luwih gerang cok”, balak membalas tidak terima.
.
“yo wis, lek ngono berarti nggolek lanang sing dhuwike akeh, gak kere-kere koyok kon!”, tambahku dengan tertawa terbahak-bahak sampai keselek. Balak balas tertawa sambil mendorong pelan kepalaku.
.
Aku juga heran kenapa aku tiba-tiba membedakan anak basket dan P.A dari segi kemampuan ekonominya. Mungkin karena aku sedikit menyimpan iri saja, pada anak-anak basket yang mampu membeli sepatu nike dan adidas mereka yang sangat mahal. Ya ! mungkin… tapi bukankah lebih mahal alat-alat buat mendaki gunung? Kenapa aku harus iri. Mungkin cemburu. Ya lebih tepatnya cemburu. Cemburu saja karena pujaan hatiku lebih memilih disana. Padahal aku juga bukan aktifis di P.A, aku hanya seorang simpatisan, yang terlambat, dan tidak diperbolehkan mengikuti diklat P.A. apalagi aku sudah sangat dekat dengan kawan-kawan P.A, dan setiap kali pendakian, aku ikut bersama mereka. Menghabiskan waktu bersama mereka. Melihat bintang-bintang. Aku heran, kenapa gadis secantik dia tidak memilih PA saja untuk melihat bintang. Ahh, sebaiknya tidak usah, karena diklatnya memang terlalu berat untuk gadis semanja dia.
.
Teet…….teeeeet…….teeeeeeeet
.
Bel sekolahpun berbunyi, nyaring memekakkan telinga, menstimulus otak yang semula segar menjadi panas kembali. Baru ndengerin bel saja sudah muak. Mau bagaimana lagi, hidup rasanya dikekang waktu-waktu dan jadwal rutinitas yang bukan buatanku sendiri, melainkan buatan manusia lain yang kurasa sedang mencoba menjajah alam bawah sadar pikiranku.
.
“Sialan, Ram tepat berada di bawah tangga lak!” ujarku, “kayaknya dia nunggu kita turun deh!”, Ram adalah salah satu pengawas kedisiplinan siswa, dia pernah mengayunkan tinju mautnya kepada anak-anak IPS I, yang kemarin baru saja kena operasi bolos di kantin belakang.
.
“santai tres, kita lewat saja dengan senyuman manis”,balak coba menenangkan
.
Kami turuni tangga, dan berpas-pasan dengan wajah Ram yang berotot dan berwarna coklat langsat, begitu pas dengan perutnya yang bulat.
.
“guk…guk…guk…”, tiba-tiba saja Ram menyalak dengan nada keheranan, kira-kira bila kuterjemahkan artinya seperti ini; “dari mana kalian?”, selanjutnya langsung kuterjemahkan saja biar tidak menghabiskan kertas.
.
“dari sekeretariatan pak, habis nyapu-nyapu”, tukas balak mencoba meyakinkan. Dengan senyuman ala joker yang merupakan bakatnya, jelas saja aku menahan tawa.
“sejak kapan kalian nyapu-nyapu, rajin sekali” tegas Ram tak percaya, “sini mana tangan kalian?”
.
Balak menurut, menyodorkan telapak tangannya. Sekejap dan penuh penghayatan, mata Ram tiba-tiba setengah terpejam. jurus penciuman tajam akan dikerahkan Ram, jelas saja balak tak mungkin lolos dari penciuman anjing Ram, apalagi sudah terkenal ditakuti di kalangan siswa perokok.
.
Tak banyak omong, langsung saja telinga dan tangan balak kena cubitan cakar anjingnya. Balak pun menjerit “aduuuuuh”.
.
“kamu sini, mana tangannya?” sekarang giliran tanganku yang dideteksi
.
“ah jangan pak, nanti geli” tukasku dengan nada malu-malu kayak cewek mau diperkosa. Balak tertawa di belakang ram. Langsung saja tangan ram mendarat tepat ditelingaku dan ceekliiit “adauuuuuuw” rintihku. Lama dan sakit sekali, “udah pak! Ampun! Ampun”, harapku, sudah lima detik tangannya mendarat.
.
“makanya di jaga itu mulutnya” nasehat ram padaku, sambil dilepaskannya tangannya dari telingaku yang memerah.
.
“sudah sana, kalian masuk, awas diulangi lagi, tidak akan ada kata ampun” ancamnya. Ram memang cukup baik tidak memboyong kami ke ruang pengadilan siswa, tentu saja tempatnya di ruang guru. Kalau sudah disana, bisa dapat surat teguran plus omelan para dewan guru, dan surat itu bakal dilayangkan ke orang tua siswa.
.
Kami pun masuk kelas. Seperti ternak lagi. Kali ini gurunya tidak datang-datang. Seperti biasanya, kami ada yang bosan dikelas menunggu guru yang tak kunjung datang-datang. Begitulah kesenjangan sosial, terasa begitu kental, antara kami anak IPS, bila dibandingkan dengan anak IPA selalu saja dipandang sebelah mata, baik itu dari segi waktu, kualitas, dan kuantitas pengajaran yang dilakukan oleh guru-guru SMU kami, dan anehnya lagi tiada kelas bahasa di sekolah negeri yang berada di tengah kota besar di negara ini. Sungguh sangat kentara, hasrat pendidikan yang berorientasi industri ini.
.
Akhirnya kawanan domba terpecah dari kerumunannya, dan keluar kelas, ada domba yang lari ke kantin belakang buat cari rumput kesukaannya, ada yang nongkrong didepan kelas buat ngeliatin cewek kelas satu yang pada olahraga. Dan aku sendiri termasuk yang nongkrong didepan kelas. Sambil dengerin musik, sekalian nampang sangar, jadi anak gaul yang modern, soalnya pakek flashdisk yang ada MP3nya. Sisanya tentu saja didalam kelas, ada yang ngerjain PR, ada juga yang main gitar. Itu yang paling gempar, domba ngadain konser didalam kelas. Mungkin itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.
.
Tiba-tiba ada serigala menggonggong dari sisi ruang guru, teriakannya memecahkan kesunyian sekolah yang begitu hening dan damai.
.
“Hueeeee…. “,
.
Sialan,itu si Markus, salah satu pengawas disiplin siswa. Domba-domba pun lari terbirit-birit masuk kandang, sambil mengembik tertawa. Markus dengan perut buncitnya berjalan seperti hendak memangsa domba-domba yang masih berkeliaran. Markus lebih ganas dari anjing Ram, dia mendapat peringkat pertama sebagai binatang pembunuh tersadis disekolahku. Semakin dekat langkahnya menuju kandang, bumi seakan bergetar dahsyat menerima pijakan kakinya yang sebesar gajah, boom… boom… boom, apalagi dengan tampang sangarnya sebagai orang batak yang galak, cukup membuat bulu roma para domba begidik. Tapi anak-gadisnya yang cewek cantik juga, sempat aku naksir sama anaknya. Namun akhirnya gak jadi, setelah kupikir-pikir dan kutimbang-timbang dengan sematang-matangnya. Daripada nanti aku sakit jiwa punya mertua kayak gitu. Hiii…. Mbayangin aja sudah mau bunuh diri.
.
Domba-domba pun segera berpura-pura belajar. Ada yang sesegera menyiapkan buku-buku beserta alat-alat tulisnya, kemudian segera berpura-pura mengerjakan LKS Tata Negara. Memang, seharusnya sekarang jamnya bu dewi guru tata negara. Tapi belum ada kabar, kenapa beliau kok belum datang-datang sampai sekarang. Mengerikannya, Markus sudah sangat dekat dan tinggal lima langkah lagi masuk kekelas. Dapat kulihat matanya yang tajam memicing, bagiku begitu menyebalkan dan penuh kebusukan. Dan ketika seluruh tubuhnya masuk dalam penjara itu, mulai dia keluarkan jurus cerocos mautnya.
“siapa tadi yang diluar duduk-duduk, segera ikut saya” tegas markus dengan wajah sangarnya. Badannya lebih pendek dari Ram, tapi bukan itu yang ditakuti domba-domba, melainkan kegigihannya mengumpulkan surat-surat kenakalan yang dilakukan para siswa. Sudah 129 siswa terkena surat teguran, dan akan dikeluarkan kalo sudah mengulang kesalahan yang sama tiga kali. Untungnya aku belum pernah dapet surat kayak gituan. Karena aku begitu profesional dalam memancing kerusuhan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
.
“kalau tidak ada yang mengaku, anak sekelas akan saya kirim surat teguran”, ancam markus. Jelas saja domba-domba saling menyalahkan satu sama lain. Domba-domba begitu ramai saling dorong mendorong, karena ada serigala masuk kandang yang akan memangsa mereka.
.
“aku takkan pernah mengaku”, batinku harap sesekali buat anak-anak kompak. Tapi kasihan juga mereka yang tak bersalah. Luluh juga deh akhirnya batinku. Sedari tadi tidak ada yang mengaku. Kuberanikan diri pula aku maju menyerahkan diri.
.
“saya pak” layaknya superhero bagi domba-domba yang lain,
.
____________________________________________________________________
.
Surat skorsing bakal terkirim tepat didepan rumahku, jelas saja aku tak berkutik untuk menyembunyikannya. Karena diluar perkiraanku, ternyata saat itu juga pihak sekolah menelpon ke rumahku. Dan ibuku-lah yang mengangkatnya. Dan seperti biasa ibu mengaktifkan Loudspeaker untuk mendengarkan suara penelpon yang jauh di seberang dunia maya sana. Maklum ibuku sudah tua, dan agak sedikit terganggu pendengarannya.
.
“halo”
.
“selamat pagi bu?”
.
“ya, selamat pagi”
.
“ibu, maaf kami dari pihak sekolah mengundang ibu untuk datang kesekolah guna membicarakan anak ibu”, itu pasti suara bu cici, yang saat itu sedang menjabat sebagai karyawan Bagian urusan kesiswaan di sekolahku.
.
“oh tidak apa-apa bu, kapan saya bisa kesana?”
.
“insya Allah nanti sore suratnya sudah datang bu kerumah, begitu saja bu keterangan dari kami pihak sekolah, apabila bahwasanya anak ibu ada permasalahan di sekolah kami”
.
“Oh ya, saya yang seharusnya minta maaf sudah merepotkan pihak sekolah. Memang anak saya ada masalah apa bu ya kok sampai-sampai dikirim surat kerumah? ”
.
“begini bu, anak ibu ketika jam pelajaran sekolah di mulai telah melakukan perbuatan yang tidak pantas, dengan duduk-duduk di luar kelas”
.
“wah maaf, sekali bu bila anak saya melakukan hal itu, saya akan segera menghukumnya dan memberinya pelajaran, maaf bu ya? Yang jelas pasti nanti saya datang ke sekolah!”
.
Dapat kudengar percakapan ibu yang semakin memanas, namun lekas saja ku bergegas menuju kamar tidurku. Dengan langkah kaki diam-diam. Karena memang aku tidak pernah mengucapkan salam ketika datang dari sekolah. Entah sejak kapan aku memiliki kebiasaan buruk itu. Tak pikir panjang kucuci mukaku, untuk hilangkan sisa debu jalanan yang buat kepalaku mendidih. Bisa dibilang aku orang yang sangat sensitif, kalo matahari udah tepat di atas kepala. Makanya aku tak mau ambil pusing untuk keluar kamar di siang hari. Daripada bikin keributan di luar sana.
.
Sorenya aku bangun dengan perut yang benar-benar melilit kelaparan. Mataku menerawang ke meja makan di bawah tangga. Dan makanan masakan ibu sudah tersedia seperti biasanya. Bergegas kucuci tangan dan mukaku. Setelah habis kulahap dengan perut kekenyangan, segera saja aku kedapur dan mencuci piring. Gak tahunya setelah selesai mencuci piring, ibu menegurku dari belakang. Sambil kupingku di jewernya keras-keras.
.
“kamu itu le kok gak kapok-kapok, sudah mau lulus kok masih saja buat masalah di sekolah. Kemarin muka sudah babak belur gak masuk sampai seminggu. Kemarinnya lagi kamu pulang jalan bergontai dengan bau mulut minuman keras. Ibumu ini kurang sabar apa tho le? Tapi kamunya itu kok gak ngerti-ngerti perasaan ibu, ibu ini kamu anggap apamu?”, terlihat air mata ibu mengucur dari pipinya yang sudah terlihat kusam termakan usia. Aku benar-benar tak berkutik. Perasaan bersalah seakan akan menamparku dan memendamku ke dalam tanah yang sangat dalam. Aku begitu hina di depan ibu. Aku begitu malu dan takut untuk menatap wajahnya.
.
“Apa mungkin sudah saatnya ibu lapor sama bapak. Ibu sudah gak kuat lagi sama tingkah pongahmu itu, gak bisa lagi ibu kontrol, kamu selalu ngelawan setiap ibu nasehati”, sekejap itu juga kusentuh mata kaki ibu, memohon untuk tidak melaporkan perbuatanku kepada ayah.
.
“ampun bu, ampun, saya tidak akan mengulanginya lagi, saya tidak akan pernah buat masalah lagi di sekolah, saya janji” tak terasa air mataku ikut berlinang, tanpa sebab ingusku semakin banyak juga. Karena jeweran ibu benar-benar sakit sampai ke ulu hati. Isakan tangisku semakin menjadi-jadi. Aku sadar bila ibu melaporkan perbuatanku, ayah akan semakin marah dan bisa-bisa aku diusirnya dari rumah. Itu tak seberapa, bila dibandingkan dengan rasa sakit ibu. Rasa sakit ibu karena melihat anaknya yang selama ini dibesarkannya, ternyata tak mampu menjadi anak yang berbakti bagi kedua orang tuanya.
.
Tangisan ibu tidak berhenti-henti, aku benar-benar tak berkutik untuk melawan seperti biasanya ketika ibu menasehatiku. kali ini aku benar-benar tak kuat menahan air mata, mungkin sungguh sangat memalukan untuk seorang lelaki menangis, apalagi sedang dalam gejala pubertas stadium satu. Tak juga aku ambil peduli dengan itu, inilah mungkin yang dinamakan kasih ibu. Di depan ibuku aku masihlah anak kecil-nya yang selalu ingin dikasihi dan disayanginya. Dan akan selalu begitu. Walau aku sudah setua apa, nanti. Aku akan selalu begitu, khusus di depan ibuku.
“bu sudah bu, jangan menangis lagi, ampun… ampun, saya janji tidak akan mengulangi lagi bu..”, jiwaku seakan ingin berteriak, betapa hinanya aku. Lama aku berlutut mencium kakinya, sampai tertidur diriku tak terasa……
.
———————————————————————————–
.
esok harinya….
.
Aku berada diselasar didepan gedung bioskop balai pemuda, masa skorsingku sedang kujalani. Usai sudah sandiwara yang aku susun bersama ibu, untuk mengelabui ayahku. Bila aku selama seminggu ini, seakan-akan memang masih sekolah didepan matanya. Berpamitan seperti biasa. Padahal aku tidaklah pernah berangkat ke sekolah, aku selalu pergi ke balai pemuda, berada tepat disamping sekolahku. Biasanya mobil-mobil temanku parkir di sana. Jadi tidak heran bila anak berseragam bisa keluar masuk bioskop dan diam-diam berganti pakaian di dalam toilet bioskop, untuk bolos sesukanya. Tanpa diketahui satpol PP, yang biasanya sedang melakukan sidak terhadap anak-anak bolos sekolah. Dan tidak usah kaget lagi bila ada mobil parkir yang bergoyang pada saat siang sedang bolong-bolongnya. Anjing sedang beternak diri.
.
Dengan menghiraukan hal itu akupun segera menuju toilet terdekat, aku lebih suka membayangkan diriku saat itu berada dalam suatu adegan film action, aku adalah seorang super hero yang sedang berganti pakaian superku. Jreeengg…. mengenakan jeans biru-ku dengan kaos kemeja merah yang kupakai, sepatu kets putih menambah corak kesan gaya pop anak muda. Ya, aku adalah superman, yang akan menyelamatkan kebahagian masa-masa mudaku. Walau mungkin itu hanya seminggu saja. Setidaknya skorsing ini memberiku sebuah kesempatan cuti, untuk menikmati indahnya hidupku. Dan kebetulan juga kaosku berlabel superman.
.
Mungkin dandananku saat itu lebih mirip mahasiswa dibandingkan dengan siswa SMA. Aku terheran menatap kaca. Wow.. aku benar-benar merasa menjadi manusia bebas saat itu. Dengan pakaian ini aku bisa pergi kemanapun aku mau, aku bisa melakukan apapun yang kumau. Dan tentu saja pada waktu dimana anak-anak seumuranku, saat itu sedang berada didalam kelas-kelas, yang lebih suka kubayangkan lebih mirip kamp-kamp konsentrasi NAZI. Di sekeliling mereka dijaga ketat oleh anjing-anjing besar dengan gigi tajam, yang siap menggigit dan mengoyak-ngoyak kaki mereka, yang mencoba untuk kabur. Dan tembok-temboknya dikelilingi oleh kawat berduri. Mungkin bayanganku itu terlalu berlebihan. Namun apa salahnya, mungkin itu pengaruh psikologis dalam alam bawah sadarku yang alamiah, karena aku memang sedang mengalami gejala pubertas stadium satu. Ketika darah muda sedang panas-panasnya
.
bersambung….. (chapter one)


