Penulis menyimpan sejenis perasaan tertentu ketika melihat goresan-goresan aerosol di tembok-tembok kota. Terkadang penulis bisa tersenyum bahagia dan terkadang bisa menjadi sangat muram dan sedih. Yang membuat penulis tersenyum ialah apabila goresan aerosol tersebut menyampaikan pesan-pesan perlawanan. Dan yang membuat jengkel sekaligus sedih adalah apabila goresan aerosol hanya sekedar menampilan kerumitan teknis tingkat tinggi tanpa adanya pesan perlawanan.
.
Tulisan di bawah ini ditujukan untuk membuka mata kita semua bahwa sebenarnya kelahiran graffiti di Indonesia menyimpan sejarah yang tidak bisa disepelekan dalam fase-fase awal lahirnya negara Indonesia. Sekali lagi: gerakan graffiti lahir pada fase-fase awal lahinya negara kita, Republik Indonesia. Penulis ingin menunjukkan bahwa political-graffiti di Indonesia itu sama tuanya dengan usia Republik Indonesia ini. Kemudian, penulis ingin mengajak para bomber atau sebut saja pekerja graffiti (untuk lebih meluaskan cakupan media graffiti: mulai tubuh, tembok, kaos, komik, dll) agar membumikan gagasan-gagasannya dalam keberpihakan terhadap rakyat.



















