Keesaan: Tuhan Islam

Sekitar tahun 610, seorang pedagang Arab dari kota Makkah

yang ramai di Hijaz, yang tak pernah membaca Alkitab dan mungkin tak pernah mendengar tentang Yesaya, Yeremia,

dan Yehezkiel, mengalami suatu kejadian ajaib yang sangat mirip dengan pengalaman mereka. Setiap tahun Muhammad ibn Abdullah, anggota suku pedagang Quraisy di Makkah, biasa mengajak istrinya ke Gua Hira yang tidak jauh dari kota itu untuk melaksanakan penyendirian spiritual selama bulan Ramadhan. Ini adalah praktik yang lazim dilakukan di kalangan penduduk jazirah Arab. Muhammad menghabiskan waktu untuk berdoa kepada Tuhan serta membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin yang mengunjunginya selama periode suci itu. Dia mungkin juga banyak melewatkan waktu dengan beban pikiran yang menggelisahkan. Kita mengetahui dari kariernya di belakang hari bahwa Muhammad sangat prihatin akan keruntuhan moral yang mengkhawatirkan di Makkah, di tengah keberhasilan spektakuler yang belum lama diraih kota itu.

Dalam dua generasi terdahulu, kaum Quraisy masih menjalani kehidupan nomadik yang keras di tanah Arab, seperti suku-suku Badui yang lain: setiap hari dilalui dengan perjuangan untuk memper- tahankan diri. Akan tetapi, selama tahun-tahun terakhir abad keenam, mereka telah meraih keberhasilan besar dalam perdagangan dan menjadikan Makkah kawasan pemukiman paling penting di Arab.

Kini jumlah kekayaan mereka telah melampaui impian-impian mereka yang paling liar. Namun, gaya hidup mereka yang berubah drastis ini mengimplikasikan bahwa nilai-nilai kesukuan lama telah tergeser oleh kapitalisme tak berperasaan yang merajalela. Orang-orang mera-

sa kehilangan orientasi. Muhammad tahu bahwa kaum Quraisy berada dalam arah yang berbahaya dan perlu menemukan ideologi yang dapat membantu mereka menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru. Pada masa itu, setiap pemecahan politik cenderung bersifat keagamaan. Muhammad sadar bahwa kaum Quraisy sedang men- jadikan uang sebagai agama baru. Hal ini tidak mengherankan, karena mereka tentu merasakan bahwa kemakmuran baru itu telah “me- nyelamatkan” mereka dari kehidupan nomadik yang penuh risiko, melindungi mereka dari kekurangan gizi dan wabah pertikaian antar- suku di kawasan semenanjung Arabia yang membuat orang-orang Badui setiap hari berhadapan dengan bahaya kepunahan. Kini, mere• ka hampir selalu mempunyai persediaan pangan yang cukup. Makkah kini menjadi pusat perdagangan dan keuangan internasional. Mereka merasa telah menjadi penentu nasib mereka sendiri, dan sebagiannya bahkan meyakini bahwa kemakmuran itu akan memberi mereka kehidupan yang abadi. Namun, Muhammad merasa bahwa kultus baru keswasembadaan (istaqa) ini akan mengakibatkan perpecahan

suku.

Pada masa-masa nomadik yang lalu, kepentingan suku selalu harus didahulukan daripada kepentingan pribadi: setiap anggota suku mengetahui bahwa mereka saling bergantung satu sama lain untuk mempertahankan hidup. Akibatnya mereka mempunyai kewajiban untuk memperhatikan orang miskin dan lemah dalam kelompok etnik mereka. Kini, individualisme telah menggantikan nilai-nilai komunal dan persaingan berkembang menjadi norma. Masing-masing individu mulai mengumpulkan kekayaan pribadi dan tidak peduli kepada orang-orang Quraisy yang lemah. Setiap klan, atau kelompok keluarga suku yang lebih kecil, saling bertikai untuk mendapat bagian dalam kemakmuran Makkah, dan sebagian dari klan yang kurang beruntung (seperti klan Muhammad sendiri, yakni klan Bani Hasyim) merasa bahw a kelangsunga n hidu p merek a tenga h terancam . Muhammad yakin bahwa jika kaum Quraisy tidak meletakkan nilai transenden lain di pusat kehidupan mereka dan menaklukkan egoisme dan ketamakan mereka, maka suku itu akan terpecah belah secara moral dan politik akibat perselisihan yang keras.

Situasi di bagian lain jazirah Arabia juga suram. Selama berabad- abad, suku-suku Badui di kawasan Hijaz dan Nejed telah hidup dalam persainga n tajam satu sama lain demi memperebutka n kebutuhan-kebutuhan pokok. Untuk membantu masyarakat menanam- kan semangat komunal yang esensial bagi pertahanan hidup, orang Arab telah mengembangkan sebuah ideologi yang disebut muruwah, suatu konsep etik yang banyak mengandung fungsi agama. Dalam pengertian konvensional, orang Arab hanya memiliki sedikit waktu bagi agama. Mereka mempunyai sekumpulan dewa-dewa pagan dan beribadat di tempat-tempat suci para dewa itu, namun tidak mengembangkan mitologi yang menjelaskan relevansi dewa-dewa da n tempat-tempat suci ini bagi kehidupa n ruhani. Mereka tak memiliki pandangan tentang kehidupan setelah mati, tetapi percaya bahwa dahr, yang dapat diterjemahkan sebagai “waktu” dan “nasib”, sangatlah penting—sebuah sikap yang barangkali esensial dalam masyarakat yang angka kematiannya begitu tinggi.

Para sarjana Barat sering menerjemahkan muruwah sebagai

“kejantanan”, namun kata itu memiliki cakupan pengertian yang jauh lebih luas: muruwah bisa berarti keberanian dalam peperangan, kesabaran dan ketabahan dalam penderitaan, dan kesetiaan mutlak kepada suku. Nilai-nilai muruwah menuntut seorang Arab untuk mematuh i sayyid atau pemimpinny a setiap saat, tanp a pedul i keselamatan dirinya sendiri: dia harus mendedikasikan diri kepada tugas-tugas mulia melawan semua kejahatan yang dilakukan terhadap suku dan melindungi anggota-anggotanya yang lemah. Untuk men- jamin kelangsungan hidup suku, sayyid membagi kekayaan dan harta miliknya secara merata dan membalas kematian satu anggotanya de- ngan membunuh satu anggota suku si pelaku pembunuhan. Di sini kita dapat melihat etika komunal secara sangat jelas: tak ada kewajiban untuk menghukum pembunuh itu sendiri karena seorang individu bisa hilang tanpa jejak dalam komunitas, seperti masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Sebagai gantinya, satu anggota suku musuh dipandan g setara saja dengan yang lainnya untuk menegakkan maksud semacam itu. Balas dendam atau utang nyawa balas nyawa merupakan satu-satunya cara untuk menjamin sedikit keamanan sosial

di wilayah yang tak mengenal kekuasaan sentral ini, di mana setiap kelompok suku merupakan hukum bagi dirinya sendiri dan tak terda- pat sesuatu yang bisa dipersamakan dengan angkatan kepolisian za- man sekarang. Jika seorang pemimpin suku gagal membalas dendam,

sukunya akan kehilangan martabat sehingga suku-suku lain akan merasa bebas untuk membunuh anggota sukunya tanpa dihukum. Hukum balas, dengan demikian telah menjadi bentuk keadilan yang lazim. Ini berarti bahwa tak ada satu suku pun yang dengan gampang dapat memperoleh yang derajat lebih tinggi daripada yang lain. Ini juga berarti bahwa berbagai suku dapat dengan mudah terlibat dalam lingkaran kekerasan tanpa akhir, di mana satu penuntutan balas akan menimbulkan pembalasan yang lain jika orang-orang merasa bahwa balas dendam itu dilakukan secara tidak proporsional terhadap ke- salahan asalnya.

Meskipun tak diragukan lagi kebrutalannya, muruwah tetap me- miliki banyak kelebihan. Muruwah sangat menekankan egalitaria- nisme dan ketidakpedulian pada materi, yang, lagi-lagi, barangkali esensial dalam wilayah yang tidak memiliki persediaan kebutuhan pokok dalam jumlah yang memadai: kedermawanan merupakan ke- bajikan yang penting dan mengajarkan orang-orang Arab untuk tidak mengkhawatirkan hari esok. Sifat-sifat ini, sebagaimana akan kita saksikan, penting maknanya bagi Islam. Muruwah telah berdampak baik bagi orang Arab selama berabad-abad, namun sejak abad keenam konsep itu tak lagi mampu menjawab kondisi modemitas. Selama fase terakhir periode pra-Islam, yang oleh kaum Muslim disebut periode jahiliyyah (masa kebodohan), ketidakpuasan dan kekosongan spiritual telah menyebar luas. Orang Arab dikepung dari semua sisi oleh dua imperium besar, Persia Sassanian dan Byzantium. Ide-ide modern mulai menembus masuk ke Arab dari wilayah-wilayah yang berpenghuni; para saudagar yang bepergian ke Suriah atau Irak membawa pulang kisah-kisah mengagumkan tentang kehebatan peradaban.

Namun, tampaknya mereka ditakdirkan untuk terus hidup dalam barbarisme. Peperangan antarsuku yang tak henti-hentinya terjadi membuat mereka tak mampu mengumpulkan sumber daya mereka yang hanya sedikit itu dan menjadi orang Arab bersatu. Mereka tak dapat menentukan nasib sendiri dan mendirikan sebuah peradaban sendiri. Sebaliknya mereka justru senantiasa terbuka untuk dieks- ploitasi oleh kekuatan-kekuatan besar: buktinya, wilayah yang lebih subur dan canggih di Arab Selatan yang kini dikenal sebagai Yaman

(yang memiliki keuntungan dari hujan muson) telah menjadi seka- dar satu provinsi dalam wilayah kekuasaan Persia. Pada saat yang sama, ide-ide baru yang menembus kawasan itu memperkenalkan

individualisme yang meruntuhkan etos komunal lama. Doktrin Kristen tentang kehidupan sesudah mati, misalnya, membuat nasib abadi setiap individu menjadi nilai yang suci: bagaimana ini bisa dicocokkan dengan idealisme kesukuan yang menempatkan individu di bawah kepentinga n kelompo k da n mengajarkan bahw a satu-satunya keabadian manusia terletak pada keberlangsungan hidup suku?

Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632, dia telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau ummah. Dia telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas yang secara unik sesuai dengan tradisi mereka dan yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri yang luas memben- tang dari Himalaya hingga Pirenia, dan membangun sebuah peradaban yang unik. Namun, ketika Muhammad duduk berdoa di gua kecil Hira selama masa ibadahnya pada bulan Ramadhan tahun 610, dia tidak membayangkan kesuksesan fenomenal seperti itu. Sebagaimana kebanyakan orang Arab, Muhammad percaya bahwa Allah, Tuhan Tertinggi dalam keyakinan Arab kuno, yang namanya secara seder- hana berarti “Tuhan’!, identik dengan Tuhan yang disembah oleh orang-orang Yahudi dan Kristen. Dia juga percaya bahwa hanya seorang nabi dari Tuhan ini yang akan mampu memecahkan masalah masyarakatnya, tetapi tak sedikit pun terbetik dalam pikirannya bahwa dirinyalah yang akan menjadi nabi itu. Orang Arab pun secara prihatin sadar bahwa Allah belum pernah mengutus kepada mereka seorang nabi atau menurunkan kitab suci bagi mereka, meski tempat suci baginya telah ada di tengah-tengah mereka sejak masa yang sudah tak dapat diingat lagi. Pada abad ketujuh, kebanyakan orang Arab percaya bahwa Ka’bah, bangunan sangat tua berbentuk kubus besar yang terletak di jantung Makkah, pada awalnya didirikan demi pengabdian kepada Allah, walaupun pada saat itu tempat tersebut diisi oleh dewa Hubal orang Nabatea. Semua pendudu k Makkah sangat bangga akan Ka’bah yang merupakan tempat suci paling penting di Arabia. Setiap tahun orang-orang Arab dari segala penjuru

semenanjung melaksanakan ziarah ke Makkah, untuk menyeleng- garakan ritus-ritus tradisional selama beberapa hari. Semua kekerasan dilarang di sekeliling tempat suci Ka’bah, sehingga mereka dapat berdagang dengan damai satu sama lain di sana, karena mengetahui bahwa permusuhan-permusuhan lama untuk sementara harus ditunda.

Kaum Quraisy menyadari bahwa tanpa tempat suci itu mereka tak akan meraih kesuksesan berniaga dan bahwa sebagian besar prestise mereka di kalangan suku-suku bergantung pada penjagaan terhadap Ka’bah dan pada pelestarian kesuciannya yang ada di bawah tanggung jawab mereka. Namun meski Allah jelas-jelas telah mengistimewakan kaum Quraisy untuk tugas ini, dia tidak pernah mengirim kepada mereka seorang utusan, seperti Ibrahim, Musa, atau Isa, dan orang Arab tak memiliki kitab suci dalam bahasa mereka sendiri.

Oleh karena itu, tersebar luas rasa inferioritas spiritual di antara mereka. Orang Yahudi dan Kristen, mitra dagang yang sering ber- hubungan dengan orang-orang Arab, acap mencela mereka sebagai orang barbar yang tidak memperoleh wahyu dari Tuhan. Orang Arab merasakan campuran rasa benci dan hormat kepada orang- orang yang memiliki pengetahua n yang tak mereka punyai ini. Yudaisme dan Kristen tidak mendapat banyak kemajuan di kawasan itu, meskipun orang Arab mengakui bahwa bentuk agama yang progresif ini sebenarnya lebih unggul daripada paganisme tradisional mereka. Ada beberapa suku Yahudi yang tidak jelas asal usulnya di pemukiman Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) dan Fadak, hingga ke utara Makkah, serta beberapa suku utara di perbatasan antara imperium Persia dan Byzantium yang telah beralih menganut aliran Monofisit atau Kristen Nestorian. Akan tetapi, orang Badui sangat independen, mereka bertekad untuk tidak jatuh ke bawah salah satu kekuatan adidaya seperti saudara-saudara mereka di Yaman dan sangat menyadari bahwa baik orang Persia maupun Byzantium telah meng- gunakan agama Yahudi dan Kristen untuk mengembangkan pola- pola imperial mereka di kawasan itu. Mereka barangkali juga menya• dari secara instingtif bahwa mereka telah mengalami dislokasi kultural yang cukup parah, seiring erosi tradisi-tradisi mereka sendiri. Mereka sama sekali tak merasa menginginkan sebuah ideologi baru, apalagi yang terungkap dalam bahasa dan tradisi asing.

Sebagian orang Arab tampaknya telah berupaya menemukan bentuk monoteisme yang lebih netral dan tidak ternoda kaitan impe- rialistik. Sejarahwan Kristen Palestina, Sozomenos, mengemukakan kepada kita bahwa pada awal abad kelima beberapa orang Arab di Suriah telah menemukan kembali apa yang mereka sebut agama asli Ibrahim, yang berkembang sebelum Tuhan menurunkan Taurat atau Injil dan, dengan demikian, bukan Yahudi atau Kristen. Tidak lama sebelum Muhammad menerima panggilan kenabiannya sendiri,

penulis biografinya yang pertama, Muhammad ibn Ishaq (w. 767), menjelaskan kepada kita bahwa empat orang tokoh Quraisy Makkah memutuskan untuk mencari hanifiyyah, agama asli Ibrahim. Sebagian sarjana Barat telah menyatakan bahwa sekte hanifiyyah yang kecil ini adalah sebuah fiksi agama yang menyimbolkan kegelisahan spiritual zaman jahiliah, tetapi pasti memiliki dasar pijakan yang faktual: Tiga di antara keempat hanif itu cukup dikenal oleh generasi pertama Muslim: Ubaidillah ibn Jahsy, keponaka n Muhammad; Waraqah bin Naufal, yang akhirnya beragama Kristen; dan Zaid ibn Amr, paman Umar bin Khattab, salah seorang sahabat dekat Muhammad dan khalifah kedua dalam pemerintahan Islam. Ada sebuah kisah bahwa pada suatu hari, sebelum meninggalkan Makkah menuju Suriah dan Irak untuk mencari agama Ibrahim, Zaid berdiri di sisi Ka’bah, bersandar ke bangunan suci itu dan berkata kepada orang Quraisy yang sedang melakukan ritus mengelilinginya dalam cara yang sudah dilakukan sejak lama: “Wahai Quraisy, demi yang jiwa Zaid berada

di tangannya, tak ada seorang pun dari kalian yang mengikuti agama

Ibrahim kecuali aku.” Kemudian dengan sedih dia menambahkan,

“Ya Tuhan, andaikan aku tahu bagaimana engkau ingin disembah, niscaya aku akan menyembahmu dengan cara itu; namun aku tidak tahu.”1

Kerinduan Zaid terhadap wahyu ilahi akhirnya terpenuhi di Gua Hira pada tahun 610 di malam ketujuh belas bulan Ramadhan, tatkala Muhammad dibangunkan dari tidur dan merasakan dirinya didekap oleh kehadiran ilahiah yang dahsyat. Belakangan dia menceritakan pengalaman luar biasa ini dalam istilah-istilah khas Arab. Dia berkata bahwa satu malaikat menampakkan diri kepadanya dan memberinya sebuah perintah singkat: “Bacalah!” (iqra’!). Seperti halnya nabi-nabi Ibrani yan g sering merasa berat mengucapka n Firman Tuhan , Muhammad menolak dan memprotes, “Aku bukan seorang pembaca!” Dia bukanlah seorang kahin, seorang peramal ekstatik Arab yang mengaku fasih membaca nubuat-nubuat yang diilhamkan. Akan tetapi, Muhammad berkata, malaikat itu kemudian mendekapnya semakin kuat, sehingga dia merasa seolah-olah napasnya akan meninggalkan tubuhnya. Persis pada saat Muhammad merasa seakan tak mampu lagi bertahan, malaikat itu melepaskannya dan kembali memerintahkan,

“Bacalah!” (iqra’!). Muhammad lagi-lagi menolak dan malaikat itu pun mendekapnya lagi hingga dia merasa telah mencapai batas daya tahannya. Akhirnya, di akhir dekapan dahsyat yang ketiga,

Muhammad merasakan kata-kata pertama dari sebuah kitab suci baru mengalir keluar dari mulutnya:

Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang telah menciptakan— menciptakan manusia dari segumpal darah! Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar [manusia] dengan perantaraan kalam—Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.2

Firman Tuhan telah diucapkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Arab, dan kitab suci ini akhirnya akan disebut qur’an Bacaan. Muhamma d meras a dirinya berad a dala m ketakuta n da n perubahan, bergidik memikirkan bahwa dia mungkin telah menjadi sekadar seorang kahin tak terhormat yang dimintakan pendapatnya oleh orang-orang ketika mereka kehilangan unta. Seorang kabin diduga dikuasai oleh jin, sejenis makhluk halus yang dipercayai menghuni daratan Arab, yang bisa berubah-ubah wujud dan menyesat- kan manusia. Para penyair juga percaya bahwa diri mereka dikuasai oleh jin-jin pribadi mereka. Hasan ibn Tsabit, seorang penyair Yatsrib yang kemudian masuk Islam, berkata bahwa ketika dia pertama kali mendapat dorongan untuk menjadi penyair, jinnya menampakkan diri kepadanya, mengempaskannya ke tanah, dan mendorong kata- kata ilham keluar dari mulutnya. Hanya inilah bentuk pengilhaman yang dikenal oleh Muhammad. Bayangan bahwa dia mungkin telah menjadi majnun, dikuasai jin, memenuhi dirinya dengan rasa putus asa seakan-akan keinginannya untuk hidup pupus sudah. Dia sangat tidak menyenangi para kabin itu, yang biasanya mengeluarkan nubuat berupa kata-kata kosong yang tak masuk akal, dan dia pun sangat berhati-hati untuk membedakan Al-Quran dari syair-syair Arab kon- vensional. Kini, sembari bergegas keluar dari gua, Muhammad merasa seakan ingin mengempaskan dirinya dari puncak bukit. Namun, di sisi bukit dia kembali melihat sesosok makhluk yang, kemudian,

diidentifikasinya sebagai Malaikat Jibril:

Ketika aku berada di tengah jalan perbukitan, aku mendengar suara dari langit berkata: “Hai Muhammad! Engkau adalah utusan Tuhan dan aku adalah Jibril.” Aku menengadahkan kepala ke arah langit untuk melihat siapa yang berbicara, dan, kulihat Jibril dalam rupa seorang manusia dengan kaki di kedua sisi ufuk … aku berdiri memandangnya, tak bergerak surut atau maju; kemudian aku memalingkan wajah

darinya, namun ke bagian langit mana pun kulayangkan pandangan, dia tetap terlihat.3

Di dalam Islam, Jibril sering diidentifikasikan sebaga Ruh Suci pembawa wahyu, perantara yang melaluinya Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Dia bukanlah malaikat naturalistik, namun hadir di mana-mana sehingga mustahil bisa melarikan din darinya. Muhammad telah mendapatkan pemahaman luar biasa tentang realitas ilahi, yang oleh nabi-nabi Ibrani disebut kaddosh, kesucian, keberbedaan Tuhan dan segala sesuatu. Ketika mengalaminya, mereka juga telah merasa begitu dekat dengan kematian dan berada dalam ketegangan fisik dan mental. Akan tetapi, tidak seperti Yesaya atau Yeremia, Muhammad tidak memiliki penghibur berupa tradisi yang telah mapan untuk menyokongnya. Pengalaman yang menakutkan itu seolah-olah jatuh menimpanya secara tiba-tiba dan meninggalkannya dalam keadaan tercekam. Dalam deritanya, secara instingtif dia berpaling kepada istrinya, Khadijah.

Berjalan tertatih sambil gemetaran hebat, Muhammad menjatuhkan diri ke pangkuan istrinya, “Selimuti aku, selimuti aku!” serunya, memohon istrinya untuk melindungi dirinya. Tatkala rasa takut mulai menghilang, Muhammad bertanya kepada Khadijah apakah dirinya betul-betul telah menjadi majnun. Khadijah bersegera memberi kete- gasan: “Engkau adalah orang yang baik dan penuh perhatian kepada sanak saudaramu. Engkau menolong fakir miskin dan orang yang kesulitan, dan ikut memikul beban mereka. Engkau berupaya me- ngembalikan akhlak mulia yang nyaris hilang dari kaummu. Engkau menghormati tamu dan membantu orang-orang yang susah. Tak mungkin engkau (majnun).”4 Tuhan tidak bertindak dengan sewe- nang-wenang. Khadijah menganjurkan agar mereka berkonsultasi dengan sepupunya, Waraqah, yang saat itu penganut Kristen dan mempelajari kitab suci. Waraqah sama sekali tidak sangsi: Muhammad telah menerima wahyu dari Tuhan Musa dan nabi-nabi lain, dan telah menjadi utusan ilahi bagi bangsa Arab. Akhirnya, setelah melalui periode beberapa tahun, Muhammad menjadi yakin bahwa memang demikianlah halnya dan mulai mendakwahi kaum Quraisy, menghadir- kan bagi mereka sebuah kitab suci dalam bahasa mereka sendiri.

Namun, tidak seperti Taurat yang menurut kisah biblikal diwahyu- kan kepada Musa dalam satu waktu secara sekaligus di Gunung Sinai, Al-Quran diwahyukan kepada Muhammad secara sepenggal-sepenggal,

sebaris demi sebaris dan seayat demi seayat dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun. Pewahyuan itu terus terjadi dalam pengalaman yang memberatkan. “Tak pernah aku menerima wahyu tanpa pera- saan bahwa jiwaku seolah-olah akan tercerabut dari diriku,” ujar Muhammad beberapa tahun kemudian.5 Dia hams menyimak firman- firman suci itu dengan penuh perhatian, berusaha mendapatkan visi dan arti penting yang tidak selalu sampai kepadanya dalam bentuk verbal yang jelas. Kadang-kadang, katanya, kandungan pesan ilahi itu sangat jelas: dia seolah-olah melihat Jibril dan mendengar apa yang diucapkannya. Akan tetapi, pada waktu lain, wahyu itu sangat sulit diartikulasikan: “Kadangkala ia datang kepadaku bagaikan gema sebuah genta, dan itulah yang paling sulit; gema itu menyurut ketika aku telah sadar akan pesan yang disampaikan.”6 Para penulis biografi pertama pada periode klasik sering memperlihatkan Muhammad menyimak secara tekun apa yang mungkin mesti kita sebut ungkapan alam bawah sadar dengan autoritas dan integritas yang secara misterius bukan merupakan bagian dari dirinya—persis seperti seorang penyair menjelaskan proses “penyimakan” sebuah puisi yang secara perlahan muncul dari ruang pikiran yang tersembunyi. Di dalam Al-Quran, Tuhan memerintahkan Muhammad untuk mendengarkan makna yang tidak koheren itu dengan saksama dan dengan apa yang disebut oleh Wordsworth sebagai “kepasifan yang bijaksana.”7 Dia tidak boleh tergesa-gesa memaksakan kata atau makna konseptual tertentu pada wahyu itu sebelum maknanya yang sejati terungkap pada saat yang tepat:

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (mem- buatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membaca- kannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.8

Sebagaimana semua bentuk kreativitas, ini juga merupakan proses yang sulit. Muhammad sering masuk ke keadaan trans dan kadang- kadang seakan kehilangan kesadaran: dia sering jadi berkeringat, bahkan di hari yang dingin, dan merasakan beban batin yang berat seperti duka yang mendorongnya untuk merunduk meletakkan kepala

di antara kedua lututnya, sebuah posisi yang diambil oleh sebagian

mistikus Yahudi kontemporer tatkala mereka masuk ke keadaan kesadaran yang berubah—meskipun Muhammad tentunya tidak mengetahui hal ini.

Tidak mengherankan jika Muhammad merasakan wahyu sebagai ketegangan yang begitu besar: dia bukan hanya sedang mengupaya- kan sebuah solusi politik yang sama sekali baru bagi umatnya, melain- kan juga sedang menyusun salah satu karya sastra dan spiritual klasik terbesar sepanjang zaman. Dia yakin bahwa dia tengah menyusun Firman Tuhan yang tak terucapkan ke dalam bahasa Arab, karena Al-Quran bersifat sentral bagi spiritualitas Islam sebagaimana halnya Yesus, sang logos, bagi Kristen. Kita mengetahui lebih banyak tentang Muhammad dibanding para pendiri agama besar lainnya, dan, di dalam Al-Quran, yang waktu turun berbagai surah atau bagiannya dapat diketahui dengan tingkat akurasi yang masuk akal, kita dapat melihat bagaimana visi Muhammad berevolusi secara perlahan dan menjadi semakin universal dalam cakupannya. Pada awalnya dia tidak melihat lingkup tugas yang harus dipikulnya, karena hal itu diperlihatkan kepadanya sedikit demi sedikit, seiring responsnya terhadap logika batin peristiwa-peristiwa yang terjadi. Di dalam Al- Quran, kita bisa menemukan komentar orang-orang sezaman tentang awal kedatangan Islam yang unik dalam sejarah agama. Di dalam kitab suci ini, Tuhan tampaknya menjelaskan tentang perkembangan situasi: dia menjawab para pengkritik Muhammad, menguraikan mak-

na suatu peperangan atau konflik yang terjadi di dalam masyarakat Islam generasi pertama, dan menunjukkan dimensi ilahiah kehidupan manusia.

Al-Quran tidak turun kepada Muhammad dalam susunan seperti yang kita jumpai pada masa sekarang, tetapi dalam susunan yang lebih acak, sesuai peristiwa-peristiwa yang datang dan penyimakannya atas makna yang lebih dalam. Setiap kali bagian baru diwahyukan, Muhammad, yang tidak bisa membaca atau menulis, akan mengucap- kannya keras-keras. Kaum Muslim pun menghafalnya sedangkan beberapa sahabat yang bisa baca-tulis menyalinnya. Sekitar dua puluh tahun setelah wafatnya Muhammad, kompilasi resmi pertama atas wahyu ini diselesaikan. Para editor meletakkan surah-surah terpanjang pada bagian awal dan yang tersingkat di bagian akhir. Susunan seperti ini tidaklah seacak kelihatannya, karena Al-Quran bukanlah sebuah narasi atau argumen yang membutuhkan tatanan berurutan. Susunan itu merefleksikan berbagai tema: kehadiran Tuhan di dunia, kehidupan

para nabi, atau Hari Akhir. Bagi orang yang tidak bisa mengapresiasi

keindahan bahasa Arab yang luar biasa, Al-Quran tampak membosan- kan dan bertele-tele karena sering mengulang-ulang tema yang sama. Namun, Al-Quran tidak dimaksudkan untuk menjadi bahan kajian secara pribadi, melainkan untuk pembacaan liturgis. Ketika kaum Muslim mendengar sebuah surah dibacakan di dalam masjid, mereka diingatkan kembali kepada semua ajaran inti keimanan mereka.

Ketika mulai berdakwah di Makkah, Muhammad hanya memiliki konsep yang sangat sederhana tentang perannya. Dia tidak berpikir bahwa dirinya tengah membangun sebuah agama universal, melain• kan keyakinan kuno yang mengajarkan keesaan Tuhan kepada orang- orang Quraisy. Pada mulanya dia bahkan tak pernah mengira harus berdakwah kepada suku-suku Arab selain penduduk Makkah dan sekitarnya.9 Dia tak pernah bermimpi akan membangun sebuah teo- krasi dan mungkin sama sekali tidak mengetahui apa teokrasi itu: dia sendiri tak mesti memiliki fungsi politik di dalam pemerintahan, kecuali sebagai seorang nadzir, pemberi peringatan.10 Allah telah mengutusnya untuk memperingatkan kaum Quraisy tentang situasi berbahaya yang tengah mereka hadapi. Akan tetapi, pesan awal yang disampaikannya bukanlah tentang musibah dan bencana, melain• kan tentang harapan yang membahagiakan. Muhammad tidak harus membuktikan eksistensi Tuhan kepada kaum Quraisy. Mereka secara implisit telah beriman kepada Allah, yang menciptakan langit dan bumi, dan kebanyakan dari mereka meyakininya sebagai Tuhan yang disembah oleh orang Yahudi maupun Kristen. Keberadaannya telah diterima begitu saja. Sebagaimana firman Tuhan kepada Muhammad pada sebuah surah awal di dalam Al-Quran:

Dan sesungguhnyajika kamu tanyakan kepada mereka-. “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah, “maka betapakab mere• ka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah, “tetapi kebanyakan mereka tidak memahami-(nya).11

Persoalannya adalah, kaum Quraisy tidak memikirkan implikasi kepercayaan mereka itu. Tuhan telah menciptakan mereka dari setetes air mani, seperti dijelaskan oleh wahyu yang pertama diturunkan;

mereka bergantung kepada rezeki dan perlindungan dari Tuhan, namu n mereka masih menganggap diri sebagai pusat jagat raya berdasarkan praduga yang tidak realistis (yatqa) dan rasa sombong berlebihan (istaghna)12 tanpa memedulikan tanggung jawab mereka sebagai anggota masyarakat Arab yang terhormat.

Oleh karena itu, semua ayat pertama Al-Quran menganjurkan kaum Quraisy agar menyadari rahmat Tuhan yang dapat mereka lihat ke mana pun mata mereka memandang. Mereka akan sadar betapa banyak mereka masih berutang kepada Tuhan di tengah kesuksesan besar yang telah mereka capai, dan akan mengapresiasi kebergantungan mutlak mereka kepada Pencipta tatanan alam:

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya! Dari apakah Allah menciptakannya?

Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemu- dian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.

Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesung- guhnya Kami telah benar-benar mencurahkan air (dari langit), kemu• dian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun danpohon kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan serta rumput- rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.1 3

Oleh karena itu, yang jadi persoalan bukanlah pengakuan atas keberadaan Tuhan. Di dalam Al-Quran, “orang yang ingkar” (kafir bi ni’mah Allah) bukanlah orang ateis dalam pengertian yang lazim kita pahami atas kata tersebut, yakni orang yang tidak percaya kepada Tuhan, melainkan orang yang tidak bersyukur kepadanya, yang mam- pu melihat dengan jelas apa yang telah dilimpahkan Allah kepadanya, tetapi menolak untuk mengagungkannya dengan semangat pembang- kangan yang tak berterima kasih.

Al-Quran tidak mengajarkan sesuatu yang baru kepada kaum Quraish. Bahkan, kitab itu dengan teguh mengklaim sebagai “peng- ingat” akan hal-hal yang telah diketahui, yang diungkapkannya dengan lebih jelas. Kadang-kadang Al-Quran membuka suatu topik dengan

anak kalimat: “Apakah kalian tidak melihat …?” atau “Apakah kalian tidak berpikir …?” Firman Tuhan tidak sekadar mengeluarkan perintah- perintah yang arbitrer dari atas, tetapi mengajak orang-orang Quraisy untuk berdialog. Al-Quran, misalnya, memperingatkan mereka bahwa Ka’bah, rumah Allah, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mere• ka yang pada hakikatnya merupakan karunia Tuhan. Kaum Quraisy senang menyelenggarakan thawaf mengelilingi tempat suci itu, tetapi ketika mereka meletakkan diri dan keberhasilan material mereka sendiri di pusat kehidupan, mereka lupa akan makna ritus-ritus kuno ini. Mereka harus melihat “tanda-tanda” (ayat) rahmat dan kekuasaan Tuhan di alam semesta. Jika mereka gagal mewujudkan kembali rahmat Tuhan dalam masyarakat mereka sendiri, mereka takkan dapat menangkap hakikat dari segala sesuatu. Oleh karena itu, para peng- ikut Muhammad diperintahkan untuk menunaikan ibadah shalat. Gerakan-gerakan eksternal ini akan membantu seorang Muslim mena- namkan sikap batin dan menetapkan kembali arah kehidupan mereka.

Agama Muhammad dikenal dengan nama islam, kepasrahan eksis- tensial yang diharapkan untuk diberikan setiap Muslim kepada Allah: seorang muslim adalah seseorang yang menyerahkan segenap dirinya kepada Sang Pencipta. Kaum Quraisy terkejut ketika melihat umat Muslim generasi pertama melakukan shalat: mereka tidak bisa menerima bahwa anggota suku Quraisy yang selama berabad-abad telah membanggakan independensi Badui harus tersungkur bersujud

di atas tanah seperti seorang budak. Hal ini mengakibatkan kaum Muslim harus menarik diri ke lembah-lembah kecil tersembunyi di sekitar kota untuk melaksanakan shalat secara rahasia. Reaksi kaum Quraisy memperlihatkan bahwa Muhammad telah mendiagnosis spirit mereka dengan sangat tepat.

Dalam praktiknya, islam berarti bahwa kaum Muslim memiliki kewajiban untuk menciptakan masyarakat yang adil dan setara di mana orang-orang miskin dan lemah diperlakukan secara layak. Pesan moral Al-Quran yang pertama sederhana saja: janganlah menimbun kekayaan dan mencari keuntungan bagi diri sendiri, tetapi bagilah kemakmuran secara merata dengan menyedekahkan sebagian harta kepada fakir miskin.14 Zakat dan shalat merupakan dua dari lima rukun atau prinsip ajaran Islam. Seperti halnya nabi-nabi Ibrani, Muhammad menyiarkan sebuah etika yang bisa kita sebut sosialis sebagai konsekuensi dari penyembahan kepada satu Tuhan. Tak ada doktrin-doktrin tentang Tuhan yang bersifat wajib: bahkan, Al-Quran

sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai

zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan. Sebaliknya, sebagaimana di dalam Yudaisme, Tuhan dialami sebagai dorongan untuk menegakkan moral. Meskipun hampir tak pernah berhubungan dengan orang Yahudi atau Nasrani maupun kitab-kitab suci mereka, Muhammad telah langsung menero- bos ke dalam inti monoteisme historis.

Akan tetapi, di dalam Al-Quran, Allah tampil lebih impersonal daripada YHWH. Dia tidak dicirikan oleh sedih dan senang seperti Tuhan biblikal. Kita hanya mungkin memahami sesuatu mengenai Tuhan melalui “tanda-tanda” alam, dan begitu transendennya Tuhan sehingga kita hanya bisa membicarakannya melalui “perumpamaan.”15

Oleh karena itu, Al-Quran berulang-ulang mengimbau kaum Muslim untuk melihat alam sebagai penampakan Tuhan (epiphany); mereka harus menggunakan upaya imajinatif untuk melihat melalui dunia yang beraneka ini wujud asal yang utuh, realitas transenden yang menapasi segala sesuatu. Kaum Muslim diajak untuk menumbuhkan sikap sakramental atau simbolik:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayardi laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati

(kering)-nya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda [ayat] (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.16

Al-Quran selalu menekankan perlunya penggunaan akal dalam menguraikan “tanda” atau “pesan” dari Tuhan. Kaum Muslim tidak boleh merendahkan akal mereka, tetapi harus mengamati alam de• ngan penuh perhatian dan keingintahuan. Sikap inilah yang membuat umat Muslim generasi berikutnya mampu membangun tradisi ilmu pengetahuan alam yang baik, yang tak pernah dianggap sebagai ancaman terhadap agama sebagaimana yang terjadi di dunia Kristen. Kajian tentang sistem kerja alam menunjukkan bahwa alam ini memiliki dimensi dan sumber transenden, yang hanya dapat kita bicarakan

melalui tanda-tanda dan simbol-simbol: bahkan kisah para nabi, ajaran tentang Hari Kiamat, dan kesenangan-kesenangan surgawi tidak boleh diinterpretasikan secara harfiah, tetapi sebagai perumpamaan tentang realitas yang lebih tinggi dan tak terlukiskan.

Namun, yang paling besar dari semua tanda adalah Al-Quran itu sendiri: bahkan bagian-bagian terkecilnya yang disebut ayat. Orang Barat memandang Al-Quran sebagai kitab yang sulit, dan ini terutama berkaitan dengan masalah penerjemahan. Bahasa Arab memang sulit dan terasa janggal ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, misalnya, dan lebih-lebih lagi karena Al-Quran yang memiliki gaya bahasa padat, penuh kiasan, dan ungkapan-ungkapan yang tidak langsung. Surah-surah pertama khususnya memberikan kesan bahwa bahasa manusia tertatih-tatih dan kepayahan untuk menyampaikan pesan ilahi, Kaum Muslim sering mengatakan bahwa ketika mereka membaca terjemahan Al-Quran, mereka merasa seperti membaca kitab yang berbeda karena tak ada lagi kandungan keindahan bahasa Arabnya yang tersampaikan. Sebagaimana tersirat dari namanya, Al- Quran ditujukan untuk dibaca dengan suara keras, dan pengaruh yang timbul dari bunyi bahasa itu merupakan bagian penting dari kitab suci ini. Kaum Muslim mengatakan bahwa tatkala mereka mendengar Al-Quran dibacakan di masjid, mereka merasa dilingkupi oleh suara yang berdimensi ilahiah, nyaris seperti Muhammad ketika didekap oleh Jibril di Gua Hira atau ketika dia melihat malaikat me- menuhi seluruh penjuru ufuk. Al-Quran bukanlah sebuah kitab yang dibaca sekadar untuk memperoleh informasi. Membaca Al-Quran dimaksudkan untuk memetik rasa tentang yang ilahi, dan karenanya tidak untuk dibaca dengan tergesa-gesa:

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telab menerangkan dengan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.

Maka Mahatinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya tuhanku, tambah- kanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”17

Dengan mendekati Al-Quran dalam cara yang benar, kaum Muslim mengakui bahwa mereka betul-betul mengalami rasa transendensi, tentang realitas dan kekuatan tertinggi di balik fenomena dunia fana

yang rentan dan sementara. Oleh karena itu, membaca Al-Quran merupakan latihan spiritual yang sukar dipahami oleh orang Kristen karena mereka tak memiliki bahasa sakral seperti halnya orang- orang Yahudi, Hindu, dan Muslim. Yesuslah yang menjadi Firman Tuhan, dan tak ada yang suci dalam Perjanjian Baru yang berbahasa Yunani itu. Akan tetapi, orang Yahudi mempunyai sikap yang sama terhadap Taurat. Tatkala mereka mengkaji lima kitab pertama dari Alkitab, mereka tidak sekadar melayangkan pandangan ke halaman demi halaman. Mereka sering melantunkan firman-firman itu dengan suara keras, menikmati kata-kata yang diyakini telah diucapkan oleh Tuhan sendiri ketika dia memperlihatkan dirinya kepada Musa di Sinai. Kadangkala mereka berayun ke belakang dan ke depan, seperti nyala api di depan embusan napas sang Ruh. Tak diragukan lagi bahwa orang Yahudi yang membaca Alkitab mereka dengan cara seperti ini memperoleh pengalaman yang berbeda tentang kitab suci dibanding orang Kristen yang memandang Lima Kitab Musa sebagai bagian yang membosankan dan tak jelas.

Para penulis biografi awal Muhammad sering menggambarkan ketakjuban dan keterkejutan yang dialami orang-orang Arab ketika mereka pertama kali mendengarkan Al-Quran. Banyak yang berpindah agama seketika itu juga, karena percaya bahwa hanya Tuhanlah yan g bisa menyusu n langgam bahas a denga n keindaha n yan g menakjubkan itu. Sering pula seorang penganut baru menggambarkan pengalaman itu sebagai rasukan ilahi yang mengalirkan kerinduan terpendam dan membebaskan desakan-desakan perasaan. Demikian- lah pengakuan pemuda Quraisy, seperti Umar ibn Khattab yang pernah menjadi musuh paling berbahaya bagi Muhammad; dia dahulu- nya penyembah setia dewa-dewa paganisme kuno dan siap untuk membunuh Nabi. Akan tetapi, tokoh Muslim yang bisa diibaratkan sebagai Saulus dari Tarsus ini beralih agama bukan karena melihat Yesus sang Firman, melainkan karena Al-Quran. Ada dua versi tentang kisah konversi Umar, keduanya berharga untuk dicatat. Versi pertama mengisahkan Umar mendapati saudara perempuannya, yang telah masuk Islam secara diam-diam, tengah menyimak pembacaan sebuah surah baru. “Omong kosong apa itu?” dia membentak dengan keras sembari menyerbu masuk ke dalam rumah, dan mengempaskan Fatimah yang malang ke tanah. Namun ketika dia melihat saudara perempuannya berdarah, Umar mungkin merasa bersalah, raut wajah- nya berubah. Dia memungut naskah yang tak sengaja terjatuh karena

takut dari tangan pembaca Al-Quran yang didatangkan Fatimah ke rumah itu. Karena Umar termasuk di antara sedikit orang Quraisy yang bisa baca-tulis, dia pun mulai membacanya. Umar diakui me- miliki autoritas dalam soal syair lisan bahasa Arab dan sering dimintai pendapat oleh para penyair tentang makna yang tepat dari bahasa itu, namun Umar belum pernah menjumpai sesuatu yang serupa de- ngan Al-Quran. “Betapa agung dan indahnya kalimat ini!” dia berkata dengan penu h rasa takjub, dan pada saat itu juga dia berpindah menganut agama Allah.18

Keindahan kata-kata Al-Quran telah menembus kebencian dan prasangka Umar ibn Khattab menuju pusat ketundukan yang belum pernah disadarinya. Kita semua telah memiliki pengalaman yang mirip, ketika sebuah puisi menyentuh rasa pengakuan yang berada pada tingkat yang lebih dalam daripada akal. Dalam versi lain tentang masuk Islamnya Umar, dikisahkan bahwa pada suatu malam dia bertemu Muhammad di Ka’bah, yang tengah melantunkan Al-Quran dengan suara perlahan di depan tempat suci itu. Karena merasa ingin mendengarkan firman-firman itu, Umar menyelinap ke bawah tirai yang menutupi bangunan kubus besar itu dan berjalan menyelinap hingga akhirnya tiba persis di depan Nabi. Seperti yang dikatakannya,

“Tak ada sesuatu pun di antara kami berdua kecuali tirai penutup Ka’bah”—tak ada yang melindungi dirinya kecuali satu itu. Kemudian kekuatan gaib dari bahasa Arab itu mulai berpengaruh: “Ketika aku mendengar Al-Quran, hatiku menjadi lembut sehingga aku menangis da n kubiarkan Islam menyelinap memasuki jiwaku.”19 Al-Quran menjadikan Tuhan bukan sebuah realitas mahaperkasa yang berada

“jauh di luar sana”. Al-Quran menghadirkan Tuhan di dalam pikiran, hati, dan wujud setiap orang yang beriman (mukmin).

Pengalaman Umar dan umat Muslim lainnya yang tergugah untuk menganut Islam karena Al-Quran mungkin bisa diperbandingkan dengan pengalaman seni seperti yang diketengahkan oleh George Steiner dalam bukunya Real Presences: Is There Anything in What We Say? Steiner berbicara tentang apa yang disebutnya “penjalaran seni, sastra, dan musik serius” yang “mempertanyakan privasi terjauh eksis- tensi kita,” invasi atau pewartaan yang menerobos ke dalam “relung kecil wujud kita” dan memerintahkan kita “ubahlah kehidupanmu!” Setelah panggilan itu, relung tersebut “tak lagi dapat dihuni dalam cara yang sama seperti sebelumnya.”20 Muslim seperti Umar tampak- nya mendapat pengalaman guncangan perasaan yang serupa, desakan

yang membangunkan dan mengusik, yang memampukan mereka menjalani keterputusan yang menyakitkan dengan tradisi masa lalu. Bahkan orang-orang Quraisy yang telah menolak Islam tak luput terguncang oleh Al-Quran dan menemukannya berada di luar semua kategori yang telah mereka kenal: tak ada sama sekali bagian Al-Quran yang mirip dengan inspirasi kahin atau penyair; juga sama sekali berbeda dari jampi tukang sihir. Beberapa kisah menunjukkan orang- orang kuat Quraisy yang tetap bersikukuh dalam sikap menentang tampak gemetar ketika mendengar pembacaan sebuah surah. Muhammad seakan-akan telah menciptakan bentuk sastra baru yang belum siap diterima oleh sebagian orang namun mengguncangkan sebagian lain- nya. Tanpa pengalaman tentang Al-Quran ini, hampir tidak mungkin bagi Islam untuk dapat mengakar. Kita telah menyaksikan bahwa orang Israel kuno membutuhkan waktu sekitar 700 tahun untuk me- mutuskan keterikatan dengan keyakinan lama mereka dan menerima monoteisme, tetapi Muhammad berhasil membantu orang Arab untuk melalui transisi yang sulit ini hanya dalam waktu dua puluh tiga tahun. Muhammad sebagai penyair dan nabi, dan Al-Quran sebagai naskah dan teofani, sungguh merupakan keadaan yang dengan sangat tepat mencontohkan konkurensi mendalam antara seni dan agama. Dalam tahun-tahun pertama misi kenabiannya, Muhammad ber•

hasil menarik banyak pengikut dari generasi yang lebih muda, yang telah dikecewakan oleh etos kapitalistik Makkah, serta dari kelompok- kelompok pinggiran dan tak beruntung, yang mencakup kaum wanita, para budak, dan anggota suku-suku yang lebih lemah. Pada suatu waktu, demikian sumber-sumber awal menyampaikan kepada kita, kelihatan seakan-akan seluruh Makkah bersedia menerima agama Allah yang baru diperkenalkan oleh Muhammad. Orang-orang kaya yang sudah mapan, yang lebih dari sekadar senang dengan keadaan status quo, sudah tentu bersikap tak peduli, namun tak ada perselisihan resmi dengan kaum Quraisy hingga ketika Muhammad melarang kaum Muslim untuk menyembah dewa-dewa pagan. Selama tiga tahun pertama tampaknya Muhammad tidak menekankan kandungan monoteistik dari risalahnya, dan orang-orang mungkin membayangkan bahwa mereka dapat terus menyembah dewa Arab tradisional selain Allah, sebagaimana yang biasa mereka lakukan. Namun, tatkala kultus- kultus kuno ini mulai dicela sebagai pemberhalaan, Muhammad kehi- langan banyak pengikutnya dan Islam kemudian menjadi keyakinan minoritas yang dianggap rendah dan dibenci.

Kita telah melihat bahwa kepercayaan kepada hanya satu Tuhan menuntut perubahan kesadaran yang menyakitkan. Seperti halnya orang-orang Kristen awal, kaum Muslim generasi pertama dituduh sebagai penganut “ateisme” yang membahayakan masyarakat. Di Makkah, di mana peradaban kota masih baru dan tentunya tampak sebagai keberhasilan yang rentan bagi kaum Quraisy yang amat bangga akan kecukupan dirinya, banyak yang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang sama seperti dirasakan penduduk Roma yang pada awalnya menolak Kristen. Kaum Quraisy tampaknya merasa keterputusan dengan dewa-dewa leluhur mereka sebagai ancaman besar, dan tak lama kemudian nyawa Muhammad sendiri pun terancam. Para sarjana Barat biasanya menghubungka n keterputusan yang dialami kaum Quraisy ini dengan peristiwa fiktif Ayat-ayat Setan, yang menjadi terkenal sejak kasus tragis Salman Rushdie.

Ada tiga sesembahan Arab kuno yang secara khusus disenangi oleh orang-orang Arab Hijaz, yaitu Al-Lat (yang secara sederhana berarti “Dewi”) dan Al-Uzza (Yang Perkasa), masing-masing memiliki kuil suci di Thaif dan Nakhlah, sebelah tenggara Makkah, dan Manat

(Sang Penentu), yang kuil sucinya bertempat di Qudaid, di pesisir Laut Merah. Sesembahan ini tidak sepenuhnya dipersonalisasikan seperti Juno atau Pallas Athene. Mereka sering disebut banat Allah, yang arti harfiahnya Anak Perempuan Allah, tetapi tidak merupakan sesembahan yang telah berkembang sepenuhnya. Orang Arab meng- gunakan istilah kekeluargaan seperti itu untuk menyatakan suatu hubungan yang abstrak: dengan demikian, banat al-dahr (harfiahnya

“putri-putri nasib”) sekadar bermakna ketidakberuntungan atau pasang surut kehidupan. Istilah banat Allah mungkin sekadar merujuk kepada

“wujud-wujud suci”. Sesembahan ini tidak diwakili oleh patung yang realistik di dalam kuil-kuil, tetapi oleh batu-batu besar yang berdiri tegak, seperti yang terdapat di kalangan orang Kanaan kuno. Batu itu tidak disembah oleh orang-orang Arab secara langsung, tetapi hanya menjadi sebuah fokus keilahian. Seperti Makkah dengan Ka’bahnya, kuil-kuil di Thaif, Nakhlah, dan Qudaid telah menjadi lambang spiritual yang penting di dalam hati orang-orang Arab. Nenek moyang mereka telah beribadah di sana sejak zaman antah-berantah, dan ini mereka memberi rasa ketersambungan yang melegakan.

Kisah Ayat-ayat Setan tidak disebutkan di dalam Al-Quran maupun sumber-sumber lisan dan tertulis yang terdahulu. Kisah ini juga tidak tercantum di dalam Sirah Ibn Ishaq, biografi Nabi yang paling autoritatif,

tetapi hanya ditemukan di dalam karya sejarahwan abad kesepuluh, Abu Ja’far Al-Thabari (w. 923). Dia menceritakan kepada kita bahwa Muhammad mengkhawatirkan keretakan hubungan yang terjadi antara dirinya dengan sebagian besar anggota suku sejak dia melarang pemujaan terhadap dewi-dewi mereka. Lalu, Muhammad mengucap- kan beberapa bait janggal yang mengizinkan banat Allah diagung- kan sebagai perantara, seperti halnya para malaikat. Dalam bait-bait yang disebut sebagai “Ayat-ayat Setan” ini—karena konon diinspirasi- kan oleh “setan”—ketiga dewi itu tidak dipandang setara dengan Allah tetapi merupaka n wujud spiritual lebih rendah yang bisa memohon kepada Allah, atas nama manusia. Akan tetapi, Al-Thabari kemudian berkata bahwa Jibril memperingatkan kepada Muhammad bahwa bait-bait tersebut berasal dari setan dan harus dikeluarkan dari Al-Quran untuk digantikan oleh ayat-ayat berikut ini yang me- nyatakan bahwa banat Allah hanyalah proyeksi dan isapan jempol imajinasi:

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap

Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian

(sebagai anak perempuan Allah) ….

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan satu keterangan pun untuk (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.21

Ini adalah ayat-ayat yang paling radikal di antara semua ayat Al- Quran yang mencela dewa-dewa pagan leluhur kaum Quraisy. Setelah ayat ini dicantumkan di dalam Al-Quran maka tak ada lagi kesempatan rekonsiliasi dengan kaum Quraisy. Mulai saat ini, Muhammad menjadi seorang monoteis yang keras, dan syirk (secara harfiah berarti menye- kutukan Allah dengan sesuatu yang lain) menjadi dosa paling besar dalam pandangan Islam.

Muhammad tidak memberi konsesi apa pun terhadap politeisme dalam peristiwa Ayat-ayat Setan—kalaupun peristiwa ini memang pernah terjadi. Juga tidak tepat untuk membayangkan bahwa keter- libatan “setan” itu membuat Al-Quran untuk sesaat telah dinodai oleh kejahatan: di dalam Islam, setan merupakan karakter yang lebih

dapat dikendalikan dibandingkan dengan.di dalam Kristen. Al-Quran menyatakan kepada kita bahwa setan-setan itu akan diampuni di Hari Akhir, dan orang Arab sering menggunakan kata “syaithan” untuk menyebut penggoda manusia atau godaan yang alamiah.22

Peristiwa itu bisa memberi indikasi tentang kesulitan yang tentu dialami oleh Muhammad ketika dia berusaha menurunkan taraf pesan suci yang tak terlukiskan ke dalam bahasa manusia: peristiwa itu di- kaitkan dengan ayat-ayat Al-Quran kanonikal yang menyatakan bahwa sebagian besar nabi-nabi lain juga pernah melakukan kekeliruan ucap yang serupa ketika menyampaikan pesan ilahi, namun Tuhan selalu meluruskan kesalahan mereka dan menurunkan wahyu yang baru dan lebih unggul sebagai penggantinya. Cara pandang alternatif dan lebih sekular terhadap hal ini adalah dengan melihat bahwa Muhammad merevisi karyanya di bawah bimbingan wawasan baru tak ubahnya seperti seorang pekerja kreatif seni. Sumber-sumber itu menunjukkan bahwa Muhammad secara mutlak menolak berkom- promi dengan kaum Quraisy dalam soal keberhalaan. Dia adalah se• orang yang pragmatis dan siap membuat konsesi dalam hal-hal yang dianggapnya tidak esensial. Akan tetapi, setiap kali kaum Quraisy memintanya untuk mengadopsi solusi yang memadukan tauhid dengan pemberhalaan, membiarkan mereka menyembah dewa-dewa leluhur mereka, sementara dia dan kaum Muslim menyembah Allah saja, Muhammad dengan keras menolak usulan itu. Seperti yang difirman- kan di dalam Al-Quran: Aku tak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tak akan menyembah apa yang aku sembah ,.. bagimu agamamu dan bagiku agamaku/25 Kaum Muslim hanya akan tunduk kepada Allah saja dan tidak akan menyerah kepada objek- objek ibadat yang keliru—apakah itu dewa-dewa maupun nilai-nilai— seperti dianjurkan oleh orang-orang Quraisy.

Persepsi tentang keunikan Tuhan merupakan basis moralitas Al- Quran. Menyembah benda-benda material atau meletakkan keper- cayaan pada wujud yang lebih rendah adalah syirk (keberhalaan). Al-Quran menumpahkan celaan terhadap dewa-dewa pagan dalam cara yang sangat mirip dengan kitab suci Yahudi: dewa-dewa itu sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Dewa-dewa itu tak mampu memberikan makanan atau rezeki; tidak ada gunanya meletakkan mereka sebagai pusat dalam kehidupan seseorang karena mereka tidaklah berdaya. Sebaliknya, seorang Muslim juga harus yakin bahwa Allah adalah Realitas Tertinggi dan Unik:

Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.”24

Penganut Kristen seperti Athanasius juga berkeyakinan bahwa hanya Sang Pencipta, sumber segala wujud, yang memiliki kekuatan penebusan . Mereka telah mengungkapkan pandangan ini dalam doktrin Trinitas dan Inkarnasi. Al-Quran kembali kepada gagasan Semitik tentang ketunggalan ilahi dan menolak membayangkan bahwa Tuhan dapat “memperanakkan” seorang putra. Tak ada Tuhan kecuali Allah, Pencipta langit dan bumi. Hanya Allah yang dapat menyela- matkan manusia dan menganugerahkan rezeki fisik maupun spiritual yang dibutuhkan manusia. Hanya dengan mengakuinya sebagai Al- Shamad, “Penyebab yang Tidak Disebabkan atas segala sesuatu,” kaum Muslim dapat mencapai sebuah dimensi realitas yang melam- paui waktu dan sejarah, yang akan menghindarkan mereka dari per- selisihan kesukuan yang memecah-belah masyarakat. Muhammad mengetahui bahwa monoteisme bertentangan dengan tribalisme: satu Tuhan yang menjadi fokus semua peribadatan akan mempersatukan masyarakat maupun individu.

Namun, tak ada pandangan tentang Tuhan yang simplistik. Tuhan yang tunggal ini bukanlah suatu wujud seperti diri kita sendiri yang dapat kita ketahui dan pahami. Frasa “Allahu Akbar” (Tuhan Maha- besar!), yang menyeru kaum Muslim untuk melaksanakan shalat, menekankan perbedaan Tuhan dengan semua realitas lain, juga antara Tuhan dalam dirinya sendiri (Al-Dzat) dengan apa pun yang bisa kita katakan tentang dia. Sungguhpun demikian, Tuhan yang tidak bisa dipahami dan dijangkau ini telah berkehendak untuk membuat dirinya diketahui. Di dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan berfirman kepada Muhammad: “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi; Aku ingin dikenal. Kemudian Aku ciptakan alam agar Aku bisa dikenal.”25 Dengan merenungkan tanda-tanda (ayat) alam dan ayat- ayat Al-Quran, kaum Muslim dapat memperoleh kilasan aspek keilahi-

an yang telah dituangkan di alam semesta, yang oleh Al-Quran disebut sebagai Wajah Allah (wajh Allah).

Seperti kedua agama yang lebih tua, Islam menekankan bahwa kita hanya bisa melihat Tuhan melalui aktivitasnya, yang menyesuai- kan wujudnya yang tak terlukiskan itu dengan pemahaman kita yang

terbatas. Al-Quran memerintahkan kaum Muslim untuk menanamkan

kesadaran yang tak terputus tentang Wajah atau Zat Tuhan yang melingkupi mereka dari semua sisi: Ke manapun engkau berpaling, maka di sana akan ada Wajah Allah.26 Al-Quran memandang Tuhan sebagai yang Mutlak, pemilik eksistensi sejati: Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mem- punyai kebesaran dan kemuliaan.21 Di dalam Al-Quran, disebutkan sembilan puluh sembilan nama atau sifat Tuhan. Ini menekankan bahwa dia “lebih besar”, sumber dari semua kualitas positif yang kita jumpai di alam semesta. Dengan demikian, dunia menjadi ada hanya karena dia adalah Al-Ghani (kaya dan tak terbatas); memberi kehidupan (Al-Muhyi); mengetahui segala sesuatu (Al-’Alim), ber- bicara (Al-Kalim); tanpa dia, karenanya, takkan ada kehidupan, penge- tahuan, atau kata-kata. Ini merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki eksistensi yang sejati dan nilai positif. Sungguhpun demikian, tak jarang sifat-sifat itu kelihatannya seperti bertentangan satu sama lain. Misalnya, Tuhan adalah Al-Qahhar, yang mendominasi dan mematahkan tulang musuh-musuhnya, dan Al-Halim, yang sangat melindungi; Dia adalah Al-Qabid, yang menyempitkan, dan Al-Basit, yang melapangkan; Dia adalah Al-Khafidh, yang merendahkan, dan

Al-Rafi’, yang mengagungkan. Nama-nama Tuhan memainkan peran sentral dalam peribadatan Muslim: nama-nama itu dibaca, dihitung pada bulir-bulir tasbih, dan diucapkan seperti mantra. Semua ini mengingatkan kaum Muslim bahwa Tuhan yang mereka sembah tidak bisa dicakup oleh kategori-kategori manusia dan mengelak dari definisi yang sederhana.

Rukun Islam yang pertama adalah syahadat, pengakuan keimanan seorang Muslim: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.” Ini bukan sekadar penegasan atas eksistensi Tuhan tetapi sebuah pengakuan bahwa Allah merupa• kan satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati. Dia adalah satu-satunya realitas, keindahan, atau kesempurnaan sejati: semua wujud yang terlihat ada dan memiliki sifat-sifat seperti ini hanya meminjam keberadaan dan sifat tersebut dari wujud esensial ini. Mengucapkan penegasan ini menuntut kaum Muslim untuk meng- integrasikan kehidupan mereka dengan menjadikan Allah sebagai fokus dan prioritas tunggal mereka. Penegasan tentang keesaan Allah bukan sekadar penyangkalan atas kelayakan dewa-dewa, seperti banat Allah untuk disembah.

Mengatakan bahwa Allah itu satu bukan sekadar sebuah definisi numerik, melainkan seruan untuk menjadikan keesaan itu sebagai faktor pengendali kehidupan individu dan masyarakat. Keesaan Tuhan dapat terpantul dalam diri yang benar-benar terintegrasi. Akan tetapi, keesaan ilahi juga menuntut kaum Muslim untuk menghargai aspirasi keagamaan lain. Karena hanya ada satu Tuhan, maka semua agama wahyu pasti berasal darinya. Kepercayaan pada Realitas tunggal dan tertinggi bisa dikondisikan secara kultural dan diungkapkan oleh masyarakat yang berbeda dengan cara-cara yang berbeda, tetapi fokus semua peribadatan sejati harus diinspirasikan oleh, dan diarah- kan kepada, wujud yang oleh orang-orang Arab selalu disebut Allah. Salah satu nama Tuhan yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah

Al-Nur, cahaya. Dalam ayat-ayat yang terkenal ini, Tuhan adalah sumber semua pengetahuan dan sarana yang melaluinya manusia dapat menangkap kilasan tentang yang transenden:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti [ka], sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya,

(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya (saja) hampir- hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya?28

Sisipan ka merupakan pengingat akan watak simbolik yang mendasar dalam setiap pembicaraan Al-Quran tentang Tuhan. Al- Nur, oleh karena itu, bukanlah Tuhan itu sendiri, tetapi merujuk kepada pencerahan yang dikaruniakannya pada suatu wahyu khusus

(pelita) yang bersinar di hati seseorang (lubang). Cahaya itu sendiri tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan salah seorang pembawanya, tetapi berlaku sama untuk semua. Sebagaimana ditafsirkan oleh para mufasir Muslim sejak hari-hari awal Islam, cahaya merupakan simbol yang sangat baik bagi Realitas ilahi, yang mentransendensi ruang dan waktu. Citra poho n zaitun di dalam ayat ini telah ditafsirkan sebagai perumpamaan bagi kesinambungan wahyu, yang tumbuh dari satu “akar” dan bercabang menjadi berbagai pengalaman ke• agamaan yang tidak bisa diidentifikasi atau dibatasi pada satu tradisi atau lokasi tertentu: ia tidak berasal dari Timur maupun dari Barat.

Ketika Waraqah ibn Naufal yang beragama Kristen itu telah menyatakan bahwa Muhammad adalah seorang nabi sejati, baik dirinya sendiri maupun Muhammad tidak berharap agar dia masuk Islam. Muhammad tak pernah meminta orang Yahudi atau Kristen untuk menganut agama Allah kecuali jika mereka sendiri yang betul-betul menginginkannya, karena mereka telah memiliki kitab suci tersendiri yang juga autentik. Al-Quran tidak memandang pewahyuan sebagai pembatalan pesan-pesan dan pandangan-pandangan dari nabi terda- hulu, tetapi justru menekankan kesinambungan pengalaman keagama• an umat manusia. Hal ini perlu ditegaskan karena toleransi bukanlah suatu kebajikan yang oleh banyak orang Barat masa kini dirasakan pantas untuk dinisbahkan kepada Islam. Namun sejak awal, cara pandang kaum Muslim terhadap wahyu tidaklah seeksklusif pandang- an orang Yahudi atau Kristen. Sikap tidak toleran dalam Islam yang banyak dicela orang pada masa kini tidak tumbuh dari visi yang bersaing tentang Tuhan, tetapi dari sumber yang lain:29 kaum Muslim tidak toleran terhadap ketidakadilan, apakah itu dilakukan oleh pemimpin mereka sendiri—seperti Syah Muhammad Reza Pahlevi dari Iran—atau oleh negara-negara kuat di Barat. Al-Quran tidak mencela tradisi keagamaan lain sebagai hal yang keliru atau tidak lengkap, tetapi menunjukkan bahwa setiap nabi baru selalu meneguh- kan dan melanjutkan pandanga n para pendahulunya . Al-Quran mengajarkan bahwa Tuhan telah mengirim para utusan kepada setiap umat manusia di muka bumi: sebuah hadis menyebutkan adanya

124.000 nabi seperti itu, sebuah angka simbolik yang menunjukkan ketakterbatasan. Al-Quran berulang-ulang menyatakan bahwa yang disampaikannya bukanlah suatu risalah yang sama sekali baru dan bahw a kaum Muslim harus menekankan keserumpunan mereka dengan agama-agama yang lebih tua:

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”30

Secara alamiah, Al-Quran memilih nabi-nabi yang terkenal di kalangan orang Arab—seperti Ibrahim, Nuh, Musa dan Isa, yang juga merupakan nabi-nabi Yahudi dan Kristen. Dalam kitab ini juga

disebutkan tentang Nabi Hud dan Saleh, yang telah diutus kepada orang-orang Arab kuno Madian dan Tsamud. Kaum Muslim zaman sekarang meyakini bahwa andaikan Muhammad telah mengenal orang Hindu dan Buddha, tentu beliau akan memasukkan pula guru- guru religius mereka: setelah Nabi wafat mereka akan diberi kebebas- an beragama sepenuhnya di dalam imperium Islam, sebagaimana yang berlaku bagi orang Yahudi dan Kristen. Berdasarkan prinsip yang sama, kaum Muslim berpendapat, Al-Quran juga akan meng- hormati para saman dan orang suci Indian Amerika atau orang Aborigin Australia.

Keyakinan Muhammad akan kesinambungan pengalaman ke- agamaan segera mendapat ujian. Setelah perpecahan dengan kaum Quraisy, kehidupan menjadi sulit bagi umat Muslim di Makkah. Para budak dan orang-orang merdeka yang tidak memiliki perlindungan kesukuan harus menjalani siksaan berat sehingga sebagiannya mene- mui ajal di bawah perlakuan itu. Klan Hasyim diboikot dari ketersedia- an pangan dalam upaya untuk membuat mereka tunduk. Dalam masa pengucilan inilah Khadijah, istri tercinta Muhammad, meninggal dunia. Akhirnya, nyawa Muhammad sendiri juga terancam. Kaum pagan Arab di pemukiman utara Yatsrib mengundang kaum Muslim untuk meninggalkan klan mereka dan beremigrasi ke sana. Ini benar- benar merupakan langkah yang belum pernah diambil oleh seorang Arab: suku telah menjadi nilai yang suci bagi orang Arab, penyebe- rangan semacam itu dipandang melanggar prinsip yang mendasar. Yatsrib sendiri telah tercabik-cabik oleh perang yang terus berkeca- muk di antara berbagai kelompok suku, dan banyak kaum pagan yang siap menerima Islam sebagai solusi spiritual dan politik bagi persoalan yang mereka hadapi. Tiga suku Yahudi yang besar di pemukiman itu telah mempersiapkan pikiran kaum pagan untuk menerima monoteisme. Ini berarti mereka tidak akan setersinggung kaum Quraisy ketika dewa-dewa mereka direndahkan. Maka pada musim panas tahun 622, sekitar tujuh puluh orang Muslim dan keluarga mereka berangkat menuju Yatsrib.

Setahun sebelum hijrah ke Yatsrib (atau Madinah, Kota, sebagai• mana disebut oleh umat Muslim), Muhammad telah mengadaptasikan agamanya agar menjadi lebih dekat kepada Yudaisme sebagaimana yang dipahaminya. Setelah bertahun-tahun bekerja sendirian, dia tentunya menanti kesempatan untuk hidup berdampingan dengan para penganut tradisi yang lebih tua dan mapan. Kemudian kaum

Muslim diperintahkan untuk berpuasa pada Hari Penebusan Dosa bagi umat Yahudi. Orang Muslim dapat menikah dengan wanita Yahudi dan harus mematuhi beberapa aturan tentang makanan. Di atas semua itu, kaum Muslim kini shalat menghadap ke Yerusalem sebagaimana kaum Yahudi dan Kristen. Orang Yahudi Madinah adalah yang pertama bersedia memberikan kesempatan kepada Muhammad: kehidupan di oase itu telah menjadi sangat berat, dan seperti keba- nyakan kaum pagan Madinah, mereka siap untuk memberi peluang baginya, terutama karena beliau bersikap sangat positif terhadap keyakinan mereka. Namun akhirnya, mereka beralih menentang Muhammad dan bergabung dengan kaum pagan yang memusuhi para pendatang baru dari Makkah itu. Kaum Yahudi memiliki alasan keagamaan dalam penolakan mereka: mereka berkeyakinan bahwa era kenabian telah berakhir. Mereka memang menanti seorang Mesias, namun tidak seorang pun dari kalangan Yahudi maupun Kristen pada tahap itu yang menduga bahwa sang Mesias itu adalah seorang nabi. Selain itu, mereka juga dimotivasi oleh pertimbangan-pertim- bangan politik: di masa lalu mereka telah memegang kekuasaan di oase itu dengan cara berpihak kepada salah satu suku Arab yang tengah bertikai. Namun, Muhammad telah menggabungkan suku- suku ini dengan kaum Quraisy untuk membentuk ummah Muslim yang baru, sejenis suku-super yang di dalamnya orang Yahudi ikut menjadi anggota. Begitu melihat posisi mereka mengalami kemundur- an di Madinah, orang-orang Yahudi mengambil sikap bermusuhan. Mereka biasa berkumpul di masjid “untuk mendengarkan kisah-kisah kaum Muslim sambil tertawa dan mengejek mereka.”31 Sangat mudah bagi mereka, dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi tentang

kitab suci, untuk menemukan celah-celah dalam kisah-kisah Al- Quran—yang beberapa di antaranya sangat berbeda dari versi biblikal. Mereka juga mencemooh kenabian Muhammad, mengatakan bahwa sangatlah aneh jika seorang manusia yang mengaku nabi tidak mampu menemukan untanya yang hilang.

Penolakan Yahudi terhadap Muhammad mungkin merupakan kekecewaan terbesar dalam hidupnya, dan menempatkan seluruh posisi keagamaannya dalam tanda tanya. Akan tetapi, sebagian Yahudi bersikap bersahabat dan bergabung dengan umat Muslim secara terhormat. Mereka mendiskusikan Alkitab dengan Muhammad dan menunjukkan kepadanya bagaimana cara menangkis kritik orang- orang Yahudi lainnya. Pengetahuan baru tentang kitab suci ini juga

membantu Muhammad mengembangkan pandangan-pandangannya

sendiri. Untuk pertama kalinya Muhammad mempelajari kronologi pasti para nabi, yang sebelumnya masih samar baginya. Kini, dia da- pat melihat pentingnya Ibrahim hidup sebelum era Musa atau Isa. Sebelumnya Muhammad mungkin berpikir bahwa orang Yahudi dan Kristen itu menganut satu agama yang sama, tetapi kini dia telah belajar bahwa di antara mereka terdapat perbedaan pandangan yang serius. Bagi pengamat luar seperti orang-orang Arab, tampaknya tak banyak pilihan di antara kedua posisi itu, dan tampak masuk akal pula untuk membayangkan bahwa pengikut Taurat dan Injil telah memasukkan unsur-unsur yang tidak autentik ke dalam hanifiyyah— agama murni Ibrahim—seperti Hukum Lisan yang dikembangkan oleh para rabi dan doktrin Trinitas yang tak bisa diterima itu. Muhammad juga belajar bahwa di dalam kitab suci mereka sendiri, bangsa Yahudi disebut sebagai kaum yang tidak beriman, yang telah beralih kepada keberhalaan dengan menyembah patung Lembu Emas. Polemik tentang bangsa Yahudi di dalam Al-Quran cukup panjang lebar dan memperlihatkan betapa kaum Muslim telah merasa terancam akibat penolakan Yahudi ini, meskipun Al-Quran tetap mengajarkan bahwa tidak semua “kaum yang menerima wahyu terdahulu”32 telah ter- jerumus ke dalam kesesatan dan bahwa pada dasarnya semua agama itu satu.

Dari orang-orang Yahudi Madinah yang bersikap bersahabat, Muhammad juga belajar tentang kisah Ismail, putra sulung Ibrahim. Di dalam Alkitab, Ibrahim mempunyai anak laki-laki dari selirnya Hajar yang, ketika Sarah melahirkan Ishak, menjadi sangat cemburu dan menuntut agar Ibrahim mengusir Hajar dan Ismail. Untuk meng- hibur Ibrahim, Tuhan berjanji bahwa Ismail juga akan menjadi bapak sebuah bangsa yang besar. Orang Yahudi Arab telah menambahkan legenda-legenda lokal mereka sendiri kepada kisah itu dengan me- nyatakan bahwa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Makkah, dan Tuhan memberi perlindungan kepada mereka di sana dengan cara memancarkan mata air suci Zamzam ketika anak kecil itu nyaris mati kehausan. Kemudian, Ibrahim mengunjungi Ismail dan mereka berdua mendirikan Ka’bah, bangunan suci pertama bagi Tuhan Yang Esa. Ismail telah menjadi bapak bangsa Arab, dan, seperti halnya orang-orang Yahudi, mereka juga keturunan Ibrahim. Ini ten-

tu merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk didengar oleh

Muhammad: setelah mempersembahkan kepada orang Arab kitab

suci dalam bahasa mereka sendiri, sekarang dia pun telah menemukan akar keimanan mereka dalam keyakinan para leluhur.

Pada Januari 624, ketika semakin jelas bahwa permusuhan orang Yahudi Madinah bersifat permanen, agama baru ini menegaskan kemandiriannya. Kaum Muslim diperintahkan untuk melaksanakan shalat dengan berkiblat ke Ka’bah, bukan lagi ke Yerusalem. Perubah- an arah kiblat shalat ini telah disebut sebagai langkah keagamaan Muhammad yang paling kreatif. Dengan menghadapkan diri ke arah Ka’bah, yang bebas dari pengaruh kedua wahyu terdahulu, kaum Muslim secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak beraliansi de• ngan agama mana pun yang sudah ada sebelumnya, tetapi menyerah- kan diri mereka hanya kepada Allah semata. Mereka justru kembali ke agama primordial Ibrahim, muslim pertama yang menyerahkan diri kepada Allah dan mendirikan rumah sucinya:

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama

Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.”Katakanlah:

“Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) darigolongan orang musyrik.”

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan lsa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”33

Sungguh adalah perbuatan syirk jika orang lebih memilih tafsiran tentang kebenaran yang semata berasal dari manusia daripada Tuhan itu sendiri.

Kaum Muslim menghitung awal kalender mereka tidak dari tahun kelahiran Muhammad atau dari tahun turunnya wahyu pertama— karena memang tak ada sesuatu yang baru dalam hal-hal ini— melainkan dari tahun terjadinya peristiwa Hijrah (migrasi ke Madinah) ketika kaum Muslim mulai menjalankan rencana ilahi dalam sejarah dengan menjadikan Islam sebuah realitas politik. Kita telah menyaksi- kan bahwa Al-Quran mengajarkan bahwa semua umat beragama mengemban tugas menegakkan masyarakat yang adil dan merata, dan kaum Muslim berupaya menjalankan panggilan politis ini dengan sangat serius. Sejak awal Muhammad tidak pernah bermaksud menjadi seorang pemimpin politik, tetapi kejadian-kejadian yang tak pernah

terduga sebelumnya telah mendorongnya masuk ke dalam solusi politik yang sepenuhnya baru bagi orang Arab. Selama sepuluh tahun antara Hijrah hingga wafatnya pada tahun 632, Muhammad dan kaum Muslim generasi pertama terlibat dalam pertempuran tragis untuk bertahan melawan musuh-musuh di Madinah dan kaum Quraisy

di Makkah, yang semuanya begitu bernafsu untuk menghancurkan

ummah.

Di Barat, Muhammad sering ditampilkan sebagai panglima pe- rang, yang mendesakkan Islam kepada dunia yang enggan menerima- nya dengan kekuatan militer. Namun kenyataannya sungguh berbeda. Muhammad berperang untuk mempertahankan nyawanya, sambil mengembangkan sebuah teologi peperangan demi keadilan menurut Al-Quran yang tentunya bisa disepakati kebanyakan orang Kristen, dan tidak pernah memaksa siapa pun untuk berpindah ke agamanya. Al-Quran pun dengan tegas menyatakan bahwa “tak ada paksaan dalam beragama.” Di dalam Al-Quran perang dipandang sebagai se- suatu yang mesti dijauhi: satu-satunya perang yang diizinkan adalah perang untuk mempertahankan diri. Kadangkala perang diperlukan untuk menegakkan nilai-nilai yang pantas, sebagaimana orang Kristen meyakini tentang perlunya perang melawan Hitler. Muhammad me- miliki bakat politik tingkat tinggi. Di akhir hayatnya, mayoritas suku- suku Arab telah bergabung ke dalam ummah, meskipun, seperti yang diketahui persis oleh Muhammad, islam mereka kebanyakan masih bersifat nominal atau di permukaan saja. Pada tahun 630, Makkah membuka pintu gerbangnya kepada Muhammad yang berhasil meng- ambil alih kota itu tanpa pertumpahan darah. Pada tahun 632, bebe- rapa saat sebelum wafat, Muhammad melaksanakan apa yang disebut- nya Hujjatul Wada’ (Haji Perpisahan). Dalam kesempatan itu, beliau melakukan Islamisasi atas ritus hajj kaum pagan Arab kun o dan menjadikan ziarah yang sangat disenangi orang-orang Arab ini sebagai rukun Islam yang kelima.

Setiap Muslim berkewajiban melaksanakan ibadah haji setidak- tidaknya satu kali dalam seumur hidup jika mampu. Secara alamiah para jamaah haji akan mengenang Muhammad, tetapi ritus-ritus itu telah ditafsirkan untuk mengingatkan mereka kembali kepada Ibrahim, Hajar, dan Ismail daripada Nabi mereka sendiri. Meski kelihatan ganjil bagi orang luar—seperti halnya ritus religius dan sosial asing lainnya—ritus ini mampu membangkitkan pengalaman keagamaan yang kuat dan dengan sempurna mengekspresikan aspek-aspek

komunal dan personal dari spiritualitas Islam. Pada masa sekarang, banyak di antara jamaah haji yang berkumpul pada waktu tertentu di Makkah bukanlah orang Arab, namun mereka telah mampu meng- ubah upacara Arab kuno itu menjadi tradisi mereka sendiri. Ketika berkumpul di Ka’bah, mengenakan pakaian ihram yang menghilang- kan semua perbedaan ras atau kelas sosial, mereka merasa terbebas dari jerat egoistik kehidupan sehari-hari dan menyatu di dalam sebuah komunitas yang memiliki satu fokus dan orientasi. Mereka bersama- sama menggemakan: “Aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah,” sebelum berthawaf mengelilingi bangunan suci itu. Makna esensial dari ritus ini dipaparkan dengan baik oleh Ali Syari’ati, filosof Iran kontemporer:

Tatkala berthawaf dan bergerak mendekati Ka’bah, engkau akan merasa bagaikan anak sungai yang bergabung dengan sebuah sungai besar. Dihanyutkan ombak, kautak bisa menyentuh tanah. Engkau tiba- tiba mengambang, terbawa oleh arus itu. Ketika semakin mendekat ke pusat, tekanan dari keramaian orang mendesak begitu kuat sehingga engkau seakan-akan diberi sebuah kehidupan baru. Kini engkau menjadi bagian dari Orang Banyak; kini engkau adalah seorang Manusia, hidup dan abadi … Ka’bah adalah mentari dunia yang wajahnya menarik engkau masuk ke dalam orbitnya. Engkau telah menjadi bagian dari sistem universal ini. Dengan berthawaf mengelilingi Allah, engkau akan segera terlupa pada did sendiri … Engkau telah berubah menjadi partikel yang perlahan-lahan lebur dan sirna. Ini adalah puncak cinta absolut.34

Orang Yahudi dan Kristen juga telah menekankan spiritualitas komunitas. Ibadah haji menawarkan kepada setiap individu Muslim pengalaman integrasi personal dalam konteks ummah, dengan Tuhan sebagai porosnya. Seperti dalam kebanyakan agama, perdamaian dan keselarasan merupakan tema-tema ziarah yang penting, dan ketika jamaah haji memasuki tempat suci itu, kekerasan dalam berbagai bentuknya dilarang. Jamaah haji bahkan tidak diperbolehkan mem- bunuh serangga atau mengucapkan kata yang kasar. Oleh sebab itu, seluruh Dunia Islam merasa terkejut ketika pada musim haji tahun

1987, jamaah dari Iran menyulut kerusuhan sehingga 402 orang terbunuh dan 649 orang luka-luka.

Muhammad wafat secara tiba-tiba setelah menderita sakit yang tidak lama pada tahun 632. Setelah wafatnya, beberapa orang Badui

berusaha melepaskan diri dari ummah, tetapi kesatuan politik di

Arabia tetap terjaga. Akhirnya, suku-suku yang keras kepala pun menerima agama Tuhan yang satu: keberhasilan Muhammad yang menakjubkan itu telah menunjukkan kepada orang-orang Arab bahwa paganisme yang telah melayani mereka dengan baik selama berabad- abad sudah tidak sesuai lagi untuk dunia modern. Agama Allah mem- perkenalkan etos kasih sayang yang merupakan ciri agama yang lebih maju: persaudaraan dan keadilan sosial merupakan kebajikan yang diutamakannya. Egalitarianisme yang kuat akan senantiasa men- cirikan cita-cita Islam.

Dalam masa kehidupan Muhammad, cita-cita ini juga mencakup persamaan gender. Pada zaman sekarang telah menjadi kecenderung- an umum di Barat untuk menggambarkan Islam sebagai agama yang secara inheren bersifat misoginis, tetapi, sebagaimana Kristen, agama Allah pada dasarnya berpandangan positif terhadap perempuan. Pada masa jahiliah, periode pra-Islam, bangsa Arab telah melestarikan sikap terhadap perempuan yang telah berlaku sejak sebelum Zaman Kapak. Poligami, misalnya, menjadi kelaziman, dan istri-istri tetap tinggal di rumah bapaknya. Kaum wanita elit memiliki kekuasaan dan prestise yang besar—istri pertama Muhammad, Khadijah, misal• nya, adalah pedagang yang berhasil—tetapi mayoritas memiliki kedu- dukan yang setara dengan budak; mereka tak memiliki hak politik maupun hak asasi, dan pembunuhan bayi perempuan berlaku di mana-mana. Kaum wanita termasuk di antara para pengikut awal Muhammad, dan emansipasi mereka menjadi proyek yang diprioritas- kannya. Al-Quran secara tegas melarang pembunuha n anak-anak perempuan dan mencela orang-orang Arab yang bersedih jika menda- pat anak perempuan. Al-Quran juga memberikan perempuan hak- hak hukum dalam soal warisan dan perceraian: kebanyakan wanita Barat tak memiliki sesuatu yang setara dengan ini hingga abad

kesembilan belas.

Muhammad mendorong wanita untuk berperan aktif dalam urusan- urusan ummah. Mereka berani mengungkapkan pendapat, karena yakin bahwa suara mereka akan diperhatikan. Dalam suatu kesem- patan, misalnya, kaum wanita Madinah pernah mengeluh kepada Nabi bahwa kaum pria melebihi mereka dalam mempelajari Al- Quran dan meminta beliau untuk membantu mereka mengejar ke- tertinggalan itu. Ini dipenuhi oleh Muhammad. Salah satu pertanyaan merek a yan g paling pentin g adalah mengap a Al-Quran hanya

menyapa kaum pria saja padahal wanita juga taat kepada Tuhan. Hasilnya adalah turunnya wahyu yang menyapa kaum wanita seperti halnya kaum pria dan menekankan persamaan moral dan spiritual kedua jenis itu.35 Sejak itu Al-Quran cukup sering menyapa kaum wanita secara eksplisit, sesuatu yang jarang terjadi di dalam kitab suci Yahudi maupun Nasrani.

Sayangnya, sebagaimana yang terjadi pada Kristen, agama kemu- dian dibajak oleh kaum pria yang menafsirkan teks-teks itu dengan cara yang berpandangan negatif terhadap kaum wanita. Al-Quran tidak menetapkan hijab kecuali atas istri Muhammad, sebagai penanda atas status mereka. Akan tetapi, begitu Islam menempati posisinya

di dalam dunia berperadaban, kaum Muslim mengadopsi adat Oikume- ne yang menempatkan kaum wanita pada status warga kelas dua. Mereka mengadopsi kebiasaan Persia dan Kristen Byzantium untuk menutup wajah kaum wanita dan mengurung mereka di dalam harem. Dengan cara ini kaum wanita menjadi terpinggirkan. Pada masa ke- khalifahan Abbasiyah (750-1258), kedudukan kaum wanita Muslim menjadi sama jeleknya dengan rekan-rekan mereka di kalangan ma- syarakat Yahudi dan Kristen. Pada masa sekarang, para feminis Muslim menuntut kaum pria untuk kembali kepada semangat asli Al-Quran.

Ini mengingatkan kita bahwa, seperti agama-agama lain, Islam dapat ditafsirkan ke dalam sejumlah cara yang berbeda; akibatnya berkembanglah berbagai sekte dan aliran. Yang pertama di antaranya

—yakni antara Sunnah dan Syiah—terbentuk dalam persaingan mem- perebutkan kepemimpinan politik setelah mangkatnya Muhammad yang terjadi secara tiba-tiba itu. Abu Bakar, sahabat dekat Muhammad, mendapat dukungan mayoritas, namun sebagian orang yakin bahwa sebenarnya Nabi sendiri telah menghendaki Ali ibn Abi Thalib, sau- dara sepupu dan menantunya, untuk menjadi penggantinya (khalifah). Ali sendiri menerima kepemimpinan Abu Bakar, tetapi selama bebe- rapa tahun kemudian dia tampaknya telah menjadi fokus kesetiaan orang-orang yang tidak menyetujui kebijakan tiga khalifah pertama: Abu Bakar, Umar ibn Khattab, dan Usman ibn Affan. Akhirnya Ali menjadi khalifah keempat pada tahun 656: orang Syiah menyebutnya Imam atau Pemimpin pertama ummah.

Karena menyangkut soal kepemimpinan, perpecahan Sunni dan Syii lebih bersifat politik ketimbang doktrinal, dan ini menandai makna penting politik di dalam Islam, termasuk konsepsinya tentang Tuhan. Syiah Ali (para pengikut Ali) tetap menjadi minoritas dan

mengembangkan keteguhan menentang, ditipologikan oleh figur tragis Husain ibn Ali, cucu Muhammad, yang menolak mengakui Bani Umayah (yang merebut tampuk kekhalifahan setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib). Husain dibunuh bersama dengan sejumlah kecil pendukungnya oleh khalifah Yazid pada tahun 680 di Padang Karbala, dekat Kufah di wilayah Irak modern. Semua umat Muslim mengang- gap pembunuhan tak bermoral atas Husain ini sebagai horor yang menakutkan. Husain menjadi pahlawan di kalangan Syiah dan peng- ingat akan perlunya menentang tirani sekalipun hingga mengurbankan nyawa. Pada masa itu, kaum Muslim telah mulai mendirikan imperium mereka. Empat khalifah pertama telah memusatkan perhatian pada penyebaran Islam ke imperium Persia dan Byzantium yang kala itu tengah mengalami kemunduran. Baru kemudian di bawah pemerintah- an Umayah, ekspansi berlanjut hingga mencapai’kawasan Asia dan Afrika Utara. Ekspansi itu kini tidak saja diilhami oleh agama, tetapi juga oleh semangat imperialisme Arab.

Tak seorang pun di dalam imperium baru itu dipaksa menganut Islam; bahkan , selama satu abad setelah wafatnya Muhammad, perpindahan agama tidak terlalu diupayakan dan, sekitar tahun 700, justru dilarang secara hukum: kaum Muslim pada saat itu berkeyakinan bahwa Islam diturunkan hanya untuk orang Arab, seperti halnya Yudaisme hanya untuk anak-anak Yakub. Sebagai Ahli Kitab, orang Yahudi dan Kristen diberi kebebasan beragama sebagai dzimmi, kelompok minoritas yang dilindungi. Ketika khalifah Abbasiyah mulai mengupayakan perpindahan agama, banyak orang Semit dan Aria yang hidup di dalam imperium bersemangat menerima agama baru itu. Keberhasilan ini bagi Islam sama formatifnya dengan penyaliban Yesus di dalam Kristen.

Politik bukanlah sesuatu yang berada di luar kehidupan keagama- an pribadi seorang Muslim, seperti dalam Kristen yang menaruh curiga terhadap kesuksesan duniawi. Kaum Muslim memandang diri mereka berkewajiban untuk mewujudkan masyarakat yang adil sesuai denga n kehenda k Tuhan. Ummah memiliki makna sakramental sebagai “tanda” bahwa Tuhan telah merahmati upaya membebaskan manusia dari penindasan dan ketidakadilan; kesehatan politik ummah dalam spiritualitas kaum Muslim menempati posisi yang hampir sama dengan suatu pilihan teologis (Katolik, Protestan, Metodis, Baptis) dalam kehidupan seorang Kristen. Jika orang Kristen merasa aneh denga n pandanga n politik Muslim, mereka mesti.sada r bahw a

kegemaran mereka untuk terlibat dalam perdebatan teologis yang musykil kelihatan sama anehnya menurut pandangan orang Yahudi dan Muslim.

Oleh karena itu, pada tahun-tahun awal sejarah Islam, spekulasi tentang kodrat Tuhan sering lahir dari perbincangan politik tentang kekhalifahan dan kekuasaan. Perdebatan intelektual tentang siapa dan bagaimana seseorang harus memimpin ummah merupakan per• debatan penting dalam Islam yang dapat disetarakan dengan perde• batan soal manusia Yesus dan hakikatnya di dalam Kristen. Setelah periode empat khalifah pertama, kaum Muslim menyadari bahwa kini mereka hidup di dunia yang sangat berbeda dari masyarakat Madinah yang kecil dan terus-terusan berperang itu. Kini mereka adalah penguasa di sebuah imperium yang terus berkembang, dan pemimpin-pemimpin mereka tampak termotivasi oleh keduniaan dan ketamakan. Para aristokrat dan penghuni istana hidup dalam kemewahan dan korupsi, sangat berbeda dari kehidupan sederhana yang dijalani Nabi dan para Sahabatnya. Kaum Muslim yang paling saleh menentang pihak penguasa dengan pesan sosialis Al-Quran dan berupaya menjadikan Islam tetap relevan dengan kondisi baru itu. Berbagai paham dan sekte-sekte yang berbeda bermunculan.

Solusi yang paling populer ditawarkan oleh para fuqaha dan ahli hadis yang berupaya untuk kembali kepada idealisme Muhammad dan khulafa’ al-rasyidun. Ini mengakibatkan pembentukan hukum syariat, undang-undang serupa Taurat yang didasarkan pada Al-Quran serta kehidupan dan ucapan Nabi. Pada saat itu telah beredar sejumlah besar tradisi lisan tentang ucapan (Hadis) dan perbuatan (Sunnah) Muhammad dan para Sahabatnya. Tradisi-tradisi ini telah dikumpulkan selama abad kedelapan dan kesembilan oleh sejumlah editor. Yang paling terkemuka di antara mereka adalah Ismail Al-Bukhari dan Muslim ibn Al-Hijjaj Al-Qusyairi. Karena Muhammad diyakini telah berserah diri secara sempurna kepada Allah, dia menjadi teladan da• lam kehidupan sehari-hari kaum Muslim. Meneladani cara Muhammad berbicara, mencintai, makan, membersihkan diri, dan beribadah, dapat membantu kaum Muslim untuk menjalani kehidupan yang peka terhadap keilahian. Dengan menjalani hidup seperti Nabi, mereka berharap untuk mencapai ketundukan batin Nabi kepada Allah. Maka ketika seorang Muslim mengikuti sunnah dengan saling mengucapkan

“Assalamu’alaikum” (semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu)

sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi, ketika mereka bersikap

baik terhadap binatang, menyantuni anak yatim dan fakir miskin,

berbuat baik dan jujur dalam pergaulan mereka dengan orang lain sebagai tindakan yang meneladani Nabi, mereka menjadi ingat kepada Allah. Tindakan lahiriah ini tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan hanya sebagai sarana untuk mencapai takwa, “kesadaran akan Allah” yang diterangkan dalam Al-Quran dan dijalani oleh Nabi, berupa ingatan yang tak henti-hentinya kepada Tuhan (zikir). Banyak perdebatan di sekitar kesahihan Sunnah dan Hadis: sebagian di antara- nya dianggap lebih autentik daripada yang lain. Akan tetapi, sesung- guhnya persoalan keabsahan historis dapat dikesampingkan jika dihadapkan dengan fakta betapa efektifnya tradisi-tradisi itu, yang telah terbukti mampu menghadirkan rasa sakramental tentang yang ilahi dalam kehidupan jutaan umat Muslim selama berabad-abad.

Hadis atau kumpulan ajaran Nabi selain berkenaan dengan per• soalan sehari-hari, juga menyangkut persoalan metafisika, kosmologi, dan teologi. Sebagian dari ajaran ini diyakini merupakan firman Tuhan sendiri kepada Muhammad (hadis qudsi). Hadis qudsi menekankan kedekatan dan kehadiran Tuhan di dalam diri seorang yang beriman. Salah satu hadis terkenal, misalnya, menguraikan tahapan-tahapan pemahaman seorang Muslim tentang kehadiran ilahi yang seolah hampir berinkarnasi dalam dirinya: dimulai dengan menaati perintah- perintah Al-Quran dan syariat, lalu meningkat ke arah amal baik yang dilakukan secara sukarela:

Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan

(mengamalkan) apa yang paling Aku sukai dari yang Kuwajibkan kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan (mengamalkan) perbuatan-perbuatan yang dianjurkan terkecuali Aku akan mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi telinganya (yang dipergunakannya) untuk mendengar, matanya untuk melihat, tangannya untuk memegang, dan kakinya untuk berjalan.36

Sebagaimana dalam Yudaisme dan Kristen, Tuhan yang transenden juga merupakan kehadiran imanen yang dapat ditemukan di dunia. Seorang Muslim dapat menanamkan rasa kehadiran ilahi ini melalui cara-cara yang sangat mirip dengan yang ditemukan oleh kedua agama yang lebih tua itu.

Seorang Muslim yang menegakkan kesalehan berdasarkan teladan

Muhammad secara umu m disebut sebagai ahl al-hadits, kaum

tradisionis. Mereka menarik bagi orang awam karena etika mereka yang sangat egalitarian. Mereka menentang kemewahan pemerintah- an Dinasti Umayah dan Abbasiyah, tetapi bukan dalam bentuk taktik- taktik revolusioner Syiah. Mereka tidak percaya bahw a khalifah haruslah seorang yang memiliki kualitas spiritual yang luar biasa: khalifah hanyalah seorang administrator pemerintahan. Sungguhpun demikian, dengan menekankan kesucian Al-Quran dan Sunnah, setiap Muslim memiliki sarana untuk berhubungan langsung dengan Tuhan dan berpotensi untuk menjadi sangat kritis terhadap kekuatan absolut. Tak dibutuhkan kasta pendeta untuk bertindak sebagai perantara. Setiap Muslim bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas nasib dan peruntungannya sendiri.

Di atas segalanya, kaum tradisionis mengajarkan bahwa Al-Quran adalah sebuah realitas abadi, seperti halnya Taurat atau Logos, yang dalam beberapa hal menyangkut Tuhan itu sendiri; realitas itu telah bersemayam di dalam pikirannya jauh sebekim waktu berawal. Doktrin mereka tentang ketakterciptaan Al-Quran mengandun g pengertian bahwa ketika kitab itu dibaca, umat Muslim bisa secara langsung mendengar Tuhan Yang Mahagaib. Al-Quran mewakili kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka. Firmannya berada di bibir mereka pada saat mereka membaca kata-kata suci di dalam kitab itu, dan ketika mereka memegang mushaf Al-Quran, mereka seakan-akan menyentuh kesucian itu sendiri. Orang Kristen terdahulu memiliki gagasan tentang manusia Yesus dalam cara yang sama:

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar,

yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan

dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup—

itulah yang kami tuliskan kepada kamu.37

Pembahasan tentang status pasti Yesus, sang Firman, telah sangat menyibukkan orang Kristen. Kini kaum Muslim pun mulai memper- debatkan sifat Al-Quran: dalam pengertian yang bagaimana naskah berbahasa Arab itu menjadi Firman Tuhan? Sebagian Muslim meman- dang pengagungan Al-Quran sebagai sesuatu yang berlebihan seperti halnya kelompok Kristen yang tidak bisa menerima gagasan bahwa Yesus adalah inkarnasi Logos.

Akan tetapi, Syiah secara perlahan-lahan mengembangkan gagas- an yang lebih dekat kepada konsep Inkarnasi Kristen. Setelah kema- tian Husain yang tragis, orang Syiah semakin yakin bahwa hanya keturunan ayah Husain, yakni Ali ibn Abi Thalib, yang mesti memim- pin ummah, dan mereka menjadi sekte yang semakin terlihat jelas

di dalam Islam. Sebagai sepupu dan menantunya, Ali memiliki hubung- an darah ganda dengan Muhammad. Karena tidak seorang pun dari putra Muhammad yang bertahan hidup, Ali menjadi kerabat laki-laki utamanya. Di dalam Al-Quran, Nabi sering memohonkan rahmat bagi keturunannya. Orang Syiah memperluas pengertian tentang rahmat suci ini dan berkeyakinan bahwa hanya anggota keluarga Nabi melalui garis keluarga Ali saja yang memiliki pengetahuan

(‘ilm) sejati tentang Tuhan. Hanya mereka yang mampu memberikan bimbingan suci kepada ummah. Jika seorang keturunan Ali berkuasa, kaum Muslim dapat berharap akan menapaki zaman keemasan bagi keadilan dan ummah akan dibimbing sesuai dengan kehendak Tuhan.

Antusiasme terhadap pribadi Ali berkembang dalam cara yang mengejutkan. Beberapa kelompok Syiah radikal meninggikan Ali dan keturunannya ke tingkat yang bahkan lebih tinggi daripada Muhammad sendiri dan memberi mereka status semi-ilahiah. Mereka mengambil tradisi Persia kuno mengenai keluarga pilihan keturunan- dewa yang akan mewarisi kemuliaan suci dari satu generasi ke generasi. Menjelang akhir periode Umayah, sebagian orang Syiah mulai berkeyakinan bahwa ‘ilm yang autoritatif hanya dapat ditemu- kan dalam satu garis keturunan Ali tertentu. Kaum Muslim hanya mungkin mendapati pribadi yang dipilih oleh Tuhan sebagai imam

(pemimpin) sejati bagi ummah di dalam keluarga ini. Apakah pribadi itu berkuasa secara politis atau tidak, bimbingannya tetap dibutuhkan secara mutlak sehingga setiap Muslim berkewajiban untuk mencarinya dan menerima kepemimpinannya. Karena imam-imam ini dipandang sebagai sumber perpecahan, para khalifah menganggap mereka musuh negara: menurut kaum Syiah, sebagian dari imam itu diracuni dan sebagian lainnya terpaksa menyembunyikan diri. Ketika seorang imam wafat, dia akan memilih satu di antara keturunannya untuk menerima warisan ‘ilm. Lambat laun, para imam itu dipuja sebagai avatar ilahi: masing-masing mereka menjadi “bukti” (hujjah) keha- diran Tuhan di bumi dan, dalam pengertian yang misterius, membuat yang ilahi berinkarnasi di dalam diri manusia. Kata-katanya, keputusan dan perintah-perintahnya berasal dari Tuhan. Sebagaimana orang

Kristen memandang Yesus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Cahaya yang bisa membimbing manusia menuju Tuhan, orang Syiah memuja imam-imam mereka sebagai Gerbang (bab) menuju Tuhan, Jalan

(sabil), dan Pembimbing setiap generasi.

Berbagai aliran Syiah mengurai silsilah suci itu secara berbeda- beda . Syiah Dua Belas Imam, misalnya, memuliakan dua belas keturunan Ali lewat garis Husain, hingga pada tahun 939, imam terakhir bersembunyi dan menghilang dari masyarakat; tak ada lagi keturunan setelah dia, sehingga garis itu pun terputus. Syiah Ismaili- yah, yang dikenal pula sebagai Syiah Tujuh, meyakini bahwa imam ketujuh dalam garis inilah yang merupakan imam terakhir. Paham tentang Al-Mahdi muncul di kalangan Syiah Dua Belas yang meyakini bahwa imam kedua belas atau imam yang gaib itu akan kembali untuk menahbiskan zaman kegemilangan. Ini merupakan gagasan yang berbahaya. Bukan hanya subversif secara polilis, tetapi gagasan ini cenderung untuk ditafsirkan secara kasar dan gampangan. Oleh karena itu, kalangan Syiah yang lebih ekstrem mengembangkan tradisi esoterik berdasarkan penafsiran simbolik terhadap Al-Quran, seperti yang akan kita saksikan pada bab mendatang. Keyakinan mereka terlalu musykil bagi mayoritas Muslim, yang tidak dapat menerima gagasan tentang inkarnasi, sehingga Syiah biasanya terdapat di kalangan kelas yang lebih aristokratis dan intelektual. Sejak revolusi Iran, orang Barat cenderung melihat Syiah sebagai sekte Islam yang secara inheren bersifat fundamentalis. Ini penilaian yang tidak akurat. Syiah telah berkembang menjadi tradisi yang canggih. Sesungguhnya, Syiah memiliki banyak kesamaan dengan kaum Muslim yang secara sistematik berupaya mengaplikasikan argumen-argumen rasional ter• hadap Al-Quran. Kaum rasionalis ini, yang dikenal sebagai Mu’tazilah, membentuk kelompok tersendiri; mereka juga memiliki komitmen politik yang teguh: seperti kaum Syiah, orang-orang Mu’tazilah sangat kritis terhadap gaya hidup mewah para penguasa dan sering aktif secara politis menentang kemapanan.

Persoalan politik mengilhami perdebatan teologis tentang peng- aturan Tuhan atas urusan-urusan manusia. Para pendukung Dinasti Umayah secara tidak jujur mengklaim bahwa perilaku tidak Islami mereka bukan merupakan kesalahan mereka, melainkan karena Tuhan telah menakdirkan mereka untuk menjadi jenis manusia yang demi- kian. Al-Quran memiliki konsepsi yang sangat kukuh tentang kemaha- kuasaan Tuhan, dan banyak teks yang bisa dipakai untuk mendukung

pandangan predestinasi ini. Namun, Al-Quran secara seimbang mene• kankan tentang tanggung jawab manusia: Sesungguhnya, Tuhan tidak akan mengubah keadaan mereka kecuali mereka mengubahnya sendiri. Oleh karena itu, para pengkritik kelompok penguasa me• nekankan kehendak bebas dan tanggung jawab moral. Penganut Mu’tazilah mengambil jalan tengah dan melepaskan diri (i’tazala) dari posisi ekstrem. Mereka membela kehendak bebas dengan tujuan memelihara watak etis manusia. Seorang Muslim yang meyakini bahwa Tuhan berada di atas pandangan manusia tentang benar dan salah berarti tidak mempercayai keadilannya. Tuhan yang melanggar semua prinsip yang masuk akal hanya karena dia adalah Tuhan justru lebih parah daripada seorang khalifah tiran. Sebagaimana kaum Syiah, Mu’tazilah juga menyatakan bahwa keadilan adalah esensi Tuhan: dia tidak dapat menzalimi seseorang; dia tidak dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal.

Di sini mereka memasuki perbedaan pendapat dengan kaum tradisionis yang berpandangan bahwa dengan menjadikan manusia sebagai penentu dan pencipta perbuatannya sendiri maka orang- orang Mu’tazilah telah merendahka n kekuasaan Tuhan. Mereka menuduh kaum Mu’tazilah telah menjadikan Tuhan terlalu rasional dan sangat mirip dengan seorang manusia. Kelompok tradisionis menganut doktrin predestinasi dengan maksud menekankan kodrat Tuhan yang secara esensial tidak bisa dipahami: kalau kita mengklaim dapat memahaminya, tentu itu bukanlah Tuhan tetapi sekadar proyeksi pikiran manusia. Tuhan melampaui segala pandangan manusia tentang kebaikan maupun kejahatan dan tidak terikat pada standar-standar dan harapan kita: suatu tindakan dikatakan jahat atau tidak adil karena Tuhan telah memutuskannya demikian, bukan karena nilai-nilai manusia memiliki dimensi transenden yang juga berlaku pada Tuhan. Kaum Mu’tazilah keliru menyatakan bahwa keadilan, yang sepenuh- nya merupakan idealisme manusia, merupakan esensi Tuhan.

Persoalan predestinasi dan kehendak bebas, yang juga menjadi perdebatan di kalangan Kristen, memperlihatkan kesulitan utama dalam gagasan tentang Tuhan yang personal. Tuhan yang impersonal, semacam Brahman, dapat lebih mudah dikatakan berada di atas kategori “baik” atau “buruk”, yang dipandang sebagai cadar bagi keilahian yang tak terpahamkan. Namun, konsepsi tentang Tuhan yang secara misterius merupakan pribadi yang terlibat dalam sejarah manusia membuat dirinya terbuka untuk dikritik. Terlalu mudah untuk

menjadikan “Tuhan” ini sebagai tiran atau hakim atas seluruh kehidup- an dan membuat “dia” memenuhi harapan-harapan kita. Kita bisa mengubah “Tuhan” menjadi pendukun g Partai Republik, sosialis, rasis, atau revolusioner, sesuai pandangan pribadi kita. Bahaya sema- cam ini telah membuat sebagian orang memandang Tuhan personal sebagai ide yang tidak agamis, karena hanya akan membenamkan kita dalam prasangka dan pemutlakan ide-ide manusia.

Untuk menghindarkan bahaya ini, kaum tradisionis berpegang pada pembedaan yang telah lama dikenal, yang juga pernah dipakai oleh orang Yahudi maupun Kristen, antara esensi dan aktivitas Tuhan. Mereka mengklaim bahwa sebagian dari sifat-sifat yang membuat Tuhan yang transenden berhubungan dengan dunia—seperti ber- kuasa, mengetahui, berkehendak, mendengar, melihat, berkata-kata, yang semuanya diatributkan kepada Allah di dalam Al-Quran—sudah ada bersamanya sejak semula dalam cara yang sama, seperti Al- Quran yang bukan makhluk itu. Atribut-atribut itu berbeda dari esensi Tuhan yang tidak bisa diketahui, yang akan selalu luput dari pe- mahaman kita. Persis seperti yang dibayangkan oleh orang Yahudi bahwa Hikmat Tuhan atau Taurat telah ada bersama Tuhan sejak sebelum awal waktu, kaum Muslim kini mengembangkan gagasan yang mirip untuk mengajarkan personalitas Tuhan dan untuk meng- ingatkan kaum Muslim bahwa Tuhan tidak mungkin seutuhnya ter- cakup oleh akal manusia.

Sekiranya khalifah Al-Ma’mun (813-832) tidak berpihak kepada kaum Mu’tazilah dan berusaha menjadikan gagasan mereka sebagai doktrin resmi umat Muslim, argumen yang musykil ini mungkin hanya akan berpengaruh terhadap sedikit orang saja. Akan tetapi, ketika khalifah itu mulai menyiksa kelompok tradisionis untuk memaksakan teologi Mu’tazilah, orang awam dibuat ketakutan oleh sikap tidak Islami ini. Ahmad ibn Hanbal (780-855), seorang tradisionis terkemuka yang berhasil menyelamatkan diri dari inkuisisi Al-Ma’mun, menjadi tokoh yang populer. Kesalehan dan karismanya—dia pernah berdoa untuk para penyiksanya—menimbulkan tantangan terhadap kekhali- fahan, dan keyakinannya bahwa Al-Quran bukan makhluk telah menjadi slogan bagi pemberontakan massal menentang rasionalisme Mu’tazilah.

Ibn Hanbal tidak menyetujui diskusi rasional mengenai Tuhan. Maka ketika tokoh Mu’tazilah moderat, Al-Huayan Al-Karabisi (w.

859), mengajukan sebuah solusi damai—bahwa Al-Quran sebagai

firman Tuhan memang bukan makhluk, namun ketika dibaca oleh manusia maka ia menjadi makhluk—Ibn Hanbal mencela doktrin itu. Al-Karabisi siap untuk mengubah pandangannya, dan menyatakan bahwa Al-Quran berbahasa Arab yang tertulis dan diucapkan adalah bukan makhluk hanya sejauh ia menjadi bagian dari ucapan Allah yang abadi. Akan tetapi, Ibn Hanbal menyatakan bahwa ini juga tidak sah karena tidak berfaedah dan sangat riskan untuk berspekulasi mengenai watak Al-Quran dalam cara rasionalistik seperti itu. Akal bukanlah alat yang memadai untuk menyingkapkan rahasia Tuhan. Dia menudu h Mu’tazilah telah menanggalkan misteri Tuhan dan menjadikannya sekadar rumusan abstrak yang tak memiliki nilai religius. Ketika Al-Quran menggunakan istilah yang antropomorfis untuk menjelaskan aktivitas Tuhan di dunia atau ketika dikatakan bahwa Tuhan “berbicara”, “melihat” dan “duduk di atas singgasana- nya”, Ibn Hanbal berpendapat bahwa hal itu harus diinterpretasikan secara harfiah tetapi “tanpa bertanya bagaimana” (bila kayfa). Ibn Hanbal mungkin bisa diperbandingkan dengan orang Kristen radikal semacam Athanasius, yang bersikeras dengan interpretasi ekstrem atas doktrin Inkarnasi menentang pemikiran yang lebih rasional. Ibn Hanbal selalu menekankan ketaktercerapan kodrat ilahi, yang memang

berada di luar jangkauan semua analisis logis dan konseptual. Sungguhpun demikian, Al-Quran senantiasa menekankan penting-

nya akal dan penalaran, dan posisi Ibn Hanbal terlihat agak terlalu

lugu. Banyak umat Muslim memandang posisi itu sebagai penyim- pangan dan obskurantis. Jalan kompromi ditemukan oleh Abu Al- Hasan ibn Ismail Al-Asy’ari (878-941). Sebelumnya, dia adalah penga- nut Mu’tazilah tetapi beralih kepada tradisionisme berdasarkan mimpi bertemu Nabi yang memerintahkannya untuk mempelajari hadis. Al- Asy’ari lalu melangkah ke titik ekstrem lainnya, menjadi pengikut tradisionis yang antusias, menentang Mu’tazilah dan menganggapnya sebagai bahaya laten bagi Islam. Kemudian dia bermimpi lagi melihat Nabi Muhammad bersikap agak marah dan berkata: “Aku tidak meme- rintahkanmu meninggalkan argumen rasional tetapi supaya menggu- nakannya untuk mendukung hadis shahih!38

Setelah itu, Al-Asy’ari memakai teknik-teknik rasionalis Mu’tazilah untuk mendukung Ibn Hanbal. Pada saat orang Mu’tazilah mengklaim bahwa wahyu Tuhan tak mungkin tidak bisa dinalar, Al-Asy’ari meng• gunakan nalar dan logika untuk membuktikan bahwa Tuhan berada

di luar jangkauan penalaran kita. Orang Mu’tazilah bisa terjerumus

mereduksi Tuhan ke dalam konsep yang koheren tetapi kering; Al- Asy’ari ingin kembali kepada konsepsi ketuhanan yang utuh di dalam Al-Quran meskipun tidak konsisten. Bahkan, sebagaimana Denys Aeropagite, dia percaya bahwa paradoks justru akan meningkatkan apresiasi kita terhadap Tuhan. Dia menolak mereduksi Tuhan ke dalam konsep yang dapat didiskusikan dan dianalisis sebagaimana gagasan manusia yang lain. Sifat-sifat Tuhan, seperti mengetahui, berkuasa, hidup, dan sebagainya, adalah real; sifat-sifat itu telah ada pada Tuhan sejak semula. Namun sifat-sifat itu berbeda dari hakikat Tuhan, karena Tuhan pada esensinya adalah satu, sederhana, dan unik. Dia tidak bisa dipandang sebagai suatu wujud yang kompleks karena dia merupakan simplisitas itu sendiri; kita tidak bisa menganali- sisnya dengan cara mendefinisikan berbagai sifatnya atau mengurai- kannya ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Al-Asy’ari menolak setiap usaha untuk memecahkan paradoks itu: oleh karena itu, dia bersikeras bahwa ketika Al-Quran menyatakan Tuhan “duduk di atas singgasananya”, kita harus menerima itu sebagai sebuah fakta meskipun berada di luar pemahaman kita untuk mengonsepsikan bagaimana Tuhan itu “duduk”.

Al-Asy’ari mencoba menemukan jalan tengah antara obskurantisme yang ceroboh dan rasionalisme yang ekstrem. Beberapa kaum literalis mengatakan bahwa jika orang-orang yang diridai akan melihat Tuhan

di surga, seperti dinyatakan oleh Al-Quran, maka tentulah Tuhan memiliki penampakan fisikal. Hisyam ibn Hakim melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa:

Allah mempunyai tubuh, dimensi-dimensi yang setara, tertentu, luas, tinggi dan panjang, memancarkan cahaya, berukuran luas dalam tiga dimensinya, di suatu tempat di luar tempat, seperti sebatang emas murni, bersinar dari segala sisinya seperti mutiara bulat, memiliki warna, rasa, aroma, dan sentuhan.39

Sebagian kalangan Syiah menerima pandangan semacam itu karena kepercayaan mereka bahwa para imam merupakan inkarnasi ilahi. Kaum Mu’tazilah berpendirian bahwa ketika Al-Quran berbicara tentang tangan Tuhan, misalnya, maka ini harus ditafsirkan secara kiasan sebagai merujuk kepada kebaikan dan kemurahannya. Al-Asy’ari menentang kaum literalis dengan membuktikan bahwa Al-Quran mengatakan kita hanya dapat berbicara tentang Tuhan dalam bahasa simbolik. Akan tetapi, dia juga menentang penolakan mentah-mentah

kaum tradisionis terhadap akal. Dia berpendapat bahwa Muhammad tak pernah menghadapi persoalan semacam ini, kalau tidak tentu dia akan memberikan petunjuk kepada umat Muslim; oleh karena itu, semua Muslim berkewajiban menggunakan perangkat penafsiran seperti analogi (qiyas) untuk memperoleh konsep ketuhanan yang betul-betul religius.

Al-Asy’ari senantiasa mengupayakan posisi kompromistik, maka dia pun berpendapat bahwa Al-Quran itu qadim dan merupakan Firman Allah yang bukan makhluk, tetapi tinta, kertas, dan kata-kata berbahasa Arab dari naskah itu adalah makhluk. Dia mencela doktrin kehendak bebas dari Mu’tazilah, karena hanya Tuhanlah “pencipta” perbuatan-perbuatan manusia, tetapi dia juga menentang pandangan aliran tradisionis yang menyatakan bahwa manusia sama sekali tidak bisa berkontribusi terhadap keselamatan diri mereka. Solusi Al-Asy’ari agak berbelit-belit: Tuhan menciptakan perbuatan manusia, tetapi mengizinkan manusia untuk mendapat pujian atau kecaman atas perbuatan itu. Namun, tidak seperti Ibn Hanbal, Al-Asy’ari telah bersiap untuk mengajukan pertanyaan dan menggali persoalan- persoalan metafisika, walaupun pada akhirnya dia menyimpulkan bahwa adalah keliru untuk berusaha memasukkan realitas misterius dan tak terlukiskan yang kita sebut Tuhan itu ke dalam suatu sistem koheren dan rasionalistik.

Al-Asy’ari telah membangun tradisi kalam (secara harfiah berarti

“kata” atau “pembahasan”), yang biasanya diterjemahkan sebagai

“teologi”. Murid-muridnya pada abad kesepuluh dan kesebelas mem- perbaiki metodologi kalam dan mengembangkan gagasan-gagasannya lebih lanjut. Para pengikut Al-Asy’ari generasi awal ingin merancang bingkai metafisika bagi suatu diskusi yang sahih tentang kekuasaan Tuhan. Teolog terkemuka pertama dari aliran Asy’ariah adalah Abu Bakr Al-Baqillani (w. 1013). Dalam risalahnya Al-Tauhid, dia sepen- dapat dengan Mu’tazilah bahwa manusia dapat membuktikan eksis- tensi Tuhan secara logis melalui argumen-argumen rasional: bahkan Al-Quran sendiri memperlihatkan bagaimana Ibrahim menemukan Pencipta yang abadi melalui perenungan sistematik tentang alam. Akan tetapi, Al-Baqillani menolak kemungkinan bahwa kita dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan tanpa wahyu, karena hal-hal semacam itu bukanlah kategori-kategori alamiah melainkan telah diputuskan oleh Tuhan: Allah tidak bisa dibatasi oleh pandangan kemanusiaan tentang baik dan buruk.

Al-Baqillani mengembangkan sebuah teori yang dikenal sebagai

“atomisme” atau “okasionalisme” yang berupaya menemukan alasan metafisikal bagi pengakuan keimanan seorang Muslim: bahwa tak ada tuhan, tak ada realitas atau kepastian selain Allah. Dia mengklaim bahwa segala yang ada di dunia secara mutlak bergantung kepada perhatian langsung dari Tuhan. Seluruh alam direduksi kepada atom- atom individual yang tak terbilang jumlahnya; waktu dan ruang bersifat diskontinu dan tak ada yang memiliki identitas spesifik bagi dirinya. Alam fenomenal oleh Baqillani direduksi menjadi ketiadaan dengan cara yang sama radikalnya dengan yang ditempuh oleh Athanasius. Hanya Tuhan yang memiliki realitas, dan hanya dia yang dapat membebaskan kita dari ketiadaan. Dialah yang menjaga keberlang- sunga n alam semesta dan menganugerahka n eksistensi kepad a makhluk-Nya di setiap saat. Tak ada hukum alam yang menjelaskan keberlangsungan kosmos. Walaupun kaum Muslim lainnya membuat kemajuan besar dalam bidang sains, aliran Asy’ariah secara funda• mental justru bertentangan dengan ilmu alam, namun tetap memiliki relevansi keagamaan. Asy’ariah merupakan upaya metafisikal untuk menjelaskan kehadiran Tuhan dalam setiap perincian kehidupan se- hari-hari dan menjadi pengingat bahwa keimanan tidak tergantung pada logika biasa. Jika digunakan sebagai sebuah disiplin, bukannya pandangan faktual tentang realitas, penjelasan itu dapat membantu kaum Muslim untuk mengembangkan kesadaran berketuhanan seperti yang telah dijelaskan Al-Quran. Kelemahannya terletak pada penolak- annya atas bukti ilmiah dan interpretasinya yang terlalu harfiah terhadap sikap religius yang pada dasarnya tak bisa dijelaskan. Paham ini bisa mengakibatkan ketidakseimbangan antara cara pandan g seorang Muslim tentang Tuhan dengan caranya melihat persoalan- persoala n lain. Baik kau m Mu’tazilah maupu n Asy’ariah telah berupaya, dalam cara yang berbeda, untuk mengaitkan pengalaman keagamaan tentang Tuhan dengan penalaran rasional biasa. Hal ini memang penting. Kaum Muslim mencoba menemukan apakah mung- kin berbicara tentang Tuhan seperti kita mendisklisikan persoalan- persoalan lain. Telah kita saksikan bahwa orang Yunani telah tiba pada keputusan bahwa jawabannya adalah tidak dan bahwa diam merupakan satu-satunya bentuk teologi yang memadai. Pada akhirnya, kebanyakan umat Muslim tiba pada kesimpulan yang sama.

Muhammad dan para Sahabatnya hidup dalam masyarakat yang lebih primitif dibandingkan dengan masyarakat pada masa Al-Baqillani.

Impenu m Islam telah tersebar ke dunia berperadaban, sehingga

kaum Muslim harus berhadapan dengan cara pandang tentang Tuhan dan dunia yang secara intelektual memang lebih canggih. Muhammad secara instingtif telah mengalami kembali perjumpaan orang Ibrani kuno dengan yang ilahi, sedangkan generasi berikutnya harus menja- lani sebagian persoalan yang telah dijumpai oleh gereja-gereja Kristen. Beberapa di antara mereka bahkan berpaling kepada teologi Inkar- nasi, sekalipun Al-Quran telah mencela sikap orang-orang Kristen menuhankan Yesus. Perjalanan Islam telah memperlihatkan bahwa gagasan tentang Tuhan yang transenden, namun personal cenderung memunculkan jenis persoalan yang sama dan mengarah pada bentuk pemecahan yang sama pula.

Eksperimen kalam telah membuktikan bahwa meskipun mungkin untuk menggunakan metode-metode rasional untuk memperlihatkan bahwa secara rasional “Tuhan” memang tidak bisa dijangkau oleh akal, kenyataan ini tetap sulit diterima oleh sebagian Muslim. Kalam tak pernah menjadi sepenting teologi di kalangan Kristen Barat. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang mendukung Mu’tazilah menemukan bahwa mereka tidak mungkin memaksakan doktrin-doktrinnya kepada kaum beriman. Rasionalisme terus mempengaruhi pemikir-pemikir selanjutnya selama abad pertengahan, tetapi tetap merupakan kelom- pok minoritas, dan kebanyakan Muslim tidak menaruh kepercayaan pada usaha semacam itu. Sebagaimana Kristen dan Yahudi, Islam lahir dari pengalaman Semitik, tetapi bertemu dengan rasionalisme Yunani di pusat-pusat kebudayaan Helenis Timur Tengah. Sebagian Muslim yang lain mengupayakan proses Helenisasi yang bahkan lebih radikal terhadap konsepsi ketuhanan Islam dan memperkenal- kan unsur filosofis baru ke dalam ketiga agama monoteistik. Yudaisme, Kristen, dan Islam akhirnya tiba pada kesimpulan yang berbeda, tetapi sangat signifikan tentang keabsahan filsafat dan relevansinya dengan misteri Tuhan.[]