Pancasila Bung Karno

Pancasila

Bung Karno

 

 

 

 

 

HIMPUNAN PIDATO, CERAMAH,

KURSUS DAN KULIAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THE SOEKARNO FOUNDATION

 

 

 

                        DAFTAR ISI

 

  1. Lahirnya Pancasila
  2. Anjuranku Kepada Segenap Bangsa Indonesia
  3. Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila
  4. Tidak Ada Kontra Revolusi Bisa Bertahan
  5. Pancasila Dasar Negara  1
  6. Pancasila Dasar Negara  2
  7. Pancasila Dasar Negara  3
  8. Pancasila Dasar Negara  4
  9. Pancasila Dasar Negara  5
  10. Pancasila Membuktikan Dapat Mempersatukan Bangsa Indonesia
  11. Revolusi Kita Berdasarkan Pancasila
  12. Kuliah Umum Presiden Soekarno di Depan Mahasiswa dan Peserta Seminar Pancasila
  13. Membangun Dunia Kembali (To Build The World Anew)
  14. Diatas Dasar Pancasila Rakyat Indonesia Tetap Bersatu

 

Keterangan: 

Topik-topik kami susun berdasar urutan waktu, sebab dalam memberikan uraian dan penjelasannya, Bung Karno hampir selalu mengkaitkannya dengan konteks atau situasi dan kondisi tanah air dan dunia pada saat itu.

 

 

 

P   E  N  G  A  N  T  A  R

BUKU

PANCASILA BUNG KARNO

 

Menjelang kekalahannya di akhir Perang Pasific, penjajah Jepang berusaha menarik simpati dan dukungan rakyat Indonesia dengan janji akan memberikan kemerdekaan di kelak kemudian hari. Dan untuk itu dibentuk dan kemudian disyahkan berdirinya BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ) atau Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai pada tanggal 28 Mei 1945.

Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) itu mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945, dengan acara tunggal menjawab pertanyaan ketua badan tersebut – Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat – :

” Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti,            d a s a r n y a   a p a  ? ”.

Menjawab pertanyaan itu hampir separo dari anggota BPUPKI – sekitar 30 orang – , menyampaikan pandangan-pandangan dan pendapatnya. Namun belum ada satu pun yang mengutarakan pandangan yang memenuhi syarat suatu sistem filsafat dasar untuk di atasnya dibangun Indonesia Merdeka.

Jam 10.00 pagi tanggal 1 Juni 1945, barulah Bung Karno mendapatkan gilirannya. Disampaikannya gagasannya dalam suatu pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu tentang Dasar Negara Indonesia Merdeka, yang dinama-kannya Pancasila.

Pidato Pancasila Bung Karno yang ditawarkannya sebagai Dasar Negara Indonesia Merdeka itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai dengan tepuk tangan riuh-rendah yang panjang di akhir pidato itu.

Dan selanjutnya BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ) membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dari Panitia Kecil yang semula terdiri dari 8 orang, dengan beberapa perubahan dan penambahan, akhirnya menjadi Panitia Sembilan yang terdiri dari :

 

Ir. Soekarno,

Drs. Mohammad Hatta,

Mr. A. A. Maramis,

Abikusno Tjokrosujoso,

Abdulkahar Muzakir.

H. A. Salim,

Mr. Achmad Subardjo,

Wachid Hasjim,

Mr. Muhammad Yamin.

 

Panitia Sembilan ini bertugas: Merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucap-kan Bung Karno pada tanggal  1  J u n i  1 9 4 5 , dan menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamasi-kan kemerdekaan Indonesia.

Hasilnya adalah ” P  i  a  g  a  m   J  a  k  a  r  t  a ”        atau ” J a k a r t a  C h a r t e r ” yang ditandatangani di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Dengan membuang tujuh kata dalam Mukadimah yang berbunyi ” dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya ”, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dipimpin Bung Karno pada tanggal 18 Agustus 1945, dokumen itu dijadikan Preambule atau Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang sekaligus berlaku sebagai Deklarasi Kemerdekaan Indonesia.

Pada pokoknya, akhirnya Pancasila hasil galian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan secara padat dan indah dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan yang pada tanggal 18 Agustus 1945 disyahkan dan sebagai Dasar Negara Indonesia Merdeka

Bangsa Indonesia patut bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, bahwa pidato Bung Karno itu ada catatan stenografisnya secara lengkap, dan bahwa catatan itu bisa tetap selamat dan aman, meskipun keadaan di akhir pendudukan Jepang dan permulaan perang kemerdekaan menghadapi usaha kembalinya kolonialis Belanda itu sangatlah sulit dan berat.

Catatan stenografis pidato Lahirnya Pancasila tersebut, pada tahun 1947 diterbitkan oleh Oesaha Penerbitan Goentoer, Jogyakarta, dengan kata pengantar dari orang yang mengikuti dan mendengar sendiri diucapkannya pidato itu, yaitu Ketua Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai: Dr. K. R. T. Radjiman Wedyo-diningrat.

Setelah Proklamasi dan dicapai kemerdekaan, Bung Karno terpilih menjadi Presiden Repulik Indonesia, dan Pancasila yang dicetuskannya itu ditetapkan sebagai Falsafah Bangsa dan Dasar Negara Republik Indonesia dengan mengabadikannya dalam Pembukaan (Preambule) Undang-Undang Dasar 1945.

Sebagai presiden dari suatu negara baru yang lahir ditengah-tengah kancahnya api peperangan yang dahsyat kala itu, Bung karno masih harus terus memimpin perjuangan untuk mewujudkan dan menyempurnakan kemerdekaan bangsanya yang telah lama dicita-citakannya.

Dalam kedudukan sebagai pemimpin perjuangan bangsa-nya, baik dalam perjuangan tahap phisik tahun 1945 s/d 1949, sebagai presiden negara federal Republik Indonesia Serikat dari bulan Januari s/d Agustus tahun 1950, maupun sebagai presiden ”stempel” Negara Kesatuan Republik Indonesia di bawah Undang-Undang Dasar Sementara dari tanggal 17 Agustus 1950 s/d 5 Juli 1959, Bung Karno tidak pernah melepaskan kesempatan untuk tetap memperjuangkan Dasar Negara dan Filsafat Bangsa Pancasila itu.

Lewat sambutan – sambutan, pidato – pidato, ceramah -ceramah, kursus – kursus, dan kuliah – kuliah, selalu dijelas-jelaskannya asal-usul dan perkembangan historis masyarakat dan bangsanya, situasi dan kondisi yang melingkupinya, serta pemikiran-pemikiran dan filosofi yang menjadi dasar dan latar belakang ”lahirnya” Pancasila itu; selalu diyakin-yakinkannya tentang benarnya Pancasila itu sebagai satu-satunya dasar yang bisa dijadikan landasan membangun Indonesia Raya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke, yang merdeka dan berdaulat penuh, demokratis, adil-makmur, rukun bersatu, aman dan damai untuk selama-lamanya; selalu ditekan-tekankannya pentingnya ”de Mensch” (manusia Indonesia) yang harus terus memperjuangkannya agar menjadi kenyataan.

Meskipun telah menjadi Dasar Negara dan Filsafat Bangsa, pada sidang-sidang badan pembentuk Undang-Undang Dasar      (Konstituante) yang berlangsung antara tahun 1957 s/d 1959, Pancasila itu mendapat ”ujian” yang cukup berat. Dalam pembahasan-pembahasan pada sidang-sidang Konstituante itu, Dasar Negara dan Falsafah Bangsa itu mendapat tantangan Dasar Negara Islam, yang mengakibatkan macetnya lembaga penting tersebut. Dan berkat kuatnya dukungan sebagian besar rakyat Indonesia, lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Pancasila tetap tegak sebagai Dasar Negara dan Falsafah Bangsa Indonesia.

Namun kemudian ”ujian” dan ”tantangan” terhadap dasar negara dan falsafah bangsa Pancasila bagi Indonesia itu masih muncul lagi dalam bentuk yang lebih dahsyat dan lebih canggih lagi dengan bangkit dan berkuasanya Orde Baru.

Sebagai rangkaian usaha neo-kolonisasi Indonesia, bukan hanya Soekarno harus diselesaikan dan  d i p e n d h e m            j e r o (dikubur dalam-dalam), bukan hanya Republik Proklamasi harus diberi ”warna dan kualitas lain” dan ”diperlemah”, tetapi juga roch bangsa” itu sendiri yang namanya Pancasila itu harus secara halus dan pelan-pelan ditiadakan dari bumi Indonesia.

Dimulai dengan adanya tuduhan penyelewengan terhadap Pancasila oleh penguasa sebelumnya yang dicapnya Orde Lama, penguasa Orde Baru menyatakan tekadnya untuk melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen. Dan berpangkal dari posisi strategis itu serangkaian langkah dan serangan gencar segera dilancarkannya.

Ofensif ideologis itu diawali dengan ”otak-atik” tentang naskah proklamasi yang autentik dan yang hanya konsep atau klad saja. Dinyatakannya, bahwa naskah proklamasi yang autentik yaitu yang diketik oleh Sayuti Melik dan ditanda-tangani oleh Soekarno – Hatta, serta kemudian dibaca oleh         Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Sedang yang tulisan tangan Bung Karno, sebagaimana yang terdokumentasi dan banyak dikenal masyarakat selama itu hanyalah konsep atau klad belaka.

Dari situ meningkat ke analisa tentang Pancasila yang autentik, dan yang hanya konsep belaka. Menurut penelitian dan kesimpulan penguasa Orde Baru, ……………………………….

” Pancasila yang autentik adalah yang tercantum dalam alinea keempat Pembukaan (Preambule) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Di luar itu hanya konsep-konsep belaka. Dan kalau berbicara masalah konsep, maka yang utama adalah yang berasal dari Mr. Muh. Yamin, sebab yang paling dekat atau mirip dengan rumusan yang termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sedang Pancasila itu sendiri telah ribuan tahun berada dalam kandungan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu adalah tidak benar kalau dinyatakan bahwa hari lahir Pancasila adalah tanggal 1 Juni. Kalau ada yang perlu dianggap hari lahir Pancasila, maka itu adalah tanggal 18 Agustus, yaitu hari ditetapkannya Undang-Undang Dasar 1945, yang dalam Pembukaannya termaktub rumusan Pancasila. Dan sekiranya ada hari yang perlu dirayakan atau diperingati dalam kaitannya dengan Pancasila, maka itu adalah tanggal 1 Oktober yaitu : Hari Kesaktian Pancasila ”.

Setelah berhasil dikacaukan sejarah kelahiran dan perkem-bangannya semacam itu, dan kemudian dilanjutkan dengan dikaburkan pengertian-pengertiannya, serta dilepaskan keterkait-annya dengan penggalinya, maka sebagai bentuk kulminasinya ditariklah kesimpulan-kesimpulan yang bersifat menghabisi Bung Karno, tetapi yang pada hakekatnya adalah menamatkan  Pancasila itu sendiri.

Pada pokoknya serangkaian serangan terhadap Pancasila dan penggalinya itu adalah sebagai berikut:

1.    Ir Soekarno bukan orang pertama dan satu – satunya yang menyampaikan konsep Dasar Negara Indonesia Merdeka, sebab :

  1. Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muh. Yamin telah ber-pidato di depan sidang BPUPKI, yang disusul dengan bahan tertulis yang dilengkapi dengan Rancangan Undang-Undang Dasar yang disampaikannya pada tanggal 31 Mei 1945 yang berisi lima prinsip dasar negara.
  2. b.    Pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Mr. Soepomo telah berpidato menyampaikan 5 prinsip dasar negara di depan sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
  3. c.    Sedang Soekarno baru pidato di depan sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945, menyampaikan 5 prinsip dasar negara,  yang diberinya nama Pancasila, yang itupun kata ”sila”  nya berasal dari seorang temannya seorang ahli bahasa.
  4. d.    Yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945 hanyalah istilah Pancasila, bersama denagn istilah Trisila dan Ekasila
  5. 2.                                                                                                                                                                                                            Kalau dibandingkan 5 prinsip yang disampaikan masing-masing pembicara yang 3 orang itu, maka yang paling dekat atau mirip dengan Pancasila dasar negara yang autentik sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah rumusan Mr. Muh. Yamin. Sedang kosepsi Soekarno yang paling memberi peluang penunggangan oleh komunis, karena ada istilah internasionalisme dalam rumusannya.
  6. 3.        Panitia Sembilan dalam merumuskan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menggunakan seluruh bahan yang disampaikan semua pembicara dalam persidangan yang dihimpun oleh Sekretariat BPUPKI, dan bukan hanya mengacu pada pidato Bung Karno saja ”.

Bersamaan dengan kampanye ”menghabisi” Bung Karno dan ”menamatkan” Pancasila itu, penguasa Orde Baru juga tetap terus dengan gencar dan tiada henti-hentinya mempro-pagandakan tekadnya untuk melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen. Namun di balik itu kebijaksanaan dan praktek-praktek yang dilaksanakannya justru penuh dengan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kekejaman, penindasan dan penginjak-injakan hak asasi manusia; penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN); penuh dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan tindakan-tindakan yang anti – demokrasi dan a – nasional.

Dan kesemuanya itu akhirnya membawa bangsa ini serba terpuruk dan mengalami krisis di segala bidang (krisis multi-dimensional) yang menyengsarakan rakyat dan mengancam kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sendiri. Kebijaksanaan-kebijaksanaan dan praktek-praktek se-macam itu berserta segala akibat buruk yang dihasilkannya, telah menimbulkan gambaran dan citra yang sangat jelek, bahwa yang salah selama ini adalah dasar negara dan falsafah bangsa Pancasila, dan bukannya kesalahan pelaksana atau pelaksanaan-nya.

Sebagai akibat akumulatif dari semua itu, akhirnya rakyat menjadi skeptis terhadap Pancasila, kabur pemahaman dan pengertian-pengertiannya, dan menjadi tidak yakin lagi akan kebenarannya. Dan sekarang ini Pancasila semakin hari semakin redup, semakin sayup, tak terdengar lagi gaung dan geloranya.

Seiring dengan ditinggalkan dan disisihkannya Pancasila secara halus dan pelan-pelan itu, bukan hanya sebagian rakyat Indonesia menjadi jatuh miskin, kekayaan berlimpah bangsa ini menjadi terkuras habis, tanggungan hutang dalam dan luar negeri menjadi bertimbun, kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan negara ini menjadi meredup, tetapi juga terjadi disintegrasi sosial dan disintegrasi teritorial serta politik yang mengancam kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menyadari akan semua itu, maka dirasa sangat perlu untuk segera menyebarluaskan kembali Pancasila Ajaran Bung Karno ke segenap lapisan masyarakat dan terutama generasi muda Indonesia, agar kita semua bisa memahaminya secara utuh, meyakini akan kebenarannya, dan siap untuk memperjuangkan dan melaksanakannya.

Kami yakin, bahwa kehadiran sebuah buku yang berisi himpunan pidato-pidato, sambutan-sambutan, ceramah-ceramah, kursus-kursus, dan kuliah-kuliah tentang Pancasila, yang berasal langsung dari Bung Karno ini akan merupakan sumber primer yang sangat penting bagi segenap putera tanah air yang terus berusaha menjaga dan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Semoga bermanfaat.

 

 

Jakarta, 10 Januari 2005

 

 

 

 

Penghimpun,

 

 

 

 

 

( Drs. Soewarno )

 

KATA PENGANTAR

         Lahirnya Pancasila

 

Ketua Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai

Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat

 

Dengan perasaan gembira saya terima permintaan penerbit buku ini untuk memberikan sepatah dua patah kata pengantar, serta dengan segala senang hati saya penuhi permintaan tersebut.

Sebagai “ Kaityoo “ ( ketua ) dari “ Dokuritu Zyunbi  Tyoo-sakai “ ( Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan ) saya mengikuti dan mendengar sendiri diucap-kannya pidato ini oleh Bung Karno, sekarang Presiden Negara kita.

Oleh karena itu sungguh menggembirakan sekali maksud penerbit, untuk mencetak pidato Bung Karno ini, yang berisi “Lahirnya Panca Sila“, dalam sebuah buku kecil.

Badan “ Dokuritu Zyunbi Tyoosakai “ itu telah mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei tahun 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 dan yang kedua dari tanggal 10 Juli 1945 sampai dengan tanggal 17 Juli 1945.

“Lahirnya Panca Sila“ ini adalah buah “stenografisch verslag“ dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis dahulu ( voor de vuist ) dalam sidang yang pertama pada tanggal 1 Juni 1945 ketika sidang membicarakan “Dasar ( Beginsel ) Negara kita “, sebagai penjelmaan daripada angan-angannya. Sudah barang tentu kalimat-kalimat sesuatu pidato yang tidak tertulis dahulu, kurang sempurna tersusunnya. Tetapi yang penting ialah ISINYA !

Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “ Lahirnya Panca Sila ” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demo-kratisch Beginsel,  suatu  Beginsel  yang  menjadi  Dasar  Negara

kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada di bawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang. Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang !

Selama Fascisme Jepang berkuasa di negeri kita, Demo-kratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.

Mudah-mudahan “ Lahirnya Panca Sila “ ini dapat dijadikan pegangan, dijadikan pedoman oleh Nusa dan Bangsa kita se-luruhnya, dalam usaha memperjoangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.

 

 

 

                                             

Walikukun, tertanggal 1 Juli 1947

 

 

 

Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat

 

 

 

 

———————–

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 LAHIRNYA PANCASILA

 

Pidato pertama Pancasila diucapkan Bung Karno

di depan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai
tanggal 1 Juni 1945

 

Paduka Tuan Ketua Yang Mulia!

 

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk menge­mukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

Maaf, beribu maaf. Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: “Philosofische-grondslag” daripada Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikir­an – yang – sedalam-dalamya, jiwa, hasrat – yang – sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”.

Merdeka buat saya ialah: political independence -        politieke onafhankelijkheid.

Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang – saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini – “zwaarwichtig” akan perkara yang kecil-kecil. “Zwaar-wichtig” sampai – kata orang Jawa – “jelimet”. Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.

Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu.

Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi banding-kanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggeris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka.

Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!

Alangkah berbedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai sampai jelimet!, maka saya bertanya kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyat­nya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti akan hal ini atau itu.

Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan peme­rintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu!! Toh Saudi Arabia merdeka!

Lihatlah pula – jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat – Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia adalah rakyat Musyik yang lebih daripada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan menge­tahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini mau mendirikan Negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-­macam soal kita kemukakan!

Maaf, Paduka Tuan Zimukyokutyoo! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, – sampai di lubang kubur!

(Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun ’33 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama “Mencapai Indonesia Merdeka”. Maka di dalam risalah tahun ’33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.

Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam, - in one night only! -, kata Amstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka di satu malam sesudah ia    masuk kota Riad dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan oleh Ibn Saud, maka di seberang jembatan, artinya kemudian dari pada itu, Ibn Saud berulah memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandang-an sebagai nomade yaitu orang Badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk ber­cocok tanam. Nomade dirubah oleh Ibn Saud menjadi kaum tani, – semuanya di seberang jembatan.

Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet-Rusia Merdeka, telah mempunyai Jnepprprostoff, dam yang maha besar di sungai Jneppr? Apa ia telah mempunyai radio-station, yang menyundul ke angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet-Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Creche, baru meng-adakan Jnepprprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada tuan-­tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya tuan-tuan punya semangat, – jikalau tuan-tuan demikian, – dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang!

(Tepuk tangan riuh).

Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, pada­hal semboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan “INDONESIA MER­DEKA SEKARANG”. Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang!

(Tepuk tangan riuh).

Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia Merdeka, – kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar­ hati! Saudara-saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhan-kelijkheid, ti­dak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar!

Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesem­patan oleh Dai Nippon untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseikan diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo-Butyoo diganti dengan orang­-orang Indonesia pada sekarang ini, sebenarnya kita telah menda­pat political independence, politieke onafhan-kelijkheid,in one night, di dalam satu malam!

Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milyun, semua-nya bersemboyan: Indonesia Merdeka, sekarang! Jikalau umpamanya Balatentara Dai Nippon sekarang menyerahkan urusan negara kepada saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka?

(Seruan: Tidak! Tidak!)

Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini Balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menitpun kita tidak akan menolak, sekarang pun kita menerima urusan itu, sekarang pun kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka!

(Tepuk tangan menggemparkan)

Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Sovyet-Rusia, Saudi Arabia, Inggeris, Amerika dll. tentang isinya: tetapi ada satu yang s a m a, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggeris sanggup mem-perta­hankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis. Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, saudara-saudara, semua siap sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk merdeka.

(Tepuk tangan riuh)

Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusiapun demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gajih f. 500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada per­madani, sudah ada lampu listrik, sudah mempu-nyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai meja-kursi yang se­lengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu “meja makan”, lantas satu zitye, lantas satu tempat tidur.

Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara ­saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitye, satu tempat tidur: kawin.

Sang Ndoro yang mempunyai rumah gedung, electrische­kookplaat, tempat tidur, uang bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig. belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, saudara-saudara!

(Tepuk tangan, dan tertawa)

Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinder-uitzet, – buat 3 tahun lamanya! (Tertawa).

Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: - kita ini berani merdeka atau tidak ? Inilah, saudara-saudara sekalian, Paduka tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang ter­lebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian Paduka Tuan Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala men-jawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara-saudara, jika tiap – tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia Merdeka! (Tepuk tangan riuh)

Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di da1am Indonesia Merdeka itulah kita me-merdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu persatu. Di dalam Sovyet-Rusia Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Sovyet-Rusia satu persatu.

Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata: kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak dysenterie, banyak penyakit honge-rudeem, ba­nyak ini banyak itu. “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka”.

Saya berkata, kalau inipun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng ker­bau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, d i  d a l a m Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.

Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah di­utarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenar-nya inter­nationaalrecht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko, yang menjelimet, tidak! Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk internationaal-recht. Cukup, saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara yang lain, yang merdeka, inilah yang sudah bernama: merdeka. Tidak perduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak perduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak perduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum inter­nasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya, – sudahlah ia merdeka.

Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menye-lesai­kan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka apa tidak?  (Jawab hadirin : Mau!)

Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka”, maka sekarang saya bicarakan tentang hal d a s a r.

Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Paduka tuan Ketua kehendaki! Paduka tuan Ketua minta             d a s a r, minta philosophische grondslag, atau, jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketua yang mulia meminta suatu “Weltanschauung”, di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.

Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu “Weltanschauung”.

Hitler mendirikan Jermania di atas “national-sozialistische Welt-anschauung”, – filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Sovyet di atas satu “Weltan-schauung”, yaitu Marxistische, His­torisch – Materialistische Weltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas satu “Weltan-schauung”, yaitu yang dinamakan “Tennoo Koodoo Seishin”. Di atas “Tennoo Koodoo Seishin” inilah negara Dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, men-dirikan negara Arabia di atas satu “Weltanschauung”, bahkan di atas satu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh Paduka tuan Ketua yang mulia: Apakah “Weltan­schauung” kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?

Tuan-tuan sekalian, “Weltanschauung” ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam “Weltan­schauung”, bekerja mati-matian untuk me  “realiteitkan” “Weltan­schauung” mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan. Tidak! Sebab misal­nya, walaupun menurut perkataan John Reed: “Sovyet-Rusia didirikan di dalam 10 hari oleh Lenin c.s.”, – John Reed, di dalam kitabnya: “Ten days that shook the world”, “sepuluh hari yang menggoncangkan dunia” -, walaupun Lenin mendirikan Sovyet­ Rusia di dalam 10 hari, tetapi “Weltan-schauung” nya telah tersedia berpuluh-puluh tahun. Terlebih dulu telah tersedia “Weltanschauung”- nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekadar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu di atas “Welt­anschauung” yang sudah ada. Dari 1895 “Weltanschauung” itu telah disusun. Bahkan dalam revolutie 1905, Weltanschauung itu “dicobakan”, di “generale-repetitie” – kan.

Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri “generale-repetitie” daripada revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum 1917, “Weltan­schauung” itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudian, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed, hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruhkan kekuasaan itu di atas “Weltanschauung” yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?

Di dalam tahun 1933 Hitler manaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-Sozialistische- Welt­anschauung.

Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya “Welt­anschauung” itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiar­kan pula, agar supaya Naziisme ini, “Weltan-schauung” ini, dapat menjelma dengan dia punya “Munchener Putsch”, tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya yang beliau dapat merebut kekuasaan dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar “Welt­anschauung” yang telah dipropa-gandakan berpuluh-puluh tahun itu.

Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka tuan Ketua, timbullah pertanyaan: Apakah “Weltanschauung” kita, untuk mendirikan negara Indone­sia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialime? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan oleh doktor Sun Yan Sen?

Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiong­kok merdeka, tetapi “Weltanschauung” nya telah dalam tahun 1885, kalau saya tidak salah, dipikirkan, dirancangkan.   Di dalam buku “The three people’s principles” San Min Chu I, -Mintsu, Minchuan, Min Sheng, – nasionalisme, demokrasi, sosialisme, – telah digambarkan oleh doktor Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau men-dirikan negara baru di atas “Weltanschauung” San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.

Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas “Weltanschauung” apa? Nasional-sosialisme – kah, Marxisme – kah, San Min Chu I – kah, atau “Weltanschauung” apakah?

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan, – macam-macam -, tetapi alangkah benarnya perkataan dr.Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grondslag, mencari satu “Weltan-schauung” yang  k i t a  s e m u a  setuju. Saya katakan lagi       s e t u j u ! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Liem Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita b e r s a m a – s a m a setujui. Apakah itu? Pertama-tama, saudara-saudara saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indo­nesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-­saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semua-nya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, – tetapi “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25 tahun lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indo­nesia, ialah dasar  kebangsaan.

Kita mendirikan satu negara k e b a n g ­s a a n  Indonesia.

Saya minta, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara­-saudara Islam lain: maafkanlah saya memakai perkataan “kebang­saan” ini! Sayapun orang Islam. Tetapi saya minta ke-pada saudara­-saudara, janganlah saudara-saudara salah paham jikalau saya kata­kan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar k e b a n g s a a n. Itu bukan berarti satu kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu                 N a t i o n a l e  S t a a t, seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak tuan­pun adalah orang Indonesia, nenek tuanpun bangsa Indonesia, datuk-datuk tuan, nenek moyang tuanpun bangsa Indonesia. Di atas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia.

S a t u  N a t i o n a l e  S t a a t ! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya urai-kan lebih jelas dengan mengambil tempo sedikit: Apakah yang di­namakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa?

Menurut Renan syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu”. Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu.

Ernest Renan menyebut syarat bangsa:

       “le desir d’etre en­semble”,

yaitu kehendak akan bersatu. Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu satu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.

Kalau kita lihat definisi orang lain, yaitu definisi Otto Bauer, di dalam bukunya “Die Nationalitatenfrage”, di situ ditanyakan: “Was ist eine Nation?” dan dijawabnya ialah:

“Eine Nation ist eine aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft”.

Inilah menurut Otto Bauer satu natie. (Bangsa adalah satu per­satuan perangai yang timbul karena persatuan nasib).

Tetapi kemarinpun, tatkala, kalau tidak salah, Profesor  Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang terhormat Mr. Yamin berkata: “verouderd”, “sudah tua”. Memang tuan-tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah “verouderd”, sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah tua. Sebab tatkala Ernest Renan mengadakan definisinya itu, tatkala Otto Bauer mengada-kan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap baru, satu ilmu baru, yang dinamakan Geopolitik.

Kemarin, kalau tidak salah, saudara Ki Bagoes Hadikoe-soemo, atau tuan Moenandar, mengatakan tentang “Persatuan antara orang dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya!

Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipi­sahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekadar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan “Gemeinschaft” nya dan perasaan orangnya, “1′ame et le desir”. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu t a n a h a i r. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah swt membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana “kesatuan-kesatuan” di situ. Seorang anak kecilpun, jikalau ia melihat peta dunia ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara 2 lautan yang besar, lautan Pacific dan lautan Hindia, dan di antara 2 benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengata-kan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan. Demikian pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir Timur benua Asia sebagai “golfbreker” atau pengadang gelombang laut­an Pacific, adalah satu kesatuan.

Anak kecilpun dapat melihat, bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh lautan Hindia yang luas dan gunung Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengata-kan, bahwa kepulauan Inggeris adalah satu kesatuan.

Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai satu kesatuan pula. Itu ditaruhkan oleh Allah swt demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan Athene saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athene plus Macedonia plus daerah Yunani yang lain-lain, segenap kepulauan Yunani. adalah satu kesatuan.

Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita. tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesia lah tanah air kita. Indonesia yang bulat. bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah swt menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera, itulah tanah air kita!

Maka jikalau saya ingat perhubungan antara orang dan tempat, antara rakyat dan buminya, maka tidak cukuplah definisi yang dikatakan oleh Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup “le desir d’etre ensemble”, tidak cukup definisi Otto Bauer, “aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charakter-gemeinschaft” itu.

Maaf saudara-saudara, saya mengambil contoh Minang-kabau. Di antara bangsa di Indonesia, yang paling ada “le desir d’etre ensem­ble”, adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2­ milyun. Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minang­kabau bukan satu kesatuan, melainkan hanya satu bagian kecil daripada satu kesatuan! Penduduk Yogya pun adalah merasa “le desir d’etre ensemble”, tetapi Yogya pun hanya satu bahagian kecil daripada satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan “le desir d’etre ensemble”, tetapi Sunda pun hanya satu bagian kecil daripada satu kesatuan.

Pendek kata, bangsa Indonesia, Natie Indonesia, bukanlah sekadar satu golongan orang yang hidup dengan “le desir d’etre ensemble” di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indo­nesia ialah s e l u r u h manusia-manusia yang menurut geopoli­tik yang telah ditentukan oleh Allah swt, tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatera sampai ke Irian! S e 1 u r u h n y a ! , karena antara manusia 70.000.000 ini sudah ada “le desir d’etre ensemble”, sudah terjadi “Charakter­gemeinschaft”! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indone­sia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi  s a t u ,  s a t u , sekali lagi  s a t u !

(Tepuk langan hebat).

Ke sinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nation­ale Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan di antara tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan “golongan kebangsaan”.

Ke sinilah kita harus menuju semuanya.

Saudara-saudara, jangan orang mengira, bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Beieren, bukan Saksen adalah nationale staat, tetapi seluruh Jer­mania lah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italia lah, yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang di Utara di-batasi oleh pe­gunungan Alpen, adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segitiga India ah nanti harus menjadi nationale staat.

Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu, adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sriwijaya dan di jaman Majapahit. Di luar dari itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-­raja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram, meskipun merdeka, bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata, bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, saya berkata, bahwa kerajaannya di Banten, meskipun merdeka, bukan satu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanoedin di Sulawesi yang telah mem­bentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat.

Nationale staat hanya Indonesia s e 1 u r u h n y a, yang telah berdiri di jaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bernama-sama menjadi dasar satu nationale staat. Maaf, Tuan Liem Koen Hian. Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan Fuku Kaityoo, Tuan menjawab: “Saya tidak mau akan kebangsaan”.

TUAN LIEM KOEN HIAN:
Bukan begitu. Ada sambungannya lagi.
TUAN SOEKARNO:

Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena tuan Liem Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk paham kosmopolitisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya “menschheid”, “perike­manusiaan”. Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa    a d a kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah HBS di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, – katanya: jangan ber-paham kebangsaan, tetapi berpaham­lah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebang­saan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, – ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya “San Min Chu I” atau “The Three People’s Principles”, saya mendapat pelajaran yang mem­bongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsan, oleh pengaruh “The Three People’s Principles” itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indone­sia yang dengan perasaan hormat-sehormat-hormatnya merasa berterimakasih kepada Dr. Sunn Yat Sen, – sampai masuk ke lobang kubur.

(Anggota-anggota Tionghoa bertepuk tangan)

Saudara-saudara. Tetapi…, tetapi…, memang prin­sip ke-bangsaan ini ada bahayanya! Bahayanya ialah mungkin orang-orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, se-hingga berpaham “Indonesia uber Alles”. Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mem­punyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bagian kecil saja daripada dunia! Ingatlah akan hal ini!

Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsa-an saya adalah perikemanusiaan”.

“My nationalism is humanity”.

Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan “Deutschland uber Alles”, tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya bangsanya minulyo, beram­but jagung dan bermata biru, “bangsa Aria”, yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas azas demikian, Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah filosofisch prin­cipe yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-Tuan, yang boleh saya namakan ” i n t e r n a s i o n a l i s m e “. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud k o s m o p o l i t i s m e, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggeris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya.

Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2, yang pertama-tama saya usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.

Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indo­nesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua, semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak   un­tuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk me-meli­hara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam, – maaf beribu-­ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna, – tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.

Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang ter-besar daripada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indo­nesia rakyat yang bagian terbesarnya rakyat Islam, dan jikalau me­mang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.

Malah­an saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, h i d u p l a h Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa % yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun ter­utama yang Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.

Dalam perwakilan nanti ada per­juangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-­betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-­akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat! Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara Islam dan saudara-­saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-per­aturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-ma­tian, agar supaya sebagian besar daripada utusan-utusan yang masuk badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil, – fair play! Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada per­geseran pikiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah saudara-saudara prin­sip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan!

Prinsip No. 4 sekarang saya usulkan. Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejah­teraan, prinsip: tidak akan ada kemiskin­an di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy, socialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, saudara-saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democratie. Tetapi tidakkah di Eropa justru kaum kapitalis merajalela?

Di Amerika ada suatu badan perwakilan rakyat, dan tidak-kah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-­badan perwakilan rakyat yang diadakan di sana itu, sekadar menu­rut resepnya Fransche Revolutie. Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan democratie di sana itu hanyalah   p o l i t i e k e  d e m o c r a t i e saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid, – takada keadilan sosial, tidak ada      e k o n o m i s ­c h e  d e m o c r a t i e sama sekali. Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures, yang menggam­barkan politieke democratie.”Di dalam Parlementaire Democra­tie”, kata Jean Jaures, “di dalam Parlementaire Democratie, tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk di dalam parle­men. Tetapi adakah Sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?”

Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi:

“Wakil kaum buruh yang mempunyai hak p o l i t i k itu, di dalam Parlemen dapat menjatuhkan minister. la seperti Raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di kalangan paberik, – sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar ke luar ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa”.

Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki?

Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demo­krasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusya-waratan yang memberi hidup, yakni politieke economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu-Adil? Yang dimaksud dengan paham Ratu-Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya a d a keadil­an, di bawah pimpinan Ratu-Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan p o 1 i t i k, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan e k o n o m i kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang  b e r s a m a  d e n g a n                m a s y a­ r a k a t dapat mewujudkan dua prinsip: politieke recht­vaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama, saudara­saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan kepala negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monar­chie. Apa sebab?  Oleh karena monarchie “vooronderstelt erfe­lijkheid”, – turun-temurun. Saya orang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negarapun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, mau­pun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indo­nesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anak-nya Ki Hadi­koesoemo dengan sendirinya, dengan otomatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepa­da prinsip monarchie itu.

Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5?

Saya telah menge­mukakan 4 prinsip:

1. Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme, – atau perikemanusiaan

3. Mufakat, – atau demokrasi.

4. Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Prinsip K e t u h a n a n ! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber­tuhan, Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menu­rut petunjuk Isa al Masih, yang Islam ber-Tuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad saw, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita se­muanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara ke­budayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama”.

Dan hendaknya N e g a r a Indonesia satu N e g a r a yang    ber-Tuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang b e r k e a d a b a n. Apakah cara yang berkeadaban itu?

Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

(Tepuk tangan sebagian hadirin).

Nabi Muhammad saw telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain, Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indo­nesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima daripada Negara kita, ialah  K e t u h a n ­a n   y a n g   b e r k e b u d a – y a a n, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketu­hanan Yang Maha Esa!

Di sinilah, dalam pengkuan azas yang kelima inilah, saudara-­saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan ber-Tuhan pula!

Ingatlah, prinsip ketiga, permufakatan, perwakilan, di situlah tempatnya kita mempropagandakan ide kita masing-masing de­ngan cara yang tidak onverdraagzaam, yaitu dengan cara yang berkebudayaan!

Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan d a s a r. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indera. Apa lagi yang lima bilangannya?

(Seorang yang hadir: Pendawa Lima).

Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasio­nalisme, mufakat, kesejahteraan dan ke-Tuhanan, lima pula bilang­annya.

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman akhli bahasa – namanya ialah    P a n c a s i l a.

Sila artinya a z a s atau d a s a r, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.

(Tepuk tangan riuh).

Atau, barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar­dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan perikemanusiaan, saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan socio-nasionalisme.

Dan Demokrasi yang bukan demokrasi barat, tetapi politiek­economische democratie, yaitu politieke demokrasi dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi d e n g a n kesejahteraan, saya peraskan pula menjadi satu: Inilah yang dulu saya namakan socio – democratie.

Tinggal lagi ke-Tuhanan yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socio-national­isme, socio-demokratie, dan ke-Tuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indo­nesia, yang kita semua harus mendukungnya. S e m u a    b u a t  s e m u a ! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indo­nesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, - semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong!

(Tepuk tangan riuh-rendah).

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggam­barkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama – sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang ber­sama, pemerasan keringat bersama, perjoangan bantu-binantu ber­sama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepent­ingan bersama! Itulah Gotong Royong!

(Tepuk tangan riuh-ren­dah).

Prinsip Gotong Royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, saudara-saudara, yang saya usulkan kepada saudara-­saudara.

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: Trisila, Ekasila ataukah Pancasila? Isinya telah saya katakan kepada saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usul­kan kepada saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu. Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, saudara-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia, – di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa kita mendirikan negara Indo­nesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indo­nesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambat laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah s.w.t.

Berhubungan dengan itu, sebagai yang diusulkan oleh be­berapa pembicara-pembicara tadi, barangkali perlu diadakan noodmaatregel, peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah saudara-saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltan-schauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan In­donesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perike­manusiaan; untuk permufakatan; untuk sosiale rechtvaardigheid; untuk ke-Tuhanan. Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun. Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu Weltan­schauung dapat menjelma dengan sendiri-nya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realiteit, jika tidak dengan per­juangan!

Janganpun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, janganpun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen!

“De Mensch”, – manusia! – , harus perjuangkan itu. Zonder perjuangan itu tidakkah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjuangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa Tionghoa, saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit. Janganpun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit (tertulis di atas kertas), tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjuangan manusia yang dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis di dalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perju­angan umat Kristen.

Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang mer-deka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar per­musyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale re­chtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ke-Tuhanan yang luas dan sempurna, – janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan.

Jangan mengira bahwa dengan berdiri­nya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu padu, berjuang t e r u s menyeleng­garakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila. Dan teru­tama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu saudara-saudara, bahwa Indonesia Mer­deka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani men­gambil resiko, – tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekadkan mati-matian untuk mencapai mer­deka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, – merdeka atau mati” !

(Tepuk tangan riuh)

Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap “ver­schrikkelijk zwaarwichtig” itu.

 

Terima kasih!

 

(Tepuk tangan riuh rendah dari segenap hadirin.)

Lampiran 1

 

PEMBUKAAN

(Preambule)

 

UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA

TAHUN 1945

 

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

 

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pimtu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

 

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan  dengan ini kemerdekaannya.

 

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam sauatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.  

Lampiran 2

 

D E K R I T  P R E S I D E N

 

Dengan Rakhmat Tuhan Yang Maha Esa

 

KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/
PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG

 

Dengan ini menyatakan dengan khidmat:

 

Bahwa anjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945, yang disampaikan kepada segenap Rakyat Indonesia dengan Amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959, tidak memperoleh keputusan dari Konstituante sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara;

 

Bahwa berhubung dengan pernyataan sebagian terbesar Ang­gota-anggota Sidang Pembuat Undang Undang Dasar untuk tidak menghadiri lagi sidang, Konstituante tidak mungkin lagi menyele­saikan tugas yang dipercayakan oleh Rakyat kepadanya;

 

Bahwa hal yang demikian menimbulkan keadaan keta­tanegaraan yang membahayakan persatuan dan keselamatan Negara, Nusa dan Bangsa, serta merintangi pembangunan semesta untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur;

 

Bahwa dengan dukungan bagian terbesar Rakyat Indonesia dan didorong oleh keyakinan kami sendiri, kami terpaksa menem­puh satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Negara Proklamasi;

 

Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut;

 

Maka atas dasar-dasar tersebut di atas.

 

 

KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/
  PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG

 

Menetapkan pembubaran Konstituante;

 

Menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan Dekrit ini, dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar Sementara.

 

Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang terdiri atas Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-­golongan, serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Se­mentara, akan diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

 

 

 

Ditetapkan di Jakarta
       pada tanggal 5 Juli 1959

 

 

Atas nama Rakyat Indonesia,

 

 

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/
PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG

 

 

 

 

 

 

SOEKARNO

 

 

A N J U R A N KU

KEPADA SEGENAP BANGSA INDONESIA

 

Ceramah Presiden
Pada Pertemuan Gerakan Pembela Pancasila
di Istana Pada Tanggal 17 Juni 1954

 

Saudara-saudara sekalian

Lebih dahulu saya mengucap banyak-banyak terima kasih kepada Saudara-saudara sekalian, bahwa Saudara-saudara pada malam ini memerlukan datang di sini untuk bersilaturahmi dengan kepala negara serta Ibu Soekarno.

Sekarang saya diminta untuk membuat ceramah. Ceramah yang terutama sekali mengenai hal Pancasila dasar dan azas negara Republik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agus­tus 1945. Kadang-kadang saya mendengar sebutan “Gerakan Pembela Pancasila”.

Sebenarnya sebutan yang demikian itu kurang lengkap. Harusnya, ialah “Gerakan Pembela Pancasila Sebagai Dasar Negara”. Kalau sekadar dinamakan “Pembela Pancasila”, maka berarti bahwa Pancasila itu harus dibela. Dan dengan sendirinya timbullah pertanyaan: Apakah Pancasila itu harus dibela? Perta­nyaan ini ada hubungannya dengan paham atau pendapat yang pernah dikemukakan oleh salah seorang Saudara bangsa kita, bahwa Pancasila adalah buatan manusia.

Saudara-saudara

Dalam hubungan ini buat kesekian kalinya saya katakan, bahwa saya bukanlah pencipta Pancasila, saya bukanlah pembuat Pancasila. Apa yang saya kerjakan tempo hari, ialah sekadar memformulir perasaan-perasaan yang ada di dalam kalangan rak­yat dengan beberapa kata-kata, yang saya namakan “Pancasila”. Saya tidak merasa membuat Pancasila. Dan salah sekali jika ada orang mengatakan bahwa Pancasila itu buatan Soekarno, bahwa Pancasila itu buatan manusia. Saya tidak membuatnya, saya tidak menciptakannya. Jadi apakah Pancasila buatan Tuhan, itu lain pertanyaan.

Aku bertanya. Aku melihat daun daripada pohon itu hijau. Nyata hijau itu bukan buatanku, bukan buatan manusia. Apakah warna hijau daripada daun itu dus buatan Tuhan? Terserah kepada Saudara-saudara untuk menjawabnya. Aku sekadar konstateren, menetapkan dengan kata-kata satu keadaan.

Di dalam salah satu amanat yang saya ucapkan di hadapan resepsi para penderita cacat beberapa pekan yang lalu, saya berkata bahwa saya sekadar menggali di dalam bumi Indonesia dan men­dapatkan lima berlian, dan lima berlian inilah saya anggap dapat menghiasi tanah air kita ini dengan cara yang seindah-indahnya. Aku bukan pembuat berlian ini; aku bukan pencipta dari berlian ini, sebagaimana aku bukan pembuat daun yang hijau itu. Padahal aku menemukan itu ada daun hijau. Jikalau ada seseorang Saudara berkata bahwa Pancasila adalah buatan manusia, aku sekadar menjawab: “Aku tidak merasa membuat Pancasila itu; tidak merasa mencipta Pancasila itu”.

Aku memang manusia. Manusia dengan segala kedaifan dari­pada manusia. Malahan manusia yang tidak lebih daripada Saudara-saudara yang kumaksudkan itu tadi. Tetapi aku bukan pembuat Pancasila; aku bukan pencipta Pancasila. Aku sekadar memformulirkan adanya beberapa perasaan di dalam kalangan rakyat yang kunamakan “Pancasila”. Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu ada hidup lima perasaan. Lima perasaan ini dapat dipakai sebagai mempersatu daripada bangsa Indonesia yang 80 juta ini. Dan tekanan kata memang kuletak-kan kepada daya pemersatu daripada Pancasila itu.

Di belakangku terbentang peta Indonesia, yang terdiri dari berpuluh-puluh pulau yang besar-besar, beratus-ratus, beribu-ribu bahkan berpuluh-puluh ribu pulau-pulau yang kecil-kecil. Di atas kepulauan yang berpuluh-puluh ribu ini adalah hidup satu bangsa 80 juta jumlahnya. Satu bangsa yang mempunyai aneka warna adat-istiadat. Satu bangsa yang mempunyai aneka warna cara berpikir. Satu bangsa yang mempunyai aneka warna cara mencari hidup. Satu bangsa yang beraneka warna agama-nya.

Bangsa yang berdiam di atas puluhan ribu pulau antara Sabang dan Merauke ini, harus kita persatukan bilamana bangsa ini ingin tergabung di dalam satu negara yang kuat. Maksud kita yang pertama sejak daripada zaman kita melahirkan gerakan nasional ialah mempersatukan bangsa yang 80 juta ini, dan kemudian memerdekakan. Menggabungkan bangsa yang 80 juta ini di dalam satu negara yang kuat. Kuat, karena berdiri di atas kesatuan geografi, kuat pula oleh karena berdiri di atas kesatuan tekad.

Pada saat kita menghadapi kemungkinan untuk mengadakan proklamasi kemerdekaan, – dan alhamdulillah bagi saya pada saat itu bukan lagi kemungkinan tetapi kepastian -, kita meng­hadapi soal bagaimanakah negara yang hendak datang ini, kita letakkan di atas dasar apa. Maka di dalam sidang daripada para pemimpin Indonesia seluruh Indonesia, dipikir-pikirkan soal ini dengan cara yang sedalam-dalamnya. Di dalam sidang inilah buat pertama kali sayan formuleren apa yang kita kenal sekarang dengan perkataan “Pancasila”. Sekadar formuleren, oleh karena lima perasaan ini telah hidup berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ra­tus tahun di dalam kalbu kita. Siapa yang memberi bangsa Indo­nesia akan perasaan-perasaan ini? Saya sebagai orang yang percaya kepada Allah swa. berkata: “Sudah barang tentu yang memberikan perasaan-perasaan ini kepada bangsa Indonesia ialah Allah swa. pula”.

Lima perasaan yang Saudara-saudara kenal dengan perkataan-perkataan:

Ketuhanan Yang Maha Esa,

Kebangsaan Indonesia yang Bulat,

Perikemanusiaan,

Kedaulatan Rakyat,

Keadilan Sosial,

Kelima perasaan ini hidup di dalam kalangan bangsa Indone­sia. Hidup di dalam kalangan bangsa Indonesia sebelum aku dan engkau ada. Lima perasaan ini hanyalah belum pernah diformulir. Aku mempunyai keyakinan, bahwa kalau negara kita didasarkan di atas lima perasaan ini, maka negara kita dapatlah mempunyai territour (wilayah) dari Sabang sampai ke Merauke.

Saudara-saudara mengetahui bahwa tiap-tiap negara barulah boleh disebut negara, jika negara itu memenuhi syarat paling sedikit tiga buah.

Syarat perianza, ialah bahwa negara itu tegas harus mempu­nyai wilayah. Tegas harus mempunyai territour. Tegas harus orang dapat melihat, bahwa ini wilayah negara itu. Sesuatu gerombolan manusia yang tidak tegas akan territournya, yang tidak tegas akan wilayahnya, dan tidak tegas akan batas-batas wilayahnya, gerom­bolan manusia yang demikian itu tidak dapat dinamakan rakyat daripada suatu negara. Syarat yang pertama ini adalah syarat yang mutlak.

Syarat yang kedua, ialah di atas territour tadi, harus ada rakyatnya. Dan rakyatnya ini harus berasa sebagai satu bangsa. Satu bangsa yang di dalam bahasa Jerman dinamakan satu Staat Nation. Meskipun territournya tegas, tetapi jika di atas territour itu rakyatnya hidup tidak karuan, tidak mempunyai hubungan batin satu sama lain, tidak merasakan dirinya sebagai satu Staat Nation, maka bangsa yang demikian itu tidak dapat disebutkan bangsa daripada satu negara. Sebaliknya, walaupun bahasanya berupa­rupa, seperti bangsa Swis, ada yang berbahasa Perancis, ada yang berbahasa Jerman, ada yang berbahasa Italia. tetapi karena mereka merasakan dirinya scbagai satu Staat Nation, dan mempunyai territour yang tegas nyata wilayahnya, maka bangsa yang demikian itu dapat menjadi satu negara.

Svuraf yang ketiga, ialah adanya Pemerintah yang ditaati oleh segenap Staat Nation itu tadi. Bagi sesuatu bangsa yang telah mempunyai wilayah yang tegas, dan rasa Staat Nation yang tegas, tetapi bilamana tidak ada Pemerintah di puncaknya yang mengereh segenap Staat Nation ini di atas segenap wilayah ini, dan kalau Pemerintah ini tidak ditaati oleh segenap Staat Nation itu tadi, niaka di sini perkataan negara pun tidak boleh dipakai.

Maka untuk memenuhi tiga syarat inilah kami tempo hari menggali-gali di dalam bumi Indonesia ini untuk mendapatkan berlian-berlian yang indah, berlian untuk dijadikan hiasan dari­pada negara. Tegasnya untuk mendapat dasar agar supaya negara ini bisa teguh dan selamat. Lebih daripada siapapun juga di kalan­gan bangsa Indonesia ini, aku yang dikaruniai Allah swa. di dalam beberapa tahun ini menjadi Presiden Republik Indonesia, hingga aku telah banyak mengunjungi daerah-daerah daripada tanah air kita ini, mengenal rakyat Indonesia ini di pelbagai daerah itu. Lebih daripada siapapun juga, aku melihat bahwa bangsa Indone­sia ini adalah bangsa yang terdiri daripada aneka warna adat-is­tiadat, aneka warna cara hidup, aneka warna paham keseniannya, aneka warna agamanya. Dan bangsa yang demikian ini memer­lukan satu dasar negara yang dapal menipersatukannya.

Dan alhamdulllah sebagai tadi kukatakan ternyata dasar Pan­casila ini dapat dipakai untuk mempersatukan segenap bangsa Indonesia yang 80 juta dan beraneka warna itu. Di wilayah­wilayah yang,jauh-jauh, orang-orang dengan tegas mengatakan baliwa Pancasila adalah satu-satunya dasar yang dapat dipakai untuk mempersatukan bangsa Indonesia ini. Dan oleh karena kita tidak ingin mempunyai negara dua atau tiga, tetapi kita ingin negara satu (negara kesatuan), niaka marilah kitcr perinhankun Pcrnccrsila ittr sebcrgai duscu• negara. Sebagai dasar negara. kita liarus bela Pancasila ini. Jika kita tidak mart menghadapi ke­mungkinun bangsa Indonesicr ini terpecuh-helah herantakan.

Beberapa minggu yang lalu, aku telah mengunjungi daerah Maluku dan Nusa Tenggara. Aku melihat, sebagian besar dari rakyat di Maluku dan Nusa Tenggara itu menghendaki dasar Pancasila tetap sebagai dasarnya Republik Indonesia kelak ke­mudian hari. Tadi aku katakan bahwa aku hanya sekadar penggali, kemudian sekadar memformuleer, karena kelima perasaan itu memang telah ada di kalbunya bangsa Indonesia sejak berpuluh­puluh bahkan beratus-ratus tahun.

 

Ketuhanan Yang Maha Esa

Aku hendak menceritakan kepada Saudara-saudara lebih da­hulu asalnya istilah Ketuhanan Yang Maha Esa ini. Tatkala pemimpin-pemimpinmu pada pertengahan tahun ’45 mempikir­pikirkan dasar apakah yang pantas dipakai untuk menjadi dasar dari Republik Indonesia yang akan datang, maka mula-mula aku menganjurkan sebagai sila yang pertama, Ketuhanan. Kemudian datanglah perbincangan yang hebat, terutama sekali daripada saudara-saudara pihak Islam yang menghendaki dengan tegas jangan sekadar dinamakan “Ketuhanan” saja tetapi ditambah de­ngan perkataan “Yang Maha Esa”. Dan usul daripada saudara­saudara dari pihak Islam ini, diterima oleh kami semua. Jadi perkataan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, adalah hasil daripada perundingan. Hasil daripada usul dari saudara-saudara pihak Islam yang memang usul itu kami terima dengan segala senang hati. Dari ini saja sudah nyata bahwa Pancasila bukan kuberikan kepada bangsa Indonesia sebagai aku ini diktator. Tidak!!! Dirundingkan. dibicarakan bersama. Dan spesial yang mengenai sila yang per­tama malahan diper-sempurnakan oleh saudara-saudara dari piliak Islam dengan perkataan “Yang Maha Esa” itu tadi.

Ketuhanan, (Ketuhanan di sini saya pakai di dalam arti re­ligieusiteit) itu memang sudah hidup di dalam kalbunya bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh, beratus-ratus dan beribu-ribu ta­hun. Aku menggali di dalam buminya rakyat Indonesia, dan pertama-tama hal yang aku lihat ialah religieusiteit. Apa sebab? Ialah karena bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang hidup di atas tarafiiya agraria, taraf pertanian. Semua bangsa yang masih hidup di atas taraf agraria, tentu religius. (Saya belum memakai perkataan Ketuhanan Yang Maha Esa) tetapi baru saya me-makai perkataan religieusiteit atau kepercayaan kepada suatu hal yang gaib yang menguasai hidup kita ini semua. Perasaan atau keper­cayaan yang demikian itu hidup di dalam kalbunya bangsa-bangsa yang masih hidup di dalam taraf agraria.

Betapa tidak?

Orang yang masih bercocok tanam, bertani, merasa bahwa segenap ikhtiarnya untuk mencari makan ini sama sekali tergan­tung daripadaa satu hal yang gaib. Orang yang bertani memohon supaya turun hujan misalnya. Dari mana hujan harus diminta? Kita mempunyai sawah dan ladang, sawah dan ladang ini ditanami dengan padi atau jagung. Padi akan mati, jika tidak dapat air hujan. Bangsa yang bertani tidak boleh tidak, lantas: “ah, ada satu hal yang gaib, kepada Nya aku mohon supaya diturunkan hujan”. Demikian pula jikalau buah padinya telah hampir tua, sebaliknya dia mohon kering jangan ada hujan yang terlalu lebat. Lagi dia berhadapan dengan satu hal yang gaib. Mungkin dia belum dapat mengatakan bahwa itu yang dinamakan Allah. Atau Tuhan pun mungkin belum ada perkataan itu padanya. Tetapi sekadar kal­bunya penuh dengan permohonan kepada satu zat yang gaib: “Ya gaib, ya gaib, jangan diturunkan hujan, lagi aku sekarang membu­tuhkan kering”. Hujan dan kering tidak dapat dibuat oleh manusia. Hujan clan kering dimohonkan oleh bangsa yang demikian itu kepada sesuatu zat vang gaib.

Belum aku menceritakan hal hama. Hama tikuskah. hama belalangkah, hama baksil-baksilkah. Sama sekali itu di hiar perhi­tungan manusia. Lagi dia mohon kepada satu hal yang gaib: “Ya, gaib berilah jangan sampai tanamanku ini diganggu oleh hama. tikus”. Ya, barangkali dia belum tahu hal-hal kuman-kuman kecil yang dapat membikin sakitnya padi atau jagungnya itu.

Bangsa yang demikian, yang masih di atas taraf agraria, tidak boleh tidak mesti religieus. Sebaliknya bangsa yang sudah hidup di dalam alam industrialisme, banyak sekali yang meninggalkan religieusiteit itu. Aku tidak berkata bahwa itu adalah baik, me­ninggalkan religieusiteit. Tidak! Lagi-lagi aku sekadar kon­stateren. Bangsa yang sudah hidup di dalam alam industrialisme, banyak yang meninggalkan religieusiteit. Apa sebab? Sebabnya ialah karena ia berhadapan – banyak sekali – dengan kepastian­kepastian. Perlu litrik, tidak perlu “oh ya gaib, oh ya gaib”, dengan tekan knop saja, terang menyala. Ingin tenaga, tidak perlu dia memohon ya gaib ya gaib aku ingin tenaga. Dia punya mesin; mesin dia gerakkan, mesin itu bergerak. Di dalam tangannya dia merasa bahwa dia menggenggam kepastian. Ingin perang aku dapat mengadakan perang. Ingin tenaga aku bisa menggerakkan ini mesin. Oleh karena itulah rakyat yang sudah hidup di dalam alam industrialisme banyak yang meninggalkan religieusiteit itu tadi.

Memang pernah kukupas di dalam satu ceramah yang mengenai religieusiteit ini, bahwa religieusiteit ini melewati be­berapa fase pula. Sebab memang masyarakat manusia adalah dinamis. Dinamis di dalam arti selalu bergerak. Masyarakat nianusia tidak berhenti pada satu taraf (tidak statis). Masyarakat manusia berjalan (berevolusi). Masyarakat manusia dinamis. Cara hidup manusia berganti-ganti. Dengan pergantian cara hidup ini, dia punya religieusiteit pun berganti-ganti warna. Tatkala dia masih hidup di dalam hutan rimba-raya, belum dia bertani. Dia hidup di rimba-raya tidak mempunyai rumah. Sekadar dia hidup di dalam gua-gua, di bawah pohon-pohon. Sekadar mencari makan dengan memburu atau mencari ikan. la sudah religieus, tetapi apa yang dia sembah? Dia menyembah petir. Oleh karena dia menge­tahui, kalau memerlukan api: “itu dia, petir itu bisa menyembar pohon dan dia memberi api kepadaku”. Dia menyembah sungai, oleh karena sungailah memberi ikan kepadanya. Bahkan dia menyembah batu, karena batu itulah yang memberi perlindungan kepadanya. Dia menyembah geledek, dalam pikirnya geledek inilah satu zat yang gaib. Pikirannya ada satu zat yang gaib yang turun dari satu mega ke lain mega, dengan mengeluarkan suara gernuruh. Dia adalah religieus, dengan cara dia sendiri.

Tatkala manusia kemudian dari itu tidak lagi hidup di dalam rimba-raya, di dalam gua-gua tetapi hidup dengan beternak, pada waktu itu dia religieus, tetapi ciptaan daripada zat gaib ini lain lagi. Bukan lagi geledek, bukan lagi sungai atau pohon-pohon besar yang rindang-rindang dia sembah, tetapi dia menyembah zat yang berupa binatang-binatang sebagai yang sekarang ini masih ada sisa-sisanya di beberapa bangsa yang menyembah sapi atau bi­natang ternak.

Tatkala manusia hidup di atas taraf pertanian, makin religieus dia tetapi ciptaannya juga berubah daripada bangsa yang masih hidup di rimba-raya dengan memburu dan mencari ikan daripada bangsa yang hidup dengan berternak saja. Tetapi nyata bangsa yang di atas taraf agraria, bangsa yang demikian itu adalah re­ligieus. Terutama sekali karena tanarn-tanamannya tergantung sarna sekali dari gerak-gerik iklim.

Demikian pula bangsa yang sudah meninggalkan taraf agraria dan sudah masuk taraf industrialisme, banyak yang meninggalkan religieusiteit seperti kukatakan tadi, oleh karena dia hidup di dalam alam kepastian. Malah di dalam taraf inilah timbul aliran-aliran yang tidak mengakui adanya Tuhan. Di dalam taraf inilah timbul apa yang dinamakan atheisme. Tetapi _jikalau Saudara-saudara bertanya kepada Bung Karno persoonlijk apakah Bung Karno percaya kepada Tuhan, Bung Karno berkata: “Ya aku percaya kepada Tuhan”. Malahan aku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bukan dua bukan tiga. Tuhan yang satu. Tuhan yang menguasai segala hidup. Ciptaan manusia yang berubah-ubah. Pikiran manusia yang berubah-ubah.

Dulu tatkala manusia hidup di dalam rimba-raya di bawah pohon-pohon dan di gua-gua, dia mengira bahwa Tuhan adalah berupa pohon, petir atau sungai. Dulu tatkala manusia hidup dalam alam peternakan, dia mengira bahwa Tuhan berupa binatang. Sampai sekarang masih ada sisa-sisa bangsa-bangsa yang menyembah kepada binatang. Dulu tatkala manusia hidup di dalam taraf agraria, terutama sekali dulu, diapun mempunyai ciptaan lain daripada Tuhan itu. Dan tatkala manusia masuk di dalam alam industrialisme, banyak yang sudah tidak mengakui kepada Tuhan lagi. Tetapi bagiku sebagai Bung Karno, Tuhan ada. Aku sering menceritakan tentang hal orang buta yang ingin meli­hat rupanya gajah. Ada empat orang buta, semuanya belum pernah melihat rupanya gajah. Datanglah seorang kawan yang hendak menunjukkan kepada mereka itu apa gajah itu. Si Buta yang pertama disuruh maju ke muka, dia meraba-raba dan dia mendapat belalai gajah. Dia berkata: “Oh aku sekarang sudah tahu rupanya gajah, rupanya sebagai ular besar yang bisa dibengkok-bengkok­kan”.

Si Buta nornor dua disuruh tampil ke muka dan dia mencari­cari gajah dan mendapat ekor daripada gajah itu. Lalu dia berkata: “Oh aku sudah tahu rupanya gajah itu seperti cambuk”.

Si nomor tiga lagi maju ke muka. Cari-cari gajah, lalu me­megang kaki gajah. Katanya: “Oh aku sudah tahu gajah rupanya seperti pohon kelapa”. Si nomor empat tampil ke muka (dia cebol) pendek sekali dia punya badan. datang di bawah gajah itu, pegang­pegang tak dapat apa-apa. Katanya: “O aku sudah tahu, gajah rupanya seperti hawa. Gajah tidak ada. Gajah itu seperti hawa ini”.

Seperti orang di dalarn dunia industrialisme mengatakan bah­wa Tuhan tidak ada. Padahal gajah ada. Demikian pula, padahal Tuhan ada. Tetapi ciptaan manusia berganti-ganti. Saudara-saudara.

Aku menceritakan hal ini, untuk mengatakan bahwa bangsa kita yang terutama sekali hidup di atas taraf agraria ini, bahwa bangsa Indonesia itu reliegius. Oleh karena itulah maka sila yang pertama tergalilah olehku hal perasaan ini: Ketuhanan di dalam arti relegieusiteit. Tetapi oleh Saudara-saudara pihak Islam diusul­kan supaya ditambah dengan perkataan: Yang Maha Esa. Dan itu kami terima dengan segala senang hati.

Maka oleh karena itulah sila yang pertama sekarang itu, berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

Kebangsaan

Sudah barang tentu kita yang ingin menjadi bangsa yang satu, harus mengemukakan sila kebangsaan itu. Dan sudah barang tentu rasa kebangsaan itu hidup berkobar-kobar di dalam dada kita. Ialah oleh karena kita sudah 350 tahun dijajah oleh bangsa lain. Sosio­logis, sernua bangsa yang lama dijajah oleh bangsa asing, mesti kalbunya itu berkobar-kobar dengan rasa kebangsaan. Ini boleh dinamakan adalah satu perasaan negatif, reaksi kepada imperial­isme atau kolonialisme. Tetapi rasa kebangsaan ada di dalarn kalbunya tiap-tiap bangsa yang telah lama dijajah oleh bangsa lain. Tetapi seperti Saudara-saudara mengetahui, kebangsaan yang kita kemukakan bukan sekadar kebangsaan negatif. Tetapi juga ke­bangsaan positif. Kebangsa-an yang ingin mengemukakan segala rasa-rasa yang mulia dan luhur yang ada di dalam kalbunya bangsa kita.

Bahkan aku berkata, di dalam hal ini bangsa Indonesia telah memberi contoh yang sebaik-baiknya. Bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa di dunia ini vang belum pernah menjajah bangsa lain. Bangsa Iain pcrnah menjajah Indonesia. Tctapi bukalah kitab sejarah. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang engkau tidak akan mendapat sesuatu bukti bahwa bangsa Indonesia itu pernah menjajah bangsa lain. Tidak! Kita bangsa Indonesia di dalam rasa nasionalismne kita suci murni sebagai satu bangsa yang bukan saja menjunjung tinggi kepada nasionalisme atau kebangsaan, tetapi juga sebagai satu bangsa yang hidup di dalam alam perikemanu­siaan sebagai yang terlukiskan di dalam sila ketiga daripada Pan­casila itu.

Seluruh bangsa di Asia sekarang masih hidup di dalam rasa kebangsaan itu. Nasionalisme adalah salah satu faktor mental yang penting sekali di dalam segenap dunia dari Magribi (daerah paling Barat dari Afrika) sampai ke daerah Pasifik. Apa sebab? Ialah karena bangsa-bangsa yang dinamakan bangsa Afrika dan Asia ini tidak berselang lama masih hidup di dalam alam penjajahan, dijajah oleh kolonialisme, diperintah oleh bangsa lain, ditindas oleh bangsa asing, dihisap oleh kekuasaan-kekuasaan dari luar. Bangsa-bangsa yang demikian itu tidak boleh tidak tentu kalbunya itu hidup dengan keinginan kembali kepada pribadi sendiri, yaitu yang dinamakan kebangsaan. Tetapi bangsa Indonesia adalah istimewa. Ialah oleh karena bangsa Indonesia ini terutama sekali hidupnya di persimpangan jalan. Persimpangan jalan dari Asia ke Australia, dari lautan Teduh ke lautan Hindia. Bangsa yang dari zaman purbakala sudah belajar kenal dengan bangsa-bangsa yang lain. Bangsa yang tidak pernah hidup eksklusif. Bangsa yang tidak pernah hidup isolationistis. Bangsa yang tidak pernah hidup menyen-diri. Bangsa yang merasa dirinya tertindas benar. Bangsa yang merasa dirinya terjajah benar. Bangsa yang ingin merdeka benar. Bangsa yang ingin bersatu benar. Bangsa yang dus ber­nasionalisme benar. Tetapi nasionalismenya tidak pernah sekadar negatif, tetapi positif. Ialah karena bangsa Indonesia itu sebagai tadi kukatakan tidak pernah terpencil daripada bangsa -bangsa yang lain.

 

Perikemanusiaan

Rasa perikemanusiaan antara lain-lain bisa diterangkan daripada inilah yang bangsa Indonesia tidak pernah hidup isola­tionistis, yang bangsa Indonesia seperti hidup di dalam satu gedung yang pintu-pintunya terbuka, jendela-jendelanya terbuka. Hawa segar dapat masuk ke dalam gedung bangsa Indonesia itu. (Dengan demikian, bangsa Indonesia itu tidak pernah di dalam kalbunya pula, isolationistis). Selalu mem-punyai rasa manusia dengan manusia dengan manusia dengan bangsa apapun. Apalagi kita sejak daripada zaman dulu mendapat didikan-didikan perike­manusiaan yang beraneka warna.

Ambil misalnya agarna Hindu, yang sudah ribuan tahun yang lalu datang di Indonesia. Apa ajaran agarna Hindu, yang dulu itu boleh dikaakan agarna dari sebagian besar daripada bangsa Indo­nesia ini? Apa ajaran agarna Hindu yang telah memasuki jiwa Indonesia beratus-ratus tahun lamanya. Di dalam agama Hindu ada satu ajaran dalam bahasa Sanskritnya berbunyi: Tat Twam Asi. Apa artinya Tat Twam Asi? Sering di zarnan Hindu orang menun­juk dirinya dan diri orang lain Tat Twam Asi. Apa artinya Tat Twam Asi? Dia adalah aku, aku adalah dia. Itulah artinya Tat Twam Asi. Aku adalah dia, dia adalah aku, ini adalah rasa peri­kemanusiaan. Yang sudah di-cekokkan ke dalam jiwa kita beratus­ratus tahun bahkan beribu-ribu tahun yang lalu.

Kemudian kita mendapat pula didikan agama Islam. Tidak-kah agama Islanl itu justru satu agama perikemanusiaan? Tidak-kah agama Islam itu sejak dari dahulu memberi pengajaran kepada kita hal kifayah, hal kemasyarakatan, sampai misalnya diadakan fardhu kifayah. Jangan sekadar memikirkan saja kepada diri sendiri, tetapi ingat kepada kifayah, fardhu kifayah. Masyarakat, masyarakat. Dan tidakkah ajaran daripada Islam ini telah menye­rak pula di dalarn darah-daging bangsa Indonesia?

Engkau menghendaki agama Kristen, tidakkah agama Kristen pula mengajarkan hal perikemanusiaan itu? Tidakkah agama Kris­tcn pula mengajarkan het God lccft bovcn alles, en Uw naasten ggelijk U zelven.

Sesama manusia harus dicintai, seperti mencintai diri kita sendiri. Jadi jikalau aku menggali rasa perikemanusiaan di dalam bumi Indonesia, itu adalah satu hal yang tidak meng-herankan. Sebagaimana juga tidak mengherankan jikalau aku menggali rasa Ketuhanan di dalam bumi Indonesia. Sebagai-mana juga tidak mengherankan jikalau aku menggali rasa kebangsaan di dalam kalbunya bangsa Indonesia.

Kedaulatan Rakyat

Demikian pula kalau aku menggali kecintaan kepada Kedau­latan Rakyat di dalam kalangan bangsa Indonesia. Itupun tidak mengherankan, bahwa bangsa Indonesia ini memang beribu-ribu tahun hidup di dalam alam demokrasi itu, walaupun demokrasi kita tidak sebagai apa yang dinamakan parlementaire atau Westerse democratie sekarang ini. Sejak zaman dahulu kita ini adalah bangsa yang demokratis. Sejak zaman dahulu kita memu­syawaratkan segala sesuatu yang mengenai masyarakat kita. Se­belum ada teori-teori Montesqieu, Voltaire, Rousseau, sebelum teori trias-politica, sebelum ada parlemen-parlemen di dunia barat, kita sudah menjalankan demokrasi di dalam bentuk secara kuno. Tetapi demokrasi telah ada. Oleh karena itu rasa demokrasi ini tidak asing lagi bagi kita.

Sebelum ada parlemen-parlemen, kita telah mempunyai cara berpernerintah di desa-desa, dan di negara-negara yang demokrasi, walaupun demokrasinya itu adalah demokrasi yang sesuai dengan zaman itu.

 

Keadilan Sosial

Demikian pula kalau aku menggali di dalarn bumi Indonesia ini perasaan Keadilan Sosial. Tidaklah mengherankan pula, terutama sekali di dalam alam imperialisme kita gandrung kepada keadilan sosial. Kita gandrung kepada satu keadaan yang mem­berikan nyaman hidup kepada kita. Kita gandrung kepada cukup makan, cukup pakaian, cukup perumahan yang layak. Tidak perlu kuceritakan kepada Saudara-saudara betapa akibatnya imperial­isme, kolonialisme, penjajahan kepada kehidupan dan perikehi­dupan kita. Kita bangsa Indonesia yang dahulu hidup di dalam alam kemakmuran, kita menjadi satu bangsa yang miskin di dalam alam imperialisme itu. Tidakkah dulu Saudara mengenal ucapan bahwa bangsa Indonesia dapat hidup dari uang 2 sen atau sebeng­gol seorang sehari karena isapan daripada kaum imperialisme itu. Padahal kalau kita melihat kitab-kitab zaman kuno yang meng­ingatkan kita akan zaman yang makmur itu: gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kartoraharjo. Diceritakan masyarakat kita di zaman dahulu sampai poezie kita membawa alam yang seindah­indahnya mengenai keadilan sosial itu. Kadang-kadang aku menyuruhkan dalang, jika dalang telah menceritakan kemakmur­an bangsa kita di zaman dahulu, toto tentrem kartoraharjo katanya, gemah ripah loh jinawi, poro kawulo ijeg rumagang ing gawe, tebih saking cecengilan, adoh saking laku juti, bebek ayam rajo­koyo enjang medal ing pangonan surup bali ing kandange dewe­dewe.

Sampai bebek dan ayam dikatakan pagi-pagi keluar sendiri ke tempat penggembalaan. Pada waktu magrib ternak ayam bebek ini pulang ke kandangnya masing-masing.

Kemudian datang imperialisme hidup di dalam alam kemis­kinan. hidup dari sebenggol seorang sehari. Sebagai Dr Huender mengatakan een natie van loontrekkers en een koelie onder de naties. llidup dalam alam kesederhanaan, hidup di dalam alam kepapaan, kekurangan. Herankah kita bahwa kita lantas hidup di dalam alam idealisme ini ingin kepada keadilan sosial? Bahwa bangsa Indonesia gandrung kepada keadilan sosial itu? Heran-kah kita bahwa bangsa Indonesia itu mengenang-ngenangkan akan datangnya seseorang ratu adil yang bisa memberi “sandang pa­ngan” yang layak kepada bangsa Indonesia itu? Dan herankah kita kalau aku menggali sila kelima ini dari buminya bangsa Indonesia yang hidup papa sengsara dan gandrung kepada keadilan sosial itu? Tidak!

Maka sekali lagi Saudara-saudara dan adik-adikku aku sekadar menggali keadaan-keadaan yang nyata, kemudian aku formuleer dan formuleer inilah dinamakan Pancasila. Kemudian tatkala aku menjadi Presiden Republik Indonesia dan mengun­jungi daerah-daerah di seluruh Indonesia dari Sabang sampai hampir ke Merauke makin teguh perasaanku bahwa hanya Pan­casila inilah harus kita pertahankan sebagai dasar negara. Aku melihat bahaya yang besar mengancam keruntuhan negara kita ini jikalau dasar Pancasila tidak kita pertahankan untuk dasar negara kita. Jangan Pancasila diaku oleh sesuatu partai! Jangan ada se­suatu partai berkata: Pancasila adalah azasku.

PNI tetaplah kepada azas Marhaenisme. Dan PNI boleh berkata justru karena PNI berazas Marhaenisme, oleh karena itulah PNI mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Tetapi jangan berkata PNI berdasarkan Pancasila. Sebab jikalau di­katakan Pancasila adalah ideologi satu partai, lalu partai-partai lain tidak mau.

Oleh karena itu aku ulangi lagi. Pancasila adalah dasar negara dan harus kita pertahankan sebagai dasar negara jika kita tidak mau mengalami bahaya besar terpecahnya negara ini. Saudara-saudara.

Hal negara, jagalah negara jangan sampai negara ini pecah. Untuk apa kita bcrjuang bcrpuluh-puluh tahun, tidakkah untuk negara ini? Dan tadi sebagai kuterangkan tidakkah kita telah gandrung kepada kesatuan dari Sabang sampai ke Merauke? Menggandrwngi satu negara yang meliputi satu territour dari Sabang sampai ke Merauke itu? Tidakkah itu tujuan perjuangan kita, hal yang baginya kita telah rela berkorban? Tidakkah untuk itu pemuda-pemuda kita rela mati di medan pertempuran? Tidak­kah untuk itu kita mempunyai bangsa berkorban sampai sudah tidak bisa dinamakan pengorbanan lagi, karena pedihnya sudah tiada hingga lagi? Tidakkah untuk negara yang satu ini kita ber­juang berpuluh-puluh tahun dan kemudian kita bertempur di dalam revolusi bertahun-tahun pula?

Negara adalah “wadah”. Dari territour Sabang sampai ke Merauke ini adalah harus terbentang satu wadah yang besar. Di dalam wadah ini adalah masyarakat. Dan kalau Saudara-saudara atau siapapun, ingin masukkan ideologi, masukkanlah di dalam masyarakat ini! Ini tegas kukatakan beda antara wadah dengan masyarakat yang di dalam wadah ini.

Yang harus di sini itu, masyarakatnya. Wadahnya ini, jangan sampai retak. Engkau mempunyai wadah yang berupa piring, berupa gelas ataupun berupa bejana. Di dalam wadah itu dapat engkau isikan air, bier, stroop, kecap, segala apa yang dapat. Tetapi janganlah wadah ini retak. Negara menurut teori populer, adalah wadah. Menurut teori lain-lain, macam-macam. Misalnya salah satu teori yang amat terkenal, ialah teori daripada Marx. Karl Marx berkata bahwa negara adalah sekadar satu organisasi. Organisasi kekuasaan (macht organisatie) kata Marx. Apa sebab katanya, karena di dalam masyarakat selalu ada dua kelas yang bertentang­an satu sarna lain. Kelas yang satu menundukkan kelas yang lain dan ingin mengekalkan penundukannya ini dan untuk menunduk­kan itu, kata Marx, maka kelas yang menang ini mengadakan macht-organisatie yang dinamakan negara. Ini teori Marx tentang negara.

Lenin. komunis yang terkenal malahan lebih populer Iagi mcngatakan. Pernah orang bertanya kepada Tovarich Lenin, apa negara itu? Lenin menjawab “de staat is een knuppel” (negara adalah pentung). Di dalam cara berpikir kaum Marxist memang iiegara adalah satu pentung. Negara adalah macht organisatie kata Marx sendiri. (organisasi kekuasaan daripada satu kelas yang berkuasa). Organisasi kekuasaan ini bisa dipakai untuk memen­tung ke Iuar, dapat dipakai untuk mementung ke dalam. Memen­tung ke luar, yaitu kalau ada musuh dari Iuar datang hendak menyerbu. Maka dihadapi dengan organisasi negara ini, dihadapi dengan alat-alat kekuasaan daripada macht organisatie ini. Dan alat kekuasaan itu berupa tentara, armada dan lain-lain sebagainya. Negara adalah macht organisatie yang mempunyai alat-alat kekuasaan untuk menahan musuh yang datang dari luar. Tetapi negara juga macht organisatie yang mempunyai alat-alat kekuasaan untuk mementung memukul musuh-musuh dari dalam. Yang dari dalam itu apa, pencuri-pencuri dan lain-lain sebagainya. Alat-alatnya ke dalam yang berupa hakim-hakim, penjara-penjara dan lain-lain.

Dia membantah pendapatnya kaum idealis yang mengata-kan bahwa negara adalah: de tot werkelijkheid van geworden idee. Kaum idealis, kaum yang disebut oleh Marx tidak berdiri di atas realiteit. Kaum idealis itu berkata bahwa negara adalah de tot werkelij kheid geworden idee. Jadi seperti satu pengelamunan, satu cita-cita kernudian terselenggara. Marx membantah akan hal itu, dan mengatakan akan hal itu, dan mengatakan negara adalah satu macht-organisatie, yang bukan timbul sebenarnya daripada idee, tetapi daripada verhoudingen, daripada klassen-strijd, perbanding­an-perbandingan di dalarn masyarakat yang bertabrakan satu sama lain ini memaksa kepada keadaan terbentuknya macht-organisatie sebai:,ai kelas yang menang.

Dan olch karcna negara mcnurut anggapan Marx adalah macht organisatie daripada kelas yang menang, maka Marx berkata: di kclak kemudian hari jika telah tercapai satu masyarakat yang tidak berkelas (sekarang ini masih ada kelas kapitalis, kelas proletar), tetapi di kelak kemudian hari jikalau kelas kapitalis sudah hilang, tinggal satu masyarakat yang tidak berkelas katanya, semuanya itu satu golongan saja tidak ada kapitalis, proletar, tidak ada feodal tidak ada horige, di dalam masyarakat yang tidak ada berkelas lagi, kata Marx, dengan sendirinyapun negaranya lenyap. Satu maatschappij yang klassenloos akan menjelmakan juga satu maatschappij yang staatloos. Itu anggapan Marx.

Tetapi bagi kami, terutama sekali untuk menyelamatkan kita punya Republik Indonesia ini, kami menggambarkan negara ini dengan cara yang populer, yaitu menggambarkan gambaran wadah, agar supaya bangsa Indonesia mengerti bahwa wadah inilah yang harus dijaga jangan sampai retak. Dan wadah ini hanyalah bisa selamat tidak retak, jikalau wadah ini didasarkan di atas dasar yang kunamakan Pancasila. Dan jikalau ini wadah dibuatnya daripada elemen-elemen yang tersusun daripada Pan­casila. Gelas terbuat dari gelas, cangkir terbuat dari porselen, keranjang terbuat dari anyaman bambu, periuk terbuat daripada tanah, belanga terbuat daripada tanah atau tembaga.

Wadah kita yang bernama negara ini, terbuatlah hendaknya daripada elemen-elemen yang tersusun dari Pancasila. Sebab hanya jikalau wadah ini terbuat daripada elemen-elemen itu saja, dan hanya kalau wadah ini ditaruhkan di atas dasar Pancasila itu maka wadah ini tidak retak, tidak pecah.

Aku berani mengatakan ini karena aku telah melihat sendiri di beberapa daerah daripada tanah air kita ini manakala sesuatu ide saja dipakai sebagai dasar, datanglah perpecahan. Ada daerah yang dengan tegas menyatakan moh tidak mau ikut itu aku hanya mau Pancasila. Pancasila itu saialah yang bisa mempersatukan kami scmuanva.

Oleh karena itu aku masih yakin baiknya Pancasila sebagai dasar negara. Ini wadah bisa diisi, dan mcmang wadah ini telah terisi masyarakat. Masyarakat ini yang harus diisi. Orang Islam isilah masyarakat ini dengan Islam. Orang komunis, masukkan-lah atau isilah masyarakat ini dengan komunisme. Orang Kristen, masukkanlah kekristenan di dalam masyarakat ini. PNI yang berdasar di atas marhaenisme, isilah masyarakat ini dengan marhaenisme, dengan satu masyarakat yang berdasar dengan marhaenisme. Masyarakatnya yang harus diisi. Tempo hari aku menggambarkan dengan tamzil lain, ini wadah diisi air, engkau mau apa, airnya diisi dengan warna apa, warna hijau, ya isilah dengan hijau air ini. Engkau senang warna merah, isilah dengan warna merah. Engkau senang dengan warna kuning, isilah air ini dengan warna kuning. Engkau senang kepada warna hitam, isilah air ini dengan warna hitam. Airnya yang harus diisi, bukan wadahnya. Wadahnya biar tetap dengan berdasarkan Pancasila, tetap terbuat daripada elemen-elemen Pancasila ini. Sebab bila­mana tidak, maka wadahnya retak. Kalau retak, bocor. Bisakah kita mengisikan air di dalam beker yang retak? Tidak! Bisakah kita mengisikan susu di dalam beker yang retak? Tidak! Oleh karena itu kita harus jaga jangan sampai wadah ini retak.

Saudara-saudara

Inilah pokok daripada anjuranku kepada segenap bangsa Indonesia supaya mengerti betul-betul akan hal ini. Orang berkata aku diktator katanya memaksakan orang memakan Pancasila. Tidak! Aku tidak berdiktator. Pertama aku sekadar menjaga jan­gan sampai negara ini pecah. Dan sebagai telah kukatakan di satu tempat aku berbicara sebagai Presiden Republik Indonesia dan tat­kala aku dijadikan Presiden Republik Indonesia aku harus meng­ucapkan sumpah. sumpah mem-pertahankan dan setia kepada UUD. Dan di dalain UUD ini Mukaddimahnya dengan tegas me­ngatakan hal Pancasila itu. Kita telah mengalami beberapa UUD Sementara. Bahkan sebelum ada UUD Senientara itu kita telah mengalami apa yang dinamakan Jakarta Charter. Di dalam Jakarta Charter telah disebutkan lima sila itu. Kemudian di dalam UUD daripada Negara Republik Indonesia yang pertama, Pancasila sebagai Mukaddimah, kemudian di dalam UUD RIS. Mukaddimah-nyapun berisikan Pancasila. Kernudian di dalam UUD Semen­tara yang sekarang ini, lagi-lagi Pancasila. Di atas UUD ini aku harus mengadakan surnpah. Tidakkah sudah sebaiknya sepantas­nya seyogyanya seharusnya semestinya aku tidak berhenti-henti membela kepada Pancasila ini sebagai dasar negara. Dasar negara yang UUD-nya telah kusumpah. Dan bukan saja oleh karena aku telah bersumpah, tidak! Lebih daripada sumpah itu, ialah keyakin­an di dalam dadaku bahwa Pancasila ini adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan Negara Republik Indonesia ini. Oleh karena itu aku dengan yakin pula berkata kepada semua orang harap Pancasila ini dipertahankan. Sebab jikalau Pancasila tidak diper­tahankan sebagai dasar negara kita, kita nanti mengalami bencana. Bolehkah kita mempropaganda-kan ideologi kami? Boleh semer­deka-merdekanya. Tetapi negara, tetaplah letakkan di atas Pan­casila.

Beberapa kali di dalam waktu yang akhir-akhir ini malahan aku berkata kita hendak mengadakan konstituante, hendak meng­adakan pemilihan umum untuk konstituante dan DPR. Aku de­ngan tegas selalu berkata pemilihan umum buat apa, untuk memilih konstituante. Konstituante untuk apa, untuk menyusun UUD tetap. Apa sebab tetap, oleh karena UUD kita sekarang ini masih sementara. UUD tetap untuk apa, kataku untuk negara yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tidak untuk negara lain, negara baru. Tegas kataku, adakah orang yang hendak mau diajak membikin ULID baru bagi sesuatu negara lain sesuatu negara baru yang bukan negara 17 Agustus 1945?

Mungkin ada orang-orang yang demikian itu. Tetapi aku yakin Saudara-saudara tidak mau. Sebab itu aku berkata dan menganjurkan kalau diajak oleh seseorang mengadakan UUD tetap untuk sesuatu negara lain. negara baru, bukan negara yang kita proklamirkan bersama pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan tegas aku berkata jangan mau!

Tidakkah kita untuk itu kita berjuang untuk negara yang kita proklamirkan 17 Agustus 1945? Kalau kita tidak berjuang lagi untuk negara yang 17 Agustus 1945, kalau tidak sekarang ini masih kita membanting tulang mengulur kita punya tenaga, me­meras kita punya keringat untuk negara 17 Agustus ini lebih baik kita tidur, jangan bekerja jangan berjuang. Sebab negara ini yang kita cita-citakan sejak dari dahulu. Negara ini penluda-pemuda kita telah mengorbankan dia punya jiwa dan raga. Untuk negara ini bapak kita telah membakar dia punya rumah. Untuk negara ini kita punya pelayan-pelayan ikut berjuang menderita sehebat-he­batnya. Untuk negara ini kita pegawai-pegawai mengungsi ke gunung-gunung. Untuk negara ini kita punya gerilya kita punya TNI hancur habis-habisan. Untuk negara ini kita punya bumi hangus. Untuk negara ini kita punya pemimpin-pemimpin beribu­ribu masuk penjara ada yang digantung oleh Belanda. Tidakkah benar kataku ini?

Apa sebab sekarang kita mau membuat Undang-Undang Dasar tetap bagi sesuatu negara lain atau negara baru. Jangan! Jangan!

Adakah yang mengadakan negara lain? Ya ada, antara lain, Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar, Daud Beureueh. Dan ada orang-­orang yang simpati kepada Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar, Daud Beureueh. Tetapi kita tidak mau dan kita mohon kepada Allah swa ya Allah ya Rabbih, semoga kita tetap kepada tekad yang semula yaitu setia kepada Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Saudara-saudara

Sekarang kita menghadapai soal ini: “Pancasila tetap sebagai dasar negara atau tidak”. Aku sebagai Presiden Republik Indonesia dan lebih-lebih pula sebagai Bung Karno. aku tetap menganjurkan pakailah Pancasila ini tetap sebagai dasar negara kalau kita tidak ingin negara ini menjadi pecah.

Ini satu perjuangan yang mengenai dasar. Ini menjadi satu perjuangan untuk meyakinkan Saudara-saudara kita yang lain-lain yang belum yakin. Dan perjuangan yang demikian ini tidak bisa kita jalankan dengan diam-diam. Perjuangan yang demikian ini merninta kita mencurahkan segenap kita punya tenaga segenap kita punya daya penarik, segenap kita punya daya meyakinkan kepada orang lain. Kita harus bekerja keras sekeras-kerasnya. Tatkala dulu pemimpin-pemimpin menyebar-kan paham entah pa­ham ke Islaman, entah paham kesatuan Indonesia, entah paham sosialisme, entah paham komunisme, entah paham Markhaen­isme, mereka tidak duduk memeluk lutut. Mereka bergerak, me­ninggalkan kursi yang empuk-empuk, mereka masuk kampung keluar kampung, masuk desa keluar desa. Mereka menjalankan darma baktinya dengan memberikan tenaga yang 100%.

Kita sekarang menghadapi konstituante, pemilihan umum. Segenap jiwa ragaku ingin agar dasar Pancasila ini tetap dipakai oleh bangsa Indonesia. Aku sebagai Presiden Republik Indonesia tidak sering bisa meninggalkan Istana Negara atau Istana Merdeka ini. Kalau umpamanya aku manusia biasa bukan Presiden, insya Allah swa. tiap hari aku akan masuk kampung dan desa. Tiap hari suaraku kugunturkan dan isinya suaraku tak lain tak bukan, hai bangsa Indonesia jangan negara kita ini sampai retak. Jangan negara Republik Indonesia ini sampai terpecah belah. Marilah kita selamatkan negara ini, dan selamatnya hanya bisa di atas dasar Pancasila.

Aku minta kepadamu sekalian. untuk betul-betul mengan­jurkan hal Pancasila ini kepada segcnap rakyat agar supava sela­matlah negara kita ini.

 

Sekian, terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

APA SEBAB NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERDASARKANPANCASILA?

 

Amanat PJM Presiden Soekarno
       pada tanggal 24 September 1955
    di Surabaya

 

Saudara-saudaraku sekalian,

Saya adalah orang Islam, dan saya adalah keluarga Negara Republik Indonesia.

Sebagai orang Islam saya menyampaikan salam Islam kepada saudara-saudara sekalian “assalamu’alaikum wr. wb!”

Sebagai warga negara Republik Indonesia saya menyampai­kan kepada saudara-saudara sekalian, baik yang beragama Islam, baik yang beragama Hindu – Bali, baik yang beragama lain, kepada saudara-saudara sekalian saya menyampaikan salam nasional “merdeka!”

Tahukah saudara-saudara arti perkataan “salam” sebagai bagian daripada perkataan assalamu’alaikum wr. wb? Salam arti-nya damai, sejahtera. Jikalau kita menyebutkan assalamu” alaikum wr. wb, berarti damai dan sejahteralah sampai kepadamu. Dan moga-moga rakhmat dan berkat Allah jatuh kepadamu. Salam berarti damai, sejahtera. Maka oleh karena itu saya minta kepada kita sekalian untuk merenungkan benar-benar akan arti perkataan “assalamu’ alaikum”.

Salam – damai – sejahtera! Marilah kita bangsa Indonesia terutama sekalian yang ber­agama Islam hidup damai dan sejahtera satu sama lain. Jangan kita bertengkar terlalu-lalu sampai membahayakan persatuan bangsa. Bahkan jangan kita sebagai gerombolan-gerombolan yang menye­butkan assalamu’-alaikum, akan tetapi membakar rumah-rumah rakyat.

Salam – damai! Damai – sejahtera! Rukun – bersatu! Terutama sekali di dalam revolusi nasional kita yang belum selesai ini.

Dan sebagai warga negara merdeka saya tadi memekikkan pekik “merdeka” bersama-sama dengan kamu. Kamu yang ber­agama Islam, kamu yang beragama Kristen, – kamu yang ber­agama Syiwa Budha, Hindu – Bali atau agama lain. Pekik merdeka adalah pekik yang membuat rakyat Indonesia itu, walau­pun jumlahnya 80 juta, menjadi bersatu tekad, memenuhi sum­pahnya “Sekali merdeka, tetap merdeka!”

Pekik merdeka, saudara-saudara adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imperialisme, – dengan tiada ikatan penjajahan sedikitpun. Maka oleh karena itu saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional yang belum selesai, jangan 1 upa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berj umpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka!”

Tatkala aku mengadakan perjalanan ke Tanah Suci beberapa pekan yang lalu, aku telah diminta oleh khalayak Indonesia di kota Singapura untuk mengadakan amanat terhadap kepada mereka. Ketahuilah, bahwa di Singapura itu berpuluh-puluh ribu orang Indonesia berdiam. Mereka bergembira, bahwa Presiden Repu­blik-nya lewat di Singapura. Mereka mcnyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia itu dengan gegap-gernpita, dan minta kepada Presiden Republik Indonesia Umtuk memberikan amanat kepadanya. Di dalam amanat itu beberapa kali dipekikkan pekik kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Re­publik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara-saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan mem­berikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara-saudaraku dan anak­anakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara-saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara-saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari perta­paannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara-saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan dengarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebab­nya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, sebagai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus yang lalu. Dan pcrmintaan itu, Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik lndonesiau justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan wltuk memberi penjelasan “merdeka”.

Apa lacur? Sesudah Bapak meneruskan perjalanan ke Bang­kok, ke Rangoon, ke New Delhi, Karachi, ke Bagdad, ke Mesir, ke Negara Saudi Arabia. – sesudah Bapak meninggalkan kota Singapura, geger pers imperialisme Singapura, saudara­saudara. Mereka berkata: “Presiden Sukarno kurang ajar”. Presi­den Sukarno menjalankan ill-behaviour katanya. I11-behaviour itu artinya tidak tahu kesopanan. Apa sebab pers imperialisme mengatakan Bapak menjalankan ill-behaviour, kurang ajar? Kata mereka, toh tahu Singapura ini bukan negeri merdeka? Toh tahu, bahwa di sini masih di dalam kekuasaan asing, kok memekikkan pekik “merdeka”?

Tatkala Bapak kembali dari Tanah Suci, singgah lagi di Singapura, – Bapak dikeroyok oleh korenponden-koresponden dan wartawan-wartawan. Mereka menanyakan kepada Bapak: “Tahukah PJM Presiden, bahwa tatkala PJM Presiden meninggal­kan kota Singapura di dalam perjalanan ke Mesir dan Tanah Suci, PJM dituduh “kurang ajar, kurang sopan, ill-behaviour, oleh karena PJM memekikkan pekik merdeka dan mengajarkan kepada bangsa Indonesia di sini memekikkan pekik merdeka? “Apa jawab Paduka Yang Mulia atas tuduhan itu?”

Bapak menjawab: “Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warga negara Republik Indonesia, berjumpa dengan warga negara Republik Indonesia, – pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia, selalu me­mekikkan pekik “merdeka”! Jangankan di sorga, di dalarn neraka­pun!”

Nah saudara-saudara dan anak-anakku sekalian. ja­ngan lupa akan pekik merdeka itu. Gcgap-gempitakan tiap-tiap kali pekik merdeka itu. Apalagi sebagai Bapak katakan tadi dalam fase revolusi nasional kita yang belum selesai. Dus kuulangi lagi, sebagai manusia yang beragama Islam aku menyampaikan kepadamu salam “assalamu’alaikum!” Sebagai warga negara Republik Indonesia aku menyampaikan kepadamu “merdeka!”

Saudara-saudara aku pulang dari Bali, – beristirahat beberapa hari di sana. Diminta oleh Kongres Rakyat Jawa Timur untuk pada ini malam memberikan sedikit ceramah, wejangan, amanat, terutama sekali yang mengenai hal “apa sebab Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada Pancasila?” Dan mem­berikan penerangan tentang hal Panca Dharma.

Tadi, tatkala aku baru masuk gedung Gubernuran ini, hati kurang puas? Apa sebab? Terlalu jauh jarak rakyat dengan Bung Karno. Maka oleh karena itulah saudara-saudaraku dan anak­anakku sekalian, maka Bapak minta kepada pimpinan agar supaya saudara-saudara diberi izin lebih dekat. Sebab saudara-saudara tahu isi hati Bapak ini, isi hati Presiden, isi hati Bung Karno, – kalau jauh daripada rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari perta­paannya.

Permintaan Kongres Rakyat untuk memberikan amanat kepada saudara-saudara, Insya Allah saya kabulkan. Dan de­ngarkan benar, aku berpidato di sini bukan sekadar sebagai Soekarno. Bukan sekadar sebagai Bung Karno. Bukan sekadar sebagai Pak Karno. – Aku berpidato di sini sebagai Presiden Republik Indonesia! Sebagai Presiden Republik Indonesia aku diminta untuk memberi penjelasan tentang Pancasila. Apa sebab­nya negara Republik Indonesia didasarkan atas Pancasila?

Dan diminta memberi penjelasan akan Panca Dharma, seba­gai yang telah kuanjurkan dengan resmi pula di dalam pidato Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus vang lalu. Dan permintaan itu. Insya Allah kukabulkan pula sebagai Presiden Republik Indonesia, justru oleh karena pada saat sekarang ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia, maka dengan gembira dan senang hati saya memenuhi permintaan untuk memberi penjelasan tentang Pancasila.

Apa sebab? Tak lain dan tak bukan ialah oleh karena aku ini Presiden Republik Indonesia disumpah atas Undang-Undang Dasar kita. Saya tadi berkata, bahwa saya memenuhi perminta-an Kongres Rakyat Jawa Timur dengan penuh kesenangan hati, ialah oleh karena saya ini sebagai Presiden Republik disumpah atas dasar Undang-Undang Dasar kita. Disumpah harus setia kepada Undang-Undang Dasar kita. Di dalam Undang-Undang Dasar kita, dicantumkan satu Mukaddimah, kata pendahuluan. Dan di dalam kata pendahuluan itu dengan tegas disebutkan Pancasila. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”. Malahan bukan satu kali ini Pancasila itu disebutkan di dalam Undang-Undang Dasar kita. Sejak kita di dalam tahun 1945 telah berkemas-kemas untuk menjadi satu bangsa yang merdeka, sejak itu kita telah mengalami empat kali naskah.

Sebelum mengadakan Proklamasi 17 Agustus, sudah ada satu naskah. Kemudian pada 17 Agustus satu naskah lagi. Kemudian tatkala RIS dibentuk satu naskah lagi. Kemudian sesudah itu tatkala kita kembali kepada zaman Republik Indonesia Kesatuan satu naskah lagi. Empat kali naskah saudara-saudara. Dan di dalam keempat naskah itu dengan tegas disebutkan Pancasila.

Pertarna tatkala kita di dalam zaman Jepang, kita telah berke­mas-kemas di dalam tahun 1945 itu untuk menjadi bangsa yang merdeka. Pada waktu itu telah disusunlah satu naskah yang di­narnakan “Charter Jakarta”. Di dalam Jakarta Charter itu telah disebutkan dengan tegas lima azas yang hendak kita pakai sebagai pegangan untuk negara vang akan datang. “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rak­yat, Keadilan Sosial”.

Demikian pula tatkala kita telah memproklamirkan kemer­dekaan kita pada 17 Agustus 1945, dengan tegas pula keesokan harinya saudara-saudara kukatakan Undang-Undang Dasar yang kita pakai ini, yaitu Undang-Undang Dasar yang kita rencanakan pada waktu caman.lepang di bawah ancaman bayonet Jepang, kita rencanakan satu Undang-Undang Dasar daripada Negara Repu­blik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Dan di dalam Undang-Undang Dasar itu dengan tegas dikatakan Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebang­saan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial”.

Tatkala berhubung dengan jalannya politik, Negara republik Indonesia Serikat dibentuk (RIS), pada waktu itu dibuatlah Un­dang-Undang Dasar RIS. Dan di dalam Mukaddimah Undang-Un­dang Dasar RIS ini disebutkan lagi dengan tegas Pancasila.

Kita tidak senang akan federal-federalan. Segenap rakyat memprotes akan adanya susunan federal ini. Delapan bulan susun­an federal ini. Delapan bulan susunan RIS berdiri – hancur lebur RIS, berdirilah Negara Republik Indonesia Indonesia Kesatuan. Dan Undang-tlndang Dasar yang dipakai RIS ini diubah lagi menjadi Undang-Undang Dasar Sementara daripada Negara Re­publik Indonesia Kesatuan. Tetapi tidak diubah isi Mukaddimah yang mengandung Pancasila.

Jadi dengan tegas saudara-saudara, – jelas! Empat kali di dalam sepuluh tahun ini kita melewati empat naskah. Tiap-tiap naskah menyebutkan Pancasila. Dan tatkala aku dengan karunia Allah s.w.t. dinobatkan menjadi Presiden, aku disumpah. Dan isi sumpah itu antara lain ialah setia kepada Undang-Undang Dasar. Maka oleh karena itulah saudara-saudara, rasa sebagai kewajiban jikalau diminta oleh sesuatu grolongan akan keterangan tentang Pancasila. – mcmcnuhi pcrmintaan itu. Dan pada ini malam dengan mengucap suka-syukur ke hadirat Allah s.w.t. aku berdiri di hadapan saudara-saudara. Berhadap-hadapan muka dengan kaurn buruh, dengan pegawai. rakyat jelata, dengan pihak Angkatan Laut Republik Indonesia dan pihak Tentara, dengan pihak Mobrig, pihak Polisi, Pihak Perintis, dengan Pemuda, de­ngan Pemudi, – berdiri di hadapan saudara-saudara dan anak­anak sekalian, yang telah datang membanjiri lapangan yang besar ini Iaksana air hujan, – aku mengucap banyak terima kasih kepadamu. Dan Insya Allah saudara-saudara aku akan terangkan kepadamu tentang apa sebab Negara Republik didasarkan atas dasar Pancasila.

Saudara-saudara,

Ada yang berkata Pancasila ini hanya sementara!

Yah jikalau diambil di dalam arti itu, memang Pancasila adalah sementara. Tetapi bukan saja Pancasila adalah sementara, bahkan misalnya ketentuan di dalam Undang-Undang Dasar kita, bahwa Sang Merah Putih, bendera kita, – itupun sementara! Segala Undang-Undang Dasar kita sekarang ini adalah sementara.

Tidakkah tadi telah kukatakan, bahwa Undang-Undang Dasar yang kita pakai sekarang ini, malahan disebutkan Undang-Undang Dasar Sementara daripada Negara Republik Indonesia? Apa sebab sementara? Yah oleh karena akhirnya nanti yang akan menentukan segala sesuatu ialah konstituante. Maka itu Saudara­saudara kita akan mengadakan pernilihan umurn 2 kali. Pertama pada tanggal 29 September nanti, Insya Allah s.w.t. untuk memilih DPR.

Kemudian pada tanggal 15 Desember untuk memilih Konsti­tuantcadalah Badan Pembentuk Undang-Undang Dasar. t Jndanu­Undang Dasar yang tetap. Konstituante adalah pembentuk konstitusi. Konstitusi berarti Undang-Undang Dasar. Undang-Un­dang Dasar tetap bagi Negara Republik Indonesia, vang sampai sekarang ini segala-galanya masih sementara. Tetapi saudara-saudara, jikalau ditanya kepadaku “apa yang berisi kalbu Bapak ini akan permohonan kepada Allah s.w.t.?”

Terus terang aku berkata, jikalau saudara-saudara mem­belah dada Bung Karno ini, permohonanku kepada Allah s.w.t. ialah saudara-saudara bisa membaca di dalam dada Bung Karno memohon kepada Allah s.w.t. supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila.

Yah benar, bahwa segala sesuatunya adalah sementara. Tetapi aku berkata, bahwa Sang Merah Putih adalah sementara, adalah bendera Republik Indonesia-pun sementara. Dan jikalau nanti konstituante bersidang, Insya Allah s.w.t. saudara-saudara­ku, siang dan malam Bapak akan memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya konstituante tetap menetapkan Bendera Sang Merah Putih sebagai bendera Negara republik Indonesia.

Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Sang Merah Putih ini. Jangan ada satu pihak yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia.

Tahukah saudara-saudara, bahwa warna Merah Putih ini bukan buatan Republik Indonesia? Bukan buatan kita dari zaman pergerakan nasional. Apa lagi bukan buatan Bung Karno, bukan buatan Bung Hatta! Enam ribu tahun sudah kita mengenal akan warna Merah Putih ini. Bukan seribu tahun. bukan dua ribu tahun. bukaii tiga ribu tahun, bukan empat ribu tahun, bukan lima ribu tahun! – Enam ribu tahun kita telah mengenal warna Merah Putih!

Tatkala di sini belum ada agama Kristen, belum ada agama Islanl, belum ada agama Hindu, bangsa Indonesia telah meng­agungkan warna Merah Putih. Pada waktu itu kita belum mengenai Tuhan dalam cara mcngcnal sebagai sckarang ini. Pada waktu itu vang kita sembah adalah Matahari daii Bulan. Pada waktu itu kita hanya mengira, bahwa yang memberi hidup itu Mataharai.

Siang Matahari – malam Bulan. Matahari merah – Bulan putih. Pada waktu itu kita telah mengagungkan warna Merah Putih. Kemudian bertambah kecer­dasan kita. Kita lebih dalam menyelami akan hidup di dalam alam ini.

Kita memperhatikan segala sesuatu di dalam alam ini dan kita melihat – O, alam ini ada yang hidup bergerak, ada yang tidak bergerak. Ada manusia dan binatang, makhluk-makhluk yang bergerak. Ada tumbuh-tumbuhan yang tidak bisa bergerak. “Manusia dan binatang itu darahnya merah. Tumbuh-tumbuhan darahnya putih”. Getih – Getah.

Coba dengarkan hampir sama dua perkataan ini: Getih – Getah.

Cuma i diganti dengan a Dulu kita mengagungkan Matahari dan Bulan yang di dalarn alam Hindu dinamakan Surya Candra. Kemudian kita mengagungkan Getih-Getah. Merah-Putih. Saudara-saudara, itu adalah fase kedua.

Fase ketiga, manusia mengerti akan kejadian manusia.

Mengerti, bahwa kejadian manusia ini adalah daripada perhubungan laki dan perempuan, perempuan dan laki. Orang mengerti perempuan adalah merah, laki adalah putih.

Dan itulah sebabnya maka kita turun-temurun mengagung-kan Merah Putih. Apa yang dinamakan “gula-kelapa”, meng-agungkan bubur bang putih. Itulah sebabnya maka kita kemudian tatkala kita, mempunyai Negara-Negara setelah mempunyai kerajaan-kera­jaan, memakai warna Merah Putih itu sebagai bendera Negara. Tatkala kita mempunyai kerajaan Singosari, Merah Putih telah berkibar terus dirampas oleh imperialisme asing. Tetapi di dalam dada kita tetap hidup kecintaan kepada Merah Putih.

Dan tatkala kita mengadakan pcrgcrakan nasional sejak tahun 1908, dengan lahirnya Budi Utomo dan diikuti oleh Serikat Islam, oleh NIP (National lndische Party), oleh ISDP, oleh PKI. oleh Sarikat Rakyat, oleh PPPK, oleh PBI, oleh Parindra, dan lain-lain, maka rakyat Indonesia tetap mencintai Merah Putih sebagai warna benderanya.

Uan tatkala kita pada tanggal 17 Agustus 1945 memprokla­mirkan kemerdekaan itu dengan resmi kita menyatakan Sang Merah Putih adalah bendera kemerdekaan kita.

Itu semua jika dikatakan sementara, yaaah sementara! Sebab konstituante belum bersidang. Konstituante mau merubah warna ini??? Lho, kalau menurut haknya, boleh saja. Sebab konstituante itu adalah kekuasaan kita yang tertinggi. Penyusun, pembentuk Konstitusi. Jadi kalau konstituante misalnya hendak menentukan warna Bendera Republik Indonesia bukan Merah – Putih – yaah mau dikatakan apa?

Tetapi Bapak berkata, Bapak memohon kepada Allah s.w.t. agar supaya warna merah-putih tetap menjadi warna Bendera Negara Republik Indonesia.

Kembali kepada Pancasila. Jika dikatakan sementara, yaaaaaa  sementara!

Lagi-lagi Bapak ini berkata Allah s.w.t., Allah s.w.t. – Dan Bapakpun bersyukur ke hadirat Allah s.w.t., bahwa cita-cita Bapak yang sudah bertahun-tahun untuk naik Haji dikabulkan oleh Allah s.w.t. Lagi-lagi Allah s.w.t.

Saudara-saudara, jikalau aku meninggal dunia nanti – ini hanya Tuhan yang mengetahui, dan tidak bisa dielakkan semua orang – jikalau ditanya oleh Malaikat: “Hai Soekarno, tatkala engkau hidup di dunia, engkau telah mengerjakan beberapa pekerjaan. Pekerjaan apa yang paling engkau cintai? Pekerjaan apa yang paling engkau kagumi? Pekerjaan apa yang engkau paling ucapkan syukur kepada Allah s.w.t.?”

Moga-moga saudara-saudara aku bisa menjawab. -ya    

bisa menjawab demikian atau tidaknya itupun tergantung dari pada Allah s.w.t.: “Tatkala aku hidup di dunia ini, aku telah ikut membentuk Negara republik Indonesia. Aku telah ikut memben­tuk satu wadah bagi masyarakat Indonesia”.

Sebagai sering kukatakan saudara-saudara, negara adalah wadah. Jikalau diberi karunia oleh Allah s.w.t. mengerjakan pe­kerjaan satu ini saja, Allahu’akbar – aku akan berterima kasih setinggi langit. Yaitu untuk pekerjaan ini saja, ikut membentuk wadah. Wadahnya, wadahnya saja yang bernama Negara ini. Di dalam wadah ini adalah masyarakat. Wadah yang dinamakan negara ini adalah wadah untuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah lebih mudah daripada mem-bentuk masyarakat.

Membentuk wadah adalah bisa dijalankan di dalam satu hari sebenarnya, – wadah yang bernama Negara itu.

Tidakkah saudara-saudara dari sejarah dunia kadang-kadang mendengar, bahwa oleh suatu konferensi kecil sekonyong-ko­nyong diputuskan dibentuk Negara ini, dibentuk Negara itu. Mi­salnya dahulu sesudah peperangan dunia yang pertama, tidakkah Negara Cekoslovakia sekadar dengan coretan pena dari suatu konferensi kecil. Membentuk negara gampang! Dulu di sini juga pernah dibentuk Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, hanya dengan decreet Van Mook saudara-saudara! Tetapi coba membentuk masyarakat, susah!

Membentuk masyarakat, kita harus bekerja siang dan malam, bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, kadang-kadang berwindu­windu, berabad-abad. Masyarakat apapun tidak gampang diben­tuknya. Itu meminta pekerjaan kita terus-menerus. Baik masya­rakat Islam, maupun masyarakat Kristen, maupun masyarakat Sosialis. Bukan bisa dibentuk dengan satu dekret saudara-saudara, dengan satu tulisan. dengan satu unjau napas manusia. Memhen­tuk masyarakat makan waktu! Yah aku bermohon kepada Tuhan, dibolehkanlah hendaknya ikut membentuk masyarakat pula.

Masyarakat di dalam wadah itu. Tetapi aku telah syukur seribu syukur kepada Tuhan, jikalau aku nanti bisa menjawab kepada Malaikat itu, bahwa hidupku di dunia ini ialah antara lain-lain telah ikut membentuk wadah ini saja. Membentuk wadah yang bernama Negara dan wadah ini buat satu masyarakat yang besar. Walaupun rapat ini lebih daripada satu juta manusia saudara-saudara, wadah itu bukan kok cuma buat satu juta manusia ini saja. Tidak! Wadah yang bernama Negara, Negara yang bernama Republik Indonesia itu adalah wadah untuk masyarakat Indonesia yang 80 juta, dari Sabang sampai ke Merauke! Dan masyarakat Indonesia ini adalah beraneka agama, beraneka adat-istiadat, beraneka suku. Bertahun­tahun aku ikut memikirkan ini. Nanti jikalau Allah s.w.t. memberi­kan kemerdekaan kepada kita, – dulu berpikiran yang demikian­lah Bapak, -jikalau Negara Republik Indonesiatelah bisa berdiri, negara ini agar supaya selamat, agar bisa menjadi wadah bagi segenap rakyat Indonesia yang 80 juta, Negara harus didasarkan apa?

Tatkala aku masih berumur 25 tahun, aku telah memikirkan hal ini. Tatkala aku aktif di dalam pergerakan, aku lebih-lebih lagi memikirkan hal ini. Tatkala di dalam zaman Jepang, tetapi oleh karena tekad kita sendiri, usaha kita sendiri, pembantingan tulang sendiri, korbanan kita sendiri, – tatkala fajar telah menyingsing, lebih-lebih lagi kupikirkan hal ini. Wadah ini hendaknya jangan retak. Wadah ini hendaknya utuh sekuat-kuatnya. Wadah untuk segenap rakyat Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke yang beraneka agama, beraneka suku beraneka adat-istiadat.

Sekarang aku menjadi Presiden Republik Indonesia adalah karunia Tuhan. Aku tidak menyesal, bahwa aku dulu bertahun-ta­hun memikirkan hal ini. Dan aku tidak menyesal. bahwa aku telah memformulir Pancasila. Apa sebab? Barangkali lebih daripada siapapun di Indonesia ini, aku mengetahui akan keanekaaan bangsa Indonesia ini. Sebagai Presiden Republik Indonesia aku berkesempatan sering-sering untuk melawat ke daerah-daerah. Sering-sering aku naik kapal udara. Malahan jikalau di dalam kapal udara aku sering-sering, katakanlah main gila dengan pilot. Pilot terbang tinggi, aku tanya kepadanya:

“Saudara pilot, berapa tinggi?”

“12.000 kaki Paduka Yang Mulia”.

“Kurang tinggi, naikkan lagi”.

” 13.000 kaki”.

“Hahaa kurang tinggi Bung!”. “14.000 kaki”.

“Kurang tinggi!”.

” 15.000 kaki”.

“Kurang tinggi!”.

“16.000 kaki!”.

“Kurang tinggi!”.

“17.000 kaki!”

“Kurang tinggi!”.

“Sudah tidak bisa lagi. Paduka Yang Mulia. Kapal udara kita sudah mencapai plafon”.

Plafon itu ialah tempat yang setinggi-tingginya bagi kapal udara itu. Aku terbang dari Barat ke Timur, dari Timur ke Barat. Dari Utara ke Selatan, dari Selatan ke Utara. Aku melihat tanah air kita. Allahu’akbar, cantiknya bukan main! Dan bukan saja cantik, sehingga benarlah apa yang diucapkan oleh Multatuli di dalam kitab “Max Havelaar”, bahwa Indonesia ini adalah demikian cantiknya, sehingga ia sebutkan “Insulinde de zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd”. Indonesia yang laksana ikat pinggang terbuat daripada zamrud berlilit-lilit seke­liling khatulistiwa! Indahnva demikian. Ya memang saudara-saudara. jikalau engkau terbang 17.000 kaki di angkasa dan melihat ke bawah. kelihatan betul-betul Indonesia ini adalah sebagai ikat pinggang yang terbuat daripada zamrud, melilit mengelilingi khatulistiwa. Berpuluh-puluh, beratus-ratus, beribu­ ribu pulau saudara melihat. Dan tiap-tiap pulau itu berwarna­warna. Ada yang hijau kehijauan, ada yang kuning kekuningan. Indah permai tanah air kita ini saudara-saudara. Lebih daripada 3000 pulau. Bahkan kalau dihitung dengan yang kecil-kecil, – 10.000 pulau-pulau.

Terbanglah kapal udaraku datang di daerah Aceh. Rakyat Aceh menyambut kedatangan Presiden, rakyat beragama Islam. Terbang lagi kapal udaraku, turun di Siborong-borong daerah Batak. Rakyat Batak menyambut dengan gegap-gempita keda­tangan Presiden Republik Indonesia, – agamanya Kristen.

Terbang lagi saudara-saudara dekat Sibolga, – agama Kris­ten. Terbang lagi ke Selatan ke Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan, – agama Islam. Demikianlah pula di Jawa. Kebanyakan beragama Islam, di sana Kristen, sini Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Banjarmasin, – kebanyakan Islam. Tetapi di Banjar­masin itu aku berjumpa utusan-utusan dari suku Dayak saudara­saudara. Malahan di Samarinda aku berjumpa dengan utusan­utusan, bahkan rakyat Dayak yang 9 hari 9 malam turun dari gunung-gunung untuk menjumpai Presiden Republik Indonesia. Mereka tidak beragama Islam, tetapi beragama agamanya sendiri.

Aku ber-ibu orang Bali. Ida Ayu Nyoman Rai nama Ibuku. Malahaii aku jikalau beristirahat di Tampaksiring, desa kecil di Bali, rakyat Bali menyebutkan aku, kecuali Bung Karno, Pak Karno – menyebutkan Ida Bagus Made Karno. Aku melihat masyarakat Bali yang dua juta manusia itu beragama Hindu – Bali. Di Singaraja ada masyarakat Islam sedikit. Di Denpasar ada masyarakat Islam sedikit. Terbang lagi kapal udaraku ke Sumbawa – Islam. Terbang kapal udaraku ke Sumbawa – Kristen Pro­tcstan. Tcrhang kapal udaraku ke Florcs -pulau di mana aku dulu diinternir. – rakyat Flores kenal akaii Bung Karno, Bung Karno kenal akaii rakyat Flores – sebagian besar rakyat Flores itu beragama Rooms Katholik (Kristen). Terbang lagi kapal udaraku ke Timor – sebagian besar rakyatnya Protestan Kristen. Terbang lagi kapal udaraku ke Ambon – Kristen. Sekitar Ambon itu adalah masyarakat kristen. Terbang lagi ke Utara ke Ternate – Islam di Ternate. Dari Ternate trbang ke Manado, Minahasa sekelingnya, – Kristen, ke Selatan Makasar – Islam. Di Tengah Sulawesi, Toraja – sebagian besar Kristen, sebagian belum ber­agama.

Benar apa tidak perkataanku, saudara-saudara, bahwa bangsa Indonesia adalah beraneka agama? Demikian pula aku berkata, bahwa bangsa Indonesia ini beraneka adat-istiadat, beraneka suku pula. Beraneka suku, beraneka agarna, beraneka adat-istiadat. Ini yang menjadi pikiran Bapak berpuluh-puluh tahun.

Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, aku ingin bernama-sama dengan pe­juang-pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat!

Aku ingin membentuk satu wadah yang tidak retak, yang utuh, yang mau menerima semua masyarakat Indonesia yang beraneka-aneka itu dan yang masyarakat Indonesia mau duduk pula di dalamnya, yang diterima oleh saudara-saudara yang ber­agama Islam, yang beragama Kristen Katolik, yang beragama Kristen Protestan, yang beragama Hindu-Bali, dan oleh saudara­saudara yang beragama lain, – yang bisa diterima oleh saudara­saudara yang adat-istiadatnya begitu, dan yang bisa diterima sekalian saudara.

Aku tidak mencipta Pancasila saudara-saudara. Sebab sesuatu dasar negara ciptaan tidak akan tahan lama. Ini adalah satu ajaran yang dari mula-nulanya kupegang teguh. Jikalau engkau hendak mengadakan dasar untuk sesuatu negara, dasar untuk sesuatu wadah – jangan bikin sendiri, jangan anggit sendiri, jangan karang sendiri. Selamilah sedalam-dalamnya lautan daripada sejarah! Gali sedalam-dalamnya bumi daripada sejarah!

Aku melihat masyarakat Indonesia, sejarah rakyat Indonesia. Dan aku menggali lima mutiara yang terbenam di dalamnya, yang tadinya lima mutiara itu cernerlang tetapi oleh karena penjajahan asing yang 350 tahun lamanya, terbenam kembali di dalam bumi bangsa Indonesia ini.

Aku oleh sekolah Tinggi Universitas Gajah Mada di-anugerahi titel Doktor Honoris (titel Doktor kehormatan) dalam ilmu keta­tanegaraan. Tatkala promotor Prof. Mr. Notonegoro mengucapkan pidatonya pada upacara pemberian titel Doktor Honoris Causa, pada waktu itu beliau berkata: “Saudara Soekarno, kami meng­hadiahkan kepada saudara titel kehormatan Doktor Honoris Causa dalam ilmu ketatanegaraan, oleh karena saudara pencipta Pan­casila”.

Di dalam jawaban itu aku berkata: “Dengan terharu aku menerima titel Doktor Honoris Causa yang dihadiahkan kepadaku oleh Universitas Gajah Mada, tetapi aku tolak dengan tegas ucapan Profesor Notonegoro, bahwa aku adalah pencipta Pancasila”.

Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila daripada burninya bangsa Indonesia. Pancasila terbenam di dalarn bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya, -aku gali kembali dan aku sembahkan Pancasila ini di atas persada bangsa Indonesia kem­bali.

Tidak benar saudara-saudara, bahwa kita sebelum ada Bung Karno, sebelum ada Republik Indonesia – sebenarnya telah mengenal akan – Pancasila? Tidakkah benar kita dari dahulu mula, telah mengenal Tuhan. – hidup di dalam alarn Ketuhanan Yang Maha Esa? Kita dahulu pernah mengUu-aikan hal ini panjang lebar. Bukan anggitan baru. bukan -karangan baru. Tetapi sudah sejak dari dahulu mula bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang cinta kepada Ketuhanan. Yah kemudian Ketuhanannya itu disempurnakan oleh agarna-agarna. Disempurnakan oleh Agama Islam, – disempurnakan oleh agama Kristen. Tetapi dari dahulu mula kita memang adalah satu bangsa yang berketuhanan. Demikian pula, tidakkah benar bahwa kita ini dari dahulu mula telah cinta kepada Tanah Air dan Bangsa? IJidup di dalam alam kebangsaan? Dan bukan saja kebangsaan kecil, tetapi kebangsaan Indonesia. Hai engkau pemuda-pemuda, pernah engkau mendengar nama kerajaan Mataram? Kerajaan Mataram yang membuat candi-candi Prambanan, candi Borobudur? Kerajaan Mataram ke-2 di waktu itu di bawah pimpinan Sultan Agung Hanjokrokusurno? Tahukah saudara-saudara akan arti perkataan Mataram? Jikalau tidak tahu, maka aku akan berkata kepadamu “Mataram berarti Ibu”. Masih ada perkmaan perkataan Mataram itu misalnya perkataan Mutter di dalam bahasa Jerman – Ibu. Mother dalam bahasa Inggeris – Ibu. Moeder dalam bahasa Belanda – Ibu. Mater dalam bahasa Latin – Ibu. Mataram berarti Ibu.

Demikian kita cinta kepada Bangsa dan Tanah air dari zaman dulu mula, sehingga negeri kita, negara kita, kita putuskan Mataram.

Rasa kebangsaan, bukan rasa baru bagi kita. Mungkinkah kita mempunyai kerajaan seperti kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dahulu, jikalau kita tidak mempunyai rasa kebangsa-an yang berk­obar-kobar di dalam dada kita?

Yaah kata pemimpin besar yang bernama Gajah Mada, Sang Maha Patih Ihino Gajah Mada. Benar kita mempunyai pemimpin besar itu. Benar pemimpin besar itu telah bersumpah satu kali “tidak akan makan kclapa. jikalau bclum scgcnap kepu­lauan Indonesia tergabung di dalam satu negara yang besar”. Benar kita mempunyai pemimpin yang besar itu. Tetapi apakah pemimpin inikah yang sebenarnya pencipta daripada kesatuan ke­rajaan Majapahit? Tidak!

Pernimpin besar sekadar adalah sambungan lidah daripada rasanya rakyat jelata. Tidak ada satu orang pemimpin besar, walaupun besarnya bagaimanapun juga, – bisa lnembentuk satu negara yang sebesar Majapahit ialah satu negara yang besar, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke, – Bahkan sampai ke daerah Philipina sekarang.

Katakanlah Bung Karno pemimpin besar atau pemimpin kecil – pernimpin gurem atau pemimpin yang bagaimanapun, – Tetapi jikalau ada orang yang berkata: “Bung Karno yang meng­adakan negara Republik Indonesia”. Tidak benar! ! ! Janganpun satu Soekarno sepuluh Soekarno, seratus Soekarno, seribu Soekarno – tidak akan bisa membentuk negara Republik Indonesia, jikalau segenap rakyat jelata Republik Indonesia tidak ber­juang mati-matian!”

Kemerdekaan adalah hasil daripada perjuangan segenap rak­yat. Maka itu pula menjadi pikiran Bapak, Negara Republik Indo­nesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, – tetapi milik kita semua dari Sabang sampai ke Merauke! Perjuangan untuk merebut kemerdekaan ini dijalan-kan oleh semua bangsa Indonesia.

Aku melihat di dalam daerah-daerah yang kukunjungi, di manapwn aku datang, aku melihat Taman-taman Pahlawan. Bukan saja di bagian-bagian yang beragama Islam, tetapi juga di bagian­bagian yang beragama Kristen. Aku melihat Taman-taman Pahlawan di mana-mana. Di sini di Surabaya, pada tanggal 10 November tahun 1945 -siapa yang berjuang di sini?

Scgcnap pcmuda-pcmudi. kiai. kawli buruh. kaum tani, segenap rakyat Surabaya berjuang dengan tiada perbedaan agama, adat-istiadat. oulongan atau suku.

Rasa kebangsaan kita sudah dari sejak zaman dahulu.. demi­kian pula rasa perikemanusiaan. Kita bangsa Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dalam sejarah dunia ini satu-satunya bangsa yang tidak pernah menjajah bangsa lain adalah bangsa Indonesia. Aku tentang orang-orang ahli sejarah yang bisa mem­buktikan bahwa bangsa Indonesia pernah menjajah kepada bangsa lain.

Apa sebab? Oleh karena bangsa Indonesia berdiri di atas dasar perikemanusiaan sejak dari zaman dahulu. Dari zaman Hindu, kita sudah mengenal perikemanusiaan. Disempurnakan lagi rasa perikemanusiaan itu dengan agama-agama yang kemudian.

Di dalam zaman Hindu kita telah mengenal ucapan: “Tat­tvamasi”. Apa artinya Tattvamasi? Tat tvam asi berarti “Aku adalah dia, dia adalah aku”. Dia pakai, aku ikut pakai. Dia senang, aku ikut senang. Aku senang, dia ikut senang. Aku sakit, dia ikut sakit. Tattvamasi – perikemanusiaan.

Kemudian datanglah di sini agama Islam, mengajarkan kepada perikemanusiaan pula. Malah lebih sempurna. Diajarkan kepada kita akan ajaran-ajaran fardhu kifayah, kewajiban-kewa­jiban yang dipikulkan kepada seluruh masyarakat. Misalnya ji­kalau ada orang mati di kampungmu, dan kalau orang mati itu tidak terkubur, – siapa yang dianggap berdosa, siapa yang dikatakan berdosa, siapa yang akan mendapat siksaan daripada dosa itu? Bukan sekadar kerabat famili daripada sang mati itu. Tidak! Segenap masyarakat di situ ikut tanggung jawab.

Demikian pula bagi agama Kristen. Tidakkah di dalam agama Kristen itu kita diajarkan cinta kepada Tuhan, lebih daripada segala sesuatu dan cinta kepada sesama manusia, sama dengan cinta kepada diri kita sendiri? “Hebs U naasten lief gelijk U zelve. God boven alles”. Jadi rasa kemanusiaan, bukan barang baru bagi kita.

Demikianlah pula rasa kedaulatan rakyat. Apa sebab per­gerakan Nasional Indonesia laksana api mencetus dan meledak-kan segenap rasa kebangsaan Indonesia? Oleh karena pergerak-an nasional Indonesia itu berdiri di atas dasar kedaulatan rakyat. Engkau ikut berjuang! Dari dahulu mula kita gandrung kepada kedaulatan rakyat. Apa sebab engkau ikut berjuang? Oleh karena engkau merasa memperjuangkan dasar kedaulatan rakyat.

Bangsa Indonesia dari dahulu mula telah mengenal kedaulat­an rakyat, hidup di dalam alam kedaulatan rakyat. Demokrasi bukan barang baru bagi kita. Demikian pula cita-cita keadilan sosial. – bukan cita-cita baru bagi kita. Jangan kira, bahwa cita-cita keadilan sosial itu buatan Bung Karno, Bung Hatta, atau komunis, atau kaum serikat rakyat, kaum sosialis. Tidak!

Dari dahulu mula bangsa Indonesia ini cinta kepada keadilan sosial. Kalau zaman dahulu, kalau ada pemberontakan, – saudara-saudara berhadapan dengan pemerintah Belanda, – sem­boyannya selalu “Ratu Adil” Ratu adil para marta. Sama rata, sama rasa. Adil, adil, itulah yang menjadi gandrungnya jiwa bangsa Indonesia. Bukan saja di dalam alam pergerakan sekarang atau di dalam pergerakan alam nasional tetapi dari dulu mula. Maka oleh karena itulah aku berkata, baik Ketuhanan Yang Maha Esa mau­pun Kebangsaan, maupun Perikemanusia-an, maupun Kedaulatan Rakyat, maupun Keadilan Sosial, bukan aku yang mencip­takan. Aku sekadar menggali sila-sila itu. Dan sila-sila ini aku persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia untuk dipakai sebagai dasar daripada wadah yang berisi masyarakat yang bera­neka agama, beraneka suku, beraneka adat-istiadat. Inilah saudara­saudara, maka di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyousakai di dalarn zaman Jepang, pertengah-an tahun 1945 telah diadakan satu sidang daripada pemimpin-pemimpin Indonesia, dan di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai itu dibicarakan hal-hal ini.

Pertama apakah negara yang akan datang itu harus berdasar satu falsafah ataukah tidak? Semua berkata “harus berdasarkan satu falsafah”. Harus memakai dasar. Sebab kita melihat di dalam sejarah Dunia ini banyak sekali negara-negara yang tidak berdasar, lantas berbuat jahat, oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup bagi rakyatnya.

Kita melihat negara-negara yang besar. Tetapi oleh karena tidak mempunyai ancer-ancer hidup, tidak mempunyai dasar hidup dengan sedih kita melihat bahwa negara-negara itu berbuat sesuatu yang sebenarnya melanggar kepada kedaulatan dan perikemanusiaan.

Di dalam sidang Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu memutus-kan akan memberi dasar kepada negara. Akhirnya saya mem-persem­bahkan Pancasila. Dan syukur Alhamdulillah sidang meneri­manya. Dan tatkala kita memproklamirkan kemerdekaan­kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dasar ini yang dipakai. Dan aku berkata oleh karena dasar ini – segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke menyambut-nya proklamasi itu dengan gegap-gempita. Disambut oleh kaum alim ulama, disambut oleh kaum buruh, disambut oleh kaum tani, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Aceh, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Minangkabau, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Flores, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Kalimantan, disambut oleh saudara-saudara yang berdiam di Bali, disambut oleh segenap rakyat Indonesia.

Aku baru pulang dari Bali – tahukah penyambutan rakyat Bali yang beragama Hindu Bali itu terhadap kepada proklamasi kemerdekaan Indonesia? Rakyat Bali, hidup di dalam alam per­juangan yang hebat. Ada satu tempat kecil di Bali, misalnya namanva Tabanan. Yah kalau dibandingkan dengan di sini

Tabanan itu barangkali hanya sebesar      Waru, atau sebesar Tulangan, sebesar Prambon. Di Tabanan itu saja di dalam tahun 1951 diresmikan satu Taman Pahlawan, vang di dalam Taman Pahlawan itu 680 jenazah.

Demikian pula di ternpat yang lain-lain. Memang rakyat Bali menyambut proklamasi ini dengan gegap-gempita. Agamanya adalah Hindu – Bali. Tetapi mereka menyambut proklamasi ini ialah oleh karena proklamasi ini didasarkan kepada Pancasila. Pendek kata tatkala usul saya kepada Dokuritzu Zunbi Tyousakai itu diterima oleh sidang dan kemudian dipakai sebagai dasar negara Republik Indonesia, tak putus-putus aku mengucapkan syukur kepada Tuhan. Inilah dasar yang menjamin keutuhan bangsa kita yang beraneka agama, yang beraneka adat-istiadat, yang beraneka suku.

Maka oleh karena itu, jikalau dikatakan Pancasila adalah sementara? Ya Konstituante nanti yang akan menentukan. Tetapi aku memohon kepada Tuhan agar supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila!

Aku hidup gandrung dalam suasana persatuan. Aku masuk di dalam gelanggang perjuangan, tatkala aku berumur 18 tahun. Dulu sebelum 18 tahun tidak boleh masuk partai politik. Umur 18 tahun aku kintil (ikut) Rama Tjokroaminoto. Ikut berjuang. Sejak dari­pada itu tetap aku gandrung kepada persatuan, sekali lagi per­satuan. Perkataan gandrung ini keluar dari mulutku dari tahun 1918 sampai sekarang. 37 tahun lamanya aku gandrung persatuan. Memang aku gandrung persatuan. Oleh karena aku mengetahui, bahwa hanya persatuanlah bisa mencapai kemer­dekaan. Hanya persatuan bisa menetapkan kemerdekaan. Hanya persatuan inilah yang bisa membawa kita kepada cita-cita kita sekalian!

Di dalam kongres Rakyat Indonesia kuanjurkan persatuan ini. Di dalam Kongres Partai Nasional Indonesia di Randwlg, 10 bulan yang lalu – kuanjurkan pcrsatuan ini. Oleh karcna aku mclihat gejala-gejala perpecahan makin lama makin meningkat, makin lama makin menampak. Bersatulah kembali saudara-saudara, ber­satulah rakyat Indonesia – bersatu kembali di dalam persatuan nasional revolusioner yang sebulat-bulatnya. Sebab kita duduk di dalam alam revolusi nasional. Kalau kita mengadakan persatuan yang bukan persatuan nasional revolusioner tidak bisa kita menyelesaikan revolusi nasional kita itu. Aku hidup di dalam alam persatuan ini, aku gandrung kepada persatuan ini, – maka oleh karena itulah, jikalau aku sekarang sebagai Presiden Republik Indonesia berbicara di hadapan saudara-saudara, resmi sebagai Presiden Republik Indonesia yang membentangkan kepada saudara-saudara dasar negara, yang akan sumpah di atasnya seba­gai Presiden.

Di samping itu aku bergembira hati diberi kesempatan oleh Allah s.w.t. sebagai warga negara biasa membicarakan hal dasar­dasar negara ini.

Di dalam pidato 17 Agustus 1955 aku menganjurkan pula Panca Dharma. Apa inti dari Panca Dharma? Tak lain dan tak bukan ialah inti itu keluar daripada j iwa Pancasila. Tidakkah Panca Dharma lima? Pertama – persatuan. Kedua – yang merusak persatuan yaitu yang mengacau-ngacau keamanan ini harus kita lenyapkan. Nomor tiga – pembangunan, pembangun-an, pemba­ngunan! Keempat – Irian Barat. Kelima – pemilihan umum. Pernilihan umum pada intinya ialah persatuan. Segenap bangsa Indonesia yang 80 juta ini, yang sudah dewasa 43 juta, -diminta mengeluarkan suaranya dengan cara bebas -dalam alam suasana persaudaraan. Mari kita sekarang dengan tenang dalam suasana persaudaraan bangsa mengemukakan suara kita. Jiwa daripada pemilihan umum adalah persatuan!

Pembangunan juga tidak bisa selesai zonder persatuan. Dapatkah engkau membangun ekonomi Indonesia dengan tidak pcrsatuan? Tahukah engkau bahwa Indonesia ini ekonomi yang sebenarnya satu Unit. satu kesatuan yang besar. – yang jikalau satu daerah dikeluarkan – kocar-kacir ekonomi kita itu. Dan kita menyusun satu ekonomi yang bukan ekonorni kolonial, ekonomi imperialis? Tidak! Di dalam Undang-Undang Dasar kita sebutkan dengan tegas bukan ekonomi untuk membikin gendutnya perutnya satu dua orang. Tetapi ekonomi yang membikin sejahteranya segenap rakyat. Inilah dasar, inti jiwa daripada Undang-Undang Dasar kita, meskipun Undang-Undang Dasar yang dinamakan sementara.

Satu ekonomi nasional yang menjamin semua bangsa Indo­nesia, hidup sejahtera, layak, makmur. Bukan ekonomi yang mem­bikin gendut orang satu tetapi ekonomi sama rata sama rasa.

Satu ekonomi yang mengandung jaminan kehidupan yang baik buat semua, di dalam suasana kesatuan dan persatuan.

Pengacau keamanan bahwa itu memecah kepada persatuan merugikan kepada rakyat – perlukan masih kuuraikan? Tidak!

Irian Barat. Sebab apa saudara-saudara menuntut Irian Barat? Mungkin saudara beragama Islam? Di sana rakyatnya bukan Islam lho! Kenapa saudara menuntut Irian Barat supaya masuk di dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia? Saudara beragama Islam mereka tidak beragama Islam! Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah Republik Indone­sia oleh karena Irian Barat adalah sebagian daripada tanah air Indonesia, oleh karena suku Irian Barat adalah sebagian daripada bangsa Indonesia seluruhnya.

Lho kenapa saudara menuntut Irian Barat kembali kepada kekuasaan Republik?

Saudara akan menjawab: “Aku menuntut Irian Barat kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia oleh karena bangsa kita adalah satu dari Sabang sampai ke Merauke”.

Jadi dasarnva ialah persatuan bangsa. Maka oleh karena itu. -aku sckali lagi mcnganjurkan kcpada segenap rakyat Indonesia, terutama sekali di hadapan pemilihan umum ini. – ingat kepada persatuan. Ingat kepada persatuan! Bangsa Indonesia adalah selalu kukatakan bukan bangsa yang kecil jumlahnya 80 juta. Lebih besar daripada bangsa yang lain-lainnya.

Aku telah, alhamdulillah, melawat ke Mesir, ke Arabia, ke In­dia, ke Karachi, ke Pakistan, ke Sailan, ke Rangoon dan seba­gainya, kecual1 ke Eropa dan Amerika, – aku melihat bangsa kita potensinya hebat-hebat. Tidak ada satu tanah air daripada sesuatu bangsa yang lebih hebat daripada tanah air Indonesia.

Tidak ada satu bangsa yang lebih – seragam, sebenarnya jikalau mau, – daripada bangsa Indonesia. Tidak ada satu tanah air yang lebih indah daripada bangsa Indonesia. Jumlahnyapun tidak sedikit 80 juta. Lebih daripada bangsa yang lain!

Yaah kita kalah dengan Amerika Serikat jumlah bangsa kita ini. Kalah dengan USSR (Sovyet Unie) jumlahnya bangsa kita ini. Kalah dengan Tiongkok jumlah bangsa kita. Kalah dengan India jumlah bangsa kita. Tetapi di samping yang empat ini saudara-saudara, tidak ada lagi yang mengalahkan kita. Ada yang memadai kita jumlah rakyatnya yaitu Jepang tetapi yang lain-lain, sernuanya kurang daripada kita.

Mesir yang Bapak tempo hari kunjungi dan yang Bapak melihat semangatnya meluap-luap, berapa jumlah mereka? Mereka yang Bapak melihat mereka membangun. Membuat dam­dam yang besar, membuat jalan-jalan yang besar. – Jumlah mereka berapa? Yang mereka membangun pula Tentara, Tentara yang hebat. Yang mereka membangun angkatan Udara yang aku melihat pesawat-pesawat udara yang terbang di angkasa saudara­saudara, – berapa jumlah rakyat Saudi Arabia? 6 juta – kita 80 juta!

Aku datang di Bangkok, disambut oleh P.M. Phibul Song­oram. Tahukah engkau rakyat Thailand jumlahnya? 20 juta. kita – 80 juta. Kita bangsa yang 80 juta bukan bangsa yang kecil. kalau kita bersatu kataku berkali-kali, – jikalau kita 80 juta bersatu padu di dalam kesatuan nasional revolusioner. tidak ada satu cita-cita yang tidak terlaksana oleh kita.

Sekian sajalah, amanat Bapak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TIDAK ADA KONTRA REVOLUSI

BISA BERTAHAN

 

Amanat Presiden Soekarno
Pada Rapat Pancasila di Bandung
Tanggal 16 Maret 1958

 

Saudara-saudara

Baru sekarang sesudah saya datang kembali dari luar negeri, saya berjumpa lagi dengan saudara-saudara Rakyat Bandung dan sekitarnya. Saya mengucap terima kasih kepada saudara-saudara sekalian bahwa saudara-saudara telah datang di sini berbondong­bondong dengan jumlah lebih dari 1 juta manusia untuk bersama­sama menyatakan isi hati saudara-saudara. Isi hati bersatu padu sebagai satu Bangsa yang cinta pada kemerdekaan. Isi hati bersatu padu setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan saya amat bergembira pula pada ini hari, datang di Bandung bersama-sama dengan Ibu Rasuna Said yang oleh pemimpin rapat dengan tepat telah dikatakan Srikandi Indonesia. Saudara-saudara, tahukah engkau sekalian bahwa Ibu Rasuna Said telah berpuluh-puluh tahun lamanya berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, berjuang untuk utuhnya negara, yang kita proklamirkan 17 Agustus 1945. Bahkan waktu beliau masih muda, beliau telah berjuang sekuat­kuat tenaga untuk mernerdekakan tanah air kita. Beliau adalah pernimpin wanita Indonesia yang pertama yang dijebloskan oleh imperialis asing ke dalam penjara. Saya bergembira ini hari datang di Bandung bersama-sama dengan beliau. Bergembira oleh karena dengan adanya beliau di Bandung ini, ternyata sebagai tadi dinya­takan oleh beliau bahwa apa yang telah diperbuat oleh Achmad IIusein c.s., oleh Sjafruddin Prawiranegara c.s. sama sekali pada hakekatnya bukan kehendak daripada rakyat Minangkabau, tetapi hanyalah perbuatan petualang-petualang belaka.

Saudara-saudara, Ibu Rasuna Said tadi berkata bahwa beliau tiap-tiap kali beliau meninggalkan Tanjung Priuk untuk pergi ke luar negeri, beliau adalah dipandang oleh orang sebagai orang Indonesia. Benar ucapan Ibu Rasuna Said itu. Uemikian pula sava, saudara-saudara, yang berulang-ulang pula meninggalkan tanah air “menjajah desa hamilang kori”, datang ke mana-mana, tiap-tiap kali saya di luar negeri, bukan saja orang luar negeri memandang kepada saya sebagai orang Indonesia, tetapi j ustru di luar negeri itulah saudara-saudara, saya merasa diri saya orang Indonesia yang benar-benar cinta kepada Indonesia, dan malahan saya bisa berkata kepada saudara-saudara, tiap-tiap kali saya melihat ben­dera Sang Merah Putih berkibar, bukan saja di Washington, tetapi juga di Moskow, di London, di Paris, di Cairo, di New Delhi, di Peking dan tempat-tempat yang lain-lain, hati saya lebih besar daripada gunung Malabar yang ada di Selatan kita ini, saudara­saudara.

Saya sudah melihat tiga-per-empat daripada dunia. Melihat Amerika Serikat, melihat Kanada, melihat Switserland, melihat Jermania, melihat Italia, melihat Austria, melihat Sovyet Unie, melihat Mongolia, melihat RRC., melihat Jepang, melihat Viet­nam, melihat Philipina, melihat Thailand, melihat Burma, melihat India, melihat Selandia, melihat Pakistan, melihat Mesir, melihat Libanon, melihat Siria, melihat negara-negara lain, negeri-negeri lain, dan tanah air orang lain. Tetapi dengan bangga dan tegas saya bisa berkata: tidak ada satu negeri di dunia ini yang secantik, semolek, sekaya Indonesia. Oleh karena itu, maka tiap-tiap kali saya di luar negeri, makin cintalah saya kepada Indonesia. Apalagi jikalau saya duduk di kapal terbang, terbang di angkasa, menengok ke bawah, misalnya di daerah-daerah padang pasir, baik daripada Sentral Asia maupun di tempat yang lain-lain, rindu pada tanah air, melihat negeri orang lain: pasir, batu, pasir, batu, pasir, batu. Ingatlah saya kepada tanah air saya. Hijau, molek, cantik, kata orang Jawa: ijo royo-royo kadia penganten anyar. Cinta kepada tanah air. Maka oleh karena itu. saya vang juga sebagai Saudara Rasuna Said tadi katakan. juga orang Islam, sayapun merasa nasional di dalam arti saya sehebat-hebatnya.

Tentang perjalanan ke tanah-tanah orang lain. belakangan ini saya mengadakan perjalanan ke negeri Asia dan Afrika. Dulu saya mengadakan perjalanan ke Amerika, dan dunia yang dinamakan dunia barat. Saya hendak ceritera kepada saudara-saudara, bahwa pada satu hari saya diminta untuk memberi jawaban atas beberapa pertanyaan yang diajukan kepada saya oleh pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi Amerika. Diadakan satu rapat kecil, wakil-wakil pemuda dan wakil-wakil pemudi berkumpul di situ. Saya diun­dang di dalam rapat itu dan mereka mengajukan pertanyaan-per­tanyaan dan pertanyaan-pertanyaan itu harus saya jawab di dalam rapat yang saya hadiri. Dipotret, difilm, disiarkan dengan radio dan diadakan televisi pula. Rapat yang demikian ini, tanya jawab dengan pemuda dan pemudi adalah satu bagian daripada siaran televisi yang bernama “Youth want to know” – pemuda dan pemudi ingin tahu. Saya diundang untuk hadir di dalam rapat “Youth want to know” itu, dan saya datang.

Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada saya adalah sebagai berikut: -baik sekali saudara-saudara ketahui -ditanya­kan kepada saya: “Presiden Soekarno, kenapa Presiden Soekarno mengadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945?” Sekali lagi: “Kenapa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu Excellentie adakan pada tanggal 17 Agustus 1945?” Yaitu beberapa hari sesudah Jepang menekuk lutut di dalam peperangan dunia yang kedua. Artinya pertanyaan ini, saudara­saudara, ialah apa sebab Proklamasi Kemerdekaan itu tidak diu­capkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, pada tahun 1940, atau tahun 19′ )0 atau tahun 1929, kenapa 17 Agustus 1945. Saya merasa, ini adalah satu pertanyaan untuk memancing satu pengakuan. Sebab katanya, Kemerdekaan Indonesia ini pemberian dari Jepang. Ba­hwa tatkala Jepang telah menekuk lutut, kemerdekaan ini diberi­kan kepada bangsa Indonesia.

Saya kira inilah maksud daripada pertanyaan itu. Dan saya beri pcnjelasan yang tegas: kami, kataku, mengadakan Proklamasi Kernerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh karena pada waktu itu imperialisme sedang lemah. retak, hancur lebur. Inilah sebabnya kami mengadakan Proklamasi itu tidak pada tahun 1940, pada waktu imperialisme sedang kuat sentosa, pun tidak pada tahun 1930 pada waktu imperialisme sedang kuat. Maka itu kita mengadakan proklarnasi pada saat imperialisme lemah, pada saat imperial-isme tiada bertenaga. Nah, sesudah peperangan dunia yang kedua Belanda berantakan, imperialisme Belanda hancur lebur, Jepang lemah pula, oleh karena telah men­dapat pukulan. Saat itulah saat yang terbaik untuk mengadakan proklamasi.

Ini adalah siasat politik yang hebat sekali, saudara-saudara, dan memang kita bicarakan terlebih dahulu dengan pemimpin­pemimpin, bahkan di dalam tahun 1929 telah saya katakan, tahun 1929 tatkala saya masih menjadi penduduk Bandung, pada waktu itu, di dalam tahun 1929 saya berkata: Awas, imperialisme! Awas, jikalau nanti pecah perang pasifik, jikalau nanti pecah perang dunia yang kedua, jikalau nanti Lautan Teduh merah dengan darah manusia, jikalau nanti tanah-tanah di sekeliling Lautan Teduh menyala-nyala dengan api peperangan, pada saat itulah Indonesia menjadi merdeka. Ini saya ucapkan dalam tahun 1929. Dan kawan­kawan saya dari Bandung mengetahui bahwa justru karena ucapan inilah, saya ditangkap, dimasukkan ke dalam kandang.

Saudara-saudara, memang siasat politik harus dernikian. Ji­kalau hendak mengadakan proklamasi kemerdekaan, carilah saat yang imperialisme itu lemah berantakan. Ini terjadi dalam tahun 1945. Tegasnya, bulan Agustus 1945. Tetapi kecuali daripada itu, saudara-saudara, lama sebelum itu telah menjadi pemikiran kami, pemimpin-pemimpin. bahwa jikalau kami hendak memprokla­mirkan satu negara merdeka, lebih dahulu harus dipcnuhi beberapa syarat wntuk negara. 1′idak bisa, kita mengadakan proklamasi itu meskipun imperialisme berantakan. Tidak bisa kita mengadakan satu negara jika tidak sudah dipenuhi syarat-syarat untuk negara. Apa syarat untuk negara, saudara-saudara? Syaratnya adalah tiga. Negara, pertama syaratnya ialah harus mempunyai wilayah. Wilayah yang tegas dapat ditaruh di atas kaart. Bisa dipetakan. Wilayah yang di dalam bahasa asing dinamakan territoor. Dan cita-cita kami, sebagai bangsa Indonesia, cita-cita kita, juga bukan suatu negara sembarangan, saudara-saudara, tetapi suatu negara yang besar, yang kuat, sentosa, modern, up to date, dan satu negara yang bisa mendatangkan kebahagiaan kepada rakyat. Satu negara yang bisa di dalamnya diisikan satu masyarakat yang adil dan makmur. Bukan satu negara kapitalis. Bukan satu negara kemis­kinan. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak bisa makan dengan cukup. Bukan satu negara yang rakyatnya tidak hidup dengan bahagia. Tetapi satu negara besar dan masyarakat adil dan makmur di dalamnya.

Ini kami pikirkan mengenai wilayah itu tadi. Dan kami, pemimpin-pemimpin, sampai kepada satu kesimpulan, bahwa ji­kalau kita ingin mempunyai satu negara yang di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur, haruslah negara itu berwilayah seluruh Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Apa artinya saudara-saudara? Tidak bisa kita mengadakan satu negara yang bisa memberi masyarakat adil dan makmur jikalau wilayahnya tidak dari Sabang sampai ke Merauke. Artinya, misalnya negara Jawa sendiri, umpamanya, tidak bisa menyelenggarakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Demikian pula Sumatera um­pamanya berdiri sendiri sebagai negara, tidak bisa menyeleng­garakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Kalimantan tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sulawesi tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Bali tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Sumbawa tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Priangan tidak bisa men­jadi satu negara yang adil dan makmur masyarakatnya. Madura tidak bisa menjadi satu negara yang adil dan makmur masyarakat­nya. Hanya negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Meraukelah bisa menyelenggarakan masyarakat yang adil dan rnakmur, oleh karena daerah-daerah ini daerah Jawa, daerah Su­matera, daerah Kalimantan, daerah Sulawesi, daerah Bali, Lom­bok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, yaitu kepulauan Sunda Kecil yang dulu dinamakan demikian, sekarang dinamakan Nusa Tenggara, daerah Halmahera, daerah Maluku Tengah, Ambon, Saparua, Nusa Laut, daerah Irian Barat dan lain-lain sebagainya harus isi-mengisi satu sarna lain. Jikalau sesuatu daerah berdiri sendiri, saudara-saudara, tak mungkin menyelenggara-kan masya­rakat yang adil dan makmur itu.

Nah, jadi ditinjau oleh pemimpin-pemimpin kita: bisakah kita nanti mengadakan satu negara besar, modern, up to date, yang wilayahnya dari Sabang sampai ke Merauke? Kami pikir, kami tinjau, dan jawab kami: Ya! Kami dapat, kita dapat mengadakan negara yang demikian itu, berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke. Ialah oleh karena di dalam sejarah Indonesia, dahulu kitapun pernah mempunyai negara yang demikian itu, malahan wilayahnya lebih besar daripada apa yang dinamakan Hindia Belanda. Pernah pula mempunyai negara lain, yaitu Sriwijaya, yang wi layahnya hampir sama dengan apa yang dinamakan Hindia Belanda. Jadi menurut sejarah, negara yang berwilayah dari Sabang sampai ke Merauke, bisa diadakan. Demikian pula, saudara-saudara, sejarah pergerakan Indonesia menunjukkan ba­hwa daerah-daerah ini memang makin lama makin kembali ke dalam rasa persatuan Indonesia. Jadi tentang hal persoalan yang pertama, vaitu apakah bisa diadakan satu wilayah. satu territoor bagi negara, jawahnya ialah tegas: ya, kita bisa mengadakan wilavah atau territoor itu.

Syarat yang kedua daripada sesuatu negara, saudara-saudara, ialah bahwa di atas territoor itu harus ada rakyatnya. Kalau tidak ada rakyatnya tidak bisa menjadi negara. Coba umpamanya saudara mengadakan satu proklamasi di padang pasir, hendak mengadakan negara di padang pasir, walaupun wilayahnya ada, yaitu padang pasir, tetapi tidak ada rakyat di atasnya, saudara­saudara, tidak mungkin menjadi satu negara. Dan bukan rakyat sembarang rakyat, tetapi rakyat yang merasa dirinya bersatu padu, rakyat yang merasa dirinya telah menjadi satu bangsa, bukan dua, bukan tiga, bukan empat, satu bangsa. Inipun diselidiki oleh kami, pemimpin-pemimpin, dipikir, di-tinjau, bahkan di dalam tahun 1945, saudara-saudara, dikumpul-kan pemimpin-pemimpin, ber­sama meninjau soal ini dan ternyata: rakyat Indonesia yang ter­serak di pulau-pulau Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, yang berdiam di atas 3.000 pulau, – jumlah pulau di Indonesia lebih dari 10.000, saudara-saudara, – tetapi rakyat yang berdiam di atas 3.000 pulau, rakyat Indonesia yang berpuluh-puluh juta ini, walaupun diam terserak-serak atas 3.000 pulau, sehingga sebagai tempo hari saya katakan, pernah seorang wartawan berkata bahwa Indonesia adalah the most broken up nation in the world, satu negeri, satu bangsa yang paling terserak-serak rakyatnya saudara­saudara. Meskipun rakyat Indonesia berdiam di atas 3.000 pulau, ternyatalah bahwa Indonesia telah mempunyai rasa satu bangsa. Bahkan pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh pemuda-pemudi kita diikrarkan rasa ini, sebagai ikrar pemuda yang termasyhur: satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa. Dengan keyakinan inilah saudara-saudara, maka pertanyaan yang kedua dijawab oleh kami: Ya! kami telah menjadi satu bangsa.

Syarat ketiga bagi negara ialah apakah bisa diadakan Peme­rintah Pusat apa tidak? Pernerintah Pusat vang satu. Bukan dua. bukan tiga. bukan empat. Jawab kamipun: bisa diadakan Peme­rintah Pusat yang satu. ‘I’atkala kami berkumpul, pemimpin­pemimpin dari seluruh Indonesia, di dalam bulan Agustus saudara­saudara. sebelum mengadakan proklamasi, spesial soal ini ditinjau antara kita dengan kita. Dapatkah kita memenuhi syarat ketiga daripada sesuatu negara? Yaitu adanya satu Peinerintah Pusat. Dan jawab daripada sidang itu ialah: dapat Indonesia mengadakan satu Pemerintah Pusat. Sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, saudara-saudara, atau lebih tegas, pada tanggal 16 Agustus, pemimpin-pemimpin yang berkumpul di Jakarta itu, semuanya berkeyakinan, tiga syarat daripada negara bisa dipenuhi, territoor ya, bangsa ya, Pemerintah Pusat ya. Maka pada malam 16 malam 17 ditandatanganilah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan pada tanggal 17 Agustus 1945 dibacakan di muka umum: -Kami Bangsa Indonesia sejak saat sekarang ini merdeka, mendirikan satu negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nah, saudara-saudara, tiga syarat ini berjalan, territoor, wilayah Republik Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Hanya sebagian daripada territoor ini, saudara-saudara, sekarang diduduki oleh Belanda. Belum dikembalikan oleh Belanda kepada kita. Maka oleh karena itu saya selalu berkata kepada rakyat Indonesia, janganlah berkata, mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik, tetapi katakanlah mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, sebab Irian Barat sudah masuk di dalam wilayah Republik. Irian Barat sudah masuk di dalam territoor Republik. Sudah saya terangkan kepadamu sekalian di dalam rapat raksasa yang lalu, saudara-saudara, bahwa di dalam Undang-Undang Dasar kita ditulis dengan tegas, bahwa wilayah Republik Indonesia ialah: Indonesia. Dan apa yang di­namakan Indonesia? Yang dinamakan Indonesia ialah Tanah Air Indonesia yang terserak kepulauannya dari Sabang sampai ke Merauke. Dus Irian Barat masuk di dalam wilayah Republik. Yang bclum ialah kekuasaan Republik dikembalikan oleh Bclanda kepada kita. Uan saya tahu tekad saudara-saudara, taliu tekad pemuda dan pemudi, tahu tekad prajurit-prajurit, tahu tekad bin­tara-bintara, tahu tekad perwira-perwira, tahu tekadmu hai rakyat jelata, tahu tekadnya bapak Marhaen, tahu tekadnya bapak Ma­droi, tahu tekadnya seluruh rakyat Indonesia, ialah: berjuang terus agar supaya Irian Barat masuk ke dalam wilayah kekuasaan Re­publik.

Saudara-saudara, territoor sudah ada. Bangsa sudah ada. Pemerintah Pusat sudah berfungsi, saudara-saudara, sejak 17 Agus­tus 1945 hingga kini. Tetapi apa yang terjadi, apa yang terjadi? Achmad Husein c.s., Sjafruddin Prawiranegara c.s., justru melang­gar semuanya ini, saudara-saudara. Mereka mengadakan Peme­rintah lain, melanggar syarat yang nomor tiga ini tadi, ialah bahwa Republik Indonesia berwujud satu negara. Saudara-saudara hanya mengenal satu Pemerintah Pusat. Dus, jikalau mereka meng­adakan satu pemerintah pusat lain, sebenarnya mereka itu meng­khianati Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan bukan saja mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945, saudara-saudara, mengkhianati kepadamu, hai Marhaen, mengkhianati kepadamu hai pemuda dan pemudi, mengkhianati kepada pahlawan­pahlawan kita yang telah gugur, mengkhianati kepada perjuangan rakyat Indonesia yang sudah berpuluh-puluh tahun. Mengkhianati kepada jiwa Indonesia sendiri. Khianat perbuatan ini, saudara­saudara. Maka oleh karena itu segenap rakyat Indonesia, – saya yakin, -semuanya akan menghukum perbuatan Achmad Husein dan Sjafruddin Prawiranegara c.s. itu.

Tetapi, sebagai dikatakan oleh ibu Rasuna Said tadi, kami, kita penuh dengan kepercayaan, penuh, asal rakyat jelata, sekali lagi saya ulangi, asal rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945. Meskipun ada petualang-petualang, seratus, seribu, sepuluh ribu saudara-saudara. mereka akan lenvap dari rnuka bumi ini olch tcnaga daripada rakyat jelata itu. Rakyat jelata kckuatan Republik. rakyat jelata kekuatan negara. rakyat jelata sandaran daripada cita-cita. Saudara-saudara, rakyat inilah modal kita. Rak­yat jelata yang ingin bebas merdeka. Rakyat jelata yang dengan tenaganya kita rnengadakan proklamasi dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 itu. Apa, saudara-saudara, se­benarnya yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945? Kataku di tempat lain. pada tanggal 17 Agustus 1945, kita tidak hanya memproklamirkan Negara, tidak, bukan hanya memproklamirkan negara, kataku. Pada tanggal 17 Agustus 1945 itu kita juga mem­proklamirkan kepribadian kita. Kepribadian Indonesia. Apa kepribadian Indonesia, kataku, di lain tempat. Dan jawabku ialah: pertama, cinta merdeka. Cinta merdeka, tidak mau dijadikan budak orang lain. Tetapi juga menghormati kemerdekaan orang lain. Cinta kepada kemerdekaan, tetapi juga menghormati kemer­dekaan orang lain. Ingin bersahabat dengan semua manusia di dunia ini, ingin bersahabat dengan semua bangsa di dunia ini. Ingin bersahabat dengan semua negara di dunia ini. Saya berkata di lain tempat, saudara-saudara, bahwa kepribadian bangsa Indonesia terjelma di dalam dasar Pancasila.

Tadi diuraikan oleh Ibu Rasuna Said, memang Pancasila ini adalah pengutaraan daripada jiwa Indonesia. Aku ini, saudara­saudara, pernah diberi titel doktor, oleh karena katanya, aku ini adalah pembuat Pancasila. Aku menjawab, aku bukan pembuat Pancasila. Pancasila terbenam di dalam jiwanya Bangsa Indonesia. Apa yang kuperbuat hanyalah menggali lagi mutiara lima dari bwni Indonesia itu, dan mutiara lima ini aku persembahkan kepada bangsa Indonesia yang berupa lima dasar daripada Pancasila.

Aku diberi titel doktor mau aku terima, tetapi janganlah berkata bahwa aku ini adalah pembuat daripada Pancasila. Aku menggali kembali lima kebenaran daripada bangsa Indonesia itu, satu: Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai tadi telah diuraikan panjang lebar oleh Ibu Rasuna said. Dua: Kebangsaan Indonesia yang bulat, yang kita ini bukan orang Cigereleng, bangsa Cige­releng, bangsa Sukajati, bangsa Bandung, bangsa Periyangan, bangsa Jawa. Tidak! Kita ini adalah Bangsa Indonesia seluruhnya, satu Bangsa sebagai diucapkan oleh pemuda-pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Ketiga, dasar Pancasila: Perikemanusiaan. Menjehnanya di dalam politik sekarang ini, sebagai satu politik behas dan aktif, satu politik ingin bersahabat dengan semua baiigsa, balikan aktif berikhtiar agar sernua bangsa di dunia ini bersatu, jangan menjadi dua blok sebagai yang sekarang, ancam­mengancam satu sama lain, laksana dua raksasa yang telah mengintai di cakrawala, yang nanti pada satu hari akan menerkam satu sama lain, membakar seluruh manusia di dunia ini menjadi hangus.

Yah, saudara-saudara, bangsa Indonesia tidak mau ikut salah satu blok. Tidak mau ikut blok itu, tidak mau ikut blok ini. Bangsa Indonesia ingin menjadi sahabat dari sernua manusia. Dan bangsa Indonesia berikhtiar agar supaya semua manusia di dunia ini, 2.600 juta manusia di dunia ini, bersatu padu di dalam satu rasa perikemanusiaan. Dasar dari Pancasila yang ketiga: kita men­jalankan politik bebas. Di luar negeri ada yang mengatakan ini politik netral, katanya. Saya tolak perkataan netral. Kita bangsa Indonesia tidak netral. Kita menjalankan politik bebas. Gamal Nasser dari Mesir berkata: Bung Karno menyebutkan politiknya politik bebas. Kami dari Mesir menyebutkan politik kami ini politik of non-alignment. Artinya politik tidak mau mengikatkan diri ke dalam salah satu blok. Pada hakekatnya sama. Cara Mesir mengatakan ialah non alignment policy, cara Indonesia menyebut­nya ialah politik bebas. Tetapi aktif, aktif berikhtiar agar semua nianusia dipersahabatkan satu sama lain. Kami menolak perkataan netral. Kami tidak netral. Apa arti netral? Netral itu artinya: diam. Iiii politik iietral. Kita tidak netral. Kita aktif. Apalagi terhadap kcpada kolonialisme, kita tidak mau netral. Yah, kita mcngan­jurkan supaya antara dua blok ini adalah hidup berdamping-dam­pingan satu sama lain. Yah sudahlah. kalau sudah terlanjur menjadi blok-blokan, sini satu blok, situ satu blok. Tapi dua blok ini bisa hidup berdamping-dampingan satu sama lain.

llalam bahasa Inggerisnya: co-existence, malahan dikatakan peaceful co-existence. Hidup berdamping-dampingan satu sama lain dalam suasana perdamaian. Peaceful co-existence. Dan ini ternyata bisa, mungkin, bukan saja mungkin, bisa. Yaitu kalau sudah terlanjur blok-blokan, ya sudahlah, satu blok sini, satu blok situ, tapi dalam suasana perdamaian, tidak cakar-cakaran satu sama lain, tidak bertempur satu sama lain. Ini ternyata bisa. Sudah berpuluh-puluh tahun, sejak pecahnya perang dunia kedua, dua blok ini, saudara-saudara, ada dan bisa hidup berdamping-dam­pingan satu sama lain. Tetapi di antara kolonialisme dan bangsa­bangsa yang dikolonisir, antara penjajah-penjajah dan rakyat­rakyat yang terjajah tidak bisa hidup berdamping-dampingan satu sama lain. Antara kolonial-isme dan rakyat-rakyat yang dikolonisir tidak bisa ada co-existence. Tidak! Apa sebabnya? Saya terangkan di lain tempat, oleh karena yang menjajah yaitu si kolonialis, tangannya masuk kantongnya rakyat yang dikolonisir. Kalau blok dengan blok tidak, saudara-saudara. Seperti di antara dua blok itu ada gang. Tetapi di antara kolonialis dan rakyat yang dikolonisir tidak ada gang itu, saudara-saudara. Ialah oleh karena tangannya si kolonialis masuk di dalam kantongnya rakyat yang dikolonisir. Maka oleh karena itu Bangsa Indonesiaberkata: Tidak! Kami tidak netral. Terutama sekali terhadap kepada kolonialisme. Kami tidak netral. Tidak! Kami berjuang terus, melawan kolonialisme. Kami berjuang terus melawan penjajahan. Bukan saja penjajahan di dalam negeri, tetapi penjajahan di luar negeripun kami berjuang kepadanya. Malahan kami tempo hari memanggil 29 negara­negara dan Bangsa-Bangsa Asia Afi-ika. berkumpul di kota molek Bandung ini. mengadakan konferensi Asia Afrika. Dan konferensi Asia Afrika itu telah menghukum kolonialisme dan segala bentuk dan tindakannya. hlilah tekad Bangsa Indonesia. saudara-saudara. Sebagai hasil daripada dasar ketiga daripada pancasila: Perikema­nusiaan.

Dasar kita keempat: Kedaulatan Rakyat. Ya memang kita ini, saudara-saudara, ingin menjalankan demokrasi, dan memang dasar kita ini ialah demokrasi. Sebagai dikatakan oleh Ibu Rasuna Said tadi, kita ini bangsa menjalankan demokrasi. Sudah mempu­nyai DPR hasil pemilihan umum, sudah mempunyai Konstituante dengan pemilihan umum. Kalau sesuatu golongan daripada bangsa Indonesia, tegasnya kalau Sjafruddin tidak senang dengan Peme­rintah sekarang ini, kalau Achmad Husein tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Simbolon tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, kalau Sumitro tidak senang dengan Pe­merintah sekarang ini, kalau Dahlan Dj ambek tidak senang dengan Pemerintah sekarang ini, gerakkanlah DPR, Parlemen itu, supaya mengadakan mosi tidak percaya kepada Pemerintah sekarang ini, supaya menjatuhkan Pemerintah sekarang ini. Ini jalan yang de­mokratis, saudara-saudara, melalui Parlemen. Tetapi mereka tidak melalui Parlemen. Mereka mengadakan ultimatum, mereka meng­adakan proklamasi PRRI. Ini adalah peng-khianatan! Pengkhi­anatan daripada Proklamasi! Bahkan aku berkata, pengkhianatan kepada jiwa Indonesia yang demokratis! Pengkhianatan kepada Marhaen, kepada rakyat jelata, kepada pemuda yang telah bertem­pur mati-matian unluk mengadakan negara demokratis ini, saudara-saudara. Ibu Rasuna Said berkata: PRRI bukan pemerin­tah revolusioner Republik Indonesia, tetapi pemerintah reaksioner Republik Indonesia. Sebenarnya lebih daripada reaksioner. Ini bukan reaksioner saja, ini adalah kontra-revolusioner!

Yah, di dalam tiap-tiap revolusi ada kontra-revolusi. Kita mengalami kontra-revolusi beberapa kali. revolusi Sovyet meng­alami kontra-revolusi beberapa kali. revolusi RRC meng-alami kontra-revolusi. revolusi Perancis mengalami kontra-revolusi. Revolusi Mesir mengalami kontra-revolusi, saudara-saudara. Tiap-tiap revolusi mengalami kontra-revolusi. Tetapi jikalau rcvolusi itu benar-benar revolusi, artinya benar-benar tindakan daripada rakyat jelata yang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan-jutaan. Jikalau revolusi itu benar-benar massal, saudara­saudara. Tidak ada satu kontra-revolusi bisa bertahan. Tidak ada. Maka oleh karena itu saya berkata, jikalau rakyat Indonesia ini seluruhnya, rakyat jelata setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945, kontra-revolusi akan lenyap dari muka bumi ini. Dan kita akan menghadapi zaman yang gilang-gemilang. Kita, saudara­saudara, bangsa di dalam revolusi yang berjalan terus, yang seba­gai kukatakan, for a fighting nation there is no journey’s end, buat bangsa yang berjuang tidak ada yang dinamakan berhenti. Tidak! Kita berjalan terus.

Yah, kita sekarang mengalami kontra-revolusi. Kita berjalan terus. Dan Insya’allah s.w.t., dengan semangat rakyat jelata seba­gai yang saya lihat di Bandung sekarang ini, Insya’allah kita akan mencapai apa yang hendak kita capai. Kita hendak capai satu Negara Republik Indonesia dengan di dalamnya satu masyarakat yang adil dan makmur yang memberi kebahagiaan kepada seluruh rakyat Indonesia yang 82.000.000 ini. Kita menjalankan politik bebas.

Aku di luar negeri, 40 hari lamanya, melihat dengan mata kepala sendiri, saudara-saudara, Sumual c.s. itu sakunya penuh dengan uang. Nah inilah katanya barter, barter katanya. Dijual kopra dari Minahasa itu untuk rakyat Minahasa. Omong kosong! Uang dari hasil penjualan kopra ini masuk dalam kantongnya petualang-petualang itu, saudara-saudara. Dan saya membaca sendiri di dalam surat kabar, petualang-petualang itu tiap-tiap sore pergi. per`gi ke tempat-tempat kesenangan, nightclubs, traktir mereka, bclikan mobil mereka. Kantong mereka penuh dengan uang saudara-saudara. Dan aku melihat sendiri, saudara-saudara. bahwa ada petualang-petualang asing menunggangi mereka itu. Malah ketika aku menjalankan perjalanan ke India, ke Mesir, ke Yugoslavia, ke Ceylon, ke Pakistan, ke Burma, ke tempat-tempat lain, aku mendapat pengertian, diberi mengerti oleh beberapa kawan-kawan, bahwa ada petualang-petualang asing yang sudah tidak senang lagi dengan apa yang dinamakan oleh mereka netral­isme kita, -saya tadi berkata, politik kita dinamakan politik netral – kita ini dikatakan menjalankan politik netralisme, policy of neutralism – dikatakan oleh mereka itu, saudara-saudara, yaitu kawan-kawan kita itu, sekarang ini sudah ada golongan petualang­petualang asing yang tidak senang lagi dengan politik netral kita. Dulu mereka itu senang, cukup senang, kalau Indonesia netral. Cukup senang kalau India netral. Cukup senang kalau Burma netral. Cukup senang kalau Mesir netral. Cukup senang kalau Siria netral. Cukup senang kalau Langka netral. Asal tidak ikut blok itu. tetapi sekarang timbul petualang-petualang yang sudah tidak senang lagi kepada netralisme kita. Mereka hendak menyeret kita, memasukkan kita, atau sebagian daripada kita ke dalam salah satu blok.

Oleh karena itu, di dalam amanat saya pada tanggal 21 Februari, tatkala saya menerima kembali jabatan Presiden dari ta­ngannya Bapak Sartono, saya berkata: perbuatan Akhrnad Husein c.s. ini, adalah satu penyelewengan daripada Proklamasi dan bukan saja itu, tetapi adalah anasir-anasir asing, usaha-usaha asing mau memasukkan Indonesia atau sebagian daripada Indonesia itu ke dalarn salah satu blok. Dan ini aku lihat dengan mata kepala sendiri, saudara-saudara, tatkala aku di luar negeri, bagaimana Surnual, bagaimana Pantouw, bagaimana Walandouw dan konco­-konconya itu ditunggangi sama sekali oleh petualang-petualang ini. Dibesar-besarkan hatinva. dihasut-hasut. bahkan diberi apa­-apa, saudara-saudara. Tentang hal Sumual. ketika aku di Tokio. dia sudah ada di Tokio. Aku lihat dengan jelas dengan bukti, dia di Tokio itu bukan sekadar untuk mengadakan kampanye hasutan terhadap Republik, hasutan terhadap Pernerintah Pusat di Jakarta, hasutan terhadap Presiden Sukarno. Bukan saja itu, di Tokio ia mengadakan kontak dengan seorang petualang Jepang – jangan salah mengerti – petualang Jepang, – pada umumnya rakyat Jepang, saudara-saudara, ramah-tamah, cinta kepada Republik Indonesia, – tetapi di dalam tiap-tiap bangsa ada petualng-petu­alangnya, tiap-tiap bangsa. Lha ini petualang Jepang kontak de­ngan Sumual. Sumual dengan petualang Jepang ini mengadakan pembicaraan, perundingan. Sumual hendak membeli senjata, dibayarnya dengan kopra barter. Senjata ini untuk apa? Untuk menggempur Republik, saudara-saudara!

Apa terjadi? Bicara sudah matang, di dalam bahasa asing tempo hari saya katakan, pembicaraan ini sudah in kannen en kruiken. Tinggal lagi ditandatangani kontraknya ini, sekian ribu senjata, saya bayar dengan sekian ribu karung kopra. Sudah ham­pir ditandatangani, ada petualang dari bangsa lain berkata kepada Sumual “buat apa beli senjata dari Jepang, Jepang itu jauh dari Indonesia. Kamu bisa dapat senjata dari satu tempat yang lebih dekat dari Indonesia. Batalkan engkau punya perjanjian dengan .lepang ini. Ambillah senjata yang dari kami, dekat dari Indonesia”. Sumual, saudara-saudara, lantas batalkan perundingannya dengan pihak petualang Jepang ini. Apa terjadi? Petualang Jepang ini menjadi marah, surat-suratnya diberikan kepada orang Jepang lain, dengan permintaan supaya diteruskan kepada Presiden Soekarno. Nah, kawan Jepang ini memberikan sernua surat Su­mual itu kepada Presiden Soekarno, sehingga terbukti hitam di atas putih, saudara-saudara. Bukan saja satu surat, beberapa surat dengan fotokopi-fotokopinya sama sekali, bahwa Sumual di Tokio hendak membel i senjata untuk menggempur Republik. tetapi ganti dengan usaha mcndapat senjata dari tempat yang lebih dckat daripada Indonesia untuk menggempur Republik.

Coba, pengkhianatan atau tidak ini, saudara-saudara. Maka oleh karena itu saya tadi berkata: kita berjalan terus, berjalan terus. Asal rakyat Indonesia bersatu padu, asal rakyat jelata Indonesia bersatu padu, biar mereka mengadakan usaha yang demikian itu, saudara-saudara, akhirnya toh Insya’allah s.w.t. digiling mereka itu oleh rakyat jelata, oleh karena memang rakyat jelatalah tenaga daripada revolusi.

Kita ini, saudara-saudara, di dalam cobaan. Tetapi sebagai berulang-ulang saya katakan, yang sudah diulangi oleh Ibu Rasuna Said tadi, kalau kita, saudara-saudara, tetap kompak, tetap bersatu padu, kita Insya’allah kuat menghadapi segala cobaan. Dan me­mang cita-cita kita, saudara-saudara, belum tercapai. Bukan saja memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, tetapi juga mengadakan pembangunan demikian rupa, sehingga terselenggaralah satu masyarakat yang adil dan makmur sebagai yang dicita-citakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Yah, kita mengetahui, kami daripada pihak Pemerintah mengetahui bahwa cita-cita sosial kita, masyarakat adil dan mak­mur itu belum tercapai. Tetapi janganlah kita lupa saudara­saudara, bahwa masyarakat adil dan makmur hanyalah bisa diselenggarakan oleh satu bangsa yang kompak dengan satu Pemerintah Pusat yang kuat. Jangan kira, saudara-saudara, bahwa masyarakat adil dan makmur itu bisa diselenggarakan, kalau kita selalu terpecah belah, kalau kita antara partai dengan partai selalu bertempur, jikalau kita di dalam masa merdeka yang 12 tahun ini, melalui 17 kali Kabinet, tiap kali ganti kabinet. Tak mungkin masyarakat adil dan makmur bisa diselenggarakan dengan keadaan yang demikian itu. Maka oleh karena itu saya, saudara­saudara, minta kepada semua partai-partai untuk bersatu padu. Kita menghadapi zaman yang sulit dan zaman vang sulit ini hanya bisa kita atasi kalau kita bcrsatu padu. kalau kita berdiri bulat di helakang Pemerintah yang sekarang ini. Kalau nanti, saudara­saudara, kita sudah mengatasi kesulitan-kesulitan ini, pembangun­an bisa betjalan dengan sehebat-hebatnya, agar supaya cita-cita sosial kita tercapai, agar supaya engkau bisa hidup dalam suasana yang engkau cita-citakan: perumahan layak, makan cukup, san­dang cukup, anak-anak bersekolah, pendek rakyat Indonesia, saudara-saudara, menjadi satu rakyat yang benar hidup di dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Janganlah sampai kita mengalami sebagai yang sekarang ini, sebagai dikatakan oleh Ibu Rasunah Said. Malu kita, saudara-saudara, kalau di luar negeri digambarkan Indonesia terpecah-belah, Indonesia lemah, Indonesia cakar­cakaran satu sama lain, bahkan di kalangan bangsa Indonesia ada pengkhianat-pengkhianat, petualang-petualang. Aku di luar negeri, saudara-saudara, merasa terharu benar-benar, dan sebagai kukatakan di dalam pidato 16 Februari yang lalu, tatkala aku baru turun dari kapal udara, aku telah berkata: Semua bangsa yang kukunjungi ikut-ikut mendoa agar supaya Indonesia lekas kuat, lekas kompak, lekas bersatu padu, lekas mempunyai Pemerintah Pusat yang tenaganya bisa menyeleng-garakan rakyat bekerja keras untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Tetapi tidak cukup dengan doanya kawan-kawan. Tidak cukup dengan doanya Nehru, tidak cukup dengan doanya Gamal Nasser. Tidak cukup dengan doanya Tito, dengan doanya Kuatly, dengan doanya Bandara­naike, dengan doanya U Nu, dengan doanya pemimpin-pemimpin di luar negeri. Tidak cukup! Kita sendiri, saudara-saudara, harus menyingsingkan lengan baju kita. Di sini saya selalu mensitir firman Allah s.w.t.: Tuhan Allah tidak merubah nasib sesuatu bangsa, kalau bangsa itu sendiri tidak merubah nasibnya. Seperti didoakan oleh Nehru seribu kali satu hari, seperti didoakan oleh Gamal Nasser seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Soukrv el Kuatly dari Siria seribu kali satu hari, nieskipun di­doakan oleh Marsekal Tito seribu kali sehari, meskipun didoakan olell Bandaranaike dari Kolombo seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh U Nu dari Rangoon seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Presiden Eisenhower seribu kali satu hari, meskipun didoakan oleh Worosilov seribu kali satu hari, saudara-saudara, agar supaya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, kalau bangsa Indonesia sendiri tidak menyelenggarakan, berikhtiar, mernbanting tulang, mengulurkan tenaganya, memeras keringat­nya, agar menjadi bangsa yang kuat, bangsa Indonsia tidak bisa menjadi bangsa yang kuat.

Inilah amanat saya kepada saudara-saudara.

Mari, hai, rakyat Indonesia, mari hai rakyat Bandung, kita bekerja terus, berjalan terus, dengan dasar Proklamasi 17 Agustus 1945, Proklamasi keramat dan kita tidak mengakui proklamasi lain daripada proklamasi yang satu ini, Proklamasi 17 Agustus 1945.

 

Sekian.

 

 

(Diambil secara stenografis)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANCASILA MEMBUKTIKAN

DAPAT MEMPERSATUKAN BANGSA INDONESIA

 

Pidato  Presiden Soekarno Pada Peringatan

Lahirnya Pancasila di Istana Negara

 Tanggal 5 Juni 1958

 

Saudara-saudara sekalian,

Barangkali dalam kalangan kita sekarang ini, tidak ada se­seorang yang lebih terharu hatinya daripada saya. Terharu karena ingat kepada perjuangan dan penderitaan rakyat berpuluh-puluh tahun, yang akhirnya melahirkan Negara Kesatuan Republik In­donesia, berdasarkan Pancasila. Terharu oleh karena pada ini malam di Istana Negara berkumpul beribu-ribu saudara-saudara, handai taulan untuk memperingati lahirnya Pancasila, sedang di halaman di muka Istana negara, berkumpul berpuluh-puluh ribu rakyat yang mendengarkan pidato-pidato dari sini, sedangkan pula seluruh rakyat Indonesia yang memiliki radio atau berdiri di muka radio umum men-dengarkan pidato-pidato itu pula. Terharu oleh karena pada ini malam dengan tidak terduga-duga dan tersangka­sangka, diucap-kan oleh pembicara-pembicara, perkataan­perkataan pujian terhadap kepada diri saya, yang atas perkataan­perkataan, pujian itu saya mengucap banyak-banyak terima kasih, sambil meng-ulangi ucapan saya di Yogyakarta tatkala saya men­dapat gelar doctor honoris causa di Universitas Gajahmada, seba­gai tadi disitir oleh saudara Prof. Mr. H. Muh. Yamin, bahwa saya bukan pembentuk atau pencipta Pancasila, melainkan sekadar salah seorang penggali daripada Pancasila itu.

Terharu pula, oleh karena pada ini malam, dengan tidak terduga-duga dan tersangka-sangka dibacakan pernyataan oleh pemuda-pemuda dari barisan Baladika Wirapati, Bala Andika Wirapati. Malahan dibacakan pernyataan setia kepada Pancasila itu, sebagai tanda mata kepada saya, oleh karena besok Insya Allah swt., saya akan merayakan, atau memperingati hari ulang tahun saya. Demikian pula barisan penyanyi-penyanyi dari Liga Pan­casila membawa-bawa perkataan, bahwa nyanyian itu dinyanyi­kan sebagai tanda hadiah kepada saya yang Insya Allah besok pagi akan memperingati hari ulang tahun saya. Tidakkah pada tempat­nya saya terharu dan merasa amat berterima kasih?

Pada permulaan kata saya berkata: terharunya hati saya itu, terutama sekali ialah oleh karena saya ingat kepada perjuangan rakyat Indonesia yang telah berpuluh-puluh tahun, tetapi yang akhirnya dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai yang kita miliki sekarang ini. Yah, perjuangan dan penderitaan bangsa Indonsia yang ber­puluh-puluh tahun, dianugerahi oleh Allah swt. dengan Negara Kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Benar sekali dikatakan oleh saudara Menteri Penerangan Sudibyo bahwa Pancasila tak dapat dipisahkan daripada Proklamasi dan daripada negara Republik Indonesia. Tetapi jikalau saya ingat kepada per­juangan dan penderitaan rakyat Indonesia yang berpuluh-puluh tahun itu, saya ingin menambah pula perkataan saudara Sudibyo, bahwa Pancasila bukan saja tidak dapat dipisahkan daripada pro­klamasi dan tidak bisa dipisahkan daripada negara, tetapi juga tidak bisa dipisah-kan dari perjuangan rakyat Indonesia yang telah berpuluh-puluh tahun. Keterangannya bagaimana, saudara­saudara? Rakyat Indonesia berjuang dengan melalui beberapa pengalaman dan pengajaran-pengajaran. Banyak perjuang-an bangsa Indonesia yang gagal. Tetapi akhirnya perjuangan bangsa Indonesia itu berhasil. Apa sebab gagal? Apa sebab berhasil? Marilah kita tinjau hal itu sejenak waktu. Gagal oleh karena tak mampu mempersatukan rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Berhasil tatkala mampu mempersatukan rakyat dari Sabang sampai ke Merauke. Ingat perjuangan Diponegoro, betapa hebatnya, betapa penuhnya dengan heroisme dan kepahlawanan. Toh tak dapat mencapai apa yang hendak dicapainya, yaitu Negara Merdeka. Ingat perjuangan Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Negara Mataram yang kedua. Tak kurang heroisme, tak kurang kepahlawanan, tetapi toh gagal oleh karena perjuangan itu hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia, sebagaimana perjuangan Diponegoro pun hanya dijalankan oleh sebagian rakyat Indonesia. Ingatlah kepada perjuangan Sultan Hassanudin. Kata Speelman: de jonge haan, ayam yang muda, gagal oleh karena perjuangan Sultan Hassanudin hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia. Ingat kepada perjuangan Teuku Umar, atau Cikdi Tiro di Aceh; gagal, oleh karena hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia. Ingat pada perjuangan Sura­pati, gagal oleh karena perjuangan Surapati itu hanya dijalankan oleh sebagian daripada rakyat Indonesia. Tetapi tatkala bangsa Indonesia dapat mernpersatukan segenap rakyat Indonesia dari Sabang smpai ke Merauke, gugurlah imperialisme dan berkibar-lah Sang Merah Putih di angkasa dengan cara yang amat megah.

Memang, saudara-saudara, perjuangan bangsa Indonesia un­tuk mencapai kemerdekaan, untuk menggugurkan imperialisme harus didasarkan atas persatuan. Berbeda dengan perjuangan bangsa lain. Beberapa pekan yang lalu di Istana Negara ini, saya memberi kursus kepada pemuda-pemuda Liga Pancasila dan di dalam kursus yang pertama itu, saya uraikan salah satu perbeda-an antara rakyat Indonesia dan misalnya perjuangan rakyat India. Rakyat India dapat mengalahkan imperialisme Inggeris, yang pada hakekatnya satu imperialisme dagang, satu handels imperialisme, dengan memobilisir kekuatan daripada satu natonale bourgeoisie yang sedang timbul. Nationale bourgeoisie India ini, saudara­saudara, merekalah yang pada hakekatnya menggerakkan gerakan swadesi. memboikot barang-barang bikinan Inggeris. membuat barang-barang bikinan India sendiri, sehingga imperialisme Ing­geris yang membawa barang dagang-an Inggeris ke India itu, akhirnya tidak mendapat pasaran di India. Oleh karena menderita saingan yang hebat daripada rakyat India sendiri yang dengan gerakan swadesi dapat me-menuhi kebutuhan-kebutuhannya akan barang-barang pakaian dan komsumsi. Dus, India mempergu­nakan antara lain saudara-saudara, tenaga daripada satu nationale bougeoisie yang sedang timbul. Kita, saudara-saudara, tidak mem­punyai nationale bougeoisie, apalagi tidak mempunyai nationale bougeoisie revolusioner. Borjuasi nasional yang progressif, oleh karena memang tidak ada borjuasi nasional ini dalam arti yang besar. Kita mempunyai restan daripada borjuasi nasional. Maka oleh karena itulah perjuangan bangsa Indonesia, mau tidak mau, harus mempergunakan tenaga daripada rakyat j elata. Rakyat j elata bukan saja dari tanah Jawa, bukan saja dari Sumatera, bukan saja dari Sulawesi, bukan saja dari Kalimantan, bukan saja dari Nusa Tenggara, bukan saja dari Maluku, tetapi rakyat jelata dari Sabang sampai ke Merauke, bersatu padu, dan akhirnya gugurlah imperi­alisme.

Persatuan inilah, saudara-saudara, kita punya senjata. Per­satuan ini akhirnya sebagai tadi saya katakan, oleh karena perju­angan persatuan ini adalah perjuangan yang gigih, akhirnya dikaruniai oleh Allah swt. dengan Negara Proklamasi.

Saudara-saudara, dus, manakala perjuangan kita harus tidak boleh tidak, harus didasarkan kepada persatuan bangsa, maka demikian pula Negara kita, saudara-saudara, hanyalah bisa berdiri tegak, Insya Allah kekal dan abadi, bilamana berdasar-kan atas dukungan daripada seluruh rakyat dari Sabang sampai ke Merauke. Sebagai tadi diterangkan oleh saudara Sarjana Agung Mahaputera Profesor Mr. H. Muh Yamin, saudara-saudara seka­lian, sehingga opgave kita sekarang ini saudara-saudara, memben­tuk atau mengekalkan persatuan itu agar supaya persatuan ini dapat dij adikan sebagai dasar pondamen yang kuat kekal dan abadi daripada negara.

Pondamen yang kuat dan kekal dan abadi, sebab hanya atas pondamen ini Negara bisa kekal dan abadi. Sulit sekali saudara­ saudara, pemersatuan rakyat Indonesia itu jikalau tidak didasarkan atas Pancasila. Tadi telah dikatakan oleh saudara Muh. Yamin, alangkah banyak macam agama di sini, alangkah banyak aliran pikiran di sini, alangkah banyak macam golongan di sini, alngkah banyak macam suku di sini, bagaimana mempersatukan aliran, suku-suku, agama-agama dan lain-lain sebagainya itu, jikalau tidak diberikan satu dasar yang mereka bersama-sama bisa berpi­jak di atasnya. Dan itulah saudara-saudara. Pancasila.

Ada satu ucapan dari seorang pemimpin besar asing, dia berkata: national unity can only be preserved upon a basic which is larger than the nation itself. Persatuan nasional hanya dapat dipelihara kekal dan abadi jikalau persatuan nasional itu di­dasarkan di atas satu dasar yang lebih luas daripada bangsa. Lebih luas daripada apa yang dinamakan Indonesia, dus, national unity itu, saudara-saudara, menurut anggapan kita hanya bisa dikekala­badikan di atas satu dasar, yang menurut saudara Prof. Muh. Yamin, satu dasar falsafah Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, Perikemanusiaan, Kebangsaan Indonesia yang bulat, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial, sebagai satu geloof, sebagai satu arah pikiran, sebagai satu arah kepercayaan, bukan kepercayaan agama, tetapi satu arah kepercayaan daripada satu bangsa. Saya melihat saudara Siauw Giok Tjhan di sana. Barangkali saudara Siauw Giok Tjhan bisa membenarkan Saya jikalau saya mensitir Kon Fu Tsu. Pada satu hari datanglah seorang kepada Kon Fu Tsu: Ya, guru besar, apa-kah syarat-syarat agar sesuatu bangsa bisa menjadi kuat? Jawab Kon Fu Tsu: Syaratnya ialah tiga. Satu, tentara yang kuat. Dua, makanan dan pakaian rakyat yang cukup. Tiga, kepercayaan di dalam kalbunva rakyat itu. Tiga ini disebutkan oleh Kon Fu Tsu sebagai syarat mutlak untuk menjadikan bangsa menjadi kuat: tentara yang kuat, makanan dan pakaian rakyat yang cukup. keper­cayaan, geloof. Sang siswa menanya kepada guru besar Kon Fu Tsu: Jikalau daripada tiga syarat ini satu harus dibuang, harus tuanku tanggalkan, mana yang harus tuanku tanggalkan lebih dulu? Jawab Kon Fu Tsu: Yang boleh ditanggalkan lebih dahulu ialah tentara yang kuat. Tinggal makanan dan pakaian rakyat yang cukup, dan kepercayaan.

Sang siswa tanya lagi: Ya, tuanku, jikalau daripada dua syarat ini satu harus tuanku tanggalkan, mana yang tuanku akan tanggal­kan? Jawab Kon Fu Tsu: makanan dan pakaian rakyat bisa ditang­galkan, artinya makanan san pakaian rakyat yang cukup bisa ditanggalkan. Makanan kurang sedikit, pakaian kurang sedikit, tidak jadi apa. Tetapi syarat yang ketiga, geloof, kepercayaan, belief tidak dapat ditanggalkan. A nation without faith can not stand. Bangsa yang tidak mempunyai geloof, bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan, tidak mempunyai belief, bangsa itu tidak bisa berdiri.

Maka bangsa Indonesiapun harus mempunyai belief, mem­punyai geloof, mempunyai kepercayaan. Dan geloof bangsa Indo­nesia harus larger than the nation itself, lebih luas daripada bangsa Indonesia sendiri, berupa Pancasila, saudara-saudara. Pancasila pengutamaan daripada rasa kebangsaan, keinginan daripada bangsa Indonesia untuk menjadi Negara yang kuat, bangsa yang kuat, mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur.

Saya membenarkan perkataan saudara Kiai Haji Masykur, kawan saya yang tercinta, bahwa kita mengharap kepada Konsti­tuante lekas dapat menentukan Undang Undang Dasar yang tetap bagi Negara Republik Indonesia dan memang di dalam pidato pembukaan daripada Konstituante, saya minta kepada Konsti­tuante agar supaya lekaslah selesai dengan pekerjaannya. Tetapi sava persoonlijk ada mempunvai do’a kepada Allah swt., moga­moga Konstituante menerima pula Pancasila sebagai dasar kekal dan abadi daripada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab saudara-saudara, sebagai tadi saya katakan, saya tidak melihat jalan yang lain untuk mempersatukan bangsa Indonesia ini di atas dasar lain daripada dasar Pancasila.

Ya, saudara-saudara, kita adalah satu bangsa yang meng­hadapi beberapa challenge sebagai yang sering saya katakan kepada mahasiswa-mahasiswa, tetapi dalam pada menghadapi beberapa challenge itu tadi, tantangan-tantangan, baik tantangan internasional maupun tantangan nasional, maupun tantangan pribadi; internasional kataku ialah: internasional cooperation atau total destruction, global social justice atau exploition de 1′homme par 1′homme; nasional, tetap setia kepada proklamasi Negara Kesatuan Indonesia 17 Agustus 1945, atau tidak, dan diseleng­garakan di tanah air kita satu masyarakat adil dan makmur, atau tidak. Challenge pribadi, kepada pemuda dan pemudi, hendak menjadi pemuda dan pemudi yang bergunakah bagi diri sendiri, bagi masyarakat dan bagi Negara Republik Indonesia, atau hendak menjadi crossboy atau crossgirl?

Kita bangsa Indonesia seluruhnya dalam menghadapi tan­tangan yang dahsyat ini, keinginan saya, saudara-saudara, supaya dalam beberapa hal jangan kita pertikaikan lagi. Antara lain ja­nganlah dipertaikaikan lagi warna bendera kita, merah-putih, yang megah. Jangan dipertikaikan lagi, jangan di-perdebatkan lagi, ja­ngan pula diperdebatkan di Konstituante, sebab sebagai dikatakan oleh Prof. Mr. Muh. Yamin, ini adalah warisan daripada orang­orang karuhun, leluhur kita sejak beribu-ribu tahun. Jangan diper­debatkan lagi. Jangan ada golongan yang ingin mengganti merah putih dengan merah! Tetapi jangan ada pula golongan yang ingin merobah merah putih menjadi hijau! Tetap merah putih! Marilah kita terima hal itu semuanya, sonder pertikaian-pertikaian lagi. Demikian pula misalnva. saya minta. jangan dipertikaian lagi. hal lagu Indonesia Raya. Sudah-lah, marilah kita terima lagu Indonesia Raya itu sebagai cetusan daripada jiwa kita yang cinta kepada tanah air dan bangsa. Jangan dipertikaikan, demikianlah kata saya kepada dewan Nasional tadi pagi, hal cita-cita kita mengenai masyarakat adil dan makmur. Sebab masyarakat adil dan makmur ini adalah cita-cita bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun, bahkan dibeli oleh bangsa Indonesia cita-cita ini dengan penderi­taan yang berpuluh-puluh tahun pula. Jangan ada orang Indonesia seorangpun yang menghendaki masyarakat yang tidak adil dan tidak makmur. Jangan ada seorang Indonesia pula, satupun jangan, yang menghendaki satu masyarakat yang berdasarkan atas sistem penindasan, penghisapan, exploitation de 1′homme par 1′homme. Jangan kita perdebatkan hal itu lagi. Demikian pula doaku kepada Allah swt. sebenarnya, saudara-saudara, janganlah Pancasila ini diperdebatkan lagi. Sebab Pancasila ini telah memberi bukti kepada kita, dapat mempersatukan bangsa Indonesia sehingga bangsa Indonesia ini bisa merebut kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bahkan sebagai sering saya katakan, justeru oleh karena sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengemukakan Pan­casila. Justeru oleh karena Pancasila ini masuk di dalam Jakarta Charter, justeru oleh karena Pancasila ini menghidupi segenap Proklamasi 17 Agustus 1945. Justeru oleh karena Pancasila ini satu dua hari sesudah Proklamasi, dimasukkan di dalam Undang Undang Dasar Sementara daripada Republik Indonesia. Justeru oleh karena itulah maka Proklamasi ini disambut oleh segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Jikalau tidak berdasarkan atas Pancasila, Proklamasi kita itu, atau tidak berji­wakan Pancasila, saya kira sambutan yang dahsyat daripada segenap golongan lapisan yang kita alami pada tahun ’46, ’47, ’48,’49, tidak akan terjadi.

Oleh karena itu, saudara-saudara, ini permintaan persoonlijk hatin saya. permohonan persoonlijk batin sava. sebenarnya Pan­casila ini sudahlah, jangan diperdebatkan lagi. Het heeft zijn nut bewezcn, telah terbuktilah guna tepatnya Pancasila!

Bung Yamin mengemukakan beberapa bantahan. Sayapun ingin mengemukakan beberapa bantahan, antara lain bantahan: Pancasila adalah satu agama, katanya, agama baru. Bukan! Bukan! Pancasila bukan agama baru! Pancasila adalah Weltan-schauung, falsafah Negara Republik Indonesia, bukan satu agama baru. Bukan! Ada yang berkata: Pancasila itu sebetulnya adalah perasan daripada agama Budhisme. Bagaimana bisa mengatakan bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada agama Budhisme? Orang yang berkata begitu sebetulnya tidak tahu apa yang dinamakan Budhisme itu. Misalnya saja, saudara-saudara, Ketuhanan Yang Maha esa; Budhisme tidak kenal Ketuhanan. Coba tanya kepada prof. Muh. Yamin, tanya kepada prof. Hazairin; tanya kepada sarjana-sarjana yang duduk di sini. Budhisme tidak mengenal apa yang dinamakan Tuhan. Budhisme adalah satu levens beschou­wing, satu pandangan hidup, cara hidup agar supaya nanti bisa mencapai kesempurna-an nirwana. Budhisme tidak mengenal Al­lah. Budhisme tidak mengenal God, Budhisme tidak mengenal Jehovah. Budhisme tidak mengenal apa yang seperti kita artikan sebagai Tuhan. Jikalau engkau ingin hidup dikemudian hari, sem­purna, j ikalau engkau ingin masuk nirwana, lakukanlah ini, lakukanlah ini. Delapan marga daripada Budha, jalan delapan macam, saudara-saudara. Jadi Budhisme adalah satu pandangan hidup, satu cara hidup, satu levensbeschouwing, bukan sebenarnya satu godsdienst.

Kok lantas ada orang berkata: Pancasila yang dengan tegas mengatakanpada sila yang pertama Ketuhanan Yang Maha esa, bahwa Pancasila itu adalah perasaan daripada Budhisme. Tidak kena ini, saudara-saudara. Sama sekali tidak! Saya minta jangan­lah menaruhkan Pancasila ini secara antagonistis terhadap kepada misalnya agama Islam. dan janganlah pula meletakkan Pancasila ini secara congruentie yang sama dengan misalnya Agama Budha, janganlah ditaruhkan secara antagonistis kepada Agama Islam. jangan ditaruh secara congruent terhadap kepada Agama Budha. Jangan! Sebab Pancasila adalah falsafah bagi Negara Republik Indonesia, sebab Pancasila adalah satu dasar daripada Negara Republik Indonesia ini. Kita ingin kekal dan abadikan dan sebagai tadi sudah saya katakan, syarat mutlak bagi mengkekalabadikan Negara republik Indonesia, adalah persatuan daripada bangsa Indonesia.

Saudara-saudara, sekarang telah jam sepuluh lebih seperem­pat. Sebenarnya telah melewati waktu siaran radio. Maka oleh karena itu marilah saya singkatkan pidato saya ini. Kita saudara­saudara, benar-benar sekarang ini mengalami saat-saat yang gen­ting. Saat yang crucial. Pada saat-saat yang demikian itu, baiklah bangsa Indonesia ini merenungkan sejenak bagaimana dulu mem­perjuangkan kemerdekaan, bagaimana dulu memper-tahankan ke­merdekaan. Dulu kita memperjuangkan kemerdeka-an dengan penggabungan daripada tenaga rakyat jelata dari Sabang sampai ke Merauke. Tidak oleh satu kekuatan saja, tetapi kita gabungkan seluruh kekuatan kita, baik kaum buruh maupun kaum tani, mau­pun nelayan, maupun kaum pegawai, maupun kaum pemuda, maupun kaum pemudi, maupun alim ulama, maupun segala go­longan-golongan yang ada di Indonesia ini, kita gabungkan di dalam satu barisan yang mahasakti berdasarkan atas Pancasila itu dan kita pertahankan Negara Proklamasi yang digempur kembali atau hendak digempur kembali oleh imperialisme dengan sukses, dengan Pancasila pula. Dengan gabungan mutlak daripada segenap tenaga revolusioner, marilah kita renungkan hal itu, saudara-saudara. Mempertahankan dengan persatuan, memper­juangkan dengan persatuan, mempertahankan dengan Pancasila, memperjuang-kan dengan Pancasila.

Marilah. saudara-saudara. sebagai diharapkan oleh saudara Mr. Muh. Yamin, drie maal is scheeps-recht. Tiga kali kita mem­punyai Negara Kesatuan meliputi seluruh nusantara Indonesia, Sriwijaya, Majapahit, sekarang Republik Indonesia. Didoakan oleh saudara Mr. Muh. Yamin agar supaya, ya, dulu boleh Sriwi­jaya tenggelam, ya, dulu Majapahit boleh tenggelam, tetapi hen­daklah Republik Indonesia tetap kekal dan abadi menurut keya­kinan saya di atas yang kita kenal semuanya dan kita cintai, Pancasila.

 

Terima kasih.

 

(Diambil secara strnografis)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CATATAN

tentang

 

KURSUS PANCASILA BUNG KARNO

 

Sejak Pidato Lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945, dan seterusnya Bung Karno tidak pernah berhenti-henti menjelaskan, menguraikan dan memperjuangkannya menjadi dasar negara dan filsafat hidup bagi bangsanya.

 

Waktu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, sudah dikenal adanya Rangkaian Kursus tentang Pancasila dari Bung Karno yang diselenggarakan di Istana Negara – Jakarta, yang kemudian dibukukan dengan judul Pancasila sebagai Dasar Negara. Dijelaskannya secara komprehensif dan mendalam masing-masing sila itu satu demi satu langsung dari sumber primernya – penggali Pancasila itu sendiri, yaitu Bung Karno.

 

Karena menyangkut Pancasila yang terdiri dari 5 sila, maka kemudian timbul pemahaman dalam masyarakat, bahwa kursus Pancasila Bung Karno itu hanya diadakan 5 kali, dan semuanya diselenggarakan di Istana Negara – Jakarta.

 

Akibatnya, buku-buku yang terbit tentang rangkaian Kursus Pancasila Presiden Soekarno itu, khususnya yang terbit pasca Orde Baru, ya hanya memuat 5 kali kursus yang diadakan di Istana Negara saja tanpa melengkapkannya dengan uraian ke 6 yang diselenggarakan di Universitas Gajah Mada Jogyakarta yang mengupas Keadilan Sosial, atau yang 4 kali diambil dari kursus di istana, dan yang 1 kali dari kuliah umum di depan mahasiswa Universitas Gajah Mada Jogyakarta.

 

Sebenarnya rangkaian kursus Pancasila Presiden Soekarno yang dikenal dengan judul Pancasila sebagai Dasar Negara itu diadakan 6 kali, 5 kali di Istana Negara, dan 1 kali diadakan di depan mahasiswa Universitas Gajah Mada – Jogyakarta.

 

 

Rinciannya adalah sebagai berikut :

 

  1. Kursus ke – 1, tanggal 26 Mei 1958, berupa Pendahuluan, bertempat di Istana Negara Jakarta
  2. Kursus ke – 2, tanggal 16 Juni 1958, membahas sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bertempat di Istana Negara Jakarta
  3. Kursus ke – 3, tanggal 05 Juli 1958, membahas sila Kebangsaan, bertempat di Istana Negara Jakarta
  4. Kursus ke – 4, tanggal 22 Juli 1958, membahas sila Perikemanusiaan, bertempat di Istana Negara Jakarta
  5. Kursus  ke – 5, tanggal 03 September 1958, membahas sila Kedaulatan Rakyat, bertempat di Istana Negara Jakarta
  6. Kursus  ke – 6, tanggal 21 Februari 1959, membahas sila Keadilan Sosial, berupa kuliah umum di depan mahasiswa  Universitas Gajah Mada – Jogyakarta

 

Mudah-mudahan di antara sesama pendukung Pancasila Ajaran Bung Karno, bisa saling koreksi dan melengkapi, demi benar dan sempurnanya dokumentasi.

 

 

                                                           

 

Jakarta, 31 Mei 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANCASILA

SEBAGAI DASAR NEGARA

I

Kursus Presiden Soekarno
    Tentang Pancasila di Istana Negara,
   Tanggal 26 Mei 1958.

 

Saudara-saudara,

Saya diminta untuk memberi kursus mengenai Pancasila. Dan sebagai dikatakan oleh saudara Pamuraharjo tadi, kursus tak dapat selesai dalarn satu uraian. Karena itu, akan diadakan kursus Pan­casila ini beberapa kali, dan malam ini akan saya mulai dengan memberikan kepada saudara-saudara satu kursus pendahuluan, inleiding. Jadi pada malam ini belum saya kupas sila-sila daripada Pancasila itu. Belum saya kupas Ketuhanan Yang Maha Esa. Belum saya kupas Perikemanusiaan. Belum saya kupas Kebang­saan. Belum saya kupas Kedaulatan Rakyat. Belum saya kupas Keadilan Sosial. Melainkan saya akan memberi kata pembukaan lebih dahulu. Saudara mengerti dan mengetahui, bahwa Pancasila adalah saya anggap sebagai Dasar daripada negara Republik in­donesia. Atau dengan bahasa Jerman: satu weltanschauung di atas mana kita meletakkan Negara Republik Indonesia itu. Tetapi kecuali Pancasila adalah satu weltanschauung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat mempersatu, yang saya yakin seyakin­yakinnya Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke ha­nyalah dapat bersatu-padu di atas dasar Pancasila itu. Dan bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan Negara Re­publik Indonesia, tetapi juga pada hakekatnya satu alat memper­satu dalam perjuangan kita melenyapkan segala penyakit­penyakit yang telah kita lawan berpuluh-puluh tahun yaitu pe­nyakit terutarna sekali, Imperialisme. Perjuangan sesuatu bangsa, perjuangan melawan Imperialisme, perjuangan mencapai kemer­dekaan, perjuangan sesuatu bangsa yang membawa corak sendiri­sendiri. Tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri, mempunyai karakteristik sendiri. Oleh karena pada hakekatnya bangsa sebagai individu mernpunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang ter­wujud dalam pelbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam pereko­nomiannya, dalam wataknya, dan lain-lain sebagainya.

Tadi saya katakan, bahwa tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri, mempunyai sifat-sifat perjuangan sendiri. Coba saudara-saudara bandingkan, misalnya caranya bangsa Amerika dulu memerdekakan negerinya daripada kolonialisme Inggris, dengan caranya bangsa India memerdekakan dirinya daripada kolonialisme Inggris. Dengan caranya bangsa Indonesia memer­dekakan dirinya dari kolonialisme Belanda. Atau dengan caranya rakyat Rusia menggugurkan Kapitalisme. Jikalau saudara-saudara bandingkan caranya rakyat atau bangsa-bangsa atau golongan­golongan ini berjuang, saudara-saudara akan melihat perbedaan­perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ditentukan oleh keadaan­keadaan obyektif. Dus bukan perbedaan-perbedaan bikinan se­seorang pemimpin. Tidak! Tetapi perbedaan-perbedaan karena sebab-sebab obyektif yang berbeda. Saya akan kemukakan perbe­daan-perbedaan itu sebagai contoh, menguraikan kepada saudara­saudara beberapa perbeda-an antara cara berjuangnya orang Amerika melawan kolonial-isme Inggris, cara berjuangnya rakyat India melawan kolonial-isme Inggris, cara berjuangnya rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda, cara berjuangnya Rusia menggugurkan kapitalisme. Dari uraian ini nanti saudara-saudara akan mengerti perlunya, sekali lagi perlunya bagi kita persatuan itu. Dari uraian ini saudara-saudara akan mendapat pengertian bahwa perjuang-an bangsa Indonesia hanyalah dapat berhasil, ji­kalau seluruh rakyat Indonesia masuk di dalam satu kancah per­juangan.

Perjuangan bangsa Indonesia, saudara-saudara, yang sudah kita alami berpuluh-puluh tahun ini, berbeda daripada misalnya perjuangan rakyat India. Oleh karena imperialisme yang kita tentang adalah pula lain daripada imperialisme yang ditentang oleh bangsa India. Imperialisme itu bermacam-macam, mem-punyai corak-corak sendiri, sifat-sifat sendiri, terutama sekali pada waktu ia lahir. Pada saat sesuatu imperialisme lahir, pada saat sesuatu imperialisme tumbuh, imperialisme itu membawa corak sendiri. Tergantung daripada ibunya. Dan ibu imperial-isme ialah Kapital­isme. Sebagaimana anak bayi manusia pada waktu lahirnya telah membawa sifat watak sendiri, tergantung daripada sifat watak orang tuanya maka demikian pula imperialisme pada waktu la­hirnya membawa corak watak sendiri tergantung daripada in­duknya, yaitu Kapitalisme.

Nanti di dalam pertumbuhannya, dalam bahasa asingnya: di dalam uitgroei, sifat dan watak imperialisme-imperialisme itu lantas mendekati satu sama lain, bahkan kadang-kadang men-jadi satu konglomerat daripada imperialisme-imperialisme yang tak mudah lagi kita bisa membedakan sifat wataknya satu daripada yang lain. Kalau kita melihat perjuangan rakyat atau lebih tegas, orang Amerika, menentang kolonialisme Inggris sehingga akhir­nya bisa mengadakan declaration of indepen-dence sebagai yang saya ucapkan di dalam pidato 20 Mei yang lalu, pada tahun 1776, dan kita selidiki siapa yang sebenarnya berjuang, saudara akan melihat bahwa terutama sekali kaum atasan yang berjuang. Revolusi Amerika bukan revolusi rakyat. Tetapi revolusi daripada kaum atasan di bawah pimpinan Thomas Jefferson, Thomas Paine, George Washington dan lain-lain. Revolusi mereka berhasil mem­bentuk satu tentara yang tentara ini bertempur dengan tentara Inggris di Amerika dan yang akhirnya dapat mengalahkan tentara Inggris itu, sehingga tentara Amerika ini bisa menang. Dus revolu­si Amerika terhadap kepada kolonialisme Inggris, adalah satu revolusi yang tidak meliputi seluruh rakyat. Bagaimana revolusi India? Saya memakai perkataan revolusi di dalam arti yang luas. Jangan mengira bahwa revolusi adalah selalu disertai dengan peng-gunaan senjata, dalam arti yang luas revolusi adalah satu perubahan yang hebat sekali. Cepat. Di dalam pidato pembelaan diri saya, tatkala saya diperiksa di muka hakim Hindia Belanda, saya telah mensitir ucapan seorang profesor yang termasyhur bahwa revolusi adalah eine umgestaltung von grundauf, artinya perubahan dari bawah sama sekali. Di dalam arti itu saya memakai perkataan revolusi India terhadap kepada kolonialisme Inggris. Revolusi India ini dilakukan oleh siapa? Pada hakekatnya revolusi India dilakukan oleh satu kelas middenstand dan bordjuasi India. Kelas menengah dan kelas borjuis India. Dengan mempergunakan tenaga daripada rakyat. Berbeda dengan Amerika, Amerika boleh dikatakan revolusinya tidak mempergunakan seluruh tenaga rak­yat, tetapi sekadar satu kelas, kelasnya George Washington, kelas­nya Thomas Jefferson, kelasnya Thomas Paine, kelasnya Paul Rellier dan lain-lain sebagainya, yang berhasil membentuk tentara dan tentara ini bertempur dengan tentara Inggris. Revolusi India adalah revolusi daripada kaum pertengahan, middenstand dan borjuasi, dengan memperguna-kan tenaga daripada rakyat. Nanti akan saya jelaskan lebih luas. Revolusi Indonesia dan di sinipun saya pakai perkataan revolusi itu dalam arti yang seluas-luasnya, dus, jangan hanya berpikir dalam istilah 17 Agustus ’45, tetapi berpikirlah dalam istilah sebagai yang saya uraikan dalam pidato 20 Mei yang lalu, istilah gerakan nasional seluruhnya, revolusi Indonesia adalah revolusi seluruh rakyat. Maka revolusi Indonesia bisa berhasil, – ini nanti saya terangkan, – ialah oleh karena revolusi Indonesia, revolusi seluruh rakyat. Ya kelas buruh, ya kelas tani, ya kelas borjuis kecil, ya kelas pertengahan kecil, ya kelas ambtenaren-bond, ya kelas pemuda-pemuda seluruh rakyat. Berbeda dengan di India, rakyat ikut sebagai kuda tunggangan. Saya tadi berkata: India revolusinya ialah revolusi daripada kaum per-tengahan dan kaum borjuis yang naik. dengan mempergunakan atau menunggangi rakyat jelata.

Satu contoh lain daripada revolusi demikian ini ialah revolusi Perancis, revolusi Perancis yang mulai meledak pada tahun 1789, mulai meledaknya, tetapi dalam persiapannya terutama sekali persiapan pikiran, sudah lebih dahulu daripada tahun 1789, revolusi Perancis ini juga satu revolusi daripada kelas borjuis, kelas pertengahan yang tadinya tidak mendapat alam, karena alam perusahaan di dalam tangannya kaum feodal, kaum gereja, tetapi yang sekarang merebut alam yaitu kelas pertengahan dan kelas borjuis, merebut alam dari tangannya kaum feodal dan kaum gereja dengan mempergunakan tenaga rakyat jelata. Seperti pada hakekatnya revolusi India. Revolusi Indonesia kataku adalah revolusi daripada seluruh rakyat.

Revolusi Sovyet, saya lebih setuju memakai perkataan revolusi Sovyet dan janganlah memakai perkataan revolusi Rusia, sebab tatkala saya di Sovyet Uni saya mengucapkan Sovyet Rusia, saya diprotes oleh orang-orang yang berasal misalnya daripada Usbekistan dari Giorgia, mereka memprotes, kami bukan Rusia, kami dari selatan bukan bangsa Rusia. Kami ini orang Usbekistan. Kami orang Giorgia. Jadi negara kami namanya bukan Sovyet Rusia, sebab Sovyet Rusia cuma lor, utara saja. Negara kami yang besar yang terdiri dari sekian banyak Republik-republik Sosialis, negara kami ini adalah Sovyet Uni. Bukan Sovyet Rusia. Saya, dus, lebih senang memakai perkataan Sovyet Uni. Nah revolusi Sovyet, bukan revolusi Rusia, tetapi revolusi Sovyet adalah revolusi daripada kelas proletar dan tani menggugurkan kapital­isme.

Dus di dalam revolusi Sovyet ini apa yang dinamakan bor­djuasi bukan saya tidak ikut, malahan menjadi objek penggem­puran. Dari beberapa contoh ini, saudara-saudara merasakan dan melihat perbedaan-perbedaan. Saya tadi berkata bahwa tiap-tiap revolusi membawa sifat dan watak sendiri yang ditentukan oleh keadaan-keadaan objektif. Objektif imperial-ismenya, objektif in­duk daripada imperialisme itu, juga objektif keadaan daripada rakyat yang berrevolusi.

Jadi sifat corak sesuatu revolusi ditentukan oleh keadaan objektif daripada apa yang dihantam oleh revolusi dan daripada apa yang menghantam. Keadaan yang dihantam, yaitu imperial­isme, itu berbeda-beda saudara-saudara, membawa corak-corak sendiri dan corak-corak ini ditentukan oleh induknya, kataku tadi. Kalau kita melihat imperialisme-imperialisme di dunia ini dan sebagai tadi saya katakan, terutama sekali saya melihat, pada waktu ia lahir, bukan terutama sekali pada waktu sedang uitgroei, pada waktu ia lahir, tegas dan jelas ada perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan, saya ulangi, daripada induk-induknya pula. Kapitalisme-kapitalisme, saudara-saudara, mempunyai corak ob­jektif tergantung daripada keadaan-keadaan bahan-bahan bagi kapitalisme itu. Sesuatu negeri misalnya, saudara-saudara, yang penuh dengan bahan-bahan untuk kapitalisme, terutama bahan-ba­han yang dinamakan bahan-bahan dasar, basis grondstoffen, se­suatu negeri yang banyak basis grondstoffen, kapitalisme misal­nya berbeda dengan sesuatu negeri yang kekurangan basis grond­stoffen. Ada negeri yang kekurangan basis grondstoffen en toh mempunyai kapitalisme yang basis grondstoffennya itu, yah ter­utama sekali, ambil dari negeri lain, beli dari negeri lain. Negeri yang demikian itu mempunyai Kapitalisme lain daripada negeri yang basis grondstoffennya banyak. Amerika, saudara-saudara, Inggris, negeri Belanda, Spanyol dan lain-lain negara adalah be­berapa negara yang mempunyai kapitalisme, dan oleh karena-nya menjalankan imperialisme. Saya ambil contoh Amerika, Inggris, negeri Belanda, Spayol, sebagai klassieke voorbeelden oleh con­toh-contoh klasiek daripada kolonialisme dan imperial-isme. Amerika dulu mempunyai koloni, Inggris mempunyai koloni­koloni, malahan Inggris mempunyai empire yang di situ matahari tak pernah terbenam karena luasnya empirenya, di mana matahari terbenam lantas terbit lagi. Di sana terbenam, sudah terbit lagi di sini. Negeri Belanda mempunyai koloni, Spanyol dulu banyak koloninya, sekarang tinggal beberapa restan. Masing-masing kok mempunyai sifat corak sendiri-sendiri. Apa sebabnya? Sebabnya ialah sebagai saya katakan, induknya, kapitalismenya, mempunyai corak sifat-sifat sendiri-sendiri, dan apa sebab induknya mempu­nyai corak sifat sendiri ini? Oleh karena negerinya mempunyai sifat corak sendiri-sendiri terutama sekali mengenai bahan-bahan grondstoffen untuk kapitalisme itu. Amerika adalah satu negeri yang mempunyai banyak basis grondstoffen, satu negeri yang boleh dikatakan lengkap dengan segala hal. Apa toh basis grond­stoffen kapitalisme itu? Yah, terutama sekali biji besi, arang batu, metal-metal logam-logam lain, dan lain sebagainya. Itu adalah basis grondstof bagi kapitalisme. Amerika adalah satu negeri yang penuh dengan basis grondstoffen. Inggris demikian pula, tetapi lebih kurang dari Amerika. Arang batu punya, biji besi punya tetapi takk begitu banyak, sehingga banyak membeli biii besi dari Ruhr. Bahkan pada tahun ‘ 14 -’ 18, ada peperangan besar yang dinamakan peperangan dunia pertama, tak lain tak bukan ialah rebutan biji besi Ruhr, Ruhr-gebied. Negeri Belanda adalah satu negeri yang basis grondstoffennya lebih kurang lagi. Biji besi tak ada, harus beli dari Ruhr-gebied, arang batu yang sedikit di Lim­burg, Spanyol adalah satu negeri yang basis grondstoffennya juga sedikit sekali. Biji besi tidak ada, arang batu tidak ada, sedikit sekali.

Karena basis grondstoffen Amerika berbeda banyaknya dari­pada basis grondstoffen Inggris, Belanda, Spanyol, maka kapital­isme di empat negeri ini berbeda-beda. Karakteristiknya boleh dikatakan kapitalisme Amerika, saya ulangi lagi, saya meninjau pada lahirnya imperialisme, tidak di dalam uitgroei-nya yang sekarang ini. sekarang ini sudah kita menghadapi imperialisme internasional yang roman mukanya boleh dikata-kan hampir sama semua. Tetapi pada permulaannya imperial-isme lahir, dilahirkan oleh kapitalisme Amerika yang lebih kaya basis grondstoffen daripada imperialisme Inggris yang dilahir-kan oleh kapitalisme Inggris yang kurang sedikit basis grondstoffen; imperialisme Be­landa dilahirkan oleh kapitalisme Belanda yang kurang lagi basis grondstoffen, imperialisme Spanyol dilahirkan oleh kapitalisme Spanyol yang sama sekali miskin grondstoffennya. Kalau saya bandingkan empat kapital-isme ini, empat kapitalisme dengan im­perialisme, maka berhubung dengan perbedaan banyaknya grond­stoffen itu, boleh saya katakan Amerika adalah kapitalisme royal. Inggeris kapitalisme setengah royal. Belanda kapitalisme setengah kikir. Spanyol kapitalisme kikir. Imperialisme, ialah anak daripada kapitalisme itu, tabiatnya ya lain-lain. Yang anak daripada kapi­talisme royal tabiatnya liberal. Liberal imperialisme.

Sekali lagi saya peringatkan, ialah pada saat lahirnya liberal imperialisme. Yang dianakkan oleh kapitalisme setengah royal, ialah Inggris, adalah imperialisme semi liberal. Semi artinya sete­ngah. Yang diperanakkan oleh kapitalisme setengah kikir, adalah imperialisme semi ortodoks. Yang dilahirkan oleh kapitalisme kikir adalah imperialisme ortodoks. Dus, pada mulanya imperial­isme Amerika adalah imperialisme liberal. Imperialisme Inggris adalah imperialisme semi liberal, imperial-isme Belanda adalah imperialisme semi ortodoks, imperialisme Spanyol adalah impe­rialis ortodoks. Di dalam segala tindak-tanduknya saudara melihat perbedaannya. Imperialisme yang liberal terhadap kepada rakyat yang dikolonisir, luas dada, liberal, ini boleh, itu boleh, lapang dada. Yang ortodoks sangat menindas kepada rakyat yang dikolo­nisir. Yang semi liberal, setengah menindas setengah lapang dada. Yang semi ortodoks adalah setengah ya kasih jalan sedikit-sedikit, untuk boleh berpikir, boleh ini boleh itu. Tetapipun menindas.

Apa sebab saudara-saudara? Kok imperialisme Inggris semi liberal? Imperialisme Belanda semi ortodoks, imperialisme Amerika liberal? Imperialisme Spanyol ortodoks? Sebabnya, saya buat perbandingan sekarang, supaya lebih terang bagi saudara­saudara, ialah imperialisme Inggris di India dan imperialisme Belanda di Indonesia. Nanti saudara mengerti: O, Bung Karno itu ke situlah maunya. Mau menerangkan kepada saudara-saudara bahwa reaksi kepada imperialisme Belanda ini tak boleh lain daripada seluruh rakyat bersatu padu, yang nantinya sampai men­jadi dasar uraian Pancasila. Imperialisme Inggris di India, – sudah saya tidak bicarakan imperialisme Amerika di Filipina, saudara­saudara sudah tahu, memang tadinya itu liberal sekali. Tatkala Filipina jatuh di dalam tangan imperialisme Amerika, lekas mereka buka sekolah ini, buka sekolah itu, buka ini buka itu, kesan pada rakyat Filipina laksana: bolehlah bolehlah, sehingga di dalam tempo 1904 sampai 1947, kurang daripada 50 tahun, Filipina boleh menjadi satu bangsa yang merdeka tetapi ya dengan beberapa injeksi-injeksi dari Amerika. Sebaliknya kita melihat di India sampai ada perjuangan rakyat yang hebat, di Indonesia pun ada perjuangan yang hebat.

Di Filipina dulu ada perjuangan rakyat Filipina yang hebat menentang imperialisme Spanyol yang ortodoks itu tadi. Imperi­alisme Spanyol itu sama dengan imperialisme Portugis sekarang yang di Timor, wah ortodoks-nya bukan main. Di pulau Timor itu, misalnya, salah sedikit, masuk penjara dengan rantai dibelenggu, sampai sekarang. Coba kalau saudara datang di bagian Timor, di Atamboa yang hanya beberapa kilometer dari daerah kolonisasi Portugis. Saudara mendengar keluhan rakyat di sana, bukan main caranya rakyat ditindas, tidak diberi banyak sekolahan, cuma beberapa sekolah. Main penjara, main penjara. Persis seperti im­perialisme Spanyol di Filipina dahulu itu, ortodoks. Saudara mengetahui sejarah daripada pemimpin-pemimpin Filipina yang termasyhur! Itu semuanya pemimpin-pemimpin Filipina yang me­nentang Spanyol. Namanya Dr. Rizal, misalnya, yang ditembak zonder banyak proses oleh orang Spanyol. Namanya harum di ingatan kita. Dia adalah pemimpin-pemimpin besar rakyat Filipina menentang imperial-isme Spanyol yang ortodoks. Saudara mende­ngar nama pemim-pin Apollomario Mabini, juga pemimpin Fili­pina menen-tang imperialisme Spanyol. Saudara mendengar nama Aquinaldo, juga Aquinaldo adalah pemimpin Filipina menen-tang imperialisme Spanyol. Memang perjuangan rakyat Filipina me­nentang imperialisme, di waktu imperialisme Spanyol Ortodoks. Sebaliknya, rakyat Filipina yang berjuang terhadap imperialisme Amerika tidak sehebat perjuangan yang telah dilakukan di bawah pimpinan Rizal, atau Aquinaldo, atau Mabini. Sebabnya ialah perbedaan antara sifat corak imperial-isme ini.

Sekarang saya mau jelaskan kepada saudara-saudara lebih jelas, imperialisme Inggris di India, imperialisme Belanda di In­donesia. Saya tadi telah berkata kepada saudara, bahwa Inggris adalah negeri yang basis grondstoffennya boleh dikatakan agak cukup. Biji besi ada, batu bara ada, keperluan-keperluan untuk membangunkan kapitalisme ada. Boleh dikatakan Inggris bisa membangunkan kapitalisme tanpa bantuan basis grondstoffen negeri lain. Karena itu pagi-pagi, saudara-saudara, kapitalisme Inggris sudah berkembang biak. Pagi-pagi kapitalisme Inggris sudah memproduksi barang-barang hasil produksi yang banyak sekali. Pagi-pagi kapitalisme Inggris itu sudah menderita overpro­ductie. Di negeri Inggris sendiri saudara melihat pagi-pagi reaksi kaum buruh terhadap kepada kapitalisme Inggris itu meledak. Gerakan kaum buruh yang paling dulu ialah justru di Inggris. Oleh karena memang kapitalisme di Inggris pagi-pagi sudah tumbuh. Penindasan kaum buruh mendirikan bulu roma kita. Anak-anak kecil umur 8, 9 tahun sudah dikerjakan 13, 14 jam. Gerakan kaum buruh dimulailah di Inggris, bukan gerakan kaum buruh revolu­sioner, tetapi gerakan kaum buruh yang dipimpin oleh Robert Owen, dipimpin kemudian oleh orang-orang seperti Kale Hardy, Sidney Webb, Beatrice Webb. Dan kemudian gerakan ini bertum­buh menjadi labour party di dalam bidang politiknya. Gerakan kaum buruh di Inggris pagi-pagi telah bangkit sebagai reaksi terhadap kepada kapitalisme Inggris yang pagi-pagi sudah tumbuh itu tadi. Bahkan kapitalisme Inggris ini pagi-pagi sudah menderita penyakit overproductie.

Terlalu banyak produksi yang tidak bisa dijual di Inggris sendiri. Tiap made in England, dulu sangat termasyhur, made in England. Belakangan baru timbul made in Germania, belakangan timbul lagi made in Japan, made in England, made in Germania. Semuanya itu kemudian menjadi asal sebab dari peperangan dunia yang pertama. Saingannya begitu hebat sampai meledak menjadi peperangan. Tapi pagi-pagi sudah kita melihat made in England. Produksi yang banyak sekali dan yang tidak bisa dijual habis di tanah Inggris. Made in England kita bisa baca di segala barang­barang terutama sekali barang-barang terbuat dari besi, martil made in England, gunting made in England, pisau made in Eng­land, mesin penjahit made in England, yah segala barang-barang made in England. Demikian pula barang-barang hasil tenun, saudara-saudara mengetahui sendiri bahwa mesin uap dan mesin tenun mula-mula di Inggrislah didapatkan orang. Sebagai pemun­culan daripada aktivitet•kapitalisme itu, mesin uap, mesin pintal, mesin tenun, made in Inggris semuanya. Hasil daripada pemin­talan dan penenunan ini menjadi barang-barang yang terbaik, seperti barang-barang wol, mengalami juga overproductie. Tak bisa habis dijual di Inggris, dicarikan pasar di luar Inggris, sampai sekarang saudara-saudara mengetahui bahwa wol Inggris paling jempol. Nah, kapitalisme di situ saudara-saudara pagi-pagi subur, tetapi pagi-pagi pula menghadapi persoalan over-productie, pagi­pagi dus terpaksa mencari pasaran untuk over- productie itu di luar negeri. Dan ini yang bernama imperialisme. Imperialisme dalam arti yang modern. Dus, barang-barang ini dibawa ke negeri orang lain untuk dijual di negeri orang lain itu, terutama sekali dibawa ke India.

Nah, sekarang yang penting yang saudara harus pegang betul­ betul, dus, imperialisme Inggris yang datang ke India seperti diketahui, rakyat India 300, pada waktu itu belum 300, tapi 230 juta, toh sudah menjadi pasar yang hebat. 230 juta manusia yang harus membeli overproductie ini. Dus, imperial-isme Inggris ke India itu terutama sekali adalah imperialisme dagang. Handels-im­perialisme. Membawa barang ke India untuk dijual di India. Nah agar supaya rakyat India, saudara-saudara, membeli barang­barang overproductie ini yang berupa gunting, berupa pisau, berupa sepeda, berupa mesin jahit, berupa bahan pakaian, agar supaya rakyat India ini bisa membeli, suka membeli, ingin mem­beli, maka politik daripada imperialisme Inggris di India itu adalah politik yang lain daripada imperialisme Belanda di Indonesia.

Agar supaya sesuatu bangsa, rakyat suka membeli, koopwil dan koopkracht bangsa itu tidak boleh dimatikan sama sekali. Kemauan membeli dan kemampuan membeli. Rakyat India dibuat, dijadikan satu bangsa tidak mati kutunya sama sekali, sebab kalau mati kutunya sama sekali tidak bisa membeli. Karena itulah imperialisme Inggris di India pagi-pagi sudah mengadakan sekolahan, bahkan pagi-pagi telah mengadakan University. Saudara-saudara dapat membaca di dalam kitab sejarah India, bahwa waktu kita di sini belum mendengar nama sekolah tinggi dan nama university, di India, Inggris sudah buka beberapa uni­versity. Koopkracht dan Koopwil daripada rakyat India tidak dimatikan sama sekali, tetapi saudara-saudara, India adalah satu bangsa yang telah mempunyai satu kelas pertengahan dan kelas borjuis yang hendak tumbuh. Kelas pertengahan dan kelas borjuis yang hendak tumbuh ditimpa oleh barang-barang hasil daripada overproductie Inggris. Padahal kelas pertengahan dan kelas bor­juis India ini ingin mencari laba, membikin uang, cari uang dari­pada penjualan barang-barang bikinan kelas pertengahan dan kelas borjuis India sendiri. Jadi yang paling merasa mendapat saingan dari handels-imperialisme Inggris itu, ialah justru kelas pertengahan dan kelas borjuis, yang opkomend dari India ini. Oleh karena itu gerakan menentang imperialisme Inggris ini, mula-mula terutama sekali keluarnya dari kelas inilah. Yang kemudian mem­bentuk di India itu Indian National Conggress tahun 1885. Pemimpin-pemimpinnya ialah kaum kapital. Saya tidak bicara tentang Gandhi, itu belakangan, tetapi pemimpin-pemimpin India yang mula-mula itu, ya semuanya kapitalis-kapitalis. Semuanya pengusaha-pengusaha. Orang-orang kaya dari gerakan ini dibantu oleh milyuner-milyuner, misalnya Tata. Tata yaitu satu pengusaha milyuner, membantu keras kepada gerakan ini, oleh karena Tata­pun merasa mendapat saingan hebat daripada produksi besi dari Inggris. Tata ialah pengusaha besi. Pabriknya besar di Jamsith­poor. Dia membikin barang besi, membikin gunting, membikin pisau, membikin meja dari besi, bikin ini bikin itu. Lhoo ini impor dari Inggris, terutama sekali dari Birmingham. Wah, dus Tata ya sangat merasa mendapat saingan. Tata membantu kepada gerakan ini. Begitu pula milyuner Birla, membantu keras kepada gerakan ini, bahkan Birla itu sahabat karib daripada Mahatma Gandhi. Bahkan Mahatma Gandhi ini ditembak orang di rumahnya Birla. Saya tadi menceriterakan bahwa gerakan daripada kaum perte­ngahan dan borjuis India ini menunggangi rakyat India. Coba saudara-saudara lihat, semboyan daripada gerakan di sana itu, terutama sekali apa? Semboyan ekonomisnya, ialah Swadesi. Yah, tentu gerakan swadesi itu mempunyai harga-harga moril yang tinggi sekali bagi bangsa.

Ya, tentu gerakan Swadesi itu adalah baik bagi bangsa. Sebab dianjurkan kepada bangsa untuk membuat sendiri keperluan hidupnya. Swa artinya sendiri, desi dari perkataan desa; desa yaitu negeri sendiri. Swadesi artinya dari desa sendiri, dari negeri sendiri. Sebagai slogan memang baik sekali. Tetapi tidak baiknya gerakan Swadesi ini ialah ia punya kekolotan. Artinya kekolotan, tidak mau kepada kemodernan. Memang keadaan rakyat India yang hendak dipergunakan oleh kaum pertengahan dan kaum bordjuasi ini tidak bisa diajak kepada kemodernan, tidak bisa menggerakkan rakyat berpuluh-puluh, beratus-ratus milyun: ayo kita bersama-sama mengada-kan pabrik modern. Ayo kita ber­sama-sama mengadakan listrik. Tidak! Tidak bisa usaha men­gadakan pabrik modern, mengadakan listrik, mengadakan kereta api, mengadakan kapal udara, segala modern. Hanya bisa oleh sekelompok orang yang banyak uang, yaitu kapitalisten atau oleh organisasi negara. tetapi mengajak rakyat jelata untuk modern­isme, tidak bisa.

Nah, inilah salah satu cacat daripada gerakan Swadesi. Oleh karena gerakan swadesi itu di bawah pimpinan Mahatma Gandhi yang tidak mau kepada kemodernan. Bahkan Gandhi memberi kepada rakyat satu falsafah anti mesin. Dikatakan bahwa mesin itu bikinan setan. Ya, ini perkataan Gandhi, devilswork. Gandhi tidak mau kepada mesin, sebab dia melihat mesin di Eropa Barat men­jadi alat penindasan manusia. Memang dipergunakan oleh kapi­talisten di Eropa Barat sebagai alat penindasan. Maka oleh karena itu Iantas Gandhi berkata: jangan pakai mesin, mesin adalah devilswork. Buatan Setan. Dia anti kepada segala kemodernan. Ia punya cita-cita adalah satu cita-cita sosial yang kolot. Gandhi tidak mempunyai politik ideologi, tidak punya cita-cita politik yang jelas. Kalau ditanya kepada Gandhi: Gandhi ji, apakah cita-cita politik daripada tuan? Apakah Republik, apakah monarki, apakah Negara Kesatuan, apakah Federalisme? Gandhi tidak bisa men­jelaskan dengan tegas. Paling-paling ia menjawab: Swa radj, Swa artinya sendiri, radj artinya raja, pemerintah. Swa radj artinya pemerintah sendiri. Paling-paling itu, kita mesti mengejar swa radj, swa radj. Cita-cita politiknya tidak tegas. entah Republik entah monarki, entah Negara Kesatuan, entah negara Federal entah dominan status, tidak tegas. Swa radj, segala swa radj, sebaliknya ia mempunyai cita-cita sosial. Jadi cita-cita kemasyarakatan. Dan apa yang ia cita-citakan yaitu satu masyarakat yang di situ tidak ada penindasan, yang di situ tidak ada pengisapan, tetapi juga yang di situ tidak ada mesin-mesin, tidak ada pabrik-pabrik. Ia punya cita-cita sosial yaitu manusia dengan manusia hidup tenteram, rukun, tiap-tiap orang mempunyai sebidang tanah kecil, tanam makanan rakyatnya sendiri, tanam pohon kapasnya sendiri, memintal ia punya benang sendiri, menenun sendiri. Tidak perlu lokomotif, tidak perlu ini itu. Rakyat harus hidup dalam satu suasana tenteram.

Nah, ini yang saya namakan kolotnya gerakan swadesi. Tetapi pada hakekatnya gerakan swadesi ini adalah satu penentangan terhadap kepada imperialisme, sebab di dalam praktiknya gerakan swadesi bukan sekadar positif dari segi positifnya menanam kapas sendiri, memintal benang, menenun sendiri. Tidak! Tetapi juga mempunyai bidang negatifnya, yaitu tidak mau membeli barang bikinan Inggris. Yang dinamakan boycot action. Tidak boleh rakyat ter-utama sekali anggota-anggota dari Indian National Conggress membeli barang-barang buatan Inggris. Bahkan ekses­nya barang-barang buatan Inggris kadang-kadang diserbu, dibawa ke luar, ditumpuk, ditimbun, dibakar. Seperti yang terjadi di Chouri Chora. Dengan gerakan swadesi ini maka handels imperi­alisme Inggris menjadi lumpuh. Karena seluruh rakyat tidak mau membeli barang-barang buatan Inggris itu, padahal doel daripada handels imperialisme Inggris ialah agar supaya rakyat India mem­beli barang-barangnya. Ditentang oleh gerakan swadesi, diboikot barang-barang Inggris, dan rakyat India mengadakan gerakan swadesi positif, membikin barang sendiri. Tetapi di dalam bidang kaum pertengahan dan kaum borjuasinya ia memakai mesin-mesin pula. Saudara-saudara kalau datang di Bombay misalnya, sekarang, di Calcuta, saudara akan melihat pabrik-pabrik tenun yang hebat. Tata yang begitu membantu dengan uang kepada gerakan Gandhi, ia adalah industriil besi yang besarnya hanya dikalahkan oleh industriil Jepang Yawata Kaisha.

Dus, saudara-saudara, jelas, gerakan India adalah satu gerak­an yang sebenarnya daripada kaum pertengahan dan kaum bor­juasi yang timbul dengan mempergunakan rakyat jelata. Ada baiknya saya di sini menerangkan kepada saudara hal kenapa gerakan India itu tidak mempergunakan kekerasan? Memang saudara-saudara, situasinya lain daripada kita. Kita mempergu­nakan kekerasan, mengadakan physical revolution, karena kita pada bulan Agustus menghadapi imperialisme yang hendak kem­bali, dan pada waktu itu ada kesempatan baik sekali untuk meram­pas senjata dari tangan Jepang. Bahkan di waktu pendudukan Jepang, dan tidak boleh saudara-saudara lupakan, kita tiga sete­ngah tahun mendapat mendapat kesempatan baik untuk melatih kita punya diri mempergunakan senjata. Di India tidak. Kesem­patan yang sedemikian itu tidak ada, bahkan sekali lagi Gandhi keluar dengan ia punya falsafah, yang bukan saja menentang devils-work yang berupa mesin, berupa segala hal yang modern, tetapi juga menentang penggunaan kekerasan. Ia punya falsafah ialah apa yang dinamakan Ahimsya, tidak boleh mempergunakan kekerasan dan bikin saja kekerasan pisik. Bahkan mempergunakan kekerasan batin juga tidak boleh. Jangan menyakiti hati orang lain, begitu pula jangan menyakiti badan orang lain. Ahimsya! Yang di dalam pemunculan bidang politiknya, berupa gerakan Satyagraha, ekonomis bikin barang sendiri, jangan beli barang Inggris, ekono­mis. Bidang politik-nya, yang keluar daripada falsafah Ahimsya ini, ialah Satyagraha. Satyagraha artinya setia kepada kebenaran. Bagaimana setia kepada kebenaran? Tidak mau ikut atau mem­bantu kepada yang salah. Tidak mau ikut tidak mau membantu kepada yang salah, dus, di dalam bidang politiknya jangan kerjasama dengan pihak Inggris, sebab pihak Inggris itu salah.

Dus, non cooperation. Lha ini perkataan yang termasyhur, non cooperation. Jangan kerjasama dengan pihak yang salah. Mau jadi ambtenar Inggris keluarlah, letakkan kau punya jabatan. Dan kalau engkau tetap jadi ambtenar Inggris, engkau ikut juga punya ke­salahan. Jangan menjadi hakim di kehakiman Inggris, jangan menjadi guru di sekolahan Inggris, jangan menjadi anggota dari sesuatu dewan yang dibikin oleh Inggris. Satyagraha dan sekali­kali jangan memperguna-kan kekerasan, membandellah, ham­balela. Membandel, jangan ikut, jangan mau dan jikalau kau ditangkap, ya sudah. Biarlah, masuk di dalam penjara, biarlah, jangan melawan. Dipukuli polisi-polisi di sana itu, pada zaman itu sama dengan polisi Belanda di sini, mem-punyai pentung, yang namanya lathi, meskipun engkau punya kepala hampir pecah kena pukulan lathi, jangan membantah, membandellah, hambalela. Beribu-ribu, berpuluh-puluh ribu, pada satu saat, 76.000 kaum gerakan Satyagraha ini dimasukkan di dalam penjara. Itu adalah bidang politiknya, non cooperation. Bidang ekonomisnya, swa­desi.

Nah, begitulah asal mulanya gerakan India, oleh karena meng­hadapi handels-imperialisme. Kita bagaimana? Kita sekarang mu­lai menguraikan kita sendiri. Persatuan daripada tiap golongan, sedang di India kaum pertengahan dan kaum borjuis yang merasa mendapat saingan dan pukulan hebat daripada impor handels­imperialisme, yang menentang kepada handels- imperialisme Ing­gris ini, dengan mempergunakan rakyat India agar rakyat India tidak mau membeli barang-barang bikinan Inggris, swadesi, satya­graha, memang akhirnya berhasil. Pihak imperialisme Inggris kewalahan dan pada tahun 1947, India diberi kemerdekaan yang mempunyai Dominion-Status dan di dalam tahun 1950 tanggal 26 Januari oleh rakyat India Dominion Status ini diganti dengan Republik India, tetapi masih di dalam Commonwealth. Indonesia bagaimana? Indonesia tidak menghadapi hanya handels-imperial­isme. Apa sebabnya? Sebabnya ialah negeri Belanda adalah satu negeri yang miskin, yang kekurangan basis grondstoffen. Saudara­ saudara tahu sejarah daripada imperialisme Belanda di Indonesia. Mula-mula, dan kalau saudara membaca “Indonesia Menggugat”, mula-mula orang Belanda itu datang di sini sekadar untuk membeli barang-barang seperti cengkeh, pala, beli ini beli itu, hasil-hasil pertanian di sini. Kalau ditinjau sejarah yang lebih tua, begini: dulu, di abad XV, XVI, orang Eropa sudah mengenal cengkeh, pala, sutera bikinan Tiongkok dan sebagainya. Tetapi barang­barang ini pala, cengkeh, sutera bikinan Tiongkok ada juga cat merah dan lain-lain sebagainya, didatangkan ke Eropa ini tidak seperti sekarang. Jalannya dulu ialah barang-barang dari Indone­sia, pala, cengkeh, barang-barang dari India, barang-barang dari Tiongkok dan lain-lain sebagainya, semuanya boleh dikatakan dikumpulkan di Tiongkok lebih dulu. Dari Tiongkok lalu melalui ialan jalan karavan, kafilah-kafilah, melalui Sentral Asia, Asia Tengah, padang pasir Gobi, muncul di Midden Oosten, Middle East, yaitu di Libanon. Dari situ di bawa ke kota di sebelah laut Adriatic, Venesia. Dari kota Venesia diambil oleh perahu-perahu, kapal-kapal pedagang dari Inggris, dari Belanda, dari negeri­negeri lain-lain, dus, pada waktu itu, Venesia adalah satu kota transito. Barang-barang dari Tiongkok melalui Sentral Asia, pergi ke Libanon ke Venesia, dari Venesia disebarkan ke Eropa Barat. Pada waktu itulah Venesia naik dia punya kedudukan. Pada waktu itu Istana-istana di Venesia yang indah, yang sampai sekarang menjadi kekaguman orang, dibuat. Kalau saudara datang ke Ve­nesia sekarang, saudara melihat Istana dari marmer, itu buatan zaman itu. Gereja San Marco buatan dari zaman itu. Istana Togen, buatan dari zaman itu. Abad XIV, XV, XVI, dan belakangan ini tukang mengambil cengkeh, pala dan lain-lainnya itu, mempunyai hasrat untuk mencari sendiri jalan pengambilan barang-barang ini. Lantas dikirimlah orang-orang untuk mencari jalan. Saudara tahu sejarah Vasco de Gama, Bartolomeus Diaz, sejarahnya Cornelis de Houtman dan lain-lain itu, mereka itu mencari jalan ke tempat cengkeh, pala, merica, sutera ini. Mencarinya jalan ada yang ke Barat terus dan dia terdampar di Amerika yaitu Columbus, dan dia bertepuk dada, merasa menemukan Amerika. Padahal tidak. Lebih dulu daripada Columbus ialah Amerigo Vesvucci yang mene­mukan Amerika, – kalau boleh memakai perkataan menemukan, – sebagian ke Barat, sebagian dari negeri Belanda dan Spanyol, mengelilingi Tanjung Harapan, ujung paling selatan dari Afrika, masuk Lautan Hindia, ketemulah tempat-tempat merica dan cengkeh itu. Nah, dus, bisa ketemu jalan ini, saudara-saudara, – belum ada terusan Suez, – datanglah apa yang di dalam kitab saya, saya namakan imperialisme Belanda kuna.

Dus, sekadar mengambil bahan-bahan ini tadi, mengambil cengkeh, merica, pala dan lain-lain sebagainya, dibawa ke Eropa, melewati Tanjung Harapan, dibawa ke Eropa, dijual di Eropa dengan banyak laba. Di situ negeri Belanda mulai naik, sehingga pada abad XVII negeri Belanda mengalami abad keemasan. Orang Belanda sendiri menamakan abad XVII itu de gouden eeuw. Yaitu laba daripada pengambilan sini, pulang dijual, berangkat lagi, pulang, jual. Nah, uang laba ini, saudara-saudara, sebetulnya bertumpuk-tumpuk. Dibawa kemana uang laba ini? Apakah op potten, dicelengi terus, di negeri Belanda? Tidak. Terutama sekali kelihatan di Inggeris kapitalisme timbul, di Jerman kapitalisme timbul, uang ini dibawa ke Indonesia kembali, dan ditanamkan di Indonesia. Inilah asal mula daripada imperialisme Belanda mo­dern di Indonesia. Uang ditanamkan di Indonesia dalam pelbagai obyek. Ada yang dijadikan pabrik gula, ada yang kebun-kebun teh, ada yang kebun-kebun karet, ada yang dijadikan tempat pertam­bangan dan sebagainya. Dus, imperialisme modern di Indonesia adalah imperialisme penanaman uang. Di dalam ilmu ekonomi uang yang demikian ini dinamakan finanz kapital. Dus imperial­isme Belanda di Indonesia adalah imperialismenya finanz kapital. Indonesia oleh imperialisme finanz kapital ini dijadikan tempat pengambilan basis grondstoffen untuk kapitalisme di negeri Be­landa. Uang ditanamkan di sini, misalnya di dalam kebun karet atau dalam kebun kelapa sawit dan sebagainya. Ini kelapa sawit atau karet, ini menjadi basis grondstoffen. Misalnya minyak kelapa sawit dibawa ke negeri Belanda, minyak ini menjadi salah satu basis grondstof untuk pabrik sabun dan lain-lain sebagainya. Hasil daripada produksi ini dengan bahan kelapa sawit, dibawa lagi ke Indonesia, dijual di Indonesia. Jadi akhirnya menjadi tempat pengambilan bahan-bahan untuk kapitalisme di negeri Belanda, juga menjadi tempat-tempat penjualan produksi di negeri Belanda itu. Tetapi yang paling mendalam di dalam peri-kehidupan kita, ialah terutama sekali penanaman modal. Di sini dibangunkan perkebunan, industri-industri tetapi semuanya perkebunan-perke­bunan dan industri-industri imperialisme, dengan uang ini tadi, finanz kapital. Nah, agar supaya perkebun-an atau industri-industri itu tadi bisa berjalan dengan sebaik-baiknya, harus dipenuhi be­berapa hal yang berbeda sekali daripada syarat-syarat berkem­bangnya handels-imperialisme.

Handels-imperialisme, saya ulangi lagi, bisa berkembang­biak kalau rakyatnya mempunyai koopwil dan koopkracht. Han­dels-imperialisme dengan sendirinya mampus, kalau rakyatnya tidak bisa dan tidak mau beli. Tetapi finanz kapital mempunyai eisen lain. Mau menanamkan modal di sini, dijadikan onderne­ming. Onderneming pegunungankah atau onderneming di tanah datarkah. Mau tanam tembakau di daerah Yogyakarta atau Solo. Mau tanam tebu di lembah sungai Berantas misalnya. Bagaimana bisa tanam tebu di lembah sungai Berantas? Atau bisa tanam tem­bakau di lembah Bengawan Solo? Sekitar Solo dan Yogyakarta dan sebagainya.) harus menyewa tanah, sebab tanah milik daripada rakyat. Agar supaya sewa tanah ini dimungkinkan, diadakannya ordonansi yang dinamakan grondhuurordonnantie, pada perte­ngahan abad ke-19, yang memberi kesempatan kepada pengusaha asing menyewa tanah daripada rakyat untuk ditanami tebu, untuk ditanami tembakau, untuk ditanami apapun, agar supaya laba bisa tinggi, sewa tanahnya jangan mahal. Agar supaya sewa tanah tidak mahal, levensstandaard daripada rakyat ditekan, handels-imperi­alisme malahan agak menaikkan levens-standaard, artinya dipiara, koopwil en koopkracht. Finanz kapital imperialisme malahan menekan supaya sewa tanah tidak terlalu tinggi. Sewa tanah itu ditentukan oleh levensstandaard, standar hidup daripada rakyat. Rakyat yang standar hidupnya rendah akan sudah senang menerima sewa yang murah. Kecuali sewa tanah, finanz kapital yang menanamkan modalnya di sini itu memerlukan kaum buruh. Juga kaum buruh ini harus kaum buruh yang upahnya rendah. Kalau kaum buruh itu upahnya tinggi, labanya kurang bagi kaum imperialis.

Dus, diusahakan dengan segala macam agar supaya kaum buruh upahnya rendah. Sampai kita pernah mengalami satu waktu, upah kaum buruh 8 sen, satu orang sehari. Dihitung-hitung hidup­nya rakyat Indonesia bahkan pernah segobang seorang sehari. Tetapi upah buruh pernah di suatu tempat itu 8 sen sehari, 12 sen seorang sehari. Paling-paling 25 sen seorang sehari. Minimum­loon, rakyat Indonesia dijadikan minimum-leidster, ini istilah dari­pada seorang Belanda sendiri, daripada orang yang selalu saya sitir yaitu Dr. Uwender, yang mengata-kan bahwa rakyat Indonesia itu adalah minimum-leidster, segalanya itu minimum, kebutuhan-kebutuhannya ya minimum, kebutuhan makanannya minimum, pakaian minimum, segala-nya minimum, upahnyapun minimum sehingga konklusinya ialah yang sering saya katakan rakyat Indo­nesia adalah een volk van koelies en een koelie onder de natie. Inilah efek dan usaha daripada finanz kapital imperialis. Jangan diajarkan kepada rakyat kebutuhan-kebutuhan yang bukan-bukan. Sekolah-sekolah jangan lekas-lekas diberi, paling-paling sekolah yang sudah paling minimum. Di India tidak, kata saya tadi, pada tahun 1865 kalau tidak salah, Universitas yang pertama dibuka. Kita, saudara-saudara, sampai permulaan abad sekarang ini, tidak mengenal akan universitas. Sekolahnya sekolah rendah semuanya, sekolah menengah hanya untuk orang Belanda sendiri atau putera­putera daripada pegawai Indonesia. Dan sistemnya nyata, sistem membikin kita menjadi kaum buruh. Saya pernah duduk di dalam sekolah rendah.

Permulaan abad sekarang ini, padahal waktu itu sudah tahun 1915, sebagai murid daripada sekolah rendah itu saya masih diajar ilmu ukur dengan meetketting, rante ukur itu, kita murid-murid harus bisa mengukur halaman, mengukur sebidang tanah, tak lain tak bukan agar supaya nanti bisa menjadi mandor ukur. Jadi standar hidup direndahkan sekali, saudara-saudara. Bahkan demikian jauhnya usaha merendahkan levenstandaard kita ini, sehingga dulu, kelas pertengahan kita dan kelas borjuasi dulu sama sekali akhirnya juga padam. Dulu misalnya kita membikin bahan pakaian kita sendiri.

Saudara kalau baca di dalam kitab-kitab yang ditulis oleh komisi minderwelvaarkomisi atau kitab yang ditulis oleh Kroe­vaart, saudara masih bisa membaca bahwa di dalam abad ke-18, kita ini masih selfsupporting di dalam lapangan tekstil. Ya bukan tekstil mesin, tetapi tekstil tenunan. Sebagaimana saudara lihat di pulau-pulau Indonesia Timur sekarang, masih ada di sana selfsup­porting barang tenun sendiri, misalnya di Sumba, di pulau Kisan dan lain-lain. Itu masih selfsupporting, tetapi sebagai tadi saya katakan sebagian daripada laba finanz kapital ini, dijadikan indus­tri di negeri Belanda antara lain industri tenun Twente, oleh industri tenun ini saudara-saudara, matilah sama sekali mindden­stand kita yang tadinya bisa membuat tekstil. Jadi meskipun di satu pihak finanz kapital ini merendahkan standar hidup rakyat, oleh karena memang demikianlah eisen daripada finanz kapital tetapi sebaliknya handels kapital Belanda yang datang di sini membawa tekstil daripada Twente mematikan kelas pertengahan kita dan kelas borjuis. Bisa mematikan oleh karena impor yang dibawa ke sini adalah impor yang amat murah sekali tidak sebagai impor Inggris di India. Impor di India itu mengenali kwaliteiten, ada kualitet yang hebat-hebat, sebagaimana sampai sekarang saudara mengetahui wol daripada Inggris kualitet tinggi, untuk menjual barang kualitet tinggi ini memerlukan koopwil dan koopkrahct daripada rakyat. Impor tekstil dari negeri Belanda ke sini bukanlah tekstil kualitet tinggi bukan tekstil untuk kaum wanita yang berupa bembergzijde, bukan kain wol yang hebat-hebat seperti bikinan Leincheser. Tidak! Impor kebanyakannya berupa blaco, kain mori, paling-paling kain hitam, kain merah, cita-cita yang murah. Saya mengalami saudara-saudara, dulu kain cita yang saya pakai enam sen satu elo.

Dulu ukurannya itu elo, 70 cm. Jadi laage kwaliteiten, dan itu tidak memerlukan satu bangsa yang levensstandaard-nya harus dinaikkan. Cukup dengan satu bangsa yang levens-standaard-nya memenuhi eisen daripada finanz kapital imperialisme itu. Se­hingga saudara-saudara, akhirnya kita ini menjadi satu bangsa kelas kecil. Kita tidak mempunyai orang-orang yang kaya, seperti di India. Di India mempunyai Burla, mempunyai Tata, mempunyai famili Nehru, Mothilal Nehru, bapaknya Jawaharlal Nehru itu bukan main dia milyunernya, – orang bilang, – dia cucikan dia setrikakan baju-bajunya itu di London. Tidak mau cucian di Ala­habat, meskipun dia diam di Alahabat. Pakaian kotor-kotor dikirim ke London, cuci di London, disetrika di London. Orang kaya di Indonesia tidak ada, semuanya kelas kecil.

Pegawai, kelas kecil, tidak ada pegawai tinggi. Paling-paling yang paling tinggi vaitu Bupati atau Adipati. Tetapi yang lain-lain ialah klerk-klerk, paling-paling opseter-opseter. Dalam tentara KNIL, berapa orang yang jadi kapten? Tidak ada. Satu orang atau dua orang Mayor. Yang lain itu paling-paling sersan. Pendek segala hal yang besar ialah Belanda, yang kecil-kecil Indonesia sampai kepada rakyat jelatanya merupakan minimum leidster. Kaum buruh ada yang mendapat 8 sen sehari, tani ya tani kecil, tidak ada tani besar. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mempunyai grootbezit, tidak, tetapi saya hanya mengatakan bah­wa rakyat Indonesia itu hanyalah rakyat kecil.

Berhubung dengan itu saudara-saudara, maka aksi untuk meruntuhkan imperialisme itu haruslah terdiri dari gabungan se­muanya yang kecil ini. Di India bisa dipergunakan kekuatan dari kaum borjuis dan middenstand. Di Amerika kekuatan dari borjuis dan middenstand, yang bisa mengadakan satu Angkatan Perang. Saudara tahu bagaimana di Amerika permulaan revolusi itu? Yaitu di waktu beberapa orang pedagang teh melemparkan tehnya di dalam laut oleh karena impor teh harus membayar pajak. Itulah meletusnya revolusi di Amerika, ialah membuang teh di dalam laut, yang dimulai oleh kaum pengusaha. Di India gerakan nasional bertulang punggung kepada kaum borjuasi nasional. Kita tidak. Kita tidak mempunyai borjuasi nasional. Sudah tidak mem­punyai. Dulu di dalam abad ke-16, 17, 18 kita mempunyai borjuasi nasional yang bisa selfsupporting di atas lapangan tekstil misal­nya, tetapi di dalam abad ke-20 akhir 19 tidak ada kelas borjuasi nasional ini.

Dus gerakan melawan imperialisme itu adalah gerakan dari­pada segala golongan yang kecil. Sifatnya sudah lain, saudara­saudara. Di sana borjuasi nasional yang menunggangi rakyat jelata, di Indonesia tidak bisa berjalan yang demikian itu. Di Indonesia gerakan nasionalnya ialah gerakan daripada rakyat jelata tok. di dalam segala macam. Ambtenar-ambtenar kecil duduk di dalamnya. Dari pihak pengusaha-pengusaha ada duduk di dalamnya, tapi kecil. Semuanya kecil. Gerakan Sarikat Islam misalnya, Sarikat Dagang Islam yang diadakan mula-mula oleh Kiai Samanhudi, di dalam tahun 1910 begitu setelah Budi Utomo, yah, Sarikat Dagang Islam ya pedagang-pedagang yang kecil bukan pedagang-pedagang seperti Tata, seperti Birla, seperti Neh­ru. Bapaknya Nehru itu bukan pedagang tetapi advokat besar yang mempunyai andil di dalam beberapa perusahaan. Sarikat Dagang Islarn pun, saudara-saudara, gerakan daripada pedagang kecil bahkan yang kemudian diubah menjadi Sarikat Islam yang bukan saja pedagang yang masuk di dalamnya tetapi tani kecil, buruh kecil, semuanya yang kecil masuk di dalamnya. Ini yang menjadi kekuatan kita, siap di seluruh Indonesia, golongan kecil, ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya daripada pihak pedagang, ya nelayan, ya kusir, ya tukang bengkel, ya semuanya, kita himpun kekuatannya. Dus, kita perlukan bagi menangnya gerakan kita satu hikmat persatuan. Kita menghadapi soal ini, saudara-saudara, bagai-mana bisa menumbangkan imperialisme. Yah, kita harus bisa bersatu, mempersatukan tenaganya yang kecil ini, ya tenaganya kaum buruh, ya tenaganya kaum tani, tenaga kaum buruh untuk meng­hadapi industri-industri daripada finanz-kapital itu, tenaga-tenaga kaum tani kita butuhkan untuk menentang perkebunan-perkebun­an baik di tanah datar maupun di pegunungan, kita butuh- kan segenap tenaga daripada rakyat Indonesia.

Pada satu waktu saya sampai kepada satu saat yang saya memerlukan satu nama umum bagi sernua yang kecil-kecil ini. Ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya nelayan dan lain-lainnya ini, se­muanya tidak ada yang besar, melainkan kecil-kecil semua-nya, lantas saya beri nama kepada semuanya ini Marhaen. Tidak bisa disebutkan proletar, kataku. Sebab apa yang dinama-kan proletar? Barangkali saudara-saudara sudah mendengar uraian ini, tetapi baiklah sava uraikan sekali lagi. Apa yang dinamakan proletar? Pak, proletar itu kaum buruh. Tidak jelas! Marilah kita tanya kepada Karl Marx sendiri, dia yang mengadakan perkataan, terkenalnya perkataan proletar, menurut Marx proletar adalah orang yang menjualkan tenaganya kepada orang lain dengan tidak ikut memiliki alat produksi, ini defenisi Marx. Proletar adalah orang yang menjualkan tenaganya kepada orang lain dengan tidak memiliki alat produksi. Sekadar menjual tenaga tok. Tidak ikut memiliki alat produksi. Apa alat produksi? Kereta api adalah alat produksi. Bahkan gergaji, palu dan lain-lain sebagainya adalah alat-alat produksi. Jikalau engkau menjualkan tenagamu di dalam sesuatu perusahaan tetapi engkau tidak ikut memiliki alat pro­duksi, tidak ikut memiliki pabrik, tidak ikut memiliki mesin, tidak ikut memiliki martil-martil, palu-palu, gergaji-gergaji di dalam pabrik itu, kamu cuma menjual tenagamu saja, engkau adalah proletar. Dan ini definisi mengenai semua yang menjual tenaga. Kaum intelektuil pun, insinyur yang menjualkan tenaganya kepada satu perusahaan besar, perusahaan Philips, Unilever apapun, engkau hanya menjual tenagamu sebagai insinyur, dengan tidak ikut memiliki pabrik Unilever, atau pabrik Krupp, engkau adalah proletar, tetapi namanya intelektuil proletar, proletar intelektuil. Padahal, ya rumah, gedung, rumah yang didiami, engkau pergi ke pekerjaan dengan mobil yang mengkilap, engkau adalah insinyur, engkau adalah doktor, engkau adalah ahli kimia, oto yang mengkilap, tidak miskin, tetapi yang engkau jual hanya tenagamu, pikiranmu, tidak ikut memiliki alat produksi, engkau adalah prole­tar.

Dus, si insinyur proletar, si doktor ilmu kimia yang bekerja kepada Bayer misalnya, proletar, cuma ya intelektuil proletar. Saya memerlukan satu istilah buat ini, si kecil-kecil semuanya itu tadi. Buruh kecil ya proletar, dia masuk di dalam golongan yang saya carikan istilah tani kecil yang perlu juga istilah bagi si tani kecil ini tetapi si tani kecil ini bukan proletar. sebab ia punya alat produksi milik sendiri, si nelayan kecil masuk di dalam golongan yang saya carikan istilah tetapi dia bukan proletar, alat produksi milik dia sendiri. Si tukang gerobak kecil, gaji, ya tidak punya gaji, gerobaknya dia punya sendiri, kudanya yang kurus itu dia punya sendiri. Lha ini namamya apa, saya carikan pada suatu ketika, untuk semua rakyat Indonesia yang kecil-kecil ini, Ceriteranya ialah pada suatu hari saya berjalan di sebelah selatan kota Ban­dung, kalau saudara mau tahu desanya, nama desanya Cigereleng. Di Cigereleng saya berjalan jalan di sawah. Pada waktu itu saya memimpin Partai, saya jalan jalan di sana, saya melihat seorang laki-laki sedang menggarap sebidang tanah. Saya tanya: bung, ini tanah siapa?

Gaduh abdi. Pacul ini siapa punya, Gaduh abdi, artinya gaduh abdi itu, saya punya. Gubuk ini siapa punya? Gaduh abdi. Engkau kalau sudah tanam padi ini, hasil padi ini untuk siapa? Buat abdi. Wah engkau kaya? Tidak. Miskin. Maklum cuma begini, dan mes­kipun tanah punya saya sendiri, pacul saya punya sendiri, hasil­nyapun saya punya sendiri, tetapi saya miskin, paling miskin. Coba lihat gubuk itu sudah reyot. Orang ini bukan proletar. Mis­kin, tetapi proletar, sebab alat produksi milik dia sendiri. Sebalik­nya sebagai tadi saya katakan meski-pun mobil mengkilat kalau alat produksi tidak dimilikinya dan dia cuma menjual tenaganya saja, adalah proletar. Orang ini bukan proletar, tetapi miskin, seperti 95% daripada rakyat Indonesia adalah miskin. Saya tanya kepadanya: nama bung siapa? Marhaen, jawab dia. Timbul ilham, kalau begitu semua rakyat Indonesia yang miskin ini saya namakan Marhaen, ya, yang proletar ya yang bukan proletar, ya yang buruh, ya yang tani, ya yang nelayan, ya tukang gerobak, ya yang pegawai, pendeknya yang kecil-kecil ini semua, Marhaen.

Ini bahan kita untuk digerakkan bersama untuk menum­bangkan imperialis, tidak memiliki borjuasi nasional, tidak memiliki tenaga Angkatan Perang seperti sekarang.

Dulu tidak ada Angkatan Perang kita, revolusi Amcrika segera setelah Thomas Jefferson, Thomas Paine, George Washington dan Paul Rellier mengatakan: hayo kita melepas-kan diri dari Inggris, terus dibentuknya Angkatan Perang bahkan George Washington menjadi Panglima Besar daripada Angkatan Perang yang kemudian dipilih menjadi Presiden.

Kita tidak mempunyai Angkatan Perang, kita tidak mempu­nyai borjuasi nasional, kita harus dan mutlak harus hanya bisa mempergunakan tenaga daripada rakyat jelata sebagai satu ver­zamelnaam yang saya namakan Marhaen, dus, sejak daripada mulanya atau lebih tegas sejak fase revolusioner, daripada gerakan nasional kita, kita harus bisa memegang panji persatuan. Sejak daripada fase revolusioner, jangan kira, tadi sudah saya peringat­kan bukan, perkataan revolusioner jangan dihubung-hubungkan dengan kekerasan senjata. Sejak dari fase revolusioner, jikalau saya boleh mempergunakan istilah yang saya ucapkan pada pidato 20 Mei, sejak angkatan penegas yang dengan tegas berkata: Indo­nesia merdeka, itulah satu umgestaltung von grundauf, sejak dari­pada fase itu kita meng-hadapi persoalan mempersatukan semua revolutionnaire krachten, semua tenaga-tenaga revolusioner, yaitu tenaga-tenaga dari segenap Marhaen, Marhaen di dalam arti, se­bagai tadi saya katakan ya buruh, ya tani, ya pegawai, ya tukang gerobak, ya tukang nelayan, ya tukang pedagang, semua rakyat Indonesia yang 95% Marhaen.

Jadi alat kita hanyalah persatuan, jikalau kita tidak berdiri di atas dasar ini, mungkin gerakan kita tidak berhasil. Di Sovyet Uni lain saudara-saudara, di sana ada kelas kapitalis, kelas proletar dan tani, bersama-sama proletar dan tani ini menumbangkan kelas kapitalis. Kita terdiri daripada macam-macam golongan tetapi kecil semuanya, ini harus kita gabung, yaitu menentang imperial­isme yang pada hakekatnya ialah finanz-kapital imperialisme, tetapi saudara-saudara. untuk mempersatukan segenap golongan­golongan Marhaen ini, yang terdiri dari elemen buruh, elemen tani. elemen pedagang, elemen tukang gerobak, elemen nelayan dan sebagainya itu, kita tentu menghadapi beberapa persoalan. Per­soalan kepentingan daripada golongan, persoalan rasa daerah, kepentingan rasa agama, kepentingan lain-lain. Karena itu sejak mulanya di dalam ide mempersatukan marhaen sudah dimasukkan terutama sekali elemen keaslian Indonesia ialah gotong royong. Gotong royong yang memang salah satu sendi daripada masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu, dan dianjurkan kepada semua golongan ini bahwa kita hanyalah bisa menumbangkan imperialisme itu kalau kita bersatu dan berdiri di atas dasar revolu­sioner. Diterangkan kepada kaum marhaen terutama sekali kepada kaum marhaen yang menjadi anggota partai saya, sebab kaum marhaen ini di mana-mana, saya bicara secara wetenschappelijk, jangan mengira Bung Karno memakai perkataan marhaen itu karena mengingat PNI dahulu, tidak.

Saya tadi ‘kan berkata, marhaen itu meliputi semua, dus, di dalam partai-partai yang sekarang ini dinamakan PKI ya ada Marhaen, di dalam partai Masyumi ya ada Marhaen, di dalam partai Nahdlatul ‘Ulama ya ada Marhaen, di dalam Gerwani ya ada Marhaen, Marhaen di dalam arti rakyat Indonesia dari segala golongan yang kecil itu tadi, yang tidak bisa diberikan nama kepadanya proletar.

Saya mencari satu istilah baru untuk menggambarkan kekecilan daripada rakyat Indonesia ini, meskipun jumlahnya jutaan tetapi ekonominya kecil, saya carikan satu perkataan, satu istilah yaitu istilah Marhaen. Di dalam arti yang demikian itu, saya pakai perkataan marhaen itu tidak dengan ingatan kepada sesuatu partai. Marhaen daripada semua golongan ini harus dipersatu­padukan, karena itu sejak daripada semula Angkatan penegas berkata: harus berdiri di platform revolusioner. Apa yang di­namakan revolusioner, revohsioner di dalam arti umgestaltung von grund auf, perubahan radikal revolusioner di dalam arti cukup dengan kehendak zaman yang cepat revolusioner di dalam arti menentang kepada imperialisme. Semua golongan yang ikut aliran zaman yang cepat semua golongan yang hendak menumbangkan imperialisme, semua golongan itu adalah revolusioner. Ya dari buruh, ya dari tani, ya dari golongan apapun.

Dus istilah revolusioner saudara-saudara, jangan saudara campurkan kepada, misalnya revolusioner harus proletar, atau revolusioner harus orang yang berdiri di atas taraf, di atas platform demokrasi formil, atau revolusioner harus orang sosialis. Sosialis di dalam arti, bukan PSI, tetapi di dalam arti menghendaki masya­rakat sama rata sama rasa tanpa kapital-isme. Jangan dihubungkan dengan tiga hal ini. Revolusioner tidak harus hanya orang proletar saja, tidak harus hanya orang sosialis saja, tidak harus hanya orang yang berdiri di atas dasar demokrasi formil. Revolusioner adalah tiap-tiap orang yang menentang imperialisme, revolusioner adalah dus tiap-tiap orang yang mengikuti kehendaknya zaman yang cepat. Misalnya kalau saudara-saudara berkata: tidak, revolusioner harus proletar. Tidak klop, saudara-saudara, sebab ada juga go­longan-golongan proletar yang tidak revolusioner, misalnya gerakan kaun buruh di Inggris yang telah saya ceriterakan, gerakan kaum buruh di Inggris yang terdiri dari proletar-proletar, saudara­saudara.

Sejak daripada pemimpinnya entah yang namanya Mac Donald, sebutlah pemimpin Labourparty Inggris Atlee, sampai kepada anggotanya, taxi driver, atau machineworker atau dock­worker, semuanya proletar. Atlee dahulu kaum proletar, Mac Donald adalah kaum buruh pertambangan batubara, proletar. Be­gitu pula anggota-anggotanya, semuanya proletar tetapi sama sekali tidak revolusioner, sebab misalnya menentang kepada ke­merdekaan penuh daripada bangsa-bangsa, menentang kepada gerakan anti kolonialisme 100%, menentang kepada memberi kemerdekaan penuh pada India. Atlee memberi kemerdekaan kepada India, kalau boleh dipakai perkataan memberi, sebab kemerdekaan India adalah hasil keringat rakyat India sendiri, di dalam bentuk dominion status, belakangan kataku tadi wet 1947 dominion status, tahun 1950 oleh perjuangan rakyat India sendiri, dirubah menjadi Republik masih di dalam gabungan common­wealth. Dus proletar Inggris saudara-saudara, tidak revolusioner, dus tidak klop bahwa perkataan revolusioner harus proletar. Demikian pula saudara-saudara akan berkata: revo-lusioner itu harus sosialis, di dalam arti tadi masyarakat sama rasa sama rata tanpa kapitalisme. Tidak klop lagi. Misalnya gerakan dari rakyat Mesir, revolusioner yang sekarang memun-cak kepada gerakan di bawah pimpinan Gamal Abdul Nasser, revolusioner tetapi mereka tidak terdiri dari kaum sosialis.

Bahkan aku pernah membaca satu uraian yang menamakan gerakan Amanullah Khan dari Afganistan itu revolusioner, Amanullah Khan adalah seorang raja Afganistan yang di dalam tahun 1926 mencoba menumbangkan imperialisme Inggris. Tetapi gagal. Amanullah Khan sama sekali bukan proletar, sama sekali bukan sosialis, bahkan namanya Khan, kalau bahasa Indonesia Khan itu barangkali Raden Mas Panji Ario. Amanullah Khan di dalam tulisan ini yang ditulis oleh seorang pemimpin besar revolusi. Dus tidak klop kalau kita berkata: revolusioner harus sosialis. Demikian pula tidak klop kalau dikatakan revolusioner harus orang yang berdiri di atas platform demokrasi formil. Apa demokrasi formil itu? Demokrasi yang menghendaki parlemen, pungut suara, stem-steman itulah yang dinamakan formele de­mocratie. Dengan cara Parlemen yang begini, jangan berkata bahwa orang revolusioner hanyalah orang yang berdiri di atas platform parlemen-parlemenan, pungutan suara, demokrasi for­mil, tidak. Seperti Amanullah Khan itu tadi, yang bukan seorang demokrat formil, dia bahkan orang Khan, orang raja yeng me­merintah tidak dengan parlemen tetapi toh oleh seorang penulis revolusioner ini dinamakan revolusioner. Nah ini saudara, masuk­kan di dalam gerakan rakyat, bahwa semua harus revolusioner, artinya semuanya harus menentang imperialisme, sebab siapa menentang imperialisme, buruhkah, tanikah, pegawaikah, orang dari golongan agamakah, sosialis-kah, proletarkah, demokrasi for­milkah, bukan proletarkah, bukan sosialiskah, bukan demokrasi formilkah, siapa yang menentang imperialisme ada-lah revolu­sioner. Ini adalah satu slogan mempersatu daripada segenap kaum kecil Indonesia yang tadi kuterangkan.

Dus, gerakan rakyat Indonesia ialah yang akhirnya bisa ber­hasil menggerakkan 17 Agustus 1945, sebagai yang sudah saya gambarkan pada pidato 20 Mei, demikian pula sejak 17 Agustus 1945 sampai pengakuan kedaulatan tahun 1950 ternyata satu gerakan persatuan.

Berlainan sekali dengan gerakan India yang pada hakekat-nya ialah gerakan kaum pertengahan dan borjuis menunggangi kaum proletar, berlainan sekali dengan gerakan revolusi Perancis, ber­lainan dengan gerakan revolusi Amerika. Kita adalah satu gerakan dari seluruh rakyat dengan dasar persatuan dan revolusioner. Nah, saudara-saudara mengerti sekarang background daripada paham­paham ini, dengan background inilah saudara-saudara dicarikan kemudian formulering sebagai weltanschauung agar supaya kita dapat meletakkan negara yang akan kita proklamirkan pada tang­gal 17 Agustus 1945 itu di atasnya, yaitu Pancasila, Pancasila kecuali satu weltanschauung adalah alat pemersatu, dan siapa tidak mengerti perlunya persatuan, siapa tidak mengerti bahwa kita hanyalah dapat merdeka dan berdiri tegak merdeka, jikalau kita bersatu, siapa yang tidak mengerti itu, tidak akan mengerti Pancasila.

Kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini, saudara-saudara, membuktikan sejeias-jelasnya bahwa jikalau tidak di atas dasar Pancasila kita terpecah belah, membuktikan dengan jelas bahwa hanya Pancasilalah yang dapat tetap mengutuhkan Negara kita, tetap dapat menyelamatkan Negara kita. Oleh karena itu saya harap saudara-saudara nanti kalau saya sudah menguraikan Pan­casila ini selalu ingat kepada background yang pada malam ini saya berikan kepada saudara-saudara, bahwa kita membutuhkan persatuan dan bahwa Pancasila adalah kecuali satu weltan­schauung adalah satu alat pemersatu daripada rakyat Indonesia yang aneka warna ini.

Sekarang saudara-saudara telah pukul 10 lebih 3 menit, saya kira sudah cukuplah sebagai inleiding. Insya Allah dua pekan lagi akan saya mulai mengupas Pancasila, sila per sila.

 

Sekian.

 

PANCASILA

SEBAGAI DASAR NEGARA

II

Kursus Presiden Soekarno
Tentang Pancasila
di Istana Negara, Tanggal 16 Juni 1958.

 

Saudara-saudara sekalian,

Di dalam kursus saya yang pertama sebagai pendahuluan, saya terangkan kepada saudara-saudara bahwa perjuangan rakyat Indonesia untuk menumbangkan imperialisme tidak boleh lain daripada bersifat mempersatukan segenap tenaga-tenaga revolu­sioner yang ada di masyarakat kita. Saya jelaskan pada waktu itu sebabnya. Sebabnya ialah bahwa kita berhadapan dengan imperi­alisme Belanda yang imperialisme Belanda itu berlainan sifat daripada misalnya imperialisme Inggeris. Manakala imperialisme Inggris adalah terutama sekali satu imperialisme perdagangan, – yang saya maksudkan ialah imperialisme Inggris yang datang di India -, maka imperialisme Belanda yang datang di Indonesia, terutama sekali adalah satu imperialisme daripada Finanz-kapital. Finanz-kapital yaitu kapital yang ditanamkan di sesuatu tempat berupa perusahaan-perusahaan.

Oleh karena Finanz-kapital Belanda ini membutuhkan buruh murah, sewa tanah murah, maka akibat daripada Finanz-kapital di Indonesia ialah pauverisering daripada rakyat Indonesia. Dan oleh karena rakyat Indonesia sesudah berjalan-nya Finanz-kapital ini berpuluh-puluh tahun menjadi satu rakyat yang di segala lapangan verpauveriseerd. Tadi saya terangkan kepada saudara-saudara, untuk mencakup begrip “semua rakyat yang verpauveriseerd” ini saya telah mempergunakan istilah marhaen. Saya ulangi: oleh karena akibat daripada Finanz-kapital ini ialah bahwa rakyat In­donesia ini di segala lapangan verpauveriseerd menjadi rakyat marhaen, di segala lapangan, baik lapangan proletar maupun lapangan yang tidak proletar, maka untuk menumbangkan impe­rialisme Belanda itu kita harus memakai jalan lain daripada mi­salnya rakyat India memperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat India masih memiliki satu nationale bourgeoisie, bahkan pada pertengahan atau bagian kedua daripada abad ke-19 borjuasi nasional India ini hendak naik benar-benar sehingga nationale bourgeoisie India inilah sebenarnya yang menjadi tenaga motoris daripada gerakan rakyat India menentang imperialisme Inggris itu, berwujud gerakan Swadeshi di lapangan ekonomi dan di lapangan politik gerakan satyagraha.

Kita yang segenap zaman pre- atau pra-imperialis memiliki bibit-bibit nationale bourgeoisie, tetapi yang oleh proses imperi­alis di segala lapangan verpauveriseerd sehingga menjadi rakyat marhaen, kita tak dapat menjalankan cara perjuangan sebagai yang dijalankan oleh rakyat India itu. Maka boodschap kepada kita ialah mempersatukan segenap tenaga revolusioner yang ada di dalam rakyat Indonesia yang verpauveriseerd itu. Baik yang proletar maupun yang bukan proletar. Sehingga boodschap perjuangan kita di Indonesia ialah boodschap persatuan. Hal itu sudah saya terangkan kepada saudara-saudara pada kursus saya yang pertama. Dan memang dengan menyelenggarakan persatuan daripada segenap tenaga revolusioner itulah akhirnya kita pada tanggal 17 Agustus 1945 dapat mengadakan proklamasi kita dan juga dengan persatuan itu kita dapat mempertahankan proklamasi itu. Hanya di waktu-waktu yang sekarang ini persatuan itu terganggu se­hingga sewajibnya kita berikhtiar lagi untuk memperbaiki lagi keretakan-keretakan di dalam tubuhnya bangsa Indonesia itu.

Mempersatukan segenap tenaga revolusioner, – dan arti perkataan revolusioner pun di dalam kursus yang pertama sudah saya jelaskan kepada saudara-saudara -. Saya ulangi dengan singkat: untuk bersifat revolusioner tak perlu dari golongan prole­tar, tak perlu dari golongan demokrasi formil, tak perlu dari golongan sosialis, -sosialis dalam arti yang luas, – revolusioner adalah tiap-tiap orang yang progresif menghantam kepada impe­rialisme. Revolusioner adalah tiap-tiap orang yang hendak meng­akhiri kolonialisme dan hendak mengadakan kemerdekaan nasional. Oleh karena itu adalah progresinya sejarah. Tidak perlu seorang proletar, sebab yang bukan proletar bisa juga revolusioner. Sebaliknya ada contoh proletar tidak revolusioner. Tidak perlu demokrasi formil, sebab orang yang tidak berdemokrasi formil bisa revolusioner. Tidak perlu berangan-angan atau dari golongan sosialis, dalam arti yang luas, sebab ada yang sosialis tetapi tidak revolusioner. Ada yang bukan sosialis tetapi revolusioner, sosialis dalam arti yang luas.

Di dalam kursus saya yang pertama, hal ini tidak saya ke­mukakan kepada saudara-saudara. Tapi sosialis, seperti waktu saya membuat kuliah di Yogyakarta saya terangkan bahwa perkataan sosialisme saya ambil dalam arti nama kumpulan, ver­zamelnaam, dari semua aliran-aliran yang menghendaki masya­rakat sama rasa sama rata. Dus ya sosialis demokrat, ya anarchist, ya komunis, ya utopist sosialis, ya religieus socialist. Semuanya saya cakup dengan satu perkataan: sosialis.

Saudara-saudara, konklusi daripada kursus saya yang perta tadi, sudah saya katakan: boodschap yang diberikan sejarah kepada kita ialah persatuan, mempersatukan segenap tenaga. Bukan saja untuk menumbangkan imperialisme, tetapi juga untuk mempertahankan negara yang kita dirikan dan yang hendak ditum­bangkan kembali oleh imperialisme itu.

Maka berhubung dengan itulah, timbul pertanyaan kepada segenap rakyat Indonesia, tatkala rakyat Indonesia hendak meng­adakan kemerdekaan nasional, apakah negara yang hendak didiri­kan itu harus diberi satu dasar yang di atas dasar itu segenap rakyat Indonesia dipersatupadukan, apa tidak. Dan jawabnya ialah: ya, perlu dasar yang demikian itu, dasar pemersatu daripada segenap rakyat Indonesia. Sehingga sebagai saudara-saudara ketahui, soal dasar ini menjadi pembicaraan di dalam sidang-sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang bersidang sebelum kita mengadakan pro­klamasi, jadi pertengahan tahun 1945. Dan di dalam salah satu sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itulah dianjurkan oleh onder­ getekende untuk memakai Pancasila sebagai dasar negara yang akan kita adakan. Dan kemudian Pancasila ini diterima di dalam Jakarta Charter. Kemudian sesudah kita mengadakan proklamasi diterima oleh sidang daripada pemimpin pertama daripada negara yang telah kita proklamirkan. Dasar negara yang kita butuhkan ialah pertama: harus satu dasar yang dapat mempersatukan. Kedua: satu dasar yang memberi arah bagi perikehidupan negara kita itu. Katakanlah dasar statis, di atas mana kita bisa hidup bersatu dan dasar dinamis ke arah mana kita harus berjalan, juga sebagai negara. Sebab apa yang dinamakan negara saudara­saudara? Negara adalah tak lebih dan tak kurang daripada satu organisasi, satu organisasi kekuasaan, satu machtorganisatie. Ten­tang hal negara ini banyak sekali teori-teori, apa negara itu. Ada teori yang mengatakan negara adalah satu hal sudah semestinya terjadi. Sonder maksud ini atau maksud itu, dengan sendirinya sesuatu bangsa mencapai negara. Teori ini di dalam sejarah manusia nyata telah dibantah. Sebab di dalam sejarah manusia sering sekali tampak bangsa-bangsa atau gerombolan-gerombolan manusia yang berjumlah banyak hidup tanpa negara. Ambillah misalnya kafilah-kafilah di Sentral Afrika. Mereka itu hidup, mencari makan, membuat perumahan, hidup bersuami isteri, tetapi tiada ikatan yang dinamakan negara. Ada juga yang berkata bahwa negara adalah penjelmaan daripada ide yang luhur sekali. Ya, ini masih harus ditanya, ide itu ide apa.

Hegel misalnya, salah seorang ahli falsafah yang besar, berkata: de staat of een staat is de tot werkelijkheid geworden idee. Ya boleh kita terima ini. Tetapi apa yang dinamakan idee, de tot werkelijkheid geworden idee, ide yang terjelma? Ini masih diminta jawaban lagi apa yang dinamakan idee Hegel.

Saya sendiri berpendirian bahwa negara itu tak lain tak bukan ialah sebenarnya satu organisasi. Dan tegasnya satu organisasi ke­kuasaan. Satu machts-organisatie. Kita bisa mengadakan organi­sasi partai. Dan partai itu dipmpin oleh segolongan manusia yang dinamakan dewan pimpinan. Demikian pula kita bisa mengadakan organisasi daripada seluruh manusia di dalam lingkungan bangsa yang bernama negara. Dan negara ini dipimpin oleh segolongan manusia yang dinamakan pemerintah. Pada hakekatnya tiada per­bedaan antara dua hal ini. Partai dengan ia punya dewan pimpinan, negara dengan ia punya pemerintah. Pada hakekatnya partai mem­punyai statuten, negara memakai Undang Undang Dasar. Partai mempunyai peraturan-peraturan rumah tangga, negara mempu­nyai organieke wetten, hukum-hukum organik. Pada hakekat-nya, basically, kata orang Inggris, tidak ada perbedaan di antara dua ini.

Keterangan Karl Marx lebih lanjut lagi daripada ini. Negara adalah satu organisasi kekuasaan, kata Karl Marx, macht-organisa­tie. Bahkan satu machtorganisatie daripada sesuatu kelas untuk mempertahankan dirinya terhadap lain kelas. Karl Marx berkata, bahwa di dalam sejarah dunia ini selalu ada dua kelas yang bertentangan satu sama lain. Di dalam sejarah manusia, selalu ada dua kelas yang bertentangan satu sama lain. Ada kelas feodal yang bertentangan dengan kelas horigen, yaitu rakyat jelata yang ditin­das oleh feodalisme itu. Sekarang ada kelas kapitalis dan kelas proletar. Selalu ada dua kelas. Maka kata Marx, negara adalah satu machts-organisatie di dalam tangannya salah satu kelas ini untuk menindas kelas yang lain. Di dalam zaman feodal negara adalah satu machts-organisatie di dalam tangannya kaum bangsawan untuk menindas kaum horigen. Di dalam zaman kapitalisme negara adalah machts-organisatie di dalam tangannya kaum kapi­talis untuk menindas kaum proletar. Ditindas artinya untuk men­jalankan sesuatu yang cocok dengan kepentingan kelas kapitalis ini, tetapi tidak cocok dengan kepentingan kaum proletar.

Teori ini ditarik terus oleh Marx. dalam arti jikalau nanti ada revolusi, kapitalis ini dengan alat kekuasaannya yang bernama negara, dengan kaum proletar yang karena mereka itu mengorga­nisasikan dirinya dengan semboyannya: “Proletaries aller landen, verenigt U”, mengorganisasikan dirinya, akhirnya dapat merebut negara atau alat kekuasaan yang tadinya di dalam tangan kaum kapitalis ini, -jikalau revolusi demikian itu telah terjadi, maka alat kekuasaan yang tadinya di dalam tangan kaum kapitalis, yaitu negara yang tadinya di dalam tangan kaum kapitalis terebut oleh kelas proletar dan kelas proletarlah yang memegang alat kekuasa­an yang dinamakan negara ini.

Sesudah sesuatu revolusi sosial ini terjadi, alat kekuasaan yang dinamakan negara jatuh di dalam negara kaum proletar. Maka berhubung dengan itulah apa yang dinamakan dictatuur­proletariaat berjalan dan bukan berjalan secara insidentil, tetapi berjalan secara historis, sebab negara adalah pada hakekatnya alat kekuasaan di dalam tangan sesuatu kelas. Tadi di dalam tangan kaum kapitalis, sesudah revolusi proletar di dalam tangan kaum proletar. Dan alat kekuasaan ini dipergunakan oleh kaum proletar untuk menindas kaum kapitalis. Dus, sifat daripada praktik alat kekuasaan yang sekarang ini adalah dictatuur-proletaar.

Nah, saya teruskan uraian mengenai Marx ini. Sesudah demikian bagaimana? Sesudah demikian kelas kapitalis ini karena dialatkuasai oleh dictatuur proletaar ini, makin lama makin lemah, makin lama makin surut, akhirnya hilanglah kelas yang dinamakan kelas kapitalis. Tinggal kelas proletar itu. Dan oleh karena tinggal hanya satu kelas sebenarnya sudah tidak ada kelas lagi. Orang bisa bicara tentang kelas jikalau masih ada perbedaan. Kelas I, kelas 11, kelas 111, kelas VIII, kelas IX, karena ada perbedaan. Kalau tinggal cuma satu, itu bukan kelas lagi. Nah, kalau tinggal proletar saja, rakyat jelata saja, tidak ada kelas kapitalisnya, itulah oleh Marx yang dinamakan satu masyarakat tanpa kelas, satu klasseloze maatschappij. Manusianya tetap ada, bahkan berkembang biak banyak. Tetapi masyarakat itu tidak mempunyai kelas, klasseloos. Dan oleh karena klasseloos, maka masyarakat itu menjadi staat­loos, sebab, – saya ulangi lagi -, menurut teori Karl Marx, negara adalah machts-organisatie di dalam tangan sesuatu kelas.

Jikalau kelas itu juga tidak ada, maka machtsorganisatie se­bagai machts-organisatie tidak ada lagi. Maka menjadi satu masyarakat yang staatloos. Ini saya beri tahu kepada saudara­saudara, agar supaya saudara-saudara mengerti istilah-istilah di dalam ilmu Marxisme; klasseloze maatschappij dan staatloze maatschappij. Dus tidak ada lagi sesuatu golongan yang harus di-onderdruk, yang harus ditindaso Kalau ada dua kelas, ada satu golongan yang berkuasa dan satu golongan yang harus ditindas. Kalau sudah staatloos dan klasseloos, tidak ada lagi golongan yang harus ditindas. Fungsi negara hilang. Fungsi negara sebagai alat kekuasaan hilang. Yang tinggal ialah fungsi administratif daripada manusia-manusia. Ada fungsi opseter, ada fungsi insinyur, ada fungsi guru dan lain-lain sebagainya, tetapi fungsi negara sebagai negara, tidak ada lagi.

Saya beri penjelasan kepada saudara-saudara tentang hal ini untuk mengerti bahwa kita tatkala kita concipieren, membentuk negara kita, sebagai negara kita harus mengerti bahwa negara itu adalah suatu hal yang dinamis. Kalau Marx berkata: ini adalah alat kekuasaan, maka tadi saya berkata: kita dalam mengadakan negara itu harus dapat meletakkan negara itu atas suatu meja yang statis yang dapat mempersatukan segenap elemen di dalam bangsa itu, tetapi juga harus mempunyai tuntutan dinamis ke arah mana kita gerakkan rakyat, bangsa dan negara ini.

Saya beri uraian itu tadi agar saudara-saudara mengerti bahwa bagi Republik Indonesia, kita memerlukan satu dasar yang bisa menjadi dasar statis dan yang bisa menjadi Leitstar dinamis. Leitstar, bintang pimpinan.

Nah, ini yang menjadi pertimbangan daripada pemimpin-­pemimpin kita dalam tahun 1945, dan sebagai tadi saya katakan, sesudah bicara, bicara, akhirnya pada satu hari saya mengusulkan Pancasila, dan Pancasila itu diterima masuk dalam Jakarta Charter, masuk dalam sidang pertama sesudah proklamasi. Jadi kalau saudara ingin mengerti Pancasila, lebih dulu harus mengerti ini: meja statis, Leitstar dinamis.

Kecuali itu kita sekarang lantas masuk kepada persoalan elemen-elemen apa yang harus dimasukkan di dalam meja statis atau Leitstar dinamis ini. Kenapa Pancasila? Mungkin Dasasila, atau Catursila, atau Trisila atau Saptasila. Kenapa justru lima ini? Bukan kok lima jumlahnya, tetapi justru Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat dan Keadilan Sosial. Kenapa tidak tambah lagi, atau dikurangi lagi beberapa. Kenapa justru kok lima macam ini.

Saudara-saudara, jawabannya ialah, kalau kita mencari satu dasar yang statis yang dapat mengumpulkan semua, dan jikalau kita mencari suatu Leitstar dinamis yang dapat menjadi arah perjalanan, kita harus menggali sedalam-dalamnya di dalam jiwa masyarakat kita sendiri. Sudah jelas kalau kita mau mencari satu dasar yang statis, maka dasar yang statis itu harus terdiri daripada elemen-elemen yang ada pada jiwa Indonesia. Kalau kita mau masukkan elemen-elemen yang tidak ada dalam jiwa Indonesia, tak mungkin dijadikan dasar untuk duduk di atasnya.

Misalnya kalau kita ambil elemen-elemen dari alam pikiran Eropa atau alam pikiran Afrika. Itu adalah elemen asing bagi kita, yang tidak in concordantie dengan jiwa kita sendiri, tak akan bisa menjadi dasar yang sehat, apalagi dasar yang harus memper­satukan. Demikian pula elemen-elemen untuk dijadikan Leitstar dinamis harus elemen-elemen yang betul-betul menghikmati jiwa kita. Yang betul-betul, bahasa Inggrisnya appeal kepada jiwa kita. Kalau kita kasih Leitstar yang tidak appeal kepada jiwa kita, oleh karena pada hakekatnya tidak berakar kepada jiwa kita sendiri, ya tidak bisa menjadi Leitstar dinamis yang menarik kepada kita.

Ini adalah satu soal yang susah, saudara-saudara. Apalagi bagi saudara-saudara, pemimpin-pemimpin yang salah satu tugas dari­pada pemimpin itu harus bisa menggerakkan rakyat. Tiap-tiap saudara-saudara yang ada di sini ingin bisa meng-gerakkan rakyat, bisa menarik pengikut-pengikut, tidak pandang saudara dari partai apa, yang duduk di sini, semuanya sebagai pemimpin ingin me­mimpin, ingin mempunyai golongan yang dipimpin yang bisa mengikuti dia, yang bisa diajak berjalan. Untuk memenuhi ini saja sudah susah, saudara-saudara. Banyak pemimpin yang kandas, tidak bisa menggerak-kan rakyat, tidak bisa mendapat pengikut banyak, oleh karena ia tidak bisa mengadakan appeal. Appeal yaitu ajakan, tarikan yang membuat si rakyat itu mengikuti dia, pada panggilannya.

Jikalau saudara baca mengenai hal ini, saya ini sedang me­ngupas hal Leitstar, baca mengenai hal ini, bagaimana cara kita menggerakkan rakyat. Dan bukan saja menggerakkan rakyat, tetapi kadang-kadang minta supaya mau berkorban, mau berjuang, mau membanting tulang, pendek mau menggerakkan kemauan dalam hati rakyat, bukan sekadar satu keinginan, tetapi kemauan untuk berjuang.

Syarat-syaratnya ini apa? Kalau saudara baca kitab-kitab yang ditulis pemimpin-pemimpin yang berpengalaman tentang hal ini, saudara akan melihat bahwa hal ini tidak gampang. Baru sekadar hendak membangunkan di dalam hati rakyat keinginan, itu gam­pang sekali. Keinginan kepada masyarakat yang kenyang makan, keinginan pada satu masyarakat yang manis, tiap-tiap orang bisa. Asal bisa mengiming-imingi (membayang-bayangkan). Tetapi untuk meng-gumpalkan keinginan ini menjadi kemauan, menjadi tekad, bahkan menjadi keredlaan berkorban, that is another matter, lain hal. Kalau saudara baca kitab-kitab yang menganalisa hal ini, maka saudara akan menemui tiga syarat:

Pertama, memang saudara harus bisa menggambarkan, mengiming-iming: Mari kita capai itu! Lihat itu bagus, lihat itu indah, lihat itu lezat. Di situlah kebahagiaan. Pemimpin yang tidak bisa menggambarkan, melukiskan cita-cita, tidak akan mendapat hasil. Itu syarat yang pertama. la harus bisa melukiskan cita-cita.

Di dalam sejarah dunia saudara akan melihat bahwa pemimpin-pemimpin besar yang bisa menggerakkan massa, se­muanya adalah pemimpin-pemimpin yang bisa melukiskan cita­cita. Bukan saja di dalam lapangan politik, tetapi di dalam segala lapangan.

Ambil contoh Nabi-nabi, yaitu pemimpin-pemimpin besar sekali. Semua Nabi-nabi itu pandai benar melukiskan cita-cita. Katakanlah mengiming-iming. Misalnya Nabi Muhammad: Kalau engkau berbuat baik, engkau masuk di sana. Malah digambarkan secara plastis, dilukis betul indahnya sorga, nyamannya sorga, nikmatnya sorga. Bahkan ditulis di dalam firman Allah, Quran sendiri, di sorga itu betapa amannya, indahnya, tidak ada terik matahari, semuanya enak, ada sungai-sungai, dan airnya itu jernih cemerlang, atau air susu, atau air madu, dan berkeliaran bidadari­bidadari di situ. Sehingga betul teriming-iming umat Islam itu ingin masuk di sana dengan melalui jalan kebajikan. Untuk men­capai itu, jalannya ialah kebajikan. Yang ada di dunia ini, bagai­manapun bagusnya kalah indahnya daripada itu.

Ambil Nabi Isa: Kerajaan di dunia ini, bagaimanapun bagus­nya, kalah bagus dengan kerajaan Langit, het Koninkrijk der Hemelen. Kerajaan Langit dilukiskan di dalam ciptaan kita seba­gai lawan daripada kerajaan yang ada di bumi ini.

Ambil pemimpin-pemimpin lain, bukan di lapangan agama, tetapi di lapangan politik, bahkan yang fasis, atau yang sosialis. Fasis, Hitler misalnya. Hitler itu kok bisa sampai mendapat pengikut juta-jutaan dan pengikut yang fanatik-fanatik. Oleh karena ia pandai memasangkan Leitstar-nya.

Hitler berkata: jikalau kau ingin satu kerajaan yang lebihhebat daripada sekarang, jangan kerajaan sekarang ini kau terima. Bongkar! Kita harus meng-adakan kerajaan yang ketiga, das dritte Reich. Reich yang pertama masih kurang baik bagi kita, yaitu zaman Germanentum. Zaman baheula, zaman ceriteranya Nibelungen yang di dalam puisi Jerman digambar-kan sebagai zaman keemasan daripada Germanentum. Dengan pahlawan­pahlawannya, misalnya Brunhilde, Kriemhilde, Siegfried. Sieg­fried jago yang tidak tedas senjata, kecuali ada satu tempat di punggungnya yang tidak kebal, karena pada waktu ia mandi di air kebal, ada daun jatuh di atas punggung-nya, sehingga bagian daun itu tidak terkena air kebal; yang lain-lain kena air kebal. Zaman itu digambarkan oleh Hitler, belum, kurang besar, kurang bagus. Kerajaan yang kedua, di bawah pimpinan Kaisar Frederick de Grote, zaman itu ya besar, tetapi kurang besar bagi kita. Tidak, kita menghendaki kerajaan yang ketiga, yang di dalam kerajaan ketiga ini, hanya orang-orang yang berambut jagung, mata biru yang akan hidup, tidak dicemarkan dengan darah Yahudi, atau darah Roman dari Selatan. Tetapi hanya orang-orang yang murni Ariers. Kerajaan ketiga inilah, yang di dalamnya tidak ada kemiskinan dan tidak ada kehinaan. Itu kita punya cita-cita. Dengan jalan demikian ia mengiming-iming kepada rakyat Jerman.

Ambil Marx, tadi saya ceriterakan kepada saudara-saudara, ia dapat betul menggambarkan satu, bukan saja klasseloze maat­schappij, tetapi satu staatloze maatschappij, yang di situ tidak ada penindasan. Sebaliknya semua manusia hidup di dalam suasana kekeluargaan. Satu staatloze dan klasseloze dan klasseloze maat­schappij yang hanya ada kebahagiaan dan kesejahteraan.

Demikianlah saudara-saudara maka salah satu syarat untuk bisa menjadi pemimpin ialah harus dapat mengiming-iming, tetapi jangan mengiming-iming barang yang bohong. Itulah salah satu syarat. Perkataan saya saja mengiming-iming, tetapi sebenarnya ialah dapat membentangkan Leitstar kepada rakyat.

Nomor dua, harus bisa memberi kepada rakyat. Demikian-lah, menganalisa hidup, cara bekerjanya pemimpin-pemimpin besar, bisa memberi kepada rakyat rasa mampu mencapai apa yang diinginkan itu. Merasa mampu, membangunkan rasa mampu. Meskipun engkau bisa mengiming-iming, tetapi jikalau engkau tidak bisa mem-bangunkan rasa mampu di dalam rakyat bahwa rakyat bisa mencapai apa yang engkau iming-imingkan, ya, maka di dalam kalbu rakyat akan hanya hidup kepingin, ingin, tetapi belum menggumpal menjadi satu kehendak, kemauan, satu wil. Sebab sebelumnya sudah terhambat oleh rasa, toh tidak mampu. Ibaratnya engkau bisa mengiming-imingi seseorang yang badan­nya lemah. Lihat itu, di puncak pohon itu ada buah merah, buah itu paling enak. Si dahaga kepingin buah itu, tetapi ia merasa dirinya lemah, dus, tinggal kepingin saja, tidak ia mempunyai kehendak, kemauan, wil untuk mencapai buah itu. Atau engkau bisa ambil seorang pemuda, anak orang biasa. Engkau iming­iming dia dengan seorang gadis cantik, entah anak bangsawan tinggi, entah milyuner. Bung lihat, bukan main cantiknya. Tetapi ia tidak mempunyai rasa mampu untuk mengambil hati si gadis itu. Malahan ia merasa dirinya lemah sekali. Aku anak orang miskin. Ia anak orang kaya. Mana bisa kawin sama dia. Tidak akan timbul kehendak, wil untuk mengawini gadis itu. Itu syarat nomor dua.

Syarat nomor tiga, bukan saja menanamkan keyakinan, atau rasa mampu, tetapi menanamkan kemampuan yang sebenar­benarnya. Menanamkan kemauan memberi kepada rakyat de werkelijke kracht, dengan cara mengorganisir rakyat itu. Jadi tadinya sekadar keinginan oleh karena teriming-iming, keinginan ini timbul, naik lagi setingkat menjadi kemauan, oleh karena saudara bisa memberi kepada rakyat itu rasa mampu, krachts­gevoel. Krachtsgevoel ini dinaikkan setingkat lagi rnenjadi de werkilijke kracht, dengan cara mengorganisir rakyat itu. Kalau tiga ini saudara-saudara sudah bisa dijadikan trimurti, artinya diper­satukan di dalam tindakanmu sebagai pemimpin, saudara akan bisa menggerakkan massa. Dus, Leitstar yang dinamis saudara­saudara, harus memberi kemungkinan kepada tiga hal ini. Rakyat tertarik, satu. Rakyat mempunyai rasa, aku atau kita bisa menca­pai, dua. Tiga, bukan saja rasa mampu, tetapi memang mampu untuk mencapai itu. Kalau sekadar dua, dapat mengiming-iming, dapat memberi krachtsgevoel, tetapi saudara tidak bisa memberi tenaga, buah di atas pohon itu tidak bisa terpetik. Saudara bisa berkata, he, buah itu enak betul, kepingin apa tidak? Kepingin. Mau apa tidak? Mau. Tetapi saudara lupa melatih dia untuk manjat pohon itu. Meskipun ia mempunyai kemauan tetapi ia tidak bisa memetik oleh karena baru naik 2, 3 meter sudah jatuh lagi. Tiga syarat ini harus dipenuhi.

Leitstar daripada negara harus bisa realiseren tiga syarat ini. Dus, dasar negara pertama harus bisa menjadi meja statis yang mempersatukan segenap elemen bangsa Indonesia dan dasar negara itu harus bisa merealisir tiga syarat yang saya sebutkan itu agar supaya rakyat dengan alat yang dinamakan negara dapat benar-benar mencapai apa yang dileitstarkan itu. Maka berhubung dengan itu, elemen-elemen daripada dasar ini harus elemen yang tidak asing bagi bangsa Indonesia sendiri. Kalau kita mengambil elemen yang asing, tidak bisa elemen itu menjadi dasar statis. Demikian pula tidak bisa menjadi dasar Leitstar dinamis.

Bangsa atau rakyat adalah satu jiwa. Jangan kira seperti kursi-kursi yang dijajarkan. Bangsa atau rakyat mempunyai jiwa sendiri. Ernest Renan berkata: une nation est une ame, een natie is een ziel. Bangsa itu satu jiwa. Jangan kira bangsa itu adalah jumlah daripada manusia itu dengan manusia itu, seperti kursi-kursi dija­jar. Bcnar bangsa itu terdiri dari manusia-manusia yang berjiwa, malahan apalagi bangsa-bangsa itu terdiri dari manusia-manusia yang berjiwa, tetapi kecuali daripada itu, bangsa itu mempunyai jiwa sendiri pula. Ada misalnya kitab Gustave Le Bon yang mengatakan, bahwa bangsa itu mempunyai jiwa sendiri yang tidak het algemeen totaal daripada si Polan, si Polan dan seterusnya. Mempunyai jiwa sendiri. Satu bangsa adalah satu jiwa.

Nah, oleh karena bangsa atau rakyat adalah satu jiwa, maka kita pada waktu kita memikirkan dasar statis atau dasar dinamis bagi bangsa tidak boleh mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu sendiri. Kalau kita mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu sendiri, kandas. Ya bisa menghikmati satu dua, seratus dua ratus orang, tetapi tidak bisa menghikmati sebagai jiwa tersendiri. Kita harus tinggal di dalam lingkungan dan lingkaran jiwa kita sendiri. Itulah kepribadian. Tiap-tiap bangsa mempunyai kepribadian sendiri, sebagai bangsa. Tidak bisa opleggen dari luar. Itu harus latent telah hidup di dalam jiwa rakyat itu sendiri. Susah mencarinya, mana ini elemen-elemen yang harus nanti total menjadi dasar statis dan total menjadi Leitstar dinamis. Dicari-cari, berkristalisir di dalam lima hal ini: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Perikema­nusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang, ini yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia. Satu waktu ini lebih timbul, lain waktu itu yang lebih kuat, tetapi selalu schakering itu lima ini.

Ada orang berkata: pada waktu Bung Karno mempropagir-kan Pancasila, pada waktu ia menggali, ia menggalinya kurang dalam. Terang-terangan yang berkata demikian dari pihak Islam. Dan saya tegaskan, saya ini orang Islam, tetapi saya menolak perkataan bahwa pada waktu saya menggali di dalam jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia kurang dalam menggalinya. Sebab dari pihak Islam dikatakan, jikalau Bung Karno menggali dalam sekali, ia akan mendapat dari galiannya itu Islam. Kenapa kok Pancasila? Kalau ia menggali dalam sekali, ia akan mendapat hasil dari penggaliannya itu, Islam. Saya ulangi, saya adalah orang yang cinta kepada agama Islam. Saya beragama Islam. Saya tidak berkata saya ini orang Islam yang sempurna. Tidak. Tetapi saya Islam. Dan saya menolak tuduhan bahwa saya menggali ini kurang dalam. Sebaliknya saya berkata: penggalian saya itu sampai zaman sebelum ada agama Islam. Saya gali sampai zaman Hindu dan pra-Hindu. Masyarakat Indonesia ini boleh saya gambarkan de­ngan saf-safan. Saf ini di atas saf itu, di atas saf itu saf lagi. Saya melihat macam-macam saf. Saf pra-Hindu, yang pada waktu itu kita telah bangsa yang berkultur dan bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira bahwa kita pada zaman pra-Hindu adalah bangsa yang biadab. Baca kitab misalnya dari Professor Dr. Brandes. Di dalam tulisan itu ia buktikan bahwa Indonesia se­belum kedatangan orang Hindu di sini sudah mahir di dalam sepuluh hal. Apa misalnya? Tanam padi secara sawah sekarang ini, jangan kira itu pembawaan orang Hindu. Tidak. Pra-Hindu. Tatkala Eropa masih hutan belukar, belum ada Germanentum, di sini sudah ada cocok tanam secara sawah. Ini dibuktikan oleh professor Dr. Brandes. Alfabet ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la, ja­ngan kira itu pembawaan orang Hindu. Wayang kulit dibuktikan oleh Professor Brandes bukan pembawaan orang Hindu. Orang Hindu memperkaya wayang kulit, membawa tambahan lakone Lakon terutama sekali Mahabarata dan Ramayana. Tetapi dulu kita sudah punya wayang kulit, tetapi belum dengan Mahabarata dan Ramayananya. Sebagian daripada restan wayang kulit kita dari zaman pra-Hindu, yaitu Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Dawala, Cepot dan lain-lain itu. Itu pra-Hindu. Kita dulu mem­punyai wayang kulit yang menceriterakan kepahlawanan­kepahlawanan kita, sejarah para leluhur. Kemudian datang orang Hindu membawa lakon Mahabarata dan Ramayana. Karena kita ini satu bangsa yang bisa menerima segala hal yang baik, lakon­lakon itu kita masukkan di dalam wayang sebagai perkayaan daripada wayang kulit kita.

Jadi saya menggali itu dalam sekali, sampai ke saf pra-Hindu.

Datang saf zaman Hindu, yang di dalam bidang politik berupa negara Taruma, negara Kalingga, negara Mataram kesatu, negaranya Sanjaya, negara Empu Sendok, negara Kutei, berupa Sriwijaya dan lain sebagainya. Datang saf lagi, saf zaman kita mengenal agama Islam, yang di dalam bidang politik berupa negara Demak Bintaro, negara Pajang, negara Mataram kedua, dan seterusnya. Datang saf lagi, saf yang kita kontak dengan Eropa, yaitu saf imperialisme, yang di dalam bidang politiknya zaman hancur-leburnya negara kita, hancur-leburnya perekonomian kita, bahkan kita menjadi rakyat yang verpauveriseerd. Jadi empat saf, saf pra-Hindu, saf Hindu, saf Islam, saf imperialis. Saya lantas gogo (gogo itu seperti orang mencari ikan, di lubang kepiting) sedalam-dalamnya sampai menembus zaman imperialis, menem­bus zaman Islam, menembus zaman Hindu, masuk ke dalam zaman pra-Hindu.

Jadi saya menolak perkataan bahwa kurang dalam penggalian saya. Dalam pada saya menggali-gali, menyelami saf-saf ini, saban-saban saya bertemu dengan: kali ini, ini yang menonjol, lain kali itu yang lebih menonjol. Lima hal inilah: Ketuhanan, Kebang­saan, Perikemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan sosial. Saya lantas berkata: kalau ini saya pakai sebagai dasar statis dan Leitstar dinamis, Insya Allah, seluruh rakyat Indonesia bisa menerima, dan di atas dasar meja statis dan Leitstar dinamis itu rakyat Indonesia seluruhnya bisa bersatu padu. Ambil misalnya hal sila yang per­tama, Ketuhanan. Salah satu karaktertrek bangsa kita, corak, jiwa kita baik di zaman saf keempat, maupun saf ketiga, saf kedua, saf kesatu, bahwa bangsa Indonesia selalu hidup di dalam alam pemu­jaan daripada sesuatu hal yang kepada hal itu ia menaruhkan segenap harapannya, kepercayaannya. Bangsa Indonesia pada umumnya, saya ulang-ulangi pada umumnya, sebab sila-sila ini adalah grootste gemene deler dan kleinste gemene veelvoud. Jadi jangan kira tiap-tiap manusia Indonesia itu merasa ber-Ketuhanan, bahwa tiap-tiap orang Indonesia berkobar-kobar rasa kebangsaan­nya, bahwa tiap-tiap orang Indonesia menyala-nyala kalbunya dengan rasa kemanusiaan, tiap orang Indonesia berkedaulatan rakyat, berkeadilan soaial. Tidak! Tetapi sebagai keseluruhan, grootste gemene deler, kleinste gemene veelvoud, saya mene­mukan lima corak ini. Ambillah kleinste gemene veelvoud, groot­ste gemene deler itulah. Het kan niet anders daripada itu, kalau kita secara sosiologis sekarang ini meningkat ke taraf masyarakat Indonesia di dalam pertumbuhan.

Saya dengan tegas mengatakan, ini kupasan sosiaologis yang akan saya berikan. Nanti saya akan tambahkan bukan hal-hal yang sosiologis, tetapi kenyataan. Sosiologisnya bagaimana? Het kan niet anders, tidak bisa lain. Daripada bangsa Indonesia ini hidup di dalam alam Ketuhanan. Di sana ada tempat permohonannnya, tempat kepercayaan.

Mari lebih dahulu saya kupas secara sosiologis pertumbuhan masyarakat manusia dari zaman dulu sampai zaman sekarang. Manusia zaman dulu tidak sama dengan manusia zaman sekarang. Sekarang ada lampu listrik, ada sarung batik, ada kursi, ada selop, ada kacamata, ada kapal udara. Dulu tidak. Dulu manusia hidup di hutan-hutan, di gua-gua. Saya namakan itu fase pertama dari kehidupan manusia di dunia ini. Fase daripada kehidupan manusia sebagai manusia. Sebab, dan ini tidak saya bicarakan lebih lanjut, apakah manusia itu berada di dunia itu sudah menjadi manusia, apakah manusia itu hasil daripada evolusi. Saya cuma menceri­terakan saja bahwa ada satu cabang ilmu pengetahuan bahwa manusia itu adalah hasil daripada evolusi. Bahwa tidak manusia itu begitu dilahirkan sudah satu manusia bernama Adam dan satu manusia bernama Eva, kemudian dari dua ini tumbuh manusia­manusia lain, tetapi manusia itu adalah hasil daripada pertum­buhan. Mungkin juga dulu berupa een cellige wezens, sel yang satu. Kemudian evolusi, menjadi ongewervelde dieren. Evolusi, menjadi semacam ikan-ikan. Evolusi lagi, binatang yang merayap tetapi mempunyai kaki. Evolusi lagi, menjadi binatang yang me­manjat di atas pohon. Lama-lama timbul yang dinamakan sayap. Lama-lama menjadi binatang yang bisa lari yang meloncat seperti kera. Kera yang merangkak dengan empat kaki menjadi berdiri di atas dua kaki. Evolusi lagi, menjadi manusia yang seperti kita kenal sekarang ini. Mula-muia hidup di dalam hutan dan gua. Evolusi-evolusi, menjadi manusia sekarang. Proses ini makan waktu beratus-ratus ribu tahun. Di tanah air kita sendiri pada satu ketika terdapat salah satu bukti daripada teori ini. Yaitu di dekat kota Ngawi di desa Trinil terdapat tulang-tulang daripada makhluk yang demikian ini. Nyata makhluk manusia, tetapi bentuk masih setengah gorila, tetapi ia sudah berjalan dengan dua kaki. Setengah monyet tetapi sudah berrjalan dengan dua kaki. Maka karena itu dinamakan pithecanthropus erectus. Pithecus itu artinya monyet, anthropus artinya manusia. Tetapi ia berjalan dengan dua kaki, erectus. Pithecanthropus erectus yang ditaksir menurut ilmu bio­logi, batu yang membungkus tulang-tulang itu, – sebab tulang itu pada suatu hari mungkin terbenam, entah kena lahar, entah kena banjir, entah kena apa -, katakanlah dalam lumpur. Lumpur ini makin lama makin keras, makin membatu, sehingga akhirnya tulang ini terbungkus di dalam batu. Nah, ilmu biologi, ilmu batu, menentukan umur batu ini 550 ribu tahun. Jadi lebih daripada setengah j uta tahun. Dus tulang yang di dalam batu ini asal dari zaman paling sedikit setengah juta tahun yang lalu.

Saya tinggalkan pertikaian dalam hal ini, dan saya mulai dengan cerita bahwa pada satu zaman manusia itu sudah sampai kepada tingkat berupa manusia. Bukan lagi pithecanthropus, tetapi sudah anthropus yang penuh. Cuma hidupnya dalam gua. Itu fase pertama hidup dalam gua, mencari penghidupan dengan memburu dan mencari ikan. Memburunya bukan dengan senj ata Mauser atau Lee & Field. Tidak! Tetapi zaman dahulu dengan batu dan sepo­tong kayu. Cara hidupnya ini adalah penting sekali. Alam pikiran manusia di segala zaman itu dipengaruhi oleh cara hidupnya, oleh cara ia mencari makan dan minum. Pegang ini, dan jangan lupa akan stelling ini: cara manusia mencari makan dan minum, men­cari hidup, mem-pertahankan hidup, memelihara hidupnya, ini adalah penting sekali. Ia mem-pengaruhi alam pikirannya. Tingkat yang pertama ini adalah tingkat demikian. Hidup dalam gua-gua, di bawah pohon-pohon, mencari makan dengan memburu dan mencari ikan.

Evolusi, pertumbuhan. Datanglah lambat laun tingkat yang kedua. Jangan kira, tingkat yang kedua ini datangnya sekonyong­konyong. Tidak. Ini adalah satu pertumbuhan yang evolusioner. Tingkat yang kedua ialah bahwa si manusia yang tadinya hidup dari pemburuan dan mencari ikan, mulai mengerti bahwa ternak bisa dipelihara. Tadinya ia memburu, memburu kijang, sapi hutan, kambing hutan dan lain sebagainya. Lambat laun timbul pengeta­huan bahwa binatang-binatang itu bisa ditangkap, diikat, diku­rung, anaknya dipelihara, bisa ber-kembang biak. Tingkat yang kedua ialah tingkat cara hidup manusia dengan terutama sekali, – garis besarnya saja: grootste gemene deler dan kleinste gemene veelvoud -, hidup dari peternakan, memelihara binatang.

Lambat laun, dengan pemeliharaan binatang ini, setelah ia meninggalkan adat kebiasaannya memburu dan kemudian men­jadi peternak, ia agak lebih terikat kepada tempat, kepada ternak­nya. Ia harus memberi makan kepada ternak itu. Bukan saja mem­beri makan kepada diri sendiri yang berupa daging, tapi ia juga harus memberi makan kepada ternaknya. Lama-lama ia tahu bah­wa makanan vang ia perlukan sendiri dan yang ia berikan kepada binatang itu, bisa pula dicocoktanamkan, bisa ditanam. Dulu, ka­lau ia perlu buah-buahan, ia pergi ambil di hutan. Ketemu jagung di hutan, ambil jagung. Baginya biasa, tanaman begini ini buahnya bisa dimakan. Berjumpa padi di rawa-rawa, tapi padi liar. Ia me­ngetahui, biasa baginya, bahwa buahnya dapat dimakan dan dapat pula diberikan kepada ternaknya. tetapi lambat-laun ia berpenga­laman bahwa tanamanpun bisa ditanam. Tumbuh-tumbuhan yang berupa jagung, padi, gandum, buah-buahan bisa ditanam.

Dan terutama sekali, saudara-saudara, ini adalah tingkat yang ketiga, cara hidup dari pertanian terutama sekali. Di sini kita pantas memberi saluut kepada wanita. Wanitalah makhluk pertama yang mengusahakan tanaman ini. Bukan karena menganggurnya, tetapi merasa harus. Ia melihat bahwa biji jagung yang tidak termakan, tumbuh, dan ia melihat kalau biji jagung ini ditanam lebih dalam, dan tanahnya dikorek-korek menjadi lebih subur dan bisa berbuah. Demikian biji padi dan juga tanam-tanaman yang lain. Salah satu jasa daripada wanita ialah: dialah yang pertama kali memperoleh ilmu pertanian. Sebagaimana juga sebenarnya wanita yang per­tama kali mendapatkan ilmu menjahit, membikin pakaian. Wanita yang di rumah, melihat anaknya kedinginan, ditutup badan anaknya itu dengan kulit binatang. Lama-lama ia berpikir: kalau kulit binatang yang satu ini disambung dengan kulit binatang yang lain, barangkali dengan tulang ikan yang tajam dan serat atau akar, dan begitulah timbul ilmu menjahit oleh wanita. Susu ternak, darah, – zaman dahulu itu orang masih makan darah, – harus dikumpulkan. Wanitalah yang pertama-tama menemukan tempat untuk susu atau darah itu, dari buah labu yang tua dikorek-korek. Atau untuk tempat biji-biji yang dikumpulkan dari hutan-hutan. Wanitalah yang pertama kali mempunyai begrip wadah. Bahkan, karena barangkali tidak ada buah labu, wanita yang menggali tanah liat, dibentuknya dengan cara yang amat premitif, akhirnya menjadi semacam periuk.

Wanita vang pertama kali membuat apa yang kita namakan rumah. Belurn rumah seperti sekarang, meskipun rumah desapun. Sangat sederhana. Wanita yang ditinggalkan suaminya ke hutan atau menggembala, tinggal dengan anaknya. Hujan. Kemudian timbul pikiran menyusun daun-daun pisang atau lainnya untuk bernaung di bawahnya. Begrip pertama daripada atap. Jadi wanita adalah makhluk yang pertama yang mendapat-kan apa yang di­namakan civilization, peradaban.

Wanita yang membuat periuk, wanita yang menjahit kulit, wanita yang menganyam serat menjadi tenunan kasar. Wanita yang bercocok tanam mula-mula.

Ini tingkat yang ketiga, cocok tanam. Si laki lama-lama meli­hat bahwa jagung, padi bisa ditanam. Lama-lama si laki pun me­ninggalkan cara hidup beternak, cape selalu mencari tempat peng­gembalaan. Lantas ia menetap juga. Perkataan menetap. Dulu tatkala ia masih hidup memburu, tidak menetap, selalu berpindah­pindah, nomade. Tatkala ia beternakpun, tingkat yang kedua, tidak menetap, berpindah-pindah, mencari makanan untuk ternaknya. Nomade. Tetapi ketika pertanian diterima oleh wanita dan juga oleh lelaki, dus manusia cara hidupnya terutama sekali dari per­tanian, manusia lantas meninggalkan cara hidup nomadisch men­jadi orang-orang yang menetap. Tingkat keempat, juga saudara harus membayangkan evolusi. Pertanian, lama-lama timbul pikir­an: tanah ini kalau dicokel-cokel dengan suatu alat, lebih subur. Lama-lama timbul pikiran akan semacam bajak. Timbul pikiran untuk memotong. Timbul pikiran untuk membuat alat. Lama-lama timbul satu kelas: aku tidak ikut bercocok tanam; aku membuat alat, aku membuat bajak, aku membuat cangkul, aku membuat semacam linggis dari kayu. Timbul juga satu pikiran, bahwa untuk mengangkut barang dari satu ke lain tempat harus ada alat yang bisa mengelinding. Lama-lama menjadi begrip gerobak. Gerobak yang sederhana. Wanita yang bikin periuk, timbul pikiran: bikin periuk saja, sehari-hari bikin periuk. Wanita yang bikin tenunan, timbul pikiran mengumpulkan serat-serat untuk menenun. Lantas timbul satu kelas yang sehari-hari mengumpulkan serat-serat un­tuk menenun. Kelas penenun. Demikianlah seterusnya timbul golongan-golongan manusia yang cara hidupnya membuat alat yang kemudian ditukarkan kepada orang yang bercocok tanam. Aku membuat periuk, aku perlu makan; ambillah periukku dan berilah aku jagungmu atau gandummu, atau padimu. Begrip ruilhandel, tukar-menukar timbul.

Di dalam tingkat keempat ini, akhirnya tumbuh kelas yang terutama sekali hidup daripada apa yang dinamakan nijverheid, kerajinan. Membuat alat, membuat gerobak, membuat pacul, membuat bajak, membuat pedang dan lain-lain. Hidup hanya membuat alat, yang hasilnya ditukarkan dengan hasil pertanian. Ruilhandel.

Evolusi lagi. Akhirnya meningkat menjadi zaman yang sekarang ini, yang dididik di dalam alam yang dinamakan alam industrialisme. Pertumbuhan daripada nijverheid ini, membuat produksi, lantas timbul cara mendidik orang lain dengan perbu­ruhan, dengan terdapatnya mesin uap dan lain-lain. Industrial-isme. Itu adalah sifat yang kita hidup sekarang ini atau kita mengalami, melihat sekarang ini terutama sekali terjadi di dunia barat, di Amerika dan di Eropa. Saya ulangi, dus manusia ini pertumbuhan­nya melalui lima tingkat, sesudah ia berbentuk dan berupa manusia. Saya tidak bicarakan hal pithecanthropus. Memburu dan mencari ikan, satu. Berternak, dua. Cocok tanam, tiga. Kerajinan, empat. Industrialisme, lima.

Sekali lagi saya ulangi, ini adalah de grootste gemene deler dan de kleinste gemene veelvoud, corak umum daripada masya­rakat manusia. Tadi saya menandaskan kepada saudara-saudara, cara hidup manusia mempengaruhi alam pikirannya. Juga mem­pengaruhi alam persembahannya, kalau boleh saya pakai per­kataan ini. Tatkala ia masih hidup di dalam hutan, di dalam gua­gua, apa yang ia sembah? Pada waktu malam gelap gulita di dalam hutan, ia hidup di dalam alam yang gelap, penuh dengan ketakutan. Ia melihat bulan dan bintang-bintang. Ia sembah bulan dan bin­tang-bintang itu. Pada waktu hujan lebat, ia takut kepada petir, laksana petir itu menyambarnya. Ia menyembah pada petir. Ia menyembah kepada sungai, yang memberi ikan kepadanyaa la menyembah kepada pohon yang rindang yang ia bisa bernaung di bawahnya. Ia menyembah kepada awan yang berarak. Ia menyem­bah kepada matahari yang memberi cahaya cemerlang pada siang hari. Ia menyembah kepada barang-barang yang demikian itu. Itulah Tuhannya pada waktu itu. Berupa gunung yang menge­luarkan api, berupa bulan, berupa bintang, berupa matahari. Ia punya Tuhan. Saya tidak mengatakan itu Tuhan yang tepat, tetapi ia punya Tuhan pada waktu itu. Dan ini zaman tidak sebentar, lama sekali. Tuhannya yang berupa guntur dan petir, ia materialisir, ia materikan. Ia mendengar guntur yang menggeludug. Apa itu? O, itu Thor, yang turun dari satu mega ke lain mega. Tiap-tiap kaki mengenai satu mega, keluar suara. Kalau ia mendengar guntur menggeledek itu: Thor sedang berjalan. Thor sedang naik kuda, yang berlompat dari satu awan ke lain awan. la menyembah sungai yang memberi makan kepadanya. Sebagai di alam India yang dahulu, orang masih mengagungkan sungai. Sungai Gangga mi­salnya.

Sungai Gangga misalnya, bengawan Silugangga kata orang Jawa. Sungai Gangga itu asalnya dari zaman baheula.

Yang menyembah sungai, menyembah petir, menyembah batu yang di dalam Bagawad Gita diceriterakan, pada hakekat-nya yang harus kita kenal dan kita hormati bukan batunya itu, tetapi dia punya jiwa yang menyembah. Di dalam Bagawad Gita Kresna berkata kepada Arjuna: Kau kenal aku. Aku is Ik. Aku adalah hidup, aku adalah angin. Aku tiada mula tiada akhir, aku adalah di dalam geloranya air samudra yang membanting di pantai. Itu juga disembah.

Sang manusia zaman dulu, fase pertama itu, kalau samudra sedang menggelora, membanting di pantai, menekukkan lutut-nya menyembah sebagaimana orang Jawa pantai selatan dulu, kalau mendengarkan Iautan kidul sedang menggelora, berkata: lampor, lampor. Manusia Jawa zaman dahulu, menyembah Iautan Selatan.

Saya kembali kepada Bagawad Gita, Bagawad Gita berkata: aku adalah di dalam geloranya air laut yang membanting di pantai, aku adalah di dalam sepoinya angin yang sedang meniup. Aku adalah di dalam batu yang engkau sembah. Aku ada di dalam awan yang berarak. Aku ada di dalam api, aku di dalam panasnya api. Aku ada di dalam bulan, aku ada di dalam sinarnya bulan. Aku di dalam senyumnya sang gadis yang cantik. Aku yang tiada mula tiada akhir. Bagawad Gita menegaskan bahwa jiwa manusia sejak dari zaman dulu itu ada yang disembah. Tapi yang disembah itulah yang berubah-ubah. Zat yang ia sembah, yang ia tidak kenal, di dalam zaman fase pertama berupa pohon, berupa petir, berupa air laut, berupa sungai sampai dimaterialisir, Thor, dewa daripada donder. Notabene, saudara-saudara, kita punya perkataan guntur. Nama Guntur itu universil, saudara-saudara. Di daerah Skandi­navia dewa langit dinamakan Thor, Geluduk, guruh, petir itu, orang Skandinavia zaman dulu mengatakan Kung Thor, King Thor, raja Thor. Perkataan Kung Thor itu sama dengan kita punya perkataan guntur. Ini adalah oleh karena pada hakekatnya manusia di dunia itu adalah satu, mandkind is one. Manusia itu satu sebetul­nya. Yang berbeda-beda itu warna kulitnya. The same under the skin kata orang Amerika. Di bawah kulit sama saja. Kalimat itu pernah diucapkan pula, disitir oleh Presiden Eisenhouwer.

Fase pertama itu, Tuhan manusia. Saya ulangi, bukan Tuhan yang sebenarnya, yang tepat. Dia punya begrip itu manusia mengira Tuhan guntur, Tuhan air sungai, Tuhan angin. Contoh dari restan-restan kepercayaan ini tadi saya sebutkan. Di India orang masih menyembah sungai Gangga. Di Jawa lampor. Zaman dulu orang Yogyakarta kalau ada angin dari selatan meniup: lampor, lampor, lampor. Bahkan di kota Yogyakarta orang pasang lentera di luar rumah.

Fase kedua, manusia hidup dari peternakan. Pindah ben­tuknya ia punya Tuhan, terutama sekali berupa binatang. Oleh karena binatanglah yang memberi susu, daging, kulit kepadanya, oleh karena hidupnya sebagian besar tergantung kepada binatang. Ia punya Tuhan lantas dirupakan binatang. Ia malahan mengatakan kepada orang yang masih menyembah batu: masak batu disembah, pohon disembah, sungai disembah. Ini Tuhan yang betul, berupa binatang. Bangsa Mesir zaman dulu menyembah binatang, sapi yang bernama Apis, atau burung yang bernama Osiris. Bahkan di India sampai sekarang masih ada restan penyembahan binatang. Di daerah yang masih memegang adat kuno, jika saudara meng­ganggu seekor sapi, saudara dibunuh. Sapi adalah binatang keramat. Begitu keramatnya sampai tahi sapi dikeramatkan. Bukan saja sapi boleh masuk toko, masuk di mana-mana. Orang India yang masih kolot, sakit misalnya, minta tahi sapi yang masih hangat dicampur air, dan airnya dipercikkan kepada orang yang sakit. Wanita India yang masih kolot, tiap pagi sebelum membuat api untuk membuat roti bakar, sekeliling dapurnya disiram dengan air tahi sapi. Yah, oleh karena dia anggap ini keramat. Pagar meno­lak segala bahaya. Ini adalah restan dari zaman manusia yang masih hidup terutama sekali di alam peternakan.

Tingkat ketiga, manusia hidup dari pertanian. Pindah, sau­dara-saudara, dia punya begrip daripada Tuhan itu, kepada sesuatu zat yang menguasai pertanian. Timbul Dewi Laksmi, timbul Dewi Sri, timbul Saripohaci di tanah Pasundan. Dewi-dewi yang mem­berkati pertanian. Sebab pertanian adalah satu onzekere factor, tergantung dari iklim, tergantung kepada kering atau hujan, ter­gantung dari banyak hal. Kalau orang tani sudah menanam tanamannya, tidak lain ia lantas memohon. Ini adalah salah satu corak dari tiap bangsa agraris. Tentu ia hidup di dalam alam kata­ kanlah keagamaan, ketuhanan, religieus, tiap-tiap bangsa agraris, oleh karena segala sesuatu tergantung kepada onzekere factoren, yang mengenai iklim. Sesudah ditanam padinya, kalau untung, bisa memiliki hasilnya. Kalau kebanyakan hujan, mati tanaman­nya. Oleh karena itu ia memohon. Nah, Tuhannya itu lantas dibentukkan sesuatu yang berhubungan dengan pertanian, Dewi Sri, Dewi Laksmi, Saripohaci, godinnen van de landbouw. Malah­an dibentukkan manusia. Tetapi di dalam alam pertama, tidak selalu dibentuk-kan manusia, pohon ya pohon, kayu ya kayu yang disembah. Sungai ya sungai yang disembah, belum dibentukkan manusia. Di dalam alam kedua, peternakan juga belum dibentuk­kan manusia. Sapi ya sapi. Buaya ya buaya. Buaya disembah di alam Mesir yang dulu. Coba lihat lukisan-lukisan Mesir dulu.

Pelanduk ya pelanduk, ular ya ular. Tetapi di dalam alam ketiga, bentuk “Tuhan”, yang manusia sembah, dibentukkan manusia. Dalam ilmu pengetahuan dinamakan anthropromorph. Anthropus adalah manusia, morph adalah bentuk. Berbentuk manusia. Berbentuk Dewi Laksmi, manis. Coba lihat patung Sri, Dewi Laksmi, manis. Di dalam pikiran, dewi-dewi ini, manis. Anthropromorph. Demikianlah perpindahan begrip manusia dari­pada Tuhannya. Batu pindah kepada sapi, sapi pindah kepada anthropus, dewi.

Di dalam alam keempat, yang orang buat alat, siapa yang menjadi penentu daripada alam pembuatan alam itu. Penentunya ialah terutama sekali akal. Akal, akallah yang melahirkan sabit, bajak, jarum. Uitvindingen yang waktu itu masih sangat primitif, tapi toh uitvinding daripada akal.

Tuhan manusia di dalam taraf keempat ini, adalah terutama bcrsarang di sini, di akal. Yang tadinya berupa batu pindah berupa sapi, berupa dewi, di dalam alam keempat itu menjadi gaib. Gaib artinya tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Tadinya masih bisa diraba, batu bisa diraba, sungai bisa, sapi bisa. Dewi bisa diraba. Malahan di zaman Yunani, diadakan kontes, tiap tahun, siapa yang dijadikan dewi. Dan si manusia itu yang disembah. Seorang gadis cantik didewikan, diadakan satu pemilihan di kalangan alim­ulama zaman itu, ini dewi. Salah satu contoh yang sampai sekarang masih ada yaitu patung Aphrodite buatan Praxiteles. Praxiteles seorang pembuat patung yang pandai sekali, membuat patung wanita Aphrodite, Dewi Asmara yang sampai sekarang kalau orang melihat patungnya itu, bukan main. Tetapi ia membuat patung itu dari apa, modelnya apa, apakah ciptaan? Tidak. Betul­-betulan. Pada satu hari di tempatnya itu ada pemilihan dewi Asmara, seorang wanita yang cantik, dikeramatkan menjadi dewi Asmara. Dan ahli seniman ini membuat patung, modelnya, dus, benar-benar wanita itu, materi, zuiver mens, dan ia namakan patung ini Aphrodite.

Alam keempat gaib. Tuhan dimasukkan di dalam alam gaib. Tuhan di mana? Tidak kelihatan tidak bisa mata melihatnya. Tidak bisa diraba, tidak bisa dilihat, gaib. Oleh karena akallah menjadi penentu daripada hidup manusia.

Fase yang terakhir, industrialisme. Di situ malahan lebih daripada digaibkan. Karena di situ manusia merasa dirinya atau sebagian daripada manusia merasa dirinya Tuhan. Di dalam alam industrialisme itu apa yang tidak bisa dibikin oleh manusia. Mau petir, aku bisa bikin petir. Aku, aku, aku bisa bikin petir. Menara yang tinggi, aku isi electrisiteit sekian milyun volt, aku buka dia punya stroom, petir. Aku bisa membuat petir.

Mau apa? Mau suara dikirim ke Amerika? Aku bisa mem-buat­nya. Mau hujan? Sekarang ada pesawat-pesawat pembikin hujan. Mau outer space, keluar daripada alam ini? Aku bisa, aku akan menguasai bulan. Aku bisa, aku kuasa! Tuhan, persetan, tidak ada Tuhan itu. Lucunya di situ! Sebagian daripada manusia berkata: Tuhan, tidak ada. Saudara-saudara bisa mengikuti analisa ini? Batu atau pohon, pindah binatang, pindah dewi atau dewa, pindah ada Tuhan tetapi tidak bisa dilihat, gaib.

Nomor lima, sebagian daripada manusia, de heersers van de industrie, de geleerden, banyak yang berkata: tidak ada Tuhan. Hilang sama sekali begrip itu.

Nah, ini bagaimana? Saya menyelami masyarakat Indonesia, dan pada garis besarnya, grootste gemene deler dan kleinste ge­mene veelvoud, saya melihat, bahwa bangsa Indonesia percaya pada adanya satu zat yang baik, yaitu Tuhan. Ada juga orang yang tidak percaya kepada Tuhan tetapi sebagai grootste gemene deler, kleinste gemene veelvoud, bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan. Dan tadi saya berkata het kan niet anders, oleh karena masyarakat Indonesia pada dewasa ini sampai kepada penggalian­penggalian ke dalam, terutama sekali masih hidup di dalam alam perpindahan keempat, tiga keempat, dan empat kelima, sebagian besar masih agraris, dan tiap-tiap bangsa yang agraris, mempunyai kepercayaan. Sebagian hidup di dalam alam kerajinan. Tadipun saya terangkan, rakyat yang hidup di dalam alam nijverheid, pada garis besarnya percaya kepada Tuhan, bahkan Tuhan yang gaib. Sebagian kecil yang telah hidup di dalam alam industrialisme itu. Tetapi itu bukan lagi corak daripada keseluruhan tingkat masya­rakat kita. Tingkat masyarakat kita pada saat sekarang ini, ter­utama sekali ialah sebagian agraris, sebagian nijverheid, dan baru kita melangkah sedikit ke alam industrialisme.

Mengingat ini semua, het kan niet anders of kita ini harus satu rakyat yang mempunyai kepercayaan. Dus, kalau aku memakai Ketuhanan sebagai satu pengikat keseluruhan, tentu bisa diterima. Sebaliknya kalau saya tidak memakai Ketuhanan ini sebagai satu alat pengikat salah satu elemen, daripada meja statis dan Leitstar dinamis itu, maka saya akan menghilangkan atau membuang satu elemen yang bindend, bahkan masuk betul-betul di dalam jiwanya bangsa Indonesia. Kalau saudara tanya kepada saya persoonlijk, apakah Bung Karno percaya kepada Tuhan. Ya, saya ini percaya dan tadi saya sudah berkata saya ini orang Islam. Bahkan saya betul-betul percaya kepada agama Islam. Saya percaya dengan adanya Tuhan. Lho la kok manusia itu dulu menyembah patung, sapi, dewa atau dewi, kemudian gaib. Apa Tuhan itu berubah­ubah? Tidak! Bukan Tuhannya yang berubah-ubah. Zat ini tidak berubah-ubah, tetapi yang berubah-ubah ialah begrip manusia. Begrip manusia itu yang berubah-ubah, tergantung kepada fase hidupnya, cara hidupnya. Tuhannya tetap ada, cuma dikira oleh manusia zaman itu, Tuhan itu beledek, atau air laut yang bergelora. Atau suara burung di dalam malam gelap gelita, itu dikira suara Tuhan. Demikian pula orang di dalam alam peternakan mengira bahwa Tuhan berupa sapi. Atau orang di dalam alam pertanian mengira Tuhan berupa Dewi Sri. Di dalam alam nijverheid, orang memberikan mahligai kepada akal, ya Tuhan ada, tetapi tidak bisa bilang, di mana. Dan orang yang sudah bisa memecahkan atom, ada yang berkata: nonsens Tuhan, aku bisa membuat atom, aku bisa menguasai langit. Pengiraan manusia yang berubah, Tuhan­nya tetap.

Aku pernah memberi satu gambaran seekor gajah di dalam kuliah saya di Candradimuka. Ada lima orang, kelima-limanya buta dan belum pernah melihat gajah, karena butanya. Mereka datang pada seseorang yang mempunyai gajah. He, kami lima orang kepingin tahu gajah. Boleh. Gajahnya besar, dikeluarkan dari kandangnya. Nah ini gajah yang berdiri di muka saudara­saudara. Coba saudara A, kalau mau tahu gajah, peganglah gajah itu. Si A maju ke muka, dipegangnya dan mendapat belalai gajah. Ditanya oleh yang punya gajah: Bung, bagaimana bentuk gajah? Jawabnya, gajah itu seperti ular. Padahal dia hanya mendapat belalai. B maju ke muka dan ia meraba-raba mendapat kaki gajah. Gajah itu kok begini, empuk, tetapi seperti pohon kelapa. C maju ke muka, orangnya tinggi, pegang-pegang, dapat telinga gajah. Ya, gajah itu seperti daun keladi, pak. Keempat, seorang agak kerdil, pegang-pegang, dapat ekor gajah. Seperti pecut, cemeti. Nomor lima yang paling kerdil, maju ke muka, di bawahnya gajah. Tidak dapat pegang apa-apa. Mana gajahnya? Itu gajahnya, di atas Bung itu gajah. O, gajah itu seperti hawa.

Begrip manusia kepada Tuhan juga demikian. Tadi seorang mengira gajah seperti belalai, satu mengira tidak ada. Tetapi gajah, ada. Cuma begrip manusia yang berbeda-beda.

Nah, saudara-saudara, demikian pula kalau saudara tanya kepada saya, Tuhan bagi saya ada. Malahan bagi saya Tuhan adalah suatu reeel iets. Di dalam tiap-tiap saya sembahyang, saya bicara kepada Tuhan, dan saya sering minta apa-apa kepada Tuhan dan Tuhan kasih kepada saya. Dan itu memperkuat kepercayaan saya, bahwa Tuhan itu ada. Ini cerita persoonlijk: saya sering mendapat peringatan dari Tuhan berupa impian. Kalau saya mimpi, dan mimpi itu saya rasa, ini mimpi-mimpi betul, biasanya keesokan harinya terjadi. Bagi lain orang, lain, barangkali terjadi­nya itu lain bulan dan sebagainya. Bagi saya, praktik saya, kalau saya sudah mimpi dan saya merasa betul ini bukan impi-impian, kontan keesokan harinya terjadi. Hal-hal yang semacam itu mem­beri keyakinan kepada saya bahwa Tuhan ada.

Bagaimana seluruh rakyat Indonesia pada garis besarnya? Kalau pada garis besarnya, telah saya gogo, saya selami, sudah saya lihat secara historis, sudah saya lihat dari sejarah keagamaan, pada garis besarnya rakyat Indonesia ini percaya kepada Tuhan. Bahkan Tuhan yang sebagai yang kita kenal di dalam agama, agama kita. Dan formulering Tuhan Yang Maha Esa bisa diterima oleh semua golongan agama di Indonesia ini. Kalau kita menge­cualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya. Kalau kita tidak memasukkan sila ini, kita kehilangan salah satu Leitstar yang utama, sebab kepercayaan kita kepada Tuhan ini bahkan itulah yang menjadi Leitstar kita yang utama, untuk menjadi satu bangsa yang mengejar kebajikan, satu bangsa yang mengejar kebaikan. Bukan saja meja statis, tetapi juga Leitstar dinamis menuntut kepada kita supaya elemen Ketuhanan ini dimasuk-kan. Dan itulah sebabnya maka di dalam Pancasila elemen Ketuhanan ini dimasukkan dengan nyata dan tegas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANCASILA
SEBAGAI DASAR NEGARA
III

Kursus Presiden Soekarno
Tentang Pancasila
di Istana Negara, Tanggal 5 Juli 1958.

 

Saudara-saudara sekalian, saya ikut bergembira bahwa Saudara-saudara meski malam ini adalah malam Minggu dan di beberapa tempat di Jakarta hujan, Saudara-saudara toh memer­lukan datang dalam kursus ini.

Malam ini hendak saya kupas sila Kebangsaan.

Urut-urutan yang biasa saya pakai untuk menyebut kelima sila daripada Pancasila itu ialah: Ketuhanan Yang Maha Esa; Kebang­saan nomor dua; Perikemanusiaan nomor tiga; Kedaulatan Rakyat nomor empat; Keadilan Sosial nomor lima. Ini sekadar urut-urutan kebiasaan saya.

Ada kawan-kawan yang mengambil urut-urutan lain yaitu meletakkan sila Perikemanusiaan sebagai sila yang kedua dan sila Kebangsaan sebagai sila ketiga. Bagi saya prinsipiil tidak ada keberatan untuk mengambil urutan-urutan itu. Saya sendiri biasa menyebut sila Kebangsaan itu sebagai sila yang kedua dan Perike­manusiaan sebagai sila yang ketiga.

Saudara-saudara, saya ulangi bahwa Pancasila adalah dasar negara. Hal ini saya tandaskan oleh karena kadang-kadang justru mengenai Kebangsaan ada pihak-pihak yang berkata: “Kami tidak memerlukan paham atau pendirian kebangsaan”. Misalnya di kalangan kaum internasionalis Marxis, yang menurut anggapan saya; yang kurang mengerti betul tentang Marxixme. Saya ulangi, di kalangan internasionalis Marxis yang menurut anggapan saya kurang mengerti betul akan Marxisme, ada yang berkata: “Ke­bangsaan atau paham kebangsaan adalah salah, adalah bertentang­an dengan internasional-isme, bertentangan dengan idee persau­daraan umat manusia sedunia. Kebangsaan, paham kebangsaan adalah satu paham yang salah, paham yang telah membangunkan pertentangan-pertentangan dalam dunia umat manusia, paham yang kadang-kadang sampai menjadi sebab daripada peperangan­-peperangan”. Demikianlah maka mereka yang belum dalam di dalam pengertian tentang Marxisme itu ada yang menentang hal kebangsaan itu.

Ada pula golongan-golongan daripada pihak agama, misal­nya, kadang-kadang dari pihak agama ada orang-orang berkata: “Agama tidak mau menerima paham kebangsaan. Apalagi agama Islam, tidak mau menerima paham kebangsaan. Agama Islam hanya mengenal umat manusia. Maka karena itu agama Islam menolak paham kebangsaan. Di dalam agama Islam, siapapun, dari bangsa apapaun, asal dia taat taqwa kepada Tuhan, itulah kita punya saudara. Meski kulitnya hitam, meski kulitnya putih, meski kulitnya kuning, meski kulitnya merah-sawo, kami tidak membuat perbedaan antara bangsa dengan bangsa. Kami hanya membuat perbedaan antara taqwa kepada Tuhan atau tidak taqwa kepada Tuhan”.

Saudara-saudara, itulah sebabnya maka tadi saya dengan segera menandaskan kepada Saudara-saudara bahwa Pancasila, dus kebangsaan, paham kebangsaan adalah dasar Negara. Dus ada perbedaan yang tegas antara “keperluan Negara sebagai Negara” dan “urusan Agama”.

Saya terangkan sebagai berikut: Saudara melihat di dalam jumlah umat manusia di dunia ini yang jumlahnya 2.600 atau 2.700 juta manusia. Saudara melihat 2.600 atau 2.700 juta manusia itu terbagi dalam golongan-golongan, golongan-golongan yang besar yang berwarna-warna kulitnya. Ada golongan besar yang berkulit putih, ada golongan besar yang berkulit hitam, ada golongan besar yang berkulit kuning, ada golongan besar yang berkulit merah­sawo dan lain sebagainya. Bahkan ada golongan-golongan yang lebih kecil yang dinama-kan oleh kita suku-suku.

Ini adalah satu fact. satu kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun juga. Di atas dasar fact ini kita tidak boleh tidak harus mengakui adanya bangsa dan kebangsaan. Ditinjau dari sudut apapun. Baik ditinjau dari sudut politik, maupun ditinjau dari sudut agama, fact ialah bahwa umat manusia ini bergolong-golong dalam beberapa macam bangsa, bahkan bergolong-golong dalam beberapa macam suku. Agama boleh, dan factnyapun begitu. Agama bercita-citakan persaudaraan seluruh manusia, bercita-ci­takan persaudaraan antara si kulit hitam dengan si kulit putih, dengan si kulit kuning, dengan si kulit merah-sawo. Demikian pula persaudaraan antara golongan besar si kulit putih dengan golongan besar si kulit hitam atau golongan besar si kulit kuning dan merah-sawo. Tetapi dalam pada itu agama itu juga mengakui fact bahwa ada orang kulit hitam, bahwa ada orang kulit putih, bahwa ada orang kulit kuning, bahwa ada orang kulit merah-sawo. Demikian pula agama tak dapat memungkiri adanya fact golong­an-golongan itu tadi.

Negara, Saudara-saudara, adalah lain urusan. Negara sebagai tempo hari saya terangkan: Negara adalah satu machts-organisatie, satu organisasi kekuasaan; atau sebagai yang saya sebutkan di dalam amanat saya kemarin dulu pada waktu PNI memperingati usia 3 1 tahunnya: Negara adalah satu alat, alat perjuangan. Alat atau alat perjuangan organisasi. Machts-organisatie yang diorgani­sirkan di atas satu wilayah, yang di atas wilayah itu ada manusia­manusianya.

Negara tidak bisa diorganisirkan di langit. Negara tidak bisa diorganisirkan tidak di atas satu wilayah, tidak dengan manusia­manusia yang berdiam di atasnya. Karena itu bagi tiap-tiap stu­dent, mahasiswa-mahasiswa dalam Ilmu Negara sudah bukan satu teka-teki lagi, bahwa syarat mutlak daripada negara antara lain ialah wilayah, territoor yang tegas nyata batas-batasnya. Demikian pula syarat mutlak daripada negara antara lain adalah rakyat yang berdiam di atas wilayah itu. Negara yang tidak mempunyai wilayah yang tegas batas-batasnya, pada hakekatnya bukan ncgara, meskipun di atas wilayahnya itu ada rakyat. Misalnya di padang pasir, Saudara-saudara menemukan juga manusia­manusia, tetapi manusia-manusia itu hidupnya nomadis, tidak tentu tempatnya. Daripada nomaden-nomaden yang hidupnya ti­dak tentu tempatnya itu tak mungkin disusun satu Negara.

Karena itu ilmu kenegaraan, saya ulangi lagi: syarat mutlak pertama ialah territoor yang dapat tegas digambarkan di atas peta. Nomor dua rakyat; bahkan jikalau hendak sempurna rakyatnya itu harus satu bangsa, satu volk-nation. Ini dua syarat.

Syarat yang ketiga mutlak pula untuk bernama negara ialah pemerintah. Pemerintahan pusat, satu pemerintahan yang ditaati oleh seluruh rakyat yang berdiam di atas territoor yang jelas terbatas itu. Ini adalah tiga syarat mutlak daripada negara. Ditam­bah dalam ilmu negara modern sebagai tempo hari pun diterang­kan oleh Saudara Prof. Muhammad Yamin: negara modern harus mempunyai syarat yang keempat pula, yaitu tujuan. Kita mempu­nyai Negara memenuhi akan yang keempat ini, yaitu yang kita namakan Pancasila.

Tujuan kita ialah realisasi daripada Pancasila. Karena itu saya ulangi lagi berkata: Pancasila adalah dasar Negara.

Agama boleh berkata tidak mengenal Kebangsaan. Tetapi negara, jikalau ia hendak sempurna harus berdasarkan atas volk­nation sebagai tadi saya katakan. Demikian pula di dalam penger­tian Marxisme. Memang tujuan daripada perjuangan sosialisme ialah kesejahteraan semua manusia, persaudaraan sernua manusia atau dengan istilah tertentu dinamakan internasionalisme. Tetapi justri Marxisme yang sejati, artinya Marxisme yang sebenar­benarnya, berdiri di atas analisa-analisa yang obyektif dan dalam analisa yang obyektif ini Marxisme mengakui adanya bangsa­bangsa. Maka oleh karena itu di dalam realisasi daripada masya­rakat sosialis. sebagai yang di dalam zaman sekarang dijalankan oleh beberapa negara, fakta adanya bangsa-bangsa initidak pernah dipungkiri bahkan diterima sebagai satu realiteit objectief.

Saudara-saudara, saya ulangi, apalagi kita, yang kita ini mendirikan satu negara yang modern, satu negara yang sempurna – hendaknya sempurna -, bagi kita yang bercita-citakan negara yang sempurna itu tidak boleh tidak kita harus mempergunakan sebagai dasar salah satu daripada lima ini, yaitu Kebangsaan.

Terutama sekali bagi satu golongan manusia yang berabad­abad mengalami persamaan penderitaan dan pengalaman, bagi golongan manusia yang demikian itu, in casu yaitu rakyat kita, rasa kebangsaan bukan lagi satu cita-cita, tetapi satu fakta obyektif.

Segerombolan manusia yang, bagi kita, jumlahnya 82 juta – 85 juta, yang mengalami penderitaan-penderitaan bersama, peng­alaman-pengalaman bersama, gerombolan manusia yang banyak ini laksana mempunyai jiwa yang sama. Jiwa yang sama itu antara lain berupa rasa kebangsaan.

Saya sudah beberapa kali di dalam kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah mensitir ucapan Ernest Renan, mahaguru dari Universitas Sorbonne di Paris yang berkata, bahwa bangsa adalah satu jiwa une nation est un ame. Artinya: bangsa adalah jiwa. Di lain tempat Renan berkata: une nation est un grand solidarite, satu bangsa adatlah satu solidariteit yang besar. Menurut teori Renan, bangsa atau kebangsaan tidak bergantung daripada persamaan bahasa. Tidak usah sesuatu bangsa itu bahasanya satu.

Kalau bahasanya satu, lebih kuat rasa kebangsaannya. Tetapi bahasa satu itu bukan mutlak bagi bangsa. Saya ulangi: kalau bahasanya satu lebih hebat rasa kebangsaannya, seperti kita ini. Kita ini amat berbahagia bahwa kita itu mempunyai bahasa satu.

Di India sulit sekali hal bahasa ini. Sampai sekarang ada pertikaian hebat di kalangan pemimpin-pemimpin India, apa yang harus dijadikan bahasa satu ini di India.

Shri Jawaharlal Nehru berkata: “Marilah kita angkat bahasa Hindustani menjadi bahasa yang satu ini”. Tetapi banyak sekali daerah-daerah yang rakyatnya tidak paham bahasa Hindustani. Ada lagi lain golongan yang berkata: “Marilah kita angkat bahasa Urdu sebagai bahasa satu daripada Negara India”. Tetapi ditentang oleh banyak daerah-daerah yang tidak mengerti bahasa Urdu, melainkan berbahasa Hindu. Urdu itu adalah satu modifikasi daripada bahasa Arab. Soal bahasa satu ini demikian sulitnya di India. Saudara-saudara, sampai salah seorang pemimpin besar India yaitu Raja Gopalachari, yang dahulu tatkala India menjadi dominion, tahun 1947, India, Benua India pecah menjadi dua: India dan Pakistan.

Dua-duanya dominion status, dua-duanya dikepalai oleh Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal yang pertama daripada India ialah Shri Raja Gopalachari. Dan dia memang seorang pemimpin yang sudah tua, lama di dalam pergerakan kebangsaan, pengikut mati-matian dari Mahatma Gandhi – Raja Gopalachari sekarang ini sedang di dalam perjuangan hebat berhadap-hadapan dengan Shri Jawaharlal Nehru tentang bahasa. Nehru menghen­daki bahasa Hindustani sebagai bahasa yang satu.

Raja Gopalachari berkata: “Tidak mungkin, tidak mungkin Hindustani dijadikan bahasa satu, tidak mungkin Urdu dijadikan bahasa yang satu bagi bangsa India”. Raja Gopalachari berkata: “Satu-satunya bahasa yang bisa dipakai sebagai bahasa yang satu itu ialah bahasa Inggris. Perjuangan ini adalah perjuangan hebat yang mulai pecah sejak tahun 1956 – 1957, sekarang ini sedang berkobar dengan hebatnya. En toh, meskipun soal bahasa belum terpecahkan, artinya orang India ada yang bicara Urdu, ada yang bicara Hindustani, ada yang bicara Tamil, ada kaum intelligensia yang hanya memakai bahasa Inggris, en toh kebangsaan India ada, ialah oleh karena itu tadi, une nation est un ame, bangsa adalah jiwa.

Atau ambil Swis. Swis adalah satu bangsa. bahasanya tiga kalau tidak empat. Ada satu golongan Swis bicara Perancis, satu golongan lagi bicara Jcrman, satu golongan lagi bicara Italia. Amerika yang terdiri daripada imigran-imigran tadinya, imigran­imigran ada yang berasal dari daerah Jerman, ada yang berasal dari daerah Inggris. ada yang berasal dari daerah Italia, ada yang berasal dari daerah Perancis, ada yang berasal dari daerah Skan­dinavia. Bahasa yang dipakai di Amerika, ya sebagian besar sudah lnggris, tetapi saya sendiri sering berjumpa dengan orang Arnerika, waktu saya di Amerika, tidak bisa bicara Inggris. Masih memakai bahasa asalnya dari Eropa. Jadi sudah nyata, bahwa natie, bangsa tidak tergantung daripada persatuan bahasa. Demikian pula tidak tergantung daripada persatuan agama. Lihat saja kita. Kita ada yang beragama Islam, ada yang beragama Kristen. Lihat di Mesir. Di Mesir ada yang beragama Islam, ada yang beragama Kristen. Lihat di RRC, ada yang beragama Islam, ada yang beragama Budha. Lihat di negeri lain-lain. Jadi menurut Ernest Renan, mutlak bangsa tidak memerlukan persatuan bahasa, tidak memerlukan persatuan agama, bahkan tidak memerlukan persatuan turunan. Contoh baik Amerika, kataku Amerika itu terjadi daripada macam-macam imigran-imigran. Turunan dari­pada beberapa bangsa pergi ke situ, tetapi menjadi satu bangsa. Dus bangsa adalah satu jiwa.

Apakah yang mengikat manusia itu menjadi satu jiwa? Kalau rnenurut Ernest Renan, yang menjadi pengikat itu ialah kehendak untuk hidup bersama. Dalam bahasa Perancisnya: Le desir d’ etre ensemble. Le desir yaitu kehendak, d’ etre ensemble, berkumpul. Le desir d’ etre ensemble, artinya kehendak supaya berkumpul bersama, kehendak untuk hidup bersama. Jadi gerombolan manusia meskipun agamanya berwarna macam-macam, meskipun bahasanya bermacam-macam, meskipun asal turunannya berma­cam-macam, asal gerombolan manusia itu mempunyai kehendak untuk hidup bersama. itu adalah bangsa. Itu kata Ernest Renan.

Di dalam pidato-pidato, kuliah-kuliah saya mengenai hal natic, saya scring juga mensitir seorang ahli ilmu lain, yaitu teori­tikus marxis. Di dalam ilmunya, ia marxis, tetapi di dalam sepak terjangnya ia adalah haluan kanan. Yaitu marxis dari Austria. Saya ceriterakan menyimpang sedikit. Marxis Austria itu di dalarn istilah gerakan buruh di Eropa dikatakan: “kaum inter­nasional dua setengah”. Dahulu kaum buruh Eropa Barat ter­gabung di dalam Internasionale 11. Mula-mula Internasionale I, yang dibangunkan oleh Marx, Engels dan pemimpin-pemimpin tua. Internasionale I pada suatu ketika surut, bubar. Dibangunkan lagi Internasionale baru, yaitu ikatan-ikatan daripada gerakan­gerakan kaum buruh daripada beberapa negara. Ini dinamakan Internasionale 11. Kemudian sesudah di Sovyet Unie berdiri Sovyet Unie, didirikanlah Internasionale III yang haluannya terkenal sebagai haluan bolsjewik atau komunis. Kaum marxis Austria berdiri di tengah-tengah antara kaum sosialis internasi­onale 11 dan kaum internasionale 111. Maka oleh karena itu dicemooh oleh kedua pihak dan dikatakan: “Kamu adalah kaum Internasionale dua setengah”.

Pemimpin-pemimpin daripada kaum “Internasionale dua setengah” ini banyak yang teoritis. Kupasan-kupasannya secara akademis mendalam, tetapi di dalam tindakan-tindakannya sering sekarang di sini, sekarang di situ. Oleh karena itulah dia berdiri di tengah-tengah Internasionale II dan Internasionale III. Pemimpin­pemimpin mereka, theoretisi daripada “Internasionale dua sete­ngah” ini antara lain ialah Fritz Adler, antara lain pula Otto Bauer. Adler terkenal dengan kupasannya tentang demokrasi, yang ma­lahan sering saya tirukan ucapan Adler ini: “Demokrasi yang kita kejar janganlah hanya demokrasi politik saja, tetapi kita harus mengejar pula demokrasi ekonomi”. Dan Adler lah yang memberi istilah kepada demokrasi politik ekonomi ini, yang saya pakai di dalarn kuliah saya di Yogyakarta di hadapan para mahasiswa. yaitu sociale democratie. Dus Adler berkata sociale democratie adalah politiek economische democratie, sama rata sama rasa di dalam lapangan politik dan dalam lapangan ekonomi. Ucapan Adler yang sering saya sitir ialah bahwa demokrasi politik saja tidaklah cukup. “Men kan de honger van een bedelaar niet stillen door henl een grondwet in de hand te stoppen”. Orang tidak bisa menghilangkan rasa laparnya seorang pengemis dengan hanya memberikan pada­nya Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar itu adalah politieke democratie. Menurut UUD engkau sama dengan engkau. Menurut UUD engkau sama-sama mempunyai hak memilih. Menurut UUD engkau sama-sama mempunyai hak dipilih. Menu­rut UUD engkau boleh sama-sama mengeluarkan engkau punya pikiran. Menurut UUD engkau boleh menjadi menteri, engkau boleh menjadi hakim, engkau boleh menjadi apapun. Sama rata sama rasa menurut UUD.

Ini adalah demokrasi politik. Dalam kenyataannya, ondanks Undang-Undang Dasar ini, si kaya tetap mengeksploitir si miskin. Dalam kenyataannya tidak ada demokrasi ekonomi, tidak ada sama rasa sama rata di lapangan ekonomi. Karena itu Adler berkata: “Men kan de honger van een bedelaar niet stillen door hem een grondwet in de hand te stoppen”. Orang tidak bisa menghilangkan laparnya seorang pengemis dengan memberi Un­dang-Undang Dasar di dalam tangannya. Maka ia berkata: harus ada demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Dan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi ini dicakup di dalam satu perkataan “sociale democratie”. Perbedaan dengan arti “sosial demokrasi” yang tempo hari di dalam kuliah di Yogyakarta saya terangkan, sosial demokrasi adalah satu aliran dalam sosialisme. Sosialisme itu bermacam-macam corak: ada relegieus sosialisme, kataku, ada utopistis sosialisme, ada bolsjewisme atau komunisme, ada sosial demokrasi.

Di kuliah saya di Yogyakarta sudah saya tegaskan. sosial demokrasi bcrpendapat bisa menggugurkan kapitalisme dengan “uithollingstactiek”. Pihak kiri berkata: “neen, kapitalisme tidak bisa gugur dengan uithollingstactiek, tetapi harus digugurkan pada suatu ketika dengan aksi, directe actie, greep naar de macht dari pada kaum buruh”.

Ini menyimpang sebentar menceritakan hal Adler. Adler itu dalam teorinya baik, tetapi di dalam aksinya selalu satu kali di sana, lain kali di situ, satu kali di sini lain kali di situ.

Lain teoretikus ialah Otto Bauer. Otto Bauer di dalam ku­pasannya terutama sekali mengenai persoalan bangsa. Adler mengenai persoalan demokrasi. Otto Bauer, persoalan bangsa ia kupas di dalam kitabnya yang termasyhur: Die Nationalitaten Frage und die sociale Demokratie. Ia kupas apa yang dinamakan bangsa sebagaimana juga Ernest Renan mengupas apa yang di­namakan bangsa itu. Bauer berkata, – saya sitir dulu ucapannya: “Eine Nation ist eine aus schicksal Gemeinshaft erwachsene charakter Gemeinschaft”. Bahasa Belandanya dulu: wat is een natie? Een natie is een karakter-gemeenschap dat geboren is uit een natie? Een natie is een karakter-gemeenschap dat geboren is uit een gemeenschap van lotgevallen. Natie adalah satu karakter­gemeenschap dat goberon is uit een gemeenschap van lotgevallen. Eine aus Schicsal Gemeinschaft erwachsene charakter Gemein­schaft. Bahasa Indonesianya: “Bangsa adalah satu persamaan, satu persatuan karakter, watak, yang persatuan karakter atau watak ini tumbuh, lahir, terjadi karena persatuan pengalaman”. Een karak­ter-gemeenschap sama karakternya, dat goberon is uit een ge­meenschap van lotgevallen. Karakter-gemeenschap geboren daripada Schicksal-Gemeinschaft, – Schicksal itu artinya lot­geval, nasib, pengalaman. Satu persatuan, persamaan watak atau karakter yang timbul, tumbuh, terjadi daripada persatuan pengala­man, persatuan nasib. Ini definisi daripada Otto Bauer. Dus sesuai dengan Ernest Renan. la membantah mutlak perlunya persatuan bahasa, membantah mutlak perlunya persatuan agama, memban­tah mutlak perlunya pcrsatuan warna kulit, membantah mutlak perlunya persatuan keturunan. Tidak, meskipun agamanya ber­lain-lainan, meskipun warna kulitnya berlain-lainan, meskipun bahasanya berlain-lainan asal ia tadinya, yaitu gerombolan manusia itu, mengalami bertahun-tahun, berpuluh-puluh, beratus­ratus tahun rnungkin mengalami nasib yang sama, maka karena rnengalami nasib yang sama itu akan tumbuh persatuan watak dan persatuan watak inilah yang menentukan sifat bangsa.

Memang sebagai yang saya sering sudah di dalam pidato-pi­dato saya katakan, bangsa itu adalah satu individualiteit. Sebagai­mana individu mempunyai karakter sendiri-sendiri. Bung Akhmadi mempunyai karakter sendiri, Overste Pamu mempunyai karakter sendiri, Pak Ahem Erningpradja mem-punyai karakter sendiri, Saudara Widarbo mempunyai karakter sendiri, Rochmuljati mempunyai karakter sendiri, Saudara Gontha mem­punyai karakter sendiri, tiap-tiap manusia mem-punyai watak sendiri-sendiri. Demikian pula bangsa mem-punyai watak sendiri­sendiri.

Tempo hari sudah saya katakan hal itu di dalam kursus saya, – kalau tidak salah – bangsa Italia, karakternya artistik, corak jiwanya itu artistik. Bangsa India, karakternya, wataknya, corak jiwanya religieus. Ini bangsa Italia dan India. Bangsa Inggris karakternya haus kepada kekuasaan. Ya, power, power, bahkan ia mempunyai ik-heid selalu di atas. Orang Inggris tidak mau menulis I (ik) dengan, leter i (kecil), tapi leter I (besar). Bangsa Perancis tenlpo hari saya katakan karakternya suka pada pakaian ginding. Sampai kepada salam dan lain-lain – di sini, entah rapat apa tempo hari itu – saya katakan kalau orang Inggris berkata, bertanya: “Hoe are you?” Bagaimanakah engkau? Individualiteit­mu? Orang Belanda berkata: “Hoe vaart u?” Oleh karena karak­ternva suka belajar. Orang Perancis berkata. dalam bahasa Pcrancis: “Comment vous portcz vous?” Bagaimana pakaian Tuan? Orang Tionghoa yang selalu menderita bahaya kelaparan, – zaman dulu selalu lapar saja, – bertanya selalu: “Ni hau?” Itu engkau bagaimana, selamatkah apa tidak engkau itu? Bangsa Indonesia yang selalu hidup tidak ada komunikasi: “Apa kabar bung?” Tanya kabar!

Dus, saya ulangi lagi, bangsa adalah satu individualiteit. Mempunyai watak sendiri, mempunyai karakter sendiri. Dan ini yang ditekankan oleh Otto Bauer. Charakter Gemeinschaft, per­sarnaan watak itu yang menetapkan, menentukan corak bangsa. Itu yang menentukan bangsa atau bukan bangsa.

Saya pernah memikirkan hal ini. Ya, sebagai salah satu usaha penggalian, penggalian mutiara daripada bangsa Indonesia. Bukankah saya selalu berkata: Pancasila itu bukan bikinan saya. Saya gali sudah bertahun-tahun, bahkan mulai tahun 1925, 1926 saya menggalinya. Saya pikirkan, ini teori Renan, teori Otto Bauer, itu betul apa tidak. Dan saya sampai kepada konklusi kurang lengkap! Renan berkata segerombolan manusia yang mempunyai keinginan bersatu, hidup bersama itu bangsa. Tidak kena! Tidak lengkap. Bawa misalnya ke Indonesia. Di Indonesia banyak itu gerombolan manusia, yang bukan main ia punya rasa ingin ber­satu, ingin bersama, tetapi bukan itu bangsa. Ambillah misalnya Saudara-saudara, dari Minangkabau. Suku Minangkabau itu bukan main rasa bersatunya. Le desir d’etre ensemble yang dimak­sudkan oleh Ernest Renan keinginan, kehendak untuk bersatu bersama, sangat kuat di alam Minangkabau. Tetapi rakyat Mi­nangkabau bukan satu bangsa. Ambil lain daerah. Misalnya daerah Solo sama Yogya. Itu masing-masing mempunyai rasa sendiri­sendiri. Tetapi saya tidak mau menerima rakyat Solo itu bangsa, rakyat Yogya itu bangsa. Ambil Bugis, rakyat Bugis itupun keras ia punya le desir d’etre ensemble. Atau Minahasa, keras ia punya le desir d’etre ensemble. Kawamia dengan kawanua. wah. kuat itu! Tetapi sayapun tidak mau menerima bahwa rakyat Minahasa itu satu bangsa.

Demikian pula kalau saya rnembawa Otto Bauer yang berkata persatuan, persamaan watak yang dilahirkan karena persamaan nasib. Persamaan watak. Ya Minangkabau wataknya sama, bukan bangsa. Sunda keras persatuan wataknya, tetapi bukan bangsa. Bugis keras ia punya persatuan watak, bukan bangsa. Alam kawanua-kawanua keras ia punya persatuan watak, bukan bangsa. Apa, menurut pendapatan saya, yang dinamakan bangsa itu? Saya lantas menjawab: baik saya menerima, Renan saya menerima, Otto Bauer saya terima. Tetapi saya tambah dengan satu syarat! “Bangsa adalah segerombolan manusia yang – kalau mengambil Renan – keras ia punya le desir d’etre ensemble, – kalau mengambil Otto Bauer – keras ia punya charakter Gemeinschaft, tetapi yang berdiam di atas satu wilayah geopolitik yang nyata satu persatuan. Apa wilayah geopolitik yang nyata satu persatuan, satu kesatuan, itu apa?

Nah, saudara-saudara, geo dari perkataan geografi, peta, gam­barnya. Geopolitik ialah hubungan antara letaknya tanah dan air, petanya itu, dengan rasa-rasa dan kehidupan politik.

Kalau Saudara melihat letaknya tanah dan air dari peta, Saudara-saudara sudah melihat dengan gampang sekali kesatuan­kesatuan. Gampang sekali Saudara melihat unit-unit yaitu ke­satuan-kesatuan. Anak kecil bisa mengerti bahwa misalnya kepulauan Indonesia adalah satu kesatuan, yang selalu dalam pidato-pidato saya katakan: “Lihat kesatuan kepulauan Indonesia, meskipun jumlahnya 3.000 yang didiami manusia, 10.000 kalau dihitung yang tidak didiami manusia. Meskipun berjumlah beribu­ribu, tetapi tiap-tiap anak kecil mengerti, ini adalah satu unit yang terletak antara dua sarnudera, dua benua!”

Lihat kepulauan Jepang, tiap-tiap anak kecil bisa mengerti itu adalah satu unit. Lihat bumi India. di utara gunung Himalava. scbelah barat dan timur lautan Hindia, ini adalah satu unit. A1­marhum Sarojini Naidu dengan perkataan yang indah berkata – Sarojini Naidu pernimpin wanita India, pemimpin bangsa, ia berkata: “Pergilah, datanglah ke rumahku yang atapnya terbuat dari salju, dan yang temboknya terbuat daripada samudera. Come to my home with a roof made of snow and wall made of the mighty ocean”. Seorang ahli syair yang katanya atapnya, gunung Hima­laya, terbuat dari salju, tembok-tembok, dinding-dindingnya ter­buat dari samudera. Tiap anak kecil bisa mengerti bahwa ini adalah satu unit.

Benua yang terletak di selatan dari gunung Himalaya dan kanan kirinya dekelilingi oleh samudera Hindia ini. Dengan ini saya sebenarnya membantah bahwa India dan Pakistan itu dua bangsa. Sebenarnya adalah satu bangsa. Kebetulan agamanya itu berbeda. Tetapi lantas secara politis oleh Inggris diadakan parti­tion, pembagian: negara Pakistan, negara India. Tetapi ditinjau dari sudut kebangsaan, Pakistan dan India itu rakyatnya adalah satu bangsa. Demikian pula anak kecil bisa melihat bahwa Italia itu adalah satu unit. Di utara gunung Alpen, kanan kirinya lautan. Kepulauan Inggris satu unit, kepulauan yang terletak di sebelah barat daripada benua Eropa. Dus, bagi saya bangsa adalah sege­rombolan manusia yang besar, keras ia punya keinginan bersatu, le desir d’etre ensemble, keras ia punya charakter Gemeinschaft, persamaan watak, tetapi yang hidup di atas satu wilayah yang nyata satu unit. Kalau sekadar bagian daripada unit, bukan bangsa. Minangkabau bukan bangsa. Sunda bukan bangsa. Solo bukan bangsa. Yogya bukan bangsa. Bugis bukan bangsa. Madura bukan bangsa. Bali bukan bangsa. Lonlbok bukan bangsa.

Nah, saya tadi berkata bahwa negara jikalau didasarkan antara lain atas rasa kebangsaan, negara demikian itulah kuat. Maka oleh karena itu kita dengan sengaja memasukkan sila Kebangsaan di dalam Pancasila kita. meskipun dari sudut agama orang me­mungkiri hal kebangsaan; meskipun daripada golongan Marais yang dangkal memungkiri kcbangsaan. Tetapi jelas untuk ncgara yang kuat kita mesti mendasarkan negara itu atas kebangsaan. Memang garis sejarah menuju ke situ.

Pernah saya ceritakan bahwa di abad ke-20 ini berisi satu historis-paradox. Paradox ialah hal-hal yang bertentangan satu sama lain. Historis-paradox ialah hal yang tampaknya berten­tangan di dalam sejarah. Abad ke-20 berisi satu historis -paradox, kataku. Apa paradox di abad ke-20? Paradox-nya ialah, di satu piliak abad ke-20 ini mendekatkan manusia dengan manusia, dengan perlalulintasan kapal laut, kapal udara, telpon, telegram, radio dan lain-lain sebagainya. Di satu pihak manusia sedunia ini oleh abad ke-20 itu laksana dikocok menjadi satu famili besar. Di lain pihak, bangsa-bangsa atau umat-umat manusia ini malahan memisahkan dirinya dalam gerombolan-gerombolan besar, gerombolan-gerombolan yang mempunyai batas-batas tertentu dengan berdirinya negara-negara nasional. Rakyat Indonesia menggabungkan dirinya dengan dalam satu negara nasional Indo­nesia. Rakyat Mesir menggabungkan dirinya dalam satu gabungan Negara nasional Mesir. Rakyat RRC demikian, rakyat Philipina demikian, rakyat Jepang demikian, rakyat India demikian. Dus, paradox ini Saudara-saudara, di satu pihak menghilangkan batas, di lain pihak malahan membuat batas. Tetapi membuat batas ini Saudara-saudara, adalah keharusan yang berdiri di atas fakta-fakta obyektif. Apa sebab saya berkata ini keharusan. Keharusan yang ditentukan oleh susunan masyarakat manusia sekarang, susunan caranya manusia sekarang memproduksi. Dulu tatkala belum ada industrialisme, tatkala belum ada susunan ekonomi sebagai sekarang ini, masih bisa manusia-manusia di dunia ini tidak ter­gabung di dalam negara-negara nasional. Dulu malahan ada negara kecil-kecil, Saudara-saudara. Oleh karena ekonomi pada waktu itu. dan politik adalah sekadar pencerminan daripada eko­nomi; oleh karena ekonomi pada waktu itu bisa berjalan dengan adanya negara-negara kecil. Saya punya contoh yang klasik ialah Jennan abad ke-17, abad ke-18; ekonominya masih ekonomi yang belum industriil-ekonomi seperti di dalam abad ke-19 dan ke-20.

Pada waktu itu Jerman penuh dengan negara-negara kecil. Saksen negara, Beieren negara, Mecklenburg negara, negara kecil-kecil. Pruisen yang terbesar, tetapi masih kecil pula. Ada negara Pruisen, ada negara Beiren, ada negara Saksen, ada negara Mecklenburg, ada negara lain-lain. Kemudian datanglah pertumbuhan daripada ekonomisch-leven, yang hidup ekonomi ini tidak bisa lagi subw­di atas dasar negara-negara yang kecil. Maka datanglah proses pemersatuan daripada negara-negara kecil ini menjadi satu negara nasional.

Saudara-saudara lama-lama nanti juga mengerti bahwa mi­salnya perang adalah sekadar akibat desakan-desakan politik dan ekonomi. Kaum militer apa lagi kalau berkata tentang perang, tentu menyebutkan Clausewitz, yang berkata: “Perang itu apa. Perang itu sebetulnya adalah kelanjutan saja daripada diplomasi dengan cara lain. Tadinya diplomasi dengan lidah, kemudian diplomasi dengan peluru. Itu perang”.

Nah, Saudara-saudara tahu perang Jerman dengan Perancis (1870), itu apa sebabnya? Sebabnya ialah desakan ekonomi, saing­menyaing meledak menjadi peperangan. Tetapi apa akibat dari­pada peperangan ini? Desakan ekonomi di Jermania sendiri mengharuskan, memerlukan, melahirkan, pernersatuan daripada negara-negara kecil ini. Tatkala pihak Jerman memaksa pihak Perancis menandatangani peace treaty di Versailles, tatkala itu malahan sama sekali kejadian menandatangani peace treaty de­ngan Perancis sesudah Perancis kalah perang digabungkan dengan satu upacara besar terjadinya negara nasional Jermania. Titel daripada kepala negara dijadikan Kaisar. Tadinya cuma: konig. Konig von Pruisen. konig von Saksen. Tetapi digabung dengan negara-negara kecil ini menjadi satu negara besar Jermania, dikepalai oleh Kaisar Wilhelm I. dengan ia punya Perdana Menteri Graaf Otto Von Bismarck yang terkenal namanya. Ini adalah satu proses sejarah, Saudara-saudara. Proses sejarah yang terutama sekali terdorong oleh keharusan-keharusan ekonomi, industrial­isme dan perdagangan.

Proses demikian ini pula terjadi di Italia; bahkan juga perte­ngahan abad ke-19, tatkala kapitalisme di Italia mulai tumbuh, tatkala kapitalisme di Italia memerlukan bahan-bahan dari seluruh semenanjung Italia daii bukan sekadar sesuatu negara kecil seperti Lombardia atau Venetia, tetapi seluruh bahan-bahan Italia diper­lukan. Pasarnyapun pasar dalarn negeri, tidak bisa tahan lagi dengan adanya pagar-pagar, tetapi minta luas mengenai seluruh semenanjung. Pada waktu itu proses terjadinya negara nasional Italia di bawah pimpinan Mazini, di bawah pimpinan Garibaldi, dan di bawah pimpinan Cavour. Mazini dikatakan bapak Italia. Ya, memang dia yang memberi ideologi kebangsaan, Garibaldi dikatakan bapak Italia. Ya Garibaldi lah yang menjalankan politik pemersatuan ini dengan senjata. Cavour dinamakan bapak Italia. Ya, dialah tatkala negara-negara ini sudah tergabung dalarn satu negara nasional Italia, memegang tampuk pimpinan pemerintah­an. Proses sejarah, proses pemersatu menjadi negara nasional.

Kita, langsung terjun ke dalam fase ini. Proklamasi 17 Agus­tus 1945, langsung menuju kepada negara nasional, tidak menuju kepada negara kecil-kecil, negara Jawa, negara Sumatera, negara Sulawesi. Tidak. Langsung kepada negara nasional yang ber­wilayah dari Sabang sampai ke Merauke. Oleh karena bukan saja secara ideologi kebangsaan, tetapi juga secara ekonomis kita tidak bisa berdiri sendiri-sendiri sebagai yang beberapa kali saya katakan. Lihat Jepang. Jepang itu juga dulu negara-negara kecil. Negara-negara kecil yang dikepalai oleh daimijo-daimijo. Di Jer­nian dikepalai oleh Konig-konig. Tahun 1860 lebih sedikit. Meiji Tenno bertindak, dan dia mempersatu-kan segcnap negara-negara kecil ini menjadi satu negara nasional Jepang. Itu yang termasyhur sekali di zaman Meiji oleh karena Meiji Tenno dialah yang mem­persatukan negara-negara kecil ini daripada tanah air Jepang. Saya pernah waktu saya di Kyoto masuk ke tempat balairung di mana Meiji Tenno berdiri dan di situ dia menerima, menerima dari daimijo-daimijo ini negara-negaranya. Daimijo A mem­persembahkan negaranya kepada Tenno, daimijo B mempersem­bahkan negaranya, daimijo C mempersembahkan negaranya, demikian seterusnya. Tidak ada daimijo-daimijo, cuma ada satu Emperor, Tenno Heika yaitu Meiji, yang kemudian diikuti oleh kaisar-kaisar yang lain. Ini sekadar satu upacara, Saudara-saudara. Tetapi apa yang menjadi pendorong daripada hal ini. Tak lain tak bukan ialah lagi-lagi hal keharusan, keharusan terutama sekali di lapangan ekonomi. Jadi, Saudara-saudara, kita melihat ver­schijnsel, phenomeen di dalam abad ke-19, terjadinya beberapa negara nasional Jerman, Italia, Oostenrijk-Hongaria, dua dijadikan satu pula. Di Timur kita melihat terjadinya Dai Nippon Tai Koku. Taikoku itu empire.

Kemudian datanglah abad ke-20. Abad ke-20 yang berisi beberapa phenomeen. Phenomeen, yaitu kejadian yang besar. Pertama, saya sudah pernah katakan dalam abad ke-20, salah satu phenomeennya ialah jadi merdekanya bangsa-bangsa di Asia. Satu. Nomor dua timbulnya negara-negara sosialis. Tempo hari pernah di dalam balairung ini saya katakan: 16 negara sosialis terjadi di abad 20 ini dengan jumlah rakyat 1.300 juta kalau tidak salah, RRC 660. kemudian Sovyet Unie 200 ditambah lagi dengan yang lain-lain. Perhitungan saya begitu, entah. Tetapi sejumlah umat manusia tergabung dalam 16 negara sosialis. Abad ke-20 punya phenomeen, terjadinya negara-negara merdeka di Asia. Phenomeen yang ke-2, Phenomeen yang ke-3 ialah terjadinya atomic revolution, revolusi atom. Phenomeen yang ke-4. tetapi ini adalah akibat daripada paradox historis yang tadi saya ceritakan. Di satu pihak umat manusia oleh teknik yang maju sekali menjadi satu, di lain pihak dipisah-pisahkan menjadi bangsa-bangsa yang merdeka dengan pagar sendiri-sendiri.

Kita, Saudara-saudara, sebagai tadi saya katakan, kita lang­sung terjun di dalam phase negara nasional ini. Maka oleh karena itu di dalam perdebatan saya dengan beberapa pihak, saya berkata: “Republik Indonesia bukan negara agama, tetapi adalah negara nasional, di dalarn arti meliputi seluruh badannya natie Indonesia”. Dan apa yang dinamakan natie? Sebagai tadi saya katakan, ialah segerombolan manusia dengan jiwa “le desir d’etre ensemble”, dengan jiwa, sifat, corak yang sama, hidup di atas satu wilayah yang nyata-nyata satu unit atau satu kesatuan.

Inilah arti daripada negara nasional Indonesia. Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, jikalau kita menghendaki negara kita ini kuat, dan sudah barang tentu kita menghendaki negara kita ini kuat, oleh karena kita memerlukan negara ini sebagai suatu alat perjuangan untuk merealisasikan satu masyarakat adil dan mak­mur, kita harus dasarkan negara ini antara lain di atas paham kebangsaan. Dan sebagai tadi saya katakan ini sebenar-nya adalah satu akibat obyektif pula daripada keadaan, bukan saja sebagai phenomeen abad ke-20, tetapi oleh karena kita beratus-ratus tahun mengalami penderitaan yang sama sesuai dengan yang dikatakan oleh Otto Bauer: eine aus Schicsal Gemeinschaft erwachsene Charakter Gemeinschaft. Mau tidak mau kita berasa satu dan mau tidak mau kita harus bersatu, oleh karena sebagai tadi saya katakan, susunan ekonomi Indonesia, susunan – saya tambah sekarang – pertahanan Indonesia dan lain-lain sebagainya – mengharuskan kita bersatu. Maka jikalau kita membantah anggapan, baik dari­pada pihak agama maupun dari pihak Marxis yang dangkal bahwa kita harus berdiri di atas kebangsaan dan mereka berkata tidak, pada hakekatnya ialah oleh karena ada salah paham tentang apa yang dinamakan kebangsaan. Pihak agama kadang-kadang tidak bisa mengadakan batas yang tegas antara ini adalah agama, ini adalah kenegaraan. Negara tidak boleh tidak harus mempunyai wilayah, agama tidak. Adakah negara tanpa wilayah? Tidak ada!

Negara harus mempunyai wilayah. Syarat mutlak daripada negara yaitu territoor yang terbatas. Dan agar supaya negara kuat maka wilayah itu harus satu unit. Dan bangsa yang hidup di dalam satu unit itu akanlah menjadi bangsa yang kuat, jikalau ia mempunyai rasa kebangsaan bukan bikin-bikinan, tetapi yang timbul dari­pada objectieve verhoudingen.

Agama tidak memerlukan territoor, agama cuma mengenai manusia. Tapi lihat, orang yang beragamapun, – aku beragama, engkau beragama, orang Kristen di Roma beragama, orang Kristen di negeri Belanda beragama, orang Inggeris yang duduk di London beragama -, pendeknya orang yang beragama yang dalam aga­rnanya tidak mengenal territoor, kalau ia memindah-kan pikirannya kepada keperluan negara, ia tidak boleh tidak harus berdiri di atas territoor, di atas wilayah. Tidak ada satu negara, meskipun negara itu dinamakan negara Islam, tanpa territoor.

Pakistan yang menamakan dirinya Negara Islam, Republik Islam Pakistan, toh mengakui territoor. Bahkan pendiri daripada Republik Pakistan, yaitu Mohammad Ali Jinnah, ia berkata – historis ucapannya ini -: “We are a nation”. Ini salah satu argu­men daripada Mohammad Ali Jinnah tatkala ia mendirikan Paki­stan. Bukan saja ia berkata “we are a religion”, kita satu agama, ia ber- kata “we are a nation”, kita satu bangsa.

Baca pidatonya tatkala ia mencapai umur 70 tahun. Dalam ia punya birthday speech tatkala ia mencapai 70 tahun, ia berkata “we are a nation”. Nah kalau ia berkata “we are a nation” ialah oleh karena ia berdiri di atas platform negara. Kalau ia berdiri di atas platform agama ia barangkali berkata: kita tidak mengenal sesuatu warna kulit. kita tidak mengenal sesuatu bangsa, kita cuma mengenal taqwa kepada Tuhan atau tidak taqwa kepada Tuhan.

Jadi, Saudara-saudara, saya ulangi, salah paham letaknya di situ. Tidak bisa membedakan antara apa yang diartikan dengan agama, apa yang diartikan dengan negara. Itulah sebabnya maka selalu hal ini menjadi persimpangsiuran di dalam pembicaraan­-pembicaraan. Ditambah juga dengan adanya keruncingan-kerun­cingan sebagai akibat daripada desakan-desakan ekonomi yang bersifat chauvinisme. Misalnya saja rasa kebangsaan Jermanian dan rasa kebangsaan Perancis di dalam masa perang, sudah meng­atasi rasa yang normal, sudah menjadi rasa benci-membenci satu sama lain, yaitu chauvinisme. Kita dari Republik Indonesia de­ngan tegas menolak chauvinisme itu. Maka oleh karena itu di samping sila Kebangsaan dengan lekas kita taruhkan sila Perike­manusiaan.

Memang, kebangsaan di dalam alam kapitalisme, Saudara­-saudara, selalu menderita resiko akan meruncing menjadi chau­vinisme. Di dalam alam kapitalisme! Oleh karena itu kita pada hakekatnya menentang kepada kapitalisme pula. Kapitalisme ber­saing satu sama lain. Kapitalisme Jerman, kapitalisme Jepang, ingin mengalahkan kapitalisme Perancis. Kapitalisme Jerman ingin me-reh seluruh Eropa Barat.

Salah satu alat untuk bisa merealisasikan hal ini ialah merun­cing-runcingkan rasa kebangsaan, meluap-luapkan rasa kebang­saan, menjadi chauvinisme. Dan ini harus kita jaga, jangan kita punya rasa kebangsaan meluap-luap menjadi rasa chauvinisme. Oleh karena itu tadi saya katakan pula, adanya rasa kebangsaan meluap-luap menjadi rasa chauvinisme itu di banyak hal ialah oleh karena desakan-desakan daripada kapitalisme.

Saya kira, Saudara-saudara, jikalau hal ini sudah jelas bagi kita, bahwa kita tidak bisa hidup bernegara secara kuat dan sehat jikalau kita tidak dasarkan atas rasa kebangsaan, saya kira maka sila yang kedua daripada Pancasila ini sudah bisa kita terima dcngan seyakin-yakinnya. Kalau umpamanya sila Kebangsaan dibuang, umpama, apa yang menjadi pangikat rakyat Indonesia yang 82 juta sekarang – nantinya lebih. Apa? Ketuhanan Yang Maha esa? Ya, bisa! Cita-cita untuk meng-adakan keadilan sosial? Ya, bisa! Tapi dalam realisasinya, Saudara-saudara, realisasi yang segi negatif menentang imperialisme, realisasi yang segi positif menyelenggarakan masyarakat yang adil dan makmur itu, kalau tidak ada binding kebangsaan itu, kita tidak akan bisa kuat. Me­nentang imperialisme sebagai segi negatif – penentangan ialah negatif-hanya bisa dengan cara yang kuat kalau segenap bangsa Indonesia menentang, dengan rasa itu tadi: Kami ingin merdeka, kami adalah satu bangsa, kami adalah satu rakyat yang menderita bersama-sama akibat daripada penjajahanmu. Jikalau rasa kebang­saan ini tidak ada, barangkali kita belum bisa sampai sekarang ini mendirikan negara yang merdeka. Barangkali paling-palingnya menjadi negara-negara yang kecil, kruimel staten.

Dan negara-negara kecil tadi saya katakan tidak bisa berdiri, oleh karena kita ekonomis membutuhkan satu sama lain. Jadi dari sudut perjuangan menentang imperialisme kita harus mempergu­nakan kawat persatuan yang di dalam kursus saya yang pertama sudah saya kupas. Kita tidak bisa menjalankan perjuangan anti imperialisme ini dengan hasil baik, jikalau kita tidak meng­gabungkan, mempersatukan segenap tenaga marhaenis di seluruh Indonesia. Marhaen di dalam arti kecil.

Tempo hari telah saya terangkan, jelas kita tidak bisa melalui jalan swadesi, kita tidak bisa melalui jalan kekuatan daripada nationale bourgeoisie, tenaga yang bisa kita himpun, satu-satunya tenaga ialah menggabungkan segenap tenaga orang-orang kecil Indonesia ini, baik dari Sumatera, maupun dari Jawa, maupun dari Sulawesi, maupun dari pulau-pulau lain.

Kalau tidak ada paham atau rasa kebangsaan, bagaimana Saudara-saudara. kita bisa menjalankan perjuangan ini. Maka oleh karena itu dari segi negatif harus paham kebangsaan ini kita masukkan di dalam sila Pancasila. Dari sudut positif, kita tidak bisa mem-bangunkan kultur kepribadian kita dengan sebaik­baiknya kalau tidak ada rasa kebangsaan yang sehat. Kita ingin menjadi satu bangsa yang hidup bersaudara dengan bangsa-bangsa yang lain yang mempunyai kepribadian sendiri, yang mempunyai kultur setinggi-tingginya. Bagaimana kita bisa realiseren kehen­dak ini kalau tidak ada rasa kebangsaan yang sehat antara rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke ini.

Maka oleh karena itu dengan keyakinan yang seteguh-teguh­nya, kita memasukkan sila yang kedua, Kebangsaan, di dalam rangkaian Pancasila.

Dan sebagai tadi saya katakan, dari sudut apapun, baik dari­pada sudut Marxisme yang tidak dangkal maupun dari sudut historis, kebangsaan harus ada. Kita harus memupuk rasa itu dengan cara yang sebaik-baiknya.

Tadi ada yang minta kepada saya supaya dijelaskan sedikit, bahwa negara adalah alat. Hal apa negara itu, sudah saya terangkan kepada Saudara-saudara di dalam kursus yang pertama. Kita menghendaki satu masyarakat adil dan makmur, masyarakat yang tidak ada hisap-menghisap satu sama lain. Itu adalah doel daripada pergerakan kita, daripada perjuangan kita. Alat kita untuk mereal­isasikan hal ini ialah Negara.

Gambarkan begini, Saudara-saudara: Ini Negara. Di dalam Negara itu ada masyarakat. Ada beberapa pihak yang berkata, biarlah negara ini overkoepeling saja, atap. Di bawah atap inilah kita hendak merealisasikan masyarakat adil dan makmur. Penda­pat yang demikian ini, adalah sama salahnya dengan pendapat pihak Sosial Demokrat atau Demokratis Sosialisme yang mau mengadakan satu masyarakat adil dan makmur, hilangnya kapital­isme, dengan cara uithollings-politiek, yang sudah saya kuliahkan di Yogyakarta dengan panjang lebar.

Scbaliknya adalah pendirian lain, yaitu pendirian yang saya anut bahwa kita mempergunakan negara ini sebagai satu alat untuk merubah susunan masyarakat, untuk merealisaikan satu masya­rakat yang adil dan makmur. Jadi gambar saya bukan begini: Ini negara overkoepeling, lantas kita di sini itu dengan reform, artinya yaitu perubahan kecil-kecil, akhirnya mencapai masyarakat adil dan makmur.

Tapi begini: Ini negara. Ini idee, idee masyarakat adil dan makmur. Ini gerakan rakyat, ini perjuangan. Nah, negara kita gerakkan sebagai alat untuk merealisasikan apa yang hendak dicapai oleh perjuangan itu. Apa yang hendak dicapai oleh per­j uangan? Masyarakat yang adil dan makmur!

Siapa membaca tulisan saya ini dari tahun 1933 yang kemarin dulu dan tadi dimuat lagi di dalam, misalnya, surat kabar Sin Po. Bacalah tulisan saya dalam surat kabar Sin Po kemarin dulu dan hari ini. Tulisan itu sudah 25 tahun umurnya, saya tulis dalam tahun 1933. Kita tidak boleh hanya puas dengan reform saja. Reform, yaitu perubahan kecil-kecil. Sebagai tempo hari di Yogyakarta saya katakan kaum Sosial Demokrat berkata, dengan reform sebanyak-banyaknya akhirnya kapitalisme itu uitgehold, digerogoti dan akhirnya gugur! Apa reform itu? Yaitu perubahan kecil-kecil: Gaji dinaikkan, mencapai jam kerja kurang, mencapai perbaikan dalam urusan perumahan, mencapai perbaikan dalam urusan onderwijs. Ini semuanya reform.

Kaum Sosial Demokrat berkata, dengan mencapai reform-re­form ini akhirnya lama-lama kapitalisme itu uitgehold, tergero­goti, akhirnya gugur. Pikiran yang demikian itu adalah sama salahnya dengan pikiran ini. Ini negara. Jangan negara ini diusik­usik, jangan negara ini dipakai sebagai alat, jangan, ini adalah satu hal keramat. Di bawah itulah kita harus menjalankan perbaikan­perbaikan sehingga akhirnya tercapai satu masyarakat yang adil dan makmur. Salah!

Mestinya begini: Ini negara, alat perjuangan kita. Dulu alat perjuangan kita ialah partai, protest meetingen, staking dan lain­lain. Itu alat perjuangan kita zaman dulu tatkala kita belum mem­punyai negara. Sekarang alat perjuangan kita meningkat satu tingkat lagi, yaitu negara. Negara adalah satu machts-organisatie, negara adalah satu alat. Nah, alat ini kita gerakkan. Ke luar, untuk menentang musuh yang hendak menyerang kita, menentang inter­vensi, menentang peperangan, menentang apa saja dari luar. Ke dalam, negara ini kita juga pakai untuk memberantas segala pe­nyakit-penyakit di dalam pagar, tapi juga untuk merealisasikan cita-cita kita akan masyarakat adil dan makmur.

Dus, duduknya begini: Ini idee, kataku. Idee, cita-cita kita, idee yang terselenggara di dalam masyarakat. Mari kita gerakkan sekarang uegara ini sebagai alat agar supaya kita bisa mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

Itulah keterangan yang saya berikan sebagai tambahan kepada kursus saya ini malam, atas pertanyaan seorang Saudara yang minta dijelaskan sedikit mengenai perkataan bahwa negara adalah satu alat, alat perjuangan. Jikalau diperlukan nanti saya bersedia, Insya Allah untuk spesial mengupas hal ini di dalam satu kursus yang lengkap.

 

Sekian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PANCASILA

SEBAGAI DASAR NEGARA

IV

Kursus Presiden Soekarno
Tentang Pancasila
di Istana Negara, Tanggal 22 Juli 1958.

 

Saudara-saudara sekalian, ini malam hendak saya kupas – Insya Allah – di hadapan Saudara-saudara Sila Perikemanusiaan sebagai salah satu sila yang tidak boleh dipisahkan daripada sila yang lain-lain. Sebagaimana yang telah berulang-ulang saya katakan, maka Pancasila kelima-lima silanya adalah satu kesatuan yang tak boleh dipisah-pisahkan satu sarna lain atau diambil sekadar sebagian daripadanya.

Saudara-saudara, lihatlah lambang Negara kita di belakang ini. Alangkah megahnya, alangkah hebat dan cantiknya. Burung Elang Rajawali, garuda yang sayap kanan dan sayap kirinya berelar 17 buah, dengan ekor yang berelar 8 buah, tanggal 17 bulan 8, dan yang berkalungkan perisai yang di atas perisai itu tergambar Pancasila. Yang di bawahnya tertulis slogan buatan Empu Tantu­lar “Bhinneka Tunggal Tka”, Bhina Ika Tunggal Ika, “berjenis­jenis tetapi tunggal”.

Pancasila yang tergambar dengan di pusat bintang cemer-lang atas dasar hitam, sinar cermerlang abadi daripada Ketuhanan Yang Maha Esa. Pohon beringin lambang Kebangsaan. Rantai yang terdiri daripada gelang-gelangan persegi dan bundar, persegi dan bundar yang bersambung satu sama lain dalam sambungan yang tiada putusnya, Peri-kemanusiaan. Banteng Indonesia lambang Kedaulatan Rakyat. Kapas dan padi lambang kecukupan sandang pangan, Keadilan Sosial.

Lihatlah sekali lagi, aku berkata indahnya lambang Negara ini, yang menurut pendapat saya lambang Negara Republik Indo­nesia ini adalah lambang yang terindah dan terhebat daripada seluruh lambang-lambang Negara di muka bumi ini. Saya telah melihat dan mempelajari lambang-lambang negara yang lain-lain, tapi tidak ada satu yang sehebat, seindah, scharmonis seperti lambang Negara Republik Indonesia. Lambang yang telah dicintai oleh rakyat kita sehingga jikalau kita masuk ke desa-desa sampai ke pelosok-pelosok yang paling jauh dari dunia ramai, lambang ini sering dicoretkan orang di gardu-gardu, di tembok-tembok, di gerbang-gerbang, yang orang dirikan, jikalau hendak menyatakan sesuatu ucapan selamat datang kepada seseorang tamu.

Lambang yang dernikian telah terpaku di dalam kalbunya rakyat Indonesia, sehingga lambang ini telah menjadi darah daging rakyat Indonesia dalam kecintaannya kepada Republik, sehingga bencana batin akan amat besarlah jikalau dasar negara kita itu diubah jikalau Dasar Negara itu tidak ditetapkan dan dilang­gengkan: Pancasila. Sebab, lambang negara sekarang yang telah dicintai oleh rakyat Indonesia sampai ke pelosok-pelosok desa itu adalah lambang yang bersendikan kepada Pancasila. Sesuatu pe­rubahan daripada Dasar Negara membawa perubahan daripada lambang negara.

Saya mengetahui bahwa jikalau lambang negara ini diubah, sebagian terbesar daripada rakyat Indonesia akan menolaknya. Cinta rakyat Indonesia kepada lambang ini telah terpaku sedalam­dalamnya di dalam jiwanya, berarti cinta sebagian terbesar dari­pada rakyat Indonesia kepada Pancasila.

Ini malam saya hendak menguraikan kepada Saudara-saudara akan sila Perikemanusiaan. Lihatlah betapa dalamnya cara kita menggambarkan sila Perikemanusiaan itu di atas perisai yang dikalungkan kepada lehernya Garuda Indonesia. Rantai yang per­gelang-gelangannya tiada putus-putusnya, persegi bundar, persegi bundar, persegi bundar terus tiada putus-putusnya, sebagai lam­bang daripada tiada putus-putusnya perhubungan antara laki dan perempuan. Persegi lambang wanita, bundar lambang pria. Wanita pria, wanita pria, tiada putus-putusnya, de onverbreekbare keten der mensheib, rantai yang tiada terputus-putus daripada ke­manusiaan dan perikemanusiaan. Bahkan sudah pernah saya urai­kan di hadapan khalayak ramai bahwa bendera kitapun merah putih sebenarnya melukiskan pula hal terjadinya manusia itu, wanita dan laki-laki. Merah Putih dasar bendera kita bukan saja sekadar merah lambang keberanian, putih kesucian. Bukan pula pengertian yang kita miliki beribu-ribu tahun yang lalu tatkala kita masih meng­agungkan matahari dan bulan, surya dan candera yang pada waktu itu kita kira bahwa matahari adalah sumber sekalian hal, demikian pula isteri matahari juga sumber sekalian hal, sehingga termasuk di dalam pengagungan kita kepada matahari dan bulan itu yang matahari kita lambangkan dengan warna merah, bulan kita lam­bangkan dengan warna putih, sehingga sejak daripada zaman dahulu kita telah memuliakan warna merah dan putih, meskipun belum berbentuk bendera, tetapi telah dalam ingatan kita, perlam­bangan kita, merah putih surya dan candera asal daripada sekalian alam. Demikianlah pengertian kita beribu-ribu tahun yang lalu. Bukan sekadar itu Saudara-saudara, demikian saya katakan di muka umum beberapa kali, bukan hanya surya dan candera, bukan hanya merah adalah keberanian, putih adalah kesucian, tetapi merah putih adalah pula lambang terjadinya manusia. Maaf, ji­kalau boleh saya katakan: merah lambang wanita, putih lambang pria.

Sekali lagi saya mengundang Saudara-saudara melihat akan indahnya perlambangan kita daripada sila Perikemanusiaan di atas perisai itu. Laki perempuan, laki perempuan, dalam satu rantai yang tidak putus-putus. Tetapi ini rantai Saudara-saudara, persegi bundar, persegi bundar, yang tiada putusnya bukan pula hanya melambangkan, melukiskan tiada putusnya hubungan laki-laki dan perempuan, dus tiada putus-putusnya rantai kemanusiaan; manusia beranak, anak beranak lagi, sang anak ini beranak lagi, sang anak ini beranak lagi atau kalau dikembalikan – saudara­saudara – sampai jutaan tahun yang lalu, keten inipun tidak terputus-putus. Orang beranak kemudian bercucu, kemudian ber­buyut, kemudian bercanggah, kernudian berwareng, kemudian bergantung siwur, kemudian berudeg-udeg, tiada putusnya, ini keten ini rantai. Bukan sekadar demikian, tetapi rantai yang kita lukiskan di atas perisai sang Garuda Indonesia ini juga melukiskan hubungan antara bangsa dengan bangsa.

Kita maksudkan bahwa kita daripada Republik Indonesia merasakan bahwa kita ini bukanlah satu bangsa yang berdiri sendiri, tetapi adalah satu bangsa dalam keluarga bangsa-bangsa. Bahwa memang umat manusia sekarang ini yang terdiri daripada pelbagai bangsa-bangsa pada hakekatnyapun adalah satu rantai yang tiada terputus-putusnya. Terutama sekali di dalam abad keduapuluh ini tak dapat kita membayangkan adanya sesuatu bangsa yang dapat hidup dengan tiada hubungan dengan bangsa­bangsa yang lain. Tak dapat kita bayangkan mungkin hidupnya suatu bangsa yang sama sekali terasing daripada bangsa-bangsa lain.

Saudara-saudara, saya tadi berkata keadaan di dalam abad keduapuluh adalah demikian. Demikian pula di dalam beberapa abad yang terdahulu, apalagi di dalam abad-abad yang akan datang. Tiada manusia dapat berdiri sendiri, manusia adalah satu makhluk masyarakat, manusia adalah suatu homo socius. Demikian pula bangsa tak dapat hidup sendiri, bangsa hanyalah dapat hidup di dalam masyarakat umat manusia, di dalam masyarakatnya bangsa-bangsa.

Pada mulanya memang tidak ada yang dinamakan bangsa itu, Saudara-saudara. Bangsa adalah hasil daripada satu pertumbuhan. Zaman dahulu, dahulu sekali tidak ada bangsa, tidak ada yang dinamakan bangsa Indonesia, tidak ada yang dinamakan bangsa Jerman, tidak ada yang dinamakan bangsa Jepang, tidak ada yang dinamakan bangsa Inggris. tidak ada yang dinamakan bangsa Perancis, tidak ada yang dinamakan bangsa Amerika dan demikian seterusnya. Bahkan di dalam kursus saya yang lalu, saya telah uraikan kepada Saudara-saudara bahwa misalnya bangsa Amerika itulah baru berdiri beberapa abad saja yang dahulu tiada ada bangsa Amerika itu, yang dahulu benua Amerika itu didiami oleh suku-suku yang sekarang dinamakan suku Indian; ada suku Sioux, ada suku Apache. Macam-maeam suku Indian yang belum berben­tuk bangsa. Tetapi kemudian Amerika diserbu dimasuki oleh emigran-emigran dari Eropa, emigran-emigran dari Jerman, emi­gran-emigran dari Hongaria, emigran-emigran dari Italia, dari Norwegia, dari Irlandia dan lain-lain negeri. Kemudian emigran­emigran ini menjadi satu konglomerat, percampuran manusia­manusia, yang dinamakan bangsa Amerika. Meskipun sebagai yang saya uraikan di dalam kursus saya yang lalu, bahasanyapun sampai kepada saat sekarang ini belum benar-benar terkonglom­eratkan menjadi satu bahasa Inggris. Tempo hari saya ceritakan kepada Saudara-saudara bahwa di Amerika masih ada orang­orang yang tak dapat berbahasa Inggris, melainkan masih me­makai bahasa aslinya, Jerman, Italia, Hongaria dan lain-lain. Dus, Saudara-saudara melihat bahwa begrip, paham bangsa adalah hasil daripada satu pertumbuhan. Apa maksud saya menguraikan hal ini? Maksud saya menguraikan hal ini ialah untuk menerangkan kepada saudara-saudara bahwa walaupun ada satu rantai yang tak putus-putus antara laki perempuan, laki perempuan, walaupun ada satu rantai yang tak terputus dalam hal kemanusiaan, dalam hal de wording van de mens, bangsa-bangsa adalah hasil daripada per­tumbuhan kemudian.

Labih dulu saya mau menerangkan kepada Saudara-saudara bahwa dengan sengaja kita selalu memakai perkataan ke­manusiaan dan perikemanusiaan. Kemanusiaan adalah alam manusia ini, de mensheid. Perikemanusiaan adalah jiwa yang merasakan bahwa antara manusia dengan lain manusia adalah hubungannya, jiwa yang hendak mengangkat membedakan jiwa manusia itu lebih tinggi daripada jiwa binatang.

Kalau saya memakai perkataan asing, kemanusiaan adalah mensheid, perikemanusiaan adalah menselijkheid. Kemanusia-an adalah alam manusia, sehingga kita boleh berkata dunia ini berke­manusiaan 2700 juta jiwa, perikemanusiaan adalah lain. Jikalau kita berbuat sesuatu yang rendah yang membikin celaka kepada manusia lain, kita berkata kita melanggar peri-kemanusiaan, kita melanggar hukum menselijkheid.

Saudara-saudara, mensheid, kemanusiaan itu memang dari dulu ada. Rasa perikemanusiaan adalah hasil daripada pertum­buhan rohani, hasil daripada pertumbuhan kebudayaan, hasil dari­pada pertumbuhan dari alam tingkat rendah ke taraf yang lebih tinggi. Perikemanusiaan adalah hasil daripada evolusi di dalam kalbunya manusia. Kemanusiaan ada sejak zaman dulu. Zaman dulu sekali Peri-kemanusiaan belum seperti yang kita kenal sekarang, bahkan tadi saya berkata perikemanusiaan hasil dari­pada evolusi. Dulu manusia hidup dalam alam yang masih tingkat rendah, juga bukan saja tingkat rendah materiilnya tapi juga tingkat rendah batinnya. Bahkan di dalam pertumbuhan rasa perikemanusiaan itu adalah sebagai tiap-tiap pertumbuhan apa yang dinamakan pada sesuatu saat ini adalah sesuai dengan perike­manusiaan, di lain waktu sudah tidak dikatakan lagi ini adalah sesuai dengan perikemanusiaan. Apa yang pada satu saat di­katakan baik, di lain waktu dikatakan jahat. Apa yang pada sesuatu saat dikatakan jahat mungkin di lain waktu dikatakan baik. Rasa ini mengalami evolusi. Perikemanusiaan mengalami evolusi, tapi kemanusiaan sejak zaman dulu ada. Jumlahnya kemanusiaan itu sudah barang tentu dulu jauh lebih kecil daripada sekarang.

Sekarang kemanusiaan berjumlah 2.700 juta manusia. Dahulu kalau mengambil daripada pendirian beberapa orang agama yang kolot. dikatakan berasal dari dua manusia: Adam dan Hawa. Adam dan I Iawa ini lantas mulai de onverbreekbare keten der mensheid itu tadi, laki perempuan, laki perempuan, laki perempuan, makin lama jumlahnya makin banyak. Tapi meskipun tidak mengambil pandangan daripada pendapat beberapa orang agama yang kolot, melainkan mengambil pandangan daripada pendapat ilmu penge­tahuan, kemanusiaan pada mulanya berjumlah kecil, tidak seko­nyong-konyong dunia ini didiami oleh 2.700 juta manusia. Mula-mula jumlah yang kecil sekali. Jikalau kita mengambil teori evolusi, saya tidak akan kupas lebih dalam – artinya tidak saya ketengahkan, benar atau tidaknya teori evolusi ini, bahwa manusia adalah hasil daripada pertumbuhan makhluk yang mula-mula eencellige wezens, makhluk-makhluk yang hanya terdiri daripada sel-sel tunggal. Kemudian evolusi menjadi binatang; evolusi lagi menjadi semacam kera; evolusi lagi menjadi manusiasebagai yang kita kenal manusia sekarang ini, yang ilmu ini sebagai tiap-tiap ilmu pengetahuan tentu sedapat mungkin mengeluarkan bukti­bukti penyokong pendapatnya, bukti-bukti yang berupa fosil-fosil. Fosil yaitu entah tanaman, entah binatang, entah tulang yang telah menjadi batu. Bukti-bukti fosil-fosil yang membuktikan: lihat iizi bukan kera, tetapi inipin belum manusia sempurna; dus ini fosil menunjukkan satu langkah antara kera dan manusia sempurna yang kita kenal sekarang ini. Misalnya kalau mengenai tanah air kita fosil yang tempo hari diketemukan oleh Prof Du Bois di desa Trinil dekat Ngawi sebelah utara dari Madiun, di lembahnya Bengawan Solo, fosil yang dengan tegas menunjukkan makhluk ini setengah kera setengah manusia dan ia sudah berdiri, melihat susunan tulangnya, sehingga oleh Du Bois disebutkan makhluk ini adalah – tempo hari sudah saya sebutkan – Pithecanthropus erectus. Pithecus = kera; anthropus = manusia. Pithecanthropus = kera manusia atau manusia kera, tetapi ia sudah erectus, sudah berdiri tegak. Pithecanthropus erectus ini terdapat di dalam zat geologis yang ditaksir umurnya 1 /2 juta tahun. Dus oleh karena fosil ini terdapat di dalam zat geologis, material geologis yang menurut ilmu geologi ilmu batu, usianya ditentukan 1 /2 juta tahun. Du Bois mengambil konklusi, pithecanthropus erectus hidupnya 1/2 juta tahun yang lalu. Mula-mula barangkali pithecanthropus erectus itu mati ter­benam di dalam lumpurnya Bengawan Solo. Sang lumpur ini makin lama makin keras makin lama makin membeku, akhirnya menjadi batu. Nah, batu ini oleh ilmu geologi ditetapkan umurnya 1 /2 juta tahun. Dus makhluk pithecanthropus erectus ini hidupnya 1/2 juta tahun yang lalu.

Saya ulangi: kemanusiaan, baik ditinjau dari sudut agama yang berkata atau sudut beberapa orang agama yang berkata, bahwa kemanusiaan berasal daripada dua manusia Adam dan Hawa yang beranak bercucu berbuyut seterusnya, maupun ditinjau dari sudut ilmu pengetahuan, pada mulanya kemanusiaan ini ber­jumlah kecil.

Dan memang demikian, berjumlah kecil, hidupnya belum berhukum, belum beraturan. Hal ini sudah saya terangkan kepada Saudara-saudara tatkala saya menggambarkan pertumbuhan dari­pada cara manusia mencari makan, yang berhubungan dengan itu pertumbuhan daripada ia punya cara berpikir dan cara percaya. Fase pertama hidup daripada memburu, mencari ikan hidup dalam goa. Fase kedua dari peternakan. Fase ketiga daripada pertanian. Fase keempat daripada kerajinan tangan. Fase kelima daripada industrialisme yang pertumbuhan alam pikirannya adalah sesuai dengan itu. Fase pertama menyembah bulan, angin, batu, sungai. Fase kedua menyembah binatang. Fase ketiga menyembah dewi­dewi yang membawa hasil pertanian: Dewi Sri, Saripohaci dan lain-lain. Fase keempat Tuhannya telah digaibkan. Akal yang membuat adat-adat daripada kerajinan itu, akal itu berkata: Tuhan gaib, oleh karena akal adalah gaib, tidak bisa dipegang, tidak bisa dilihat. Akhirnya di dalam alam industrialisme ada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, meniadakan adanya Tuhan. Ini sudah saya terangkan kepada Saudara-saudara.

Tetapi ditinjau daripada sudut hidup bebrayan, hidup socius, hidup berkemanusiaan di dalam masyarakat, ada juga pertum­buhan-pertumbuhan. Dahulu, saya tadi berkata: jumlah kecil, zon­der hukum, seperti binatang liar yaitu zaman goa, zaman hidup di pohon-pohon. Bahkan rantai laki perempuan, laki perempuan, laki perempuan yang kita lukiskan dengan demikian indahnya, terwu­judkan dalam cara hidup promiscuiteit. Belum ada yang di­namakan perkawinan, belum ada yang dinamakan paringshuwelijk, hidup suami isteri seperti sekarang. Hidup dalam alam promiscuiteit, campur aduk. Hubungan antara persegi dan bundar itu tadi campur aduk, laki dengan perempuan semau­maunya; perempuan dengan laki semau-maunya, sama dengan binatang di dalam rimba. Ada, waktu-waktu sebentar pasangan, itu ada, sebagaimana juga anjing serigala di dalam waktu ia birahi sebentar selalu anjing laki A sebentar selalu dengan anjing perem­puan B, tapi beberapa hari beberapa pekan putus, nanti sudah berhubungan lagi dengan anjing lain. Sebentar berpasangan, tapi kemudian putus hubungan itu, pindah kepada wanita anjing lain atau pindah kepada pria anjing lain.

Manusia di dalam tingkatan yang pertama juga demikian. Ini yang dinamakan hidup promiscuiteit, belum ada hukum.

Tetapi sebagai tempo hari saya katakan di dalam salah satu kursus, kita pantas mendirikan patung kepada wanita, oleh karena wanita inilah yang pertama-tama, kataku, mendapatkan ilmu. Ilmu membuat barang untuk menutup badan. Sudah saya jelaskan dulu, wanita de eerste ontdekster van cultuur. Kultur yang berupa pakaian yang amat sederhana, terbuat dari kulit-kulit binatang yang disambung satu sama lain. Wanitalah, yang pertama-tama membuat alat seperti periuk terbuat daripada tanah. Wanita yang ditinggalkan oleh sang laki promiscue ini tadi untuk mencari binatang, makanan. Tetapi wanita yang karena hamil atau mem­punyai anak kecil terpaksa terpaku di satu tempat. Wanita ini yang pertama-tama mendapat pikiran: biji benih sesuatu tanaman kalau dimasukkan dalam tanah, tumbuh menjadi tanaman dan kemudian bisa berbuah. Wanita de eerste ontdekster van de landbouw.

Demikian pula wanita adalah makhluk pertama yang mem­buat hukum, wanita de eerste wetgeefster. Hukum apa? Hukum keturunan! Hidup promiscuiteit itu tadi persegi bundar, persegi bundar yang tiada putusnya; sebagai tadi saya katakan dari persegi bundar datang anak. Nanti anak ini, juga persegi bundar, datang cucu. Itulah rantai yang tidak putus-putusnya. Tapi tadinya zonder hukum. Tidak bisa dikatakan dia itu anak siapa. Bagaimana bisa dikatakan dia anak si itu, kalau hidupnya tadinya promiscuiteit. Tapi wanita, Saudara-saudara, yang telah mendapatkan ilmu per­tanian, wanita yang telah mendapatkan ilmu membuat gubuk untuk melindungi anaknya yang kecil, sebagai tempo hari saya katakan, ia mula-mula membuat gubuk terbuat daripada daun­daunan, kemudian daripada bahan-bahan yang lebih baik, wanita ini makin lama makin menjadi orang yang penting. Wanita ini makin lama makin menjadi produsen. Produksi makin lama makin di dalam tangannya. Orang laki pergi berburu, mendapatkan bi­natang, entah menjangan, entah rusa, entah apa, tapi wanita yang dengan ia punya ontdekking yang bernama pertanian misalnya, wanita ini makin lama makin penting kedudukannya di dalam alam produksi. Ia makin lama makin penting kedudukannya di dalam masyarakat yang masih liar itu. Dia menjadi pusat daripada manusia, dialah yang memberi makan kepada anak-anak kecil dari ia punya hasil tanaman. Dialah yang bisa conserveren, menyim­pan, ikan-ikan di dalam periuk, dia yang membagi-bagikan ikan­ikan itu kepada anak-anak. Dia menjadi manusia penting. Dan oleh karena dia ekonomis penting. maka akhirnya dia menjadi wet­geefster. dia yang mengadakan aturan. Dia, manusia itu anakku. dia, manusia itu anak dia, dia manusia itu ana, dia, dia anak dia. Dan selalu yang ditunjuk dia itu, dia sekarang yang berbaju hijau, dia yang sekarang berbaju biru, dia sekarang yang berbaju jambrut, dia sekarang yang berbaju merah, dia sekarang yang berbaju merah muda, dia sekarang yang berbaju hijau pupus yang ditunjuk itu selalu wanita. Manusia disebutkan anak si Fulan dan si Fulan itu selalu wanita. Oleh karena memang yang bisa dibuktikan dengan tegas dan jelas dan exact ialah ibunya. Ibu mengeluarkan anak. Tiap manusia bisa melihat: O ya, si A keluar dari itu dia, keluar dari wanita itulah, si B keluar dari wanita itulah, si C keluar dari wanita itulah. Bapaknya siapa? Duka teuing, tidak tahu! Yang jelas ialah ibunya. Sampai sekarang Saudara-saudara, tentang soal siapa bapaknya itu ‘kan duka teuing? Ada seorang ahli masyarakat yang berkata hal siapa bapak itu sebetulnya cuma bersandar atas “goeten Glauben”. Artinya ik geloof ‘t wel, percayalah, si Anu itu bapaknya si Anu. Tapi kalau disuruh membuktikan dengan exact?

Tapi ibunya jelas siapa.

Nah, wanita mengadakan hukum. Hukurn yang kemudian dinamakan hukum matrilineaal, hukum peribuan. Manusia anak si Fulan dan si Fulan itu wanita, yaitu ibunya. Saya menyimpang sebentar, sebagai ilustrasi, bahwa hukum matrilineaal diambil garis dari ibu itu, memang hukum dari zaman dahulu ternyata dari cerita-cerita kuno yang restannya sampai sekarang masih ada di beberapa daerah. Di India, suku Nair, masih hidup sekarang ini memakai hukum matrilineaal.

Sedikit menyimpang dari hukum matrilineaal yang exact yaitu kita masih mendapatkan juga di Minangkabau yang di­namakan matriarchaat, restan daripada zaman dahulu. Ada juga orang yang berkata – ini sekadar saya sitir daripada sesuatu tulisan di dalam suatu kitab ilmu pengetahuan – kalau di dalam Agama Islam Isa dinamakan Isa ibnu Maryam, Nabi Isa anaknya Maryam. itu, kata sebagian daripada orang agama, tidak membuk­tikan bahwa Isa tidak mempunyai bapak, sebab sebagian lagi daripada kaum agama berkata: Isa tidak mempunyai bapak.

Manusia itu ada yang tidak mempunyai bapak, seperti Isa; ada yang tidak mempunyai ibu. Di dalam mythologie Yunani ada misalnya Adonis dikatakan tidak mempunyai ibu; dia keluar dari­pada sang bapak. Ya, di dalam mythologie itu macam-macam. Seperti Karna, Adipati Basukarna di dalam cerita wayang, maka ia dinamakan Karna ialah oleh karena menurut mythologie ia itu mempunyai ibu, tetapi tidak keluar dari jalan yang biasa; keluarnya daripada telinga. Ibunya namanya Kunti. Keluar daripada telinga, maka itu dinamakan Karna; karna adalah telinga.

Saya tadi ceritakan hal Isa. Kalau – ini kata sebagian dari­pada pihak agama -, kalau Isa disebutkan di dalam kitab agama Al Qur’an Isa Ibnu Maryam, itu bukan satu bukti bahwa Isa tidak mempunyai bapak, melainkan bahwa Isa dilahirkan di dalam zaman matrilineaal. Di dalam zaman matrilineaal memang yang disebutkan itu ibunya. Jadi, kalau saya umpamanya hidup di dalam zaman matrilineaal, ibu saya namanya Ida Nyoman Rai, ya Sukarno ibnu Ida Nyoman Rai, bukan Soekarno ibnu Sosrodi­harjo, tapi Sukarno ibnu Ida Nyoman Rai.

Nah, saya kembali lagi kepada kemanusiaan. Hidup promis­cuiteit dengan tiada hukum, tapi wanita akhirnya mengadakan hukum peribuan. Pada waktu itu belum ada bangsa, manusia hidup dalam gerombolan dengan wanita sebagai pusat, wanita yang berkuasa. Sociologis ialah oleh karena wanitalah produsen, oleh karena hidup manusia di dalam tangan wanitalah. Manusia men­dapat makan dari wanita, wanita yang bercocoktanam, wanita yang menghasilkan padi dan gandum, wanita yang menjadi wet­geefster, wanita berkedudukan penting, mengepalai satu famili besar sekali. Pada waktu itu belum ada yang dinamakan suku, belum ada yang dinamakan bangsa. Pada waktu itu manusia hidup di dalam satu famili yang di dalam ilmu pengetahuan disebut: verwantschapsfamilie.

Vcrwantschapsfamilie ini mula-mula hidup di dalam satu rumah yang panjang sekali, besar; anaknya, cucunya, segalanya hidup di situ dengan berpusatkan seorang wanita. Kemudian ber­tambah besar, bertambah besar menjadi suku, yang dus pada asalnya suku itu adalah pertumbuhan daripada verwantschapsfa­milie. Kemudian beberapa suku manusia, berhubung dengan pen­carian hidup, datang berkumpul di dalarn satu daerah, hidup di satu daerah. Nah, jikalau manusia-manusia yang banyak yang tadinya verwantschapsfamilie, lebih menggabungkan lagi di dalam een­heden yang lebih besar: suku, suku, suku, jikalau jumlah manusia­manusia yang banyak ini mengalami pengalaman-pengalaman yang sama sehingga dia punya karakter-trekken menjadi sama pula – ingat definisi Otto Bauer: Eine Nation ist eine aus Schicksal Gemeinschaft erwachsene Charakter Gemeinschaft, bangsa adalah satu persatuan watak yang tumbuh daripada persatuan pengalaman-pengalaman, – jikalau manusia-manusia yang ba­nyak, gerombolan-gerombolan manusia yang terdiri mula-mula daripada verwantschapsfamilie kemudian suku-suku, sudah men­capai persatuan watak yang demikian itu, mempunyai rasa ingin hidup bersatu, Ernest Renan, “le desir d’etre ensemble”, baru pada saat itulah lahir apa yang dinamakan bangsa; bangsa yang ke­mudian di mana-manapun terjadi: bangsa, bangsa.

Tapi dus sudah nyata bahwa adanya bangsa Indonesia, adanya bangsa India, adanya bangsa Jepang, adanya bangsa yang lain-lain itu, pada mulanya adalah berasal daripada kemanusiaan yang kecil jurnlahnya, tapi berkembang biak via verwantschapsfamilie, via suku-suku, via pertumbuhan seterus-nya. Dan kita menginjak abad­abad yang kita kenal sebagai abad-abad yang bersejarah. Kita mengenal pertumbuhan daripada apa yang dinamakan bangsa­bangsa ini, yang dulu sudah saya katakan, dulu tidak ada bangsa Jermania, dulu cuma ada bangsa kecil Pruisen, bangsa kecil Beieren, bangsa kccil Saksen, bangsa kecil Mecklenburg dan lain-lain tumbuh berkembang menjadi bangsa besar Jermania.

Uulu di Italiapun demikian, tumbuh menjadi satu bangsa besar Italia, di Jepang demikian pula tumbuh, akhirnya menjadi satu bangsa besar. Maka duniapun yang sekarang terdiri daripada bangsa-bangsa itu di dalam pertumbuhan selanjutnya akan makin Iama makin menghilangkan batas-batas tajam antara bangsa dan bangsa. Inilah yang saya namakan tempo hari di dalam salah satu kursus saya paradok historis daripada abad yang kita alami. His­toris paradok daripada abad yang kita alami ialah, politik: kita melihat terjadinya bangsa-bangsa, terjadinya negara-negara nasional, terjadinya batas-batas yang melingkari bangsa-bangsa dan negara-negara nasional, tetapi sebagai paradok daripada itu pertumbuhan sebagai akibat daripada perkembangan teknik ter­utama sekali, justru menghapuskan setapak demi setapak adanya batas-batas bangsa itu. Di satu pihak terjadinya negara-negara nasional dan bangsa-bangsa, di lain pihak perhubungan yang makin rapat antara manusia dan manusia dan antara bangsa dan bangsa.

Saudara-saudara, sehingga jikalau kita mau berdiri sendiri sebagai bangsa tak rnungkinlah, dunia telah menjadi demikian. Maka oleh karena itu kitapun di dalam Republik Indonesia ini yakin di dalam tekad kita bahwa kita ini tidak hanya ingin meng­adakan satu bangsa Indonesia yang hidup dalam masyarakat yang adil dan makmur. Tidak. Tapi kita di samping itu bekerja keras pula untuk kebahagiaan seluruh umat manusia.

Tergambar jelas di dalam Pancasila, misalnya kalau kita menyebut keadilan sosial. Keadilan sosial yang nanti akan kita adakan bukan sekadar keadilan sosial di dalam lingkungan bangsa Indonesia, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Maka oleh karena itulah misalnya, kita mengadakan politik bebas dan aktif. Bahkan kita vakin masyarakat adil dan makmur tak mungkin kita dirikan hanya di dalam lingkungan bangsa Indonesia saja. Masyarakat adil dan makmur pada hakekatnya adalah sebagian daripada rnasyarakat adil dan makmur yang mengenai seluruh kemanusiaan. Tentang hal ini, Saudara-saudara, saya mau mence­ritakan kepada Saudara-saudara sebagai satu contoh untuk mem­pertajam Saudara punya pengertian, sebagai satu ilustrasi:

Perjuangan yang hebat atau katakanlah gedachtestrijd yang hebat di Sovyet Uni beberapa puluh tahun yang lalu, yaitu gedachtestrijd yang hebat sekali antara golongan yang dikepalai oleh Trotsky dan golongan yang dikepalai oleh Stalin. Dua go­longan ini hebat memperdebatkan soal ini, sehingga akhirnya menjadi pertikaian politik, bahkan menjadi pertikaian kekuasaan, yang akhirnya Trotsky dikalahkan oleh Stalin.

Bagaimana, Saudara-saudara, duduknya perkara?

Baik Trotsky maupun Stalin menghendaki satu masyarakat adil dan makmur ala Rusia. Kita selalu mengatakan kita meng­hendaki masyarakat adil dan makmur ala Indonesia. Merekapun mempunyai cita-cita satu masyarakat yang adil dan makmur, katakanlah komunisme. Dua-duanya menghendaki komunisme, dua-duanya menghendaki hilangnya stelsel kapitalisme, dua­duanya menghendaki manusia tidak dihisap oleh manusia yang lain, dua-duanya mau meniadakan exploitation de 1′homme par 1′homme, dua-duanya ingin mengadakan masyarakat sama rata sama rasa tanpa kapitalisme. Tapi toh ada perdebatan, bentrokan kemudian yang hebat sekali.

Apa kata Trotsky? Trotsky berkata: “musuh kita, kapital-isme, tidak bersarang di Rusland saja. Musuh kita kapitalisme adalah sudah mencapai tingkatan internasional kapitalisme. Musuh kita telah mencapai internasional imperialisme, yang dus tidak ber­cokol di sesuatu negeri saja, tapi bercokol di seluruh dunia. Kita telah berhasil mengadakan revolusi di tanah air kita, yaitu di Rusland. Kita tak dapat mendirikan satu masyarakat sosialis atau komunis di Rusland saja, jikalau kita tidak pula menumbangkan kapitalisme di lain-lain negeri”. Oleh karena itu Trotsky minta dan menuntut supaya revolusi yang diadakan di Sovyet Uni itu dite­ruskan di negeri-negeri yang lain, dijadikan satu revolusi inter­nasional. Dan bukan saja dijadikan satu revolusi internasional, tapi Trotsky berkata bahwa penumbangan kapitalisme, bahwa perju­angan menghilangkan stelsel kapital-isme itu bukanlah satu per­juangan daripada setahun dua tahun, sedetik dua detik.

Perjuangan menumbangkan kapitalisme adalah perjuangan terus-menerus, perjuangan tiap hari. Perjuangan menentang segala sifat-sifat, perjuangan menentang segala uitingen daripada stelsel kapitalisme itu, adalah perjuangan tiap hari terus-menerus dengan tiada berhenti.

Tidak cukup perjuangan sekadar pada satu saat merebut poli­tieke macht, tampuk pimpinan Pemerintah direbut oleh kaum proletariat. Tidak cukup. Tapi perjuangan tiap hari, sekarang merebut tampuk pimpinan pemerintahan, besok merebut kekuasaan di dalam alam itu, besok lusa merebut kekuasaan di dalam alam itu, besok lusa lagi di alam itu, plus, bukan hanya di Sovyet Rusia, tapi di seluruh muka bumi.

Oleh karena itu Trotsky berkata: “Kita punya revolusi haruslah satu revolusi permanen, revolusi terus-menerus dan me­musatkan perhatian kepada revolusi terus-menerus itu. Jangan sebentarpun mengadakan satu adem pauze, jangan sebentarpun mengadakan pemusatan pikiran kita kepada apa yang dinamakan pembangunan. Tidak! Terus gempur, gempur, di segala lapangan, di segala hari, di segala negeri. Revolusi sosialis adalah satu revolusi permanen, kalau sosialisme hendak tercapai”. Revolusi ini oleh Trotsky dinamakan permanente revolutie. Trotsky mengeluarkan ia punya teori: permanente revolutie. De theorie van de permanente revolutie, teori yang amat dikenal oleh barisan kaum sosialis-komunis beberapa puluh tahun yang lalu.

Stalin, Saudara-saudara, berpendapat lain. Stalin dan Trotsky itu dua nama pedengan. Trotsky sebenarnya ia punya nama asli ialah Leon Bronstein. la adalah orang Yahudi. Di dalam gerakan revolusioner ia memakai nama pedengan: Trotsky atau Leon Trot­sky.

Stalin dia punya nama asli ialah Jugas Villi. Dia ambil nama pedengan Stalin, orang yang terbuat dari baja. Ia adalah orang dari Georgia, dilahirkan di kota Tbilisi (Tiflis); namanya Jugas Villi. Masuk di dalam gerakan pada umur sangat muda dan terus me­makai nama pedengan Stalin.

Stalin berpendapat lain. Ia berkata: “Kalau kita mau terus-te­rusan menjalankan teori permanente revolutie, Revolution in per­manent, tidak akan bisa kita mencapai sosialisme di dalam jangka waktu umur beberapa generasi. Tapi marilah kita lebih dahulu menyusun satu benteng proletariat. Benteng itu sudah di dalam tangan kita, yaitu Rusland atau lebih tegas lagi yang dinamakan Sovyet Uni. Buatlah Sovyet Uni menjadi satu citadel daripada perjuangan seluruh proletariat dunia nanti untuk menjalankan sosialisme.

Tapi perkuatlah citadel ini lebih dahulu. Jangan terlalu engkau memikirkan revolusi di negeri-negeri lain, jangan terlalu engkau membuang energi 100% kepada revolusi di Inggris, revolusi di Italia, revolusi di Jerman, revolusi di Perancis, revolusi di Amerika Selatan, revolusi di Amerika Utara, revolusi di Kanada”. Tidak, kata Stalin. “Pusatkan engkau punya perhatian lebih dulu kepada pemerkuatan benteng yang telah di dalam tangan kita. Jadikan Sovyet Uni citadel van het wereld proletariaat. Dan agar supaya bisa membuat Sovyet Uni ini citadel daripada wereld proletariaat, bangunkanlah Sovyet Uni sehebat-hebatnya”. Malahan Stalin berkata: “Mungkin, het is mogelijk mendirikan satu masyarakat adil dan makmur di dalam satu negeri”.

Trotsky berkata: “Tidak bisa mendirikan sosialisme di dalam satu negeri sebelum kapitalisme di seluruh dunia gugur. Sosial­isme hanyalah bisa berdiri di semua negeri bersama. Tidak bisa satu negeri sosialistis”. Stalin berkata: “Neen, mogelijk, bisa mengadakan sosialisme di satu negeri, yaitu di sovyet Uni. Oleh karena Sovyet Uni cukup bahan-bahannya, cukup mineralen, cukup luasnya tanah, cukup penduduk, cukup ini cukup itu, cukup material. baik material pisik maupun material yang berupa benda, maupun material batin”.

Saya sendiri selalu berkata, bahwa kita misalnya harus meng­adakan mental investment.

Stalin berkata: “Cukup material di Sovyet Uni ini untuk mere­alisir sosialisme hanya di Sovyet Uni dahulu, dan perkuat-kan Sovyet Uni menjadi citadel daripada seluruh proletariat sedunia”.

Dan oleh karena dia berkata: cukup Sovyet Uni saja, mungkin, mogelijk untuk mendirikan sosialisme di dalam satu negeri saja, maka ia menjalankan politik isolationist. Ia tutup batas Sovyet Uni itu sampai dunia luaran mengatakan bahwa Sovyet Uni adalah seperti di belakang tembok besi Tiada ada orang bisa melihat apa yang terjadi di belakang tembok besi itu, hermetis ditutupnya.

Dua paham ini bentrokan satu sama lain. hebat perdebatan-nya, sampai menjadi de strijd om de macht pula. Bukan strijd om de idee, tapi juga strijd om de macht, yang akhirnya Trotsky kalah. la dibuang oleh Stalin ke Alma Ata, kemudian diper-bolehkan ke luar negeri, cari tempat exil di luar negeri.

Akhirnya mendapat exil di Mexico. Tapi di Mexico iapun masih terus mengajarkan ia punya teori permanente revolusi dan terus ia menyerang pada Stalin. Pada suatu hari orang pengikut Stalin atau alat Stalin menghabisi ia punya jiwa dengan membacok ia punya kepala dari belakang.

Saudara-saudara, dua idee yang bertentangan satu sama lain, bertempur satu sama lain, berebutan kekuasaan satu sama lain, yang akhirnya satu kalah. Sesudah kalah satu ini, maka Sovyet Uni memasuki periode yang dikenal oleh dunia luar: periode Stalin­isme, periodc penutupan, periode isolasi, periode mem-perkuat benteng di dalarn lingkungan pagar besi itu. Periode pemerkuatan benteng ini melalui fase-fase pembersihan, fase-fase penangkap­an, fase-fase kalau perlu pendrelan dan pembunuhan.

Datanglah akhirnya reaksi terhadap kepada periode ini.

Reaksinya ialah periode yang kita alami sekarang, yang Sovyet Uni sekarang mulai membuka ia punya pintu, yang Sovyet Uni sekarang sendirinya menginguk ke luar negeri dan memboleh­kan orang luar negeri menginguk pula ke dalam, yang Sovyet Uni mencari hubungan sebanyak-banyaknya dengan luar negeri.

Kita bagaimana Saudara-saudara? Sebagai tadi pada permu­laan telah saya katakan, kita tidak dapat menyelenggarakan satu masyarakat adil dan makmur di dalam negeri kita ini jikalau kita menjalankan politik isolationisme pula. Kita harus mencari hu­bungan dengan bangsa-bangsa atas dasar persamaan, atas dasar daulat sama daulat, atas dasar mutual benefit, menguntungkan dan diuntungkan. Ini adalah satu politik yang tegas kita jalankan, yang pada inti jiwanya ialah politik yang berdiri atas beginsel kebang­saan, tapi juga atas beginsel perikemanusiaan. Apalagi kita yang masih di dalam periode nationale revolutie menumbangkan impe­rialisme yang kita mengetahui bahwa imperialisme adalah impe­rialisme inter-nasional yang di dalam waktu yang akhir-akhir ini berhubung dengan adanya subversi asing dan intervensi asing kita aan den lijve ondervinden bahwa imperialisme yang harus kita tumbangkan bukan hanya imperialisme Belanda, tapi antek-antek dan kawan-kawan daripada imperialisme Belanda itu pula, artinya yang kita aan den lijve ondervinden bahwa kita menghadapi pula internasional imperialisme, tak dapat kita melepaskan diri kita daripada bekerja sama dengan bangsa-bangsa yang juga menen­tang imperialisme itu.

Oleh karena itulah Indonesia menjadi salah satu sponsor daripada Konferensi Asia Afrika. Oleh karena itulah pula maka Indonesia dengan terang-terangan memberi bantuan kepada per­juangan bangsa-bangsa yang lain. Oleh karena itulah Indonesia pula mencari bantuan dari bangsa-bangsa yang lain.

Hal yang saya ceritakan ini adalah mengenai bidang politik, bidang perjuangan. Tapi sila Perikemanusiaan bisa juga kita terangkan daripada bidang-bidang yang lain. Bukan sekadar bi­dang politik, perjuangan politik menuntut kita bekerja sama de­ngan bangsa-bangsa lain -bukan saja itu -bukan saja keyakinan bahwa kita tak mungkin mengadakan satu masyarakat sosialisme ala Indonesia, sosialisme Pancasila, jikalau kita mengadakan iso­lasionisme, tidak mau berhubungan dengan bangsa-bangsa yang lain, tapi juga dari sudut apapun, rnaka nasionalisme Indonesia harus disegari pula oleh Peri-kemanusiaan. Tatkala saya mengusul­kan Pancasila sebagai dasar negara dalam bulan Juni 1945, saya telah berkata: “Nasionalisme hanyalah dapat hidup subur di dalam taman sarinya internasionalisme. Internasionalisme hanyalah da­pat hidup subur jikalau berakar di buminya nasionalisme. Dua ini harus wahyu-mewahyui satu sama lain”.

Apalagi jikalau kita, sebagai tempo hari telah saya katakan kepada Saudara-saudara, ingat, bahwa kita ini adalah satu bangsa yang tidak boleh tidak harus religius. Saya berkata tidak boleh tidak, oleh karena sosiologis kita ini adalah satu bangsa yang buat sebagian besar masih hidup di dalam alam agraris dan tempo hari saya terangkan kepada Saudara-saudara bahwa tiap-tiap bangsa yang masih hidup dalam alam agraris, tidak boleh tidak adalah religius.

Saya ulangi apa yang saya katakan tempo hari, bangsa agraris selalu mencantumkan ia punya harapan juga kepada faktor-faktor gaib. Bangsa agraris yang sudah menyangkul ia punya tanah sudah mendeder ia punya bibit, menunggu sang bibit ini tumbuh dan kemudian berkembang dan kemudian berbuah sambil mohon. mengharap-harap hujan jangan terlalu banyak, kering jangan ke­ring, memohon ibaratnya daripada bintang-bintang dan Tuhan agar supaya tumbuhnya ia punya tanaman ini diberkati oleh hujan, diberkati oleh sinar matahari dan lain-lainnya. Bangsa yang agraris tidak boleh tidak mesti hidup di dalam religiositet. Apalagi jikalau kita ingat akan hal itu, maka faktor perikernanusiaan amat menon­jol kepada kita. Tiap-tiap bangsa yang agraris tebal ia punya rasa Peri-kemanusiaan.

Agama, Saudara-saudara, agarna apapun, semuanya meng­hendaki rasa perikemanusiaan. Kalau saya kupas agama yang besar-besar, mulai dengan agama yang disebarkan oleh Nabi Musa, de Godsdienst van Israel, hanya agama Musa itulah yang masih tebal ia punya kebangsaan. Namanya juga sudah Godsdienst van Israel. Coba baca sejarah daripada agama Israel, katakanlah agama Yahudi. Tampak benar ini adalah satu nationale religie, satu agama untuk menyelamatkan bangsa Israel. Sifat kebangsaan, sifat nasionaliteit masih tebal di Agama Musa ini. Ia memimpin ia punya bangsa, bangsa Israel keluar daripada penindasan di Mesir di bawah pemerintahan Firaun. Musa berjalan di hadapan puluhan mungkin ratusan ribu rakyat Yahudi ini sebagai pemimpin bangsa Yahudi, mencoba membawa mereka kepada satu daerah yang dinamakan Het beloofde land, tanah yang telah dijanjikan oleh Tuhannya ialah tanah Israel, tanah yang akan memberikan keba­hagiaan kepada mereka.

Saudara-saudara kenal akan cerita dia dikejar-kejar oleh laskar Firaun. Kenal bahwa ia menyeberangi laut yang menurut ceritera agama ialah dengan ia punya tongkat, laut itu dipecahkan airnya sehingga satu bagian kering dan dia dengan ia punya rakyat Israel itu tadi melalui bagian kering itu. Pihak Wetenschap berkata: Bagian laut itu memang kadang-kadang mengalami pasang surut yang sangat rendah sekali sehingga memang kebetulan pada waktu itu pasang surutnya demikian rendahnya dan lamanya, lautan itu memang lautan kering dan Musa bisa mclewati dasar lautan itu.

Bagaimanapun juga Saudara-saudara, agama Musa masih menunjukkan corak nasional yang tebal, Godsdienst van Israel untuk memberi kebahagiaan kepada rakyat Israel, yang dasar inilah sampai sekarang dipakai oleh partai agama di Negara Israel yang didirikan beberapa tahun yang lalu. Di Israel itu ada partai Sosialis, ada partai Komunis yang kecil, ada juga partai yang dinamakan partai ortodox yang sama sekali berdiri di atas ajaran ini “dit land van Israel is ons beloofde land” dan menurut kitab-ki­tab, kita akan mengalami kebahagiaan di tanah ini.

Agama Musa jelas mempunyai sifat-sifat yang tebal kebang­saan. Tidak demikian agama-agama yang lain. Ambil kronologis agama Budha sebagai yang diajarkan oleh Budha Sakya Muni. Sidarta namanya pada waktu ia masih muda, anak Raja Kapilawastu Sidarta. Sidarta akhirnya bertapa, berjuang mencari kebenaran. Akhirnya ia dinamakan Budha Sakya Muni. Agama daripada Budha Sakya Muni ini dengan tegas tidak berdiri atas dasar kebangsaan, hanya berdiri di atas pembersihan kalbu, be­geerteloosheid. Agama Israel tidak, istimewa untuk orang Israel, untuk bangsa Israel, berdiam di tanah di kanan-kirinya sungai Yordan. Budha tidak. Setengah manusia bisa mencapai keba­hagiaan. “Aku”, kata Budha, “tidak akan membawamu kepada sesuatu tanah sebagai Musa. Aku tidak berhadapan dengan bangsa India, aku berhadapan dengan tiap-tiap manusia yang ingin men­capai kebahagiaan dan jalannya ialah membunuh begeerte, mem­bunuh nafsu. Bunuhlah engkau punya nafsu, dengan sendirinya engkau masuk Nirwana. Bunuhlah engkau punya nafsu-nafsu, dengan sendirinya engkau akan mencapai kebahagiaan”.

Oleh karena itu tempo hari saya berkata di dalam salah satu pidato: agama budha tidak mengenal begrip Tuhan. Agama lain mempunyai begrip Tuhan: Ya Allah atau Ya Tuhan atau Ya God atau Yehova, mohon, mohon; ada tempat permohonan. Budha berkata tidak ada, tidak perlu engkau mohon-mohon, cukup engkau bersihkan engkau punya kalbu daripada nafsu dan dia sebut delapan nafsu. Bunuhpadamkan delapan nafsu ini, dengan sendirinya engkau masuk di dalam Sorga; artinya engkau akan mencapai kebahagiaan, engkau akan masuk Nirwana. Agama Budha pada orisinilnya Saudara-saudara, inilah, dan ini yang dinamakan Budhisme Hinayana. Tiap-tiap manusia bisa langsung masuk ke dalam alam Nirwana. Engkau bisa, engkau bisa, asal engkau bisa membunuh delapan macam nafsu itu.

Delapan nafsu ini bunuhlah, oleh karena nafsu itulah sumber daripada semua ketidakbahagiaan. Jikalau engkau bisa membunuh delapan nafsu ini, sekaligus dengan langsung engkau bisa masuk dalam Nirwana. Agama Budha asli ini dinamakan Hinayana. Hina artinya kecil, Yana artinya kereta; kereta kecil. Naiklah kereta kecil ini, engkau masuk dalam nirwana. Kereta kecil ini apa? Pernbunuhan nafsu yang delapan.

Di samping itu Saudara-saudara, sesudah Budha Sakya Muni meninggal dunia, sebagaimana tiap-tiap agama, pengikut-nya lan­tas diperdalam, diperlebar, diperdalam, diperlebar, timbul paham­paham yang lebih daripada itu. Lihat agama Kristen, lihat agama Islam. Pada mulanya lsa menghendaki satu, bukan? Tetapi pengikutnya kemudian mengadakan bermacam-macam ini-itu, ini-itu. Bertengkar ini dan itu, timbullah cabang-cabang. Ada cabang agama Kristen ini ada cabang agama Kristen itu. Islam juga begitu. Muhammad menghendaki satu agama, tapi belakangan pengikut-pengikutnya sesudah ia meninggal, debat ini-debat itu, tambah ini-tambah itu, sampai terjadi macam-macam aliran, sam­pai pada satu saat sudah tidak bisa diperdebatkan lagi saking sama-sama pinternya. Sampai lantas diadakan permufakatan: sudah, jangan debat-debat diteruskan, kita akui saja semuanya ini benar. Engkau Malik benar, engkau Hanafi benar, engkau Syafii benar, engkau Hambali benar; akui semua mazhab. Mazhah itu tidak ada zaman Muhammad, Saudara-saudara! Belakangan, demikian, ada mazhab Maliki, Syafii, Hambali, Hanafie; bahkan belakangan ada macam-macam aliran lagi, ada Akhmadiah Qadian, Akhmadiah Lahore. Ada macam-macam tarikah: tarikah Tijaniyah, Kadiriyah, Subandiyah, ini dan itu.

Demikian pula agama Budha, ditambah-tambah, lantas men­jadi manusia itu tidak bisa satu kaligus dalam satu hidup. Sekarang hidup lantas disucikan batin daripada 8 nafsu, masuk Nirwana. Tidak bisa! Manusia itu harus melalui siklus bersambung-sam­bung, dilahirkan – mati – inkarnasi di dalam makhluk lain. Hidup – mati – inkarnasi lagi di dalam makhluk yang lain. Nah, makin lama kalau untung makin lama makin tinggi, kalau celaka makin lama makin turun. Manusia kalau dia bisa mengekang ia punya nafsu, bisa berbuat bijak dan bajik, mati -inkarnasi dalam satu makhluk manusia yang lebih tinggi. Hidup berpuluh-puluh tahun, mati, inkarnasi dalam makhluk yang lebih tinggi ia punya taraf kej iwaan. Demikian sambung-bersambung, sambung-ber­sambung melalui siklus berpuluh-puluh beratus-ratus, beribu-ribu, akhirnya tercapai tingkat yang tertinggi-sempurna, masuklah ia dalam Nirwana. Tapi kalau kita tidak bisa mempersucikan kita punya diri, siklus ini garisnya menurun. Lebih dulu manusia, kemudian bisa menjadi kerbau, kemudian menjadi babi, kemudian menjadi ini, kemudian menjadi itu.

Budhisme yang ini dinamakan Budhisme berkereta besar. Tadi dinamakan Budhisme kereta kecil, Budhisme Hinayana. Tapi Budhisme yang siklus-siklus itu dinamakan Budhisme Mahajana. Hinayana dan Mahayana. Tapi baik Hinayana mau-pun Mahayana tidak berdiri di atas dasar kebangsaan, langsung menuju kepada manusia-manusia dan manusia satu sama lain harus hidup seperti saudara dengan saudara.

Kronologis, masuk ke alam Isa. Juga Nabi Isa tidak terutama sekali berdiri di atas kebangsaan. ia punya ajaran ditujukan kepada semua manusia. Malah dcngan tegas ia menganjurkan: cintailah sesama manusia. Tuhan di atas segala hal, tapi sesama manusia seperti engkau mencintai diri sendiri. Heb God lief boven alles en Uw naasten gelijk U zelf. Cintailah Tuhan di atas segala hal dan cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Isa membasirkan ia punya ajaran bukan kepada kebahagiaan bangsa, tetapi kepada cinta dan kasih, liefde. Liefde terhadap Tuhan, liefde terhadap sesama manusia.

Kronologis: masuk di dalam alam – kronologis sebetulnya agama Hindu lebih dulu, bahkan lebih dulu daripada Budha Sakya Muni, Prins Sidarta – agama Hindupun tidak terutama sekali ditujukan kepada bangsa, tetapi kepada perikemanusiaan, yang ini di dalam tiap-tiap pidato saya tandaskan salah satu adagium dari­pada Hinduisme ialah Tat Twam Asi. Tat Twam Asi yang berarti: aku adalah dia, dia adalah aku. Yang dus pada hakekatnya tidak ada perbedaan dan pemisahan antara dia dan aku, bahkan tidak ada perbedaan dan perpisahan antara manusia dan alam semesta ini, bahwa segala isi alam semesta itu pada hakeka.tnya satu, berhu­bungan satu sama lain, rapat.

Rasa kesatuan antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sernesta ini, segala yang kumelip di dalam alam semesta ini, rasa kesatuan itu dinamakan Advaita. Aku ada hu­bungan dengan Saudara Ahem, Saudara Ahem ada hubungan dengan aku, aku ada hubungan dengan gunung, ada hubungan dengan awan, ada hubungan dengan laut, ada hubungan dengan udara, ada hubungan dengan burung yang sekarang sedang ber­cicit, ada hubungan dengan cecak yang saya lihat di sana, ada hubungan dengan isi kumelip daripada alam semesta ini.

Itu adalah Advaita dan inilah Advaita itu yang digambarkan oleh Krishna di dalam ucapannya terhadap pada Arjuna di dalam kitab Baghawad Gita sebagai yang di dalam pidato Kongres Kebatinan saya sentil sedikit. Tatkala Krishna diminta oleh Arjuna “Aku ingin mengetahui engkau itu di mana dan siapa, engkau melihat dirimu – badanmu Krishna, tapi sebenarnya engkau itu di mana, sebenarnya engkau itu siapa”. Lantas Krishna menjawab: “Aku, aku adalah di dalam tumbuh-tumbuhan, aku adalah di dalammu, aku adalah di dalam gunung yang membiru, aku adalah di dalam samudera, aku adalah di dalam geloranya samudera, aku adalah api, aku adalah panasnya api, aku adalah di dalam bulan, aku adalah di dalam sinarnya bulan. Aku adalah di dalam angin yang meniup sepoi-sepoi, aku adalah di dalam awan yang ber­gerak, bahkan aku adalah di dalam batu yang disembah oleh orang yang masih biadab, aku di dalam perkataan keramat Om – Sembahyangan orang Hindu atau orang Budha dimulai dengan perkataan Om. Om itu kalau Islamnya salam, peace atau vrede. “Aku adalah di dalam perkataan Orn, aku adalah di dalam rasa manusia, aku tidak dilahirkan, aku tidak akan mati, aku adalah awal daripada segala hal, aku adalah akhir daripada segala hal, aku adalah di dalam ganda harumnya bunga-bunga, aku adalah di dalam senyumnya gadis yang cantik, aku adalah tak dapat di­katakan kata”. Lantas Arjuna menanya: “Bolehkah aku melihat engkau di dalam sifatmu yang sebenarnya ini?” “Arjuna! Aku akan membuat engkau lebih dahulu kuat melihat aku. Sebab engkau jikalau melihat aku di dalam zatku yang sebenarnya, engkau tidak akan kuat, tidak akan tahan jikalau aku tidak membuat engkau lebih dahulu kuat dan tahan”.

Sesudah Arjuna dibuat tahan melihat, Krishna lantas berubah dia punya jirim. “Lihat, ini aku!” Arjuna melihat Krishna. Apa yang dia lihat? Bukan gambar manusia Krishna atau Nayarana. Dia laksana melihat sejuta matahari bersinar, dia melihat sernua setan dan jin berkumpul, dia melihat api menyala-nyala di Utara, di Barat, di Timur, di atas, di bawah. Dia melihat angin taufan meniup bergelora, dia melihat pepohonan mengadakan nyanyian, dia melihat lautan di mana-mana, dia melihat mata seperti mata manusia tetapi di mana-mana kelihatan mata. Lantas sesudah demikian, Krishna berkata: “Nah, demikianlah aku. Oleh karena itu. bertindaklah. Aku meliputi segala hal, berjuanglah. Aku ada di dalam perbuatan, aku bukan saja satu zat, tetapi aku ada juga di dalam rasa, di dalam pikiran, di dalam perbuatan manusia. Maka oleh karena itu sudah, kerjakan, kerjakan apa yang saya perintah­kan kepadamu, sebab sebenarnya kerjamu dan perbuatanmu itu adalah perbuatanku”. “Kerjakan kewajibanmu dengan tidak menghitung-hitung akan untung dan rugi dan akan akibat, sebab sebenarnya akulah yang berbuat”. “Engkau tidak mau membunuh sang Karna, tidak mau membunuh sang Drona, oleh karena sang Drona adalah guruku, sang Karna adalah Saudaraku, dia keluar dari telinga, aku keluar dari goa garba. Jangan ayal, bunuh engkau punya musuh, sebab pembunuhanmu itu sebetulnya perbuatanku. Sebelum engkau membunuh dia, aku sebenarnya telah membunuh dia, engkau sekadar seperti membunuh dia; pada hakekatnya akulah yang membunuh”.

Nah, advaita ini Saudara-saudara, persatuan dan kesatuan daripada segala hal yang kumelip di dunia ini, bahkan sampai masuk dalam persatuan segala hal yang dipikirkan orang, segala hal yang dirasakan orang, segala hal yang diperbuat oleh orang. Ini adalah advaita, ajaran daripada agama Hindu. Orang yang mempraktikkan yoga daripada advaita ini, pada suatu saat menca­pai tingkat persatuan dan kesatuan itu. Ambillah misalnya guru daripada Pahlawan Viveca Nanda. Saya selalu mensitir Viveca Nanda. Viveca Nanda itu mempunyai guru namanya Rama Krishna. Bukan Krishna dari Baghawad Gita. Tidak. Gurunya Viveca Nanda, namanya Rama Krishna. Rama Krishna duduk di rumahnya di serambi muka. Sedang hujan, duduk di dalam ru­mahnya tidak akan kena air hujan. Dia melihat orang berjalan kehujanan. Rama Krishna yang menggigil kedinginan. Orang lain yang kena air hujan. dia yang menggigil kedinginan. Persatuan antara si yang berjalan dan Rama Krishna, advaita. Oleh karena itu advaita berkata, paham kesatuan berkata: “Tat Twam Asi, dia adalah aku, aku adalah dia. Dan Tat Twam Asi ini tidak mengenal manusia dengan manusia saja, anjingpun Tat Twam Asi”. Saya ceriterakan satu hadis Nabi Muhammad s.a.w. Pada suatu hari ada seorang wanita melihat seekor anjing melet-melet ia punya lidah karena dahaga. Wanita ini menaruhkan rasa belas kasihan kepada anjing itu sehingga memberikan sebagian daripada ia punya air kepada anjing itu. Air di negeri Arab, Iho Saudara­saudara! Sebagian daripada airnya oleh wanita ini diberikan kepada anjing yang sedang melet-melet dahaga. Nabi berkata: “Masya Allah, saya melihat wanita ini masuk Sorga, oleh karena dia merasakan benar bahwa ada hubungan antara dua makhluk ini”

Dus, Saudara-saudara, baik agama Hindu maupun agama Budha maupun agama Islam berdiri kuat di atas dasar perike­manusiaan. Memberi air kepada anjing adalah juga perike­manusiaan. Jangan kira Perikemanusiaan hanya kepada sesama manusia saja, kepada tiap-tiap makhluk yang hidup kita jalankan kebaikan, itu adalah pula perikemanusiaan. Oleh karena itu pula diwajibkan oleh orang Islam untuk memikirkan nasibnya kawan­kawan Islam yang lain yang sebagai di dalam Kongres Kebatinan saya katakan: ingat kepada ajaran fardhu kifayah di dalam Islam. Ajaran fardhu kifayah di dalam Islam tak lain tak bukan ialah realisasi daripada dasar peri-kemanusiaan.

Saudara-saudara, dus kita di dalam Pancasila dengan tegas mengadakan sila Perikemanusiaan ini dan bolehlah kita bangga bahwa sila Perikemanusiaan ini tidak kita lupakan. Bahwa kita cantumkan sila Perikemanusiaan ini dengan cara yang indah sekali di dalam Pancasila dan dengan cara yang indah sekali di dalam lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika. Nasionalisme yang tidak dihikmati pula oleh Perikemanusiaan mengekses menjadi chau­vinisme, mcngekses menjadi rasialisme.

Hitler membuat ia punya nasionalisme, nasionalisme yang tidak berperikemanusiaan. Ia punya nasionalisme adalah nasi­onalisme chauvinis. Dia berkata hanya manusia-manusia turunan Aria-lah manusia sejati, hanya manusia-manusia yang kulitnya putih, rambutnya merah-kuning jagung, matanya biru, hanya manusia yang tegas daripada turunan ini, turunan Nordisch, dari Utara, hanya manusia-manusia itulah manusia yang sejati. Yang tidak daripada turunan Nordisch ini, yang tidak daripada turunan Aria ini, yang tidak rambutnya jagung, matanya biru, bukan manusia sejati. Bahkan manusia yang demikian itu harus dimus­nahkan dari muka bumi. Hitler berdiri di atas dasar rasialisme, het nordisch ras, het Arische ras, itu dikatakan ras yang sejati, yang baik; lain-lain ras adalah ras yang rendah derajatnya. Ia membuat ia punya nasionalisme, nasionalisme yang membenci kepada bangsa lain. Ia membuat ia punya nasionalisme, nasionalisme yang gila. Ia membuat ia punya nasionalisme menjadi nasionalisme yang membunuh bangsa Yahudi.

Semua orang Yahudi di negara Hitler dibinasakan, dimasuk­kan dalam konsentrasi-kamp, dibunuh dengan drelnya mitraliyur atau dibunuh lebih cepat lagi di dalam kamar gas. Bukan seribu, dua ribu, tiga ribu, bukan sepuluh ribu, bukan seratus ribu, satu setengah juta orang Yahudi dibunuh oleh karena rasa rasialisme ini. Dan Hitler bukan saja benci kepada orang Yahudi yang tidak rambutnya jagung, yang tidak matanya biru, yang tidak daripada asal Nordisch. Hitler j uga benci kepada orang Asia. Baca ia punya kitab Mein Kampf. Apa ia sebutkan Tiongkok? Chinese koeli! Ia berkata apakah kita ini turunan orang Nordisch, turunan orang Aria, sama dengan Chinese vuile koeli? Nah, Saudara-saudara, nasionalisme yang demikian ini adalah nasionalisme yang jahat, dan kita Indonesia tidak mau nasionalisme yang demikian. Meskipun kita berpendirian bahwa kebangsaan adalah satu sila yang essensiil untuk membuat bangsa kita ini kuat dan negara kita ini kuat dan untuk menyelenggarakan masyarakat adil dan mak­mur nanti, kita tidak menghendaki supaya nasionalisme kita men­jadi nasionalisme yang chauvinis, tapi nasionalisme yang hidup di dalam suasana perikemanusiaan, nasionalisme yang mencari usaha agar segala umat manusia ini akhirnya nanti hidup dalam satu keluarga besar yang sama bahagianya.

Sekian, Saudara-saudara, saya kira sudah cukup kursus saya pada malam ini. lnsya’Allah lain kali kursus mengenai sila Kedau­latan Rakyat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

P A N C A S I L A
S E BAGAI DASAR N EGARA

V

Kursus Presiden Soekarno
Tentang Pancasila
di Istana Negara, Tanggal 3 September 1958.

 

Saudara-saudara sekalian.

Ini malam diminta kepada saya untuk memberi kursus tentang Sila ke-4; Kedaulatan Rakyat. Di dalam beberapa pidato saya, telah pernah saya katakan bahwa teknis kedaulatan rakyat atau dalam bahasa asing democratie, sekadar adalah satu alat, alat untuk mencapai sesuatu tujuan. Teknis tujuannya ialah satu masyarakat yang berbentuk sesuatu hal, entah masyarakat kapitalis, entah masyarakat sosialistis, entah masyarakat apa.

Kemudian jikalau tujuan ini telah ditentukan, maka salah satu alat untuk mencapai masyarakat itu adalah demokrasi. Jangan lupa, saya sekali lagi berkata teknis secara alat. Perkataan teknis berarti penggunaan alat-alat. Bahwa demokrasi teknis adalah alat untuk mencapai sesuatu tujuan, hal itu pernah saya katakan di dalam beberapa pidato saya.

Alat untuk mencapai sesuatu tujuan bentuk masyarakat tidak selalu demokrasi; misalnya kaum Hitleris, kaum nasional-sosialis berpendapat bahwa untuk mencapai masyarakat yang mereka idam-idamkan, alatnya bukanlah demokrasi, tetapi nasional­sosialisme. National Sozialismus – kata orang Jerman – yang pada hakekatnya adalah fasisme diktatur. Atau jikalau kita ambil contoh dari pihak komunis, maka dalam taraf pertama cara bekerja mereka, alat yang mereka pakai untuk mencapai masyarakat yang bentuknya mereka cita-citakan, pada tingkat pertama ialah diktatur proletariat.

Jadi, baik demokrasi maupun fasisme atau nasional-sosial­isme – nasional-sosialisme itu satu perkataan bikinan Hitler -, tidak menggambarkan sosialisme dan nasional, tetapi Hitler me­ngatakan ia punya fasisme: nasional-sosialisme.

Baik demokrasi maupun nasional-sosialisme, maupun dik­tatur proletariat adalah alat-alat untuk mencapai sesuatu bentuk masyarakat yang dicita-citakan. Tetapi di dalam cara pemikiran kita atau lebih tegas lagi di dalam cara keyakinan dan kepercayaan kita, kedaulatan rakyat bukan sekadar alat saja. Kita berpikir dan berasa bukan sekadar hanya secara teknis, tetapi juga secara kejiwaan, secara psychologis nasional, secara kekeluargaan.

Didalam alam pikiran dan perasaan yang demikian itu maka demokrasi dus, bagi kita bukan sekadar salu alai teknis saja, tetapi satu “geloof’, sutu kepercayaan dalam usaha mencapai bentuk masyarakat sebagai yang kita cita-citakan.

Bahkan dalam segala perbuatan-perbuatan kita yang menge­nai hidup bersama, dalam istilah bahasa Jawa hidup “bebrayan” kita selalu hendak berdiri di atas dasar kekeluargaan, di atas dasar musyawarah, di atas dasar demokrasi, di atas dasar yang kita nama­kan kedaulatan rakyat.

Kita mempunyai kepercayaan bahwa hidup kekeluargaan tak mungkin bisa berjalan dengan sempurna, bilamana tidak dengan menjalankan dasar kedaulatan rakyat atau demokrasi atau musya­warah. Sebagaimana di dalam alam keluarga, tak dapat urusan­urusan di dalam keluarga itu dijalankan atau ditentukan secara perintah diktatur, tetapi harus berjalan dengan apa yang kita kenal semuanya yaitu kekeluargaan.

Maka di dalam masyarakat atau kenegaraanpun kita mempu­nyai keyakinan, bahwa segala sesuatu yang mengenai hidup “be­brayan” itu harus kita dasarkan atas dasar kekeluargaan, demo­krasi, kedaulatan rakyat etc. etc., sehingga bagi kita, di dalam alam pikiran kita, didalam alam perasaan kita, di dalam alam kejiwaan kita, demokrasi bukan sekadar satu alat teknis, tetapi adalah pula sesuatu kepercayaan, satu “geloof’.

Maka oleh karena itulah bagi kita bangsa Indonesia, demo­krasi atau kedaulatan rakyat mempunyai corak nasional. satu corak kepribadian kita, satu corak yang dus tidak perlu sama dengan corak demokrasi yang dipergunakan oleh bangsa-bangsa lain se­bagai alat teknis. Artinya, demokrasi kita adalah demokrasi Indo­nesia, demokrasi yang disebutkan sebagai Sila ke-4 itu adalah demokrasi Indonesia yang membawa corak kepribadian bangsa lndonesia sendiri. Tidak perlu “identiek”, artinya sama dengan demokrasi yang dijalankan oleh bangsa-bangsa lain.

Berhubung dengan inilah maka di dalam waktu yang akhir­akhir ini saya dengan hati yang tetap dan yakin, berani menga­takan: janganlah demokrasi kita itu demokrasi jiplakan. Janganlah demokrasi yang kita jalankan itu demokrasi jiplakan dari entah Eropa Barat, entah Amerika, entah negara lain. Bahkan saya dalam waktu yang akhir-akhir ini berani menegaskan, demokrasi Indo­nesia adalah demokrasi terpimpin.

Orang yang alam pikirannya masih alam pikiran yang ter­sangkut dengan dunia Barat, artinya orang yang di dalam alam pikirannya belum berdiri di atas kepribadian Indonesia sendiri, atau belum hendak mengembalikan segala sesuatu kepada kepribadian bangsa Indonesia sendiri, orang yang demikian itu tidak akan dapat menangkap “essentie” daripada demokrasi ter­pimpin, sebagaimana dalam waktu yang akhir-akhir ini saya an­jur-anjurkan. Bahkan orang yang demikian itu tidak mengerti bahwa demokrasi ala Barat yang mereka mau jiplak itu, di dalam bidang sejarah perekonomian dan kemasyarakatan dan politik Barat, sekadar adalah satu ideologie daripada sesuatu masa, – masa dengan “s” satu, bukan dengan “s” dua -, saya ulangi, demokrasi Barat yang mereka hendak jiplak itu di dalam bidang sejarah, jalannya sejarah daripada ekonomi, kemasyarakatan dan hidup politik di dunia Barat adalah sekadar satu ideologie daripada sesuatu masa, – masa dengan “s” satu, – daripada satu periode. Artinya bahwa di Eropa Barat, demokrasi, apalagi yang dikenal oleh kita dengan “parlementaire democratie”. itu adalah ideologie daripada satu periode saja. Eropa Barat mcngenal periodc-periode yang tidak beridcologie parlemcntaire democratie, malahan per­nah bahwa di Eropa Barat itu berjalan satu periode yang parlemen­taire democratie itu dibuang dengan tegas.

Lihatlah Hitler di Jermania, lihatlah Mussolini di ltalia, lihat­lah Franco di Spanyol. Dengan terang-terangan dan tegas-tegasan parlementaire democratie dibuang. Dijalankanlah di zaman Hitler nasional-sosialisme, dijalankanlah di zaman Mussolini fasisme, dijalankan di zaman Franco, sebenarnya, fasisme.

Dan sebelum Eropa Barat atau Amerika mengenal atau mem­pergunakan parlementaire democratie, sebelum itu jelas-jelas di Eropa Barat atau Amerika itu tidak ada dikenal parlementaire democratie itu. Berjalanlah di sana satu sistem pemerintahan feodal, artinya satu sistem pemerintahan yang tidak didasarkan atas demokrasi, melainkan melulu ditentukan oleh Sang Raja.

Pernah di dalam pidato tatkala saya menghadiri perayaan 30 tahun usianya PNI di Bandung saya katakan, “parlementaire de­mocratie a.dalah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang naik”. Saya ulangi, parlementaire democratie adalah ideologi poli­tik daripada kapitalisme yang sedang naik. Parlementaire de­mocratie adalah ideologie politik daripada “Kapitalismus im aufstieg”. Kebalikan daripada “Aufstieg” ialah “Niedergang”.

Kapitalisme ada zamannya, periode naik, ada periodenya menurun. Naik dikatakan “Aufstieg” menurun dikatakan “Nieder­gang”. “Kapitalismus im Aufstieg” dan “Kapitalismus im Nieder­gang .

Nah, parlementaire democratie adalah ideologi politik dari­pada kapitalisme yang sedang naik. Itu pernah saya katakan tatkala saya mengadakan pidato menyambut hari ulang tahun PNI yang ke-30.

Lantas saya tarik kongklusi, dus, kita tidak menghendaki Kapitalismus, tetapi kita menghendaki sesuai dengan Sila ke-5 daripada Pancasila, satu masyarakat keadilan sosial, kita dus sehenarnya tidak boleh memakai parlementaire democratie itu, dan tidak bisu mempergunakan parlemenlaire democratie itu sebagui sutu alai menyelenggarakan masyarakat keadilan sosial. Saudara-saudara hendak saya terangkan ini perkataan kapi­talisme yang sedang naik, kapitalisme yang sedang menurun, dan ideologi politik daripada kapitalisme naik adalah parlementaire democratie. Dan apakah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang menurun “im Niedergang?”

Ideologi politik daripada “Kapitalismus im Nierdergang” adalah fasisme. Fasisme menurut perkataan seorang ahli ke­masyarakatan “socioloog” yang bernama Karl Steuerman, fasisme adalah usaha yang terakhir untuk menyelamatkan kapitalisme. “Facisme is een laatste reddingspoging van het kapitalisme”, untuk menyelamatkan kapitalisme.

Dengan ini dilukiskan bahwa kapitalisme yang hendak mati, yang hendak gugur, kapitalisme yang menurun, Kapitalismus im Niedergang, sebagai satu “laatste reddingspoging” mengadakan fasisme itu. Fasisme adalah ideologi politik daripada kapitalisme yang sedang inenurun, yang sedang megap-megap, yang sedang hampir mati, yang sedang hampir gugur.

Lebih dulu saya terangkan apa yang tadi dikatakan: Dulu itu tidak ada parlementaire democratie. Di Eropa Barat dan Amerika berjalanlah hukum-hukum feodalisme. Maka pada satu ketika adalah satu perobahan di dalam alam pernikiran, alam penghidup­an dan kehidupan masyarakat di Eropa itu. Dan perobahan ini membawa pula perobahan di dalam alam ideologi. Nota bene menyimpang sebentar. Inilah historis materialisme yang pernah saya terangkan, bahwa historis materialisme itu mengatakan bah­wa alam pikiran dalam masyarakat itu ditentukan oleh kebutuhan­kebutuhan sosial ekonomis, cara produksi di dalam masyarakat dan tidak sebaliknva.

Satu minggu yang lalu saya mengucapkan satu perkataan yang membikin geger sebagian daripada orang-orang, tatkala saya di Bogor didatangi satu rombongan kaum marhaenis. Di situ saya berkata marhaenisme itu sekarang menjadi rebut-rebutan. Hak tiap-tiap manusia untuk memeluk suatu isme, hak tiap-tiap manusia untuk berkata: “Inilah ismeku”. Dan marhaenisme sekarang ini menjadi rebutan, saya katakan hak tiap-tiap manusia.

Tetapi kalau ada orang yang mau mengatakan: inilah marhaenisme tulen yang dipahami oleh Bung Karno; saya men­jawab: “nanti dulu”. Kalau dihubungkan dengan nama Bung Karno, saya minta supaya marhaenismenya itu seperti marhaenis­menya Bung Karno. Jangnlah kok sekadar isme-isme lantas di­katakan inilah marhaenisme tulen. Nanti dulu, tanya dulu sama Bung Karno. Sebab, katakanlah yang menciptakan marhaenisme Bung Karno; dus tanya dulu apa yang dimaksud-kan oleh Bung Karno dengan marhaenismenya. Kalau tidak cocok dengan marhaenisme Bung Karno itu, kasilah nama lain; jangan dikatakan marhaenisme. Nah, di Bogor tatkala didatangi rombongan itu saya berkata: marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dilaksanakan di Indonesia. Marhaenisme, ini bahasa asingnya, “is het in Indonesia toegepaste marxisme”.

Apa ini memang demikian, marhaenisme adalah marxisme yang diselenggarakan, dilaksanakan di Indonesia, “het in Indone­sia toegepaste marxisme?” Maka saya berkata kepada saudara­saudara yang datang di situ: Kalau dus ingin memahami betul marhaenisme, – ini saya menyimpang sebentar -, harus mema­hami dua hal. Lebih dulu memahami marxisme, apakah marxisme itu, salu. Dan kedua memahami keadaan-keadaan di Indonesia. Sebab marhaenisme, saya ulangi lagi, ialah marxisme yang dise­lenggarakan di Indonesia, yang dicocokkan dengan keadaan Indo­nesia, “het in Indonesia toegepaste marxisme”. Dus dua hal ini harus dipelajari betul-betul. Yang mengenai Indonesia misalnya. antara lain-lain keadaan-keadaan seperti yang tempo hari dalam kursus pertama saya terangkan kepada saudara-saudara, bahwa jika kita di Indonesia harus mengadakan politik persatuan daripada seluruh rakyat.

Saya sudah terangkan tempo hari bahwa di Indonesia, kita tidak bisa mengadakan aksi melawan imperialisme sebagai yang dijalankan oleh rakyat India terhadap kepada imperialisme Ing­gris. Oleh karena keadaan di India lain lagi dengan keadaan di Indonesia dan imperialisme Inggris lain daripada imperialisme Belanda.

Dulu sudah saya terangkan kepada Saudara-saudara di dalam kursus yang pertama, antara lain Saudara-saudara yang hendak memahami marhaenisme harus kenal bahwa keadaan di Indonesia begini-begini-begini, bahwa imperialisme yang mengamuk dan bekerja di Indonesia begini-begini-begini, bahwa sejarah daripada exploitasi di Indonesia adalah begini-begini-begini.

Dus, orang yang tidak mempelajari keadaan-keadaan di Indo­nesia, tindak-tanduk imperialisme Belanda di Indonesia, orang yang tidak mengerti betul-betul keadaan Indonesia, orang yang demikian itu sebenarnya juga tidak bisa mengerti marhaenisme, oleh karena marhaenisme adalah “marxisme toegepast in Indone­sia”, mempunyai syarat-syarat sendiri, yang tidak sama sebagai rakyat di India, rakyat RRC, rakyat di Mesir, rakyat di Pakistan dan rakyat apapun.

Maka itu saya berkata: kenal dulu segala keadaan-keadaan di Indonesia, baru mengerti nanti marhaenisme. Di pihak yang lain harus mengerti apa marxisme itu. Jangan mengira bahwa mar­xisme itu harus dus komunisme. Tidak! Jangan mengira bahwa marxisme itu dus Soska. Tidak!

Marxisme itu adalah satu “denkmethode”, satu cara pemiki­ran. Cara pemikiran untuk mengerti perkembangan bagaimana perjuangan harus di_jalankan, agar supaya bisa tercapai masyarakat yang adil.

Ada orang yang dengan gampang berkata: O, marxisme itu adalah materialisme. Marxisme adalah historis materialisme. Se­lalu dilupakan perkataan “historis”. Marxisme adalah dus anti Tu­han. Mana kitab marxisme yang berkata bahwa marxisme itu anti Tuhan?

Marxisme adalah historis materialisme. Materialisme itu adalah macam-macam, ada yang anti Tuhan, tetapi bukan historis materialisme. Yang anti Tuhan itu materialisme lain, yaitu misal­nya materialismenya Feuerbach, filosofis material-isme, wijsgerig materialisme. Itu yang mengatakan bahwa segala pikiran, dus juga alam gaib yang bernama Tuhan itu, bahwa itu adalah “incretie”, adalah perasaan daripada materie.

Feuerbach pernah berkata: tidak ada pikiran kalau tidak ada fosfor. Pikiran itu adalah hasil daripada otak bekerja. Otak itu terdiri sebagian daripada fosfor; kalau tidak ada dus fosfor di sini, tidak ada pikiran. Maka Feuerbach berkata: tidak ada pikiran sonder fosfor.

Maka benar perkataan ini dari sudut filosofis materialisme, wijsgerig materialisme. Tetapi marxisme bukan wijsgerig materi­alisme.

Nah, historis materialisme itu apa? Itu adalah satu cara pengertian, bahwa sejarah itu telah membuktikan, bahwa alam­alam pikiran yang berjalan di dalam masyarakat itu adalah terbawa oleh bentuk daripada economishe verhoudingen, productie-wijze di dalam masyarakat. Itu adalah historis materialisme, jadi bukan wijsgerig materialisme.

Marx pernah berkata: “Es ist nicht das Bewuztsein des Men­schen dasz sein Gesellschafft liebensein, aber sein Gesellschafft liebensein das sein Bewusztsein bestimmt”.

Bukan bewustzijn, kesadaran manusia, alam pikiran manusia itu yang menentukan corak segala materiil masyarakat itu. cara produksi, cara mencari makan dan lain-lain, akan tetapi sebaliknya cara produksi, cara ekonomi, cara mencari makan dan lain-lain, dari masyarakat itulah yang menentukan bagaimana corak alam pikiran, kesadaran manusia. Ini adalah marxisme. Kalau mau mengerti marhaenisme harus mengerti ini dulu dan mengerti keadaan di Indonesia. Dua-duanya ini kalau sudah di­mengerti, baru bisa mengerti marhaenisme, sebagai yang saya maksudkan.

Saudara-saudara, maka berhubung dengan kursus yang seka­rang mengenai demokrasi atau kedaulatan rakyat, hendak saya gambarkan kepasa Saudara-saudara hal ini tadi, bahwa demokrasi adalah satu ideologi politik daripada salah satu periode, satu bukti bahwa kesadaran manusia, sebab demokrasi adalah satu alam pikiran, alam pikiran politik, bahwa alam pikiran ini adalah terbuat oleh sesuatu cara produksi di dalam sesuatu periode.

Artinya bahwa di dalam sesuatu periode yang cara pro­duksinya belum membutuhkan parlementaire democratie, belum timbul pikiran parlementaire democratie itu. Tegasnya: dulu, tat­kala cara produksi belum sebagai yang tadi saya katakan: belum “Kapitalismus im Aufstieg”, orang belum membutuhkan demo­krasi-demokrasian, orang senang dengan cara feodal yang tidak ada parlemen-parlemenan. Cuma “sabda pandita ratu”, terserah kepada Sang Nata, terserah kepada raja. Raja yang membuat hukum, raja yang menentukan segala sesuatu.

Orang di masyarakat pada waktu itu semuanya percaya kepada raja. Raja di dunia Timur dianggap malahan sebagai “titi­san Batara kang linuwih”. Apa yang ditentukan oleh raja, pasti benar. Di dunia Barat ada raja yang pernah menepuk ia punya dada dan berkata: “L’etat c’est moi! Le lois e’est moi!” “De staat ben ik! De wet ben ik!” “Negara akulah! Hukum akulah!”

Ini bukan kecongkakan daripada raja itu saja, tapi diterima oleh rakyat.

Di dunia Timur malahan betul-betul ludahnya ditelan oleh rakyat. Air cucian tangannya diterima oleh rakyat, air mandinya diterima oleh rakyat. Saya pernah ngobrol dengan Sri Jawaharlal Nehru, ngobrol tentang Aga Khan almarhum yang tua, yang suka main kuda balap.

Dia itu pada suatu waktu nonton baller di London, waktu pauze Nehru bersama Aga Khan pergi ke buffet, minum-minum sedikit; sesudah itu lantas pergi ke kamar cuci tangan. Aga Khan cuci tangan, Nehru cuci tangan. Sarnbil cuci tangan itu apa kata Aga Khan? “Do you know Nehru, I’m wasting thousand pounds”. “He, Nehru, tahukah engkau, sebetulnya aku ini membuang uang seribu pound”. Maksudnya air yang terbuang ini. “Coba air ini kujual kepada orang-orang pengikutku, laku seribu pound”. Nehru cerita sama saya begitu.

Di dalam alam feodalisme rakyat itu bukan saja menerima perintah daripada sang Raja atau sang Agung, tetapi membenar-kan segala perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan sang Agung itu. Cara produksi di Eropa Barat di abad ke-18 dan sampai pertenga­han abad ke- 18, memang satu cara produksi yang cukup diurus oleh sistem yang demikian ini.

Saudara-saudara yang memperlajari sejarah daripada revolusi Perancis, – orang Perancis sendiri menyebutkan revolusinya itu “La grande revolution”, revolusi yang agung, de grote revolutie”, – akan mengerti bahwa revolusi Perancis ini adalah revolusi penyelenggaraan daripada parlementaire demoratie. Dulu sebelum revolusi itu pecah, alam pikiran manusia di Perancis, sudah puas dengan sistem politik feodal, puas dengan segala kekuasaan diten­tukan oleh sang raja.

Tetapi pada satu ketika, – dan ambillah perkataan “ketika” ini tidak sebagai satu moment, satu hari, satu detik, tetapi satu ketika sejarah yang memakan waktu berpuluh-puluh tahun, – pada satu ketika cara hidup, mencari makan, cara produksi di Perancis itu berobah. Dan karena probahan cara hidup dan cara produksi ini, maka rakyat tidak puas lagi dengan sistem yang tadinya memuaskan hati mereka. Kemudian jadilah revolusi.

Dulu “economische huishouding”, perumahtanggaan ekono­mi sebelum pertengahan abad ke-18, adalah satu huishouding yang tertutup, gesloten. Tiap-tiap kota mempunyai perumah-tanggaan sendiri. Di sekeliling kota itu ada kaum tani yang memberi bahan makan kepada kota itu. Di dalarn kota itu ada golongan kecil yang membuat alat-alat, golongan kecil yang memperdagangkan ini dan itu, semuanya gesloten.

Di dalam alam yang demikian itu kekuasaan itu sama sekali di dalam tangan kaum feodal, dengan dibantu oleh kaum yang di dalam revolusi Perancis dinamakan klas ke-2; kaum bangsawan dinamakan klas ke-1, eerste stand.

Kaum gereja, – bukan agama, – organisasi daripada gereja, di masa itu kuat betul. Organisasi daripada gereja itu menjadi kekuasaan di samping kekuasaan kaum bangsawan, dan mereka ini dinamakan klas ke-2, tweede stand. Stand ke-1 dan ke-2 inilah yang memegang tampuk pimpinan pemerintahan.

Tetapi masyarakat yang tadinya tertutup di dalam “gesloten huishoudingen” makin lama makin memecah. “Gesloten-heidnya” itu pecah. Kebutuhan hidup makin lama makin bertambah, tidak bisa lagi kebutuhan hidup itu dicukupi dengan tukar-menukar dengan bapak tani; tidak, tetapi ingin perkembangan. Pengusaha­pengusaha ingin berusaha di lapangan ekonomi.

Gampangnya bicara: apa yang dinamakan kapitalisme ingin tumbuh, ingin mendapatkan kesempatan untuk berkembang biak. Pernah saya bicarakan pokok daripada kapitalisme, ialah cara produksi mempergunakan tanaga buruh, yang buruh ini membuat daripada sesuatu barang lain yang lebih berharga daripada tadinya. “Theorie meerwaarde”, pernah saya terangkan di sini.

Meerwaarde ini pokok daripada kapitalisme. entahlah berupa apa. Tepung sama gula itu barang; oleh tenaga buruh tepung dan gula ini dikerjakan jadi “jladren”. Jladren olch tenaga buruh dicetak-cetak dimasukkan dalam “oven”. Pendeknya oleh tenaga daripada buruh ini, tepung dan gula ini, yang katakanlah tadinya harganya 100, menjadi kueh. Kueh ini tidak lagi seharga 100, tetapi seharga 200, sesudah tenaga buruh ditanamkan di situ. Dari 100 menjadi 200, tambahnya 100.

Tambah inilah yang dinamakan di dalam ilmu marxisme ialah “meerwaarde”. Tetapi keringat buruh yang menghasilkan “meer­waarde” 100 ini tidak dibayar dengan 100 pula; yang diberikan kepada buruh 50. “Meerwaarde”-nya 100, tetapi yang diberikan kepada buruh cuma 50. Yang 50 lagi masuk dalam kantongnya kapitalis. lni gampangnya bicara saja.

Sumber daripada kapitalisme ini ialah satu cara produksi yang “meerwaarde”-nya tidak dihonoreerkan-kan 100% kepada sipem­buat “meerwaarde” ini, tapi hanya sebagian saja kepada si buruh dan sebagian lagi masuk di kantongnya si kapitalis.

Nah, Saudara-saudara mengerti bahwa cara begini ini, jikalau dikerjakan dengan banyak buruh di banyak lapangan, berhari-hari, bahwa ini yang menjadi “bron”, sumber daripada kekayaan­kekayaan, yang akhirnya kita kenal sebagai kekayaan-kekayaan besar dalam kekayaan-kekayaan alam kapitalisme yang dimiliki beberapa orang saja.

Nah, keadaan Perancis pada satu ketika, – ketika dalam arti historis periode, – berobah demikian.

Inilah kaum pengusaha-pengusaha, manusia yang ingin kaya, ingin mencari untung, ingin mengadakan buruh, ingin meng­adakan perusahaan, pendeknya apa yang saya gambarkan tadi, “productie wijze” dengan menghasilkan “meerwaarde”, dengan sebagian hasil “meerwaarde”, saja diberikan kepada buruh dan yang lain masuk kantongnya pengusaha. “Productie wijze” yang demikian ini semakin lama semakin menjadi-jadi. Nah, agar su­paya “productie wijze” yang demikian ini bisa berjalan dengan selancar-lancarnya, timbullah “bewustzijn-bewustzijn”, ke­sadaran-kesadaran, alam-alam pikiran baru. Cara produksi yang berobah membawa perobahan di dalam alam pikiran. Inilah historis materialisme.

Apa alam-alam pikiran baru itu? Macam-macam. Misalnya di dalarn lapangan ekonomi yang kita kenal dengan “liberalisme”. Oleh karena itu kita menentang kepada “liberalisme”. Oleh karena “liberalisme” adalah alam-alarn pikiran yang pengusaha si Polan­si Polan semuanya ingin men-jadi kaya. Diperkenankanlah apa saja semaumu, di lapangan ekonomi, jangan negara ikut-ikut.

Feodalisme ‘kan boleh dikatakan negara atau raja yang me­nentukan segala sesuatu ini. Sang Raja yang berkata di dalam alam feodalisme: “Engkau hanya boleh membikin palu seperlunya saja. Engkau hanya boleh menanam gandum seperlunya saja. Aku menghendaki supaya bidang tanah yang beriku-ribu kilometer persegi itu harus ditanami dengan itu saja. L’etat c’est moi! Le lois c’est moi! Aku, Raja yang menentukan segala sesuatu!” Di dalam alam yang baru ini pengusaha-pengusaha segala sesuatunya diten­tukan oleh raja.

Tidak, kami ingin berusaha, biarkanlah kami berusaha, j angan raja atau negara ikut-ikut. Kami ingin kemerdekaan, kebebasan berusaha. Kami ini ahli bikin kueh, biarkanlah kami membikin kueh sebanyak-banyaknya, rugi ya biar kami, untung ya biar kami. Orang lain berkata: kami ini ahli membikin meja kursi; biarkanlah kami membuatnya, untung adalah keuntungan kami, rugi adalah “risiko” kami, janganlah raja ikut-ikut. Semua ingin bebas berusaha. Ini yang namanya “liberalisme”; dari perkataan “liber­ty”, alam kebebasan yang mereka kehendaki.

Timbulnya alam “liberalisme” ini, kuatnya angin “liberal­isme” ini, di periode ini. Di lapangan ekonomi demikian, di lapangan politikpun demikian. Di lapangan politik berjalanlah alam pemikiran baru yang dinamakan “politik liberalisme”.

Berpikir politik: jangan raja ikut-ikut, biar kami berpikir politik, biar kami mempunyai keyakinan pikiran sendiri, mem­propagandakan pikiran kami sendiri. Politik “liberalisme”. Kami mau mengadakan partai-partai, biar partai corak A, biar partai corak B, biar partai corak C dan seterusnya: politik “liberalisme”.

Maka terjadilah desakan dari klas yang ke-3. Tadinya ini klas bangsawan dengan raja sebagai pimpinannya. Nomor dua klas gereja, tweede stand. Ada klas baru yang menyebutkan dirinya klas ke-3, ialah klas pengusaha, yang di dalam kursus saya per­tama, saya namakan “bourgeois”, tatkala saya berkata India mem­punyai “National bourgeois” atau lebih tegas “National bourgeois” yang ada di India tidak dihancurbinasakan oleh imperialisme Inggris. Maka pergerakan Nasional India sebagian daripada dia punya “motorische kracht”, ialah kekuatan daripada kekuatan “Nasional bourgeois” di India.

Klas ke-3 ini yang sebenarnya yang menjadi peniup daripada revolusi Perancis. Rebut kekuasaan daripada tangannya raja! Re­but kekuasaan daripada tangannya kaum feodal! Rebut kekuasaan daripada tangannya stand ke-2!

Tetapi klas ke-3 ini juga merasa kalau harus merebut kekuasaan itu dengan tenaga sendiri tidak bisa. Kekuasaan feodal dan kekuasaan gereja ini terlalu kuat. Kaum pengusaha sendiri tidak kuat. Karena itu lantas kaum klas ke-3 ini, pengusaha, mempergiatkan tenaga rakyat jelata, yang oleh mereka dinamakan klas ke-4, Eerste stand feoctal, tweede stand gereja, derde stand

opkomende hougeois, vierde stand rakyal.

Vierde stand ini yang dipergiatkan. Vierde stand ini yang dibakar hatinya dengan semboyan-semboyan. Vierde stand ini yang dibakar hatinya dengan revolusi Perancis yang termasyhur. Liberte! Egalite! Fraternite! Kemerdekaan! Persamaan! Per­saudaraan!

Pada waktu pertama kita memang melihat pengusaha itu berpeluk-pelukan di jalan di Paris, dansa-dansa di muka gereja indah Notre Dame. Di lapangan itu diadakan musik. Kita melihat pengusaha-pengusaha itu berdansa-dansa dengan yang dinamakan rakyat jembel. Liberte! Egalite! Fraternite!

Rakyat yang terbakar ini menjadi kuda daripada tenaga revolusi Perancis, yang pada hakekatnya ialah revolusi untuk merebut kekuasaan dari tangannya stand ke-1 dan stand ke-2 ke dalarn tangannya stand ke-3. “Leuze”, semboyan Liberte, Egalite, Fraternite, di dalam bidang politik diselenggarakan sebagai “par­lementaire democratie”. Semua orang boleh masuk dalam parle­men. Semua orang boleh bicara. Sekarang kita tidak lagi mengadakan hukum secara feodal oleh satu orang manusia.

Semua harus ikut, sekarang harus dengan bermusyawarah.

Dan “liberale politiek” boleh tiap-tiap orang mengusulkan, boleh tiap-tiap orang pidato, boleh tiap-tiap orang dipilih.

Kelanjutan daripada revolusi Perancis, rakyat jelata terpukul. Saudara-saudara akan bertanya: kalau begitu bagaimana, peng­usaha-pengusaha itu ‘kan kalah dengan rakyat jelata? ‘Kan mak­sudnya pengusaha-pengusaha ini mau mengadakan hukum­hukum, peraturan-peraturan, wet-wet, yang cocok dengan kepen­tingan pengusaha, mau mengadakan hukum-hukum, peraturan-­peraturan, wet-wet, untuk menjadi bumi bumi subur bagi “Kapitalismus im aufstieg”. Tapi kalau rakyat jelata semuanya diperbolehkan masuk parlemen, boleh memilih dan dipilih, ‘kan kalah “stem” kaum pengusaha?

Tidak Saudara-saudara, di dalam praktiknya mereka telah mengetahui lebih dulu, bahwa pemilihan parlemen itu selalu de­ngan “campagne”, dengan “propaganda”, dan mereka sudah tahu: kami yang mernegang alat-alat propaganda, kami yang bisa mem­biayai surat-surat kabar, kami yang bisa membiayai segala alat-alat yang lain. Bahkan kami kaum pengusaha itu membiayai sekolah­sekolah, universitas-universitas.

Kaum pengusaha, terutama sekali kaum pengusaha yang se­dang timbul ini, adalah satu golongan kaum yang betul-betul mempunyai rasa percaya kepada diri sendiri yang amat kuat; “zelf vertrouwen” yang amat besar sekali. Tidak takut mengadakan parlementaire democratie. Tokh nanti lihat utusan-utusan di dalam parlemen itu sebagian besar antek-antek kami. Sebagian besar akan berpikir secara kami, oleh karena kamilah yang membiayai universitas-universitas, membiayai sekolah-sekolah menengah. Oleh karena kamilah yang mencetak buku-buku, oleh karena kamilah yang mengeluarkan surat-surat kabar dan majalah. Kami kaum pengusaha, kami menguasai “beheersen het politieke en het intellectuele leven van het volk”.

Dan di dalam praktiknya demikian Saudara-saudara, semua parlemen-parlemen yang baru lahir, yaitu di pertengahan abad ke-19 revolusi Perancis, sebentar diikuti oleh satu periode yang menentang, tetapi kemudian dalam tahun 1848 datang lagi satu revolusi. Malahan yang lebih tegas “met parlementaire rechten” di Eropa, sebagian lain ada yang 1852 ada yang tahun 1856. Tetapi pertentangan di abad ke-19 itulah terselenggara apa yang di­namakan “parlementaire democratie”. Dan atas dasar hasil dari­pada parlementaire democratie ini kapitalisme di Eropa Barat berkembang biak benar.

Jadi jelaslah bahwa parlementaire democratie adalah ideologi politik daripada “Kapitalisme im Aufstieg”.

Tatkala kita mengadakan pergerakan nasional, dengan seka­ligus kita berkata bahwa kita menghendaki demokrasi pula. Tetapi kita mengetahui bahwa parlementaire democratie atau politik de­mokrasi saja bukan membawa kebahagiaan kepada rakyat, tetapi sebaliknya tumbuhnya kapitalisme sebagaimana yang kita lihat di Eropa, yang kendati berjalannya parlementaire democratie, sejak pertengahan abad ke-19, kita melihat kapital-isme menjadi kuat. Kita melihat “: kartel-kartel” dan “trust-trust” makin lama makin hebat. Sebaliknya kita melihat rakyat jelata menjadi kaum “prole­tar” yang papa sengsara.

Dengan sekaligus kita berkata pada waktu kita mengadakan Gerak Nasional, kita tidak menghendaki hanya demokrasi politik, tetapi kita menghendaki pula demokrasi ekonomi. Parlementaire demokrasi adalah hanya demokrasi politik, parlementaire demo­krasi memberikan “kans” yang sarna secara demokratis kepada semua orang di bidang politik, itupun “zogenaamd”. Sebab dalam praktiknya si pemegang uanglah yang bisa merbiayai surat kabar, membiayai propaganda etc. etc. Tetapi pada teorinya, sernuanya di bidang politik sama: engkau boleh dipilih, engkau boleh memilih, semua orang boleh memilih, semua orang boleh berpaham, berpendapat sendiri dan sernua boleh mengutarakan pikiran­nya itu, sama tidak ada perbedaan. Tetapi di bidang ekonomi, tidak! Tidak ada kesamarataan di bidang ekonomi! Kita melihat si kaya, si miskin, si milyuner, si proletar – dalam arti si jembel, bukan dalam arti marxis yang tulen, yang tempo hari sudah di­katakan proletar adalah orang yang menjual tenaganya, dengan tidak ikut memiliki alat produksi, itu “definisi proletar”. Jadi di bidang ekonomi tidak ada sama rata sama rasa. Ini yang pernah digugat oleh pemimpin-pemimpin kaum buruh di Eropa, yang juga dengan tegas mengatakan: kami ini tidak mau cuma demo­krasi politik tok. Di dalam tahun 1870 lebih hebat lagi dan pada permulaan abad ke-20 digembar-gemborkan oleh pimpinan kaum buruh di Eropa Barat.

Kita baru sekarang berani mencela: hanya demokrasi politik tok. Kita baru sekarang berani berkata: verrekt met parlementaire democratie tok. Kita terbelakang, paling sedikit 50 tahun!

Di alam Eropa, tadi saya berkata sudah mulai tahun 1860, ’70, ‘ 80, permulaan abad ke-20, orang-orang seperti Adler, Liebknecht menjatuhkan vonnis yang sama sekali vernietigend terhadap par­lementaire demokrasi tok.

Orang-orang seperti Juarcz. Liebknecht, seperti Adler, menghendaki apa yang mereka namakan politik ekonomische dmokrasi. Dus bukan hanya demokrasi politik tetapi juga demokrasi ekonomi. Sama rasa di dalam lapangan politik, tetapi juga sama rasa di dalam lapangan ekonomi.

Dan politiek economische democratie inilah yang sebagai saya katakan di dalam kuliah terhadap mahasiswa-mahasiswa di Yogyakarta, oleh Adler dinarnakan sosial demokrasi.

Sosialisme itu mempunyai macam-macam aliran. Ada aliran sosial demokrasi, ada aliran religieus socialisme, ada aliran “anarkhisme Bakunin”, ada aliran komunisme daripada lenin. Salah satu aliran dalam sosialisme bernama sosial demokrasi. Adler yang menghendaki politik ekonomische demokrasi ini

dalam satu perkataan sociale democratie; bahasa Indonesia-nya demokrasi sosial. Juarez juga begitu, malahan Juarez, – saya

selalu gemar sekali kalau menyebutkan dia punya nama, – di dalam parlemen di Perancis itu pidatonya selalu dengan perkataan­perkataan yang indah. Ia berkata: “Di dalam parlementaire de­mocratie tiap-tiap orang bisa menjadi raja. Tiap-tiap orang bisa memilih, tiap-tiap orang boleh dipilih. Tiap-tiap orang bisa memu­puk kekuasaan untuk menjatuhkan menteri-menteri dari sing­gasananya”. Dan memang, di dalam parlementaire democratie, menteri yang sudah kuasa itu, di dalam parlementaire democratie bisa dijatuhkan oleh si jembel, wakil-wakilnya yang duduk dalam parlemen itu. Menteri yang berkuasa dijatuhkan oleh anggota-ang­gota parlemen.

Di bidang politik tiap-tiap kita adalah laksana raja. Tetapi di bidang ekonomi tidak demikian. Si kaum buruh yang pada hari ini di dalam parlemen adalah seorang raja, besok pagi di dalam pabriknya ia bisa dilempar keluar dari pabriknya itu menjadi menjadi orang yang tiada kerja. Si kaum buruh vang menjadi anggota parlemen ini hari bisa menjatuhkan menteri, tetapi kem­bali di dalam pabrik dia adalah buruh di bawah kekuasaan sang majikan, bisa dilepas bisa dijadikan orang yang “op de keuen”, hidup sengsara. Oleh karena itu, Juarez pada permulaan abad ke-20 itu, tahun 1903, dia sudah menjatuhkan “vonnis” kepada demokrasi parle­menter. Ia menghendaki politiek economische democratie; demikian pula Liebknecht, demikian pula banyak pemimpin­pemimpin lain.

Kalau kita pada hari sekarang ini tahun 1958 juga mengeritik parlementaire democratie, ada yang mengatakan: “Dia itu kominis! Dia itu mau memblinerkan kita kepada satu alam yang salah”. Saya dikatakan demikian pula: “Lihat Bung Karno dengan demokrasi terpimpin. Kapan dia keluarkan perkataan demokrasi terpimpin itu sesudah Bung Karno pulang dari Sovyet Uni, se­sudah Bung Karno pulang dari RRC.

Marilah saya terangkan sekarang sedikit tentang fasisme. Begini: Di dalam alam kapitalisme, kapitalisme itu kecuali hidup­nya seperti yang sudah saya gambarkan, juga mempunyai penya­kit. Dan penyakitnya itu saban-saban datang, yaitu penyakit yang dinamakan krisis. Kapitalisme Amerika sekarang ini sedang me­ngalami krisis sedikit. Krisis sejak tahun yang lalu mulai berjalan, malah Saudara-saudara tahu pabrik-pabrik mobil sekarang sedang distop.

Tahun 1929 tempo hari krisis hebat, – yang kita kenal di sini dengan perkataan malaise. Kapitalisme itu mempunyai satu pe­nyakit yang “inhaerent”; artinya sudah pembawaan daripada kapi­talisme sendiri. Selalu kapitalisme itu diganggu krisis, periodiek mesti ada krisisnya.

Nah, saat kapitalisme banyak untung, datanglah saat krisis. Pada saat kapitalisme hidup lagi, datanglah lagi krisis. Hidup lagi, banyak untungnya, krisis lagi. Periodeiek up and down. “Up”-nya ini dinamakan dalam ilmu ekonomi periode conjuncture. Conjunc­ture artinya krisis. Sekarang saya hendak menggambarkan bagai­mana rupanya kapitalisme yang sedang naik yang melalui beberapa conjuncture-conjuncture. Krisis itu terjadi beberapa pu­luh tahun sekali, tetapi yang dinamakan “im aufstieg” itu adalah meliputi periode yang lama dari abad ke-18 sampai abad ke-20.

Jadi selama “Aufstieg” itu ada conjuncturekrisis – conjunc­turekrisis. Tetapi garis besarnya pada pokoknya terus naik. Ke­mudian di situ saat kapitalisme menurun, “Niedergang”. Inilah beberapa garis yang saya tarik. Garis ini pada saat-saat krisis. Krisis naik, conjuncture naik; daripada satu ketika krisis lagi, naik lagi, diatasi lagi krisis itu, conjuncture lagi, diatasi lagi, krisis lagi, conjuncture krisis, conjuncture krisis.

Bagaimana caranya mengatasi zaman conjuncture? Apa coraknya?

Barang produksi banyak dan juga laku, sehingga meerwaarde yang masuk di dalam kantong sang pengusaha banyak sekali. Produksi tinggi dan selalu bisa habis terjual, ini namanya conjunc­ture. Memang kapitalisme membuat barang untuk dijual, kapital­isme tidak membuat barang untuk individuele consumptie. Sang kapitalis membuat barang itu tidak untuk dirinya.

Kapitalis pembikin kueh-mari misalnya, membikin itu bukan untuk dimakan sendiri; tidak, tetapi untuk dijual dengan untung. Untung itu ialah sebagian daripada meerwaarde yang masuk di dalam kantongnya. Ini adalah sifat daripada kapitalisme: pro­duceren untuk dijual dengan untung.

Nah, pada satu saat produksi-produksi laku, tetapi sampai kepada satu tingkat yang tidak bisa habis dijual, itu dinamakan overproductie. Itu adalah satu paham relatif, artinya asal barang tidak bisa dijual dinamakan overproductie. Di sini tercapai satu ketika yang barang tidak bisa dijual lagi, produksi mandeg atau terpaksa diperkecil. dikurangi. Datanglah krisis, banyak kaum buruh di-ontslag enz. enz.

Tetapi pada satu ketika krisis ini yang sudah mencapai dasarnya yang paling rendah, dengan beberapa usaha bisa naik lagi. Usahanya itu apa, kok bisa naik lagi? Perbaikan daripada sistem produksi: perbaikan mesin-mesin; cara kerja yang lebih efisien; propaganda daripada produksinya yang lebih menarik kepada rakyat; penekanan daripada tenaga kaum buruh yang geor­ganiseerd di dalam serikat-serikat sekerja, etc. etc.. Naik lagi. Produksi bisa bertambah laku pula. Conjuncture pada satu saat tercapai lagi, maximum. Di situ krisis, yaitu tidak terjual, dus kalau terus produksi rugi nanti, tidak terjual. Tetapi dengan caraperbaik­an lagi, disempurnakan cara produksi etc. etc.; naik lagi, krisis, naik lagi.

Tetapi pada satu ketika timbullah puncak maksimum, puncak maksimum daripada kecakapan manusia untuk mem-perbaiki alat­alat. Mesin-mesin sudah tidak bisa dipergunakan lagi. Sistem bedrijf sudah geperfectioneerd. Di balik itu tenaga daripada kaum buruh makin lama makin sempurna diorganisir. Di sini gerakan kaum buruh mulai tumbuh dan makin lama makin kuat.

Jadi meskipun sistem produksi, sistem bedrijf diperbaiki, sampai pada satu saat tidak bisa diperbaiki lagi, maksimum ca­pasiteit toh tidak bisa terus conjuncture, oleh karena tuntutan dari kaum buruh kekuasaan kaum buruh juga makin naik. Meerwaarde yang masuk di dalam kantong si kapitalis makin lama makin kecil dan ditentang oleh kaum buruhnya itu.

Tadi dengan saya punya contoh kueh, tepung dengan gula 100 menjadi kueh 200, meerwaardenya 100. Ini 50 masuk kantongnya kaum buruh sebagai upah, 50 masuk kantongnya sang kapitalis. Itu pada fase permulaan tatkala kaum buruh belum diorganisir secara kuat.

Tetapi Saudara-saudara mengetahui organisasi kaum buruh makin lama makin sempurna. makin lama makin kuasa.

Dari 100 meerwaarde ini yang tadinya diberikan kaum buruh hanya 50, belakangan menjadi 60 buat kaum buruh, dituntut 60. Sudah 60 dituntut lagi 70. Hanya 30 masuk di kantong si kapitalis. Tuntut lagi 80 masuk di kantong kaum buruh, tinggal 20 buat si kapitalis. Tuntutan lagi 90 masuk dalam kantong kaum buruh, tinggal 10 masuk kantong si kapitalis.

Dus “marge” keuntungan pengusaha makin lama makin kecil. Seperti Saudara-saudara lihat di Amerika sekarang ini, pabrik­pabrik Mobil Detroit misalnya sekarang ini mandeg, Royter pemimpin kaum buruh, dia yang “voorschrijven”: sekarang engkau pengusaha mobil, aku yang menentukan berapa mobil yang harus diprodusir, berapa yang tidak. Chrysler sementara tutup. Bagian Ford Continental tutup. Krisis.

Nah, demikian pula ini Saudara-saudara. Pada satu ketika tercapailah “het absolute maximum”, krisis, coba lagi, conjunc­ture-conjuncture, krisis lagi, coba dengan macam-macam lagi. Bahkan nanti tenaga atom dikerjakan juga yang dipakai untuk menjalankan pabrik, untuk menjalankan mesin-mesin. Tenaga atom itu sudah geperfectioneerd, tetapi sistemnya salah, yaitu sistem meerwaarde. Dan sebagian daripada meerwaarde itu masuk kantong daripada pengusaha. Itu sistem kapitalis.

Meskipun, dus, mesin-mesin, bedrijf dan lain-lain seba­gainya, geperfectioneerd secara teknis, oleh karena sistemnya salah maka selalu hukum krisis itu datang pula. Di-perfectioneer, krisis lagi. Saudara lihat garis umum ini naik, garis umum ini menurun, inilah “Niedergang”. “Kapitalismus im Aufstieg”, “Kapitalismus im Niedergang”.

Secara alam pikiran politik, di sini parlementaire democratie akan membahayakan kepada Kapitalismus im Niedergang. Parle­mentaire democratie yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk ikut bermusyawarah, meskipun alat propaganda, alat surat kabar, alat sekolah etc. etc. sebelumnya sudah di tangan mcrcka. Toh, tadinya, di alam ini, tatkala tenaga kaurn buruh belum terorganisir seperti sekarang, mereka masih selalu bisa “beheersen” parlemen. Tetapi di sini tidak bisa lagi, sebab alam parlementaire democratie tidak bisa lagi.

Nah, di sinilah kapitalisme lantas berkata: Tidak berjalan parlementaire democratie. Di sinilah kapitalisme memperguna-kan “luuisle reddingspoging van het kapitalisme “, yaitu fasisme.

Tidak diberi kesempatan kepada semua orang untuk men­jalankan dernokrasi; tidak diberi kesempatan kepada si kaum buruh untuk mengirimkan wakihlya, di dalam parlemen; tetapi kekuasaan di dalam tangannya si diktator. Entah diktator namanya Hitler, entah diktator namanya Mussolini, Franco atau apapun, tetapi itu adalah corak daripada kapitalisme im Niedergang.

Historis materialisme ini jelas bahwa dus alam pikiran manusia, alam pikiran politik juga ditentukan oleh sociaal econo­mische factoren. Alam pikiran fasisme ditentukan oleh sociaal economische factoren. Pada satu ketika seluruh rakyat Jerman itu cinta kepada Hitler. Pada satu ketika, umpamanya terjadi di Timur, juga ludah Hitler dijilat oleh rakyat. Coba terjadi di dunia Timur, pada satu ketika juga air cucian tangan Hitler juga akan berharga 1.000 pound. Alam pikiran daripada rakyat pada waktu itu sama sekali ditentukan oleh sociaal econornische verhoudingen. His­toris materialisme.

Nah, dus Saudara-saudara, kita yang melihat segala cacat-ca­cat daripada productiewijze daripada kapitalisme, melihat dari­pada cacat-cacat parlementaire democratie, kitalah yang sebaliknya, sebagai amanat penderitaan daripada bangsa Indone­sia, memikul kewajiban untuk menyelenggarakan satu masyarakat yang bukan masyarakat kapitalisme, tetapi masyarakat yang adil dan makmur. Sekarang ini saya mengundang untuk berpikir sesuai dengan amanat penderitaan itu. Saya mengundang agar supaya meninggalkan alam demokrasi liberal. Saya mengundang agar supaya meninggalkan cara berpikir ala parlementaire democratie yang politik demokrasi tok. Saya mengundang agar supaya rakyat Indonesia itu dalam menyusun ia punya demokrasi menaruhkan segala sesuatu di atas kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

Maka oleh karena itu saya berkata: Demokrasi yang harus kita jalankan adalah demokrasi Indonesia, membawa kepribadian In­donesia sendiri. Jikalau kita tidak bisa berpikir demikian itu, kita nanti tidak dapat menyelenggarakan apa yang menjadi amanat penderitaan daripada rakyat itu.

Saya ulangi lagi: Demokrasi bagi kita bukan sekadar alat teknis; memang benar bahwa demokrasi adalah alat teknis untuk mencapai sesuatu hal, sebagaimana nasional sosialisme adalah satu alat teknis, sebagaimana diktatur proletariaat adalah satu alat teknis. Demokrasi bagi kita sebenarnya bukan sekadar satu alat teknis, tetapi satu alam jiwa pemikiran dan perasaan kita. Tetapi kita harus bisa meletakkan alam jiwa dan pemikiran kita itu di atas kepribadian kita sendiri, di atas penyelenggaraan cita-cita satu masyarakat yang adil dan makmur, yang sudah jelas tidak bisa dengan demokrasi secara ini.

Oleh karena itulah, di waktu yang akhir-akhir ini saya meng­anjurkan dijalankannya demokrasi terpimpin.

 

Sekian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KULIAH UMUM TENTANG PANCASILA

DI DEPAN PARA PESERTA

SEMINAR PANCASILA DAN PARA MAHASISWA

 

Pada Tanggal 21 Februari 1959
di Yogyakarta

 

Saudara-saudara sekalian.

Belum pernah saya begitu gembira, gembira karena setuju seratus persen. Setuju seratus persen dengan apa? Dengan apa yang dikemukakan oleh ananda mahasiswa itu tadi. Ya Saudara­saudara tadi tertawa tebahak-bahak. Dan sekarangpun juga. Tetapi ananda mahasiswi, – yang namanya saya tidak tahu -, kepada mahasiswa-mahasiswa, pemuda-pemuda mahasiswa, saya berita­hukan, bahwa namanya mahasiswi itu tadi ialah Lina. Ananda Lina berkata: “Marilah kita mengenangkan arwah-arwah kita”.

Nah, itu tepat betul. Ananda Lina tidak berkata, marilah kita mengenangkan arwah-arwah pahlawan-pahlawan kita yang telah mendahului kita ke alam baka. Tidak! Ananda Lina berkata: “Marilah kita mengenangkan arwah-arwah kita”, dan sebagai tadi saya katakan itu tepat sekali. Artinya, saudara harus mengenang­kan arwahmu, Pak Karno harus mengenangkan arwahnya. Tepat sekali. Barangkali ananda Lina tadi malam mendengar pidato Bapak Presiden. Pada waktu menguji pidato, Bapak Presiden tadi malam berkata, tiap-tiap manusia nanti di akhirat akan ditanya oleh Tuhan akan pimpinannya. Dikatakan di dalam Kitab Suci, bahwa kita ini semua adalah pemimpin atau penggembala. Dan nanti di akhirat kita semuanya ditanya tentang pimpinan kita. Kita ini semua pemimpin, semua penggembala. Misalnya Pak Roeslan Abdulgani, di rumah beliau adalah pemimpin atau penggembala keluarganya, dan dia nanti di akhirat akan ditanya: “Hai Roeslan Abdulgani, bagaimana engkau menjalankan pimpinan di dalam keluarga?” Kecuali itu, Pak Roeslan Abdulgani adalah pemimpin di dalam masyarakat. Tiap-tiap kita ini pemimpin dalam masyarakat. Tukang dokar, pemimpin di dalam kedokarannya. Tukang beca, pemimpin di dalam pembecaannya. Opsir, perwira, pemimpin di dalam ketentaraannya. Ditanya kita semua ini. Ba­hkan saudari juga pemimpin. Sekarang ini pemimpin di dalam masyarakat, – barangkali ada adik-adik – dan lain-lain ditanya: “Engkau memimpin bagaimana?”. Juga pemimpin-pemimpin di kalangan mahasiswa dan mahasiswi ditanya.

Ananda Lina berkata: “Marilah kita semuanya ingat, bahwa kita nanti ditanya tentang pemimpin”.

Kita semuanya, tidak terkecuali, bukan saja yang sudah gugur; yang masih hidup sekarang ini nanti ditanya akan kepemimpinan­nya. Pokoknya akan ditanya antara lain: “Engkau di dalam masyarakat tatkala engkau hidup, apa yang engkau telah perbuat; apakah engkau berbuat kebajikan untuk masyarakat, ataukah telah membuat jahat untuk masyarakat?” Oleh karena itu, maka ucapan saudara Lina itu tepat sekali. Dan kok kebenaran Gajah Mada yang punya mahasiswi begitu itu.

Kemudian, waktu saya melihat ananda Lina memimpin Indo­nesia Raya, – meskipun ada selipnya sedikit, oleh karena ulang­annya cuma satu kali, – tatkala saya melihat caranya memimpin, saya ingat kepada Demokrasi Terpimpin yang harus saya kuliah­kan. Sebab pernah ditanya kepada saya: “Pak, Demokrasi Ter­pimpin itu apa toh Pak?” Saya bicara satu jam dua jam. Terang? Belum! Wah, bagaimana menerangkan ini. Lantas saya menerangkan hal satu konsert dengan ia punya dirigent yang konsert itu terdiri daripada banyak orang, Yang satu memegang biola, yang satu memegang gitar, yang satu memegang trombone, yang satu memegang trompet, yang satu memegang ting – ting – ting, yang satu memegang jidor, dan lain-lain sebagainya.

Meskipun bermacam-macam alat, tetapi oleh karena ada pimpinan, pertama pimpinan daripada satu lembaran kertas, – apa namanya itu noot, bahasa Indonesianya noot. Misalnya, lagu “RlauweDonau” oleh Johann Strauss, sudah nyata lagunya itu dari noot ini. Kemudian dirigent, pemimpin, memimpin orkes itu yang terdiri daripada puluhan bahkan ratusan orang; keluarlah satu suara yang merdu yang berirama, yang harmonis, melukiskan lagu waltz “Blauwe Donau” buatan Strauss.

Kertas noot ini, di dalam Demokrasi Terpimpin inilah blue­print, pola, pola pembangunan yang dibuat oleh Dewan Perancang Nasional, disingkat DPN, tetapi yang oleh Bapak Prof. Mr. Dr. Haji Muhammad Yamin disingkatkan, dengan cara yang romantis sekali, disebutkan DEPERNAS. Pola yang dibuat oleh Depernas ini, itulah kertas nootnya. Penyelenggara dari-pada pola ini, masyarakat ini tadi, yang terutama sekali terdiri daripada tenaga­tenaga fungsionil, menyelenggarakan pola ini bersama-sama di dalam satu irama yang merdu sehingga terselenggaralah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sebagai yang tertulis di dalam Undang-undang pembentukan Depernas.

Lha, ananda Lina tadi, juga begitu Saudara-saudara, dengan sangat mahirnya memimpin.

Di dalam penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur se­mua memberikan tenaganya. Insinyur-insinyur memberi tena­ganya, dokter-dokter memberi tenaganya, tukang-tukang gerobak memberi tenaganya, ahli-ahli ekonomi memberi tenaga-nya, ahli­ahli dagang memberi tenaganya, ahli-ahli pertahanan memberi tenaganya, semua memberi tenaganya. Bercorak macam, tetapi toh menjadi satu harmoni, menyusun satu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Tadi juga demikian, macam-macam suara saya dengar. Tetapi di bawah pimpinan ananda Lina, bukan main merdunya. Saya dengar ada suara bas; saya dengar ada suara laki-laki tetapi so­praan, seperti burung sikatan suara itu. Saya mendengar ada suara yang gemetar, ada suara yang betul-betul bergelora, tetapi se­muanya bersama-sama memperdengarkan satu lagu “Indonesia Raya” yang membangkitkan keharuan hati.

Inilah gambar daripada demokrasi terpimpin di dalam esensinya. Contoh ini saya berikan kepada kawan yang bertanya kepada saya: “Apa Bung, demokrasi terpimpin itu? Dan yang sesudah dua jam saya bicara sampai meniren saya punya mulut ini, saya tanya: “Sudah mengerti?” “Belum”. Kemudian saya beri contoh hal konsert dengan ia punya kertas noot dan dirigent, sekaligus ia mengerti.

Saudara-saudara, saya di sini diminta memberi kuliah tentang keadilan sosial dan demokrasi terpimpin. Mulai dengan pertanya­an: “Apa toh Bung, keadilan sosial itu?” Kok perlu-perlunya ditanyakan apakah keadilan sosial itu; padahal semua orang se­benarnya di dalam kalbunya sudah mengerti. Keadilan sosial ialah suatu masyarakat atau sifat suatu masyarakat adil dan makmur, berbahagia buat semua orang, tidak ada peng-hinaan, tidak ada penindasan, tidak ada penghisapan. Tidak ada – sebagai yang saya katakan di dalam kuliah umum beberapa bulan yang lalu – exploitation de l’homme par 1′homme. Semuanya berbahagia, cukup sandang, cukup pangan, “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja”. Jelas, nggak perlu diterangkan lagi. Di dalam ilmu ilmiah, di dalam bidang ilmiah timbul pertanyaan, bagaimana mencapai atau terjadinya masyarakat yang demikian itu.

Nah, di sini ada bermacam-macam pendapat. Ada orang yang berkata – dan orang ini mendasarkan kepada teori yang biasa dinamakan teori evolusi, evolutie theorie – yang menurut evolu­tie theorie ini, masyarakat keadilan sosial atau katakanlah masyarakat sosialis datang lambat laun dengan sendirinya. Dalam bahasa Jermannya “Sozialismus ist eine historische Not­wendigkeit”.

Suatu keharusan historis, historische Notwendigkeit. Mau tidak mau dengan sendirinya masyarakat bertumbuh, ber-kembang, berbangkit berevolusi ke arah sosialisme.

Oleh karena itu, dikatakan “Sozialismus ist eine historische Notwendigkeit”. Garis besar daripada evolutie theorie adalah se­bagai berikut: bahwa dunia manusia ini tidak selamanya begini. Bahwa dunia manusia itu bertumbuh, berevolusi, bahwa manusia zaman sekarang lain sekali daripada manusia zaman dulu. Bahwa zaman dahulu manusia itu masih biadab, berdiam di hutan, di rimba-rimba, kemudian lambat laun, bertumbuh, bertumbuh ke­cerdasannya, berevolusi kecerdasannya, hingga akhirnya terca­painya ujung kecerdasan dan puncak evolusi itu yang berupa satu masyarakat sosialisme. Dikatakan: fase pertama daripada evolutie theorie ini, manusia hidup di dalam gua-gua dan rimba-rimba. Cara pencaharian hidupnya ialah dengan memburu, mencari ikan di sungai atau di laut. Cara yang boleh dikatakan sangat terbe­lakang, prehistoris, cara amat terbelakang. Dan nanti saya terangkan di dalam pertumbuhan inipun berubah akal pikiran, pandangan-pandangan daripada manusia itu. Akal pikiran adalah pencerminan, refleksi daripada cara manusia mencari makan dan minum.

Mula-mula mencari makan dan minum dengan memburu dan mencari ikan, berdiam di gua-gua, di rimba-rimba, akal pikirannya sesuai dengan keadaan yang demikian itu. Pernah saya kuliahkan mengenai cara religi, bahkan bentuk religinya sesuai dengan cara hidup yang demikian itu. Bagi manusia di tingkat evolusi yang demikian, yaitu orang yang hidup dalam rimba raya, di dalam gua-gua, mencari ikan, berburu, maka ia punya tempat persemba­han lain daripada tempat persembahan kita sekarang. Manakala kita sekarang mengenal apa yang dinamakan Tuhan, atau Allah atau Yehovah, atau God, dulu dalam tingkat evolusi sedemikian itu, yang disembah ialah petir, ialah awan yang berarak, ialah sungai yang dahsyat mengalir, ialah angin taufan, ialah pohon rindang yang memberi perlindungan, ialah batu besar yang di belakangnya ia ber-sembunyi. Ini mereka punya Tuhan. Tuhannya berupa petir, gcledek, hujan, angin, awan, pohon, lautan sungai dan lain-lain sebagainya. Di dalam tingkat kehidupan demikian itu misalnya rakyat Skandinavia zaman dahulu, – ini pernah saya ceritakan di dalam pidato saya tatkala memperingati Isyra Mi’radj di Surabaya, – tatkala mereka masih hidup di dalam hutan dan rimba-rimba, zamannya Germanen tijd, yang mereka sembah an­tara lain ialah Wodan atau Geledek dan Guntur yang mereka beri nama Thor.

Jikalau rnereka mendengar geluduk yang gemeluduk, di dalam angan-angan mereka, mereka melihat raja Thor mengen­darai ia punya kendaraan di langit. Rodanya terbuat daripada sinar yang bercahaya dan tiap-tiap kali roda itu mengenai awan melom­pat dari satu puncak awan ke puncak awan yang lain, keluariah suara geluduk yang dahsyat. Orang Skandinavia zaman dahulu, jikalau mendengar akan geluduk dengan mata yang dahsyat, mereka berkata satu sama lain: “Thor lewat. Thor lewat”. Sama dengan orang Yogya. Orang Yogya itu kalau mendengar angin ribut: “lampor, lampor”. Tahu nggak lampor? Ya, ada kereta di langit lewat. Malah ada yang keluar dengan lampu, lampunya dicantelkan di muka rumah. “Mas, kok pasang lampu”. “Lampor lewat”.

Ini adalah tingkat kehidupan manusia menurut evolutie theo­rie yang pertama. Kemudian manusia berevolusi, akan pikirannya makin lama makin cerdas, meningkat ke tingkat yang kedua, terutama sekali di tanah-tanah, di negeri-negeri yang banyak pe­rumputan. Manusia lantas pindah kepada kehidupan berternak. Evolusioner sangat logis, bahwa daripada memburu di hutan lam­bat laun menternak, misalnya memburu rusa, memburu kambing, memburu sapi, – sapi zaman dahulu itu di hutan, kerbau zaman dahulu itu di hutan, seperti rusa zaman sekarang di hutan. Mem­buru kerbau, memburu sapi, akhirnya menangkap juga anak sapi, atau anak kambing. Mereka belajar: ini bisa dipelihara. Lambat laun lantas timbul pikiran: daripada memburu menghadapi bahaya yang begitu banyak, mungkin disambar oleh Thor ini, atau kelelep di dalam sungai, lebih baik ini saja: mengumpulkan anak kambing atau anak sapi. Dipelihara, berkembang biak, menjadi apa yang dinamakan ternak. Berevolusilah ia punya hidup ke arah peter­nakan. Dan dengan itu berevolusi pula ia punya alam pikiran, bahkan berevolusi ia punya pengertian akan Tuhan.

Tadi yang ditakuti ialah Thor atau menyembah pohon, atau menyembah batu, seperti tersebut di dalam Baghawat Gita. Baghawat Gita itu ajarannya Sri Kresna kepada Arjuna di dalam peperangan Bratayuda. Esensi daripada baghawat Gita ialah bah­wa Kresna menceritakan hal ini: Tuhan itu rupa-rupa macammnya.

Nah ini tadi berupa Thor, kemudian lagi berpindah, berpindah rupa. Kresna berkata kepada arjuna: Aku, yaitu Tuhan yang di­maksud dengan perkataan Aku, Aku adalah di dalam geloranya lautan yang membanting di pantai.

Fase pertama Aku adalah di dalam sepoinya angin yang meniup; fase pertama Aku adalah di dalam rindangnya pohon yang memberi perlindungan padamu; Aku adalah di dalam batu di muka mana si – orang – biadab menekukkan lutut; Aku adalah di dalam harumnya bunga; Aku adalah di dalam api; Aku adalah di dalam panasnya api, Aku adalah di dalam bulan pernama; Aku adalah di dalam sinarnya bulan purnama; Aku adalah di senyum­nya gadis yang manis. Aku memenuhi semesta alam ini.

Demikian pula manusia sebagai tadi saya katakan yang di­sembah itu selalu berubah-ubah. Thor, beringin, batu, lautan, sungai dan lain-lain di dalam tingkat pertama menjadi tempat persembahan. Tatkala manusia hidup dari peternakan berpin­dahlah ia punya “image of worship”, Inggerisnya “image of wor­ship” daripada pohon dan petir, angin ribut dan lautan dan sungai kepada binatang-binatang. Oleh karena ia hidup dari binatang, ia mengagungkan, memuliakan, bahkan menyembah binatang. menyembah sapi, yang restannya masih ada kita lihat di Indonesia sekarang. Menyembah gajah, menyembah buaya, menyembah rusa dan lain-lain sebagainya. Berpindahlah lambat laun manusia ini kepada fase evolusi yang ketiga. Fase evolusi ketiga ialah: dari peternakan manusia hidup, belajar hidup dari pertanian. Juga logis. Manusia dari asal mulanya sudah omnivoor; omnivoor artinya hidup dari segala macam makanan. Herbovoor hanya hidup dari tumbuh-tumbuhan, seperti sapi. Carnovoor hanya hidup dari da­ging-daging, seperti harimau. Manusia adalah omnivoor; makan segala; makan daging, makan ikan tetapi juga makan tumbuh-tum­buhan. Pada waktu di dalam fase pertama dia sudah makan tum­buh-tumbuhan. Juga oleh karena ia adalah omnivoor. Di samping makan daging, ia melihat ada jagung, ia makan jagung. Ia melihat ada padi, ia makan padi, ia melihat ada jipang, ia makan jipang, ia melihat ada labu, ia makan labu. Ia melihat ada buah-buahan di pohon, ia makan buah-buahan di pohon. Ia melihat ada lem­bayung, ia makan lembayung.

Lambat laun di dalam fase yang kedua itu, ia harus memberi isi perut, bukan saja hanya perutnya sendiri, tetapi isi perut ter­naknya, dan ia memberi isi perut ternak itu, rumput. Tetapi juga mencarikan rumput atau daun-daunan untuk ternak itu, sebagai­mana orang zaman sekarang juga masih mencari makanan bagi ternaknya. Lambat laun ia belajar, bahwa rumbuh-tumbuhan ini bisa ditanam. Padi bisa ditanam, jagung bisa ditanam dan selalu hasilnya lebih baik daripada hidup liar. Akhirnya ia belajar, lha, tidak perlu ternak-ternakan dan lain sebagainya itu; ini lebih penting. Lebih gampang dan lebih memuaskan hidup daripada jagung, hidup daripada padi.

Oleh karena itu: Ayo sekarang tanam padi, tanam padi, tanam jagung, tanam jagung.

Fase ketiga daripada perikehidupannya ialah ke bidang per­tanian. Dan pernah saya tuliskan di dalam kitab saya “Sarinah”, di sini kita wajib memberi hormat kepada wanita. Wanitalah “de ontdekster van de landbouw” yang pertama. Wanitalah yang per­tama kali menemukan ilmu pertanian ini. Bukanlah laki-laki. Tetapi Wanita! Sebab tatkala laki-laki berburu, tatkala laki-laki mencari ikan di laut atau di sungai, tatkala laki-laki menggem­balakan ia punya ternak di dalam fase yang kedua, sebagian daripada wanita itu tinggal di tempat kediamannya yang belum berupa rumah, masih berupa hutan, gua. Tetapi wanita tinggal di situ, oleh karena ia tidak bisa ikut selalu memburu tidak bisa selalu ikut mencari ikan, tidak bisa selalu ikut menggembala oleh karena wanita kadang-kadang hamil dan lain-lain sebagainya. Wanita harus memelihara anak, menggendong anak meskipun belum de­ngan selendang seperti zaman sekarang. Dengan anak merah ini ia tidak bisa ikut memburu, tidak bisa ikut menangkap ikan, tidak bisa ikut menggembala ternaknya jauh daripada tempat yang menj adi perlin- dungan baginya. Dia tinggal di tempat. Dan tatkala oleh karena ia tinggal di tempat itulah, ia pada waktu menganggur bercocok tanam. Anaknva dibaringkan somewhere. Ditutupi daun-daun dan di atas daun-daun yang lunak, somewhere, ia cokel-cokel tanah, dan ia melihat; he, butiran pada kalau di­tanamkan tumbuh, kemudian bisa berbuah. He, butiran jagung kalau ditanamkan tumbuh, kemudian bisa berbuah. Ia lantas se­macam zich specialiseren, specialized herself, di dalam hal ini, sehingga dialah yang menjadi promotor daripada pertanian. Oleh karena itu saya katakan: wanita adalah “de eerste ontdekster van de landbouw”, pendapat pertanian yang pertama. Kalau tidak salah ini pernah saya kuliahkan pula di sini.

Demikian pula wanitalah yang membuat kebudayaan yang pertama. “De ontdekster van cultuur”, wanita. Bukan laki-laki! Wanita yang pertama-tama harus memberi perlindungan kepada babynya. Timbul pikirannya: aduh, kasihan anakku ini; kalau hujan basah, kalau ada matahari ia kering. kasihan. Dengan ran­ting-ranting ia membuat semacam atap di atas baby itu, ditutup dengan daun-daunan asal permulaan daripada pengertian rumah. Wanita pertama-tama membuat rumah. Wanita yang meli­hat: “kasihan babynya, dingin kedinginan, hujan basah” timbul pikiran: Kalau kulit binatang, ia sambungkan satu sama lain, dengan dikasih lubang, dengan akar kasih lubang manjahit. Pertama kali saudara-saudara. Satu bagian kulit binatang dengan lain bagian kulit binatang, dihubungkan satu sama lain; dengan duri ia bikin lubang, dan dengan serat ataukah dengan akar yang halus ia sambungkan dua hal ini. Ini sudah permulaan daripada kultur. Permulaan daripada kebudayaan. Kultur berpakaian wanita; de eerste ontdekster, ontdekster van cultuur. Wanita pula yang dari ternak itu harus mengumpulkan air susu. Bukan saja makan dagingnya, susupun berharga sekali buat ia minum, buat ia persembahkan kepada suami, – sekarang ini wanita kadang­kadang tidak mau persembahkan apa-apa kepada suaminya -, buat diberikan kepada babynya. Bagaimana ia mengumpulkan susu? Sapinya banyak susunya atau kerbaunya banyak susunya, kambingnya banyak susunya. Ini persetujuan barang kali. Ia tim­bul pikiran di dalam otaknya untuk membikin wadah buat susu, ia buatnya dari tanah liat. Dari tanah liat ia bikin buat pertama kali periuk. Ia tahu tanah liat itu kok bisa, kalau dibegitu-begitukan menjadi wadah dan wadah yang basah ini dikering-kan. Apalagi kalau dibakar. Kemudian ini penjadi periuk, bisa menjadi tempat susu. Jadi jelas benarlah perkataan saya, bahwa wanita adalah “de eerste ontdekster van cultuur”.

Di dalam tingkat hidup yang ketiga ini yang manusia hidup daripada pertanian, terutama sekali, pindah lagi ia punya Godheid, pindah lagi ia punya tempat persembahan, – tadinya guntur, geledek, pohon, air dan lain-lain, pindah kepada binatang-bi­natang, – sekarang pindah kepada suatu tempat permohonan. Padi di tanam. tetapi kalau hujan. Kalau tidak hujan, kering. Ia mempunyai tempat pemohonan: mohon supaya sang padi ini tumbuh dengan selamat dan baik. Ia mulai memberi bentuk antro­pomorf kepada ia punya Tuhan. Antropomorf artinya berbentuk manusia. Tadinya berbentuk, terutama sekali, sebagai Thor itu manusia, tetapi kebanyakan masih berbentuk pohon, berbentuk batu, laut dan lain-lain sebagainya. Berbentuk binatang, jelas. Sekarang antropomorf sekali. Dewanya atau dewinya manusia. Di sini timbul begrip Uewi Sri, kataku tempo hari. Antropomorf.. puteri cantik yang bernama Dewi Sri, yang memberi perlindungan kepada pertanian itu. Di tanah Pasundan Saripohaci. Saripo­hacipun – kalau ditanya bagaimana rupanya Saripohaci? Masya Allah, masya Allah, cantiknya bukan main! Malam-malam di dalam sinar bulan purnama ia turun dari kayangan. Melewati sinar bulan itu. Ia lantas melihat sawah-sawah dan ladang-ladang ini. Ia memberi restu kepada sawah-sawah dan ladang-ladang ini. Antro­pomorf. Tetapi pusat ia punya persembahan manusia itu, kesitulah.

Pindah lagi evolusinya.

Evolusi yang keempat, ialah manusia, oleh karena bercocok tanam, memerlukan alat. Bercocok tanam tidak bisa dengan tangan saja dikorek-korek. Memerlukan alat-alat untuk garap tanah. Pi­kiran manusia lantas membuat alat. Membuat semacam linggis, dari batu atau dari kayu. Membuat semacam pacul, membuat semacam garu. Membuat semacam alat pengangkutan, yang men­gangkut padi-padi yang banyak itu dari sini ke sana. Mula-mula diseret saja, tetapi lambat laun, lambat laun, timbul ia punya pengalaman: kalau bukan diseret, tetapi dengan barang yang ge­melinding, bunder, lebih mudah. Timbullah akal manusia untuk membuat alat. Alat pertanian, alat membuat periuk-periuk, alat membuat rumah-rumah. Rumah itu banyak sekali keperluannya. Membuat tatah untuk mengerjakan kayunya, harus tali-temali. Malahan timbul pikiran: harus dibor, harus dengan pantek, harus dengan ini. harus dengan itu. Alat untuk membuat pakaian yang tadinya dari kulit binatang yang satu dihubungkan dengan kulit binatang yang lain. Lambat laun timbul pikiran, pikiran membuat alat, membuat alat. Akhirnya timbul fase yang keempat, yaitu fase manusia hidup di sampingnya bercocok tanam dengan yang di­namakan kerajinan tangan, nijverheid, industri. Belum industri besar, tetapi huis-industrie, industri kecil, industri rumah. Dan di dalam alam yang demikian ini pikirannyapun lain, tempat persem­bahannyapun lain. Tadi di dalam fase yang ketiga antropomorf, jelas dikata-kan puterinya cantiknya bukan main! Malahan bisa digambar-kan; rambutnya “ngandan-andan kaya kembang bakung”. Ciptaannya itu jelas kelihatan, Antropomorf. Kulitnya mingir-mingir, bibirnya seperti gambir sinigar, lehernya seperti lungnya jagung mantul-mentul, lambehannya seperti macan luwe. Jelas kelihatan. Tetapi di dalam fase yang keempat, lmbat laun hilang gambar antropomorf ini. Lambat laun ia punya Tuhan menjadi Tuhan yang gaib. Gaib artinya tidak bisadilihat, tidak bisa diraba, tidak bisa dicium, tidak bisa dikenali dengan panca indera. Dilihat tidak kelihatan, didengar tidak kedengaran, dijilat tidak terasa dipegang tidak bisa, dicium tidak ada baunya. Hilang ia punya sifat antropomorf. Ia lantas menggaib, hilang, ialah teru­tama sekali oleh karena manusia di sini cara hidupnya tergantung dari ia punya akal, ketajaman ia punya otak, akalnya, akal memikir mencari alat, alat, alat. Bagaimana bisa membikin alat supaya membuat kain selekas-lekasnya; ini harus ada alat pemintal kapas, Sesudah kapas ini dipintal menjadi benang, harus ada alat untuk menenun; alat membikin gerobak, alat membikin lobang di dalam kayu, yaitu bor.

Alat ini, alat itu. Alat, alat, pikir, pikir. Akal pikiran manusia­lah menduduki tempat yang pertama di dalam ia punya hidup. Ia punya Tuhan juga menjadi gaib. Kalau ditanya bagaimana Tuhanmu? Kelihatankah? Tidak. Bisa engkau bau? Tidak. Bisa engkau raha? Tidak. Bisa engkau lihat? Tidak. Bisa engkau de­ngar? Tidak. Di mana Tuhanmu? Tidak kclihatan. Gaib, sebagaimana juga akal manusia adalah gaib. Saudara Roeslan Abdulgani tempo hari berkata di dalam salah satu prasaran, ada yang me ngatakan manusia itu fosfor. Ini ucapan dari Feurbach. la berkata:

“Zonder fosfor, geen mens, geen gedachte, zonder fosfor geen gedachte”. Tanpa fosfor tidak ada pikiran. Oleh karena ia berpen­dapat, pikiran itu timbulnya daripada otak yang makanannya terutama sekali fosfor. Jadi kalau tidak ada fosfor, tidak ada pikiran, tidak ada ini, tidak ada itu. Fosfor pokok daripada segala hidup, terutama sekali hidup mental, hidup spirituil, hidup pikiran, hidup yang di luar daripada kepanca-inderaan.

Oleh karena manusia di dalam fase keempat, terutama sekali tergantung daripada kecerdasan otaknya, ia punya Ketuhanan menjadi gaib, abstrak, tidak lagi riil.

Ini di dalam fase keempat, demikian.

Fase keempat bertambah maju lagi menurut hukum evolusi, menjadi fase kelima, yaitu fase yang kita namakan fase industrial­isme sekarang ini. Kerajinan di rumah membuat alat-alat, bertum­buh, ontwikkelt zich, developed itself, ke dalam satu kesempurnaan teknologi, ke dalam satu kesempurnaan ilmu teknik, sehingga jadilah apa yang dinamakan industrialisme, yang di dalam zaman dekat ini dikuasai oleh paham-paham kapitalisme. Industrialisme yang membuat alat-alat dan kebutuhan hidup manusia dengan mesin. Industrialisme yang mengenal lokomotif. Industrialisme yang mengenal kapal-kapal udara. Industrialisme yang mengenal kapal-kapal laut. Industrialisme yang mengenal pesawat listrik. Industrialisme yang mengenal radio. Industrial­isme yang mengenal alat-alat peperangan yang di luar kekuasaan manusia. Industrialisme yang boleh dikatakan menjadi alat hidup manusia sama sekali.

Di dalam fase yang demikian ini, apa yang tadi dinamakan Tuhan, yang abstrak, – di dalam fase keernpat orang masih bcrkata, adakah Tuhan? Ada. Rupanya bagaimana? Tidak tahu. Rupanya saya tidak bisa mengatakan. Dilihat tidak bisa, dicium tidak ada, didengar tidak ada, diraba tidak ada, dijilat tidak rasa. Di luar panca indera, tetapi Dia ada. Ini fase keempat.

Fase kelima. Oleh karena manusia sudah hidup di dalam alam industrialisme yang ia kuasa membikin segala hal, membikin apa saja yang ia tidak bisa, lha mbok membikin pesawat yang bisa mengirimkan suara dari sini ke Amerika, ia bisa. Alam yang demikian itu, yang merasa dirinya kuasa, kuasa atas segala hal; yang di sini “de ikheid”, ego, aku, -ego dengan aku etymologis sama – aku yang berkuasa, aku bercakrawarti. Aku kuasa mem­buat suara. Aku kuasa membuat sinar yang terang. Aku berkuasa membuat petir. Tempo hari saya ceritakan bahwa Nocolai Tesla bisa membuat petir, dengan mengadakan dua pool yang ia isi voltage bertrilyun-trilyun volt. Kemudian ia lepaskan. Di antara dua pool ini mencetus, menggeledeklah petir. Ia berkata: “Aku bisa membuat petir!”

Orang bertanya mana Tuhanmu? He, Tuhan, tidak ada. Tuhan di sini tidak ada. Tuhan ialah aku. Aku bisa membuat suara, aku bisa membuat petir, aku bisa membuat cahaya, aku bisa membuat segala hal yang diperlukan. Aku, aku, aku! Di sinilah timbul, apa yang orang namakan atheisme, sebagai Feuerbach berkata: “Akh, nonsens dengan agama. Nonsens dengan Tuhan. Fosfor adalah pokok daripada segala gedachte”.

Saya ulangi tekanan kata: Alam industrialisme yang di dalam saat-saat belakang kita yang dekat ini, dikuasai oleh paham kapi­talisme. Itu merupakan satu kuliah tersendiri. Faham kapitalisme menguasai industrialisme ini. Mempergunakan industrialisme ini untuk membuat kayanya satu bagian daripada manusia, dan mem­buat sengsaranya sebagian besar daripada manusia. Sistem exploi­tasi daripada kapitalisme mem-pergunakan industrialisme ini. Di dalam alam keadilan sosial, alam isdustrialisme ini juga dipergu­nakan. Jangan mengira bahwa keadilan sosial itu mempergunakan alat-alat yang usang dan kuno, bahwa kita dengan alam keadilan sosial ini kembali kepada hidup di dalam rimba atau di dalam gua, bahwa kita di dalam alam keadilan sosial itu kembali kepada hidup hanya daripada ternak saja, atau hanya pada pertanian saja. Atau di dalam alam keadilan sosial itu hanya duduk di rumah, membuat kikir, membuat palu, membuat ini, membuat itu, membuat industri kecil perumahan. Tidak.

Sudah pernah saya katakan bahwa cita-cita kita dengan ke­adilan sosial ialah satu masyarakat yang adil dan makrnur. Saya tekankan adil dan makmur, makmur dan adil, dengan mempergu­nakan alat-alat industri, alat teknologi yang sangat modern. Yang membuat celaka manusia bukan mesinnya. Yang membuat celaka manusia ialah caranya kita mempergunakan mesin. Mesin yang tempo hari saya katakan oleh Mahatnla Gandhi dikatakan “devils work”, ia tidak senang kepada mesin, benci kepada mesin. Benci kepada kapal udara. Benci kepada lokomotif. Benci kepada derunya mesin-mesin yang dahsyat. Mahatma Gandhi lebih senang kepada hidup “tentrem, adem ayem, adil, siniram banyu wayu sewindu lawase”. Mahatma gandhi tidak menyenangi indus­trialisme modern. Sebaliknya kita senang kepada industrialisme mnodern, asal tidak dikuasai oleh sistem kapitalisme. Tetapi indus­trialisme modern itu kita pergunakan untuk kepentingan umum. Mesin kita pergunakan untuk kepentingan umum. Segala alat-alat modern kita pergunakan untuk kepentingan umum.

Menurut evolutie-theorie, maka sebagai tadi saya katakan, “Sozialismus ist eine historische Norwendigkeit”. Menurut sebagian daripada evolutie-theorie ini, sudah dengan sendirinya manusia itu hidup daripada berburu dan mencari ikan, ke perter­nakan, ke pertanian, ke perindustrian rumah, ke industrieel kapi­talisme, atau kapitalistis industrialisme; nanti dengan sendirinya tumbuh daripada kapitalis industrialisme atau industrieel kapital­isme ini, sosialisme, tumbuh masyarakat adil dan makmur. Malah­an orang daripada pihak ini mengatakan: “Tidak hisa engkau lewati fase ini, fase industrieel kapitalisme, fase kapitalistis indus­trialisme ini; tidak bisa engkau lewati. Malahan ia berkata fase industrieel kapitalisme atau kapitalistie industrialisme ini adalah tempat latihan, tempat pengalaman. Manusia tidak bisa sekon­yong-konyong menjadi sosialis, katanya. Manusia tidak bisa seko­nyong-konyong mem-pergunakan industrialisme itu untuk kebahagiaan sernuanya. Manusia tidak sekonyong-konyong bisa mempergunakan industrialisme itu sebagai socialistis industrial­isme. Tetapi manusia itu harus mendapat latihan berpuluh-puluh tahun. Cara mempergunakan mesin-mesin, menjalankan pesawat­pesawat, cara mengetahui management. Ini terutama sekali di­katakan: “Management ini, wah, ini yang paling penting”. Tidak bisa orang sekonyong-konyong tahu management, sekonyong­konyong bisa. Meskipun diberi mesin seribu, dua ribu, empat ribu, lima ribu, sepuluh ribu, sekonyong-konyong ia bisa membikin satu masyarakat adil dan makmur, sosialistis. Satu pendirian Saudara-­saudara, ia katakan: “Ya, ini dengan sendirinya tumbuh. Reaksi daripada kaum yang di dalam sistem kapitalisme ditindas”.

Ingat tempo hari saya memberi kuliah di sini, bahwa di seluruh sejarah manusia itu selalu ada pertentangan. Selalu ada klassen­strijd. Selalu ada pertentangan kelas. Dulu di dalam zaman feodal, pertentangan kelas antara tuan feodal dengan rakyat yang difeo­dali. Di dalam alam kapitalisme juga ada pertentangan kelas antara kelas kapitalis dengan kelas proletar.

Dengan sendirinya maka kesadaran kelas, klassebewustzijn, kesadaran kelas, makin lama makin tumbuh, makin lama makin tumbuh, sehingga makin bertumbuhnya klassebewustijn daripada kelas proletar ini lama-lama zich organiseren di dalam kekuatan­kekuatan yang berupa vakvereniging, kumpulan-kumpulan, seri­kat-serikat, sekerja dan lain-lain sebagainya. Sehingga kekuasaan daripada kaum kapitalis ini lambat laun dirckoti, dikrikiti, digro­goti. Tempo hari saya sebutkan, ini adalah uithollingstheorie. Dengan sendirinya kapitalisme itu uitgehold. Lama-lama dengan sendirinya kapitalisme ini yang uitgehold, tergerogoti, makin lama makin mengkerut, makin lama makin mengkeret. Dengan sendiri­nya timbullah satu masyarakat sosialisme.

Ini yang dinamakan evolutie-theorie di dalam uiterste konse­kwentie. Tanpa perjuangan, boleh dikatakan. Dengan sendirinya “est ist eind historische Notwendigkeit”. Sudah, kerja saja biasa, ambillah pengalaman. Dengan sendirinya nanti, nanti, nanti. De­ngan sendirinya nanti toh datang alam sosialisme.

Di dalam kuliah saya yang akhir di Yogyakarta, saya sudah katakan bahwa ada teori lain, yang menentang uithollings-theorie ini. Teori yang berkata: kapitalisme tidak bisa mengkeret dengan sendirinya, kapitalisme tidak bisa gugur dengan sendirinya; tidak bisa. Tetapi pada satu saat kapitalisme ini hanya dapat digugurkan. Digugurkan dengan tenaganya kaum proletar yang terhimpun di dalam satu massa-aksi yang hebat. Digugurkan dengan tenaganya kaurn proletar yang merebut kekuasaan daripada tangannya kaum kapitalisme itu. Kemudian diadakan satu sistem oleh kaum prole­tar sendiri untuk mempergunakan alat-alat industrialisme yang rnodern ini bagi kepentingan kaum proletar.

Inilah yang tenlpo hari saya katakan kepada Saudara-saudara, yang dinamakan “revolutionaire theorie van de directe actie”. Teori revolusioner daripada aksi direk, aksi langsung. Bukan menunggu terjadinya sosialisme sebagai satu “historische Nol­wendigkeit”. Tidak! Tetapi menyusun tenaga, menggempur, menggempur kapitalisme ini. Akhirnya kapitalisme ini gugur, dan hanya kaum proletar yang berkuasa. Siapa yang tidak proletar tidak boleh ikut campur di dalam urusan ketatanegaraan. Di dalam tata ekonomipun, hanya kaum proletar yang mengurus, mengatur, agar supaya alat produksi yang modern ini dipergunakan untuk kepentingan buruh, kaum proletar, tanpa exploitation de 1′homme par l’homme.

Ini dinamakan “theorie van directe actie”. Di dalam penyeleng-garaannya ialah diktatur proletar “dictatuur van het proletariaat”. Kuasa kaum proletar sendiri menggunakan alat-alat yang modern untuk kepentingan seluruh kaum proletar. Sosial­isme proletar “het proletarisch socialisme”.

Berhadapan dengan theorie ini lambat laun di dalam abad ke-20 atau lebih tegas permulaan abad ke-20, timbullah suara­suara: “Nee, nee, sosialisme adalah benar suatu unsur Not­wendigkeit”. Tetapi itu tidak berarti bahwa dus sosialisme itu jatuh dari langit seperti air embun jatuh dari langit di waktu malam. Sosialisme harus diperjuangkan, meskipun ia seribu kali Not­wendigkeit, meskipun ia seribu kali “historische Notwendig-keit”. Ia hanyalah menjadi satu realiteit dengan perjuangan; satu. Nomer dua, tidak perlu manusia itu, fase pertama dulu, fase kedua dulu, fase ketiga dulu, fase keempat dulu, fase kelima dulu, baru sosial­isme. Tidak perlu.

Ini adalah teori baru yang timbul pada permulaan abad ke-20. Pada permulaan abad ke-20 sebetulnya gerakan kaum buruh di Eropa, yang saudara-saudara mengerti bahwa teori-teori ini ter­utama sekali timbul di dalam gerakan kaum buruh, orang belum mempunyai pengalaman. Pada permulaan abad ke-20 atau akhir abad ke-19 belum ada contoh, bahwa sesuatu bangsa mencoba menyelenggarakan sosialisme. Belum ada. Saudara mengetahui, bahwa negara sosialis yang pertama terjadi di dalam tahun 1917 si Sovyet Uni yang sebagai tempo hari saya katakan, tidak disangka-sangka oleh ahli sejarah, terutama sekali ahli sejarah peperangan dunia pertama. Peperangan dunia pertama mempu­nyai war-aim, mengalahkan satu pihak, ini mesti kalah, ini mesti menang. Jebul yang timbul dari peperangan dunia yang pertama, bukan menangnya ini. bukan gugurnya ini, tetapi timbul suatu hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka, yaitu timbul berdirinya negara sosialis di Rusia yang bernama Sovyet Uni. flingga tempo hari saya sitirkan salah seorang sosialis yang berkata: “War is strange alchemist”. Apa yang sebenarnya hendak dibuat tidak jadi.

Tetapi muncullah suatu hal yang sama sekali tidak tersangka­sangka. Perang dunia pertama menghasilkan barang yang tidak tersangka-sangka yaitu terjadinya negara sosialis di Sovyet Uni.

Pada permulaan abad ke-20 dan akhir abad ke-19 manusia belum melihat contoh penyelenggaraan sosialisme, sebagai sekarang orang melihat contoh penyelenggaraan sosialisme. “in al zijn schakeringen”. Saudara-saudara mengetahui, bahwa sesudah peperangan dunia yang kedua juga timbul hal yang tidak ter­sangka-sangka.

Peperangan dunia kedua yang kancah-kancahnya berkobar­kobar, bernyala-nyala, berapi-api di seluruh dunia, dimaksud-kan untuk menimbulkan kemenangan bagi “Allied Forces”, negara­negara sekutu. Hancur leburnya negara-negara yang tergabung di dalam fasisme, Jerman, Italia, Jepang. Apa yang terjadi sebagai peneloran dari peperangan dunia yang kedua ini? Juga, sekali lagi “War is a strange alchemist”. Dengan tidak tersangka-sangka timbul negara-negara sosialis yang baru. Sampai sekarang kalau tidak salah terjadi 15 negara sosialis baru di dunia ini, sebagai akibat peperangan dunia yang kedua, sehingga manusia sekarang, lain daripada manusia dulu. Manusia sekarang lain daripada manusia pada permulaan abad ke-20, lain daripada manusia di dalam akhir abad ke-19. Manusia sekarang melihat beberapa contoh “in al zijn schakeringen”, ada extreem, ada yang setengah extreem, ada yang lunak, tetapi contoh penyeleng-garaan sosial­isme, di dalam segala bentuk, “in al zijn schakeringen”. Pada akhir abad ke-19, permulaan abad ke-20 belum ada sesuatu contoh, sehingga pada waktu itu terutama sekali, sebagian besar dari kaum sosialis, mengikuti teori evolusi, “in al zijn konskwenties” itu tadi, “Sozialismus ist eine historische Notwendigkeit”, Sosialisme nanti datang sendiri. Ya, biarlah kita mengalami alam kapital-isme ini, sebagai alam latihan, alam pengalaman, alam peng-alaman mem­pergunakan alat-alat modern. Alam pengalaman hal management, alam untuk mendidik social bewustzijn sedalam-dalamnya di dalam kalangan kaum proletar. Ini adalah satu fase yang perlu. Dikatakan: Perlu! Juga satu fase historisch Notwendegkeit.

Tanpa fase lima ini, tidak bisa engkau mengadakan sosial­isme. Tidak bisa engkau “ujung-ujung” dari kelas tiga naik kelas tujuh. Mesti mengalami kelas empat, kelas Iima, kelas enam dulu. Teori ini pada permulaan abad ke-20 mulai ada yang menentang, yaitu yang dinamakan kaum sosialis revolusioner. Antara lain seorang wanita lagi, namanya Rosa Luxemburg, yang berkata: Nee, tidak perlu fase satu dulu, fase dua, fase tiga, fase empat, fase lima kemudian baru sosialisme. Tidak perlu! Boleh dilompati fase kapitalisme ini. Dari fase keempat kita bisa melompat ke fase enam. Luxemburg mengatakan, teorinya itu teori, dalam bahasa asing, Belandanya “fasensprong”, pelompat-an fase. “Theorie der Fasensprung”, bahasa Jermannya.

Penting sekali teori Rosa Luxemburg ini “theorie der Fasen­sprung”, melompat. Dan teori ini ternyata benar, ternyata benar di dalam alam sekarang, di mana orang mempunyai penglihatan pengalaman-pengalaman. Saudara melihat beberapa negara yang tadinya bobrok sama sekali yang sama sekali lebih mesum dari­pada kita. Karena ada contoh melihat, sebab ia hidup di dalam alam abad ke-20, melihat contoh di Sovyet Uni begitu, di RRC, begitu, di negara lain begitu: “O, sekonyong-konyong kok bisa dari sini ke sini”. Ia bisa presideren Fasensprung ini. Misalnya saya ambil satu contoh: Uzbekistan itu 34 tahun yang lalu, masya Allah, perkara terbelakangnya bukan main! Atau Mongolia yang pernah saya datangi, – Uzbekistan pun pernah saya datangi -, Mongolia dengan ibukotanya Ulanbator tiga puluh tahun yang lalu, masya Allah, terbelakangnya! Maaf, tempo hari saya berkata di Mongolia itu 30 tahun yang lalu wanita-wanita ganti celana satu kali setahun. Tidak ada wanita bisa membaca, bisa menulis, orang laki-lakipun 95% tidak bisa membaca dan menulis. Orang di sana cuma bisa menggembala, menggembala kuda, menggembala sapi, meng­gembala kambing, Gembal, gembala, gembala. Lha kok sekarang, di dalam tahun 1956 saya datang di Ulanbator, yang di dalam kitabnya Sven Hedin di dalam permulaan abad ke-20 Ulanbator dilukiskan sebagai suatu kota, yang bukan kota, yang rumah-ru­mahnya tidak ada; cuma tenda, “jurk” namanya, tenda terbuat dari pada kulit onta, kulit kuda atau kulit sapi. Kotor sama sekali. Datang di Ulanbator itu berbulan-bulan melewati padang pasir. Di Ulanbator sendiri sangat terbelakang, tidak ada orang bisa mem­baca dan menulis. Kemudian didatangi pula oleh Dr Hanina W. Halle, yang menulis buku. Bukunya itu ada barangkali di perpus­takaan sini: “De vrouw ini Sovyet Rusland atau ada kitab nomor dua: “De vrouw in het Sovyet Oosten”. Mengenai wanita “De vrouw in Sovyet Rusland” atau buku lain “De vrouw in het Sovyet Oosten” Dr Hanina W. Halle mengatakan, pada waktu ia datang di situ keadaan masih mesum sekali. Saya datang di Ulanbator, melihat jalan jalan terbuat daripada aspal, melihat ada pabrik besar, canning industry, membikin makanan dalam blek. Hasil daripada ternak, daging sapi, daging kuda, daging ini, daging itu, dimasak di dalam pabrik itu; keluar dari pabrik itu blek-blek, blek, rasanya nyaman.

Saya melihat Universitas, – yang, waduh, kalau saya melihat Gajah Mada ini! Saya melihat gedung Parlemen ber­tingkat empat. Saya melihat museum geologi yang masya Allah penuhnya ia punya koleksi daripada batu-batu yang terdapat di Mongolia, ini ada besinya, itu ada tembaganya, itu ada mangaan­nya, itu ada batunya, ini ada batunya. Di sana ada minyak tanah, ini ada, itu ada, bahkan batu-batu yang berisi fosil-fosil beberapa ratus ribu tahun yang lalu ada juga. Kemajuan bukan main. Dan kemajuan ini berkat penyeleng-garaan teori Fasensprung, teori melompati.

Mongolia tidak perlu mengalami kapitalisme, walaupun dulu masih hidup di dalam fase yang kedua peternakan sekonyong-ko­nyong melompati fase tiga, fase empat, fase lima, menjadi suatu bangsa yang menyelenggarakan Sozialismus.

Kita bangsa Indonesia ini sebenarnya juga di dalam keadaan yang demikian. Kita mengadakan revolusi sudah empat belas tahun. Dan sekarang datanglah saatnya kita menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sebagai ter­tulis dalam Undang-undang pembuatan Depernas.

Apakah perlu kita juga mengalami lebih dahulu fase Kapital­ismus? Saudara-saudara barangkali mengatakan: “Ya, kita sudah mengalami kapitalisme, belum 100%”. Kita meng-alami imperial­isme. Kita mengalami Imperialisme di dalam segala ketidak­enakannya. Tetapi kita belum mengalami industri-alisme, industrieel kapitalisme atau kapitalistis industrialisme; belum kita alami. Belum kita alami sebagai rakyat Perancis mengalaminya, rakyat Inggris mengalaminya, rakyat Jerman mengalaminya. Belum! Kita masih sebagian besar hidup dalam fase agraris, ditambah sebagian hidup di dalam fase keempat huisindustrie. Tetapi apakah kita harus mengalami fase industrieel kapitalisme, kapitalistis industrialisme agar supaya kita bisa mengalami atau menyelenggarakan, membina, mengadakan satu masyarakat adil dan makmur, keadilan sosial? Tidak, sama sekali tidak. Pertama, pengalaman bangsa-bangsa lain bisa kita pergunakan. Dan demikianlah yang dipergunakan pula oleh bangsa-bangsa yang setaraf dengan kita. Dipergunakan oleh rakyat India, melihat di negeri-negeri lain. Dipergunakan oleh rakyat Mesir, melihat keadaan di negeri-negeri lain, melihat Yugoslavia, yang dulu juga masih separo-separo hidup di dalam fase keempat. Melihat peng­alaman dari mana-mana, sekarang, mereka mencoba dengan hasil yang agak memuaskan, mengadakan sosialisme itu. Kita tidak perlu mengalami fase kapitalisme “in zijn volle konskwenties”.

Maka sebagai tadi saya katakan, untuk menyelenggarakan so­sialisme ala Indonesia atau sosialisme yang berdasarkan Pancasila itu, kita adalah demokrasi terpimpin, yang essensinya sudah saya gambarkan kepada saudara-saudara, dengan caranya ananda Lina memimpin lagu Indonesia Raya. Semua menyumbangkan ia punya tenaga, baik ahli ini, ahli itu, semuanya menyumbangkan ia punya tenaga, di bawah pimpinan satu blue-print, kitab nootnya, kertas nootnya, di bawah pimpinan seorang dirigent. Dan tidak perlu itu, tidak harus itu bernama Soekarno. Seorang dirigent yang bisa memimpin irama ini. Tetapi dirigent itu sebetulnya juga cuma satu, ya, satu, teknis sebenarnya yang menjadi pemimpin ini, nootnya ini. Apakah dirigentnya itu Torcanini, apakah dirigentnya itu Pak Abdulkarim, apakah dirigentnya itu Raden Ajeng Siti Soemiati, apakah dirigentnya itu seorang lain-lain; yang penting ialah blue printnya ini!

Walta “Die Blaue Donau” dari Johann Strauss, atau “Uben den Rellen” dari Ivanovichi, atau lagi lain-lain. Yang penting: blue print yang dibuat oleh DPN ini.

Maka di dalam hal ini, sebagai saya katakan, semua harus menyumbang tenaganya, terutama sekali daripada engkau seka­lian, Engkau sekalian yang beberapa kali, tiap kali saya katakan: “He pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau diharapkan menjadi kader pembangunan, kader pernbangunan. Tetapi di dalam melatih dirimu menjadi kader, menyusun dirimu, menyiap­kan dirimu menjadi kader, bukan sekadar engkau punya otak itu harus diisi dengan pengetahuan; o, teknik harus mengetahui hukum Torki, teknik harus mengetahui hukum Newton, teknik harus mengetahui hukurn Farraday, teknik harus mengetahui mo­ment, teknik harus mengetahui gewapend beton, atau ahli hukum harus mengetahui teori ini, teori itu, atau dokter harus mengetahui virologi atau bacteriologi, atau urologi atau chirugie atau anatomi. Bukan sekadar itu yang diperlukan. Saudara harus mengisi saudara punya otak dengan “technisce vaardigheid” yang secukup-cukup­nya. Tetapi di samping itu saudara-saudara harus mengerti blue print ini. Jiwamu harus jiwa blue print ini. Jiwamu harus jiwa ingin menyumbangkan tenagamu di dalam orkes maha besar rakyat Indonesia 85 juta, agar supaya menurut blue print ini di Indonesia terselenggara satu masyarakat adil dan makmur ala Pancasila. Dadamu harus berkobar-kobar dengan hal itu. Ya, barangkali orang-orang tua ada yang tidak mengerti blue print tadi. Ya mak­lumlahorang tua. Engkau dihidupkan tahun ’55, ‘ 56, ’57, ’58, ‘ 59. Engkau barangkali belum berumur 22 tahun. Engkau bibit muda, hidup di dalam alam sekarang. tetapi orangtua-orangtua itu ada dapurnya itu, dapur pendidikannya itu: alam dulu, alam Belanda, alam Hollands denken. Yang diketuai cuma kitab-kitab bahasa Belanda: Profesor Kan berkata demikian, profesor Kranenburg berkata demikian, bahkan tentang trias politica, Montsque berkata demikian, max Weber berkata demikian, profesor Jung berkata demikian. Dengan bekal hasil dari dapur ini ia pindah ke dalam alam sekarang. Kadang-kadang ia tidak mengerti alam sekarang ini. Maka oleh karena itu saya berkata kepadamu sekalian: He pemuda dan pemudi, engkau punya kewajiban sebagai mahasiswa bukan hanya engkau terima segala apa yang diajarkan, tetapi engkau juga mesti belajar berpikir bebas, berpikir bebas meng­alami – bukan liberalisme – berpikir bebas, in zich opnemen, mengertikan suasana baru, ini blue print, ini kitab noot. Berpikir bebas: Bagaimana aku bisa menyumbang. Ini begini sebabnya, begini sebabnya. Maaf, saya tidak mengeritik profesor-profesor; tidak. tetapi, – bukan di Yogyakarta, di Yogyakarta tidak ada -, tetapi di lain tempat ada profesor-profesor yang masih menderita penyakit Hollands denken”. Ada profesor-profesor yang men­derita penyakit snobisten. Snobisten itu, yaitu “ya-ya-o”, wah, tiap-tiap hal ia tanya kepada mahasiswa, apa, quotetionnya apa, sifatnya apa? Ya pak, ini begini, ini begini. Dari kitab mana? Lantas engkau harus bisa quote, dari kitab Jung, pagina sekian.

Wah pinter engkau. Atau sang profesor sendiri kalau memberi kuliah, o, sebentar nama-nama sesuatu kitab ia sebutkan; Kitab Kranenburg, kitab ini, kitab itu yang pernah saya di dalam kuliah di Bandung, saya sinyalir ini ke-Kranenburg-an.

Apa yang saya katakan di Bandung? Saya katakan di Bandung begini, dan saya ulangi pada waktu saya berpidato di hadapan Dies Natalis Universitas Indonesia beberapa hari yang lalu, kenyataan dunia ini, dunia manusia yang 2.800 j uta manusia ini, bukan hanya ribuan, bukan hanya puluhan ribu, bukan hanya ratusan ribu, bukan hanya jutaan, tetapi 2.800 juta manusia, nyata dunia ini terpecah belah menjadi beberapa golongan. Satu golongan besar yang pengikutnya 1.000 juta, pengikut daripada Marx dan Engels, pengikut daripada komunistis manifest. Ada lagi satu golongan besar yang pengikutnya juga hampir 1.000 juta manusia,pengikut daripada falsafah Thomas Jefferson yang telah menulis “Declara­tion of Independence America”. Dikatakan oleh Bertrand Russel, ahli falsafah Inggeris yang kenamaan, bahwa dunia ini terpecah menjadi dua golongan: yang satu golongan pengikut daripada Declaration of falsafah Thomas Jefferson, di satu pihak pengikut daripada komunistis manifest.

Di dalam pidato saya 17 Agustus 1958, saya berkata ada golongan yang ketiga, yaitu golongannya bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang tidak ikut ini tidak ikut itu, tetapi golongan yang hendak mendirikan tanah airnya sendiri menurut kepribadian sendiri-sendiri. Tetapi nyata ini dua golongan yang besar, pengikut komunistis manifest, pengikut falsafah Thomas Jefferson, yang – sedikitnya profesor-profesor itu harus mengetahui ini, mengetahui itu. Ya apa tidak? – pengikutnya itu bukan puluhan manusia, tetapi ribuan, j uta manusia. Saya tanya kepada profesor di sana itu, bukan di Gajah Mada: “Saudara apa sudah pernah baca komunistis manifest? Belum! Masya Allah! Belum pernah membaca komu­nistis manifest yang telah membelah dunia menjadi satu golongan yang besar. Tetapi ia menjawab: “Ya, saya belum membaca komu­nistis manifest, tetapi saya membaca Kranenburg”. Aduh, babak bunyar saya.

Nah, kepada mahasiswa di Bandung dan sekarang juga kepada mahasiswa di Yogyakarta, saya menganjurkan: jangan-lah mau kepada snobisten; jangan! Berpikirlah bebas, mencari cara menyumbang kepada penyelenggaraan daripada blue print ini. Oleh karena blue print ini memang amanat daripada penderitaan Bangsa Indonesia yang telah berpuluh-puluh tahun, amanat yang sepedih-pedihnya. Tujuan yang satu-satunya daripada revolusi kita yaitu suatu masyarakat adil dan makmur, berdasarkan keadil­an sosial.

Engkau, di dalam mengisi engkau punya otak, mengisi engkau punya pengalaman, kataku di Bandung, jangan menderita penyakit purbasangka, jangan prejudice, jangan berpenyakit prejudice. Sebab ada purbasangka itu. Purbasangka kepada satu golongan wetenschap, pada satu golongan ilmu. Dikatakan bahwa semua ilmu yang dari Timur, yaitu dari golongan Sovyet, tabu, tidak baik. Dibilang juga, ilmu yang dari Amerika cs, tidak baik. Dua-duanya menderita penyakit purbasangka. Padahal kita yang hendak membangun, yang hendak menyelenggarakan blue print ini, kita membutuhkan pengalaman-pengalaman, kita membu­tuhkan, membutuhkan kepandaian, membutuhkan keprigelan, hu­man skill, material investment, mental investment, technical and managerial know-how, kataku, kita membutuhkan segala hal ini. Dan menurut teori Fasensprung kita harus melihat, mengambil oper pengalaman-pengalaman daripada bangsa-bangsa lain yang berguna bagi kita. Pergilah melihat bangsa-bangsa lain itu, tanpa prejudice, tanpa purbasangka. Tidak perduli darimana, ambil oper mana yang baik. Yang dari Amerika, baik, ambil oper, yang dari Sovyet uni baik, ambil oper.

Kita yang di dalam zaman yang sekarang ini, harus dengan lekas bekerja, harus dengan lekas menyusun masyarakat adil dan makmur itu, bahkan di Bandung dan di Jakarta sata katakan. di dalam dua tiga tahun ini, dua tiga tahun ini, kita harus sudah mencapai suatu momentum konkret, meskipun minimal di atas lapangan pembangunan ekonomi. Entah momentum konkret di lapangan produksi padi yang sekarang kita masih selalu harus mengimport, entah momentum konkret di lapangan membuat bahan pakaian, entah momentum konkret di dalam lapangan mem­buat bahan-bahan keperluan hidup yang kecil-kecil sehingga saya di Jakarta tempo hari memberi semboyan baru kepada bangsa Indonesia, agar supaya kita di dalam dua tiga tahun ini mencapai satu momentum konkret meskipun minimal.

Di atas lapangan ekonomi saya beri semboyan: tiap-tiap keluarga satu produksi aparat, tiap-tiap keluarga sekarang ini harus menjadi salu produksi aparat. Sebab banyak sekali keluarga-keluarga kita ini yang tidak menjadi produksi aparat. Di daerah Garut, padahal nyata kita ini membutuhkan misalnya tutup botol, kataku di Jakarta. Kita beli tutup botol itu dari luar, kurk, gabus dari luar, dari Yunani. Devisen kita habis. Banyak sekali membeli tutup botol dari Yunani yang berupa gabus. Kita ini rakyat karet! Apa tidak bisa bikin tutup botol dari karet. Lho, itu mesti ada paberik yang besar! Tidak perlu membikin tutup botol dan karet dengan pabrik yang besar. Tiap-tiap rumah tangga itu sebetulnya itu bisa dengan lattex membuat tutup botol. Hendaknya tiap-tiap keluarga di daerah karet menjadi produksi aparat mem­buat tutup botol.

Hak-hak sepatu ini, 60% dari hak-hak sepatu ini kita beli dari luar. padahal kita ini bangsa karet! Maka oleh karena itu semboyan saya: tiap-tiap keluarga hendaknya menjadi satu produksi aparat. Dengan demikian di dalarn tempo dua tiga tahun kita sudah bisa mencapai satu momentum konkret meskipun minimal di atas lapangan pembangunan ekonomi.

Saudara-saudara kalau engkau mengerti keharusan masyarakat keadilan sosial, jikalau engkau mengerti bahwa masyarakat keadilan sosial itu adalah amanat daripada leluhurmu yang telah menderita, amanat daripada semua pejuang-pejuang yang telah mangkat lebih dahulu termasuk di dalam doa daripada ananda Lina, – yang tadi mengatakan: arwahnya harus kita peringati, -jikalau engkau mengerti bahwa segenap rakyat Indo­nesia sekarang ini gandrung kepada masyarakat adil dan makmur sebagai yang kita ajarkan kepada mereka berpuluh-puluh tahun, jikalau engkau hidup di dalam suasana yang demikian itu: Aku, aku, aku ingin menyumbang-kan tenagaku kepada penyeleng­garaan masyarakat yang demikian ini, alangkah nyamannya engkau punya hidup zaman sekarang ini. Tidak seperti zaman dulu, tatkala pemuda dan pemudi tidak mempunyai cita-cita. Lho saya ini tadinya kecil sekali; habis sekolah itu apa? Urut galengan, mencari jangkrik. Yang diperdebatkan dengan kawan-kawan cuma hal jangkrik: jangkrik itu kalau sutangnya begini, bukan main, menangan!

Tapi kamu sekarang, coba bandingkan: zamanmu dengan zamanku tatkala aku masih kanak-kanak.

O, lain sekali! Engkau sekarang ini: blue print cita-cita keadil­an sosial, terasa engkau bertanggung jawan kepada hari kemudian, bertanggung jawab kepada Tuhan sevagai dianatankan oleh Saudara Lina: Nanti engkau punya arwah akan ditanya akan kepemimpinanmu: merasa bertanggung jawab, bukan saja merasa bertanggung jawab sebagai satu beban, tetapi merasa bertanggung jawab sebagai satu tugas yang mulia, a glorious task, a glorious historical task, daripada pemuda-pemudi zaman sekarang; jikalau bisa semangat hidup di dalam kalbumu, yang demikian itu, tidak ada istilah: E, hari kemudian kita gelap gulita. Tidak! Engkau akan selalu melihat hari kemudian tanah air kita dan bangsa kita itu cemerlang; di tepi langit engkau melihat suryanya kebesaran, suryanya masyarakat adil dan makmur makin lama makin naik! Tatkala saya melantik Duta Laili Rusyad, wanita yang pertama saya lantik menjadi wakil kita di luar negeri, saya telah mensitir ucapan seorang pemimpin besar bangsa lain yang berkata kepada pemuda dan pemudi: “He, pemuda dan pemudi, engkau pembina hari kemudian. Orang katakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian”. Jangan mau terima sebutan sekadar pupuk hari ke­mudian! Jangan terima! Kita ini bukan sekadar pupuk, sekadar pupuk hari kemudian tok. Tidak! Kami lebih daripada pupuk! Sebab di dalam kami tumbuh pula bibit. Di dalam bahasa asing­nya: “Wij zijn niet enkel mest; ook in ons ontkiemt het aar; kami bukan sekadar pupuk, pupuk mati yang dimasukkan di dalam tanah, kemudian tanah itu yang menjadi subur untuk membangkit­kan tanam-tanaman. Kami bukan sekadar pupuk, di dalam kalbu kami, dada kami, rokh kami, jiwa kami bergelora: di dalam jiwa kami tumbuh pula masyarakat yang baru itu; di dalam jiwa kami tumbuh segala apa yang menjadi cita-cita bangsa kita. Ook in ons ontkiemt het aar             

Ini adalah saya punya permintaan kepada mahasiswa-maha­siswa, seluruh mahasiswa-mahasiswa Indonesia, seluruh cen­dekiawan Indonesia, seluruh pemuda-pemudi Indonesia, supaya kita bersama-sama maju ke muka, membawa sumbang-an, berupa apa saja kepada sanggul konde Ibu Pratiwi yang kita cinta. Engkau dapat menyum-bangkan bunga menur, berikan bunga menur kepada ibu Pratiwi. Engkau bisa menyumbangkan bunga melati, berikan bunga melati kepada Ibu Pratiwi. Engkau bisa menyum­bang bunga mawar, berikan bunga mawar kepada Ibu Pratiwi. Engkau bisa menyumbang bunga cempaka.. berikan bunga cem­paka kepada Ibu Pratiwi. Tetapi marilah kita semuanya memberi­kan kepada Ibu Pratiwi barang kita masing-masing dan di bawah pimpinan blue print, kita bersama-sama mengagungkan lbu Pra­tiwi itu.

Kita bersama-sama mengeluarkan satu lagu yang merdu, yang di Surakarta ada orang tanya kepadaku: Bagaimana bunyinya lagu itu? Bunyinya lagu itu adalah di bawah pimpinan blue print ini, di bawah pimpinan dirigent itu dengan permainan daripada segenap rakyat Indonesia yang menyumbang, lagu itu berbunyi: Sosialisme Indonesia, sosialisme Indonesia, sosialisme, sosialisme, adil mak­mur, adil makmur. Lagu yang merdu, yang memang menjadi cita-cita bangsa kita, sejak berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun.

Inilah harapanku kepadamu sekalian.

 

Sampai sekian saja.

 

Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REVOLUSI KITA

BERDASARKAN PANCASILA

 

Amanat Presiden Soekarno
Pada Penutupan Seminar Pancasila
di Gedung Negara Yogyakarta
Tanggal 20 Februari 1959

 

Saudara-saudara hadirin dan hadirat sekalian,

Salut kehormatan saya berikan kepada penyelenggara seminar Pancasila pertama. Salut kehormatan saya berikan kepada seminar itu seluruhnya. Salut kehormatan saya berikan kepada kota Yogyakarta, yang telah memberi tempat sebaik-baiknya, dukungan sebaik-baiknya, sumbangan sebaik-baiknya kepada berhasilnya seminar yang pertama ini.

Tadinya saya menyetujui benar, dan sekarangpun tetap menyetujui benar akan adanya seminar ini, oleh karena pihak penyelenggara, pihak pengambil inisiatif telah menekankan kepada saya bahwa di dalam sesuatu seminar tidak diperdebat-kan lagi apa yang diseminarkan. Memang demikianlah, sesuatu semi­nar tidak memperdebatkan lagi apa yang diseminarkan, melainkan sekadar memperdalarn dan memperkaya apa yang diseminarkan itu.

Maka ternyata di dalam seminar Pancasila yang telah terjadi di kota Yogyakarta ini, sebagai tadi telah dibacakan rumusan-nya: Pancasila tidak diperdebatkan lagi. Itu membuat hati saya amat gembira oleh karena saya sendiri telah berulang-ulang berkata bahwa revolusi kita dapat berjalan dengan sebaik-baiknya teru­tama sekali ialah oleh karena revolusi kita ini berdasarkan atas Pancasila. Dan bahwa Pancasila itu memang mutiara lima buah yang telah lama terpendam di dalam kalbu bangsa Indonesia sendiri.

Tidak saya sangka-sangka, bahwa dalam seminar ini bukan saja secara terbatas Pancasila diperdalam dan diperkaya, tetapi dibawa-bawa pula serta sebagai satu bagian inhaerent daripada Pancasila: persoalan demokrasi terpimpin. Bahkan seminar ini memberi dukungan yang kuat kepada ide demokrasi terpimpin, memberi petunjuk-petunjuk pula yang berharga kepada pelak­sanaan daripada demokrasi terpimpin itu. Oleh karena itu baiklah saya di samping saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada seminar ini, pada ini malam hendak menceritakan sedikit akan beberapa hal mengenai pelak­sanaan demokrasi terpimpin itu. Kebetulan sekali tadi tengah hari Perdana Menteri Juanda telah mengumumkan bahwa Presiden/ Panglima Tertinggi di Yogyakarta nanti, yaitu sekarang, akan mengumumkan beberapa keputusan beliau yang penting. Inilah tempat yang baik untuk saya mengumumkan beberapa keputus-an saya yang menurut anggapan saya memang keputusan-keputusan yang amat penting.

Marilah saya mendongeng lebih dahulu asal mulanya kita sampai kepada persoalan penyelenggaraan demokrasi terpimpin. Saudara-saudara mengetahui bahwa saya di dalam pidato-pidato saya selalu mengemukakan bahwa revolusi kita ini bermuka dua, – bukan bermuka dua secara palsu, tetapi bermuka dua laksana sebuah uang-: muka sini dan muka sini, yang dua muka itu tak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Muka dua yaitu muka politik dan muka sosial. Muka politik ialah untuk mencapai satu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwilayah kekuasaan dari Sabang sampai ke Merauke, berdaulat penuh seratus persen. Muka sosial untuk di dalam Republik itu mengadakan satu masyarakat adil dan makmur.

Malahan pernah saya katakan bahwa justeru oleh karena revolusi kita ini bermuka dua, maka saya sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu telah ikut-ikut dengan pemimpin-pemimpin lain pertama memberikan pimpinan politik kepada rakyat, politieke leiderschap, kedua memberi pimpinan ekonomi kepada rakyat, vaitu economisch leiderschap. Politieke leiderschap yang saya ikut-ikut sumbangkan mulai hampir 40 tahun yang lalu, kemudian menegas kira-kira 30 tahun yang lalu – lebih daripada 30 tahun yang lalu, – tatkala kami pemimpin-pemimpin muda pada waktu itu dengan tegas mengatakan bahwa syarat mutlak untuk memper­baiki keadaan kita, keadaan yang telah dirusak oleh imperialisme dan kolonialisme, tak lain tak bukan ialah Indonesia merdeka penuh. Satu pendirian yang pada waktu itu amat menggoncangkan kepada khalayak yang belum mengerti, oleh karena sebagian daripada pemimpin-pemimpin kita pada waktu itu berpendapat lebih dahulu mengangkat kecerdasan rakyat, dan kalau kecerdasan rakyat sudah terangkat, dengan sendirinya akan datang Indonesia merdeka. Kami sebaliknya berkata: Indonesia merdeka sebagai syarat mutlak untuk memperbaiki keadaan rakyat di segala bidang.

Politieke leiderschap ini, demikianlah saya katakan di dalam beberapa pidato, diterima dengan gembira oleh rakyat, bahkan membakar hatinya rakyat, membakar hati rakyat untuk berjuang secara masal dan revolusioner. Sehingga akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 kita dapat memproklamirkan kemerdekaan kita. Maka politieke leiderschap ini diteruskan, diteruskan sehingga pada waktu yang belakangan-belakangan ini, menjelmalah ide demokrasi terpimpin. Demokrasi terpimpin yang kami anggap perlu mutlak untuk melaksanakan masyarakat adil dan makmur. Masyarakat adil dan makmur, cita-cita asli dan murni daripada rakyat Indonesia yang telah berjuang dan berkorban berpuluh-pu­luh tahun. Masyarakat adil dan makmur tujuan yang terakhir daripada revolusi kita. Masyarakat adil dan makmur yang untuk itu, sebagai yang telah saya katakan berulang-ulang, berpuluh-pu­luh ribu pemimpin-pemimpin kita menderita. Berpuluh-puluh ribu pemimpin-pemimpin kita meringkuk di dalam penjara. Berpuluh­puluh ribu pemimpin-pemimpin kita meninggalkan kebahagiaan hidupnya. Beratus-ratus ribu, mungkin jutaan rakyat kita men­derita. tak lain tak bukan ialah mengejar cita-cita terselenggaranya satu masyarakat adil dan makmur yang di situ segenap manusia Indonesia dari Sabang sampai Merauke mengecap kebahagiaan. Satu masyarakat adil dan makmur karena segala syarat-syarat badaniyah dan syarat-syarat rokhaniyah, syarat-syarat materiil dan spirituil mental ada di dalam bumi Indonesia, di dalam kalbu rakyat Indonesia. Masyarakat adil dan makmur yang telah berko­bar-kobar sebenarnya di dalam dada keyakinan bangsa Indonesia sejak beratus-ratus tahun. Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Demikian saya katakan berulang-ulang, sehingga tiap anak kecil di desa-desa mengatakan cita-citanya adalah itu, satu masyarakat oleh karena gemah ripah loh jinawi, masyarakat tata tentrern kerta raharja, yang sebagai dikatakan oleh Pak Dalang: “para kawula iyeg rumagang ing gawe, tebih saking cecengilan, adoh saking laku juti: wong kang lumaku dagang rinten dalu tan wonten pedote, labet saking tan wonten sangsajan­ing margi; bebek ayam rajakaya, enjang medal ing pangonan surup bali ing kandange dewe-dewe.”

Masyarakat yang demikian ini yang kita cita-citakan. Dan untuk mencapai masyarakat yang demikian ini, tegas, sebagai salah satu bagian daripada politieke leiderschap, karni pemimpin­-pemimpin berkata: harus diselenggarakan demokrasi stijl baru, yaitu demokrasi terpimpin. Dan saya bergembira sekali bahwa seminar Pancasila di Yogyakarta ini ternyata mendukung bulat kepada demokrasi terpimpin itu.

Di dalam pidato-pidato saya di waktu yang akhir-akhir ini ditekankan perlunya satu Dewan Perancang Nasional dan per­soalan Dewan Perancang Nasional inipun dibicarakan masak­masak di dalam Dewan Nasional sehingga Dewan Nasionalpun telah dapat memberi usul kepada Dewan Menteri untuk memba­ngunkan Dewan Perancang Nasional. Bahkan memberi usul ten­tang hal penyelenggaraan demokrasi terpimpin itu.

Maka oleh karena usul Dewan Nasional ini masuk ke dalam sidang Kabinet, pada akhirnya Kabinet mengadakan apa yang dinamakan “open talk”, pembicaraan blak-blakan antara Kabinet dengan saya sebagai Presiden/Ketua Dewan Nasional dibantu oleh wakil Ketua Dewan Nasional Saudara Roeslan Abdulgani. “Open talk” yang pertama dijalankan di Bogor. Di dalam “open talk” yang pertama ini syukur alhamdulillah Kabinet dengan seiasekata menyetujui masuknya golongan fungsionil di dalam DPR. Prinsip masuknya golongan fungsionil sebagai salah satu bagian mutlak dari demokrasi terpimpin diterima bulat oleh Kabinet. Bahkan Kabinet menyatakan pula dengan sebulat-bulat­nya mendukung ide demokrasi terpimpin. Tetapi di dalam “open talk” di Bogor – open talk yang pertama itu, – masih harus disesuaikan lagi pikiran mengenai caranya memasukkan golongan fungsionil di dalam DPR, dus di dalam membicarakan caranya memasukkan golongan fungsionil di dalam DPR, prinsip demo­krasi terpimpin telah diterima; prinsip memasuk-kan golongan fungsionil di dalam Parlemen telah diterima. Caranya masih men­jadi pembicaraan, perlu dibahas lebih dalam.

Maka diadakanlah “open talk” yang kedua. “Open talk” yang kedua ini diadakan di Jakarta, di Istana Negara. Di dalarn “open talk” kedua ini segala pikiran dan pandangan-pandangan dengan cara yang mendalam dan dengan cara yang sesuai dengan geweten Menteri masing-masing dikemukakan. Tetapi dalam “open talk” yang kedua ini belum sampai kami, yaitu Dewan Menteri di satu pihak, Ketua dan Wakil Ketua Dewan Nasional sebagai utusan daripada Dewan Nasional di lain pihak, kepada sesuatu perse­suaian yang mutlak.

Maka diadakanlah “open talk” yang ketiga dan open talk yang ketiga ini diadakan lagi di Istana Bogor. Di dalam “open talk” yang ketiga inilah dicapai persesuaian paham antara para menteri yang hadir di situ dengan Presiden/Panglima Tertinggi/ Ketua Dewan Nasional dan Wakil Ketua Dewan Nasional. Dan persesuaian ini garis besarnya telah “dibocorkan” oleh Saudara Roeslan Abdul­gani di dalam prasarannya di hadapan Seminar. Sehingga tidak perlu saya katakan lagi apa isi perumusan Bogor itu. Perumusan Bogor ialah persesuaian paham antara Menteri-Menteri yang duduk di dalam Dewan Menteri dan saya sebagai Presiden/Pang­lima tertinggi/Ketua Dewan Nasional dan Saudara Roeslan Ab­dulgani, Wakil Ketua Dewan Nasional. Perumusan Bogor ini meskipun telah disetuj ui oleh hadirin yang ada di situ, para Menteri dan saya dan Saudara Roeslan Abdulgani, – sayang belum ada hadirat-nya -, masih harus dibicarakan lagi, dibahas lagi, dibawa ke muka sidang partai-partai pendukung daripada Kabinet Karya sekarang. Tetapi di dalam perumusan Bogor atau di dalam rapat “open talk” yang ketiga itu, telah kami putuskan sesudah “open talk” yang ketiga ini tidak ada lagi diadakan talk-talk-an lagi.

“Open talk” ketiga adalah talk yang terakhir. Tinggal sekarang ini perumusan Bogor itu dibawa ke sidangnya Dewan Pimpinan Partai-partai pendukung Kabinet, incasu dibawa kehadapan pemimpin-pemimpin tertinggi daripada Partai Nasional Indone­sia, dan Partai Nahdlatul Ulama sebagai pendukung utama dari­pada Kabinet Karya sekarang ini. Tidak perlu diadakan talk-talk-an lagi. Kami mempersilahkan kepada Kabinet mengam­bil putusan sekarang ini.

Usul Dewan Nasional tegas: ini rupanya! Perumusan Bogor, tegas: ini rupanya! Sekarang up to the Cabinet, terserah kepada Kabinet membicarakan rumusan Bogor ini dengan pimpinan Par­tai Nasional Indonesia dan Nahdlatul Ulama, dan terserah kepada Kabinet untuk mengambil sesuatu keputusan. Dalam pada itu, kami yang telah berkata tidak akan mengadakan talk-talk-an lagi, tidak duduk diam. Saudara-saudara telah menge-tahui bahwa de­wan Menteri di dalam pekan ini, hari Rabu dan hari Kamis, akan mengadakan sidang lagi untuk mengambil keputusan yang ter­akhir.. mengambil satu final decision. mengenai persoalan penyelenggaraan demokrasi terpimpin. Berhubung Dewan Men­teri pada hari Rabu dan Kamis akan mengadakan sidang untuk mengambil final decision, maka berhubung dengan itu, pada satu hari, beberapa hari sebelumnya, saya mengadakan pertemuan dengan pucuknya pucuk daripada Partai Nasional Indonesia yaitu Saudara Suwiryo, dan dengan pucuknya pucuk daripada Partai Nahdlatul Ulama yaitu Saudara Rois Aam. KH. Abdul Wahab. Pucuknya pucuk saya aturi rawuh di Istana Merdeka dan di dalam salah satu interpiu atau pertanyaan yang diajukan oleh wartawan, – wartawan-wartawan tanya kepada pihak Nahdlatul Ulama: “Tadi itu Presiden atau Saudara-saudara dengan Presiden bi­carakan apa?” -, Saudara Zainul Arifin yang menyertai Rois Aam, KH. Abdul Wahab berkata: “Kami tidak bicara apa-apa, kami cuma omong-omong”. Sehingga di dalam pers dijadikan artikel yang penting. Sekarang ini kami menunggu keputusan, menunggu decision, bukan sekadar omong-omong saja tetapi harus lekas kita sampai kepada sesuatu keputusan yang tegas. Memang sebenarnya tidak omong-omong, tetapi betul-betul pem­bicaraan yang mendalam, di satu pihak dengan pucuknya pucuk pimpinan Partai Nahdlatul Ulama, di lain pihak dengan pucuknya pucuk pimpinan Partai Nasional Indonesia. Sesudah pembicaraan dengan pucuknya pucuk daripada kedua partai ini, maka barangkali pucuknya pucuk partai ini lantas membicarakan pem­bicaraan di Istana Merdeka itu dengan kalangan Dewan Pimpinan Partainya masing-masing sehingga masuk ke dalam kalangan Menteri-Menteri daripada Partai-partai itu.

Bagaimanapun juga, dengan gembira saya tadi pagi mendapat kunjungan daripada Perdana Menteri Juanda yang melaporkan kepada saya bahwa sidang Dewan Menteri hari Rabu dan hari Kamis telah sampai kepada satu keputusan. Dan bahwa keputusan itu rupanya begini: manakala saya sesudah perumusan Bogor berkata “I1p to the Cabinet untuk mengambil sesuatu final deci­sion”, sekarang Pak Juanda berkata: “Up to the Presiden untuk mengambil final decision”.

Sementara itu Pak Juanda telah membocorkan sedikit, – membocorkan dalam arti yang baik -, kepada khalayak ramai, rupa-rupanya Presiden nanti akan menyetujuinya, katanya. Dan sekarang akan saya beritahu garis besar daripada putusan yang telah diambil oleh Presiden/Panglima Tertinggi pada ini hari mengenai penyelenggaraan demokrasi terpimpin itu. Sebagai tadi telah dikatakan oleh Pak Juanda kepada Pers: pasang telinga, nanti malam Presiden akan mengumumkan beberapa keputusan yang telah diambil oleh beliau: beberapa putusan yang penting.

Apa keputusan itu? Keputusan itu ialah sebagai berikut: per­tama: Mengingat bahwa revolusi kita ini berjalan baik karena revolusi kita ini membawa dengannya 1945, maka saya telah mengambil keputusan Insya Allah swt., sebelum saya nanti pergi ke luar negeri, – saudara-saudara mengetahui bahwa saya jikalau diijinkan oleh Allah swt., nanti akan melawat ke luar negeri -, maka sebelum saya melawat ke luar negeri, Insya Allah swt saya akan masuk ke gedung Konstituante. Lebih dahulu saya akan minta kepada Ketua Konstituante untuk mengadakan sidang Kon­stituante pleno. Insya Allah saya akan masuk melalui pintu muka, tidak masuk melalui pintu belakang. Dan di dalam Sidang Pleno Konstituante itu akan saya anjurkan kepada ketua Konstituante bahkan akan saya minta kepada Ketua Konstituante dan akan saya peringatkan kepada Konstituante akan pidato yang saya ucapkan pada waktu saya membuka resmi Konstituante bahwa kewajiban Konstituante ialah membuat UUD bagi Republik Indonesia yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bukan buat sesuatu negara baru, bukan buat sesuatu negara lain. Saya akan minta nanti kepada Sidang Konstituante, oleh karena tokh Repu­blik yang kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu sudah membawa dengannya satu Ui1D yaitu UUD ’45, agar supaya Konstituante kembali saja kepada UUD ’45 itu.

Jikalau Konstituante suka menerima anjuran saya ini yaitu mengembalikan kita kepada UUD ’45 atau di dalam istilah yang lebih tegas menetapkan UUD ’45, jikalau Konstituante menyetujui hal ini maka hendaknya Insya Allah swt. sesudah kembali daripada perjalanan saya keluar negeri diadakanlah satu hari luhur di mana Presiden dengan segenap para Menteri dan segenap anggota Kon­stituante menandatangani satu piagam yang boleh dinamakan Piagam Bandung, dan Piagam Bandung ini berbunyi bahwa Re­publik Indonesia sekarang berundang-undang dasarkan UUD ’45. Piagam Bandung sedapat mungkin telah ditandatangani oleh Presiden, para Menteri, Anggota-anggota Konstituante sebelum 17 Agustus 1959. Supaya hendaknya pada tanggal 17 Agustus 1959 saya atas nama segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke dapat berkata: sejak tanggal 17 Agustus 1959 ini Republik kita kembali utuh kepada Republik yang kita prok­lamirkan pada 17 Agustus ’45.

Ini mengenai UUD ’45

UUD ’45 itu, sebagai tadi juga diutarakan di dalam beberapa perumusan adalah satu tempat yang sebaik-baiknya untuk menyelenggarakan demokrasi terpimpin. Demokrasi terpimpin yang oleh Seminar telah diakui mutlak perlunya untuk menyeleng­garakan masyarakat adil dan makmur. Demokrasi terpimpin yang oleh Dewan Menteripun telah diterima dengan bulat bahwa de­mokrasi terpimpin itu perlu. UUD ’45 adalah tempat yang sebaik­baiknya untuk menyelenggarakan demokrasi terpimpin itu. Pertama di dalam DPR, kedua di dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat, ketiga di dalam Dewan Pertimbangan Agung. Para wartawan dengan ingatannya yang cemerlang tentu masih ingat dan mengetahui bahwa di dalam UUD ’45 disebutkan 3 hal: pertama, harus ada Dewan Perwakilan Rakyat, nomor dua, harus ada Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan wakil-wakil dari daerah ditambah dengan wakil-wakil dari golongan-golongan yaitu golongan-golongan yang sekarang di­ namakan golongan fungsionil. Dus DPR, Majelis Permusya­waratan Rakyat. Majelis Permusyawaratan Rakyat ini adalah kekuasaan yang tertinggi yang bersidang sedikitnya sekali dalam 5 tahun. Di samping itu ada lagi badan nomor tiga yang dinamakan Dewan Pertimbang-an Agung. Dewan Pertimbangan Agung yang selalu bisa diminta oleh Presiden akan pertimbangan-pertimbang­an.

Di dalam 3 badan yang disebutkan di dalam UUD ‘ 45, golong­an fungsionil bisa mendapat tempat sebaik-baiknya. Baik di dalam DPR-nya dimasukkan golongan fungsionil, maupun di dalam Majelis Permusyawaratan Rakyatnya dimasukkan golongan fung­sionil maupun di dalam Dewan Pertimbangan Agungnya masuk golongan fungsionil, sehingga UUD ’45 akan menjadi saran yang sebaik-baiknya bagi Perwakilan fungsionil, yang arti Perwakilan fungsionil itu telah saudara mengerti bahkan telah Saudara kupas di dalam Seminar yang lalu.

Saudara-saudara barangkali bertanya: “Ya akur, DPR masuk fungsionilnya, Majelis Permusyawaratan Rakyat masuk fung­sionilnya, Dewan Pertimbangan Agung masuk fungsionilnya. Tetapi yang masuk dalam DPR itu berapa?” Sebab ini yang menjadi pertikaian, bukan pertikaian, tetapi pembicaraan pemba­hasan mendalam di dalam open talk yang kesatu dan yang kedua. Berapa daripada anggota DPR itu akan berupa wakil-wakil dari­pada golongan-golongan fungsionil?

Saudara Roeslan Abdulgani telah “membocorkan” bahwa Angkatan Bersenjata akan mendapat 35 kursi, 35 kursi DPR. Dan 35 kursi itu diberikan kepada Angkatan Bersenjata: yaitu Angkatan Darat. Angkatan Laut, Angkatan Udara. Polisi. OKD. OPR; 35 tanpa pemilihan. Diangkat oleh Presiden/Panglima Ter­tinggi 35 orang dari kalangan Angkatan Bersenjata untuk me­wakili Angkatan Bersenjata itu di dalam DPR yang dari fungsionil-fungsionil lain berapa? Saudara Roeslan Abdulgani telah membocorkan jumlah Perwakilan fungsionil yaitu Angkat-an Bersenjata maupun golongan-golongan fungsionil yang lain mau­pun golongan fungsionil yang lain lagi, jumlahnya 50%.

Bagaimana putusan Presiden/Panglima tertinggi hari ini se­sudah tadi pagi mendapat laporan daripada sidang Dewan Menteri hari Rabu dan kamis, kernarin dulu dan kemarin? Pada garis besarnya saya katakan begini, ada sedikit perbedaan. Perbedaan cara memasukkan golongan fungsionil di dalam DPR. Manakala menurut perumusan Bogor akan dilakukan sistem dwita-pilih dalam ai ti dwita-toj os, sebagai tadi atau kemarin atau kernarin dulu dikatakan oleh Saudara Roeslan Abdulgani manakala rumusan Bogor menghendaki dwita-tojos dengan hasil seluruhnya golong­an fungsionil 50%, maka di dalam laporan yang dikemukakan kepada saya oleh Perdana Menteri tadi pagi dan yang sekarang saya ambil keputusan tidak dijalankan dwita-tojos tetapi eka-tojos, satu kali tusuk. Tetapi hasilnya, malahan lebih daripada 50% yang tadinya di dalam perumusan Bogor dengan sistem dwita-tojos itu total jenderal golongan fungsionil akan mendapat 50% kursi. Tetapi dengan sistem yang saya ambil keputusan sekarang ini yaitu operan daripada usul Dewan Menteri malahan meskipun sistem­nya bukan dwita-tojos tetapi eka-tojos, DPR yang baru ini akan mempunyai anggota golongan fungsionil lebih dari 5O%. Ini adalah satu kabar yang menggembirakan.

Bagaimana caranya menyelenggarakan hal ini?

Saya tadi berkata Insya Allah swt saya akan melawat ke luar negeri, dan sebelum melawat ke luar negeri Insya Allah swt saya masuk ke sidang pleno Konstituante dan menganjurkan kepada sidang pleno Konstituante untuk kembali saja kepada UUD ’45.

Demikian pula, sebelum saya pergi ke luar negeri Insya Allah akan saya minta kepada Kabinet menyelesaikan rancangan UU dua hal: pertama rancangan UU penyederhanaan kepartaian. Saudara-saudara mengetahui bahwa ini sudah lama menjadi unek­unek saya. Begitu saya munek-munek karena banyaknya partai yang saya namakan multi partai sistem sehingga beberapa kali saya bongkar, beberapa kali saya tunjukkan kepada masyarakat tidak baiknya multi partai sistem, saya bongkar habis-habisan di dalam pidato saya 17 Agustus tahun yang lalu, bahkan pernah saking munek-muneknya saya menganjurkan: sudah, bubarkan saja semua partai-partai ini. Tetapi kenyataan tidak memungkin­kan.

Di dalam segala keadaan adalah persoalan yang saya di dalanl Dewan Nasional selalu menamakan persoalan das Sein dan das Sollen. Apa yang namanya das Sollen? Das Sollen itu: bagaimana harusnya, bagaimana kita cita-citakan, bagaimana yang kita an­gan-angankan. Itu das sollen. Yang dinamakan das Sein yaitu kenyataannya. Jadi kadang-kadang tidak sama dengan das Sollen. Misalnya das Sollen ialah kita ini harus mempunyai rumah kamar enam, tetapi das Sein-nya berhubung dengan kantong kita kempes kita hanya bisa membuat rumah yang kamarnya tiga. Itu bedanya das Sein dan das Sollen.

Mengingat akan adanya perbedaan das Sein dan das Sollen ini, kernudian sesudah dengan berkobar-kobar pada satu waktu yaitu Hari Pemuda saya anjurkan agar supaya partai-partai dibubarkan, saya keluar dengan apa yang dinamakan konsepsi Presiden. Konsepsi Presiden tidak menganjurkan pembubaran partai-partai. Tetapi kensepsi Presiden menganjurkan diadakan Kabinet stijl baru yaitu Kabinet gotong royong, kabinet kuda kaki empat, kabinet yang mempersatukan semua partai-partai gembong yang ada di tanah air kita ini. Di sampingnya Kabinet gotong royong ini, kaki empat, hendaknya dibangunkan satu Dewan Nasional yang anggota-anggotanya terutama sekali ialah anggota­anggota daripada golongan-golongan fungsionil. Inipun adalah hukum das Sein dan das Sollen. Kabinet gotong royong adalah das Sol len; das Sein-nya tidak mengij inkan. Saya putar lagi. Tidak bisa Kabinet gotong royong, apa boleh buat, saya bangunkan Kabinet yang sekarang termasyhur dengan nama Kabinet Karya. I ni das Sein-nya, Kabinet Karya di satu pihak, Dewan Nasional di lain pihak. Dan sebagai saudara-saudara mengetahui alhamdulillah Kabinet Karya dengan Dewan Nasional ini sejak dilahirkannya berjalan dengan baik. Kadang-kadang ada geronjalan-geronjalan sedikit-sedikit. Tetapi di manakah di dalam sesuatu kehidupan politik daripada sesuatu bangsa yang hidup kalbunya, bangsa yang jiwanya jiwa revolusioner, bangsa yang tidak mati kutunya, tidak ada geronjalan-geronjalan? Adanya selalu geronjalan-geronjalan itu tidak jadi apa. Tetapi Kabinet Karya berjalan dengan Dewan Nasional dengan cara yang sebaik-baiknya.

Nah, saya kembali kepada apa yang hendak saya kerjakan Insya Allah swt sebelum saya melawat ke luar negeri saya akan minta kepada Kabinet Karya ini untuk menyelesaikan 2 rancangan Undang-undang. Pertama rancangan Undang-undang  penyederhanaan partai­-partai.Jumlah partai-partai yang sekarang ini terlalu banyak itu, harus dijadikan sekecil-kecilnya. Jangan sampai ada partai gurem mempunyai wakil di dalam DPR. Dan saya akan minta Insya Allah kepada Kabinet Karya agar supaya sebelum saya melawat ke luar negeri menyelesaikan pula rancangan UU merubah UU Pemilihan Umum Tahun 1953. UU Pemilihan Umum 1953 harus dirubah dernikian rupa sehingga golongan fungsionil bisa masuk di dalam Parlemen. Berapa? Tadi sudah saya katakan; menurut rancangan yang ini hari saya putuskan penerimaannya akan termasuklah lebih daripada 50% DPR dari itu golongan fungsionil. Kalau rancangan UU dua ini, satu: penyederhanaan kepartaian. dua: UU Pemilihan Umum baru, sudah sclcsai, maka rancangan UU ini akan saya amanatkan kepada Parlemen, saya kirim kepada Parlemen dengan amanat saya agar supaya Parlemen lekas membicarakan hal ini agar supaya lekas bisa diadakan penye-derhanaan kepartaian, agar supaya lekas bisa diadakan UU Pemilihan Umum yang baru, agar supaya lekas bisa diadakan Pernilihan Umum baru bagi Parlemen baru yang di dalamnya golongan fungsionil masuk.

Dus, sebelum saya melawat ke luar negeri, Insya Allah swt saya akan mengadakan amanat dua hal: amanat dengan lisan kepada sidang Pleno Konstituante, amanat mana akan berbunyi: kembali kepada UUD ’45; amanat dengan tulisan kepada DPR agar supaya rencana UU Pemilihan Umum dan rencana UU Penyederhanaan Kepartaian lekas dibicarakan dan lekas dapat dijadikan UU nanti dengan tanda tangan Kepala Negara.

Maka dengan demikian kita akan mencapai satu keadaan yang menurut anggapan saya menyenangkan. Dalam pada itu nanti Dewan Perancang Nasional sudah terbentuk; juga amanatnya In­sya Allah akan saya berikan. Menurut Undang-undang DPN maka harus Kepala Negara setiap waktu ia mau mengadakan amanat kepada DPN dan pada pelantikan daripada DPN ini Insya Allah akan saya berikan amanat pula yang penting. Dengan demikian DPN bisa lekas bekerja, DPN bisa lekas menyusun blue­print, blauw-druk, pola daripada masya-rakat adil dan makmur. DPR-nya, saya punya kehendak, selekas mungkin diperbarui atas dasar pemilihan umum yang baru. Konstitusinya, yaitu Undang-Undang Dasarnya, lekas di-kembalikan kepada Undang-Undang Dasar ‘ 45. Maka dengan demikian saya yakinlah, Republik kita akan dapat berjalan lancar.

Saya tadi berkata tentang hal politieke leiderschap, hal eco-no­misch leiderschap. Economisch leiderschap pokoknya ialah susunlah blue-print yang menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur. Polanya dijalankan oleh segenap rakyat kita dengan alat demokrasi terpimpin. Politieke leiderschap. economisch leider­schap kami, pemimpin-pemimpin, berikan kepada rakyat.

Ini suatu perubahan yang besar sekali, demokrasi terpimpin itu. Tetapi sebagai pernah saya katakan di dalam salah satu pidato saya, kalau tidak salah di Madiun, tatkala buat pertama kali saya mencetuskan dengan jelas akan perlunya demokrasi kita ini kita bongkar dan kita adakan demokrasi baru, stijl baru: demokrasi terpimpin. Pada waktu itu saya dengan tegas berkata, saya bersedia bersama-sama dengan lain-lainnya, tetapi saya sendiri bersedia pula memikul segala tanggung jawab atas hal ini. Saya tidak mengusulkan sesuatu hal yang buta, saya tidak mengusulkan sesuatu hal yang bertentangan dengan hati nurani saya. Saya tidak mengusulkan sesuatu hal yang bertentangan dengan geweten saya. Saya tidak mengusulkan sesuatu hal yang menurut pendapat saya dapat mencelakakan bangsa dan negara. Tidak! Saya hanya meng­usulkan sesuatu hal yang menurut keyakinan saya adalah baik, lebih daripada baik, mutlak, perlu bagi pergerakan kita, bagi negara kita, bagi perjuangan kita, bagi revolusi kita. Dan saya bersedia memikul tanggung jawab tentang hal ini terhadap bukan saja bangsa Indonesia, tetapi juga terhadap kepada Tuhan.

Saya membaca di dalam salah satu surat kabar, saya lupa lagi surat kabar mana, kepalanya “Gembala”. Saudara barang-kali in­gat, surat kabar mana; tetapi editorialnya berkepala “Gembala”. Di dalam editorial itu diperingatkan bahwa menurut firman Tuhan tiap-tiap manusia adalah gembala, dan ia di akhirat nanti akan ditanya tentang hal penggembalaanya. Tiap-tiap manusia adalah pemimpin. Saudara adalah pemimpin dari rumah tangga saudara; saudara j uga pemimpin dari Swatantra tingkat satu; saudara adalah pemimpin dari rumah tangga sau-dara; saudara juga pemimpin dari seluruh Divisi Deponegoro; akupun pemimpin. Tiap-tiap manusia ada-lah pemimpin di dalam lingkungan sendiri-sendiri dan menurut firman Allah swt tiap-tiap manusia nanti akan ditanya tentang pimpinannya. Tiap-tiap manusia nanti akan ditanya tentang gem­balaannya: Dan saya berkata, Insya Allah swt saya akan memberi pertanggungan jawab tentang hal demokrasi terpimpin ini kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan kita sekalian.

Maka oleh karena itu, dengan gembira saya telah menyaksi­kan bahwa Kabinet Karya menyetujui dengan bulat demokrasi terpimpin dan bahwa sekarang antara Kabinet Karya dengan Presi­den/Panglima Tertinggi/Ketua Dewan Nasional sudah tercapai seia-sekata yang bulat tentang hal penyelenggaraan demokrasi terpimpin. Bahkan sekarang, manakala antara Kabinet Karya dan Presiden telah juga dicapai satu persesuaian paham bahwa kita mutlak perlu harus kembali kepada UUD ’45, maka tidak ada manusia pada malam ini sebenarnya yang lebih berbahagia dari­pada saya. Saya akan pergi ke Konstituante. Saya akan memberi amanat tertulis kepada Parlemen. Dalam kedua-dua hal akan saya curahkan segenap keyakinan saya dan akan saya curahkan segenap kesetiaan saya bertanggung jawab atas perubahan maha besar di dalam perikehidupan kenegaraan kita sekarang ini dan saya ber­gembira bahwa seminar Pancasila dalam garis besarnya telah pula membenarkan tindakan yang akan dan telah saya ambil sekarang ini. Terima kasih. Sekian.

 

MEMBANGUN DUNIA KEMBALI

(TO BUILD THE WORLD A NEW)

 

Terjemahan Dari Bahasa Inggris

Teks Pidato Presiden Soekarno
        di Muka Sidang Umum PBB ke-15
        Pada Tanggal 30 September 1960

 

 

Tuan Ketua,

Para Yang Mulia,

Para utusan dan Wakil yang terhormat,

 

Hari ini, dalam mengucapkan pidato kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, saya merasa tertekan oleh suatu rasa tanggung jawab yang besar. Saya merasa rendah hati berbicara di hadapan rapat agung daripada negarawan-negarawan yang bijaksana dan berpengalaman dari Timur dan Barat, dari Utara dan Selatan, dari bangsa-bangsa tua dan dari bangsa-bangsa muda dan dari bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali dari tidur yang lama.

Saya telah memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya, dan saya juga telah ber-doa agar kata-kata ini akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya.

Saya merasa gembira sekali dapat mengucapkan selamat kepada Tuan Ketua atas pengangkatannya dalam jabatannya yang tinggi dan konstruktif. Saya juga merasa gembira sekali untuk menyampaikan, atas nama bangsa saya, ucapkan selamat datang yang sangat mesra kepada keenambelas anggota baru dari Per­serikatan Bangsa-Bangsa.

Kitab Suci Islam mengamanatkan sesuatu kepada kita pada saat ini. Qur’an berkata: “Hai, sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah menjadikan kamu sekalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan, sehingga kamu berbangsa-bangsa dan ber­suku-suku, agar kamu sekalian kenal-mengenal satu sama lain. Bahwasanya yang lebih mulia di antara kamu sekalian, ialah siapa yang lebih taqwa kepada-Ku”.

Dan juga Kitab Suci Injil agama Nasrani beramanat pada kita: “Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan sejahtera di atas bumi di antara orang yang diperkenan-Nya”. Saya sungguh-sungguh merasa sangat terharu melepas-kan pandangan saya atas Majelis ini. Di sinilah buktinya akan ke­benaran perjuangan yang berjalan bergenerasi. Di sinilah bukti­nya, bahwa pengorbanan dan penderitaan telah mencapai tujuannya. Di sinilah buktinya, bahwa keadilan mulai berlaku, dan bahwa beberapa kejahatan besar sudah dapat disingkirkan.

Selanjutnya, sambil melepaskan pandangan saya kepada Ma­jelis ini, hati saya diliputi dengan suatu kegirangan yang besar dan hebat. Dengan jelas tampak di mata saya menying-singnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika.

Sekarang, hari ini, saya berbicara di hadapan para pemimpin bangsa-bangsa dan para pembangun bangsa-bangsa. Namun, se­cara tidak langsung, saya juga berbicara kepada mereka yang tuan-tuan wakili, kepada mereka yang telah mengutus tuan-tuan kemari, kepada mereka yang telah mem-percayakan hari depan mereka di tangan tuan-tuan. Saya sangat menginginkan agar kata-­kata saya akan bergema juga di dalam hati mereka itu, di dalam hati nurani umat manusia, di dalam hati besar yang telah mencetuskan demikian banyak teriakan kegembiraan, demikian banyak jeritan penderitaan dan putus harapan, dan demikian ba­nyak cinta kasih dan tawa.

Hari ini, Presiden Soekarno lah yang berbicara di hadapan tuan-tuan. Namun lebih dari itu, ia adalah seorang manusia, Soekarno, seorang Indonesia, seorang suami, seorang bapak, seorang anggota keluarga umat manusia. Saya berbicara kepada tuan-tuan atas nama rakyat saya, mereka yang 92 juta banyak-nya di suatu nusantara yang jauh dan luas, 92 juta jiwa yang telah mengalami hidup penuh dengan perjuangan dan pengor-banan, 92 juta jiwa yang telah membangun suatu negara di atas reruntuhan suatu Imperium.

Mereka itu, dan rakyat Asia dan Afrika, rakyat-rakyat benua Amerika dan benua Eropa serta rakyat benua Australia, sedang memperhatikan dan mendengarkan serta mengharap-harap. Or­ganisasi Perserikatan Bangsa Bangsa ini bagi mereka merupakan suatu harapan akan masa depan dan suatu kemung-kinan baik bagi zaman sekarang ini.

Keputusan untuk menghadiri Sidang Majelis Umum ini bukanlah merupakan suatu keputusan yang mudah bagi saya. Bangsa saya sendiri menghadapi banyak masalah, sedangkan waktu untuk memecahkan masalah-masalah itu selalu sangat ter­batas. Akan tetapi sidang ini mungkin merupakan sidang Majelis yang terpenting yang pernah dilangsungkan dan kita semuanya mempunyai suatu tanggung jawab kepada dunia seluruhnya, di samping kepada bangsa-bangsa kita masing-masing.

Tak seorangpun di antara kita dapat menghindari tanggung jawab itu, dan pasti tak seorangpun ingin menghindarinya. Saya sangat yakin bahwa pemimpin-pemimpin dari negara-negara yang lebih muda dan negara-negara yang lahir kembali dapat memberi­kan sumbangannya yang sangat positif untuk pemecah-an demikian banyak masalah-masalah yang dihadapi Organisasi ini dan dunia pada umumnya. Memang, saya percaya bahwa orang akan mengatakan sekali lagi bahwa: “Dunia yang baru itu diminta untuk memperbaiki keseimbangan dunia yang lama”.

Jelaslah bahwa pada dewasa ini segala masalah dunia kita saling berhubungan. Kolonialisme mempunyai hubungan dengan keamanan; keamanan mempunyai hubungan dengan persoalan perdamaian dan perlucutan senjata; perlucutan senjata berhubung­an dengan perkembangan secara damai dari negara-negara yang belum maju. Ya, segala itu saling bersangkut-paut. Jika kita pada akhirnya berhasil memecahkan satu masalah, maka terbukalah jalan untuk penyelesaian masalah-masalah lainnya. Jika kita ber­hasil memecahkan, misalnya masalah perlucutan senjata, maka akan tersedialah dana-dana yang diperlukan untuk membantu bangsa-bangsa yang sangat memerlukan bantuan itu.

Akan tetapi, yang sangat diperlukan ialah bahwa masalah­masalah semuanya itu harus dipecahkan dengan penggunaan prin­sip-prinsip yang telah disetujui. Setiap usaha untuk memecah­kannya dengan mempergunakan kekerasan, atau dengan ancaman kekerasan, atau dengan pemilikan kekuasaan, tentu akan gagal, bahkan akan mengakibatkan masalah-masalah yang lebih buruk lagi. Dengan singkat, prinsip yang harus diikuti ialah prinsip persamaan kedaulatan bagi semua bangsa, hal mana tentunya tidak lain dan tidak bukan, merupakan penggunaan hak-hak azasi manusia dan hak-hak azasi nasional. Bagi semua bangsa-bangsa harus ada satu dasar, dan semua bangsa harus menerima dasar itu, demi perlindungan dirinya dan demi keselamatan umat manusia.

Bila saya boleh mengatakannya, kami dari Indonesia menaruh perhatian yang khusus sekali atas Perserikatan Bangsa Bangsa. Kami mempunyai keinginan yang sangat khusus agar Organisasi ini berkembang dan berhasil baik. Karena tindakan-tindakannya, perjuangan untuk kemerdekaan dan kehidupan nasional kami sendiri telah dipersingkat. Dengan berkepercaya-an penuh saya mengatakan, bahwa perjuangan kami, bagaimana pun juga, akan berhasil baik, namun tindakan-tindakan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu telah mempersingkat perjuang-an dan telah mencegah banyak pengorbanan dan penderitaan serta kehancuran, baik di pihak kami maupun di pihak lawan-lawan kami.

Apakah sebabnya saya percaya bahwa perjuangan kami akan berhasil baik, dengan atau tanpa kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa? Saya yakin akan hal itu karena dua sebab. Pertama, saya mengenal rakyat saya; saya mengetahui kehausan mereka yang tiada terhingga akan kemerdekaan nasional, dan saya mengetahui akan tekadnya. Kedua, saya yakin akan hal itu karena jalannya sejarah. Kita semua, di manapun di dunia ini, hidup di dalam zaman pembangunan bangsa-bangsa dan runtuh-nya imperium-imperium. Inilah zaman bangkitnya bangsa-bangsa dan bergolaknya nasio­nalisme.

Menutup mata akan kenyataan ini adalah membuta ter-hadap sejarah, tidak meggindahkan takdir dan menolak kenyataan. Sekali lagi saya katakan, kita hidup di zaman pembangunan bangsa-bangsa.

Proses ini tidak dapat dielakkan dan merupakan sesuatu yang pasti; kadang-kadang lambat dan tidak dapat dielakkan, bagaikan lahar menuruni lereng sebuah gunung berapi di Indonesia; kadang­kadang cepat dan tidak terelakkan, bagaikan dobrakan air-bah dari balik sebuah bendungan yang dibangun tidak sempurna. Lambat dan tak terelakkan, atau cepat dan tak terelakkan, kemenangan perjuangan nasional adalah suatu kepastian.

Bila perjalanan menuju ke kebebasan itu sudah selesai di seluruh dunia, maka dunia kita akan menjadi suatu tempat yang lebih baik; akan merupakan suatu tempat yang lebih bersih dan jauh lebih sehat. Kita tidak boleh berhenti berjuang pada saat ini, manakala kemenangan telah menampakkan diri, sebaliknya kita harus melipatgandakan usaha kita. Kita telah berjanji kepada masa depan dan janji itu harus dipenuhi. Dalam hal ini kita tidak hanya berjuang untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kita berjuang untuk kepentingan umat manusia seluruhnya, ya, perjuangan kita bahkan untuk kepentingan mereka yang kita tentang.

Lima tahun yang lalu, dua puluh sembilan bangsa-bangsa Asia dan Afrika telah mengirimkan utusannya ke kota Bandung di Indonesia. Dua puluh sembilan bangsa Asia dan Afrika. Kini, bcrapakah jumlah bangsa yang merdeka di sana. Saya tidak akan menghitungnya, tetapi silahkan melihat di sekeliling Majelis ini sekarang! Dan katakanlah apakah saya benar, bila saya berkata, bahwa kinilah saatnya pembangunan bangsa, dan saat bangkitnya bangsa-bangsa. Kemarin Asia, dan itu merupa-kan suatu proses yang belum selesai. Kini Afrika, itupun merupakan suatu proses yang belum selesai.

Lagi pula, belum semua bangsa-bangsa Asia dan Afrika diwakili di sini. Organisasi bangsa-bangsa ini telah dilemahkan selama ia masih menolak perwakilan sesuatu bangsa, dan teris­timewa suatu bangsa yang tua dan bijaksana serta kuat.

Saya maksudkan Tiongkok. Saya maksudkan yang sering disebut Tiongkok Komunis, yang bagi kami adalah satu-satunya Tiongkok yang sebenarnya. Organisasi bangsa-bangsa ini sangat dilemahkan, justru karena ia menolak keanggotaan bangsa yang terbesar di dunia.

Setiap tahun kami menyokong diterimanya Tiongkok ke dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai anggota. Kami akan terus melakukannya. Kami tidak memberikan sokongan itu semata-mata karena kami mempunyai hubungan baik dengan negara tersebut. Dan pasti sokongan itu tidak kami berikan karena sesuatu alasan partisan. Tidak, pendirian kami mengenai persoalan ini dibimbing oleh realisme politik. Dengan secara picik mengecuali­kan sesuatu bangsa yang besar, bangsa agung dan kuat dalam arti kwantitet, kebudayaan, ciri-ciri suatu peradaban kuno, suatu bangsa yang penuh dengan kekuatan dan daya ekonomi, dengan mengecualikan bangsa itu, kita lebih melemahkan organisasi inter­nasional ini, dan dengan demikian, menjauhkannya dari kebu­tuhan dan cita-cita kita.

Kita bertekad untuk menjadikan Perserikatan Bangsa- Bangsa kuat dan universil serta mampu untuk memenuhi fungsinya yang layak. Itulah sebabnya, mengapa kami senanti-asa memberikan sokongan atas ikut sertanya Tiongkok dalam lingkungan kita. Lagi pula, perlucutan senjata merupakan suatu keperluan yang mende­sak dalam dunia ini. Persoalan yang terpenting dari semua masalah ini harus dirundingkan dan dipecahkan dalam rangka organi­sasi ini. Namun bagaimana dapat tercapai suatu persetujuan real­istis mengenai perlucutan senjata, bila Tiongkok yang merupakan salah satu negara terkuat dalam dunia ini, tidak diturutsertakan dalam musyawarah-musyawarah ini?

Diwakilinya Tiongkok dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengikutsertakan negara itu dalam masalah dunia yang konstruktif dan dengan demikian akan betul-betul memperkuat lembaga ini.

Di tahun sembilan belas enam puluh ini, Majelis Umum kembali berkumpul dalam sidang tahunannya. Namun Majelis Umum ini janganlah hanya dianggap sebagai suatu sidang rutin lainnya, dan bila dianggap demikian, bila dianggap sebagai suatu sidang rutin, maka kemungkinan besar organisasi internasional seluruhnya ini akan terancam dengan kehancuran.

Camkanlah kata-kata saya, itulah permohonan saya! Jangan­lah memperlakukan masalah-masalah yang akan tuan-tuan perbin­cangkan sebagai masalah rutin. Bila diperlakukan demikian, maka organisasi ini, yang telah memberikan kita suatu harapan untuk masa depan, suatu kemungkinan baik akan adanya persesuaian internasional, mungkin akan pecah. Ia mungkin akan lenyap per­lahan-lahan di bawah gelombang pertikaian, sebagaimana dialami oleh organisasi yang diganti-kannya. Bila hal itu terjadi maka umat manusia sebagai keseluruhan akan menderita, dan suatu impian yang agung, suatu cita-cita yang agung, akan hancur. Ingatlah: bukanlah hanya kata-kata yang tuan-tuan hadapi. Bukanlah pion-­pion di atas papan catur yang tuan-tuan hadapi. Yang tuan-tuan hadapi adalah manusia, impian-impian manusia, cita-cita manusia, dan hari depan semua manusia.

Dengan segala kesungguhan, saya katakan: kami bangsa­bangsa yang beru merdeka bermaksud berjuang untuk kepen-ting­an Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami bermaksud mem-perjuang­kan suksesnya dan menjadikannya efektif. Badan itu dapat dijadi­kan efektif, dan akan dijadikan efektif, hanya bila anggota-anggota seluruhnya mengakui tiada terelakkannya jalan sejarah. Badan itu hanya dapat menjadi efektif, bila badan tersebut mengikuti jalan­nya sejarah, dan tidak mencoba untuk membendung atau meng­alihkan ataupun menghambat jalannya itu.

Telah saya katakan, bahwa inilah saat pembangunan bangsa-­bangsa dan runtuhnya imperium-imperium. Itulah kebenaran yang sesunguhhnya. Berapa banyaknya bangsa-bangsa yang telah memperoleh kemerdekaannya sejak tercipta-nya Piagam Perseri­katan Bangsa-Bangsa? Berapa banyaknya bangsa-bangsa telah melemparkan rantai penindasan yang membelenggunya? Berapa banyaknya imperium-imperium yang dibangun atas penindasan manusia telah hancur-lebur? Kami yang tadinya tiada bersuara, tidak membisu lagi. Kami yang tadinya membisu di alam keseng­saraan imperialisme, tidak membisu lagi. Kami yang perjuangan hidupnya tertutup di bawah selubung kolonialisme, tidak tersem­bunyikan lagi.

Sejak hari bersejarah di tahun sembilan belas empat puluh lima dunia telah berubah, dan dia telah berubah ke arah perbaikan. Dari zaman pembangunan bangsa-bangsa ini telah muncul ke­mungkinan – ya, keharusan – akan suatu dunia yang bebas dari ketakutan, bebas dari kekurangan, bebas dari penindasan-penin­dasan nasional. Kini, saat ini juga, di Majelis Umum ini, kita dapat mempersiapkan diri untuk menempatkan diri kita di dunia masa depan itu, dunia yang telah kita pikirkan dan impikan serta bayang­kan.

Hal itu dapat kita lakukan, tetapi hanya bila kita tidak mem­perlakukan sidang ini sebagai suatu sidang rutin. Kita harus meng­akui, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa meng-hadapi suatu penimbunan masalah-masalah, masing-masing mendesak, ma­sing-masing mengandung kemungkinan ancaman terhadap per­damaian dan kemajuan secara damai.

Kita bertekad, bahwa nasib dunia, dunia kita, tidak akan ditentukan tanpa kita. Nasib itu akan ditentukan dengan ikut serta dan kerjasama kita. Keputusan-keputusan yang penting bagi per­damaian dan masa depan dunia dapat ditentukan di sini dan sekarang ini juga. Di sini berkumpul Kepala-kepala Negara dan Kepala-kepala Pemerintahan. Itulah rangka organisasi kita. Saya sangat mengharapkan agar soal-soal protokol yang kaku serta perasaan sakit hati yang picik, – perasaan-perasaan per-orangan mapun nasional, – tidak akan menghalangi diper-gunakannya kesempatan ini sebaik-baiknya. Kesempatan seperti ini tak akan sering ada. Hal itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Kita pada saat ini mempunyai kesempatan unik untuk menggabungkan diplomasi perseorangan dengan diplomasi umum. Marilah kita pergunakan kesempatan itu. Kesempatan itu mungkin tak akan kembali lagi!

Saya menyadari sedalam-dalamnya bahwa hadirnya demikian banyak Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, menjauhi harapan berjuta-juta orang. Mereka itu dapat meng-ambil keputusan-kepu­tusan yang vital untuk menentukan wajah baru bagi dunia kita ini, dengan sendirinya juga wajah baru Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Layaklah pada saat ini untuk mempertimbangkan ke-dudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam hubungan dengan zaman pem­bangunan bangsa dan bangkitnya bangsa-bangsa baru ini.

Ini saya kemukakan: bagi suatu bangsa yang baru lahir atau suatu bangsa yang baru lahir kembali, milik yang paling ber-harga adalah kemerdekaan dan kedaulatan.

Mungkin – saya tidak tahu, tapi mungkin – bahwa rasa untuk memegang teguh permata kedaulatan dan kemerdekaan yang ber­harga ini, hanya terdapat di lingkungan bangsa-bangsa yang baru bangkit kembali. Mungkin setelah berlalunya be-berapa generasi, perasaan kebanggaan dan tercapainya cita-cita itu menjadi pudar. Mungkin demikian, tetapi saya rasa tidak.

Bahkan sekarang ini, dua ratus tahun kemudian, adakah seorang Amerika yang tak tergetar jiwanya mendengarkan kata-kata Declaration of Independence? Adakah seorang Italia yang kini tidak menyambut panggilan Mazzini? Adakah seorang warga Amerika Latin yang tidak lagi mendengar gemanya suara San Martin?

Benar, adakah seseorang warga dunia yang tidak menyam-but panggilan dan suara-suara itu? Kita semua tergetar, kita semua menyambut, karena suara-suara itu adalah universil, baik mengenai waktu maupun tempatnya. Suara-suara itu adalah suara umat manusia yang menderita, suara masa depan, dan kita masih mendengarnya, mendengung sepanjang zaman.

Tidak, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa di dalam kedaulat­an dan kemerdekaan nasional ada sesuatu yang kekal, sesuatu yang sekeras dan secemerlang permata dan jauh lebih berharga.

Banyak bangsa-bangsa di dunia ini telah lama memiliki per­mata ini. Mereka telah biasa memilikinya, tetapi saya yakin, bahwa mereka masih tetap menganggapnya yang paling dicintai di antara milik-miliknya, dan mereka akan lebih baik mati daripada me­lepaskannya.

Bukankah begitu? Apakah bangsa saudara sendiri akan pernah bersedia melepaskan kemerdekaannya? Setiap bangsa yang patut dinamakan bangsa, akan memilih mati! Setiap pemimpin yang patut disebut pemimpin dari bangsa manapun, juga akan memilih mati.

Betapa lebih berharga hal itu bagi kami, yang pernah suatu waktu memiliki permata kemerdekaan dan kedaulatan nasional itu, dan kemudian merasakan dirampasnya dari tangan kami oleh bandit-bandit yang bersenjata lengkap, dan yang kini telah kami rebut kembah!

Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah suatu organisasi dari Negara-negara Bangsa yang masing-masing menggenggam per­mata itu kuat-kuat sebagai sesuatu yang berharga. Kita semuanya telah berhimpun dengan sukarela, sebagai saudara dan sederajat dalam Organisasi ini, sebagai saudara dan sederajat, karena kita semuanya memiliki kedaulatan yang sederajat, dan kita semua menganggap kedaulatan yang sederajat ini sama-sama berharga.

Ini adalah suatu dalam badan internasional. Badan ini belum­lah supernasional ataupun supranasional. Badan ini merupakan suatu organisasi Negara-negara Bangsa, dan hanya dapat bekerja sepanjang Negara-negara Bangsa menghendaki-nya.

Apakah kita semuanya dengan suara bulat telah menyetujui untuk menyerahkan suatu bagian dari kedaulatan kita kepada badan ini? Tidak, tidak pernah. Kita telah menerima baik Piagam, dan Piagam itu telah ditandatangani oleh Negara-negara Bangsa yang berdaulat penuh dan sederajat penuh.

Ada kemungkinan, bahwa badan ini harus mempertim­bangkan, apakah anggota-anggotanya harus menyerahkan se-suatu bagian dari kedaulatan mereka kepada badan internasional ini. Tetapi jika keputusan yang semacam itu diambil, keputusan itu harus diambil secara bebas, dan dengan suara bulat, dan sederajat. Harus diputuskan sederajat oleh semua bangsa, yang kuno dan yang baru, bangsa yang baru muncul dan yang sudah lama ada, yang sudah maju dan yang belum maju.

Hal ini bukannya sesuatu yang dapat dipaksakan pada bangsa manapun juga. Selanjutnya, dasar satu-satunya yang mungkin bagi badan semacam ini, itu ialah persamaan yang sejati. Kedaulatan dari bangsa yang paling baru atau bangsa yang paling kecil sama berharganya, sama tidak dapat dilanggarnya, seperti kedaulatan bangsa yang paling besar atau bangsa yang paling tua. Dan selain daripada itu, sesuatu pelanggaran terhadap kedaulatan sesuatu bangsa merupakan suatu ancaman potensial terhadap kedaulatan semua bangsa.

Dalam gambaran dunia inilah, kita harus melihat dunia seka­rang ini. Dunia kita yang satu ini terdiri dari Negara-negara Bangsa, masing-masing sama berdaulat dan masing-masing berketetapan hati menjaga kedaulatan itu, dan masing-masing berhak untuk menjaga kedaulatan itu. Dan sekali lagi saya katakan – dan saya ulangi ini karena merupakan dasar dari penger­tian terhadap dunia dewasa ini – kita hidup dalam zaman pemba­ngunan bangsa.

Kenyataan ini jauh lebih penting daripada adanya senjata-sen­jata nuklir, lebih eksplosif daripada bom-bom hidrogen, dan mem­punyai harga potensial yang lebih besar untuk dunia daripada memecahkan bom atom.

Keseimbangan dunia telah berubah sejak hari itu bulan Juni, lima belas tahun yang lalu, ketika Piagam ditandatangani di kota San Fransisco di Amerika, pada saat manusia sedang bangkit kembali dari neraka peperangan.

Nasib umat manusia tidak dapat lagi ditentukan oleh beberapa bangsa besar dan kuat. Juga kami, bangsa-bangsa yang lebih muda, bangsa yang sedang bertunas, bangsa-bangsa yang lebih kecil, kami pun berhak bersuara dan suara itu pasti akan berku­mandang di sepanjang zaman.

Yah, kami insyaf akan pertanggungan jawab kami terhadap
masa depan semua bangsa, dan kami dengan gembira menerima
pertanggungan jawab itu. Bangsa saya berjanji kepada diri sendiri untuk bekerja mencapai suatu dunia yang lebih baik, suatu dunia yang bebas dari sengketa dan ketegangan, suatu dunia di mana anak-anak kita dapat tumbuh dengan bangga dan bebas, suatu dunia di mana keadilan dan kesejahteraan berlaku untuk semua orang. Adakah sesuatu bangsa akan menolak janji semacam itu? Beberapa bulan yang lalu, sesaat sebelum pemimpin­ pemimpin Negara-negara Besar bertemu sesingkat itu di Yaris, tuan Khrushchov menjadi tamu kami di Indonesia. Saya jelaskan padanya sejelas-jelasnya, bahwa kami menyam-but baik Konferen­si Tingkat Tertinggi, yang kami skeptis.

Empat Negara Besar itu saja, tidak dapat menentukan masalah perang dan damai. Lebih tepat, barangkali, mereka mempunyai kekuatan untuk merusak perdamaian, tetapi mereka tidak mem­punyai hak moril, baik secara sendirian maupun bersama-sama, untuk mencoba menentukan hari depan dunia.

Selama lima belas tahun ini Barat telah mengenal per-damaian, atau sekurang-kurangnya ketiadaan perang. Tentu saja ada ketegangan-ketegangan. Memang, ada bahaya. Tetapi tetap meru­pakan kenyataan, bahwa di tengah-tengah suatu revolusi yang meliputi tiga per empat bagian dunia, Barat tetap dalam keadaan damai. Kedua blok besar, sebetulnya, telah berhasil mempraktek­kan koeksistensi selama tahun-tahun itu, sehingga dengan demikian membantah mereka yang menyangkal ke-mungkinan adanya koeksistensi.

Kami di Asia tidak pernah mengenal keadaan damai! Setelah perdamaian datang untuk Eropa, kami merasai akibat bom atom. Kami merasai revolusi nasional kami sendiri di Indonesia. Kami merasai penyiksaan Vietnam. Kami menderita penganiayaan Ko­rea. Kami masih senantiasa menderita ke-pedihan Aljazair. Apakah sekarang ini seharusnya giliran saudara-saudara kita di Afrika? Apakah mereka harus disiksa sedangkan luka-luka kami masih belum sembuh?

Toh masih saja Barat dalam keadaan damai. Herankah tuan-­tuan bahwa kami sekarang menuntut, ya, menuntut, batalnya sik­saan terhadap kami? Herankah tuan-tuan, bahwa kini suara saya diperdengarkan sebagai protes?

Kami, yang dulu tidak bersuara, mempunyai tuntutan-tuntut­an dan kebutuhan-kebutuhan; kami berhak untuk didengar. Kami bukannya barang perdagangan, tetapi adalah bangsa-bangsa yang hidup dan yang perkasa, yang mempunyai peranan di dunia ini, dan yang harus memberikan sumbang-annya. Saya pergunakan kata-kata yang keras, dan saya pergunakan kata-kata itu dengan sengaja, karena saya ber-pendirian yang tegas mengenai soal ini. Dengan sengaja saya pergunakan kata-kata keras, karena saya berbicara untuk bangsa saya dan karena saya berbicara di muka pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa.

Selain daripada itu, saya tahu bahwa saudara-saudara saya di Asia dan Afrika mempunyai pendirian yang sama tegasnya, walaupun saya tidak berani berbicara atas nama mereka.

Majelis Umum ini tentunya akan menghadapi banyak hal-hal yang penting. Tetapi tidaklah ada hal yang lebih penting daripada perdamaian. Mengenai ini, saya pada saat ini tidak membicarakan soal-soal yang timbul antara Negara-negara Besar di dunia. Soal-­soal sedemikian sangat vital bagi kami, dan saya nanti akan kembali pada soal-soal tersebut. Tetapi tengoklah sekeliling dunia kita ini. Di banyak tempat terdapat ketegangan-ketegangan dan sumber-sumber sengketa potensial. Perhatikanlah tempat-tempat itu dan tuan akan jumpai, bahwa tanpa perkecualian, imperialisme, dan kolonialisme di dalam salah satu dari banyak manifestasinya adalah sumber ketegang-an atau sengketa itu. Imperialisme dan kolonialisme dan pemisahan terus-menerus secara paksa dari bangsa-bangsa merupakan sumber dari hampir semua kejahatan internasional yang mengancam di dunia kita ini.

Imperialisme, dan perjuangan untuk mempertahankannya, merupakan kejahatan yang terbesar di dunia kita ini. Banyak di antara tuan-tuan dalam sidang ini tidak pernah mengenal imperi­alisme. Banyak di antara tuan-tuan lahir merdeka dan akan mati merdeka. Beberapa di antara tuan-tuan lahir dari bangsa-bangsa yang telah menjalankan imperialisme terhadap yang lain, tetapi tidak pernah menderitainya scndiri. Akan tctapi saudara-saudara saya di Asia dan Atrika telah mengenal cambuk imperialisme. Mereka telah menderitainya. Mereka mengenal bahayanya dan kelicikannya serta keuletannya. Kami di Indonesia mengenalnya juga. Kami adalah ahli-ahli dalam soal ini! Berdasarkan pengetahuan itu dan berdasarkan pengalaman itu, saya katakan pada tuan-tuan bahwa berlanjut-nya imperialisme dalam segala bentuknya merupakan suatu bahaya yang besar dan yang berlarut-larut.

Imperialisme belum lagi mati. Ya, sedang dalam keadaan sekarat; ya, arus sejarah melanda bentengnya dan menggerogoti pondamen-pondamennya; ya, kemenangan kemerdekaan dan nasionalisme sudah pasti. Akan tetapi – dan camkanlah per-kataan saya ini – imperialisme yang sedang sekarat itu ber-bahaya, sama berbahayanya dengan seekor harimau yang luka di dalam rimba raya tropik.

Ini saya tegaskan kepada tuan-tuan – dan saya sadar bahwa saya sekarang berbicara untuk saudara-saudara saya di Asia dan Afrika – perjuangan untuk kemerdekaan senantiasa dibenarkan dan senantiasa benar. Mereka yang menentang gerak maju yang tidak terelakkan dari kemerdekaan nasional dan hak untuk menen­tukan nasib sendiri, adalah buta; mereka yang berusaha untuk mengembalikan apa yang tidak dapat dikembalikan merupakan bahaya bagi mereka sendiri dan bagi dunia.

Sebelum kenyataan-kenyataan ini – dan ini memang kenya­taan-kenyataan – diakui, tidak akan ada perdamaian di dunia ini, dan tidak akan lenyaplah ketegangan. Saya serukan kepada tuan­-tuan; tempatkanlah kewibawaan dan kekuatan moril dari Organ­isasi Negara-negara ini di belakang mereka yang berjuang untuk kemerdekaan. Lakukanlah itu secara jelas dan tegas. Lakukanlah itu sekarang! Lakukanlah dan tuan-tuan akan memperoleh du­kungan bulat dan tulus-ikhlas dari semua orang yang berkemauan baik. Lakukanlah sekarang, dan generasi-generasi yang akan datang akan menghargai tuan-tuan. Saya serukan kepada tuan­-tuan, kepada semua anggota Perserikatan Bangsa Bangsa: ber­geraklah bersama arusnya sejarah; jangan-lah mencoba memben­dung arus itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sekarang ini juga ber-kesempatan untuk membangun bagi dirinya sendiri reputasi dan gengsi yang besar. Mereka yang berjuang untuk kemerdekaan akan mencari sokongan dan sekutu-sekutu di mana saja dapat diperolehnya; alangkah baiknya bilamana mereka berpaling kepada badan ini dan kepada Piagam kita daripada kepada sesuatu kelompok atau bagian dari badan ini.

Lenyapkanlah sebab-sebab peperangan, dan kita akan merasa damai. Lenyapkanlah sebab-sebab ketegangan dan kita akan merasa tenang. Jangan ditunda-tunda. Waktunya singkat. Bahaya­nya besar.

Umat manusia di seluruh dunia berteriak minta perdamaian dan ketenangan, dan hal-hal itu adalah dalam kekuasaan kita. Jangan mencegahnya, karena nanti badan ini akan dicemarkan namanya dan ditinggalkan. Tugas kita bukannya untuk memper­tahankan dunia ini, akan tetapi untuk membangun dunia kembali! Hari depan – andaikata ada hari depan – akan menilai kita ber­dasarkan berhasilnya tugas kita ini.

Saya minta kepada bangsa-bangsa yang sudah lama berdiri,
janganlah menganggap remeh kekuatan nasionalisme. Jika tuan
menyangsikan kekuatannya, tengoklah di sekitar Majelis ini dan
bandingkanlah dengan San Fransisco lima belas tahun yang lalu. Nasionalisme, nasionalisme yang mencapai kemenangan
dengan gemilang, telah menyebabkan perubahan ini, dan ini
adalah baik. Dewasa ini dunia diperkaya dan dimuliakan oleh
kebijaksanaan dari para pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa ber­daulat yang baru dibentuk. Untuk menyebut enam dari banyak contoh-contoh, yakni seorang Norodom Sihanouk, seorang Nas­ser, seorang Nehru, seorang Sekou Toure, seorang Mao Tse Tung dan seorang Nkrumah. Bukankah dunia menjadi lebih baik, jika mereka berada di sini daripada mereka mem-pergunakan seluruh hidupnya dan seluruh kekuatannya untuk menggulingkan imperi­alisme yang membelenggu mereka? Dan bangsa-bangsa mereka pun sudah merdeka, dan bangsa saya merdeka, dan lebih banyak lagi bangsa yang merdeka. Bukankah dengan demikian dunia menjadi suatu tempat yang lebih baik dan lebih kaya?

Memang, saya tidak perlu membentangkan kepada tuan-tuan, bahwa kami dari Asia dan Afrika menentang kolonialisme dan imperialisme. Lebih daripada itu, siapakah dalam dunia sekarang ini masih akan membela hal-hal itu? Secara universal hal-hal itu telah dikutuk, dan sudah sepantasnya, dan alasan-alasan sinis yang usang itu tidak terdengar lagi. Pertentangan sekarang berpusat pada persoalan kapankah daerah-daerah jajahan akan merdeka, dan bukan pada persoalan apakah mereka akan merdeka.

Tetapi saya hendak menegaskan soal ini. Oposisi kami ter­hadap kolonialisme dan imperialisme timbul baik dari hati maupun dari kepala kami. Kami menentangnya atas dasar kemanusiaan, dan kami menentangnya pula dengan alasan bahwa hal ini meru­pakan suatu ancaman yang besar dan makin besar lagi terhadap perdamaian.

Tiadanya persesuaian pendapat dengan kekuatan-kekuatan kolonial berkisar pada soal-soal waktu dan keamanan, karena sekarang setidak-tidaknya mereka beromong-kosong tentang cita­-cita kemerdekaan nasional.

Oleh karena itu renungkanlah dalam-dalam mengenai nasionalisme dan kemerdekaan, mengenai patriotisme dan mengenai imperialisme. Renungkanlah dalam-dalam, demikian permo­honan saya, jangan sampai arus sejarah melanda tuan-tuan.

Dewasa ini, kita banyak mendengar dan membaca mengenai perlucutan senjata. Pcrkataan itu biasanya dipakai dalam hubung­an perlucutan senjata nuklir dan atom. Maatkanlah saya. Saya seorang sederhana dan seorang yang cinta damai. Saya tidak dapat berbicara mengenai detail-detail perlucutan senjata. Saya tidak dapat memberikan penilaian mengenai pendapat-pendapat yang bersaingan tentang pengawasan, mengenai percobaan-percobaan di bawah tanah dan mengenai catatan-catatan seismografik.

Mengenai persoalan-persoalan imperialisme dan nasional­isme saya seorang ahli, sesudah seumur hidup mempelajarinya dan berjuang, dan mengenai soal-soal ini saya bicara dengan kewibawaan. Tetapi mengenai persoalan-persoalan peperangan nuklir, saya hanya seorang biasa saja, mungkin seperti tetangga tuan atau seperti saudara tuan atau bahkan seperti ayah tuan. Saya ikut merasakan ketakutan mereka.

Saya ikut merasakan kengerian dan ketakutan itu, karena saya adalah bagian dari dunia ini. Saya punya anak-anak, dan hari depan mereka terancam bahaya. Saya seorang Indonesia, dan bangsa itu terancam bahaya.

Mereka yang mempergunakan senjata penghancuran masal itu sekarang harus menghadapi hati nurani mereka sendiri, dan akhirnya, mungkin dalam keadaan hangus menjadi debu radioak­tif, mereka harus menghadapi Al Khaliknya. Saya tidak iri ter­hadap mereka.

Mereka yang mempersoalkan perlucutan senjata nuklir jangan lupa bahwa kami, yang dalam hal ini sebelumnya tidak dapat bersuara, sedang memperhatikan dan mengharap-harap.

Kami sedang memperhatikan dan mengharap-harap, toh kami diliputi oleh kecemasan, karena jika perang nuklir meng-hancurkan dunia kita ini, kami juga ikut menderita.

Tidak seorang makhluk pun berhak untuk menggunakan hak­-hak prerogatif dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak seorang pun berhak menggunakan bom-bom hidrogen. Tidak satu bangsa pun berhak untuk menyebabkan kemungkinan hancurnya semua bangsa-bangsa.

Tiada suatu sistem politik, tiada suatu organisasi ekonomi yang layak untuk menyebabkan musnahnya dunia, termasuk sis­tem maupun organisasi itu sendiri.

Jika hanya negara-negara yang bersenjata hidrogen yang ter­sangkut dalam persoalan ini, maka kami bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak akan menghiraukannya. Kami hanya akan melihat saja sambil menjauhkan diri, dengan perasaan heran mengapa negara-negara, dari mana kami belajar demikian banyaknya itu, serta yang sangat kami kagumi itu, pada dewasa ini harus teng­gelam dalam rawa immoralitet. Kami akan dapat berseru: “Terku­tuklah kalian! “, dan kami dapat kembali ke dalam dunia kami sendiri yang lebih berimbang dan damai.

Tetapi kami tidak dapat berbuat demikian. Kami bangsa Asia telah menderita akibat bom atom. Kami bangsa Asia terancam lagi, dan selain itu kami merasa sebagai suatu kewajiban moral untuk memberikan bantuan di mana mungkin. Kami bukanlah musuh Timur maupun Barat. Kami merupakan suatu bagian dari dunia ini dan kami ingin membantu.

Ini adalah suatu jeritan dari hati sanubari Asia. Biarkanlah kami membantu memecahkan masalah-masalah ini. Mungkin tuan-tuan memperhatikannya terlampau lama, dan tidak melihat­nya lagi secara jelas. Biarkanlah kami membantu tuan-tuan, dan dalam membantu tuan-tuan, kami bantu diri kami sendiri, dan semua generasi yang akan datang di seluruh dunia ini.

Jelaslah, bahwa masalah perlucutan senjata bukan hanya perselisihan pendapat tentang dasar-dasar teknis yang sempit. Ini adalah pula persoalan saling mempercayai. Sebetulnya telah jelas, bahwa dalam bidang teknik dan dalam cara-cara berunding dan berdiplomasi, sesunguhhnya antara kami dari Asia-Afrika dan kedua blok itu tidaklah banyak berbeda. Soalnya sebenarnya lebih merupakan soal saling tidak mempercayai. Ini adalah suatu masalah yang dapat dipecahkan dengan cara-cara itu. Negara-­negara lain yang tidak tergabung dalam suatu blok, bisa memberi bantuan dalam hal ini! Kami tidak kurang pengalaman dan kepan­daian untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan. Mungkin perantara kami dapat juga berharga. Mungkin kami dapat pula memberikan bantuan dalam mencari suatu penyelesaian. Mungkin – siapa tahu kami dapat memperlihatkan kepada tuan­tuan jalannya menuju ke arah satu-satunya perlucutan senjata yang sesunguhhnya, yaitu perlucutan senjata di dalam hati manusia, perlucutan ketidakpercayaan dan kebencian manusia.

Tidak sesuatupun lebih mendesak daripada hal ini. Dan per­soalan ini adalah demikian vital bagi seluruh umat manusia, se­hingga seluruh umat manusia harus diikutsertakan dalam pemecahannya. Saya kira pada saat ini kita boleh berkata bahwa sebenarnya hanyalah desakan dan usaha dari negara-negara non­blok akan memberikan hasil yang diperlukan seluruh dunia. Pem­bicaraan yang sungguh-sungguh tentang perlucutan senjata, di dalam rangka organisasi ini, dan didasarkan pada suatu harapan yang sungguh-sungguh akan suksesnya, adalah yang esensiil sekarang ini.

Saya tekankan “dalam rangka organisasi ini”, karena hanya Majelis inilah yang mulai mendekati suatu cerminan yang sebenarnya dari dunia di mana kita hidup.

Renungkan, renungkan sejenak, apa yang mungkin terjadi jika kita dapat meletakkan suatu dasar bagi perlucutan senjata yang sejati. Ingatlah akan dana-dana yang sangat besar yang dapat digunakan untuk perbaikan dunia di mana kita hidup ini. Ingatlah akan daya gerak yang maha hebat yang dapat diberikan kepada perkembangan mereka yang kurang maju, sekalipun hanya se­bagian saja dari anggaran belanja pertahanan dari negara-negara besar disalurkan ke arah itu. Ingatlah akan ber-tambahnya secara hebat kebahagiaan manusia, produktivitet manusia dan kesejah­teraan manusia, jika hal ini diselenggara-kan.

Perlu saya tambahkan sesuatu lagi pada hal ini. Jika ada suatu immoralitet yang lebih besar daripada memperagakan senjata-sen­jata hidrogen, maka hal itu adalah melakukan percobaan-perco­baan dengan senjata-senjata tersebut. Saya tahu bahwa ada suatu perbedaan pendapat ilmiah tentang akibat genetik daripada perco­baan-percobaan itu. Akan tetapi per-bedaan ini hanya mengenai jumlah korban-korban. Tentang adanya akibat genetik yang buruk terdapat perseuaian pendapat. Pernahkah mereka yang mensyahkan percobaan-percobaan itu membayangkan akibat-akibat perbuatan mereka? Pernahkan mereka melihat kepada anak-anak mereka sendiri dan me-renungkan akibat-akibat itu? Pada dewasa ini per­cobaan-percobaan dengan senjata-senjata nuklir ditangguhkan, - perhatikan – tidak dilarang, tetapi hanya ditangguhkan. Maka, marilah kita pergunakan kenyataan ini sebagai permulaan. Marilah kita pergunakan kenyataan ini sebagai dasar untuk melarang per­cobaan dan kemudian untuk perlucutan senjata yang sungguh-­sungguh.

Sebelum meninggalkan persoalan perlucutan senjata, saya hendak memberikan suatu ulasan lagi. Berbicara tentang per-lucut­an senjata memang baik. Tapi berusaha dengan sungguh-sungguh menyusun suatu persetujuan perlucutan senjata akan lebih baik. Dan yang terbaik adalah pelaksanaan daripada persetujuan perlu­cutan senjata itu.

Akan tetapi marilah kita realistis. Bahkan pelaksanaan dari­pada suatu persetujuan perlucutan senjata pun tidak akan merupakan jaminan bagi perdamaian di dunia yang dalam kesengsaraan dan kesukaran. Perdamaian hanya akan datang, jika sebab-sebab ketegangan dan bentrokan disingkirkan.

Jika ada suatu sebab untuk bentrokan, maka manusia akan berjuang dengan bambu runcing, jika tidak terdapat senjata lain. Saya tahu oleh karena bangsa saya sendiri melakukannya dalam perjuangan kami untuk kemerdekaan. Kami telah berjuang meng­gunakan pisau dan bambu runcing. Untuk mencapai perdamaian, kita harus menyingkirkan sebab-sebab ketegangan dan sebab-se­bab bentrokan itu. Itulah sebabnya saya berbicara dari lubuk hati saya mengenai perlunya bekerja sama untuk menyebabkan mati­nya yang hina dari imperialisme.

Di mana terdapat imperialisme, dan di mana terdapat penyusunan kekuatan bersenjata yang serentak, maka keadaan memang berbahaya. Sekali lagi saya berbicara berdasarkan peng­alaman. Begitulah keadaannya di Irian Barat. Begitulah keadaan­nya di seperlima wilayah nasional kami yang pada dewasa ini masih tetap membungkuk di bawah belenggu imperialisme.

Di sanalah kami menghadapi imperialisme dan kekuatan bersenjata imperialisme. Di perbatasan daerah itu tentara kami berjaga di darat maupun di lautan. Kedua kekuatan bersenjata itu merupakan suatu keadaan yang eksplosif. Belum lama berselang tentara di Irian Barat yang masih muda serta tersesat itu dan yang membela suatu faham yang telah ketinggalan zaman, diperkuat dengan datangnya kapal induk Karel Doorman dari tanah airnya yang jauh itu. Maka saat itulah keadaan menjadi betul-betul berbahaya.

Kepala Staf Angkatan Darat Indonesia duduk dalam Delegasi saya ini. Namanya Jenderal Nasution. Ia adalah prajurit pro­fesional dan seorang prajurit yang ulung. Seperti halnya dengan anak buah yang dipimpinnya, dan seperti juga halnya dengan bangsa yang dibelanya, ia pertama-tama adalah seorang yang cinta damai. Tetapi lebih daripada itu, ia dan anak buahnya serta bangsa saya mengabdi untuk mempertahankan tanah air kami.

Kami telah berusaha untuk menyelesaikan masalah Irian Barat. Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kesabaran dan penuh toleransi dan penuh harapan. Kami telah berusaha untuk mengadakan perundingan-perundingan bi­lateral. Kami telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan berta­hun-tahun. Kami telah berusaha dan tetap berusaha. Kami telah berusaha menggunakan alat-alat Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kekuatan pendapat dunia yang dinyatakan di sini. Kami telah berusaha, dan dalam hal ini pun kami tetap berusaha.

Harapan lenyap; kesabaran hilang; bahkan toleransi pun men­capai batasnya. Semuanya itu kini telah habis dan Belanda tidak memberikan alternatif lainnya, kecuali memperkeras sikap kami. Jika mereka gagal untuk secara tepat menilai arus sejarah, maka kita tidaklah dapat dipersalahkan. Akan tetapi akibat daripada kegagalan mereka ialah timbulnya ancaman terhadap perdamaian dan, sekali lagi, hal ini menyangkut pula Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Irian Barat merupakan pedang kolonial yang diancamkan terhadap Indonesia. Pedang itu diarahkan pada jantung kami, akan tetapi di samping itu mengancam pula perdamaian dunia.

Usaha-usaha kami dewasa ini yang sungguh-sungguh untuk mencapai penyelesaian dengan cara-cara kami sendiri, adalah bagian dari sumbangan kami ke arah terjaminnya perdamaian dunia ini. Ini adalah bagian dari usaha kami untuk mengakhiri masalah dunia ini yang merupakan kejahatan yang usang. Usaha kami adalah usaha pembedahan yang sungguh-sungguh untuk menyingkirkan kanker imperialisme dari daerah di dunia, di mana kami hidup dan berada.

Saya katakan dengan segala kesungguhan bahwa keadaan di Irian Barat adalah keadaan yang berbahaya, suatu keadaan yang eksplosif; suatu hal yang merupakan sebab ketegangan dan suatu ancaman bagi perdamaian. Jenderal Nasution tidak bertanggung jawab atas hal itu. Tentara kami tidak bertanggung jawab atas hal itu. Soekarno tidak bertanggung jawab atas hal itu. Indonesia tidak bertanggung jawab atas hal itu. Tidak! Ancaman terhadap per­damaian berasal langsung dari adanya imperialisme dan kolonial­isme itulah.

Singkirkan pengekangan terhadap kemerdekaan dan emansi­pasi, dan ancaman terhadap perdamaian akan lenyap. Tum­bangkan imperialisme, dan segera dengan sendirinya dunia akan menjadi suatu tempat yang lebih bersih, suatu tempat yang lebih baik dan suatu tempat yang lebih aman.

Saya tahu bahwa jika saya kemukakan hal ini, banyak pikiran akan beralih kepada keadaan di Kongo. Tuan-tuan mungkin ber­tanya, bukankah imperialisme telah diusir dari Kongo dengan akibat bahwa di daerah itu sekarang terjadi persengketaan dan pertumpahan darah? Tidak demikian halnya! Keadaan di Kongo yang sangat disesalkan adalah langsung disebabkan oleh imperi­alisme, dan tidak disebabkan oleh berakhirnya imperialisme itu. Imperialisme berusaha untuk mempertahankan kedudukannya di Kongo, berusaha untuk dapat memutungkan dan melumpuhkan Negara baru itu. Itulah sebabnya Kongo berkobar.

Ya, di Kongo terdapat penderitaan. Akan tetapi penderitaan itu merupakan kesakitan kelahiran dari kemajuan dan kemajuan yang eksplosif senantiasa membawa kesakitan. Mencabut sampai ke akar-akarnya kepentingan nasional dan internasional yang sudah bercokol selalu menyebabkan kesakitan dan kogoncangan.

Kami mengetahuinya. Kami mengetahui pula dari pengalam­an-pengalaman kami sendiri bahwa perkembangan itu sendiri menimbulkan pergolakan. Suatu bangsa yang sedang bergolak membutuhkan pimpinan dan bimbingan, dan akhirnya akan meng­hasilkan pimpinan serta bimbingannya sendiri.

Kami bangsa Indonesia berbicara berdasarkan pengalaman­pengalaman yang pahit. Masalah Kongo, yang merupakan masalah kolonialisme dan imperialisme, harus diselesaikan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang telah saya uraikan tadi. Kongo adalah Negara yang berdaulat. Hendaknya ke-daulatan itu dihormati. Ingatlah: kedaulatan Kongo tidak kurang daripada kedaulatan setiap bangsa yang diwakili dalam Majelis ini, dan kedaulatan ini harus dihormati secara sama.

Dalam soal-soal dalam negeri Kongo tidak boleh ada campur tangan dan sama sekali tidak boleh ada bantuan, baik yang terang-­terangan maupun yang tersembunyi, untuk meng-hancurkan negara ini.

Ya, memang bangsa itu akan membuat kesalahan-kesalahan, kita semua membuat kesalahan-kesalahan, dan kita semua belajar dari kesalahan-kesalahan. Ya, pergolakan akan timbul, akan tetapi itu pun biarlah berlangsung, karena ini merupakan tanda bagi pertumbuhan dan perkembangan yang tepat. Sampai mana pergo­lakan itu adalah soalnya bangsa itu sendiri.

Marilah kita, baik secara perseorangan, maupun secara bersama-sama, membantu di sana apabila kita diminta oleh pemerin­tah yang sah dari bangsa itu. Akan tetapi tiap-tiap bantuan semacam itu harus jelas didasarkan atas kedaulatan Kongo yang tidak boleh diganggu gugat.

Akhirnya taruhlah kepercayaan pada bangsa itu! Mereka se­dang mengalami masa percobaan yang besar dan sedang sangat menderita. Taruhlah kepercayaan pada mereka sebagai bangsa yang batu merdeka, dan mereka akan menemukan jalannya sendiri ke arah penyelesaiannya sendiri daripada masalah-masalahnya sendiri.

Di sini hendak saya kemukakan peringatan yang sangat serius. Banyak anggota organisasi ini dan banyak pejabat organisasi ini, mungkin tak begitu menyadari perbuatan-perbuatan imperialisme dan kolonialisme.

Mereka tak pernah mengalaminya; mereka tak mengenal keuletannya dan kebengisannya, dan banyaknya mukanya, dan kejahatannya.

Kami dari Asia dan Afrika mengenalnya. Saya katakan pada tuan-tuan: Janganlah bertindak sebagai alat yang tak tahu apa-apa dari imperialisme. Jika tuan bertindak demikian, maka tuan pasti akan membunuh Organisasi Perserikatan Bangsa -Bangsa ini dan dengan begitu tuan akan membunuh harapan dari berjuta-juta manusia yang tiada terhitung itu dan mungkin tuan akan menye­babkan hari depan mati dalam kandungan.

Sebelum meninggalkan persoalan-persoalan ini, saya hendak menyinggung pula suatu persoalan besar lain yang kira-kira sama sifatnya. Yang saya maksud ialah Aljazair. Di sini terdapat suatu gambaran yang menyedihkan, di mana kedua belah pihak sedang berlumuran darah dan dihancurkan karena ketiadaan penyelesaian. Itu merupakan suatu tragedi!

Sudah jelas sekali bahwa rakyat Aljazair menghendaki kemer­dekaan. Hal ini tidak dapat dibantah lagi. Andaikata tidak demikian, maka perjuangan yang lama dan pahit dan berdarah itu sudah akan berakhir bertahun-tahun yang lalu. Kehausan akan kemerdekaan serta ketabahan untuk memperoleh ke-merdekaan itu merupakan faktor-faktor pokok dalam situasi ini.

Apa yang belum ditentukan, hanyalah betapa akrab dan selaras suatu kerjasama di hari depan dengan Perancis seharus-nya. Kerjasama yang sangat akrab dan selaras tidak akan sukar dicapai, bahkan pada taraf sekarang ini, meskipun barangkali akan bertam­bah sukar dicapainya dengan terus berlangsungnya perjuangan itu.

Maka, adakanlah suatu plebisit di bawah pengawasan Perseri­katan Bangsa-Bangsa di Aljazair untuk menentukan kehendak rakyat akan betapa akrab dan selaras hubungan-hubungan itu seharusnya. Plebisit itu hendaknya jangan mengenai soal kemer­dekaan. Kemerdekaan itu sudah ditentukan dengan darah dan air mata, dan pastilah akan berdiri suatu Aljazair yang Merdeka.

Plebisit seperti yang saya sarankan, jika diselenggarakan dalam waktu singkat, akan merupakan jaminan yang terbaik bahwa Aljazair merdeka dan Perancis akan terdapat suatu kerjasama yang akrab dan baik untuk keuntungan bersama. Sekali lagi saya berbicara berdasarkan pengalaman. Indonesia tadinya tidak me­ngandung niat untuk merusak hubungan-hubungan yang erat dan selaras dengan Belanda. Akan tetapi, rupa-rupanya bahkan dewasa ini, seperti generasi-generasi yang sudah-sudah, pemerintah bangsa itu berpegang teguh pada “memberi terlalu sedikit dan meminta terlampau banyak”. Baru ketika hal itu tak tertahankan lagi, hubungan-hubungan tersebut diputuskan.

Ijinkanlah saya sekarang beralih ke masalah yang lebih luas tentang perang dan damai di dunia kita ini. Yang pasti adalah bahwa negara-negara yang baru lahir dan yang dilahirkan kembali tidak merupakan ancaman terhadap perdamaian dunia. Kami tidak mempunyai ambisi-ambisi teritorial; kami pun tidak mempunyai tujuan-tujuan ekonomi yang tidak bisa disesuaikan. Ancaman terhadap perdamaian tidak datang dari kami, tetapi malahan dari pihak negara-negara yang lebih tua, yang telah lama berdiri dan stabil itu.

O, ya, di negara-negara kami terdapat pergolakan. Se­benarnya, pergolakan itu seakan-akan merupakan suatu fungi dari jangka waktu pertama daripada kemerdekaan. Apakah itu mengherankan? Coba, marilah saya ambil contoh dari sejarah Amerika. Dalam satu generasi harus dialami Perang Kemer-dekaan dan Perang Saudara antara Negara-negara Bagian. Selanjutnya dalam generasi itu juga harus dialami timbulnya perserikatan-per­serikatan buruh yang militan, – masa dari Internasional Workers of the World (I.W.W), “Wobblies”. Harus pula dialami hijrah ke Barat. Harus pula dialami Revolusi Industri dan, ya, bahkan masa “pedagang-pedagang aktentas”. Harus pula diderita akibat orang­-orang ala Benedict Arnold. Dan seperti sering saya katakan, kami desakkan banyak revolusi dalam satu revolusi dan banyak generasi dalam satu generasi.

Maka herankah tuan-tuan jika terdapat pergolakan pada kami? Bagi kami hal itu adalah biasa dan kami telah menjadi biasa untuk menunggang angin pusar. Saya mengerti benar bahwa untuk orang luaran hal itu seringkali tampak seperti gambaran kekacauan dan kerusuhan dan rebut-merebut kekuasaan. Bagaimanapun juga pergolakan itu adalah merupa-kan urusan kami sendiri dan tidak merupakan suatu ancaman bagi siapapun, meskipun hal itu sering memberi kesempatan-kesempatan untuk mencapuri urusan kami.

Meskipun demikian, kepentingan-kepentingan yang berten­tangan dari Negara-negara Besar adalah soal lain. Dalam hal ini masalah-masalah dikaburkan oleh ancaman-ancaman dengan bom-bom hidrogen dan diulang-ulanginya slogan-slogan lama yang telah usang.

Kami tak mengabaikannya karena masalah-masalah itu men­gancam kami. Toh, terlalu sering masalah-masalah itu mengancam kami. Toh, terlalu sering masalah-masalah tersebut nampak seakan-­akan tidak sungguh. Dengan terus-terang dan tanpa ragu-ragu hendak saya katan kepada tuan-tuan, bahwa kami menempatkan hari depan kami sendiri jauh di atas percekcokan-percekcokan di Eropa.

Ya, kami banyak belajar dari Eropa dan Amerika. Kami telah mempelajari sejarah tuan-tuan dan penghidupan orang-orang besar dari bangsa tuan. Kami telah mengikuti contoh dari tuan­-tuan; bahkan kami telah berusaha melebihi tuan-tuan. Kami ber­bicara dalam bahasa tuan-tuan dan membaca buku-buku tuan-tuan. Kami telah diilhami oleh Lincoln dan Lenin, oleh Cromwell dan Garibaldi. Dan memang masih banyak yang harus kami pelajari dari tuan-tuan di banyak bidang. Tetapi pada dewasa ini bidang-bidang yang kami harus pelajari lebih banyak lagi dari tuan-tuan, adalah bidang teknik dan ilmiah, dan bukan faham-fa­ham atau gerakan yang didiktekan oleh ideologi.

Di Asia dan Afrika pada dewasa ini masih hidup, masih berpikir, masih bertindak, mereka yang memimpin bangsanya kearah kemerdekaan, mereka yang mengembangkan teori-teori eko­nomi yang agung dan membebaskan, mereka yang menum­bangkan kelaliman, mereka yang mempersatukan bangsanya dan mereka yang menaklukkan perpecahan bangsanya. Oleh karena itu dan memang selayaknya, kami dari Asia-Af­rika saling mendekati untuk memperoleh bimbingan dan inspirasi dan kami mencari pada diri sendiri pengalaman dan kebijak-sanaan yang telah terhimpun pada bangsa-bangsa kami.

Apakah tuan-tuan tidak berpendapat bahwa Asia dan Afrika mungkin mempunyai suatu amanat dan suatu cara untuk seluruh dunia?

Ahli filsafat Inggris Bertrand Russell yang ulung itulah yang pernah berkata bahwa umat manusia sekarang terbagi dalam dua golongan. Yang satu menganut ajaran Declaration of American Independence dari Thomas Jeffreson. Golongan lainnya menganut ajaran Manifesto Komunis.

Maafkan, Lord Russell, akan tetapi saya kira tuan melupakan sesuatu. Saya kira tuan melupakan adanya lebih daripada seribu juta rakyat Asia dan Afrika, dan mungkin pula rakyat-rakyat Amerika Latin, yang tidak menganut ajaran Manifesto Komunis maupun Declaration of Independence. Camkanlah, kami menga­gumi kedua ajaran itu, dan kami telah banyak belajar dari keduanya dan kami telah diilhami oleh keduanya itu.

Siapakah yang tidak akan dapat ilham dari kata-kata dan semangat Declaration of Independence itu! “Kami menganggap kebenaran-kebenaran ini sebagai suatu yang tidak dapat di-sangkal lagi: ”bahwa manusia diciptakan dengan hak yang sama, bahwa mereka diberikan oleh Al Khalik hak-hak tertentu yang tak dapat diganggu gugat, dan bahwa di antara hak-hak itu terdapat hak untuk hidup, hak kemerdekaan dan hak mengejar kebahagiaan”. Siapakah yang terlibat dalam per-juangan untuk kehidupan dan kemerdekaan nasional, tak akan diilhami! Dan sekali lagi, sia­pakah di antara kita, yang berjuang menegakkan suatu masyarakat yang adil dan makmur di atas puing-puing kolonialisme, tak akan diilhami oleh bayangan kerjasama dan perkembangan ekonomi yang dicetuskan oleh Marx dan Engels! Sekarang telah terjadi suatu konfrontasi di antara kedua pan­dangan itu, dan konfrontasi itu membahaya-kan, tidak hanya untuk mereka yang saling berhadapan tetapi juga untuk bagian dunia lainnya.

Saya tidak dapat berbicara atas nama negara-negara Asia dan Afrika lainnya – saya tidak diberi kuasa untuk itu, dan bagai­-manapun juga mereka sendiri cakap untuk mengemuka-kan pan­dangannya masing-masing. Akan tetapi saya diberi kuasa – bahkan ditugaskan – untuk berbicara atas nama bangsa saya yang berjumlah sembilan puluh juta itu.

Seperti saya katakan, kami telah membaca dan mempelajari kedua dokumen yang pokok itu. Dari masing-masing dokumen itu banyak yang telah kami ambil dan kami buang apa saja yang tak berguna bagi kami, kami yang hidup di benua lain dan beberapa generasi kemudian. Kami telah mensintesiskan apa yang kami perlukan dari kedua dokumen itu, dan ditinjau dari pengalaman serta pengetahuan kami sendiri, sentese itu telah kami saring dan kami sesuaikan.

Jadi dengan minta maaf kepada Lord Russell yang saya hormati sekali, dunia ini tidaklah seluruhnya terbagi dalam dua pihak seperti dikiranya.

Meskipun kami telah mengambil sarinya, dan meskipun kami telah mencoba mensintesiskan kedua dokumen yang penting itu, kami tidak dipimpin oleh keduanya itu saja. Kami tidak mengikuti konsepsi liberal ataupun konsepsi komunis. Apa gunanya? Dari pengalaman kami sendiri dan dari sejarah kami sendiri tumbuhlah sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih sesuai, sesuatu yang lebih cocok.

Arus sejarah memperlihatkan dengan nyata bahwa semua bangsa memerlukan suatu konsepsi dan cita-cita. Jika mereka tak memilikinya atau jika konsepsi dan cita-cita itu menjadi kabur dan usang, maka bangsa itu adalah dalam bahaya. Sejarah Indonesia kami sendiri memperlihatkannya dengan jelas dan demikian pula halnya dengan sejarah seluruh dunia.

“Sesuatu” itu kami namakan “Pancasila”. Ya, Pancasila atau Lima Sendi Negara kami. Lima sendi itu tidaklah langsung ber­pangkal pada Manifesto Komunis atapun Declaration of Inde­pendence. Memang, gagasan-gagasan dan cita-cita itu mungkin sudah ada sejak berabad-abad, telah terkandung dalam bangsa kami. Dan memang tidak mengherankan bahwa faham-faham mengenai kekuatan yang besar dan kejantanan itu telah timbul dalam bangsa kami selama dua ribu tahun peradaban kami dan selama berabad-abad kejayaan bangsa, sebelum imperialisme me­nenggelamkan kami pada suatu saat kelemahan nasional.

Jadi, berbicara tentang Pancasila di hadapan tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama dua ribu tahun.

Apakah Lima Sendi itu? Ia sangat sederhana: pertama Ketuha­nan Yang Maha Esa, kedua Nasionalisme, ketiga Internasional­isme, keempat Demokrasi, kelima Keadilan Sosial.

Perkenankanlah saya sekarang menguraikan sekedarnya ten­tang kelima pokok itu.

Pertama: Ketuhan Yang Maha Esa.

Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, dan ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama. Meskipun demikian untuk delapan pu­luh lima persen dari sembilan puluh dua juta rakyat kami, bangsa Indonesia terdiri dari pengikut Islam. Berpangkal pada kenyataan ini dan mengingat akan berbeda-beda tetapi bersatunya bangsa kami, kami menempat-kan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam falsafah hidup kami. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun, karena toleransinya yang menjadi pem-bawaan, mengakui bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa merupakan karakteristik dari bangsanya, sehingga mereka menerima Sila pertama ini.

Kemudian sebagai nomor dua adalah Nasionalisme. Kekuatan yang membakar nasionalisme dan hasrat akan kemerdekaan mem­pertahankan hidup kami dan memberi kekuatan kepada kami sepanjang kegelapan penjajahan yang lama, dan selama berko­barnya perjuangan kemerdekaan. Dewasa ini kekuatan yang mem­bakar itu masih tetap menyala-nyala di dada kami dan tetap memberikan kekuatan hidup kepada kami! Akan tetapi nasional­isme kami sekali-kali bukanlah Chauvinisme. Kami sekali-kali tidak menganggap diri kami lebih unggul dari bangsa-bangsa lain. Kami sekali-kali tidak pula berusaha untuk memaksakan kehendak kami kepada bangsa-bangsa lain. Saya mengetahui benar-benar, bahwa istilah “nasionalisme” dicurigai, bahkan tidak dipercayai di negara-negara Barat. Hal ini disebabkan karena Barat telah mem­perkosa dan memutarbalikkan nasionalisme. Padahal nasional­isme yang sejati masih tetap berkobar-kobar di negara-negara Barat. Jika tidak demikian, maka Barat tidak akan menantang dengan senjata chauvinisme Hitler yang agresif.

Tidakkah nasionalisme – sebutlah jika mau, patriotisme –  mempertahankan kelangsungan hidup semua bangsa? Siapa yang berani menyangkal bangsa, yang melahirkan dia? Siapa yang berani berpaling dari bangsa, yang menjadikan dia? Nasionalisme adalah mesin besar yang menggerakkan dan mengawasi semua kegiatan internasional kita; nasionalisme adalah sumber besar dan inspirasi agung dari kemerdekaan.

Nasionalisme kami di Asia dan Afrika tidaklah sama dengan yang terdapat pada sistem Negara-negara Barat. Di Barat, nasion­alisme berkembang sebagai kekuatan yang agresif yang mencari ekspansi serta keuntungan bagi ekonomi nasionalnya. Nasional­isme di Barat adalah kakek dari imperial-isme, yang bapaknya adalah kapitalisme. Di Asia dan Afrika, dan saya kira juga di Amerika Latin, nasionalisme adalah gerakan pembebasan, suatu gerakan protes terhadap imperial-isme dan kolonialisme, dan suatu jawaban terhadap penindasan nasionalisme-chauvinis yang ber­sumber di Eropa. Nasionalisme Asia dan Afrika serta nasionalisme Amerika Latin tidak dapat ditinjau tanpa memperhatikan inti sosialnya.

Di Indonesia kami menganggap inti sosial itu sebagai pen-dorong untuk mencapai keadilan dan kemakmuran. Bukankah itu tujuan baik yang dapat diterima oleh semua orang? Saya tidak berbicara hanya tentang kami sendiri di Indonesia, juga tidak hanya tentang saudara-saudara saya di Asia dan Afrika serta Amerika Latin. Saya berbicara tentang seluruh dunia. Masyarakat yang adil dan makmur dapat merupakan cita-cita dan tujuan semua orang.

Mahatma Gandhi pernah berkata: “Saya seorang nasionalis, akan tetapi nasionalisme saya adalah perikemanusiaan”. Kami pun berkata demikian. Kami nasionalis, kami cinta kepada bangsa kami dan kepada semua bangsa. Kami nasionalis karena kami percaya bahwa bangsa-bangsa adalah sangat penting bagi dunia di masa sekarang ini, dan kami akan tetap demikian, sejauh mata dapat memandang ke masa depan. Karena kami nasionalis, maka kami mendukung dan menganjurkan nasional-isme, di mana saja kami jumpainya.

Sila ketiga kami adalah Internasionalisme.

Antara nasional­isme dan internasionalisme tidak ada perselisih-an atau pertentan­gan. Memang benar, bahwa internasionalisme tidak akan dapat tumbuh dan berkembang selain di atas tanah yang subur dari nasionalisme. Bukankah Organisasi Perserikat-an Bangsa-Bangsa itu merupakan bukti yang nyata dari hal ini? Dahulu ada Liga Bangsa-Bangsa. Kini ada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Nama-­nama itu sendiri menunjukkan bahwa kedua-duanya tidak akan bisa berdiri tanpa adanya bangsa-bangsa dan nasionalisme. Justru adanya kedua organisasi itu menunjukkan bahwa bangsa-bangsa mengingini dan mem-butuhkan suatu badan intemasional, di mana setiap bangsa mempunyai kedudukan yang sederajat. Internasi­onalisme sama sekali bukan kosmopolitanisme, yang merupakan penyangkalan terhadap nasionalisme, yang anti-nasional dan me­mang ber-tentangan dengan kenyataan.

Sebetulnya internasionalisme yang sejati adalah pernyataan dari nasionalisme yang sejati, di mana setiap bangsa meng-hargai dan menjaga hak-hak semua bangsa, baik yang besar mau pun yang kecil, yang lama maupun yang baru. Internasionalisme yang sejati adalah tanda, bahwa suatu bangsa telah menjadi dewasa dan bertanggung jawab, telah meninggal-kan sifat kekanak-kanakan mengenai rasa keunggulan nasional atau rasial, telah meninggal­kan penyakit kekanak-kanakan tentang chauvinisme dan kos­mopolitanisme.

Sila keempat adalah Demokrasi.

Demokrasi bukanlah mo­nopoli atau penemuan dari aturan sosial Barat. Lebih tegas, demok­rasi tampaknya merupakan keadaan asli dari manusia, meskipun diubah untuk disesuaikan dengan kondisi-kondisi sosial yang khusus.

Selama beribu-ribu tahun dari peradaban Indonesia, kami telah mengembangkan bentuk-bentuk demokrasi Indonesia. Kami percaya, bahwa bentuk-bentuk ini mempunyai pertalian dan arti internasional. Ini adalah soal yang akan saya bicarakan kemudian.

Akhirnya, Sila yang penghabisan dan yang terutama ialah Keadilan Sosial. Pada Keadilan Sosial ini kami rangkaikan kemak­muran sosial, karena kami menganggap kedua hal ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Benar, hanya suatu masyarakat yang makmur dapat merupakan masyarakat yang adil, meski-pun kemakmuran itu sendiri bisa bersemayam dalam ketidakadilan sosial.

Demikian Pancasila kami. Ketuhanan Yang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial.

Itulah dasar-dasar yang telah diterima sepenuhnya oleh bang­sa saya dan yang dipergunakannya sebagai pedoman bagi segala kegiatan politik, ekonomi dan sosial.

Tidaklah termasuk tugas saya hari ini untuk menguraikan bagaimana kami berusaha dalam kehidupan dan urusan nasional kami, menggunakan dan melaksanakan Pancasila. Jika saya menguraikan hal ini, maka ini akan mengganggu keramah-tamahan badan internasional ini.

Akan tetapi saya sungguh-sungguh percaya, bahwa Pancasila mengandung lebih banyak daripada arti nasional saja. Pancasila mempunyai arti universil dan dapat digunakan secara inter­nasional.

Tidak seorang pun akan membantah unsur kebenaran dalam pandangan yang dikemukakan oleh Bertrand Russell itu. Sebagian besar dari dunia telah terbagi menjadi golongan yang menerima gagasan dan prisnsip-prinsip Declaration of American Inde­pendence dan golongan yang menerima gagasan dan prinsip-prin­sip Manifesto Komunis. Mereka yang me-nerima gagasan yang satu menolak gagasan yang lain, dan terdapatlah bentrokan atas dasar ideologis maupun praktis.

Kita semuanya terancam oleh bentrokan ini dan kita merasa khawatir karena bentrokan ini. Apakah tidak ada sesuatu tindakan yang dapat diambil terhadap ancaman ini? Apakah hal ini harus berlangsung terus dari generasi ke generasi, dengan kemungkinan pada akhirnya akan meletus menjadi lautan api yang akan menelan kita semuanya? Apakah tidak ada suatu jalan keluar?

Jalan keluar harus ada. Jika tidak ada, maka semua musya­warah kita, semua harapan kita, semua perjuangan kita akan sia-sia belaka.

Kami bangsa Indonesia tidak bersedia bertopang dagu, sedangkan dunia menuju ke jurang keruntuhannya. Kami tidak bersedia bahwa fajar cerah dari kemerdekaan kami diliputi oleh awan radioaktif. Tidak satu pun di antara bangsa-bangsa Asia atau Afrika akan bersedia menerima hal itu. Kami memikul pertang­gungan jawab terhadap dunia, dan kami siap menerima serta memenuhi pertanggungan jawab itu. Jika itu berarti turut campur dalam apa yang tadinya merupakan urusan-urusan Negara-negara Besar yang dijauhkan dari kami, maka kami akan bersedia melakukannya. Tidak ada bangsa Asia dan Afrika manapun juga yang akan menyingkirkan tugas itu.

Bukankah jelas, bahwa bentrokan itu timbul terutama karena ketidakadilan? Di dalam suatu bangsa, adanya yang kaya dan yang miskin, yang dihisap dan yang menghisap, menimbul-kan ben­trokan. Hilangkan penghisapan, dan bentrokan itu akan lenyap, karena sebab yang menimbulkan bentrokan itu telah tidak ada.

Di antara bangsa-bangsa, jika ada yang kaya dan yang miskin, yang menghisap dan yang dihisap, akan pula ada bentrokan. Hi­langkan sebab yang menimbulkan bentrokan, dan bentrokan itu akan lenyap. Hal ini berlaku, baik internasional maupun di dalam suatu bangsa. Dilenyapkannya imperialisme dan kolonialisme meniadakan penghisapan demikian dari bangsa oleh bangsa.

Saya percaya, bahwa ada jalan keluar daripada konfrontasi ideologi-ideologi ini. Saya percaya bahwa jalan keluar itu terletak pada dipakainya Pancasila secara universil!

Siapakah di antara tuan-tuan menolak Pancasila? Apakah wakil-wakil yang terhormat dari bangsa Amerika yang besar yang menolaknya? Apakah wakil-wakil dari bangsa Rusia yang besar yang menolaknya? Ataukah wakil-wakil yang terhormat dari Ing­gris atau Polandia, atau Perancis atau Cekoslovakia? Ataukah mamang ada di antara mereka yang agaknya telah mengambil posisi yang statis dalam Perang Dingin antara gagasan-gagasan dan praktek-praktek, dan yang berusaha tetap berakar sedalam-­dalamnya sedangkan dunia menghadapi kekacauan-kekacauan?

Lihat, lihatlah delegasi yang mendukung saya! Delegasi itu bukan terdiri dari pegawai-pegawai negeri atau politikus-politikus profesional. Delegasi ini mewakili bangsa Indonesia. Dalam Dele­gasi ini ada prajurit-prajurit. Mereka menerima Pancasila, ada seorang ulama Islam yang besar, yang merupa-kan soko guru bagi agamanya. la menerima Pancasila. Selanjutnya ada pemimpin Partai Komunis Indonesia yang kuat. Ia menerima Pancasila. Seterusnya ada wakil-wakil dari Golongan-golongan Katolik dan Protestan, dari Partai Nasionalis dan organisasi-organisasi buruh dan tani, ada pula wanita-wanita, kaum cendekiawan dan pejabat-­pejabat pemerintahan. Semuanya, ya semuanya, menerima Pan­casila.

Mereka bukannya menerima Pancasila semata-mata sebagai konsepsi ideologi belaka, melainkan sebagai suatu pedoman yang praktis sekali untuk bertindak. Mereka, di antara bangsa saya yang berusaha menjadi pemimpin tetapi menolak Pancasila, ditolak pula oleh bangsa Indonesia.

Bagaimanakah penggunaan secara internasional daripada Pancasila? Bagaimana Pancasila itu dapat dipraktekkan? Marilah kita tinjau kelima pokok itu satu demi satu.

Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tidak seorang pun yang menerima Declaration of American Independence sebagai pedo­man untuk hidup dan bertindak, akan menyangkalnya. Begitu pula tidak ada seorang pengikut pun dari Manifesto Komunis, dalam forum internasional ini kini akan menyangkal hak untuk percaya kepada Yang Maha Kuasa. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini, saya persilah-kan tuan-tuan yang terhormat ber­tanya kepada tuan Aidit, ketau Partai Komunis Indonesia, yang duduk dalam Delegasi saya dan yang menerima sepenuhnya baik Manifesto Komunis maupun Pancasila.

Kedua: Nasionalisme.

Kita semua adalah wakil-wakil bangsa­-bangsa. Bagaimana kita akan dapat menolak nasionalisme? Jika kita menolak nasional-isme, maka kita harus menolak kebangsaan kita sendiri dan menolak pengorbanan-pengorbanan yang telah diberikan oleh generasi-generasi. Akan tetapi saya peringatkan tuan-tuan: jika tuan-tuan menerima prinsip-prinsip nasionalisme, maka tuan-tuan harus menolak imperialisme. Tetapi pada per­ingatan itu saya ingin menambahkan peringatan lagi: jika tuan­-tuan menolak imperialisme, maka secara otomatis dan dengan segera tuan-tuan lenyapkan dari dunia yang dalam kesukaran ini sebab terbesar yang menimbulkan ketegangan dan bentrokan.

Ketiga: Internasionalisme.

Apakah perlu untuk berbicara de­ngan panjang lebar mengenai internasionalisme dalam badan in­ternasional ini? Tentu tidak! Jika bangsa-bangsa kita tidak “international minded”, maka bangsa-bangsa itu tidak akan men­jadi anggota organisasi ini. Akan tetapi, internasionalisme yang sejati tidak selalu terdapat di sini. Saya menyesal harus menga­takan demikian, akan tetapi hal ini adalah suatu kenyataan. Terlalu sering Perserikatan Bangsa-Bangsa digunakan sebagai forum un­tuk tujuan-tujuan nasional yang sempit atau tujuan-tujuan golong­an saja. Terlalu sering pula tujuan-tujuan yang agung dan cita-cita yang luhur dari piagam kita dikaburkan oleh usaha untuk mencari keuntungan nasional atau prestige nasional. Internasionalisme yang sejati harus didasarkan atas kenyataan persamaan nasional. Internasionalisme yang sejati harus didasarkan atas persamaan kehormatan, persamaan penghargaan dan atas dasar penggunaan secara praktis daripada kebenaran, bahwa semua orang adalah saudara. Untuk mengutip piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa ­dokumen yang seringkali dilupakan orang itu – internasional-isme itu harus “meneguhkan kembali keyakinan berdasarkan hak­ hak yang sama bagi bangsa-bangsa, baik besar maupun kecil”.

Akhirnya, dan sekali lagi, internasionalisme akan berarti berakhirnya imperislisme dan kolonialisme, sehingga dengan demikian berakhirnya banyak bahaya dan ketegangan.

Keempat: demokrasi.

Bagi kami bangsa Indonesia, demokrasi mengandung tiga unsur yang pokok. Demokrasi mengandung pertama-tama prinsip yang kami sebut Mufakat yakni: kebulatan pendapat.

Kedua, demokrasi mengandung prinsip Perwakilan.

Akhirnya demokrasi mengandung, bagi kami prinsip Musya­warah. Ya, demokrasi Indonesia mengandung ketiga prinsip itu, yakni mufakat, perwakilan dan musyawarah antar wakil-wakil.

Prinsip-prinsip daripada cara kehidupan demokrasi kami ini dikandung sedalam-dalamnya oleh rakyat kami dan sudah ada sejak berabad-abad lamanya. Prinsip ini menguasai kehidupan demokrasi kami ketika suku-suku yang liar dan biadab masih mengembara di Eropa. Prinsip-prinsip ini membimbing kami ketika feodalisme menjadikan dirinya kekuatan yang progresif yang memang revolusioner di Eropa. Prinsip-prinsip ini memberi­kan kekuatan kepada kami, ketika feodalisme melahir-kan kapital­isme, dan ketika kapitalisme menjadi bapak imperialisme yang memperbudak kami. Prinsip-prinsip ini memberikan kekuatan kepada kami selama gerhana kegelapan penjajahan dan selama tahun-tahun yang berjalan lambat, ketika bentuk-bentuk lain dan berbeda-beda dari praktek-praktek demokrasi timbul secara perla­han-lahan di Eropa dan Amerika.

Demokrasi kami tua, tetapi jaya dan kuat, sama jayanya dan kuatnya seperti bangsa Indonesia yang menjadi sumbernya.

Perhatikanlah. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa ini adalah organisasi dari bangsa-bangsa yang sederajat, organisasi dari negara-negara yang mempunyai kedaulatan yang sederajat, kemerdekaan yang sederajat dan rasa bangsa yang sederajat tentang kedaulatan serta kemerdekaan. Satu-satunya cara bagi organi­sasi ini untuk dapat menjalankan fungsinya secara memuaskan, ialah dengan jalan mufakat yang diperoleh dalam musyawarah. Musyawarah harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga tidak ada saingan antara pendapat-pendapat yang bertentangan, tidak ada resolusi-resolusi dan resolusi-resolusi balasan, tidak ada pemi­hakan-pemihakan, melainkan hanya usaha yang teguh untuk men­cari dasar umum dalam memecah-kan suatu masalah. Dari musya­warah semacam ini timbullah permufakatan, suatu kebulatan pendapat, yang lebih kuat daripada suatu resolusi yang dipaksakan melalui jumlah suara mayoritet, suatu resolusi yang mungkin tidak diterima, atau yang mungkin tidak disukai oleh minoritet.

Apakah saya berbicara idealistis? Apakah saya memimpi-kan dunia yang ideal dan romantis?

Tidak! Kedua kaki saya dengan teguh berpijak di tanah! Betul saya menengadah ke langit untuk mendapatkan inspirasi, akan tetapi pikiran saya tidak berada di awang-awang. Saya tegaskan bahwa cara-cara musyawarah demikian ini dapat dilaksanakan. Cara-cara itu bagi kami dapat dijalankan. Cara-cara itu dapat dijalankan dalam Dewan Perwakilan Rakyat kami, cara-cara itu dapat dijalankan dalam Dewan Pertimbangan Agung kami, cara-­cara itu dapat dijalankan dalam Kabinet kami.

Cara musyawarah ini dapat dijalankan, karena wakil-wakil bangsa kami berkeinginan agar cara-cara itu dapat berjalan. Kaurn Komunis menginginkannya, kaum nasionalis mengingin-kannya, golongan Islam menginginkannya, dan golongan Kristen menginginkannya. Tentara menginginkannya, baik warga kota maupun rakyat di desa-desa yang terpencil meng-inginkannya, kaum cendekiawan menginginkannya dan orang yang berusaha sekuat tenaga memberantas buta huruf meng-inginkannya. Semua menginginkannya, karena semua meng-inginkan tercapainya tu­juan jelas dari Pancasila, dan tujuan yang jelas itu ialah masyarakat adil dan makmur.

Tuan-tuan boleh berkata: “Ya, kita akan menerima kata-kata Presiden Soekarno dan kita akan menerima bukti-bukti yang kita lihat dalam susunan delegasinya di Perserikatan Bangsa Bangsa pada hari ini, akan tetapi kita adalah kaum realis dalam dunia yang kejam. Cara satu-satunya untuk menyelenggarakan pertemuan internasional ialah cara yang dipergunakan dalam menyeleng­garakan Perserikatan Bangsa Bangsa, yaitu dengan resolusi-re­solusi, amandemen-amandemen, suara-suara mayo-ritet dan minoritet”.

Perkenankanlah saya menegaskan sesuatu. Kami tahu dari pengalaman yang sama pahitnya, sama praktisnya dan sama real­istisnya, bahwa cara-cara musyawarah kami dapat pula diseleng­garakan di bidang internasional. Di sidang ini cara-cara itu berjalan sama baiknya seperti bidang nasional.

Seperti tuan-tuan ketahui, belum begitu lama berselang wakil­-wakil dari dua puluh sembilan bangsa-bangsa dari Asia dan Afrika berkumpul di Bandung. Pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa itu bukan pemimpin pengelamun yang tidak praktis. Jauh dari itu! Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang keras dan realistis dari rakyat dan bangsa-bangsa, sebagian besar di antara mereka lulus dari perjuangan kemerdekaan nasional, semuanya mengetahui benar akan realitet-realitet daripada kehidupan serta kepemimpin­an baik politik maupun internasional.

Mereka mempunyai pandangan politik yang berbeda-beda, dari ekstrim kanan sampai ekstrim kiri.

Banyak orang di negara-negara Barat tidak dapat dipercaya bahwa konferensi semacam itu dapat menghasilkan sesuatu yang berguna. Banyak orang bahkan berpendapat bahwa konferensi itu akan bubar dalam keadaan kacau dan saling tuduh-menuduh, terpecah-belah di atas karang perbedaan faham politik.

Konferensi Asia-Afrika diselenggarakan dengan cara-cara musyawarah.

Dalam konferensi itu tidak terdapat mayoritet dan minoritet. Tidak pula diadakan pemungutan suara. Dalam konferensi itu hanya terdapat musyawarah dan keinginan umum untuk mencapai persetujuan. Konferensi itu menghasilkan komunike yang dibuat dengan suara bulat, komunike yang merupakan salah suatu yang terpenting dalam windu ini atau mungkin salah satu dokumen yang terpenting dalam sejarah.

Apakah tuan-tuan masih sangsi terhadap faedah dan efisiensi daripada cara musyawarah semacam itu?

Saya yakin bahwa pemakaian dengan tulus ikhlas dari cara­cara musyawarah demikian ini akan mempermudah pekerjaan organisasi internasional ini. Ya, barangkali cara ini akan memungkinkan pekerjaan yang sederhana dari organisasi ini. Cara musyawarah ini akan menunjukkan jalan untuk menye-lesaikan banyak masalah-masalah yang mungkin bertumpuk bertahun-ta­hun. Cara musyawarah ini akan memungkinkan terselesaikannya masalah-masalah yang tampaknya tidak ter-pecahkan.

Dan saya minta dengan hormat, hendaknya tuan-tuan ingat bahwa sejarah memperlakukan mereka yang gagal tanpa mengenal ampun.

Siapakah yang sekarang ini ingat kepada mereka yang mem­banting tulang dalam Liga Bangsa-Bangsa? Kita hanya ingat kepada mereka yang telah menghancurkan badan internasional itu! Akan tetapi mereka hanya menghancurkan suatu organisasi negara-negara dari sebagian dunia saja. Kita tidak bersedia ber­topang dagu dan melihat organisasi ini, organisasi kita sendiri, dihancurkan karena tidak fleksibel, atau karena lambat menyam­but keadaan dunia yang berubah.

Apakah tidak patut dicoba? Jika tuan-tuan berpendapat tidak, maka tuan-tuan harus bersedia untuk mempertanggung-jawabkan keputusan tuan-tuan di hadapan mahkamah sejarah.

Akhirnya, dalam Pancasila terkandung Keadilan Sosial. Un­tuk dapat dilaksanakan di bidang internasional, mungkin hal ini akan menjadi keadilan sosial internasional. Sekali lagi, menerima prinsip ini akan berarti menolak kolonialisme dan imperialisme.

Selanjutnya, diterimanya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa keadilan sosial sebagai suatu tujuan, akan berarti diterimanya per­tanggungan jawab dan kewajiban-kewajiban tertentu.

Ini akan berarti usaha yang tegas dan berpadu untuk meng­akhiri banyak dari kejahatan-kejahatan sosial, yang menyusah-kan dunia kita. Ini akan berarti bahwa bantuan kepada negara-negara yang belum maju dan bangsa-bangsa yang kurang beruntung akan disingkirkan dari suasana Perang Dingin. Ini akan berarti pula pengakuan yang praktis bahwa semua orang adalah saudara dan bahwa semua orang mempunyai tanggung jawab terhadap saudaranya.

Apakah ini bukan tujuan mulia? Apakah ada yang berani menyangkal kemuliaan dan keadilan daripada tujuan ini? Jika ada yang berani menyangkalnya, maka suruhlah ia menghadapi ke­nyataan! Suruh ia menghadapi si lapar, suruh ia menghadapi si buta huruf, suruh ia menghadapi si sakit dan suruhlah ia kemudian membenarkan sangkalannya!

Perkanankanlah saya sekali lagi mengulangi lima sila itu. Ketuhanan Yang Maha Esa; Nasionalisme; Internasionalisme; De­mokrasi; Keadilan Sosial.

Marilah kita selidiki apakah hal-hal itu sebenamya merupa-kan suatu sintese yang dapat diterima oleh kita semua. Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah penerimaan prinsip-prinsip itu akan memberikan suatu pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh organisasi ini.

Benar, Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak hanya terdiri dari pada piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa saja. Meskipun demikian dokumen yang bersejarah itu tetap merupakan bintang pembimbing dalam ilham organisasi ini.

Dalam banyak hal piagam mencerminkan konstelasi politik dan kekuatan pada saat dilahirkannya. Dalam banyak hal piagam itu tidak mencerminkan kenyataan-kenyataan masa sekarang.

Oleh karena itu marilah kita pertimbangkan apakah Lima Sila yang telah saya kemukakan, dapat memperkuat dan memperbaiki piagam kita.

Saya yakin, ya, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa diteri­manya kelima prinsip itu dan dicantumkannya dalam piagam, akan sangat memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Saya yakin, bahwa Pancasila akan menempatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejajar dengan perkembangan terakhir dari dunia. Saya yakin bahwa Pancasila akan memungkinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghadapi hari kemudian dengan kesegaran dan kepercayaan. Akhimya, saya yakin bahwa diterimanya Pancasila sebagai dasar piagam, akan menyebabkan piagam ini akan dite­rima lebih ikhlas oleh semua anggota, baik yang lama maupun yang baru.

Saya akan ajukan satu soal lagi dalam hubungan ini. Adalah suatu kehormatan besar bagi suatu negara bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa berkedudukan di dalam wilayah-nya. Kita semua benar-benar bersyukur bahwa Amerika Serikat telah memberi tempat yang tetap bagi Organisasi kita. Tetapi, mungkin dapat dipersoalkan apakah itu memang tepat.

Dengan segala hormat, saya kemukakan bahwa itu mungkin tidak tepat. Bahwasanya kedudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam wilayah salah satu negara yang ter-kemuka dalam Perang Dingin, berarti Perang Dingin telah merembes bahkan sampai ke pekerjaan dan administrasi serta rumah tangga Organisasi kita ini. Sedemikian luasnya perembesan itu, sehingga hadirnya pemimpin suatu bangsa yang besar dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa ini saja sudah menjadi persoalan Perang Dingin dan senjata perang Dingin, serta alat untuk mempertajam cara kehidupan yang berba­haya serta sia-sia itu.

Marilah kita tinjau apakah tempat kedudukan Organisasi kita tidak perlu dipindahkan dari suasana Perang Dingin. Marilah kita tinjau apakah Asia atau Afrika atau Jenewa akan dapat memberi tempat yang permanen kepada kita, yang jauh dari Perang Dingin, tidak terikat pada salah satu block dan di mana para Delegasi dapat bergerak dengan leluasa dan bebas sekehendak mereka. Dengan demikian, mungkin akan diperoleh pengertian yang lebih luas tentang dunia dan masalah-masahnya.

Saya yakin, bahwa suatu negara Asia atau Afrika, mengingat akan keyakinan dan kepercayaannya, dengan senang akan menun­jukkan kemurahan hatinya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, mungkin dengan menyediakan suatu daerah yang cukup luas, di mana Organisasi itu sendiri akan berdaulat dan di mana perunding­an-perundingan yang penting bagi pekerjaan vital itu dapat dilak­sanakan secara aman dan dalam suasana persaudaraan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak lagi merupakan badan se­perti yang menandatangai Piagam lima belas tahun yang lalu. Dunia ini pun tidak sama dengan yang dahulu. Mereka yang dengan kebijaksanaan berjerih payah untuk menghasilkan Piagam Organisasi ini, tidak dapat menyangka akan terjelmanya bentuk yang sekarang ini. Di antara orang-orang yang bijaksana dan jauh pandangannya itu, hanya beberapa yang sadar, bahwa akhir impe­rialisme sudah tampak dan bahwa bila Organisasi ini harus hidup terus, maka ia mesti memberi kemungkinan kepada bangsa-bangsa baru dan bangsa-bangsa yang lahir kembali untuk masuk beramai­-ramai, berduyun-duyun dan bersemangat.

Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa seharusnya ialah me-me­cahkan masalah-masalah. Untuk menggunakannya sebagai forum perdebatan belaka, atau sebagai saluran propaganda, atau sebagai sambungan dari politik dalam negeri, berarti memutar-balikkan cita-cita mulia yang seharusnya meresap di dalam badan ini.

Pergolakan-pergolakan kolonial, perkembangan yang cepat dari daerah-daerah yang belum maju di lapangan teknis, dan masalah perlucutan senjata, semuanya merupakan masalah­masalah yang tepat dan mendesak untuk kita pertimbangkan dan musyawarahkan. Akan tetapi, telah menjadi jelas, bahwa masalah­-masalah yang vital ini tidak dapat dibicarakan secara memuaskan oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sekarang ini. Sejarah badan ini menunjukkan kebenaran yang menyedihkan dan yang jelas daripada apa yang telah saya katakan.

Sungguh tidak mengherankan bahwa demikianlah jadinya. Kenyataannya ialah bahwa Organisasi kita mencerminkan dunia tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima, dan bukan dunia zaman sekarang. Demikianlah halnya dengan semua badan-badannya­ kecuali satu-satunya Majelis yang agung ini – dan dengan semua Lembaga-lembaganya.

Organisasi dan keanggotaan Dewan Keamanan – badan yang terpenting itu – mencerminkan peta ekonomi, militer dan kekuatan daripada dunia tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima, ketika Organisasi ini dilahirkan dari inspirasi dan angan-angan yang besar. Demikian pula halnya dengan sebagian besar daripada Lembaga-lembaga lainnya. Mereka itu tidak men-cerminkan bangkitnya negara-negara Sosialis ataupun ber-kembangnya de­ngan cepat kemerdekaan Asia dan Afrika.

Untuk memodrnisir dan membuat efisien Organisasi kita, barangkali juga Sekretariat di bawah pimpinan Sekretariat Jende­ralnya, mungkin membutuhkan peninjauan kembali. Dengan me­ngatakan demikian, saya tidak – sama sekali tidak – mengkritik atau mencela dengan cara apapun Sekretaris Jenderal yang sekarang, yang senantiasa berusaha, dalam keadaan-keadaan yang tak dapat diterima lagi, melakukan tugasnya dengan baik, yang kadang-kadang tampaknya tidak mungkin dilaksanakan.

Jadi, bagaimanakah mereka bisa efisien? Bagaimanakah ang­gota-anggota kedua golongan dalam dunia ini – yakni golongan­-golongan yang merupakan suatu kenyataan dan yang harus diterima – bagaimanakah anggota-anggota kedua golongan itu bisa merasa tenang di dalam Organisasi ini dan mempunyai keper­cayaan penuh yang diperlukan terhadapnya.

Sejak perang kita telah menyaksikan tiga gejala-gejala besar yang permanen.

Pertama ialah bangkitnya negara-negara Sosialis. Hal ini tidak disangka dalam tahun Sembilanbelas Empatpuluh Lima. Kedua ialah gelombang besar daripada pembebasan nasional dan eman­sipasi ekonomi yang melanda Asia dan Afrika serta saudara­-saudara kita di Amerika Latin. Saya kira bahwa hanya kita, yang langsung terlibat di dalamnya dapat menduganya. Ketiga ialah kemajuan ilmiah besar, yang semua bergerak di lapangan persen­jataan dan peperangan, akan tetapi yang dewasa ini berpindah ke lapangan rintangan dan perbatasan ruang angkasa. Siapakah yang dapat meramalkannya ketika itu?

Benar, Piagam kita dapat dirubah. Saya menyadari, bahwa ada prosedur untuk melakukan hal ini dan akan tiba waktunya ini dapat dilakukan. Akan tetapi persoalan ini mendesak.

Hal ini mungkin merupakan persoalan mati atau hidup bagi Perseriakatn Bangsa-Bangsa. Janganlah sampai pandangan legalistik yang picik dapat menghalangi dikerjakannya usaha itu dengan segera.

Adalah sama pentingnya bahwa pembagian kursi dalam De­wan Keamanan dan badan-badan serta lembaga-lembaga lainnya harus dirubah. Dalam hal ini saya tidak berpikir dalam istilah blok-blokan, tetapi saya memikirkan betapa sangat perlunya Pia­gam dari Perserikatan Bangsa Bangsa, dari badan-badan Perse­riakatan Bangsa-Bangsa dan Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa, semuanya itu mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari dunia kita sekarang ini.

Kami dari Indonesia memandang Organisasi ini dengan harapan yang besar, tetapi juga dengan kekhawatiran yang besar. Kami memandangnya dengan harapan besar, karena pernah ber­faedah bagi kami dalam perjuangan untuk kehidupan nasional kami. Kami memandangnya dengan harapan besar, karena kami percaya bahwa hanya organisasi semacam inilah dapat memberi­kan rangka bagi dunia yang sehat dan aman sebagaimana kami rindukan.

Kami memandangnya dengan kekhawatiran besar, karena kami telah mengajukan suatu masalah nasional yang besar, masalah Irian Barat, ke hadapan Majelis ini, dan tiada suatu penyelesaian dapat dicapai. Kami memandangnya dengan kekha­watiran, karena Negara-negara Besar di dunia telah memasukkan permainan Perang Dingin mereka yang berbahaya itu ke dalam ruangan-ruangannya.

Kami memandangnya dengan kekhawatiran, kalau-kalau Ma­jelis ini akan menemui kegagalan dan akan mengikuti jejak organi­sasi yang digantikannya, dan dengan demikian melenyap-kan dari pandangan mata umat manusia suatu gambaran daripada suatu masa depan yang aman dan bersatu.

Marilah kita hadapi kenyataan bahwa Organisasi ini, dengan cara-cara yang dipergunakannya sekarang ini dan dalam ben­tuknya sekarang, adalah suatu hasil sistem Negara Barat. Maafkan saya, tetapi saya tidak menjunjung tinggi sistem itu. Bahkan saya tidak dapat memandangnya dengan rasa kasih, meskipun saya sangat menghargainya.

Imperialisme dan kolonialisme adalah buah dari sistem Negara Barat itu, dan seperasaan dengan mayoritet yang luas daripada Organisasi ini, saya benci imperialisme, saya jijik pada kolonialisme, dan saya khawatir akan akibat-akibat perjuangan hidupnya yang terakhir yang dilakukan dengan sengitnya. Dua kali di dalam masa hidup saya sendiri, sistem Negara Barat itu telah merobek-robek dirinya sendiri dan pernah hampir saja menghan­curkan dunia dalam suatu bentrokan yang sengit.

Herankah tuan-tuan, bahwa hanya di antara kami me-mandang Organisasi yang juga merupakan hasil sistem negara Barat itu dengan penuh pertanyaan? Janganlah tuan-tuan salah mengerti. Kami menghormati, dan mengagumi sistem itu. Kami telah diil­hami oleh kata-kata Lincoln dan Lenin, oleh perbuatan-perbuatan Washington dan oleh perbuatan-perbuatan Garibaldi. Bahkan, mungkin, kami melihat dengan irihati kepada beberapa di antara hasil-hasil fisik yang dicapai oleh Barat. Tetapi kami bertekad bahwa bangsa-bangsa kami, dan dunia sebagai keseluruhan, tidak akan menjadi permainan dari suatu bagian kecil dari dunia.

Kami tidak berusaha mempertahankan dunia yang kami kenal; kami berusaha membangun suatu dunia yang baru, yang lebih baik!

Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, di mana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh.

Telah dikatakan bahwa kita hidup di tengah-tengah suatu Revolusi Harapan Yang Meningkat. Ini tidak benar! Kita hidup di tengah-tengah Revolusi Tuntutan Yang Meningkat. Mereka yang dahulunya tanpa kemerdekaan, kini menuntut kemerdeka-an. Mereka yang dahulunya tanpa suara, kini menuntut, agar suaranya didengar.

Mereka yang dahulunya kelaparan, kini menuntut beras, ban­yak-banyak dan setiap hari. Mereka yang dahulunya buta huruf, kini menuntut pendidikan.

Seluruh dunia ini merupakan suatu sumber-sumber tenaga Revolusi yang besar, suatu gudang mesiu revolusioner yang besar.

Tidak kurang dari tiga per empat umat manusia terlibat di dalam revolusi Tuntutan Yang Meningkat, dan ini adalah Revolusi Mahahebat sejak manusia untuk pertama kalinya berjalan dengan tegak di suatu dunia yang murni dan menyenangkan.

Berhasil atau gagalnya Organisasi ini akan dinilai dari hubungannya dengan Revolusi Tuntutan Yang Meningkat itu. Gene­rasi-generasi yang akan datang akan memuji atau mengutuk kita atas jawaban kita terhadap tantangan ini.

Kita tidak berani gagal. Kita tidak berani membelakangi sejarah. Jika kita berani, kita sungguh tidak akan tertolong lagi. Bangsa saya bertekad tidak akan gagal. Saya tidak berbicara kepada tuan-tuan karena lemah; saya berbicara karena kuat. Saya sampaikan kepada tuan-tuan salam dari sembilan puluh juta rakyat dan saya sampaikan kepada tuan-tuan tuntutan bangsa itu. Kita mempunyai kesempatan untuk bersama-sama membangun suatu dunia yang lebih baik, suatu dunia yang lebih aman. Kesempatan ini mungkin tidak akan ada lagi. Maka peganglah, genggamlah kuat-kuat dan pergunakanlah kesempat-an itu.

Tidak seorang pun yang mempunyai kemauan baik dan kepribadian, akan menolak harapan-harapan dan keyakinan­keyakinan yang telah saya kemukakan atas nama bangsa saya, dan sesungguhnya atas nama seluruh umat manusia. Maka marilah kita berusaha, sekarang juga dengan tidak menunda lagi, mewujudkan harapan-harapan itu menjadi kenyataan.

Sebagai suatu langkah praktis ke arah ini, maka merupakan kehormatan dan tugas bagi saya untuk menyampaikan suatu Ran­cangan Resolusi kepada Majelis Umum ini.

Atas nama Delegasi-delegasi Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia dan Indonesia, saya sampaikan dengan ini resolusi sebagai berikut.

 

“MAJELIS UMUM,

“MERASA SANGAT CEMAS berkenaan dengan membu­ruknya hubungan-hubungan internasional akhir-akhir ini, yang mengancam dunia dengan konsekuensi-konsekuensi berat;

“MENYADARI harapan besar dari dunia ini bahwa Majelis ini akan membantu dalam menolong mempersiapkan jalan ke arah keredaan ketegangan dunia;

“MENYADARI tanggung jawab yang berat dan mendesak yang terletak di atas bahu Perserikatan Bangsa Bangsa, untuk mengambil inisiatif dalam usaha-usaha yang dapat membantu;

“Minta sebagai langkah pertama yang mendesak, agar Presi­den Amerika Serikat dan Ketua Dewan Menteri Uni Republik Republik Sovyet Sosialis memenuhi kembali kontak-kontak mereka yang telah terputus baru-baru ini, sehingga kesediaan yang telah mereka nyatakan untuk mencari dengan perundingan-pe­rundingan pemecahan masalah-masalah yang terkatung-katung, dapat dilaksanakan secara progresif’.

Tuan Ketua, perkenankan saya memohon, atas nama delegasi­-delegasi ke lima negara tersebut di atas, supaya Resolusi ini mendapat pertimbangan Tuan yang segera. Sepucuk surat dengan maksud itu, ditandatangani oleh para Ketua delegasi-delegasi dari Ghana, India, Republik Persatuan Arab, Yugoslavia dan Indone­sia, telah disampaikan kepada Sekretariat.

Saya sampaikan Rancangan Resolusi ini atas nama ke lima Delegasi itu dan atas nama jutaan rakyat yang hidup di negara­negara itu.

Menerima Resolusi ini merupakan suatu langkah yang mungkin dan langsung dapat diselenggarakan. Maka hendaknya Majelis Umum ini menerima Resolusi ini secepat-cepatnya. Mari­lah kita mengambil langkah praktis itu ke arah peredaan ketegang­an dunia yang membahayakan. Marilah kita menerima Resolusi ini dengan suara bulat, sehingga segenap tekanan dari kepentingan dunia dapat dirasakan. Marilah kita mengambil langkah pertama ini, dan marilah kita bertekad untuk melanjut-kan kagiatan dan desakan kita sampai tercapainya dunia yang lebih baik dan lebih aman seperti yang kita bayangkan.

lngatlah apa yang terjadi sebelumnya. Ingatlah akan perjuang­an dan pengorbanan yang dialami oleh kami, anggota-anggota baru dari Organisasi ini. Ingatlah bahwa usaha keras kita telah disebabkan dan diperpanjang oleh penolakan dasar-dasar Perseri­katan Bangsa-Bangsa. Kami bertekad agar hal itu tidak akan terjadi lagi.

Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita umat manusia. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, karena fajar sedang menyingsing. Putuskan sekarang hubungan dengan masa lampau, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan diri terhadap masa depan.

Saya memanjatkan do’a hendaknya Yang Maha Kuasa mem­beri Rahmat dan Bimbingan kepada Permusyawaratan Majelis ini.

 

Terima kasih!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DI ATAS DASAR PANCASILA

RAKYAT INDONESIA TETAP BERSATU PADU

 

Amanat Presiden Soekarno

Pada Peringatan Hari Lahirnya Pancasila

Di Gedung Departemen Luar Negeri

Tanggal 1 Juni 1964

 

Saudara-saudara sekalian,

Pada saat sekarang ini saya berdiri di sini di hadapan saudara-saudara sekalian, di tengah-tengah hiasan-hiasan yang amat  mengagumkan  dalam suasana, yang bagi saya sendiri amat mengharukan. Malahan sesudah saya mendengar pidato-pidato tadi – terutama sekali pidato dari Saudara Subandrio – saya menanya kepada diri saya sendiri. Ada apa dengan diriku sekarang ini. What is the matter with me? Sebab sebenarnya segala sesuatu yang terjadi sekarang mengenai diri saya, tidak saya duga-duga lebih dahulu.

Saudara Subandrio tadi pagi saya tanya, apa sebab saudara mengadakan peringatan Lahirnya Pancasila, sesudah Pancasila itu berumur 19 tahun? Pertanyaan itu tadi telah dijawab pula oleh Saudara Subandrio saat membuka peringatan pada malam ini. Diakui oleh beliau, bahwa angka 19 adalah angka yang aneh, katakanlah angka sembarangan. Sehingga saudara-saudara mengerti bahwa saya sendiri tatkala diberi tahu oleh saudara Subandrio, bahwa akan diadakan satu peringatan besar-besaran Lahirnya Pancasila, saya agak keheran-heranan.

Malahan tatkala saya mendengar pidato-pidato tadi, saya menanya kepada diri saya sendiri what is the matter with me? Sebab pembicara-pembicara tadi semuanya menyatakan terima kasih kepada saya. Bahkan nada yang terkandung di dalam ucapan-ucapan pembicara tadi ialah nada mengagungkan kepada saya. What is the matter with me? Kenapa diucapkan terima kasih kepada saya? Kenapa saya diagung-agungkan?

Padahal toh sudah sering saya katakan, bahwa saya bukan pencipta Pancasila. Saya sekedar penggali Pancasila dari bumi tanah air Indonesia ini, yang kemudian lima mutiara yang saya gali itu saya persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia. Malah pernah saya katakan, bahwa sebenarnya hasil – atau lebih tegas penggalian dari Pancasila ini – adalah pemberian Tuhan kepada saya.

Tadi Bapak Suroso memakai perkataan ’wahyu’. Dikatakan bahwa saya mendapat wahyu, yang dengan wahyu itu saya kemukakan Pancasila. Saudara Suroso, lebih dahulu saya dengan kerendahan hati mau mengatakan kepada Saudara, bahwa saya tidak pernah mendapat wahyu. Wahyu hanyalah Nabi-nabi yang memperolehnya. Saya bukan Nabi, saya seorang manusia biasa. Tetapi syukur alhamdulillah. Ada lagi pembicara tadi memakai perkataan ilham. Ya, benar, saya memang mendapat ilham dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagaimana tiap-tiap manusia jikalau ia benar-benar memohon kepada Allah s.w.t. diberi ilham oleh Allah s.w.t. itu.

Di dalam salah satu pidato di Senayan tempo hari, pernah saya ceritakan, pada suatu malam yang sunyi-senyap, yang keesokan harinya saya diharuskan pidato dalam Dokuritsu  Zyunbi Tyoosakai – yaitu Badan Penyelidik Kemerdekaan – di gedung yang di belakang saya ini. Sesudah Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itu bersidang beberapa hari lamanya, sesudah berpuluh-puluh anggota dari Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itu berpidato, akhirnya datanglah giliran saya. Ditentukan oleh Ketua dari Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itu, bahwa saya ke-esokan harinya akan mendapat giliran berbicara. Berbicara memberi jawaban atas pertanyaan, apakah dasar yang hendak kita pergunakan untuk meletakkan negara Indonesia Merdeka di atasnya.

Di dalam pidato beberapa waktu lalu di Senayan itu, saya telah ceritakan, pada satu malam – tengah-tengah malam yang keesokan harinya saya diharuskan mengucapkan pidato – saya keluar dari rumah Pegangsaan Timur 56  yang sekarang tempat dari Gedung Pola. Saya ke luar di malam yang sunyi itu dan saya menengadahkan wajah saya ke langit, dan saya melihat bintang gemerlapan ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu. Dan di situlah saya merasa kecilnya manusia, disitulah saya merasa-kan daifnya  aku ini, di situlah aku merasa pertanggungan jawab yang amat berat dan besar diletakkan di atas pundak saya, oleh karena keesokan harinya saya harus mengemukakan usul saya tentang hal dasar apa negara Indonesia Merdeka harus memakai.

Pada saat itu dengan segenap kerendahan hati saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, – “Ya Allah, ya Robbi, berikanlah petunjuk kepadaku. Berikanlah petumjuk apa yang besok pagi akan kukatakan, sebab Engkaulah ya Tuhanku, mengeri bahwa apa yang ditanyakan kepadaku oleh Ketua Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itu bukan barang yang remeh, yaitu dasar daripada Indonesia Merdeka. Dasar daripada satu negara yang telah diperjuangkan oleh seluruh Rakyat Indonesia berpuluh-puluh tahun dengan segenap penderitaannya, yang penderitaan-penderitaan itu aku sendiri telah melihatnya. Dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang menjadi salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat. Aku, ya Tuhan telah Engkau beri kesempatan melihat penderitaan-penderitaan rakyat untuk mendatangkan Negara Indonesia yang merdeka itu. Aku melihat pemimpin-pemimpin, ribuan, puluhan ribu, meringkuk di dalam penjara. Aku melihat rakyat menderita. Aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya cita-cita itu. Aku melihat orang-orang didrel mati. Aku melihat orang naik tiang penggantungan. Bahkan pernah menerima surat daripada seorang Indonesia yang keesokan harinya akan naik tiang penggantungan. Dalam surat itu dia mengamanatkan kepada saya sebagai berikut: ’Bung Karno, besok aku akan meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini’. Ya Tuhan, ya Allah, ya Robbi, berilah petunjuk kepadaku, sebab besok pagi aku harus memberi jawaban atas pertanyaan yang maha penting ini!”

Saudara-saudara, setelah aku mengucapkan doa kepada Tuhan ini, saya merasa mendapat petunjuk. Saya merasa mendapat ilham. Ilham yang berkata, ”Galilah apa yang hendak engkau jawabkan itu dari bumi Indonesia sendiri.” Maka malam itu aku menggali, menggali di dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaanku, menggali di dalam khayalku, apa yang terpendam di dalam bumi Indonesia ini, agar supaya hasil dari penggalian itu dapat dipakainya sebagai dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan datang. Sebab, bahwa akan datang Indonesia Merdeka, tidak ada seorangpun bisa mem-bantahnya. Tidak ada seorangpun yang mengetahui jalannya sejarah. Tidak dapat dibantah, bahwa suatu hari akan datang yang Indonesia akan menjadi merdeka.

Berulang-ulang kukatakan di dalam pidato-pidatoku sebelum saat ini, bahwa kedatangan Indonesia Merdeka adalah pasti, pasti, sebagaimana matahari terbit pada tiap pagi. Dan aku telah berkata, siapa yang bisa menahan jalannya matahari, dialah akan bisa menahan datangnya Indonesia Merdeka.

Malah, saudara-saudara, keyakinana ini sudah saya ucap-kan dalam tahun 1929. Malah ucapan inilah yang menjadi sebab saya ditangkap oleh pihak Belanda, dilemparkan ke dalam penjara, ucapan yang berbunyi: ”Nanti tidak lama lagi – tidak lama lagi sepanjang sejarah – akan pecah satu peperangan besar yang dinamakan Perang Pasifik. Dan di dalam perang Pasifik itu Indonesia akan merdeka.” Itu saya ucapkan dalam tahun 1929, saudara-saudara. Dan oleh karena ucapan inilah saya ditangkap, dituntut di muka pengadilan, dijatuhi vonis, dilemparkan ke dalam penjara, sehingga, sebagai saya katakan tadi, adalah satu keyakinan bagi saya, yakin ilmul yakin, ainul yakin, hakkul yakin, bahwa Indonesia pasti akan merdeka.

Nah, saudara-saudara, pada waktu itu memang, saudara-saudara, fajar telah menyingsing. Itu pun telah kukatakan pada waktu bulan Mei tahun 1945, bulan Mei saudara-saudara, fajar telah menyingsing. Tidak lama lagi matahari Indonesia Merdeka akan terbit. Sudah, malam sebelum 1 Juni, saudara-saudara, saya menekukkan lutut ke hadirat Allah Subhanahu wa ta’allah di kebun Pegangsaan Timur 56, di belakang gedung yang sekarang bernama Gedung Pola, memohon petunjuk daripada Tuhan. Dan Tuhan memberi ilham: Galilah sendiri di dalam bumi Indonesia, di dalam kalbunya rakyat Indonesia, dan engkau akan mendapat apa yang harus dijadikan dasar bagi Negara merdeka yang akan datang.

Keesokan harinya, saudara-saudara, saya ucapkan pidato di gedung belakang ini, di gedung yang bagi saudara-saudara adalah di hadapan saudara-saudara – disaksikan oleh banyak anggota-anggota lain daripada Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, disaksikan oleh opsir-opsir balatentara Jepang, dijaga oleh serdadu-serdadu Jepang yang bersenjatakan bayonet. Saya sadar, saudara-saudara, bahwa ucapan yang hendak saya ucapkan mungkin adalah satu ucapan yang berbahaya bagi diriku, sebab ini adalah jaman perang, kita pada waktu itu di bawah ke-kuasaan imperialis Jepang, tetapi juga pada waktu itu, saudara-saudara, aku sadar akan kewajiban seorang pemimpin. Kerja-kanlah tugasmu, kerjakanlah kewajibanmu, tanpa menghitung-hitung akan akibatnya.

Kemudian di Bogor, saudara-saudara, tatkala saya memberi amanat kepada perwira-perwira sarjana hukum daripada empat Angkatan Bersenjata kita, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, Angkatan Kepolisian – dan perwira-perwira sarjana hukum yang menghadap saya di Bogor dan mereka minta amanat, kemarin saya ucapkan, kemarin juga saya ucapkan kembali apa yang saya ucapkan kepada diriku sendiri pada pagi hari tanggal 1 Juni 1945, yaitu ajaran yang diberikan oleh Sri Krisna kepada Arjuna yang terulis di dalam Bhagawat Gita. Sri Krisna berkata kepada Arjuna, “Kerjakan kewajibanmu, jalankan tugasmu, tanpa mengjiting-hitung akan akibatnya. Karmanye fadikaraste temapalesyu kadattjhana, artinya, kerja-kanlah kewajibanmu tanpa menghitung-hitung akan akibatnya. Saya pada waktu itu berkata pula kepada diriku sendiri, pagi-pagi nian 1 Juni 1945: Soekarno, karmanye fadikaraste temafalesyu kadattjhana, kerjakan kewajibanmu tanpa meng-hitung-hitung akan akibatnya. Dan kira-kira pukul 10 pagi, saudara-saudara, pada waktu itu saya mengucapkan pidato yang saudara-saudara semuanya kenal dengan nama, judul ”Lahirnya Pancasila”.

Sekarang, saudara-saudara mengadakan peringatan ini dan pada saat saya berhadapan dengan saudara-saudara, saya menanya kepada diriku sendiri, what happens with me? What is the matter wiht me? Karena orang menyatakan terima kasih kepadaku, orang mengagung-agungkan akan daku, pada hal aku bukan pencipta dari Pancasila, pada hal aku mengeluarkan galian Pancasila itu karena malamnya aku memohon kerpada Allah Subhanahu wa ta’allah. Bukan Soekarno yang mengada-kan Pancasila, tetapi ialah sebenarnya pemberian daripada Allah Subhanahu wa ta’alla sebagai ilham kepada Soekarno. Marilah kita semuanya mengucapkan terima kasih kepada Allah Subhanahu wa ta’alla.

Saudara-saudara, kedua kalinya, what is the matter with me, kok sekarang ini saya diagung-agungkan, bukan hanya pada hari Lahirnya Pancasila, notabene yang kesembilanbelas, meng-agung-agungkan  kepada saya, tetapi juga tahun ini, nanti Insya Allah  tanggal 6 Juni yang terkenal sebagai hari lahirnya Soekarno, orang mau mengadakan perayaan-perayaan yang maha hebat. Dari kanan, dari kiri, dari muka, dari belakang, dari mana-mana saya mendapat permintaan agar supaya saya suka menerima persembahan-persembahan pada hari nanti 6 Juni 1964, persembahan yang berupa macam-macam hal. Ada yang berupa tari-tarian, ada yang akan berupa nyanyian-nyanyian kanak-kanak, ada yang akan berupa hadiah-hadiah yang amat berharga. What is the matter with me? Kenapa tahun-tahun yang dulu tidak? Bukan saya minta tahun-tahun yang dulu itu, tidak, tetapi kenapa sekonyong-konyong tahun ini orang hendak mengadakan peringatan hari ulang tahun Bung Karno dengan cara yang demikian hebatnya? Kenapa tahun ini orang mem-peringati hari Lahirnya Pancasila, kenapa tahun ini orang mengagung-agungkan namanya Soekarno sebagai pencipta daripada Pancasila. What is the matter with me?

Mengenai hari ulang tahun saya yang akan datang, jikalau dikaruniai Tuhan, saudara-saudara – sebab mati-hidup manusia ada di tangan Tuhan – saya hendak berkata sebagai berikut: Saya terima segala pernyataan cinta kepada saya yang akan berupa hadiah atau nyanyian-nyanyian atau kesenian-kesenian yang hendak dipersembahkan kepada saya pada nanti hari 6 Juni 1964. Saya mengucap terima kasih dan saya mengatakan Insya Allah akan saya terima. Tetapi saudara-saudara, Insya Allah pula, pada tanggal 6 Juni yang akan datang itu saya tidak ada di Jakarta. Saudara-saudara barangkali mengetahui, bahwa telah tercapai persetujuan antara Tengku Abdul Rahman dengan Presiden Soekarno untuk bertemu satu sama lain, mengadakan perundingan satu dengan yang lain. Dan itu adalah satu hal yang sangat penting, saudara-saudara. Maka menurut rancangan, saya Insya Allah akan meninggalkan tanah air nanti pada tanggal 5 Juni, sehingga pada tanggal 6 Juni itu saya tidak ada ditengah-tengah saudara-saudara. Saya akan meninggalkan tanah air untuk membela tanah air Indonesia. Saya akan meninggalkan tanah air untuk berjuang mati-matian untuk membela Indonesia. Saya akan meninggalkan tanah air untuk mengemban Amanat Penderitaan Rakyat.

Dalam pada saya mengucap terima kasih atas maksud dan niat yang baik daripada banyak golongan untuk merayakan hari ulang tahunku pada tanggal 6 Juni yang akan datang ini dengan cara yang sehebat-hebatnya, dalam mengucapkan terima kasih itu, saya mohon kepada seluruh rakyat Indonesia doa restu, supaya saya di luar negeri di dalam berhadapan muka dengan wakil-wakil daripada neo-kolonialis ”Malaysia” bisa memper-tegakkan kemerdekaan dan kepentingan Republik Indonesia dengan cara yang sebaik-baiknya. Nanti jikalau dikehendaki Tuhan, saya kembali lagi ke tanah air dengan membawa hasil yang baik, pada waktu itulah segala persembahan-persembahan, entah yang berupa kesenian, entah yang berupa apapun akan bisa saya terima. Saudara-saudara, maka kita sekarang ini berjalan terus, berjalan terus dengan semboyan yang saudara-saudara sudah kenal satu sama lain: Onward, ever onward, no retreat. Dan saya bisa mengatakan semboyan ini: Onward, ever onward, never retreat, oleh karena saya tahu bahwa seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke berdiri di belakang saya, saudara-saudara. Sudah terbukti bahwa Pancasila yang saya gali dan saya persembahkan kepada rakyat Indonesia, bahwa Pancasila itu adalah benar-benar satu dasar yang dinamis, satu dasar yang benar-benar dapat meghimpun segenap tenaga rakyat Indonesia, satu dasar yang benar-benar dapat memper-satukan rakyat Indonesia itu untuk bukan saja mencetuskan revolusi, tetapi juga menegakkan revolusi ini dengan hasil yang baik.

Jikalau aku pergi keluar negeri untuk mengadakan pem-bicaraan dengan Tengku Abdul Rahman Putra, maka aku adalah sebenarnya utusan, wakil daripada revolusi Indonesia. Dan Tengku boleh tahu, revolusi Indonesia itu bukan revolusinya Soekarno, tetapi revolusi daripada seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Ever onward, no retreat! Sejak tahun 1929 saya berkata, matahari akan terbit. Mei 1945 saya telah berkata, fajar telah menyingsing. Demikian pula saya sekarang berkata, matahari telah tinggi dan matahari telah mencapai puncak kejayaan dan kebahagiaan daripada rakyat Indonesia. Mari kita berjalan terus.

Saya mengucap beribu-ribu terima kasih kepada segenap rakyat Indonesia atas peringatan Lahirnya Pancasila ini. Peringatan ini, saudara-saudara, saya terima dan lebih-lebih saya terima peringatan ini sebagai pernyataan daripada seluruh rakyat Indonesia, bahwa di atas dasar Pancasila itu rakyat Indonesia akan tetap bersatu padu, tetap berjalan sebagai satu laskar, satu barisan yang maha kuat, satu banjir yang maha sakti, banjir daripada revolusi Indonesia yang sebenarnya adalah sebagian daripada Revolution of Mankind.

Mari kita berjalan terus, terus! Onward, ever onward, never retreat.

 

Insya Allah, kita pasti menang!