Genta Suara Republik Indonesia

AMANAT PRESIDEN SOEKARNO

PADA ULANG TAHUN

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA,

17 AGUSTUS 1963 DI JAKARTA

 

 

Saudara-saudara sekalian!

 

Sebagaimana biasa, maka pada tiap-tiap hari 17 Agustus saya berdiri di hadapan saudara-saudara sekalian. Ini kali di Stadion-Utama Gelora Bung Karno, sedang dahulu selalu di muka Istana Merdeka. Tetapi pada pokoknya : berhadapan dengan Rakyat Indonesia, – muka dengan muka, wajah dengan wajah, jiwa dengan jiwa, semangat dengan semangat, tekad dengan tekad – Rakyat Indonesia, baik yang terkumpul di stadion ini, maupun di seluruh Nusantara melalui radio dan televisi, maupun yang di luar negeri melalui radio dan televisi pula. Dan sayapun sadar, bahwa saya pada tiap hari 17 Agustus itu berhadapan pula dengan dunia luar yang bukan Indonesia, baik sebagai kawan berhadapan dengan kawan, maupun sebagai lawan berhadapan dengan lawan. Dengan kawan-kawan itu saya laksana bermusyawarah atau berkonsultasi antara Ego dengan Alter Ego, – dengan lawan-lawan itu saya tanpa tédéng aling-aling laksana berkonfrontsi “ini dadaku mana dadamu!”. Sebab di sini saya berdiri tidak sebagai Sukarno-pribadi, tetapi sebagai Sukarno penyambung lidah Rakyat Indonesia, – sebagai Sukarno Penyambung Lidah Revolusi Indonesia!

 

Saya berdiri di sini sebagai warganegara Indonesia, sebagai patriot Indonesia, sebagai alat Revolusi Indonesia, sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, – sebagai Pengemban Utama daripada Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia.

 

Kita semua yang berdiri dan duduk di sini harus merasakan diri kita sebagai pengemban Amanat Penderitaan Rakyat! Saya bertanya, sudahkah engkau semua, hai saudara-saudara!, engkau … engkau … engkau … engkau, sudahkah engkau semua benar-benar mengerti dirimu sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar menyadari dirimu sebagai pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar menginsyafi dirimu sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar merasakan dirimu, sampai ketulang-tulang-sungsummu, sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat? Amanat Penderitaan Rakyat, yang menjadi tujuan perjuangan kita, – sumber kekuatan dan sumber keridlaan-berkorban daaripada perjuangan kita yang maha dahsyat ini? Sekali lagi engkau semua, – engkau semua dari Sabang sampai Merauke! -, sudahkah engkau semua benar-benar sadar akan hal itu?

 

“Dari Sabang sampai Merauke”, – empat perkataan ini bukanlah sekedar satu rangkaian kata ilmu bumi. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekedar menggambarkan satu geographisch begrip. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekadar satu “geographical entity”. Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu “national entity”. Ia adalah pula satu kesatuan kenegaraan, satu “state entity” yang bulat-kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologis, satu “ideological entity” yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun, – satu entity of social-consciousness like a burning fire. Dan sebagai yang sudah saya katakan dalam pidato-pidato saya yang lalu, social consciousness kita ini adalah bagian daripada social consciousness of man. Revolusi Indonesia adalah kataku tempohari congruent dengan the social conscience of man!

 

Kesadaran sosial dari Rakyat Indonesia itulah pokok-hakekat daripada Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia. Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia itu adalah dus bagian daripada social consciousness of mankind. Dus amanat Penderitaan Rakyat Indonesia adalah bagian daripada Amanat Penderitaan Rakyat daripada seluruh kemanusiaan!

 

Dus Amanat Penderitaan Rakyat kita bukanlah sekadar satu pengertian atau tuntutan nasional belaka. Amanat Penderitaan Rakyat kita bukan sekedar satu “hal Indonesia”. Amanat Penderitaan Rakyat kita menjalin kepada Amanat Penderitaan Umat Manusia, Amanat Penderitaan Umat Manusia menjalin kepada Amanat Penderitaan Rakyat kita. Revolusi Indonesia menjalin kepada Revolusi Umat Manusia, Revolusi Umat Manusia menjalin kepada Revolusi Indonesia. Pernah saya gambarkan hal ini dengan kata-kata: “there is an essential humanity in the Indonesian Revolution”. Pernah pula saya katakan bahwa Revolusi Indonesia mempunyai suara yang “mengumandang sejagad”, yakni bahwa Revolusi Indonesia mempunyai “universal voice”.

 

Pantaslah bahwa Revolusi Indonesia yang demikian itu, bukanlah satu revolusi kecil-kecilan. Pantaslah bahwa Revolusi Indonesia adalah satu Revolusi yang “multy-complex”. Pantaslah bahwa Revolusi Indonesia dinamakan kumpulan daripada beberapa revolusi dalam satu generasi, – dinamakan “a summing up of many revolutions in one generation”. Pantaslah bahwa ada orang yang menamakan Revolusi Indonesia itu seperti pemandangan-alam dalam sebuah kékér, –                 “a telescoped revolution”.

 

Coba perhatikan pula: Revolusi Indonesia bukan hanya menuntut sandang-pangan! Kalau ia hanya menuntut sandang-pangan saja, maka ia bukan Revolusi Multicomplex, bukan “many revolutions in one generation”, bukan telescoped revolution”. Bukan! Revolusi Indonesia menuntut banyak hal-hal lain. Ia meliputi seluruh aspirasi kemanusiaan. Ia adalah congruent dengan the social conscience of man. Karena itu maka ia “telescoped”. Karena itu maka ia “a summing up of many revolutions in one generation”.

 

Coba bandingkan.

Golongan Negro di Amerika sekarang sedang dalam Revolusi, – Revolusinya Social Conscience of Man. Adakah mereka menuntut sandang-pangan? Tidak! Mereka menuntut perlakuan sebagai Manusia yang Sama, perlakuan yang “congruent dengan social conscience of Man”.

 

Maka dari itu, saudara-saudara!, janganlah sekali-kali lupa bahwa cita-cita kita ini adalah luhur. Cita-cita luhur yang memang cita-citanya seluruh Kemanusiaan, cita-cita luhur yang mengumandang di dalam kalbunya seluruh Kemanusiaan!

 

Di sinilah letaknya sumber semangat kita! Di sinilah letaknya sumber simpati seluruh New Emerging Forces kepada kita. Di sinilah letaknya sumber ridho Tuhan kepada kita, – Ridho Tuhan yang selalu menolong kepada kita kalau kita hendak dibinasakan musuh, Ridho Tuhan yang selalu menolong kepada kita kalau kita hendak ditumpas oleh lawan. Ridho Tuhan yang membuat kita tetap tegak meski dihujani api dan gélédek dan guntur dalam aksi-aksi-militer yang maha dahsyat, Ridho Tuhan yang membuat kita tetap jaya meski hendak di odél-odél oleh pemberontakan-pemberontakan seperti D.I.-T.I.I., P.R.R.I. dan Permesta, Ridho Tuhan yang membuat kita tetap berdiri meski digerogoti oleh segala macam subvesi, Ridho Tuhan yang membuat kita tidak rubuh meski tiap-tiap kali musuh kita mengatakan bahwa kita sebentar lagi pasti mengalami keruntuhan ekonomi, yaitu pasti mengalami satu “economic collapse”. Secara kebatinan saya berkata: “Kita tidak akan runtuh, kita tidak akan binasa, kita tidak akan tumpes, karena do’a seluruh Kemanusiaan mendukung kepada kita!”

 

All the Social Conscience of Man prays for our Victory!

Karena itu, hai seluruh bangsa Indonesia, tetap tegakkanlah kepalamu! Jangan mundur, jangan berhenti, tetap derapkanlah kakimu di muka bumi! Jikalau ada kalanya saudara-saudara hampir berputus asa, jikalau ada kalanya saudara-saudara kurang mengertinya jalannya Revolusi kita yang memang kadang-kadang seperti bahtera di lautan badai yang mengamuk ini, – kembalilah kepada sumber Amanat Penderitaan Rakyat kita yang congruent dengan Social Conscience of Man itu. Kembalilah kepada sumber itu, sebab di sanalah saudara akan menemukan kembali Rilnya Revolusi!

 

Saudara-saudara! Barangkali di antara saudara-saudara ada yang berfikir: “Bung Karno ini kali kok lain pembukaan pidatonya daripada pidato-pidato 17 Agustus yang sudah-sudah!” Benar demikian, saudara-saudara! Pembukaan pidatoku sekarang ini memang lain daripada pembukaan pidatoku yang sudah-sudah. Tahun yang lalu, misalnya, saya buka pidatoku dengan pembukaan yang mengungkapkan tabir yang menutupi jiwaku dalam mempersiapkan pidato yang kemudian saya namakan “Tahun Kemenangan” itu. Dalam kata pembukaan pidato “Tahun Kemenangan” itu saya berkata:

 

“Saya menulis pidato ini sebagaimana biasa dengan perasaan cinta yang meluap-luap terhadap tanah-air dan bangsa, tetapi ini kali dengan perasaan terharu yang lebih daripada biasa terhadap kepada keuletan Bangsa Indonesia, dan kekaguman yang amat tinggi terhadap kemampuan Bangsa Indonesia. Dengan terus-terang saya katakan di sini, bahwa beberapa kali saya harus ganti kertas, oleh karena air-mataku kadang-kadang tak dapat ditahan lagi. Tak dapat ditahan lagi, oleh rasa gembira pada diri sendiri, dan rasa terimakasih kepada seluruh Bangsa Indonesia yang telah menunjukkan keuletan yang sedemikian itu, dan rasa Syukur Alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Adil, yang telah mengkurniai perjuangan yang ulet itu dengan pahala yang maha-tinggi. Dengan penuh rasa haru, tetapi pula dengan penuh keyakinan, saya menamakan dalam pidato ini, tahun 1962 sebagai Tahun Kemenangan. Dan dengan menamakan tahun 1962 ini Tahun Kemenangan, maka sekaligus saudara-saudara dapat mengerti apa sebab saya terharu, dan sekaligus pula dapat menangkap nada dari isi pidato ini”.

 

Demikianlah sebagian daripada kata-pembukaan pidato Tahun yang lalu,

Memang, – Allahu Akbar! – tiap-tiap kali kita mendekati 17 Agustus, tiap kali saya mempersiapkan sesuatu pidato 17 Agustus, saya selalu merasa jiwaku ini laksana dalam pintu-gerbangnya peletusan, – pintu-gerbangnya peledakan!

 

Hendak meledak, meraung, menangis, membahak, menjanji, oleh karena jiwa saya laksana tergempa oleh emosi-emosi yang maha-dahsyat, – emosi cinta dan emosi terharu terhadap tanah-air dan bangsa, emosi penuh dengan idealismenya Revolusi yang seirama dengan Revolusinya Kemanusiaan. Maka segenap fikiran saya, segenap pemasakan yang keluar dari otak saya, segenap isi pidato yang keluar dari geraknya tangan saya itu, sebagian besar, atau kadang-kadang seluruhnya, samasekali didasarkan atas perasaan-perasaan atau emosi itu, didasarkan atas dasar perasaan cinta-keranjingan atau haru-tersedu-sedu terhadap tanah-air dan bangsa, emosi yang menggempa karena idealismenya Revolusi yang menyakar bintang-bintang di langit, malahan mungkin menyakar lebih tinggi lagi daripada bintang-bintang di langit raya!

 

Ya! Sudah barang tentu Menteri Pertama selalu memberi bahan. Ketua M.P.R.S. selalu memberi bahan. Wakil-wakil Menteri Pertama memberi bahan. Semua menteri-menteri memberi bahan dalam berkas laporannya yang penuh angka-angka, penuh dengan fakta-fakta, penuh dengan pemandangan-pemandangan dan usul-usul, penuh dengan statistik-statistik yang menunjukkan kemajuan atau kemunduran dalam berbagai bidang. Bahan-bahan itu amat berguna, dan mutlak-perlu untuk mengetahui progresnya kitapunya usaha.

 

Dan saudara-saudarapun melihat bahwa saya di sana-sini mempergunakan bahan-bahan itu dalam penyusunan pidato-pidato 17 Agustus.

 

Apalagi jikalau saya berpidato sebagai perdana menteri! Maka bahan-bahan itu menjadi landasan-mutlak bagi saya jika saya memberikan amanat sebagai Presiden/Perdana Menteri, ataupun sebagai Presiden/Panglima Tertinggi. Jikalau saya berpidato amanat sebagai Presiden/Perdana Menteri kepada D.P.R.G.R. misalnya, atau sebagai Presiden/Mandataris memberi progress-report kepada M.P.R.S, atau sebagai Presiden/Panglima Tertinggi kepada perwira-perwira pada Hari Angkatan Bersenjata, maka bahan-bahan itu mutlak parlu. D.P.R.G.R., M.P.R.S., – lembaga-lembaga sejenis itu adalah lembaga-lembaga tertinggi daripada ketatanegaraan kita, dan saya berbicara kepada lembaga-lembaga itu dalam kapasitas Presiden/Perdana Menteri atau Presiden/Mandataris.

 

Tetapi seperti sekarang ini, pada hari ini, di stadion ini, saya berbicara langsung kepada rakyat, – rakyat seluruh Indonesia, – bahkan juga langsung kepada seluruh dunia, dari timur sampai ke Barat, dari Utara sampai ke Selatan. Saya sekarang tidak terutama sekali berbicara  sebagai Presiden/Mandataris, tidak sebagai Presiden/ Perdana Menteri, tidak sebagai Presiden/ Panglima Tertinggi, – saya berbicara di sini sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, – saya berbicara di sini sebagai Presiden/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia!

 

M.P.R.S adalah Lembaga Negara, D.P.R.G.R. adalah Lembaga Negara, D.P.A. – Dewan Pertimbangan Agung, – adalah Lembaga Negara, tetapi kamu, kamu, kamu, kamu yang berada di sini, kamu di seluruh Nusantara, kamu di perantauan luar negeri, kamu adalah Lembaga Revolusi! Lembaga Revolusi!

 

Bagi saya, maka pertemuan dengan rakyat pada tiap-tiap 17 Agustusan itu adalah penting-maha-penting, bukan hanya karena pertemuan itu merupakan satu puncak acara, bukan hanya karena 17 Agustus adalah hari keramat, bukan hanya karena 17 Agustus selalu membangkitkan semangat baru, tekad baru, kekuatan baru, inspirasi baru, – tetapi oleh karena menurut rasa hati saya pertemuan 17 Agustus itu adalah pertemuan antara Pemimpin Besar Revolusi dan Lembaga Tertinggi daripada Revolusi.

 

Dalam tiap pertemuan 17 Agustus, dalam tiap pertemuan dengan Lembaga Tertinggi Revolusi sebagai sekarang ini, saya seperti mengadakan satu dialoog. Satu dialoog dengan siapa? Satu dialoog dengan Rakyat, satu pembicaraan-langsung-timbal-balik antara saya dan Rakyat, antara Ego-ku dan Alter-Ego-ku. Satu pembicaraan-langsung-timbal-balik antara Sukarno-manusia dan Sukarno-Rakyat, satu pembicaraan-langsung-timbal-balik antara kawan-seperjuangan dan kawan-seperjuangan. Satu pembicaraan-timbal-balik antara dua kawan yang sebenarnya Satu!

 

Itulah sebabnya maka saya, tiap kali saya mempersiapkan pidato 17 Agustus, – di Jogya-kah, di Jakarta-kah, di Bogor-kah, di Tampak Siring-kah -, lantas menjadi seperti dalam keadaan keranjingan. Segala yang gaib dalam tubuh saya lantas meluap-luap! Fikiran meluap-luap, rasa meluap-luap, saraf meluap-luap, emosi meluap-luap. Seluruh alam halus di dalam tubuh saya ini lantas seperti menggetar dan berkobar dan menggempa, dan bagiku, api lantas seperti masih kurang panas, samudera lantas seperti masih kurang dalam, bintang di langit lantas seperti masih kurang tinggi!

 

Sebab pidato 17 Agustus bagiku haruslah menjadi satu dialoog dengan kamu. Pidato 17 Agustus harus benar-benar menjadi penyambung lidahmu, hai saudara-saudara di gubug-gubug, hai saudara-saudara di béngkél-béngkél, hai saudara-saudara di sawah-sawah dan di ladang-ladang, hai saudara-saudara yang lidahmu tidak bisa berbicara sendiri. Pidato 17 Agustus sebagai dialoognya Pemimpin Besar Revolusi dengan Revolusi, – Revolusimu, Revolusiku -, tidak boleh sekadar dialoog kosong, tetapi harus pula pertumbuhan fikiran-fikiran-baru dan konsepsi-konsepsi-baru yang benar-benar dapat memberikan bimbingan kepada realistisnya aspirasi-aspirasi daripada Rakyat. Pidato 17 Agustus harus pula tidak segan mengoyag-oyag orang yang alpa, menjewer orang yang bersalah kecil, menempiling orang yang bersalah besaran, menghantam, menendang orang yang bersalah besar. Petunjuk, nasehat, koreksi, retooling, anjuran, konsepsi, zelfkritiek, penerangan, pembakaran semangat, penggarisan strategi, penetapan taktik, pendorongan dan sekali lagi pendorongan, – semua itu harus meluap-luap dalam dialoog yang saya adakan dengan Rakyat pada tiap-tiap tanggal 17 Agustus.

 

Dan – tambahan pula harus mengadakan stock-opname daripada keadaan Revolusi pula! Dan – peneropongan daripada kelanjutannya Revolusi, yaitu prognose daripada Revolusi! Mengertikah saudara-saudara, bahwa lantas saya menjadi seperti keranjingan?

 

Satu hal adalah paling penting dikatakan. Satu hal adalah nyata. Yaitu, bahwa jalan yang kita tempuh dalam Revolusi ini adalah jalan yang benar : Strategi dan taktik kita dalam Revolusi ini adalah tepat, – karena ia menjamin kemenangan terakhir daripada perjuangan rakyat Indonesia. Strategi dan taktik yang tepat, karena menggerakkan seluruh funds and forces yang ada pada bangsa Indonesia, tanpa perkecualian, tanpa diskriminasi, kecuali tentunya tenaga-tenaga anti-progresif dan anti-revolusioner, tenaga-tenaga kontra-revolusioner.

 

Nah, semua ini harus saya tumplekkan dalam dialoog ini, dialoog yang juga didengarkan oleh seluruh dunia. Saya harus memformulirkan segala fikiran kita itu, mengkristalisir segala fikiran kita itu, mengkondensir segala fikiran kita itu. Dan – harus juga mengformulir perasaaan, mengkristalisir perasaan, mengkondensir perasaan. Sebab Revolusi mengandung  perasaan! Sekali lagi saya katakan, Revolusi mengandung perasaan! Revolusi mengandung emosi! Revolusi mengandung kegandrungan kepada bintang di langit! Revolusi mengandung inspirasi. “Revolusi adalah inspirasinya sejarah laksana taufan”, demikianlah pernah dikatakan oleh Trotzky. “Revolutie is Razende inspiratie van de geschiedenis”.

 

Ya!, saya tahu bahwa saya sering dicemooh orang yang tidak senang kepada saya bahwa saya adalah katanya “manusia-perasaan”, – gevoelsmens -, bahwa saya di dalam politik terlalu bersifat “manusia-seni”, – terlalu bersifat artis. Alangkah senangnya saya dengan cemoohan itu? Saya mengucap syukur alhamdulillah ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwa saya dilahirkan dengan sifat-sifat gevoelsmens dan artis, dan saya bangga bahwa Bangsa Indonesia-pun adalah satu “bangsa-perasaan” (satu gevoelsvolk) dan “Bangsa Artis”, – satu artistenvolk.

 

Apa sebab? Oleh karena sifat-sifat tersebut adalah sangat penting dalam suatu Revolusi, tidak terutama sekali dalam mencetuskan Revolusi, tetapi sangat penting dalam membimbing Revolusi, dalam memberikan konsepsi-konsepsi kepada Revolusi, dalam memberi Revolusi itu  satu Kumandang Sejagad, memberi Revolusi itu satu “Universal Voice”, mengisi Revolusi itu dengan “essential humanity”- pendek-kata dalam menyelesaikan Revolusi itu dan mengiramakan Revolusi itu dengan the social conscience of Man. Revolusi adalah perombakan dan pembangunan. Pembangunan meminta daya-cipta, pembangunan meminta satu jiwa arsiték! Dan salah satu unsur jiwa arsiték adalah jiwa perasaan dan jiwa artis! Malahan ada orang berkata: “The art to guide a revolution is to find inspiration in everything, – everything you see, everything you feel”. Dapatkah orang find inspiration in everything, kalau orang itu tidak sedikit gevoels-mens, tidak sedikit artis?

 

Revolusi Indonesia bukan hanya mengejar keunggulan materi, bukan hanya mengabdi kepada pemuasan benda saja. Dan Revolusi Umat Manusiapun bukan hanya mengejar keunggulan materi atau hanya mengabdi kepada pemuasan benda saja. Tidak, Revolusi Indonesia dan Revolusi Umat Manusia adalah lebih tinggi daripada itu! Revolusi Indonesia dicetuskan untuk menuntut pemuasan daripada Rasa Bangsa Indonesia, – Rasa Keadilan di segala lapangan, Rasa Ke-Insanan, Rasa “dignity of Man”, – dan Revolusi Umat Manusiapun mengarahkan diri kepada  Rasa-Rasa itu.

Karena itulah maka tak mungkin orang-orang ber-Revolusi tanpa rasa.

 

Ya, ini adalah satu dialoog. Dan karena ini satu dialoog, satu pembicaraan dari hati kehati antara kamu dengan aku, antara aku dengan kamu, maka saya bertanya kepadamu: sudahkah tepat, bahwa kamu tempohari menetapkan aku menjadi Presiden Republik Indonesia seumur hidup? Saya menyampaikan terimakasih kepadamu atas penetapan itu, tetapi saya masih menanya: sudahkah tepat penetapanmu itu? Engkau yang harus menjawab, sebab aku sendiri tidak bisa menilai, apakah keputusan itu tepat. Aku sendiri tidak bisa menilai kwalitas pekerjaanku sendiri selama ini. Aku hanya dapat mengatakan, bahwa aku selalu cinta kepada Tanah-air dan Bangsa, bahwa aku telah mengabdikan jiwa-ragaku kepada Tanah-Air dan Bangsa itu berpuluh-puluh tahun lamanya, bahwa akupun bermaksud jika diizinkan oleh Tuhan untuk mengabdi kepada Tanah-Air dan Bangsa itu sampai kepada saat Tuhan memanggil aku pulang kembali ke tempat asal. Kwalitas daripada pekerjaanku selama ini, aku tidak dapat menilail sendiri. Engkau yang harus menilai. Sejarah, sejarah nanti akan menilai, sejarah nasional dan sejarah internasional.

 

Tetapi, bagaimanapun juga, – keputusan saudara-saudara itu menentukan, bahwa selama saya masih hidup dan dapat bekerja, kedudukan dan tugas Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain. Dan karena Revolusi masih lama berjalan terus, maka ini berarti bahwa tidak ada harapan bagi saya untuk mengurangi aktivitas sedikitpun, atau mengaso sedikitpun, meski usia bertambah tinggi tiap hari, tenaga bertambah kurang tiap tahun. Tetapi dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa saya terima keputusan saudara-saudara itu, dan semoga Tuhan selalu memberikan kekuatan dan kemampuan kepadaku untuk memenuhi kepercayaan yang saudara-saudara letakkan di pundak saya yang dhaif ini.

 

Sekarang, marilah saya teruskan dialoog saya dengan saudara-saudara, dalam kwalitas Pemimpin Besar Revolusi, dan tidak terutama sekali dalam kwalitas Perdana Menteri atau Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.

 

Saya mau mengadakan “pandangan dari udara” dengan saudara-saudara mengenai Revolusi kita ini. Dan apa yang saya lihat? Saya melihat bahwa Revolusi kita sekarang ini sudah menginjak kepada satu Phase Baru. Revolusi kita sekarang sudah mencapai kemajuan demikian rupa, sehingga boleh saya katakan sudah menuju kepada sasaran. Dulu ’kan belum! Dulu sebenarnya kita ini harus terus-terusan berjuang saja mempertahankan hidup. Dulu sebenarnya kita ini masih harus terus-menerus “fight to survive”. Sudah nyata antara tahun 1945 dan 1950! Dalam periode yang dulu saya namakan periode “revolusi physik” itu kita “fight to survive”, “babak-bundas, dédél-duél”. Dalam periode 1950-1955 pun kita “fight to survive”. Ingat R.M.S., D.I./T.I.I. Dalam periode 1955-1960 yang dulu saya namakan periode investment, kita, sambil menginvest, masih saja “fight to survive”. Ingat P.R.R.I., ingat Permesta, ingat D.I./T.I.I. lagi. Dan ingat penyeléwéngan-penyeléwéngan lain dari Revolusi. Ingat hebatnya subversi dari luar negeri. Maka sebenarnya saya harus membuat pemeriodean Revolusi kita sebagai berikut:

 

1945-1950 ………. periode survival ke-I;

1950-1962 ………. periode survival ke-II.

 

Dalam akhir periode survival ke-II ini malahan kita membebani diri kita sendiri dengan perjuangan membebaskan Irian Barat, yang membawa kita “at the brink of war”, artinya yang hampir-hampir saja mencemplungkan kita ke dalam satu peperangan yang maha dahsyat.

 

Tetapi ini pun belum begitu membahayakan kita, sehingga kita boleh memakai perkataan “survive”. P.R.R.I. belum begitu membahayakan, Permesta belum begitu membayakan kita, D.I./T.I.I. belum begitu membahayakan kita, hampir pecahnya peperangan dengan Belanda belum begitu membahayakan kita. Semua itu bisa kita ganyang, meski tentunya dengan tidak secara menyanyi di bawah sinarnya bulan-purnama. Bahasa Inggrisnya, saudara-saudara, we could take it all, we can take it all, and if need be, we shall take it all again.

 

Tetapi yang paling berbahaya bagi Revolusi kita dalam periode ini ialah kompromis-kompromis yang telah kita jalankan. Saudara-saudara masih ingat dari pidato saya beberapa tahun yang lalu, bahwa dalam K.M.B. dan dalam periode sesudah K.M.B. kita menjalankan kompromis. Dan kompromis-kompromis ini yang lahir dalam K.M.B. dan sesudah K.M.B. itulah yang  amat membahayakan kepada Revolusi.

 

Ya benar, memang ada kalanya sesuatu Revolusi Besar harus menelan suatu kompromis, – tetapi kompromis, yang kelak dalam perjuangan selanjutnya dapat dan harus dikoreksi kembali, dihapus kembali, kata orang Jawa “dilepéh” kembali. Setiap Revolusi yang Besar memang kadang-kadang mengalami keharusan kompromis yang demikian itu.

 

Tetapi apa sebabnya kita hampir-hampir saja tenggelam sendiri, hampir saja binasa sendiri karena kompromis-kompromis itu, sehingga kemudian saya memakai perkataan “survive”?

 

Bukan oleh karena kompromis yang kita adakan itu adalah kompromis politis. Bukan pula oleh karena kita mengadakan kompromis ekonomis. Bukan! Kompromis politis dan kompromi ekonomi, dengan taktik perjuangan yang jitu, dapat diatasi dan dilenyapkan dalam waktu yang pendek. Tetapi celakanya ialah, bahwa kita pada waktu itu mengadakan kompromis dalam hal yang lebih fundamentil. Kita mengadakan kompromis mental. Ha itu yang celaka saudara-saudara. Kita mengira bahwa kita dapat melaksanakan dan menyelesaikan Revolusi Indonesia dengan Hollands denken, melaksanakan dan menyelesaikan Revolusi dengan alam-berfikir cekokan Belanda. Kita memakai sistim liberal, kita memakai demokrasi parlementer untuk melancarkan Revolusi. Kita ngglenggem dan menganggut-anggutkan kitapunya kepala, kalau orang berkata bahwa partijensysteem adalah perlu untuk menjalankan demokrasi. Kita menerima multiparty system sebagai satu kesenangan. Kita malahan sampai menganggap partai-kecil-kecil, partai-gurem partai-gurem, sebagai “Mouth-pieces of democracy”, – corong-corongnya demokrasi, katanya.

 

Semua itu, katanya, “demi Revolusi”. Semua itu, katanya, “untuk kepentingan Revolusi”.

 

Revolusi apa! Ya, Revolusi apa? Revolusinya kaum yang keblinger oleh buku-bukunya Thorbecke dan Kranenburg dan van Kan dan entah siapa lagi!

 

Mereka ini, mereka yang saya namakan keblinger ini, mungkin sekali gagah-berani dalam mengusir secara phisik kaum kolonialis, tetapi mereka adalah penuh dengan minderwaardigheids-complexen dalam menghadapi konfrontasi mental dengan dunia Barat atau dengan dunia imperialis-kolonialis. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja ikut keblinger. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja kehilangan Revolusi. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita hampir-hampir saja musnah samasekali sebagai Revolusi dari muka bumi. Oleh pengaruh mereka itulah Revolusi kita disebutkan oleh seorang penulis Belanda “een revolutie op drift”, – satu revolusi kléyar-kléyor, satu revolusi tanpa

arah.

 

Oleh kompromis mental itulah kita lantas mengalami segala macam gangguan dalam periode 1950-1962. Kompromis politik yang tadinya mungkin dapat diatasi dengan taktik yang jitu, menjadilah satu celaka, menjadilah fatal, karena berlandaskan kompromis mental. Kompromis finansiil-ekonomis menjadi satu celaka yang fatal, karena berlandaskan kompromis mental, Divide et impera Belanda dapat berjalan terus, karena kompromis politik itu berlandasan kompromis mental; penggarukan Finansiil-ekonomis kekayaan Indonesia oleh Belanda berjalan terus, karena kompromis finansiil-ekonomis itu berlandaskan kompromis mental.

 

Coba saudara-saudara, tahukah saudara-saudara, bahwa misalnya keuntungan bersih yang dibuat oleh Belanda dari Indonesia antara tahun 1952 da tahun 1956 adalah melebihi banyaknya keuntungan bersih dalam empat tahun sebelum perang?

 

Ini celakanya kompromis mental, saudara-saudara.

Tetapi Alhamdulillah: Tuhan menolong!

Lalu kita bangkit! Lalu kita menggelédékkan kitapunya “stop!” kepada segala penyeléwéngan mental itu! Lalu kita suruh buang, buang, buang jauh-jauh segala alam-fikiran liberalisme. Lalu kita dengungkan semboyan-baru yaitu Demokrasi Terpimpin. Lalu kita kocok habis-habisan multiparti sistem. Lalu kita canangkan Manifesto Politik. Lalu kita telorkan pemerasan Manipol yaitu U.S.D.E.K. Lalu kita camkan kepada rakyat perlunya “Revolusi – Sosialisme – Pemimpin Nasional yang satu”, yaitu Resopim. Lalu…. lalu…. lalu…. Alhamdulillah, …. ya lalu kita bisa mencapai Tahun Kemenangan! ….

 

Penemuan-kembali Revolusi kita itu adalah salah satu Rahmat Tuhan yang besar kepada kita, mungkin salah satu Rahmat Tuhan yang terbesar kepada kita. Coba bayangkan: jikalau kita umpamanya tidak menemukan kembali jiwa Revolusi kita itu, jikalau kita umpamanya masih saja hidup dalam alam kompromis mental, jikalau umpamanya kita masih saja dihinggapi oleh mentale minderwaardigheids-complexen seperti dalam periode yang lalu, – tidak berani mencipta sendiri, tidak berani mengkonsepsi sendiri, tidak berani melepéhkan kembali segala cekokan-cekokan Belanda dan cekokan Barat, – bagaimana kiranya keadaan kita sekarang ini? Barangkali kita makin lama makin jauh “op drift”, makin lama makin kléyar-kléyor, makin lama makin tanpa arah, bahkan makin lama makin masuk lagi ke dalam lumpurnya muara “exploitation de l’homme par l’homme” en “exploitation de l’homme par nation”. Dan sejarah akan menulis: di sana, antara benua Asia dan benua Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup satu Bangsa yang mula-mula mencoba untuk hidup-kembali sebagai Bangsa, tetapi akhirnya kembali menjadi satu kuli di antara bangsa-bangsa,- “een natie van koelies, en een koelie onder de naties”.

 

Maha-Besarlah Tuhan yang membuat kita sadar-kembali, sebelum kasip!

Sekarang Roda Revolusi sudah berputar kembali atas dasar Hukum-Hukum klassik daripada semua Revolusi. Apa Hukum-Hukum klasik daripada Semua Revolusi itu?

 

Satu: Tiada Revolusi jikalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus, –  confrontation de tous les jours.

Dua: Tiada Revolusi jikalau ia tidak berupa satu disiplin yang hidup, disiplin di bawah satu pimpinan.

 

Revolusi Indonesia sekarang sudah menjalankan dua hal itu: Konfrontasi terus-menerus, disiplin di bawah satu pimpinan. Tetapi lebih pula daripada itu! Revolusi Indonesia ya menjalankan Konfrontasi terus-menerus, ya menjalankan disiplin di bawah satu pimpinan nasional, ya mempunyai ideologi nasional-progresif yang kuat dan gamblang, ya berpegang teguh kepada kepribadian nasional. Ia minum dari sumber, sumber Indonesia sendiri. Ia minum dari sumber sendiri, tidak minum air import dari luaran! Justru inilah yang membuat Revolusi Indonesia itu satu Revolusi yang unik, satu Revolusi yang dikagumi oleh seluruh bangsa yang progresif, satu Revolusi yang dipandang tinggi oleh semua anggota daripada New Emerging Forces. Bahkan di kalangan Old Established Forces-pun banyak orang yang mulai “memandang” kepada Revolusi Indonesia itu, dan mengakui Revolusi Indonesia itu sebagai satu Kenyataan yang amat kuat, satu “living reality yang tak dapat diabaikan”.

 

Saudara-saudara!

Tadi saya katakan, bahwa Revolusi Indonesia kini sudah menginjak pada suatu Phase Baru, dan bahwa ia sudah mulai “menuju kepada sasarannya”.

 

Tahun yang lalu, dalam pidato “Tahun Kemenangan”, sudah saya singgung bahwa “Revolusi Indonesia sudah menaik kepada tingkat “self-propelling growth”: kita maju atas dasar kemajuan, kita mekar atas dasar kemekaran”.

 

Ya, Revolusi kita sekarang ini tidak lagi dalam keadaan defensif, yaitu tidak lagi hanya repot mempertahankan diri saja terhadap kepada serangannya Kontra-revolusi, serangannya subversi asing, atau serangannya fihak liberal. Revolusi kita sekarang ini sudah tidak lagi hanya “fight to survive”. Revolusi kita sekarang ini sudah berjuang untuk mencapai kemajuan-kemajuan secara positif, kemajuan-kemajuan yang bisa menjadi modal dan batu loncatan untuk kemajuan-kemajuan bagi hari yang berikut. Inilah arti “selfpropelling growth”. Inilah arti “selfgenerating growth”. Inilah arti maju atas dasar kemajuan. Inilah arti mekar atas dasar kemekaran.

 

Landasan-landasan Revolusi, – jaitu a. konfrontasi terus-menerus, b. disiplin  di bawah satu pimpinan, c. ideologi nasional-progresif, d. kepribadian nasional, – landasan-landasan itu tidak perlu kita perjuangkan lagi. Landasan-landasan itu sudah berada mendukung tubuh kita, landasan-landasan itu sudah menjadi milik perjuangan kita. Di atas landasan-landasan itu kita berjalan, di atas landasan-landasan itu kita bisa berderap ke muka secara positif menuju kepada sasaran Revolusi yang sesungguhnya: yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Tidak lagi seperti dulu, waktu kita tidak berderap maju, melainkan hari-hari kita cuma mengobat-abitkan saja pedang ke sekeliling kita saja secara defensif, untuk mempertahankan diri kita terhadap serangan musuh. Tidak lagi seperti dulu, tatkala kitapunya kegiatan sehari-hari melulu hanyalah “fight a life-and-death struggle”, – “to survive”!

 

To survive! Physically and mentally! To survive! Agar tetap hidup! Secara badaniah dan mental!

 

Sekarang “struggle to survive” itu sudah lampau. Sekarang kita sudah masuk phase baru. Revolusi  kita sudah masuk phase baru. Kita masih dalam Revolusi itu, hanya saja Revolusi-nya sudah berada dalam phase baru. Kalau Revolusi sudah keluar dari periode survival, itu tidak berarti bahwa kita keluar dari Revolusi. Tidak! Kita keluar dari sesuatu periode Revolusi, tetapi kita tidak keluar dari Revolusi. Sebagaimana tertulis di atas pintu Museum Mexico City bahwa “History is a continuity” (sejarah adalah satu kelanjutan), maka kita juga berkata bahwa “Revolution is a continuity”, – Revolusi adalah satu kelanjutan.

 

Orang tidak bisa meninggalkan Sejarah; Orang juga tidak bisa meninggalkan Revolusi. You cannot leave History; You also cannot leave a Revolution!

 

Nah, saudara-saudara, engkau tetap dalam Revolusi! Merasakah engkau, bahwa engkau tetap dalam Revolusi?

 

Misalnya, unsur pertama dari Revolusi ialah Konfrontasi terus-menerus, kataku. Merasakah engkau Konfrontasi terus-menerus itu? Dan ikut sertakah engkau dalam konfrontasi terus-menerus itu?

 

Revolusi adalah satu rentetan-panjang dari satu konfrontasi ke lain konfrontasi. Konfrontasi yang satu selesai, konfrontasi yang lain muncul hendak menerkam. Satu selesai, satu lagi muncul! Malahan kadang-kadang konfrontasi-konfrontasi itu datangnya secara simultan, secara berbarengan, secara “mengkeroyok”, – dari muka, dari belakang, dari kiri, dari kanan, dari bawah, dari atas. Itulah hamuk-tabula-rasanya konfrontasi dalam sesuatu Revolusi! Aku menanya, sudahkah engkau merasakan hal itu, dan ikut serta menghadapi semua konfrontasi itu?

 

Barangkali lantas kau menanya: Konfrontasi-konfrontasi apa?

Coba saya perincikan sedikit:

Konfrontasi terhadap segala rintangan-rintangan yang menghalang-halangi jalannya Revolusi, sampai kepada konfrontsi terhadap kepada bom dan meriam dan dinamit.

Konfrontasi terhadap kontra-revolusi.

Konfrontasi terhadap kapada subversi, baik dari dalam, maupun dari luar.

Konfrontasi terhadap kepada apa yang dinamakan “vested interests”, yaitu golongan-golongan yang tidak menghendaki perubahan-perubahan, karena merasa terancam perutnja yang gendut.

Konfrontasi dalam menyusun konsepsi-konsepsi baru, yaitu merubah konservatisme mental.

Konfrontasi dalam memperjuangkan konsepsi-konsepsi baru itu dalam masyarakat sendiri, dan dalam dunia internasional.

 

Ini semua merupakan satu réntétan, satu rantai yang sambung-menyambung, satu proses konfrontasi. Baru jika kita sudah melampaui proses konfrontasi semacam ini, maka kitapunya Revolusi meningkat kepada tingkat “selfpropelling growth”. Tetapi juga dalam tingkat selfpropelling growth itu kita masih dihadapkan kepada konfrontasi-konfrontasi. Tetapi konfrontasi lain macam! Yaitu konfrontasi terhadap diri kita sendiri. Konfrontasi “positif”. Konfrontasi yang juga dinamakan “tantangan”. Konfrontasi yang dinamakan “challenge-challenge”-nya perjuangan. Konfrontasi terhadap pada persoalan-persoalan pembangunan. Konfrontasi terhadap kita sendiri: bisakah atau tidak kita-ini membangun Sosialisme?

 

Sekarang tergantung dari kita sendirilah, apakah kita ini sanggup menjalankan konfrontasi-konfrontasi macam baru itu, ataukah tidak?

 

Sekarang, sebab banyak hal yang sudah, saudara-saudara.

Survival? Sudah!!

Diakui oleh dunia luaran sebagai satu realitas yang nyata, – sebagai satu “living reality”, sebagai satu “established fact” yang tak dapat dibantah dan diabaikan? Sudah!!

Dianggap oleh banyak bangsa New Emerging Forces sebagai “Bangsa Pelopor” dalam Revolusi Umat Manusia? Sudah!!

Sudah! Semuanya sudah! Malahan hal-hal lain daripada Revolusi kita ini sudah dianggap oleh dunia sebagai “living realities” pula, satu realitas yang hidup, bahkan satu contoh yang baik. Demokrasi Terpimpin misalnya tidak lagi dikatakan satu diktator, atau satu “rubber stamp-democracy”, tetapi satu realitas Indonesia yang hidup, dan oleh banyak bangsa dianggap sebagai satu contoh yang baik. Manipol dianggap oleh banyak bangsa progresif sebagai satu contoh yang baik. U.S.D.E.K. dianggap sebagai satu contoh yang baik. Resopim dianggap sebagai satu contoh yang baik. Kepribadian Nasional, yang dulu dianggap sebagai satu kecongkakan nasional, dianggap sebagai satu contoh yang baik. Gotong Royong, Musyawarah, Mufakat, soko-guru-soko-gurunya Revolusi kita, dianggap sebagai satu contoh yang baik.

 

Gengsi-Revolusi Indonesia di luar negeri membubung setinggi langit!!

Banyak orang di luar negeri sekarang ini menganggap Revolusi Indonesia itu, – sesuai dengan anggapan kita sendiri -, sebagai salah satu Revolusi yang terbesar di kalangan Umat Manusia sepanjang masa, satu Revolusi yang paling modern dalam arti progresivitas yang dinamis dan dialektis, dalam gegap-gempitanya dunia modern zaman sekarang.

 

Nah, dengan itu semua, cukuplah alasan untuk berbesar hati. Cukuplah alasan untuk tidak mundur setapakpun menghadapi konfrontasi-konfrontasi macam baru yang saya maksudkan tadi. Cukuplah alasan untuk berderap terus ke arah Fajar Sosialisme yang telah menyingsing di cakrawala Indonesia. Ya, kita Insya Allah menang! Menang! Sekali lagi Insya Allah MENANG! Ini bukan kesombongan! Ini bukan zelfgenoeg-zaamheid! Ini bukan kecongkakan, melainkan sekedar kepercayaan kepada diri kita sendiri, sekedar kesadaran tentang potensi-potensi dan kemampuan-kemampuan yang nyata dari bangsa Indonesia sendiri, juga jika dibandingkan dengan potensi dan kemampuan dari bangsa-bangsa yang lain. Dan adakah sesuatu bangsa yang dapat meneruskan Revolusinya dan menyelesaikan Revolusinya, jika ia tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak mempunyai kesadaran tentang kemampuan-kemampuan diri sendiri? Sesuatu bangsa yang tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, tidak dapat berdiri langsung.

“A Nation without faith cannot stand”.

 

 Nah, dengan isi-jiwa yang penuh dengan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri itulah, kita kini memasuki Phase Baru dalam Revolusi kita. Kita kataku, memasuki “selfpropelling growth”. Kita menuju kepada sasaran. Kita menuju kepada Fajar Sosialisme Indonesia. Ini berarti bahwa dengan Sosialisme Indonesia itu, – kerangka ke-II daripada Revolusi Indonesia -, sudah besok pagi atau besok lusa akan tercapai. Tidak! Samasekali tidak! Sosialisme Indonesia baru sedang berfajar! Mataharinya akan terbit menyinari tanah-air kita, bukan besok pagi atau besok lusa, – yakinilah ini! – tetapi sesudah kita berderap secara ulet, membanting tulang setiap hari, memeras tenaga terus-terusan, menjalankan konfrontasi macam baru tanpa putusnya. Pendek-kata kita masih harus terus ber-Revolusi!

 

Syarat-syarat dan alat-alat untuk melanjutkan Revolusi gaya-baru ini sudah kita adakan.

Apa syarat-syarat dan alat-alat itu?

Di lapangan politik kita sudah menjalankan Demokrasi Terpimpin. MPRS., DPRGR., DPA., rapat-rapat-gabungnn antara Pemerintah dan M.P.N., Depertan, M.P.P.R., KOTOE, KOTI, dan lain sebagainya, – itu semua adalah pengeja-wantahan daripada Demokrasi Terpimpin, sehingga demokrasi Terpimpin itu benar-benar adalah satu “living democracy” dan bukan satu “Rubberstamp-democracy” sebagai yang musuh-musuh kita katakan. Saya tidak mengatakan, bahwa Demokrasi Terpimpin sebagai yang kita jalankan sampai sekarang ini sudah sempurna sebagai alat Revolusi, sudah perfect sebagai alat Revolusi, tetapi tak boleh dibantah bahwa demokrasi parlementer liberal tidak bisa dipakai dalam Revolusi Indonesia yang menuju kepada Sosialisme, dan bahwa qua sistim Demokrasi Terpimpin adalah satu-satunya Demokrasi yang tepat bagi bangsa Indonesia dengan segala kepribadiannya dalam menuju kepada Sosialisme Indonesia. Dan manakala Demokrasi Terpimpin yang kita jalankan sampai sekarang ini belum sempurna, belum perfect, maka kewajiban kita ialah menyempurna-kan Demokrasi Terpimpin itu. Bergandengan dengan usaha penyempurnaan inilah tepatnya anjuran saya untuk selalu “think and rethink”, “shape and reshape”, – think and rethink, shape and reshape, dan tidak ngglenggem saja dalam textbook-thinking, ngglenggem saja dalam menelan segala cekokan dari luar, ngglenggem saja dalam alamnya Hollands denken.

 

Juga dalam hal perikehidupan politik kita harus ber-“selfpropelling growth”. Pikirkan sendiri, janganlah menjiplak saja; pelajarilah pengalaman sendiri, pelajarilah pengalaman bersama! Mendakilah terus atas pendakian sendiri, majulah terus atas kemajuan sendiri, mekarlah terus atas kemekaran sendiri! Dan mendakilah bersama! Majulah bersama! Mekarlah bersama! Think and rethink, shape and reshape, bukanlah tugas dari Pemimpin Besar Revolusi sendiri saja, tidak!, melainkan adalah tugas kolektif dari semua pemimpin, semua tokoh politik, semua politieke denkers deer natie, bahkan tugas kolektif dari seluruh Rakyat Indonesia.

 

Kemarin saya katakan di Gedung Pola:

Apa yang saya perbuat tempohari mengenai perikehidupan politik itu? Saya tempohari sebagai Presiden Republik Indonesia sekedar mencetuskan Demokrasi Terpimpin sebagai hasil penggalian daripada kekayaan rakyat Indonesia, yang terpendam selama penjajahan asing beratus-ratus tahun. Tetapi pertumbuhannya selanjutnya ke arah konsolidasi, pertumbuhan, pertumbuhan selanjutnya ke arah perfeksi, hingga menjadi tradisi baru dan alat yang efektif dalam Revolusi Indonesia, itu adalah tugas dari seluruh Rakyat Indonesia sendiri.

 

Jangan Rakyat Indonesia dan para tokoh-tokoh-politiknya hanya menjadi penonton saja dalam mempertumbuhkan Demokrasi Terpimpin itu, sambil menyerahkan segala sesuatunya kepada Pemimpin Besar Revolusi. Jangan Rakyat Indonesia dan para tokoh-politiknya hanya menunggu “follow-up” nya saja dari mulutnya Pemimpin Besar Revolusi, – menyerahkan segala pemerasan otak kepada Pemimpin Besar Revolusi.

 

Sungguh, Domokrasi Terpimpin bukan “pemberian” saya, Bukan “pemberian” saya. Demokrasi Terpimpin adalah milik dari Bangsa Indonesia, tidak hanya untuk sekarang, tetapi juga untuk generasi-generasi yang akan datang. Sebab ia adalah hasil penggalian dari bumi sendiri. Karena itu maka kita semua harus memeras otak dan memeras energi untuk menyempurnakan Demokrasi Terpimpin itu sebagai alat Revolusi.

 

Ingat apa yang saya katakan dalam rapat raksasa Front Nasional di Senayan tempohari? Waktu itu saya berkata: “Jikalau umpamanya sekarang turun satu Malaikat dari langit, dan berkata kepada saya: “Hai Sukarno, akan aku beri kemu’jizatan kepadamu, untuk memberi satu masyarakat adil dan makmur kepada Rakyat Indonesia sebagai hadiah, sebagai “persenan”, sebagai cadeau – maka saya akan menjawab: “Saya tidak mau diberi mu’jizat yang demikian itu, saya menghendaki yang masyarakat adil dan makmur itu adalah hasil perjuangan daripada Rakyat Indonesia sendiri!”

 

Demikian pula maka saya menghendaki penyempurnaan dari Demokrasi Terpimpin itu sebagai hasil pemikiran kolektif daripada seluruh Rakyat Indonesia.

 

Alat yang lain untuk menyelesaikan Revolusi kita ialah Kader. Ingat pidato saya 15 tahun yang lalu yang intinya bukan “machines decide everything”, tetapi “cadres decide everything”? Bukan mesin menentukan segala tetapi Kader menentukan segala hal?

 

Dalam Revolusi yang sudah terutama sekali bersifat Revolusi Pembangunan, – bukan terutama sekali Revolusi yang masih “struggle to survive” -, maka Kader adalah perlu maha-perlu. Bukan puluhan. Bukan ratusan. Bukan ribuan. Tetapi puluhan ribu Kader di segala lapangan. Kader yang mengerti Revolusi. Kader yang mengerti segala landasan-landasan Revolusi. Kader yang merasakan dirinya alat Revolusi. Kader yang mengerti kerangka-kerangka Revolusi. Kader yang gandrung Sosialisme Indonesia. Kader yang berjiwa Manipol-U.S.D.E.K. Kader yang mati-matian. Kader Resopim. Kader yang suka bekerja. Kader yang suka membanting tulang, – Kader Revolusi! – bukan kader yang hanya perténtang-perténténg saja jual bagus.

 

Alat lain ialah Front Nasional.

Adakah Front Nasional satu alat Revolusi?

Front Nasional adalah satu alat Revolusi, oleh karena Front Nasional harus menampung segala kegiatan politik daripada massa. Baik yang tergabung dalam organisasi-organisasi politik, maupun yang tergabung dalam organisasi-organisasi Karya, agar supaya menjadi satu kegiatan simultan pembantu Revolusi. Iapun harus menyusun Kader-kader baru, menyusun golongan-golongan baru, agar semua funds and forces dapat ikut serta dalam kegiatan politik guna kelancaran Revolusi. Dan ia harus menggembleng semua tenaga politik, semua tenaga Karya, semua tenaga-tenaga lain-lain, agar supaya mereka menjadi satu gelombang yang mahasakti daripada aktivitas Demokrasi Terpimpin meladéni Revolusi.

 

Front Nasional, pendek-kata, diwajibkan untuk membentuk satu “insan politik baru”, – politiek-wezen yang baru, satu “insan politik” yang selalu mengabdi kepada Revolusi Indonesia, kepada kepribadian Indonesia, kepada alam-fikiran Indonesia, kepada sumber-sumber Indonesia, – satu “insan politik baru” sebagai dimaksud oleh Manipol/U.S.D.E.K. dan Resospim. Seluruh warga Indonesia, seluruh ibu-bapa-putera-puteri Indonesia, althans sebagian besar daripadanya, harus digembléng oleh Front Nasional itu menjadi apa yang saya namakan “patriot komplit”!

 

Di zaman penjajahan, gerak dalam lapangan politik dianggap tabu, oleh karena dapat merongrong kekuasaan kolonial.

 

Di zaman demokrasi liberal, gerak dalam lapangan politik sering dianggap kotor, oleh karena “politik” di zaman liberal itu berupa politik rongrong-merongrong, rebut-merebut, jegal-menjegal, fitnah-memfitnah, maki-memaki.

 

Tetapi di alam Revolusi sekarang ini, di alam Demokrasi Terpimpin, diharap bahwa semua warga menjadi insan politik. Tidak cukup bahwa warga Indonesia hanya mengenal lagu Indonesia Raya saja, atau mampu menyanyikan lagu “Dari Barat sampai ke Timur” saja, atau lagu “Rayuan Pulau Kelapa”.

 

Memang bagi patriotnya Revolusi, politik bukanlah perebutan kekuasaaan bagi partainya masing-masing. Politik bukanlah persaingan untuk menonjolkan ideologi sendiri-sendiri. Politik bukan penjualan jamu di pasar Tanah Abang atau di Pasar Senen, politik bukan penjualan kecap. Politik ialah mengabdi Revolusi, mempertumbuhkan Manipol, mem-perkembangkan U.S.D.E.K., menghidup-hidupkan Resopim di kalangan Rakyat. Politik ialah menyelamatkan dan menyelesaikan Revolusi Indonesia, menyelamatkan Revolusi Dunia.

 

Demikianlah tugas Front Nasional. Tugas pokok dari Front Nasional! Tugas-pokok lni harus dikerjakan dengan seluruh kegiatan, seluruh energi Revolusioner yang menyala-nyala. Dan Panca Program Front Nasional saya anggap tidak menyimpang dari tugas-pokok Front Nasional itu, bahkan membantu kepada realisasi tugas-pokok itu, dan memang berada di atas Rilnya Revolusi. Karena itu maka saya menyatakan menerima Panca Program itu, dan mengkomandokan agar supaya Panca Program Front Nasional itu dijalankan oleh seluruh anggota Front Nasional yang 20.000.000, bahkan oleh segenap Bangsa Indonesia dari Barat sampai ke Timur. Saya terima dan komandokan itu, karena kataku tadi, Panca Program adalah berada di atas Rilnya Revolusi, dan – oleh karena penyelenggaraan Panca Program itu adalah satu revolutionnaire gymnastiek yang baik, satu revolutionnaire gymnastiek yang efektif sekali untuk menggémbléng dan menguletkan perjuangan massa, – satu revolutionnaire gymnastiek untuk menempa tenaga massa, mendadar tenaga massa, membajakan kemauan massa, mengapikan semangatnya massa.

 

Revolusi tidak dapat berjalan tanpa massa yang bersemangat api, tak dapat bernama Revolusi tanpa massa yang bergerak, berusaha, berkemauan laksana baja, berjuang dan sekali lagi berjuang, berjiwa geledek, bernyawa petir, – seperti yang saya katakan dalam pidato Maulid Nabi tempohari. Itulah sebabnya saya tidak mau terima, kalau umpamanya ada malaikat memberikan mu’jizat kepada saya untuk mengcadeaukan, menghadiahkan, memersenkan Masyarakat Adil dan Makmur kepada Rakyat tanpa Rakyat itu sendiri berjuang!

 

Panca Program Nasional! Apakah Panca Program itu?

Satu: “Mengkonsolidasikan kemenangan-kemenangan di bidang keamanan dan Irian Barat”, ya saya terima!; dua: “Menaggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dengan mengutama-kan kenaikan produksi”, ya saya terima!; tiga “Meneruskan perjuangan melawan imperialisme dan neokolonialisme dengan memperkuat kegotong-royongan nasional revolusioner”, ya saya terima!; empat: “Meratakan dan mengamalkan indoktrinasi”, ya, saya terima juga!; lima: “Melaksanakan rituling aparatur negara, termasuk bidang pemerintahan dari pusat sampai ke daerah-daerah”, ya! Saya terima juga!

 

Dan sebagai dalam pidato saya di musyawarah besar Front Nasional tempohari, maka di sinipun saya berkata: “Hayo Front Nasional, jalankan Panca Program itu, saya menyetujuinya, – hayo Rakyat Indonesia, jalankan Panca Program itu, saya menyetujuinya!”

 

Dengan menjalankan Panca Program itu, engkau maju selangkah lagi di atas Rilnya Revolusi, dan engkau akan bertambah menjadi massa revolusioner yang otot-kawat-balung-wesi!

 

Sedikit mengenai nomor pertama daripada Panca Program Front Nasional itu. Yaitu yang berbunyi: “Mengkonsolidasi kemenangan-kemenangan di bidang keamanan dan Irian Barat”.

 

Punt ini saya ya-kan kataku! Betapa tidak! Musuh-musuh kita masih berat. Musuh-musuh kita masih belum masuk lobang kubur. Ia masih ada, ia masih berdiri, ia masih siap-sedia. Tidak bosan-bosan, – boleh dikatakan sampai mulut saya ini meniren -, saya mencanangkan dari bubungan-bubungan rumah dari puncak-puncaknya pohon, bahwa imperialisme belum mati, bahwa neo-kolonialisme belum mati. Kalau kemenangan-kemenangan kita di bidang keamanan dan Irian Barat tidak kita konsolidasi, maka musuh-musuh kita setiap saat siap-sedia untuk menerkam kembali kemenangan-kemenangan yang telah kita peroleh itu.

 

Di Irian Barat misalnya, disebar-sebarkan kampanye-bisik-bisik, bahwa katanya “di bawah Republik keadaan adalah mundur dibandingkan dengan di bawah bendera merah-putih-biru”, Mundur? Lho, mundur dalam hal apa? Dan kalau kita sudah menanya secara konkrit demikian itu, yaitu pertanyaan-“mundur dalam hal apa?”-, maka ternyata soalnya ialah: bir kaléngan sekarang di Irian Barat kurang! Wah, wah, wah, wah, wah, demikianlah moral kolonial! mengukur harkat sesuatu bangsa dengan banyaknya bir kaléngan!

 

Saudara-saudara di Irian Barat!, hai saudara-saudara di Irian Barat! Hai saudara-saudara di Kotabaru, di Sorong, di Merauke, – hai saudara-saudara di léréng Gunung Trikora, Gunung Sukarno, Gunung Sudirman, Gunung Yamin!, – Republik memang tidak pernah menjanjikan bir kalengan kepada Rakyat di Irian Barat! Republik Indonesia menjanjikan dan melaksanakan kemerdekaan, Republik menjanjikan dan medatangkan sinar Terang dan Cahaya! Sinar Terang dan Cahaya, – bersama-sama dengan saudara-saudaramu di lain-lain pulau di Nusantara, – bersamaku, bersamamu, bersama kita, bersama seluruh Rakyat Indonesia!

 

Dan bagaimana sikap musuh mengenai keamanan yang telah kita capai? Bukan? Irian Barat telah kita capai, keamanan telah kita capai, – dari Triprogram Pemerintah tinggal saja Sandang-Pangan yang masih harus kita capai, – bagaimana sikap musuh mengenai keamanan?

 

Di bidang inipun mereka tidak jera-jera. Kaum reaksi dan kaum kontra-revolusioner memang ulet. Atau lebih tegas: Kaum reaksi dan kontra-revolusioner memang tambeng! Ada saja caranya mereka mengganggu keamanan! Dari subversi-subversi besar-kecil yang berupa pemberontakan-pemberontakan atau bajinganisme-bajinganisme di lapangan ekonomi, sampai menghasut bakar-bakar mobil, bakar-bakar toko, pecahkan jendela-jendela kaca, – sampai percobaan-percobaan pembunuhan, – sampai kampanye-kampanye-bisik-bisik terhadap dirinya Bung Karno, – ini semua mereka jalankan.

 

Saking jengkelnya kawan-kawan kita melihat ketambengan kaum reaksi dan kaum kontra-revolusi ini, maka kawan-kawan itu mengusulkan supaya Panglima Tertinggi memaklumkan saja lagi berlakunya “SOB”. Jalankan kembali SOB, Pak. Saya menjawab:

 

Tidak! Saya sebagai Panglima Tertinggi tidak akan memaklumkan lagi berlakunya  SOB, tetapi saya Panglima Tertinggi Insya Allah akan tidak ragu-ragu memberikan komando supaya setiap kontra-revolusi dibekuk batanglehernya!, – dibekuk batang lehernya, sampai patah samasekali!!

 

Ada lagi satu punt dari Panca Program Front Nasional yang mau saya teropong.

Yaitu punt kedua: “menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi dengan mengutamakan kenaikan produksi”.

Alangkah tepatnya punt ini!

Memang masalah ekonomi meminta perhatian kita sepenuh-penuhnya. Tidakkah sandang-pangan salah satu punt daripada Triprogram Pemerintah? Dan tidakkah “ekonomipun” salah satu “punt” dari Revolusi kita ini?

 

Sebagai Pemimpin Besar Revolusi saya menarohkan minat yang besar kepada “punt” ekonomi ini. Tetapi terus-terang: Saya bukan ahli ekonomi, saya bukan ahli dalam tekniknya ekonomi, saya bukan ahli dalam teknik perdagangan. Saya revolusioner, dan saya sekadar “ekonomis revolusioner”.

 

Perasaan dan fikiran saya mengenai persoalan ekonomi adalah sederhana, amat sederhana sekali. Boleh dirumuskan sebagai berikut: “Kalau bangsa-bangsa yang hidup di padang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya, kenapa kita tidak?”

 

Kenapa kita tidak? Coba fikirkan!

Satu! Kekayaan alam kita, yang sudah digali dan yang belum digali, adalah melimpah-limpah.

Dua! Tenaga-kerjapun melimpah-limpah, di mana kita berjiwa 100.000.000 manusia!

Tiga! Rakyat Indonesia sangat rajin, dan memiliki ketrampilan yang sangat besar; ini diakui oleh semua orang luar negeri.

Empat! Rakyat Indonesia memiliki jiwa Gotong-royong, dan ini dapat dipakai sebagai dasar untuk mengumpulkan segala funds and forces.

Lima! Ambisi daya-cipta Bangsa Indonesia sangat tinggi, – di bidang politik tinggi, di bidang sosial tinggi, di bidang kebudayaan tinggi -, tentunya juga di bidang ekonomi dan perdagangan.

Enam! Tradisi Bangsa Indonesia bukan tradisi “tempe”. Kita di zaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok.

 

Maka mau apa lagi!, demikianlah kesederhanaan fikiran saya. Jikalau semua sifat-sifat baik dan modal-modal baik yang saya sebutkan tadi itu kita exploatir secara efektif, maka niscaya soal sandang-pangan (meskipun sederhana) adalah satu soal yang mudah dipecahkan di waktu yang pendek. Rakyat padang pasir bisa hidup, – masa kita tidak bisa hidup! Rakyat Mongolia (padang pasir juga) bisa hidup, – masa kita tidak bisa membangun satu masyarakat adil dan makmur, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, di mana si Dulluh cukup sandang cukup pangan, si Sarinem cukup sandang cukup pangan? Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang-pangan di tanah-air kita yang kaya ini, maka sebenarnya kita sendiri yang tolol, kita sendirilah yang maha-tolol!

 

Malah dalam kesederhanaan fikiran saya itu, saya gembira, bahwa bangsa kita bukanlah satu Bangsa yang “sudah terlanjur salah terbentuk”, bukan satu bangsa yang sudah terlanjur “salah kedadén”, – bukan satu Bangsa yang sukar dirubah lagi susunan masyarakatnya.

 

Untuk memecahkan persoalan-persoalan ekonomi pada bangsa-bangsa yang sudah “jadi”, apalagi pada bangsa-bangsa yang dinamakan “nations arriveés”, barangkali  diperlukan orang-orang yang mahir dalam routine ekonomi, diperlukan pengetahuan ilmu ekonomi yang amat njlimet, diperlukan pengetahuan ekonomi yang amat teknis, amat “ahli”, amat “expert”.

 

Tetapi Alhamdulillah, saya mengetahui bahwa persoalan ekonomi kita tidak harus dipecahkan secara routine. Persoalan ekonomi kita adalah persoalan ekonominya Revolusi. Kita memang Bangsa dalam Revolusi, dan Revolusi bukan routine, segala persoalan-persoalannya bukan routine, ekonominyapun bukan routine.

 

Kita adalah satu Bangsa dalam keadaan Revolusi Multicomplex, yang antara lain meliputi revolusi ekonomis. Dus: Masalah ekonomi adalah bagian daripada Revolusi kita itu. Dus: Masalah ekonomi harus kita hantir sebagai bagian daripada Revolusi kita! Dus: Masalah ekonomi harus kita hantir sebagai alat Revolusi. Dus: Masalah ekonomi tak dapat dan tak boleh kita tanggulangi secara routine. Saya kira, ini terang, ini gamblang. Anak kecil bisa mengerti.

 

Dengan back-ground (latar-belakang) kesederhanaan fikiran itulah, maka tahun yang lalu saya mengatakan bahwa persoalan sandang-pangan bisa kita atasi dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sekarang sudah satu tahun berlalu. Bagaimana perkataan saya sekarang? Masih saja berkata: Insya Allah, persoalan sandang-pangan akan kita pecahkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dalam pada itu, tetap sebagai tahun yang lalu, saya, mengenai sandang-pangan yang belum bérés ini, berkata: “silahkan, silahkan saudara-saudara marahi saya, silahkan menunjukkan jari kepada saya, silahkan hujankan keberangan saudara kepada saya, – dan saya akan terima semua itu dengan hati yang tenang”.

 

Apa yang bisa saya katakan, daripada meminta kesabaran saudara lagi sejurus waktu? Saya telah mengeluarkan Deklarasi Ekonomi yang terkenal dengan nama Dekon, dan 14 peraturan Pemerintahpun sudah keluar. Saya sekarang hanya berkata: sabar sejurus waktu lagi, sabar, – wait and see!

 

Apa itu Dekon sebenarnya?

Dengarkan!

Manakala Manipol menyatakan “stop” kepada penyeléwéngan-penyeléwéngan di bidang politik, maka Dekon menyatakan “stop” kepada penyeléwéngan-penyeléwéngan di bidang ekonomi. Dengan singkat saya bisa berkata, bahwa Dekon adalah Manipolnya Ekonomi.

 

Dengan adanya Dekon, orang tidak diperkenankan lagi mengkisruhkan dua tahapan Revolusi.

Di satu fihak, tidak dibenarkan pendapat yang menyangkal bahwa hari-depan kita adalah sosialisme. Dus: tidak ditolerir konsepsi-konsepsi, keinginan-keinginan dan tindakan-tindakan yang serba menuju kepada kapitalisme.

Di fihak lain, tidak ditolerir pendapat, bahwa sosialisme bisa diselenggarakan “satu kali pukul”, – yaitu: dari keadaan sekarang een-twee-drie melompat kepada sosialisme, sebagai orang een-twee-drie melompati satu selokan -, tanpa menyelesaikan lebih dahulu perjuangan nasional-demokratis, yaitu tanpa menghabis-habiskan lebih dahulu sisa-sisa imperialisme dan feodalisme.

Dekon mengatakan hal ini dengan jelas dan tegas! Karena itu saya pun sering sekali menandaskan bahwa kita sekarang ini belum, belum, belum, belum berada dalam alam sosialisme.

 

Dan berhubung keharusan mengutamakan kenaikan produksi, saya tegaskan di sini buat kesekian kali banyaknya pula, bahwa tenaga-tenaga yang paling produktif adalah buruh dan tani. Buruh dan tani adalah soko-guru-soko-gurunya Revolusi! Oleh karena itu maka usaha menaikkan produksi tidak saja harus secara negatif “tidak boleh memusuhi buruh dan tani”, tetapi secara positif harus mengembangkan tenaga-produktif daripada buruh dan tani. Tanpa tenaga buruh dan tani, tidak mungkin menaikkan produksi!

 

Kecuali itu, kita sekarang juga mempergunakan tenaganya Angkatan Bersenjata untuk menaikkan produksi itu. Angkatan Bersenjata sekarang sedang diperintahkan untuk juga menjalankan apa yang dinamakan “civic missions”. Mengenai Civic Missions ini adalah laporan baik dari Wampa KASAB Jenderal Nasution di tangan saya, tetapi berhubung dengan waktu, tidak dapatlah laporan itu saya bacakan di sini. Laporan itu akan saya lampirkan saja sebagai Lampiran yang menyusul.

Demikian pula laporan yang diberikan kepada saya oleh Menteri Jenderal Sambas.

 

Saya sekarang sedang memberikan perhatian penuh kepada suara-suara Rakyat mengenai pelaksanaan daripada Dekon. Sudah sering kali saya katakan, – malahan di Manila pun saya katakan -, bahwa saya ini sekedar peyambung lidahnya Rakyat. Setelah nanti aku yakin seyakin-yakinnya akan suara-sejati dari Rakyat-jelata, maka Insya Allah lidahku sendiri akan menyuarakan suara-hati dari Rakyat-jelata itu.

 

Aku gembira sekali, bahwa akhir-akhir ini makin santer kehendak untuk membangun ekonomi nasional kita di atas kaki kita sendiri. Inilah yang saya namakan patriotisme ekonomi, dan saya gembira sekali atas hal itu. Sesuatu bangsa hanyalah bisa menjadi kuat, kalau patriotismenya juga meliputi patriotisme ekonomi. Ini memang jalan yang benar ke arah kekuatan bangsa, jalan yang jitu, jalan yang tepat. Dalam Konferensi Rencana Kolombo di Jogyakarta beberapa tahun yang lalu, saya telah katakan kepada utusan-utusan konperensi itu:

 

“Ekonomi Indonesia akan bersifat Indonesia; sistem politik kami akan bersifat Indonesia; masyarakat kami akan bersifat Indonesia, – dan semuanya itu akan didasarkan kokoh-kuat atas warisan kulturil dan spirituil bangsa kami sendira. Warisan itu dapat dipupuk dengan bantuan dari luar, dari seberang lautan, akan tetapi buah dan bunganya akan memiliki sifat-sifat kami sendiri. Maka janganlah tuan-tuan mengharapkan, bahwa setiap bentuk bantuan yang tuan berikan akan menghasilkan cerminan dari tuan-tuan sendiri”

 

Demikianlah patriotisme yang saya lukiskan dalam pidato saya di Konferensi Rencana Kolombo di Jogya. Ya, dunia sekarang memang dunia yang tidak bisa hidup tanpa bantu-membantu, Tetapi kita tidak mau dan tidak akan mengemis bantuan dari siapapun. Kita Bangsa Besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan meminta-minta, apalagi jika bantuan itu diémbél-émbéli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplék tetapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak.

 

Satu punt lagi, saudara-saudara, dari Panca Program Front Nasional: yaitu punt yang menyebutkan “meneruskan perjuangan melawan imperialisme dan neo-kolonialisme dengan memperkuat kegotong-royongan nasional revolusioner”.

 

Sebetulnya ini sudah jelas. Hanya hal neo-kolonialisme itu saja nanti perlu saya teropong sedikit. Hal “kegotong-royongan nasional revolusioner” sebetulnya sudah gamblang segamblang-gamblangnya. Namun masih ada saja orang yang kena penyakit phobi, yang pura-pura tidak mengerti akan perlunya kegotong-royongan nasional revolusioner dalam perjuangan anti imperialisme itu. Jelasnya saja, masih ada orang-orang yang menderita Komunisto-phobi. Karena berkomunisto-phobi, maka mereka ber-nasakomo-phobi! Padahal beratus-ratus kali saya telah terangkan, bahwa kegotong-royongan nasional revolusioner tak mungkin terselenggara tanpa berporoskan Nasakom, – Nas – A – Kom, – tiga penggolongan obyektif daripada kesadaran politik Rakyat Indonesia, Pun sering sudah saya terangkan, bahwa anti-nasakom sama dengan anti Undang-Undang-Dasar ’45, sama dengan anti Pancasila, sama dengan anti pemusatan tenaga, sama dengan anti “samenbundeling van alle revolutionnaire krachten”, sama dengan … kepala sinting!

 

Kita sekarang ini nyata “menang mapan” terhadap kepada imperialisme. Makanya kita menang dalam perjuangan kita melawan imperialisme di beberapa bidang. Misalnya kita menang dalam perjuangan merebut kembali Irian Barat. Di mana letaknya “menang mapan” kita terhadap kepada imperialisme itu?

 

Imperialisme dunia itu, di satu fihak mempunyai persatuan atau persekutuan tetapi di lain fihak mempunyai juga perpecahan, percekcokan, innerlijke conflicten. Kita, sebaliknya, tidak perlu mempunyai perpecahan, dan kalau ada perpecahan, kita harus “mempersatukan” perpecahan itu. Di sinilah sendinya, maka saya dalam perjuangan melawan imperialisme itu selalu berikhtiar menggembléng kegotong-royongan nasional revolusioner, menggembléng samenbundeling van alle revolutionnair krachten in de natie, menggembléng persatuan revolusioner berporoskan Nasakom, – jangan phobi-phobian, jangan nasionalisto-phobi, jangan Islamo-phobi, jangan komunisto-phobi, jangan nasakom-phobi, jangan tani-phobi, jangan buruh-phobi, jangan rakyat-phobi, jangan lain-lain phobi lagi yang mengakibatkan kekurangkompakan. Sebab kekurangkompakan nasional revolusioner berarti “kalah mapan” terhadap kepada imperialisme, dan ini berarti menangnya imperialisme, dan menangnya imperialisme berarti gagalnya kitapunya Revolusi, dan gagalnya kitapunya Revolusi berarti kita menjadi bangsa témpé. Nauzubillahi minasyaitonirrojim!

 

Kecuali itu, kesatuan dan persatuan yang saya maksudkan itu adalah satu tuntutan daripada Nation building dan Character building. Dapatkah Nation terbentuk jikalau di kalangan Nation itu sengaja dipupuk phobi-phobian antara kita dengan kita? Saya telah membentuk L.P.K.B., – Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa -, untuk mempercepat Nation building dan Character building itu, dan pimpinannya hari-hari saya serahkan kepada Saudara Wampa Roeslan Abdulgani. Salah satu pesanan saya kepada Saudara Roeslan ialah, untuk memberikan pengertian tentang salahnya phobi-phobian itu.

 

Sekarang sedikit tentang neo-kolonialisme. Punt Panca Program Front Nasional itu juga menyebutkan “perjuangan menentang neo-kolonialisme”.

 

Apakah neo-kolonialisme itu? Neo-kolonialisme adalah kolonialisme “model baru”. Di depan hakim kolonial di Bandung, tatkala atas nama bangsa Indonesia aku menelanjangi kolonialisme, aku berkata sebagai berikut:

 

“Imperialisme bukan saja sistim atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau sistim mempengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain. Ia tak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa pengluasan daerah negeri dengan kekerasan senjata sebagai yang diartikan oleh van Kol, – tetapi ia bisa juga berjalan hanya dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan”saja, bisa juga berjalan dengan cara “penetration pacifique”.

 

Demikian kataku di Bandung. Aku tahu bahwa sekarang ini kaum yang tidak suka Republik berdiri tegak laksana batukarang ditengah-tengah hamuknya pergolakan dunia. Tetapi ini memang sudah logikanya dan dialektikanya sejarah! Aku tahu, bahwa mereka yang tidak suka kepada kita mengadakan bermacam-macam usaha untuk melemahkan kita, mulai dari “penetration pacifique” sampai kepada usaha pengepungan militer terhadap kepada Republik.

 

Tetapi ini bukan yang pertama kalinya bahwa kita menghadapi cobaan seperti ini. Ketika kita di Jogya, ketika itu wilayah kita ibarat hanya “sedaun kelor”, kitapun digertak, dikepung, digasak, dihujani api, – tetapi kita tidak mau menjual kitapunja kepala, oleh karena kita mau hidup. Apalagi sekarang, di mana wilayah kita bukan sedaun kelor lagi, melainkan utuh dari Sabang sampai Meruke, – apalagi sekarang, – maka yang mengharapkan kita akan menyerah adalah sama dengan orang yang mengharapkan matahari terbit di sebelah Barat

 

Insya Allah kita selalu akan “survive”! Apa rahasianya survival? Seorang jurnalis wanita yang sudah aku kagumi sejak aku mahasiswa, Anna Louis Strong, pernah menulis: “The first essential to survival is to believe that you can survive”. (Syarat pertama untuk survival ialah kepercayaan bahwa kila bisa survive).

 

Maka, kepercayaan itu ada pada kita! Insya Allah, kita akan survive! Insya Allah, kita akan terus berdiri. Insya Allah, kita tidak akan tenggelam!

Cukup sekian saja mengenai Panca Program Front Nasional.

Marilah saya sekarang menceritakan sedikit tentang Irian Barat.

 

Saudara-saudara!

Tepat pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Barat masuk kembali dalam wilayah kekuasaan Republik. Dengan demikian, maka Revolusi Nasional kita geografis telah selesai: seluruh tanah-air kita, dari Sabang sampai Merauke, sejak 1 Mei 1963 itu telah bernaung di bawah Sang Saka Merah Putih. Terimakasih saya ucapkan kepada semua pejuang yang telah menyumbang kepada suksesnya perjuangan pembebasan Irian Barat ini – do’a saya, saya panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala semoga Allah memberi tempat yang baik kepada arwah pejuang-pejuang kita yang telah gugur.

 

Irian Barat! Astaga, saudara-saudara, astaga, keadaan di sana! Apa yang kita warisi dari Belanda di Irian Barat itu, samasekali tidak bisa dipakai sebagai modal untuk membangun Irian Barat. Rakyat di sana oleh Belanda samasekali tidak diajar untuk memprodusir barang-barang yang paling sederhana pun! Misalnya kesed (voetenveger) mereka import dari Nederland, sapu, sapu mereka import dari Nederland, areng, ya masya Allah, areng mereka import dari entah mana lagi. In elk geval, arengpun barang import, bukan bikinan Rakyat Irian Barat sendiri. Apalagi bir kalengan! Itu import besar. Dat hoort er zo bij!

 

Akan tetapi apa boleh buat! Bagi kita, semua itu malah menjadi satu challenge, satu tantangan! Seperti sudah saya serukan tempohari, dengan pemasukan Irian Barat dalam wilayah kekuasaan Republik, maka Trikora belum selesai! Teruskan Trikora itu! Jangan berhenti Trikora itu! Saya tegaskan di sini, bahwa pembangunan pun termasuk dalam Trikora itu, langsung di bawah saya, sedangkan pimpinan sehari-hari saya serahkan kepada Wampa Urusan Irian Barat Saudara Dr. Subandrio.

 

Camkan! Pembangunan Irian Barat bukan masuk dalam persoalan lokal Irian Barat saja, bukan sekedar persoalan orang Irian Barat sahaja, melainkan adalah persoalan seluruh Bangsa Indonesia, malahan adalah satu tantangan, satu challenge terhadap kepada Revolusi kita seluruhnya! Pembangunan Irian Barat adalah juga persoalanmu, persoalanku, persoalanmu, persoalanku, persoalan kita semuanya, persoalan seluruh Revolusi Indonesia, – persoalan seluruh Bangsa Indonesia! Hayo kita bangun Irian Barat bersama-sama, hayo kita bercancut-taliwanda bersama-sama membuat Irian Barat itu satu zamrud yang indah dalam sabuk Indonesia yang melingkari katulistiwa ini! – Indonesia, die zich daar slingert om den evenaar als een gordel van smaragd!

 

Saudara-saudara! Dalam tahun yang lalu Indonesia beberapa kali berada dalam fokusnya perhatian luar negeri, fokusnya perhatian internasional. Kongres P.A.T.A. terjadi di Indonesia dengan sukses, Konferensi Wartawan A.-A. terjadi di Indonesia, Sidang Komite Eksekutif Konferensi Pengarang A.-A. terjadi di Indonesia, Asian Games terjadi di Indonesia, – tahun muka mungkin Konferensi Buruh A.-A., Konferensi Pengarang A.-A. yang ke-III, Festival Film A.-A., Konferensi A.-A. yang ke-II. Dan Insya Allah bulan November ini nanti – Games of the New Emerging Forces, – Ganefo akan terjadi di Indonesia.

 

Makin lama makin jelas kedudukan Indonesia dalam Revolution of Mankind ini. Malahan ia ikut berdiri dalam barisan yang depan! Bukan membuntut, tetapi berdiri di barisan yang depan! Hubungan Indonesia dengan dunia internasional tidak semata-mata didasarkan atas keuntungan materiil belaka, tidak, melainkan juga menyangkut hubungan Revolusi Indonesia dengan Revolusi Umat Manusia.

 

Dalam hubungan ini kita bergabung dalam apa yang saya namakan “New Emerging Forces”, – kita adalah satu anggota yang dinamis dan militan dalam gabungan New Emerging Forces itu. Apa yang saya namakan New Emerging Forces itu? New Emerging Forces adalah satu kekuatan raksasa yang terdiri dari bangsa-bangsa dan golongan-golongan progesif yang hendak membangun satu Dunia Baru yang penuh dengan keadilan dan persahabatan antar-bangsa, satu Dunia Baru yang penuh perdamaian dan kesejahteraan, – satu Dunia Baru tanpa imperialisme dan kolonialisme dan exploitation de l’homme par l’homme et de nation par nation.

 

New Emerging Forces terdiri dari bangsa-bangsa yang tertindas dan bangsa-bangsa yang progresif. New Emerging Forces terdiri dari bangsa-bangsa Asia, bangsa-bangsa Afrika, bangsa-bangsa Amerika Latin, bangsa-bangsa negara-negara sosialis, golongan-golongan yang progresif dalam negara-negara kapitalis. New Emerging Forces sedikitnya terdiri dari 2.000.000.000 manusia. Tidakkah ia satu tenaga raksasa, asal secara efektif tersusun dan terhimpun? Saya gandrung kepada Konferensi A.A. yang ke-II, saya gandrung kepada Konferensi A.A.A. yang pertama, saya gandrung kepada Konferensi New Emerging Forces yang pertama, di Indonesia!

 

Ganefo kita adakan, – yaitu Games of the New Emerging Forces.

Insya Allah, marilah kemudian daripada itu kita adakan.

Conefo, Conference of the New Emerging Forces! Di Indonesia saudara-saudara.

Conefo di Indonesia, tidaklah dengan itu Indonesia akan makin tampak lagi berdiri paling depan di dalam barisan daripada New Emerging Forces ini? 

Biar kekuatan Umat Progresif lekas terhimpun! Biar Old Established Forces menjadi gemetar! Biar Old Established Order lekas ambruk samasekali!

 

Ada orang yang berkata: buat apa toh ambil pusing Old Established Order itu. Wat kan you die Old Established Order schelen! mBok biar dia hidup! Leven en laten leven!! Live and let live!!

 

Tolol orang ini! Dia tidak tahu bahwa keselamatan dunia selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia tidak tahu bahwa keselamatan bangsanya sendiri selalu terancam oleh Old Established Order itu. Dia apakah juga tidak tahu, bahwa bangsanya sendiri 350 tahun terjajah, 350 tahun terkungkung dan terhina, 350 tahun tertindas dan terhisap, 350 tahun diingkel-ingkel menjadi satu bangsa lung-lit oleh Old Established Order itu?

 

O, ya, tentu melawan Old Established Order adalah membawa bahaya, menghimpun New Emerging Forces-pun adalah membawa bahaya. Tetapi di manakah ada satu perjuangan, yang benar-benar perjuangan, tidak membawa bahaya? Na kita-ini satu bangsa yang berjuang apa tidak? Kita-ini satu “fighting nation” apa tidak? Kita-ini satu bangsa tempe, ataukah satu Bangsa Banteng? Kalau kita satu bangsa yang berjuang, kalau kita satu fighting nation, kalau kita satu Bangsa Banteng, dan bukan satu bangsa tempe, – marilah kita berani nyrempet-nyrempet bahaya, berani ber-Vivere Pericoloso! Asal jangan kita Vivere Pericoloso terhadap kepada Tuhan! Hiduplah ber-vivere pericoloso di atas jalan yang dikehendaki oleh Tuhan dan diridhoi oleh Tuhan!

 

Kecuali satu kewajiban melawan ketamaan-ketamaannya dan segala kejahatannya Old Established Order itu, maka penentangan itu adalah satu “tindakan” sejarah. Revolusi Indonesia adalah satu “tindakan sejarah”, Revlusi Umat Manusiapun adalah satu “tindakan sejarah”. Di Manila saya berkata: “One cannot escape History”, – tidak bisa kita menghindarkan diri dari sejarah. Tidak ada seorang-pun dapat mengelakkan Revolusi Indonesia, tidak ada seorang Malaikatpun dari langit dapat mengelakkan Revolusi Umat Manusia yang maha-dahsyat ini. Dalam menjalankan kodrat sejarah itu, kita harus berkonsultasi dengan kawan, tetapi sebaliknya: kita harus berkonfrontasi dengan lawan. Konsultasi dan konfrontasi adalah pada hakekatnya dialektika jalannya manusia atau bangsa dalam sejarah yang juga selalu berjalan, menurut hukum panta rei.

 

Dalam hubungan ini baiklah saya uraikan perjuangan kita menentang Malaysia.

Mengapa kita menentang Malaysia?, Apakah kita menghalangi sesuatu daerah menggabungkan diri kepada daerah lain? Apakah kita takut pada kekuatan rakyat Malaysia yang hanya berjumlah 10.000.000 itu?

 

Pertanyaan ini saya ajukan, oleh karena sebagian dari dunia luaran masih saja belum mengerti duduknya perkara, atau tidak mau mengerti duduknya perkara. Masih saja saya disebut “trouble-maker”, malah masih saja ada orang yang menyebutkan saya ini “expansionist”.

 

Saudara-saudara! Pada permulaan pidato saya, dan pada tiap-tiap pidato 17 Agustus, saya selalu mengatakan bahwa Revolusi kita ini banyak musuhnya, – baik musuh dari dalam, maupun musuh dari luar. Malah tahun yang lalu saya mengatakan, bahwa tiap Revolusi mempunyai musuh. Ingat perkataan saya tentang garis antara kawan dan lawan? Kawan harus dirangkul, tetapi lawan harus dihantam. Hantam sampai dia hancur lebur. Apalagi buat kita!

 

Sebab kita-ini sungguh-sungguh ber-Revolusi. Revolusi kataku selalu, adalah satu “kiprah penjebolan dan pembangunan, satu kiprah simultan yang destruktif dan konstruktif. Di satu pihak membina, di lain pihak mengantam, menggempur, membinasakan”.

 

Ya, kalau kita-ini umpamanya tidak ber-Revolusi betul-betulan, cuma Revolusi main-mainan, – barangkali tidak kita harus “kiprah dua jurusan” itu. Barangkali tidak kita-ini selalu harus menghantam, menggempur, membinasakan saja, di samping membangun. Barangkali kita tidak mempunyai musuh, barangkali kita tidak mempunyai lawan. Kalau kita-ini umpamanya mau menjadi satu bangsa satelit, atau satu negara satelit, – yaitu satu bangsa bébék atau satu negara bébék -, yang selalu wék wék wék membébék saja -, barangkali kita tidak mempunyai musuh. Tetapi, – kita tidak mau menjadi satu bangsa satelit, tidak mau menjadi satu bangsa bébék, tidak mau menjadi satu bangsa kambing. Kita mau menjadi satu Bangsa Besar yang bebas-merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil dan makmur, -

 satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati Hambaudenda, gemah-ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, otot- kawat-balung-wesi, ora tedas tapak paluné pandé, ora tedas sisané gurindo!

 

Kita satu bangsa yang benar-benar ber-Revolusi, – karena itu maka kita kena hukumnya Revolusi, yaitu mempunyai kawan dan mempunyai lawan. Kalau kita bangsa satelit, kalau kita berjiwa budak, kalau kita berjiwa kambing, kalau kita berjiwa bébék, – yah, niscaya kita tidak mempunyai lawan, niscaya kita tidak akan dirongrong, niscaya kita tidak akan disubversi, tetapi sebaliknya, kita akan diinjak-injak sebagai sedia kala, diingkel-ingkel sebagai sedia kala, disumbat dan ditaléni hidung kita sebagai sedia kala, didikté, disuruh nurut saja seperti sedia kala.

 

Tetapi, sekali lagi saya katakan, kita ini bukan bangsa model begitu! Karena itu kita dirongrong, karena itu kita disubversi, karena itu kita dihintai, karena itu kita digerogoti dengan segala macam jalan.

 

Masih segar dalam ingatan kita subversi-subversi dari luar di waktu pemberontakan P.R.R.I. dan Permesta. Mereka beroperasi dari pangkalan-pangkalan di luar negeri di sekeliling kita! Ada yang dari Malaya, ada yang dari Singapore, ada yang dari Taiwan, ada yang dari Korea Selatan, ada yang dari basis asing di Philipina! Pendek-kata, seluruh pangkalan asing di sekitar Indonesia dipakai sebagai pangkalan-pangkalan subversi terhadap Indonesia, Apakah, dengan fakta-fakta yang demikian itu, tidak beralasan, jika kita waspada terhadap penggabungan-penggabungan beberapa negeri sekeliling kita, apalagi jika kita tahu bahwa penggabungan-penggabungan itu adalah proyek asing, artinya: pada asalnya bukan proyek dari rakyat negeri-negeri itu sendiri?

 

Malahan, apalagi jika daerah-daerah yang akan digabung itu mempunyai tapal-batas-darat-bersama dengan Indonesia? Apalagi jikalau suara Indonesia tidak digubris, – dianggap … hm hm, seolah-olah Indonesia tidak mempunyai hak untuk menilai sesuatu kejadian yang akan terjadi di muka pintu-rumahnya sendiri? Dikatakan kepada kita: “Hands off Malaysia!”, dan selanjutnya Basta! Lho, seolah-olah-kita-ini anak-kecil, seolah-olah kita-ini anak yang masih umbelen!

 

Memang tadinya kita tahan saja segala perasaan di dalam kitapunya dada. Tetapi akhirnya uneg-uneg kita, kita tidak tahan lagi. Tetapi akhirnya kita mengambil sikap yang tegas dan jelas yaitu: Kita tidak mau menjadi penonton saja daripada segala perubahan-perubahan statusquo di sekitar kita. Kita tidak mau bersikap pasif sebagai satu bangsa yang duduk tenguk-tenguk memeluk sikut melihat kejadian di sebelah pagar.

 

Kita merasa tanggungjawab atas keselamatan kita sendiri. Dan untuk mempertahankan keselamatan kita itu, untuk mempertahankan integritas kita itu, kita tidak akan segan mengambil risiko apapun juga. Kita tidak akan takut bledék, tidak akan takut petir. Gunung jugrug akan kita tandangi, segara asat akan kita ladeni!

 

Tetapi Indonesia tidak tidak-mengutamakan penyelesaian secara damai. Indonesia tidak emoh kepada perundingan. Apalagi persoalan ini adalah persoalan antara tetangga dengan tetangga. Apalagi persoalan ini adalah persoalan “bangsa Melayu” dengan “bangsa Melayu” sendiri. Karena itu saya tempohari pergi ke Tokyo. Karena itu saya tempohari juga pergi ke Manila. Karena itu di Tokyo saya mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Tengku Abdulrakhman Putra, dan di Manila saya mengadakan perundingan dengan Presiden Macapagal dan Perdana Menteri Tengku Abdulrakhman Putra. Malah saya kirim Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio ke Manila lebih dulu, untuk mengadakan pembicaraan antara tiga menteri luar negeri kita, di kota itu. Semua itu satu bukti, bahwa Indonesia mengutamakan jalan damai, mengutamakan perundingan, untuk mempertahankan kepentingannya.

 

Saudara-saudara sudah mengetahui hasil K.T.T. Manila. Mengenai persoalan Malaysia, hasilnya adalah sebagai berikut:

Satu. Malaysia tidak akan dibentuk, sebelum hak penentuan nasib sendiri dari Rakyat Kalimantan Utara (Sabah dan Serawak) dilaksanakan.

Dua. Sekjen P.B.B. mengambil tindakan baru dalam penentuan hak self-determination ini sesuai dengan resolusi P.B.B. 1541 pasal 9.

Tiga. Hasil dari pemilihan yang sudah (yaitu yang diadakan oleh Inggeris tempohari) menjadi bahan-pertimbangan, sesudah mendapat penyelidikan yang saksama oleh Sekretaris – Jenderal P.B.B. mengenai segala segi.

Empat. Tawanan-tawanan, dan penduduk Sabah/Sarawak yang mengungsi ke daerah luar Kalimantan Utara harus diberi hak pula untuk mengeluarkan suara dalam penentuan selfdetermination ini.

Lima. P.B.B. akan mengirimkan team-team-pekerja untuk melaksanakan self-determination ini, sedangkan Indonesia, Malaya, dan Philipina diperbolehkan mengirim peninjau-peninjau ke Kalimantan Utara pada waktu berjalannya hak self-determination itu.

 

Demikianlah lima pokok hasil K.T.T. Manila mengenai Malaysia.

Apapun juga akan terjadi di Kalimantan Utara nanti, dua hal menjadilah jelas:

 

1. Indonesia tidak lagi diperlakukan sebagai bangsa Togog yang hanya boleh menonton saja perubahan-perubahan statusquo di daerah sekitarnya, khususnya jika perubahan itu menyangkut keselamatannya;

2. Indonesia diakui mempunyai hak dan kewajiban utama untuk menjaga keselamatan dan perdamaian di daerah itu, bersama-sama dengan negara-negara-tetangganya Philipina dan Malaya.

 

Demikianlah hasil K.T.T. Manila mengenai pembentukan Malaysia itu. Alhamdulillah, Indonesia ternyata bukan negeri-témpé yang mudah ditémpékan orang!

 

Bagaimana hasil K.T.T. itu mengenai “Maphilindo”? Sebagai berikut, saudara-saudara:

Dibentuklah “Musyawarah Maphilindo”, di mana Kepala-pemerintahan, atau para Menteri, atau para petugas lainnya, dari ketiga Negara ini akan bertemu secara berkala untuk membicarakan kepentingan bersama dalam rangkaian prinsip-prinsip Bandung dan Asia-Afrika,- khususnya untuk memperhebat perjuangan menentang imperialisme dan kolonialisme.

Musyawarah Maphilindo tidak berarti bahwa Indonesia meninggalkan politiknya yang bebas dan aktif, sekali lagi saya katakan Musyawarah Maphilindo, – samasekali tidak! – malahan sebaliknya, Musyawarah Maphilindo dianggap sebagai sesuatu kekuatan daripada New Emerging Forces!

Berkat do’a saudara-saudara, K.T.T. Manila itu bolehlah dikatakan satu sukses bagi perjuangan yang progresif!

 

Saudara-saudara!

Sebagaimana tiap-tiap Revolusi besar, maka sejarah Revolusi Indonesia menggambar-kanlah gelombang pasang-surut dan pasang-naik yang maha-dahsyat. Kadang-kadang gelombang Revolusi itu adalah gelombang yang mengerikan, gelombang yang “nggegirisi”, – gelombang yang meminta korbanan-korbanan yang amat pedih, penggempaan semangat yang tiada tara, penggolakan tekad yang menyala-nyala, penguletan jiwa yang melebihi uletnya baja. Jika saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi meminta pengabdian kepada tanah-air dan pengorbanan-pengorbanan yang tak putus-putusnya kepada saudara-saudara, itu karena diharuskan oleh jalannya Sejarah.

 

Terutama sekali sejarahnya Abad ke XX.

Sejarah yang pernah saya namakan sejarah “bangkitnya budi-nurani manusia”, sejarah yang oleh Mao Tse Tung dinamakan “Sejarah meniupnya angin Timur”.

 

Sejarah Manusia dalam abad ke XX. Dalam abad ke XX ini Indonesia naik, Asia naik, Afrika naik, Amerika Latin naik, negara-negara sosialis naik. Ada yang menamakan abad ke XX ini Asian Century, yaitu abadnya Asia. Ada yang menamakannya African Century, ada yang menamakannya Latin American Century, ada yang menamakannya Socialist century. Semuanya adalah benar. Malah kita menamakannya juga “the Century of the New Emerging Forces”. Dan – terutama sekali bagi kita – ya bagi kita -, abad ini adalah abad kita. Abad yang kita naik. Abad yang kita merdeka. Abad yang kita ber-Revolusi. Abad yang kita kembali lagi menjadi satu Bangsa otot-kawat-balung-wesi.

 

Itu semuanya adalah Sejarah. Tetapi Sejarah adalah buatan manusia. Kita tidak bisa menghindari Sejarah, tetapi Sejarah itu adalah buatan kita juga. Kita tidak bisa menghindari badan kita, tetapi badan kita itupun adalah buatan kita sendiri.

 

Karena itu, hai Bangsa Indonesia, bangkitlah terus, berjuanglah terus, gemblénglah dirimu terus-menerus.

Fajar telah menyingsing. Matahari akan terbit.

Gemblénglah dirimu terus-menerus, dadarlah tubuhmu terus-menerus, agar supaya tubuh-mu itu nanti tahan menerima sinarnya Sang Surya yang Maha-sakti!

 

Dalam pidato Tahun Kemenangan sudah saya jelaskan, bahwa kemenangan kita tahun yang lalu itu barulah “permulaan Kemenangan”. Apa gunanja satu permulaan kalau tidak dilanjutkan? Bahkan sebenarnya, “Kemenangan terakhir” pun tidak ada! Juga jikalau kita sudah memasuki tamansarinya masyarakat adil dan makmur, kita masih harus melanjutkan perjuangan. Sebab yang adil masih harus diusahakan menjadi lebih adil, yang makmur masih harus diperjuangkan menjadi lebih makmur! Lebih adil, lebih makmur, lebih luhur, lebih indah, lebih bahagia, – tiada hentinya rantai perjuangan sesuatu bangsa yang benar-benar Bangsa yang berjuang! Dan hanya Bangsa yang berjuanglah, bisa menjadi bangsa yang Besar. Apalagi Revolusi kita-ini selalu minta lebih-ini lebih-itu saja. Revolusi kita adalah satu “revolution of rising demands”, malah juga boleh disebut “revolution of exploding demands”. Tuntutan-tuntutannya Revolusi kita selalu bertambah, tuntutan-tuntutannya Revolusi kita selalu meledak! Karena itu berjuanglah terus hai Bangsa Indonesia! Terus-menerus tanpa berhenti, sebagai satu Gerojogan yang maha-sakti! Sang surya akan terbit, sambutlah Sang Surya itu sebagai satu bangsa yang Berjuang!!

 

Terimakasih!

———————————————————————————————————————————————–

LAMPIRAN MENGENAI ” CIVIC MISSIONS “

1.

Dibidang pertahanan/keamanan telah kita capai hasil-hasil yang baik dalam rangka pemulihan keamanan dari Sabang-Merauke, dan dalam rangka rangka pembebasan Irian Barat. Sekali lagi saya menyatakan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh Angkatan Bersenjata kita, yang dengan dukungan rakyat kita telah mengsukseskan tugas-tugasnya yang maha-penting.

Untuk pertama kalinya sejak Proklamasi ’45 tidak ada lagi operasi-operasi militer diatas bumi Indonesia. Namun ini tidak berarti, bahwa prajurit kita sudah dapat istirahat sepenuhnya, tidak bararti bahwa perawatan dan kesejahteraannya sudah pula dapat dinormalisasikan.

Justru sekarang kita mulai menyingsingkan lengan baju untuk menanggulangi kesulitan ekonomi dengan lebih leluasa, yang berarti berjuang dan berkorban terus. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Negara dan Masyarakat, maka juga Angkatan Bersenjata dengan keluarganya tidak bisa terlepas dari serba kekurangan dan kesulitan Negara masyarakat yang sedang berjuang menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi itu. Bahkan dari itu Angkatan Bersenjata dan keluarganya harus aktif pula memanfaatkan diri ikut dalam penanggulangan-penanggulangan kesulitan-kesulitan itu.

Ditahun 1962 anggaran routine Angkatan Bersenjata memakan 53% dari seluruh anggaran penerimaan Negara, dan bersama anggaran pembangunan dan trikora menjadi 83% dari anggaran penerimaan seluruhnya.

Dalam taraf pelaksanaan Dekon ini, dengan mengutamakan program sandang-pangan, untuk routine Angkatan Bersenjata kita sediakan dalam tahun ’63 dan ’64 sebanyak 22,1% dari seluruh anggaran routine dan untuk routine + pembangunan sebanyak 22,8% dari seluruh anggaran routine + pembangunan Negara.

Ini sesuai dengan yang saya amanatkan dalam Ambeg Parama Arta, yakni mendahulukan apa yang penting, sesuai dengan taraf revolusi kita.

2.

Dan mengenai kelanjutan tugas-tugas Angkatan Bersenjata kita sebagai alat keamanan, sebagai alat revolusi, saya telah tegaskan dalam order harian Hari Angkatan Perang tahun yang lalu, bahwa kita masih terus diancam oleh kolonialisme/imperialisme, dan karena itu kita harus terus waspada dan menggenggam senjata. Dan konfrontasi terhadap neo-kolonialisme Malaysia, proyek Inggeris, telah membuktikan bahwa kita tak boleh lengah.

Bahkan saya telah nyatakan baru-baru ini didepan SESKOAD, bahwa revolusi berarti konfrontasi terus-menerus. Ini berarti bagi Angkatan Bersenjata kita dengan seluruh rakyat konfrontasi terus terhadap imperialisme/kolonialisme dan terhadap kontra-revolusi, dengan kekompakan dan kesiagaan yang teguh baik fisik maupun mental.

Pada hari Kepolisian yang lalu saya telah amanatkan, bahwa yang harus kita amankan terus ialah revolusi kita, berarti dasar, tujuan dan haluan revolusi kita itu terhadap semua bahaya baik dari dalam maupun dari luar.

3.

Di samping tugas pokok di bidang keamanan nasional itu, dalam Manipol telah ditegaskan pula, bahwa Angkatan Bersenjata dimanfaatkan juga dibidang-bidang produksi, distribusi dan kesejahteraan rakyat. Dalam order harian saya pada Hari Angkatan Perang tahun 1961 saya telah tegaskan, bahwa kerja Angkatan Bersenjata kita terus manfaatkan di segala bidang kenegaraan dan kemasyarakatan, dimana ada manfaatnya.

Maka dari itulah Angkatan Bersenjata diberikan pula tugas-tugas dalam Dekon, yakni yang disebut civic missions yang sekarang sudah digiatkan di berbagai sektor pembangunan dan rehabilitasi.

Prajurit kita tidak boleh hanya mahir memanggul bedil, tapi juga harus mahir memanggul pacul. Demikianlah prajurit yang sesuai sebagai alat revolusi.

Dan saya menyatakan penghargaan atas hasil-hasil kerja Angkatan Bersenjata kita dalam berbagai rehabilitasi daerah yang tak sedikit nilainya dan dalam hal berbagai proyek pembangunan yang sedang kita laksanakan.

4.

Dalam pada itu tak boleh pula kita berhenti dalam menyempurnakan Angkatan Bersenjata kita, sebagai kekuatan yang efisien di wilayah Asia-Tenggara ini untuk menjamin kestabilan wilayah ini guna perdamaian dunia umumnya dan guna pengamanan revolusi kita khususnya.

Pada taraf program jangka pendek Dekon ini, dan dalam tahapan ke I pembangunan semesta, kita sedang membangun pula infrastruktur bagi pertahanan/keamanan kita, sambil terus meningkatkan mutu kwalitatif dari Angkatan Bersenjata kita itu.

Adapun fasilitas-fasilitas pemeliharaan sendiri dengan sekadar perindustrian yang minimal untuk itu adalah syarat yang mutlak untuk pembinaan kekuatan pertahanan kita itu.

5.

Dan di bidang perorangan, sesuai dengan perundang-undangan kita yang telah ada dan terus dilengkapkan kita terus membina Pertahanan Rakyat Semesta yang berlandaskan potensi rakyat semesta, sebagaimana ditentukan dalam Ketetapan MPRS. Di samping penyempurnaan kemampuan Angkatan Bersenjata sendiri, kita terus membina pertahanan dan ketahanan rakyat kita, baik dalam hal pertahanan yang aktif maupun dalam hal yang pasif atau pertahanan sipil.

Dan perlu saya tekankan, bahwa kita tidak mengadakan demobilisasi sebagaimana lazim diartikan. Yang penting ialah membuat Angkatan Bersenjata kita juga produktif melalui tugas-tugas civic atau mengalihkan kegiatan-kegiatan ke bidang-bidang produktif.

Dan para Veteran serta para demobilisasi jangan sampai mempunyai sikap sebagai bekas pejuang, jangan, bahkan justru sebagai alat revolusi, harus terus berjuang di mana revolusi kita memerlukannya, yang dalam taraf ini berarti bergiat dan bermanfaat di bidang sosial-ekonomi.