Tiba-tiba kota kami diserbu begitu banyak anjing. Mereka berkerumun seperti semut merubung gula, berkeliaran di setiap tempat. Di jalan, sekolah, pasar, mal, taman, gedung pusat pemerintahan, hingga tempat pengadilan. Dimana-mana anjing.
.
Aku tidak tahu darimana asal anjing-anjing itu. Orang-orang yang kutemui selalu kutanyai, namun mereka sama tidak tahunya seperti aku. Membaca suratkabar tidak memberikan jawaban apa-apa, hanya menambah kecemasan di dalam kepala. Di halaman depan suratkabar, walikota kami menyerukan agar warga menghindari binatang liar yang menulari rabies itu, sebab gigitannya bisa mematikan. Petugas-petugas dengan mobil pengangkut khusus disiagakan untuk menangkap dan mengurung anjing-anjing itu lalu mengirimkannya ke tempat karantina di pinggiran kota.
.
Kami, warga kota cenderung menghindari dan membiarkan anjing-anjing itu berkeliaran. Sudah jadi pemandangan umum bila melihat bagaimana mereka merapat ke pohon atau tiang lampu, lalu mengangkat salah satu kaki belakangnya dan buang air kencing disana. Bau kotoran anjing merebak ke setiap sudut kota. Mereka juga seenaknya bersenggama di tempat-tempat umum. Kota ini seperti neraka saja.
.
Bagiku, kota ini seperti tertawan. Hendak kemana pun, aku harus siaga agar tak diikuti anjing. Berhadapan dengan anjing membuat posisi kita serba salah. Apabila kita lari, maka ia akan mengongong dan mengejar. Hampir tak mungkin bisa lepas dari kejaran anjing. Bila kita diam di tempat, maka kemungkinannya ada dua: ia menggonggong sampai bosan atau mendekat ke arah kita. Apabila ia mendekat, huh, betapa menjijikkan. Anjing mendekat untuk mengendus sepatu dan celana. Baunya sungguh menusuk hidung. Dan lebih menjijikkan lagi apabila melihat lidahnya yang menjulur-julur.
.
Aku tak bisa lagi bermain bola dengan kawan-kawanku, karena lapangan bolanya penuh dengan kotoran anjing. Aku juga takut bermain ke rumah teman karena sering kita akan berhadapan dengan segerombolan anjing yang menghadang di depan. Sungguh tak nyaman keadaan yang berlarut-larut ini.
.
Anjing-anjing itu sendiri terdiri dari berbagai ras. Menurutku, semua ras anjing ada berkumpul di kota ini. Orang-orang juga bilang begitu. Aneh, aku tak tahu apa yang menarik mereka datang ke tempat ini. Tak ada yang bisa menjelaskannya. Orang hanya bilang bahwa mereka menyerbu bagai hama. Datang untuk menggerogoti dan menyusahkan.
.
Berbulan-bulan sudah sejak hari pertama kepanikan akibat tibanya anjing-anjing itu. Namun keadaan tidak semakin baik, malah tambah parah. Mereka mulai menyerang dan menggigit kami. Diberitakan juga bahwa ada banyak orang yang sudah menjadi korban dan kini dirawat di rumah sakit. Televisi terus menyiarkan tayangan langsung tentang anjing-anjing yang menyerang penduduk kota kami.
.
Binatang-binatang mamalia itu semakin hari semakin berkembang biak. Memang sebagian ditangkap, tapi lebih banyak yang berkeliaran disana-sini. Suratkabar terus melaporkan perkembangan perburuan anjing-anjing itu. Pasukan khusus diterjunkan lengkap dengan persenjataan. Dan segera disusul organisasi-organisasi penyayang binatang yang memantau dan terus menggugat tindak kekerasan terhadap anjing.
.
Tapi pemerintahan kami sudah terlalu lama tidak terlatih untuk menuntaskan masalah-masalah sosial. Mereka sudah kelelahan untuk bekerja dengan cepat dan tepat. Kami mengikuti dari suratkabar bahwa kota ini seperti sudah dikuasai anjing. Hampir tak mungkin mengusir mereka. Tak ada lagi yang bicara tentang mengembalikan keadaan seperti masa sebelum datangnya serbuan anjing-anjing. Kelihatannya tak banyak yang bisa dilakukan. Kami panik.
.
Tanpa sadar, perlahan-lahan kehidupan kota kami pun ikut berubah. Orang-orang menghindar dari tempat-tempat yang dipenuhi anjing-anjing. Itu artinya kami seperti membangun kembali kota kami dari awal.Sekolah-sekolah dibangun di tempat yang jauh. Begitu juga dengan pasar, kantor, taman, tempat-tempat ibadah, dan, mal.
.
Tapi pemerintah kota kami tidak sempat memindahkan dirinya sendiri. Mereka bertahan sambil terus berpikir keras mengusir anjing-anjing itu. Hingga pada suatu hari diadakan sidang khusus di gedung dewan perwalian rakyat kota. Partai-partai politik mendesak walikota kami melakukan tindakan radikal untuk menghentikan kegilaan ini. Padahal mereka sendiri tidak tahu tindakan radikal seperti apa yang harus dilakukan di tengah kekacauan sosial seperti ini.
.
Esoknya, suratkabar memberitakan “Walikota:Mari Berdamai Dengan Anjing”. Dibawahnya tertulis bahwa pemerintah menyiapkan sistem penyesuaian jangka panjang berupa pendidikan bagi setiap anjing agar dapat hidup berdampingan dengan kami, manusia. Kami tak terkejut membacanya. Sekalipun itu berarti anggaran kota kami harus dikuras untuk kepentingan anjing-anjing. Karena kami sudah lelah dengan keadaan ini. Kami sudah tak tahan.
.
Sebagian besar dari kami menganggap anjing-anjing itu tidak dapat dihindari lagi. Memang, ada sebagian kecil warga kota yang melakukan unjuk rasa sebagai aksi penolakan. Tapi begitu kami tahu mereka kocar-kacir ketika digonggong anjing-anjing itu, kami pun sadar bahwa berdamai adalah jalan keluar yang terbaik.
.
Begitulah. Bertahun-tahun sudah kami hidup sejak hari pertama kepanikan akibat anjing-anjing itu. Kami sudah terbiasa. Di sekolah, aku merasakan sendiri bagaimana kami diajari bagaimana memahami tingkah laku anjing. Ketika melanjutkan kuliah di universitas, aku semakin tahu ternyata teman-temanku mahasiswa ekonomi juga diajari bagaimana mengajak anjing-anjing itu beradaptasi dengan praktik jual beli manusia. Mahasiswa teknik sipil diajari bagaimana membangun gedung-gedung dan jalan-jalan yang nyaman dan aman bagi anjing-anjing itu. Aku sendiri, mahasiswa planologi, diajari bagaimana merencanakan, memanfaatkan, hingga mengendalikan suatu tata ruang yang adil bagi anjing-anjing, Tak heran, bahkan sejak kecil di taman kanak-kanak, anak-anak mulai dilatih bahasa guk-guk agar dapat berkomunikasi dengan anjing.
.
Di pasar, anjing diajak berdagang. Di sekolah, disediakan kelas khusus anjing. Di gedung pemerintahan, ada dinas urusan pelayanan anjing. Aku sendiri bingung apakah ini berarti anjing yang dididik menjadi manusia atau malah kami manusia yang dididik menjadi anjing. Yang jelas, bertahun-tahun sejak hari pertama kepanikan dulu, kami kini sudah dapat hidup berdampingan dengan anjing-anjing.
.
Para pengamat politik dari luar kota kami menyebutnya sebagai demokrasi terbaik yang pernah ada. Banyak buku-buku ditulis tentang kota kami. Banyak suratkabar dan stasiun televisi yang memberitakan. Kota kami pun menjadi terkenal. Dari kota yang penuh kekacauan sosial sejak hari pertama kepanikan dulu itu, berubah menjadi kota yang dianggap beradab dan demokratis.
.
Pujian dari sana-sini ternyata membuat kota kami terus mengembangkan dan memperbaiki budaya hidup berdampingan dengan anjing. Melalui sidang yang alot, akhinya walikota dan dewan perwakilan rakyat kota kami memutuskan untuk merombak undang-undang pemilihan pemilu. Untuk pertama kalinya, anjing boleh ikut memilih dan dipilih. Dunia bertepuk tangan atas lompatan besar demokrasi ini.
.
Dan ini tidak main-main. Ternyata partai-partai politik kami segera melakukan persiapan untuk pemilihan umum di tahun ini. Kami pun tak terlalu terkejut ketika koalisi partai politik di kota kami mencalonkan seekor anjing yang gagah sebagai walikota. Ketika masa kampanye, spanduk dan umbul-umbul bergambar anjing dipasang di setiap tempat. Hasilnya tak mengejutkan kami, anjing itu meraih paling banyak simpati. Ia paling banyak dipilih dan menang.
.
Sekarang kami punya walikota baru, seekor anjing. Pada pelantikannya, seluruh stasiun televisi dari berbagai pejuru dunia datang untuk menyiarkan. Di atas mimbar persis di depan mikrofon, moncong walikota anjing itu mengucapkan pidato pertamanya, “Guk..guk!”. Hanya itu. Dan sekali lagi dunia bertepuk tangan riuh atas kemajuan demokrasi kami.
.
Kami sendiri tak kaget ketika anjing itu memimpin kota kami tanpa menimbulkan kekacauan sosial. Walikota anjing kami juga sering muncul di suratkabar hingga stasiun televisi. Kupikir-pikir, kebijakannya tak banyak berbeda dengan walikota yang dulu. Orang-orang yang kuajak bicara juga punya pendapat yang sama denganku.
.
Aku sendiri semakin paham dengan apa yang terjadi selama ini. Kedatangan anjing-anjing itu juga membuka mata kami bahwa selama ini kota ini dikuasai dan dikendalikan oleh kepentingan segelintir orang. Kami pun mulai sibuk mempertanyakan tentang apa itu dan untuk apa demokrasi. Dan setiap kami bertanya, maka jawaban yang diberikan kepada kami adalah: demokrasi adalah hidup berdampingan dengan anjing untuk kebaikan manusia dan anjing itu sendiri.
.
Di kampus, tempat kaum terpelajar, banyak yang tidak senang kebohongan ini. Banyak yang muak dengan omong kosong tentang hidup berdampingan dengan anjing-anjing itu. Pelajaran kuliah sudah terlalu banyak diisi oleh ilmu-ilmu untuk mengabdikan diri kepada anjing-anjing itu. Sebagian dari mahasiswa tidak puas. Termasuk aku.
.
Kami mulai menyiapkan pemberontakan untuk mengakhiri kegilaan ini. Tapi seiring dengan membesarnya gerakan kami, pemerintah kota kami ternyata mulai menyiapkan perubahan total bagi demokrasi kami. Sistem trias politica kami dibuka penuh untuk anjing. Mulai dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Maka kami tak hanya punya walikota anjing. Tapi juga anggota parlemen anjing dan hakim-hakim anjing.
.
Kami pun semakin berontak melawan kegilaan ini. Kami segera mengorganisir diskusi-diskusi di kampus. Tujuannya satu, untuk menggali kesepahaman bersama. Kami butuh kesepahaman massa bahwa sistem demokrasi palsu seperti ini harus diakhiri. Tapi hanya puluhan orang yang bisa kami rangkul. Sebagian besar mahasiswa terlalu sibuk mengejar ambisinya agar segera lulus dari kampus. Kami tahu bahwa kebanyakan dari mereka muak dengan orientasi sistem pendidikan anjing ini. Tapi mereka meluapkan kemuakannya dengan cara yang aneh, yaitu berupaya supaya cepat-cepat lulus. Setelah lulus, mereka cepat-cepat mencari kerja karena iming-iming gaji besar.
.
aku sendiri tak mau menyalahkan mahasiswa yang tak mau dirangkul. Sebab mereka berada dalam sistem pendidikan yang dirancang untuk mengabdi kepada anjing. Akademisi-akademisi kampus yang bersalah dalam hal ini. Mereka adalah alat legitimasi pemerintah. Ilmu yang mereka pelajari ternyata mereka gunakan untuk melancarkan pembangunan “sistem berdampingan hidup dengan anjing” yang digagas oleh pemerintah..
.
Aku tidak bohong. Di kampus kami, mereka bahkan mengadakan seminar besar tentang peternakan anjing. Seminar itu dibuka oleh seorang pejabat dari kota. Bahkan mereka juga mengundang duta besar dari negeri asing.Acaranya disponsori oleh perusahaan peternakan anjing dari negeri si duta besar tadi. Dan kami sepakat untuk mengadakan protes bertepatan dengan seminar ini. Sebuah seminar jalanan.
.
Dua hari sebelum aksi, kami menyiapkan diri. Malam sebelum aksi, kami bergadang di kantin kampus untuk menyiapkan segala perlengkapan. Kami membagi tugas untuk urusan menyiapkan spanduk dan poster, mencetak selebaran pernyataan sikap, menghubungi pers, dan lain-lain. Di spanduk protes, kami menulis “Menggugat Perselingkuhan antara Pemerintah + Akademisi Kampus + Anjing”. Untuk poster protes, kami menulis “Kampus Anjingnya Anjing”. Dan mereka marah membacanya. Mereka merencanakan untuk menghukum kami.
.
Ketika aksi kami berlangsung, suratkabar dan televisi memberitakannya. Menteri dari negara kami batal datang. Orang-orang menyetujui kami. Tapi kebanyakan dari mereka menganggap aksi yang kami lakukan ini tidak akan mampu membawa perubahan. Itu karena mereka sudah tak sanggup membayangkan keadaan yang lebih baik dari semua ini. Mereka bahkan tak berani berpikir bahwa anjing tidak diciptakan untuk menguasai manusia.
.
Maka kami diperiksa dan ditanyai macam-macam. Dan kami dihukum, Kami dihukum sementara tak boleh mengikuti pendidikan di universitas lagi. Kami protes dan menggugat putusan itu. Tapi kami sadar kami tak punya pilihan selain menggugat ke tempat yang sudah tidak manusiawi lagi, pengadilan anjing.
.
Di hadapan sidang, hakim anjing berkata,
.
“Guk..guk!”. Artinya kira-kira kami dianggap mengancam dan mencemarkan nama baik sistem demokrasi.
.
Kami menjawab, “Kami manusia bukan anjing”
.
Saksi-saksi dihadirkan. Untuk saksi-saksi yang memberatkan, mereka memanggil anjing-anjing. Selama sidang berlangsung, anjing-anjing itu mengonggong seperti hendak menerkam kami. Untung saja leher mereka diikat rantai. Kami memanggil manusia sebagai saksi yang meringankan kami. Tapi kelihatannya tak banyak membantu. Saksi-saksi kami ketakutan dan gemetaran menjawab pertanyaan hakim anjing itu.
.
Hakim berkata,
.
“Guk…guk!”. Artinya kira-kira sidang ditunda. Lalu ia menggigit gagang palu lalu mengetukkannya untuk menutup sidang hari ini. Kami tegang ketika sidang terakhir pembacaan keputusan.
.
Dan akhirnya hakim anjing membacakan keputusannya,
.
“Guk…guk!”. Artinya kira-kira kami diputus belum waktunya untuk mengajukan tuntutan ke pengadilan. Artinya, hukuman bagi kami tetap berlaku .
.
Kami keberatan dan mengajukan naik banding. Tapi sama saja, kira-kira setahun kemudian kami mendapat salinan dari mahkamah anjing bahwa kami memang pantas dilarang terlibat di setiap kegiatan di kota kami. Dunia sekali lagi bertepuktangan riuh atas lompatan besar dalam demokrasi kami.
.
Begitulah. Bertahun-tahun sejak hari pertama kepanikan di kota kami, orang sudah mulai lupa bahwa dulu anjing hanya diterima sebagai peliharaan sebagian orang untuk menjaga rumah.Tak lebih.
.
Aku sendiri tak tahu seperti apa rupa kota kami nantinya. Aku baca dari suratkabar bahwa walikota dan dewan pewakilan rakyat kota kami sedang berkumpul untuk membahas sesuatu yang penting. Entah lompatan demokrasi apalagi yang akan terjadi di kota kami.
.
inspired by Tomy dwinta ginting


















Sebagai bangsa monyet yang berfikir, sebaiknya jangan pernah berputusasa dalam menghadapi bangsa anjing ini, mungkin perlu juga dicoba menghadirkan bangsa kucing agar bangsa anjingi sibuk berkelahi, he he…
itu namanya devide et empera. sebagai pembela hak asasi kebinatangan, itu politik adu domba. tidak berperikebinatangan. kita harus mewujudkan perdamaian dunia binatang, oce sebagai kucing harus paham ini.